Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Katarak berasal dari bahasa Yunani katarrhikeis, Inggris cataract, dan Latin
cataracta yang berarti air terjun. Katarak merupakan kekeruhan pada lensa yang dapat
terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau bisa
terjadi akibat kedua-duanya. Kekeruhan dapat mengenai kedua mata dan berjalan
progresif, biasanya pada salah satu mata kekeruhannya akan lebih parah. Katarak
adalah kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi lensa, denaturasi protein
lensa, ataupun keduanya. Katarak dapat terjadi akibat pengaruh kelainan kongenital
atau penyulit mata lokal menahun, dan bermacam-macam penyakit mata dapat
mengakibatkan katarak, seperti glaucoma, ablasi, uveitis dan retinitis pigmentosa.5

Katarak merupakan penyebab utama kebutaan (WHO). Sebanyak tujuh belas juta
populasi dunia mengidap kebutaan yang disebabkan oleh katarak dan dijangka
menjelang tahun 2020, angka ini akan meningkat menjadi empat puluh juta. Katarak
senilis merupakan jenis katarak yang paling sering ditemukan dimana 90 % dari seluruh
kasus katarak adalah katarak senilis.
Katarak yang merupakan penyebab utama berkurangnya penglihatan di dunia
diperkirakan jumlah penderita kebutaan katarak di dunia saat ini sebesar 17 juta orang
dan akan meningkat menjadi 40 juta pada tahun 2020. Katarak terjadi 10% orang
Amerika Serikat dan prevalensi ini meningkat sampai sekitar 50% untuk mereka yang
berusia antara 65 dan 74 tahun. Dan sampai sekitar 70% untuk mereka yang berusia
lebih dari 75 tahun.9

Menurut data Riskesdas 2007, prevalensi nasional kebutaan di Indonesia adalah


sebesar 0,9% dengan penyebab utama katarak. Dilaporkan pula bahwa telah terjadi
peningkatan prevalensi nasional kasus katarak (1,8%) dibandingkan dengan data
SKRT 2001 (1,2%). Usia lanjut merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan
perkembangan katarak. Faktor risiko lain yang berhubungan dengan katarak adalah

1
riwayat keluarga dengan katarak, adanya diabetes mellitus, penggunaan tembakau
(rokok), dan paparan sinar matahari berkepanjangan.

Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun tidak
mengalami perubahan dalam waktu yang lama. Pengobatan pada katarak adalah
tidakan pembedahan. Setelah pembedahan, lensa diganti dengan kacamata afakia, lensa
kontak atau lensa tanam intraocular. Dengan peningkatan pengetahuan mengenai
katarak, penatalaksanaan sebelum, selama, dan post operasi, diharapkan penganganan
katarak dapat lebih diperluas sehingga prevalensi kebutaan di Indonesia dapat
diturunkan.

B. Tujuan dan Manfaat


1. Tujuan
a. Tujuan Umum
Mengetahui penatalaksanaan penyakit katarak.
b. Tujuan Khusus
Mengetahui penatalaksanaan penyakit katarak secara non medikamentosa,
medikamentosa dan teknik oprasi
2. Manfaat
Memberikan wawasan dan pengetahuan kepada penulis mengenai
penatalaksanaan penyakit katarak secara non medikamentosa,
medikamentosa dan teknik oprasi

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penatalaksanaan Pada Katarak

Sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat mencegah


pembentukan katarak, namun beberapa penelitian sedang dilakukan untuk
memperlambat proses bertambah keruhnya lensa untuk menjadi katarak.
Dalam hal ini dalam penatalaksanaan katarak dapat di lakukan terapi
medikamentosa dan non medikamentosa yang sesuai dengan indikasi dan
stadium dari katarak.5

B. Terapi Medikamentosa
Tujuan dari terapi medikamentosa antara lain :
a) Untuk memperlambat kecepatan progresifitas kekeruhan (mencegah
rusaknya protein dan lemak penyusun lensa, misalnya dengan
menstabilkan molekul protein dari denaturasi) sehingga pasien dapat
lebih lama menikmati tajam penglihatan sebelum proses opasitas
memburuk. Contoh: obat iodine yang memiliki efek antioksidan seperti
potassium iodine.
b) Untuk menjaga kondisi elemen mata misalnya pembuluh darah dan
persyarafan mata. Contoh:
- suplemen vitamin A (berfungsi penting dalam penjagaan kondisi
retina), contoh: vitamin A 6000 IU, beta carotene (pro-vitamin A)
12.000 IU.
- suplemen vitamin B (berfungsi penting dalam penjagaan kondisi
syaraf), contoh vitamin B-2 (riboflavin) 20 mg, vitamin B-6
(pyridoxine hydrochloride) 11 mg, vitamin B complex, dll.
- Vitamin C (berfungsi penting dalam penjagaan kondisi pembuluh
darah), contoh ascorbic acid 600 mg

3
- Vitamin E untuk menjaga kondisi imunitas tubuh, contoh:
suplemen vitamin

C. Terapi Non Medikamentosa


Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan sudah menurun
sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila telah
menimbulkan penyulit seperti glaukoma dan uveitis. Dalam bedah katarak,
lensa diangkat dari mata (ekstraksi lensa) dengan beberapa prosedur.
Penanganan non-bedah meliput penanganan kelainan refraksi atau
penggunaan kaca mata, penggunaan lampu baca khusus dan penggunaan
midriatikum pada katarak subkapsularis posterior. Sampai saat ini belum ada
obat antikatarak yang memiliki bukti kuat mampu menghambat atau
meniadakan pembentukan katarak, namun di pasaran ada beberapa bahan dan
suplemen yang mungkin sebagai anti katarak misalnya obat-obat penurun
sorbitol, obat-obat yang menaikkan glutation dan antioksidan khusus vitamin
C dan vitamin E.
Pembedahan dilakukan jika penderita tidak dapat melihat dengan baik
dengan bantuan kacamata untuk melakukan kegitannya sehari-hari. Beberapa
penderita mungkin merasa penglihatannya lebih baik hanya dengan mengganti
kaca matanya, menggunakan kacamata bifokus yang lebih kuat atau
menggunakan lensa pembesar. Jika katarak tidak mengganggu biasanya tidak
perlu dilakukan pembedahan.

D. Indikasi Operasi
Pengobatan untuk katarak adalah pembedahan yang dilakukan jika
penderita tidak dapat melihat dengan baik dengan bantuan kaca mata untuk
melakukan kegiatannya sehari-hari. Beberapa penderita mungkin merasa
penglihatannya lebih baik hanya dengan mengganti kaca matanya,
menggunakan kaca mata bifokus yang lebih kuat atau menggunakan lensa
pembesar. Jika katarak tidak mengganggu bi7asanya tidak perlu dilakukan
pembedahan. Adapun indikasi operasi :6

4
1) Indikasi Optik
Merupakan indikasi terbanyak dari pembedahan katarak. Jika
penurunan dari tajam penglihatan pasien telah menurun hingga
mengganggu kegiatan sehari-hari, maka operasi katarak bisa dilakukan.
2) Indikasi Sosial
Apabila visus pada pasien belum < 3/60 akan tetapi telah menganggu
profesi atau pekerjaan dan juga aktivitas pasien sehari-hari
3) Indikasi Diagnostik
Untuk menegakkan diagnosis bila ada kecurigaan kelainan pada segmen
posterior yang belum dapat dipastikan oleh karena tertutup katarak
4) Indikasi Terapetik
Untuk mencegah atau mengatasi komplikasi. Misalnya pada kasus
glaukoma.
5) Indikasi Kosmetik
Jika penglihatan hilang sama sekali akibat kelainan retina atau nervus
optikus, namun kekeruhan katarak secara kosmetik tidak dapat diterima,
misalnya pada pasien muda, maka operasi katarak dapat dilakukan
hanya untuk membuat pupil tampak hitam meskipun pengelihatan tidak
akan kembali.

E. Persiapan Operasi Pasien

1) Informed Consent
- Aspek medikolegal
- Menciptakan hubungan dokter-pasien
- Teknik dalam operasi segala kemungkinan, komplikasi, biaya,
pengobatan.
- Memberi informasi kepada pasien dan keluarga tentang perawatan
sebelum dan sesudah operasi
2) Evaluasi Preoperative

a) Status Generalis Kesehatan Pasien

5
Perlu diketahui ada atau tidaknya penyakit yang menyertai
terutama diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung, penyakit paru
obstruktif kronik, kelainan perdarahan atau supresi adrenal yang
disebabkan oleh pemberian kortikosteroid sistemik. Hal yang perlu
diperhatikan adalah sensitivitas obat dan penggunaan medikasi yang
dapat mempengaruhi hasil postoperasi, seperti pemberian
imunosupresan dan antikoagulan. Dalam operasi untuk menghindar
terjadi komplikasi intraoperasi diameter pupil sebaiknya dilebarkan
misalnya dengan pemberian fenilefrin intracameral, insersi pengait iris
dan penggunaaan Peralatan viscosurgical ophtalmica.
b) Riwayat Kelainan Okuler
Riwayat okuler akan membantu untuk mengidentifikasi kondisi-
kondisi yang dapat mempengaruhi pendekatan operasi dan prognosis
visual. Trauma, inflamasi, ambliopia, glaukoma, kelainan nervus
optikus, kelainan pada retina, dapat mempengaruhi visual outcome
setelah pengangkatan katarak.

c) Riwayat Sosial
Keputusan untuk dilakukannya operasi katarak tidak hanya
dilakukan pada keadaan tajam penglihatan pasien, tetapi juga
didasarkan pada efek penurunan tajam penglihatan tersebut terhadap
kualitas hidup pasien.

F. Teknik Operasi Katarak


1. Intra Capsular Cataract Extraction

6
ICCE adalah teknik operasi yang membuang lensa dan kapsul secara
keseluruhan dengan menyisakan vitreus dan membran Hyaloidea. IOL
dapat diletakan di bilik mata anterior dengan resiko infeksi kornea. Selain
itu tidak ada yang membatasi antara segmen anterior dan segmen posterior
yang dapat meningkatkan kemungkinan kompilkasi lainnya seperti vitreus
loss dan endoftalmitis.

a) Indikasi Operasi ICCE :


Sebelum adanya bedah katarak ekstrakapsular modern, ekstraksi
katarak intrakapsular merupakan teknik bedah yang disukai. Dengan
perkembangan jaman ICCE mulai ditinggalkan dan beralih ke ECCE
karena dianggap lebih baik dan dapat meminimalisir terjadinya
penyulit pasca operasi. ICCE bermanfaat terutama pada kasus-kasus
dimana lensa subluksasi dan hipermatur. Bila fiksasi zonula tidak
cukup kuat untuk dilakukan manipulasi bedah pada nukleus dan
korteks lensa dengan teknik ECCE, lebih disukai teknik ICCE. pada
ICCE lensa di ekstraksi secara utuh.
b) Kontraindikasi

7
Kontraindikasi ICCE adalah katarak pada anak-anak dan ruptur
kapsul karena trauma, miopia tinggi, katarak Morgagni, dan vitreus
masuk ke COA (Camera Okuli Anterior).
c) Keuntungan ICCE dibandingkan dengan ECCE antara lain :
- Tidak memerlukan operasi tambahan karena membuang seluruh
kapsul dan lensa tanpa meninggalkan sisa
- Menggunakan peralatan yang lebih sederhana
- Pemulihan penglihatan segera karena menggunakan kacamata +10
dioptri.
d) Kerugian ICCE dibandingkan ECCE :
- Penyembuhan luka yang lama
- Pencetus astigmatisma
- Dapat menimbulkan prolaps iris dan vitreus
- Insiden ablatio retina lebih tinggi dibanding ECCE.

2. Extra Capsular Cataract Extraction

8
Pada teknik ini, bagian kapsul anterir diambil, korteks dari lensa dan
nukleus diekstraksi menyisakan kapsul anterior, kapsul posterior dan zonula
zinii. Insisi dibuat pada limbus atau kornea perifer, bagian superior atau
temporal. Dibuat sebuah saluran pada kapsul anterior, dan nukleus serta
korteks lensanya diangkat. Kemudian lensa intraokular ditempatkan pada
"kantung kapsular" yang sudah kosong, disangga oleh kapsul posterior yang
utuh. Pada ekstraksi katarak ekstrakapsular bentuk ekspresi nukleus, nukleus
lensa dikeluarkan dalam keadaan utuh, tetapi prosedur ini memerlukan insisi
yang relatif besar.2,7

Gambar 2.2. Teknik ECCE

a) Indikasi :
ECCE diindikasikan pada katarak dengan lensa mata yang sangat keruh
sehingga sulit dihancurkan dengan teknik fakoemulsifikasi, pada katarak
dengan zonula zinii yang cukup kuat untuk dilakukan manipulasi bedah
dan yang akan dilakukan implantasi IOL.

b) Kontraindikasi :

9
ECCE memerlukan integritas zonular untuk pengangkatan nukleus dan
kortek, maka kontraindikasi untuk kasus dimana integritas zonular tidak
kuat atau rapuh, pada penderita uveitis anterior kronik yang aktif.
c) Keuntungan :
- Insisi lebih kecil sehingga astigmatisma lebih kecil daripada ICCE
- menimbulkan luka yang lebih stabil atau lebih kecil.
- Dapat dilakukan implantasi IOL di COP
- Jarang terjadi ablatio retina
d) Kerugian :
- Dapat terjadi ruptur kapsul posterior
- Prolaps corpus vitreous
- Kerusakan sel endotel tinggi

e) Adapun teknik operasi sebagai berikut:4

- Briddle Suture
- Conjungtival Peritomy
- Cauter
- Incision ~ Groove, Tunnel, Enter Anterior Chamber
- Viscoelastic Injection
- Capsulotomy ~ Can Opener
- Enlarge the wound
- Nucleus Removal ~ Lift and Extract/ Manual Expression
- Suture Placement
- Cortex Removal
- Wound Closure
- Removal of Viscoelastic
- Injection ~ Antibiotic

3. Small Incision Cataract Surgery (SICS)


Operasi katarak modern menargetkan penyembuhan paska operasi yang
cepat dengan komplikasi minimal. Hal ini dapat terjadi dengan mengecilkan

10
ukuran insisi. Pada operasi ekstrakapsular insisi sekitar 10-12 mm, 5,5 - 7.0
mm pada SICS dan 3-5.5 mm pada phacoemulsification. Phacoemulsification
memerlukan instrumentasi yang mahal sedangan SICS hanya memerlukan
instrumen yang minimum.7
SICS dapat dilakukan pada hampir semua tipe katarak, dimana
phacoemulsifikai sulit dilakukan pada katarak morgagni dan katarak
traumatik. Data-data terbaru menunjukkan bahwa komplikasi selama operasi
seperti ruptur kapsul posterior cukup sering terjadi pada phacoemulifikasi
dibanding SICS. Phacoemulsifikasi bergantung dengan mesin, dan gangguan
pada mesin dapat menyebabkan konsekuensi serius selama operasi. Pada
SICS, kemampuan dokter memiliki peran yang signifikan terhadap hasil, dan
SICS memiliki durasi operasi yang lebih singkat dan memungkinkan untuk
dilakukan operasi dengan jumlah yang banyak. Adapun tahap operasi sebagai
berikut:7,8

- Capsulorhexis
- Limbal peritomy
- Frown incision
- Luxation of the nucleus into anterior chamber
- Injection of viscoelastics behind the nucleus
- Rotation of the nucleus into the anterior chamber
- Extraction of the nucleus
- Irigation & Aspiration
- Implantation of an IOL
- Suturing of frown incision and conjunctiva

11
Gambar 2.3. Teknik Small Incision Cataract Surgery

4. Phacoemulsification
Pada Phacoemulsification (disintegrasi ultrasonic dari nukleus)
dilakukan insisi kecil pada kapsul anterior sebesar 2,5-3 mm untuk
mengeluarkan lensa dan kemudian dimasukan IOL yang dapat dilipat atau
foldable. Teknik ini memerlukan jarum yang diarahkan dengan gelombang
ultrasonik ke arah nukleus untuk mengaspirasi substrat lensa.
Teknik ekstraksi katarak ekstrakapsular yang paling sering digunakan.
Teknik ini menggunakan vibrator ultrasonik genggam unruk menghancurkan
nukleus yang keras hingga substansi nukleus dan korteks dapat diaspirasi
melalui suatu insisi berukuran sekitar 3mm.
a) Adapun teknik operasi sebagai berikut:
- Paracentesis incisions at 10:30 o’clock and 1:30 o’clock
- Intracameral lidocaine and viscoelastics
- Corneal tunnel incision at 9 o’clock
- Capsulorhexis

12
- Hydrodissection and hydrodelineation
- Phacoemulsification
- Irrigation and aspiration (I/A)
- IOL implantation
- Removal of viscoelastics
- Hydration of corneal incisions
- Intracameral cefuroxime

Gambar 2.4. Teknik Phacoemulsification

b) Keuntungan :

- Insisi kecil, penyembuhan cepat


- Astigmatisma lebih minimal
- Komplikasi dan inflamasi pasca bedah lebih minimal
c) Kerugian :
- Dapat terjadi robekan pada kapsul posterior dan kemudian material
lensa bisa bercampur dengan vitreous.
- Dapat terjadi kerusakan pada iris akibat getaran pada jarum.
5. Femtosecond Laser Assisted Cataract Surgery (FLACS)
Dengan berkembangnya teknologi yang jauh lebih maju kini operasi
katarak tak perlu lagi dengan pisau atau sayatan, melainkan dengan teknologi
operasi katarak laser yang digunakan untuk pembedahan katarak laser.
Operasi katarak laser adalah pengangkatan lensa mata yang telah

13
mengembangkan kekeruhan yang disebut sebagai katarak dengan bantuan
sinar laser dalam insisi katarak yang dikendalikan dengan sistem komputer,
sehingga proses penyembuhan jauh lebih cepat dengan hasil yang tepat dan
jauh lebih baik tanpa jahitan.
Perbedaan teknologi tersebut pada saat pembuatan sayatan kornea dan
pada saat pembelahan kataraknya. Jika pada Fakoemulsifikasi mengunakan
sayatan manual dengan pisau khusus yang disebut keratome, dan
pembelahan masa lensa dengan teknik mekanik menggunakan ultrasound,
sedangkan pada Femtosecond Laser Assisted Cataract Surgery (FLACS)
semua prosedur tersebut menggunakan laser. Dengan laser maka sayatan dan
pembelahan katarak akan lebih presisis dan aman.

Gambar 2.5 Femtosecond Laser Assisted Cataract Surgery

G. Koreksi Afakia
1. IOL (Intra Ocular Lens)
Perkembangan IOL dimulai pada tahun 1949 oleh Harold Ridley
dengan lensa berbentuk diskus dipasang pada COP (Capsule Okuli
Posterior) setelah dilakukan ECCE. IOL memiliki banyak jenis, tetapi
sebagian besar desain terdiri atas sebuah optik bikonveks di sentral dan dua
buah kaki (atau Haptik) untuk mempertahankan optik pada posisinya. Posisi
lensa yang optimal adalah didalam kantung kapsular setelah dilakukan
ECCE. Lensa bilik mata belakang yang paling baru terbuat dari bahan yang
lentur, seperti silikon dan polimer akrilik atau disebut lensa foldable.
Kelenturan ini memungkinkan lensa tanam untuk dilipat sehingga ukuran

14
insisi yang dibutuhkan dapat dikurangi. Desain lensa yang menggabungkan
optik multifokal juga telah dibuat. Tujuan desain ini adalah untuk
memberikan pengelihatan yang baik dekat maupun jauh tanpa kacamata.
Desain monofokal saat ini belum bisa melakukan itu.4
Gambar 2.5 Jenis IOL (Intra Ocular Lens).4

a) Implantasi IOL Pada COP :


IOL pada COP bisa diletakan pada capsular bag atau didepan kapsul

posterior pada sulkus siliaris.


b) Indikasi :
Implantasi IOL adalah cara untuk koreksi afakia karena operatif, juga
meningkatkan fungsi visual penderita secara alami dan merupakan metode
yang paling memuaskan untuk koreksi afakia. Merupakan indikasi mutlak
pada katarak monokular, kesulitan memakai lensa kontak, manula,
diperlukan visus yang baik.

c) Kontraindikasi :
Implantasi IOL tidak dilakukan pada keadaan dimana penderita
menolak IOL, penderita lebih menyukai kacamata atau lensa kontak,
glaukoma yang tidak terkontrol, rubeosis iridis, uveitis yang tidak
terkontrol. Kontraindikasi relatif yaitu pada penderita diabetes militus
dan kelainan retina.
2.Kacamata Afakia
Menggunakan lensa +10 Dioptri
Kekurangan :
- Lapang pandang terbatas

15
- Secara kosmetik kurang menarik
- Distorsi besar

3.Lensa Kontak
Lensa kontak terutama bermanfaat pada penderita dengan unilateral
katarak, sebab tanpa kontak lensa penderita tidak dapat melihat dengan
binocular vision. Keuntungan dari lensa kontak ini adalah penderita dapat
melihat dengan normal tanpa adanya distorsi.

H. Follow-Up Post Operasi


Jika digunakan teknik SICS, masa penyembuhan pascaoperasi biasanya
lebih pendek dibanding jenis operasi yang lain . Pasien umumnya boleh pulang
pada hari operasi, tetapi dianjurkan untuk bergerak dengan hati-hati dan
menghindari peregangan atau mengangkat benda berat selama sekitar satu
bulan. Matanya dapat dibalut pada hari operasi. Perlindungan pada malam hari
dengan pelindung logam sering kali disarankan selama beberapa hari
pascaoperasi. Kacamata sementara dapat digunakan beberapa hari setelah
operasi, tetapi kebanyakan pasien dapat melihat cukup baik melalui lensa
intraokular sambil menunggu kacamata permanen.2

I. Komplikasi
Terdapat banyak komplikasi yang bisa terjadi dari operasi katarak dan
komplikasi ini bisa dibagi menjadi:

1) Intraoperation
Selama ECCE atau phacoemulsification, ruangan anterior mungkin akan
menjadi dangkal karena pemasukan yang tidak adekuat dari keseimbangan
solution garam kedalam ruangan anterior, kebocoran akibat insisi yang
terlalu lebar, tekanan luar bola mata, tekanan positif pada vitreus,
perdarahan pada suprachoroidal.6
2) Post Operation

16
Komplikasi selama postoperative dibagi dalam Early Complication Post
Operation dan Late Complication Post Operation.6
a) Hilangnya vitreous. Jika kapsul posterior mengalami kerusakan
selama operasi maka gel vitreous dapat masuk kedalam bilik
anterior, yang merupakan resiko terjadinya glaucoma atau traksi
pada retina. Keadaan ini membutuhkan pengangkatan dengan satu
instrument yang mengaspirasi dan mengeksisi gel (vitrektomi).6
b) Prolaps iris. Iris dapat mengalami protrusi melalui insisi bedah pada
periode pasca operasi dini. Terlihat sebagai daerah berwarna gelap
pada lokasi insisi. Pupil mengalami distorsi. Keadaan ini
membutuhkan perbaikan segera dengan pembedahan. 6
c) Endoftalmitis. Komplikasi infektif ekstraksi katarak yang serius
namun jarang terjadi. Pasien datang dengan : 6

- Mata merah yang terasa nyeri.


- Penurunan tajam penglihatan, biasanya dalam beberapa hari
setelah pembedahan.
- Pengumpulan sel darah putih di bilik anterior (hipopion).

d) Astigmatisme pascaoperasi. Mungkin diperlukan pengangkatan


jahitan kornea untuk mengurangi astigmatisme kornea. Ini
dilakukan sebelum pengukuran kacamata baru namun setelah luka
insisi sembuh.6
e) Ablasio retina. Tehnik-tehnik modern dalam ekstraksi katarak
dihubungkan dengan rendahnya tingkat komplikasi ini. Tingkat
komplikasi ini bertambah bila terdapat kehilangan vitreous.6
f) Edema macular sistoid. Makula menjadi edema setelah
pembedahan, terutama bila disertai hilangnya vitreous. Dapat
sembuh seiring waktu namun dapat menyebabkan penurunan tajam
penglihatan yang berat.6
g) Opasifikasi kapsul posterior. Pada sekitar 20% pasien, kejernihan
kapsul posterior berkurang pada beberapa bulan setelah

17
pembedahan ketika sel epitel residu bermigrasi melalui
permukaannya. Penglihatan menjadi kabur dan mungkin didapatkan
rasa silau.6

BAB III

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
Nama : Tn S.
Umur : 56 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam
Alamat : Sidoarjo
No. RM : 1571722
Tanggal Pemeriksaan : 13 April 2019

B. Anamnesis
1. Keluhan Utama : Mata kiri dan kanan kabur

18
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poli mata RSUD sidoarjo dengan keluhan mata kiri dan kanan
terasa kabur sejak 1 bulan yang lalu, Namun mata kiri lebiih kabur dari mata
kanan, kabur secara perlahan, silau kalau melihat cahaya, melihat seperti ada
bayangan kabut, nyeri (-),mata merah (-), gatal (-), keluar kotoran (-), mata
berair (-), melihat bayangan hitam yang mengikuti pergerakan mata (-)
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Hipertensi (+), diabetes mellitus (-), asma (-), alergi obat (-), sebelumnya pasien
tidak pernah mengalami gangguan seperti ini
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Diabetes mellitus (-) Hipertensi (-), asma (-), alergi obat (-), dikeluarga tidak
ada yang menderita penyakit seperti ini
5. Riwayat Pengobatan : Tidak pernah diberikan obat sebelumnya
C. Pemeriksaan Fisik
1. Status Generalis
Keadaan : Cukup
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital : Tensi : 147/80 mmHg
Nadi : 88 kali/menit
RR : 18 kali/menit
Suhu : 36,5oC
2. Status Lokalis
OD OS
Visus 5/8,5 ph (-) 1/300
TIO 17,3 mmHg 10,2 mmHg
Palpebra Hiperemi (-) Hiperemi (-)
Konjungtiva Hiperemi (-) Hiperemi (-)
Kornea Jernih Jernih
BMD Dangkal Dalam
Iris Reguler Reguler

19
Pupil Isokor Isokor
Lensa Keruh di bagian Keruh di bagian korteks
korteks dan nukleus

Tabel 3.1 Status Lokalis Pemeriksaan Fisik

kortek kortek
s

Fundus reflek (+) Fundus reflek (-)

Iris shadow (+) Iris shadow (-)

D. Resume
Pasien datang ke poli mata RSUD sidoarjo dengan keluhan mata kiri dan kanan
terasa kabur sejak 1 bulan yang lalu, Namun mata kiri lebiih kabur dari mata kanan,
kabur secara perlahan, silau kalau melihat cahaya, melihat seperti ada bayangan
kabut. Dengan riwayat penyakit dahulu Hipertensi (+)

OD OS
Visus 5/8,5 ph (-) 1/300
TIO 17,3 mmHg 10,2 mmHg
Palpebra Hiperemi (-) Hiperemi (-)

20
Konjungtiva Hiperemi (-) Hiperemi (-)
Kornea Jernih Jernih
BMD Dangkal Dalam
Iris Reguler Reguler
Pupil Isokor Isokor
Lensa Keruh di bagian Keruh di bagian korteks
korteks dan nukleus

kortek kortek
s

Fundus reflek (+) Fundus reflek (-)

Iris shadow (+) Iris shadow (-)

E. Diagnosis Kerja : OD Katarak Imatur


OS Katarak Matur

F. Penatalaksanaan
1. Planning Therapy
a. Lyteers ED 6 dd gtt I ODS
b. Catarlent ED 3 dd gtt 1 OS
c. Pro oprasi katarak OS
2. Planning Monitoring
a. Visus/tajam penglihatan
b. Keluhan pasien (klinis)

21
3. Edukasi
a. Menginformasikan kepada pasien tentang penyakitnya dan terapi yang
diberikan.
b. Memberi tahu pasien untuk kontrol secara rutin dan menjalani operasi untuk
mengangkat lensa yang keruh.

BAB IV

KESIMPULAN

Katarak merupakan suatu kekeruhan pada lensa yang sering terjadi pada usia
tua, namun juga dapat terjadi pada usia muda. dapat terjadi akibat hidrasi(penambahan
cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau bisa terjadi akibat kedua-duanya.
Kekeruhan dapat mengenai kedua mata dan berjalan progresif, biasanya pada salah satu
mata kekeruhannya akan lebih parah.

Tatalaksana katarak ada yang berupa medikamentosa dan non medikamentosa.


Namun, sampai saat ini terapi terbaik pada katarak adalah berupa non medikamentosa
Operasi. Teknik operasi ada bermacam-macam, yaitu SICS, Phacoemulsifikasi, dan
ECCE. Pemilihan teknik operasi memerlukan banyak pertimbangan seperti,
kematangan katarak lensa, fasilitas yang dimiliki, dan keahlian dari ahli bedah.

Komplikasi yang dapat terjadi pada operasi katarak berupa hilangnya vitreus,
kolaps iris, endoftalmitis, ablasio retina, edema macular sistoid, dan opasifikasi kapsul
posterior.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Arimbi, A. T. (2014). Jurnal: Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan


Katarak Degeneratif Di RSUD Budhi Asih.13-17.
2. Eva, P., & Whitcher, J. (2010). Vaughan & Asbury Ophtalmology Umum.
Jakarta: EGC.
3. Gower, E., & Lindsley, K. (2017). Antibiotics at the time of cataract surgery to
prevent bacterial infection of the eye.
4. Henderson, B. (2007). Essential in Cataract Surgery. SLACK Incorporated.
5. Ilyas, S. (2014). Ilmu Penyakit Mata. Depok: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Indonesia.
6. Mutiarasari, D., & Handayani, F. (2011). Katarak Juvenil. INSPIRASI, 37-50.
7. Rajwasthya. (2018, February 6). Retrieved from Rajwasthya:
www.rajswasthya.nic.in
8. Shahsuvaryan, M. (2016). The Management of Cataract: Where are We? EC
Ophtalmology, 304-308.
9. Soehardjo. (2004). Jurnal: Kebutaan Katarak: Faktor-Faktor Risiko,
Penanganan Klinis dan Pengendalian.
10. Spandau, U., & Scharioth, G. (2014). Complications during and after Cataract
Surgery. Springer.

23