Anda di halaman 1dari 25
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id P U T U S A N Nomor

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

P U T U S A N

Nomor 629 K/Pdt.Sus/2012

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

M A H K A M A H

A G U N G

memeriksa perkara perdata khusus perselisihan hubungan industrial dalam tingkat kasasi

memutuskan sebagai berikut dalam perkara antara:

PT. FRESHION ENGINEERING PLASTIC, dalam hal ini diwakili

oleh Tuan Leong Tin Lueng, selaku Direktur, beralamat di Jalan Rungkut

Industri VIII No. Kota Surabaya, dalam hal ini memberi kuasa kepada 1.

Hari Deksino, Manajer Personalia, 2. Agus Prasetyo, Staf Personalia,

berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 30 Juni 2012, sebagai Pemohon

Kasasi dahulu Tergugat ;

m e l a w a n

MOH. BADRI, Warga Negara Indonesia, beralamat di Jalan Mliwis RT

5 RW 2 Desa Maospati Kabupaten Magetan, dalam hal ini memberi

kuasa kepada Abbas Achmad Anshori, SH., Chamdani, SH. SE., dan Ika

Dyah Aviyanti, SH., Advokat pada Kantor Hukum LBH ABADI

BANGSA, beralamat di Gadel Sari Tama No.36 Tandes Surabaya,

berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 22 Oktober 2011, sebagai

Termohon Kasasi dahulu Penggugat ;

Mahkamah Agung tersebut ;

Membaca surat-surat yang bersangkutan ;

Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Termohon

Kasasi dahulu sebagai Penggugat telah mengajukan gugatan terhadap Pemohon Kasasi

dahulu sebagai Tergugat di depan persidangan Pengadilan Hubungan Industrial pada

Pengadilan Negeri Surabaya, pada pokoknya sebagai berikut:

Bahwa Tergugat adalah Perusahaan PT. Preshion Engineering Plastic beralamat

di Jalan Rungkut Industri VIII Nomor 4 Surabaya ;

Bahwa Penggugat adalah pekerja Tergugat yang mulai masuk kerja pada tanggal

02 Februari 2002 dengan jabatan terakhir bagian Stuffing Pengiriman dengan status

karyawan tetap ;

Bahwa masa kerja Penggugat adalah 10 tahun 1 bulan dengan gaji pokok

dan tunjangan tetap Penggugat terakhir yang diterima adalah Rp. 1.252.000,- (satu

juta dua ratus lima puluh dua ribu Rupiah) ;

Hal. 1 dari 25 hal.Put.Nomor 629 K/Pdt.Sus/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 1

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Bahwa selama bekerja pada Tergugat,

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Bahwa selama bekerja pada Tergugat, Penggugat bekerja dengan baik dan

loyalitas kerja yang tinggi karena Penggugat tidak pernah menolak apabila diberikan

tugas yang berpindah-pindah baik tempat kerja maupun bagian kerjanya ;

Bahwa tanpa ada alasan yang jelas Tergugat memutus hubungan kerja Penggugat

secara tertulis pada tanggal 02 Agustus 2011 dengan nomor surat : I-02/2011 dan

melarang masuk bekerja melalui Pos Satpam dan kartu absennya diambil oleh Tergugat ;

Bahwa berdasarkan Pasal 161 ayat (1) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003

tentang Ketenagakerjaan, hal ini tidak dilaksanakan oleh Tergugat pada Penggugat

sehingga Tergugat telah melanggar ketentuan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 ;

Pasal 161 :

1 Dalam hal pekerja/buruh melakukan pelanggaran ketentuan yang diatur dalam

perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama, pengusaha

dapat melakukan pemutusan hubungan kerja, setelah kepada pekerja/buruh yang

bersangkutan diberikan surat peringatan pertama, kedua dan ketiga secara

berturut-turut ;

2 Surat peringatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) masing-masing berlaku

untuk paling lama 6 (enam) bulan, kecuali ditetapkan lain dalam perjanjian

kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama ;

Bahwa dengan telah dilakukannya pelarangan bekerja oleh Tergugat pada

Penggugat sebagaimana dalam point (5), Penggugat minta agar diberikan hak pesangon

dan hak-hak lainnya sebesar 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2), dan 1 (satu) kali

ketentuan ayat (3) dan ayat (4) namun Tergugat menolak dan tetap melarang Penggugat

untuk bekerja kembali ;

Bahwa pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh Tergugat kepada

Penggugat adalah menyimpangi ketentuan yang diatur dalam Pasal 151 ayat (3)

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang berbunyi :

Pasal 151 :

1 Pengusaha, pekerja/buruh, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah dengan

segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan

kerja ;

2 Dalam hal segala upaya telah dilakukan, tetapi pemutusan hubungan kerja tidak

dapat dihindari, maka maksud pemutusan hubungan kerja wajib dirundingkan

dengan pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh atau dengan pekerja/buruh

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 2

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id apabila pekerja/buruh yang bersangkutan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

apabila pekerja/buruh yang bersangkutan tidak menjadi anggota serikat pekerja/

serikat buruh ;

3 Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) benar-benar tidak

menghasilkan persetujuan, pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja

dengan pekerja/buruh setelah memperoleh penetapan dari lembaga penyelesaian

perselisihan hubungan industrial ;

Bahwa sesuai ketentuan Pasal 155 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun

2003 tentang Ketenagakerjaan maka pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh

Tergugat pada Penggugat adalah Batal Demi Hukum ;

Pasal 155 :

1 Pemutusan hubungan kerja tanpa penetapan sebagaimana dimaksud Pasal 151

ayat (3) batal demi hukum ;

2 Selama putusan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial belum

ditetapkan, baik pengusaha maupun pekerja/buruh harus tetap melaksanakan

segala kewajibannya ;

3 Pengusaha dapat melakukan penyimpangan terhadap ketentuan sebagaimana

dimaksud dalam ayat (2) berupa tindakan skorsing kepada pekerja/buruh yang

sedang dalam proses pemtusan hubungan kerja dengan tetap membayar upah

beserta hak-hak lainnya yang biasa diterima pekerja/buruh ;

Bahwa selama Penggugat bekerja pada Tergugat, di Perusahaan Tergugat tidak

ada peraturan perusahaannya, sehingga tidak ada aturan hukum secara intern yang

digunakan sebagai dasar hukum ;

Bahwa dengan adanya pemutusan hubungan kerja sepihak yang dilakukan

Tergugat kepada Penggugat, Penggugat dan Tergugat telah mengadakan mediasi yang

dimediatori oleh Mediator dari Dinas Tenaga Kerja Kota Surabaya dan telah

mendapatkan anjuran dengan Nomor 567/575/ 436.6.12/2012 yang dikeluarkan pada

tanggal 07 Februari 2012 dengan Nomor Anjuran : 16/PHK/II/2012 tanggal 07 Februari

2012 yang isinya :

1 Agar pihak perusahaan dan pihak pekerja tetap menjalin hubungan kerja dan

pihak perusahaan memanggil pihak pekerja secara tertulis untuk bekerja

kembali ;

2 Agar pihak perusahaan membayar upah penuh pekerja selama proses

penyelesaian perselisihan hubungan industrial dari Agusutus 2011 s/d Pebruari

2012 ;

Hal. 3 dari 25 hal.Put.Nomor 629 K/Pdt.Sus/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 3

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Bahwa dengan telah diterbitkannya anjuran

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Bahwa dengan telah diterbitkannya anjuran tersebut di atas pihak Penggugat

telah memberikan jawaban kepada pihak Dinas Tenaga Kerja Kota Surabaya dengan

jawaban menerima dari anjuran tersebut namun pihak Tergugat menolak untuk

menerima anjuran ;

Bahwa sejak bulan Agustus 2011 sampai dengan bulan Maret 2012 upah

Penggugat sudah tidak digaji oleh Tergugat dengan jumlah Gaji yang belum dibayar

adalah Rp. 1.252.000,- x 8 = Rp. 10.016.000,- (sepuluh juta enam belas ribu Rupiah) ;

Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 95 ayat (2) Undang-Undang No. 13 Tahun

2003 yang berbunyi : ”Pengusaha yang karena kesengajaan atau kelalaiannya

mengakibatkan keterlambatan pembayaran upah, dikenakan denda sesuai persentase

tertentu dari upah pekerja/buruh” ;

Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 16 Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun

1981 yang berbunyi :

1 Apabila upah terlambat dibayar, maka mulai dari hari keempat sampai hari

kedelapan terhitung dari hari dimana seharusnya upah dibayar, upah tersebut

ditambah dengan 5% (lima persen) untuk tiap hari keterlambatan ;

2 Sesudah hari kedelapan tambahan itu menjadi 1% (satu persen) untuk tiap hari

keterlambatan, dengan ketentuan bahwa tambahan itu untuk 1 (satu) bulan tidak

boleh melebihi 50% (lima puluh persen) dari upah yang seharusnya dibayarkan ;

3 Apabila sesudah sebulan upah masih belum dibayar, maka disamping

berkewajiban untuk membayar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),

pengusaha diwajibkan pula membayar bunga sebesar bunga yang ditetapkan

oleh bank untuk kredit perusahaan yang bersangkutan ;

4 Penyimpangan yang mengurangi ketentuan dalam pasal ini adalah batal menurut

hukum ;

Bahwa Tergugat harus membayar gaji tepat pada waktunya sesuai kebiasaan

yang dilakukan Tergugat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun

2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1981, maka atas keterlambatan tersebut,

Tergugat harus dihukum membayar denda sebesar 50% dari total keterlambatan

pembayaran yaitu Rp. 10.016.000,- x 50% = Rp. 5.008.000,- (lima juta delapan ribu

Rupiah) ;

Bahwa oleh karena Penggugat hingga saat ini belum bekerja sehingga tidak

mendapatkan gaji dan masih harus memberikan nafkah pada anak dan istri, maka

dengan ini Penggugat memohon kepada Ketua Pengadilan Hubungan Industrial pada

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 4

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Pengadilan Negeri Surabaya agar memberikan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Pengadilan Negeri Surabaya agar memberikan Putusan Sela untuk memerintahkan

Tergugat agar membayar gaji yang belum terbayar dan hak-hak lainnya denga rincian

sebagai berikut :

a. Gaji bulan Agustus 2011- Maret 2012

= Rp. 10.016.000,- ;

b. Denda keterlambatan 50%

= Rp.

5.008.000,- ;

c. Bunga setiap bulan 2& selama 8 bulan

= Rp.

1.602.560,- ;

Total

= Rp. 16.626.000,- ;

(enam belas juta enam ratus dua puluh enam ribu Rupiah) ;

Bahwa sampai dengan gugatan ini diajukan oleh Penggugat, pihak Tergugat

tidak berkeinginan untuk memanggil dan mempekerjakan Penggugat atau membayar

hak Penggugat sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 secara

sukarela ;

Bahwa sekiranya hubungan kerja antara kedua belah pihak tidak terputus dan

tetap dilanjutkan, maka hal tersebut tidaklah membawa kemanfaatan bagi kedua belah

pihak sehingga akan lebih baik apabila hubungan kerja antara keduanya dinyatakan

diputus dan diakhiri ;

Bahwa oleh karena pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh Tergugat

kepada Penggugat bukan karena habisnya masa berlakunya perjanjian kerja atau bukan

pula karena kesalahan yang dilakukan oleh Penggugat, maka putusnya hubungan kerja

yang demikian ini dapatlah dikategorikan sebagai pemutusan hubungan kerja karena

efisiensi, sehingga terhadap pemutusan hubungan kerja tersebut haruslah Tergugat

dibebani untuk membayar secara tunai dan sekaligus kepada Penggugat hak atas uang

pesangon, uang penghargaan masa kerja dan penggantian hak sesuai dengan ketentuan

Pasal 164 ayat (3) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai

berikut :

Pasal 164 :

1 Pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh

karena perusahaan tutup yang disebabkan perusahaan mengalami kerugian

secara terus menerus selama 2 (dua) tahun, atau keadaan memaksa (force

majeur), dengan ketentuan pekerja/buruh berhak atas uang pesangon sebesar 1

(satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2), uang penghargaan masa kerja sebesar 1

(satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai

ketentuan Pasal 156 ayat (4) ;

Hal. 5 dari 25 hal.Put.Nomor 629 K/Pdt.Sus/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 5

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id 2 Kerugian perusahaan sebagaimana dimaksud

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

2 Kerugian perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dibuktikan

dengan laporan keuangan 2 (dua) tahun terakhir yang telah diaudit oleh akuntan

publik ;

3 Pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh

karena perusahaan tutup bukan karena mengalami kerugian 2 (dua) tahun

berturut-turut atau bukan karena keadaan memaksa (forje majeur) tetapi

perusahaan melakukan efisiensi, dengan ketentuan pekerja/buruh berhak atas

uang pesangon sebesar 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2), uang

penghargaan masa kerja sebesar 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan

uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4) ;

Bahwa berdasarkan apa yang telah terurai di atas, Penggugat mohon kepada

Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Surabaya berkenan

memberikan putusan sebagai berikut :

DALAM PUTUSAN SELA :

Memerintahkan Tergugat membayar gaji dan hak lainnya yang harus diterima

Penggugat selama proses perkara sebesar Rp. 16.626.000,- (enam belas juta

enam ratus dua puluh enam ribu Rupiah) ;

DALAM POKOK PERKARA :

1 Menerima dan mengabulkan gugatan Penggugat seluruhnya ;

2 Menyatakan antara Penggugat dan Tergugat sah mengakhiri hubungan kerja ;

3 Menyatakan bahwa surat pemutusan hubungan kerja yang dikeluarkan oleh

Tergugat pada tanggal 02 Agustus 2011 dengan nomor surat I-02/2011 kepada

Penggugat tidak sah dan melanggar Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003

tentang Ketenagakerjaan ;

4 Menyatakan bahwa Tergugat melanggar ketentuan Undang-Undang Nomor 13

Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan ;

5 Memerintahkan Tergugat untuk membayar secara tunai dan sekaligus kepada

Penggugat gaji bulan Agustus 2011 sampai dengan Maret 2012 sebesar Rp.

1.252.000,- x 8 Rp. 10.016.000,- (sepuluh juta enam belas ribu Rupiah) ;

6 Memerintahkan Tergugat untuk membayar secara tunai dan sekaligus kepada

Penggugat denda keterlambatan pembayaran gaji sebesar 50% dari total gaji Rp.

10.016.000,- x 50% = Rp. 5.008.000,- (lima juta enam ribu Rupiah) ;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 6

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id 7 Memerintahkan Tergugat untuk membayar

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

7 Memerintahkan Tergugat untuk membayar secara tunai dan sekaligus kepada

Penggugat bunga setiap bulan 2% selama 8 bulan sebesar Rp. 1,602.560,-

(satu juta enam ratus dua ribu lima ratus enam puluh Rupiah) ;

8 Memerintahkan Tergugat untuk membayar secara tunai dan sekaligus kepada

Penggugat ;

Uang pesangon sebesar Rp. 1.252.000,- x Rp. 2 x 9 = Rp. 22.536.000,- ;

Uang penghargaan masa kerja Rp. 1.252.000,- x 4

Uang penggantian hak 15% x Rp. 27.544.000,-

Cuti yang belum diambil 12 x Rp. 59.619,-

Total

(tiga puluh dua juta tiga ratus sembilan puluh satu ribu dua puluh delapan Rupiah) ;

9 Menyatakan putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu meskipun ada upaya

= Rp.

= Rp.

5.008.000,- ;

4.131.600,- ;

= Rp.

715.428,- ;

= Rp. 32.391.028,- ;

kasasi atau upaya hukum lainnya ;

10 Menghukum Tergugat untuk membayar seluruh biaya perkara yang timbul dalam

gugatan ini ;

Apabila Ketua Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Surabaya

melalui Majelis Hakim, yang memeriksa perkara ini berpendapat lain, maka :

SUBSIDAIR :

Dalam peradilan yang baik, mohon keadilan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono) ;

Bahwa, terhadap gugatan tersebut di atas, Tergugat mengajukan eksepsi dan

gugatan rekonpensi yang pada pokoknya sebagai berikut:

Dalam Eksepsi :

Gugatan Penggugat Kabur (”Eksepsi Obscuur Libel ) dan Prematur ;

Bahwa, pada posita maupun petitum bila dicermati dan ditelaah gugatan

Penggugat kabur alias ”Obscuur Libel” alias gugatan tidak jelas, tidak terang dan tidak

tegas, dimana dalam surat gugatan tertanggal 19 Maret 2012 pada intinya menyatakan

bahwa surat pemutusan hubungan kerja yang dikeluarkan oleh Tergugat pada tanggal 2

Agustus 2011 dengan Nomor I-02/2011 dinyatakan oleh Penggugat tidak sah dan

melanggar Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, tetapi di

dalam petitum selanjutnya, Penggugat menuntut uang pesangon kepada Penggugat

sebesar dua kali ketentuan. Gugatan Penggugat yang demikian adalah suatu gugatan

yang bertolak belakang alias kontradiksi dan tentunya merupakan gugatan yang kabur,

oleh karena itu di satu sisi Penggugat menyatakan surat pemutusan hubungan kerja yang

dikeluarkan oleh Tergugat tidak sah alias batal demi hukum, sehingga tuntutannya

Hal. 7 dari 25 hal.Put.Nomor 629 K/Pdt.Sus/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 7

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id seharusnya bekerja kembali namun di sisi

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

seharusnya bekerja kembali namun di sisi lain Penggugat menuntut Pesangon kepada

Tergugat ;

Bahwa selanjutnya dalam posita surat gugatan tertanggal 19 Maret 2012 dengan

Register Nomor 26/G/2012/PHI.Sby terdapat ketidak jelasan, ketidak tegasan, ketidak

cermatan dan menyesatkan dalam membuat surat gugatan, khususnya pada dalil-dalil

hubungan kerja sehingga terlalu dini/prematur untuk mengajukan gugatan perselisihan

pemutusan hubungan kerja oleh karena perselisihan dalam perkara ini adalah

perselisihan hak. Dimana dalil-dalil Penggugat menonjolkan tentang hak-hak Penggugat,

diantaranya adalah upah yang belum dibayar, denda keterlambatan pembayaran upah,

sisa hak cuti tahunan. Oleh karenanya Mohon Majelis Hakim yang memeriksa,

menangani dan memutuskan perkara ini berkenan menyatakan gugatan Penggugat

ditolak untuk seluruhnya atau setidak-tidaknya gugatan tidak dapat diterima ”Niet

Onvankelijke Verklraad” ;

Bahwa sebagaimana gugatan Penggugat menyatakan gugatan pemutusan

hubungan kerja namun dalam perselisihan ini masih mengajukan gugatan perselisihan

hak, sehingga terjadi ketidak jelasan, ketidak cermatan dan menyesatkan dalam

membuat surat gugatan. Hukum Acara Perdata menentukan apabila dalam posita dan

petitum terdapat pertentangan atau kontradiksi yang saling tumpang tindih dalam posita

dengan petitum, maka seharusnya gugatan yang demikian dapat dikategorikan gugatan

kabur. Oleh karenanya Mohon Majelis Hakim yang memeriksa, menangani dan

memutuskan perkara ini berkenan menyatakan gugatan Penggugat ditolak untuk

seluruhnya atau setidak-tidaknya dinyatakan gugatan tidak dapat diterima ”Niet

Onvankelijke Verklraad” (Vide Pasal 86 Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 2004

tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial ;

Dalam Putusan Sela/Provisi :

Bahwa sebagaimana dalam gugatan Penggugat menyatakan memerintahkan

Tergugat membayar gaji dan hak-hak lainnya yang seharusnya diterima Penggugat

selama proses perkara sebesar Rp. 16.626.000,- (enam belas juta enam ratus dua puluh

enam ribu Rupiah) adalah tuntutan yang berlebihan. Bagaimana logika hukum

Penggugat menuntut dapat menerima gaji dan hak-hak lainnya yang seharusnya

diterima. Bila Penggugat tidak melakukan pekerjaan sesuai ketentuan Pasal 93 ayat (1)

Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Oleh karenanya

mohon Majelis Hakim yang memeriksa, menangani dan memutuskan perkara ini

berkenan menyatakan gugatan Provisi Pengguagt ditolak untuk seluruhnya ;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 8

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Bahwa, terhadap gugatan tersebut, Tergugat

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Bahwa, terhadap gugatan tersebut, Tergugat mengajukan Rekonvensi pada

pokoknya sebagai berikut:

Bahwa dalam bagian ini Tergugat menjadi Penggugat Rekonvensi dan Penggugat

menjadi Tergugat Rekonpensi. Dengan tegas Penggugat Rekonpensi mengajukan

gugatan rekonpensi dengan alasan-alasan sebagai berikut :

Bahwa Penggugat Rekonpensi mohon hal-hal apa yang telah terurai dalam

eksepsi dan jawaban dalam pokok perkara di atas mohon dianggap telah terurai kembali

dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari gugatan dalam rekonpensi ini ;

Bahwa Penggugat Rekonpensi adalah perusahaan yang didirikan berdasarkan

Akte Perubahan terakhir Nomor 52 tanggal 24 Juli 2009 oleh Notaris Siti Nurul

Yuliami, S.H. M.Kn., Notaris di Sidoarjo selanjutnya disjahkan berdasarkan pengesahan

oleh Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Nomor AHU.00778.AH.01. Tahun 2010

tanggal 07 Januari 2010 ;

Bahwa Penggugat Rekonpensi adalah wajib pajak yang patuh pada peraturan

perundang-undangan di bidang perpajakan dengan Nomor Pokok Wajib Pajak

01.722.707.5-052.000 tanggal 18 Maret 2008 Kanwil DJP Jakarta Khusus KPP PMA

Satu ;

Bahwa Tergugat Rekonpensi awal masuk kerja pada Penggugat Rekonpensi

berdasarkan data dalam administrasi adalah terhitung mulai bulan Juni 2010 sehingga

masa kerja 1 (satu) tahun lebih 1 (satu) bulan sampai dengan bulan Juli 2011 dengan

jabatan terakhir sebagai Operator dan gaji terahir tahun 2011 adalah Rp. 1.115.000,-

(satu juta seratus lima belas ribu Rupiah) setiap bulan ;

Bahwa pada tanggal 24 Juni 2011 Tergugat Rekonpensi tidak masuk kerja tanpa

keterangan yang dapat dipertanggung jawabkan ;

Bahwa pada tanggal 4 Juli 2011 Tergugat Rekonpensi tidak masuk lagi tanpa

keterangan yang dapat dipertanggung jawabkan dan pihak Penggugat Rekonpensi

memberikan Surat Peringatan ke-2 ;

Bahwa Tergugat Rekonpensi tidak setuju dengan keputusan Penggugat

Rekonpensi, kemudian Tergugat Rekonpensi dengan cara melemparkan kertas surat

peringatan tersebut kepada muka (wajah) Mr. Wong Sam selaku salah satu pimpinan PT.

Freshion Enginering Plastic ;

Bahwa perbuatan Tergugat Rekonpensi sangat tidak terpuji dan membahayakan

Penggugat Rekonpensi, sekiranya di atas meja tersebut tidak hanya selembar kertas

kemungkinan sebuah gelas atau sesuatu yang keras dapat dimungkinkan Tergugat

Rekonpensi akan melempar benda tersebut. Oleh karena perbuatan Tergugat Rekonpensi

Hal. 9 dari 25 hal.Put.Nomor 629 K/Pdt.Sus/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 9

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id sedemikian buruknya maka dapat kiranya

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

sedemikian buruknya maka dapat kiranya Penggugat Rekonpensi mengajukan

permohonan pemutusan hubungan kerja dengan alasan disharmonis oleh karena

perbuatan Tergugat Rekonpensi yang dapat diklasifikasikan dalam golongan kesalahan

berat ;

Bahwa perbuatan Tergugat Rekonpensi sangat tidak terpuji dan membahayakan

Penggugat Rekonpensi, maka sepatutnya Tergugat Rekonpensi dihukum tidak berhak

atas uang pesangon sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (2) dan tidak berhak atas uang

penghargaan masa kerja sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (3) Undang-Undang RI No. 13

Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, oleh karena tidak berhak uang pesangon dan uang

penghargaan masa kerja alias NIHIL. Maka Tergugat Rekonpensi tidak mendapatkan

apa-apa dari Penggugat Rekonpensi kecuali uang tali asih yang diatur dalam peraturan

perusahaan Penggugat Rekonpensi ;

Bahwa gugatan Tergugat Rekonpensi (Sdr. Moch. Badri) yang sama sekali

didasari akan alasan hak yang benar, yaitu hanya mereka yasa peraturan perundang-

undangan berkaitan dengan pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan fakta-

fakta hukum serta bukti-bukti yang sah, mengakibatkan terganggunya kinerja Penggugat

Rekonpensi akibat adanya gugatan Tergugat Rekonpensi. Sehingga Penggugat

Rekonpensi kehilangan waktu, jam kerja, hasil produksi, biaya-biaya dan keuntungan-

keuntungan yang tertunda selama menyelesaikan dan menghadapi gugatan Tergugat

Rekonpensi di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Surabaya atau

dengan kata lain Tergugat Rekonpensi telah melakukan perbuatan melalwan hukum

terhadap Penggugat Rekonpensi, sepatutnya Tergugat Rekonpensi dihukum membayar

ganti rugi-kerugian materiil tersebut bila dinilai dengan uang senilai nominal sebesar Rp.

50.000.000,- (lima puluh juta Rupiah) ;

Bahwa Penggugat Rekonpensi adalah perusahaan skala internasional yang

berusaha dibidang pengelolaan komponen-komponen berbahan baku plastik yang

bonafitasnya telah teruji, sehingga dengan adanya gugatan Tergugat Rekonpensi

merupakan perbuatan yang dapat diklasifikasikan mencemarkan nama baik, menyerang

kehormatan dan merupakan perbuatan penghinaan dan melakukan fitnah terhadap

kehormatan Penggugat Rekonpensi, sekiranya bonafitas, nama baik dan kehormatan

merupakan kerugian immateriil yang tidak dapat dinilai dengan uang ;

Bahwa untuk menjamin agar Tergugat Rekonpensi bersedia menjalankan isi

Putusan gugatan ini maka layak dan patut apabila Tergugat Rekonpensi dihukum

membayar denda atas keterlambatan melaksanakan putusan sebesar Rp. 150.000,-

(seratus lima puluh ribu Rupiah) perhari, terhitung sejak putusan perkara a quo

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 10

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id diucapkan oleh Majelis di depan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

diucapkan oleh Majelis di depan persidangan sampai dengan dilaksanakan putusan atas

perkara a quo dan menghukum Tergugat Rekonpensi membayar biaya perkara yang

timbul dalam sengketa ini ;

Bahwa dalam penyelesaian ini telah melalui berbagai upaya penyelesaian baik

melalui perundingan bipartit maupun melalui Mediasi Hubungan Industrial Pemerintah

Kota Surabaya, namun belum dapat terselesaikan dengan baik. Dengan ini Penggugat

Rekonpensi mohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Hubungan Industrial

pada Pengadilan Negeri Surabaya, yang memeriksa dan memutus perkara ini mohon

menyatakan hubungan kerja antara Penggugat Rekonpensi dengan Tergugat Rekonpensi

terputus secara sah menurut hukum sejak diputuskan perkara ini ;

Bahwa karena gugatan Penggugat Rekonpensi ini terdapat cukup bukti maka

Penggugat Rekonpensi mohon Putusan Pengadilan dalam perkara a quo dapat dijalankan

terlebih dahuilu (uitvoerbar bij voraad) walaupun ada upaya hukum perlawanan atau

kasasi ;

Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Penggugat Rekonvensi mohon kepada

Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Surabaya agar memberikan

putusan sebagai berikut:

DALAM KONPENSI :

DALAM EKSEPSI :

1 Mengabulkan Eksepsi Tergugat untuk keseluruhannya ;

2 Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya atau setidak-tidaknya menyatakan

gugatan Penggugat tidak dapat diterima seluruhnya (Niet Onvantkelijke

Verklraad) ;

3 Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara ;

DALAM PROVISI – PUTUSAN SELA :

Menolak gugatan provisi Penggugat untuk seluruhnya ;

DALAM KONPENSI – POKOK PERKARA :

1 Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya ;

2 Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara ;

DALAM REKONPENSI :

1 Mengabulkan gugatan Penggugat Rekonpensi untuk seluruhnya ;

2 Menyatakan Tergugat Rekonpensi telah melakukan perbuatan melanggar hukum

dengan segala akibatnya ;

Hal. 11 dari 25 hal.Put.Nomor 629 K/Pdt.Sus/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 11

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id 3 Menghukum Penggugat Rekonpensi membayar

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

3 Menghukum Penggugat Rekonpensi membayar tali asih kepada Tergugat

Rekonpensi sesuai ketentuan yang diatur dalam peraturan perusahaan Penggugat

Rekonpensi ;

4 Menyatakan hubungan kerja antara Penggugat Rekonpensi dengan Tergugat

Rekonpensi terputus secara sah menurut hukum terhitung sejak putusan perkara

a quo diucapkan ;

5 Menghukum Tergugat Rekonpensi membayar ganti rugi-kerugian Penggugat

Rekonpensi berupa kerugian materiil (kehilangan waktu, jam kerja, hasil

produksi, biaya-biaya dan keuntungan-keuntungan yang tertunda selama

menyelesaikan dan menghadapi gugatan Tergugat Rekonpensi) bila dinilai

dengan uang sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta Rupiah) ;

6 Menghukum Tergugat Rekonpensi membayar uang denda atas keterlambatan

melaksanakan putusan sebesar Rp. 150.000,- (seratus lima puluh ribu Rupiah)

per hari, terhitung sejak putusan perkara a quo diucapkan ;

DALAM KONPENSSI DAN DALAM REKONPENSI :

Menghukum Penggugat/Tergugat Rekonpensi membayar biaya perkara yang

timbul dari sengketa ini ;

A t a u :

Apabila Yang Mulia Majelis Hakim yang memeriksa dan memutuskan perkara a quo

berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono) ;

Bahwa, terhadap gugatan tersebut Pengadilan Hubungan Industrial pada

Pengadilan Negeri Surabaya telah memberikan putusan Nomor 26/G/2012/PHI-Sby.

tanggal 25 Juni 2012 yang amarnya sebagai berikut :

DALAM PROVISI ;

Menolak tuntutan provisi untuk diputuskan dalam putusan sela ;

DALAM KONPENSI :

DALAM EKSEPSI ;

Menolak eksepsi seluruhnya ;

DALAM POKOK PERKARA ;

1 Menyatakan gugatan Penggugat dikabulkan sebagian ;

2 Menyatakan Tergugat melanggar ketentuan Pasal 151 ayat 3 juncto Pasal 155

ayat 1 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan ;

3 Menghukum Tergugat untuk membayar upah proses Penggugat masing-masing

dengan rincian sebagai berikut :

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 12

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Upah tahun 2011 ; Agustus s/d Desember

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Upah tahun 2011 ;

Agustus s/d Desember 2011 = Rp. 1.115

Upah tahun 2012 ;

Januari s/d Maret 2012

000

x 5 bulan = Rp 5.575.000,- ;

= Rp.1.257.000,- x 3 bulan = Rp 3.771.000,- ;

Jumlah

=

Rp 9.436.000,- ;

4 Menyatakan putus hubungan kerja terhitung sejak putusan ini dibacakan, yaitu

tanggal 31 Maret 2012 ;

5 Menghukum Tergugat untuk membayar hak-hak Penggugat berupa pesangon,

penghargaan masa kerja dan penggantian hak dengan rincian sebagai berikut :

Pesangon

: 9 x Rp. 1.257.000,

= Rp.

8.536.500,- ;

Penghargaan Masa Kerja : 3 x Rp. 1.257.000

= Rp.

3.771.000,- ;

Penggantian Hak berupa :

Penggantian Pengobatan/

Perawatan / Perumahan : 15 % x Rp.12.307.500 = Rp. 1.846.125,- ;

Jumlah………………………………………………

= Rp.14.153.625,- ;

DALAM REKONPENSI ;

Menolak gugatan rekonpensi seluruhnya ;

DALAM KONPENSI DAN REKONPENSI ;

Membebankan seluruh biaya yang timbul dalam perkara ini kepada Negara ;

Menimbang, bahwa putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan

Negeri Surabaya tersebut telah diberitahukan kepada Tergugat pada tanggal 25 Juni

2012, terhadap putusan tersebut, Tergugat melalui kuasanya berdasarkan Surat Kuasa

Khusus tanggal 30 Juni 2012 mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 10 Juli 2012,

sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi Nomor 49/Kas/2012/PHI.SBY. Jo.

Nomor 26/G/2012/ PHI.SBY yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Hubungan Industrial

pada Pengadilan Negeri Surabaya, permohonan tersebut disertai dengan memori kasasi

yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri

Surabaya tersebut pada tanggal 18 Juli 2012 ;

Bahwa memori kasasi telah disampaikan kepada Penggugat pada tanggal 30 Juli

2012, kemudian Penggugat mengajukan kontra memori kasasi pada tanggal 09 Agustus

2012 ;

Menimbang, bahwa permohonan kasasi a quo beserta alasan-alasannya telah

diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan

Hal. 13 dari 25 hal.Put.Nomor 629 K/Pdt.Sus/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 13

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id dengan cara yang ditentukan dalam

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

dengan cara yang ditentukan dalam undang-undang, sehingga permohonan kasasi

tersebut secara formal dapat diterima;

Menimbang, bahwa keberatan-keberatan kasasi yang diajukan oleh Pemohon

Kasasi dalam memori kasasinya adalah :

TENTANG EKSEPSI :

1 Bahwa Pemohon Kasasi menolak dengan tegas pertimbangan-pertimbanan

hukum Majelis Hakim PHI yang pada pokoknya menerangkan sebagai berikut :

Pada halaman 19 paragrap 9 “Dalam Eksepsi :

Menimbang, bahwa terhadap perbedaan tersebut, Majelis Hakim berpendapat

sebagai berikut :

Bahwa Pasal 86 Undang-Undang No.2 tahun 2004 tentang PPHI, mengatur tentang

apabila ada perselisihan hak atau kepentingan yang diikuti dengan perselisihan PHK,

maka PHI harus memutus perselisihan hak atau kepentingan terlebih dahulu sebelum

memutus perselisihan PHKnya ;

Bahwa dalam perkara a quo gugatan Penggugat secara tegas menyatakan

perselisihan mengenai PHK. Upah yang dituntut Pengguat merupakan hak yang

terkait dengan perselisihan PHK tersebut ;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas,

Majelis berpendapat bahwa eksepsi Tergugat haruslah ditolak seluruhnya ;

Bahwa memperhatikan pertimbangan hukum Majelis Hakim PHI (Judex Facti)

sebagaimana dimaksud diatas, maka mohon Majelis Hakim Agung mencermati hal-

hal sebagai berikut :

Bukti T.4, Ceklock/Daftar Absensi Penggugat tidak masuk kerja bulan Juli 2011,

Penggugat/Tergugat Rekonpensi tanggal 18 Juli 2011 tidak masuk dengan alasan

yang tidak dapat dipertanggungjawabkan ; dan

Bukti P.5, Tanda Bukti Surat Peringatan yang dilemparkan kepada Mr. Wong

Sam salah seorang diantara Pimpinan Perusahaan, yang dilakukan Penggugat/

Tergugat Rekonpensi pada tanggal 19 Juli 2011 saat diberikan SP-3 kepada

Penggugat/Tergugat Rekonpensi ;

Bahwa Pengguat telah melakukan kesalahan tanggal 18 Juli 2011 tanpa alasan yang

dapat dipertanggung jawabkan oleh Penggugat. Kemudian Tergugat melakukan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 14

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id pembinaan dengan memberikan surat

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

pembinaan dengan memberikan surat peringatan pada tanggal 19 Juli 2011, namun

yang dilakukan Penggugat menolak SP dengan melemparkan kepada atasannya ;

Bahwa sebagaimana pada dalil Penggugat angka 13 yang menyebutkan sebagai

berikut :

“Bahwa sejak bulan Agustus 2011 sampai dengan bulan Maret 2012 upah Penggugat

sudah tidak digaji oleh Tergugat dengan jumlah gaji yang belum terbayar adalah Rp.

1.252.000,- x 8 = Rp. 10.016.000,- (sepuluh juta enam belas ribu Rupiah)” ;

Bahwa berdasarkan dalil Penggugat tersebut diatas, apabila 8 yang dimaksud

delapan bulan yaitu Agustus s/d Desember 2011 dan Januari s/d Maret 2012, maka

jelas dalil gugatan Penggugat adalah kabur karena upah bulan Agustus s/d

Desember 2011 adalah Rp. 1.115.000,00 (UMK Surabaya tahun 2011) dan upah

bulan Januari s/d Maret 2012 adalah Rp. 1.257.000,00 (UMK Surabaya tahun

2012) ;

Bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum dan bukti-bukti dalam persidangan yang

diajukan oleh Pemohon Kasasi (dahulu Tergugat), maka jelas Pemohon Kasasi

dalam mengajukan eksepsi dan jawaban Tergugat tertanggal 12 April 2012 yang

dibacakan pada persidangan tanggal 16 April 2012 seharusnya patut untuk diterima

dimana eksepsi tersbut dengan tegas menyatakan bahwa gugatan Penggugat kabur

dan prematur, bila gugatannya dalam pokok perkara PHK. Akan tetapi eksepsi dan

jawaban Tergugat ditolak seluruhnya tanpa substansi dalam eksepsi Tergugat ;

Bahwa oleh karenanya Majelis Hakim PHI sangat tidak obyektif dalam memberikan

pertimbangan hukum terhadap putusan a quo, karena bertentangan ketentuan Pasal

86 Undang-Undang No.2 Tahun 2004 tentang PPHI, maka mengingat akan fakta-

fakta hukum sebagaimana yang terurai diatas, mohon Majelis Hakim Agung,

bekenan untuk menyatakan membatalkan putusan Pengadilan Hubungan Industrial

Pada Pengadilan Negeri Surabaya Nomor Perkara 26/G/2012/PHI.SBY. tertanggal

25 Juni 2012 tersebut dan menyatakan menerima eksepsi Tergugat untuk

seluruhnya ;

DALAM POKOK PERKARA :

2 Tentang upah selama Proses Pemutusan Hubungan Kerja :

Bahwa dalam pertimbangan hukum halaman 24 oleh Majelis Hakim PHI yang pada

pokoknya menerangkan :

“Menimbang bahwa upah yang dijadikan dasar dalam perhitungan hak dari

Pengguat pada saat mulainya terjadi perselisihan, telah mengalami perubahan upah

minimum pada tahun 2011 dan tahun 2012, maka sesuai dengan ketentuan Pasal 90

Hal. 15 dari 25 hal.Put.Nomor 629 K/Pdt.Sus/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 15

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id ayat (1) Undang-Undang No.13 Tahun 2003

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

ayat (1) Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakarjaan, maka upah

Penggugat haruslah disesuaikan dengan upah minimum kota Surabaya tahun 2012 ;

“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, maka tuntutan

Penggugat agar upah selama proses pemutusan hubungan kerja menurut Majelis

Hakim dapatlah dikabulkan dengan perincian sebagai berikut :

Upah tahun 2011 :

Agustus s/d Desember 2011 = Rp. 1.115.000,- x 5 bulan = Rp. 5.575.000,-

Upah tahun 2012 :

Januari s/d Maret 2012 = Rp. 1.257.000,- x 3 bulan = Rp. 3.771.000,-

Jumlah

"Menimbang, dan seterusnya dan seterusnya " ;

Bahwa memperhatikan pertimbangan-pertimbangan hukum Majelis Hakim PHI

sebagaimana dimaksud diatas adalah salah dalam penerapan hukumnya karena

bertentangan dengan ketentuan Pasal 3 ayat (2), Pasal ,Pasal 15 dalam Undang-

Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan

Industrial;

- Ketentuan Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang

= Rp. 9.436.000,-

Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, menyebutkan :

"(2) Penyelesaian Perselisihan melalui bipartit sebagaimana dimaksud

dalam ayat (1), hurus diselesaikan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja

sejak tanggal dimulainya perundingan";

Ketentuan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian

Perselisihan Hubungan Industrial, menyebutkan :

" Mediator menyelesaikan tugasnya dalam waktu selambat-Iambatnya 30 (tiga

puluh) hari kerja terhitung sejak menerima pelimpahan penyelesaian

perselisihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (4)" ;

Ketentuan Pasal 103 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang

Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, menyebutkan :

" Majelis Hakim wajib memberikan putusan penyelesaian perselisihan

hubungan industrial dalam waktu selambat-lambatnya 50 (lima puluh) hari

kerja terhltung sejak sidang pertama" ;

Ketentuan Pasal 115 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang

Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, menyebutkan :

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 16

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id " Penyelesaian perselisihan hak atau

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

" Penyelesaian perselisihan hak atau perselisihan pemutusan hubungan kerja

pada Mahkamah Agung selambat-Iambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja

terhitung sejak tanggal penerimaan permohon kasasi" ;

Bahwa memperhatikan pertimbangan-pertimbangan hukum Majelis hakim PHI

sebagaimana dimaksud diatas adalah salah dalam penerapan hukummya karena

bertentangan dengan ketentuan Ketentuan Pasal Undang-Undang Nomor 13 Tahun

2003 tentang Ketenagakerjaan Jo. Pasal 16 ayat (3) Kepmenakertrans Nomor Kep.

150/Men/2000 tentang Penyelesaian Pemutusan Hubungan Kerja dan Penetapan

Uang Pesangon, Uang Penghargaan Masa Kerja dan Ganti Kerugian di Perusahaan ;

- Ketentuan Pasal 191 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan, menyebutkan :

" Semua peraturan pelaksanaan yang ketenagakerjaan tetap berlaku sepanjang

tidak bertentangan dan/atau belum diganti dengan peraturan yang baru

berdasarkan undang-undang ini" ;

Ketentuan Pasal 16 ayat (3) Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi

RI Nomor Kep. 150/Men/2000 tentang Penyelesaian Pemutusan Hubungan Kerja

dan Penetapan Uang Pesangon, Uang Penghargaan Masa Kerja dan Ganti

Kerugian di Perusahaan, menyebutkan :

"(3) Pemberian upah selama skorsing sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

paling lama 6 (enam)” ;

Bahwa pertimbangan-pertimbangan hukum Majelis hakim PHI sebagaimana

dimaksud diatas dalam upah selama proses PHK selama 8 (delapan) bulan adalah

salah dalam penerapan hukumnya karena upah selama proses PHK sebagaimana

Pemohon Kasasi uraikan dan paparkan dasar hukumnya menurut UU No.2 Tahun

2004 tentang PPHI adalah selama-lamanya adalah 140 (seratus empat puluh) hari

atau 4,5 (empat lima persepuluh) alias empat setengah bulan;

Atau selama 6 (enam) bulan :

Sesuai Ketentuan Pasal 16 ayat (3) Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan

Transmigrasi RI Nomor Kep. 150/men/2000 tentang Penyelesaian Pemutusan

Hubungan Kerja dan Penetapan Uang Pesangon, Uang Penghargaan Masa Kerja

dan Ganti Kerugian di Perusahaan, menyebutkan :

"(3) Pemberian upah selama skorsing sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

paling lama 6 (enam)" ;

3

Tentang Hukum Pembuktian terhadap alat-alat bukti dalam Persidangan;

DALAM POKOK PERKARA –DALAM REKONPENSI :

Hal. 17 dari 25 hal.Put.Nomor 629 K/Pdt.Sus/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 17

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Bahwa, bila dicermati putusan perkara a

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Bahwa, bila dicermati putusan perkara a quo oleh Majelis Hakim PHI dalam

pertimbangan hukumnya pada halaman 21 pada pokoknya menerangkan :

" Bahwa, berdasarkan bukti (P-2) berupa Kartu Peserta Jamsostek Peng-gugat

terdaftar sebagai peserta Jamsostek sejak bulan Agustus 2008 dari PT. Createch

Indonesia";

" Bahwa, berdasarkan bukti T-8 berupa rekap peserta kepesertaan

dan seterusnya ………

dan seterusnya ………

;

" Bahwa, berdasarkan bukti T-8 berupa rekap peserta kepesertaan Jamsostek PT.

Createch Indonesia, yang mempunyai pimpinan yang sama dengan PT. Preshion

Engineering Plastic (Tergugat) yaitu Leong Tin Lueng" ; …. dan seterusnya

………

dan seterusnya ……. ;

Bahwa Penggugat dalam dalil gugatannya pada angka 3, menyebutkan :

" Bahwa masa kerja Penggugat adalah 10 tahun 1 bulan dengan gaji pokok dan

tunjangan tetap Penggugat terakhir yang diterima adalah Rp. 1.252.000,- (satu

juta dua ratus lima puluh dua ribu Rupiah )" ;

Bahwa dalil Penggugat tersebut diatas tidak terbukti dalam persidangan perkara a

quo namun Majelis Hakim PHI memaksakan pertimbangan hukumnya sebagaimana

tersebut pada halaman 21 yang pada pokoknya seperti dibawah ini ;

" Bahwa, dalil mengenai upah Penggugat didasarkan UMK Kabupaten Sidoarjo

tahun 2012 sebesar Rp. 1.252.000, padahal Penggugat bekerja di kota Surabaya

dengan UMK sebesar Rp. 1.257.000,- ;

Bahwa berdasarkan bukti T-3 berupa slip gaji bulan Juni 2010 dan Juli 2011 terbukti

upah Penggugat terakhir sebesar Rp. 1.115.000,- ;

Bahwa, berdasarkan bukti-bukti tersebut maka Majelis Hakim berpendapat dalil

bantahan mengenai besaran upah terakhir Penggugat dapat dibuktikan kebenarannya

oleh Tergugat sehingga upah terakhir Penggugat adalah sebesar Rp. 1.115.000,-

Bahwa yang dapat membuktikan adalah Pemohon Kasasi (dahulu Tergugat)

seharusnya Majelis Hakim PHI mengesampingkan dalil Termohon Kasasi (dahulu

Penggugat) dan mempergunakan dalil bantahan dan alat bukti Pemohon Kasasi

(dahulu Tergugat) namun Majelis Hakim membalikkan fakta hukum, sehingga

sangat

merugikan

Pemohon

Kasasi

(dahulu Tergugat);

Bahwa memperhatikan pertimbangan-pertimbangan hukum Majelis Hakim PHI

sebagaimana dimaksud diatas adalah SALAH, karena ada beberapa hal yang tidak

digali dan dikupas oleh Majelis Hakim PHI tentang sejauh mana kekuatan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 18

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id pembuktian surat yang diajukan oleh

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

pembuktian surat yang diajukan oleh Termohon Kasasi (dahulu Penggugat) yang

diantaranya sebagai berikut:

a). Bahwa Pemohon Kasasi telah mengajukan Bukti T -4, Ceklock/daftar absensi

Penggugat/Sdr. Moh.Badri bulan Juli 2011 tidak masuk kerja tanggal 18 Juli

2011 dan tidak dapat mempertanggung jawabkan alasannya tidak masuk ;

b). Bahwa Pemohon Kasasi telah mengajukan Bukti T-5, Surat Peringatan yang

dilemparkan kepada Pimpinan (Mr. Wong Sam), oleh Majelis Hakim PHI

dikesampingkan padahal tindakan Penggugat/Sdr. Moh.Badri merupakan

kesalahan berat;

c). Bahwa Pemohon Kasasi telah mengajukan Bukti T-3, Slip gaji bulan Juni 2010

dan Slip gaji terakhir bulan Juli 2011, yang merupakan bukti masa kerja

Penggugat/Sdr. Moh.Badri oleh Majelis Hakim PHI dikesampingkan. Bahkan

Majelis Hakim PHI menyimpulkan diluar alat bukti dan fakta hukum yang ada,

khususnya antara PT.Createch Indonesia dengan PT. Preshion Engineering

Plastic adalah badan hukum yang berbeda, dalam perkara a quo PT. Preshion

Engineering Plastic yang digugat tiada kaitan dengan PT.Createch Indonesia

senyatanya PT.Createch Indonesia telah dibubarkan;

Bahwa oleh karena Majelis Hakim PHI sangat tidak obyektif dalam memberikan

pertimbangan hukum terhadap putusan a quo, maka mengingat akan fakta- fakta

hukum sebagaimana yang teruraikan diatas, mohon Majelis Hakim Agung berkenan

untuk menyatakan membatalkan putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada

Pengadilan Negeri Surabaya pada Nomor Perkara 26/G/20121PHI.SBY pada tanggal

25 Juni 2012 tersebut, dan menyatakan menolak gugatan Penggugat untuk

seluruhnya ;

4. DALAM KONPENSI DAN REKONPENSI :

Bahwa, dalam pertiimbangan hukum halaman 34, 35 oleh Majelis Hakim PHI yang

pada pokoknya memutuskan :

MENGADILI:

Dalam Provisi :

- Menolak tuntutan provisi untuk diputus dalam putusan sela;

Dalam Konpensi :

Dalam eksepsi :

- Menolak Eksepsi seluruhnya;

Dalam Pokok Perkara :

1 Menyatakan gugatan Penggugat dikabulkan sebagian;

Hal. 19 dari 25 hal.Put.Nomor 629 K/Pdt.Sus/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 19

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id 2 Menyatakan Tergugat melanggar ketentuan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

2 Menyatakan Tergugat melanggar ketentuan Pasal 151 ayat 3 juncto Pasal 155

ayat 1 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenaga-kerjaan;

3 Menghukum Tergugat untuk membayar upah proses Penggugat masing-masing

dengan perincian sebagai berikut :

Upah tahun 2011

Agustus s/d Desember 2011 = Rp. 1.115.000,- x 5 bulan = Rp. 5.575.000,- ;

Upah tahun 2012

Januari s/d Maret 2012 = Rp. 1.257.000,- x 3 bulan = Rp. 3. 771.000,- ;

Jumlah

= Rp. 9.436.000,-

4. Menyatakan putus hubungan kerja terhitung sejak putusan ini dibacakan, yaitu

tanggal

31 Maret 2012;

5. Menghukum Tergugat untuk membayar hak-hak Penggugat berupa pesangon,

penghargaan masa kerja dan pengganti hak dengan perincian sebagai berikut :

Pesangon = 9 x Rp. 1.257.000,-

Penghargaan Masa Kerja = 3 x Rp. 1.257.000,- = Rp. 3.771.000,-

Pengganti Hak berupa :

Penggantian Pengobataan/

Perawatan/Perumahan: 15% x Rp. 12.307.500,- = Rp.

Jumlah

= Rp. 8.536.500,-

1.846.125,-

= Rp. 14.153.625,-

Dalam Rekonpensi :

- Menolak gugatan rekonpensi seluruhnya ;

Dalam Konpensi dan Rekonpensi :

Membebankan seluruh biaya yang timbul dalam perkara ini kepada Negara;

Bahwa, Majelis Hakim PHI tidak obyektif dalam memberikan pertimbangan

hukumnya terhadap putusan a quo, oleh karena dalam pertimbangan hukurnnya

dengan kenyataan putusan perkara a quo dibacakan ada tanggal 25 Juni 2012 tetapi

dalam salinan putusan dibacakan ada 31 Maret 201, sehingga terjadi kekhilafan

Hakim dalam perkara a quo maka putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada

Pengadilan

Nomor Perkara 26/G/2012/PHI.SBY pada tanggal 25 Juni 2012 tersebut patut

dibatalkan ;

Bahwa, Majelis Hakim PHI tidak obyektif dalam memberikan pertimbangan

hukumnya terhadap putusan a quo, oleh karena dalam pertimbangan hukumnya tidak

mempertimbangkan setiap bagian dari segala bagian dari tuntutan, maka Majelis

Hakim PHI telah melanggar ketentuan Pasal 178 HIR/Pasal 189 RBg;

Negeri

Surabaya

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 20

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Bahwa, dalam membicarakan putusan Hakim,

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Bahwa, dalam membicarakan putusan Hakim, timbul masalah berkenaan dengan

keterkaitan ketentuan Pasal 178 HIR / Pasal 189 RBg, yang berisi demikian dan

sebagai berikut :

(1) Pada waktu musyawarah, Hakim wajib karena jabatannya, untuk melengkapi

segala alasan hukum, yang tidak dikemukakan oleh kedua belah pihak ;

(2) Hakim wajib mengadili segala bagian dari tuntutan ;

(3) Hakim dilarang menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak dituntut, atau

mengabulkan lebih dari yang dituntut ;

Dalam Pasal 178 ayat (2) HIR 1 Pasal 189 ayat (2) RBg tersebut yang perlu

ditekankan adalah, bahwa masing-masing bagian tuntutan (petitum) haruslah satu

persatu yang dituntut itu diperiksa dan diputuskan, yaitu satu persatu harus pula

dipertimbangkan, meskipun tidak harus berurutan menurut kemauan Penggugat

dalam petitumnya;

Dalam perkara a quo Majelis hakim PHI telah salah dalam menerapkan hukumnya,

karena Judex Facti telah menempuh acara yang salah dalam perkara a quo tanpa

mempertimbangkan hukumnya hanya menempatkan pertimbangan hukum dalam

pokok perkara dalam konpensi, langsung menolak Eksepsi, alat bukti yang Tergugat

ajukan dan menolak gugatan Penggugat Rekonpensi;

Bahwa oleh karena Majelis Hakim PHI sangat tidak objektif dalam memberikan

pertimbangan hukum terhadap putusan a quo, maka mengingat akan fakta-fakta

hukum sebagaimana yang teruraikan diatas, mohon Majelis Hakim Agung berkenan

untuk menyatakan membatalkan putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada

Pengadilan Negeri Surabaya pada Nomor Perkara 26/G/2012/PHI.SBY pada tanggal

25 Juni 2012 tersebut., dan menyatakan Menerima gugatan Penggugat Rekonpensi

untuk seluruhnya ;

Dalam perkara a quo Majelis Hakim PHI telah salah dalam menerapkan hukumnya,

karena Judex Facti telah memutuskan Putusan mengandung kekhilafan Hakim

antara pertimbangan dengan berita acara persidangan. Apabila terdapat saling

pertentangan antar pertimbangan dengan berita acara persidangan, putusan tersebut

dikategorikan salah menerapkan hukum. Contoh kasus, Putusan MA No.1026 K/

Pdt/1984 tanggal 9 -12-1985 Jo PT. Bandung No.103/1983, tanggal 16-12-1983 Jo.

PN Garut No. 7/1982 tanggal 27-10-1982. (Vide Buku "Kekuasaan Mahkamah

Agung Pemeriksaan Kasasi dan Peninjauan Kembali Perkara Perdata", Halaman

336, Penyusun M. Yahya Harahap, SH, Penerbit Sinar Grafika, Cetakan Pertama

Januari 2008) ;

Hal. 21 dari 25 hal.Put.Nomor 629 K/Pdt.Sus/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 21

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Menimbang, bahwa terhadap

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Menimbang, bahwa terhadap keberatan-keberatan tersebut, Mahkamah Agung

berpendapat :

mengenai keberatan ke-1 :

- Bahwa keberatan atau alasan kasasi a-quo tidak dapat dibenarkan, karena putusan PHI

Dalam Eksepsi yang menolak seluruh eksepsi Tergugat telah tepat dan benar ;

- Bahwa adanya dalil Penggugat yang menyatakan upah Penggugat yang belum dibayar

sejak bulan Agustus 2011 sampai dengan Maret 2012 sebesar Rp 1.252.000,- yang

dalam hal ini besarnya upah yang didalilkan a quo khususnya untuk upah dalam

tahun

sebagaimana yang didalilkan oleh Penggugat a-quo, hal ini tidak membuat gugatan a

quo menjadi kabur, karena persoalan mengenai besarnya upah Penggugat a quo

2011

tidak

sebesar

upah

hanya berkenaan dengan pembuktian yang akan diperiksa dalam pokok perkara ;

mengenai alasan ke- 2 :

Bahwa keberatan atau alasan kasasi a-quo dapat dibenarkan, karena putusan PHI

tentang penatapan lamanya/besarnya upah prosees PHK yang harus dibayar

Tergugat kepada Penggugat sebesar 8 bulan upah sebagaimana sebagaimana

tertuang dalam putusan PHI Dalam Pokok Perkara angka " 3 ", putusan mana

tidak dapat dibenarkan ;

Bahwa menurut Majelis Hakim kasasi dengan pertimbangan hukum sendiri,

penelapan atas lamanya/besarnya sebesar 8 bulan a quo kurang memberikan rasa

keadilan kepada kedua belah pihak sebagaimana dimaksud ketentuan dalam

Pasal 100 Undang-Undang No. 2 Tahun 2004, karena meskipun berdasarkan

ketentuan Pasal 93 ayat (2) huruf "f' jo Pasal 155 ayat (2) Undang-Undang No.

13 Tahun 2003 Para Penggugat berhak atas upah (upah proses), namun dengan

kenyataan tidak bekerjanya Para Penggugat/pekerja a quo di satu sisi tetap

memberikan kewajiban kepada pihak Tergugat/Pengusaha berupa beban

pembayaran upah, akan tetapi di sisi lain pihak Tergugat/Pengusaha tidak

menerima kontra prestasi atas jasa pekerjaan oleh Para Penggugat. Bahwa, selain

itu lamanya proses penyelesaian perkara a quo bukanlah kesalahan kedua belah

pihak, yang semestinya jika proses a quo dapat berjalan secara lancar akan dapat

diselesaikan dalam kurun waktu lebih kurang selama 6 bulan, dan oleh

karenanya di samping juga memperhatikan yurispudensi yang telah ada tentang

besarnya upah proses a quo, maka besarnya upah proses untuk Para Penggugat a

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 22

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id quo sudah seadilnya ditetapkan sebesar 6

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

quo sudah seadilnya ditetapkan sebesar 6 (enam) bulan, dengan perhitungan

sebagai berikut:

1. Upah Proses untuk bulan Agustus s/d Desember 2011 :

5 x Rp 1.115.000,-

2. Upah Proses untuk bulan Januari 2012 :

J u m I a h :

= Rp 5.575.000,-

= Rp 1.257.000,-

= Rp 6.832.000,-

mengenai alasan ke-3 :

- Bahwa keberatan atau alasan kasasi a-quo tidak dapat dibenarkan ;

- Bahwa mekipun berdasarkan bukti T-3 terbukti bahwa upah terakhir yang diterima

Penggugat adalah sebesar Rp 1.115.000,- sebulan, penatapan besarnya upah

Penggugat untuk pembayaran kompensasi PHK sebesar ketentuan UMK Surabaya

2012 sebesar Rp 1.257.000,- sebulan oleh PHI a quo berdasarkan ketentuan dalam

Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.PER-01/Men/1999 jo Peraturan Menteri

Tenaga Kerja No.PER-226/MEN/2000 telah tepat dan benar, karena hubungan kerja

antara Penggugat dan Tergugat secara yuridis dinyatakan putus dalam tahun 2012 ;

mengenai alasan ke-4 :

- Bahwa keberatan atau alasan kasasi a-quo tidak dapat dibenarkan sebagai alasan

kasasi ;

- Bahwa terhadap kesalahan penulisan tanggal pengucapan putusan PHI cukup

dilakukan dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya ;

- Bahwa berdasarkan pertimbangan hukum tersebut di atas, karena beratan atau alasan

kasasi yang kedua dari Pemohon Kasasi dapat dibenarkan, maka berdasarkan

ketentuan dalam Pasal 30 Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 jo Undang-Udnang

No.5 Tahun 2004 jo Undang-Undang No.3 Tahun 2009 ;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas,

maka permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : PT. PRESHION ENGINEERING

PLASTIC tersebut harus ditolak dengan perbaikan amar Putusan Pengadilan Hubungan

Industrial pada Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 26/G/2012/PHI.Sby. tanggal 25 Juni

2012 sekedar mengenai uang proses, sehingga amarnya berbunyi sebagaimana akan

disebutkan dibawah ini ;

Menimbang, bahwa karena nilai gugatan dalam perkara a quo dibawah Rp

150.000.000,- maka berdasarkan ketentuan Pasal 58 Undang-Undang No.2 Tahun 2004

para pihak dibebaskan dari biaya perkara, dan selanjutnya biaya perkara dalam tingkat

kasasi ini dibebankan kepada Negara ;

Hal. 23 dari 25 hal.Put.Nomor 629 K/Pdt.Sus/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 23

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Memperhatikan, Undang-Undang Nomor 13

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Memperhatikan, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian

Perselisihan Hubungan Industrial, Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang

Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah

Agung sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004

dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 serta peraturan

perundang-undangan lain yang bersangkutan ;

M

E

N

G

A

D

I

L

I

:

Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : PT. PRESHION

ENGINERING PLASTIC tersebut, dengan perbaikan amar putusan Pengadilan

Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 26/G/2012/ PHI.Sby.

tanggal 25 Juni 2012, sehingga amarnya menjadi berbunyi sebagai berikut :

DALAM PROVISI :

- Menolak tuntutan provisi untuk diputuskan dalam Putusan Sela ;

DALAM KONPENSI :

DALAM EKSEPSI :

- Menolak eksepsi seluruhnya ;

- DALAM POKOK PERKARA :

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian ;

2. Menyatakan Tergugat melanggar ketentuan Pasal 151 ayat (3) jo Pasal 155 ayat (1)

Undang-Undang No.13 Tahun 2003 ;

3. Menyatakan hubungan kerja antara Penggugat dan Tergugat putus terhitung sejak

putusan PHI diucapkan yakni tanggal 25 Juni 2012 ;

4. Menghukum Tergugat membayar kepada Penggugat upah proses selama PHK yang

seluruhnya berjumlah Rp 6.832.000,- ;

5. Menghukum Tergugat membayar kepada Penggugat Uang Pesangon, Uang

Penghargaan Masa Kerja, dan Uang Penggantian Hak atas penggantian perumahan

serta pengobatan dan perawatan dengan perincian sebagai berikut:

- Uang Pesangon:

9 x Rp 1.257.000,-

- Uang Penghargaan Masa Kerja:

3 x Rp 1.257.000,-

Rp 8.536.500,-

Rp 3.771.000,-

- Uang Penggantian Hak atas penggantian perumahan

serta pengobatan dan perawatan:

15% x (Rp.8.536.500,- + Rp. 3.771.000,0,-)

Rp. 1.846.125,-

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 24

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Jumlah Rp. 14.153.625,- (empat belas juta

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Jumlah

Rp. 14.153.625,-

(empat belas juta seratus lima puluh tiga ribu enam ratus dua puluh lima Rupiah) ;

6. Membebankan biaya perkara dalam tingkat kasasi ini kepada kepada Negara;

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Majelis Hakim pada

Mahkamah Agung pada hari Senin, tanggal 06 Mei 2013 oleh Dr. H. Imam Soebechi,

SH. MH., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua

Majelis, Bernard, SH. MM. dan Arsyad, SH. MH., Hakim-Hakim Ad-Hoc PHI pada

Mahkamah Agung masing-masing sebagai Anggota, putusan tersebut diucapkan dalam

sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis dengan dihadiri oleh

Anggota-anggota tersebut, dan dibantu oleh Rafmiwan Murianeti, SH. MH., Panitera

Pengganti tanpa dihadiri oleh para pihak ;

Anggota-anggota,

ttd.

Bernard, SH. MM.

ttd.

Arsyad, SH. MH.

K e t u a,

ttd.

Dr. H. Imam Soebechi, SH. MH.

Panitera Pengganti

ttd.

Rafmiwan Murianeti, SH. MH.

Untuk Salinan

MAHKAMAH AGUNG RI.

a.n. Panitera

Panitera Muda Perdata Khusus,

RAHMI MULYATI, SH. MH.

NIP : 19591207 1985 12 2 002

Hal. 25 dari 25 hal.Put.Nomor 629 K/Pdt.Sus/2012

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 25