Anda di halaman 1dari 14

TEORI AUDIT

MATA KULIAH :

PEMERIKSAAN KEUANGAN LANJUTAN

DIBUAT OLEH :

DHANIEL HUTAGALUNG (123091021)


AKNIESTER (123100003)
GRACE J KURNIAWAN (123100033)
ONI (123100062)
NITA MELINDA (123100092)

FAKULTAS EKONOMI

PROGRAM PENDIDIKAN MAGISTER AKUNTANSI

UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA

2010
TEORI AUDIT

Pengertian Auditing :

• Kohler: Auditing is an exploratory, critical review by a professional account of the


underlying internal control and accounting records of a business enterprises or other
economic unit, precedent to the expression by the auditor of an opinion of the propriety
(fairness) of its financial statement.
• Arens and James: Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about
information to determine and report on the degree of correspondence between the
information and established criteria. Auditing should be done by a competent
independent person.

• Mulyadi: Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara
obyektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi,
dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan
tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada
pemakai yang berkepentingan

• Moenaf Regar: serangkaian pemeriksaan kegiatan yang bebas dilakukan oleh akuntan
untuk meneliti daftar keuangan dari suatu perusahaan yang dilaksanakan menurut norma
pemeriksaan akuntan untuk dapat memberikan (atau menolak memberikan) pendapat
mengenai kewajaran dari daftar keuangan yang diperiksa.
• Whittington, O Ray dan Kurt Penny mendefinisikan auditing adalah suatu proses
pengujian atas laporan keuangan suatu perusahaan yang dilakukan oleh kantor akuntan
publik. Proses audit itu sendiri meliputi pemeriksaan atas catatan-catatan/bukti-bukti
transaksi dan bukti-bukti pendukung lainnya dalam laporan keuangan tersebut. Dengan
melibatkan pihak internal perusahaan maupun pihak eksternal perusahaan serta
melaksanakan prosedur audit lainnya untuk mendapatkan bukti-bukti yang diperlukan
untuk menentukan apakah laporan keuangan tersebut disajikan secara wajar dan benar
adanya.

2
Pengertian diatas dapat diartikan bahwa audit atau pemeriksaan bermakna evaluasi terhadap
suatu organisasi, sistem, proses, atau produk. Audit dilaksanakan oleh pihak yang kompeten,
objektif, dan tidak memihak, yang disebut auditor. Tujuannya adalah untuk melakukan verifikasi
bahwa subjek dari audit telah diselesaikan atau berjalan sesuai dengan standar, regulasi, dan
praktik yang telah disetujui dan diterima.
Umumnya, audit merupakan proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang
informasi yang dapat diukur mengenai sesuatu entitas ekonomi yang dilakukan seseorang yang
kompeten dan independent untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi
dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan oleh PSAK.

Dalam melaksanakan audit faktor-faktor berikut harus diperhatikan:


1). Dibutuhkan informasi yang dapat diukur dan sejumlah kriteria (standar) yang dapat
digunakan sebagai panduan untuk mengevaluasi informasi tersebut, informasi yang andal dan
dapat dipercaya sangat diperlukan dalam pengambilan suatu keputusan baik oleh pihak
manajemen perusahaan maupun pihak eksternal, sehingga mereka memerlukan jasa
profesional yang independen dan yang mampu menilai secara objektif tentang kewajaran dan
kebenaran suatu informasi sehingga mendorong pihak-pihak tersebut memilih untuk
melakukan audit terhadap informasi yang diterima.

2). Penetapan entitas ekonomi dan periode waktu yang diaudit harus jelas untuk menentukan
lingkup tanggung jawab auditor,

3). Bahan bukti harus diperoleh dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk memenuhi tujuan
audit,

4). Kemampuan auditor memahami kriteria yang digunakan serta sikap independen dalam
mengumpulkan bahan bukti yang diperlukan untuk mendukung kesimpulan yang akan
diambilnya.

Umumnya, audit dilakukan satu kali dalam setahun, yaitu untuk Laporan Keuangan akhir tahun,
misalnya per 31 Desember dan untuk periode Januari – Desember. Perusahaan dapat saja
melakukan audit untuk setiap bulannya atau setiap triwulan atau per kwartal apabila diperlukan.
Namun demikian, pada umumnya perusahaan hanya melakukan audit pada akhir tahun saja

3
mengingat audit harus dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik yang merupakan pihak ketiga yang
independent, yang artinya pelaksanaan audit setiap kalinya memerlukan biaya.

Tujuan audit umum atas laporan keuangan suatu perusahaan oleh auditor independent adalah
untuk menyatakan pendapat atas kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan /
neraca, hasil usaha / laba rugi, dan arus kas yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum (PSAK).

Selain dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik, audit juga bisa dilakukan secara internal, yang
berarti dilakukan oleh perusahaan sendiri dengan mempekerjakan seorang akuntan yang
ditugaskan khusus untuk melakukan audit atau pemeriksaan secara berkala atas pembukuan yang
dilakukan perusahaan. Dengan cara demikian, perusahaan memperoleh manfaat dalam hal
adanya kepastian bahwa perusahaan telah melakukan pencatatan atas seluruh transaksi yang
terjadi dengan cara-cara yang benar dan sesuai dengan PSAK, sehingga dengan demikian,
manajemen perusahaan memiliki data laporan keuangan yang lebih dapat dipercaya tingkat
akurasinya untuk keperluan pengambilan keputusan.

Tanggung jawab manajemen adalah untuk menentukan kebijakan akuntansi yang sehat,
menjalankan sistem pengendalian intern yang baik, dan membuat penyajian yang wajar dalam
laporan keuangan.

Melalui audit, manajemen perusahaan juga dapat memperoleh masukan-masukan mengenai


prosedur pembukuan untuk menjadikannya lebih baik atau mengenai prosedur mana yang
ternyata tidak diimplementasikan sebagaimana mestinya. Pada prinsipnya, audit memperkecil
kesempatan/kemungkinan adanya penipuan, pencurian, kesalahan dan hal-hal sejenis yang
mungkin terjadi, yang dilakukan oleh karyawan perusahaan baik disengaja maupun tidak.

Adanya prosedur pengawasan/pemeriksaan dalam perusahaan atas pembukuan yang dilakukan


secara internal ini juga dapat meningkatkan kepercayaan pihak ketiga/bank dalam membaca
laporan keuangan perusahaan.

4
Jenis Audit

1. Audit Laporan Keuangan : yang di review adalah laporan keuangan, bahan bukti
transaksi, dokumen, catatan dan bahan bukti keuangan yang berasal dari sumber-sumber
diluar perusahaan.
Audit keuangan adalah audit terhadap laporan keuangan perusahaan atau organisasi yang
akan menghasilkan opini pihak ketiga mengenai relevansi, akurasi, dan kelengkapan
laporan-laporan tersebut. Audit keuangan umumnya dilaksanakan oleh perusahaan atau
Akuntan Publik Independen yang harus mengikuti prinsip-prinsip akuntansi yang
diterima umum. Banyak perusahaan mempekerjakan auditor internal yang berfokus pada
pengawasan pelaksanaan dan operasi perusahaan untuk memastikan kesesuaiannya
dengan kebijakan organisasi.

2. Audit Operasional : yang di review adalah kegiatan operasional suatu perusahaan untuk
menilai efisiensi dan efektifitas. Laporan kesalahan, catatan gaji, dan biaya pemrosesan
gaji.
Audit Operasional adalah pengkajian atas setiap bagian organisasi terhadap prosedur
operasi standar dan metode yang diterapkan suatu organisasi dengan tujuan untuk
mengevaluasi efisiensi, efektivitas, dan keekonomisan (3E).

3. Audit Ketaatan : memeriksa ketaatan, prosedur, syarat dan aturan yang di tetapkan oleh
suatu perusahaan. Laporan keuangan dan perhitungan-perhitungan oleh auditor. Audit
Ketaatan adalah proses kerja yang menentukan apakah pihak yang diaudit telah
mengikuti prosedur, standar, dan aturan tertentu yang ditetapkan oleh pihak yang
berwenang.

Jenis Auditor

1. Kantor Akuntan Publik / Auditor Independent : bertanggung jawab atas audit laporan
keuangan histories dari seluruh perusahaan publik dan perusahaan besar lainnya.
2. Auditor Pemerintah : bertanggung jawab secara fungisional atas pengawasan terhadap
kekayaan dan keuangan Negara.

5
3. Auditor Pajak : bertanggung jawab atas penerimaan Negara dari sektor perpajakan dan
penegakan hukum dalam pelaksanaan ketentuan perpajakan.
4. Auditor Intern : untuk melakukan audit bagi kepentingan manajemen perusahaan, seperti
halnya auditor pemerintah bagi pemerintah. Auditor intern harus berada di luar fungsi lini
suatu organisasi. Auditor intern wajib memberikan informasi yang berharga bagi
manajemen untuk pengambilan keputusan yang berkaitan dengan operasi perusahaan.

Standar Audit yang ditetapkan

Standar Umum :

1. Keahlian dan pelatihan teknis yang memadai.


2. Independensi dalam sikap mental.
3. Kemahiran professional yang cermat dan seksama.

Standar Pekerjaan Lapangan :

1. Perencanaan dan supervisi audit.


2. Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern.
3. Bukti audit yang cukup dan kompeten.

Standar Pelaporan :

1. Pernyataan apakah laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum.
2. Pernyataan mengenai ketidak-konsistenan penerapan prinsip akuntansi yang berlaku
umum.
3. Pengungkapan informasi dalam laporan keuangan.
4. Pernyataan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan.

Laporan audit menginformasikan pemakai informasi mengenai apa yang dilakukan auditor dan
kesimpulan yang diperolehnya.

6
Jenis Laporan Audit

1. Wajar Tanpa Pengecualian : Auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan disajikan


secara wajar.
2. Wajar Dengan Pengecualian : Auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan disajikan
secara wajar, kecuali untuk pos tertentu.
3. Tidak Wajar : Auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan tidak disajikan secara
wajar.
4. Tidak Memberikan Pendapat : Auditor tidak menyimpulkan apakah laporan keuangan
disajikan secara wajar.

Materialitas
Materialitas adalah faktor dalam mempertimbangkan jenis laporan yang tepat untuk diterbitkan
dalam keadaan tertentu. Suatu salah saji dalam laporan keuangan dapat dianggap material jika
pengetahuan atas salah saji tersebut dapat mempengaruhi keputusan pemakai laporan keuangan
yang rasional.

1. Tidak Material : jika terdapat salah saji dalam laporan keuangan, tetapi cenderung tidak
mempengaruhi keputusan pemakai laporan dan keputusan biasanya tidak berpengaruh.
(wajar tanpa pengecualian )
2. Material : jika salah saji di dalam laporan keuangan dapat mempengaruhi keputusan
pemakai, tetapi keseluruhan laporan keuangan tersebut tersaji dengan benar, sehingga
tetap berguna. ( wajar dengan pengecualian )
3. Sangat Material : jumlah sangat material atau pengaruhnya sangat meluas sehingga
kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan diragukan dan sebagian besar dari
seluruh keputusan yang didasarkan kepada laporan keuangan akan sangat berpengaruh.
(pernyataan tidak memberikan pendapat atau pendapat tidak wajar ).

Tujuan audit umum berkait transaksi :

1. Eksistensi : penjualan yang di catat adalah untuk pengiriman kepada konsumen yang
benar-benar ada.
2. Kelengkapan : transaksi penjualan yang ada seluruhnya telah di catat.

7
3. Akurasi : penjualan yang dicatat adalah sejumlah barang yang dikirim dan ditagih dan
dicatat dengan benar.
4. Klasifikasi : transaksi penjualan diklasifikasikan dengan tepat.
5. Saat pencatatan : penjualan dicatat pada tanggal yang benar.
6. Posting dan pengikhtisaran : transaksi penjualan dicatat dalam buku tambahan dengan
benar dan diikhtisarkan dengan benar.

Tujuan audit berkait saldo :

1. Eksistensi : semua persediaan yang di catat memang terdapat pada tanggal neraca.
2. Kelengkapan : semua persediaan yang ada telah di hitung dan dicantumkan dalam
ikhtisar persediaan.
3. Hak dan kewajiban : perusahaan berhak atas semua persediaan yang tercantum.
Persediaan tidak digunakan sebagai jaminan.
4. Akurasi : jumlah persediaan sesuai dengan setiap rincian barang-barang yang secara fisik
berada di tangan. Harga yang digunakan untuk menilai persediaan sudah wajar.
Perhitungan harga dikalikan jumlah sudah benar dan rincian ditambahkan secara benar.
5. Klasifikasi : pos-pos persediaan telah diklasifikasikan dengan pantas menurut bahan
baku, barang dalam proses, dan barang jadi.
6. Pisah batas : pisah batas penjualan dan pembelian pada akhir tahun adalah pantas.
7. Kecocokan rincian nilai realisasi : total persediaan sesuai dengan buku besar. Persediaan
telah diturunkan nilainya dimana ada pengurangan nilai bersih yang direalisasikan.
8. Penyajian dan pengungkapan : kategori utama persediaan dan basis penilaiannya telah
diungkapkan. Persediaan yang digadaikan atau diserahkan telah diungkapkan.

Bahan Bukti Audit

Bahan bukti audit adalah suatu informasi yang digunakan auditor untuk menentukan apakah
informasi kuantitatif yang sedang diaudit disajikan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.

Faktor yang menentukan apakah suatu bahan bukti dapat memberikan kesimpulan :

8
1. Relevansi : bahan bukti berkaitan atau relevan terhadap tujuan pengujian auditor sebelum
dikatakan bersifat dapat menyimpulkan.
2. Kompetensi : mengacu kepada derajat dapat dipercayanya suatu bahan bukti.
Karakteristiknya adalah independensi penyedia data, efektifitas struktur pengendalian
intern, pengetahuan yang diperoleh sendiri oleh auditor, kualifikasi orang yang
menyediakan informasi, dan tingkat objektifitas.
3. Kecukupan : bahan bukti yang diperoleh menentukan kecukupannya jumlah diukur
terutama dengan besar sample yang di pilih oleh auditor.
4. Ketepatan waktu : kapan bahan bukti dikumpulkan atau periode yang dicangkup oleh
auditor.

Jenis Bahan Bukti Audit :

1. Pemeriksaan fisik : adalah inspeksi atau penghitungan aktiva berwujud oleh auditor.
Tujuannya untuk memastikan jumlah spesifikasi barang termasuk kondisi apakah sesuai
dengan laporan keuangan.
2. Konfirmasi : digambarkan sebagai penerimaan jawaban tertulis maupun dari pihak ketiga
yang independent dalam memverifikasi akurasi informasi yang telah diminta oleh
auditor.
3. Dokumentasi : merupakan pemeriksaan auditor atas dokumentasi dan catatan klien untuk
menyokong informasi yang ada atau seharusnya ada dalam laporan keuangan.
4. Pengamatan : adalah penggunaan perasaan untuk menetapkan aktifitas tertentu.
5. Tanya jawab dengan klien : mendapatkan informasi tertulis atau lisan dari klien dengan
menjawab pertanyaan dari auditor.
6. Pelaksanaan ulang : mencangkup pengecekan ulang suatu sample penghitungan dan
perpindahan informasi yang dilakukan klien selama periode yang diaudit.
7. Prosedur analitis : adalah menggunakan perbandingan dan hubungan untuk menentukan
apakah saldo akan tersaji secara layak. Tujuannya untuk memahami bidang usaha klien
dan mengetahui kemampuan klien.

9
Tujuan dan Manfaat Audit

Dalam perusahaan perseroan, dimana para manajer ditempatkan pada posisi dimana mereka
dapat menguntungkan perusahaan yang tercermin dalam laporan keuangan yang disusunnya
dalam suatu periode tertentu. Laporan keuangan yang disusun merupakan bentuk
pertanggungjawaban dari hasil pekerjaannya selama suatu periode. Para manajer tergoda untuk
menyajikan laporan keuangan yang berat sebelah, mengandung hal-hal yang tidak benar, dan
mungkin menyembunyikan informasi-informasi tertentu kepada pihak-pihak lain yang
berkepentingan terhadap laporan keuangan itu, termasuk investor, kreditor, dan regulator.

Oleh karena itu masyarakat keuangan membutuhkan jasa profesional untuk menilai kewajaran
informasi keuangan yang disajikan oleh manajemen. Atas dasar informasi keuangan yang andal,
masyarakat akan memiliki basis yang kuat untuk menyalurkan dana mereka ke usaha-usaha yang
beroperasi secara efisien dan memiliki posisi keuangan yang sehat. Untuk itu masyarakat
menghendaki agar laporan keuangan yang diserahkan kepada mereka diperiksa lebih dulu oleh
auditor independen. Keterlibatan audit yang independen akan memberikan manfaat-manfaat
antara lain, menambah kredibilitas laporan keuangan, mengurangi kecurangan perusahaan, dan
memberikan dasar yang lebih dipercaya untuk pelaporan pajak dan laporan keuangan lain yang
harus diserahkan kepada pemerintah.

Ada beberapa alasan mengapa Audit diperlukan :

1) Kebutuhan akan jasa kualitas informasi yang andal dan dapat dipercaya yang berkaitan
dengan informasi mengenai kondisi perkembangan perusahaan , asset-asset yang dimiliki
serta tingkat kesehatan perusahaan (kondisi keuangan perusahaan) tersebut sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

2) Melakukan verifikasi dan pemeriksaan apakah informasi keuangan yang disajikan dalam
laporan keuangan sudah disajikan sesuai dengan standar akuntansi dan ketentuan yang
berlaku.

Misalnya apakah laporan keuangan yang disajikan sudah sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan (SAK) atau sesuai dengan GAAP (Generally Accepted Accounting
Principles).

3) Kebutuhan jasa profesional yang independen, berkompeten dan bertindak secara objektif
terhadap informasi yang diujinya (jasa assurance).

10
Independen artinya tidak mempunyai suatu kepentingan apapun terhadap pihak yang
diaudit.

Berkompeten artinya orang yang mempunyai keahlian/kemampuan dalam melaksanakan


pekerjaan sebagai seorang auditor.

Bertindak secara objektif artinya mampu mengungkapkan suatu kebenaran tanpa


pertimbangan-pertimbangan apapun.

4) Mendeteksi kemungkinan adanya penyimpangan, ketidakwajaran dalam penyajian


laporan keuangan perusahaan. Contoh melalui uji substantif dan uji rincian saldo

5) Pemeriksaan untuk menemukan kecurangan (fraud) disebut juga sebagai jasa special
audit.

6) Keharusan/kewajiban yang disyaratkan oleh pihak lainnya atau keharusan/kewajiban


sesuai peraturan/perundang-undangan.

Contoh :

1. Undang-undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasal Modal pada Bab VIII Bagian Ketiga
Pasal 69 tentang Standar Akuntansi yang berbunyi :

(1) Laporan keuangan yang disampaikan kepada Bapepam wajib disusun berdasarkan
prinsip akuntansi yang berlaku umum.

(2) Tanpa mengurangi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Bapepam
dapat menentukan ketentuan akuntansi di bidang Pasar Modal.

2. Undang-Undang Nomor 40/2007 tentang Perseroan Terbatas yaitu bagi persero atau
PT yang beraset atau beromset sebesar Rp. 50.000.000.000,- (50 milliar) wajib
melaksanakan audit atas laporan keuangannya.

Peranan laporan hasil audit oleh akuntan publik di Pasar Modal sangat besar. Karena hasil
laporan audit ini dibutuhkan oleh banyak pihak (user). Dapat dikatakan bahwa laporan hasil audit
oleh akuntan publik ini merupakan jembatan informasi antara emiten dan investor, karena dalam
laporan hasil audit ini berisikan tidak saja tentang kinerja masa lalu, tetapi juga memuat prospek
perusahaan di masa yang akan datang.

Audit diperlukan untuk memberikan suatu nilai tambah dalam mengungkap kebenaran,
kewajaran dalam penyajian suatu informasi keuangan, dalam hal ini laporan keuangan suatu
perusahaan apakah terdapat kesalahan atau kekeliruan baik yang dilakukan secara sengaja

11
maupun hanya kelalaian dan memberikan penilaian apakah laporan yang disajikan tersebut sudah
disajikan seseuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku.

Dan hasil audit yang disampaikan akan berupa suatu laporan audit yang berisi pernyataan
pendapat auditor atas kebenaran maupun kewajaran atas laporan keuangan yang disajikan oleh
pihak perusahaan.

PERAN DAN AKTIVITAS AUDIT

Banyak pihak mempersepsi aktivitas audit adalah pihak yang paling bertanggung jawab untuk
menangkap pelaku kecurangan (fraud). Padahal, audit (auditor) tidaklah sama dengan
investigator ataupun fraud examiner.

Lantas, bagaimana sesungguhnya peran Aktivitas Audit?

Di dalam standar 1200 Proficiency and Due Professional Care, misalnya, auditor harus
memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengevaluasi risiko terjadinya kecurangan serta
mengevaluasi apa yang telah dilakukan organisasi untuk mitigasinya. Namun, sebagaimana
ditegaskan dalam Standard 1200 tersebut, pengetahuan yang dibutuhkan dimaksud tidak
dipersyaratkan pada tingkatan sebagaimana pengetahuan dan keahlian seseorang atau pihak yang
tanggung jawab utamanya memang mendeteksi dan menginvestigasi kecurangan.

Dalam hal di mana tanggung jawab utama untuk fungsi investigasi tidak ditugaskan kepada
Aktivitas Audit, Aktivitas Audit masih dapat diminta untuk membantu penugasan investigasi
dalam mengumpulkan informasi dan membuat rekomendasi untuk perbaikan pengendalian
internal.

Terjadinya krisis multi dimensi di Indonesia menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya


etika untuk dilaksanakan. Etika menjadi kebutuhan penting bagi semua profesi yang ada agar
tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari hukum. Salah satunya adalah profesi akuntan
yang dituntut untuk berperilaku etis dan juga untuk menjadi Information Professional, yang tidak
hanya bertindak sesuai dengan moral dan nilai-nilai yang berlaku akan tetapi juga menghasilkan
“informasi” yang berguna bagi pengambil keputusan. Dalam hal ini akuntan publik harus dapat

12
menunjukkan bahwa jasa audit yang diberikan adalah berkualitas dan dapat dipercaya, karena
profesi akuntan publik memiliki peran penting untuk memberikan informasi (financial maupun
non financial) yang dapat diandalkan, dipercaya, dan memenuhi kebutuhan pengguna jasa
akuntan publik dalam dunia usaha yang semakin kompetitif.

Akuntan publik akan mengaudit laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan untuk
menentukan kewajarannya. Laporan keuangan yang telah diaudit ini akan menjadi dasar dalam
pengambilan keputusan oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan seperti,
Bapepam, investor, bank, kreditor, pemerintah, karyawan, dan manajemen perusahaan itu
sendiri. Informasi-informasi yang dihasilkan oleh akuntan publik akan berguna jika akuntan
publik mampu mengendalikan mutu pemeriksaan, bertindak profesional, dan memberikan jasa
yang terbaik bagi kliennya. Oleh karena itu, akuntan publik harus mentaati standar profesional,
yaitu Aturan Etika Akuntan Publik, dan menghayati serta mengamalkan kode etik profesional
dalam setiap penugasan audit atau jasa lainnya. Dengan demikian, akuntan publik dapat
memberikan jasa yang berkualitas, mendapat kepercayaan publik, dan dapat memenuhi
komitmen profesionalnya. Agar akuntan pubiik dapat memenuhi tanggung jawab profesional
kepada masyarakat, klien, rekan seprofesi maupun dalam menghadapi persaingan ketat dalam era
globalisasi, akuntan publik haras melakukan upaya untuk mempertahankan kualitas penugasan
audit dengan meningkatkan profesionalisme kompartemen akuntan publik. Akuntan publik
adalah suatu profesi yang saat ini dihadapkan pada suatu lingkungan yang benar-benar baru.
Kondisi lingkungan dan dunia usaha saat ini sudah dan akan berubah. Pada bulan Januari 1992
sebelum krisis ekonomi terjadi, dalam sidang KTT-IV ASEAN (Association South East of Asian
Nation) di Singapura telah disepakati untuk mengefektifkan AFTA (ASEAN Free Trade Area)
pada tahun 2003 dan diramalkan tahun 2020 sebagai era kebangkitan Asia baru, yang merupakan
salah satu pusat kegiatan dunia. Jasa akuntan publik termasuk salah satu yang disepakati.
Artinya, pada saatnya nanti, akuntan publik dari negara-negara ASEAN dapat melakukan usaha
sendiri di negara kita dan begitu pula akuntan publik Indonesia dapat melakukan profesi akuntan
publiknya di negara-negara ASEAN. Saat ini akuntan publik asing pada kenyataannya lebih
dipercaya daripada akuntan publik lokal. Salah satu parameter yang dapat diambil adalah
digunakannya akuntan publik asing dalam melakukan audit atas kasus-kasus penting, seperti
skandal Bank Bali, Pertamina, PLN, Bulog, Bank Lippo, Kimia Farma. Hal yang paling tidak

13
mengenakan adalah adanya tudingan dari beberapa kalangan bahwa yang menyebabkan
terjadinya krisis ekonomi ini adalah profesi akuntan publik. Dengan kata lain, akuntan publik
adalah orang yang paling bertanggungjawab sehingga terjadinya krisis ekonomi ini. Hal ini
menjadi tantangan tersendiri yang sangat berat. Namun, inti permasalahannya adalah telah
hilangnya atau setidaknya telah berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap akuntan publik
lokal. Dengan sejumlah peluang yang ada, profesi akuntan publik dihadapkan pada sejumlah
tantangan yang harus dijawab dengan nyata dan sedini mungkin. Banyak pihak
mengkhawatirkan bahkan memandang dengan sangat pesimis tentang keberhasilan akuntan lokal
untuk bersaing dengan akuntan asing pada masa perdagangan bebas. Kekhawatiran ini apabita
dikaji ulang memang sangat beralasan bila dilihat dari berbagai sudut, antara lain :
profesionalisme akuntan publik, knowledge atau ilmu pengetahuan di bidang akuntansi,
pelaksanaan kode etik atau aturan etika yang berlaku, dan keahlian. Saat ini profesionalisme
akuntan publik memang banyak dipertanyakan oleh berbagai pihak, apalagi setelah krisis
ekonomi melanda Indonesia sehingga akuntan publik perlu menunjukkan bahwa dirinya adalah
akuntan publik yang profesional.

14