Anda di halaman 1dari 10

DOKUMEN RENCANA PASCATAMBANG

PT SARANA MANDIRI UTAMA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


PT Sarana Mandiri Utama merupakan perusahaan swasta nasional yang bergerak dalam
industri pertambangan dan energi dan telah mendapatkan persetujuan Peningkatan Izin Usaha
Pertambangan Eskploitasi Menjadi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi Kepada PT
Sarana Mandiri Utama sesuai Nomor : 503/100/D-IV/2010, Tertanggal 20 April 2010 berlaku
sampai dengan 20 April 2015 dengan luas area sebesar : 2.000 Ha., yang berlokasi di
Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung Provinsi Kalimantan Utara., dengan Kode
Wilayah : DEP 64 PP 25 018, yang selanjutnya melalui Surat Keputusan Gubernur Kalimantan
Utara Nomor : 188.44./K.145/2015, dengan Kode Wilayah : DEP 64 PP 25 018, Tertanggal 17
Maret 2015 tentang Perpanjangan Operasi Produksi kepada PT Sarana Mandiri Utama,
kemudian melalui Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Utara Nomor : 188.44/K.575/2016,
dengan Kode Wilayah : 23.6504.3.03.2015.002, Tertanggal 12 Oktober 2016 tentang Penciutan
Wilayah Izin Usaha Pertambangan Batubara Kepada PT Sarana Mandiri Utama yang semula
Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) seluas 2.000 Ha menjadi 1.991 Ha.
Berdasarkan hasil dari kajian dokumen Studi Kelayakan yang dilakukan oleh tim PT
Sarana Mandiri Utama terhadap bahan galian batubara dilokasi studi, ternyata mempunyai
cadangan dalam jumlah yang cukup dan kualitas batubara yang relatif bagus, sehingga
mendorong PT Sarana Mandiri Utama untuk melakukan eksploitasi/operasi produksi terhadap
batubara tersebut.
Dalam rangka memenuhi ketentuan yang berlaku sebagaimana tertuang di dalam
Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827 K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah
Teknik Pertambangan Yang Baik, di dalam rencana pascatambang batubara PT Sarana Mandiri
Utama ini juga mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berkaitan
dengan pascatambang.
Untuk mengantisipasi kegiatan pascatambang, PT Sarana Mandiri Utama telah
menyiapkan rencana pascatambang yang akan diuraikan secara detail dalam bab-bab
selanjutnya pada dokumen ini. Rencana pascatambang ini juga dipersiapkan untuk memenuhi
ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Menteri tersebut di atas.

PENDAHULUAN
I.5
DOKUMEN RENCANA PASCATAMBANG
PT SARANA MANDIRI UTAMA

1.1.1 Identitas Perusahaan


Nama Perusahaan : PT Sarana Mandiri Utama
Alamat Kantor Pusat : Hanurata Graha Lt. 8 Jl. Kebon Siri Raya Kav. 67-69,
Menteng Jakarta Pusat.
Alamat Kantor Cabang Perusahaan : Jl. Mulawarman Gang Rukun RT. 017, Karang Anyar,
Tarakan Barat, Tarakan, Kalimantan Utara
Penanggung Jawab : Arifudin
Jabatan : Direktur

1.1.2. Peraturan Perundang-undangan


Peraturan-peraturan yang terkait dan dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan rencana
pascatambang batubara PT Sarana Mandiri Utama diuraikan sebagai berikut :
A. Undang – Undang
1. Undang-Undang RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
2. Undang-Undang RI Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
3. Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
4. Undang-Undang RI Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan.
5. Undang-Undang RI Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
6. Undang-Undang RI Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi.
7. Undang-Undang RI Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
8. Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
9. Undang-Undang 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup.
10. Undang-Undang RI Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.
11. Undang-Undang RI Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial.
12. Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
13. Undang-undang No.41 Tahun 2009, tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan.
B. Peraturan Pemerintah
1. Peraturan Pemerintah RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran
Udara.
2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Pencemaran Air.

PENDAHULUAN
I.5
DOKUMEN RENCANA PASCATAMBANG
PT SARANA MANDIRI UTAMA

3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional.
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi
dan Pasca Tambang.
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2010 Tentang Pembinaan
dan Pengawasan Penyelenggaraan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
7. Peraturan Pemerintah RI Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai.
8. Peraturan Pemerintah RI Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan.
9. Peraturan Pemerintah RI Nomor 73 Tahun 2013 tentang Rawa.
10. Peraturan Pemerintah RI Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun.
11. Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2016 tentang Ketentuan Umum dan
Pemungutan Pajak Daerah.
12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat
Daerah
13. Peraturan Pemerintah No.01 Tahun 2011, tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan.
14. Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2017 tentang Instrumen Ekonomi Lingkungan.
15. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2018 Tentang Pelaksanaan
Kaidah Pertambangan yang Baik dan Pengawasan Pertambangan Mineral dan
Batubara.

C. Peraturan Presiden Atau Sejenis


1. Keputusan Presiden RI Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak
Lingkungan.
D. Peraturan Menteri Atau Sejenis
1. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 2 Tahun 2000 tentang Panduan
Penilaian Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 876/Menkes/SK/VIII/2001
tentang Pedoman Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan.

PENDAHULUAN
I.5
DOKUMEN RENCANA PASCATAMBANG
PT SARANA MANDIRI UTAMA

3. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metode Analisis
Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air Permukaan.
4. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 110 Tahun 2003 tentang Pedoman
Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air pada Sumber Air.
5. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air
Limbah Bagian Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan Batubara.
6. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pengkajian
untuk Status Baku Mutu Air.
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 289/Menkes/III/2003 tentang Prosedur
Pengendalian Dampak Pencemaran Udara Akibat Kebakaran Hutan terhadap
Kesehatan.
8. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 142 Tahun 2004 tentang Pedoman
Mengenai Syarat dan Tata Cara Perizinan serta Pedoman Kajian Pembuangan Air
Limbah ke Air atau Sumber Air.
9. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 45 Tahun 2005 tentang Pedoman
Penyusunan Laporan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan
Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).
10. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun 2008 tentang
Pemanfaatan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
11. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor P.50/Menhut-II/2016 tentang Pedoman Pinjam
Pakai Kawasan Hutan.
12. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor
P.50/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2016 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan.
13. Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827 K/30/MEM/2018 tentang Pedoman
Pelkasanaan Kaidah Pertambangan Yang Baik
14. Keputusan Menteri ESDM Nomor 1806 K/30/MEM/2018 tentang Pedoman
Pelaksanaan Penyusunan, Evaluasi, Persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya,
Serta Laporan Pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara..
E. Keputusan Kepala Daerah
1. Peraturan Bupati Kabupaten Tana Tidung Nomor 31 Tahun 2016 tentang ,Izin
Pembuangan Air Limbah ke Sumber Air.

PENDAHULUAN
I.5
DOKUMEN RENCANA PASCATAMBANG
PT SARANA MANDIRI UTAMA

2. Peraturan Gubernur Kalimantan Utara No. 44 Tahun 2018 tentang Pengelola Dana
Jaminan Reklamasi Dan Pascatambang Izin Usaha Pertambangan Mineral Dan
Batubara
3. Peraturan Gubernur Kalimantan Utara No. 37 Tahun 2014 tentang Izin Pemanfaatan
Air Permukaan di Provinsi Kaliamnatan Utara
4. Peraturan Daerah No. 1 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi
Kalimantan Utara Tahun 2017-2037

1.1.3. Status Perizinan


PT Sarana Mandiri Utama sebagai salah satu pemegang Ijin Usaha Pertambangan di
wilayah Provinsi Kalimantan Utara, melakukan pertambangan batubara di areal seluas 1.991 Ha
yang terletak di wilayah Kecamatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tana Tidung, Propinsi Kalimantan
Utara. Adapun status perizinan yang dimiliki oleh PT Sarana Mandiri Utama disajikan pada tabel
berikut ini :

PENDAHULUAN
I.5
RENCANA PASCATAMBANG
PT SARANA MANDIRI UTAMA

PENDAHULUAN
I.9
RENCANA PASCATAMBANG
PT SARANA MANDIRI UTAMA

PENDAHULUAN
I.9
RENCANA PASCATAMBANG
PT SARANA MANDIRI UTAMA

1. Melibatkan masyarakat di sekitar lokasi tambang batubara untuk berperan serta dalam
memberikan pendapat dan masukan dalam kaitannya dengan penyusunan dokumen
RPT.
2. Peran pemerintah baik pusat maupun daerah untuk ikut menangani kegiatan pasca
tambang yang memerlukan dukungan dari pihak di luar kewenangan perusahaan.
3. Penanganan tenaga kerja pasca tambang yang terencana untuk mencegah terjadinya
pengangguran massal pada saat pasca tambang tersebut.
4. Memberikan bantuan kepada masyarakat di sekitar, sesuai dengan kemampuan
perusahaan melalui program community development (CD) atau corporate social
responsibility (CSR).
5. Interaksi sosial yang baik antara perusahaan dengan masyarakat di sekitar, sehingga
terhindar dari konfliks kepentingan atau konflik sosial masyarakat.

C. PENDEKATAN INSTITUSI
Pendekatan institusi, yaitu mekanisme kelembagaan yang akan dilakukan oleh
perusahaan dalam rangka pelaksanaan penutupan tambang, meliputi koordinasi dengan instasi
terkait dan penyampaian laporan berkala.

1.3.2. Ruang Lingkup


Ruang Lingkup penyusunan Dokumen RPT adalah berdasarkan pada Keputusan
Menteri ESDM Nomor 1827 K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik
Pertambangan Yang Baik. Dalam kajian mengenai isi dokumen tersebut salah satunya dilakukan
melalui konsultasi dengan para Pemangku Kepentingan (Stakeholder). Tujuan konsultasi
tersebut adalah untuk dapat memperoleh tanggapan, saran, masukan, pendapat dan pandangan
dari berbagai pihak yang berkepentingan terhadap rencana penutupan tambang, termasuk
rencana alih fungsi pengelolaan fasilitas tambang kepada para Pemangku Kepentingan, serta
perubahan rencana peruntukan lahan.
Ruang lingkup studi dalam penyusunan dokumen rencana pascatambang PT Sarana
Mandiri Utama meliputi :
BAB I PENDAHULUAN

PENDAHULUAN
I.9
RENCANA PASCATAMBANG
PT SARANA MANDIRI UTAMA

1. Latar Belakang, meliputi :


a. Identitas pemegang IUP atau IUPK (nama badan usaha/ koperasi/perseorangan, alamat
lengkap, penanggung jawab rencana atau kegiatan)
b. Uraian singkat mengenai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan
kegiatan pascatambang
c. Uraian singkat mengenai status perizinan (Nomor, tanggal diterbitkannya, masa berlaku,
status PMA/PMDN IUP atau IUPK)
2. Maksud dan Tujuan
3. Pendekatan dan Ruang lingkup
BAB II PROFIL WILAYAH
1. Lokasi dan Kesampaian Wilayah
a. Uraian singkat mengenai lokasi kegiatan Operasi Produksi (desa, kecamatan,
kabupaten/ kota, provinsi dan posisi geografi) dilengkapi dengan Peta Situasi Lokasi
Tambang.
b. Uraian singkat mengenai sarana perhubungan dari dan ke lokasi kegiatan Operasi
Produksi
2. Kepemilikan dan Peruntukan Lahan
Uraian rinci mengenai status kepemilikan dan peruntukan lahan di dalam WIUP atau WIUPK
dilengkapi dengan Peta Peruntukan Lahan.
3. Rona Lingkungan Awal
Uraian rinci mengenai rona lingkungan hidup awal yang diperbaiki terkena dampak serta
telaahan komponen lingkungan yang terkena dampak, meliputi :
a. Peruntukan lahan
b. Morfologi dilengkapi Peta
c. Air permukaan (sungai, danau, rawa)
d. Air tanah
e. Biologi akuatik dan teresterial
f. Sosial, budaya, dan ekonomi (demografi, mata pencaharian, kesehatan, pendidikan,
dan lain-lain).
4. Kegiatan lain di sekitar tambang
Uraian rinci mengenai kegiatan lain yang berada di sekitar tambang dilengkapi dengan Peta
Situasi Kegiatan Lain.
BAB III DESKRIPSI KEGIATAN PERTAMBANGAN

PENDAHULUAN
I.9
RENCANA PASCATAMBANG
PT SARANA MANDIRI UTAMA

1. Keadaan Cadangan Awal


2. Sistem dan Metode Penambangan
3. Pengolahan dan/ atau Pemurnian
4. Fasilitas Penunjang
BAB IV RONA LINGKUNGAN AKHIR LAHAN PASCA TAMBANG
1. Keadaan Cadangan Tersisa
2. Peruntukan Lahan
3. Morfologi
4. Air Permukaan dan Air tanah
5. Biologi Akuatik dan Teresterial
6. Sosial, Budaya, dan Ekonomi
BAB V HASIL KONSULTASI DENGAN PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKEHOLDERS)
BAB VI PROGRAM PASCATAMBANG
1. Reklamasi pada lahan bekas tambang dan lahan di luar bekas tambang
2. Pengembangan Sosial, Budaya, dan Ekonomi
3. Pemeliharaan
BAB VII PEMANTAUAN
1. Kestabilan Fisik
2. Air Permukaan dan Air Tanah
3. Biologi Akuatik dan Teresterial
4. Sosial, Budaya, dan Ekonomi
BAB VIII ORGANISASI
1. Organisasi
2. Jadwal Pelaksanaan Pascatambang
BAB IX KRITERIA KEBERHASILAN PASCATAMBANG
BAB X RENCANA BIAYA PASCATAMBANG
1. Biaya Langsung
2. Biaya Tidak Langsung
3. Total Biaya

PENDAHULUAN
I.9