Anda di halaman 1dari 91

LAPORAN PENELITIAN

BENCANA DAN KERELAWANAN PEREMPUAN :


Studi Kasus Penanganan Bencana di Kabupaten Bantul, DIY

Oleh :
Dati Fatimah
Retno Agustin
(Perhimpunan Aksara – Jogjakarta)

Pemenang Philantrophy Research Award III


Pirac – Ford Foundation
2007
1
DAFTAR ISI

PENDAHULUAN...............................................................................i

BAB I. PENDAHULUAN...................................................................1.

1.1. Latar Belakang ...............................................................2


1.2. Permasalahan Penelitian ...............................................6
1.3. Tujuan Penelitian ...........................................................7
1.4. Kerangka Teori................................................................8
1.5. Metode Pengumpulan Data...........................................21
1.6. Sistematika Penulisan Laporan ....................................23

BAB II. SISTEM SOSIAL BANTUL SEBELUM BENCANA.............24


2.1. Bantul sebagai Komunitas Geografis..............................25
2.2. Sistem Sosial Bantul........................................................26
2.3. Sistem Pemerintahan ......................................................27

BAB III. UJIAN KETANGGUHAN PEREMPUAN DALAM

BENCANA.........................................................................................30

3.1. Membaca Gender dalam Bencana Gempa di


Bantul..............................................................................30
3.2. Sistem Sosial Bantul dalam Guncangan Gempa............32
3.3. Perempuan Tanggap di tahap Darurat...........................36
3.4. Fase Rehabilitasi – Rekonstruksi : kembali ke Asal?.....41
3.5. Gender dalam Kerelawanan Perempuan........................50

BAB IV. MODAL SOSIAL PEREMPUAN DALAM BENCANA.........57

4.1. Ruang Produksi Perempuan Relawan............................57


4.2. Faktor-faktor Yang Mendorong Kerelawanan
Perempuan......................................................................61

4.3. Modal Sosial Kerelawanan Perempuan .........................63


2
BAB V. CATATAN DAN KESIMPULAN............................................76

5.1. Penghargaan Itu Barang yang Mahal...............................76


5.2. Modal Sosial Bernama Kerelawanan ..............................79

3
PAHLAWAN DALAM KESENYAPAN :
CATATAN PENGANTAR

Adalah  perasaan  yang  campur  aduk  ketika  harus  menuliskan  kehidupan  para 
perempuan  pasca  gempa,  sebagaimana  juga  pengalaman  menceritakan  satu  kejadian  yang 
mengubah  kehidupan  manusia.  Bencana,  dalam  keadaan  ketidaksiapan  dan  minimnya 
perhatian  terhadapnya,  memang  harus  dibayar  sangat  mahal.  Kehilangan  nyawa  anggota 
keluarga, saudara, teman dan kerabat, hingga kerusakan dan kehilangan harta benda dan juga 
infrastruktur  komunal.  Tetapi,  walau  pada  awalnya  diliputi  dengan  nuansa  kesedihan  yang 
mendalam,  wajah‐wajah  penuh  semangat  untuk  kembali  bangkit  adalah  pertanda  bahwa 
kehidupan  tidak  berhenti  karena  bencana.  Semangat,  harapan  dan  solidaritas  inilah  yang 
terpancar  kuat  dari  wajah‐wajah  para  penyintas  (survivors),  yang  selamat  dalam  kejadian 
Gempa 27 Mei 2006 yang menghantam Jogja dan Jawa Tengah. 
  Ketika  akhirnya  kami  menjadi  salah  satu  pemenang  Philantrophy  Research  Award  III 
Pirac‐Ford Foundation tahun 2007, kami bagaikan menuliskan sepenggal hidup dari perjalanan 
keterlibatan  kami  didalamnya.  Walaupun  mungkin  kami  tidak  menjadi  bagian  utama  dari 
cerita  yang  dituliskan  di  sini,  pada  bagian‐bagian  tertentu,  cerita  ini  adalah  juga  bagian  dari 
cerita  hidup  kami.  Dan  sebagaimana  diungkap  di  muka,  rasa  yang  campur  aduk  inilah  yang 
kemudian akan bisa Anda dapatkan dari 5 bab laporan riset yang kami tuliskan. Pada bagian 
tertentu,  sarat  dengan  nuansa  kesedihan  dan  rasa  yang  menyentuh,  sementara  pada  bagian 
lain,  kamipun  harus  larut  dalam  menuliskan  semangat  para  pahlawan  yang  berjuang  untuk 
bangkit kembali.  
  Siapakah para pahlawan tersebut, yang juga akan Anda baca dalam laporan ini? Mereka 
ini,  adalah  para  perempuan  yang  karena  situasi,  merasa  terpanggil  untuk  melakukan 
serangkaian  upaya  mengkonsolidasi  gerakan  dan  sumber  daya,  dan  berbagi  dengan  sesama. 
Upaya  mereka  ini  sangatlah  berarti  walaupun  seringkali  luput  dari  perhatian  dan  peliputan. 
Mereka  inilah,  para  pahlawan  dalam  kesenyapan,  yang  menjadi  nafas  dan  inspirasi  utama 
buku yang kami tulis.  
  Laporan  ini  juga  tidak  akan  bisa  kami  selesaikan,  tanpa  dukungan,  kritisi  dan 
bimbingan  dari  Dr.  Rohman  Ahwan  yang  menjadi  pembimbing  selama  proses  penelitian. 
Walaupun tidak cukup intensif, tetapi masukan dan juga referensi untuk penelitian yang kami 
dapatkan dari Beliau, sangatlah berarti bagi kami dalam menyelesaikan laporan ini. Selain itu, 
kami  juga  belajar  banyak  dari  menjalin  kerja  sama  dengan  PIRAC  dalam  menyelesaikan 
laporan ini. 
  Laporan ini juga tidak akan mungkin bisa Anda baca, tanpa kontribusi berarti dari para 
narasumber  utama  penulisan  ini.  Mulai  dari  para  perempuan  di  dusun  Kadisoro,  Nangsri, 
Imogiri, Piyungan, juga teman‐teman NGO di Jogja (Wawan, Leny, mas Dedy, Zaki dan Rinto, 
Unang,  Mbak  Yuni,  Widyanta,  Amin,  Mbak  Reny,  Mbak  Endang),  juga  dari  Pemerintah  dan 
DPRD (Bu Tutik KPP dan Agung Laksmono). Tanpa terkecuali, satu sumbangsih yang sangat 
berarti  juga  kami  dapatkan  dari  Endah  dan  Titin  yang  telah  menjadi  asisten  untuk  kerja 
penelitian  ini.  Kesediaan  mereka  bekerja  dalam  limitasi  waktu  dan  fasilitas,  menjadikan  kami 
mampu melampaui kendala‐kendala teknis dalam pelaksanaan penelitian. And last but not least, 
4
untuk teman‐teman Aksara dimana kami bermain dan bekerja, dan juga buat Lien dan Rayya, 
terima kasih sekali untuk pertemanan, dan juga dukungan yang membahagiakan.  
  Salam dan selamat membaca...... 
 
Jogjakarta, Juni 2008 
 
 
Dati Fatimah (datifatimah@gmail.com) 
Retno Agustin (retnoagustin@gmail.com).  

5
SINOPSIS

Dapur  umum,  yang  segera  berdiri  dalam  hitungan  waktu  yang  pendek  setelah  terjadi 

krisis  dan  bencana  adalah  potret  yang  nyata  dalam  kehidupan  sekitar  kita,  seiring 

meningkatnya  kejadian  bencana  dan  krisis.  Begitu  juga  dengan  kondisi  pasca  gempa  yang 

melanda Jogja dan Jateng, 27 Mei 2006. Segera setelah gempa terjadi, perempuan dengan sigap 

dan  spontan,  mendirikan  dapur  umum  secara  darurat.  Waktu  itu,  bersama  dengan  kelompok 

masyarakat  yang  lain  seperti  kaum  lelaki  yang  melakukan  peran  evakuasi  korban,  peran 

perempuan ini sangatlah penting dalam penyelamatan kehidupan dalam situasi krisis.  

Sayangnya,  walaupun  perannya  sangat  signifikan,  namun  ini  tidak  secara  otomatis 

diikuti dengan penghargaan yang memadai. Adalah menarik untuk mengkaji bahwa sebagian 

responden  penelitian  ini  menganggap  tidak  ada  yang  istimewa  dengan  kerelawanan 

perempuan seperti nampak dalam kasus dapur umum ini. Hal ini disebabkan peran memasak 

dianggap sudah seharusnya dilakukan oleh perempuan. Begitu juga peran‐peran kerelawanan 

perempuan yang lain seperti perawatan orang sakit, pengelolaan fasilitas kesehatan masyarakat 

bersama  bernama  posyandu,  dan  banyak  aktivitas  lain  yang  dilakukan  perempuan  secara 

sukarela.  

Buku  yang  Anda  baca  ini  adalah  laporan  penelitian  tentang  bagaimana  kerelawanan 

perempuan  dalam  situasi  bencana  tumbuh,  terkelola  dan  direspon  oleh  pihak  yang  terkait. 

Sebagai  sebuah  studi  kasus  yang  mengambil  setting  di  kabupaten  Bantul,  buku  ini  ingin 

menjawab  pertanyaan  kunci  tentang  apa  sajakah  model‐model  kerelawanan  perempuan  yang 

muncul, dan bagaimana ini terhubung dengan kerelawanan dan pihak yang lebih luas.  

Apakah perempuan menjadi korban ataukah menjadi pahlawan dalam situasi bencana, 

akan  ditentukan  ketika  ketrampilan,  pengetahuan,  kapasitas  dan  jaringan  perempuan 

diperhitungkan.  Dan  sayangnya,  ini  tak  selalu  didapatkan  para  perempuan  ketika  bencana 

terjadi di Bantul, sebagaimana nampak dalam kajian yang Anda baca ini.   

6
BAB I
PENDAHULUAN
 

I. LATAR BELAKANG MASALAH 

Pagi  hari  di  Sabtu  27  Mei  2006,  sebuah  gempa  dangkal  berkekuatan  5.9  Skala  Richter 

mengguncang  Jogjakarta  dan  Jawa  Tengah.  Jam  masih  menunjukkan  pukul  6  pagi  kurang 

sedikit, ketika bumi bergoyang dengan sangat kencang. Gempa saat itu, sangatlah mengejutkan 

bagi  masyarakat  yang  sebelumnya  menganggap  daerah  tempat  tinggalnya  adalah  kawasan 

aman  dari  bahaya  gempa  bumi.  Gempa  yang  terjadi  di  tengah  perhatian  publik  yang  justru 

berpusat  pada  ancaman  bencana  letusan  gunung  Merapi  yang  berada  di  sebelah  utara 

Jogjakarta  ini,  membawa  banyak  kerusakan  dan  juga  kerugian.  Data  yang  dikumpulkan 

Bappenas menunjuk angka korban jiwa sebanyak 5.760 orang meninggal dunia, 388.758 rumah 

rusak termasuk sebanyak 187.474 rumah yang roboh (Rencana Aksi Nasional, Buku I). 

Tabel 1.1. Perbandingan beberapa bencana internasional 

Negara Jenis bencana Kejadian Korban jiwa Kerusakan Kerusakan

Alam Kerigian Kerigian

(US$ juta) (US$ juta)*

Indonesia Tsunami 26 Des 2004 165,708 4,450 4,747

Pakistan Gempa bumi 08 Okt 2005 73,338 2,900 2,992

Sri Lanka Tsunami 35,399 1,454 1,551

India (gujarat) Gempa Bumi 26 Jan 2001 20,003 2,600 2,959

Turki Gempa Bumi 17 Agst 1999 17,127 8,500 10,281

India Tsunami 26 Des 2004 16,389 1,224 1,306

Honduras Badai Mitch 25 Okt-8 Nov 1998 14,600 3,800 4,698

Thailand Tsunami 26 Des 2004 8,345 2,198 2,345

Indonesia(Yogya-Jateng) Gempa Bumi 27 Mei 2006 5,760 3,134 3,134

Sumber: Asia Disaster Preparednes Centre, Thailand: ECLAC, EM-DAT, World Bank, Juni 2006

Catatan: * Harga Konstan tahun 2006

7
Tabel di atas menunjukkan, meskipun jumlah korban jiwa sangat jauh dibawah jumlah 

korban jiwa tsunami misalnya, tetapi  jumlah kerusakan  dan  kerugian  yang  ditimbulkan  tidak 

terlampau  jauh  berbeda.  Hal  ini  dikarenakan  tingkat  kepadatan  penduduk  di  Jogjakarta  dan 

Jawa  Tengah  yang  mengakibatkan  tingginya  angka  kerusakan  pada  bangunan  baik  rumah, 

maupun infrastruktur publik dan dunia usaha. 

Dalam data yang lebih rinci, menunjukkan DIY mengalami kerusakan sebagai berikut:  

Tabel 3.2.  

Data Rumah Rusak di DIY karena Gempa 1

No  Kabupaten/Kota  Jumlah Rumah Rusak 

1  Sleman  21.056 

2  Kulonprogo  3.401 

3  Jogjakarta  6.538 

4  Gunungkidul  9.235 

5  Bantul  119.879 

   

Selain mengakibatkan ratusan ribu rumah rusak dan roboh, gempa juga mengakibatkan 

rusaknya  sarana  dan  prasarana  umum.  Rusaknya  puluhan  pasar,  ratusan  sekolah,  tempat 

ibadah,  bangunan  perkantoran  dan    sarana  usaha  membuat  skala  kerugian  memang  sangat 

tinggi.  Untuk  bangunan  pendidikan,  jumlah  bangunan  sekolah  di  DIY  dan  Jateng  mencapai 

2.630  unit  dengan  perkiraan  jumlah  kerusakan  dan  kerugian  mencapai  Rp  1.74  Triliun. 

Sementara pada sektor kesehatan, jumlah kerusakan diperkirakan mencapai Rp 1.5 Triliun, dan 

1
Pemprop DIY (2007), “Lesson Learnt dalam Rehabilitasi dan Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa Bumi”,
disampaikan dalam workshop sehari Lesson Learned Bencana Jogja-Jateng : Masukan Bagi Penyusunan RPP dan
Perpres UU 24/2007 tentang Penanganan Bencana, data per 7 Mei 2007

8
kerugian mencakup Rp 21 Miliar di kedua propinsi. Gempa ini mengakibatkan kehancuran 17 

rumah  sakit  swasta  dan  rusaknya  41  klinik  swasta  di  kota  Jogjakarta.  Untuk  Puskesmas,  dari 

total 117 Puskesmas di propinsi DIY, 45 hancur, 22 rusak parah dan 16 rusak ringan. Sementara 

di Jawa Tengah, 2 puskesmas di Klaten hancur, 7 rusak berat dan 7 lainnya mengalami rusak 

ringan.  Dampak  gempa  bumi  pada  sektor  produktif  juga  sangat  besar,  apalagi  karena 

kontribusi terbesarnya adalah dari kehancuran usaha kecil dan menengah yang menjadi tulang 

punggung  perekonomian  masyarakat  di  daerah  terkena  bencana.  Juga  ditambah  dengan 

kerusakan  struktur  irigasi,  dan  juga  kerusakan  pada  sistem  pertanian.  Perkiraan  jumlah 

kerusakan dan kerugian dalam sektor ini mencapai Rp 9.025 Triliun. 2   

  Selain  menghancurkan  dan  meluluhlantakkan  sarana  dan  prasarana  yang  ada,  gempa 

bumi  ini  juga  mengakibatkan  dampak  psikologis  bagi  masyarakat.  Secara  umum,  masyarakat 

Jogjakarta dikatakan berada dalam situasi beban sosial ekonomi yang berat. 3  Besarnya dampak 

gempa ini juga berpengaruh bagi  kesehatan mental bagi banyak anggota masyarakat. Kondisi 

ini  nampak  dari  penuturan  Bu  Ponirah,  salah  satu  penyintas  dari  Gedongan,  Kasihan  berikut 

ini :  

....”Kalau mengingat saat itu, rasanya ngeri, ngeri sekali... Juga stress. Bagaimana tidak stress, 
wong rumahnya hancur semua. Berteduhnya di bawah pohon, dan kehujanan selama 3 hari dan 
barang‐barang hancur semua....” 

Gempa  sebagai  sebuah  pengalaman  sejarah  yang  membawa  luka  bersama  bagi 

masyarakat, menjadi magnet bagi sejumlah donor, organisasi nasional‐lokal maupun penyintas 

untuk  bergerak  bersama.  Gempa  mengundang  bantuan  datang  bertubi,  tentu  saja  dengan 

ragam cara dan motif.  

2
Buku Utama Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Pasca Bencana Gempa Bumi di Propinsi DIY
dan Propinsi Jawa Tengah, Bappenas, Bab III, Juli, 2006
3
Policy Brief Gender Working Group (GWG) untuk respon bencana Jogja-Jateng, Mainstreamingkan
Gender dalam Kebijakan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Gempa : Libatkan Perempuan dalam
Seluruh Proses Rehabilitasi-Rekonstruksi. Naskah, Tidak Diterbitkan, 2006.
9
Penanganan  gempa  bumi  Jogja‐Jateng  memberi  pembelajaran  betapa  berharganya 

kerelawanan  dan  solidaritas  warga.  Hari  pertama  dan  kedua  pasca  bencana,  masyarakat  dari 

luar  daerah  bencana  telah  mulai  bergerak,  mengirimkan  bantuan  logistik  maupun  relawan 

untuk  membantu  warga  korban  bencana.  Dibantu  para  relawan,  tanpa  dikomando  warga 

masyarakat  (perempuan‐laki‐laki,  tua‐muda,  kaya‐miskin)  gumbregah,  bangkit,  bergerak, 

bekerja  bahu  membahu,  bergotong  royong  membersihkan  puing‐puing  dan  menata  kembali 

dusunnya  masing‐masing.  Di  sana‐sini,  posko‐posko  bantuan  pun  didirikan  dan  diorganisir 

secara sigap oleh berbagai paguyuban masyarakat sipil. 4   

Para  perempuan  tak  kalah  sigap,  dengan  responsifnya  mereka  bergerak  mendirikan 

dapur umum. Mereka membagi tugas dengan cepat untuk mengumpulkan bahan pangan yang 

masih  bisa  diselamatkan  di  setiap  rumah  kemudian  mengaturnya  sebagai  lumbung  pangan 

selama  beberapa  hari.  Bencana  kelaparan  yang  mengikuti  kejadian  bencana  direduksi  karena 

kecekatan  perempuan  untuk  bertindak  mengamankan  hajat  dasar  masyarakatnya. 5   Aktivitas 

massa itu digerakkan oleh spirit altruisme dan kerelawanan (voluntarism) yang sangat tinggi di 

antara warga sendiri. Tiga bulan fase tanggap bencana, kerja‐kerja karitatif sungguh mewarnai 

interaksi  antara  penyintas  dengan  penyintas1,  penyintas  dengan  relawan  luar  komunitas 

maupun  penyintas  dengan  jejaring  masyarakat  sipil  lainnya.  Memasuki  fase  rehabilitasi  dan 

rekonstruksi,  sejumlah  organisasi  perempuan  perempuan  mempraktikkan  pendekatan  yang 

lain.  Bantuan  karitatif  sebagai  bagian  dari  filantropi  sangat  baik  untuk  kerja‐kerja  tanggap 

bencana.  Namun  untuk  kerja  jangka  panjang  justru  tidak  mendidik  masyarakat,  bahkan 

ditakutkan  akan  membawa  ketergantungan  masyarakat  pada  pemberi  bantuan.  Karenanya 

pada  fase  rehabilitasi  dan  rekonstruksi,  kerja  karitatif  berusaha  untuk  diintegrasikan  dengan 

kerja pemberdayaan komunitas warga korban. 

4
Widyanta, AB. Modal Sosial: Partisipasi Warga Yang Selalu Dinisbikan Dalam Governance
Kebencanaan (Belajar Dari Penanganan Gempa Bumi Yogya Dan Jateng), dalam Jurnal RENAI
Governance Bencana tahun ke 7 no 1. 2007.
5
Agustin, Retno. Gender yang Direkonstruksi dalam Bencana Alam(i)? Pengabaian vis a vis
Kebangkitan Perempuan Penyintas dalam Penanganan Gempa dalam Widyanta, AB (ed) Kisrah-Kisruh
di Tanah Gempa. Jogjakarta : CPRC-FS. Mei 2007.
10
Model‐model  partisipasi  yang  sangat  spontan,  mandiri  dan  digerakkan  oleh  spirit 

altruitik  dan  norma  informal  merupakan  ciri  modal  sosial  yang  berbasiskan  warga. 

Sebagaimana ditandaskan oleh Fukuyama, modal sosial yang mewujud dalam jaringan warga 

merupakan  jalan  pintas  yang  mengatasi  masalah  koordinasi  dalam  organisasi  yang  sangat 

terdesentralisasi 6 .  Dalam  penanganan  gempa  bumi  jogja‐jateng,  modal  sosial  berbasis  warga 

inilah yang menjadi jaring pengaman bagi korban dan survivor untuk melampaui krisis paska 

bencana. 7   

  Akan tetapi, dalam temuan kami, dalam setiap tahapan bencana kerja perempuan baik 

pada sector domestic maupun publik sering tidak diperhitungkan. Padahal, bila melihat situasi 

pada detik‐detik awal tanggap bencana, perempuan lah yang dengan sangat cekatan dan sigap 

segera  melakukan  langkah‐langkah  penting  penanganan  bencana.  Dapur  umum  –meskipun 

merupakan  kerja  domestic‐  namun  merupakan  refleksi  sikap  assertif  dan  sukarela  yang 

dilakukan  oleh  perempuan  ketika  menghadapi  bencana.  Kesedihan  dan  kepiluan  karena 

bencana  memang  dirasakan,  tetapi  hidup  harus  terus  berjalan  :  orang  perlu  makan,  perlu 

menyambung  hidup  dan  tenaga,  dan  karenanya,  dapur  umum  adalah  jawabannya.  Di  sini, 

perempuan  memegang  peran  kunci.  Penelitian  kami  menunjukkan  bahwa  keterlibatan 

perempuan  dalam  proses  rehabilitasi‐rekonstruksi  merupakan  hal  yang  tak  lazim  dalam 

masyarakat  yang  kental  nuansa  patriarkisnya.  Pandangan  mata  aneh  maupun  cibiran 

merupakan  reaksi  yang  kerap  diterima  para  perempuan.  Tantangan  balik  dari  laki‐laki  acap 

menghadang  perempuan  yang  secara  sukarela  (volunterisme)  hendak  terlibat  dalam  proses 

rekonstruksi.  Namun  dalam  catatan  lapangan  juga  terdapat  pengalaman  keberhasilan 

perempuan  dalam  meyakinkan  masyarakat  bahwa  mereka  adalah  latent  leader  yang 

berkemampuan untuk mengawal proses pemulihan bencana dengan lebih berkeadilan.  

Penelitian  ini  dimaksudkan  untuk  mengangkat  sebuah  potret  realitas  yang  penting 

namun sering terabaikan dalam penanganan kebencanaan, yaitu perempuan penyintas. Realitas 

6
Fukuyama, Francis. Guncangan Besar, Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru; Jakarta: Gramedia, 2005,
hlm. 243
7
Widyanta,AB. Op.Cit
11
yang ingin dikuak dalam penelitian ini adalah perempuan tak semata sebagai korban quote en 

quote yang tak berdaya, namun juga entitas yang aktif dan berdaya dalam penanganan bencana. 

Pengalaman  penanganan  bencana  di  kabupaten  Bantul  menunjukkan  potret  kesadaran 

perempuan yang cukup tinggi dalam berpartisipasi dalam penanganan kebencanaan, meskipun 

partisipasi  mereka  juga  kerap  ditelikung  maupun  dinisbikan.  Dengan  kata  lain,  kontribusi 

perempuan  dalam  penanganan  kebencanaan  hendak  dipotret  untuk  menjadi  sebuah 

pembelajaran bagi penanganan kebencanaan di tempat‐tempat lain. 

II. PERMASALAHAN PENELITIAN :  

Bentuk‐bentuk  kerelawanan  perempuan  dan  ruang  Penelitian  ini  ingin  mengungkap 

pertanyaan  mendasar  mengenai  bagaimana  bentuk‐bentuk  kerelawanan  dan  siasat 

perempuan  merebut  ruang  partisipasi  dalam  penanganan  kebencanaan?  Untuk 

mendapatkan  jawaban  atas  permasalahan  penelitian,  peneliti  merumuskan  sejumlah 

pertanyaan‐pertanyaan kunci, antara lain : 

1. Sistem  sosial  kebencanaan  seperti  apakah  yang  melahirkan  tokoh‐tokoh  perempuan 

dalam penanganan bencana? 

2. Bagaimana  pengaruh  dari  sistem  sosial  ini  terhadap  bentuk‐bentuk  partisipasi 

perempuan baik di ruang domestik atau publik? Apa sajakah hambatan yang dihadapi 

dan strategi yang diambil perempuan untuk merebut ruang partisipasi?   

3. Bagaimana  proses  dan  perkembangan  hubungan  antara  bentuk  kerelawanan 

perempuan  yang  ada  dengan  kelompok‐kelompok  lain  (LSM,  organisasi  lokal, 

pemerintah) pasca bencana? Bagaimana kelompok‐kelompok lain tersebut  memainkan 

peran  linking  social  capital  sehingga  kerelawanan  perempuan  lokal  dapat  terhubung 

dengan ruang public yang lebih luas.  

III. TUJUAN PENELITIAN :  

12
Penelitian ini ditujukan untuk: 

1. Menemukan bentuk‐bentuk kerelawanan perempuan dan siasat partisipasi perempuan 

dalam penanganan bencana 

2. Menunjukkan model filantropi perempuan dalam penanganan kebencanaan. 

3. Memetakan  pola  hubungan  antara  perempuan  dengan  pihak‐pihak  lain  dalam 

mobilisasi modal sosial untuk penanganan bencana.  

4. merumuskan rekomendasi bagi proses penanganan bencana yang berperspektif gender. 

IV. KERANGKA TEORI :  

a. Bencana 

.......”Pada  dasarnya,  tidak  ada  yang  disebut  sebagai  bencana  alam;  yang  ada  adalah  bahaya‐
bahaya  alam,  seperti  misalnya  siklon  dan  gempa  bumi.  Perbedaan  antara  sebuah    bahaya  dan 
sebuah  bencana  merupakan  suatu  hal  yang  penting.  Sebuah  bencana  terjadi  jika  sebuah 
komunitas  terkena  dampak  sebuah  bahaya  (biasanya  diartikan  sebagai  sebuah  peristiwa  yang 
melampaui  kapasitas  komunitas  tersebut  untuk  menghadapinya).  Dengan  kata  lain,  dampak 
sebuah  bencana  ditentukan  oleh  sejauh  mana  kerentanan  sebuah  komunitas  terhadap  bahaya. 
Kerentanan  seperti  ini  tidak  bersifat  alami.  Ia  merupakan  dimensi  manusiawi  dalam  bencana, 
hasil  dari  keseluruhan  faktor‐faktor  ekonomi,  sosial,  budaya,  institusi,  politik  dan  bahkan 
psikologi  yang  membentuk  hidup  manusia  dan  menciptakan  lingkungan  di  mana  mereka 
tinggal... 8 ” 
Bencana  bukan  hanya  menghancurkan  tatanan  fisik,  namun  juga  tatanan  sosial,  

ekonomi  dalam  masyarakat.  Bencana  menjadi  triger  yang  memicu  peningkatan  kerentanan 

yang  sudah  terdapat  dalam  masyarakat  sebelum  bencana  terjadi.  Kerentanan  tersebut  bukan 

hanya reprentasi dari rendahnya kapasitas masyarakat dalam menghadapi tantangan sosial dan 

alam, namun juga representasi salah urus  oleh negara atas masyarakatnya.  9

8
Twigg, J (2001), sebagaimana dikutip dalam Living with Risk, UNISDR, 2004, chapter 1,
9
Fatimah, Dati. Yang Sering terabaikan: Gender dan Anggaran dalam Bencana dalam Widyanta, AB
(ed) Kisrah-Kisruh di Tanah Gempa. Jogjakarta : CPRC-FS. Mei 2007.

13
Dalam  situasi  bencana  tercipta  kondisi  chaotic  dan  kepanikan.  Masyarakat  harus 

beradaptasi  dengan  ritme  alam  dan  sosial  yang  berubah.  Fokus  pada  penyelamatan  diri  dan 

keluarga  mengakibatkan  masyarakat  sulit  terorganisir.  Di  sisi  lain,  negara  juga  harus 

beradaptasi dengan ritme birokrasi darurat bencana. Proses untuk beradaptasi dengan kondisi 

bencana  ini  yang  mengakibatkan  kegagapan  bagi  masyarakat  maupun  negara.  Meski 

bagaimanapun juga, negaralah yang harus bertanggung jawab atas masyarakatnya.  

Hoffman  (1999;2002),  menegaskan  pandangan  mengenai  bencana  ditinjau  dari  sudut  

pandang  ekonomi  politik.  Menurut  hoffman:  (1)  bencana  dapat  dihindari  dan  kejadian  alam 

tidak harus berubah menjadi bencana kalau dampaknya bisa diatasi dengan baik; (2) manusia 

tidak  dilihat  sebagai  korban  yang  tidak  tertolong  tetapi  sebagai  aktor  yang  mampu  dengan 

tingkatannya  masing‐masing  memecahkan  dan  menghadapi  kejadian  alam  atau  bahkan 

menghindarinya.  Disini  sumber  yang  dimiliki  penduduk  berperan  penting  dalam  pemulihan; 

(3) isu keadilan menjadi penting. Kelompok kaya jarang menderita separah yang dialami oleh 

kelompok  miskin  dalam  setiap  bencana,  walaupun  bencana  tetaplah  merupakan  penderitaan 

umum dengan tingkat keparahannya masing‐masing. 10   

  Salah  satu  aspek  penting  dalam  kajian  tentang  bencana  adalah  kajian  tentang 

kerentanan.  Perspektif  kerentanan  memandang  bahwa  situasi  yang  ditimbulkan  dari  bencana 

tidak  hanya  berasal  dari  bencana  itu  sendiri,  seperti  gempa,  badai  dan  angina  topan,  tetapi 

sebagai kombinasi dari 3 faktor, yaitu:  11   

10
Hoffman, 1999;2002, dalam Irwan Abdullah, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Anthropologi
Universitas Gadjah Mada “Dialektika Nature, Kultur Dan Struktur : Analisis Konteks, Proses dan Ranah
Dalam Konstruksi Bencana”, Halaman 13.
11
Lihat analisis yang melihat kontribusi ketiga actor ini dalam Tierney, K (2007), “Recent Sociological
Contributions to Vulnerability Science”, Department of Sociology and Institute of Behavioral Science,
Natural Hazards Center, University of Colorado. Dalam paper yang sama, Tierney mengutip beberapa
riset yang mengkaji banyak aspek dan contoh dari kerentanan dalam berbagai kondisi, misalnya
perbedaan kerentanan berbasis ras, yaitu antara yang berkulit putih dan hitam sebagaimana diajukan oleh
Robert Bullard.

14
1. Bencana itu sendiri, seperti topan, badai, gempa dan tsunami.  

2. Kondisi  fisik  dan  karakter  dari  lingkungan  yang  terbentuk.  Sebagai  contoh,  banyak 

struktur  bangunan  dan  infrastruktur  yang  tidak  tanggap  terhadap  dampak  fisik  dari 

bencana. 

3. Kerentanan  populasi,  merupakan  konstruk  yang  kompleks  yang  mencakup  beberapa 

faktor  seperti  ketersediaan  sumber  daya  (seperti  pendapatan  dan  kesejahteraan),  ras, 

etnis, gender, umur, pengetahuan tentang cara‐cara penyelamatan dalam bencana, dan 

factor  yang  terkait  dengan  modal  social  dan  budaya.  Sebagai  gambaran,  keterlibatan 

dalam aktivitas dan ruang sosial akan membantu menyediakan informasi dan bantuan 

yang  bermanfaat.  Pengetahuan  juga  memampukan  anggota  komunitas  untuk  bisa 

berinteraksi  secara  baik  dengan  institusi  sosial  yang  ada.  Di  sisi  yang  lain,  kerentanan 

populasi  juga  bisa  meningkat  karena  langkah‐langkah  yang  diambil  oleh  pemerintah 

dan  institusi  lain  yang  gagal  dalam  melindungi  populasi.  Dari  perspektif  kerentanan 

misalnya, bencana badai Katrina menjadi semakin parah karena kegagalan dari system 

proteksi sosial dan system manajemen darurat yang tidak memadai dalam melindungi 

dan menjaga survivor.  

b. Gender dan Bencana 

Deklarasi  Beijing  dan  Rencana  Aksinya  dengan  jelas  mengakui  bahwa  degradasi 

lingkungan  dan  bencana mempengaruhi  seluruh  kehidupan  manusia dan seringkali  membawa 

dampak langsung yang lebih bagi perempuan. Sessi khusus ke‐23 dari General Assembly pada 

tahun  2000  juga  mengidentifikasi  bencana  alam  sebagai  tantangan  terkini  yang  bisa 

mempengaruhi  implemnetasi  menyeluruh  dari  rencana  aksi  Beijing  ++  ini.  Karenanya, 

dibutuhkan  strategi  untuk  mengintegrasikan  perspektif  gender  dalam  pengembangan  dan 

implementasi pencegahan bencana, mitigasi dan strategi recovery.  

15
Salah  satunya variabel  penting yang  harus  diperhitungkan  adalah  bahwa  bencana yang 

sama  bisa  membawa  dampak  yang  berbeda  bagi  kelompok  gender  yang  berbeda.  Sama‐sama 

terjadi  bencana  banjir  atau  gempa  misalnya,  dampak  yang  ditimbulkan  bagi  laki‐laki  dan 

perempuan  tidaklah  identik,  yang  salah  satunya  disebabkan  oleh  perbedaan  kerentanan 

terhadap  bencana  karena  relasi  gender  yang  ada.  Laporan  UN/IASC  juga  menuliskan  bahwa 

struktur  relasi  gender  adalah  bagian  dari  konteks  budaya  dan  sosial  yang  mempengaruhi 

kapasitas  komunitas  untuk  mengantisipasi,  menyiapkan  diri,  mempertahankan  diri  dan  juga 

melakukan pemulihan karena bencana.  

Elaine  Enarson  dalam  papernya  yang  berjudul  “Gender  Equality,  Work,  and  Disaster 

Reduction: Making the Connection”, menjelaskan bahwa risiko terhadap bencana terdistribusikan 

secara  berbeda  di  dalam  masyarakat.  Menurutnya,  sebagai  sebuah  konsep  yang  kompleks, 

kerentanan dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah perbedaan akses dan kontrol 

terhadap  sumber  daya  yang  yang  dibutuhkan  baik  untuk  bertahan  hidup  maupun  menjalani 

masa  recovery  setelah  bencana.  Namun,  ia  menggarisbawahi  bahwa  perempuan  dan  anak 

perempuan  adalah  merupakan  bagian  dari  kelompok  masyarakat  yang  berada  pada  daftar 

kelompok  dengan  risiko  tinggi  terhadap  bencana  (Enarson,  2000).  Menurut  Blaikie  (2003:300), 

perempuan  orang  tua  dan  anak‐anak,  atau  kelompok  yang  berstatus  sosial  rendah,  minoritas 

kelompok dengan akses yang terbatas, kelompok yang tidak memiliki capital sosial, mengalami 

nasib yang paling buruk 12   

Masih  dalam  paper  yang  sama,  Enarson  memaparkan  bagaimana  perempuan  bekerja 

secara  tidak  dibayar  dan  seringkali  secara  sosial  tidak  diperhitungkan.  Kesukarelawanan 

12
Blaikie, 2003:300, ibid. dalam Irwan Abdullah, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Anthropologi
Universitas Gadjah Mada “Dialektika Nature, Kultur Dan Struktur : Analisis Konteks, Proses dan Ranah
Dalam Konstruksi Bencana”, Halaman 13.
16
perempuan  dalam  penanganan  bencana  sangat  multiwajah,  sebagaimana  tergambar  dalam 

pengalaman penanganan bencana di Nicaragua berikut ini: 13

After the storm subsided,  international aid began entering the area near her village. She saw that 
the village leader, a man who lost his farm, was more concerned about his own than other village 
members. . .So she traveled to the mayor’s office, where she had never been before. She visited the 
Peace Corps volunteer in town, whom she did not know. Through her dedication, persistence, and 
patience, she had seven houses built and legally put in the wife/mother’s name. She insisted that 
latrines be built for all families. She rallied 10,000 trees to be planted on the deforested hills that 
surrounded her village. She learned about water diversion tactics, and found an engineer to teach 
her village to build gavion‐walled channels. 

Masih  dalam  tulisan  yang  sama,  Enarson  menceritakan  bahwa  perempuan  lebih 

bermotivasi  dibandingkan  laki‐laki  dalam  melakukan  tindakan  pencegahan  bencana. 

Perempuan  bukan  hanya  merawat  kesehatan  anggota  keluarganya,  namun  juga  secara  lebih 

luas memperhatikan kesehatan masyarakat secara lebih luas. Dicontohkan Enarson, perempuan 

turut  membersihkan  sampah  yang  dibawa  banjir  di  wilayah  tetangga  mereka.  Kerja 

penanganan  bencana  juga  mengikutsertakan  perempuan  dalam  pencarian  bantuan 

kemanusiaan.  Berbeda  dengan  imaji  yang  dihadirkan  media  mengenai  perempuan  sebagai 

korban  yang  penakut  dan  aktor  yang  pasif.  Dalam  kerja  kemanusiaan,  perempuan  terlibat 

secara  kuat  untuk  pencarian  bantuan  kemanusiaan  serta  distribusi  barang  dan  pelayanan 

tanggap  bencana.  Meski  juga  harus  diakui  bentuk  partisipasi  dan  kerelawanan  perempuan 

menjadi lebih berat ketika harus berhadapan dengan norma pembagian kerja berbasis seks dan 

gender. 14   

Pandangan  yang  menempatkan  perempuan  sebagai  entitas  yang  tak  berdaya  justru 

meminggirkan perempuan  dalam kerja‐kerja  penanganan  bencana. Di  sisi  lain,  pandangan ini 

13
Lihat Enarson, Contribution by S. Henshaw of the World Food Program to the internet conference on
Gender Equality, Environmental Management and Natural Disaster Mitigation sponsored by Division for
the Advancement of Women, November 2001.
14
Enarson dalam Women’s Voluntary Work Expands : Gender Equality, Work, And Disaster Reduction:
Making The Connections,
17
membawa  implikasi  terhadap  penisbian  potensi  dan  peranan  perempuan  dalam  penanganan 

kebencanaan. 

Mengambil  pendekatan  Hoffman  di  atas,  seharusnya  perempuan  juga  dipandang  dan 

diperlakukan  sebaga  aktor  yang  berdaya.  Kerja  sukarela  yang  dilakukan  perempuan 

merupakan  bukti  keberdayaan  perempuan.  Kerja‐kerja  kerelawanan  mereka  ini  menjadi  kian 

penting dalam proses rekonstruksi yang panjang. Ketika itu, kepentingan ekonomi laki‐laki dan 

perempuan  sering  bertabrakan.  Belajar  dari  pengalaman  kerelawanan  perempuan  di  Bantul, 

kerelawanan  perempuan  merupakan  bagian  dari  proses  pemerdayaan  perempuan  untuk 

melakukan  kerja‐kerja  tak  berupah  pada  masa  sebelum  bencana,  namun  kerelawanan 

perempuan  itu  selalu  mempunyai  makna  positif  bagi  masayarakat  baik  pada  masa  sebelum 

bencana,  terlebih  pada  masa  sesudah  bencana.  Bagi  perempuan  relawan,  kerelawanannya 

merupakan  usahanya  untuk  meningkatkan  kapasitas  perempuan  serta  untuk  meningkatkan 

solidaritas  komunitas  dalam  rangka  mendukung  proses  rekonstruksi  yang  lebih  berkeadilan 

gender. 15

c.  Perkembangan Konsep Modal Sosial  

Semenjak  James  Coleman  mengenalkan  konsep  modal  sosial  hingga  sekarang  belum 

ada formulasi tunggal untuk menjelaskan pengertian konsep ini. 16  Menurut Francis Fukuyama 

salah  satu  kelemahan  konsep  modal  sosial  adalah  belum  ada  kesepakatan  dalam  pengertian 

konsep atau teori ini. 17  Titik temu yang hampir tidak berbeda antar berbagai pengertian terletak 

15
Enarson, Ibid
16
Banyak yang mengatakan bahwa Coleman mengenalkan konsep ini melalui esai yang berupa suplemen,
Social Capital in the Creation of Human Capital, dalam American Journal of Sociology, 94: Supplement,
1988. Tetapi tidak sedikit yang menyebutkan bahwa Robert Putnam dalam karya-karyanya yang terlebih
dahulu mengenalkan konsep ini.
17
Francis Fukuyama, Social Capital and Development: The Coming Agenda, SAIS Review vol. XXII no.
1, Winter Spring 2002, hal. 5 <http://www.saisreview.org>
18
pada  cara  memandang  modal  sosial  sebagai  kemampuan  dari  suatu  kelompok  sosial  untuk 

bekerja bersama dalam sesuatu yang berguna bagi kelompok tersebut. 18   

Konsep  modal  sosial  berbeda  dari  konsep  modal  manusia  dan  modal  fisik,  namun 

terkadang  terjadi  tumpang‐tindih  dalam  pemahaman.  Karena  bentuk‐bentuk  modal  yang  ada 

mempunyai  hubungan  yang  saling  melengkapi  dan  saling  menyempurnakan.  Untuk 

membangun determinasi yang lebih tegas atas konsep modal sosial, Field, Schuller dan Baron 

me‐review  konsep  modal  sosial  dengan  menyebutkan  modal  sosial  ‐secara  luas‐  sebagai 

jaringan‐jaringan  sosial  dan  hubungan  yang  terjadi  dalam  jaringan‐jaringan  sosial  tersebut, 

terutama hubungan resiprositas dalam meraih tujuan bersama. 19

Modal  sosial  merupakan  konsep  yang  terdiri  atas  dua  dimensi  yang  berbeda  tetapi 

saling bertautan antara dimensi struktural dan kognitif. Dimensi struktural lebih menekankan 

pada  pengorganisasian dan  jaringan  dari  masyarakat,  baik  yang  berbentuk  formal  maupun 

informal.  Sedangkan  dimensi  kognitif  lebih  menekankan  pada  aspek  nilai‐nilai,  sikap‐sikap, 

kepercayaan  yang  terdapat  dalam  suatu  masyarakat  yang  membimbing  sikap  hidup 

masyarakat  tersebut.  Secara  singkat,  dapat  dikategorikan  bahwa  dimensi  struktural  adalah 

sesuatu yang dapat dilihat dengan konkret sedangkan yang kedua lebih abstrak. 

      Tipologi Modal Sosial secara sederhanal dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu bonding social 

capital, bridging social capital, linking social capital.   

Pertama,  apa  yang  disebut  dengan  Bonding  Social  Capital  dapat  kita  sebut  dengan 

perekat  sosial,  yaitu,  nilai  budaya,  persepsi  dan  tradisi  atau  adat‐istiadat  (custom).  Pengertian  

bonding  social  capital  adalah  tipe  modal  sosial  dengan  karakteristik  ikatan  yang  kuat  (adanya 

18
Thomas F Carroll Social Capital, Local Capacity Building, and Poverty Reduction , Social
Development Papers No. 3, Office of Environment and Social Development, Asian Development Bank,
May, 2001, hal. 1
19
J. Field, T. Schuller, dan S. Baron, Social Capital: Critical Perspectives. Oxford: Oxford University
Press, 2000, hal 1. seperti yang dikutip oleh David Piachaud, Capital and the Determinants of Poverty
and Social Exclusion, CASE paper 60, Centre for Analysis of Social Exclusion, London School of
Economics, Houghton Street, 2002, hal. 6 <http://sticerd.lse.ac.uk/Case>
19
perekat  sosial)  dalam  suatu  sistem  kemasyarakatan.  Misalnya,  kebanyakan  anggota  keluarga 

mempunyai  hubungan  kekerabatan  dengan  keluarga  yang  lain,  yang  mungkin  masih  berada 

dalam  satu  etnis.  Hubungan  kekerabatan  ini  bisa  menyebabkan  adanya  rasa  empati, 

kebersamaan. Bisa juga mewujudkan rasa simpati, rasa berkewajiban, rasa percaya, resiprositas, 

pengakuan  timbal  balik  nilai  kebudayaan  yang  mereka  percaya.  Rule  of  law,  aturan  main, 

merupakan aturan atau kesepakatan bersama dalam masyarakat, bentuk aturan ini bisa formal 

melalui sanksi yang jelas seperti aturan Undang‐Undang.  

Kedua, Bridging Social Capital bisa berupa  Institusi maupun Mekanisme. Bridging social 

capital (jembatan sosial) merupakan suatu ikatan sosial yang timbul sebagai reaksi atas berbagai 

macam  karakteristik  kelompoknya.  Tipologi  ini  bisa  muncul  karena  adanya  berbagai  macam 

kelemahan  yang  ada  disekitarnya  sehingga  mereka  memutuskan  untuk  membangun  suatu 

kekuatan  dari  kelemahan  yang  ada.  Stephen  Aldidgre  menggambarkannya  sebagai  pelumas 

sosial,  yaitu  pelancar  dari  roda‐roda  penghambat  jalannya  modal  sosial  dalam  sebuah 

komunitas.  Wilayah  kerjanya  lebih  luas  dari  pada  bonding  social  capital.  Dia  bisa  bekerja  lintas 

kelompok etnis, maupun kelompok  kepentingan.  Keanggotaannya  lebih  luas dan  tidak  hanya 

berbasis pada kelompok tertentu. 

Bridging social capital bisa juga dilihat dengan adanya keterlibatan umum sebagai warga 

negara  (civic  engagement),  asosiasi,  dan  jaringan.  Tujuannya  adalah  mengembangkan  potensi 

yang ada dalam masyarakat agar masyarakat mampu menggali dan memaksimalkan kekuatan 

yang  mereka  miliki  baik  SDM  (Sumber  Daya  Manusia)  dan  SDA  (Sumber  Daya  Alam). 

Interaksi sosial merupakan modal utama untuk mewujudkan tujuannya ini. Dengan demikian 

institusi  sosial  tetap  eksis  sebagai  tempat  artikulasi  kepentingan  bagi  masyarakat.  Interaksi 

yang  terjalin  bisa  berwujud  kerjasama  atau  sinergi  antar  kelompok,  yaitu  upaya  penyesuaian 

dan  koordinasi  tingkah  laku  yang  diperlukan  untuk  mengatasi  konflik  ketika  tingkah  laku 

seseorang atau kelompok dianggap menjadi hambatan oleh orang atau kelompok lain, sehingga 

akhirnya tingkah laku mereka menjadi cocok satu sama lain. 

20
Ketiga,  apa  yang  disebut  dengan  linking  social  capital,  dalam  tipe  ini  menunjukkan 

hubungan  yang  terjadi  antara  kelompok‐kelompok  sosial  yang  berbeda.  Dalam  konteks 

penelitian  ini,  mungkin  voluntary  group  tertentu  menjalin  kerjasama  dengan  pihak  atau 

institusi yang lebih tinggi statusnya, baik secara kekuasaan formal, dan kedudukannya dalam 

suatu  masyarakat,  misalnya  voluntary  group  bekerjasama  dengan  LSM  maupun  lembaga 

pemerintah untuk meningkatkan kapasitas dan daya tahan dari masyarakatnya. 

V. METODE PENGUMPULAN DATA 

  Penelitian ini dikategorikan penelitian studi kasus. Pendekatan yang digunakan adalah 

pendekatan  kualitatif.  Studi  kasus  mempunyai  penekanan  terhadap  perhatian  ataupun 

pertanyaan dalam  suatu kasus  tertentu  yang  tentunya  dihubungkan  dengan tujuan penelitian 

dari peneliti tersebut. 

 Langkah‐langkah  penelitian  yang  akan  diterapkan  dalam  studi  kasus  tentang 

Kerelawanan dan Perjuangan Perempuan Merebut Ruang Partisipasi (Studi kasus keterlibatan 

perempuan dalam penanganan bencana di kabupaten Bantul, DIY, tahun 2006‐2007) 

1.   Pendekatan, Pengumpulan Data dan Analisis 

  Studi  kasus  dilakukan  di  Kabupaten  Bantul  untuk  mendapatkan  data  tentang  bentuk‐

bentuk  kerelawanan  dan  siasat‐siasat  partisipasi  yang  dilakukan  perempuan  dalam 

penanganan  bencana.  Dari  depth  interview  dan  pengamatan  langsung  di  daerah  penelitian 

diharapkan  diperoleh  data  kualitatif  tentang  bentuk‐bentuk  bentuk  kerelawanan  dan  siasat‐

siasat  partisipasi  yang  dilakukan  perempuan  dalam  penanganan  bencana.  Pengkodingan 

terhadap  data  yang  terkumpul  akan  dijadikan  pijakan  analisis  untuk  mencari  bentuk‐bentuk 

partisipasi yang merupakan manifestasi kerelawanan.  

21
  Permasalahan  dan  limitasi  data  kami  alami  akibat  tiadanya  kebijakan  pemerintah 

mengenai peran perempuan dalam  penanganan kebencanaan.  Limitasi  lain  dapat berasal dari 

keengganan  narasumber  terutama  birokrasi  untuk  diwawancarai  karena  kesibukan  mereka. 

Namun hal ini kami siasati dengan cara cross‐check dan penggunaan sumber‐sumber data yang 

dipunyai oleh sejumlah lembaga lainnya. 

2. Daerah Riset 

Pelaksanaan penelitian akan dilakukan di Kabupaten Bantul dengan pertimbangan: 

a. Kabupaten Bantul merupakan daerah yang menderita kerusakan terbesar akibat gempa 

yang menimpa DIY dan jateng. 

b. LSM  Lokal  dan  Internasional  yang  bekerja  dalam  humanitarian  aid  terkonsentrasi  di 

kabupaten  Bantul  dibandingkan  daerah  lain.  Selain  itu  ditemukan  juga  sejumlah  LSM 

perempuan yang melakukan kerja pengorganisasian komunitas pasca bencana. 

c. Banyak  ditemukan  fenomena  kerelawanan  perempuan  dan  siasat‐siasat  perempuan 

dalam menghadapi proses rekonstruksi yang tidak adil gender. 

3. Populasi dan sampel 

Target yang akan diteliti guna tercapainya pengumpulan data yang diharapkan adalah: 

a. Penyintas perempuan  

b. LSM Perempuan yang mempunyai program rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana 

c. LSM internasional dan Sejumlah lembaga donor yang beroperasi di Jogja 

d. Pejabat dan staf Pemerintah Daerah di Kabupaten Bantul. 

            Penentuan besar sampel akan ditentukan atas dasar tercukupinya informasi dan data 

yang dibutuhkan. 

VI. SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN 

22
    Tulisan  ini  terdiri  dari  5  bab.  Bab  1  dan  bab  5  merupakan  bagian  pendahuluan  dan 

kesimpulan. Bab 1, pendahuluan berisi mengenai latar belakang masalah, permasalahan kunci, 

tujuan, kerangka teori, serta metode pengumpulan data. Bab 2 secara khusus ditujukan untuk 

mengulas  mengenai  system  sosial  bantul  sebelum  bencana.  Profil  umum  Bantul  serta  system 

pemerintahannya ditujukan untuk memberi konteks pemahaman pada pembaca. Bab 2 ditutup 

dengan pengerucutan pembahasan mengenai perempuan dalam system sosial bantul sebelum 

bencana. Sub bab ini menjelaskan mengenai kerja dan aktivitas perempuan Bantul dalam ruang 

dan pembagian kerja yang terdiferensiasi berdasar gender dan seksual.  

    Bab  3  difokuskan  untuk  membahas  dimensi  gender  dalam  bencana  gempa  di  Bantul. 

Bagaimana  pengalaman  perempuan  ketika  gempa  serta  bagaimana  pengalaman  perempuan 

beradaptasi dalam system sosial yang tengah mengalami guncangan akibat gempa diulas lebih 

lanjut  dalam  bab  ini.  Bab  ini  lebih  jauh  dikerucutkan  untuk  melihat  siasat  partisipasi 

perempuan untuk menembus kebekuan system sosial. Bab ini ditutup dengan analisa mengenai 

kerelawanan  perempuan  dalam  bencana  gempa.  Bab  4  secara  khusus  akan  membahas 

mengenai ragam ruang dimana perempuan berproses sebagai relawan. Bagian selanjutnya akan 

mengulas  mengenai  factor  pendrong  kerelawanan  perempuan.  Bagian  kunci  penelitian  ini 

berada  pada  sub  bab  terakhir  yang  mengulas  mengenai  modal  sosial  dalam  bencana.  Bab  5 

merupakan penutup yang berisi kesimpulan‐kesimpulan dan refleksi dari penelitian ini.  

BAB II
23
SISTEM SOSIAL BANTUL SEBELUM BENCANA
 

  Dalam  banyak  kajian  tentang  perempuan,  perbincangan  tentang  sistem  sosial  atau 

sebagian  lebih  sering  menyebutnya  sebagai  konstruk  sosial,  adalah  awal  dari  serangkaian 

kajian  tentang  kondisi  dan  persoalan  perempuan.  Dalam  sistem  atau  konstruksi  sosial  yang 

berbeda,  kondisi  dan  derajat  kehidupan  perempuan  juga  menampakkan  potret  yang  berbeda. 

Tentang  ini,  konsep  sistem  sosial  membantu  untuk  melihat  bagaimana  interaksi  antar  banyak 

pihak,  pandangan  dan  juga  nilai  membentuk  sebuah  masyarakat.  Loomis  mengatakan  bahwa 

sistem sosial ini terbentuk dari interaksi yang terpola diantara unsur‐unsur pembentuknya. Hal 

ini mengakibatkan interaksi diantara individu yang beragam, dimana relasi diantara satu sama 

lain  secara  bersama‐sama  diorientasikan  kepada  pola  yang  terstruktur  serta  simbol  dan 

harapan yang disepakati. 20   

  Komunitas  sebagai  bagian  dari  sistem  sosial,  tidak  cukup  diartikan  sebagian  kesatuan 

wilayah geografis saja namun juga diartikan sebagai kelompok dengan kesamaan kepentingan 

atau  fungsi  yang  melintasi  batasan  gegografis.  Mc  Neil  memberi  definisi  terhadap  organisasi 

komunitas  sebagai  proses  dimana  orang  dari  komunitas  tertentu,  sebagai  individu  ataupun 

sebagai  representasi  kelompok,  bergabung  bersama  untuk  menentukan  kebutuhan  bagi 

kesejahteraan  bersama,  menyusun  rencana  untuk  meraihnya,  dan  memobilisasi  sumber  daya 

yang  diperlukan. 21   Lebih  jauh,  Murphy  menyimpulkan  bahwa  organisasi  komunitas  memiliki 

dua pemaknaan, yaitu sebagai proses dan sebagai ruang. Sebagai proses,  organisasi komunitas 

dibentuk  oleh  ketrampilan  yang  digunakan  untuk  mengkoordinasikan,  mempromosikan,  dan 

menginterpretasikan  layanan  sosial  dalam  beragam  bentuk.  Sementara  itu,  sebagai  ruang, 

merupakan  satu  suprastruktur  yang  dibuat  oleh  pihak‐pihak  yang  memiliki  tanggung‐jawab 

20
Loomis, Charles (1992), “Social Systems : Essays on Their Persistance and Change”, The Van
Nostrand Series in Sociology, New Jersey
21
McNeil, sebagaimana dikutip oleh Murphy, Campbell G. (1995), “Community Organization Practice”,
The Riverside Press Cambridge, Boston
24
untuk  mengkoordinasi  dan  mempromosikan  kerja  dalam  beragam  organisasi  yang 

menyediakan layanan bagi publik 22 .  

I. PROFIL UMUM BANTUL 

Kabupaten  Bantul  merupakan  salah  satu  dari  5  Kabupaten/Kota  di  Provinsi  Daerah 

Istimewa  Yogyakarta. Posisinya  terbilang  cukup  strategis  karena  berbatasan  langsung  dengan 

semua  Kabupaten/Kota  lain  di  Provinsi  DIY.  Di  bagia  utara  berbatasan  dengan  Kota 

Yogyakarta dan kabupaten Sleman. Bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul. 

Bagian  barat  berbatasan  dengan  Kabupaten  Kulonprogo.  Sedang  bagian  selatan  berbatasan 

langsung dengan samudera Indonesia. 23   

Penduduk  Kabupaten  Bantul  tersebar  di  75  desa  yang  berada  di  17  kecamatan. 

Kecamatan itu  antara lain : Kecamatan Srandakan, Sanden, Kretek, Pundong, Bambanglipuro, 

Pandak,  Bantul,  Jetis,  Imogiri,  Dlingo,  Pleret,  Piyungan,  Banguntapan,  Sewon,  Kasihan, 

Pajangan dan Sedayu. Bantul, sebelum kejadian gempa di pertengahan tahun 2004 mempunyai 

penduduk  799.211  jiwa  yang  terdiri  dari  391.296  laki‐laki  dan  407.915  perempuan.  Sedangkan 

pada  tahun  2006  pertambahan  penduduknya  mencapai  angka  820.555  jiwa.  Sex  ratio  dari 

penduduk  perempuan  di  banding  laki‐laki  adalah  96,53.  Artinya,  di  antara  100  laki‐laki 

terdapat 96,53 perempuan. 

Pendapatan  per  kapita  sebelum  bencana  mengalami  kenaikan  yang  signifikan  dari 

tahun  ke  tahun,  dengan  beban  tanggungan  dibawah  50%.    Meski  pendapatan  perkapita 

mengalami  peningkatan  namun  jumlah  penduduk  miskin  tidak  mengalami  penurunan.  Pada 

tahun 2000 angka penduduk miskin sebesar 18% dari jumlah penduduk, sedangkan tahun 2001 

mengalami kenaikan menjadi 26,02%. Sedangkan tahun 2002 agak turun menjadi 25,94%.  24   

22
Murphy, op.c it. , p. 29
23
Bantul Dalam Angka 2004, BPS Bantul.
24 Profil Kesehatan Kabupaten Bantul tahun 2003, halaman 20
25
Tingkat pendidikan penduduk sampai akhir tahun 2002 belum mengalami peningkatan 

yang  berarti.  Masih  banyak  penduduk  yang  buta  huruf  dan  tidak  tamat  sekolah  dasar. 

Akibatnya penyerapan dan pemahaman terhadap informasi cukup rendah. Tingkat pedidikan 

perempuan  di  atas  10  tahun  pada  kelompok  yang  tidak/belum  pernah  sekolah  mengalami 

ketimpangan  yang  signifikan  dibandingkan  laki‐laki  yakni  22,  82%  sedangkan  laki‐laki  hanya 

9,25%.  Sedangkan  untuk  kelompok  pendidikan  lainnya  seperti  tamat  SD,  SMP,  SMA, 

akademi/PT, angka perempuan lebih rendah dibandingkan laki‐laki. Padahal kalai dilihat dari 

struktur  penduduk  terlihat  bahwa  perempuan  lebih  banyak  daripada  laki‐laki.    Hal  ini 

menunjukkan  masih  belum  optimalnya  pemberdayaan  perempuan,  terutama  di  bidang 

pendidikan. 

Untuk mengimbangi jumlah penduduk dalam pelayanan kesehatan, Kabupaten Bantul 

disangga  oleh  6  rumah  sakit,  1  diantaranya  Rumah  Sakit  Umum  Pemerintah,  5  lainnya 

merupakan  Rumah  Sakit  Swasta.  Fasilitas  kesehatan  lain  terdiri  dari  Puskesmas  dan  Klinik 

kesehatan.  Puskesmas  berjumlah  26  buah,  sedang  sub  puskesmas‐nya  berjumlah  67  buah. 

Klinik  bersalin  swasta  hanya  berjumlah  1,  dengan  klinik  KB/Balai  pengobatan  berjumlah  21. 

Untuk  mengoperasionalkan  pelayanan  kesehatan,  Kabupaten  Bantul  baru  mempunyai  55 

dokter dan 34 dokter gigi.  

II. SISTEM PEMERINTAHAN 

Beragam  institusi  menjadi  bagian  dari  kehidupan  masyarakat  dan  sekaligus 

mempengaruhi  kehidupan  perempuan.  Dalam  deretan  institusi  formal  misalnya,  perangkat 

negara mulai dari pemerintah di tingkat nasional, hingga jajaran aparatur hingga tingkat dusun 

dan juga RT/RW, menjadi bagian dari institusi yang berpengaruh bagi kehidupan masyarakat 

dan  juga  perempuan.  Pengaruh  ini  nampak  sangat  nyata  misalnya,  karena  pendekatan 

penyeragaman  model  institusi  –yang  semula  adalah  bagian  dari  alur  administrasi  dan 

birokrasi‐ merambah hingga ke tataran sosial, politik dan juga budaya.  Desa pada masa Orde 

26
Baru  misalnya,  mengalami  perubahan  setelah  keluarnya  UU  No.  5  tahun  1979  tentang 

Pemerintahan  Desa.  Tak  hanya  itu,  karena  perubahan  ini  seringkali  juga  diikuti  dengan 

penggabungan  beberapa  kampung  atau  desa  menjadi  satu  kesatuan  wilayah  administratif, 

bahkan  terkadang  tanpa  melihat  kesesuaian  nilai  dan  pengikat  yang  sebelumnya  sudah  ada. 

Dengan  keluarnya  regulasi  ini,  semua  bentuk  kepemerintahan  lokal  yang  ada  haruslah 

berbentuk  desa,  sehingga  nagari  di  Sumatera  Barat,  atau  kampung  di  Kalimantan  Barat  dan 

Lembang di Tana Toraja misalnya, diubah bentuknya menjadi desa. 25  Contohnya, di Kabupaten 

Bantul paska keluarnya UU tentang Pemerintahan Desa dilakukan penghilangan konsep Rukun 

Warga  (RW)  yang  sebelumnya  terdiri  dari  sejumlah  Rukun  Tetangga  (RT).  Beberapa  RT 

kemudian  dilebur  dalam  kesatuan  Kring/Sub  Dusun  dengan  batasan  area  dan  kesatuan 

anggota  yang  berbeda.  Proses  adaptasi  sebagai  kesatuan  sosial  yang  baru  itu  memunculkan 

sejumlah  konflik  manifes  maupun  laten  diantara  warga  masyarakat  dusun.  Mengacu  kepada 

konsepsi  McNeil  di  atas,  intervensi  negara  yang  menghasilkan  ketegangan  di  dalam  desa 

menjadi tak terelakkan. 

Sebagaimana  Kabupaten/Kota  yang  lain,  bantul  memiliki  sistem  pemerintahan  yang 

dipimpin oleh seorang bupati. Drs. Idham Samawi berhasil menduduki puncak pemerintahan 

Bantul  untuk  masa  dua  periode.  Dalam  pandangan  banyak  pihak,  beliau  dipandang 

mempunyai  kedekatan  emosional  dan  politis  dengan  keraton  Jogjakarta.  Dalam  pemilihan 

kepala daerah tahun 2005, kemenangan Idham Samawi untuk kedua kalinya ditengarai karena 

kuatnya  dukungan  politik  dari  Sri  Sultan  HB  X  yang  selain  sebagai  Gubernur  DIY  juga 

berposisi sebagai raja. Sehingga meskipun Idham Samawi harus berhadapan dengan salah satu 

keluarga  kerajaan  dalam  persaingan  menuju  Bantul  satu,  Idham  Samawi  tetap  berhasil 

mempertahankan tahta sebagai Incumbent. 

Sebagai sosok pemimpin, Idham dikenal sebagai pemimpin yang mengembangkan gaya 

kultural.  Dia  tidak  segan  untuk  pergi  mengunjungi  warganya  yang  meminta  kehadirannya 

25
Lebih lanjut baca R. Yando Zakaria (2004), “Merebut Negara : Beberapa Catatan Reflektif tentang
Upaya-Upaya Pengakuan, Pengembalian dan Pemulihan Otonomi Desa”, KARSA-Lappera Pustaka
Utama, Desember
27
dalam  acara‐acara  warga,  terlebih  apabila  di  dusun  tersebut  di  dampingi  oleh  LSM. 

Implikasinya,  dia  dikenal  sebagai  pemimpin  yang  dekat  dengan  rakyat  meski  juga  secara  tak 

langsung menuntut kepatuhan dan kontrol ketat atas rakyatnya. Sebagaimana dikuatkan oleh 

Unang Shio Peking, Ketua Forum LSM DIY. 

”Dari  sisi  akomodasi  terhadap  aspirasi  masyarakat  banyak  tebang  pilih,  tidak  semua  bisa 
diakomodasi kepentingannya dengan baik. Kalau mau ketemu dengan bupati kalau bukan tokoh 
LSM ya yang antri lama. Selain itu asal pertemuannya gegap gempita, disambut warga dengan 
luar biasa ya dia pasti datang.” 
 
Pemerintahan  Bantul  terkenal  dengan  kebijakan  populis  sekaligus  penuh  nuansa 

popularitas. Kebijakan itu antara lain program beasiswa paska sarjana bagi guru dan program 

babonisasi.  Program  babonisasi  ini  meskipun  dinyatakan  sebagai  catatan  keberhasilan 

pemerintah Bantul, namun juga menunjukkan minimnya kontrol masyarakat atas pelaksanaan 

program. Program babonisasi dilaksanakan di seluruh SD di kabupaten Bantul, sejak pertama 

kali  direalisasikan  sambutan  dari  masyarakat  sangat  antusias.    Partisipasi  dari  warga 

masyarakat  yang  begitu  besar,  dengan  adanya  17  Kecamatan  di  kabupaten  Bantul,  13 

diantaranya  setuju  dengan  adanya  program  babonisasi.  Akan  tetapi  wujud  dari  program 

babonisasi  masih  bersifat  semu,  masyarakat  tidak  dilibatkan  secara  penuh  terhadap  proses 

implementasi program ini. Masyarakat tidak mempunyai kontrol terhadap program, salah satu 

contohnya  masyarakat  tidak  bisa  menghentikan  atau  mengundurkan  pelaksanaan  program 

yang saat itu bersamaan  dengan wabah penyakit flu burung 26 . 

Kebijakan mengenai perempuan merupakan kebijakan yang selalu kontroversial. Yakni, 

kebijakan  anggaran  PKK  yang  mencapai  4  Milyar  pada  masa  menjelang  pemilihan  kepala 

daerah  secara  langsung.  Dari  sisi  anggaran  sekilas  tampak  sebagai  kebijakan  yang  berpihak 

pada  perempuan,  namun  dari  sisi  implementasinya  banyak  pihak  yang  meragukan.  Menurut 

26
Dwi Setiawan, Rio (2005), “Implementasi Program Peningkatan gizi anak (Babonisasi) di Kecamatan
Kasihan”, kabupaten bantul, Skripsi. Universitas Gadjah Mada. 2005. hlm. 85

28
penuturan Wasingatu Zakiyah, pengurus IDEA, tidak ada daerah selain Bantul yang memiliki 

anggaran  PKK  hingga  4  Milyar.  Karena  meskipun  kepala  pemeritahannya  akan  berganti, 

namun  ketua  PKK  masih  tetap  ibu  Bupati  Idham  Samawi.  Sehingga  kebijakan  ini  menjadi 

rentan nuansa politisnya sebagai sarana mobilisasi dukungan pemilih perempuan melalui PKK.  

Selain itu perempuan masih mengalami pengandangan melalui perda inkonstitusional, 

yakni  perda  pelarangan  pelacuran.  Sekilas  tampaknya  perda  tersebut  mempunyai  maksud 

baik, namun secara substansial bermaksud untuk mendisiplinkan tubuh perempuan sekaligus 

partisipasi perempuan di ruang publik. Meski perda ini baru disahkan secara mendadak pada 

tahun  2007,  namun  sudah  sejak  lama  adagium  Bantul  yang  beragama  dan  religios  selalu 

digunakan sebagai klaim yang melegitimasi pemerintah untuk menundukkan masyarakat. 

III. PEREMPUAN DALAM SISTEM SOSIAL BANTUL 

  Posisi perempuan dalam sistem sosial Bantul berada dalam ruang dan pembagian kerja 

yang terdiferensiasi secara seksual/gender. Ruang perempuan di Bantul terkategorisasi dalam 3 

kategori  kerja  perempuan  yang  terdiri  dari: 27   Pertama,  kerja  produktif  yang  menjelaskan 

aktivitas  untuk  memproduksi  barang  dan  jasa  untuk  konsumsi  dan  perdagangan.  Petani, 

pengrajin,  buruh  pabrik  ataupun  pedagang,  baik  menjadi  pekerja  atau  menjadi  wirausaha, 

adalah contoh dari aktivitas produktif. Biasanya, bila orang ditanya apa pekerjaannya, jawaban 

atas pertanyaan tersebut lah yang menjelaskan kerja produktif. Walaupun saat ini laki‐laki dan 

perempuan  sama‐sama  terlibat  dalam  kerja  produktif,  fungsi  dan  tanggung‐jawab  akan 

berbeda  mengacu  kepada  pembagian  kerja  berbasis  gender.  Dalam  banyak  kasus,  kerja 

produktif perempuan sering dianggap bernilai lebih rendah dan sekaligus sering tidak tampak. 

Kedua, adalah kerja reproduktif yang terkait dengan perawatan dan menjaga rumah tangga dan 

seluruh  anggotanya.  Menjaga  anak,  membersihkan  rumah,  menyediakan  air  bersih  hingga 

27
“Two Halves Make a Whole : balancing Gender Relations in Development”, CCIC/MATCH/AQOCI,
sebagaimana dikutip dalam Williams, S., et.al. (1994), “The Oxfam Gender Training Manual”, Oxfam
(UK & Ireland), Oxford, UK., p. 189.
29
menjaga  kesehatan  keluarga  adalah  deretan  aktivitas  reproduktif  yang  sebetulnya  sangatlah 

krusial  dalam  menjaga  keberlangsungan  kehidupan,  walaupun  seringkali  tidak  dianggap 

sebagai  ’kerja’  dalam  pengertian  ekonomi.  Padahal,  sebetulnya  kerja  ini  sangat  bernilai  dan 

sekaligus  memakan  waktu  yang  tidak  sedikit,  dan  kebanyakan  menjadi  tanggung‐jawab 

perempuan.  Ketiga,  adalah  kerja  komunitas.  Kerja  ini  melibatkan  organisasi  kolektif  dalam 

kegiatan  sosial  maupun  juga  pelayanan  dan  politik.  Upacara,  musyawarah,  aktivitas 

pengembangan  msyarakat,  keikutsertaan  dalam  kelompok,  dan  aktivitas  politik  lokal  adalah 

bagian dari kerja ini. Biasanya, kerja ini merupakan aktivitas yang bersifat sukarela, dan sangat 

berperan  penting  dalam  menjaga  pengembangan  budaya  dan  spiritual  komunitas  dan  juga 

menjadi mesin penting dalam organisasi dan pertahanan komunitas. Laki‐laki dan perempuan 

biasanya  sama‐sama  terlibat,  walaupun  pembagian  kerja  dan  peran  berbasis  gender  sangat 

nampak  di  sini.  Bagian  berikut  menunjukkan  bagaimana  pembagian  kerja  berbasis  gender 

dalam konteks  Jawa:   

d.1.  Aktivitas Domestik  

  Seperti  di  banyak  masyarakat,  peran  domestik  menjadi  tanggung‐jawab  perempuan. 

Satu  studi  berikut,  yang  dilakukan  di  empat  komunitas,  baik  di  desa  dan  di  kota  di  Jawa 

Tengah dan Jawa Timur menunjukkan pola pembagian peran di dalam rumah tangga.  

Tabel 

Persen Perempuan yang Mengaku Bertanggung‐jawab terhadap Kerja Domestik  28

Tugas  Jumlah (Persen) 

Memasak  78.4 

Membersihkan rumah  49.9 

28
Family Planning, Family Welfare and women’s Activities in Indonesia”, Population Studies Center,
Gadjah Mada University, Nov, 1997
30
Membersihkan halaman  47.1 

Merawat anak  53.4 

Mencuci pakaian   56.8 

Mereparasi rumah  1.4 

Mengelola keuangan rumah tangga  71.3 

Nampak  bahwa  selain  tugas  perbaikan  rumah,  hampir  semua  tanggung‐jawab  kerja  di  level 

rumah adalah di pundak perempuan, baik dilakukan sendiri ataupun dengan mempekerjakan 

PRT.    Walau  begitu,  untuk  konteks  perempuan  pedesaan  di  Bantul,  walaupun  ada  satu  dua 

keluarga  yang  mempekerjakan  PRT,  secara  umum  hampir  semua  kerja  di  atas  dilakukan 

sendiri oleh perempuan. 

  Dan  panjangnya  deret  pekerjaan  reproduktif  yang  dikerjakan  dan  menjadi  tanggung‐

jawab perempuan ini juga terjadi di banyak tempat dan juga negara. Dan ini berkorelasi dengan 

banyaknya  waktu  yang  dihabiskan  oleh  perempuan  untuk  mengerjakannya.  Selain  itu  secara 

umum, perempuan menjadi pihak yang bertanggung‐jawab terhadap pekerjaan rumah, bahkan 

biarpun mereka bekerja di luar rumah 29 . Dalam kajian feminis, double burden ini menjadi salah 

satu  persoalan  perempuan  yang  utama  dan  membuat  rendahnya  kesejahteraan  hidup 

perempuan.   

  Tetapi, besarnya tenaga, pikiran dan sekaligus waktu yang dicurahkan perempuan bagi 

kerja  reproduktif  seringkali  menjadi  tidak  nampak,  tidak  dihitung  dan  sekaligus  tidak 

dianggap penting. Tentang ini, Pigou mengatakan :   

29
Survey Research Center of the university of Michigan 1975-1976, sebagaimana dikutip oleh O’Neill
(1985), op.cit.
31
...”Sebagai  ibu  rumah  tangga,  mereka  tidak  akan  didaftarkan  sebagai  penghasil  upah  dan 
demikian tidak akan  diperhitungkan dalam statistik  nasional.  Mereka  menjadi  perempuan yang 
tidak nampak. Mereka tidak dianggap sebagai orang yang bekerja atau sebagai penghasil nafkah 
dan  dengan  demikian  dianggap  tak  produktif.  Ini  justru  disebabkan  kerja  rumah  tangga  bukan 
merupakan kerja upahan, dengan demikian tidak diakui sebagai kerja 30 . 
 
Dan  sebagai  implikasinya,  ketiadaan  penghargaan  bagi  kerja  reproduktif  yang 

dilakukan  perempuan,    membuat  mereka  menjadi  kelas  yang  terpinggir  dan  sekaligus  tidak 

berdaya.  Hal  ini  juga  sekaligus  membuat  perempuan  tidak  memiliki  mekanisme  untuk 

memperjuangkan kebutuhan dan kepentingannya. 31   

d.2. Aktivitas Ekonomi  

  Berbeda dengan profil perempuan priyayi pada masa kolonial, perempuan‐perempuan 

di kelas bawah yang hidup di perkotaan, justru menunjukkan kondisi yang lebih berdaya dan 

lebih independen. 32  Ini nampak dari profil perempuan kelas bawah (kawula) yang sejak dahulu 

juga  memainkan  peran  penting  bagi  perekonomian  keluarga,  bahkan  walaupun  dalam  kultur 

Jawa, laki‐laki adalah pencari nafkah utama. Bagaimana dengan kondisi saat ini? Potretnya tak 

jauh  berbeda.  Namun  di  sini,  muncul  pertanyaan  tentang  apakah  korelasi  antara  kontribusi 

dengan  relasi  yang  terbangun  di  tingkat  keluarga.  Sangat  dimungkinkan,    biarpun  mereka 

sangatlah  berkontribusi  untuk  pendapatan  dan  ekonomi  keluarga,  peran  mereka  sering  tidak 

terlihat.  Bentuk  yang  lain  adalah  bahwa  besarnya  kontribusi  ini  tidak  selalu  diiringi  dengan 

besarnya  kuasa  dalam  mekanisme  pengambilan  keputusan  –terutama  keputusan  strategis 

terkait dengan aktivitas bisnis – bahkan di tingkat sekecil rumah tangga sekalipun.  

  Sebagaimana  studi  yang  dilakukan  oleh  Molo  di  salah  satu  desa  di  Jatinom,  Klaten, 33  

penelitian  ini  menunjukkan  bahwa  salah  satu  faktor  yang  terkait  dengan  pengambilan 

30
AC Pigou, dalam Hong, 1984 : 6, sebagaimana ditulis dalam Saptari, Ratna & Holzner, Brigitte (1997),
”Perempuan, Kerja dan Perubahan Sosial : Sebuah Pengantar Studi Perempuan”, Grafiti - Kalyanamitra.
, h. 15
31
Fatimah, Dati (2007), “Kalkulasi Ekonomi Kerja Domestik”, Kompas, 9 April.
32
Lihat Dzuhayatin (2002), op.cit.
33
Molo, Marcelinus (1992), “Women’s Role, Resources dan Decision Making in Rural Java : A Case
study”, a doctoral dissertation, Flinders University of South Australia
32
keputusan  di  level  keluarga  terkait  dengan  kepemilikan  asset,  utamanya  adalah  rumah  dan 

tanah  pertanian.  Walau  begitu,  ada  banyak  hal  yang  mempengaruhi  relasi  dan  pengambilan 

keputusan di tingkat rumah tangga. Penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi yang egaliter 

lebih  nampak  dalam  keputusan  di  level  domestik,  daripada  di  level  pertanian.  Keterlibatan 

perempuan dalam level pertanian nampak ketika terkait dengan pengendalian pendapatan dari 

sektor ini. Relasi ini juga dipengaruhi oleh status, dimana dalam kelas menengah dan bawah, 

perempuan secara umum lebih berdaya daripada perempuan di kelas atas. Pada perempuan di 

level  bawah  dan  menengah,  pendapatan  yang  dihasilkan  perempuan  sangatlah  berkontribusi 

bagi  pendapatan  keluarga,  dan  ini  meningkatkan  power  perempuan.  Secara  umum,  studi  ini 

menunjukkan bahwa kuasa perempuan dalam proses pengambilan keputusan sangatlah terkait 

dengan akses dan  kontrol terhadap  sumber daya,  dan pendapatan  individu  adalah  salah satu 

sumber kuasa tersebut.  

  Jenis  pekerjaan  di  Bantul  yang  didominasi  perempuan  adalah  bidang  penjualan  dan 

produksi. Kedua bidang tersebut merupakan bidang yang bisa dikerjakan secara fleksibel oleh 

perempuan  karena  tidak  terikat  oleh  hubungan  kerja.  Faktor‐faktor  yang  menjadi  penimbang 

dalam pemilihan pekerjaan ternyata sangatlah terkait dengan peran gender yang ada. Pilihan‐

pilihan  pekerjaan  bagi  perempuan,  biasanya  dipengaruhi  oleh  beberapa  hal,  dan  salah  satu 

yang utama adalah persoalan pengasuhan dan perawatan anak. 34  Perawatan anak merupakan 

salah satu faktor yang mempengaruhi sehingga banyak perempuan memilih bekerja di rumah, 

walaupun  waktu  perempuan  untuk  mengurus  anak  sudah  jauh  lebih  berkurang  karena 

menurunnya jumlah rerata anak dalam keluarga sebagai salah satu faktornya.  

d.3. Aktivitas Sosial  

  Pengaruh  norma  dan  ideology  patriarki  mempengaruhi  kondisi  perempuan  dalam 

segala  aktivitas  yang  dijalankannya  baik  dalam  aktivitas  domestic,  ekonomi  maupun  sosial. 

Dalam kegiatan pembangunan yang dicanangkan pemerintah‐secara eksplisit maupun implisit‐ 

34
O’Neill, op.cit.
33
menguatkan asumsi pemisahan peranan (dus, ruang) laki‐laki dan perempuan. 35  Perkumpulan 

formil  yang  sarat  dengan  kepemimpinan  ditetapkan  sebagai  urusan  laki‐laki.  Sedangkan 

urusan  perempuan  dibatasi  pada  kegiatan  yang  menjurus  pada  bidang  “reproduksi,”semisal 

keluarga  berencana,  pendidikan  gizi  dan  kesehatan,  PKK  dan  lain  sebagainya  sebagaimana 

tampak dalam tabel di bawah ini. 

      Women’s Participation in Community Activities, 1997 

Aktivitas komunitas  Total (persen) 

Dasawisma  23.2 

PKK  64.2 

Apsari/PKB  1.8 

UPGK/Posyandu  26.2 

Arisan  78.1 

Religious activities  50.2 

Other  3.3 

Number of cases  931 

Tabel  aktivitas  perempuan  di  atas  secara  umum  masih  sesuai  dengan  aktivitas  perempuan  di 

Bantul, meski memang tidak diperoleh data resmi yang lebih detil untuk menjelaskan aktivitas 

perempuan.  Dalam  buku  Profil  Kesehatan  Bantul  ditunjukkan  bahwa  program  perbaikan  gizi 

merupakan  program  yang  secara  kuat  digerakkan  melalui  sinergi  Dinas  Kesehatan  dengan 

35
Baca Benjamin White dan Endang Lestari Hastuti “Subordinasi Tersembunyi, Pengaruh Pria dan
Wanita dalam kegiatan Rumah tangga dan masayarakat di 2 desa di Jawa Barat”. Laporan Agro
Ekonomi Survay. IPB. November 1980.
34
perempuan  kader  kesehatan,  Yandu  dan  PKK  di  kabupaten  Bantul.  Program  perbaikan  gizi 

tersebut  antara  lain:  1.  Upaya  perbaikan  gizi  keluarga  (UPKG),  2.  Penanggulangan  kurang 

energi  protein,  3.  Penanggulangan  anemia  gizi,  4.  Penanggulangan  kurang  vitamin  A,    5. 

Penaggulangan  GAKY,  6.  Upaya  perbaikan  gizi  intitusi  (UPGI),    7.  Penyuluhan  gizi 

masyarakat,  8. Sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SPKG).   

35
 

BAB III
UJIAN KETANGGUHAN PEREMPUAN DALAM BENCANA
 

I. MEMBACA GENDER DALAM  BENCANA GEMPA DI BANTUL 

..”Waktu  gempa,  saya  sedang  sakit.  Tapi  saya  beruntung  karena  masih  sempat  lari  walau 
terhuyung‐huyung.  Waktu  sampai  pintu,  gerendel  pintu  tak  bisa  dibuka  padahal  rumah  sudah 
hampir  roboh..  Saya  melihat  sekeliling,  dan  akhirnya  saya  melompat  keluar  melalui  jendela. 
Walau saya tidak bisa bangun karena tertimpa reruntuhan bangunan, tetapi saya baru dibawa ke 
rumah sakit pada hari berikutnya, karena tak ada mobil yang tersedia.....” 

Bu Warsinah, Nangsri, Srihardono

   

  Dalam  situasi  kepanikan  ketika  gempa  mengguncang,  tak  sedikit  orang  yang  tidak 

sempat  menyelamatkan  diri  dari  reruntuhan  bangunan.  Bu  Warsinah  beruntung,  karena 

walaupun  ia  sakit  tertimpa  reruntuhan  bangunan,  ia  dengan  sigap  segera  berlari 

menyelamatkan diri keluar dari rumah. Lain misalnya dengan pengalaman Mbak Tari, seorang 

diffabel  yang  tinggal  di  kawasan  Ganjuran  ‐  Bambanglipuro,  yang  bahkan  dibangunkan  oleh 

gempa dan tak sempat menyelamatkan diri. Ia yang biasanya berjalan dengan alat bantu kruk, 

tak  kuasa  lagi  mencari  kruk  dan  menyelamatkan  diri  keluar  dari  bangunan,  dan  akhirnya 

pasrah  dikubur  oleh  reruntuhan  bangunan  rumah.  Tapi  walau  begitu,  ia  masih  jauh  lebih 

beruntung daripada ribuan orang yang lain yang meninggal ketika gempa terjadi.  

   Diantara  ribuan  orang  ini,  banyak  diantaranya  yang  tidak  sempat  mendapatkan 

pertolongan  kesehatan,  dan  akhirnya  meninggal.  Sebagaimana  Bu  warsinah  di  atas,  banyak 

orang  yang  terpaksa  tak  bisa  dibawa  ke  rumah  sakit  karena  ketiadaan  sarana  mobilitas  dan 

akhirnya  meninggal  dunia.  Begitu  juga,  banyak  korban  yang  lain  yang  walaupun  sempat 

dibawa  ke  rumah  sakit,  karena  begitu  kacaunya  suasana  dan  pelayanan  di  rumah  sakit, 

akhirnya tidak mendapat pertolongan medis dan jiwanya juga tidak tertolong.  Hal ini antara 

36
lain  dibenarkan  oleh  Bu  Riwanti    yang  sempat  membawa  tetangganya  ke  rumah  sakit,  yaitu 

seorang perempuan paruh baya yang akhirnya tidak tertolong jiwanya.  

  Sayangnya, sebagaimana juga dalam sistem informasi kebencanaan di Indonesia secara 

umum, dalam kasus gempa kali ini juga tidak terdapat data pilah korban berdasar jenis kelamin 

dan kelompok usia. Ketiadaan ini mengindikasikan masih kuatnya pemahaman yang dipegang 

kalangan  hazard‐centered  yang  memandang  bahwa  bencana  menimpa  siapa  saja  dan  tanpa 

pandang  bulu.  Walau  begitu,  ilustrasi  di  beberapa  sudut  Bantul  memberikan  gambaran  yang 

kuat  tentang  dimensi  gender  dalam  kerentanan  dan  juga  jumlah  korban  gempa.  Di  Kadisoro, 

sebagaimana  juga  di  Nangsri,  mayoritas  korban  adalah  lansia,  anak  dan  sebagian  besar 

diantaranya  adalah  perempuan.  Konstruksi  bangunan  yang  sering  tidak  memprioritaskan 

ruang‐ruang  perempuan  seperti  dapur,  berkorelasi  dengan  banyaknya  perempuan  yang 

menjadi  korban  karena  gempa  bersamaan  waktunya  dengan  aktivitas  reproduktif  memasak 

yang dilakukan perempuan.  

  Tak  hanya  aspek  kerentanan  secara  fisik  yang  menguatkan  dimensi  gender  dalam 

bencana.  Sebagaimana  fokus  kajian  para  feminis  terhadap  kerentanan  sosial  dalam  situasi 

bencana, gambaran yang ada menunjukkan penanda yang jelas akan kuatnya persoalan ini. Isu 

peminggiran  kepentingan  kelompok  marjinal,  dan  ketidakterlibatan  mereka  dalam 

pengambilan  keputusan  kepengelolaan  bencana,  nampak  dari  banyak  kasus.  Kebutuhan 

perempuan  lansia  seperti  jarik‐kain  dengan  fungsi  sejenis  rok  yang  dikenakan  perempuan 

lansia, minyak angin, kutang jawa yang luput dari bantuan dan digantikan dengan BH, adalah 

beberapa  contoh  pengabaian  kebutuhan  perempuan  lansia  dalam  situasi  bencana.  Begitu  juga 

dengan  kebutuhan  pernak‐pernik  dapur  seperti  bawang  merah  dan  bawang  putih,  garam, 

minyak  goreng  dan  peralatan  memasak  yang  terlupakan  dalam  daftar  bantuan  juga 

menguatkan  dampak  gempa  bagi  perempuan 36 .  Ilustrasi  yang  lain  nampak  dari  penuturan 

Mbak Rus, seorang diffabel berikut ini :  

36
Fatimah (2007a), op.cit.
37
.....Sejak  gempa,  saya  mengungsi  ke  rumah  orang  tua  di  kota  Jogjakarta.  Saya  sendiri 
sebetulnya  merupakan  warga kota jogja  meski  warung  saya  ada  di  Bantul.  Maka,  walaupun 
warung  saya  ikut  rusak  karena  terkena  gempa,  saya  tidak  mendapat  bantuan  apapun  dari 
pemerintah.  Mungkin  karena  saya  luput  dari  pendataan  di  Bantul,  dan  begitu  juga  di  kota, 
saya  juga  tidak  pernah  tahu  prosesnya  dan  tidak  mendapat  bantuan.  Dagangan  saya  yang 
tersisapun ikut habis untuk membiayai hidup selama mengungsi di rumah orang tua.... 

  Terlewatnya  kelompok  rentan  dalam  pendataan  dan  distribusi  bantuan  bisa  terjadi 

dimanapun,  dan  begitu  juga  di  Bantul  ketika  gempa  terjadi.  Dalam  situasi  kerentanan  secara 

fisik yang dihadapi perempuan dan juga kelompok rentan yang lain, peminggiran dalam arena 

sosial  dan  juga  politik  sebagaimana  nampak  dalam  penuturan  di  atas,  menjadi  semakin 

menguatkan beban derita yang mereka rasakan. Pada 27 Mei 2006 pagi, gempa yang melanda 

memang  sama‐sama  dirasakan  dan  juga  sama‐sama  sebesar  5.9  SR.  Tetapi,  perbedaan  posisi, 

akses  dan  juga  ruang  membuat  dampaknya  tidak  dirasakan  secara  sama  dan  identik  oleh 

kelompok gender yang berbeda.  

II. SISTEM SOSIAL BANTUL DALAM GUNCANGAN GEMPA 

Bencana, sebagaimana juga tekanan dari pihak eksternal, adalah ujian ketangguhan bagi 

sistem  sosial  di  dalam  masyarakat.  Mengacu  kepada  Murphy,  dari  aspek  proses,  bencana 

menjadi  konteks  yang  melatarbelakangi  dan  mempengaruhi  proses  koordinasi,  promosi  dan 

interpretasi layanan sosial dalam beragam bentuk. Apakah ketika bencana, layanan sosial bisa 

terkoordinasi  dan  dipahami  dengan  baik  oleh  banyak  pihak  atau  tidak,  akan  sangat 

menentukan  ketangguhan  sistem  sosial  yang  ada.  Sementara  itu,  dari  aspek  ruang,  bencana 

menguji  apakah  suprastruktur  yang  dibentuk  bisa  bekerja  dalam  mengkoordinasikan  kerja 

layanan  bagi  publik 37 .  Jawaban  atas  ini  akan  menjadi  penanda  apakah  ujian  berupa  situasi 

abnormal  yang  bernama  bencana  bisa  terlewati  oleh  sistem  sosial  yang  ada.  Dalam  studi  ini, 

37
Murphy, op.cit., p. 29
38
bagian  terpenting  dari  sistem  sosial  yang  hendak  diuji  adalah  yang  terkait  dengan  posisi  dan 

pengaruh dari kelompok perempuan dalam masyarakat di Bantul.   

Lantas, bagaimana dengan wajah sistem sosial di Bantul ketika bencana terjadi dan juga 

pada  masa  sesudahnya?  Salah  satunya  adalah  suprastruktur  bernama  negara,  yang 

sebagaimana  dalam  banyak  kejadian  bencana,  ternyata  juga  mengalami  kemandegan.    Ini 

nampak  dalam  situasi  ketika  muncul  isu  tsunami  dan  juga  gempa  susulan  yang  beredar  di 

masyarakat.  Ketika  isu  tsunami  hanya  berselang  beberapa  saat  setelah  gempa  terjadi, 

kepanikan yang luar biasa melanda masyarakat. Bahkan dalam situasi kepanikan ini, nalar dan 

rasionalitas  juga  tak  bisa  bekerja  karena  perangkat  dan  jalur  komunikasi  dan  informasi  juga 

terputus dan begitu juga komunikasi antara perangkat negara dengan rakyatnya. Tari, seorang 

diffabel menuturkan pengalamnnya :  

..........Saya terbangun ketika rumah roboh diguncang gempa dan badan saya terbenam di antara 
puing‐puing  rumah.  Tak  sempat  melarikan  diri,  karena  kruk  tak  terjangkau.  Setelah  gempa 
selesai, kakak saya datang dan menolong saya dengan menarik saya dari reruntuhan bangunan. 
Tetapi, tak lama kemudian, isu tsunami membuat semua orang lari terbirit‐birit. Kali ini, tak ada 
yang mempedulikan saya karena semua orang berpikir untuk menyelamatkan dirinya sendiri 38

.(Tari, seorang diffabel korban gempa) 

Kepanikan ini luar biasa besarnya, karena sekitar jam 8 pagi Sabtu itu, hampir semua ruas jalan 

dipenuhi  ratusan ribu orang  yang  hendak  menyelamatkan  diri  dari  terjangan  tsunami. Begitu 

tidak  adanya  informasi  resmi  yang  beredar,  dan  begitu  besarnya  kepanikan  ini,  rasionalitas 

tentang besarnya cakupan tsunami pun tidak lagi menjadi dasar pijakan tindakan kebanyakan 

warga.  Isu  bahwa  air  laut  sudah  sampai  di  Jogjakarta  sebetulnya  sangat  tidak  masuk  akal, 

mengingat ketinggian kota Jogja dan jaraknya dari laut yang lumayan jauh, yaitu sekitar 40 km. 

Begitu  juga  bila  melihat  hampir  semua  orang  berlari  menuju  ke  utara  atau  ke  pegunungan, 

sebetulnya juga tidak nalar mengingat saat itu, Merapi juga dalam status awas dan setiap saat 

bisa  meletus.  Walau  tak  ada  laporan  resmi,  kepanikan  ini  juga  berbuah  pada  meninggalnya 

39
beberapa  orang  ketika  dalam  kepanikan  isu  tsunami  ini,  menjadi  korban  dari  serangkaian 

kecelakaan  lalu  lintas.  Dan  begitulan,  dalam  ketiadaan  informasi  dan  macetnya  perangkat 

negara yang ada, rasionalitas tertinggal jauh dibelakang.  

Di  Wukirsari,  Siti  –bukan  nama  sebenarnya‐  juga  mengatakan  bahwa  kepanikan 

terhadap berita akan munculnya gempa susulan yang lebih besar dan tidak bisa terkonfirmasi 

ke  aparat  yang  berwenang,  menjadikan  hampir  semua  orang  didusunnya  memilih 

meninggalkan  kampung  dan  bermalam  di  pegunungan  di  timur  kampungnya.  Akibatnya, 

kampungnya  kosong  melompong,  dan  sekaligus  juga  muncul  kerawanan  baru  dari  segi 

keamanan aset yang ditinggalkan.  

Respon  pemerintah  dalam  mengatasi  situasi  darurat  juga  disayangkan  banyak 

responden penelitian ini. Menurut Bu Ponirah di Gedongan, Kasihan, pemerintah relatif kurang 

perhatian terhadap kondisi masyarakat setelah gempa mengguncang. Ia mengatakan :  

....”Bukannya  menuduh  siapa‐siapa,  tetapi  dari  pemerintah,  bahkan  yang  paling  bawah 
sekalipun, harusnya kan perhatian terhadap warganya... Tapi di sini tidak begitu..” 

Di Kadisoro, Bu Wiranti membandingkan cepat dan banyaknya dukungan berupa logistik dari 

saudara,  teman,  kenalan  di  gereja  dan  masjid,  hingga  teman  anaknya  di  kampus.  Dukungan 

yang sudah datang hanya pada hitungan jam setelah gempa ini menjadi skema pengaman bagi 

kehidupan  masyarakat  pasca  bencana.  Namun  menurutnya,  hingga  1  minggu  pasca  bencana, 

bantuan logistik dari pemerintah belum masuk dikampungnya.  

Kondisi  yang  senada  juga  dilontarkan  oleh  Pak  Jawadi,  yang  menjadi  kepala  dukuh 

Nangsri,  Srihardono,  Pundong,  Bantul.  Ia  mengatakan  bahwa  banyak  pelayanan  pemerintah 

yang  mandeg  dalam  waktu  yang  cukup  lama.  Ia  mencontohkan,  pelayanan  kesehatan  bagi 

masyarakat di Puskesmas yang terhenti ketika bencana terjadi.  Penuturan ini juga dibenarkan 

oleh Agung Laksmono, anggota DPRD Bantul yang juga mantan sekretaris Pansus Monitoring 

Bencana, yang mengatakan bahwa dalam situasi kemandegan struktur negara ketika bencana, 

masyarakat sendirilah yang justru berperan dalam mengatasi masa kritis. Ia mengatakan :  

40
...”Saya  kira,  rakyat  Bantul  yang  nota  bene  orang  Jawa  dan  memiliki  kebiasaan  kerjasama  dan 
gotong‐royong  memiliki  peran  yang  cukup  besar  dalam  situasi  bencana.  Ini  terjadi  pada  saat 
pemerintah daerah tidak dapat berfungsi dan berperan secara maksimal ketika itu..”.  

Bahkan, Pemerintah propinsi DIY pun mengakui bahwa walaupun saat itu pemerintah daerah 

menyiapkan diri terhadap kemungkinan erupsi Merapi, tetapi aparatus dan pranata yang ada 

tidak  mengantisipasi  kejadian  yang  jauh  lebih  besar  sebagaimana  dalam  kondisi  gempa.    Hal 

ini,  ditambah  dengan  minimnya  kesadaran  dan kesiapsiagaan  masyarakat  untuk  menghadapi 

bencana  gempa,  sehingga  menjadikan  dampak  gempa  bagi  kehidupan  masyarakat  sangatlah 

besar 39 .  

Begitulah,  dalam  situasi  ketika  kemandegan  negara  dan  perangkatnya  terjadi  dalam 

situasi bencana, inisiatif dan proses komunitaslah yang justru menjadi penyelamat kehidupan. 

Hanya  dalam  hitungan  hari,  ditengah  perasaan  yang  hancur  karena  tertimpa  bencana,  geliat 

kebangkitan  kehidupan  warga  nampak  dalam  beragam  bentuk.  Menepis  keraguan  tentang 

terulangnya kemandegan semangat dan kehidupan masyarakat seperti dalam banyak bencana 

yang lain, masyarakat Bantul segera melakukan langkah‐langkah penting dalam penyelamatan 

kehidupan  dan  memastikan  roda  kehidupan  tak  berhenti  ketika  gempa  mengguncang  dan 

meluluhlantakkan banyak sendi kehidupan. Proses evakuasi korban dilakukan oleh masyarakat 

pada hari yang sama ketika gempa terjadi. Dan kehidupan yang diliputi rasa kebersamaan dan 

perasaan  senasib  menjadi  suasana  yang  nampak  di  wilayah  yang  terkena  bencana.Bu  Wiranti 

dan  Bu  Sartini  dari  Kadisoro  menuturkan  semangat  inilah  yang  dirasakan  pada  periode  awal 

pasca bencana :  

....”Sesaat  setelah  terjadi  gempa,  suasananya  sangat  guyub.  Mungkin  merasa  senasib 
sepenanggungan, karena sama‐sama terkena bencana dan sama‐sama tidak punya. Jadi kalau ada 
yang punya, ya dibagi untuk semua...” 

39
Lihat makalah Pemerintah Propinsi DIY berjudul, “Bijak dari Belajar : Mewujudkan Tata
Pemerintahan DIY yang Tangguh Membangun dan Siaga terhadap Bencana”. Makalah disampaikan
pada seminar Menjajagi Prospek Yogyakarta sebagai Pusat Keunggulan Penanggulangan Bencana,
Yogyakarta, 26 Mei 2007
41
Tentang ini, AB Widyanta yang mantan koordinator OC Suara –jaringan NGO untuk bencana 

di  Jogja  dan  Jateng    mengatakan  bahwa  dalam  suasana    bencana  yang  mencekam,  mental 

perkawanan dan sisi manusia menjadi sikap yang muncul dan mengatasi batas dan sekat yang 

ada. Suasana yang mencekam inilah yang menjadi stimulus pencairan konflik dan mencairnya 

batas‐batas yang ada.  

III. PEREMPUAN TANGGAP DI TAHAP DARURAT 

Adalah  menarik  untuk  melihat  bahwa  ketika  gempa  terjadi,  peran‐peran  reproduktif 

yang  terkonstruk  sebagai  tanggung‐jawab  perempuan  justru  menjadi  penyelamat  kehidupan 

setelah  bencana.  Penting  untuk  melihat  bahwa  hanya  dalam  hitungan  beberapa  jam  setelah 

gempa  menghantam,  perempuan‐perempuan  di  berbagai  wilayah  yang  terkena  gempa  justru 

menunjukkan  ketangguhan  dan  kegesitan  untuk  menjaga  hidup  bisa  tetap  berjalan. 

Penyelamatan  dan  pengobatan  darurat  bagi  korban  yang  terluka,  dengan  keterbatasan sarana 

dan  juga  pengobatan,  adalah  hal  penting  yang  banyak  dilakukan  oleh  perempuan.  Sesaat 

setelah  gempa,  perempuan  bersama‐sama  dengan  laki‐laki  juga  segera  melakukan  tindakan 

evakuasi  korban,  dengan  merawat,  memandikan  dan  menguburkan  jenazah  pada  hari  yang 

sama. Ini adalah bagian dari tugas‐tugas yang penting dan tak bisa dianggap sepele. 

III.1. Dapur Umum dalam Beragam Pola   

Peran  yang  juga  penting  adalah  menjaga  suplai  makan  dan  minum,  tak  hanya  bagi 

keluarganya  sendiri,  tetapi  bagi  komunitas  yang  sama‐sama  terkena  bencana.  Hidup  di 

pengungsian  seadanya,  beberapa  berlindung  di  kandang  sapi  yang  tak  roboh  terkena  gempa 

ataupun  dibangunan  darurat  dengan  atap  seadanya,  justru  memicu  energi  kolektif  kaum 

perempuan.  Dapur umum, yang segera berdiri  dengan cepat  adalah  bukti dari  kegigihan  dan 

42
ketangguhan  perempuan  tersebut 40 .    Dapur  umum  ini  sekaligus  juga  menjadi  bukti  nyata 

kerelawanan  perempuan  dalam  kerja  reproduktif,  dengan  menjadikan  kegiatan  penyediaan 

makanan (sesuatu yang tadinya bersifat privat dan individual) menjadi aktivitas dan sekaligus 

barang komunal dan kolektif. Yang utama dari pergeseran ini adalah semangat untuk berbagi 

dalam keterbatasan, karena semua sedang sama‐sama dirundung duka dan kehilangan. 

Bagaimana  proses  berdirinya  dapur  umum  di  masyarakat  Bantul  pasca  gempa?  Bu 

Warsinah  dan  Pak  Asy’ari  dari  dusun  Nangsri,  Srihardono,  Pundong  menuturkan,  bahwa 

hanya  dalam  hitungan  jam  setelah  terjadi  gempa,  tanpa  dikomando,  orang  datang  berduyun‐

duyun  ke  halaman  rumah  mereka  yang  memang  merupakan  pekarangan  yang  cukup  luas. 

Selain  proses  evakuasi  korban  karena  ada  10  orang  yang  meninggal  di  kampungnya,  proses 

mengumpulkan  bahan  makanan  juga  menjadi  aktivitas  utama.    Warga  cukup  beruntung  saat 

itu, karena kebetulan, ada warga yang hampir punya hajat nyewu  (peringatan 1000 hari setelah 

meninggalnya  seorang  kerabat),  dan  juga  karena  mau  ada  acara  pelepasan  mahasiswa  KKN 

dari  sebuah  universitas  di  kampung  tersebut.  Selain  dari  dua  sumber  utama  ini,  beberapa 

warga  yang  lain  juga  memberanikan  diri  menerobos  rumahnya  yang  rusak  untuk  mengambil 

bahan makanan yang masih ada seperti beras walaupun jumlahnya tidak banyak. Dari sumber‐

sumber  inilah  terkumpul  beras,  bumbu,  minyak  goreng,  dan  juga  lauk  yang  cukup  memadai 

untuk hari‐hari awal pasca gempa.  

Bagaimana  di  tempat  lain?  Di  Kadisoro,  pengalaman  perempuan  di  dua  dapur  umum 

yang berbeda menunjukkan benang merah yang sama, yaitu munculnya solidaritas masyarakat 

dan  tanggapnya  perempuan.  Dapur  umum  sebagai  mekanisme  penyediaan  makanan  bagi 

semua  warga  ketika  bencana  memang  menjadi  penyangga  kehidupan  di  saat  krisis.  Dalam 

durasi  yang  cukup  lama,  yaitu  sekitar  3  minggu  sebelum  akhirnya  semua  keluarga  kembali 

berkumpul di tenda keluarga yang didistribusikan, dapur umum inilah yang berperan penting. 

Bagaimana perempuan mengorganisir dapur umum ini? Bu Wiranti dan Bu Sartini menuturkan 

pengalaman dapur umum di RT mereka :  

40
Agustin, R (2007), op.cit.
43
....Setiap pagi kami memasak bersama. Juga ada yang kebagian belanja di pasar, misal untuk tahu 
dan tempe. Kalau sudah masak dikentongin, dan semua warga berkumpul untuk makan bersama. 
Memang  ada  ibu‐ibu  yang  tidak  ikut  memasak,  ada  yang  karena  tidak  biasa  bergaul,  ada  juga 
yang  karena  repot  punya  anak  kecil.  Akhirnya  yang  memasak  ya  tidak  semua,  tapi  kami 
ikhlas.....”  

Di  Wukirsari,  Siti  yang  di  desanya  pernah  menjadi  satu‐satunya  koordinator  posko 

dusun  yang  perempuan  menuturkan  bahwa  macetnya  perangkat  negara  dalam  situasi  pasca 

bencana  membuatnya  berpikir  dan  mengambil  tindakan  untuk  mengorganisir  posko  darurat. 

Menurutnya, reputasi kepala dukuh dikampungnya yang terkenal korup juga kembali terulang 

setelah gempa dengan banyaknya bantuan yang tidak jelas status dan keberadaannya.  

....”Semua  barang  bantuan  tidak  jelas  keberadaannya,  mulai  dari  tikar  hingga  barang  berharga 
seperti diesel. Juga kalau ada bantuan lewat jalur pemerintah, hanya dipergunakan untuk dirinya 
dan tetangga dekatnya, dan tidak berpikir untuk kepentingan warganya......”  

Di  dusunnya,  kepanikan  terhadap  datangnya  gempa  susulan  membuat  hampir  semua 

orang  mengungsi  ke  gunung.  Namun  Siti  dan  keluarganya  tetap  bertahan  karena  masih  ada 

kakek  yang  sudah  tua  dan  tidak  bisa  diajak  bepergian.  Dalam  situasi  kevakuman 

kepemimpinan  tersebut,  ia    tampil  ke  muka  dengan  mulai  mengorganisir  pemuda  untuk 

menjaga  keamanan  kampung  di  malam  hari.  Selain  itu,  berbekal  akses  informasi  dari 

pergaulannya  di  organisasi  kepemudaan,  ia  juga  berinisiatif  melakukan  pendataan  kerusakan 

kampung pada dua hari setelah gempa. Ia mengatakan, karena ia merupakan warga kampung 

maka  ia  mengenal  betul  seluk  beluk  kampung  dan  penduduknya  dan  ini  memungkinkannya 

untuk melakukan pendataan  dan  juga  mengakses bantuan  dalam  waktu  yang  cepat. Berbekal 

data  dan  keluwesannya  untuk  berkontak  dengan  banyak  jejaring  inilah  yang  membuatnya 

menjadi  diterima  sebagai  pemimpin  nyata  di  masyarakat  dalam  situasi  darurat  bencana,  dan 

sekaligus membuka akses untuk  meminta  bantuan logistik  dari  banyak  lembaga  yang  bekerja 

pada masa darurat.  

44
Lantas, bagaimana pengelolaan bantuan dan bahan makanan dalam mekanisme posko? 

Bu  Wiranti  dan  Bu  Sartini  di  RT  03  Kadisoro  menuturkan  bahwa  aktivitas  memasak  dan 

distribusi sembako dilakukan secara terpusat di posko.  

...Bantuan sembako yang masuk kami kumpulkan dalam satu tempat, dan kemudian oleh panitia 
logistik  RT,  dikelola  dan  didistribusikan  bila  jumlahnya  sudah  cukup  banyak  dan  cukup  untuk 
dibagi rata. Karena bantuan yang masuk RT kami relatif banyak, kami juga membagi bantuan ini 
ke RT atau dusun lain, misalnya susu dan sayur‐mayur....  

Ketika akhirnya tenda posko dibongkar dan semua keluarga kembali ke tenda keluarga 

yang  sudah  dibagikan,  bekal  logisstik  dari  hasil  pengelolaan  bantuan  inilah  yang  menjadi 

sumber  penghidupan  pada  bulan  awal  ketika  dapur  umum  ditutup  dan  sumber  pendapatan 

juga  belum  pulih.  Dari  hasil  distribusi  inilah,  setiap  keluarga  mendapatkan  bahan  makanan 

yang memadai untuk hidup selama 1.5 bulan.  

Selain  aktivitas  memasak  dan  distribusi  bantuan,  menurut  penuturan  mereka  pula, 

posko  juga  sekaligus  menjadi  tempat  untuk  penyelenggaraan  rapat  setiap  seminggu  sekali. 

Rapat  yang  diselenggarakan  atas  inisiatif  warga  dan  dilakukan  di  tenda  posko  yang  cukup 

besar  ini  memungkinkan  semua  warga,  laki‐laki  maupun  perempuan,  dewasa  maupun  anak‐

anak terlibat dalam rapat. Keterlibatan ini juga nampak dari isu‐isu yang dibahas dalam rapat 

ini, misalnya masalah kesulitan belajar bagi anak‐anak ketika di tenda.   

Tapi,  pola  pengelolaan  yang  berbeda  nampak  dari  penuturan  warga  di  Gedongan, 

Kasihan.  Di  tempat  ini,  dapur  umum  sebagai  kepanjangan  dapur  domestik  memang  nampak 

nyata karena hanya berisi aktivitas memasak saja. Pengelolaan yang lebih baik, termasuk dalam 

distribusi bantuan juga tidak ditemukan dalam kasus ini.  

45
 

III.2. Perawatan : dari Merawat Korban hingga Trauma Healing 

Peran  reproduktif  lain  yang  juga  penting  adalah  terkait  dengan  perawatan  kesehatan 

dan  juga  trauma  healing  pasca  gempa.  Yang  terakhir  ini  misalnya,  sedemikian  pentingnya, 

karena selain mengakibatkan kerusakan fisik, persoalan guncangan kejiwaan dan spiritual juga 

banyak  ditemukan.  Bu  Riwanti  menuturkan  bahwa  ketika  bencana  terjadi,  terdapat  ada 

pembagian peran diantara laki‐laki dan perempuan. Ia mengatakan bahwa laki‐laki melakukan 

pencarian korban, sementara perempuan termasuk dirinya merawat korban yang sakit ataupun 

meninggal.  Tindakan  untuk  menyelamatkan  kehidupan  komunitas,  dituturkannya  sebagai 

berikut :  

.......Sesaat  setelah  guncangan  gempa  berhenti,  saya  segera  berlari  menolong  tetangga  yang 
terjebak di dalam runtuhan rumah. Kami segera membawa tetangganya ke rumah sakit terdekat 
walau  karena  buruknya  pelayanan  kesehatan,  nyawanya  tidak  tertolong.  Dan  karena  saat  itu, 
semua lembaga pemerintah tak berfungsi  dan juga ditengah kepanikan masyarakat, kami segera 
bertindak dengan cepat untuk mengorganisir masyarakat.   

Begitu  juga  menurut  penuturan  Pak  Jawadi,  yang  mengatakan  bahwa  dikampungnya,  para 

perempuan  sibuk  di  keluarga  dan  RT  masing‐masing,  antara  lain  karena  mengurusi  anggota 

keluarga yang sakit dan cedera. 

Kebutuhan akan perawatan ini juga menjadi sebegitu penting dalam kasus masyarakat 

yang  karena  bencana  dan  akhirnya  menjadi  diffabel  –istilah  yang  sering  digunakan  untuk 

menggantikan penyandang cacat. Bagi diffabel baru karena gempa, bukanlah hal yang mudah 

untuk  menerima  ’kenyataan’  perubahan  fisik  dengan  menjadi  diffabel.  Begitu  pula  bagi 

mereka,  proses  penyesuaian  kehidupan  bukan  hal  yang  terjadi  semudah  membalik  telapak 

tangan.  Dalam  hal  ini,  upaya  berbagi  perhatian  dan  perkawanan  adalah  hal  penting  dalam 

mendorong  pulihnya  kembali  kehidupan  yang  bermartabat  bagi  penyintas.  Salah  seorang 

perempuan diffabel, Mbak Tari mengaku bahwa peran ini memang sederhana dan tidak terlalu 

46
sulit untuk dilakukan, asalkan ada niat dan hati untuk berbagi. Ia yang terkena polio dan harus 

menggunakan alat bantu di kakinya mengatakan :  

......”Saya  senang  bisa  bergabung  dengan  sesama  teman  diffabel,  dan  bisa  membantu  sesama. 
Saya  nggak ngerti  teori untuk mengatasi  trauma  pasca  bencana.  Tetapi,  saya  merasa perhatian 
itu  penting  dan  yang  ini  bukan  urusan  sekolah  apa  bukan.  Saya  bisa  berbagi,  dan  itu 
membahagiakan saya, dan mungkin juga orang lain..”  

Walaupun  mengaku  bahwa  bencana  mengakibatkan  banyak  kehilangan  dan  juga 

kerusakan, ia mencoba melihat sisi lain dari bencana yang membuat hidup harus terus berjalan. 

Salah  satunya,  menurutnya  adalah  bahwa  bencana  adalah  kesempatan  untuk  berbagi  ke 

sesama. Ia mengatakan, dari pengalamannya sendiri, betapa dukungan dari sesama adalah hal 

penting dalam membuat kehidupan diffabel harus terus berjalan. Karena itu, ia memilih untuk 

berbagi perhatian dan empati untuk sesama yang menjadi diffabel karena gempa. Hal penting 

pertama  dalam  proses  trauma  healing  ini  adalah  mendorong  semangat  bagi  diffabel,  bahwa 

hidup tak berhenti hanya karena menjadi diffabel. Ini bukan proses yang mudah, tetapi karena 

yang  memberi  semangat  juga  diffabel,  tingkat  penerimaan  biasanya  lebih  tinggi.  Pernyataan 

seperti  ,”Saya  juga  cacat,  tetapi  saya  menjalani  hidup  dengan  yakin  dan  bersyukur”,  adalah 

contoh  upaya  membangun  sikap  yang  lebih  arif  dan  mendorong  semangat  bagi  diffabel.  Fase 

selanjutnya  adalah  konseling  seputar  hal‐hal  praktis  dalam  mengelola  dan  menjalani 

kehidupan.  Beberapa  lontaran  berikut  ini  menunjukkan  pertanyaan  dan  keluhan  yang  sering 

diutarakan  oleh  diffabel  :  .....”Bagaimana  tho  mbak  caranya  pakai  tongkat  tetapi  bisa 

mengangkat  barang?”  Atau  dalam  kasus  paraplegia  –penderita  patah  tulang  belakang  dan 

lumpuh, beberapa hal ini sering diutarakan, ”Bagaimana sih caranya pakai pampers?”, atau ada 

juga  yang  bertanya,  ”Kalau  kayak  begini,  sama  suami/istri  bagaimana  ya?”  Dan  menariknya, 

menurut  penuturan  Mbak  Tari,  beberapa  pertanyaan  ini,  lebih  mudah  dan  lebih  sering 

ditanyakan kepadanya dan teman‐teman sesama relawan diffabel, dibandingkan kepada tenaga 

medis yang merawatnya.  

47
IV. FASE REHABILITASI – REKONSTRUKSI : KEMBALI KE ASAL??

IV. 1. Kerja Produktif : Yang Kecil Namun Subtil  

Dampak langsung dari bencana juga menunjukkan kecenderungan terkait dengan peran 

gender dalam kerja produktif. Di Nicaragua, data di Social Audit yang dilakukan pada Februari 

1999  menunjukkan  bahwa  sebagai  dampak  dari  badai  Mitch,  sebanyak  24%  rumah  tangga 

kehilangan  sumber  pendapatannya,  dimana  mayoritas  diantara  mereka  adalah  rumah  tangga 

dengan  kepala  rumah  tangga  perempuan.  Datanya  juga  menunjuk  32%  keluarga  petani  yang 

kepala  rumah  tangganya  perempuan  tidak  bisa  bertanam  pada  tahun  berikutnya,  sementara 

rumah  tangga  dengan  kepala  rumah  tangga  laki‐laki  hanya  23%.  Riset  yang  dilakukannya 

tahun  2000  juga  menunjukkan  perubahan  dalam  aktivitas  produktif  perempuan  sebelum  dan 

setelah bencana. Datanya menunjukkan bahwa 33%  perempuan  kepala keluarga tetap bekerja 

dalam  pertanian  setelah  Mitch,  sementara  hanya  20%  perempuan  dalam  keluarga  dengan 

kepala rumah tangga laki‐laki yang meneruskan menjadi petani. Dengan kata lain, badai Mitch 

mengurangi ringkat partisipasi perempuan dalam  kerja di area pedesaan 41 .   

Begitu juga dengan gempa, yang membuat banyak kerusakan dan kerugian. Bagi petani, 

sawah  tidak  bisa  digarap  karena  saluran  irigasinya  rusak  terkena  gempa.  Akibatnya,  petani 

menganggur.  Begitu  juga  dengan  pengrajin  aci  seperti  Bu  warsinah  dan  banyak  perempuan 

dusun Nangsri, Srihardono, Pundong,  peralatan gerabah yang dipergunakan untuk membuat 

tepung aci hancur karena terkena reruntuhan rumah. Akibatnya, selama setengah tahun setelah 

gempa,  praktis  mereka  tidak  bekerja  dan  tidak  memperoleh  pendapatan.  Lantas,  bagaimana 

mereka  menyambung  hidup?  Selain  dari  bantuan  yang  saat  itu  masih  banyak  mereka  terima, 

mereka juga menjual asset yang dimiliki. Menurut Bu War :   

...”Selama  setengah  tahun  pasca  gempa,  kami  menjual  6  ekor  kambing,  satu  demi  satu,  kalau 
sedang  membutuhkan  uang.  Kambing  ini  memang  sengaja  kami  sisihkan  dari  penghasilan 

48
menjadi pengrajin aci, dan kami gunakan sebagai tabungan dan cadangan untuk keperluan yang 
tidak  rutin.  Dari  inilah  kami  bisa  hidup  walaupun  praktis  kami  tidak  bekerja  selama  setengah 
tahun tersebut..” 

Selama  waktu  tersebut,  waktu  dan  tenaga  yang  mereka  miliki  tercurah  untuk  membersihkan 

rumah  dari  puing‐puing,  menyelamatkan  bagian  dan  material  bangunan  rumah  yang  bisa 

dipergunakan kembali, dan membangun rumah sementara selain tetap terlibat dalam aktivitas 

kemasyarakatan.  

Lantas, apa saja bentuk‐bentuk kerelawanan dalam kerja di sektor produktif? Salah satu 

bentuk  kerelawanan  dalam  kerja  produktif  adalah  memulihkan  kembali  usaha  sambil 

menghidupkan  organisasi  pengrajin,  seperti  yang  dilakukan  pengrajin  tepung  aci  di 

Srihardono. Gempa memang sempat membuat usaha mereka terhenti, karena sarana produksi 

banyak  yang  hancur  bersama  dengan  keruntuhan  rumah  mereka.  Sambil  menghidupkan 

kembali  usaha,  mereka  merumuskan  masalah  dan  solusinya,  serta  berbagi  sumber  daya  dan 

informasi melalui organisasi, sebagaimana yang dilakukan perempuan pengrajin tepung aci ini. 

Buat  perempuan  yang  sebelumnya  hanya  terlibat  dalam  urusan  kerja  domestik  dan  kegiatan 

seputar  pembuatan  tepung  aci  dan  produk  turunannya,  kegiatan  berorganisasi  sebelum 

bencana belum banyak dilakukan.  

Menurut  cerita  Bu  Warsinah,  sebelum  bencana,  organisasi  pengrajin  dikampungnya 

justru beranggotakan laki‐laki yang istrinya menjadi pengrajin aci. Hal ini juga dibenarkan oleh 

Pak Asy’ari yang merupakan suami Bu warsinah, yang mengatakan inilah salah satu penyebab 

mandegnya kelompok pengrajin aci. Kebetulan pada waktu itu, beberapa saat sebelum gempa 

terjadi,  ada  mahasiswa  KKN  sebuah  universitas  dikampungnya  yang  memfasilitasi  transfer 

organisasi  pegrajin  ke  ibu‐ibu  yang  sebetulnya  memang  menjadi  pengrajin.  Bagaimana 

perasaan ibu‐ibu waktu itu? Bu Warsinah mengatakan :  

...’Wah  ya  pada  awalnya  banyak  yang  takut,  ya  pesimis  lah.  Wong  kami  nggak  pernah  punya 
pengalaman  berorganisasi,  ya  masak  bisa  tho,  ngopeni  kelompok?  Tapi  ya  walaupun  ada  rasa 
sedikit takut dan bingung karena tak punya bayangan, ya tetap kami terima....”  

49
Sayangnya,  belum  sempat  berjalan,  gempa  kemudian  terjadi,  dan  denyut  organisasi 

beranggotakan  kaum  perempuan  ini  kembali  mati  suri  dan  digantikan  kesibukan  menata 

kehidupan pasca bencana.  

Tetapi, dibalik bencana, tak selamanya kerugian dan kemunduran yang terjadi, karena 

bisa jadi terdapat hikmah di sebaliknya. Begitu juga dengan kelompok perempuan pengrajin aci 

yang  kemudian  berhubungan  dengan  IHAP  –sebuah  NGO  perempuan‐  dalam  program 

pemulihan ekonomi. Dalam hal ini, Bu War kembali menuturkan bahwa walaupun ia menjadi 

menjadi ketua kelompok, tetapi keputusan penting selalu diambil secara musyawarah. Sebagai 

pengurus  bersama  dengan  anggota  pengurus  yang  lain,  menurutnya  ia  hanya  menjalankan 

keputusan anggota, apalagi karena dalam kelompok juga ada aturan mainnya.  

Yang  juga  penting  adalah  kegiatan  pengadaan  kembali  faktor  produksi  dengan 

dukungan  program  ekonomi,  yang  bersama  dengan  dorongan  ke  arah  mekanisme  kolektif 

dengan  menghidupkan  kembali  kelompok  pengrajin  menguatkan  proses  dan  kerja  produktif 

yang dilakukan oleh masyarakat. Bu Warsinah  mengatakan :  

...”Program dari LSM memungkinkan kami membeli kembali peralatan untuk membuat aci yang 
rusak kena gempa. Selain itu, dengan proses kelompok yang sebelumnya macet dan didorong oleh 
mereka, usaha kami menjadi lebih cepat bangkit. Memang kalau keahlian seperti membuat tepung 
aci  sudah  kami  miliki,  tetapi  ketrampilan  seperti  manajemen  dan  administrasi,  dan  bagaimana 
menyiasati  bahan  baku  dan  pemasaran  yang  mereka  ajarkan,  membawa  banyak  manfaat  untuk 
kami..” 

Perjalanan setahun mengelola kelompok pengrajin  menunjukkan  hasil  yang  berbeda 

antar  dusun.  Dalam  pemetaan  masalah,    teridentifikasi  isu  ketergantungan  modal  dan  bahan 

baku kepada tengkulak yang menjadikan pengrajin tak ubahnya buruh dengan catatan hutang 

yang tidak sedikit. Masalah ini adalah salah satu masalah kunci yang diidentifikasi kelompok 

pengrajin di dusun Nangsri. Ketika  kemudian muncul  bantuan  stimulan permodalan,  mereka 

mengalokasikan  lebih  dari  separuhnya  untuk  memutus  rantai  ketergantungan  tersebut. 

Caranya? 

50
...”Ketika  stimulan  dana  turun,  kami  menyisihkan  separuh  lebih  diantaranya  untuk  membeli 
bahan baku dalam jumlah banyak. Ini membuat kami tidak tergantung lagi kepada suplai bahan 
baku  dari  tengkulak.  Begitu  juga  ketika  menjual  produknya,  kami  jadi  lebih  bisa  menentukan 
harga dan ini jauh lebih menguntungkan....” 

Bagaimana  awal  mula  persoalan  ketergantungan  bahan  baku  untuk  usaha  ini  terjadi? 

Sudah sejak tahun 80‐an, mereka tergantung  kepada  supply  bahan baku  dari  juragan  ketela  –

begitu  mereka  menyebut‐  yang  juga  warga  dusun  sebelah  mereka.  Dahulunya,  mereka 

mengambil  bahan  baku  berupa  ketela  pohon  mentah  dari  pasar  Telo,  di  daerah  Karangkajen  

yang  berjarak  sekitar  25  km  dengan  naik  sepeda.  Tetapi  sekarang,  mereka  mengandalkan 

supply  dari  juragan  karena  lebih  dekat  dan  lebih  murah.  Dari  pasar  Telo,  bilamana  barang 

dagangan  tidak  laku,  barulah  dilempar  ke  pengrajin  dan  itupun  hanya  ketela  sisa  yang  tidak 

laku dijual untuk keperluan gorengan dan bahan baku makanan.  

  Apa  perbedaan  akses  bahan  baku  sebelum  dan  sesudah  ada  kelompok?  Mereka 

mengatakan bahwa dengan kelompok, harga bahan baku menjadi lebih murah karena volume 

pembelian  yang  lebih  banyak  dan  dibayar  secara  cash.  Keuntungan  selisih  harga  inilah  yang 

kemudian  dimasukkan  sebagai  kas  kelompok.  Selain  itu,  ketika  masuk  program  pemulihan 

ekonomi  yang  dibawa  oleh  LSM,  kelompok  ini  menyepakati  untuk  mengalokasikan  70%  dari 

modal kelompok untuk pengadaan bahan baku, sementara sisanya sebanyak 30% yang diputar 

untuk  simpan  pinjam.  Pilihan  ini  didasarkan  pengalaman  di  masa  yang  lalu,  bahwa  simpan 

pinjam berisiko tinggi macet sehingga hanya sedikit yang diputar. Juga karena kebutuhan akan 

bahan  baku  menjadi  kebutuhan  bersama  yang  dianggap  penting.  Walaupun  begitu,  mereka 

tidak  serta  merta  memutus  hubungan  dengan  jurangan  ketela  di  dusun  mereka,  melainkan 

membeli  langsung  dari  supplier  sebagian  dan  sebagian  yang  lain  tetap  membeli  ke  juragan, 

walaupun membeli langsung dari supplier sebetulnya lebih murah. Ketika hal ini ditanyakan, 

mereka  mengatakan  bahwa  ini  justru  untuk  meminimalkan  risiko,  bila  suatu  waktu  tak  lagi 

bisa  membeli  dalam  jumlah  banyak  ke  supplier,  maka  juragan  masih  bisa  menjadi  pemasok 

bahan baku. Bila langsung diputus, mereka khawatir juragan akan marah, tidak mau memberi 

ketela atau memberi dengan harga yang tinggi, dan akibatnya akan merugikan usaha mereka.  

51
Salah satu kendala yang dihadapi dalam pengelolaan usaha berbasis kelompok adalah 

tidak  semua  pengrajin  menyambut  baik  berdirinya  kelompok.  Dari  27  pengrajin  yang 

diundang,  4  orang  diantaranya  tidak  memenuhi  undangan  dan  kemudian  tidak  menjadi 

anggota  kelompok,  dan  ini  sudah  diperkirakan  sebelumnya.  Hal  ini  karena  dalam  kegiatan 

kemasyarakatan yang lain, mereka juga relatif enggan untuk menyisihkan waktu dan perhatian 

untuk aktivitas komunal. Satu diantara mereka ini justru pengrajin besar, dengan omset sehari 

sekitar  1  ton  ketela  mentah  sebagai  bahan  baku,  dan  yang  lain  adalah  tetangga  dekat  yang 

terpengaruh oleh mereka. Sebagai pembanding, Bu War saja hanya mampu mengolah sekitar 2 

kuintal ketela mentah. Keengganan  ini  juga nampak antara  lain  mereka  enggan  berbagi akses 

ke bahan baku dan sarana penunjang usaha yang lain.  

Kendala yang lain, selain warga yang sehari‐harinya bekerja sebagai pengrajin, mereka 

juga menghadapi kondisi di mana hampir semua pengrajin aci musiman, yang hanya membuat 

aci dimusim kemarau, tidak menjadi anggota kelompok.  

....”Ketidaksertaan  mereka  dalam  kelompok  seringkali  merugikan  kami.  Soalnya,  ketika 


berhadapan  dengan  tengkulak,  mereka  cenderung  membanting  harga  supaya  hasil  kerja  mereka 
cepat  terjual.  Ini  beda  dengan  kami,  karena  kami  sering  menyimpan  tepung  aci  ketika  harga 
jatuh, dan baru menjual lagi ketika harga kembali naik di musim hujan....”  

Menurut  Bu  war,  keberadaan  pengrajin  musiman  di  luar  kelompok  dengan  ’kelakukan’ 

membanting harga inilah yang menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi pengrajin saat 

ini. 

Begitulah  dengan  caranya,  perempuan  mengambil  langkah  untuk  menghidupkan 

kembali  usaha  dan  basis  ekonomi  produktifnya.  Dengan  cara  yang  khas  perempuan,  yang 

komunal  dan  berbasis  sumber  daya  kolektif,  mereka  tak  hanya  membuat  usahanya  yang 

sempat  ambruk  karena  gempa  bisa  bangkit  kembali.  Lebih  jauh,  mereka  bahkan  menjadikan 

bencana  sebagai  momentum  untuk  perbaikan  kehidupan  dengan  memutus  rantai  eksploitasi 

oleh tengkulak terhadap usaha mereka.  

52
IV.2. Yang Tercecer dari Pembangunan Kembali Rumah  

Di  sini,  catatan  penting  yang  muncul  adalah  terkait  dengan  keterlibatan  kelompok 

rentan dalam program pembangunan kembali rumah pasca gempa, yang menunjukkan masih 

adanya  lubang  dalam  hal  partisipasi  publik.  Salah  satunya  adalah  ketiadaan  aturan  secara 

eksplisit tentang keterlibatan perempuan dalam kelompok masyarakat (Pokmas) sebagai organ 

inti  pelaksanaan  pembangunan  rumah  yang  menurut  pemerintah  adalah  model  yang 

partisipatif.  Aturan  yang  dimaksud  disini  adalah  Pergub  No  23  tahun  2006  tentang  Petunjuk 

Operasional  (PO)  Rehab  Rekons  Pasca  Gempa  di  DIY.  Ketiadaan  aturan  ini,    membuat 

rendahnya keterwakilan  perempuan  dalam  organ  pelaksana  pembangunan  kembali  rumah  di 

banyak  dusun.  Sebagai  catatan,  setelah  gempa,  pemerintah  pusat  mengucurkan  dana 

pembangunan  kembali  rumah  yang  hancur  melalui  mekanisme  pokmas  untuk  pengelolaan 

dana dari APBN ini.  

Dalam  situasi  rendahnya  keterwakilan  perempuan  dalam  kelembagaan  Pokmas  ini, 

potensi  peminggiran  suara  dan  sekaligus  juga  kebutuhan  perempuan  memang  terjadi.  Di 

Imogiri, kondisi ini nampak dari penuturan Mbak Siti, yang menuturkan praktek pelaksanaan 

pembangunan kembali rumah  didusunnya.  

....Walau rumah kami rusak, nama kami dicoret dari daftar nama penerima dana pembangunan 
rumah 42   yang  diajukan  dusun,  bersama  dengan  tujuh  nama  lain  di  RT  saya.  Beberapa  orang 
yang  rumahnya  tidak  rusak  tetapi  merupakan  tokoh  atau  orang  berada  justru  masuk  daftar. 
Setelah itu, dalam pencairan dana tahap ketiga, penerima dana yang dibagikan ternyata  berbeda 
dengan  yang  tertera  dalam  daftar.  Beberapa  nama  lagi‐lagi  dicoret,  bahkan  yang  janda  dan 
rumahnya  benar‐benar  rusak.  Yang  menerima  juga  dipotong,  katanya  shodaqoh,  sebesar  Rp  5 
juta per keluarga dari total dana Rp 15 juta yang seharusnya mereka terima...” 

Peminggiran  perempuan  dalam  program‐program  pembangunan  kembali  rumah 

memang  sangat  mungkin  terjadi,  terlebih  dalam  program  tanpa  design  khusus.  Hal  ini  juga 

terkonfirmasi  dalam pembangunan kembali  pasca  badai  Mitch  dimana  keluarga  dengan  kepala 

53
keluarga  perempuan  adalah  pihak  yang  dalam  pemulihan  menjadi  yang  paling  akhir 

mendapatkan giliran. Data dalam komposisi hunian sementara di 4 negara menunjukkan bahwa 

seiring  dengan  penurunan  jumlah  populasi  yang  hidup  di  shelter,  proporsi  perempuan  justru 

meningkat  secara  tajam  dan  begitu  juga  dengan  proporsi  keluarga  dengan  kepala  keluarga 

perempuan, yang paling akhir pergi dari shelter. Dalam durasi dua minggu setelah badai Mitch, 

proporsi  keluarga  dengan  kepala  keluarga  perempuan  yang  menghuni  shelter  di  Tegucigalpa 

adalah  sebanyak  41%.  Setelah  jumlah  penghuni  shelter  menurun,  proporsi  mereka  justru 

meningkat  menjadi  57%.  Pada  akhir  tahun,  jumlah  orang  Nicaragua  yang  hidup  di  shelter 

menurun dari 65.000 menjadi 17.000 orang. Tetapi, proporsi perempuan justru meningkat tajam, 

dari  48%  menjadi  49.8%,  dan  begitu  juga  dengan  keluarga  dengan  kepala  keluarganya 

perempuan 43 . 

Di Bantul, apakah hanya keluarga dengan kepala keluarga perempuan yang menerima 

dampaknya?  Tampaknya  tak  hanya  itu,  karena  peminggiran  suara  perempuan  secara  umum 

bisa terjadi dalam banyak keluarga, bahkan ketika mereka mendapatkan dana dalam program 

pembangunan  kembali  rumah.  Bentuk‐bentuk  seperti  pengabaian  terhadap  area  servis  yang 

menjadi ruang perempuan, dalam bentuk design yang tidak ramah atau tanpa dilengkapi akses 

memadai  bilamana  terjadi  bencana,  bisa  menjadi  bentuk  lain  bencana  gender  dalam  hal  ini. 

Dapur misalnya, karena seringkali dipinggirkan dan dianggap tidak terlalu penting, seringkali 

diikuti  dengan  persoalan  kualitas  bangunan  yang  didapat.  Karena  tidak  menjadi  prioritas, 

maka    bahan  yang  digunakan  lebih  rendah  kualitasnya,  dan  ini  bisa  meningkatkan 

keterpaparan terhadap risiko ketika terjadi bencana 44 . 

Tetapi, tak semua perempuan memilih bersikap diam dalam situasi seperti itu. Siti, yang 

masih  lajang  dan  berasal  dari  kalangan  biasa  menceritakan  serangkaian  upaya  yang 

dilakukannya  sebagai  bagian  dari  memperjuangkan  hak‐hak  penyintas  yang  terabaikan, 

termasuk hak keluarganya di dalamnya.  

43
Gomariz, 1999, sebagaimana dikutip oleh Buvinic, op.cit.
44
Fatimah, 2007a, op.cit
54
.......”  Saya  mengirimkan  surat  protes  ke  DPRD  dan  Bupati  dan  melaporkan  kejadian 
pemotongan  dana  dan  pencoretan  nama  dari  daftar.  Surat  kami  mendapat  respon  dan  dusun 
kami  didatangi  tim  dari  pemerintah  kabupaten.  Tapi  hingga  hari  ini,  prosesnya  belum 
selesai........”. 

Langkah  yang  lebih  jauh  bahkan  dilakukan  oleh  Mbak  Endang  yang  tinggal  di 

Piyungan.  Merasa  gerah  dengan  kelakukan  beberapa  perangkat  lokal  di  tempatnya,  ia  juga 

melaporkan  kasus  pemotongan  dan  pencoretan  nama  kepada  pemerintah  kabupaten.  Ketika 

petugas  kabupaten  datang,  nama‐nama  yang  dicoret  dimunculkan  kembali  dan  dana 

pembangunan  kembali  rumah  dicairkan  sesuai  dengan  ketentuan.  Tetapi  setelah  itu,  masing‐

masing orang didatangi dan diminta potongan dengan beragam alasan.  

........”Macem‐macem  lah  alasannya.  Katanya  potongan  Rp  1  juta  dengan  kerelaan  untuk 
membangun jalan. Ada juga potongan untuk materai, untuk infaq. Mereka juga menekan warga 
supaya  tidak  membocorkan  informasi  kepada  petugas  pengawas  yang  datang.  Tetapi  akhirnya 
beberapa orang mengaku dan kemudian kepala desa ditegur oleh Bupati...” 

Akhirnya  uang  dikembalikan  dengan  disaksikan  Badan  Pengawas  Daerah  (Bawasda), 

tetapi menurut warga ini hanyalah siasat untuk mengelabuhi pemerintah kabupaten. Beberapa 

saat  setelah  itu,  perangkat  yang  nakal  kembali  bergerilya  dan  menagih  ‘potongan’  dana. 

Melihat itu, maka kemudian ia melaporkan kasus ini ke Kjaksaan Negeri Bantul.  

Tapi  rupanya,  upaya‐upaya  yang  dilakukan  para  perempuan  tangguh  di  atas  dalam 

melakukan  pengawasan  dan  memperjuangkan  hak  masyarakat  memang  bukan  jalan  yang 

mulus  dan  mudah.  Tindakan  Mbak  Endang  dibalas  perangkat  yang  melakukan  pemotongan 

dengan  memaksa  warga  untuk  menandatangani  surat  pengusiran  Endang  dari  dusun  tempat 

dimana ia tinggal. Tetapi warga tak mau mengikuti ini sehingga ia masih tetap tinggal di dusun 

tersebut. Selain itu, bentuk tekanan yang lain adalah setiap malam,  rumahnya selalu disatroni 

oleh  orang  tak  dikenal.  Sementara  itu,  Siti  mengaku  bahwa  teror  demi  teror  ia  terima  dalam 

beragam bentuk. 

......” Saya diteror lewat sms, juga diancam kalau sampai pelakunya masuk penjara, kepala saya 
taruhannya.  Orang  tua  saya  tidak  siap  dengan  kondisi  itu,  apalagi  karena  pelaku  pemotongan 

55
masih  saudara  dan  saya  anak  perempuan  satu‐satunya.  Saya  sebetulnya  mau  diam  saja,  tetapi 
kok nggak selesai‐selesai.....” 

Belakangan,  tekanan  demi  tekanan  yang  diterima  membuatnya  lebih  banyak  diam. 

Dalam  kultur  masyarakat  yang  patriarkhis,    perempuan  yang  diam  adalah  dianggap  sebagai 

kelaziman,  sementara  perempuan  yang  sering  mengajukan  protes  dihadapkan  pada  tekanan 

sistematis  yang  begitu  kuat.  Walau  beberapa  upaya  ini  belum  menunjukkan  hasil  yang 

menggembirakan,  upaya  menerobos  kebuntuan  dan  memperjuangkan  hak  dalam  situasi 

banyak  tekanan,  adalah  bukti‐bukti  tak  terbantahkan  akan  kekuatan  dan  kerelawanan 

perempuan. 

V. GENDER DALAM KERELAWANAN PEREMPUAN 

Dari  beberapa  ilustrasi  model‐model  kerelawanan  perempuan  di  atas,  beberapa  hal 

menjadi pertanyaan yang penting untuk dijawab dalam riset ini. Beberapa pertanyaan tersebut 

adalah :  

V.1. Bagi Peran : Kesepakatan atau Kebiasaan?

Salah  satu  isu  penting  dalam  analisa  kerelawanan  perempuan  adalah  melihat 

pembagian  peran  antara  laki‐laki  dan  perempuan  di  dalam  suatu  komunitas.  Bagaimana 

pembagian  peran  dalam  pengelolaan  dapur  umum  dan  aktivitas  masyarakat  pada  masa 

darurat? Pak Dukuh Nangsri mengatakan :  

....”Setelah satu minggu, dibentuk posko per RT  dan disinilah ibu‐ibu memasak di dapur umum 
secara  berkelompok  dengan  pembagian  jadwal  yang  disepakati  bersama.  Secara  umum, 
perempuan  sibuk  di  keluarga  dan  RT  masing‐masing  karena  juga  harus  mengurusi  anggota 
keluarga yang sakit atau cedera. Kalau bapak‐bapak tugasnya ya bersih‐bersih rumah...” 

Begitu  juga  halnya  dapur  umum  di  Kadisoro,  seperti  yang  diceritakan  di  atas,  adalah  ruang 

dimana kaum perempuan beraktivitas.  

56
Nampak  dalam  banyak  situasi,  pembagian  kerja  berbasis  gender,  juga  nampak  dalam 

masyarakat  pasca  gempa.  Walau  menunjukkan  beberapa  perkeccualian  seperti  dalam 

posyandu  di  Nangsri,  pembagian  peran  secara  tradisional  di  antara  laki‐laki  dan  perempuan 

masih  tetap  berjalan  setelah  bencana.  Secara  lengkap,  pembagian  ini  nampak  dalam  tabel 

berikut ini :  

Tabel 3.3 

Kerelawanan dan Pembagian Peran Pasca Gempa 

Aktivitas  Laki‐laki  Perempuan 

Reproduktif  Walau secara umum laki‐laki  Memasak, membersihkan 


tidak terlibat dalam kerja  rumah, merawat anak 
reproduktif, tetapi di  menjadi tugas yang 
beberapa tempat mulai  dilakukan perempuan. 
muncul keterlibatan dalam  Walaupun mulai ada contoh 
pengasuhan anak, atau  kasus pelibatan laki‐laki 
pengurusan rumah ketika  (suami) dalam kerja 
perempuan pergi untuk  reproduktif, tetapi tanggung‐
aktivitas komunitas yang  jawab atas kerja reproduktif 
muncul setelah gempa.   masih berada di pundak 
perempuan.   

Produktif  Laki‐laki masih menjadi  Di level terbawah, beralihnya 


tulang punggung utama,  peran pencari nafkah utama 
tetapi dalam masa  keluarga ke tangan 
pembangunan kembali  perempuan yang terjadi 
rumah khususnya untuk  bersamaan dengan tanggung‐
kelas ekonomi terbawah,  jawab reproduktif, membuat 
peran ini banyak dimainkan  beban ganda yang harus 
oleh perempuan karena laki‐ dipikul perempuan. Walau 
laki melaksanakan  belum sempat terkonfirmasi, 
pembangunan rumah.   beban ini tidak dimunculkan 
secara kuat dan langsung 
oleh perempuan dari kelas 

57
menengah 

Komunitas  Ranah publik, terutama  Dalam ruang resmi, 


dalam jalur resmi adalah  keterlibatan perempuan 
wilayah laki‐laki. Program‐ minim, karena biasanya 
program pemerintah secara  hanya berada di ruang yang 
umum, yang berangkat dari  khusus untuk perempuan 
asumsi ketiadaan problem  seperti posyandu dan PKK. 
relasi gender yang harus  Tetapi mulai muncul inisiatif 
diintervensi menjadi  tentang muncul dan 
didominasi laki‐laki karena  terlibatnya perempuan dalam 
kultur budaya maskulin yang  ruang publik. Namun inisiatif 
ada di masyarakat.   ini, khususnya  yang muncul 
dalam jalur resmi seperti 
pokmas, mendapat banyak 
tantangan, kendala dan 
bahkan intimidasi. Pola ini 
berbeda dengan tantangan 
yang dihadapi oleh laki‐laki.  

  Munculnya  inisiatif  pelibatan  laki‐laki  dalam  kerja  reproduktif  dan  juga  mendorong 

keterlibatan  perempuan  dalam  area  komunitas  yang  bukan  hanya  ruang  untuk  perempuan 

seperti  posyandu  dan  PKK,  ternyata  banyak  dipengaruhi  oleh  interaksi  komunitas  dengan 

lembaga  kemanusiaan  yang  bekerja  untuk  kondisi  pasca  bencana.  Keharusan  pelibatan 

perempuan  atau  program  khusus  untuk  perempuan  dalam  program  mereka  menjadi  faktor 

pendorong mulai munculnya perempuan di area publik. Hal ini juga dikonfirmasi dalam FGD 

tentang  Perempuan  dan  Kerelawanan  yang  diikuti  baik  oleh  perwakilan  masyarakat, 

pemerintah,  ormas  maupun  NGO  yang  diselenggarakan  pada  tanggal  6  Februari  2008. 

Sayangnya,  inisiatif  ini  tidak  nampak  dalam  program‐program  pemerintah,  baik  di  tahap 

tanggap  darurat  maupun  tahap  rehabilitasi‐rekonstruksi.  Dalam  program  ini,  asumsi  netral 

gender  yang  dipakai,  menganggap  bahwa  tak  ada  masalah  gender  yang  harus  diintervensi, 

sehingga  pendekatan  ini  mengasumsikan  akan  membawa  manfaat  yang  sama  baik  bagi  laki‐

58
laki  maupun  bagi  perempuan.  Dalam  kenyataannya,  pendekatan  netral  gender  ini,  ketika 

diterapkan  ternyata  membawa  dampak  yang  tidak  netral,  karena  menjadikan  peminggiran 

perempuan  dalam  banyak  area  yang  berhubungan  dengan  kehidupan  mereka.  Contoh  kasus 

yang nyata untuk ini adalah peminggiran perempuan dalam pembangunan rumah, sebetulnya 

juga menjadi kebutuhan perempuan seperti halnya laki‐laki.  

Namun,  dari  ilustrasi  dimuka,  juga  nampak  bahwa  upaya  menerobos  sekat  dan 

pembagian  peran  gender  yang  tegas  tidak  selalu  berjalan  mulus.  Dalam  kasus  kontrol  dana 

pokmas, sebagaimana pengalaman Mbak Siti yang diurai dimuka, tantangan yang dihadapinya 

menunjukkan betapa perempuan biasa seperti dirinya dianggap tidak pantas melakukan upaya 

kontrol  perilaku  korup  yang  dilakukan  oleh  (laki‐laki)  penguasa.  Aspek  gender  dalam 

intimidasi ini menunjukkan bahwa  yang  diresahkan  penguasa setempat bukan hanya karena 

ketakutan  terbongkarnya  kasus  korupsi  dana,  tetapi  juga  ditambah  kegeraman  bahwa  hal  ini 

dilakukan  oleh  seorang  perempuan  biasa  seperti  Mbak  Siti.    Resistensi  terhadap  gugatan 

konsep perempuan yang baik, pasrah dan nrimo  dari kacamata male‐dominated society, ini begitu 

kuat dan mewujud dalam serangkaian tekanan, ancaman dan intimidasi yang muncul.  

V.2.  Akses dan Kontrol  : Sebagian Tetap Tak Terjamah 

Walaupun banyak contoh yang menunjukkan kerelawanan perempuan dalam bencana, 

dan juga tambahan  kerja ekstra  yang  dilakukan perempuan,  tetapi sayangnya ini  tidak  secara 

otomatis  diikuti  dengan  pelibatan  perempuan  dalam  proses  pengambilan  keputusan.  Kondisi 

yang  sama  juga  ditemukan  di  El  Salvador,  dimana  perempuan  mencatat  perbedaan  dalam 

tugas  yang  dilakukan  oleh  mereka  dengan  yang  dilakukan  oleh  laki‐laki.  Perempuan 

mendistribusikan bantuan darurat, tetapi keputusan tentang distribusi tetap saja di tangan laki‐

59
laki.  Dengan  kata  lain,  perempuan  terlibat  dalam  distribusi  secara  fisik,  tetapi  tidak  dalam 

proses pengambilan keputusan 45 . 

Bagaimana  dengan  kondisi  di  Bantul?  Ada  banyak  pengalaman  yang  sedikit  berbeda, 

karena dalam situasi macetnya pranata negara dalam situasi darurat, banyak perempuan yang 

justru  mengambil  posisi  dan  mencuri  start  dengan  tampil  kemuka  dalam  mengatasi  masa 

krisis.  Pengalaman  Bu  Wanti  dan  teman‐teman  di  Kadisoro,  sebagaimana  pengalaman  Mbak 

Siti  yang  menjadi  satu‐satunya  koordinator  posko  dusun  yang  perempuan,  menunjukkan 

tampilnya latent leader perempuan yang tangguh dan tanggap mengatasi situasi darurat.  

Walau  begitu,  ini  tidak  terjadi  di  semua  tempat,  sebagaimana  menurut  penuturan  Pak 

Dukuh  Nangsri,  kepengurusan  posko  yang  mengatur  jalur  masuk  dan  distribusi  bantuan, 

hampir  semuanya  laki‐laki.  Dan  pola  ini  terulang  kembali  dalam  fase  rehabilitasi  dan 

rekonstruksi,  dimana  peminggiran  perempuan  dari  akses  dan  apalagi  kontrol  terhadap 

pengambilan  keputusan  dan  pengelolaan  sumber  daya  khususnya  di  area  publik  nampak 

dengan  kuat.  Dan  ini  terjadi  di  banyak  tempat,  bahkan  tempat  dimana  pada  masa  tanggap 

darurat,  perempuan  telah  maju  ke  muka.  Hal  ini  terjadi  secara  sistematis  karena  kebijakan 

pemerintah  yang  mengatur  pembangunan  kembali  rumah  dalam  fase  ini  justru  membawa 

dampak berupa pengabaian sistematis perempuan dari area publik. Walau begitu, sebagaimana 

diungkap dalam sub bab dimuka, inisiatif yang dilakukan perempuan disini, juga perlu dilihat 

dan diukur kontribusinya untuk akses, kontrol dan manfaat yang adil dan setara.   

Lantas,  bagaimana  dengan  area  produktif,  dan  korelasinya  dengan  area 

komunitas/publik? Adagium lain yang juga banyak dipakai adalah bahwa penguatan ekonomi 

perempuan secara otomatis akan memperkuat posisi tawar perempuan. Dalam banyak ilustrasi 

dimuka, mulai meningkatnya posisi tawar perempuan yang secara ekonomi dan sekaligus juga 

publik  mulai  nampak  seperti  kasus  pengrajin  tepung  aci,  ternyata  masih  dihadapkan  pada 

akses  dan  terlebih  lagi  kontrol  yang  terbatas,  untuk  area  strategis  berupa  pengambilan 

45
Bradshaw, ibid.
60
keputusan.  Tentang  ini,  Wawan  dari  IHAP  yang  mendampingi  ibu‐ibu  pengrajin  aci  ini 

mengatakan  bahwa  walau  sudah  mulai  menunjukkan  bukti,    tetapi  masih  banyak  keputusan 

strategis yang tereksklusi dari jangkauan perempuan. Ia mengatakan :  

.....”Ibu‐ibu  menunjukkan  bahwa  keputusan  strategis  seperti  memutuskan  ketergantungan 


kepada  tengkulak  bisa  mereka  ambil  dan  ini  berjalan  dengan  baik.  Tetapi  tak  semua  keputusan 
strategi  bisa  mereka  pengaruhi.  Contohnya  adalah  dalam  hal  pembangunan  kembali  rumah, 
bahkan  di  level  rumah  tangga  mereka  masing‐masing,  mereka  hampir  tidak  pernah  terlibat. 
Wilayah ini praktis didominasi laki‐laki...”  

Tampaknya, kesetaraan tak hanya dalam akses tetapi juga dalam kontrol sumber daya 

masih menjadi catatan bahkan bagi perempuan yang menghasilkan pendapatan bagi keluarga.  

Secara  singkat,  peta  akses  dan  kontrol  serta  manfaat  dalam  pengelolaan  bencana  di 

Bantul nampak dalam tabel berikut ini :  

Tabel 3.4.  

Peta Akses dan Kontrol 

Aktivitas  Akses  Kontrol 

Reproduktif  Mengacu kepada pembagian  Begitu juga dengan kontrol 


peran gender maskulin, maka  terhadap area ini, ada di 
ini adalah ruang yang menjadi  tangan perempuan. Masuknya 
wilayah perempuan.  laki‐laki dalam area ini tidak 
Munculnya keterlibatan laki‐ terlalu berpengaruh kepada 
laki adalah indikasi menarik,  kontrol pilihan dalam area 
tetapi secara umum masih  reproduktif 
menjadi wilayah perempuan.   

Produktif  Hampir di semua wilayah,  Walaupun perempuan juga 


perempuan dan laki‐laki sama‐ terlibat dalam aktivitas 
sama terlibat dalam kerja  produktif, kontrol terhadap 
produktif. Di kelas terbawah,  pengelolaan dan kepemilikan 
akses dan keterlibatan ini  sumber daya belum 
bahkan relatif sama. Ini juga  sepenuhnya bisa dimasuki 

61
nampak dalam situasi pasca  perempuan. Kepemilikan asset 
bencana.    kebanyakan masih ditangan 
laki‐laki.  

Komunitas  Akses perempuan relatif  Kontrol di area, kecuali yang 


terbatas, kecuali di ruang  diruang khusus perempuan, 
khusus perempuan seperti  masih didominasi laki‐laki, 
PKK dan posyandu. Mulai  yang mereproduksi situasi 
muncul upaya menembus  sebelum bencana. Inisiatif 
akses bagi ruang komunitas  keterlibatan perempuan 
yang campuran seperti  walaupun mulai nampak, tapi 
pokmas, walaupun masih  belum menyentuh sisi kontrol 
belum sistematis dan belum di  pengambilan keputusan.  
semua tempat.  

Peta    diatas  menunjukkan  bahwa  kesetaraan  dalam  kontrol  sumber  daya  memang  bukan  hal 

yang mudah dan cepat bisa diraih. Proses negosiasi dan dialog tanpa henti dalam jangka yang 

tidak pendek, tampaknya tetap perlu dilakukan di sini.  

62
BAB IV
MODAL SOSIAL PEREMPUAN DALAM BENCANA
 

Di  bab‐bab  awal  dari  tulisan  ini  sudah  dipaparkan  mengenai  kondisi  perempuan  Bantul 

pada  waktu  bencana  dan  apa  yang  mereka  lakukan  untuk  menghadapi  situasi  bencana. 

Kerelawanan  perempuan  muncul  dalam  ragam  bentuk  di  ranah  yang  beragam.  Kerelawanan 

perempuan merupakan kisah sukses usaha perempuan untuk membawa komunitasnya keluar 

dari  situasi  krisis  paska  bencana.  Peneliti  menemukan  fakta‐fakta  lapangan  bahwa  sebagian 

besar  perempuan  relawan  dalam  penanganan  paska  bencana  merupakan  perempuan  yang 

telah terbiasa menjadi relawan di komunitasnya. Karenanya, dalam bab IV ini peneliti merasa 

penting untuk menyajikan ragam ruang dimana perempuan berproses sebagai relawan. Bagian 

selanjutnya  mengulas  mengenai  faktor  pendorong  kerelawanan  perempuan.  Kedua  sub‐bab 

tersebut  sebagai  pengantar  untuk  mengulas  lebih  lanjut  untuk  mengenai  modal  social 

perempuan dalam bencana. 

I. RUANG PRODUKSI PEREMPUAN RELAWAN 

Kerelawanan  perempuan  bukanlah  sebuah  produk  sosiologis  yang  instan.  kerelawanan 

diproduksi dalam mesin sosial dengan dimensi waktu yang panjang dan ruang yang beragam. 

Perempuan  relawan  diproduksi  dalam  beragam  ruang‐ruang  bias  gender  yang  mana  secara 

social,  politik  dan  budaya  dikonstruksi  bagi  perempuan  (socially,  culturally  and  politically 

constructed). 

Oleh  karena  itu,  menganalisis  kerelawanan  tak  bisa  dilepaskan  dari  analisis  atas  relasi 

kuasa  antara  negara  dengan  masyarakat,  dalam  hal  ini  perempuan.  Dalam  kasus  Indonesia, 

salah  satu  kritik  yang  muncul  adalah  kuatnya  pandangan  dan  juga  kebijakan  yang 

berlandaskan  pada  pandangan  state‐ibuism 46 .  Julia  Suryakusuma  menyebut  fenomena  tersebut 

dengan  ideologi  pengibu‐rumahtanggaan  (housewifization),  yang  memposisikan  perempuan 

46
Suryakusuma, Julia, “ State-ibuism : the Social Costruction of Womanhood in New Order Indonesia”,
the Hague, thesis MA, Institute of Social Studies (ISS).
63
sebagai ibu rumah tangga adalah perpaduan dari unsur‐unsur terburuk dari paham golongan 

petit‐bourgeois  Barat  dan  masyarakat  feodal  Jawa.  Gabungan  ini  menghasilkan  potret 

perempuan dibawah dominasi laki‐laki. 

Kuatnya  ideologi  pengibu‐rumahtanggaan  yang  ditanamkan  oleh  negara,  terutama  pada 

orde baru menjadikan  ruang perempuan sebagai sesuatu yang bisa dengan mudah diciptakan, 

dan  sekaligus  pula  bisa  dibatasi  dan  bahkan  diberangus  sesuai  dengan  kepentingan  negara. 

Tentu  saja  yang  dimaksud  di  sini  bukan  hanya  ruang  dalam  pengertian  fisik,  karena  juga 

mengacu kepada batasan ruang gerak, ide dan juga pola pikir. Ruang bagi perempuan, menjadi 

sesuatu yang tidak natural, tidak kodrati karena ia adalah hasil dari proses pembentukan yang 

panjang.  Sementara  itu,  peran  dalam  perspektif  sosiologi  menunjukkan  pola  yang 

komperhensif terhadap perilaku dan sikap, yang terdiri dari strategi untuk menyesuaikan diri 

dengan  kondisi  dan  karenanya  bersifat  socially  identified 47 .  Karenanya,  pola  peran  ini  berbeda‐

beda  antar  komunitas.  Dalam  banyak  hal,  peran  menjadi  dasar  yang  penting  dalam 

mengidentifikasi dan menempatkan seseorang dalam masyarakat.  

a. PKK‐DASA WISMA 

PKK  yang  maksud  pendiriannya  adalah  untuk  meningkatkan  kesejahteraan  keluarga 

dalam  skala  nasional,  memiliki  cakupan  lebih  luas  dengan  menyasar  secara  spesifik  ibu  atau 

perempuan  yang  sudah  menikah.  Walaupun  keanggotaannya  bersifat  sukarela,  tetapi  pola 

kepemimpinannya biasanya melekat dengan jabatan publik di semua level. PKK juga menjadi 

bagian tak terpisahkan dari program pemerintah, terutama melalui posyandu dan program KB. 

Relasi  yang  menjadikan  perempuan  sebagai  pendamping  suami  juga  nampak  dari  konsep 

Panca  Darma  PKK  yang  berisi  5  konsep,  yaitu  perempuan  sebagai  istri  pendamping  suami, 

pengelola  rumah  tangga,  penerus  keturunan  dan  pendidik,  pencari  nafkah  tambahan  dan 

sebagai  warga  masyarakat.  Salah  satu  studi  yang  dilakukan  oleh  Sullivan  di  salah  satu 

47
Turner, RH, “Role, Sociological Aspects”, dalam Sills, Davis L. (International Encyclopedia of the
Social Sciences”, New York, MacMillan, 1968-1979, (italics in the original), sebagaimana dikutip oleh
Dzuhayatin (2002), op.cit. .
64
kampung  di  perkotaan  Jogjakarta  menunjukkan,  bahwa  melalui  PKK,  tokoh  perempuan 

menjadi  penghubung  yang  efektif  antara  wilayah  teori  dan  pendekatan  pembangunan  yang 

didominasi  laki‐laki,  dengan  perempuan  pada  level  praksis.  Dalam  PKK  pula,  tempat 

perempuan  tetaplah  di  rumah,  walaupun  konsep  rumah  mengalami  perubahan  sehingga 

rumah  dianggap  sebagai  area  penting  dalam  pembangunan  nasional.  Sebagaimana  tujuan 

besarnya  untuk  pengendalian  kehidupan  politik,  peran  PKK  sebagai  jalur  instruksi  dari  atas, 

jauh  lebih  kentara  daripada  sebagai  wadah  dan  ruang  bagi  perempuan  di  level  terbawah. 

Sullivan  juga  mengatakan,  karena  pendekatan  ini  cenderung  tidak  menaruh  perhatian  pada 

struktur sosial yang ada 48 .   

Dalam perjalanannya, peran penting yang diemban oleh PKK adalah sebagai jembatan 

antara  tujuan  pembangunan  dengan  aktivitas  organisasi  perempuan.  Begitupun  PKK  yang 

terdapat  di  Kabupaten  Bantul,  Istri  Bupati  secara  langsung  diposisikan  sebagai  Ketua  PKK 

Kabupaten,  begitupun  dengan  istri  Camat  dan  istri  Lurah  di  tingkat  Kecamatan  dan  Desa. 

Dengan  struktur  yang  mengedepankan  kekuasaan  elite,  PKK  hanya  menjadi  ajang  bagi 

perempuan yang benar‐benar kuat yang bisa mengambil peran dalam pengambilan keputusan 

politik.  Akibatnya,  perempuan  biasa  yang  lain  tereksklusi  dari  perdebatan  seputar  kebijakan 

negara.  Gambaran PKK yang bias elite dan kekuasaan ini terderivasi hingga level yang paling 

lokal,  seperti  dusun  maupun  RT.  Dalam  substruktur  pemerintahan  dusun/RT  masih 

dimungkinkan  bagi  sejumlah  individu  perempuan  yang  berkapasitas  untuk  muncul  sebagai 

kader, meski ketika masuk dalam struktur PKK yang lebih tinggi kapasitas mereka tidak lebih 

dihargai dibandingkan jabatan istri dari kepala pemerintahan. 

  Norma  Sullivan,  “Indonesian  Women  in  Development  :  State  Theory  &  Urban  Kampung 
48

Practice”, tanpa tahun.  
65
 

b. Posyandu : Kerelawanan Dari Zaman ke Zaman 

  Selain  PKK,  ruang  lain  yang  tersedia  yakni  ruang  bagi  kader  kesehatan  yang  muncul 

pada  dekade  70‐an.  Hal  ini  erat  dengan  peran  dan  pandangan  yang  menjadikan  urusan 

perawatan dan pengurusan kesehatan sebagai sangat berwajah perempuan.  Pada tahun 1986, 

setelah melalui proses pengkaderan dan pembinaan yang relatif luas, akhirnya disederhanakan 

menjadi  program  pelayanan  terpadu  keluarga  berencana  dan  kesehatan  yang  dinamakan  Pos 

Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang bersifat sukarela. Posyandu ini secara struktural berada di 

bawah PKK namun secara fungsional di bawah pembinaan puskesmas dan dinas kesehatan.  

Tetapi,  dalam  studi  yang  dilakukan  oleh  Suratiyah  menunjukkan  bahwa  terdapat 

dilema  dalam  kerelawanan  perempuan  dalam  posisi  mereka  sebagai  kader.  Ia 

mempertanyakan, dengan beban ganda yang disandang perempuan, apakah kerelaan ataukah 

justru  yang  terjadi  adalah  kondisi  memaksakan  diri?  Dalam  penelitiannya,  ia  menemukan 

bahwa  cukup  banyak  keluhan  yang  diutarakan  oleh  perempuan  dengan  keterlibatan  mereka 

dalam  kader  kesehatan.  Ada  beberapa  cerita  yang  muncul  dari  kader  kesehatan,  organisasi 

berbasis  kerelawanan  yang  sering  menjadi  tumpuan  program  kesehatan  pemerintah.  

Kondisinya  tidak  jauh  berbeda  dengan  yang  ditunjukkan  oleh  penelitian  Suratiyah  mengenai 

kader  kesehatan  di  Kulon  Progo,  yang  menunjuk  ketangguhan  perempuan  kader 

menampakkan buktinya dengan kerelawanan yang mengatasi banyak hambatan.  

  Di  Bantul  secara  keseluruhan  jumlah  posyandu  sebanyak  1902.  Di  Kecamatan  Pleret 

saja,  jumlah  kader  kesehatan‐nya  sebanyak  55  orang,  diantaranya  terdapat  1  orang  laki‐laki 

kader. Untuk mengerjakan tantangan kesehatan masyarakat yang besar, termasuk di antaranya 

gizi  buruk  sebanyak  36  orang,  kader  kesehatan  ini  bekerja  dengan  10  meja.  Pola  perekrutan 

kader  kesehatan  melalui  2  metode,  yakni  penunjukan  dan  ditawarkan.  Kegiatan  posyandu 

dilakuan  rutin  1  bulan  sekali,  kegiatan  diantaranya  penimbangan  balita,  pemberian  makanan 

tambaan,  penyuluhan  kesehatan.  Namun  disamping  kegiatan  periodic  tersebut,  kader  yandu 

66
juga  diberi  beban  untuk  melakukan    pemantauan  kesehatan  masyarakat  yang  dilakukan 

dengan  intensif,  serta  pendataan  gizi  buruk 49 .  Dengan  beban  kerja  yang  besar,  praktis  para 

kader yandu bekerja tanpa batasan waktu yang jelas serta tanpa kompensasi yang memadai.  

c. “Sambatan” dan “Rewang” 

Di luar kegiatan pembangunan sebagaimana tersebut di atas, perempuan‐perempuan di 

jawa  terikat  pada  peran  pelayanan  ritual  kemasyarakatan.  Dalam  setiap  siklus  hidup 

masyarakat  jawa  biasanya  dilakukan  upacara  selamatan.  Masyarakat  Bantul  hingga  sekarang 

rata‐rata masih menjalankan ritual ini. Mulai dari seorang bayi lahir, sunatan, menikah hingga 

meninggal  selalu  ditandai  dengan  menggelar  perayaan  dengan  mengundang  tetangga‐

tetangganya  untuk  makan‐makan  berdoa.  Ritual‐ritual  tersebut  selalu  menuntut  tersedianya 

makanan dalam jumlah besar. Secara masal dan kolektif perempuan yang bertempat tinggal di 

sekitar rumah pemilik hajatan memasak makanan untuk disediakan kepada tamu yang datang. 

Aktivitas yang disebut sambatan ini bisa berlangsung mulai dari 3 sampai 7 hari berturut‐turut.  

Perempuan yang datang disebut nyambat/rewang (menolong). Untuk aktifitas sosial yang 

dilakukannya  itu  dia  tidak  mendapat  imbalan  berupa  uang  karena  bila  nanti  dia  mempunyai 

hajat, tetangganya akan melakukan hal yang sama padanya. Sambatan dan Rewang merupakan 

kegiatan  yang  secara  wajar  diterima  sebagai  kerja  perempuan  terkait  dengan  aktivitas  dapur 

sebagai  tanggung  jawab  perempuan.  Kegiatan  ini  terpola  melalui  ideologi  pembagian  kerja 

secara  seksual  yang  beririsan  dengan  kepentingan  tradisi.    Sehingga  perempuan 

tersosialisasikan untuk secara terus  menerus  memelihara  pola  pembagian  kerja  secara  seksual 

di ruang publik tersebut.  

49 Wawancara dengan Wasingatu Zakiah, pengurus Idea, Maret 2008.


67
 

II. FAKTOR‐FAKTOR YANG PENDORONG KERELAWANAN PEREMPUAN 

Sejumlah  faktor  yang  mendorong  kerelawanan  perempuan  merupakan  faktor  psikologis 

dan  sifatnya  sangat  personal.  Pencapaian  atas  rasa  nyaman  dan  aman  bagi  diri  sendiri, 

pemenuhan  eksistensi  sebagai  perempuan  sekaligus  ibu  bagi  sosial  merupakan  bagian  dari 

faktor‐faktor  personal  tersebut.  Kebutuhan  atas  rasa  nyaman  dan  aman  bagi  diri  sendiri  di 

tengah  situasi  bencana  merupakan  bagi  setiap  orang  yang  berada  di  tengah  krisis  bencana. 

Namun tidak banyak yang memilih keluar dari situasi ini. Pengalaman Gempa di Bantul juga 

menunjukkan bagaimana relawan komunitas memilih untuk bergerak menolong sesamanya di 

tengah  kepanikan,  tangis  dan  putus  asa  yang  melanda  sebagian  besar  warga  masyarakatnya. 

Dengan  melakukan  sesuatu  yang  bermakna  bagi  sesama  sesungguhnya  relawan  komunitas 

tengah mencari makna dirinya ditengah situasi bencana yang memposisikan manusia kembali 

ke ”titik nol”.  

Dengan  menjadi  relawan  di  komunitasnya,  perempuan  menjadi  subyek  yang  aktif  untuk 

mengetahui informasi mengenai situasi sosial dan alam yang tengah berubah. Perempuan yang 

menjadi  relawan  komunitas  lebih  mudah  untuk  mengadaptasikan  dirinya  sehingga  dia 

terkurangi kerentanannya atas dampak bencana. Potret kerelawanan perempuan di komunitas 

merupakan  potret  yang  berbeda  dengan  potret  ”kepasrahan”  perempuan.  Kisah‐kisah 

kepasrahan  manusia  atas  dampak  bencana  merupakan  kisah  yang  umum  terjadi  di  setiap 

bencana.  Banyak  perempuan  mauun  laki‐laki  yang  masih  terus  menangis,  meratapi 

keadaannya bahkan  tenggelam  dalam  trauma. Potret tengahan dari  bangkit  dari  ke‐pasrah‐an 

adalah  ketika  perempuan‐perempuan  memulai  lagi  usaha‐nya  dan  inilah  cerita  yang  banyak 

terjadi di Bantul. Di  tengah carut marut  dunia  fisik  dan sosial, beberapa  perempuan  memulai 

lagi  geliat  ekonominya.  Sedikit  atau  banyak  usahanya  tersebut  menjadi  inspirasi  bagi  banyak 

perempuan lain untuk bangkit memandirikan dirinya. Sementara itu, dalam jumlah yang lebih 

sedikit  sejumlah  perempuan  bekerja  untuk  kepentingan  komunitasnya.  Mereka  bukanlah 

perempuan  yang  tidak  butuh  makan,  namun  panggilan  hati  mereka  untuk  mengurangi 

68
dampak  lebih  lanjut  dari  bencana  membuat  mereka  terpanggil  untuk  berbuat  sesuatu.  Itulah 

potret sesungguhnya dari ”tidak pasrah”. 

Faktor lain yang mendorong perempuan untuk bergerak acapkali berada di luar kesadaran 

mereka. Mereka menyatakan dengan bahasa sederhana ”kalau tidak perempuan ya siapa lagi,” 

itulah  sebagaimana  dinyatakan  oleh  Ketua  Kantor  Pemberdayaan  Perempuan  Propinsi  DIY. 

Beliau yang  juga adalah kader kesehatan  merasa  kerelawanan  sudah  merupakan  bagian yang 

biasa  di  ”timpa”kan  kepada  perempuan.  Cara  pandang  ini  sebenarnya  berakar  dari  ideologi 

perempuan  sebagai  ibu  rumah  tangga  yang  selalu  di  sosialisasikan  dalam  program‐program 

pokok PKK. Perempuan dibiasakan untuk tidak bisa tutup mata atas realitas sosial, untuk tidak 

berhitung  dengan  besaran  energi  yang  harus  mereka  keluarkan,  untuk  tidak  menuntut 

penghargaan apapun atas keberhasilan kerja sukarela mereka.  

Melalui  proses  ”terbiasa”  menjalankan  kerja‐kerja  pelayanan  masyarakat  perempuan‐

perempuan  relawan  menjadi  tidak  gugup  ketika  harus  melakukan  kerja  kerelawanan  pada 

masa bencana. Meski secara umum situasinya berbeda dengan kondisi keseharian, namun para 

perempuan  ini  tidak  mengalami  banyak  kendala.  Akar  alasannya  adalah  karena  para 

perempuan  ini  terbiasa  untuk  bekerja  dalam  situasi  dimana  tidak  ada  support  dan  dorongan 

yang  memadai  baik  dari  negara  mapun  pejabat  pemerintahan  terkecil.  Mereka  terbiasa 

mengembangkan mekanisme spontanitas dan berinivasi dalam keterbatasan fasilitas. Sehingga 

tidak  mengherankan,  ditengah  kemacetan  birokrasi  pemerintahan  dari  pusat  sampai  dusun, 

para  perempuan  dusun  ini  telah  siap  untuk  memulai  lagi  kegiatan  Posyandu.  Di  Bantul, 

aktivitas  pembangunan  yang  paling  cepat  bangkit  adalah  Posyandu  yang  digerakkan  oleh 

kader‐kader kesehatan yang notabene adalah perempuan‐perempuan relawan. 

69
C. MODAL SOSIAL KERELAWANAN PEREMPUAN 

Menurut Putnam, modal sosial merujuk kepada ciri‐ciri organisasi sosial sepeti jaringan, 

norma  dan  kepercayaan  yang  memfasilitasi  koordinasi  dan  kerjasama  untuk  kepentingan 

bersama  (Putnam  1995,67).  Merujuk  pada  penelitian  mengenai  modal  sosial  dan  gender  di 

Afrika  tahun  1993‐1998  (John  A.  Maluccio,  lawrence  Haddad  and  Julian  May  2003  hal  147), 

penelitian ini menemukan hasil yang serupa. Jaringan sosial dapat diklasifikasi dalam dua tipe : 

the individual’s bound network, di dalamnya terdapat saudara yang terhubung dengan kewajiban 

yang  kuat  berdasarkan  peran  kekerabatan,  dan  the  achieved  network  termasuk  seluruh  kontak 

personal  yang  diperoleh  bukan  melalui  kelahiran  dan  jaring  kekerabatan  melainkan  melalui 

pengalaman.  Di  dalamnya  terdapat  jaring  personal  yang  berbasiskan  pengalaman  lama, 

keanggotaan dalam lembaga dan organisasi berbasis komunitas. Jaring personal tipe kedua ini 

sering  menjadi  dasar  dari  saling  tolong  menolong  yang  berbasis  kesukarelawanan  antar 

individu. 

Dua  tipe  jaringan  di  atas  memenuhi  fungsi  yang  berbeda.  Bound  network  berguna  untuk 

mengurangi  mobilitas  sosial  ke  bawah  ketika  terjadi  kondisi  yang  mengguncang,  sedangkan 

achieved  network  berguna  untuk  mobilitas  sosial  ke  atas.  bound  network  secara  khusus  sangat 

bermanfaat  bagi  perempuan,  yang  mana  seringkali  memikul  beban  atas  situasi  krisis  lebih 

daripada  laki‐laki,  terutama  untuk  krisis  konsumsi.  Namun  fenomena  achieved  network 

meluas  kepada  perempuan,  terutama  perempuan  yang  mempunyai  pekerjaan  di  luar 

komunitasnya  dan  terlibat  pada  organisasi‐organisasi  di  luar  komunitas.  Hasil  penelitian  ini 

masih  menunjukkan  karakter  khas  dimana  perempuan  cenderung  membangun  kontak  sosial 

kepada sesama perempuan, baik dalam komunitasnya maupun di luar komunitasnya. Kontak 

sosial itu bisa diiniasi dari dalam komunitas perempuan maupun dari kelompok perempuan di 

luar  komunitas  yang  memiliki  kontak  di  dalam  komunitas  penyintas.  Sebagai  contoh:  PKK 

Provinsi  DIY  melakukan  kerja  paska  bencana  dengan  membantu  komunitas  perempuan  di  3 

70
Kecamatan di Kabupaten Bantul 50 , perempuan anggota ormas KPI di Dusun Kadisoro meminta 

dukungan  dari  rekan‐rekannya  di  Kabupaten  lain  di  Propinsi  DIY  untuk  membantu 

komunitasnya.  

Di  bawah  ini  adalah  ilustrasi  bagaimana  perempuan  membangun  modal  sosial.  Selain  itu 

ditunjukkan  juga  bagaimana  eksternalitas  berperan  dalam  memupuk  suburkan  modal  sosial 

perempuan.  Pengambilan  kisah  sukses  untuk  tulisan  ini  berbasis  pada  inisiatif  yang 

menunjukkan modal sosial sebagai element utama.  

a. Kerjasama Internal Komunitas 

Kerjasama  internal  komunitas  yang  bersifat  kerelawanan  merupakan  kebudayaan  yang 

lekat  dengan  masyarakat  Jawa,  terutama  pedesaan.  Kerjasama  internal  komunitas  ini  pun 

terdiferensiasi secara gender. Perempuan biasanya bekerjasama untuk urusan domestik seperti 

memasak untuk publik (sambatan/rewang dalam hajatan), kerjasama dalam pertukaran tenaga 

kerja  pertanian,  serta  urusan  afeksi  yang  sifatnya  resiprositas  (menjenguk  orang  sakit, 

menengok orang sakit atau hajatan). Sekalipun kerjasama itu merupakan tradisi, namun negara 

telah melakukan kooptasi dengan dalih partisipasi 51 , semisal laki‐laki membangun gardu ronda 

dan perempuan memasak untuk logistik laki‐laki yang bekerja.  Pola yang tersosialisasi secara 

kultural maupun secara struktural itu begitu membekas menjadi pagar konstruksi perempuan. 

Dengan  dalih  partisipasi  pula  perempuan  dibiasakan  untuk  terlibat  dalam  kegiatan  sosial 

kolektif tanpa mendapat imbalan material, kegiatan ini antara lain posyandu, kader kesehatan, 

PKK.  Buah  baiknya  memang  perempuan  memiliki  akses  untuk  bertemu  dengan  kawan 

sejawatnya, namun ini adalah benih dari kontrol sosial negara terhadap perempuan. 

50
Wawancara dengan Sudjati Sunarto, pengurus PKK Propinsi DIY, sekarang menjadi anggota DPRD
Proponsi DIY, Maret 2008
51
Mengenai kooptasi negara atas komunitas lebih lanjut lihat Bowen, John R (1986), “On the Political
Construction of Tradition: Gotong Royong in Indonesia, The Journal of Asian Studies vol 45, no 3, (May
1986), pp. 545-561. Bisa diakses melalui: www.jstor.org/stable/2056530
71
Penelitian kami menunjukkan bahwa perempuan yang terbiasa dengan kerja sosial kolektif, 

perempuan  yang  terorganisir  dalam  kegiatan  keperempuanan  cenderung  lebih  peka  dan 

tanggap untuk merespon kondisi bencana. Namun kami merasa harus berhati‐hati untuk tidak 

mengambil  kesimpulan  tergesa  bahwa  kepekaan  perempuan  itu  adalah  berkat  konstruksi 

kultur  dan  struktur  yang  tidak  adil.  Bagaimanapun  juga,  kami  lebih  melihat  faktor  blessing  in 

disguise  dalam  kebetulan  itu,  karena  sesungguhnya  gempa  juga  menunjukkan  tanpa  kendala 

kultur  dan  struktur,  secara  natural  perempuan  lebih  bisa  menunjukkan  partisipasi  dalam 

tataran yang lebih luas. 

Produksi  modal  sosial  dalam  komunitas  difasilitasi  oleh  struktur  sosial  dalam  bentuk 

perkumpulan‐perkumpulan sukarela, kegiatan sosial kolektif. Perempuan yang terbiasa terlibat 

dalam  kegiatan  dan  perkumpulan‐perkumpulan  memiliki  kesempatan  yang  lebih  untuk 

bertemu lebih banyak orang dan membangun relasi sosial yang lebih dalam dan menjadi lebih 

terlibat  dalam  kehidupan  publik.  Dalam  relasi  sosial  semacam  ini  perempuan  memupuk 

pengetahuan  mereka  tentang  sistem  sosial  komunitasnya.  Pengetahuan  ini  berguna  sebagai 

dasar  untuk  merespon  kondisi  sosial  yang  berubah  karena  bencana.  Perempuan‐perempuan 

yang  terlibat  dalam  respon  tanggap  darurat  gempa  menyatakan  bahwa  mereka  dengan  cepat 

tanggap  bahwa  keadaan  berubah.  Bencana  yang  mengacaukan  rutinitas  sosial  butuh  disikapi 

dengan  peka  tanggap  sekaligus  tidak  panik.  Argumen  yang  dimunculkan  perempuan‐

perempuan  ini  adalah  ketika  mereka  panik  maka  siapa  yang  akan  menolong  kawan  mereka 

yang  telanjur  panik.  Sejumlah  perempuan  yang  terlibat  dalam  distribusi  bantuan  bencana 

menunjukkan mereka lebih tahu kelompok mana yang lebih rentan dan memerlukan bantuan 

khusus, misal kelompok lansia, kelompok termiskin, dan anak‐anak. 

Dapur  umum  merupakan  contoh  kerjasama  internal  komunitas  yang  paling  tampak  dan 

masif  hampir  di  seluruh  komunitas.  Penelitian  kami  menemukan  dapur  umum 

pembentukannya  bukanlah  mengikuti  semata  naluri  konsumsi  manusia.  Dapur  umum 

pembentukannya  juga  dikonstruksi  oleh  penyintas  untuk  menyikapi  sistem  sosial masyarakat 

yang  tengah  berubah.  Dapur  umum  merupakan  representasi  atas  solidaritas  pada  sesama 

72
anggota komunitas serta meningginya kebutuhan atas rasa aman. Dalam dapur umum terdapat 

pembagian  peran  antar  individu  pembentuknya,  struktur  sosial  dalam  bentuk  yang  paling 

sederhana terbangun dengan keberadaan pemimpin informal dan anggota‐anggota.  

Temuan  kami  menegaskan  bahwa  perempuan‐perempuan  yang  menjadi  pemimpin 

informal di dapur umum adalah perempuan yang terbiasa dengan perkumpulan sukarela dan 

kegiatan  sosial  kolektif.  Pemimpin  informal  ini  lah  yang  biasanya  melakukan  inisiasi 

pembentukan  dapur  umum,  berstrategi  untuk  mendapatkan  bantuan,  mendistribusikan 

bantuan serta melakukan pembagian peran.  

Dapur  umum  secara  struktural  berkait  dengan  keberadaan  posko  tanggap  gempa.  Secara 

umum  posko  ini  tersegregasi  dalam  satuan  wilayah  yakni:  dusun,  RT,  dasawisma.  Posko 

menjadi  ruang  kolektif  dimana  aktivitas  keseharian  baik  istirahat,  rapat,  belajar, 

mengumpulkan  dan  mendistribusikan  bantuan,  merawat  orang  sakit  termasuk  di  dalamnya 

aktivitas  memasak  dalam  dapur  umum.  Tidak  terpisahnya  posko  tanggap  gempa  dan  dapur 

umum  melumernya  ruang  segregasi  antara  ruang  laki‐laki  dan  ruang  perempuan.  Konstruksi 

ruang ini memungkinkan perempuan, anak‐anak dan kelompok marginal lain yang tak pernah 

terlibat dalam pembuatan kebijakan untuk terlibat dan didengar suaranya.  

Dapur  umum  sebagai  siasat  partisipasi  perempuan  menemukan  peran  vitalnya  ketika 

perempuan  bisa  terlibat  dalam  pembuatan  kebijakan  kolektif  dan  memastikan  suaranya 

didengar.  Sejumlah  perempuan  yang  mengikuti  rapat  di  posko  tanggap  gempa  menceritakan 

bahwa  mereka  menemukan  suasana  hangat  di  mana  bapak‐bapak  mendengarkan  suara 

mereka, serta menghitung peran vital ibu‐ibu dalam menjaga keberdayaan komunitas melalui 

keberadaan dapur umum.  

Secara  umum  dapur  umum  menunjukkan  menguatnya  dimensi  bonding  social  capital. 

Kebutuhan yang membesar atas rasa aman mendorong solidaritas internal komunitas. Mereka 

yang  berkumpul  bersama  dalam  dapur  umum  mengaku  tak  lagi  ada  batas  satu  sama  lain, 

mereka  berbagi  sumber  daya  yang  masih  dipunya  di  rumah  tangganya  untuk  kebutuhan 

73
bersama.  Tipologi  modal  sosial  Putnam  yang  menekankan  pada  pembangunan  jaringan 

internal  menunjukkan  ditengah  menguatnya  bonding  social  capital,  bridging  social  capital  tidak 

berkembang  secara  sama.  Solidaritas  internal  sekaligus  menjadi  pembatas  bagi  solidaritas 

ekstenal. Kasus ini ditunjukkan dengan minimnya kapasitas kelompok yang tersatukan dalam 

dapur  umum  ataupun  posko  tanggap  gempa  untuk  berbagi  sumber  daya  yang  dimilikinya 

dengan  kelompok  lainnya.  Mereka  berkecenderungan  untuk  menumpuk  bantuan  demi 

memastikan  keamanan  hajat  hidup  kelompoknya  dalam  jangka  panjang.  Meski  demikian 

fenomena  ini  tidaklah  rata,  penelitian  kami  juga  menemukan  perempuan‐perempuan  yang 

bersedia membagikan bantuan yang banyak ke RT atau dusun lain.  

b. Potret Kerjasama Komunitas Perempuan Dengan Eksternalitas 

Ketika gempa, penyintas merasa kehilangan kapasitas untuk mengatasi keadaan abnormal. 

Meski demikian inovasi untuk beradaptasi maupun siasat untuk keluar dari situasi krisis sering 

tidak  tersolusikan  oleh  pemimpin  formal.  Banyak  dari  pemimpin  formal  yang  justru  patah 

menghadapi  kondisi  yang  di  luar  hukum  kebiasaan.  Dalam  situasi  seperti  ini,  eksternalitas 

dengan lebih mudah masuk ke dalam komunitas. Agent‐agent pembangunan, baik pemerintah 

maupun organisasi non pemerintah lebih mudah diterima. Namun sayang, dalam penanganan 

gempa  bumi  Jogja,  pemerintah  tidak  sigap  dalam  membuat  kebijakan  yang  memudahkan 

rakyatnya untuk mengambil pilihan tindakan keluar dari situasi krisis. Bahkan aparat sebagai 

sebuah sistem birokrasi tidak bekerja dengan peka dan tanggap. 

Potret umum kerjasama kelompok perempuan dengan eksternalitas  

Catatan  menarik  justru  ditorehkan  masyarakat  sipil  baik  sebagai  kumpulan  individu  dan 

pada khususnya NGO (termasuk didalamnya LSM lokal maupun International NGO). Mereka 

dengan  cepat  memobilisasi  sumber  daya.  Mereka  tak  jarang  memainkan  jaringan  non  formal 

untuk  menembus  sungkut  sengkarut  birokrasi  yang  turut  diterpa  gempa.  Pernyataan  ini 

dikuatkan oleh Johannes De Massinus Arus manager Genassist CRWCC, bahwa jalur informal 

melalui masyarakat cenderung lebih efektif selain juga mematahkan rantai korupsi oleh aparat 

74
formal.  Pernyataan  ini  dikuatkan  oleh  Rommy  Heryanto,  Staff  Yayasan  Ranissa  Jogjakarta 

bahwa  membangun  kontak  dengan  komunitas  perempuan  di  desa,  terutama  yang 

terkonsolidasi dalam kader kesehatan dan POSYANDU lebih efektif dibandingkan membangun 

kontak  dengan  aparat  birokrasi  setempat.    Menurut  Rommy,  para  kader  kesehatan  tersebut 

memiliki  data  penduduk  yang  ter‐up  date  secara  rutin  dan  mereka  juga  mengetahui  dengan 

lebih detil kondisi masing‐masing rumah tangga. 

Memang kondisi sinergi antara NGO dengan masyarakat, terutama perempuan dikuatkan 

juga  dengan  melonggarnya  norma  pembagian  peran  berbasis  gender  dalam  situasi  paska 

bencana.  Pelonggaran  itu  dibuktikan  dengan  banyaknya  perempuan  yang  muncul  ke 

permukaan  dan  terlibat  dalam  pengambilan  kebijakan  publik.  Namun  pelonggaran  itu  bukan 

fenomena  yang  rata.  Dalam  beberapa  kasus  advokasi,  justru  sejumlah  perempuan  menuai 

badai ketika berusaha menembus ruang pengambilan kebijakan publik yang misoginis. Semisal 

pengalaman  advokasi  hak  dana  rekonstruksi  yang  diperjuangkan  oleh  Siti  dan  Endang 52 . 

Ketika  mereka  berdua  berusaha  untuk  terlibat  dalam  rapat‐rapat  kelompok  paksa,  akses 

informasi  kepada  mereka  bahkan  ditutup  dan  mereka  menerima  hujatan,  kecaman  dan 

ancaman.  Upaya  mereka  berdua  yang  tidak  secara  penuh  berhasil  melakukan  advokasi 

kebijakan  justru  merupakan  potret  patriarki  yang  masih  sangat  kuat  melampaui  kapasitas 

perempuan untuk bergerak secara individual. 

 Dalam temuan kami partisipasi perempuan di dalam ruang pengambilan kebijakan formal 

tidak  terjadi  dengan  otomatis.  Bahkan  tidak  mudah  terjadi  bila  hanya  diserahkan  kepada 

komunitas lokal. Ruang pengambilan kebijakan formal identik dengan ruang ”organisasi laki‐

laki.” Perempuan secara kebiasaan dikandangkan  dalam  ruang  organisasi  perempuan  semisal 

PKK,  Dasawisma,  pengajian  ibu‐ibu,  kader  Yandu,  kader  kesehatan  dan  tidak  diberi  ruang 

yang  sama  untuk  masuk  ke  ruang  organisasi  ”laki‐laki.”  kalaupun  ada  sejumlah  perempuan 

yang terlibat dalam pengambilan kebijakan formal, mereka tidak diberi hak yang sama untuk 

52
Penjelasan yang lebih mendatail tentang Siti dan Endang telah dituliskan dalam bab III, sub bab “Yang
Tercecer dari Pembangunan Kembali Rumah” halaman 47. Profil Endang Maryani diakses melalui
wawancara serta Profil dalam Buletin Independen halaman 4, edisi III tahun 2007.
75
bersuara.  Disitulah  peran  NGO  menjadi  penting  dalam  mendorong  meningkatnya  partisipasi 

perempuan  sekaligus  membuka  celah  bagi  partisipasi  perempuan.  Siasat  inilah  yang  tidak 

selalu  dimainkan  oleh  NGO.  Menurut  Deddy  Purwadi,  Koordinator  Lapangan  Jejaring  Ford 

Foundation  (JFF) untuk penanganan gempa Jogja –sebuah jaringan yang bekerja di lima dusun 

pasca  gempa  dan  beranggotakan  12  NGO‐,  LSM  yang  tidak  secara  khusus  menegaskan  diri 

sebagai  LSM  perempuan  masih  lemah  dalam  memainsteaming‐kan  gender  ke  dalam 

programnya.  Kapasitas  lembaga  untuk  mengarusutamakan  gender  ke  dalam  implementasi 

program  juga  dipengaruhi  oleh  sosok  individu  pemegang  program  maupun  community 

organizer.  Biasanya  pemegang  program  dan  community  organizer  perempuan  relatif  lebih 

peka  terhadap  permasalahan  perempuan  yang  mereka  temui  di  lapangan  dibandingkan  laki‐

laki.  

Tekanan  dari  luar,  petunjuk  maupun  intervensi  seringkali  diperlukan  dan  tentu  saja 

dukungan  sumber  daya  finansial,  teknis  serta  dukungan  kebijakan/peraturan  juga  sangat 

penting.  Dalam  situasi  ketika  perempuan  terkendala  secara  legal  maupun  kultural  dalam 

berpartisipsi,  NGO  memainkan  peran  sebagai  pembuka  katup,  meski  kunci  dari  terbukanya 

katub  terdapat  dalam  komunitas  itu  sendiri.  NGO  bisa  melakukan  lobby‐lobby  kepada  elite 

lokal  dan  mengorganisir  kelompok  perempuan.  Sehingga  partisipasi  perempuan  dalam 

kelompok  merupakan  kunci  untuk  meningkatkan  kontrol  perempuan  terhadap  sumber  daya, 

sekaligus memastikan mendapatkan manfaat dari partisipasinya. 

Perempuan  dimungkinkan  juga  untuk  membuat  jaringan  formal  dan  informal  untuk 

menanggulangi  kondisi  yang  mengguncang  dan  juga  untuk  memastikan  bahwa  pandangan 

mereka  diakomodasi  terutama  apabila  tata  aturan  formal  membatasi  partisipasi  mereka. 

Keluarga  dan  jaringan  perkawanan  mempunyai  catatan  sejarah  sebagia  penyedia  jaminan 

sosial,  namun  memang  tidak  selalu  memadai  untuk  golongan  yang  terlampau  miskin,  dalam 

kondisi  alam  yang  mengguncang  maupun  terdapat  perubahan  luas  yang  meluluhlantakkan 

lembaga  penyedia  perlindungan  tersebut.  Perempuan  yang  tidak  menjadi  anggota  formal 

dalam  organisasi  bisa  jadi  menggunakan  cara  informal  untuk  memastikan  terpenuhinya 

76
kebutuhan  mereka,  misal  dengan  jalan  menyalurkan  pandangan  mereka  melalui  suaminya 

maupun saudara lelakinya, sebagaimana juga memastikan mendapat informasi dari mereka. 

Pengalaman  JFF  mencatat  sebuah  pengalaman  menarik  dimana  sebagian  besar  organisasi 

yang  masuk  dalam  dusun  mengambil  perempuan  sebagai  beneficiaries,  kader,  anggota.  Rifka 

Annissa  sebagai  LSM  yang  menaruh  perhatian  pada  masalah  perempuan  mengambil 

perempuan  sebagai  kader,  isu  pokok  yang  mereka  tangani  adalah  kekerasan  berbasis  gender 

dan  kesehatan  reproduksi.  Begitupun  ASPPUK  sebagai  asosiasi  perempuan  pengusaha  kecil 

mengambil kelompok perempuan usaha kecil, mikro sebagai anggotanya. Perhimpunan IDEA 

meski  tidak  secara  khusus  menempatkan  perempuan  sebagai  anggota  kelompok  namun 

mereka  berusaha  mengambil  komposisi  gender  yang  rata  dalam  kelompok  belajar  anggaran. 

KPI Wilayah DIY di satu dusun yang menjadi area programnya menegaskan affirmative action 

kepada  perempuan  sebagai  beneficiaries  program  kredit  rumah.  Sementara  LSM  lain  yang 

bergerak  di  program  kredit  rumah  tidak  menegaskan  mengambil  perempuan  sebagai 

benefiaries. 

Ketika  LSM  secara  masif  dan  terkoordinasi  masuk  dalam  dusun  dengan  mengambil 

perempuan  sebagai  subyek  program  terdapat  perubahan  komunitas  dalam  memandang 

perempuan.  Pada  tahap  awal,  perempuan  mengalami  kegamangan  karena  harus 

menegosiasikan  aktivitas  barunya  kepada  suaminya.  Bahkan  beberapa  mengalami  konflik 

peran  gender.  Siasat  yang  mereka  lakukan  untuk  mendapatkan  hak  berkumpul  biasanya 

dengan  meminta  tolong  peer  groupnya  untuk  menjemput  sebelum  berkumpul  atau  meminta 

tolong  community  organizer  LSM  untuk  bertemu  dengan  suaminya.  Perempuan‐perempuan 

yang  terlibat  dalam  kelompok  mengalami  penambahan  kapasitas  dalam  sejumlah  isu 

perempuan. Bahkan sejumlah perempuan yang menjadi beneficiaries program rumah mengaku 

mendapatkan affirmasi dari suaminya. Suami mereka bersedia untuk berganti menjaga anak di 

rumah.  Ketika  kami  melakukan  FGD,  mereka  bercerita  dengan  penuh  canda  bahwa  suami 

mereka sekarang jauh lebih pengertian dalam pembagian kerja rumah tangga karena sekarang 

mereka melihat perempuan juga bisa mencari hutangan untuk membangun rumah. Tentu saja 

77
bukan  sekadar  hutang/kredit  rumah,  namun  semenjak  perempuan  terlibat  dalam  aktivitas 

sosial mereka memiliki akses informasi atas sejumlah kebijakan lebih daripada suaminya. 

Dari Guncangan Ekonomi Menuju Lembaga Keuangan Perempuan 

Ketika  perempuan  secara  sosial  maupun  legal  terkendala  dalam  kepemilikan  aset, 

semisal  tanah,  rumah.  Maka  perempuan  terpaksa  mengumpulkan  aset  jenis  yang  lain  dan 

menginvestasikan bentuk lain dari modal. Salah satu bentuknya adalah modal sosial, termasuk 

di  dalamnya  adalah  jaringan  yang  meningkatkan  kepercayaan,  kapasitas  untuk  bekerja 

bersama, akses pada peluang dan pertukaran, jaringan keselamatan informal,  dan keanggotaan 

dalam  organisasi  (Chambers  and  Conway  1992,  Scoones  1998,  Devereux  2001;  Adato  and 

Meinzen  –Dick  2002  dalam    Quisumbing,  2003  hal  139).  Mekanisme  utama  yang  sering 

digunakan  oleh  perempuan  untuk  meningkatkan  statusnya  adalah  bekerja  dalam  kelompok 

melalui program dari luar komunitas. Jaringan dan aksi kolektif yang dihasilkan oleh kelompok 

dikenali  sebagai  sebagai  aset  itu  sendiri.    Modal  sosial  merupakan  aset  dimana  perempuan 

tidak  terugikan  atau  malah  mendapatkan  manfaat.  Microfinance  bisa  jadi  merupakan  tipe 

program  yang  paling  dikenali  dijalankan  oleh  kelompok  perempuan.  Tidak  jauh  berbeda 

dengan  microfinance,  Lembaga  keuangan  perempuan  (LKP)  yang  dikembangkan  pada 

kelompok  perempuan  menemukan  keberhasilannya  membangun  ekonomi  kelompok 

perempuan penyintas gempa. 

Lembaga keuangan perempuan (LKP) yang dimaksud disini adalah lembaga keuangan 

yang  diinisiasi  di  5  dusun  di  Bantul.  LKP  merupakan  sebuah  kerjabersama  antara  kelompok 

perempuan  di    5  pedusunan  dengan  ASPPUK.  Akses  terhadap  modal  dan  akses  terhadap 

perbankan  merupakan  problem  mendasar  yang  dikeluhkan  oleh  perempuan  yang  ingin 

bangkit  dari  keterpurukan  ekonomi  akibat  gempa.  Problem  tersebut  bukan  hanya  problem 

yang terjadi paska bencana namun merupakan problem mendasar perempuan usaha mikro dan 

kecil  yang  berpangkal  dari  kebijakan  peminjaman  modal  dengan  agunan  yang  tak  terjangkau 

78
perempuan  usaha  kecil  menengah.  Solusi  yang  dibangun  oleh  ASPPUK  adalah  membangun 

lembaga  keuangan  alternatif  yaitu  Lembaga  Keuangan  Perempuan.  Meskipun  permasalahan 

permodalan  merupakan  permasalahan  mendasar,  namun  LKP  dikembangkan  dengan  konsep 

yang berbeda dibandingkan lembaga keuangan lain seperti bank maupun lembaga perkreditan 

yang lebih terfokus pada  penyediaan  modal. Menurut  Yuni  Pristiwati, sekjend  ASPPUK, LKP 

bukanlah  alternatif  atas  modal  namun  dalam  rangka  membangun  ekonomi  perempuan  agar 

bisa menjadi amunisi bagi gerakan perempuan.  

Sebagaimana  konsep  Gramien  Bank  yang  dikembangkan  melalui  peer  group  lending 53 , 

LKP  juga  dikembangkan  melalui  kelompok  perempuan  sebaya  yang  tinggal  bersama  dalam 

satu  dusun.  LKP  dibangun  dengan  berpondasikan  relasi  sosial  dan  jaringan  yang  telah 

terbangun diantara para perempuan dalam satu dusun. Perempuan dalam satu dusun biasanya 

telah  mengenal  baik  siapa  yang  menjadi  kawan  sebaya  mereka  serta  bagaimana  karakter 

personal  serta  karakter  sosial  ekonominya.  LKP  dijalankan  dengan  menggunakan  sistem 

tanggung  renteng,  sebuah  model  risiko  yang  ditanggung  secara  kolektif  dan  telah  banyak 

diujicobakan  dalam  lembaga‐lembaga  perempuan,  dengan  mendasarkan  pada  kapasitas 

kelompok  dalam  membangun  ’trust’  sebagai  modal  dasarnya.  Karenanya  trust  diantara 

anggotanya  berperan  penting  sebagai  pelumas  kinerja  LKP.  Dalam  kondisi  minim  modal 

ekonomi, maka siasat yang bisa ditempuh perempuan adalah dengan berjejaring dalam sistem 

tanggung renteng, dimana mereka dapat menjaminkan modal sosial sebagai pengganti jaminan 

keuangan. 

Dalam  membentuk  Lembaga  Keuangan  Perempuan,  syarat  yang  dibutuhkan  yakni: 

perempuan  yang  terorganisir  baik  secara  fisik  maupun  solidaritas  serta  uang  kolektif  yang 

dikumpulkan dari setiap anggotanya. Setiap kelompok terdiri dari sekitar sepuluh perempuan 

yang  saling  mengenal  satu  sama  lain,  mereka  rata‐rata  memiliki  latar  belakang  usaha  yang 

tidak berbeda. Setelah membentuk struktur kepengurusan sederhana dengan pembagian peran 

diantara mereka. Selain itu juga menetapkan waktu pertemuan serta code of conduct organisasi. 

53 Yunus, Muhammad, dalam http;//www.grameen.com
79
Dengan  adanya  code  of  conduct,  maka  terdapat  sistem  carrot  and  stick  yang  diterapkan.  Bagi 

anggota  yang  menetapi  kesepakatan  dia  mendapat  keuntungan,  sedangkan  bagi  yang  tidak 

akan mendapat hukuman. 

Melalui  kelompok‐kelompok  ini  ASPPUK  bukan  hanya  menggulirkan  pinjaman  tanpa 

bunga  saja,  namun  juga  membekali  dengan  pelatihan‐pelatihan,  pembukaan  akses  jaringan 

serta  akses  pasar.  Komunitas  yang  termobilisasi  dengan  modal  sosial  yang  mewujud  dalam 

LKP  dengan  LSM  sebagai  influential  intermediary  lebih  efektif  dalam  menghadirkan  layanan 

daripada  komunitas  itu  sendiri.  Kerjasama  dengan  lembaga  lain  menghilangkan  kemacetan 

komunitas  dalam  menggerakkan  sistem  sosial  mereka,  namun  bukan  berarti  semua  kendala 

teratasi  dengan  kerjasama  antara  komunitas  dengan  LSM.  Secara  umum,  kesulitan  yang 

dialami dalam membangun LKP  yakni : 54

1. Tidak mudah untuk mengajak masyarakat untuk berkelompok karena terdapat asumsi 

pragmatis  bahwa  berkelompok  adalah  identik  dengan  pinjaman.  Problem  ini  identik 

dengan ketidaksabaran dalam pemetikan hasil usaha berkelompok yang membutuhkan 

proses. 

2. Perlu  waktu  untuk  membangun  kepercayaan  masyarakat  miskin  agar  bersedia 

mengumpulkan uang secara swadaya 

3. Dalam membangun LKP diperlukan pengorganisasian  yang  kuat  sebagai  upaya  untuk 

terus menerus memompa motivasi bersama.  

4. LKP  membutuhkan  pengelolaan  manajemen  yang  baik,  sehingga  dibutuhkan  waktu 

untuk  menemukan  perempuan  yang  jujur  dan  dapat  dipercaya  untui  dilatih 

keterampilan pengelolaan LKP. 

Selama  satu  tahun  bekerja  bersama  dengan  kelompok  perempuan  penyintas  gempa, 

ASPPUK  menemukan  catatan  keberhasilan  dengan  terbentuknya  5  buah  LKP  di  5  dusun. 

54 Wawancara dengan Yuni Pristiwati, sekjend Asppuk


80
Dari  hasil  wawancara  dan  FGD  kami,  perempuan‐perempuan  itu  merasa  teruntungkan 

dengan aktivitas kelompok dalam LKP. Indikator keberhasilan pengorganisasian kelompok 

perempuan ini antara lain dengan munculnya: 

1. Munculnya  empati,  kesadaran  kritis,  kerelaan  untuk  berkorban,  solidaritas  dalam 

wujud kesediaan tanggung renteng. 

2. Kesedian untuk meluangkan waktu. Dengan bersedia untuk  datang dalam pertemuan 

kelompok, hadir dalam pelatihan, 

3. Kesediaan  untuk  berbagi  pengalaman  pelatihan:  pelatihan  usaha,  pembukuan, 

pembuatan produk 

4. Kesediaan untuk berbagi materi dalam wujud iuran, terutama untuk iuran pokok. 

Argumen  yang  ingin  dibangun  dalam  tulisan  ini  adalah  agen‐agen  eksternal  berperan 

sebagai pembuka keran modal sosial melalui mobilisasi dan pengorganisasian. Konstruksi peer 

group  (rekan  sebaya)  ataupun  organisasi  sosial  yang  dikawal  oleh  external  agency 

memungkinkan  terjadinya  pembesaran  ”trust”,  interaksi  positif  dan  jejaring  di  dalam 

komunitas.  Pengawalan  yang  dilakukan  oleh  eksternal  agency  mendorong  bonding  social 

capital untuk bekerja menuju tujuan bersama dalam wujud aksi kolektif. Dimensi linking social 

capital juga terfasilitasi dengan keberadaan masyarakat pasca bencana yang cenderung terbuka 

pada  hal  baru  dan  agen‐agen  eksternal.  Namun  memang  dimensi  bridging  social  capital 

cenderung  tidak  mengalami  pembesaran  yang  berarti.  Hal  ini  dimungkinkan  karena  secara 

umum  kerja  tanggap  bencana  tersegregasi  dalam  area  geografis  pedusunan  atau  mengambil 

kelompok dengan karakter yang sama misal perempuan, kelompok usaha, kelompok kesenian. 

Akibatnya tidak muncul aksi kolektif ataupun pembangunan jaringan diantara kelompok yang 

secara geografis berdekatan maupun kelompok yang berbeda karakteristik. 

81
BAB V
CATATAN DAN KESIMPULAN
 

1. Penghargaan Itu Barang Yang Mahal 

Dalam  uraian  di  bab‐bab  sebelumnya,  bentuk  dan  model  kerelawanan  perempuan 

menunjukkan  serangkaian  strategi  untuk  mempertahankan  hak akan hidup  yang  bermartabat 

setelah  bencana.  Ada  banyak  motif  yang  nampak,  mulai  dari  kebutuhan  untuk 

mempertahankan  kehidupan  dalam  jangka  pendek  seperti  pada  kasus  dapur  umum,  hingga 

berbagi  dukungan  untuk  kehidupan  yang  lebih  baik  seperti  dalam  model  trauma  healing. 

Begitu  juga  dalam  cara  yang  dikembangkan,  mulai  dari  cara  yang  personal  dan  sarat  dengan 

persaudarian  (sisterhood)  sebagaimana  nampak  pada  dapur  umum,  hingga  harus 

menggunakan  cara  yang  frontal  dan  konfliktual  seperti  dalam  advokasi  korupsi  dana 

pembangunan kembali rumah.  

Terhadap  keragaman  pola  ini,  persoalan  pengakuan  dan  penghargaan  terhadap  kerja 

kerelawanan  perempuan  adalah  salah  satu  isu  kunci  dalam  kajian  feminis  tentang  bencana. 

Bradshaw  mengatakan,  bahwa  walaupun  perempuan  juga  terlibat  dalam  kerja  darurat  dan 

bersih‐bersih  setelah  bencana,  seperti  halnya  laki‐laki,  kerja  perempuan  mendapatkan 

penghargaan yang lebih terbatas 55 . Sebagai contoh, di Nicaragua, hanya sebagian kecil laki‐laki 

yang mengaku bahwa perempuan tidak terlibat dalam aktivitas pada masa darurat, sementara 

beberapa  menilai  bahwa  perempuan  tidak  terlibat  dalam  seluruh  tahapan  pasca  bencana. 

Sebagian  yang  lain  mengakui  bahwa  perempuan  melakukan  sesuatu,  tetapi  mereka  tidak 

memberikan  apresiasi  atas  kontribusi  mereka.    Sedangkan  ketiadaan  pengakuan  terhadap 

peran  tradisional  peremuan  bisa  dimaknai  bahwa  pengakuan  ini  masih  menganggap  bahwa 

perempuan hanya sekedar membantu laki‐laki, daripada sebagai bentuk kontribusi perempuan 

55
Bradshaw (2004), “Socio-Economic Impacts of natural Disasters : A Gender Analysis”,
Manuales, Serie 32, GTZ-Cooperation Italiana-Naciones Unidas-CEPAL-Sustainable
Development and Human Settlements Division, Women and Development Unit, Santiago-Chile,
May

82
ketika  berhadapan  dengan  krisis.  Padahal,  kebanyakan  perempuan  yang  diwawancarai 

mengatakan  bahwa  mereka  memainkan  peran  penting  dalam  bersih‐bersih  dan  dalam 

menyediakan makanan, sesegera setelah bencana terjadi. Tetapi menurut mereka, kebanyakan 

laki‐laki tidak menghargai kerja dan kontribusi ini. 

Ia  juga  menulis  bahwa  kebanyakan  laki‐laki  mengakui  bahwa  peran  utama  yang 

dimainkan  perempuan  hanyalah  ketika  mereka  melakukan  peran  non  tradisional.  Sementara 

itu,  Garcia  mengatakan,  bahwa  persepsi  kultural  terhadap  peran  gender  seringkali  membuat 

kerja  perempuan  menjadi  tidak  nampak,  dan  bahkan  menjadi  sering  didiskriminasi  dalam 

program  pasca  bencana.  Dalam  banyak  hal,  ia  mengutip  yang  dikatakan  Fothergill,  bahwa 

biarpun  kontribusi  perempuan  sangatlah  berarti,  mereka  tetap  dianggap  tidak  sah  dan  tidak 

resmi.  

Lantas,  bagaimanakah  penghargaan  terhadap  kerelawanan  perempuan  dalam  situasi 

pasca  bencana  di  Bantul.  Beberapa  responden,  yang  terdiri  dari  perwakilan  perangkat 

pemerintah  di  tingkat  lokal,  anggota  legislatif  hingga  beberapa  aktivis  LSM    yang  ditemui 

dalam riset ini mengatakan bahwa kerelawanan perempuan ini memang nampak dengan jelas. 

Hampir semuanya juga mengakui bahwa beberapa kerelawanan ini, dan terutama nampak jelas 

dalam  kasus  dapur  umum,  sangatlah  berarti  dalam  menyelamatkan  kehidupan  komunitas. 

Namun,  pada  tingkat  penghargaan,  adalah  menarik  untuk  mengkaji  bahwa  sebagian 

responden mengatakan bahwa ini adalah bentuk kerelawanan yang lumrah, natural dan sudah 

seharusnya dilakukan oleh perempuan. Lontaran seperti ’perempuan sudah seharusnya memasak’, 

atau ’memang apa istimewanya dengan dapur umum?’, beberapa kali ditemui peneliti dalam proses 

wawancara.  Kesimpulan  ini  juga  diperkuat  dalam  FGD  yang  melibatkan  perwakilan 

komunitas, NGO dan pemerintah daerah.  

Ini  menunjukkan  bahwa    peran  dan  sekaligus  juga  kerelawanan  perempuan  yang 

dengan  jelas  menampakkan  bentuknya,  ternyata  tak  selalu  diiringi  dengan  pengakuan  yang 

setimpal  sebagai  balasannya.  Padahal,  urgensi  sekaligus  nilai  dari  kerelawanan  perempuan 

untuk kerja reproduktif ini sungguh besar dan sangat berarti, sebagaimana diurai dalam bab 3 

83
laporan  ini.  Dan  dalam  situasi  kerusakan  dan  kehancuran  infrastruktur  seperti  sumber  air 

bersih dan tempat penyimpanan makanan setelah bencana, dapatlah diasumsikan bahwa tugas 

rumah  tangga  yang  dilakukan  perempuan  menjadi  lebih  sulit.  Ini  juga  sekaligus 

mengakibatkan  jumlah  jam  yang  dihabiskan  perempuan  juga  menjadi  jauh  lebih  panjang. 

Belum  bila  memperhitungkan  bertambahnya  kesulitan  karena  kerusakan  sarana  pendukung, 

seperti rusaknya jalan ke sumber air 56 . Dan sebagaimana kondisi sebelum bencana dimana kerja 

reproduktif  ini  seringkali  tidak  dihargai,  demikian  pula  halnya  yang  terjadi  dalam  situasi 

setelah  bencana.  Pandangan  yang  melihat  bahwa  tugas  ini  memang  sudah  seharusnya 

dilakukan perempuan, sebagai bagian dari peran gender yang diemban, membuat penghargaan 

akan kontribusi perempuan dalam aktivitas reproduktif menjadi tidak nampak. Padahal tanpa 

itu, keberlanjutan kehidupan komunitas akan menjadi taruhannya.  

Pemahaman  bahwa  perempuan  hidup  dalam  situasi  yang  tidak  aman  dan  secara 

otomatis  juga  menjadi  lebih  rentan  terhadap  bencana,  seringkali  juga  diikuti  oleh  stereotype 

atau anggapan yang minor dalam memandang perempuan ketika menghadapi bencana. Tetapi 

justru kebalikannya, pembagian kerja secara  seksual  bisa  mendorong perempuan  unuk  secara 

proaktif  mengambil  tindakan  untuk  menyelamatkan  kehidupan.  Dalam  situasi  dimana 

komunitas  terkena  bencana,  kerja  kerelawanan  perempuan  yang  tidak  tampak,  justru  banyak 

membantu dalam mengorganisir masyarakat untuk perubahan sosial. Kontribusi yang mereka 

berikan  pada  pendapatan  keluarga  adalah  sangat  berarti  ketika  keluarga  dihantam  oleh 

bencana dan harus memulai segala sesuatunya dari awal. Di tingkat domestik, kerja perempuan 

mulai  dari  memasak,  mencuci,  menjahit,  mengurus  kebun  dan  mengurus  rumah  adalah  kerja 

yang  sangat  penting.  Tetapi,  apakah  perempuan  menjadi  korban  ataukah  menjadi  pahlawan 

dalam  situasi  bencana,  akan  ditentukan  ketika  ketrampilan,  pengetahuan,  kapasitas  dan 

jaringan  perempuan  diperhitungkan.  Dan  sayangnya,  ini  tak  selalu  didapatkan  para 

perempuan ketika bencana terjadi di Bantul.   

56 Bradshaw (2004), op.cit. 
84
Dan  begitu  juga  di  ranah  komunitas,  minimnya  penghargaan  di  beberapa  tempat 

bahkan  nampak  lebih  jauh  dalam  resistensi  terhadap  bentuk‐bentuk  kerelawanan  perempuan 

di  ranah  ini.    Alih‐alih  berharap  akan  adanya  akses  berupa  keterlibatan  dalam  ruang‐ruang 

komunitas  pasca  bencana,  kondisi  di  beberapa  tempat  justru  menunjukkan  kuatnya  dominasi 

kultur  dan  kuasa  patriarkhi  dalam  ruang‐ruang  publik  yang  formal.  Pengacuhan,  

ketidakterlibatan  dan  bahkan  intimidasi  menjadi  respon  yang  diterima  beberapa  perempuan 

yang  mencoba  menerobos  kebuntuan  dan  sekat  gender  dalam  ruang‐ruang  publik,  seperti 

nampak dengan kuat dalam kasus Pokmas.  

2. Modal Sosial Bernama Kerelawanan

Walaupun  berhadapan  dengan  isu  minimnya  penghargaan,    tetapi  riset  ini 

menunjukkan  begitu  tanggap  dan  bersikukuhnya  perempuan  dalam  melakukan  kerja 

kerelawanan.  Spirit  altruisme  untuk  berbagi  dan  saling  dukung  dalam  situasi  krisis  terlontar 

dari  banyak  perempuan  yang  menjadi  responden  riset  ini.  Dan  lebih  dari  yang  diperkirakan 

pandangan  kaum  misoginis,  jaringan,  ruang  dan  pola  hubungan  yang  dimiliki  perempuan 

ternyata  bekerja  dengan  cepat  dan  efektif  ketika  gempa  terjadi.  Dalam  situasi  kemandegan 

sistem  sosial  yang  ada,  jaringan  informal  dan  tidak  nampak  ini  justru  bekerja  dengan  sangat 

cepat dan juga terhubung dengan pihak yang cukup luas. Jaringan ini bekerja dan melengkapi 

ruang‐ruang formal perempuan yang sudah ada sebelumnya, seperti PKK dan posyandu.   

    Sebagaimana   nampak  dalam  bab  4,  ruang‐ruang  produksi  kerelawanan  perempuan 

menunjukkan  beragamnya  tipe  modal  sosial  yang  terbangun  dan  bekerja  dalam  situasi 

bencana. Walaupun ada beberapa perkecualian seperti nampak dalam kasus dapur umum yang 

hanya  menjadi  kepanjangan  dapur  domestik,  modal  sosial  baik  dari  tipologi  bonding,  bridging 

dan  linking  bekerja  dengan  baik  di  beberapa  dapur  umum  sekaligus  posko  yang  dibangun 

masyarakat.   

85
  Begitu  juga  dalam  kerelawanan  ketika  fase  rehabilitasi‐rekonstruksi.  Di  tengah 

guncangan gempa bagi sektor produktif, dukungan dan keterikatan sesama perempuan usaha 

kecil menunjukkan dimensi bonding yang kuat, dan begitu juga aspek linking dengan aktor luar 

bernama LSM yang bekerja untuk pemulihan ekonomi. Namun, dimensi bridging dalam kasus 

ini tidak nampak dengan kuat, karena tarikan berupa keengganan dan ketiadan dukungan dari 

warga lain yang bukan pengrajin dan bahkan sebagian pengrajin dengan karakter usaha yang 

berbeda, ditemui dalam riset ini.  

  Dalam fase yang sama, kerelawanan perempuan dalam program pembangunan kembali 

rumah juga menunjukkan aspek linking yang mulai terbangun. Peran ini sebetulnya krusial di 

tengah  tekanan  yang  diterima  perempuan,  tetapi  pengelolaan  dukungan  yang  tidak  cukup 

terkelola membuat masalah kunci yang dihadapi tidak terselesaikan.  

  Beberapa  ilustrasi  dan  analisis  yang  diurai  dalam  bab  sebelumnya  menunjukkan 

beberapa  keberhasilan  intervensi  dan  pengelolaan  modal  sosial,  dan  sekaligus  juga  beberapa 

kegagalan  yang  masih  nampak.  Ke  depan,  pihak‐pihak  yang  bekerja  dalam  situasi  bencana 

tampaknya perlu menggali lebih dalam kajian tentang dimensi modal  sosial dalam merespon 

kerelawanan  perempuan.  Pelajaran  dari  beberapa  keberhasilan  menunjukkan  bahwa 

kerelawanan perempuan adalah modal berharga untuk penyelamatan komunitas dalam situasi 

krisis. Tetapi pelajaran dari kegagalan pengelolaan menunjukkan bahwa tantangan dan kendala 

bukanlah  alasan  untuk  mematikan  kerelawanan  perempuan.  Di  sini,  strategi  dan  taktik  yang 

lebih  jitu  diperlukan,  sebagaimana  upaya  mempengaruhi  dan  menggalang  dukungan  banyak 

pihak  juga  tak  boleh  dilupakan.  Proses  memperjuangkan  inilah  yang  tampaknya  masih  perlu 

dilakukan, dan yang pasti, ini bukan proses yang mudah untuk dilakukan walaupun tentu saja 

tak mustahil untuk diwujudkan.  

86
DAFTAR PUSTAKA

_________(2006), “Policy Brief Gender Working Group (GWG) untuk respon bencana Jogja-
Jateng, Mainstreamingkan Gender dalam Kebijakan Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Pasca Gempa : Libatkan Perempuan dalam Seluruh Proses Rehabilitasi-Rekonstruksi.
Naskah, Tidak Diterbitkan
_________(2006), ”Rencana Aksi Nasional Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Gempa Bumi
di Propinsi DIY dan Propinsi Jawa Tengah”, Buku I, Bappenas, Jakarta, Juli
__________(1997), “Family Planning, Family Welfare and women’s Activities in Indonesia”,
Population Studies Center, Gadjah Mada University, Nov
__________(2005), ”Bantul Dalam Angka 2004” BPS , Bantul DIY
__________(2003), “Profil Kesehatan Kabupaten bantul tahun 2003”, Pemerintah Kabupaten
Bantul Dinas Kesehatan.
___________(2004), Living with Risk, UNISDR, 2004, sebagaimana dimuat dalam
http://www.unisdr.org/eng/about_isdr/bd-lwr-2004-eng.htm.
____________ (2007a), “Lesson Learnt dalam Rehabilitasi dan Rekonstruksi Rumah Pasca
Gempa Bumi”, Pemprop DIY, makalah disampaikan dalam workshop sehari Lesson
Learned Bencana Jogja-Jateng : Masukan Bagi Penyusunan RPP dan Perpres UU
24/2007 tentang Penanganan Bencana, data per 7 Mei 2007
_____________(2006), “Buku Utama Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah
Pasca Bencana Gempa Bumi di Propinsi DIY dan Propinsi Jawa Tengah, Bappenas, Bab
III, Jakarta, Juli, 2006
__________________(2007b), “Bijak dari Belajar : Mewujudkan Tata Pemerintahan DIY yang
Tangguh Membangun dan Siaga terhadap Bencana”. makalah Pemprop DIY,
disampaikan pada seminar Menjajagi Prospek Yogyakarta sebagai Pusat Keunggulan
Penanggulangan Bencana, Yogyakarta, Mei
AC Pigou, dalam Hong, 1984 : 6, sebagaimana ditulis dalam Saptari, Ratna & Holzner, Brigitte
(1997), ”Perempuan, Kerja dan Perubahan Sosial : Sebuah Pengantar Studi
Perempuan”, Grafiti - Kalyanamitra. , h. 15
Agustin, Retno (2007), “Gender yang Direkonstruksi dalam Bencana Alam(i)? Pengabaian vis a
vis Kebangkitan Perempuan Penyintas dalam Penanganan Gempa, dalam Widyanta, AB
(ed) Kisrah-Kisruh di Tanah Gempa, Jogjakarta : CPRC-FS, Mei
Bowen, John R (1986), “On the Political Construction of Tradition: Gotong Royong in Indonesia, The
Journal of Asian Studies vol 45, no 3, (May 1986), pp. 545-561, sebagaimana dimuat dalam
www.jstor.org/stable/2056530.
Bradshaw, S (2004), “Socio-Economic Impacts of natural Disasters : A Gender Analysis”,
Manuales, Serie 32, GTZ-Cooperation Italiana-Naciones Unidas-CEPAL-Sustainable
Development and Human Settlements Division, Women and Development Unit,
Santiago-Chile, May
Disaster Risk Reduction as Development Concern, DFID, Policy Brief, 2004, sebagaimana
dimuat dalam http://www.dfid.gov.uk/pubs/files/disaster-risk-reduction.pdf
Dwi Setiawan, Rio (2005), “Implementasi Program Peningkatan gizi anak (Babonisasi) di
Kecamatan Kasihan”, kabupaten bantul, Skripsi. Universitas Gadjah Mada. 2005. hlm.
85
Enarson, ”Gender Equality, Work and Disaster Reduction : Making the Connection, tanpa
tahun,. Paper ini merupakan edisi revisi dari Gender and Natural Disasters, Working
87
Paper # 1 (September, 2000) yang dipersiapkan untuk ILO InFocus Programme on Crisis
Response and Reconstruction. Di sini, ia mengutip salah satu studi yang dilakukan oleh
Agarwal pada tahun 1990 yang mengkaji tentang mekanisme penyesuaian terhadap iklim
dalam keluarga pedesaan di India dan dampaknya pada keamanan sosial. Lihat dalam
http://www.gdnonline.org/resources/Gender%20Equality,%20Work%20and%20Disaster
%20Reduction.revised%20ILO.doc
Enarson, E & Meyreles, L, “International Perspectives on Gender and Disaster : Differences and
Possibilities”, tanpa tahun, sebagaimana dimuat dalam
http://www.erc.gr/English/d&scrn/murcia-
papers/session2/Enarson_Meyreles_II_Original.pdf
Enarson, et.al, (2003), “Working with Women at Risk : Practical Guidelines for Assessing Local
Disaster Risk”, International Hurricane Center, Florida International University, June,
sebagaimana dimuat dalam
http://www.gdnonline.org/resources/WorkingwithWomenEnglish.pdf
Eskawanto, S & Anggoro (2007), “Srihardono : Emas Yang Terkubur Puing Gempa diantara
Perempuan-Perempuan Perkasa”, dalam Widyanta (ed) (2007), op.cit
Fatimah, Dati (2007a), “Gender Mainstreaming dalam Pengurangan Risiko Bencana”, HIVOS-
Circle, sebagaimana dimuat dalam www.bencana.net
Fatimah, Dati (2007b), “Kalkulasi Ekonomi Kerja Domestik”, Kompas, 9 April
Fatimah, Dati (2007c), ”Yang Sering terabaikan: Gender dan Anggaran dalam Bencana”,
dalam Widyanta, AB (ed) Kisrah-Kisruh di Tanah Gempa. Jogjakarta : CPRC-FS. Mei
Francis Fukuyama, Social Capital and Development: The Coming Agenda, SAIS Review vol.
XXII no. 1, Winter Spring 2002, hal. 5 <http://www.saisreview.org>
Fukuyama, Francis (2005), ”Guncangan Besar, Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru”, Jakarta:
Gramedia
Hilhorst, D, “Unlocking Disaster Paradigms : An Actor-oriented Focus on Disaster Response”,
abstract submitted for session 3 of The Disaster Research and Social Crisis, Network
Panels of the 6th European Sociological Conference, tanpa tahun, sebagaimana dimuat
dalam http://www.erc.gr/English/d&scrn/murcia-
papers/session3/Hilhorst_III_Original.pdf
Hoffman, 1999;2002, dalam Irwan Abdullah, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
Anthropologi Universitas Gadjah Mada “Dialektika Nature, Kultur Dan Struktur :
Analisis Konteks, Proses dan Ranah Dalam Konstruksi Bencana”
J. Field, T. Schuller, dan S. Baron, Social Capital: Critical Perspectives. Oxford: Oxford
University Press, 2000, hal 1. seperti yang dikutip oleh David Piachaud, Capital and the
Determinants of Poverty and Social Exclusion, CASE paper 60, Centre for Analysis of
Social Exclusion, London School of Economics, Houghton Street, 2002, hal. 6
<http://sticerd.lse.ac.uk/Case>
Loomis, Charles P. (1992), Social System : Essays on Their Persistance and Change”, New
Jersey - USA
Molo, Marcelinus (1992), “Women’s Role, Resources dan Decision Making in Rural Java : A Case
study”, a doctoral dissertation, Flinders University of South Australia
Norma  Sullivan,  “Indonesian  Women  in  Development  :  State  Theory  &  Urban  Kampung  Practice”, 
tanpa tahun. 

88
Quisumbing, Agnes R. (2007), “Household Decisions, Gendee, and Development: A Synthesis
of Recent Research.” International Food Policy Research Institute Washington DC. The
John Hopkins University Press
R. Yando Zakaria (2004), “Merebut Negara : Beberapa Catatan Reflektif tentang Upaya-Upaya
Pengakuan, Pengembalian dan Pemulihan Otonomi Desa”, KARSA-Lappera Pustaka
Utama.
Survey Research Center of the university of Michigan 1975-1976, sebagaimana dikutip oleh
O’Neill (1985), op.cit.
Suryakusuma, Julia (...), “ State-ibuism : the Social Costruction of Womanhood in New Order
Indonesia”, the Hague, thesis MA, Institute of Social Studies (ISS).
Thomas F Carroll Social Capital, Local Capacity Building, and Poverty Reduction , Social
Development Papers No. 3, Office of Enfironment and Social Development, Asian
Development Bank, May, 2001, hal. 1
Tierney, K (2007), “Recent Sociological Contributions to Vulnerability Science”, Department of
Sociology and Institute of Behavioral Science, Natural Hazards Center, University of
Colorado
Turner, RH (2002), “Role, Sociological Aspects”, dalam Sills, Davis L. (International Encyclopedia of the
Social Sciences”, New York, MacMillan, 1968-1979, (italics in the original), sebagaimana
dikutip oleh Dzuhayatin (2002).
White, Benjamin & Hastuti , Endang Lestari (1980), “Subordinasi Tersembunyi, Pengaruh Pria
dan Wanita dalam kegiatan Rumah tangga dan masayarakat di 2 desa di Jawa Barat”,
Laporan Agro Ekonomi Survay, IPB, November
Widyanta, AB (2007), “Modal Sosial: Partisipasi Warga Yang Selalu Dinisbikan Dalam
Governance Kebencanaan (Belajar Dari Penanganan Gempa Bumi Yogya Dan Jateng),
dalam Jurnal RENAI Governance Bencana tahun ke 7 no 1
Williams, S., et.al. (1994), “The Oxfam Gender Training Manual”, Oxfam (UK & Ireland),
Oxford, UK., p. 189.

89
Lampiran 1.  
Interview Guide 
 
1. Bagaimana karakter umum masyarakat bantul ? 
2. Bagaimana modal social yang dimiliki masyarakat bantul, khusunya komunitas 
perempuan sebelum bencana terjadi?  
3. Bagaimana kegiatan perempuan sebelum terjadinya bencana? Missal bagaimana 
posyandu, yandu lansia, PKK, karang taruna, pengajian dan kelompok ekonomi 
perempuan? 
4. Bagaimana dapur umum dalam setiap komunitas beroperasi?  
5. Bagaimana cara bekerja jarring‐jaring bantuan? 
6. Selain dapur umum apa saja bentuk‐bentuk kerelawanan yang dilakukan perempuan 
dalam masa tanggap darurat? 
7. Bagaimana cara dan strategi komunitas perempuan keluar dari masa emergency respon 
menuju tahap rehabilitasi? 
8. Apa saja dan bagaimana kerja kerelawanan yang dilakukan oleh komunitas perempuan 
dalam tahap rehabilitasi? 
9. Bagaimana proses dan pelaksanaan pembagian dana rekonstruksi rumah bagi 
masyarakat korban? Bagaimana posisi serta peran komunitas perempuan dalam proses 
dan pelaksanaan pembagian dana rekonstruksi rumah? 
10. Bagaimana program rekonstruksi dijalankan? Kegiatan apa saja kah yang diambil oleh 
komunitas perempuan? 
11. Bagaimana program livelihood bagi perempuan dijalankan? Bagaimana pelaksanaan 
secara individual dan bagaimana yang dilakukan secara berkelompok? 
12. Kondisi apakah yang memunculkan tokoh‐tokoh perempuan yang sebelum bencana 
tidak muncul atau tidak dihitung dalam ruang public? 
13. Bagaimana respon pihak luar terhadap kerelawanan perempuan dalam bencana? 
14. Bagaimana pihak luar tersebut memainkan peran pengbung  modal social sehingga 
kerelawanan perempuan local terhubung dengan ruang publik yang lebih luas? 

90
Tentang Penulis 

Dati Fatimah adalah ibu dari dua orang anak. Menjadi penekun isu gender, korupsi dan 
anggaran semenjak tahun 1998, dengan menjadi fasilitator pendidikan publik, menulis artikel 
di jurnal dan media massa seperti kompas,  serta menerbitkan sejumlah buku untuk isu ini. 
Semenjak keterlibatannya dalam kerja kemanusiaan pasca gempa Jogja‐Jateng Mei 2006, 
melakukan beberapa kajian dan konsultasi, serta menerbitkan sejumlah artikel dan buku untuk 
isu gender dalam bencana. Diantaranya adalah mendokumentasikan inisiatif pengurangan 
risiko bencana di Indonesia, menulis buku pengalaman perempuan usaha mikro dan kecil di 
Klaten dalam recovery ekonomi pasca gempa, mengkaji isu gender dalam pengelolaan Merapi 
dan menjadi konsultan untuk beberapa program perempuan, anak dan bencana. Tahun 2008, 
alumnus Fakultas Ekonomi UGM ini menjadi penerima beasiswa NOMA untuk menempuh 
studi di MA Human Rights and Democracy Studies,  UGM. Saat ini, menjadi direktur eksekutif 
Perhimpunan Aksara, Yogyakarta. Kontak : datifatimah@gmail.com.  

Retno Agustin adalah Koordinator Divisi Gender and Local Governance Perhimpunan Aksara 
Jogjakarta. Saat ini tengah menyelesaikan tesis S2 di Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata 
Dharma Jogjakarta. Alumnus FISIPOL UGM ini baru saja menjadi ASEAN Graduate Fellow 
Student, Asia Research Institute, National University of Singapore dengan hasil sebuah paper 
tentang sejarah intelektual dan beasiswa pada masa orde baru Indonesia. Pernah mengikuti 
Intercultural Course on Women and Society tahun 2005 di Manila. Sampai saat ini masih 
menjadi Presidium Perempuan kelompok kepentingan pemuda, pelajar dan mahasiswa di 
Koalisi Perempuan Indonesia Wilayah DIY. Tahun 2007 menjadi SC Forum Suara Korban 
Bencana, sebuah jaringan NGO untuk penanganan bencana DIY‐Jateng. Keterlibatan dalam 
penanganan bencana membawanya untuk menulis sejumlah artikel tentang perempuan dan 
bencana serta mendokumentasikan pengalaman rekonstruksi bencana Jateng‐DIY dalam 4 buah 
film documenter kerjasama Tim Kerja Mediatik dengan RHK dan Ausaid. Kontak : 
retnoagustin@gmail.com.   

91