Anda di halaman 1dari 5

Resume mengenai Proximate dan Ultimate Analysis

Proximate Analysis
Proximate analysis pada batubara merupakan suatu metode pengujian kualitas berdasarkan kadar air
(moisture), kandungan jelaga (ash), kandungan bahan mudah menguap (volatile matter), dan fixed
carbon yang ditentukan menurut suatu metode tes yang standard. Hal itu dikembangkan sebagai suatu
cara sederhana untuk menentukan pembagian sampel produk yang diperoleh saat batubara dipanaskan
pada kondisi tertentu. Maksudnya, proximate analysis pada batubara membagi produk mejadi empat
kelompok, yaitu berdasarkan kadar air (kelembabanya), kandungan bahan mudah menguap (meliputi gas
dan uap yang mucul pada proses pyrolysis), fixed carbon (bagian dari kandungan material yang tidak
mudah menguap pada carbon), dan jelaga (residu non-organic hasil pembakaran). Sehingga, proximate
analysis dapat meliputi temperature peleburan pada jelaga dan sifat swelling pada batubara. (ASTM D-
720; Chapter 7).

Proximate analysis memiliki tujuan akhir yaitu guna menghitung Gross Calorific Value, dimana nilai
tersebut menunjukkan nilai panas maksimum yang diperoleh pada batubara akibat asumsi yang
dilakukan adalah tidak ada air yangterkandung pada batu bara. Seperti yang telah dijelaskan diatas, pada
proximate analysis akan ditampilkan grade dari suatu batubara yang didasarkan pada empat kriteria
diatas. Pengukuran untuk memperoleh keempat kriteria tersebut didasarkan pada persamaan-
persamaan tertentu. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai kriteria-kriteria tersebut :

a. Moisture
Moisture atau kadar air yang terkandung dapat dikatakan merupakan inti dari analisis ini. Dalam
mengukur kadar air, batubara dipanaskan dan menghasilkan udara kering dan juga ash atau
jelaga. Tidak ada metode paten untuk mengukur kandungan air pada batubara. Pengukuran
kuantitas air sangatlah kompleks karena air terdapat pada batu bara pada lebih dari satu bentuk.
(Allardice and evans, 1978). Sehingga, total kandungan air termasuk keduanya, yakni sufface
moisture dan residual moisture yang terkandung pada sampel setelah menentukan udara kering
yang hilang (ASTM D-3302). Sehingga,
R (100− ADL)
M= + ADL
100
Dimana, M adalah total kandungan air (%berat), R adalah residual moisture, dan ADL adalah
udara kering yang hilang akibat pemanasan.

b. Ash
Ash (jelaga) merupakan kandungan residu non-combustible yang umumnya terdiri dari senyawa-
senyawa silika oksida (SiO2), kalsium oksida (CaO), karbonat, dan mineral-mineral lainnya.
Residu-residu ini adalah hasil pembakaran batubara pada kondisi tertentu dan umumnya
mengandung oksigen dan sulfat. Kandungan kimiawi pada batubara menjadi faktor terpenting
pada masalah fouling dan slagging. Pada beberapa metode pengujian, direkomendasikan bahwa
warna dari jelaga sebaiknya diperhatikan, karena hal tersebut memberikan indikasi yang
mendekati fusion point. Umumnya, warna cerah pada jelaga menandakan terjadinya low fusion
point, warna jelaga yang putih mendakan bahwa tidak terdapat basic oksigen dan memiliki high
fusion point.

Terdapat banyak persamaan yang digunakan untuk menghitung jumlah kandungan mineral yang
sebenarnya pada batubara menggunakan data dari teknik pengabuan sebagai dasar dari
perhitungan. Terdapat dua persamaan yang biasanya digunakan untuk mengetahui proporsi dari
kandungan mineral pada batubara, yaitu :
 Parr Formula :
mineral matter ( ww )=1.08 A +0.55 S
Dimana A adalah prosentase jelaga pada batubara dan S adalah total sulfur pada
batubara

 King-Maries-Crossley formula :
mineral matter ( ww )=1.09 A +0.5 S pyr +0.8 CO 2−1.1 S O3 ( ash )+ SO 3 ( coal ) +0.5 Cl

Dimana A adalah prosentasi ash pada batubara, S pyr adalah presentase dari pyrite sulfur
pada batu bara.

c. Volatile Matter
Volatile Matter adalah prosentase dari produk yang mudah menguap, khususnya uap air, yang
dihasilkan selama pemanasan batubara. Pengukuran berat yang hilang pada sampel uji secara
tepat pada kandungan air merepresentasikan jumlah volatile material. Ini biasanya berupa
campuran dari ikatan hidrokarbon dan beberapa sulfur. Volatile matter ditentukan pada kondisi
yang benar-benar pada standard tertentu. Prosedur pada American Standard adalah
memanaskan hingga 950 ± 25 °C (1740 ± 45 °F) pada sebuah vertical platinum crucible.

d. Fixed Carbon
Kandungan Fixed carbon merupakan banyaknya carbon yang ditemukan pada material yang
tersisa setelah volatile matter terbuang. Ini berbeda dengan kandungan karbon ultimate pada
batubara akibat beberapa karbon pada hidrokarbon yang hilang bersama volatile matter. Fixed
carbon digunakan sebagai estimasi dari jumlah arang yang akan dihasilkan dari sampel. Fixed
carbon ditentukan dengan menghilangkan dari massa volatile yang melalui volatile test dari
massa asli sampel.
 Fixed carbon (%)= 100%-moisture content-ash content
 Fixed Carbon = 100%-volatile matter

Gross Calorific Value atau yang dikenal dengan GCV adalah hal terpenting dalam menganalisa
batubara. Ini dihitung berdasarkan jumlah panas yang dihasilkan ketika batubara dibakar pada oksigen
berlebih pada suatu bomb calorimeter pada kondisi standard. Ini juga termasuk panas dalam
pembakaran dari kandungan mineral. Kandungan air pada batu bara dan terkadang mineral menyuplai
sebuah heat loss, dikarenakan clay dan carbonates mengeluarkan panas untuk membusukkannya. Nilai
GCV sendiri dipengaruhi oleh temperature yang dihasilkan hasil pembakaran dan total energi yang
dihitung serta massa sampel.

Contoh Kasus dari proximate analysis adalah sebagai berikut.

Untuk mengetahui

Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa pada proximate analysis, perhitungan yang diperoleh
akan didasarkan pada nilai berat sampet setelah dipanaskan. Untuk menghitung volatile matter,
terlebih dahulu menentukan moisture percentage melalui pengeringan dan menghitung berat
sampel setelah dilakukan pemanasan pada funace. Kemudian, nilai lain akan diperoleh melalui
perhitungan matematis dengan persamaan dimana keempat nilai tersebut akan bernilai 100%.

ULTIMATE ANALYSIS
Ultimate analysis adalah penentuan prosentase komposisi batubara berdasarkan syarat-syarat
berikut ini carbon, hydrogen, sulfur, nitrogen, oksigen, dan jelaga. Ultimate analysis merupakan
analisa yang didasarkan pada pengujian laboratorium dalam penentuan grade dari suatu
batubara. Ultimate analysis biasanya digunakan untuk mendesain dari furnace yang digunakan
agar dapat menghasilkan panas yang optimal namun tidak menyebabkan korosi ataupun polusi.

a. Carbon dan Hydrogen


Semua metode dalam menentukan kandungan carbon dan hydrogen sejauh ini sangat serupa
yaitu menentukan dengan dilakukan pembakaran pada closed syste, dan produk pembakarannya
dikumpulkan pada absorption train. Prosentase dari berat carbon dan hydrogen dihitung dari
berat yang diperoleh dari relevansi segmen pada absoption train. Metode ini memberikan
prosentase total dari carbon dan hydrogen pada batubara, termasuk campuran carbon. Kadar
hidrohen pada batu bara dapat diestimasikan dengan persamaan berikut :
2.02
H=H as−determined −
8
18.02 ( M as−determined ) + × A as−determined
10

Dimana H adalah hydrogen, M moisture, dan A as.


b. Nitrogen
Nitrogen merupakan unsur yang dapat bersumber dari protein hewan maupun
tumbuhan.standar penentuan kadar nitrogen pada batubara pada banyak laboratorium adalah
metode Kjedahl (ASTM D-3179). Padahal terdapat metode standar lainnya seperti teknik Du,as
dan prosedur gasifikasi. Pada Kjedahl method, penggilasan batubara dilakukan mengan merebus
batu bara dengan asam sulfur dan sebuah katalis untuk mengurangi waktu digestion. Katalis
yang digunakan biasanya garam mercury atau selenium.

c. Sufur
Sulfur merupakan suatu pertimbangan penting dalam penyusunan batu bara, ada banyak jumlah
penelitian yang terpublis untuk menjelaskan teknik yang paling efisien dalam menentukan kadar
sulfur. Hal ini diakibatkan karena emisi dari oksida sulfur dapat menyebabkan korosi pada
peralatan dan slagging pada pembakaran, selain itu juga merupakan pollutan pada atmosfer.
Salah satu metode dalam penentuan kadar sulful adalah dengan pembakaran temperature
tinggi. Suatu sampel dibakar pada tube furnace pada minimum suhu operasi yaitu 1350°C pada
aliran oksigen untuk memastikan terjadinya oksidasi sempurna pada kandungan sulfur pada
sampel. Dan menghasilkan suful dioksida yang dapat dihitung prosentasenya dengan absorbs
yang terjadi pada radiasi inframerah. Nilai yang tepat ketika menntukan prosentase percikan
besi, pyrite sulfur dapat dihitung dengan persamaan

32.06
%pyrite sulfur=%pyrite iron ×2 ×
55.85

d. Oksigen
Dalam menentukan kadar oksigen belum ada hasil yang memuaskan untuk langsung
memperoleh kadar oksigen pada batu bara. Sehingga kadar oksigen dihitung dengan persamaan
berikut :

%oxygen=100−(%C−%H −%N −%S organic )


Berikut adalah data yang diperoleh pada Ultimate Analysis