Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEBIDANAN IV (PATOLOGI )

HAND OUT IV

AKADEMI KEBIDANAN AL-ISHLAH CILEGON

FIKY ROFIQOH E. F., SKM


2014 – 2015

1
HAND OUT

Topik : Asuhan Pada Infertilitas


Sub Pokok : Melaksanakan Asuhan Kebidanan Pada Infertilitas
Objektif : Setelah Mengikuti pelajaran ini mahasiswa diharapkan dapat :
Perilaku Menjelaskan Asuhan Kebidanan Pada Pasangan Usia Subur Dengan Infertilitas
Mahasiswa meliputi :
1. Pengertian infertilitas
2. Pemeriksaan infertilitas
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas
4. Masalah yang timbul pada infertilitas
5. Manajemen kebidanan pada infertilitas
Referensi : 1. Syaifudin, 2002, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, Jakarta, YBPSP
2. Buku Panduan Praktis Materna dan Neonatal, 2001.
3. Mthai, Mathews, dkk, 2000, Impac Managing Complication In Pregnancy
and Childbirth, Departemen of Reproductive Health and Research.
4. Mayes, Midwifery, 12th Edition, 2000
5. Varneyer s H, 1997, Midwefery, UK, Jones and Barlet Publisher
6. Mochtar R, 1998, Sinopsis Obstetri Jilid I, Jakarta
7. Manuaba, I.B.G., 1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit /kandungan dan Keluarga
Berencana, Jakarta, EGC
8. Manuaba, I.B.G., 2004. Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Gynekologi edisi II.
Jakarta; EGC.
9. Hanifa, dkk, 1999, Ilmu Kebidanan, Jakarta, YBPSP
10. Arias, Fernando, 1992, Practical Guide to High risk Pregnancy and Delivery,
Second Edition, Boston, Mosby Year Book
11. Benette VR, Brown LK, 1993, Midwefery Vol. , Cape Town : Creda Press
Solar road
12. Pusdiknakes – JHPIEGO, Modul 2, Pedoman Mengajar Dosen AKBID, 1999

2
13. Pusdiknakes – JHPIEGO, Modul 3, Pedoman Mengajar Dosen AKBID, 1999
14. Pusdiknakes – JHPIEGO, Modul 4, Pedoman Mengajar Dosen AKBID, 1999
15. Linda V, Walsh, Midwefery, 2001
16. Debora Bick, 2002, Postnatal Care, Evidence and Guide Lines for
Management.
17. Rukiyah, Ai Yeyeh., 2012. Asuhan Kebidanan IV Patologi Bagian 2, Jakarta,
TIM.
18. Amir Amri. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Kedua. 1995.
Medan: Ramadhan.
19. Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirihardjo.
20. Sylvia A. Drice. Lorraine M Wilson. 2005. Patofisiologi Volume II. Konsep
Klinis Proses Proses Penyakit. Jakarta ; EGC.
21. Tiran, Denise.2005.Kamus Saku Bidan.Jakarta :EGC.
22. Leyna. 2010. Gangguan dan Masalah Haid Dalam Sistem Reproduksi.
http://leynamuja.blogspot.com/2010/04/gangguan-dan-masalah-haid-dalam-
sistem.html

3
PENDAHULUAN
Infertilitas merupakan suatu permasalahan yang cukup lama dalam dunia
kedokteran. Namun sampai sdaat ini ilmu kedokteran baru berhasil menolong ±
50% pasangan infertil untuk memperoleh anak. Perkembangan ilmu infertilitas
lebih lambat dibanding cabang ilmu kedokteran lainnya, kemungkinan disebabkan
masih langkanya dokter yang berminat pada ilmu ini. Sesuai dengan definisi
fertilitas yaitu kemampuan seorang isteri untuk menjadi hamil dan melahirkan
anak hidup oleh suami yang mampu menghamilinya,maka pasangan infertil
haruslah dilihat sebagai satu kesatuan. Penyebab infertilitaspun harus dilihat pada
kedua belah pihak yaitu isteri dan suami. Salah satu bukti bahwa pasangan infertil
harus dilihat sebagai satu kesatuan adalah aadanya faktor imunologi yang
memegang peranan dalam fertilitas suatu pasangan. Faktor imunologi ini erat
kaitannya dengan faktor semen/sperma, cairan/lendir serviks dan reaksi imunologi
isteri terhadap semen/sperma suami.

1. Pengertian infertilitas
Fertilitas adalah kemampuan seorang istri menjadi hamil dan suami bisa
menghamili.
Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah
menikah selama satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa
menggunakan alat kontrasepsi, tetapi belum memiliki anak. (Sarwono, 2000).
Infertilitas adalah pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta
berusaha selama satu tahun tetapi belum hamil. (Manuaba, 1998).
Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil dalam waktu satu tahun.
Infertilitas primer bila pasutri tidak pernah hamil dan infertilitas sekunder bila
istri pernah hamil. (Siswandi, 2006).

4
2. Pemeriksaan Infertilitas
a. Syarat-Syarat Pemeriksaan
Pasangan infertil merupakan satu kesatuan biologis sehingga keduanya
sebaiknya dilakukan pemeriksaan. Adapun syarat-syarat sebelum
dilakukan pemeriksaan adalah:
1) Istri dengan usia 20-30 tahun baru diperiksa setelah berusaha
mendapatkan anak selama 12 bulan.
2) Istri dengan usia 31-35 tahun dapat langsung diperiksa ketika
pertama kali datang.
3) Istri pasangan infertil dengan usia 36-40 tahun dilakukan
pemeriksaan bila belum mendapat anak dari perkawinan ini.
4) Pemeriksaan infertil tidak dilakukan pada pasangan yang mengidap
penyakit.
b. Langkah Pemeriksaan
Pertama kali yang dilakukan dalam pemeriksaan adalah dengan mencari
penyebabnya. Adapun langkah pemeriksaan infertilitas adalah sebagai
berikut :
1) Pemeriksaan Umum
a) Anamnesa, terdiri dari pengumpulan data dari pasangan suami
istri secara umum dan khusus.
- Anamnesa umum
Berapa lama menikah, umur suami istri, frekuensi
hubungan seksual, tingkat kepuasan seks, penyakit yang
pernah diderita, teknik hubungan seks, riwayat perkawinan
yang dulu, apakah dari perkawinan dulu mempunyai anak,
umur anak terkecil dari perkawinan tersebut.
- Anamnesa khusus
Istri : Usia saat menarche, apakah haid teratur, berapa lama
terjadi perdarahan/ haid, apakah pada saat haid terjadi
gumpalan darah dan rasa nyeri, adakah keputihan
abnormal, apakah pernah terjadi kontak bleeding, riwayat

5
alat reproduksi (riwayat operasi, kontrasepsi, abortus,
infeksi genitalia).
Suami : Bagaimanakah tingkat ereksi, apakah pernah
mengalami penyakit hubungan seksual, apakah pernah sakit
mump (parotitis epidemika) sewaktu kecil.
b) Pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan fisik umum meliputi
tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan).
c) Pemeriksaan laboratorium dasar, pemeriksaan laboratorium
dasar secara rutin meliputi darah lengkap, urin lengkap, fungsi
hepar dan ginjal serta gula darah.
d) Pemeriksaan penunjang, pemeriksaan penunjang disini bias
pemeriksaan roentgen ataupun USG.
2) Pemeriksaan Khusus
a) Pemeriksaan Ovulasi
Pemeriksaan ovulasi dapat diketahui dengan berbagai
pemeriksaan diantaranya :
- Penatalaksanaan suhu basal; Kenaikan suhu basal setelah
selesai ovulasi dipengaruhi oleh hormon progesteron.
- Pemeriksaan vaginal smear; Pengaruh progesteron
menimbulkan sitologi pada sel-sel superfisial.
- Pemeriksaan lendir serviks; Hormon progesteron
menyebabkan perubahan lendir serviks menjadi kental.
- Pemeriksaan endometrium; Hormon estrogen, ICSH dan
pregnandiol.
Gangguan ovulasi disebabkan :
- Faktor susunan saraf pusat ; misal tumor, disfungsi,
hypothalamus, psikogen.
- Faktor intermediate ; misal gizi, penyakit kronis, penyakit
metabolis.
- Faktor ovarial ; misal tumor, disfungsi, turner syndrome.

6
Terapi : Sesuai dengan etiologi, bila terdapat disfungsi kelenjar
hipofise ddengan memberikan pil oral yang mengandung
estrogen dan progesteron, substitusi terapi (pemberian FSH dan
LH) serta pemberian clomiphen untuk merangsang hipofise
membuat FSH dan LH. Selain clomiphen dapat diberikan
bromokriptin yang diberikan pada wanita anovulatoir dengan
hiperprolaktinemia. Atau dengan pemberian Human
Menopausal Gonadotropin/ Human Chorionic Gonadotropin
untuk wanita yang tidak mampu menghasilkan hormon
gonadotropin endogen yang adekuat.
b) Pemeriksaan Sperma
Pemeriksaan sperma dinilai atas jumlah spermatozoa, bentuk dan
pergerakannya. Sperma yang ditampung/ diperiksa adalah
sperma yang keluar dari pasangan suami istri yang tidak
melakukan coitus selama 3 hari. Pemeriksaan sperma dilakukan
1 jam setelah sperma keluar.
- Ejakulat normal : volume 2-5 cc, jumlah spermatozoa 100-
120 juta per cc, pergerakan 60 % masih bergerak selama 4
jam setelah dikeluarkan, bentuk abnormal 25 %.
- Spermatozoa pria fertil : 60 juta per cc atau lebih, subfertil :
20-60 juta per cc, steril : 20 juta per cc atau kurang.
Sebab-sebab kemandulan pada pria adalah masalah gizi,
kelainan metabolis, keracunan, disfungsi hipofise, kelainan
traktus genetalis (vas deferens).
c) Pemeriksaan Lendir Serviks
Keadaan dan sifat lendir yang mempengaruhi keadaan
spermatozoa adalah : a) Kentalnya lendir serviks; Lendir serviks
yang mudah dilalui spermatozoa adalah lendir yang cair. b) pH
lendir serviks; pH lendir serviks ± 9 dan bersifat alkalis. c)
Enzim proteolitik.

7
d) Kuman-kuman dalam lendir serviks dapat membunuh
spermatozoa.
Baik tidaknya lendir serviks dapat diperiksa dengan :
- Sims Huhner Test (post coital tes), dilakukan sekitar
ovulasi. Pemeriksaan ini menandakan bahwa : teknik coitus
baik, lendir cerviks normal, estrogen ovarial cukup ataupun
sperma cukup baik.
- Kurzrork Miller Test, dilakukan bila hasil dari pemeriksaan
Sims Huhner Test kurang baik dan dilakukan pada
pertengahan siklus.Terapi yang diberikan adalah pemberian
hormon estrogen ataupun antibiotika bila terdapat infeksi.
e) Pemeriksaan Tuba
Untuk mengetahui keadaan tuba dapat dilakukan :
- Pertubasi (insuflasi = rubin test); pemeriksaan ini dilakukan
dengan memasukkan CO2 ke dalam cavum uteri.
- Hysterosalpingografi; pemeriksaan ini dapat mengetahui
bentuk cavum uteri, bentuk liang tuba bila terdapat
sumbatan.
- Koldoskopi; cara ini dapat digunakan untuk melihat
keadaan tuba dan ovarium.
- Laparoskopi; cara ini dapat melihat keadaan genetalia
interna dan sekitarnya.
f) Pemeriksaan Endometrium
Pada saat haid hari pertama atau saat terjadi stadium sekresi
dilakukan mikrokuretase. Jika pada stadium sekresi tidak
ditemukan, maka : endometrium tidak bereaksi terhadap
progesteron, produksi progesteron kurang.
Terapi yang diberikan adalah pemberian hormon progesteron
dan antibiotika bila terjadi infeksi.

8
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas
a. Faktor usia
Ketika seorang wanita semakin berumur, maka semakin kecil pula
kemungkin wanita tersebut untuk hamil. Kejadian infertilitas berbanding
lurus dengan pertambahan usia wanita. Wanita yang sudah berumur akan
memiliki kualitas oosit yang tidak baik akibat adanya kelainan kromosom
pada oosit tersebut.
Penyebab
1) Pada wanita
Gangguan organ reproduksi :
a) Infeksi vagina sehingga meningkatkan keasaman vagina yang
akan membunuh sperma dan pengkerutan vagina yang akan
menghambat transportasi sperma ke vagina
b) Kelainan pada serviks akibat defesiensi hormon esterogen yang
mengganggu pengeluaran mukus serviks. Apabila mukus sedikit
di serviks, perjalanan sperma ke dalam rahim terganggu. Selain
itu, bekas operasi pada serviks yang menyisakan jaringan parut
juga dapat menutup serviks sehingga sperma tidak dapat masuk
ke rahim
c) Kelainan pada uterus, misalnya diakibatkan oleh malformasi
uterus yang mengganggu pertumbuhan fetus, mioma uteri dan
adhesi uterus yang menyebabkan terjadinya gangguan suplai
darah untuk perkembangan fetus dan akhirnya terjadi abortus
berulang
d) Kelainan tuba falopii akibat infeksi yang mengakibatkan adhesi
tuba falopii dan terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma
tidak dapat bertemu
e) Gangguan ovulasi. Gangguan ovulasi ini dapat terjadi karena
ketidakseimbangan hormonal seperti adanya hambatan pada
sekresi hormon FSH dan LH yang memiliki pengaruh besar
terhadap ovulasi. Hambatan ini dapatterjadi karena adanya

9
tumor kranial, stress, dan penggunaan obat-obatan yang
menyebabkan terjadinya disfungsi hipothalamus dan hipofise.
Bila terjadi gangguan sekresi kedua hormon ini, maka folicle
mengalami hambatan untuk matang dan berakhir pada gengguan
ovulasi.
f) Kegagalan implantasi Wanita dengan kadar progesteron yang
rendah mengalami kegagalan dalam mempersiapkan
endometrium untuk nidasi. Setelah terjadi pembuahan, proses
nidasi pada endometrium tidak berlangsung baik. Akiatnya fetus
tidak dapat berkembang dan terjadilah abortus
g) Faktor immunologis Apabila embrio memiliki antigen yang
berbeda dari ibu, maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai
respon terhadap benda asing. Reaksi ini dapat menyebabkan
abortus spontan pada wanita hamil.
h) Lingkungan Paparan radiasi dalam dosis tinggi, asap rokok, gas
ananstesi, zat kimia, dan pestisida dapat menyebabkan toxic
pada seluruh bagian tubuh termasuk organ reproduksi yang akan
mempengaruhi kesuburan.
2) Pada Pria
Ada beberapa kelainan umum yang dapat menyebabkan infertilitas
pada pria yaitu :
a) Abnormalitas sperma; morfologi, motilitas
b) Abnormalitas ejakulasi; ejakulasi rerograde, hipospadia
c) Abnormalitas ereksi
d) Abnormalitas cairan semen; perubahan pH dan perubahan
komposisi kimiawi
e) Infeksi pada saluran genital yang meninggalkan jaringan parut
sehingga terjadi penyempitan pada obstruksi pada saluran
genital
f) Lingkungan; Radiasi, obat-obatan anti kanker
g) Abrasi genetik

10
b. Infertilitas Disengaja
Infertilitas yang disengaja disebabkan pasangan suami istri menggunakan
alat kontrasepsi baik alami, dengan alat maupun kontrasepsi mantap.
c. Infertilitas Tidak Disengaja
1) Pihak Suami, disebabkan oleh:
a) Gangguan spermatogenesis (kerusakan pada sel-sel testis),
misal: aspermia, hypospermia, necrospermia.
b) Kelainan mekanis, misal: impotensi, ejakulatio precox,
penutupan ductus deferens, hypospadia, phymosis. Infertilitas
yang disebabkan oleh pria sekitar 35-40 %.
2) Pihak Istri, penyebab infertilitas pada istri sebaiknya ditelusuri dari
organ luar sampai dengan indung telur.
a) Gangguan ovulasi, misal: gangguan ovarium, gangguan
hormonal.
b) Gangguan ovarium dapat disebabkan oleh faktor usia, adanya
tumor pada indung telur dan gangguan lain yang menyebabkan
sel telur tidak dapat masak. Sedangkan gangguan hormonal
disebabkan oleh bagian dari otak (hipotalamus dan hipofisis)
tidak memproduksi hormon-hormon reproduksi seperti FSH dan
LH.
c) Kelainan mekanis yang menghambat pembuahan, meliputi
kelainan tuba, endometriosis, stenosis canalis cervicalis atau
hymen, fluor albus, kelainan rahim.
d) Kelainan tuba disebabkan adanya penyempitan, perlekatan
maupun penyumbatan pada saluran tuba.
e) Kelainan rahim diakibatkan kelainan bawaan rahim, bentuknya
yang tidak normal maupun ada penyekat. Sekitar 30-40 %
pasien dengan endometriosis adalah infertil. Endometriosis yang
berat dapat menyebabkan gangguan pada tuba, ovarium dan
peritoneum. Infertilitas yang disebabkan oleh pihak istri sekitar

11
40-50 %, sedangkan penyebab yang tidak jelas kurang lebih 10-
20 %.
4. Masalah yang timbul pada infertilitas
Sumapraja membagi masalah infertilitas dalam beberapa kelompok yaitu air
mani, masalah vagina, masalah serviks, masalah uterus, masalah tuba,
masalah ovarium, dan masalah peritoneum. Masalah air mani meliputi
karakteristiknya yang terdiri dari koagulasinya dan likuefasi, viskositas, rupa
dan bau, volume, pH dan adanya fruktosa dalam air mani. Pemeriksaan
mikroskopis spermatozoa dan uji ketidakcocokan imunologi dimasukkan juga
kedalam masalah air mani.
a. Masalah vagina kemungkinan adanya sumbatan atau peradangan yang
mengirangi kemampuan menyampaikan air mani kedalam vagina sekitar
serviks.
b. Masalah serviks meliputi keadaan anatomi serviks, bentuk kanalis
servikalis sendiri dan keadaan lendir serviks. Uji pascasenggama
merupakan test yang erat berhubungan dengan faktor serviks dan
imunologi.
c. Masalah uterus meliputi kontraksi uterus, adanya distorsi kavum uteri
karena sinekia,mioma atau polip, peradangan endometrium. Masalah
uterus ini menggangu dalam hal implantasi, pertumbuhan intra uterin,
dan nutrisi serta oksigenasi janin.
d. Pemeriksaan untuk masalah uterus ini meliputi biopsi
endometrium,histerosalpingografi dan histeroskopi. Masalah tuba
merupakan yang paling sering ditemukan (25-50%). Penilaian patensi
tuba merupakan salah satu pemeriksaan terpenting dalam pengelolhan
infertilitas.
e. Masalah ovarium meliputi ada tidaknya ovulasi, dan fungsi korpus
luteum. Fungsi hormonal berhubungan dengan masalah ovarium, ini
yang dapat dinilai beberapa pemeriksaan antara lain perubahan lendir
serviks, suhu basal badan, pemeriksaan hormonal dan biopsi
endometrium.

12
f. Masalah imunologi biasanya dibahas bersama-sama masalah lainnya
yaitu masalah serviks dan masalah air mani karena memang kedua faktor
ini erat hubungannya dengan mekanisme imunologi.
5. Manajemen kebidanan pada infertilitas.
a. Nasehat Untuk Pasangan Infertil
Bidan dapat memberikan nasehat kepada pasangan infertil, diantaranya:
1) Meminta pasangan infertil mengubah teknik hubungan seksual
dengan memperhatikan masa subur.
2) Mengkonsumsi makanan yang meningkatkan kesuburan.
3) Menghitung minggu masa subur.
4) Membiasakan pola hidup sehat
b. Pengobatan
1) Terapi oklusi
Di sini suami menggunakan kondom selama 6-9 bulan bila isteri
mempunyai bukti faktor imunologis sebagai penyebab
infertilitasnya. Ada yang menganjurkan 6-12 bulan. Tujuannya
adalah untuk mengurangi titer antibodi antispermatozoa dengan
mencegah pengulangan stimulasi antigenik. Uji imunologi harus
diulang setiap 3 bulan sehingga menjadi negatif atau titernya
menjadi 1:4 atau kurang. Terapi ini tidak memberikan hasil yang
memuaskan pada isteri yang mempunyai antibodi antisperma
dalam serumnya. Terapi ini lebih rasional bila diberikan pada
pasien dengan adanya faktor imunologik lokal (lendir serviks).
Franklin dan Dukes melaporkan bahwa kondom efektif untuk
beberapa pasien. Tetapi menurut Aiman tidak ada bukti yang
menyakinkan untuk pemakaian kondom ini.
2) Inseminasi intrauterin
Inseminasi intrauterin terutama diberikan bila terbukti adanya
antibodi antisperma lokal pada lendir serviks yang menyebabkan
kegagalan penetrasi lendir serviks oleh sperma. Memang indikasi
inseminasi ini masih kontroversi karena beragamnya hasil yang

13
dilaporkan. Angka keberhasilan dengan metode ini berkisar antara
20-30%. Francavilla dkk dalam penelitiannya tidak berhasil
melakukan inseminasi intrauterin ini dimana spermatozoa yang
digunakan semuanya berikatan dengan antibodi. Sedangkan Rojas
dalam penelitiannya terhadap 41 orang yang dilakukan inseminasi
dengan menggunakan sperma yang dicuci hanya mendapatkan
insidens antibodi antisperma (+) pada 2 pasien (4,8%).
3) Terapi imunosupresif/kortikosteroid
Terapi kortikosteroid dapat diharapkan menurunkan produksi ASA.
Suami diberikan 20 mg prednisolon selama 10 hari pertama sesuai
siklus isteri dan 5 mg/hari pada hari ke 11-12 selama 3 siklus. Ada
juga peneliti yang menggunakan metilprednisolon.
Lahteenmaki membandingkan efektivitas pemberian prednisolon
oral dengan inseminasi intrauteri pada 46 pasangan dengan antibodi
antisperma (+) pada suami. Suami diberi prednisolon 20 mg/hari
selama 10 hari ditambah 5 mg/hari pada hari ke 11-12 selama 3
siklus. Namun pada penelitian ini ia berkesimpulan bahwa
inseminasi lebih baik dibandingkan terapi steroid pada suami.
Penelitian lain yaitu membandingkan 30 pasangan dengan antibodi
antisperma suami positif yang dibagi menjadi 2 kelompok.
Kelompok pertama diberikan steroid oral selama 4 bulan dan
dilakukan inseminasi, sedangkan kelompok kedua diberikansteroid
selama 4 bulan dan diberikan jadwal hubungan suami isteri. Steroid
yang diberikan yaitu prednisolon selama 4 bulan dan diberikan
jadwal hubungan suami isteri. Steroid yang diberikan yaitu
prednisolon selama 10 hari pertama siklus istri dan 10 mg pada hari
ke11 dan 12. Didapatkan tingkat kehamilan pada kelompok
pertama sebesar 39,4 % dan kelompok kedua 4,8%. Memang disini
masih belum jelas apakah faktor steroid berperan dalam tingginya
tingkat kehamilan karena masih ada faktor lain yaitu keadaan
superovulasi, bypass terhadap lendir serviks atau perbaikan

14
lingkungan uterus. Beberapa efek samping pemakaian
imunosupresif ini antara lain nekrosis aseptik sendi paha,
kambuhnya ulkus duodenal.
4) Pencucian spermatozoa
Metode ini merupakan salah satu metode menghilangkan antibodi
antisperma yang terikat pada sperma. Disini sperma dari suami
dicuci beberapa kali dengan buffer fisiologik yang ditambah
serum/albumin manusia 5-10%. Spermatozoa yang telah dicuci
diinseminasi kekanalis servikalis atau kavum uteri isteri. Kualitas
sperma yang baik penting sekali dalam metode ini.
5) Penggunaan heparin dan aspirin
Pada keadaan infertilitas yang disebabkan adanya faktor autoimum
dimana didapatkan antibodi antifosfolipid beberapa peneliti
menggunakan heparin dan aspirin sebagai obat yang digunakan.
tingkat kehamilan sebesar 49% pada kelompok terapi dan hanya
16% pada kelompok non terapi. penggunaan heparin dasn aspirin
dosis rendah lebih bik dibandingkan hanya menggunakan aspirin
saja. angka kehamilan 44% pada kelompok aspirin dan 80% pada
kelompok aspirin ditambah heparin. menggunakan aspirin 100 mg
perhari mulai 1 bulan sebelum konsepsi sampai selama kehamilan
dapat meningkatkan angka keberhasilan kehamilan dari 6,1%
sampai 90,5%.

15