Anda di halaman 1dari 91

LAPORAN PENELITIAN

BENCANA DAN KERELAWANAN PEREMPUAN :

Studi Kasus Penanganan Bencana di Kabupaten Bantul, DIY

Oleh :

Dati Fatimah Retno Agustin

(Perhimpunan Aksara – Jogjakarta)

Pemenang Philantrophy Research Award III Pirac – Ford Foundation

2007

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

i

BAB I. PENDAHULUAN

1.

1.1. Latar Belakang

2

1.2. Permasalahan Penelitian

6

1.3. Tujuan Penelitian

7

1.4. Kerangka Teori

8

1.5. Metode Pengumpulan Data

21

1.6. Sistematika Penulisan Laporan

23

BAB II. SISTEM SOSIAL BANTUL SEBELUM BENCANA

24

2.1. Bantul sebagai Komunitas Geografis

25

2.2. Sistem Sosial Bantul

26

2.3. Sistem Pemerintahan

27

BAB III. UJIAN KETANGGUHAN PEREMPUAN DALAM

BENCANA

30

3.1. Membaca Gender dalam Bencana Gempa di

30

3.2. Sistem Sosial Bantul dalam Guncangan Gempa 32

3.3. Perempuan Tanggap di tahap Darurat

3.4. Fase Rehabilitasi – Rekonstruksi : kembali ke Asal? 41

Bantul

36

3.5. Gender dalam Kerelawanan Perempuan

50

BAB IV. MODAL SOSIAL PEREMPUAN DALAM BENCANA

57

4.1. Ruang Produksi Perempuan Relawan

57

4.2. Faktor-faktor Yang Mendorong Kerelawanan Perempuan

61

4.3. Modal Sosial Kerelawanan Perempuan

63

BAB V. CATATAN DAN KESIMPULAN

76

5.1. Penghargaan Itu Barang yang Mahal

76

5.2. Modal Sosial Bernama Kerelawanan

79

PAHLAWAN DALAM KESENYAPAN :

CATATAN PENGANTAR

Adalah perasaan yang campur aduk ketika harus menuliskan kehidupan para perempuan pasca gempa, sebagaimana juga pengalaman menceritakan satu kejadian yang mengubah kehidupan manusia. Bencana, dalam keadaan ketidaksiapan dan minimnya perhatian terhadapnya, memang harus dibayar sangat mahal. Kehilangan nyawa anggota keluarga, saudara, teman dan kerabat, hingga kerusakan dan kehilangan harta benda dan juga infrastruktur komunal. Tetapi, walau pada awalnya diliputi dengan nuansa kesedihan yang mendalam, wajah wajah penuh semangat untuk kembali bangkit adalah pertanda bahwa kehidupan tidak berhenti karena bencana. Semangat, harapan dan solidaritas inilah yang terpancar kuat dari wajah wajah para penyintas (survivors), yang selamat dalam kejadian Gempa 27 Mei 2006 yang menghantam Jogja dan Jawa Tengah. Ketika akhirnya kami menjadi salah satu pemenang Philantrophy Research Award III PiracFord Foundation tahun 2007, kami bagaikan menuliskan sepenggal hidup dari perjalanan keterlibatan kami didalamnya. Walaupun mungkin kami tidak menjadi bagian utama dari cerita yang dituliskan di sini, pada bagian bagian tertentu, cerita ini adalah juga bagian dari cerita hidup kami. Dan sebagaimana diungkap di muka, rasa yang campur aduk inilah yang kemudian akan bisa Anda dapatkan dari 5 bab laporan riset yang kami tuliskan. Pada bagian tertentu, sarat dengan nuansa kesedihan dan rasa yang menyentuh, sementara pada bagian lain, kamipun harus larut dalam menuliskan semangat para pahlawan yang berjuang untuk bangkit kembali. Siapakah para pahlawan tersebut, yang juga akan Anda baca dalam laporan ini? Mereka ini, adalah para perempuan yang karena situasi, merasa terpanggil untuk melakukan serangkaian upaya mengkonsolidasi gerakan dan sumber daya, dan berbagi dengan sesama. Upaya mereka ini sangatlah berarti walaupun seringkali luput dari perhatian dan peliputan. Mereka inilah, para pahlawan dalam kesenyapan, yang menjadi nafas dan inspirasi utama buku yang kami tulis. Laporan ini juga tidak akan bisa kami selesaikan, tanpa dukungan, kritisi dan bimbingan dari Dr. Rohman Ahwan yang menjadi pembimbing selama proses penelitian. Walaupun tidak cukup intensif, tetapi masukan dan juga referensi untuk penelitian yang kami dapatkan dari Beliau, sangatlah berarti bagi kami dalam menyelesaikan laporan ini. Selain itu, kami juga belajar banyak dari menjalin kerja sama dengan PIRAC dalam menyelesaikan laporan ini. Laporan ini juga tidak akan mungkin bisa Anda baca, tanpa kontribusi berarti dari para narasumber utama penulisan ini. Mulai dari para perempuan di dusun Kadisoro, Nangsri, Imogiri, Piyungan, juga teman teman NGO di Jogja (Wawan, Leny, mas Dedy, Zaki dan Rinto, Unang, Mbak Yuni, Widyanta, Amin, Mbak Reny, Mbak Endang), juga dari Pemerintah dan DPRD (Bu Tutik KPP dan Agung Laksmono). Tanpa terkecuali, satu sumbangsih yang sangat berarti juga kami dapatkan dari Endah dan Titin yang telah menjadi asisten untuk kerja penelitian ini. Kesediaan mereka bekerja dalam limitasi waktu dan fasilitas, menjadikan kami mampu melampaui kendala kendala teknis dalam pelaksanaan penelitian. And last but not least ,

untuk teman teman Aksara dimana kami bermain dan bekerja, dan juga buat Lien dan Rayya, terima kasih sekali untuk pertemanan, dan juga dukungan yang membahagiakan. Salam dan selamat membaca

Jogjakarta, Juni 2008

Dati Fatimah ( datifatimah@gmail.com ) Retno Agustin ( retnoagustin@gmail.com ).

SINOPSIS

Dapur umum, yang segera berdiri dalam hitungan waktu yang pendek setelah terjadi krisis dan bencana adalah potret yang nyata dalam kehidupan sekitar kita, seiring meningkatnya kejadian bencana dan krisis. Begitu juga dengan kondisi pasca gempa yang melanda Jogja dan Jateng, 27 Mei 2006. Segera setelah gempa terjadi, perempuan dengan sigap dan spontan, mendirikan dapur umum secara darurat. Waktu itu, bersama dengan kelompok masyarakat yang lain seperti kaum lelaki yang melakukan peran evakuasi korban, peran perempuan ini sangatlah penting dalam penyelamatan kehidupan dalam situasi krisis.

Sayangnya, walaupun perannya sangat signifikan, namun ini tidak secara otomatis diikuti dengan penghargaan yang memadai. Adalah menarik untuk mengkaji bahwa sebagian responden penelitian ini menganggap tidak ada yang istimewa dengan kerelawanan perempuan seperti nampak dalam kasus dapur umum ini. Hal ini disebabkan peran memasak dianggap sudah seharusnya dilakukan oleh perempuan. Begitu juga peran peran kerelawanan perempuan yang lain seperti perawatan orang sakit, pengelolaan fasilitas kesehatan masyarakat bersama bernama posyandu, dan banyak aktivitas lain yang dilakukan perempuan secara sukarela.

Buku yang Anda baca ini adalah laporan penelitian tentang bagaimana kerelawanan perempuan dalam situasi bencana tumbuh, terkelola dan direspon oleh pihak yang terkait. Sebagai sebuah studi kasus yang mengambil setting di kabupaten Bantul, buku ini ingin menjawab pertanyaan kunci tentang apa sajakah modelmodel kerelawanan perempuan yang muncul, dan bagaimana ini terhubung dengan kerelawanan dan pihak yang lebih luas.

Apakah perempuan menjadi korban ataukah menjadi pahlawan dalam situasi bencana, akan ditentukan ketika ketrampilan, pengetahuan, kapasitas dan jaringan perempuan diperhitungkan. Dan sayangnya, ini tak selalu didapatkan para perempuan ketika bencana terjadi di Bantul, sebagaimana nampak dalam kajian yang Anda baca ini.

BAB I PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG MASALAH

Pagi hari di Sabtu 27 Mei 2006, sebuah gempa dangkal berkekuatan 5.9 Skala Richter mengguncang Jogjakarta dan Jawa Tengah. Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi kurang sedikit, ketika bumi bergoyang dengan sangat kencang. Gempa saat itu, sangatlah mengejutkan bagi masyarakat yang sebelumnya menganggap daerah tempat tinggalnya adalah kawasan aman dari bahaya gempa bumi. Gempa yang terjadi di tengah perhatian publik yang justru berpusat pada ancaman bencana letusan gunung Merapi yang berada di sebelah utara Jogjakarta ini, membawa banyak kerusakan dan juga kerugian. Data yang dikumpulkan Bappenas menunjuk angka korban jiwa sebanyak 5.760 orang meninggal dunia, 388.758 rumah rusak termasuk sebanyak 187.474 rumah yang roboh (Rencana Aksi Nasional, Buku I).

Tabel 1.1. Perbandingan beberapa bencana internasional

Negara

Jenis bencana

 

Kejadian

Korban jiwa

Kerusakan

Kerusakan

Alam

 

Kerigian

Kerigian

(US$ juta)

(US$ juta)*

Indonesia

Tsunami

26

Des 2004

165,708

4,450

4,747

Pakistan

Gempa bumi

08

Okt 2005

73,338

2,900

2,992

Sri Lanka

Tsunami

 

35,399

1,454

1,551

India (gujarat)

Gempa Bumi

26

Jan 2001

20,003

2,600

2,959

Turki

Gempa Bumi

17

Agst 1999

17,127

8,500

10,281

India

Tsunami

26

Des 2004

16,389

1,224

1,306

Honduras

Badai Mitch

25

Okt-8 Nov 1998

14,600

3,800

4,698

Thailand

Tsunami

26

Des 2004

8,345

2,198

2,345

Indonesia(Yogya-Jateng)

Gempa Bumi

27

Mei 2006

5,760

3,134

3,134

Sumber: Asia Disaster Preparednes Centre, Thailand: ECLAC, EM-DAT, World Bank, Juni 2006

Catatan: * Harga Konstan tahun 2006

Tabel di atas menunjukkan, meskipun jumlah korban jiwa sangat jauh dibawah jumlah korban jiwa tsunami misalnya, tetapi jumlah kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan tidak terlampau jauh berbeda. Hal ini dikarenakan tingkat kepadatan penduduk di Jogjakarta dan Jawa Tengah yang mengakibatkan tingginya angka kerusakan pada bangunan baik rumah, maupun infrastruktur publik dan dunia usaha.

Dalam data yang lebih rinci, menunjukkan DIY mengalami kerusakan sebagai berikut:

Tabel 3.2.

Data Rumah Rusak di DIY karena Gempa 1

No

Kabupaten/Kota

Jumlah Rumah Rusak

 

1 Sleman

21.056

 

2 Kulonprogo

3.401

 

3 Jogjakarta

6.538

 

4 Gunungkidul

9.235

 

5 Bantul

119.879

Selain mengakibatkan ratusan ribu rumah rusak dan roboh, gempa juga mengakibatkan rusaknya sarana dan prasarana umum. Rusaknya puluhan pasar, ratusan sekolah, tempat ibadah, bangunan perkantoran dan sarana usaha membuat skala kerugian memang sangat tinggi. Untuk bangunan pendidikan, jumlah bangunan sekolah di DIY dan Jateng mencapai 2.630 unit dengan perkiraan jumlah kerusakan dan kerugian mencapai Rp 1.74 Triliun. Sementara pada sektor kesehatan, jumlah kerusakan diperkirakan mencapai Rp 1.5 Triliun, dan

1 Pemprop DIY (2007), “Lesson Learnt dalam Rehabilitasi dan Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa Bumi”, disampaikan dalam workshop sehari Lesson Learned Bencana Jogja-Jateng : Masukan Bagi Penyusunan RPP dan Perpres UU 24/2007 tentang Penanganan Bencana, data per 7 Mei 2007

kerugian mencakup Rp 21 Miliar di kedua propinsi. Gempa ini mengakibatkan kehancuran 17

rumah sakit swasta dan rusaknya 41 klinik swasta di kota Jogjakarta. Untuk Puskesmas, dari

total 117 Puskesmas di propinsi DIY, 45 hancur, 22 rusak parah dan 16 rusak ringan. Sementara

di Jawa Tengah, 2 puskesmas di Klaten hancur, 7 rusak berat dan 7 lainnya mengalami rusak

ringan. Dampak gempa bumi pada sektor produktif juga sangat besar, apalagi karena

kontribusi terbesarnya adalah dari kehancuran usaha kecil dan menengah yang menjadi tulang

punggung perekonomian masyarakat di daerah terkena bencana. Juga ditambah dengan

kerusakan struktur irigasi, dan juga kerusakan pada sistem pertanian. Perkiraan jumlah

kerusakan dan kerugian dalam sektor ini mencapai Rp 9.025 Triliun. 2

Selain menghancurkan dan meluluhlantakkan sarana dan prasarana yang ada, gempa

bumi ini juga mengakibatkan dampak psikologis bagi masyarakat. Secara umum, masyarakat

Jogjakarta dikatakan berada dalam situasi beban sosial ekonomi yang berat. 3 Besarnya dampak

gempa ini juga berpengaruh bagi kesehatan mental bagi banyak anggota masyarakat. Kondisi

ini nampak dari penuturan Bu Ponirah, salah satu penyintas dari Gedongan, Kasihan berikut

ini :

mengingat saat itu, rasanya ngeri, ngeri sekali Juga stress. Bagaimana tidak stress,

wong rumahnya hancur semua. Berteduhnya di bawah pohon, dan kehujanan selama 3 hari dan

barang barang hancur semua

”Kalau

Gempa sebagai sebuah pengalaman sejarah yang membawa luka bersama bagi

masyarakat, menjadi magnet bagi sejumlah donor, organisasi nasionallokal maupun penyintas

untuk bergerak bersama. Gempa mengundang bantuan datang bertubi, tentu saja dengan

ragam cara dan motif.

2 Buku Utama Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Pasca Bencana Gempa Bumi di Propinsi DIY dan Propinsi Jawa Tengah, Bappenas, Bab III, Juli, 2006

3 Policy Brief Gender Working Group (GWG) untuk respon bencana Jogja-Jateng, Mainstreamingkan Gender dalam Kebijakan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Gempa : Libatkan Perempuan dalam Seluruh Proses Rehabilitasi-Rekonstruksi. Naskah, Tidak Diterbitkan, 2006.

Penanganan gempa bumi Jogja Jateng memberi pembelajaran betapa berharganya

kerelawanan dan solidaritas warga. Hari pertama dan kedua pasca bencana, masyarakat dari

luar daerah bencana telah mulai bergerak, mengirimkan bantuan logistik maupun relawan

untuk membantu warga korban bencana. Dibantu para relawan, tanpa dikomando warga

masyarakat (perempuan lakilaki, tua muda, kaya miskin) gumbregah, bangkit, bergerak,

bekerja bahu membahu, bergotong royong membersihkan puing puing dan menata kembali

dusunnya masing masing. Di sana sini, posko posko bantuan pun didirikan dan diorganisir

secara sigap oleh berbagai paguyuban masyarakat sipil. 4

Para perempuan tak kalah sigap, dengan responsifnya mereka bergerak mendirikan

dapur umum. Mereka membagi tugas dengan cepat untuk mengumpulkan bahan pangan yang

masih bisa diselamatkan di setiap rumah kemudian mengaturnya sebagai lumbung pangan

selama beberapa hari. Bencana kelaparan yang mengikuti kejadian bencana direduksi karena

kecekatan perempuan untuk bertindak mengamankan hajat dasar masyarakatnya. 5 Aktivitas

massa itu digerakkan oleh spirit altruisme dan kerelawanan (voluntarism) yang sangat tinggi di

antara warga sendiri. Tiga bulan fase tanggap bencana, kerja kerja karitatif sungguh mewarnai

interaksi antara penyintas dengan penyintas 1 , penyintas dengan relawan luar komunitas

maupun penyintas dengan jejaring masyarakat sipil lainnya. Memasuki fase rehabilitasi dan

rekonstruksi, sejumlah organisasi perempuan perempuan mempraktikkan pendekatan yang

lain. Bantuan karitatif sebagai bagian dari filantropi sangat baik untuk kerja kerja tanggap

bencana. Namun untuk kerja jangka panjang justru tidak mendidik masyarakat, bahkan

ditakutkan akan membawa ketergantungan masyarakat pada pemberi bantuan. Karenanya

pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi, kerja karitatif berusaha untuk diintegrasikan dengan

kerja pemberdayaan komunitas warga korban.

4 Widyanta, AB. Modal Sosial: Partisipasi Warga Yang Selalu Dinisbikan Dalam Governance Kebencanaan (Belajar Dari Penanganan Gempa Bumi Yogya Dan Jateng), dalam Jurnal RENAI Governance Bencana tahun ke 7 no 1. 2007.

5 Agustin, Retno. Gender yang Direkonstruksi dalam Bencana Alam(i)? Pengabaian vis a vis Kebangkitan Perempuan Penyintas dalam Penanganan Gempa dalam Widyanta, AB (ed) Kisrah-Kisruh di Tanah Gempa. Jogjakarta : CPRC-FS. Mei 2007.

Modelmodel partisipasi yang sangat spontan, mandiri dan digerakkan oleh spirit

altruitik dan norma informal merupakan ciri modal sosial yang berbasiskan warga.

Sebagaimana ditandaskan oleh Fukuyama, modal sosial yang mewujud dalam jaringan warga

merupakan jalan pintas yang mengatasi masalah koordinasi dalam organisasi yang sangat

terdesentralisasi 6 . Dalam penanganan gempa bumi jogja jateng, modal sosial berbasis warga

inilah yang menjadi jaring pengaman bagi korban dan survivor untuk melampaui krisis paska

bencana. 7

Akan tetapi, dalam temuan kami, dalam setiap tahapan bencana kerja perempuan baik

pada sector domestic maupun publik sering tidak diperhitungkan. Padahal, bila melihat situasi

pada detik detik awal tanggap bencana, perempuan lah yang dengan sangat cekatan dan sigap

segera melakukan langkah langkah penting penanganan bencana. Dapur umum –meskipun

merupakan kerja domestic namun merupakan refleksi sikap assertif dan sukarela yang

dilakukan oleh perempuan ketika menghadapi bencana. Kesedihan dan kepiluan karena

bencana memang dirasakan, tetapi hidup harus terus berjalan : orang perlu makan, perlu

menyambung hidup dan tenaga, dan karenanya, dapur umum adalah jawabannya. Di sini,

perempuan memegang peran kunci. Penelitian kami menunjukkan bahwa keterlibatan

perempuan dalam proses rehabilitasirekonstruksi merupakan hal yang tak lazim dalam

masyarakat yang kental nuansa patriarkisnya. Pandangan mata aneh maupun cibiran

merupakan reaksi yang kerap diterima para perempuan. Tantangan balik dari lakilaki acap

menghadang perempuan yang secara sukarela (volunterisme) hendak terlibat dalam proses

rekonstruksi. Namun dalam catatan lapangan juga terdapat pengalaman keberhasilan

perempuan dalam meyakinkan masyarakat bahwa mereka adalah latent leader yang

berkemampuan untuk mengawal proses pemulihan bencana dengan lebih berkeadilan.

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengangkat sebuah potret realitas yang penting

namun sering terabaikan dalam penanganan kebencanaan, yaitu perempuan penyintas. Realitas

6 Fukuyama, Francis. Guncangan Besar, Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru; Jakarta: Gramedia, 2005, hlm. 243

7 Widyanta,AB. Op.Cit

yang ingin dikuak dalam penelitian ini adalah perempuan tak semata sebagai korban quote en quote yang tak berdaya, namun juga entitas yang aktif dan berdaya dalam penanganan bencana. Pengalaman penanganan bencana di kabupaten Bantul menunjukkan potret kesadaran perempuan yang cukup tinggi dalam berpartisipasi dalam penanganan kebencanaan, meskipun partisipasi mereka juga kerap ditelikung maupun dinisbikan. Dengan kata lain, kontribusi perempuan dalam penanganan kebencanaan hendak dipotret untuk menjadi sebuah pembelajaran bagi penanganan kebencanaan di tempat tempat lain.

II. PERMASALAHAN PENELITIAN :

Bentuk bentuk kerelawanan perempuan dan ruang Penelitian ini ingin mengungkap pertanyaan mendasar mengenai bagaimana bentuk bentuk kerelawanan dan siasat perempuan merebut ruang partisipasi dalam penanganan kebencanaan? Untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan penelitian, peneliti merumuskan sejumlah pertanyaan pertanyaan kunci, antara lain :

1. Sistem sosial kebencanaan seperti apakah yang melahirkan tokoh tokoh perempuan dalam penanganan bencana?

2. Bagaimana pengaruh dari sistem sosial ini terhadap bentuk bentuk partisipasi perempuan baik di ruang domestik atau publik? Apa sajakah hambatan yang dihadapi dan strategi yang diambil perempuan untuk merebut ruang partisipasi?

3. Bagaimana proses dan perkembangan hubungan antara bentuk kerelawanan perempuan yang ada dengan kelompok kelompok lain (LSM, organisasi lokal, pemerintah) pasca bencana? Bagaimana kelompok kelompok lain tersebut memainkan peran linking social capital sehingga kerelawanan perempuan lokal dapat terhubung dengan ruang public yang lebih luas.

III. TUJUAN PENELITIAN :

Penelitian ini ditujukan untuk:

1. Menemukan bentuk bentuk kerelawanan perempuan dan siasat partisipasi perempuan

dalam penanganan bencana

2. Menunjukkan model filantropi perempuan dalam penanganan kebencanaan.

3. Memetakan pola hubungan antara perempuan dengan pihak pihak lain dalam

mobilisasi modal sosial untuk penanganan bencana.

4. merumuskan rekomendasi bagi proses penanganan bencana yang berperspektif gender.

IV. KERANGKA TEORI :

a. Bencana

dasarnya, tidak ada yang disebut sebagai bencana alam; yang ada adalah bahaya

bahaya alam, seperti misalnya siklon dan gempa bumi. Perbedaan antara sebuah bahaya dan sebuah bencana merupakan suatu hal yang penting. Sebuah bencana terjadi jika sebuah komunitas terkena dampak sebuah bahaya (biasanya diartikan sebagai sebuah peristiwa yang melampaui kapasitas komunitas tersebut untuk menghadapinya). Dengan kata lain, dampak sebuah bencana ditentukan oleh sejauh mana kerentanan sebuah komunitas terhadap bahaya. Kerentanan seperti ini tidak bersifat alami. Ia merupakan dimensi manusiawi dalam bencana, hasil dari keseluruhan faktorfaktor ekonomi, sosial, budaya, institusi, politik dan bahkan psikologi yang membentuk hidup manusia dan menciptakan lingkungan di mana mereka tinggal 8 Bencana bukan hanya menghancurkan tatanan fisik, namun juga tatanan sosial,

ekonomi dalam masyarakat. Bencana menjadi triger yang memicu peningkatan kerentanan

yang sudah terdapat dalam masyarakat sebelum bencana terjadi. Kerentanan tersebut bukan

hanya reprentasi dari rendahnya kapasitas masyarakat dalam menghadapi tantangan sosial dan

alam, namun juga representasi salah urus oleh negara atas masyarakatnya. 9

”Pada

8 Twigg, J (2001), sebagaimana dikutip dalam Living with Risk, UNISDR, 2004, chapter 1,

9 Fatimah, Dati. Yang Sering terabaikan: Gender dan Anggaran dalam Bencana dalam Widyanta, AB (ed) Kisrah-Kisruh di Tanah Gempa. Jogjakarta : CPRC-FS. Mei 2007.

Dalam situasi bencana tercipta kondisi chaotic dan kepanikan. Masyarakat harus

beradaptasi dengan ritme alam dan sosial yang berubah. Fokus pada penyelamatan diri dan

keluarga mengakibatkan masyarakat sulit terorganisir. Di sisi lain, negara juga harus

beradaptasi dengan ritme birokrasi darurat bencana. Proses untuk beradaptasi dengan kondisi

bencana ini yang mengakibatkan kegagapan bagi masyarakat maupun negara. Meski

bagaimanapun juga, negaralah yang harus bertanggung jawab atas masyarakatnya.

Hoffman (1999;2002), menegaskan pandangan mengenai bencana ditinjau dari sudut

pandang ekonomi politik. Menurut hoffman: (1) bencana dapat dihindari dan kejadian alam

tidak harus berubah menjadi bencana kalau dampaknya bisa diatasi dengan baik; (2) manusia

tidak dilihat sebagai korban yang tidak tertolong tetapi sebagai aktor yang mampu dengan

tingkatannya masing masing memecahkan dan menghadapi kejadian alam atau bahkan

menghindarinya. Disini sumber yang dimiliki penduduk berperan penting dalam pemulihan;

(3) isu keadilan menjadi penting. Kelompok kaya jarang menderita separah yang dialami oleh

kelompok miskin dalam setiap bencana, walaupun bencana tetaplah merupakan penderitaan

umum dengan tingkat keparahannya masing masing. 10

Salah satu aspek penting dalam kajian tentang bencana adalah kajian tentang

kerentanan. Perspektif kerentanan memandang bahwa situasi yang ditimbulkan dari bencana

tidak hanya berasal dari bencana itu sendiri, seperti gempa, badai dan angina topan, tetapi

sebagai kombinasi dari 3 faktor, yaitu: 11

10 Hoffman, 1999;2002,

Universitas Gadjah Mada “Dialektika Nature, Kultur Dan Struktur : Analisis Konteks, Proses dan Ranah Dalam Konstruksi Bencana”, Halaman 13.

11 Lihat analisis yang melihat kontribusi ketiga actor ini dalam Tierney, K (2007), “Recent Sociological Contributions to Vulnerability Science”, Department of Sociology and Institute of Behavioral Science, Natural Hazards Center, University of Colorado. Dalam paper yang sama, Tierney mengutip beberapa riset yang mengkaji banyak aspek dan contoh dari kerentanan dalam berbagai kondisi, misalnya perbedaan kerentanan berbasis ras, yaitu antara yang berkulit putih dan hitam sebagaimana diajukan oleh Robert Bullard.

Jabatan Guru Besar Anthropologi

dalam Irwan Abdullah, Pidato Pengukuhan

1.

Bencana itu sendiri, seperti topan, badai, gempa dan tsunami.

2. Kondisi fisik dan karakter dari lingkungan yang terbentuk. Sebagai contoh, banyak struktur bangunan dan infrastruktur yang tidak tanggap terhadap dampak fisik dari bencana.

3. Kerentanan populasi, merupakan konstruk yang kompleks yang mencakup beberapa faktor seperti ketersediaan sumber daya (seperti pendapatan dan kesejahteraan), ras, etnis, gender, umur, pengetahuan tentang cara cara penyelamatan dalam bencana, dan factor yang terkait dengan modal social dan budaya. Sebagai gambaran, keterlibatan dalam aktivitas dan ruang sosial akan membantu menyediakan informasi dan bantuan yang bermanfaat. Pengetahuan juga memampukan anggota komunitas untuk bisa berinteraksi secara baik dengan institusi sosial yang ada. Di sisi yang lain, kerentanan populasi juga bisa meningkat karena langkahlangkah yang diambil oleh pemerintah dan institusi lain yang gagal dalam melindungi populasi. Dari perspektif kerentanan misalnya, bencana badai Katrina menjadi semakin parah karena kegagalan dari system proteksi sosial dan system manajemen darurat yang tidak memadai dalam melindungi dan menjaga survivor.

b. Gender dan Bencana

Deklarasi Beijing dan Rencana Aksinya dengan jelas mengakui bahwa degradasi lingkungan dan bencana mempengaruhi seluruh kehidupan manusia dan seringkali membawa dampak langsung yang lebih bagi perempuan. Sessi khusus ke 23 dari General Assembly pada tahun 2000 juga mengidentifikasi bencana alam sebagai tantangan terkini yang bisa mempengaruhi implemnetasi menyeluruh dari rencana aksi Beijing ++ ini. Karenanya, dibutuhkan strategi untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam pengembangan dan implementasi pencegahan bencana, mitigasi dan strategi recovery.

Salah satunya variabel penting yang harus diperhitungkan adalah bahwa bencana yang

sama bisa membawa dampak yang berbeda bagi kelompok gender yang berbeda. Sama sama

terjadi bencana banjir atau gempa misalnya, dampak yang ditimbulkan bagi lakilaki dan

perempuan tidaklah identik, yang salah satunya disebabkan oleh perbedaan kerentanan

terhadap bencana karena relasi gender yang ada. Laporan UN/IASC juga menuliskan bahwa

struktur relasi gender adalah bagian dari konteks budaya dan sosial yang mempengaruhi

kapasitas komunitas untuk mengantisipasi, menyiapkan diri, mempertahankan diri dan juga

melakukan pemulihan karena bencana.

Elaine Enarson dalam papernya yang berjudul Gender Equality, Work, and Disaster

Reduction: Making the Connection ”, menjelaskan bahwa risiko terhadap bencana terdistribusikan

secara berbeda di dalam masyarakat. Menurutnya, sebagai sebuah konsep yang kompleks,

kerentanan dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah perbedaan akses dan kontrol

terhadap sumber daya yang yang dibutuhkan baik untuk bertahan hidup maupun menjalani

masa recovery setelah bencana. Namun, ia menggarisbawahi bahwa perempuan dan anak

perempuan adalah merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang berada pada daftar

kelompok dengan risiko tinggi terhadap bencana (Enarson, 2000). Menurut Blaikie (2003:300),

perempuan orang tua dan anak anak, atau kelompok yang berstatus sosial rendah, minoritas

kelompok dengan akses yang terbatas, kelompok yang tidak memiliki capital sosial, mengalami

nasib yang paling buruk 12

Masih dalam paper yang sama, Enarson memaparkan bagaimana perempuan bekerja

secara tidak dibayar dan seringkali secara sosial tidak diperhitungkan. Kesukarelawanan

12 Blaikie, 2003:300, ibid. dalam Irwan Abdullah, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Anthropologi Universitas Gadjah Mada “Dialektika Nature, Kultur Dan Struktur : Analisis Konteks, Proses dan Ranah Dalam Konstruksi Bencana”, Halaman 13.

perempuan dalam penanganan bencana sangat multiwajah, sebagaimana tergambar dalam

pengalaman penanganan bencana di Nicaragua berikut ini: 13

After the storm subsided, international aid began entering the area near her village. She saw that

the village leader, a man who lost his farm, was more concerned about his own than other village

.So she traveled to the mayor’s office, where she had never been before. She visited the

Peace Corps volunteer in town, whom she did not know. Through her dedication, persistence, and

patience, she had seven houses built and legally put in the wife/mother’s name. She insisted that

latrines be built for all families. She rallied 10,000 trees to be planted on the deforested hills that

surrounded her village. She learned about water diversion tactics, and found an engineer to teach

her village to build gavion walled channels.

Masih dalam tulisan yang sama, Enarson menceritakan bahwa perempuan lebih

bermotivasi dibandingkan lakilaki dalam melakukan tindakan pencegahan bencana.

Perempuan bukan hanya merawat kesehatan anggota keluarganya, namun juga secara lebih

luas memperhatikan kesehatan masyarakat secara lebih luas. Dicontohkan Enarson, perempuan

turut membersihkan sampah yang dibawa banjir di wilayah tetangga mereka. Kerja

penanganan bencana juga mengikutsertakan perempuan dalam pencarian bantuan

kemanusiaan. Berbeda dengan imaji yang dihadirkan media mengenai perempuan sebagai

korban yang penakut dan aktor yang pasif. Dalam kerja kemanusiaan, perempuan terlibat

secara kuat untuk pencarian bantuan kemanusiaan serta distribusi barang dan pelayanan

tanggap bencana. Meski juga harus diakui bentuk partisipasi dan kerelawanan perempuan

menjadi lebih berat ketika harus berhadapan dengan norma pembagian kerja berbasis seks dan

gender. 14

Pandangan yang menempatkan perempuan sebagai entitas yang tak berdaya justru

meminggirkan perempuan dalam kerja kerja penanganan bencana. Di sisi lain, pandangan ini

13 Lihat Enarson, Contribution by S. Henshaw of the World Food Program to the internet conference on Gender Equality, Environmental Management and Natural Disaster Mitigation sponsored by Division for the Advancement of Women, November 2001. 14 Enarson dalam Women’s Voluntary Work Expands : Gender Equality, Work, And Disaster Reduction:

Making The Connections,

membawa implikasi terhadap penisbian potensi dan peranan perempuan dalam penanganan

kebencanaan.

Mengambil pendekatan Hoffman di atas, seharusnya perempuan juga dipandang dan

diperlakukan sebaga aktor yang berdaya. Kerja sukarela yang dilakukan perempuan

merupakan bukti keberdayaan perempuan. Kerja kerja kerelawanan mereka ini menjadi kian

penting dalam proses rekonstruksi yang panjang. Ketika itu, kepentingan ekonomi lakilaki dan

perempuan sering bertabrakan. Belajar dari pengalaman kerelawanan perempuan di Bantul,

kerelawanan perempuan merupakan bagian dari proses pemerdayaan perempuan untuk

melakukan kerja kerja tak berupah pada masa sebelum bencana, namun kerelawanan

perempuan itu selalu mempunyai makna positif bagi masayarakat baik pada masa sebelum

bencana, terlebih pada masa sesudah bencana. Bagi perempuan relawan, kerelawanannya

merupakan usahanya untuk meningkatkan kapasitas perempuan serta untuk meningkatkan

solidaritas komunitas dalam rangka mendukung proses rekonstruksi yang lebih berkeadilan

gender. 15

c. Perkembangan Konsep Modal Sosial

Semenjak James Coleman mengenalkan konsep modal sosial hingga sekarang belum

ada formulasi tunggal untuk menjelaskan pengertian konsep ini. 16 Menurut Francis Fukuyama

salah satu kelemahan konsep modal sosial adalah belum ada kesepakatan dalam pengertian

konsep atau teori ini. 17 Titik temu yang hampir tidak berbeda antar berbagai pengertian terletak

15 Enarson, Ibid

16 Banyak yang mengatakan bahwa Coleman mengenalkan konsep ini melalui esai yang berupa suplemen, Social Capital in the Creation of Human Capital, dalam American Journal of Sociology, 94: Supplement, 1988. Tetapi tidak sedikit yang menyebutkan bahwa Robert Putnam dalam karya-karyanya yang terlebih dahulu mengenalkan konsep ini.

17 Francis Fukuyama, Social Capital and Development: The Coming Agenda, SAIS Review vol. XXII no. 1, Winter Spring 2002, hal. 5 <http://www.saisreview.org>

pada cara memandang modal sosial sebagai kemampuan dari suatu kelompok sosial untuk

bekerja bersama dalam sesuatu yang berguna bagi kelompok tersebut. 18

Konsep modal sosial berbeda dari konsep modal manusia dan modal fisik, namun

terkadang terjadi tumpang tindih dalam pemahaman. Karena bentuk bentuk modal yang ada

mempunyai hubungan yang saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Untuk

membangun determinasi yang lebih tegas atas konsep modal sosial, Field, Schuller dan Baron

me review konsep modal sosial dengan menyebutkan modal sosial secara luas sebagai

jaringan jaringan sosial dan hubungan yang terjadi dalam jaringan jaringan sosial tersebut,

terutama hubungan resiprositas dalam meraih tujuan bersama. 19

Modal sosial merupakan konsep yang terdiri atas dua dimensi yang berbeda tetapi

saling bertautan antara dimensi struktural dan kognitif. Dimensi struktural lebih menekankan

pada pengorganisasian dan jaringan dari masyarakat, baik yang berbentuk formal maupun

informal. Sedangkan dimensi kognitif lebih menekankan pada aspek nilainilai, sikap sikap,

kepercayaan yang terdapat dalam suatu masyarakat yang membimbing sikap hidup

masyarakat tersebut. Secara singkat, dapat dikategorikan bahwa dimensi struktural adalah

sesuatu yang dapat dilihat dengan konkret sedangkan yang kedua lebih abstrak.

Tipologi Modal Sosial secara sederhanal dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu bonding social

capital, bridging social capital, linking social capital.

Pertama, apa yang disebut dengan Bonding Social Capital dapat kita sebut dengan

perekat sosial, yaitu, nilai budaya, persepsi dan tradisi atau adat istiadat ( custom). Pengertian

bonding social capital adalah tipe modal sosial dengan karakteristik ikatan yang kuat (adanya

18 Thomas F Carroll Social Capital, Local Capacity Building, and Poverty Reduction , Social Development Papers No. 3, Office of Environment and Social Development, Asian Development Bank, May, 2001, hal. 1 19 J. Field, T. Schuller, dan S. Baron, Social Capital: Critical Perspectives. Oxford: Oxford University Press, 2000, hal 1. seperti yang dikutip oleh David Piachaud, Capital and the Determinants of Poverty and Social Exclusion, CASE paper 60, Centre for Analysis of Social Exclusion, London School of Economics, Houghton Street, 2002, hal. 6 <http://sticerd.lse.ac.uk/Case>

perekat sosial) dalam suatu sistem kemasyarakatan. Misalnya, kebanyakan anggota keluarga mempunyai hubungan kekerabatan dengan keluarga yang lain, yang mungkin masih berada dalam satu etnis. Hubungan kekerabatan ini bisa menyebabkan adanya rasa empati, kebersamaan. Bisa juga mewujudkan rasa simpati, rasa berkewajiban, rasa percaya, resiprositas, pengakuan timbal balik nilai kebudayaan yang mereka percaya. Rule of law, aturan main, merupakan aturan atau kesepakatan bersama dalam masyarakat, bentuk aturan ini bisa formal melalui sanksi yang jelas seperti aturan UndangUndang.

Kedua, Bridging Social Capital bisa berupa Institusi maupun Mekanisme. Bridging social capital (jembatan sosial) merupakan suatu ikatan sosial yang timbul sebagai reaksi atas berbagai macam karakteristik kelompoknya. Tipologi ini bisa muncul karena adanya berbagai macam kelemahan yang ada disekitarnya sehingga mereka memutuskan untuk membangun suatu kekuatan dari kelemahan yang ada. Stephen Aldidgre menggambarkannya sebagai pelumas sosial, yaitu pelancar dari roda roda penghambat jalannya modal sosial dalam sebuah komunitas. Wilayah kerjanya lebih luas dari pada bonding social capital. Dia bisa bekerja lintas kelompok etnis, maupun kelompok kepentingan. Keanggotaannya lebih luas dan tidak hanya berbasis pada kelompok tertentu.

Bridging social capital bisa juga dilihat dengan adanya keterlibatan umum sebagai warga negara ( civic engagement), asosiasi, dan jaringan. Tujuannya adalah mengembangkan potensi yang ada dalam masyarakat agar masyarakat mampu menggali dan memaksimalkan kekuatan yang mereka miliki baik SDM (Sumber Daya Manusia) dan SDA (Sumber Daya Alam). Interaksi sosial merupakan modal utama untuk mewujudkan tujuannya ini. Dengan demikian institusi sosial tetap eksis sebagai tempat artikulasi kepentingan bagi masyarakat. Interaksi yang terjalin bisa berwujud kerjasama atau sinergi antar kelompok, yaitu upaya penyesuaian dan koordinasi tingkah laku yang diperlukan untuk mengatasi konflik ketika tingkah laku seseorang atau kelompok dianggap menjadi hambatan oleh orang atau kelompok lain, sehingga akhirnya tingkah laku mereka menjadi cocok satu sama lain.

Ketiga, apa yang disebut dengan linking social capital, dalam tipe ini menunjukkan hubungan yang terjadi antara kelompok kelompok sosial yang berbeda. Dalam konteks penelitian ini, mungkin voluntary group tertentu menjalin kerjasama dengan pihak atau institusi yang lebih tinggi statusnya, baik secara kekuasaan formal, dan kedudukannya dalam suatu masyarakat, misalnya voluntary group bekerjasama dengan LSM maupun lembaga pemerintah untuk meningkatkan kapasitas dan daya tahan dari masyarakatnya.

V. METODE PENGUMPULAN DATA

Penelitian ini dikategorikan penelitian studi kasus. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Studi kasus mempunyai penekanan terhadap perhatian ataupun pertanyaan dalam suatu kasus tertentu yang tentunya dihubungkan dengan tujuan penelitian dari peneliti tersebut.

Langkah langkah penelitian yang akan diterapkan dalam studi kasus tentang Kerelawanan dan Perjuangan Perempuan Merebut Ruang Partisipasi (Studi kasus keterlibatan perempuan dalam penanganan bencana di kabupaten Bantul, DIY, tahun 2006 2007)

1. Pendekatan, Pengumpulan Data dan Analisis

Studi kasus dilakukan di Kabupaten Bantul untuk mendapatkan data tentang bentuk bentuk kerelawanan dan siasat siasat partisipasi yang dilakukan perempuan dalam penanganan bencana. Dari depth interview dan pengamatan langsung di daerah penelitian diharapkan diperoleh data kualitatif tentang bentuk bentuk bentuk kerelawanan dan siasat siasat partisipasi yang dilakukan perempuan dalam penanganan bencana. Pengkodingan terhadap data yang terkumpul akan dijadikan pijakan analisis untuk mencari bentuk bentuk partisipasi yang merupakan manifestasi kerelawanan.

Permasalahan dan limitasi data kami alami akibat tiadanya kebijakan pemerintah mengenai peran perempuan dalam penanganan kebencanaan. Limitasi lain dapat berasal dari keengganan narasumber terutama birokrasi untuk diwawancarai karena kesibukan mereka. Namun hal ini kami siasati dengan cara cross check dan penggunaan sumbersumber data yang dipunyai oleh sejumlah lembaga lainnya.

2. Daerah Riset

Pelaksanaan penelitian akan dilakukan di Kabupaten Bantul dengan pertimbangan:

a. Kabupaten Bantul merupakan daerah yang menderita kerusakan terbesar akibat gempa yang menimpa DIY dan jateng.

b. LSM Lokal dan Internasional yang bekerja dalam humanitarian aid terkonsentrasi di kabupaten Bantul dibandingkan daerah lain. Selain itu ditemukan juga sejumlah LSM perempuan yang melakukan kerja pengorganisasian komunitas pasca bencana.

c. Banyak ditemukan fenomena kerelawanan perempuan dan siasat siasat perempuan dalam menghadapi proses rekonstruksi yang tidak adil gender.

3. Populasi dan sampel

Target yang akan diteliti guna tercapainya pengumpulan data yang diharapkan adalah:

a. Penyintas perempuan

b. LSM Perempuan yang mempunyai program rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana

c. LSM internasional dan Sejumlah lembaga donor yang beroperasi di Jogja

d. Pejabat dan staf Pemerintah Daerah di Kabupaten Bantul.

Penentuan besar sampel akan ditentukan atas dasar tercukupinya informasi dan data yang dibutuhkan.

VI. SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN

Tulisan ini terdiri dari 5 bab. Bab 1 dan bab 5 merupakan bagian pendahuluan dan

kesimpulan. Bab 1, pendahuluan berisi mengenai latar belakang masalah, permasalahan kunci,

tujuan, kerangka teori, serta metode pengumpulan data. Bab 2 secara khusus ditujukan untuk

mengulas mengenai system sosial bantul sebelum bencana. Profil umum Bantul serta system

pemerintahannya ditujukan untuk memberi konteks pemahaman pada pembaca. Bab 2 ditutup

dengan pengerucutan pembahasan mengenai perempuan dalam system sosial bantul sebelum

bencana. Sub bab ini menjelaskan mengenai kerja dan aktivitas perempuan Bantul dalam ruang

dan pembagian kerja yang terdiferensiasi berdasar gender dan seksual.

Bab 3 difokuskan untuk membahas dimensi gender dalam bencana gempa di Bantul.

Bagaimana pengalaman perempuan ketika gempa serta bagaimana pengalaman perempuan

beradaptasi dalam system sosial yang tengah mengalami guncangan akibat gempa diulas lebih

lanjut dalam bab ini. Bab ini lebih jauh dikerucutkan untuk melihat siasat partisipasi

perempuan untuk menembus kebekuan system sosial. Bab ini ditutup dengan analisa mengenai

kerelawanan perempuan dalam bencana gempa. Bab 4 secara khusus akan membahas

mengenai ragam ruang dimana perempuan berproses sebagai relawan. Bagian selanjutnya akan

mengulas mengenai factor pendrong kerelawanan perempuan. Bagian kunci penelitian ini

berada pada sub bab terakhir yang mengulas mengenai modal sosial dalam bencana. Bab 5

merupakan penutup yang berisi kesimpulan kesimpulan dan refleksi dari penelitian ini.

BAB II

SISTEM SOSIAL BANTUL SEBELUM BENCANA

Dalam banyak kajian tentang perempuan, perbincangan tentang sistem sosial atau

sebagian lebih sering menyebutnya sebagai konstruk sosial, adalah awal dari serangkaian

kajian tentang kondisi dan persoalan perempuan. Dalam sistem atau konstruksi sosial yang

berbeda, kondisi dan derajat kehidupan perempuan juga menampakkan potret yang berbeda.

Tentang ini, konsep sistem sosial membantu untuk melihat bagaimana interaksi antar banyak

pihak, pandangan dan juga nilai membentuk sebuah masyarakat. Loomis mengatakan bahwa

sistem sosial ini terbentuk dari interaksi yang terpola diantara unsurunsur pembentuknya. Hal

ini mengakibatkan interaksi diantara individu yang beragam, dimana relasi diantara satu sama

lain secara bersama sama diorientasikan kepada pola yang terstruktur serta simbol dan

harapan yang disepakati. 20

Komunitas sebagai bagian dari sistem sosial, tidak cukup diartikan sebagian kesatuan

wilayah geografis saja namun juga diartikan sebagai kelompok dengan kesamaan kepentingan

atau fungsi yang melintasi batasan gegografis. Mc Neil memberi definisi terhadap organisasi

komunitas sebagai proses dimana orang dari komunitas tertentu, sebagai individu ataupun

sebagai representasi kelompok, bergabung bersama untuk menentukan kebutuhan bagi

kesejahteraan bersama, menyusun rencana untuk meraihnya, dan memobilisasi sumber daya

yang diperlukan. 21 Lebih jauh, Murphy menyimpulkan bahwa organisasi komunitas memiliki

dua pemaknaan, yaitu sebagai proses dan sebagai ruang. Sebagai proses, organisasi komunitas

dibentuk oleh ketrampilan yang digunakan untuk mengkoordinasikan, mempromosikan, dan

menginterpretasikan layanan sosial dalam beragam bentuk. Sementara itu, sebagai ruang,

merupakan satu suprastruktur yang dibuat oleh pihak pihak yang memiliki tanggung jawab

20 Loomis, Charles (1992), “Social Systems : Essays on Their Persistance and Change”, The Van Nostrand Series in Sociology, New Jersey

21 McNeil, sebagaimana dikutip oleh Murphy, Campbell G. (1995), “Community Organization Practice”, The Riverside Press Cambridge, Boston

untuk mengkoordinasi dan mempromosikan kerja dalam beragam organisasi yang

menyediakan layanan bagi publik 22 .

I. PROFIL UMUM BANTUL

Kabupaten Bantul merupakan salah satu dari 5 Kabupaten/Kota di Provinsi Daerah

Istimewa Yogyakarta. Posisinya terbilang cukup strategis karena berbatasan langsung dengan

semua Kabupaten/Kota lain di Provinsi DIY. Di bagia utara berbatasan dengan Kota

Yogyakarta dan kabupaten Sleman. Bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul.

Bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Kulonprogo. Sedang bagian selatan berbatasan

langsung dengan samudera Indonesia. 23

Penduduk Kabupaten Bantul tersebar di 75 desa yang berada di 17 kecamatan.

Kecamatan itu antara lain : Kecamatan Srandakan, Sanden, Kretek, Pundong, Bambanglipuro,

Pandak, Bantul, Jetis, Imogiri, Dlingo, Pleret, Piyungan, Banguntapan, Sewon, Kasihan,

Pajangan dan Sedayu. Bantul, sebelum kejadian gempa di pertengahan tahun 2004 mempunyai

penduduk 799.211 jiwa yang terdiri dari 391.296 lakilaki dan 407.915 perempuan. Sedangkan

pada tahun 2006 pertambahan penduduknya mencapai angka 820.555 jiwa. Sex ratio dari

penduduk perempuan di banding lakilaki adalah 96,53. Artinya, di antara 100 lakilaki

terdapat 96,53 perempuan.

Pendapatan per kapita sebelum bencana mengalami kenaikan yang signifikan dari

tahun ke tahun, dengan beban tanggungan dibawah 50%. Meski pendapatan perkapita

mengalami peningkatan namun jumlah penduduk miskin tidak mengalami penurunan. Pada

tahun 2000 angka penduduk miskin sebesar 18% dari jumlah penduduk, sedangkan tahun 2001

mengalami kenaikan menjadi 26,02%. Sedangkan tahun 2002 agak turun menjadi 25,94%. 24

22 Murphy, op.c it. , p. 29

23 Bantul Dalam Angka 2004, BPS Bantul.

24 Profil Kesehatan Kabupaten Bantul tahun 2003, halaman 20

Tingkat pendidikan penduduk sampai akhir tahun 2002 belum mengalami peningkatan yang berarti. Masih banyak penduduk yang buta huruf dan tidak tamat sekolah dasar. Akibatnya penyerapan dan pemahaman terhadap informasi cukup rendah. Tingkat pedidikan perempuan di atas 10 tahun pada kelompok yang tidak/belum pernah sekolah mengalami ketimpangan yang signifikan dibandingkan lakilaki yakni 22, 82% sedangkan lakilaki hanya 9,25%. Sedangkan untuk kelompok pendidikan lainnya seperti tamat SD, SMP, SMA, akademi/PT, angka perempuan lebih rendah dibandingkan lakilaki. Padahal kalai dilihat dari struktur penduduk terlihat bahwa perempuan lebih banyak daripada lakilaki. Hal ini menunjukkan masih belum optimalnya pemberdayaan perempuan, terutama di bidang pendidikan.

Untuk mengimbangi jumlah penduduk dalam pelayanan kesehatan, Kabupaten Bantul disangga oleh 6 rumah sakit, 1 diantaranya Rumah Sakit Umum Pemerintah, 5 lainnya merupakan Rumah Sakit Swasta. Fasilitas kesehatan lain terdiri dari Puskesmas dan Klinik kesehatan. Puskesmas berjumlah 26 buah, sedang sub puskesmas nya berjumlah 67 buah. Klinik bersalin swasta hanya berjumlah 1, dengan klinik KB/Balai pengobatan berjumlah 21. Untuk mengoperasionalkan pelayanan kesehatan, Kabupaten Bantul baru mempunyai 55 dokter dan 34 dokter gigi.

II. SISTEM PEMERINTAHAN

Beragam institusi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan sekaligus mempengaruhi kehidupan perempuan. Dalam deretan institusi formal misalnya, perangkat negara mulai dari pemerintah di tingkat nasional, hingga jajaran aparatur hingga tingkat dusun dan juga RT/RW, menjadi bagian dari institusi yang berpengaruh bagi kehidupan masyarakat dan juga perempuan. Pengaruh ini nampak sangat nyata misalnya, karena pendekatan penyeragaman model institusi –yang semula adalah bagian dari alur administrasi dan birokrasimerambah hingga ke tataran sosial, politik dan juga budaya. Desa pada masa Orde

Baru misalnya, mengalami perubahan setelah keluarnya UU No. 5 tahun 1979 tentang

Pemerintahan Desa. Tak hanya itu, karena perubahan ini seringkali juga diikuti dengan

penggabungan beberapa kampung atau desa menjadi satu kesatuan wilayah administratif,

bahkan terkadang tanpa melihat kesesuaian nilai dan pengikat yang sebelumnya sudah ada.

Dengan keluarnya regulasi ini, semua bentuk kepemerintahan lokal yang ada haruslah

berbentuk desa, sehingga nagari di Sumatera Barat, atau kampung di Kalimantan Barat dan

Lembang di Tana Toraja misalnya, diubah bentuknya menjadi desa. 25 Contohnya, di Kabupaten

Bantul paska keluarnya UU tentang Pemerintahan Desa dilakukan penghilangan konsep Rukun

Warga (RW) yang sebelumnya terdiri dari sejumlah Rukun Tetangga (RT). Beberapa RT

kemudian dilebur dalam kesatuan Kring/Sub Dusun dengan batasan area dan kesatuan

anggota yang berbeda. Proses adaptasi sebagai kesatuan sosial yang baru itu memunculkan

sejumlah konflik manifes maupun laten diantara warga masyarakat dusun. Mengacu kepada

konsepsi McNeil di atas, intervensi negara yang menghasilkan ketegangan di dalam desa

menjadi tak terelakkan.

Sebagaimana Kabupaten/Kota yang lain, bantul memiliki sistem pemerintahan yang

dipimpin oleh seorang bupati. Drs. Idham Samawi berhasil menduduki puncak pemerintahan

Bantul untuk masa dua periode. Dalam pandangan banyak pihak, beliau dipandang

mempunyai kedekatan emosional dan politis dengan keraton Jogjakarta. Dalam pemilihan

kepala daerah tahun 2005, kemenangan Idham Samawi untuk kedua kalinya ditengarai karena

kuatnya dukungan politik dari Sri Sultan HB X yang selain sebagai Gubernur DIY juga

berposisi sebagai raja. Sehingga meskipun Idham Samawi harus berhadapan dengan salah satu

keluarga kerajaan dalam persaingan menuju Bantul satu, Idham Samawi tetap berhasil

mempertahankan tahta sebagai Incumbent .

Sebagai sosok pemimpin, Idham dikenal sebagai pemimpin yang mengembangkan gaya

kultural. Dia tidak segan untuk pergi mengunjungi warganya yang meminta kehadirannya

25 Lebih lanjut baca R. Yando Zakaria (2004), “Merebut Negara : Beberapa Catatan Reflektif tentang Upaya-Upaya Pengakuan, Pengembalian dan Pemulihan Otonomi Desa”, KARSA-Lappera Pustaka Utama, Desember

dalam acara acara warga, terlebih apabila di dusun tersebut di dampingi oleh LSM.

Implikasinya, dia dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat meski juga secara tak

langsung menuntut kepatuhan dan kontrol ketat atas rakyatnya. Sebagaimana dikuatkan oleh

Unang Shio Peking, Ketua Forum LSM DIY.

”Dari sisi akomodasi terhadap aspirasi masyarakat banyak tebang pilih, tidak semua bisa diakomodasi kepentingannya dengan baik. Kalau mau ketemu dengan bupati kalau bukan tokoh LSM ya yang antri lama. Selain itu asal pertemuannya gegap gempita, disambut warga dengan luar biasa ya dia pasti datang.”

Pemerintahan Bantul terkenal dengan kebijakan populis sekaligus penuh nuansa

popularitas. Kebijakan itu antara lain program beasiswa paska sarjana bagi guru dan program

babonisasi. Program babonisasi ini meskipun dinyatakan sebagai catatan keberhasilan

pemerintah Bantul, namun juga menunjukkan minimnya kontrol masyarakat atas pelaksanaan

program. Program babonisasi dilaksanakan di seluruh SD di kabupaten Bantul, sejak pertama

kali direalisasikan sambutan dari masyarakat sangat antusias. Partisipasi dari warga

masyarakat yang begitu besar, dengan adanya 17 Kecamatan di kabupaten Bantul, 13

diantaranya setuju dengan adanya program babonisasi. Akan tetapi wujud dari program

babonisasi masih bersifat semu, masyarakat tidak dilibatkan secara penuh terhadap proses

implementasi program ini. Masyarakat tidak mempunyai kontrol terhadap program, salah satu

contohnya masyarakat tidak bisa menghentikan atau mengundurkan pelaksanaan program

yang saat itu bersamaan dengan wabah penyakit flu burung 26 .

Kebijakan mengenai perempuan merupakan kebijakan yang selalu kontroversial. Yakni,

kebijakan anggaran PKK yang mencapai 4 Milyar pada masa menjelang pemilihan kepala

daerah secara langsung. Dari sisi anggaran sekilas tampak sebagai kebijakan yang berpihak

pada perempuan, namun dari sisi implementasinya banyak pihak yang meragukan. Menurut

26 Dwi Setiawan, Rio (2005), “Implementasi Program Peningkatan gizi anak (Babonisasi) di Kecamatan Kasihan”, kabupaten bantul, Skripsi. Universitas Gadjah Mada. 2005. hlm. 85

penuturan Wasingatu Zakiyah, pengurus IDEA, tidak ada daerah selain Bantul yang memiliki

anggaran PKK hingga 4 Milyar. Karena meskipun kepala pemeritahannya akan berganti,

namun ketua PKK masih tetap ibu Bupati Idham Samawi. Sehingga kebijakan ini menjadi

rentan nuansa politisnya sebagai sarana mobilisasi dukungan pemilih perempuan melalui PKK.

Selain itu perempuan masih mengalami pengandangan melalui perda inkonstitusional,

yakni perda pelarangan pelacuran. Sekilas tampaknya perda tersebut mempunyai maksud

baik, namun secara substansial bermaksud untuk mendisiplinkan tubuh perempuan sekaligus

partisipasi perempuan di ruang publik. Meski perda ini baru disahkan secara mendadak pada

tahun 2007, namun sudah sejak lama adagium Bantul yang beragama dan religios selalu

digunakan sebagai klaim yang melegitimasi pemerintah untuk menundukkan masyarakat.

III. PEREMPUAN DALAM SISTEM SOSIAL BANTUL

Posisi perempuan dalam sistem sosial Bantul berada dalam ruang dan pembagian kerja

yang terdiferensiasi secara seksual/gender. Ruang perempuan di Bantul terkategorisasi dalam 3

kategori kerja perempuan yang terdiri dari: 27 Pertama, kerja produktif yang menjelaskan

aktivitas untuk memproduksi barang dan jasa untuk konsumsi dan perdagangan. Petani,

pengrajin, buruh pabrik ataupun pedagang, baik menjadi pekerja atau menjadi wirausaha,

adalah contoh dari aktivitas produktif. Biasanya, bila orang ditanya apa pekerjaannya, jawaban

atas pertanyaan tersebut lah yang menjelaskan kerja produktif. Walaupun saat ini lakilaki dan

perempuan sama sama terlibat dalam kerja produktif, fungsi dan tanggung jawab akan

berbeda mengacu kepada pembagian kerja berbasis gender. Dalam banyak kasus, kerja

produktif perempuan sering dianggap bernilai lebih rendah dan sekaligus sering tidak tampak.

Kedua, adalah kerja reproduktif yang terkait dengan perawatan dan menjaga rumah tangga dan

seluruh anggotanya. Menjaga anak, membersihkan rumah, menyediakan air bersih hingga

27 Two Halves Make a Whole : balancing Gender Relations in Development”, CCIC/MATCH/AQOCI, sebagaimana dikutip dalam Williams, S., et.al. (1994), “The Oxfam Gender Training Manual”, Oxfam (UK & Ireland), Oxford, UK., p. 189.

menjaga kesehatan keluarga adalah deretan aktivitas reproduktif yang sebetulnya sangatlah

krusial dalam menjaga keberlangsungan kehidupan, walaupun seringkali tidak dianggap

sebagai ’kerja’ dalam pengertian ekonomi. Padahal, sebetulnya kerja ini sangat bernilai dan

sekaligus memakan waktu yang tidak sedikit, dan kebanyakan menjadi tanggung jawab

perempuan. Ketiga, adalah kerja komunitas. Kerja ini melibatkan organisasi kolektif dalam

kegiatan sosial maupun juga pelayanan dan politik. Upacara, musyawarah, aktivitas

pengembangan msyarakat, keikutsertaan dalam kelompok, dan aktivitas politik lokal adalah

bagian dari kerja ini. Biasanya, kerja ini merupakan aktivitas yang bersifat sukarela, dan sangat

berperan penting dalam menjaga pengembangan budaya dan spiritual komunitas dan juga

menjadi mesin penting dalam organisasi dan pertahanan komunitas. Lakilaki dan perempuan

biasanya sama sama terlibat, walaupun pembagian kerja dan peran berbasis gender sangat