Anda di halaman 1dari 26

Dermatomikosis

Dermatomikosis merupakan penyakit jamur pada kulit yang disebabkan oleh


dermatofita dan beberapa jamur oportunistik seperti Malasezzia, Candida (kecuali C.
albicans), Trichosporon, Rhodutorula, Cryptococcus atau Aspergillus, Geotrichum,
Alternaria, dan lainnya.

Berdasarkan lingkungan hidupnya, dermatomikosis terbagi menjadi tiga golongan yakni :

(1) superfisial, yang berkembang pada stratum corneum, rambut, kuku,

(2) subcutaneus, yang berkembang pada dermis dan/atau jaringan subkutan, dan

(3) deep/systemic, yang dapat menyebar melalui hematogen serta menyebabkan infeksi
oportunistik pada host dengan immunocompromised.

Mikosis superfisial juga dibagi menjadi dua, yaitu dermatofitosis dan non
dermatofitosis. Dermatofitosis merupakan infeksi jamur dermatofita (spesies
microsporum, trichophyton, dan epidermophyton) yang menyerang epidermis bagian
superfisial (stratum korneum), kuku dan rambut. Dermatofitosis terdiri dari tinea capitis,
tinea barbae, tinea cruris, tinea pedis et manum, tinea unguium dan tinea corporis.
Sedangkan non dermatofitosis terdiri dari pitiriasis versikolor, piedra hitam, piedra putih,
tinea nigra palmaris, otomikosis dan kerato mikosis.

Patogenesis dermatomikosis tergantung pada faktor lingkungan, antara lain iklim


yang panas, higiene perseorangan, sumber penularan, penggunaan obat steroid, antibiotik,
sitostatika, imunogenitas, kemampuan invasi organisme, lokasi infeksi, dan respons imun
dari pasien.

Penyakit infeksi jamur di kulit mempunyai prevalensi tinggi di Indonesia, oleh


karena negara kita beriklim tropis dan kelembabannya tinggi. Manifestasi klinis bervariasi
dapat menyerupai penyakit kulit lain sehingga selalu menimbulkan diagnosis yang keliru
dan kegagalan dalam penatalaksanaannya.

Penegakan diagnosis dermatofitosis pada umumnya dilakukan secara klinis, dapat


diperkuat dengan pemeriksaan mikroskopis, kultur, dan pemeriksaan dengan lampu Wood
pada spesies tertentu. Pemeriksaan dengan kalium hidroksida (KOH) 10- 20%
menunjukkan dermatofit yang memiliki septa dan percabangan hifa. Pemeriksaan kultur
dilakukan untuk menentukan spesies jamur penyebab dermatofitosis.
I. OBAT ANTI JAMUR TOPIKAL

Obat anti jamur topikal digunakan untuk pengobatan infeksi lokal pada kulit tubuh yang
tidak berambut (glabrous skin), namun kurang efektif untuk pengobatan infeksi pada
kulit kepala dan kuku, infeksi pada tubuh yang kronik dan luas, infeksi pada stratum
korneum yang tebal seperti telapak tangan dan kaki.

Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh obat anti jamur topikal lebih sedikit
3
dibandingkan obat anti jamur sistemik.

MEKANISME KERJA
Mekanisme kerja obat antijamur adalah dengan mempengaruhi sterol membrane
plasma sel jamur, sintesis asam nukleat jamur, dan dinding sel jamur yaitu kitin,β
glukan, dan mannooprotein.

1. Sterol membran plasma : ergosterol dan sintesis ergosterol


Ergosterol adalah komponen penting yang menjaga integritas membran
sel jamur dengan cara mengatur fluiditas dan keseimbangan dinding membran sel j
amur. Kerja obat antijamur secara langsung (golongan polien) adalah menghambat
sintesis ergosterol dimana obat ini mengikat secara langsung ergosterol dan channel
ion di membran sel jamur, hal ini menyebabkan gangguan permeabilitasberupa
kebocoran ion kalium dan menyebabkan kematian sel. Sedangkan kerja antijamur
secara tidak langsung (golongan azol) adalah mengganggu biosintesis ergosterol
dengan cara mengganggu demetilasi ergosterol pada jalur sitokrom P450(demetilasi
prekursor ergosterol).
2. Sintesis asam nukleat : Kerja obat antijamur yang mengganggu sintesis asam
nukleat adalah dengan cara menterminasi secara dini rantai RNA dan menginterupsi
sintesis DNA. Sebagai contoh obat antijamur yang mengganggu sintesis asam
nukleat adalah 5flusitosin (5 FC), dimana 5 FC masuk ke dalam inti sel jamur
melalui sitosinpermease. Di dalam sel jamur 5 FC diubah menjadi 5 fluoro uridin
trifosfat yangmenyebabkan terminasi dini rantai RNA. Trifosfat ini juga akan
berubah menjadi 5fuoro deoksiuridin monofosfat yang akan menghambat timidilat
sintetase sehinggamemutus sintesis DNA.
3. Unsur utama dinding sel jamur : glukans Dinding sel jamur memiliki keunikan
karena tersusun atas mannoproteins,kitin, dan α dan β glukan yang
menyelenggarakan berbagai fungsi, diantaranya menjaga rigiditas dan bentuk sel,
metabolisme, pertukaran ion pada membran sel. Sebagai unsur penyangga adalah β
glukan. Obat antijamur seperti golonganekinokandin menghambat pembentukan
β1,3 glukan tetapi tidak secara kompetitif.Sehingga apabila β glukan tidak
terbentuk, integritas struktural dan morfologi sel jamur akan mengalami lisis.
3-6
Jenis golongan obat anti jamur topikal yang sering digunakan yaitu :

1. Poliene : Nystatin

2. Azole - Imidazol : Klotrimazol, Ekonazol, Mikonazol, Ketokonazol, Sulkonazol,


Oksikonazol, Terkonazol, Tiokonazol, Sertakonazol

3. Alilamin / benzilamin : Naftifin, Terbinafin, Butenafin


4. Obat anti jamur topikal lain : Amorolfin, Siklopiroks, Haloprogin

GOLONGAN POLIENE

Mekanisme kerja golongan poliene yaitu berikatan dengan ergosterol secara irreversibel.
Ergosterol merupakan komponen yang sangat penting dari membrane sel jamur. Golongan
poliene ini tidak efektif terhadap dermatofit dan penggunaannya secara klinis juga terbatas
yaitu untuk pengobatan infeksi yang disebabkan Candida albicans dan Candida spesies
4
yang lain.

4-9
a. Nystatin 

Nystatin merupakan antibiotik yang digunakan sebagai anti jamur, diisolasi dari
Streptomyces nourse pada tahun 1951 dan merupakan antibiotik group poliene. Untuk
pengobatan candida spesies, nystatin dapat digunakan secara topikal pada kulit atau
membran mukosa (rongga mulut, vagina) dan dapat juga diberikan secara oral untuk
pengobatan kandidosis gastrointestinal.
 Nystatin biasanya tidak bersifat toksik tetapi
kadang-kadang dapat timbul mual, muntah dan diare jika diberikan dengan dosis
tinggi.
 Untuk pengobatan kandidosis oral, diberikan tablet nystatin 500000 unit setiap 6
jam dan untuk pengobatan kandidosis vaginalis diberikan 1 atau 2 vaginal suppositories
(100000 setiap unit) yang diberikan selama lebih kurang 14 hari.. Suspensi nystatin oral
terdiri dari 100000 unit / ml yang diberikan 4 kali sehari dengan dosis pada bayi baru lahir
(newborn) : 1 ml, infant yang usianya lebih tua : 2 ml dan dewasa : 5 ml.

GOLONGAN AZOL – IMIDAZOL

Golongan azol – imidazol ditemukan setelah tahun 1960, relatif berspektrum luas, bersifat
fungistatik dan bekerja dengan cara menghambat sintesis ergosterol jamur yang
mengakibatkan timbulnya defek pada membran sel jamur. Obat anti jamur golongan azol
seperti klotrimazol, ketokonazol, ekonazol, oksikonazol, sulkonazol dan mikonazol,
mempunyai kemampuan menggangu kerja enzim sitokrom P-450 lanosterol 14-
demethylase yang berfungsi sebagai katalisator untuk mengubah lanosterol menjadi
4
ergosterol.

4-10
a. Klotrimazol 

Klotrimazol dapat digunakan untuk pengobatan dermatofitosis, kandidosis oral, kutaneus
dan genital. Untuk pengobatan oral kandidosis, diberikan oral troches (10 mg) 5 kali sehari
selama 2 minggu atau lebih. Untuk pengobatan kandidosis vaginalis diberikan dosis 500,
200 atau 100 mg yang dimasukkan kedalam vagina selama 1, 3, atau 6 hari berturu-turut.
Untuk pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan klotrimazol cream 1%, dosis dan
lamanya pengobatan tergantung dari kondisi pasien, biasanya diberikan selama 2-4 minggu
dan dioleskan 2 kali sehari.
4-7,10
b. Ekonazol 

Ekonazol dapat digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan kandidosis oral, kutaneus
dan genital. Untuk pengobatan kandidosis vaginalis diberikan dosis 150 mg yang
dimasukkan ke dalam vagina selama 3 hari berturut-turut. Untuk pengobatan infeksi jamur
pada kulit digunakan ekonazol cream 1%, dosis dan lamanya pengobatan tergantung dari
kondisi pasien, biasanya diberikan selama 2-4 minggu dan dioleskan 2 kali sehari.
4-6,9,10
c. Mikonazol 

Mikonazol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis, pitiriasis versikolor dan
kandidosis oral, kutaneus dan genital. Untuk pengobatan kandidosis vaginalis diberikan
dosis 200 atau 100 mg yang dimasukkan ke dalam vagina selama 7 atau 14 hari berturut-
turut. Untuk pengobatan kandidosis oral, diberikan oral gel (125 mg) 4 kali sehari. Untuk
pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan mikonazol cream 2%, dosis dan lamanya
pengobatan tergantung dari kondisi pasien, biasanya diberikan selama 2-4 minggu dan
dioleskan 2 kali sehari.
d. Ketokonazol

Ketokonazol mempunyai ikatan yang kuat dengan keratin dan mencapai keratin dalam
waktu 2 jam melalui kelenjar keringat ekrin. Penghantaran akan menjadi lebih lambat
ketika mencapai lapisan basal epidermis dalam waktu 3-4
minggu. Konsentrasiketokonazol masih tetap dijumpai, minimal 10 hari setelah obat
dihentikan.
Ketokonazol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis, pitiriasis versikolor,kutaneus
kandidiasis dan dapat juga untuk pengobatan dermatitis seboroik. Pengobatan infeksi
jamur pada kulit digunakan krim ketokonazol 1%, dosis dan lamanya pengobatan
tergantung dari kondisi pasien, biasanya diberikan selama 2-4 minggu dan dioleskan sekali
sehari sedangkan pengobatan dermatitis seboroik dioleskan 2 kali sehari. Pengobatan
pitiriasis versikolor menggunakan ketokonazol 2% dalam bentuk shampoo sebanyak 2 kali
seminggu selama 8 minggu.
5,6,12
e. Sulkonazol 

Sulkonazol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan kandidosis kutaneus. Untuk
pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan sulkonazol 1% cream Dosis dan lamanya
pengobatan tergantung dari kondisi pasien, biasanya untuk pengobatan tinea korporis, tinea
kruris ataupun pitiriasis versikolor dioleskan 1 atau 2 kali sehari selama 3 minggu dan
untuk tinea pedis dioleskan 2 kali sehari selama 4 minggu.
4-6,13
f. Oksikonazol 

Oksikonazol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan kandidosis kutaneous. Untuk
pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan oksikonazol 1% cream ataau lotion. Dosis
dan lamanya pengobatan tergantung dari kondisi pasien, biasanya untuk pengobatan tinea
korporis dan tinea kruris dioleskan 1 atau 2 kali sehari selama 2 minggu, untuk tinea pedis
dioleskan 1 tatau 2 kali sehari selama 4 mingggu dan pitiriasis versikolor dioleskan 1 kali
sehari selama 2 minggu.
4-6,14
g. Terkonazol 

Terkonazol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan kandidosis kutaneous dan
genital. Untuk pengobatan kandidosis vaginalis yang disebabkan Candida albicans, dapat
digunakan terkonazol 0,4% vaginal cream (20 gr terkonazol) yang dimasukkan ke dalam
vagina menggunakan applikator sebelum waktu tidur, 1 kali sehari selama 7 hari berturut-
turut, terkonazol 0,8% vaginal cream (40 mg terkonazol) yang dimasukkan ke dalam
vagina menggunakan applikator sebelum waktu tidur, 1 kali sehari selama 3 hari berturut-
turut dan vaginal suppositoria dengan dosis 80 mg terkonazol, dimasukkan ke dalam
vagina, 1 kali sehari sebelum waktu tidur selama 3 hari berturut-turut.
4-6,15
h. Tiokonazol 

Tiokonazol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan kandidosis kutaneous dan
genital. Untuk pengobatan kandidosis vaginalis diberikan dosis tunggal sebanyak 300 mg
dimasukkan ke dalam vagina. Untuk infeksi pada kulit digunakan tiokonazol 1% cream,
dosis dan lamanya pengobatan tergantung dari kondisi pasien, biasanya untuk pengobatan
tinea korporis dan kandidiasis kutaneus dioleskan 2 kali sehari selama 2-4 minggu, untuk
tinea pedis dioleskan 2 kali sehari selama 6 minggu, untuk tinea kruris dioleskan 2 kali
sehari selama 2 minggu dan untuk pitiriasis versikolor dioleskan 2 kali sehari selama 1-4
minggu.

16
i. Sertakonazol 

Sertakonazol dapat digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan kandida spesies,
digunakan sertakonazol 2% cream, dioleskan 1-2 kali sehari selama 4 minggu.

GOLONGAN ALILAMIN / BENZILAMIN

Golongan alilamin yaitu naftifin, terbinafin dan golongan benzilamin yaitu butenafin,
bekerja dengan cara menekan biosentesis ergosterol pada tahap awal proses metabolisme
dan enzim sitokrom P-450 akan mengambat aktifitas squalene eposidase. Dengan
berkurangnya ergosterol, akan menyebabkan penumpukan squalene pada sel jamur dan
akan mengakibatkan kematian sel jamur. Alilamin dan benzilamin bersifat fungisidal
4
terhadap dermatofit dan bersifat fungistatik terhadap Candida albicans.

4-6,8,17
a. Naftifin 

Naftifin dapat digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan Candida spesies. Untuk
pengobatan digunakan naftifine hydrochloride 1% cream dioleskan 1 kali sehari selama 1
minggu.
4-6,8,18
b. Terbinafin 

Terbinafin (Lamisil) dapat digunakan untuk pengobatan dermatofitosis, pitiriasis
versikolor dan kandidiasis kutaneus. Digunakan terbinafin 1% cream yang dioleskan 1 atau
2 kali sehari, untuk pengobatan tinea korporis dan tinea kruris digunakan selama 1-2
minggu, untuk tinea pedis selama 2-4 minggu, untuk kandidiasis kutaneus selama 1-2
minggu dan untuk pitiriasis versikolor selama 2 minggu.
4-6,19,20
c. Butenafin 

Butenafin merupkan golongan benzilamin dimana struktur kimia dan aktifitas anti
jamurnya sama dengan golongan alilamin. Butenafine bersifat fungisidal terhadap
dermatofit dan dapat digunakan untuk pengobatan tinea korporis, tinea kruris dan tinea
pedis dan bersifat fungisidal. Dioleskan 1 kali sehari selama 4 minggu.
GOLONGAN ANTI JAMUR TOPIKAL YANG LAIN

4-6,21
a. Amorolfin
Amorolfine merupakan derivat morpolin, bekerja dengan cara menghambat biosintesis
ergosterol jamur. Aktifitas spektrumnya yang luas, dapat digunakan untuk pengobatan
tinea korporis, tinea kruris, tinea pedis dan onikomikosis. Untuk infeksi jamur pada kulit
amorolfin dioleskan satu kali sehari selama 2-3 minggu sedangkan untuk tinea pedis
selama > 6 bulan. Untuk pengobatan onikomikosis digunakan amorolfine 5% nail laquer,
untuk kuku tangan dioleskan satu atau dua kali setiap minggu selama 6 bulan sedangkan
untuk kuku kaki harus digunakan selama 9-12 bulan.

4-6,22-24
b. Siklopiroks
Siklopiroks merupakan anti jamur sintetik hydroxypyridone, bersifat fungisida, sporosida
dan mempunyai penetrasi yang baik pada kulit dan kuku. Siklopiroks efektif untuk
pengobatan tinea korporis, tinea kruris, tinea pedis, onikomikosis, kandidosis kutaneus dan
pitiriasis versikolor.
Untuk pengobatan infeksi jamur pada kulit harus dioleskan 2 kali sehari selama 2-4 minggu
sedangkan untuk pengobatan onikomikosis digunakan siklopiroks nail laquer 8%. Setelah
dioleskan pada permukaan kuku yang sakit, larutan tersebut akan mengering dalam waktu
30-45 detik, zat aktif akan segera dibebaskan dari pembawa berdifusi menembus lapisan-
lapisan lempeng kuku hingga ke dasar kuku (nail bed) dalam beberapa jam sudah mencapai
kedalaman 0,4 mm dan secara penuh akan dicapai setelah 24-48 jam pemakaian. Kadar
obat akan mencapai kadar fungisida dalam waktu 7 hari sebesar 0,89 ± 0,25 mikrogram
tiap milligram material kuku. Kadar obat akan meningkat terus hingga 30-45 hari setelah
pemakaian dan selanjutnya konsentrasi akan menetap yakni sebesar 50 kali konsentrasi
obat minimal yang berefek fungisidal. Konsentrasi obat yang berefek fungisidal ditemukan
di setiap lapisan kuku.
Sebelum pemakain cat kuku siklopiroks, terlebih dahulu bagian kuku yang infeksi diangkat
atau dibuang, kuku yang terisa dibuat kasar kemudian dioleskan membentuk lapisan tipis.
Lakukan setiap 2 hari sekali selama bulan pertama, setiap 3 hari sekali pada bulan ke dua
dan seminggu sekali pada bulan ke tiga hingga bulan ke enam pengobatan. Dianjurkan
pemakaian cat kuku siklopiroks tidak lebih dari 6 bulan.

4-6,8
c. Haloprogin 

Haloprogin merupakan halogenated phenolic, efektif untuk pengobatan tinea korporis,
tinea kruris, tinea pedis dan pitiriasis versikolor, dengan konsentrasi 1% dioleskan 2 kali
sehari selama 2-4 minggu.

II. OBAT ANTI JAMUR SISTEMIK

Pemberian obat anti jamur sistemik digunakan untuk pengobatan infeksi jamur superfisial
dan sistemik (deep mikosis), obat-obat tersebut yaitu :

GOLONGAN AZOL

Pada umumnya golongan azol bekerja menghambat biosintesis ergosterol yang


merupakan sterol utama untuk mempertahankan integritas membran sel jamur. Bekerja
dengan cara menginhibisi enzim sitokrom P 450, C-14- α-demethylase yang bertanggung
jawab merubah lanosterol menjadi ergosterol, hal ini mengakibatkan dinding sel jamur
menjadi permeabel dan terjadi penghancuran jamur.

1. KETOKONAZOL2,3,6-9,25,28-30

Ketokonazol diperkenalkan untuk pertama kalinya pada tahun 1977 dan di Amerika
Serikat pada tahun 1981. Ketokonazol merupakan antijamur golongan imidazol yang
pertama diberikan secara oral.


Mekanisme kerja : Ketokonazol bekerja menghambat biosintesis ergosterol yang


merupakan sterol utama untuk mempertahankan integritas membran sel jamur. Bekerja
dengan cara menginhibisi enzim sitokrom P-450, C-14-α-demethylase yang
bertanggung jawab merubah lanosterol menjadi ergosterol, hal ini akan mengakibatkan
dinding sel jamur menjadi permiabel dan terjadi penghancuran jamur.


Aktifitas spectrum : Ketokonazol mempunyai spekrum yang luas dan efektif terhadap
Blastomyces dermatitidis, Candida spesies, Coccidiodes immitis, Histoplasma
capsulatum, Malassezia furfur, Paracoccidiodes brasiliensis. Ketokonazol juga efektif
terhadap dermatofit tetapi tidak efektif terhadap Aspergillus spesies dan
Zygomycetes.


Farmakokinetik : Ketokonazol yang diberikan secara oral, mempunyai


bioavailabilitas yang luas antara 37% - 97% di dalam darah. Puncak waktu paruh yaitu
2 jam dan berlanjut 7-10 jam. Ketokonazol mempunyai daya larut yang optimal pada
pH dibawah 3 dan akan lebih mudah diabsorbsi.

Pasien yang menderita achlorhydia, harus mengkonsumsi ketokonazol bersama dengan


cairan yang asam dan pada pasien yang mendapat obat - obat seperti antasid,
antikolinergik, antiparkinson dan antagonis H2 reseptor, sebaiknya mengkonsumsi
ketokonazol 2 jam sebelumnya oleh karena dapat mengurangi absorbsi ketokonazol.

Ketokonazol mempunyai ikatan yang kuat dengan keratin dan mencapai keratin dalam
waktu 2 jam melalui kelenjar keringat eccrine. Penghantaran akan menjadi lebih lambat
ketika mencapai lapisan basal epidermis dalam waktu 3 - 4 minggu. Konsentrasi
ketokonazol masih tetap dijumpai, sekurangnya 10 hari setelah obat dihentikan.

Ketokonazol mempunyai distribusi yang luas melalui urin, saliva, sebum, kelenjar
keringat eccrine, serebrum, cairan pada sendi dan serebrospinal fluid (CSF). Namun,
ketokonazol 99% berikatan dengan plasma protein sehingga level pda CSF rendah.

Ketokonazol dimetabolisme di hati dan diubah menjadi metabolit yang tidak aktif dan
diekskresi bersama empedu ke dalam saluran pencernaan.


Dosis : Dosis ketokonazol yang diberikan pada orang dewasa 200 mg / hari, dosis
tunggal dan untuk kasus yang serius dapat ditingkatkan hingga 400 mg / hari sedangkan
dosis untuk anak-anak 3,3 – 6,6 mg / kg BB, dosis tunggal. Lama pengobatan untuk
tinea korporis dan tinea kruris selama 2 - 4 minggu, tinea versikolor selama 5 -10 hari
sedangkan untuk tinea kapitis dan onikomikosis biasanya tidak direkomendasikan.


Efek samping : Anoreksia, mual dan muntah merupakan efek samping yang sering di
jumpai. Ketokonazol juga dapat menimbulkan efek hepatotoksik yang ringan tetapi
kerusakan hepar yang serius jarang terjadi. Peninggian transaminase sementara dapat
terjadi pada 5-10% pasien. Efek samping yang serius dari hepatotoksik adalah
idiosinkratik dan jarang ditemukan yaitu 1:10000 dan 1:15000, biasanya djumpai pada
pasien yang mendapat pengobatan lebih dari 2 minggu. Untuk pengobatan jangka
waktu yang lama, dianjurkan dilakukan pemeriksaan fungsi hati. Dosis tinggi
ketokonazol (>800 mg/hari) dapat menghambat sintesis human adrenal dan testikular
steroid yang dapat menimbulkan alopesia, ginekomasti dan impoten.


Interaksi obat : Konsentrasi serum ketokonazol dapat menurun pada pasien yang
mengkonsumsi obat yang dapat menurunkan sekresi asam lambung seperti antasid,
antikolinergik dan H2-antagonis sehingga sebaiknya obat ini di berikan setelah 2 jam
pemberian ketokonazol. Ketokonazol dapat memperpanjang waktu paruh seperti
terfenadin, astemizol dan cisaprid sehingga sebaiknya tidak diberikan bersama dan juga
dapat menimbulkan efek samping kardiovaskular seperti pemanjangan Q-T interval dan
torsade de pointes.

Ketokonazol juga dapat memperpanjang waktu paruh dari midazolam dan triazolam
dan dapat meningkatkan level siklosporin dan konsentrasi serum dari warfarin.
Pemberian bersama ketokonazol dengan rifampicin dapat menurunkan efektifitas ke
dua obat.

2. ITRAKONAZIL

Itrakonazol diperkenalkan pada tahun 1992 merupakan sintesis derivat triazol.

Mekanisme kerja : Mekanisme kerja itrakonazol dengan cara menghambat 14-α-


demethylase yang merupakan suatu enzim sitokrom P-450 yang bertanggung jawab
untuk merubah lanosterol menjadi ergosterol pada dinding sel jamur.


Aktifitas spectrum : Itrakonazol mempunyai aktifitas spektrum yang luas terhadap


Aspergillosis spesies, Blastomyces dermatitidis, Candida spesies, Coccidiodes
immitis, Cryptococcus neoformans, Histoplasma capsulatum, Malassezia furfur,
Paracoccidiodes brasiliensis, Scedosporium apiospermum dan Sporothrix
schenckii. Itrakonazol juga efektif terhadap dematiaceous moulds dan dermatofit
tetapi tidak efektif terhadap Zygomycetes.


Farmakokinetik : Absorbsi itrakonazol tidak begitu sempurna pada saluran


gastrointestinal (55%) tetapi absorbsi tersebut dapat ditingkatkan jika itrakonazol
dikonsumsi bersama makanan. Pemberian oral dengan dosis tunggal 100 mg,
konsentrasi puncak plasma akan mencapai 0,1-0,2 mg/L dalam waktu 2-4 jam.
Itrakonazol mempunyai ikatan protein yang tinggi pada serum melebihi 99%
sehingga konsentrasi obat pada cairan tubuh seperti pada CSF jumlahnya sedikit.
Namun sebaliknya konsentrasi obat di jaringan seperti paru-paru, hati dan tulang
dapat mencapai 2 atau 3 kali lebih tinggi dibandingkan pada serum. Konsentrasi
itrakonazol yang tinggi juga ditemukan pada stratum korneum akibat adanya sekresi
obat pada sebum. Itrakonazol tetap dapat ditemukan pada kulit selama 2-4 minggu
setelah pengobatan dihentikan dengan lama pengobatan 4 minggu sedangkan pada
jari kaki itrakonazol masih dapat ditemukan selama 6 bulan setelah pengobatan
dihentikan dengan lama pengobatan 3 bulan.

Kurang dari 0,03% dari dosis itrakonazol akan di ekskresi di urin tanpa mengalami
perubahan tetapi lebih dari 18% akan di buang melalui feces tanpa mengalami
perubahan. Itrakonazol di metabolisme di hati oleh sistem enzim hepatik sitokrom
P- 450. Kebanyakan metabolit yang tidak aktif akan di ekskresi oleh empedu dan
urin. Metabolit utamanya yaitu hidroksitrakonazol yang merupakan suatu
bioaktif.


Dosis : Dosis pengobatan untuk dermatofitosis adalah 100 mg/hari. Lama


pengobatan untuk tinea korporis atau tinea kruris adalah selama 2 minggu tetapi
untuk tinea manus dan tinea pedis adalah selama 4 minggu. Pengobatan untuk
pitirisis versikolor dengan dosis 200 mg/hari selama 1 minggu.

Untuk pengobatan onikomikosis dengan dosis 200 mg selama 3 bulan atau


menggunakan dosis denyut yaitu kuku jari tangan sebanyak 2 pulsa itrakonazol
dengan dosis 400 mg/hari selama 1 minggu dan 3 minggu tanpa pengobatan
sedangkan kuku jari kaki sebanyak 3 pulsa atau lebih.

Pengobatan kandidosis kutis dengan dosis 100 mg / hari selama 2 minggu,


kandidosis orofaringeal 100 mg / hari selama 2 minggu, kandidosis vaginalis 2x200
mg selama 1 hari atau 200 mg selama 3 hari.

Sedangkan untuk infeksi deep mikosis seperti aspergillosis, blastomikosis dan


histoplasmosis diberikan dosis itrakonazol sebanyak 200-400 mg/hari.


Efek samping : Efek samping yang sering dijumpai adalah masalah gastrointestinal
seperti mual, sakit pada abdominal dan konstipasi. Efek samping lain seperti sakit
kepala, pruritus dan ruam allergi.
Efek samping yang lain yaitu kelainan test hati yang dilaporkan pada 5% pasien
yang ditandai dengan peninggian serum transaminase, ginekomasti dilaporkan
terjadi pada 1% pasien yang menggunakan dosis tinggi, impotensi dan penurunan
libido pernah dilaporkan pada pasien yang mengkonsums itrakonazol dosis tinggi
400 mg /hari atau lebih.

Interaksi obat : Absorbsi itrakonazol akan berkurang jika diberikan bersama


dengan obat-obat yang dapat menurunkan sekresi asam lambung seperti antasid,
H2-antagonis, omeprazol dan lansoprazol.

Itrakonazol dan metabolit utamanya merupakan suatu inhibitor dari sistem enzim
human hepatic sitokrom P-450-3A4 sehingga pemberian itrakonazol bersama
dengan obat lain yang metabolismenya melalui sistem tersebut dapat meningkatkan
konsentrasi azol, interaksi obat ataupun ke duanya. Itrakonazol dapat
memperpanjang waktu paruh dari obat-obat seperti terfenadin, astemizol,
midazolam, triazolam, lovastatin, simvastatin, cisaprid, pimozid, quinidin.
Itrakonazol juga dapat meningkatkan konsentrasi serum digoxin, siklosporin,
takrolimus dan warfarin.

2,3,6-8,25,29,30,32,33
3. FLUKONAZOL

Flukonazol merupakan suatu hidrofilik dari sintetik triazol, terdapat dalam bentuk
oral dan parenteral. Ditemukan pada tahun 1982 dan di perkenalkan pertama kali di
Eropa kemudian di Amerika Serikat.


Mekanisme kerja : Flukonazol mempunyai mekanisme kerja yang sama dengan


triazol lain yaitu merupakan suatu inhibitor yang poten terhadap biosintesis
ergosterol, bekerja dengan menghambat sistem enzim sitokrom P-450 14-α-
demethylase dan bersifat fungistatik.

Aktifitas spektrum : Flukonazol paling aktif terhadap Candida spesies,


Coccidioides imminitis dan Cryptococcus neoformans. Mempunyai aktifitas yang
terbatas terhadap Blastomyces dermatitidis, Histoplasma capsulatum dan Sprothrix
schenckii. Flukonazol juga efektif terhadap dermatofit tetapi tidak efektif untuk
moulds termasuk Aspergillus spesies dan Zygomycetes. Walaupun flukonazol
efektif terhadap Candida spesies tetapi resisten untuk Candida krusei dan Candida
glabrata.

Farmakokinetik : Flukonazol secara cepat dan sempurna diserap melalui saluran
gastrointestinal. Bioavailabilitas oral flukonazol melebihi 90 % pada orang dewasa.
Konsentrasi puncak plasma dicapai setelah 1 atau 2 jam pemberian oral dengan
eliminasi waktu paruh plasma ± 30 jam (20-50 jam) setelah pemberian oral.
Absorbsi flukonazol tidak dipengaruhi oleh kadar asam lambung (pH).

Pemberian secara oral dengan dosis tunggal ataupun multiple lebih dari 14 hari
maka flukonazol akan mengalami penetrasi yang luas ke dalam cairan dan jaringan
tubuh. Flukonazol bersifat hidrofilik sehingga lebih banyak ditemukan di dalam
cairan tubuh dan dijumpai di dalam keringat dengan konsentrasi tinggi. Ikatan
flukonazol dengan protein biasanya rendah (12%) sehingga sirkulasi obat yang tidak
berikatan tinggi.

Metabolisme flukonazol terjadi di hepar dan diekskresi melalui urin dimana 80 %


dari dosis obat akan di ekskresi tanpa perubahan dan 11% di ekskresi sebagai
metabolit.


Dosis : Untuk pengobatan orofaringeal kandidosis diberikan dosis 200 mg pada hari
pertama dan selanjutnya 100 mg /hari selama 2 minggu. Oesophageal kandidosis
diberikan dosis 200 mg pada hari pertama dan selanjutnya 100 mg /hari selama 3
minggu. Untuk pengobatan kandidiasis vaginalis digunakan dosis tunggal 150 mg.
Flukonazol juga efektif terhadap Cryptococcus neoformans dan merupakan terapi
pilihan utama untuk cryptococcal meningitis pada pasien ADIS diberikan dengan
dosis 6 mg/kg BB atau 400 mg /hari untuk berat badan 70 kg.


Efek samping : Efek samping yang sering di jumpai adalah masalah gastrointestinal
seperti mual, muntah, diare, sakit pada abdominal dan juga sakit kepala. Efek
samping lain yaitu hipersensitiviti, agranulositosis, exfoliatif skin disoders seperti
Steven Johnson- sindrom, hepatotoksik, trombositopenia dan efek pada sistem saraf
pusat.


Interaksi obat : Flukonazol dapat meningkatkan efek atau level dari obat yaitu
astemizol, amitriptilin, kafein, siklosporin, fenitoin, sulfonilureas, terfenadin,
theofilin, warfarin dan zidovudin. Pemberian bersama flukonazol dengan cisapride
ataupun terfenadin merupakan kontra indikasi oleh karena dapat menimbulkan
disaritmia jantung yang serius dan torsade de pointes. Flukonazol juga dapat
berinteraksi dengan tolbutamid, glipizid dan gliburid yang menimbulkan efek
hipoglikemi.

Level atau efek flukonazol dapat menurun oleh karbamazepin, isoniazid,


phenobarbital, rifabutin dan rifampin dan akan meningkat oleh simetidin dan
hidroklorothiazid.

6
4. VORIKONAZOL 


Vorikonazol merupakan sintetik triazol yang berasal dari flukonazol dan tersedia
dalam bentuk oral maupun parenteral.

Mekanisme kerja :
 Vorikonazol merupakan inhibitor yang poten terhadap


biosintesis ergosterol, bekerja pada enzim sitokrom p-450, lanosterol 14-α-
demethylase. Hal ini menyebabkan berkurangnya ergosterol dan penumpukan
methilat sterols yang mengakibatkan rusaknya struktur dan fungsi membran
jamur.


Aktifitas spktrum : Vorikonazol mempunyai spektrum yang luas terhadap


Aspergillus species, Blastomyces dermatitidis, Candida species, Cryptococcus
neoformans, Fusarium species, Histoplasma capsulatum dan Scedosporium
apiospermum. Juga efektif terhadap dematiaceous moulds, tetapi tidak efektif
terhadap Zygomycetes.

Farmakokinetik :
 Pemberian vorikonazol secara oral di absorbsi dengan cepat


dan hampir sempurna (sekitar 96%). Dua jam setelah mengkonsumsi vorikonazol
dengan dosis 400 mg dosis tunggal, diharapkan akan dicapai konsentrasi serum 2
mg/L. Absorbsi vorikonazol akan berkurang bersama makanan yang mengandung
lemak tetapi tidak dipengaruhi perubahan pH lambung. Vorikonazol mempunyai
volume distribusi yang luas (4,6L/kg BB) yang dapat di lihat pada jaringan dan
diperkirakan berikatan dengan protein sekitar 58%. Vorikonazol di ekskresi dalam
bentuk yang tidak mengalami perubahan melalui urin < 2% dari dosis yang di
berikan.

Vorikonazol di metabolisme melalui sistem enzim human hepatik sitokrom p- 450.


Lebih dari 80% dosis oral akan dibuang sebagai metabolit melalui urin. Eliminasi
waktu paruh berkisar 6-9 jam dengan dosis parenteral 3 mg/kg atau 200 mg dengan
dosis oral. Terdapat 3 sistem enzim hepatik sitokrom yang mempunyai peranan
dalam proses metabolisme vorikonazol yaitu Cyp-2C19, CYP-2C9 dan CYP-
3A4.


Dosis : Pengobatan intravenous vorikonazol harus di awali dengan 2 loading dose


sebanyak 6 mg/ kg BB dengan jarak 12 jam dan selanjutnya 4 mg/kg BB dengan
interval 12 jam. Setiap dosis harus di infus dengan rata-rata maksimum 3 mg/kg
BB/jam selama periode 1-2 jam. Konsentrasi cairan infus tidak melebihi 5 mg/ml.

Pasien dengan berat badan lebih dari 40 kg dapat diberikan dosis oral sebanyak 200
mg dengan interval 12 jam sedangkan berat badan yang kurang dari 40 kg dapat
diberikan dosis 100 mg dengan interval 12 jam. Obat harus dikonsumsi 1 jam
sebelum atau sesudah makan.


Efek samping : Kebanyakan efek samping yang dapat di jumpai pada pasien yaitu
demam, adanya ruam pada kulit, mual, muntah, diare, sakit kepala dan sakit
abdominal. Sekitar 13 % pasien di jumpai peninggian test fungsi hati selama
pengobatan.

Interaksi obat : Absorbsi vorikonazol tidak menglami penurunan jika diberikan


bersama dengan obat lain seperti simetidin, ranitidin yang berfungsi mengurangi
sekresi asam lambung.

Vorikonazol kurang poten sebagai inhibitor sistim enzim human hepatik sindrom P-
450-3A4 dibandingkan itrakonazol ataupun ketokonazol, namun vorikonazol dapat
meningkatkan konsentrasi serum sirolimus, terfenadin, astemizol, cisaprid, pimozid
dan quinidin sehingga sebaiknya vorikonazol tidak di konsumsi bersama dengan
obat diatas. Vorikonazol dapat menunjukkan penurunan konsentrasi serum
siklosporin dan takrolimus sehingga level dan dosis obat harus di monitor.
Vorikonazol dapat meningkatkan konsentrasi serum warfarin yang berfungsi
sebagai antikoagulan sehingga waktu protrombin pada pasien yang mendapat ke dua
obat tersebut harus di monitor. Vorikonazol dapat menghambat metabolisme
lovastatin sehingga dosis obat tersebut harus disesuaikan. Vorikonazol juga dapat
meningkatkan konsentrasi tolbutamid dan glipizid yang menimbulkan efek
hipoglikemik. Vorikonazol dapat menghambat metabolisme anti-HIV protease
inhibitor seperti saquinavir, amprenavir dan nelfenavir sedangkan ritonavir,
amprenavir dan saquinavir dapat menghambat metabolisme golongan azol.
Vorikonazol juga sebaiknya tidak diberikan bersama dengan carbamazepin,
phenobarbital, rifabutin dan rifampicin.

GOLONGAN ALILAMIN

2,3,6-8,25,30,31,34-36
1. TERBINAFIN

Terbinafin merupakan anti jamur golongan alilamin yang dapat diberikan secara
oral. Pertama kali ditemukan pada tahun 1983, di gunakan di Eropa sejak tahun 1991
dan di Amerika Serikat pada tahun 1996.

Mekanisme Kerja :
 Terbinafin bekerja menghambat sintesis ergosterol


(merupakan komponen sterol yang utama pada membran plasma sel jamur), dengan
cara menghambat kerja squalene epoxidase (merupakan suatu enzim yang berfungsi
sebagai katalis untuk mengubah squalene menjadi squalene-2,3 epoxide). Dengan
berkurangnya ergosterol yang berfungsi untuk mempertahankan pertumbuhan
membran sel jamur sehingga pertumbuhan akan berhenti, disebut dengan efek
fungistatik dan dengan adanya penumpukan squalene yang banyak di dalam sel
jamur dalam bentuk endapan lemak sehingga menimbulkan kerusakan pada
membran sel jamur disebut dengan efek fungisidal.

Aktifitas spectrum :
 Terbinafin merupakan anti jamur yang berspektrum luas.


Efektif terhadap dermatofit yang bersifat fungisidal dan bersifat fungistatik untuk
Candida albicans tetapi bersifat fungisidal untuk beberapa species candida seperti
Candida parapsilosis. Terbinafin juga efektif terhadap Aspergillosis species,
Blastomyces dermatitidis, Histoplasma capsulatum, Sporothrix schenckii dan
beberapa dermatiaceous moulds.

Farmakokinetik :
 Terbinafin di absorbsi dengan baik jika diberikan dengan cara


oral yaitu > 70% dan akan tercapai konsentrasi puncak dari serum berkisar 0,8-1,5
mg/L setelah pemberian 2 jam dengan 250 mg dosis tunggal. Pemberian bersama
makanan tidak mempengaruhi absorbsi obat.

Terbinafin bersifat lipofilik dan keratofilik, terdistribusi secara luas pada pada
dermis, epidermis, jaringan lemak dan kuku. Konsentrasi plasma terbinafin terbagi
dalam tiga fase dimana waktu paruh terbinafin yang terdistribusi di dalam plasma
yaitu 1,1 jam ; eliminasi waktu paruh yaitu 16 dan 100 jam setelah pemberian 250
mg dosis tunggal ; setelah 4 minggu pengobatan dengan dosis 250 mg /hari terminal
waktu paruh rata-rata yaitu 22 hari di dalam plasma. Di dalam dermis- epidermis,
rambut dan kuku eliminasi waktu paruh rata-rata yaitu 24-28 hari.

Terbinafin dapat mencapai stratum korneum, pertama kali melalui sebum kemudian
bergabung dengan basal keratinosit dan selanjutnya berdifusi ke dermis- epidermis
tetapi terbinafin di dalam kelenjar keringat ekrine tidak terdeteksi. Terbinafin yang
diberikan secara oral akan menetap di dalam kulit dengan konsentrasi di atas MIC
untuk dermatofit selama 2-3 minggu setelah obat di hentikan. Terbinafin dapat
terdeteksi pada bagian distal dari nail plate dalam waktu 1 minggu setelah
pengobatan dan level obat yang efektif dicapai setelah 4 minggu pengobatan.
Terbinafin tetap akan dijumpai di dalam kuku untuk jangka waktu yang lama setelah
pengobatan dihentikan.

Terbinafin di metabolisme di hepar dan metabolit yang tidak aktif akan di ekskresi
melalui urin sebanyak 70% dan melalui feces sebanyak 20%.


Dosis : Terbinafin tersedia dalam bentuk tablet 250 mg tetapi tidak tersedia dalam
bentuk parenteral.

Oral terbinafin efektif untuk pengobatan dermatofitosis pada kulit dan kuku. Dosis
terbinafin oral untuk dewasa yaitu 250 mg/hari tetapi pada pasien dengan ganguan
hepar atau fungsi ginjal (kreatinin clearence < 50 ml/menit atau konsentrasi serum
kreatinin > 300 μmol/ml) dosis harus diberikan setengah dari dosis diatas.
Pengobatan tinea pedis selama 2-6 minggu, tinea korporis dan kruris selama 2-4
minggu sedangkan infeksi pada kuku tangan selama 3 bulan dan kuku kaki selama
6 bulan atau lebih.


Efek samping : Efek samping pada gastrointestinal seperti diare, dyspepsia, sakit
di abdominal sering dijumpai. Jarang dijumpai pasien yang menderita kerusakan
hepar dan meninggal akibat mengkonsumsi terbinafin untuk pengobatan infeksi
kuku. Terbinafin tidak direkomendasikan untuk pasien dengan penyakit hepar yang
kronik atau aktif.


Interaksi obat : Terbinafin tidak mempunyai efek clearance terhadap obat lain yang
metabolismenya melalui hepatik sitokrom P-450. Namun konsentrasi darah akan
menurun jika terbinafin di berikan bersama rifampicin yang merupakan suatu
inducer yang poten terhadap sistem enzim hepatik sitokrom P-450. Level darah pada
terbinafin dapat meningkat jika pemberiannya bersama cimetidin yang merupakan
sitokrom P-450 inhibitor.

GOLONGAN POLIEN

2,6-9,25,30,37
1. AMFOTERISIN B 


Amfoterisin B merupakan antibiotik makrosiklik polyene yang berasal dari


Streptomyces nodosus, diperkenalkan pada tahun 1956 dan disetujui digunakan
sebagai anti jamur pada manusia di tahun 1960.

Amfoterisin B deoxycholate (formula konvensional) digunakan untuk pengobatan


infeksi deep mikosis, pemberian secara parenteral sering menimbulkan efek toksik
terutama pada ginjal / nefrotoksik sehingga kemudian dikembangkan 3 jenis
formula yang kurang toksik terhadap ginjal dengan dasar lemak (lipid-based
formulations) yaitu (1) Liposomal amfoterisin B (AmBisome), obat ini diselubungi
dengan phospholipid yang mengandung liposome. (2) Amfoterisin B lipid kompleks
(Abelcet, ABLC), merupakan suatu kompleks dengan fosfolipid yang membentuk
struktur seperti pita. (3) Amfoterisin B kolloidal dispersion (Amphocil, Amphotec,
ABCD), merupakan suatu kompleks dengan cholesterol sulphate yang membentuk
potongan lemak yang kecil.


Mekanisme kerja : Amfoterisin B berikatan dengan ergosterol sehingga membran


sel jamur menjadi rentan selanjutnya mengakibatkan fungsi barrier membran
menjadi rusak, hilangnya unsur-unsur penting sel, menggangu metabolisme dan
matinya sel jamur.
Efek lain pada membran sel jamur yaitu amfoterisin B dapat menimbulkan
kerusakan oksidatif terhadap sel jamur.


Aktifitas spektrum : Amfoterisin B mempunyai aktifitas spektrum yang luas


terhadap : Aspergillus species, Mucorales species, Blastomyces dermatitidis,
Candida species, Coccidioides immitis, Cryptococcus neoformans, Histoplasma
capsulatum, Paracoccidioides brasiliensis, Penicillium marneffei. Sedangkan untuk
Aspergillus tereus, Fusarium species, Malassezia furfur, Scedosporium species dan
Trichosporon asahii biasanya resisten.


Farmakokinetik : Amfoterisin B sangat sedikit diserap dengan cara pemberian oral


(bioavaibilitasnya kurang dari 5%), sehingga untuk tetap mempertahankan
konsentrasi serum yang adekuat diberikan secara intravenous.

GOLONGAN EKINOKANDIN

6
1. CASPOFUNGIN 


Caspofungin merupakan derivat semi sintetik dari pneumo-candin B0, yang


merupakan hasil fermentasi lipopeptid jamur Glarea lozoyensis.

Mekanisme Kerja : Caspofungin menghambat sintesis β-(1,3)-D-glucan yang


merupakan komponen dinding sel jamur.

Aktifitas spectrum :
 Caspofungin mempunyai aktifitas spektrum yang terbatas.


Caspofungin efektif terhadap Aspergillus fumigatus, Aspergillus flavus dan
Aspergillus terreus tetapi tidak efektif terhadap dermatofit. Caspofungin
mempunyai aktifitas yang berubah-ubah terhadap Coccidioides immitis,
Histoplasma capsulatum dan dematiaceous molds. Caspofungin juga efektif
terhadap sebagian besar Candida species dengan efek fungisidal yang tinggi, tetapi
terhadap Candida parapsilosis dan Candida krusei kurang efektif dan resisten
terhadap Cryptococcus neoformans.

Farmakokinetik :
 Pemberian caspofungin secara parenteral setelah 1 jam dengan


dosis 70 mg akan dicapai konsentrasi serum sebanyak 10mg/L. Kurang dari 10%
dosis obat, akan menetap di dalam darah setelah pemberian 36-48 jam dan lebih dari
96% akan berikatan dengan protein. Sebagian besar obat akan di distribusikan ke
dalam jaringan (± 92% dari dosis) dengan konsentrasi yang tertinggi di jumpai pada
hepar. Sekitar 1% dari dosis akan di ekskresi tanpa ada perubahan melalui urin.
Caspofungin di metabolisme di hepar dan metabolit yang tidak aktif akan dibuang
melalui empedu (35%) dan urin (40%). Waktu paruh di awali sekitar 9-11 jam dan
berakhir pada 40- 50 jam.

Dosis :
 Pada pasien aspergillosis dosis yang dianjurkan 70 mg pada hari pertama
dan 50 mg/hari untuk hari selanjutnya. Setiap dosis harus di infuskan dalam periode
1 jam. Pasien dengan kerusakan hepar sedang, di rekomendasikan dosis caspofungin
diturunkan menjadi 35 mg dan selanjutnya 70 mg loading dose.


Efek samping : Efek samping yang sering dijumpai yaitu demam, adanya ruam
pada kulit, mual dan muntah.

Interaksi obat
 Pemberian caspofungin bersama cyclosporin dapat meningkatkan


transaminase 2-3 kali lipat dari batas normal dan akan menurun apabila ke dua obat
tersebut dihentikan.

GOLONGAN ANTI JAMUR LAIN

6,7,9,30,38
1. FLUSITOSIN 


Flusitosin (5-fluorositosin) merupakan sintetis dari fluorinated pirimidin yang dapat


diberikan secara oral maupun parenteral.

Mekanisme kerja :
 Flusitosin masuk ke dalam sel jamur disebabkan kerja sitosin
permease, kemudian dirubah oleh sitosin deaminase menjadi 5-flourouracil yang
bergabung ke dalam RNA jamur sehingga mengakibatkan sintesis protein
terganggu. Flusitosin dapat juga menghambat thymidylate sinthetase yang
menyebabkan inhibisi sintesis DNA.

Aktifitas spectrum :
 Flusitosin mempunyai aktifitas spektrum yang terbatas,


efektif terhadap Candida spesies, Cryptococcus neoformans, Cladophialophora
carrionii, Fonsecaea spesies dan Phialophora verrucosa.

Farmakokinetik : Pemberian flusitosin secara oral absorbsinya cepat dan hampir
sempurna. Pada orang dewasa dengan fungsi ginjal yang normal, pemberian
flusitosin dosis 25 mg/kg BB dengan interval 6 jam, akan dicapai konsentrasi
puncak plasma 30-40 mg/L dan untuk pengulangan dosis berikutnya setiap 6 jam,
akan dicapai konsentrasi puncak plasma 70-80 mg/L.

Flusitosin terdistribusi secara luas terutama pada jaringan dan cairan melebihi 50%
konsentrasi darah. Flusitosin berikatan dengan protein rendah (sekitar 12%)
sehingga menyebabkan tingginya sirkulasi obat yang tidak berikatan. Lebih dari
90% flusitosin di ekskresi melalui urin tanpa mengalami perubahan.


Dosis : Pada orang dewasa dengan fungsi ginjal yang normal, pemberian flusitosin
diawali dengan dosis 50-150 mg/kg BB yang diberi dalam 4 dosis terbagi dengan
interval 6 jam namun jika terdapat gangguan ginjal pemberian flusitosin di awali
dengan dosis 25 mg/kg BB.

Efek samping :
 Efek samping yang sering di jumpai yaitu mual, muntah dan
diare. Trombositopenia dan leukopenia dapat terjadi jika konsentrasi darah
meninggi, menetap (>100 mg/L) dan dapat kembali normal jika obat di hentikan.
Peninggian level transaminase dapat juga dijumpai pada beberapa pasien tetapi
dapat kembali normal setelah obat dihentikan.

Interaksi obat :
 Efek anti jamur flusitosin dapat dihambat secara kompetitif oleh
sitarabin (sitosin arabinosid) sehingga pemberian flusitosin bersama sitarabin
merupakan kontra indikasi, oleh karena efek myelosupresif dan hepatotoksik
flusitosin dapat bertambah jika diberikan bersama dengan immunosupresif atau
sitostatik. Pemberian zidovudin bersama flusitosin harus hati-hati oleh karena dapat
menimbulkan efek myelosupresif. Kombinasi amphoterisin B dan flusitosin
mempunyai efek aditif atau sinergis terhadap Candida spesies dan Cryptococcus
neoformans namun efek nefrotoksik amphotericin B dapat berkurang ketika
flusitosin di ekskresi.

2-3,6-9,25-27
2. GRISEOFULVIN 


Griseofulvin merupakan antibiotik antijamur yang berasal dari spesies Penicilium


mold. Pertama kali diteliti digunakan sebagai anti jamur pada tumbuhan dan kemudian
diperkenalkan untuk pengobatan infeksi dermatofita pada hewan. Pada tahun 1959,
diketahui griseofulvin ternyata efektif untuk pengobatan infeksi jamur superfisial pada
manusia. Griseofulvin merupakan obat anti jamur yang pertama diberikan secara oral
untuk pengobatan dermatofitosis.

Mekanisme kerja : Griseofulvin merupakan obat anti jamur yang bersifat fungistatik,
berikatan dengan protein mikrotubular dan menghambat mitosis sel jamur.

Aktifitas spectrum :
 Griseofulvin mempunyai aktifitas spektrum yang terbatas


hanya untuk spesies Epidermophyton floccosum, Microsporum spesies dan
Trichophyton spesies, yang merupakan penyebab infeksi jamur pada kulit, rambut dan
kuku. Griseofulvin tidak efektif terhadap kandidosis kutaneus dan pitiriasis
versikolor.


Farmakokinetik : Pemberian griseofulvin secara oral dengan dosis 0,5 - 1 gr, akan
menghasilkan konsentrasi puncak plasma sebanyak 1 mikrogram / ml dalam waktu 4
jam dan level dalam darah bervariasi. Griseofulvin mempunyai waktu paruh di dalam
plasma lebih kurang 1 hari, dan ± 50 % dari dosis oral dapat di deteksi di dalam urin
dalam waktu 5 hari dan kebanyakan dalam bentuk metabolit.

Griseofulvin sangat sedikit diabsorpsi dalam keadaan perut kosong. Mengkonsumsi


griseofulvin bersama dengan makanan berkadar lemak tinggi, dapat meningkatkan
absorpsi mengakibatkan level griseofulvin dalam serum akan lebih tinggi. Ketika
diabsorpsi, griseofulvin pertama kali akan berikatan dengan serum albumin dan
distribusi di jaringan di ditentukan dengan plasma free concentration. Selanjutnya
menyebar melalui cairan transepidermal dan keringat dan akan dideposit di sel prekusor
keratin kulit (stratum korneum) dan terjadi ikatan yang kuat dan menetap. Lapisan
keratin yang terinfeksi, akan digantikan dengan lapisan keratin baru yang lebih resisten
terhadap serangan jamur. Pemberian griseofulvin secara oral akan mencapai stratum
korneum setelah 4 - 8 jam.

Griseofulvin di metabolisme di hepar menjadi 6 – desmethyl griseofulvin, dan akan di


ekskresikan melalui urin. Eliminasi waktu paruh 9-21 jam dan kurang dari 1% dari
dosis akan di jumpai pada urin tanpa perubahan bentuk.
 Dosis

Griseofulvin terdiri atas 2 bentuk yaitu mikrosize (mikrokristallin) dan ultramikrosize


(ultramikrokristallin). Bentuk ultramikrosize, penyerapannya pada saluran pencernaan
1,5 kali dibandingkan dengan bentuk mikrosize.

Pada saat ini, griseofulvin lebih sering digunakan untuk pengobatan tinea kapitis. Tinea
kapitis lebih sering dijumpai pada anak-anak disebabkan oleh Trychopyton tonsurans.

Dosis griseofulvin (pemberian secara oral) yaitu dewasa 500 -1000 mg / hari
(mikrosize) dosis tunggal atau terbagi dan 330 – 375 mg / hari (ultramikrosize) dosis
tunggal atau terbagi. Anak - anak ≥ 2 tahun 10 - 15 mg / kg BB / hari (mikrosize), dosis
tunggal atau terbagi dan 5,5 - 7,3 mg / kg BB / hari (ultramikrosize) dosis tunggal atau
terbagi. Lama pengobatan untuk tinea korporis dan kruris selama 2 - 4 minggu, untuk
tinea kapitis paling sedikit selama 4 - 6 minggu, untuk tinea pedis selama 4 - 8 minggu
dan untuk tinea unguium selama 3 - 6 bulan.


Efek samping : Efek samping griseofulvin biasanya ringan berupa sakit kepala, mual,
muntah dan sakit pada abodominal. Timbunya reaksi urtikaria dan erupsi kulit dapat
terjadi pada sebagian pasien.

Interaksi obat
 Absorbsi griseofulvin menurun jika diberikan bersama dengan


fenobarbital tetapi efek tersebut dapat di kurangi dengan cara mengkonsumsi
griseofulvin bersama makanan. Griseofulvin juga dapat menurunkan efektifitas
warfarin yang merupakan antikoagulan. Kegagalan kontrasepsi telah dilaporkan pada
pasien yang mengkonsumsi griseofulvin dan oral kontrasepsi.

KESIMPULAN

Pengobatan infeksi jamur baik yang superfisial maupun yang sistemik telah
mengalami perkembangan yang pesat. Obat anti jamur tersebut dapat diberikan dengan
cara topikal, sistemik maupun intravenous, yang terdiri dari golongan antibiotik,
antimetabolit, azol, alilamin / benzilamin dan golongan topikal yang lain. Pengetahuan
tentang farmakologi obat-obat anti jamur sangat diperlukan sehingga dapat dicapai
efektifitas pengobatan yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA

1. Nolting S, Fegeler K. Medical Mycology. Springer-Verlag Berlin Heidelberg, 1986 : 131-


62. 

2. Kuswadji, Widaty S.Obat anti jamur. Dalam : Budimulja U, Kuswadji, Bramono K editor.
Dermatomikosis superfisialis. Kelompok Studi Dermatomikosis Indonesia, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 2001 : 99-106. 

3. Smith EB. The treatment of dermatophytosis : Safety considerations. Journal of the
American Academy of Dermatology, November 2000, part 3, volume 43, number 5. 

4. Brennan B, Leyden JJ. Overview of topical therapy for common superficial fungal
infections and the role of new topical agents. Journal of the American Academy of
Dermatology, February 1997, part 1, volume 36, number 2. 

5. Weintein A, Berman B. Topical Treatment of Common Superficial Tinea Infection, May
15, 2002, volume 65, number 10. 

6. Richardson MD, Warnock DW. Anti fungal drugs. In : Fungal Infection Diagnosis and
Management, second edition, Blackwell Publishing Ltd , 1993 : 17-43.
Tripathi KD. Antifungal Drugs. In: Essentials of Medical Pharmacology, 4th edition,
7.
Jaypee Brothers Medical Publishers (P) LTD, 1999 : 770-78
8. Kwon-Chung KJ, Bennet JE. Priciples of Antifungal Therapy. In : Medical Mycology,
Philadelphia London, 1992 : 81-100. 

9. Jawetz E. Antifungal Agents. In : Katzung BG. Basic & Clinical Pharmacology, sixth
edition, Appleton & Lange, 1995 : 723-29. 

10. Hainer BI. Dermatophyte Infections. Practical Therapeutics, January 1, 2003, volume 67,
number 1. www.aafp.org. 

11. Ketoconazole (Topical). Medline Plus Drug Information. Available at
http://www.nlm.nih.gov/medline plus/druginfo.
12. Sulconazole (Topical). Medline Plus Drug Information. Available at
http://www.nlm.nih.gov/medline plus/druginfo.
13. Oxiconazole (Topical). Medline Plus Drug Information. Available at
http://www.nlm.nih.gov/medline plus/druginfo.
14. Terconazole. Ortho-McNeil Pharmaceutical INC, New Jersey, March 2001.
15. Tioconazole (Topical). Medline Plus Drug Information. Available at
http://www.nlm.nih.gov/medline plus/druginfo.
16. Sertaconazole. April 2004. Available at http:// www.vapbm.org. 

17. Naftin-Naftifin HCL 1% cream. Merz Pharmaceutical, 2004. 

18. Lamisil cream, Terbinafin hydrochloride. Available at 
 http://
www.Inhousepharmacy.com 

19. Adiguna MS. Pengobatan Dermatofitosis dengan Butenafin. MDVI Vol 28 No1, 
 Januari
2001. 

20. Nahm WK, Orengo I, Rosen T. The Antifungal agent Butenafine manifest anti-

 inflamatory activity in vivo. Journal of the American Academy of Dermatology,

 August 1999, part 1, volume 41, number 2. 

21. Lewis RE. Amorolfine. Available at

 http://www.doctorfungus.org/thedrugs/Amorolfine.htm. 

22. Bohn M, Kraemer KT. Dermatopharmacology of ciclopirox nail laquer topical 
 solution
8% in the treatment of onychomycosis. Journal of the American 
 Academy of
Dermatology, October 2000, volume 43, number 4. 

23. Adiguna MS. Onikomikosis dan pengobatannya dengan cat kuku siklopiroks. 
 Majalah
Kedokteran Indonesia, Volume 49, Nomor 7, Juli 1999. 

24. Shrum JP, Milikan LE. Oral Antifungal Therapy. In : Shalita AR, Norris DA.
25. Drug Therapy in Dermatology, 2000 : 79-97.
 26.Griseofulvin (Systemic). In : Medline
Plus drug Information. Available at
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/uspdi/202268.html.
26. Develoux M. Griseofulvin. E2 MED. Volume 128, No 12, December 2001. 

27. Como J, Dismuskes WE. Azole antifungal drugs. In : Dismukes W, Pappas PG, 
 Sobel
JD. Clinical Mycology. Oxford University Press, 2003 : 64-80. 

28. Guzzo CA, Lazarus GS, Werth VP. Dermatological Pharmacology. In : Goldman &
Gilman’s The Pharmacological Basis of Therapeutics, Ninth edition, Mc- 
 Graw-Hill,
1606-07. 

29. Al-Mohsen I, Hughes WT. Systemic antifungal therapy : past, present and future.

 Available at http://www.kfshrc.edu.sa/annals/181/97-129.html.
30. Leyden JJ. Pharmacokinetics and pharmacology of terbinafine and itraconazole. Journal of
the American Academy of Dermatology, May 1998, volume 38, 
 number 5. 

31. Elewski BE. Once-weekly fluconazole in the treatment of onychomycosis : Introduction.
Journal of the American Academy of Dermatology, June 1998, part 2, volume 38, number
6.
32. Fluconazole. In : AIDS info, December 1, 2003. Available at http://aidsinfo.nih.gov.
33. Bouyssou-Gauthier ML, Bonnethlanc JM. Pharmacology Terbinfine. E2MED. Volume
126, No 1, June 1999. 

34. Lewis RE. Terbinafine. Available at
http://www.doctorfungus.org/thedrugs/Terbinafine.htm. 

35. Gupta AK, Shear NH. Terbinafine : An update. Journal of the American Academy of
Dermatology, December 1997, volume 37, number 6.
36. Chapman SW, Cleary JD, Rogers PD. Amphotericin B. In : Dismukes W, Pappas PG,
Sobel JD. Clinical Mycology. Oxford University Press, 2003 : 33-45.
37. Larsen RA. Flucytosine. In : Dismukes W, Pappas PG, Sobel JD. Clinical Mycology.
Oxford University Press, 2003 : 59-61