Anda di halaman 1dari 4

NAMA : NI KETUT ADHI DARMA WAHYUNI

NIM : 116210422
FEB/ AKUNTANSI ( B )

BAB 11
VALUE FOR MONEY AUDIT

A. Karakteristik Value For Money Audit


Audit kinerja memfokuskan pemeriksaan pada tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian
ekonomi yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi yang diaudit. Definisi audit kinerja
adalah suatu proses sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif, agar
dapat melakukan penilaian secara independen atas ekonomi dan efisiensi operasi, efektivitas dalam
pencapaian hasil yang diinginkan, dan kepatuhan terhadap kebijakan, peraturan dan hukum yang
berlaku menentukan kesesuaian antara kinerja yang telah dicapai dengan kriteria yang telah
ditetapkan sebelumnya, serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak pengguna laporan
tersebut (Malan, 1984).
Salah satu hal yang membedakan VFM audit dengan conventional audit adalah dalam hal
laporan audit. Dalam audit yang konvensional, hasil audit adalah berupa pendapat (opini) auditor
secara independen dan obyektif tentang kewajaran laporan keuangan sesuai dengan kriteria standar
yang telah ditetapkan, tanpa pemberian rekomendasi perbaikan. Sedangkan dalam VFM audit
tidak sekedar menyampaikan kesimpulan berdasarkan tahapan audit yang telah dilaksanakan, akan
tetapi juga dilengkapi dengan rekomendasi untuk perbaikan di masa mendatang.

B. Audit Ekonomi dan Efisiensi


Audit ekonomi dan efisiensi bertujuan untuk menentukan:
1. Apakah suatu entitas telah memperoleh, melindungi, dan menggunakan sumber dayanya
(seperti karyawan, gedung, ruang, dan peralatan kantor) secara ekonomis dan efisien.
2. Penyebab terjadinya praktik-praktik yang tidak ekonomis atau tidak ekonomis atau tidak
efisien, termasuk ketidakmampuan organisasi dalam mengelola sistem informasi, prosedur
administrasi, dan struktur organisasi.
Secara lebih spesifik, The General Accounting Office Standards (1994) menegaskan
bahwa audit ekonomi dan efisiensi dilakukan dengan mempertimbangkan apakah entitas yang
diaudit telah :
1. Mengikuti ketentuan pelaksanaan pengadaan yang sehat.
2. Melakukan pengadaan sumber daya (jenis, mutu, dan jumlah) sesuai dengan kebutuhan pada
biaya terendah.
3. Melindungi dan memelihara semua sumber daya yang ada secara memadai.
4. Menghindari duplikasi pekerjaan atau kegiatan yang tanpa tujuan atau kurang jelas tujuannya.
5. Menghindari adanya pengangguran sumberdaya umlah pegawai yang berlebihan.
6. Menggunakan prosedur kerja yang efisien.
7. Menggunakan sumber daya (staf, peralatan, dan fasilitas) yang minimum dalam menghasilkan
atau menyerahkan barang/jasa dengan kuantitas dan kualitas yang tepat.
8. Mematuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perolehan,
pemeliharaan, dan penggunaan sumber daya negara.
9. Melaporkan ukuran yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai kehematan dan
efisiensi.
Pada audit ekonomi dan efisiensi, ukuran output idealnya dispesifikasikan oleh organisasi
yang bersangkutan dan ukuran tersebut digunakan untuk mengukur kinerja manajer.

C. Audit Efektivitas
Audit efektivitas (audit program) bertujuan untuk menentukan: 1) tingkat pencapaian hasil
atau manfaat yang diinginkan 2) kesesuaian hasil dengan tujuan ditetapkansebelumnya 3) apakah
entitas yang diaudit telah mempertimbangkan alternatif lain yang memberikan hasil yang sama
dengan biaya yang paling rendah.
Efektivitas berkenaan dengan dampak suatu output bagi pengguna jasa (konsumen). Untuk
mengukur efektivitas suatu kegiatan harus didasarkan pada criteria yang telah ditetapkan
(disetujui) sebelumnya. Jika hal ini belum tersedia, auditor bekerja sama dengan top management
dan badan pembuat keputusan untuk menghasilkan criteria tersebut dengan berpedoman pada
tujuan pelaksanaan suatu program
Value for money audit secara umum mempunyai tiga kategori kegiatan yaitu:
1. By-produck’ VFM work
2. An’Arrangement Review’
3. Performance Review
D. Standar Audit Pemerintahan (SAP) Tahun 1995
Sejauh ini, audit kinerja terhadap lemabaga-lembaga pemerintahan di Indonesia
dilakukan dengan berpedoman pada Standar Audit Pemerintahan (SAP) yang dikeluarkan oleh
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 1995. SAP tersebut merupakan buku standar untuk
melakukan audit atas semua kegiatan pemerintah yang meliputi pelaksanaan APBN, APBD, dan
pelaksanaan anggaran tahunan BUMN dan BUMD atau badan hukum lain yang di dalamnya
terdapat kepentingan keuangan negara atau yang yang menerima bantuan pemerintah.
1. Standar Umum
a. Staf yang ditugasi untuk melaksanakan audit harus secara kolektif memiliki kecakapan
professional yang memadai untuk tugas yang disyaratkan.
b. Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan audit, organisasi/lembaga audit dan auditor,
baik pemerintah maupun akuntan publik, harus independen (secara organisasi maupun
secarapribadi), bebas dari gangguan independensi yang bersifat pribadi dan yang di luar pribadinya
(ekstern), yang dapat mempengaruhi independensinya, serta harus dapat mempertahankan sikap
danpenampilan yang independen.
c. Dalam pelaksanaan audit dan penyusutan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran
profesionalnya secara cermat danseksama.
d. Setiap organisasi/lembaga audit yang melaksanakan audit yangberdasarkan SAP ini
harus memiliki sistem pengendalian intern yangmemadai, dan sistem pengendalian mutu
tersebut harus di-reviewoleh pihak lain yang kompeten (pengendalian mutu ekstern).
2. Standar pekerjaan Lapangan Audit Kinerja
Standar pekerjaan lapangan untuk audit kinerja terdiri atas tiga hal,yaitu:
a. Perencanaan
b. Supermisi
c. Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan
d. Pengendalian Manajemen
3. Standar Pelaporan Audit Kinerja
Standar pelaporan audit kinerja berisi lima hal, yaitu:
a. Bentuk
b. Ketepatan Waktu
c. Isi Laporan
d. Penyajian Laporan
e. Distribusi Laporan
E. Audit Kinerja Pemerintah Daerah Dalam Konteks Otonomi Daerah
Terdapat tiga aspek utama yang mendukung terciptanya ke pemerintahan yang baik
(good governance), yaitu pengawasan, pengendalian, dan pemeriksaan. Ketiga hal tersebut pada
dasarnya berbeda baik konsepsimaupun aplikasinya. Pengawasan mengacu pada tindakan atau
kegiatan yang dilakukan oleh pihak luar eksekutif (yaitu masyarakat dan DPR/DPRD) untuk
mengawasi kinerja pemerintahan. Pengendalian (control) adalah mekanisme yang dilakukan oleh
eksekutif (pemerintah) untuk menjamin dilaksanakannya sistem dan kebijakan manajemen
sehingga tujuan organisasi tercapai. Pemeriksaan (audit) merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
pihak yang memiliki independensi dan memiliki kompetensi professional untuk memeriksa apakah
hasil kinerja pemerintah telah sesuai dengan standar kinerja yang ditetapkan.