Anda di halaman 1dari 41

=BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan Kasus
FAKULTAS KEDOKTERAN
Maret 2019
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

KEDOKTERAN KELUARGA

“LOW BACK PAIN”

Disusun Oleh :

Khairul waldi, S.Ked (10542 0388 12)

Pembimbing :

dr. Hj. Hatase Nurna

(Kepala Puskesmas Jongaya)

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Pada Bagian Ilmu


Kesehatan Masyarakat (Kedokteran Keluarga)

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2019
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:

Nama : Khairul waldi, S.Ked

Judul Laporan Kasus : Low back pain

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu
Kesehatan Masyarakat Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah
Makassar.

Makassar, Maret 2019

Pembimbing

dr. Hj. Hatase Nurna


KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas segala limpahan rahmat
dan hidayah-Nya serta segala kemudahan yang diberikan dalam setiap kesulitan
hamba-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan laporan kasus dengan judul low
back pain. Tugas ini ditulis sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan
Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kedokteran Keluarga).

Berbagai hambatan dialami dalam penyusunan tugas laporan kasus. Namun


berkat bantuan saran, kritikan, dan motivasi dari pembimbing serta teman-teman
sehingga tugas ini dapat terselesaikan. Penulis sampaikan terima kasih banyak
kepada dr. Hj. Hatase Nurna, selaku pembimbing yang telah banyak meluangkan
waktu dengan tekun dan sabar dalam membimbing, memberikan arahan dan koreksi
selama proses penyusunan tugas ini hingga selesai.

Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari yang diharapkan
oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis akan senang menerima kritik dan
saran demi perbaikan dan kesempurnaan tugas ini. Semoga laporan kasus ini dapat
bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis secara khusus.

Makassar, Maret 2019

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
LBP adalah nyeri punggung bawah, nyeri yang dirasakan di punggung bagian
bawah, bukan merupakan penyakit ataupun diagnosis untuk suatu penyakit namun
merupakan istilah untuk nyeri yang dirasakan di area anatomi yang terkena dengan
berbagai variasi lama terjadinya nyeri. Nyeri punggung bawah tersebut merupakan
penyebab utama kecacatan yang mempengaruhi pekerjaan dan kesejahteraan
umum. Keluhan LBP dapat terjadi pada setiap orang, baik jenis kelamin, usia, ras,
status pendidikan dan profesi.
Prevalensi nyeri muskuloskeletal, termasuk LBP, dideskripsikan sebagai
sebuah epidemik.Sekitar 80 persen dari populasi pernah menderita nyeri punggung
bawah paling tidak sekali dalam hidupnya. Prevalensi penyakit muskuloskeletal di
Indonesia berdasarkan pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan yaitu 11,9 persen
dan berdasarkan diagnosis atau gejala yaitu 24,7 persen, sedangkan di provinsi
Lampung angka prevalensi penyakit muskuloskeletal berdasarkan diagnosis dan
gejala yaitu 18,9 persen.
Prevalensi penyakit muskuloskeletal tertinggi berdasarkan pekerjaan adalah
pada petani, nelayan atau buruh yaitu 31,2 persen. Prevalensi meningkat terus
menerus dan mencapai puncaknya antara usia 35 hingga 55 tahun. Semakin
bertambahnya usia seseorang, risiko untuk menderita LBP akan semakin meningkat
karena terjadinya kelainan pada diskus intervertebralis pada usia tua.
LBP dapat disebabkan oleh berbagai penyakit muskuloskeletal, gangguan
psikologis dan mobilisasi yang salah. Terdapat beberapa faktor risiko penting yang
terkait dengan kejadian LBP yaitu usia diatas 35 tahun, perokok, masa kerja 5-10
tahun, posisi kerja, kegemukan dan riwayat keluarga penderita musculoskeletal
disorder. Faktor lain yang dapat mempengaruhi timbulnya gangguan LBP meliputi
karakteristik individu yaitu indeks massa tubuh (IMT), tinggi badan, kebiasaan olah
raga, masa kerja, posisi kerja dan berat beban kerja.
Berat beban yang diangkat, frekuensi angkat serta cara atau teknik mengangkat
beban sering dapat mempengaruhi kesehatan pekerja berupa kecelakaan kerja
ataupun timbulnya nyeri atau cedera pada punggung .Sebanyak 90% kasus LBP
bukan disebabkan oleh kelainan organik, melainkan oleh kesalahan posisi tubuh
dalam bekerja.Pekerjaan mengangkat menjadi penyebab terlazim dari LBP, yang
menyebabkan 80% kasus.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Low Back pain adalah suatu sensasi nyeri di daerah lumbosakral dan

sakroiliakal, umumnya pada daerah L4-L5 dan L5-S1, nyeri ini sering disertai

penjalaran ke tungkai sampai kaki.4

LBP juga didefinisikan sebagai nyeri yang dirasakan di daerah punggung bawah,

dapat merupakan nyeri lokal maupun nyeri radikuler atau keduanya. Nyeri ini terasa

di antara sudut iga terbawah sampai lipat bokong bawah yaitu di daerah lumbal atau

lumbo-sakral dan sering disertai dengan penjalaran nyeri ke arah tungkai dan kaki.5

B. Epidemiologi

LBP sering dijumpai dalam praktek sehari-hari, terutama di negara-negara


industri. Diperkirakan 70-85% dari seluruh populasi pernah mengalami episode
ini selama hidupnya. Prevalensi tahunannya bervariasi dari 15-45%, dengan point
prevalence rata-rata 30%. Data epidemiologi mengenai LBP di Indonesia belum
ada, namun diperkirakan 40% penduduk Jawa Tengah berusia di atas 65 tahun
pernah menderita nyeri punggung, prevalensi pada laki-laki 18,2% dan pada
wanita 13,6%. Insiden berdasarkan kunjungan pasien ke beberapa rumah sakit di
Indonesia berkisar antara 3-17%.8
C. Etiologi

Menurut Fauci et al (2008) LBP dapat disebabkan oleh berbagai kelainan yang

terjadi pada tulang belakang, otot, diskus intervertebralis, sendi, maupun struktur

lain yang menyokong tulang belakang. Kelainan tersebut antara lain kelainan

congenital atau kelainan perkembangan yang terdiri dari spondilosis dan

spondilolistesis, kiposkoliosis, spina bifida, gangguan korda spinalis, trauma minor

yaitu regangan dan cedera whiplash, fraktur atau traumatik yaitu jatuh, kecelakaan

kendaraan bermotor, traumatik yaitu osteoporosis, infiltrasi neoplastik, steroid

eksogen, herniasi diskus intervertebral, degeneratif yaitu kompleks diskus-osteofit,

gangguan diskus internal, stenosis spinalis dengan klaudikasio neurogenik,

gangguan sendi vertebral, gangguan sendi atlantoaksial (misalnya arthritis

rheumatoid), arthritis seperti : spondilosis, artropati facet atau sakroiliaka, autoimun

(misalnya ankylosing spondilitis, sindrom reiter), neoplasma : metastasis,

hematologic, tumor tulang primer, infeksi/inflamasi: osteomyelitis vertebral, abses

epidural, sepsis diskus, meningitis, arachnoiditis lumbalis, metabolik :

osteoporosis, hiperparatiroid, imobilitas, osteosklerosis, vascular : aunerisma aorta

abdominal, diseksi arteri vertebral, dan lainnya seperti nyeri alih dari gangguan

visceral, sikap tubuh, psikiatrik, pura-pura sakit serta sindrom nyeri kronik.6

D. Gambaran Klinis
Gejala LBP bermacam-macam dan berbeda antara satu dengan yang lain.
Kebanyakan orang menganggap berbaring akan meningkatkan nyeri yang datang
tiap episode, tapi ada juga yang mampu tidur tanpa rasa nyeri. Kebanyakan orang
merasakan nyeri ketika mereka membungkuk atau mengambil sesuatu, yang lain
merasa nyeri bila melengkungkan tubuh ke belakang. Nyeri pada kaki juga
merupakan bagian dari masalah. Nyeri kebanyakan pada punggung atau samping
luar paha dan kemudian menjalar ke kaki. Nyeri yang menjalar pada kaki disebut
sciatica karena nyeri berasal dari perangsangan pada nervus ischiadikus,
perangsangan pada nervus ischiadikus sering menjadi lebih nyeri bila bersin atau
batuk. Pada episode akut, LBP dapat menjadi sangat akut untuk beberapa hari atau
seminggu dan akan lebih meningkat. Pada 2-4 minggu kemudian penderita akan
merasa lebih baik. Episode panjangnya waktu nyeri berbagai macam pada tiap
penderita, begitu juga dengan intensitas tiap episode nyeri dan seberapa mampu
penderita dapat menahan nyerinya.9

E. Klasifikasi Low back pain


Menurut Bimariotejo (2009) berdasarkan perjalanan klinisnya LBP dibagi
menjadi 2 jenis yaitu 1) acute Low Back pain ditandai dengan rasa nyeri yang
menyerang secara tiba-tiba, rentang wakunya hanya sebentar, antara beberapa hari
sampai beberapa minggu. Rasa nyeri ini dapat hilang atau sembuh. Acute Low Back
pain dapat disebabkan karena luka traumatic seperti kecelakaan mobil atau terjatuh,
rasa nyeri dapat hilang sesaat kemudian. Kejadian tersebut selain dapat merusak
jaringan, juga dapat melukai otot, ligament dan tendon. Pada kecelakaan yang lebih
serius, fraktur tulang pada daerah lumbal masih dapat sembuh sendiri. Sampai saat
ini penatalaksanaan awal nyeri punggung akut terfokus pada istirahat dan
pemakaian analgesik. 2) chronic Low Back pain, rasa nyeri pada chronic Low Back
pain bisa menyerang lebih dari 3 bulan. Rasa nyeri ini dapat berulang-ulang atau
kambuh kembali. Fase ini biasanya memiliki onset yang berbahaya dan sembuh
pada waktu yang lama. Chronic Low Back pain dapat terjadi karena osteoarthritis,
reumathoidarthritis, proses degenerasi discus intervertrebalis, dan tumor.9
F. Faktor Resiko

Berdasarkan studi yang dilakukan secara klinik, biomekanika, fisiologi dan

epidemiologi didapatkan kesimpulan bahwa terdapat dua faktor yang menyebabkan

terjadinya cedera otot (MSDs) akibat bekerja, yaitu:

1. Faktor Pekerjaan

Berdasarkan karakteristik pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang

dalam interaksinya dengan sistem kerja. Berdasarkan penelitian telah terbukti

bahwa tinjauan secara biomekanik serta data statistik menunjukkan bahwa

faktor pekerjaan berkontribusi pada terjadinya cedera otot akibat bekerja

Berikut ini faktor-faktor pekerjaan yang bisa menyebabkan terjadinya cedera

pada otot atau jaringan tubuh :

1) Postur tubuh

Postur tubuh pada saat melakukan pekerjaan yang menyimpang

dari posisi normal ditambah dengan gerakan berulang akan

meningkatkan risiko terjadinya LBP. Keyserling (1986)

mengembangkan criteria sikap tubuh membungkuk, berputar dan

menekuk yang dilakukan pada waktu bekerja berdasarkan pengukuran

sikap tubuh tersebut.

Kriteria penilaian sikap tubuh:

- Sikap tubuh normal : tegak / sediit membungkuk 0o- 200dari garis

vertikal

- Sikap tubuh fleksi sedang : membungkuk 200– 450dari garis vertikal

- Sikap tubuh fleksi berlebih : membungkuk > 450dari garis vertikal


- Sikap tubuh fleksi ke samping atau berputar : menekuk ke samping

kanan atau kiri atau berputar > 15o dari garis vertikal

2) Repetisi

Pengulangan gerakan kerja dengan pola yang sama, hal ini bisa

terlihat pada dimana frekuensi pekerjaan yang harus dikerjakan tinggi,

sehingga pekerja harus terus menerus bekerja agar dapat menyesuaikan

diri dengan sistem. Kekuatan beban dapat menyebabkan peregangan

otot dan ligamen serta tekanan pada tulang dan sendi – sendi sehingga

terjadi kerusakan mekanik badan vertebrata, diskus invertebrate,

ligamen, dan bagian belakang vertebrata. Kerusakan karena beban berat

secara tiba – tiba atau kelelahan akibat mengangkat beban berat yang

dilakakn secara berulang – ulang. Mikrotrauma yang berulang dapat

menyebabkan degenerasi tulang punggung daerah lumbal.

3) Pekerjaan statis (static exertions)

Pekerjaan yang menuntut seseorang tetap pada posisinya,

perubahanposisi dalam bekerja akan menyebabkan pekerjaan terhenti.

Pekerjaan dengan postur yang dinamis, memiliki risiko musculoskeletal

disolder (MSDs) lebihrendah dibandingkan dengan pekerjaan yang

mengharuskan postur statis. Halini disebabkan karena postur tubuh

yang statis dapat meningkatkan risiko yang berhubungan dengan

menurunnya sirkulasi darah dan nutrisi padajaringan otot.Begerak

sangat diperlukan untuk pemberian nutrisi kepada diskus, sehingga


pekerjaan statis dapat mengurangi nutrisi tersebut. Selain itu pekerjaan

statis menyebabkan peregangan otot dan ligament daerah punggung,

hal ini merupakan faktor resiko timbulnya LBP.

4) Pekerjaan yang membutuhkan tenaga (forceful exertions) atau beban

Force atau tenaga merupakan jumlah usaha fisik yang dibutuhkan

untuk menyelesaikan tugas atau gerakan. Pekerjaan atau gerakan yang

menggunakan tenaga besar akan memberikan beban mekanik yang

besar terhadap otot, tendon, ligament, dan sendi. Beban yang berat akan

menyebabkan iritasi, inflamasi, kelelahan otot, kerusakan otot, tendon,

dan jaringan lainnya.

2. Faktor Individu (Personal factors)

Kondisi dari seseorang yang dapat menyebabkan terjadi

musculoskeletal disorder. Berikut adalah beberapa faktor risiko pribadi

yang berpengaruh terhadap kejadian MSDs:

1) Masa Kerja

Masa kerja adalah faktor yang berkaitan dengan lamanya seseorang

bekerja disuatu perusahaan. Terkait dengan hal tersebut, MSDs

merupakan penyakit kronis yang membutuhkan waktu lama untuk

berkembang dan bermanifestasi. Jadi semakin lana waktu bekerja atau

semakin lama seseorang terpajan faktor risiko MSDs ini maka semakin

besar pula risiko untuk mengalami MSDs.10


2) Usia

Sejalan dengan meningkatnya usia akan terjadi degenerasi pada

tulang dan keadaan ini mulai terjadi disaat seseorang berusia 30 tahun.

Pada usia 30 tahun terjadi degenerasi yang berupa kerusakan jaringan,

penggantian jaringan menjadi jaringan parut, pengurangan cairan. Hal

tersebut menyebabkan stabilitas pada tulang dan otot menjadi

berkurang. Pendek kata, semakin tua seseorang, semakin tinggi risiko

orang tersebut tersebut mengalami penurunan elastisitas pada tulang,

yang menjadi pemicu timbulnya gejala MSDs. Pada umumnya keluhan

otot skeletal mulai dirasakan pada usia kerja yaitu 25-65 tahun. Pada

usia 35, kebanyakan orang memiliki episode pertama mereka kembali

sakit. Umur mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan keluhan

otot, terutama untuk otot leher dan bahu, bahkan beberapa ahli lainnya

menyatakan bahwa umur merupakan penyebab utama terjadinya

keluhan otot.

3) Jenis Kelamin

Jenis kelamin sangat mempengaruhi tingkat risiko keluhan otot

rangka. Hal ini terjadi karena secara fisiologis, kemampuan otot wanita

lebih rendah daripada pria. Berdasarkan beberapa penelitian

menunjukkan prevalensi beberapa kasus musculoskeletal disorders

lebih tinggi pada wanita dibandingkan pada pria.


4) Kebiasaan Merokok

Beberapa penelitian telah menyajikan bukti bahwa riwayat merokok

positif dikaitkan dengan MSDs seperti nyeri pinggang, linu panggul,

atau intervertebral disc hernia. Meningkatnya keluhan otot sangat erat

hubungannya dengan lama dan tingkat kebiasaan merokok. Semakin

lama dan semakin tinggi frekuensi merokok, semakin tinggi pula tingkat

keluhan otot yang dirasakan.

Meningkatnya keluhan otot sangat erat hubungannya dengan lama

dan tingkat kebiasaan merokok. Risiko meningkat 20% untuk tiap 10

batang rokok per hari. Mereka yang telah berhenti merokok selama

setahun memiliki risiko LBP sama dengan mereka yang tidak merokok.

Kebiasaan merokok akan menurunkan kapasitas paru-paru, sehingga

kemampuannya untuk mengkonsumsi oksigen akan menurun. Bila

orang tersebut dituntut untuk melakukan tugas yang menuntut

pengerahan tenaga, maka akan mudah lelah karena kandungan oksigen

dalam darah rendah.

5) Kebiasaan Olahraga

Aerobic fitness meningkatkan kemampuan kontraksi otot. 80 %)

kasus nyeri tulang punggung disebabkan karena buruknya tingkat

kelenturan (tonus) otot atau kurang berolah raga. Otot yang lemah

terutama pada daerah perut tidak mampu menyokong punggung secara


maksimal. Tingkat keluhan otot juga dipengaruhi oleh tingkat kesegaran

jasmani.

6) Tinggi badan

Walaupun pengaruhnya relatif kecil, tinggi badan merupakan faktor

yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan otot skeletal. Penelitian

Heliovaara (1987), yang dikutip NIOSH (1997) menyebutkan bahwa

tinggi seseorang berpengaruh terhadap timbulnya herniated lumbar disc

pada jenis kelamin wanita dan pria. Schierhout (1995), menemukan

bahwa pendeknya seseorang berasosiasi dengan keluhan pada leher dan

bahu. Pada tubuh yang tinggi umumnya sering mengalami keluhan sakit

punggung, tetapi tubuh tinggi tak mempunyai pengaruh terhadap

keluhan pada leher, bahu, dan pergelangan tangan. Apabila

diperhatikan, keluhan otot skeletal yang terkait dengan ukuran tubuh

lebih disebabkan oleh kondisi keseimbangan struktur rangka dalam

menerima beban, baik beban berat tubuh maupun beban tambahan

lainnya

7) Obesitas

Berat badan yang berlebihan (overweight/ obesitas) menyebabkan

tonus otot abdomen lemah, sehingga pusat gravitasi seseorang akan

terdorongke depan dan menyebabkan lordosis lumbalis, akan bertambah

yang kemudianmenimbulkan kelelahan pada otot paravertebrata, hal ini

merupakan resiko terjadinya LBP.10


3. Faktor Lingkungan

1) Getaran (vibrasi)

Getaran dapat didefinisikan sebagai serangkaian arus bolak balik,

arus mekanis bolak balik, dan pergerakan partikel mengitari suatu

keseimbangan, merupakan sebagian kecil yang dikemukakan.

Karakteristik getaran ditinjau dari frekuensi dan intensitas. Frekuensi

getaran mengacu pada frekuensi bolak balik per detik dan diukur dalam

satuan hertz (Hz). Intensitas diukur dengan berbagai cara, seperti puncak

amplitude, kecepatan tertinggi, dan pecepatan.

Reaksi fisiologis tubuh terhadap getaran tergantung pada

frekuensi dan intensitas. Getaran juga dibedakan menjadi getaran

seluruh tubuh dan getaran yang terlokalisir. Getaran seluruh tubuh

ditransmisikan ke tubuh terutama melalui bokong, misalnya saat

seorang operator menduduki tempat duduk yang bergetar. Tetapi

getaran seluruh tubuh juga dapa terjadi saat getaran memasuki tubuh

melalui lengan dan tungkai. Getaran seluruh tubuh beraibat pada seluruh

tubuh dapat bersumberdari berbagai jenis kendaraan atau peralatan berat

termasuk mobil, truk, bis, kereta api, pesawat terbang, dan mesin –

mesin untuk konstruksi bangunan.Pajanan getaran setempat terutama

berasal dari peralatan mesin genggam yang bergetar.

2) Temperatur ekstrim
Temperatur yang dingin menyebabkan berkurangnya daya kerja

sensor tubuh, aliran darah, kekuatan otot dan keseimbangan. Sedangkan

temperatur bekerja yang tinggi dapat menyebabkan pekerja cepat

merasa lelah.

G. Penatalaksanaan

Biasanya low back pain hilang secara spontan. Kekambuhan sering terjadi
karena aktivitas yang disertai pembebanan tertentu. Penderita yang sering
mengalami kekambuhan harus diteliti untuk menyingkirkan kelainan neurologik
yang mungkin tidak jelas sumbernya. Berbagai telaah yang dilakukan untuk melihat
perjalanan penyakit menunjukkan bahwa proporsi pasien yang masih menderita low
back pain selama 12 bulan adalah sebesar 62% (kisaran 42 % - 75 %), agak
bertentangan dengan pendapat umum bahwa 90% gejala low back pain akan hilang
dalam 1 bulan12

Penanganan terbaik terhadap penderita LBP adalah dengan menghilangkan


penyebabnya (kausal) walaupun tentu saja pasien pasti lebih memilih untuk
menghilangkan rasa sakitnya terlebih dahulu (simptomatis). Jadi perlu digunakan
kombinasi antara pengobatan kausal dan simptomatis. Secara kausal, penyebab
nyeri akan diatasi sesuai kasus penyebabnya. Misalnya untuk penderita yang
kekurangan vitamin saraf akan diberikan vitamin tambahan. Para perokok dan
pecandu alkohol yang menderita LBP akan disarankan untuk mengurangi
konsumsinya.

Pengobatan simptomatik dilakukan dengan menggunakan obat


untukmenghilangkan gejala-gejala seperti nyeri, pegal, atau kesemutan. Pada kasus
LBPkarena tegang otot dapat dipergunakan Tizanidine yang berfungsi
untukmengendorkan kontraksi otot (muscle relaxan). Untuk pengobatan
simptomatislainnya kadang-kadang memerlukan campuran antara obat-obat
analgesik, antiinflamasi, NSAID, obat penenang, dan lain-lain13

Apabila dengan pengobatan biasa tidak berhasil, mungkin diperlukan


tindakanfisioterapi dengan alat-alat khusus maupun dengan traksi (penarikan
tulangbelakang). Tindakan operasi mungkin diperlukan apabila pengobatan
denganfisioterapi ini tidak berhasil misalnya pada kasus HNP atau pada pengapuran
yangberat. Jadi, penatalaksanaan LBP ini memang cukup kompleks. Di samping
berobatpada spesialis penyakit saraf (neurolog), mungkin juga diperlukan berobat
kespesialis penyakit dalam (internist), bedah saraf, bedah orthopedic bahkan
mungkinperlu konsultasi pada psikiater atau psikolog. Dalam beberapa kasus,
masih banyakkasus dokter menyarankan istirahat total untuk penyembuhan kasus
low back pain,padahal penelitian baru menyatakan bahwa aktivitas yang kurang
tidak akanmengurangi gejala low back pain.11

Beragamnya penyebab LBP menuntut penatalaksanaan yang bervariasi pula.


Meski demikian, pada dasarnya dikenal dua tahapan terapi LBP yaitu:

a. Terapi Konservatif, yang meliputi rehat baring, medikamentosa dan fisioterapi.

b. Terapi Operatif

Kedua tahapan ini memiliki kesamaan tujuan yaitu rehabilitasi. Pengobatan

nyeri punggung sangat tergantung penyebabnya. Lain penyebab, lain pula

pengobatannya. Terdapat beragam tindakan untuk nyeri punggung, dariyang paling

sederhana yaitu istirahat (bedrest), misalnya untuk kasus otot tertarikatau ligamen

sprain, sampai penanganan yang sangat canggih, seperti mengganti bantal tulang

belakang. Jika dengan bedrest tidak juga sembuh, maka harus ditingkatkan dengan

pemeriksaan sinar X atau dengan MRI (magnetic resonanceimaging). Setelah itu,

bisa dilakukan fisioterapi, pengobatan dengan suntikan, muscle exercise, hingga

operasi. Masih ada lagi teknik pengobatan lain, misalnya melalui pembedahan

dengan endoskopi (spinal surgery), metode pasang pen, sampai penggantian

bantalan tulang.12
Mengatasi low back pain juga tidak cukup dengan obat atau fisioterapi. Hal itu

hanya mengurangi nyeri, tetapi tidak menyelesaikan masalah. Penderita harus

menjalani pemeriksaan untuk mengetahui sumber masalahnya. Penyembuhan bias

melalui pembedahan atau latihan mengubah kebiasaan yang menyebabkan nyeri.

Latihan itu menggunakan alat-alat pelatihan medis untuk melatih otot-otot utama

yang berperan dalam menstabilkan serta mengokohkan tulang punggung.

Semua penyakit apapun jenisnya pada dasarnya dapat dicegah walaupun

terkadang timbulnya suatu penyakit adalah disebabkan lebih dari satu faktor dan

ada faktor penyebab yang tidak dapat kita kendalikan.


BAB III

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
- Nama : Tn. H. Abd kadir
- Usia : 43 tahun
- Jenis kelamin : Laki-laki
- Agama : Islam
- Pekerjaan : Guru
- Alamat : Jl. Manuruki 11
- Status perkawian : kawin
- Suku/ Bangsa : Makassar
- Tanggal Pemeriksaan : 13 maret 2019
Tanggal kunjungan puskesmas : 13 maret 2019

a. Tanggal kunjungan rumah I : 15 maret 2019


b. Tanggal kunjungan rumah II : 18 maret 2019
c. Tanggal kunjungan rumah II : 20 maret 2019

B. Anamnesis
Tn.Ak datang ke poli umum puskesmas Jongayya dengan keluhan
nyeri pinggang bagian bawah, yang sudah di alami sejak 1 minggu yang
lalu.Pasien mengatakan bahwa nyeri terutama di rasakan ketika pasien lama
berdiri ketika pasien mengajar.
Nyeri dirasakan menjalar ke daerah kedua kaki yang mengakibatkan
pasien terganggu ketika beraktifitas .Pasien sebelumnya pernah
mengonsumsi obat anti nyeri yang dibeli d apotik tetapi nyeri tidak
membaik.
C. Riwayat Penyakit Sebelumnya
Berdasarkan pernyataan pasien, pasien sebelumnya pernah mengalami
sakit yang sama 2 bulan yang lalu.
D. Riwayat Penyakit Keluarga dan Sosial:

Dalam keluarga pasien tidak memiliki riwayat keluarga yang sama

ANAMNESIS KELUARGA :

a. Bentuk& Fungsi Keluarga

1) Bentuk Keluarga

- Bentuk Keluarga menurut Goldenberg

Keluarga terdiri dari kepala keluarga (KK) yang bernama

Tn. AK tahun,sendiri sebagai pasien berusia 53 tahun, istri pasien

yaitu ny SH berusia 55 tahun,anak pertama bernama Fk berusia 29

tahun, anak kedua bernama AS berusia 26tahun, anak ketiga bernama

AY berusia 21 tahun,anak keempat NI berusia 18tahun dan saudara

laki laki dari kepala keluarga bernama HAR berusia 71 tahun berserta

sepupu yang bernama A berusia 44 tahun. Bentuk keluarga adalah

Keluarga Inti (Nuclear Family ) yaitu keluarga yang terdiri dari

suami, istri dan anak-anak kandung.

- Bentuk keluarga menurut Sussman

Menurut sussmann, bentuk keluarga ini adalah Keluarga

Tradisional, adalah keluarga yang pembentukannya sesuai atau

tidak melanggar norma-norma kehidupan masyarakat yang secara

tradisional dihormati bersama. Hal yang terpenting adalah

keabsahan ikatan perkawinan antara suami dan istri.

2) Fungsi Keluarga

a) Fungsi biologis
 Untuk meneruskan keturunan.

 Memelihara dan membesarkan anak.

 Memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

 Memelihara dan merawat anggota keluarga.

b) Fungsi Psikologis

 Memberikan kasih sayang dan rasa aman.

 Memberikan perhatian diantara anggota keluarga.

 Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.

 Memberikan Identitas anggota keluarga.

c) Fungsi Sosial

 Membina sosialisasi pada anak.

 Membentuk norma-norma perilaku sesuai dengan tingkat

perkembangan anak.

 Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.

d) Fungsi Ekonomi

 Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan

keluarga.

 Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi

kebutuhan keluarga.

 Menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa yang

akan datang, misalnya pendidikan anak-anak, jaminan hari tua,

dsb.
Keluarga ini telah memenuhi fungsi keluarga secara lengkap baik

dari segi fungsi biologis, psikologis, sosial sedangkan dari segi ekonomi

kurang baik dikarenakan anak mereka yang tidak mendapatkan pendidikan

secara tuntas.

b. Siklus Keluarga

Tahapan siklus keluarga menurut Duvall pada keluarga Tn. AK dan

Ny. SH termasuk ke dalam tahap ke 5 yaitu keluarga dengan anak remaja.

Dimana keluarga ini memiliki 4 orang anak, anak pertama,kedua dan

ketiga berusia remaja sedangkan anak keempat berusia sekolah.

B. Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan umum dan tanda-tanda vital


- Kesadaran : Composmentis
- GCS : 15
- Tekanan darah : 130/70 mmhg
- Frekuensi nadi : 84 x/mnt
- Frekuensi Pernapasan : 20 x/mnt
- Suhu : 36,50 C
- Berat Badan : 60 kg
- Tinggi Badan : 161 cm
2) Status Generalis
- Kepala : Normocephal
- Mata : Konjungtiva Anemis (-/-), Sklera Ikterik(- /-),
Pupil bulat, isokor
- THT (tonsil) : Hiperemis(-) T1-T1
- Leher : Pembesaran KGB dan tiroid (-)
- Paru-paru
 Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri
 Palpasi : Fremitus taktil dan vokal simetris kanan dan kiri
 Perkusi : Sonor seluruh lapang paru
 Auskultasi : Vesikuler kanan dan kiri, rhonki halus (-/-),
wheezing (-/-)
- Jantung
 Inspeksi : Iktus kordis tidak nampak
 Palpasi : Iktus kordis teraba di ICS V linea midklavikula
sinistra, Nyeri Tekan (-)

 Perkusi : Batas jantung kanan ICS IV linea sternalis dextra,


batas jantung kiri ICS V linea midklavikula sinistra

 Auskultasi : Bunyi jantung I dan II normal, murmur(-)


- Abdomen
 Inspeksi : Simetris, datar, kelainan kulit (+ ), pelebaran vena
(-)
 Auskultasi : Bising usus normal
 Palpasi : Nyeri tekan (-), nyeri ketuk (-), hepatomegali (-)
spleenomegali (-)
 Perkusi : Timpani di semua lapang abdomen, nyeri ketuk (+)
- Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)

E. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang tidak dilakukan

D. Diagnosis Banding

Low back pain

Neuralgia

E. Diagnosis : low back pain


F. Terapi

Farmakologi

Terapi dari Puskesmas

 Natrium diclofenac 50 mg 1 x 1 table selama 5 hari


 Vitamin b12 3 x 1 selama 5 hari

Non Farmakologi

Intervensi yang dilakukan secara non-medikamentosa yaitu:


1. Edukasi kepada pasien mengenai penyakit pasien.
2. Penyuluhan higiene perorangan, keluarga dan lingkungan serta pola hidup
bersih dan sehat,
3. Edukasi kepada pasien untuk menghindari faktor resiko yang dapat memicu
terjadinya penyakit
4. Edukasi kepada pasien tentang lama pengobatan dan bagaimana cara
pengunaan obat.
5. Konseling kepada pasien untuk melakukan tindakan pencegahan penyakit.

G.Prognosis
Dubia ad bonam. Untuk kasus Low back pain dapat hilang sendiri seiring
dengan dihindarinya factor resiko dan pengobatan anti nyeri jika perlu. (7)
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Genogram

Keterangan:

: pria

: wanita
Gambar 1. Genogram
keluarga : low back pain
B. Apgar Keluarga
Apgar keluarga adalah suatu penentu sehat / tidaknya keluarga
dikembangkan oleh Rosen, Geymon, dan Leyton dengan menilai 5 fungsi
pokok keluarga / tingkat kesehatan keluarga yaitu :

TABEL NILAI APGAR


Respons
Hampir
KRITERIA PERTANYAAN Hampir
Kadang tidak
selalu
pernah
Apakah pasien puas dengan
keluarga karena masing-masing
Adaptasi anggota keluarga sudah √
menjalankan kewajiban sesuai
dengan seharusnya
Apakah pasien puas dengan
keluarga karena dapat membantu
Kemitraan √
memberikan solusi terhadap
permasalahan yang dihadapi
Apakah pasien puas dengan
kebebasan yang diberikan
Pertumbuhan √
keluarga untuk mengembangkan
kemampuan yang pasien miliki
Apakah pasien puas dengan
Kasih Sayang kehangatan / kasih sayang yang √
diberikan keluarga
Apakah pasien puas dengan
Kebersamaan waktu yang disediakan keluarga √
untuk menjalin kebersamaan
TOTAL
Skoring : Hampir selalu=2 , kadang-kadang=1 , hampir tidak pernah=0

Total skor

8-10 = fungsi keluarga sehat

4-7 = fungsi keluarga kurang sehat

0-3 = fungsi keluarga sakit

Dari tabel APGAR keluarga diatas total nilai skoringnya adalah 8, ini menunjukan
fungsi keluarga sehat.

C. Mandala of Health

GAYA HIDUP

Pemenuhan kebutuhan
primer dapat tercukupi
dengan baik
PERILAKU KESEHATAN
LINGK. PSIKO-SOSIO-EKONOMI
D.
.
- kurangnya pengetahuan pasien - Pendapatan
akan E.
penyakitnya
Family
- ku keluarga cukup
- Kurangnya pengetahuan pasien
F. - Kehidupan sosial
tentang faktor penyebab timbulnya lbp baik
G.
H. LINGK. KERJA
Pasien Datang dengan keluhan sakit di daerah
I.
PELAYANAN KESEHATAN punggung bagian belakang bawah yang kadang Faktor pekerjaan yang
menjalar ke kedua kaki mengakibatkan pasien
J. PKM cukup dekat
Jarak rumah dgn
harus berdiri dan duduk
K. Pemfis: status generalis dalam batas normal
lama

L.
M.
BIOLOGI
N. la LINGKUNGAN FISIK
- Pasien menderita low
O.back
Gambar
pain
2. Mandala of health - Keadaan rumah
dan lingkungan
Komunitas : baik

Pemukiman padat penduduk.

Gambar 2.Mandala of Health


L. Status Keluarga
Kedudukan
L/
Nama dalam Umur Pendidikan Pekerjaan Ket
P
keluarga

Bp. AK Suami L 53 th Universitas Guru/Dosen

Ny. SH Istri P 55 th Universitas PNS

Tidak Belum
FK Anak P 29 th
sekolah bekerja

Tidak Belum
AH Anak L 26 th
sekolah bekerja

Tidak Belum
AY Anak L 21 th
sekolah bekerja

Tidak Belum
NI Anak P 18 th
sekolah bekerja

SLTA/Sede
AR Sepupu L 71 th PNS
rajat

SLTA/Sede
A sepupu P 44 th Pelajar
rajat
M. Kegiatan Kunjungan Rumah
NO WAKTU KEGIATAN HASIL

1. 15 Maret 2019 Anamnesa, pemeriksaan Pada saat anamnesa , pasien


fisik, identifikasi masalah cukup kooperatif dan saat
dilakukan pemeriksaan fisik
ditemukan:

- Keluhan pasien nyeri


punggung bawah yang
dirasakan sudah 1 minggu
yang lalu terutama jika pasien
berdiri lama ketika mengajar
siswanya

- Pengetahuan pasien
terhadap penyakitnya kurang

2. 18 Maret 2019 Follow up anamnesa dan Pasien dan keluarga lebih


pemeriksaan fisik. paham mengenai penyakitnya
dan akan mengikuti saran
Konseling pasien mengenai
untuk lebih memperhatikan
penyakitnya.
dan menghindari faktor
Edukasi tentang penyakit penyebab munculnya
dan gaya hidup. penyakit.

Menjelaskan pentingnya Melakukan edukasi kepada


konsultasi ke pelayanan pasien tentang posisi tubuh
kesehatan. untuk menghindari
penyakitnya
3. 20 Maret 2019 Follow up anamnesa dan Pasien dan keluarga paham
pemeriksaan fisik. mengenai penyakitnya dan
mulai mengikuti saran untuk
Konseling pasien mengenai
lebih memperhatikan dan
penyakitnya.
menghindari faktor yang
Edukasi tentang penyakit menyebabkan timbulnya
dan gaya hidup. penyakit. Menyarankan
pasien berobat kembali ke
Menjelaskan pentingnya
puskesmas jika nyeri diraskan
konsultasi ke pelayanan
memberat
kesehatan.
Edukasi tentang posisi tubuh
yang ideal ketika melakukan
aktifitas

1. Kondisi pasien.

Saat kunjungan rumah, keluhan pasien masih sama tapi sudah


cenderung membaik di tiap kunjungan,dan hanya dikeluhkan ketika pasien
beraktifias agak berat. Dari pemeriksaan fisik yang dilakukan juga tidak
didapatkan kelainan yang memperburuk kondisi pasien dan pasien dapat
beraktifitas secara normal sesuai dengan umurnya.

2. Keadaan rumah.

o Letak : Rumah yang dihuni pasien terletak di pemukiman yang cukup padat
penduduk, beralamat di Jl. Manuruki VI Lr 4 RT 007 RW 004 kecamatan
Tamalate Kelurahan Manuruki
o Kondisi : Kokoh, dinding rumah tembok dan seng,, lantai dari tegel, atap
rumah dari seng, mempunyai halaman. Dengan luas rumah 3x5 meter,
dihuni 8 orang.
o Pembagian ruang : di dalam rumah terdapat 4 kamar tidur, 1 ruang tamu, 3
kamar mandi, dan 1 dapur dengan luas 2 Meter.
o Ventilasi : Terdapat jendela pada ruang depan, kamar tidur, terdapat pula
lubang ventilasi pada atas jendela.
o Pencahayaan : Pencahayaan di dalam rumah cukup. Daya listrik pada
rumah tersebut cukup , dan dirasa sudah cukup untuk keperluan sehari-hari
seluruh keluarga.
o Kebersihan : kebersihan di dalam rumah baik
o Sanitasi dasar :
Sumber air bersih : Sumber air dari PAM dan Sumur bor.

Jamban keluarga : Terdapat 3 buah kamar mandi dengan 1 jamban


jongkok dan sebuah ember untuk menampung air. Dengan dinding
pembatas setinggi 50cm tanpa pintu. Kesan kamar mandi bersih, tidak bau
dan terawat. Berukuran sekitar 50cm x 50cm.

Saluran Pembuangan Air Limbah : Limbah rumah tangga dialirkan ke


peresapan, tidak ditemukan genangan limbah disekitar rumah. Saluran
pembuangan air limbah digunakan bersama dengan warga lainnya.

Tempat pembuangan sampah : sampah dikumpulkan di keranjang


sampah, yang setiap dipindah ke depan rumah untuk diambil oleh petugas
sampah.

Halaman : terdapat halaman depan rumah seluas 3m x 5 yang digunakan


sebagai tempat jemuran dan menampung barang bekas. Jalan gang depan
rumah yang terbuat dari jalan paving blok.

Kandang : Tidak memiliki kandang untuk hewan – hewan peliharaan atau


ternak.

3. Kepemilikan barang.

Rumah yang di tempati merupakan rumah pribadi. Keluarga tersebut


memiliki televisi, lemari, tempat tidur, lemari pakaian, peralatan dapur, dll.
4. Keadaan lingkungan sekitar rumah.

Limbah rumah tangga dialirkan melalui saluran limbah, tanpa tempat sampah
diluar rumah. Kesan kebersihan di lingkungan tersebut cukup baik.

N. Diagnosa Holistik
1. Aspek personal
 Alasan berobat :. Nyeri pinggang bawah yang dirasakan sudah sejak
1 minggu
 Harapan : Keluhan dapat hilang dan pasien dapat sembuh dari
penyakit tersebut, sehingga dapat nyaman beraktivitas seperti biasa.
 Kekhawatiran :nyeri memberat sehingga pasien tidak mampu
melanjutkan aktivitasnya dengan normal.

2. Aspek Klinis
 Diagnosa kerja : Low back pain
 Diagnosa Banding : Neuralgia

3. Aspek Faktor Intrinsik


(merupakan faktor-faktor internal yang mempengaruhi masalah kesehatan
pasien)
 Kurangnya pengetahuan tentang Low back pain
 Kurang memperhatikan anggota keluarga dengan yang sama,gejala
 Kurangnya pengetahuan pasien tentang faktor pencetus penyakitnya.
4. Aspek Psikososial Keluarga
(merupakan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi masalah
kesehatan pasien)
 Kurangnya kesadaran terhadap pencegahan penyakit
 Faktor pekerjaan yang mengakibatkan pasien harus berdiri lama serta
duduk lama
 Penilaian Status Sosial dan Kesejahteraan Hidup
 Lingkungan tempat tinggal
Kepemilikan Rumah Pribadi
Daerah perumahan Padat penduduk
Luas rumah 3m x 5m
Bertingkat Tidak bertingkat
Jumlah Penghuni Rumah 8 orang
Luas halaman rumah 1x 5m
Kondisi halaman Rapih
Lantai rumah Terbuat dari semen
Dinding rumah Tembok dan semen
Kondisi dalam rumah Baik
Penerangan listrik Ada
Jamban Ada (Wc didalam rumah)
Ketersiadiaan air bersih Ada (PDAM) dan sumur bor

 Kepemilikan barang-barang berharga


memiliki beberapa barang elektronik dan barang rumah tangga di
rumahnya antara lain yaitu, 3 buah televisi, 4 buah kipas angin, 1 buah
rice cooker, 1 buah lemari berisi piring dan peralatan dapur, 3 buah
lemari berisi pakaian, 1 buah kompor gas, 1 buah kulkas.

 Penilaian perilaku kesehatan keluarga


 Tn. AK jarang berobat untuk kontrol kesehatan ke Puskesmas
Jongaya menggunakan kartu jaminan kesehatan berupa ASKES
 Status sosial dan kesejahteraan keluarga
o Pekerjaan pasien adalah guru sekolah tingkat mengah atas. Pasien tinggal di
rumah yang terletak di Jl. Manuruki VI Lr 4 RT 007 RW 004 kecamatan
Tamalate Kelurahan Manuruki.
 Pola konsumsi makanan keluarga
 Pola makan teratur dimana pasien makan biasanya 2-3 kali
dengan porsi seimbang, dan konsumsi buah-buahan dan sayur-
sayuran yang cukup.
 Psikologi dalam hubungan antar anggota keluarga
 Pasien memiliki hubungan yang baik dengan sesama anggota
keluarga terutama suami, dan anak
 Kebiasaan
 Pasien mempunyai kebiasaan jarang mandi dan mengganti
pakaian
 Lingkungan
 Lingkungan tempat tinggal lumayan cukup baik. Tata
pemukiman padat. Kebersihan lingkungan rumah dikatkan baik.
Dirumah pasien terdapat 1 ruang tamu, 4 kamar tidur, 1 dapur dan
3 WC, dimana ruang tamu dan dapur yang cukup luas. Jalanan
didepan rumah baik, rumah dengan tetangga yang satu berdempet
(berpetak).
Data sarana pelayanan kesehatan dan lingkungan kehidupan keluarga

FAKTOR KETERANGAN Kesimpulan tentang factor


pelayanan kesehatan
Sarana pelayanan Puskesmas Pelayanan dengan
kesehatan yang menggunakan kartu KIS
digunakan oleh keluarga
Cara mencapai sarana Dengan kendaraan Jarak puskesmas dengan
pelayanan kesehatan pribadi rumah pasien cukup dekat
tersebut
Tariff pelayanan Gratis Semua pelayanan dengan
kesehatan yang dirasakan menggunakan kartu jaminan
kesehatan
Kualitas pelayanan Baik Kualitas pelayanan puskesmas
kesehatan yang dirasakan disana baik
Keterangan:
 T = Tidak
 Y = Ya
 N = Nol
 - = tidak ditanyakan
 1 = jika tidak ada jawaban yang jawab “T”
 0= jika ada jawaban yang jawab “T”
Interpretasi:

 Nilai indeks > 0,800 = keluarga sehat


 Nilai indeks 0,500-0,800 = pra sehat
 Nilai indeks < 0,500 = tidak sehat
Hasil perhitungan :

Y 8 4
= = = 1
12-N 12-4 4

Hasil: dari perhitungan didapatkan hasil yaitu 1 dikategorikan dalam nilai indeks
> 0,800 yaitu keluarga sehat.

P. IDENTIFIKASI MASALAH PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT


No. Kriteria yang dinilai Jawaban Skor

1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan. Ya 1

2. Memberi ASI ekslusif. Ya 1

3. Menimbang balita setiap bulan. Ya 1

4. Menggunakan air bersih. Ya 1


5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun. Ya 1

6. Menggunakan jamban sehat. Ya 1

7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu. Tidak 0

8. Makan buah dan sayur setiap hari. Ya 1

9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari. Ya 1

10. Tidak merokok di dalam rumah. Ya 1

Total jawaban ya 9

Interpretasi: Total skor adalah 9 yang berarti keluarga Ny.R tidak menerapkan
PHBS dengan baik.
BAB V

LAMPIRAN

Kondisi bagian depan dan samping rumah

Ruang tamu

Kamar tidur
Dapur

Kamar mandi
DAFTAR PUSTAKA

1. Republik Indonesia. Keputusan Presiden No. 22 Tahun 1993 tentang Penyakit


yang Timbul Karena Hubungan Kerja. Presiden Republik Indonesia: Jakarta;
1993
2. Jeyaratnam J. Buku Ajar Praktik Kedokteran Kerja. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2009.
3. Suaeb A. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Universitas Gunadarma;
2013
4. Harsono, 2009. Kapita Selekta Neurologi. Edisi 8. Jakarta : Erlangga
5. Harianto R. Buku Ajar Kesehatan Kerja. Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta. 2008.
6. Sadeli HA, Tjahjono B. Nyeri Punggung Bawah. dalam: Nyeri Neuropatik,
Patofisioloogi dan Penatalaksanaan. Editor: Meliala L, Suryamiharja A, Purba
JS, Sadeli HA. Perdossi, 2001:145-167.
7. Rumawas RT. Nyeri Pinggang Bawah (Pandangan umum). Kumpulan makalah
lengkap Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Saraf Indonesia (PERDOSSI).
Palembang, 8-12 Desember 1996
8. Depkes RI. 2008. Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas
Kesehatan. Jakarta.
9. Notoatmodjo S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta
10. Sadeli HA, Tjahjono B. Nyeri Punggung Bawah. dalam: Nyeri Neuropatik,
Patofisioloogi dan Penatalaksanaan. Editor: Meliala L, Suryamiharja A, Purba
JS, Sadeli HA. Perdossi, 2001:145-167