Anda di halaman 1dari 29

1.

Definisi Cedera Kepala


Cedera kepala merupakan cedera yang meliputi trauma kulit kepala, tengkorak, dan otak
(Morton, 2012).
Klasifikasi cedera kepala (Brain Injury Association of Michigan, 2005) berdasarkan patologi:
1. Cedera kepala Primer
Merupakan akibat cedera awal. Cedera awal. Cedera awal menyebabkan gangguan integritas
fisik, kimia, dan listrik dari sel diarea tersebut, yang menyebabkan kematian sel.
2. Cedera kepala sekunder
Cedera ini merupakan cedera yang menyebabkan kerusakan otak yang lebih lanjut yang
terjadi setelah trauma sehingga meningkatkan TIK yang tak terkendali, meliputi respon
fisiologis cedera otak, termasuk edema serebral, perubahan biokimia, dan perubahan
hemodinamik serebral, iskemia serebral, hipotensi sistemik dan infeksi lokal atau sistemik.

Menurut jenis cedera :

1. Cedera kepala terbuka dapat menyebabkan fraktur tulang tengkorak dan laserasi duameter.
Trauma yang menembus tengkorak dan jaringan otak.
2. Cedera kepala tertutup : dapat disamakan pada pasien dengan gegar otak ringan dengan
cedera serebral yang luas.

Menurut berat ringannya berdasarkan GCS (Glasgown Coma Scale)

1. Cedera kepala ringan / minor


- GCS 13-15
- Dapat terjadi kehilangan kesadaran, amnesia, tetapi kurang dari 30 menit
- Tidak ada fraktur tengkorak
- Tidak ada kontusia serebral, hemmtoma
2. Cedera kepala sedang
- GCS 9-12
- Kehilangan kesadaran dan asam anamnesa lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam
- Dapat mengalami fraktur tengkorak
- Diikuti contusia serebral, laserasi dan hematoma intrakranial
3. Cedera kepala berat
- GCS < atau sama dengan 8
- Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam
- Juga meliputi kontusia serebral, laserasi atau hematoma intra kranial

Dewasa Respon Bayi dan anak-anak


Buka mata (eye)
Spontan 4 spontan
berdasarkan perintah verbal 3 berdasarkan suara
Berdasarkan rangsang nyeri 2 berdasarkan rangsang nyeri
Tidak memberi respon 1 tidak memberi respon
Respon verbal
Orientasi baik 5 senyum, orientasi terhadap obyek
Percakapan kacau 4 menangis tetapi dapat ditenangkan

Kata-kata kacau 3 menangis dan tidak dapat ditenangkan

1
Mengerang 2 mengerang dan agitatif
Tidak memberi respons 1 tidak memberi respons
Respon motorik
Menurut perintah 6 aktif
Melokalisir rangsang nyeri 5 melokalisir rangsang nyeri
Menjauhi rangsang nyeri 4 menjauhi rangsang nyeri
Fleksi abnormal 3 fleksi abnormal
Ekstensi abnormal 2 ekstensi abnormal
Tidak memberi respons 1 tidak memberi respons
Skor 14-15 12-13 11-12 8-10 <5
Kondisi compos mentis Apatis somnolent stupor koma

2. Etiologi
Mekanisme cedera kepala meliputi cedera akselerasi, deselerasi, akselerasi-deselerasi, coup-
countre coup, dan cedera rotasional. (satyanegara, 2010)
1. Cedera akselerasi terjadi jika objek bergerak menghantam kepala yang tidak bergerak
(mis., alat pemukul menghantam kepala atau peluru yang ditembakkan kekepala).
2. Cedera deselerasi terjadi jika kepala yang bergerak membentuk obyek diam, seperti pada
kasus jatuh atau tertabrak mobil ketika kepala membentur kaca depan mobil.
3. Cedera akselerasi-deselerasi sering terjadi dalam kasus kecelakaan kendaraan bermotor
dan episode kekerasan fisik
4. Cedera coup-countre coup terjadi jika kepala terbentur yang menyebabkan otak bergerak
dalam ruang kranial dan dengan kuat mengenal area tulang tengkorak yang berlawanan serta
area kepala yang pertama kali terbentur. Sebagai contoh pasien dipukul dibagian belakang
kepala
5. Cedera rotasional terjadi jika pukulan / benturan menyebabkan otak berputar dalam rongga
tengkorak yang mengakibatkan peregangan atau robeknya neuron dalam substansia alba
serta robeknya pembuluh darah yang memfiksasi otak dengan bagian dalam rongga
tengkorak.

3. Patofisiologi
- Pukulan langsung
Dapat menyebabkan kerusakan otak pada sisi pukulan (coup injury) atau pada sisi yang
berlawanan dari pukulan ketika otak bergerak dalam tengkorak dan mengenai dinding yang
berlawanan (contrecoup injury).
- Rotasi/deselerasi
Fleksi, ekstensi, atau rotasi leher menghasilakn serangan pada otak yang menyerang titik-
titik tulang dalam tengkorak (misalnya pada sayap dari tulang sfenoid). Rotasi yang hebat
juga menyebabakan trauma robekan dalam substansi putih otak dan batang otak,
menyebabkan cedera aksonal dan bintik-bintik perdarahan intraserebral.
- Tabrakan
Otak seringkali terhindar dari trauma langsung kecuali jika berat (terutama pada anak-anak
dengan tengkorak yang elastis).
- Peluru
Cenderung menyebabkan hilangnya jaringan sering dengan trauma. Pembengkakan otak
merupakan masalah akibat disrupsi otak yang secara otomatis menekan otak.
 Derajat cedera otak primer secara langsung berhubungan dengan jumlah kekuatan yang
mengenai kepala

2
Kerusakan sekunder terjadi akibat : komplikasi sistem pernapasan (hipoksia, hiperkarbia,
obstruksi jalan napas), syok hipovolemik (cedera kepala tidak menyebabkan syok
hipovolemik lihat penyebab lain), perdarahan intrakranial, edema serebral, epilepsi, infeksi,
dan hidrosefalus.

4. Patway

Trauma
kepala

Tulang kranial Intra


Extra kranial
kranial

Terputusnya Jaringan otak


Terputusnya kontinuitas
Resiko rusak (kontusia
kontinuitas jaringan jaringan
perdarahan laserasi)
kulit, otot dan tulang
vaskuler oto
- Perubahan
auotoregulasi
Perdarahan Gangguan Resiko Nyeri akut - Oedema
nemastoma suplai darah infeksi serebral

Kejang
Perubahan Kerusakan
Iskemia
srikluasi CS memory

Resiko Gangguan - Bersihan


ketidakefektifa neurologis jalan nafas
Peningkatan Hipoksia vokal
n perfusi - Obstruksi
TIK jaringan otak jalan nafas
Defisit - Dispnea
Resiko neurologis - Henti nafas
- Mual muntah kekurangan
- Papilodema - Perubahan
volume pola nafas
- Penurunan fungsi Gangguan
cairan
pendengaran persepsi
- Nyeri kepala sensori

3
Gilus medialis
lobus temporalis
tergeser

Kompresi
Hernia unkus
medulla Ketidakefekti
oblongata fan jalan
nafas
Mesenfaton Tonsil
Resiko
tertekan cerebrum
cedera
bergeser
Imobilitasi
Gangguan
kesadaran Kerusakan
Ansietas mobilitas fisik

5. Manifestasi Klinis
Pada pemeriksaan klinis biasa yang dipakai untuk menentukan cedera kepala menggunakan
pemeriksaan GCS yang dikelompokkan menjadi cedera kepala ringan, sedang dan berat seperti
diatas.
Nyeri yang menetap atau setempat, biasanya menunjukkan adanya fraktur. (Smeltzer, Suzanna,
2002)
1. Fraktur kubah kranial menyebabkan bengkak pada sekitar fraktur
2. Fraktur dasar tengkorak dicurigai ketika CSS keluar dari telingan dan hidung
3. Laserasi atau kontusio otak ditunjukkan oleh cairan spinal berdarah

Gejala-gejala yang ditimbulkan tergantung pada besarnya dan distribusi cedera otak :

a. Nyeri, menetap atau setempat, biasanya menunjukkan fraktur.


b. Fraktur pada kubah kranial menyebabkan pembengkakan pada area tersebut.
c. Fraktur basal tulang tengkorak seringkali menyebabkan hemoragi dari hidung, faring, atau
telingan dan darah mungkin akan terlihat di konjungtiva.
d. Ekimosis mungkin terlihat diatas mastoid (tanda battel).
e. Drainase cairan serebro spinal dari telingan dan hidung menandakan fraktur basal tulang
tengkorak.
f. Drainase CSF dapat menyebabkan infeksi serius, y.i., meningitis melalui robekan dura
meter.
g. Cairan serebro spinal yang mengandung darah meenunjukkan laserasi otak atau kontusio.

6. Pemeriksaan Penunjang
1. Foto polos tengkorak (skull X-ray)
2. Angiografi serebral
3. Pemeriksaan MRI
4. CT scan : indikasi ct scan nyeri kepala atau muntah-muntah, penurunan GCS lebih 1 point,
adanya lateralisasi, bradikardi (nadi <60x/menit), fraktur impresi dengan lateralisasi yang
tidak sesuai, tidak ada perubahan selama 3 hari perawatan dan luka tembus akibat benda
tajam atau peluru.

4
- Pemeriksaan Penunjang (Satyanegara, 2010)
1. Foto polos tengkorak (skull X-ray)
2. Angiografi serebral
3. Pemeriksaan MRI
CT scan : indikasi ct scan nyeri kepala atau muntah-muntah, penurunan GCS lebih 1 point,
adanya lateralisasi, bradikardi (nadi <60x/menit), fraktur impresi dengan lateralisasi yang tidak
sesuai, tidak ada perubahan selama 3 hari perawatan dan luka tembus akibat benda tajam atau
peluru.

7. Penanganan Medis dan Keperawatan


- Penanganan cedera kepala: (satyanegara, 2010)
1. Stabilisasi kardiopulmoner mencakup prinsip-prinsip ABC (Airway-Breathing-
Circulation). Keadaan hipoksemia, hipotensi, anemia akan cenderungmemperhebat
peninggian TIK dan menghasilkan prognosis yang lebih buruk.
2. Semua cedera kepala berat ememrlukan tindakan intubasi pada kesempatan pertama.
3. Pemeriksaan umum untuk mendeteksi berbagai macam cedera atau gangguan-gangguan
dibagian tubuh lainnya.
4. Pemeriksaan neurologis mencakup respons mata, motorik, verbal, pemeriksaan pupil,
refelek okulosefalik dan reflex okuloves tubuler. Penilaian neurologis kurang
bermanfaat bila tekanan darah penderita rendah (syok).
5. Penanganan cedera-cedera dibagian lainnya.
6. Pemberian pengobatan seperti: antiedemaserebri, anti kejang, dan natrium bikarbonat.
7. Tindakan pemeriksaan diagnostic seperti: sken tomografi computter otak, angiografi
serebral, dan lainnya.

Indikasi rawat inap pada penderita dengan cedera kepala ringan adalah :

1. Amnesia antegrade/pascatraumatic
2. Adanya keluahan nyeri kepala mulai dari derajat yang moerat sampai berat
3. Adanya riwayat penurunan kesadaran/pingsan
4. Intoksikasi alcohol atau obat-obatan
5. Adanya fraktur tulang tengkorak
6. Adanya kebocoran likuor serebro-spinalis (ottore/rinorre)
7. Cedera berat bagian tubuh lainnya.
8. Indikasi social (tidak ada keluarga/pendamping dirumah)

(satyanegara, 2010)

Dari cedera kepala ringan dapat berlanjut menjadi sedang/berat dengan catatan bila ada gejala-
gejala seperti :

1. Mengantuk dan sukar dibangunkan


2. Mual, muntah dan pusing hebat
3. Salah satu pupil melebar atau adanya tampilan gerakan mata yang tidak biasa
4. Kelumpuhan anggota gerak salah satu sisi dan kejang
5. Nyeri kepala yang hebat atau bertambah hebat
6. Kacau/bingung (confuse) tidak mampu berkonsentrasi, terjadi perubahan personalitas
7. Gaduh, gelisah
8. Perubahan denyut nadi atau pola pernafasan

5
Kriteria sederhana sebagai patokan indikasi tindakan operasi adalah :

1. Lesi mata intra atau ekstra-aksial yang menyebabkan pergeseran garis tengah (pembuluh
darah serebral anterior) yang melebihi 5 mm
2. Lesi masa ekstra-aksial yang tebalnya melebihi 5 mm dari tabula interna tengkorak dan
berkaitan dengan pergeseran arteriserebri anterioratau media
3. Lesi masa ekstra-aksial bilateral dengan tebal 5 mm dari tabula eksternal (kecuali bila ada
atrofi otak)
4. Lesi massa intra-aksial lobus tempiralis yang menyebabkan elevasi hebat dari arteri serebri
media atau menyebabkan pergeseran garis tengah’.

6
8. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian Kegawat Daruratan (A,B,C,D,E)
 Survei Primer
Penilaian awal pada pasien trauma terdiri dari atas survei primer dan survei
sekunder.pendekatan ini ditunjukkan untuk mempersiapkan dan menyediakan metode
perawatan individu yan mengalami multiple trauma secara konsisten dan menjaga tim agar
tetap fokus pada prioritas keperawatan. Masalah- masalah yang menganam nyawa tekait
jalan napas, pernapasan, sirkulasi dan status kesadaran pasien diidentiifkasi, dievaluasi serta
dilakukan tindakan daam hitungan menit sejak datan ke unit gawat darurat. Kemungkinan
kondisi mengancam nyawa seperti pneumothoraks, hemothorask, flail chest, dan perdarahn
dapat dideteksi melalui survei primer. Ketika kondisi yang mengancam nyawa tela
diketahui, maka dapat segera dilakukan intervensi yang sesuai masalah/ kondisi pasien.
Pada survei primer terdapat proses penilaian, intervensi, dan evaluasi yang berekelanjutan.
Komponen survei primer adalah sebagai berikut:

1. A: Airway (jalan napas)


2. B: Breathing (pernapasan)
3. C: Circulation (sirkulasi)
4. D: Disability (status kesadaran)
5. E: Exposure and environmetal control (pemaparan dan kontrol lingkungan)
6. F: Folley Chateter (kateter)
7. G: Gastric Tube (NGT)
8. H: Heart Monitor (Monitor Jantung)

1) Airway
Penilaian jalan napas merupakan langkah pertama pada penanganna pasien trauma. Penilaian
jalan napas dilakukan bersamaan dengan menstabilan leher. Tahan kepala dan leher pada
posisi netral dengan tetap mempertahankan leher dengan menggunakan servikal collar dan
meletakkan pasien pada long spine board.
Oleh sebab itu, jalan nafas harus selalu terbuka & tetap terjaga, biasanya yang menyebabkan
kematian yang paling sering adalah obstruksi jalan nafas total.
Head tilt-chin lift/ jaw trust harus dilakukan agar jalan nafas selalu terbuka, bersamaan
dengan hal ini kita juga bisa melalukan look (liat), listen (dengarkan), & feel (rasakan).

Walaupun look, listen. & feel merupakan pemeriksaan pada breathing perlu diingat, bahwa
setiap pasien yang dapat berbicara dengan jelas untuk sementara menjamin bahwa jalan
nafasnya tidak terdapat masalah.
Tindakan pada pasien gangguan airway:
 Gungling (miringkan, suction, finger sweep).
 Snoring (Head tilt-chin lift, jaw trust, OPA/NPA).
 Crowing (Airway definitif, intubasi, needle cricothiroidotomi).

2) Breathing
Dengan jalan nafas yang baik maka akan menjamin ventilasi yang baik pula. Ventilasi yang
baik meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding dada, serta diafragma. Setiap komponen ini
harus dievaluasi dengan cepat.

7
Ventilasi dapat dibilang baik apabila penderita tidak sesak nafas, peranjakan dada simetris,
tidak sianosis, tidak disertai suara, gurgling, snoring, crowing.
Cara melakukan look, listen, & feel adalah dengan cara melihat peranjakan dada,
mendengarkan suara nafas, serta merasakan hembusan nafas pasien.

Cara melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah pasien mengalami gangguan


breathing adalah:
 Inspeksi: untuk melihat ekspansi pernafasan.
 Auskultrasi: untuk memastikan masuknya udara kedalam paru.
 Perkusi: untuk menilai adanya udara/darah di dalam rongga pleura.
 Palpasi: untuk mengetahui apakah ada kelainan pada dinding dada yang mungkin dapat
mengganggu ventilasi.
Intervensi selama proses keperawatan meliputi hal hal sebagai berikut:
a) Oksigen tambahan untuk semua pasien. Bagi pasien dengan volume tidla yag uckup, gnakan
non-rebreather mask dengan reservoir 10-12 l/menit.
b) Persiapkan alat bantu pertukaan udara bila diperlukan. Gunakan bag valve mask untuk
mendorong tekanan positif oksigen pada pasien saat kondisi respirasi tidak efektif.
c) Pertahankan posisi pipa traka. Begitu pasien terinstubasi, pastikan posisi pipa benar;
verifikasi ulang bila dibutuhkan. Perhatikan gerakan simetris naik turunnya dinding dada,
auskultasi daerah perut kemudian paru-paru dan perhatikan saturasi oksigen melalui
pulseoximeter.
d) Bila didapatkan trauma toraks, maa perlu tindakan yang serius. Tutup luka selama proses
pengisapan, turunkan tekanan pneumotoraks, stabilisasi bagian-bagian yang flail dan
masukkan pipa dada.
e) Perlu dilakukan penilaian ulang status pernapasan pasien yang meliputi pengukuran saturasi
oksigen dan udara dalam darah. (arterial blood gase)

3) Circulation
Perdarahan merupakan penyebab utama kematian pasca-bedah yang mungkin bisa diatasi
dengan terapi yang cepat & tepat di rumah sakit.

Setiap keadaan hipotensi harus dianggap disebabkan oleh hipovolemia, hingga terbukti
sebalinya. Dengan demikian maka sangat diperlukan penilaian yang cepat & status
hemodinamika pasien.

Ada tiga observasi yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi mengenai keadaan
hemodinamika pasien yaitu:
1. Tingkat kesadaran. Jika terjadi penurunan darah, perfusi otak dapat berkurang, sehingga
akan mengakibatkan penurunan kesadaran (walaupun demikian kehilangan jumlah darah
yang banyak belum tentu mengakibatkan gangguan kesadaran).
2. Warna kulit. Warna kulit dapat membantu diagnosa hipovolemia&nadi.
3. Nadi. Nadi yang besar seperti arteri karotis, arteri femoralis harus diperiksa bilateral, agar
dapat mengetahui kekuatan, kecepatan, dan irama nadi. Jika nadi kecil dan kuat biasanya
pasien syok.
Penilaian primer mengenai status sirkulasi pasie trayma mencakup evaluasi adanya perdarah,
denyut nadi dan perfusi.

8
1. Perdarahan
Lihat tanda tadna kehilangan darah ekternal yag masif da tekan langsung daerah tersebut.
Jika memungkinkan, naikkan daerah yang mengalami perdarahan sampai diatas ketinggian
jantung. Kehilangan darah dalam jumlah besar dapat terjadi dalam tubuh

2. Denyut nadi
Denyut nadi dapat diraba untuk mengetahui ada tidakna nadi, laju dan ritme. Denyut nadi
mungkin tidak dapat diliht secara langsung sesudah terjadi trauma, hipotermia, hipovolemia,
dan vaokonstriksi pembuluh darah yang disebabkan respo sistem simpatik yang sangat
intens. Raba denyut nadi karotid, radialis dan femolar.

3. Perfusi kulit
Beberapa tanda yag tidka spesifik yaitu akral dingin, kulit basah, pucat, sianosis, atau bintik
bintik mungkin menadakan keadaan syok hipovolemik. Cek warna, suhu kulit, adanya
keringat, dan capillary refill.

4) Disability
Tingkat kesadarn pasien dapat dinilai dengan meggunakan mnemonic AVPU. Sebagai
tambahan cek kondisi pupil, ukuran, kesamaan, dan reaksi terhadap cahaya. Mnemonic
AVPU meliputi: awake (sadar); verbal (berespon terhadap suara/verbal); pain ( berespons
terhadap rangsang nyeri); dan underponsive (tidak berespon).

GCS adalah sistem skoring yang sederhana dan dapat meramal outcame dari penderita.
Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh penurunan oksigenasi atau/ dan perfusi ke otak
atau disebabkan oleh perlukaan pada otak sendiri. Perubahan kesadaranakan dapat
mengganggu airway serta breathing yang seharusnya sudah diatasi terlebih dahulu. Jangan
lupa bahwa alkohol dan obat-obatan dapat mengganggu tingkat kesadaran penderita.
Penurunan tingkat GCS yang lebih dari satu ( 2 atau lebih ) harus sangat diwaspadai.

Cara penilaian GCS secara sederhana:

No Eye Skor Verbal Skor Motorik Skor

1. Buka mata 4 Bicara bisa 5 Mengikuti perintah 6


spontan

2. Buka mata 3 Bicara mengacau 4 Melokalisir nyeri 5


terhadap
suara

3. Buka mata 2 Hanya kata kata 3 Menjauh dari nyeri 4


terhadap
nyeri

4. Tidak buka 1 Hanya suara 2 Fleksi abnormal 3

9
mata

5. Tidak ada respon 1 Ekstensi abnormal 2

6. Tidak adan respon 1

5) Exposure and Environmental Control


Pemaparan (Exposure)
Lepas semua pakaian pasien seara cepat untuk memeriksa cedea, perdarahan, atau keanehan
lainnya. Perhatikan kondisi pasien secara umum, catat kondisi tubuh, atau adnaya bau zat
kimia seperti alkohol, bahan bakar, atua urine.

Kontrol lingkungan (Environmental Control)


Pasien harus dilindungi dari hipotermia. Hiptermia penting karena ada kaitannya dengan
vasokonstriksi pembuluh darah dan koagulopati. Pertahankan ata kembalikan suhunormal
tubuuh dengan mengeringkan pasien dan gunakan lampu pemanas sleimut, pelindung kepala,
sistem penghangat udara dan berikan cairan IV hangat.

 Survei sekunder
1. Head to toe.
Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi.
1) Kulit Kepala
Seluruh kulit kepala diperiksa. Seringkali penderita tampak mengalami cedera
ringan dan ternyata terdapat darah yang berasal dari belakang kepala. Lakukan
inspeksi dan palpasi seluruh kepala dan wajah untuk melihat adanya laserasi,
kontusio, fraktur dan luka termal.

2) Wajah
Apabila cedera terjadi disekitar mata jangan lalai dalam memeriksa mata karena
apabila terlambat akan terjadi pembengkakan pada mata sehingga pemeriksaaan
sulit dilanjutkan. Lakukan Re-Evaluasi kesadaran dengan skor GCS.
– Mata: periksa kornea mata ada cedera atau tidak, pupil : reflek terhadap cahaya,
pembesaran pupil, visus
– Hidung: apabila terdapat pembengkakan lakukan palpasi akan kemungkinan
krepitasi dari suatu fraktur.
– Telinga: periksa dengan senter mengenai keutuhan membran timpani atau
adanya hemotimpanum.
– Rahang atas: periksa stabilitas rahang atas.
– Rahang Bawah: periksa akan adanya fraktur.
3) Vertebra Servikalis dan Leher
Pada saat memeriksa leher, kolar terpaksa dilepas. Jangan lupa untuk melakukan
fiksasi pada leher dengan bantuan petugas lain. Periksa adanya cedera tumpul atau
tajam. Deviasi trakea dan simetri pulsasi. Tetap jaga imobilisasi segaris dan proteksi
servikal. Jaga airway, pernafasan dan oksigenasi. Kontrol perdarahan, cegah
kerusakan otak sekunder.

10
4) Thoraks
Pemeriksaan dilakukan dengan look, listen, feel.
 Inspeksi : dinding dada bagian depan, samping dan belakang untuk adanya
trauma tumpul/ tajam, pemakaian otot pernafasan tambahan dan ekspansi
torak bilateral.
 Auskultasi: lakukan auskultasi pada bagian depan untuk bising nafas (
bilateral ) dan bising jantung.
 Palpasi: lakukan palpasi pada seluruh dinding dada untuk adanya
traumatajam/ tumpul, emfisema subkutan, nyeri tekan dan krepitasi.
 Perkusi: lakukan perkusi untuk mengetahui adanya hipersonor dan
keredupan.
5) Abdomen
Cedera intraabdomen biasanya sulit terdiagnosa , berbeda dengan keadaan cedera
kepala yang ditandai dengan penurunan kesadaran, fraktur vertebrae dengan
kelumpuhan ( penderita tidak sadar akan keluhan nyeri perutnya dan defans otot/
nyeri tekan).
 Inspeksi: inspeksi abdomen bagian depan dan belakang untuk melihat
adanya trauma tajam, tumpul dan adanya perdarahan internal.
 Auskultasi: auskultasi bising usus untuk mengetahui adanya penurunan
bising usus.
 Palpasi: palpasi abdomen untuk mengetahui adanya nyeri tekan, defans
muskuler, nyeri lepas yang jelas.
 Perkusi:lakukan perkusi mengetahui adanya nyeri ketok, bunyi timpani
akibat dilatasi lambung akut atau redup bila ada hemoperitoneum.
Apabila ragu-ragu mengenai perdarahan intrabdomen dapat dilakukan pemeriksaan
DPL ataupun USG.

6) Pelvis
Cedera pelvis yang berat akan tampak pada pemeriksaan fisik ( pelvis menjadi tidak
stabil). Pada cedera berat ini, kemungkinan penderita akan masuk dalam keadaan
syok yang harus segera diatasi. Bila ada indikasi lakukan pemasangan PASG/ gurita
untuk kontrol perdarahan dari fraktur pelvis.

7) Ektrimitas
Pemeriksaan dilakukan dengan look-feel-move. Pada saat inspeksi, jangan lupa
untuk memeriksa adanya luka dekat daerah fraktur terbuka, pada saat palpasi jangan
lupa untuk memeriksa denyut nadi distal dari fraktur dan jangan dipaksakan untuk
bergerak apabila sudah jelas mengalami fraktur. Sindroma kompartemen ( tekanan
intrakompartemen dalam ekstrimitas meninggi sehingga membahayakan aliran
darah) mungkin akan luput dari diagnosis pada penderita yang mengalami
penurunan kesadaran.

8) Bagian Punggung
Periksa punggung dengan long roll ( memiringkan penderita dengan tetap menjaga
kesegarisan tubuh).

11
2. Periksa semua lubang.
Survey sekunder adalah pemeriksaan teliti yang dilakukan dari ujung rambut sampai ujung
kaki, dari depan sampai belakang dan setiap lubang dimasukkan jari ( tube finger in every
orifice ). Survey sekunder hanya dilakukan apabila penderita telah stabil. Keadaan stabil yang
dimaksud adalah keadaan penderita sudah tidak menurun, mungkin masih dalam keadaan
syok tetapi tidak bertambah berat. Suvey sekunder harus melalui pemeriksaan yang teliti pada
setiap lubang alami ( tubes and finger in every orifice )

3. Tanda tanda vital


Tanda tanda vital ini mejadi dasar untuk penialain selanjutnya. Pasien yang kemungkinan
mengalami traumma dada jarus dicatat denyut adi radial dan apikanya; nilai tekanan darah
pada kedua lengan =. Termasuk suhu dn saturasi oksigen sebainya dilengkapi pad atahap ini,
jika belum dilakukan.

4. Anamnesis.
Anamnesis harus lengkap karena akan memberikan gambaran mengenai cedera yang
mungkin diderita. Beberapa contoh yang dapat dilhat sebagai berikut:

 Tabrakan frontal seorang pengemudi mobil tanpa sabuk pengaman mengalami: cedera
wajah, maksilofacial, servikal, thoraks, abdomen dan tungkai bawah.
 Jatuh dari pohon setinggi 6 meter: perdarahan intrakranial, fraktur servikal atau
vertebra lain, fraktur ekstrimitas.
 Terbakar dalam ruangan tertutup: cedera inhalasi, keracunan CO.

Anamnesis juga harus meliputi anamnesis AMPLE. Riwayat AMPLE didapatkan dari
penderita, keluarga ataupun petugas pra- RS yaitu:

 A : alergi
 M : medikasi/ obat-obatan
 P : penyakit sebelumnya yang diderita ( misalnya hipertensi, DM )
 L : last meal ( terakhir makan jam berapa )
 E : events, yaitu hal-hal yang bersangkitan dengan sebab dari cedera.

3.2. Analisa Data

DATA INTERPRETASI MASALAH


DS: Sakit kepala berdenyut- Trauma pada kepala Nyeri
denyut pada regio parietal ↓
sinistra Kerusakan seluler
kadang-kadang disertai pusing. ↓
DO : Pelepasan histamin,
a) Luka robek pada regio bradikinin,dan kalium di
parietal dextra sepanjang nosiseptor
5 cm dengan nyeri tekan ↓
(+). Impuls saraf menyebar di
b) Chepal hematome pada sepanjang serabut saraf perifer
regio parietal dextra aferen

12
c) Skala nyeri 4-5 ( sedang ↓
) Serabut A&C melokalisir
d) Tampak meringis sumber nyeri dan mendeteksi
terutama saat bergerak intensitas nyeri
e) N :92 x/mnt TD: 115/70 ↓
mmHg Nyeri terutama di daerah trauma

DS: klien mengatakan kesulitan Pemasangan alat-alat ventilator Hambatan Mobilisasi Fisik
untuk bergerak dan memerlukan kelemahan fisik
bantuan untuk bergerak ↓
DO: Keterbatasan dalam melakukan
a) Klien imobilisasi pergerakan
b) Kulit punggung ↓
kemerahan, lecet. Ketidakmampuan dalam
c) Tungkai kemerahan melakukan pemenuhan ADL

Penekanan setempat

Kurangnya suplai oksigen

DS: Trauma pada kepala Peningkatan TIK


Klien atau keluarga mengatakan ↓
adanya kejang; Chepal hematome
DO: ↓
a) Perubahan tingkat Bila hematome meluas
kesadaran ↓
b) Gangguan atau Mendesak ruangan intrakranial
kehilangan memori ↓
c) Defisit sensorik Peningkatan TIK
d) Perubahan tanda vital ↓
e) Perubahan pola istirihat Mengurangi aliran drh ke otak
f) Retensi urine ↓
g) Ganggguan berkemih Perfusi jar. cerebral terganggu
h) Nyeri akut atau kronik
i) Demam
j) Mual
k) Muntah proyektil
l) Bradikardia
m) Perubahan pupil
n) Pernapasan chyne
stokes dan kussmaul
DS: Keluarga mengatakan klien Trauma pada kepala Resiko cedera
gelisah ↓
DO: Teputusnya kontuitas kulit,
a) Disorientasi waktu, jaringan dan otot
orang, tempat. ↓
b) Gelisah Peningkatan TIK
c) Lateragi ↓
d) Stupor Herniasi unkus
e) CT-Scan kepala ↓
menunjukkan adanya Gangguan kesadaran
kerusakan. ↓
Resiko cedera

13
3.3. Nursing Diagnosis
1) Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder.
2) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan kognitif.
3) Resiko tinggi peningkatan TIK yang berhubungan dengan desak ruang sekunder dari
kompresi korteks sereri dari adanya perdarahan baik bersifat intraserebral hematom,
subdural hematoma, dan epidural hematoma.
4) Resiko cedera yang berhubungan dengan kejang, penrunan kesadaran dan penurunan
status mental.

3.4. Intervensi dan Rasionalisasi

MASALAH
HASIL YG RENCANA
NO. PERAWAT RASIONAL
DIHARAPKAN INTERVENSI
AN

Nyeri akut 1. Jelaskan dan Pendekatan dengan


bantu pasien menggunakan
relaksasi lainnya telah
dengan tindakan
menunjukkan
pereda nyeri kefektifan dalam
nonfarmakologi mengurangi nyeri.
dan noninvasif.

Dalam waktu 3x24 jam


nyeri berkurang/ hilang.
Ditandai dengan klien 2. Ajarkan
secara subjektif Akan melancarkan O2
relaksasi: teknik oleh jaringan akan
melaporkan nyeri
teknik untuk terpenuhi dan akan
1. berkurang, atau dapata
diadaptasi, dapat mengurangi nyerinya.
menurunkan
mengidentifikasiaktivitas
ketegangan otot
yang meningkatkan atau
menurunkan nyeri, klien rangka, yang
tidak gelisah. dapat
menurunkan
intensitas nyeri
dan juga
tingkatan
relaksasi
masase.

14
3. Ajarkan metode Mengalihkan
distraksi selama perhatian nyerinya ke
hak hal yang
nyeri akut.
menyenangkan

4. Berikan Instirahat akan


merelaksasikan semua
kesmepatan
jaringan hingga akan
waktu istirahat meningkatkan
bila terasa nyeri kenyamanan
dan berikan
posisi yang
nyaman
misalnya ketika
tidur,
belakangnya
dipasang
bantalan kecil.

5. Tingkatkan
Pengetahuan yang
pengetahuan akan dirasakan akan
tentang membantu
mengurangi nyerinya.
penyebab nyeri
Dan dapat membantu
dan mengembangkan
menghubungka kepatuhan klien
terhadap rencana
n beberapa lama
terapeutik.
nyeri akan
berlangsung.

6. Observasi
Pengkajian yang
tingkat nyeri optimal akan
dan respons memberikan perawat
data yang objektif

15
motorik klien, untuk mencegah
30 menit setelah kemungkinan
komplikasi dan
pemberian obat
melakukan intervensi
analgetik untuk yang tepat.
mengkaji
efektivitasannya
serta setiap 1-2
jam setelah
tindakan
perawatan
selama 1-2 hari.

Analgesik memblok
7. Kolaborasi
lintasan nyeri,
dengan dokter, sehingga nyeri akan
pemerian berkurang.
analgetik.
Mobilitas Setelah dilakukan tindakan 1. Periksa kembali Mengindentifikasi
fisik, keperawatan, klien akan kemampuaan dan kemungkinan
kerusakan melakukan kembali / keadaan secara kerusakan secara
fungsional pada fungsional dan
meningkatkan kekuatan
kerusakan yang mempengaruhi dan
dan fungsi optimal, terjadi mempengaruhi pilihan
dibuktikan oleh tak adanya intervensi yang akan
kontraktur , footdrop dilakukan.

Mempertakan / 2. Kaji drajat Pasien mamou


meningkatkan kekuatan imobilisasi pasien mandiri ( nilai 0 ) atau
dan fungsi bagian tubuh dengan memerlukan bantuan /
2. yang sakit dan / atau menggunakan peralatan yang
kompensasi skala minimal ( nilai 1 )
ketergantungan ( memerlukan bantuan
Mendemontrasikan 0-4) sedang / dengan
pengawasan /diajarkan
teknik/perilaku yang
( nilai 2), memerlukan
memungkinkan yang nbantuan/peralatan
memungkinkan dilakukan yang terus menerus
kembali aktivitas dan alat khusus ( nilai
3 ), atau tergantung
Mempertakan integritas secara total pada
kulit, kandung kemih, dan pemberi asuhan ( nilai
fungsi usus 4 ). Seseorang dalam
semua ketagori sama

16
sama mempunyai
risisko kecelakaan
namun katagori
dengan nilai 2-4
mempunyai risiko
yang terbesar untuk
terjadinya bahaya
tersebut sehubungan
dengan imobilisasi.

Perubahan posisi yang


3. Lakukan pasien
teratur menyebabkan
pda posisi
penyebaran terhadap
tertentu untuk
berat badan dan
menghindari
meningkatkan
kerusakan karena
sirkulasi pada seluruh
tekanan. Ubah
bagian tubuh. Jika ada
posisi pasien
paralis atau
secara teratur dan
keterbatasan kognitif,
buat sedikit
pasien harus diubah
perubahan posisi
posisinya secara
antara waktu
teratur dan psisi dari
perubahan posisi
daerah yang sakit
tersebut.
hanya dalam jangka
waktu yang sangat
terbatas.

Penggunaan sepatu
4. Pertahankan tenis hak tinggi, “
kesejajaran tubuh space boots “, dan “
secara fungsional, kulit domba t-bar”
seperti bokong, dapat membantu
kaki, tangan. menecegah footdrop.
Pantau selama bidai tangan bervariasi
penempatan alat dan didesain untuk
dan / atau tanda mencegah deformitas
penekanan dari tangan dan
alat tersebut. meningkatkan
fungsinya secara
optimal . pengunaan
bantal, gulungan alas
tidur dan bantal pasir
dapat membantu
mencegah terjadinya
rotasi abnormal pada
bokong.

5. Sokong kepala Mempertahankan


dan badan, kenyamanan ,
tangan dan keamanan dan postur
lengan , kaki dan tubuh yang normal
paha ketika dan mencegah/

17
pasien berada menurunkan risiko
pada kursi roda. kerusakan kulit pada
Beri pengalas daerah kogsigis.
pada kursi
dengan busa atau
balon air dan
bantu pasien
untuk
memindakan
berat badannya
dengan periode
waktu yang
teratur.
Mempertahankan
6. Berikan / bantu
mobilisasi dan fungsi
untuk melakukan
sendi/posisi normal
latihan rentang
ekstremitas dan
gerak.
menurunkan
terjadinya vena yang
statis.

7. Instruksikan Proses penyembuhan


/bantu pasien yang lambat seringkali
dengan program menyertai trauma
latihan dan kepala dan pemulihan
penggunaan alat secara fisik
mobilitas. merupakan bagian
Tingkatkan yang amat penting
aktivitas dan dari suatu program
partisipasi dalam pemulihan tersebut.
merawat diri Keterlibatakan pasien
sendiri sesuai dalam perencanaan
kemampuan. dan kegiatan adalah
sangat penting untuk
meningkatkan
kerjasama pasien atau
keberhasilan dari
suatu program
tersebut.

8. Berikan Meningkatkan
perawatan kulit sirkulasi dan
dengan cermat, elastisitas kulit dan
masase dengan mnenurunkan risiko
pelembab, dan terjadinya ekskorisasi
ganti kulit.
linen/pakaian
yang basah dan
pertahankan linen
tersebut tetap
bersih dan bebas
dari kerutan (

18
jaga tetap tegang
).

9. Berikan
perawatan mata, Melindungi jaringan
air mata uatan, lunak dari peroistiwa
tutup mata sesuai kekeringan. Pasien
kebutuhan. perlu menutup mata
selama tidur untuk
melindungi mata dari
trauma jika tidak dapat
menjaga mata tetap
tertutup.

10.Pantau haluaran Pemakaian kateter


urine. Catat foley selama akut
warna dan bau mungkin dibutuhkan
dari urine. Bantu untuk jangka waktu
dengan latihan yang panjang sebelum
kandung kemih memungkinkan untuk
jika melakukan latihan
memungkinkan. kandung kemih. Saat
kateter dilepas.
Beberapa metode
kontrol dapat dicoba,
seperti kateterisasi
intermiten ( selama
pengosongan sebagian
atau seluruhnya,
kateter eksternal,
interval diatas pispot
memberikan duk
inkontinen.

11. Berikan cairan Sesaat setelah fase


dalam batas-batas akut cedera kepala dan
yang dapat di jika pasien tidak
toleransi ( contoh memiliki faktor
toleransi oleh kontraindikasi yang
neurologis dan lain, pemberian cairan
jantung ). yang memadai akan
menurunkan risiko
terjadinya infeksi
saluran kemih/batu
ginjal/batu kandung
kemih dan pengaruh
cukup baik terhadap
konsistensi feses yang
normal dan turgor
kulit menjadi optimal.

12. Pantau pola Defekasi yang teratur

19
eliminasi dan merupakan kebutuhan
berikan/bantu yang sederhana tetapi
untuk dapat merupakan tindakan
melakukan yang amat penting
defekasi secara untuk mencegah
teratur. Periksa terjadinya komplikasi.
adanya Stimulasi sfingter
konsistensi feses internal dari anus sksn
yang keras, merangsang usus
gunakan kosong secara
stimulasi manual otomatis jika feses
sesuai indikasi. tersebut cukup
Biarkan pasie lembek. Posisi duduk
duduk ditoilet mebantu evakuasi
pada interval feses tersebut.
tertentu secara
teratur.
Tambahkan
makanan berserat
atau buah-
buahan berserat
pada diet sesuai
dengan
kebutuhan.

13. Perikasa adanya


daerah yang
mengalami nyeri Pasien seperti diatas
tekan kemerahan. tersebut mempunyai
Kulit hangat, otot risiko berkembangnya
yang tegang, trombosis bena dalam
dan/atau ( TVD ) dan emboli
sumbatan vena pulmonal (EP) (
pada kaki. terutama setelah
Observasi adanya trauma ), ayang
dispnea tiba-tiba, mmerlukan
takikardia, tindakan/intervensi
demam, distres /penilaian medis
pernapasan dan dengan segera untuk
nyeri dada. mencegah komplikasi
yang serius.
14. Berikan matras
udara/air, terapi Menyeimbangkan
kinetik sesuai tekanan jaringan,
dengan meningkatkan
kebutuhan. sirkulasi, dan
membantu
meningkatkan arus
balik vena untuk
menurunkan risiko

20
terjadinya trauma
jaringan.

Resiko 1. Kaji faktor Deteksi dini untuk


tinngi penyebab dan memprioritaskan
peningkata
situasi/ keadaan intervensi, mengkaji
n TIK
individu status neurologis/
penyebab koma/ tanda-tanda kegagalan
penurunan untuk menentukan
perfusi perawtan kegawatan
jarinngan dan atau tindakan
kemungkinan pembedahan.
penyebab
peningkatan
TIK.

Dalam 2x24 jam


tidak terjadi
peningkatan TIK
pada klien. Kriteria
hasil: klien tidak
gelisah, klien tidak
2. Memonitor Suatu keadaan normal
3. mengeluh nyeri
kepala, mual mual tanda tanda bila sirkulasi serebral
dan muntah, GCS:
vital. terpelihara dengan
4,5,6 tidak terdapat
papiledema, TTV baik atau fluktuasi
dalam batas
ditandaii dengan
normal.
tekanan darah
sistemik, penurunan
dari autoregulator
kebanyakan
merupakan tanda
penurunan difusi lokal
vaskularisasi darah
serebral. Dengan
peningkatan tekanan
darah (diastolik) maka
dibarengi dengan
peningkatan tekanan
darah intrkranial.

21
Adanya peningkatan
tekanan darah,
bradikardia, disritmia,
dispnea merupakan
tand terjadinya
peningkatan TIK.

Reaksi pupil dan


3. Evaluasi pupil, pergerakan kembalii
amati ukuran, dari bola mata
ketajaman dan merupakan tanda dari
reaksi terhadap ganggua nervus/ saraf
cahaya. jika batang otak
terkoyak. Reaksi pupil
diatur oleh saraf III
kranial (okulomotorik)
yang menunjukkan
keutuhan batang otak,
ukuran pupil
menunjukkan
keseimbngan antara
parasimpatis dan
simpatis. Repons
terhadap cahaya
merupakan kombinasi
fungsi dari saraf
kranial II dan III.

Panas merupakan
4. Monitor refleks dari
tempeature dan hipothalamus.
pengaturan suhu Penignkatan
lingkungan. kebutuhan
metabolisme dan O2
akan menunjang

22
peningkatan TIK/ICK
(Intracranial
Preassure).

Perubahan kepala
5. Pertahankan pada satu sisi dapat
kepala/ leher menimbulkan
pada posisi penekanan pada vena
yang netral, jugularis dan
usahakan (menghambat drainase
dengan sedikit pada vena serebral),
bantal. Hindari untul itu dapat
penggunaan meningkatkan tekanan
bantal yang intrakranial.
tinggi pada
kepala.

Tindakan yang terus


6. Berikan periode menerus dapat
istirahat antara meningkatkan TIK
tindakan oleh efek rangsangan
perawatan dan kumulatif.
batasi lamanya
prosedur.

Memberikan suasana
7. Kurang yang tenang (colming
rangsangan effect) dapat
ekstra dan mengurangi respons
berikan rasa psikologis dan
nyaman seperti memberikan istirahat
masase untuk
punggung, mempertahankan TIK
lingkungan yang rendah.
yang tenang,
sentuha yang

23
ramah, dan
suasana atau
pembicaraan
yang tidak
gaduh.

Mengurangi tekanan
8. Cegah atau intrakranial dan
hindarkan intraabdominal
terjadinya sehingga menghindari
valsava peningkatan TIK.
manuver.
Aktivitas ini dapat
9. Bantu klien jika meningkatkan
batuk, muntah. intrathoraks/ tekanan
dalam thoraks dan
tekanan dalam
abdomen di mana
aktivitas ini dapat
meningkatkan tekanan
TIK.

Tingkah nonverbal ini


10. Kaji dapat merupakan
peningkatan indikasi peningkatan
istirahat dan TIK atau memberikan
tingkah laku. refleks nyeri di mana
klien tidak mampu
mengungkapkan
keluhan secara verbal,
nyeri yang tidak
menurun dapat
meningkatkan TIK.

Dapat meningkatkan

24
11. Palapasi pada respons otomatis yang
pembasaran potensial menaikkan
atau pelebaran TIK.
bladde,
pertahankan
drainase urine
secara paten
jika digunakkan
dan juga
monitor
terdapatnya
konstipasi.

Meningkatkan kerja
12. Berikan sama dalam
penjelasan pada meningkatkan
klien (jika perawatan klien dan
sadar) dan mengurangi
keluarga kecemasan.
tentang sebab
akibat TIK
meingkat.
Perubahan kesadaran
13. Observasi menunjukkan
tingkat peningkatan TIK dan
kesadaran berguna untuk
dengan GCS. menetuukan lokasi
dan perkembangan
penyakit.

Mengurangi
Kolaborasi: hipoksemia, dimana
14. Pemberian O2 dapat meningkatkan
sesuai indikasi. vasodilatasi serebral,

25
volume darah dna
menaikkan TIK.

Tindakan pembedahan
untuk evakuasi darah
15. Kolaborasi dilakukan bila
untuk tindakan kemungkinan terdapat
operatif tanda tanda defisit
evakuasi darah neurologis yang
dari dalam menandakan
intrakranial. peningkatan
intrakranial.

Pembedahan cairan
mungkin diinginkan
16. Berikan cairan untuk mengurangi
intravena sesuai edema serebral,
indikasi. peningkatan minimum
pada pembuluh darah,
tekanan darah dan
TIK.

Dieuretik mungkin
digunakan pada fase
akut untuk
17. Berikan obat
mengalirkan air dari
osmosis
sel otak dan
dieuretik
mengurangi edema
contohnya:
serebral dan TIK.
manitol,
furoscide.

Untuk menurunkan

18. Berikan steroid inflamasi dan


mengurangi edema
contohnya:

26
dexamethason, jaringan.
methyl
prenidsolon.
Mungkin
diindikasikan untuk
19. Berikan mengurangi nyeri dan
analgesik obat ini berefek
narkotik contoh: negatif pada TIK
kodein. tetapi dapat digunakan
dengan tujan untuk
mencegah dan
menurunkan sensasi
nyeri.

Membantu
20. Berikan memberikan informasi
antipiretik tentang efektivitas
contohnya:aseta pemberian obat.
minofen.

Resiko 1. Pasang pagar Pagar tempat tidur


cedera tempat tidur. melindungi klien
dengan hemiplegia
terjatuh dari tempat
tidur.
Setelah dilakukan Klien dengan
intervensi
keperawatan gangguan sensasi
4. selama 7x 24 jam resiko trauma.
klien tidak akan
mengalami trauma,
dengan kriteria:
Tidak jatuh.

2. Lindungi klien Klien dengan


dari cedera penurunan kesadaran
dengan dapat mencederai diri.

27
menggunakan Membungkus tangan
bantalan pad klien dengan kaos
apagar tempat tangan mencegah
tidur dan klien melepaskan
bungkus tangan selang selang di tubuh.
klien denga
kaos tangan.
Hindari
pemakaian
restrain karena
regangan dapat
meingkatkan
TIK atau cedera
lain.

Opioid menekan
3. Hindari pernapasan, kontiriksi
pemakain pupil dan mengubah
opioid. tingkat responsif
klien.

28
DAFTAR PUSTAKA

Tim Pengajar BTCLS. 2012. Modul Basic Trauma Cardiac Life Support. Jakarta: AGD Dinkes DKI
Jakarta.
Anonim. 2010. Basic Trauma Life Support dan Basic Cardiac Life Support ed. III. Jakarta: Yayasan
ambulans Gawat Darurat 118
Darwis, Allan dkk. 2005. Pedoman Pertolongan Pertama. Ed 2. Jakarta : Kantor Pusat Palang Merah
Indonesia.
Kartikawati, Dewi.2010.Buku Ajar Dasar-Dasar Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta. Salemba
Medika.
Nurarif, Huda Amin, Kusuma Hardhi. 2016. Asuhan Keperawatan Praktis berdasarkan penerapan
Diagnosa Nanda, NIC, NOC. Jogjakarta. Medi Action.
Kartikawati, N., Dewi. 2013. Dasar-Dasar Keperawatan Gawar Darurat. Jakarta. Salemba Medika
Doengus, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta. EGC.
Grace, Pierce A. & Borley, Neil R. 2007. At a Glance Ilmu Bedah edisi 3. Jakarta. Erlangga.
Batticaca, Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.
Jakarta. Salemba Medika.
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta.
Salemba Medika.

29