Anda di halaman 1dari 17

RESUME SKRIPSI ANALISIS KESTABILAN

RENCANA CROSS CUT ACCESS 10 S CIURUG DI UNIT BISNIS


PERTAMBANGAN EMAS PONGKOR, PT. ANEKA TAMBANG TBK
BOGOR, JAWA BARAT

1.1 Parameter Geomekanik Batuan


Sifat-sifat batuan yang penting dalam melakukan pengamatan terhadap
lubang bukaan antara lain :
1. Sifat fisik material : kekerasan terhadap goresan, kekerasan terhadap
pukulan/tekanan, kekerasan terhadap kikisan/abrasi, densitas atau
kerapatan massa (bobot isi batuan ( γ )), porositas, permeabilitas, cepat
rambat gelombang dan lain-lain.
2. Sifat mekanis material : kuat tekan (compressive strength), kuat tarik
(tensile strength), kuat geser (shear strength), sudut geser dalam (internal
friction angle = Ф), kohesi (cohesion = c) dan lain-lain.

1.2 Metode Penanganan Stabilitas Lubang Bukaan pada Penambangan


Bawah Tanah
Metode rancangan yang tersedia untuk memperkirakan stabilitas medan
kerja penambangan dan lubang bukaan dapat dikategorikan sebagai berikut :
1. Metode Analitik (Analytical Method)
Metode analitik digunakan untuk menganalisis tegangan dan deformasi
di sekitar lubang bukaan.
2. Metode Observasi/Pengamatan (Observational Method)
Metode pengamatan adalah mengadakan analisis berdasarkan pada
data pemantauan pergerakan massa batuan sewaktu penggalian untuk
mengamati ketidakmantapan dan analisis interaksi penyanggaan
terhadap massa batuan.
3. Metode Empirik (Empirical Method)
Metode empirik memperkirakan stabilitas sebuah tambang bawah tanah
dan lubang bukaan dengan menggunakan analisis statistik pengamatan
bawah tanah.

42
56

1.3 Karakteristik Umum Klasifikasi Massa Batuan


Klasifikasi massa batuan digunakan sebagai alat dalam perancangan
model lubang bukaan (terowongan). Pada hakekatnya suatu klasifikasi massa
batuan dibuat untuk memenuhi hal-hal berikut ini (Bieniawski, 1989) :
1. mengelompokkan massa batuan tertentu pada kelompok yang mempunyai
perilaku yang sama tetapi memiliki kelas massa batuan dengan kualitas
yang berbeda.
2. lebih mudah dalam memahami karakteristik dari masing-masing kelompok
massa batuan
3. melengkapi cara dalam berkomunikasi tentang klasifikasi massa batuan
(Rock Mass Rating; lihat Lampiran B) dengan para ilmuwan terutama para
ahli geoteknik dan geologi.
4. menghasilkan data kuantitatif sebagai pedoman dalam melakukan
rancangan lubang bukaan.

1.4 Pemantauan (Monitoring)


Tujuannya adalah untuk memperoleh data yang nyata dari perilaku
lubang bukaan dalam skala yang luas akibat dari kegiatan penambangan dan
upaya mencatat kondisi lingkungan. Jadi kegiatan pemantauan adalah memeriksa
kemungkinan lubang bukaan dari ketidakstabilan, kemudian mengambil suatu
tindakan perbaikan yang tujuannya adalah untuk melindungi manusia dan
peralatan serta mengamati kondisi lingkungan.
Beberapa ahli mekanika batuan (Selmer & Olsen, Nicholas March)
mengemukakan beberapa faktor dasar yang mempengaruhi kestabilan pada
lubang bukaan tambang dan terowongan:
a) Keadaan tegangan di sekitar lubang bukaan.
b) Interaksi tegangan dan regangan antara lubang bukaan yang berdekatan.
c) Sifat mekanik dari massa batuan dan sifat lain dari perlapisan batuan
dimana penggalian dilakukan.
57

d) Keadaan air tanah; bila air tanah dalam jumlah besar sebaiknya perlu
dilakukan sistem penyaliran yang baik untuk kestabilan lubang bukaan.
e) Macam-macam metode penggalian lubang bukaan.
f) Tipe dan jenis peyangga yang dipakai.

1.5 Kriteria Evaluasi Data Pemantauan Konvergensi


Menurut Cording (Bieniawski, 1984) untuk mengevaluasi kestabilan suatu
lubang bukaan terdapat sejumlah kriteria yang dapat digunakan, bila hanya
memakai kriteria tunggal tentu saja tidak akan cukup untuk dijadikan sebagai
patokan lebih jauh lagi. Perpindahan yang menunjukkan ketidakstabilan lokal
harus dibedakan dengan perpindahan yang menunjukkan ketidakstabilan yang
meliputi suatu daerah yang luas.
Brandy dan Brown (1999) mengatakan bahwa agar sebuah sistem
pemantauan dapat memenuhi persyaratan ekonomis yang handal, sistem tersebut
harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut :
a) Pemasangan harus mudah dilakukan bahkan untuk kondisi lapangan yang
sulit.
b) Memiliki sensitivitas, keakuratan dan kemampuulangan yang memadai.
c) Dilengkapi dengan penahan dan pelindung yang baik selama digunakan.
d) Disertai kemudahan pembacaan, sehingga dapat menghasilkan data
seketika.
e) Mempunyai kaitan yang sesuai dengan pelaksanaan operasi
penambangan.

1.6 Perhitungan Data Konvergensi


Pengukuran konvergensi pada tiap titik dilakukan dengan urutan
pengukuran pertama yang dilakukan setelah 24 jam pemasangan baut
convergence (anchor). Pengukuran selanjutnya dilakukan dua kali sehari.
Demikian seterusnya selama pengukuran masih dilakukan. Sedangkan
perhitungan data konvergensi adalah sebagai berikut :
a. Perhitungan perpindahan
Perpindahan = diameter penggalian awal - diameter penggalian yang
berikutnya.
58

Dirumuskan sebagai:
∆L = L0 - Li

Keterangan :
∆L = perpindahan dari dua titik pantau pada waktu ke-t o, mm.
L0 = jarak dua titik pantau awal (pengukuran hasil M – E), mm.
Li = jarak dua titik pantau setelah waktu ke-t 0 (pengukuran hasil M – E),
mm.
M = pembacaan pita ukur rata-rata dan dial gauge, mm
E = pembacaan rata-rata kalibrasi awal dan akhir, mm
Perhitungan perpindahan yang menghasilkan ∆L dengan cara di atas
dapat menghasilkan dua kemungkinan, yaitu:
i. Nilai ∆L bertanda positif, artinya dinding dan atap lubang bukaan yang
diukur makin mengecil.
ii. Nilai ∆L bertanda negatif, artinya dinding dan atap lubang bukaan yang
diukur makin membesar.
b. Perhitungan waktu
t = t1- to
Keterangan :
t = perubahan waktu, jam
t1 = waktu pengukuran perpindahan berikutnya, jam
to = waktu pengukuran perpindahan awal, jam
c. Laju perpindahan atau kecepatan perpindahan (rate of convergence)
Rate of Convergence (RC) = Laju Perpindahan
RC =[|diameter penggalian awal - diameter penggalian yang berikutnya|] /
waktu
Laju konvergensi atau laju perpindahan dapat dihitung dengan
persamaan sebagai berikut:
ln − l n −1
v= ⋅ 24
tn − t n −1

Keterangan : v = laju konvergensi (mm/hari)


ln = angka pengukuran perpindahan (mm)
59

ln-1 = angka pengukuran perpindahan sebelumnya (mm)


tn = waktu pengukuran perpindahan (jam)
tn-1 = waktu pengukuran perpindahan sebelumnya (jam)
24 = faktor pengali; 24 jam/hari
d. Percepatan perpindahan (acceleration of convergence) :
Percepatan perpindahan dapat dihitung dengan persamaan :
[|kecepatan perpindahan awal-kecepatan perpindahan yang berikutnya|]/
waktu.

1.7 Kriteria Analisis Kestabilan Lubang Bukaan


Untuk mengetahui analisis kestabilan lubang bukaan diperlukan sejumlah
kriteria, antara lain sebagai berikut :

a) Perpindahan/Konvergensi
Zhenxiang (1984) melakukan hal serupa dengan Cording dengan
mengadakan pengamatan kecepatan perpindahan pada lubang bukaan di Xiaken
dan Lingqian (Cina). Kedua terowongan tersebut mempunyai lebar sekitar 6,00 m
dengan tebal overburden 20,00 m sampai 24,00 m, dan massa batuan pembentuk
lubang bukaan dengan nilai Q yang berkisar antara 0,067 sampai 0,208, artinya
massa batuan masuk dalam kategori sangat buruk sekali sampai sangat buruk.
Penyanggaan setelah penggalian dilakukan dengan memberi lapisan shotcrete
setebal 5,00 cm pada dinding lubang bukaan, kemudian dikombinasi dengan
memasang baut batuan panjang 2,00 m setiap spasi 1,00 m. Dari hasil
pengamatan diketahui bahwa dinding lubang bukaan dikategorikan stabil jika
mengalami perpindahan dengan kecepatan 0,20 mm/hari. Menurut hasil
pengujian, bila kecepatan perpindahan telah mencapai 10,00 mm/hari, maka
dinding lubang bukaan dikategorikan berbahaya. Perpindahan dinding lubang
bukaan dengan kecepatan 3,00 mm/hari dikategorikan belum cukup aman,
sehingga kecepatan perpindahan sebesar itu perlu diperkecil dengan
menambahkan sistem penyangga yang ada. Bila kecepatan perpindahan turun
hingga mencapai 1,00 mm/hari, berarti merupakan pertanda bahwa dinding
lubang bukaan sedang mencapai tahap awal untuk mencapai kondisi stabil.
60

Kriteria analisis kestabilan lubang bukaan diterapkan dengan kriteria


klasifikasi perpindahan (lihat Tabel 3.1) dan penafsiran dalam bentuk grafik
berdasarkan klasifikasi perpindahan juga dapat di buat walaupun kurang akurat.
Tabel 3.1
Accumulative Convergence
Accumulative Convergence (mm) Classification of Accumulative Convergence
Less than 10,00 Very small
More than 10,00 , less than 20,00 Small
More than 20,00 less than 30,00 Moderate
More than 30,00 less than 50,00 High
More than 50,00 Very high

b) Laju Perpindahan atau Kecepatan Perpindahan (Rate of


Convergence)
Kriteria analisis kestabilan lubang bukaan diterapkan dengan kriteria
Cording (Bieniawski, 1984). Cara terbaik menurut Cording adalah
membandingkan laju konvergensi pada titik pengukuran mula-mula dengan laju
konvergensi pada suatu titik pengukuran berikutnya pada lubang bukaan tersebut
yang telah disangga dengan baik. Cording mengungkapkan bahwa laju
konvergensi (rate of displacement) dapat dipakai sebagai kriteria evaluasi
kestabilan suatu lubang bukaan dengan melihat besarnya laju konvergensi (rate
of displacement) dan membandingkannya dengan batasan kestabilan yang telah
ditentukan, maka Cording berdasarkan pengalamannya menemukan hal-hal
sebagai berikut :
• Bila laju konvergensi 0,001 mm per hari menunjukkan kondisi stabil.
• Jika laju konvergensi 0,050 mm per hari menunjukkan kondisi yang tidak stabil
untuk lubang bukaan berdimensi besar.
• Kalau laju konvergensi 1,000 mm per hari menunjukkan kondisi yang sangat
tidak stabil atau membahayakan dan lubang bukaan tersebut memerlukan
penyanggaan dengan segera.
Resume kriteria kecepatan perpindahan menurut Cording (1974) berbeda
dari pengalaman Zhenxiang (1984; lihat Tabel 3.2). Adapun klasifikasi modifikasi
kriteria kestabilan lubang bukaan menurut Cording tergantung dari kecepatan
perpindahan dan kondisi perpindahan lubang bukaan, sedangkan acuan klasifikasi
yang lain didasarkan pada kecepatan perpindahan, kondisi perpindahan dan
kondisi lubang bukaan (lihat Tabel 3.3).
61

Tabel 3.2
Kriteria Kecepatan Perpindahan
Kecepatan Perpindahan (mm/hari)
Cording, 1974 Zhenxiang, 1984
Kriteria Kelas Massa Batuan Kelas Massa Batuan
Tidak Dijelaskan Q = 0,067 - 0,208
Aman < 0,001 < 0,20
Besar 0,05 3,00
Berbahay
a > 1,00 > 10,00

Tabel 3.3
Modifikasi Kriteria Kestabilan Lubang Bukaan Berdasarkan Kecepatan Perpindahan
Cording (1974) Modifikasi dari Kriteria Cording (1974)
Kecepatan Kondisi Kecepatan Kondisi
Perpindahan Perpindahan Perpindahan Kondisi Perpindahan Lubang
mm/hari Lubang Bukaan mm/hari Bukaan
> 2,00 sangat besar
> 1,00 sangat besar tidak stabil
1,00 – 2,00 besar
0,05 cukup besar 0,10 – 0,99 sedang relatif stabil
0,01 – 0,09 kecil
< 0,001 stabil stabil
< 0,01 sangat kecil

Untuk menganalisis kestabilan lubang bukaan lebih lanjut digunakan


kriteria Ghosh dan Ghose (Ruby Hermawan, 2003). Ghosh dan Ghose
memperkenalkan istilah laju konvergensi (convergency velocity) sebagai kriteria
untuk menganalisis kestabilan suatu lubang bukaan. Laju konvergensi ditentukan
dari hubungan antara laju kritis, laju konvergensi maksimum dan nilai RMR
sebagai berikut :
0 , 66 6
 γ  100 − R 
v r = 2,25 B    
1000   100 
0 , 36 3, 3
 γ  100 − R 
v r max = 3,3 B 0,55    
1000   100 

Keterangan : vr = laju kritis, mm/hari


vr max = laju konvergensi maksimum, mm/hari
B = lebar lubang bukaan, m
γ = bobot isi kering, kg/m3
R = Rock Mass Rating (RMR)
62

Laju kristis atau kecepatan kritis dapat dianggap sebagai peringatan awal
ketidakmantapan suatu lubang bukaan. Apabila laju konvergensi mencapai nilai di
atas nilai laju kritis, maka lubang bukaan (atap) perlu disangga untuk mencegah
atap runtuh. Jika laju konvergensi lebih kecil daripada nilai laju kritis, maka lubang
bukaan (atap) dapat dianggap dalam kondisi stabil (aman). Jadi laju kritis adalah
batas bawah dimana ketidakmantapan mulai terjadi, sedangkan batas atasnya
adalah laju maksimum yang jika laju konvergensi telah mencapai batas ini, maka
lubang bukaan (atap) akan segera runtuh.
Kriteria lain di lihat dari klasifikasi laju perpindahan (lihat Tabel 3.4) dan
penafsiran dalam bentuk grafik berdasarkan klasifikasi kecepatan perpindahan.
Tabel 3.4
Rate of Convergence
Rate of Convergence Rate of Convergence Classification
< 1,00 mm/day Negligible
> 1,00 mm/day < 2,00 mm/day Moderate
> 2,00 mm/day < 3,00 mm/day Severe
> 3,00 mm/day < 5,00 mm/day Very severe
> 5,00 mm/day Extremely severe

c) Percepatan Perpindahan (Acceleration of Convergence)


Kriteria analisis kestabilan lubang bukaan berdasarkan percepatan
perpindahan (lihat Tabel 3.5) dan penafsiran dalam bentuk grafik dibuat
berdasarkan klasifikasi percepatan perpindahan (lihat Gambar 3.11).

Tabel 3.5
Changes in Rate of Convergence
Acceleration of Convergence Classification Acceleration of Convergence
< 0,00 mm/day2 Stable
> 0,00 mm/day2 < 0,50 mm/day2 Slightly progressive
> 0,50 mm/day2 < 1,00 mm/day2 Progressive
> 1,00 mm/day2 < 3,00 mm/day2 Advancing
> 3,00 mm/day2 Severe

d) Rock Mass Rating (RMR) dan Span Design


Kriteria analisis kestabilan lubang bukaan dapat dinyatakan dalam bentuk
grafik hubungan antara Rock Mass Rating (RMR) terhadap span design (lihat
Gambar 3.1).
63

Gambar 3.1
Grafik Hubungan antara Rock Mass Rating (RMR) Terhadap Span Design

e. Perhitungan Faktor Keamanan


Faktor keamanan = FK (safety factor = SF) ditentukan dengan
menggunakan perhitungan numerik berupa metode elemen hingga (finite
elements methods), software phase2 versi 5.0. Kriteria analisis kestabilan lubang
bukaan berdasarkan faktor keamanan (FK) yang digunakan dapat dinyatakan
bahwa, bila :
1. FK > 1,00, artinya lubang bukaan stabil
2. FK = 1,00, artinya lubang bukaan kritis
3. FK < 1,00, artinya lubang bukaan tidak stabil (ambruk)

1.8 Teori Dasar Pemodelan dengan Metode Elemen Hingga


Prinsip dasar pemodelan adalah memilah dan membagi-bagi suatu
masalah yang kompleks menjadi sejumlah aspek yang lebih kecil dan sederhana
yang disebut dengan elemen. Permasalahan kemudian di analisis pada masing-
masing bagian yang sederhana ini, lalu bagian-bagian ini dirangkai kembali
menjadi kompleks seperti awalnya. Dalam pemodelan proses ini dikenal dengan
istilah discretize (diskretisasi).
64

Metode elemen hingga (finite elements method) merupakan salah satu


metode analisis numerik yang menggunakan pendekatan diferensial. Metode ini
dapat dipakai untuk menganalisis kondisi tegangan dan regangan pada suatu
struktur batuan.

1.9 Data Lapangan


a. Data Rock Mass Rating (RMR)
Tujuan dari pengumpulan data RMR adalah untuk mengelompokkan
massa batuan tertentu pada kelompok yang mempunyai perilaku yang sama,
sehingga dapat memudahkan dalam memahami karakteristik dari masing-masing
kelompok batuan.
Adapun parameter yang diperlukan dalam analisis Rock Mass Rating
(RMR) terdiri atas 6 (enam) parameter sebagai input data, yaitu :
a) Kuat Tekan Batuan Utuh (σc)

Kekuatan batuan utuh (intact rock) pada analisis RMR ini didasarkan pada
hasil uji Point Load Strength Index terhadap percontoh yang diambil secara
acak untuk memperoleh nilai kuat tekan batuan utuh. Hasil uji Point Load
Strength Index terdapat pada Tabel 1.6.
b) Rock Quality Designation (RQD)
Perhitungan RQD pada analisis RMR ini menggunakan prinsip perhitungan
Priest & Hudson (1976). Rock Quality Designation (RQD) diperoleh
berdasarkan hubungan eksponensial negatif antara frekuensi
kekar/meter (λ) dan jarak kekar. Formulanya adalah sebagai berikut :
RQD = 100 e −0,1.λ (0,1λ +1) Hasil perhitungan nilai RQD memperlihatkan nilai
sedang sampai sangat baik, sehingga bobot (rating) RQDnya 13 dan 20 (lihat
Tabel 1.8).
Tabel 1.6
Nilai Kuat Tekan Batuan Utuh (Hasil Uji Point Load Strength Index)
Lokasi Pengambilan Percontoh : Cross Cut 10 S, Blok II Selatan Ciurug Level 500 Dinding Sebelah Kanan
D P D² Is Is(50) σc
Percontoh F Keterangan
(cm) (kN) (cm²) (kN/cm²) (MPa) (MPa)
A 5,10 20,20 26,01 0,78 0,99 7,70 177,04 Breksi Andesit
B 6,80 18,20 46,24 0,39 0,87 3,43 78,83 Andesit
C 3,80 6,50 14,44 0,45 1,13 5,09 117,14 Tufa
D 6,70 35,00 44,89 0,78 0,88 6,83 157,20 Breksi Andesit
E 4,20 0,30 17,64 0,02 1,08 0,18 4,23 Breksi Andesit
F 4,20 0,20 17,64 0,01 1,08 0,12 2,82 Tufa

Tabel 1.7
65

Perhitungan Rock Quality Designation (RQD) pada Cross Cut 10 S Blok II Selatan, Ciurug
Level 500 Dinding Sebelah Kanan Panjang Pengukuran 0,00 – 9,02 m

αs scan line : N 69° E


βs scan line : 81°

βn Φ d i-m dxw
Dari Ke Jarak α d βd αn (teta j i-m
(m) (m) (m) (˚) (˚) (˚) (m) (m)
(˚) ) (m)
0,00 2,30 2,30 263,00 57,00 83,00 33,00 48,30
2,30 2,58 0,28 213,00 88,00 33,00 2,00 80,74 0,28 0,12
2,58 2,81 0,23 228,00 76,00 48,00 14,00 67,63 0,23 0,06
2,81 2,97 0,16 226,00 55,00 46,00 35,00 46,81 0,16 0,09
2,97 5,45 2,48 292,00 88,00 112,00 2,00 81,44 2,48 1,08
5,45 7,14 1,69 119,00 64,00 299,00 26,00 69,96 1,69 0,42
7,14 8,14 1,00 255,00 72,00 75,00 18,00 63,05 1,00 0,40
8,14 9,02 0,88 232,00 46,00 52,00 44,00 37,47 0,87 0,56 0,39
0,96 dsw 0,39 meter
Frek.
1,04 Kekar 2,57 per meter
RQD = 100e-0,1λ(0,1λ + 1)
λ = frek. kekar permeter = 2,57 per meter
LN (100) = 4,61
(−0,1 x λ) = -0,26
LN (0,1 λ + 1) = 0,23
Jumlah = 4,58
RQD = 97,22 %
Sumber : Hasil Pengolahan Data

Tabel 1.8
Nilai Rock Quality Designation (RQD)
Panjang RQD
Lokasi Deskripsi Rating
Pengukuran (%)
Cross Cut 10 S Blok II Selatan Dinding Kanan 0,00 - 9,02 m 97,22 sangat baik 20
Cross Cut 10 S Blok II Selatan Dinding Kanan 0,00 - 12,23 m 99,72 sangat baik 20
Cross Cut 10 S Blok II Selatan Dinding Kiri 0,00 – 21,44 m 93,33 sangat baik 20
Cross Cut 10 S Blok II Selatan Dinding Kiri 21,44 – 23,44 m 56,53 sedang 13
Ramp Up Blok II Selatan Dinding Sebelah Kanan 0,00 – 32,14 m 98,57 sangat baik 20
Ramp Up Blok II Selatan Dinding Sebelah Kiri 0,00 – 17,80 m 91,46 sangat baik 20
Cross Cut Access 10 S Blok II Selatan Dinding Sebelah Kanan 0,00 – 27,78 m 98,25 sangat baik 20
Cross Cut Access 10 S Blok II Selatan Dinding Sebelah Kiri 0,00 – 22,58 m 97,06 sangat baik 20
Sumber : Hasil Pengolahan Data

c) Jarak/Spasi Kekar (Spacing of Discountinous)


Jarak kekar yang diperoleh dari pengukuran lapangan adalah jarak semu. Hal
ini disebabkan karena kekar-kekar yang memotong scan line tidak selalu tegak
lurus. Untuk memperoleh jarak/spasi sebenarnya dari kekar digunakan formula

θ +θ
sebagai berikut : d =d cos i i+1 . Data yang diperoleh
i+i+1 i+i+1 2

menunjukkan rating antara 8 – 15.


d) Kondisi Bidang Discontinue
66

Kondisi bidang discontinue meliputi : panjang kekar (persistence), lebar


bukaan (separation), kekasaran (roughness), tebal isian (infilling), dan tingkat
pelapukan (weathered). Pembobotan (rating) dari masing-masing pengamatan
di ambil dari kondisi bidang discontinue secara umum atau di rata-ratakan.
Data yang diperoleh menunjukkan bahwa ratingnya berkisar antara 1 – 6.
e) Kondisi Air Tanah (Ground Water Condition)
Kondisi air tanah yang digunakan untuk analisis RMR pada penelitian tugas
akhir ini adalah kondisi secara umum. Kondisi kandungan air tanah umumnya
kering dan lembab dengan bobot antara 10 dan 15.
f) Orientasi Bidang Discontinue (Kekar)
Orientasi bidang discontinue (kekar) terdiri atas dip (kemiringan) dan dip
direction dari kekar. Dari hasil pengukuran yang dilakukan arah bidang
discontinue cukup bervariasi, maka diambil arah umum bidang
ketidakmenerusannya.

1.10 Klasifikasi Massa Batuan (Rock Mass Rating)


Klasifikasi massa batuan yang dihitung dengan menggunakan sistem
Rock Mass Rating, diperoleh hasil bahwa kelas massa batuan yang ada di lokasi
penelitian adalah kelas II (good rock) dan kelas III (fair rock).
a. Batuan Kelas II (Good Rock)
Berdasarkan hasil perhitungan Rock Mass Rating terhadap jenis batuan
breksi tufa yang diklasifikasikan pada kelas ini terlihat di lokasi pengamatan Ramp
Up Blok II Selatan, Cross Cut 10 S Blok II Selatan dan Cross Cut Access 10 S
Blok II Selatan.

Karakteristik massa batuan kelas II (good rock) antara lain :


• Secara umum kondisi batuan adalah agak fresh dan agak kompak (massive),
pelapukan terdapat pada rekahan-rekahan yang terbuka, tetapi batuan yang
utuh (intack rock) hanya terlihat sedikit lapuk dengan adanya perubahan warna
batuan pada rekahan.
• Pada massa batuan mempunyai kualitas batuan (RQD) antara sedang sampai
baik dengan intensitas dan frekuensi joint yang agak renggang, sedikit tidak
beraturan dengan nilai antara 75,00 % - 90,00 %.
67

• Kerapatan kekar pada massa batuan cukup rapat dengan jarak antar kekar
dalam satu garis pengukuran antara 0,60 – 2,00 meter.
• Kondisi kekar dapat dijelaskan sebagai berikut:
 bidang kekar agak kasar sampai kasar.
 dapat ditemukan celah dengan lebar < 0,10 mm
 mempunyai bahan pengisi yang keras pada bidang kekar
 batuan sedikit terlapukkan
 kekar tidak menerus dengan panjang kekar antara 1,00 – 3,00 meter.
• Secara umum kandungan air pada kelas ini adalah dalam kondisi lembab atau
kering.
b. Batuan Kelas III (Fair Rock)
Berdasarkan hasil perhitungan Rock Mass Rating batu tufa breksian yang
diklasifikasikan pada kelas III terlihat di lokasi pengamatan Cross Cut 10 Selatan.
Sedangkan untuk batuan tufa dapat dikenali dengan warnanya yang terang agak
kecoklatan dengan kondisi batuan agak lapuk tetapi masih bersifat massive
(padat).
Karakteristik kelas massa batuan kelas III (fair rock) antara lain :
• Secara umum kondisi batuan tidak terlalu kompak (sedang) pelapukan batuan
sudah mulai terjadi pada sebagian massa batuan, yaitu dengan sudah
terjadinya perubahan warna yang cukup luas pada massa batuan, specimen
batuan bisa lepas dan pada rekahan terdapat bahan material sisa pelapukan.
• Pada massa batuan mempunyai kualitas batuan (RQD) menengah, ditandai
dengan intensitas serta frekuensi kekar yang sedang, mulai rapat dan mulai
tidak beraturan dengan nilai antara 50,00 % - 75,00 %.
• Kerapatan kekar pada massa batuan sedang dengan jarak antar kekar dalam
satu garis pengukuran kekar antara 0,20 – 0,60 meter.
• Kondisi kekar dapat dijelaskan sebagai berikut :
 bidang kekar rata sampai agak kasar.
 dapat ditemukan celah atau pemisah antar bidang kekar dengan lebar
antara 1,00 – 5,00 mm.
 mempunyai bahan pengisi yang keras sampai sedang pada bidang kekar.
 batuan agak lapuk.
68

 kekar pada umumnya menerus dengan panjang kekar antara 3,00 – 10,00
meter.
• Secara umum kandungan air pada kelas ini adalah dalam kondisi yang basah.
Setelah diketahui kelas massa batuan di lokasi pengamatan di atas, maka
dapat diartikan bahwa seluruh lubang bukaan yang batuannya kelas III lubang
bukaan berada dalam kondisi stabil.
2 Klasifikasi Massa Batuan (Rock Mass Rating)
Klasifikasi massa batuan yang dihitung dengan menggunakan sistem
Rock Mass Rating, diperoleh hasil bahwa kelas massa batuan yang ada di lokasi
penelitian adalah kelas II (good rock) dan kelas III (fair rock).
a. Batuan Kelas II (Good Rock)
Berdasarkan hasil perhitungan Rock Mass Rating terhadap jenis batuan
breksi tufa yang diklasifikasikan pada kelas ini terlihat di lokasi pengamatan Ramp
Up Blok II Selatan, Cross Cut 10 S Blok II Selatan dan Cross Cut Access 10 S
Blok II Selatan. Sifat batuan breksi tufa dapat dilihat dari kondisi batuannya,
seperti kekerasan (kekuatan) batuan, yaitu ketika dilakukan percobaan seperti
dipukul dengan palu geologi, warna, komposisi mineral yang dikandungnya dan
lain-lain.
Karakteristik massa batuan kelas II (good rock) antara lain :
• Secara umum kondisi batuan adalah agak fresh dan agak kompak (massive),
pelapukan terdapat pada rekahan-rekahan yang terbuka, tetapi batuan yang
utuh (intack rock) hanya terlihat sedikit lapuk dengan adanya perubahan warna
batuan pada rekahan.
• Pada massa batuan mempunyai kualitas batuan (RQD) antara sedang sampai
baik dengan intensitas dan frekuensi joint yang agak renggang, sedikit tidak
beraturan dengan nilai antara 75,00 % - 90,00 %.
• Kerapatan kekar pada massa batuan cukup rapat dengan jarak antar kekar
dalam satu garis pengukuran antara 0,60 – 2,00 meter.
• Kondisi kekar dapat dijelaskan sebagai berikut:
 bidang kekar agak kasar sampai kasar.
 dapat ditemukan celah dengan lebar < 0,10 mm
 mempunyai bahan pengisi yang keras pada bidang kekar
69

 batuan sedikit terlapukkan


 kekar tidak menerus dengan panjang kekar antara 1,00 – 3,00 meter.
• Secara umum kandungan air pada kelas ini adalah dalam kondisi lembab atau
kering.
b. Batuan Kelas III (Fair Rock)
Berdasarkan hasil perhitungan Rock Mass Rating batu tufa breksian yang
diklasifikasikan pada kelas III terlihat di lokasi pengamatan Cross Cut 10 Selatan.
Sedangkan untuk batuan tufa dapat dikenali dengan warnanya yang terang agak
kecoklatan dengan kondisi batuan agak lapuk tetapi masih bersifat massive
(padat).
Karakteristik kelas massa batuan kelas III (fair rock) antara lain :
• Secara umum kondisi batuan tidak terlalu kompak (sedang) pelapukan batuan
sudah mulai terjadi pada sebagian massa batuan, yaitu dengan sudah
terjadinya perubahan warna yang cukup luas pada massa batuan, specimen
batuan bisa lepas dan pada rekahan terdapat bahan material sisa pelapukan.
• Pada massa batuan mempunyai kualitas batuan (RQD) menengah, ditandai
dengan intensitas serta frekuensi kekar yang sedang, mulai rapat dan mulai
tidak beraturan dengan nilai antara 50,00 % - 75,00 %.
• Kerapatan kekar pada massa batuan sedang dengan jarak antar kekar dalam
satu garis pengukuran kekar antara 0,20 – 0,60 meter.
• Kondisi kekar dapat dijelaskan sebagai berikut :
 bidang kekar rata sampai agak kasar.
 dapat ditemukan celah atau pemisah antar bidang kekar dengan lebar
antara 1,00 – 5,00 mm.
 mempunyai bahan pengisi yang keras sampai sedang pada bidang kekar.
 batuan agak lapuk.
 kekar pada umumnya menerus dengan panjang kekar antara 3,00 – 10,00
meter.
• Secara umum kandungan air pada kelas ini adalah dalam kondisi yang basah.

1.11 Stabilitas Lubang Bukaan


70

1. Stabilitas Lubang Bukaan Berdasarkan Data Rock Mass Rating


(RMR)
Stabilitas lubang bukaan dengan menggunakan data Rock Mass Rating
(RMR) diperlihatkan dari grafik hubungan antara Rock Mass Rating (RMR)
terhadap span design. Dengan panjang span 4,00 m dan nilai RMR untuk masing-
masing lubang lubang bukaan secara umum kelas II dan kelas III, maka kondisi
lubang bukaan stabil.
2. Stabilitas Lubang Bukaan Berdasarkan Alat Convergencemeter
Pemantauan (monitoring) pada lubang bukaan Tambang Ciurug Level
500 dilakukan pada lokasi Ramp Up Blok II Selatan stasiun pemantauan ST1,
Cross Cut 10 S Blok II Selatan stasiun pemantauan ST2, Cross Cut Access 10 S
Blok II Selatan stasiun pemantauan ST3 sampai ST7. Dilakukannya pemantauan
pada ST1 dan ST2 sebagai titik pemantauan tambahan, karena jaraknya tidak
jauh dari lokasi pengamatan utama yakni pada ST3 – ST7. Dari evaluasi statistik
dan grafik yang diperoleh, dapat di lihat bahwa terjadi pergerakan yang sangat
berfluktuasi dengan nilai konvergensi naik (gradient positive). Hal ini menunjukkan
adanya pergerakan ke arah dalam atau lubang bukaan mengecil, sedangkan nilai
konvergensi turun (gradient negative) menunjukkan pergerakkan ke arah luar atau
lubang bukaan membesar. Pada saat dilakukan peledakan untuk pembongkaran
batuan, akan terjadi guncangan keras yang dapat menyebabkan bergetarnya titik
konvergensi. Hal ini menyebabkan kurva monitoring tidak smooth, ditunjukkan
dengan banyak loncatan nilai, walau kecenderungan kurva tetap terarah.
3. Stabilitas Lubang Bukaan Berdasarkan Alat Total Station
Pemantauan (monitoring) pada lubang bukaan di Cross Cut Access 10 S,
Blok II Selatan Ciurug Level 500. Dalam pembahasan ini nilai perpindahan akan
dilakukan berdasarkan segmen-segmen stasiun titik pengamatan pemantauan.
Secara umum lubang bukaan untuk titik monitoring STA–STF dengan
menggunakan alat ukur Leica TPS 1200 type TCR 1203 memiliki konvergensi
harian sangat kecil (verry small) berkisar antara –73,97 mm/hari sampai 7,54
mm/hari dan konvergensi kecil (small) dengan pergerakkan 10,36 mm/hari.
4. Stabilitas Lubang Bukaan dengan Meggunakan Metode Elemen
Hingga (Finite Elements Method)
71

Kestabilan lubang bukaan Tambang Ciurug Level 500 Cross Cut Access
10 S dipantau dengan menggunakan program aplikasi Phase2 versi 5.0 untuk
menghitung perpindahan dan faktor keamanan (safety factor). Hasil pemodelan
pada tahap ketika lubang bukaan belum di buka (stage 1), tahap ketika lubang
bukaan pada lokasi pemantauan sudah dibuka (stage 2) dan tahap ketika lubang
bukaan yang telah dibuka diberi perkuatan rockbolt (stage 3) pada dinding dan
atap lubang bukaan ternyata di dapat nilai perpindahan yang termasuk dalam
kategori sangat kecil (verry small) dengan nilai berkisar antara 0,0000 – 0,0015 m
untuk konvergensi horizontal, untuk konvergensi vertikal antara 0,005 – 0,020 m
dan untuk konvergensi total antara 0,005 – 0,020 m, sedangkan faktor
keamanannya (safety factor) adalah FK > 1,00, yaitu berkisar antara 1,30 – 5,48.