Anda di halaman 1dari 34

IDENTITAS PASIEN

• Nama : An. MRA


• Jenis kelamin : Laki-laki

• TTL : Bandung, 16 Juli 2011


• Umur : 5 tahun 2 bulan
• Alamat : Jl. Cengkuang, Bandung

• Tgl masuk : 27 Agustus 2016


• Tgl pemeriksaan : 29 Agustus 2016
• Jam masuk : 22.00 WIB

IDENTITAS ORANGTUA PASIEN


Ibu
• Nama : Ny. T

• Umur : 36 tahun
• Pendidikan : SMA
• Pekerjaan : IRT

Ayah
• Nama : Tn. A
• Umur : 38 tahun
• Pendidikan : SMA

• Pekerjaan : Wiraswasta
ANAMNESIS

• Keluhan utama : Muntah

• Anamnesis khusus (alloanamnesis) :

Pasien datang dengan keluhan muntah muntah yang terjadi sejak 10 hari SMRS.
Muntah terjadi secara tiba-tiba sebanyak lebih dari 10 kali dan muntah terutama terjadi setelah
makan, jumlah muntahan tidak tahu dan berwarna bening. Keluhan muntah terjadi secara
menyemprot tanpa didahului oleh mual.

Orang tua pasien mengatakan keluhan disertai nyeri kepala sejak 3 bulan SMRS, terjadi
secara terus menerus terutama ketika pasien ingin menggerakan kepalanya, tidak ada
penurunan kesadaran yang lama, menjadi sering mengantuk, lebih banyak tidur dan terlihat
lemas karena pasien tidak mau makan dan minum. Pasien menjadi lebih rewel sejak 3 hari
SMRS. Keluhan juga disertai demam sejak 10 hari SMRS, hilang timbul, meningkat terutama
pada malam hari. Suhu paling tinggi diukur dengan termometer sekitar 37,9 derajat Celcius
dan suhu terendah 37,6 derajat Celcius. Keluhan juga disertai adanya batuk berdahak sejak 2
hari SMRS, hilang timbul dan berwarna kuning. Keluhan demam tanpa disertai nyeri pada
telinga, keluar cairan dari telinga. Keluhan demam juga tanpa disertai adanya pilek, dan sesak
napas. Orang tua pasien mengatakan terjadi penurunan berat badan sekitar 10 kg sejak 3 bulan
SMRS. Pasien mengatakan bahwa tidak ada riwayat batuk lebih dari 3 minggu. Pasien
menyangkal adanya demam lebih dari 2 minggu. Pasien menyangkal pernah kontak dengan
pasien TB, tidak ada penghuni rumah yang sedang pengobatan selama 6 bulan. Disekitar
rumahpun tidak ada orang dewasa yang mengalami batuk lama lebih dari 3 minggu. Nyeri
kepala sejak 3 bulan SMRS, pasien panas sejak 10 hari SMRS, penurunan berat badan selama
3 bulan, muntah proyektil, subfebris, sekarang ada batuk 2 hari SMRS.

Pasien juga menyangkal pernah terbentur dibagian kepala. Pasien menyangkal


adanya pusing berputar. Pasien menyangkal adanya nyeri dibagian perut. Pasien menyangkal
adanya penurunan kesadaran disertai adanya gemetaran pada pasien. Pasien menyangkal
adanya BAB yang mencret ≥3 kali dalam sehari. Pasien menyangkal adanya muntah
bercampur darah, BAB berdarah. Pasien menyangkal warna kulit berubah menjadi lebih
kuning, pipis berwarna seperti teh dan feses berwarna seperti dempul. Pasien menyangkal
kepala pasien lebih besar dibandingkan dengan kepala pada anak seusianya. Pasien
menyangkal adanya kelemahan di anggota gerak badan.

Pasien tinggal dilingkungan yang padat penduduk dengan ventilasi kurang baik dan
cahaya matahari hanya masuk dipagi hari. Pasien sebelumnya dibawa ke klinik dokter umum
karena keluhan nyeri kepala, muntah dan demam, kemudian mendapatkan obat penurun panas,
dan anti muntah, namun tidak ada perbaikan, sehingga orang tua pasien membawa ke IGD di
RSMB dan dianjurkan untuk dirawat. Saat ini Pasien dalam perawatan hari ke 4 di RSMB.
Sudah diberi cairan lewat jalur infus, diberi obat penurun panas badan (paracetamol), anti
muntah, antibiotik, dan OAT. Setelah minum obat penurun panas badan, keluhan panas badan
tidak dikeluhkan kembali, muntah tidak dikeluhkan kembali, nafsu makan sudah baik, tetapi
masih mengeluhkan nyeri kepala.

TIMELINE

3 bulan SMRS :Nyeri kepala

17/8/2016 : Muntah >10x/hari dan demam

Sabtu 18/8/2016 : Berobat ke dokter umum

Sabtu 18/8/2016 : Demam (-), masih tetap muntah >10x/hari timbul batuk (+)

Sabtu 25/8/2016, Jam 22.00 :Dibawa ke IGD RSMB dan disarankan untuk dirawat

RIWAYAT PENYAKIT TERDAHULU

Pasien pernah mengalami gejala types sejak 4 bulan yang lalu bulan dan dirawat sebanyak
2x selama 5 hari.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama seperti pasien saat ini.
RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN

Saat hamil ibu pasien selalu kontrol ke bidan dan mengkonsumsi vitamin yang diberikan
oleh bidan. Ibu pasien mengatakan tidak pernah sakit selama kehamilan. Tidak pernah
mengkonsumsi obat lain selain dari bidan.

Pasien merupakan anak pertama yang lahir dari ibu P2A0 yang merasa hamil 38 minggu
dengan letak kepala ditolong oleh bidan. Bayi lahir dengan berat lahir 3300 gram dan panjang
badan 48 cm. Bayi langsung menangis saat dilahirkan, tidak ada kuning maupun kebiruan. Tidak
ada penyulit ketika proses persalinan.

RIWAYAT NUTRISI

• 0 - 6 bulan : ASI ekslusif

• 6 - 12 bulan : ASI + bubur susu + susu formula

• 1 - 24 bulan : ASI + bubur nasi + susu formula

• 2 tahun - saat ini : Menu keluarga

RIWAYAT TUMBUH KEMBANG

Orang tua sudah lupa kapan anaknya mencapai tahapan-tahapan perkembanganya, tetapi
menurut ibunya perkembangan pasien sesuai usia dan sama dengan teman sebayanya.

Saat ini pasien duduk di taman kanak-kanak. Ibu pasien tidak mengetahui apakah ada
kesulitan dalam belajar di sekolah, karena baru beberapa hari sekolah sudah sakit. Pasien juga
merupakan anak yang aktif bermain dengan teman sebayanya dirumah.
RIWAYAT IMUNISASI

DASAR
BCG 1 bulan Di Bidan
Hepatitis B 7 hari/2/3/4 bulan Di Bidan
Polio 1/2/3/4 Di Bidan
DPT 2/3/4 Di Bidan
Campak 9 Di Bidan

Pasien di imunisasi lengkap di bidan hingga usia 9 bulan.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Pasien sebelumnya pernah dirawat di Rumah Sakit karena kuning selama 15 hari. Ibu
Pasien Mengatakan bahwa Pasien pernah mengalami keluar cairan dari telinga kiri kemudian
diobati dan keluhannya hilang. Keluhan tersebut muncul ketika pasien berusia 4 bulan tapi pada
sat ini keuhan tersebut tidak ada.

SOSIAL, EKONOMI, DAN LINGKUNGAN

Pasien lahir di keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Hingga saat ini penghasilan
cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan kebutuhan sekolah kakak pasien. Ibu
Pasien Mengatakan bahwa ventilasi dirumahnya kurang baik, dan sinar matahari tidak masuk
kedalam rumah kecuali dipagi hari.
PEMERIKSAAN FISIK

• Keadaan umum : Tampak sakit sedang


• Kesadaran : Kompos mentis PCS 15 (E4 M5 V6)
• Tanda vital
• Tekanan darah : 90/60 mmHg
• Nadi : 90 x/menit
• Respirasi : 22 x/menit
• Suhu : 36,60 C
• Antropometri
• BB : 15 kg
• TB : 113 cm
• Status gizi
• BB/U : diantara (-1) – (-2) SD
• TB/U : diantara 0 – 1 SD
• BMI/U : digaris -3
• Kesimpulan : KEP sedang

• Kulit : makulopapular eritem (-), vesikel (-), ptekie (-) at


• Kepala
• Bentuk : normocephal
• Wajah : simetris, deformitas (-)
• Rambut : hitam halus, tidak mudah rontok
• Mata : konjungtiva anemis -/-, skelra ikterik -/-, pupil bulat isokor, refleks
cahaya +/+,
• Telinga : bentuk normal, simetris, sekret (-), membran
timpani intak.
• Hidung : bentuk normal, sekret (-), pch (-),
• Mulut
• Bibir : tampak kemerahan dan kering
• Gigi : tidak ada caries dentis
• Gusi : tampak kemerahan, perdarahan (-)
• Lidah : tidak kering, bercak putih ditengah lidah (-)
• Faring : hiperemis (-)
• Tonsil : T1/T1 tidak hiperemis
• Leher

KGB : tidak terdapat pembesaran


Tiroid : tidak teraba
• Thoraks
• Inspeksi : pergerakan simetris, retraksi intercostal (-)
• Palpasi : focal fremitus hantaran sama ka=ki
• Auskultasi :
• Cor : S1 S2 murni regular, murmur (-), gallop (-)
• Pulmo : VBS ka=ki, wheezing (-/-), rhonki (+/+)
• Perkusi : sonor, tidak ada pembesaran jantung

• Abdomen
• Inspeksi : Datar
• Auskultasi : Bising usus (+)
• Palpasi : lembut, nyeri tekan epigastrium (-)
• Hepar : 3 cm dibawah arcus costae
• Spleen : tidak ada pembesaran
• Perkusi : timpanik, PS/PP : -/-
• Genital : tidak dilakukan
• Ekstremitas :
 Deformitas (-)
 Sianosis perifer (-)
 Akral hangat
 CRT < 2 detik
 Clonus : (+)
 Tonus : normotonus
 ROM : kesan motorik 5 5
55
Status Neurologi :
• Rangsang Meningeal
• Kaku kuduk : (+)
• Brudzinski I : kanan & kiri (+)
• Brudzinski II : kanan & kiri (+)
• Brudzinski III : kanan & kiri (+)
• Laseque : terbatas
• Kernig : terbatas
• Pemeriksaan Saraf Otak : tidak dapat dilakukan
• Refleks

Patologis

Babinski + +

Chaddock + +

Oppenheim - -

Gordon - -

Schaefer - -
RESUME
Pasien laki-laki berusia 5 tahun 2 bulan dengan status gizi KEP sedang, datang dengan
keluhan demam dengan muntah proyektil sejak 10 hari SMRS. Keluhan disertai headache seperti
ditusuk-tusuk, subfebris dengan tipe intermiten, batuk sejak 2 hari yang lalu, malaise dan irritable.
Keluhan disertai penurunan berat badan 10 kg sejak 3 bulan SMRS. Keluhan tidak disertai kejang,
penurunan kesadaran yang lama. Pasien baru mendapatkan OAT selama 1 hari perawatan.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, dengan kesadaran
kompos mentis (PCS 15). Ditemukan dari tanda-tanda vital afebris dengan tanda vital lainya dalam
batas normal. Pada pemeriksaan thorax, ronkhi (+/+), abdomen ditemukan tanda hepatomegali,
pemeriksaan reflex fisiologis, reflex KPR dan achiless terdapat hypereflex di ekstremitas bawah
bagian kanan. Ditemukan tanda meningeal, reflex patologis, dan hyperefleks. Pemeriksaan saraf
kranial tidak dapat dilakukan. Pemeriksaan fisik lainnya dalam batas normal.

DIAGNOSIS BANDING
• Meningitis TB Stadium I + Bronkopneumonia ec Streptococcus Pneumonia + KEP Sedang
• Meningitis bakterialis ec Streptococcus Pneumonia + Bronkopneumonia ec Streptococcus
Pneumonia + KEP Sedang
• Meningitis bakterialis ec Haemophilus Influenza type B + Bronkopneumonia ec
Haemophilus Influenza type B + KEP Sedang

USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


• Hematologi rutin (hb, ht, trombosit, leukosit)
• Hitung jenis leukosit
• SGOT/SGPT
• Lumbal pungsi
• Tes Mantoux
• Foto Thorax

Hasil Pemeriksaan Laboratorium


Tanggal 27 Agustus 2016
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan

HEMATOLOGI

Hb 711,6 10,5-12,9 Gr/dl

Ht 35 Pria 32-39 %

Leukosit 14.800 4000-10000 Sel/mm³

Trombosit 693.000 150.000-400.000 Sel/mm³

Tanggal 28 Agustus 2016

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

AST/SGOT 21 37
SGPT 9 41

Fungsi Hati
Tanggal 28 Agustus 2016
Jenis
Hasil Satuan
Pemeriksaan
Analisis
Cairan Otak
Glukosa 66 mg/dl
Protein 83,86 mg/dl
Jumlah Sel 10 Sel/mm³
Hitung Jenis
Sel

MN 10 %
PMN 90 %

Nonne Positif Negatif

Pandy Positif Negatif

Hasil Foto Thoraks

Cor dan Diafragma Normal, sinus-sinus terbuka


Pulmo : Hilus kanan dengan noda-noda, parakardial kanan garis-garis dan noda-noda granuler
Kesan : DD: - Pernah KP
- Gambaran bronkitis

DIAGNOSIS KERJA
• Meningitis TB Stadium I + Bronkopneumonia ec Streptococcus Pneumonia + KEP Sedang

USUAN PENATALAKSANAAN
Terapi Umum
 Edukasi : Kemungkinan penyebab penyakitnya & pemeriksaan yang harus dilakukan untuk
menegakan diagnosis
 Rawat inap dan tirah baring

 Nutrisi :

 EER = 1369 Kkal Energi = 1825 Kkal/hari

 Protein = 14.25 Kkal  19 gr/hari

 Sediaan makanan berprotein tinggi

Terapi Khusus
Khusus :
 Terapi cairan : kecepatan pemberian 5mL/kgBB/jam
RL 5cc / kg/ jam = 75 ml/Jam  25 gtt/menit (makro drip)
 Pemberian O2 2 Liter/menit via nasal canul
 Ampisilin : 50 mg/kgBB/hari dosis IV = 750 mg/hari dosis IV
 Obat Antituberkolosis 2HRZ + 4 HR
 Isoniazid 5-15 mg/kgBB/hari = 75 mg – 225 mg/hari
 Rifampisin 10-20 mg/kgBB/hari = 150 mg – 300 mg/hari
 Pirazinamid 30-40 mg/kgBB/hari = 450 mg – 600 mg/hari
 Etambutol 15-20 mg/kgBB/hari = 225 mg – 300 mg/hari
 Pro konsul dr. Spesialis gizi.

PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
FOLLOW UP
TANGGAL S O A P
Demam sejak
10 hari SMRS,
pusing terus Ku: sakit sedang, CM
Ka-en IB 10 gtt/mikro
menerus sejak TD : 100/70 mmgHg
Bacterial PCT syr 3x1,5 cc
3 bulan yang N : 90
27/8/2016 infection + Cefotaxime 3x750 mg/IV
lalu, mual (+), RR: 24x/menit
vomitus Ondansentron 2x1,5
muntah (+) S: 36,4 C
mg/IV
>10x/hari, Kaku kuduk (+)
rewel, masih
terlihat lemas
Cefotaxime stop
Demam (+),
Ceftriakson 1x1,5 mg/IV
muntah (-), Ku: sakit sedang, CM
FDC RHZ 1xIII
nyeri kepala TD : 90/60 mmgHg Suspek
Etambutol 1x250mg
(+), rewel, N : 90 Meningitis
28/8/2016 Deksametason 4x2,5
nafsu makan RR: 22x/menit Mixed
mg/IV
sudah bagus, S: 36,6 C Type
Rencana LP
masih terlihat Kaku kuduk (+)
Foto rontgen thorax
lemas
Cek SGOT/SGPT
Demam (-),
muntah (-),
29/8/2016
nyeri kepala Ku: sakit sedang, CM
Th/ lanjutkan
(+), rewel, TD : 90/60 mmgHg
Meningitis
nafsu makan N : 88
mixed type
sudah bagus, RR: 22x/menit
masih terlihat S: 36,6 C
lemas Kaku kuduk (+)

Demam (-), Ku: sakit sedang, CM Meningitis Th/ lanjutkan


30/8/2016
muntah (-), TD : 90/60 mmgHg mixed type
nyeri kepala N : 84
(+), rewel, RR: 22x/menit
nafsu makan S: 36,6 C
sudah bagus, Kaku kuduk (+)
masih terlihat
lemas

Demam (-),
muntah (-),
nyeri kepala
(+), rewel,
Ku: sakit sedang, CM
nafsu makan Th/ lanjutkan
TD : 90/60 mmgHg
sudah bagus, Meningitis
N : 88
31/8/2016 masih terlihat mixed type
RR: 22x/menit
lemas
S: 36,6 C
Kaku kuduk (+)

PEMBAHASAN
MENINGITIS TUBERKULOSIS
Definisi
Merupakan radang selaput otak yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.

Manifestasi Klinis
1. Stadium Awal (Stadium 1)
Didominasi oleh gejala gastrointestinal, tidak terlihat manifestasi neurologis, berlangsung
± 2 minggu. Pada anak dapat apatis atau irritable dengan sakit kepala yang hilang muncul,
kenaikan suhu yang ringan, anoreksi, mual dan muntah. Khususnya pada bayi, kejang demam
merupakan gejala yang paling menonjol pada stadium ini.
2. Stadium II
Anak terlihat mengantuk dan mengalami disorientasi dengan tanda iritasi meningen.
Refleks fisiologis meningkat, reflex abdominal menghilang dan klonus. Djumpai keterlibatan saraf
kranial III, VI dan VII.
3. Stadium III
Anak dapat dalam keadaan koma atau terdapat periode yang hilang muncul dari penurunan
kesadaran. Refleks cahaya pupil. Dapat ditemukan spasme klonik rekuren dari ekstremitas dan
pernapasan ireguler dan demam tinggi. Hidrosefalus terjadi pada 2/3 penderita yang infeksinya
sudah berjalan >3 bulan dan tidak diterapi secara adekuat.
• “Pada pasien ini termasuk stadium awal (stadium I), dilihat dari gejala yang didominasi
gejala gastrointestinal yaitu muntah. Ada keluhan nyeri kepala, pasien menjadi irritable
dan kenaikan suhun yang ringan.”

Diagnosis
Anamnesis
• Riwayat demam yang lama/kronis, dapat pula berlangsung akut
• Kejang, deskripsi kejang (jenis, lama, frekuaensi, interval) kesadaran setelah kejang
• Penurunan kesadaran
• Penurunan (BB), anoreksia, muntah, sering batuk dan pilek
• Riwayat kontak dengan pasien tuberkulosis dewasa
• Riwayat imunisasi BCG

Presentasi Manifestasi Klinis

Manifestasi Klinis Presentase (%)

Gejala

Sakit kepala 50-80

Demam 60-95

Muntah 30-60

Fotofobia 5-10

Anoreksia/BB ↓ 60-80

Pemeriksaan Presentase
Neurologis

Kaku kuduk 40-80

Kesadaran ↓ 10-30
(confusion)

Koma 30-60

Paresis saraf kranial 30-50

III 5-15

VI 30-40

VII 10-20
Hemiparesis 10-20

Paraparesis 5-10

Kejang 50

Pemeriksaan Penunjang
 Darah perifer lengkap, LED dan gula darah. Leukosit darah tepi sering meningkat (10.000 –
20.000 sel/mm3).
 Pungsi lumbal :
 LCS jernih, claudy atau santokrom
 Jumlah sel meningkat antara 10-250 sel/mm3
 Protein meningkat diatas 100 mg/dl sedangkan glukosa menurun dibawah 35 mg/dl, rasio
glukosa LCS dan darah dibawah normal
 Pemeriksaan BTA dan kultur M.Tbc tetap dilakukan
 Jika hasil pemeriksaan LCS yang pertama meragukan, pungsi lumbal ulangan dapat
memeperkuat diagnosis dengan interval 2 minggu.
 CT San atau MRI dapat menunjukan lesi parenkim pada daerah basal otak, infark, tuberkuloma
maupun hidrosefalus. Pemeriksaan ini dilakukan bila ada indikasi, terutama jika dicurigai
terdapat komplikasi hidrosefalus.
 Foto rontgen dada dapat menunjukan gambaran penyakit tuberkulosis
 Uji tuberkulin dapat mendukung diagnosis

Pemeriksaan Cairan Serebrospinal

Cairan Serebrospinal

Kejernihan (%) 80-90

Jumlah sel (sel/mm3) 10-500

Jumlah Leukosit

Neutrofil (%) 10-70


Limfosit (%) 30-90

Protein (g/L) 0,45-3

Rasio glukosa cairan < 0,5


serebrospinal : darah

Tatalaksana
Medikamentosa
• Sesuai dengan rekomendasi American Academy of Pediatrics 1994, yakni pemberian 4
macam obat selama 2 bulan dilanjutkan dengan pemberian INH dan Rifampisin selama 10
bulan.
• Dosis obat antituberkolosis :
1. INH 10-20 mg/kg BB/hari, dosis maksimal 300 mg/hari
2. Rifampisisn 10-20 mg/kgBB/hari, dosis maksimal 600 mg/hari
3. Pirazinamid 15-30mg/kgBB/hari, dosis maksimal 2000 mg/hari
4. Etambutol 15-20 mg/kgBB/hari, dosis maksimal 1000 mg/hari atau streptomisin IM
20-30 mg/kg/hari dengan maksimal 1 gram/hari
 Tatalaksana TTIK:
 Mengurangi edema serebri
 Manitol 20% 0,5-1 g/kgBB IV selama 10-30 menit tiap 4-6 jam
 Mempertahankan fungsi metabolik otak
 Mempertahankan kadar elektrolit pada keadaan normal
 Menghindari peningkatan tekanan intracranial
 Posisi penderita dipertahankan setengah duduk dengan mengangkat kepala
setinggi 20-30 derajar dan dalam posisi netral
 Indikasi operasi
 Hidrosefalus (untuk mengatasi hidrosefalus dilakukan ventriculo-peritoneal
shunt/VP shunt)
 TB vertebra yang menyebabkan paraparesis
Penyulit
 Hidrosefalus
 Infark pembuluh darah
 Hiponatremia (akibat SIADH)

Prognosis
 Stadium II : 25% mengalami gejala sisa
 Ditentukan dari stadium meningitis saat masuk ke RS dan penyulit yang terjadi
 Akan ditemukan klasifikasi intracranial pada ½ penderita yang sembuh

BRONKOPNEUMONIA
Definisi
Pneumonia adalah radang paru dengan konsolidasi (proses ketika paru menjadi keras
karena radang, udara terisi dengan eksudat. Pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru yang
meliputi alveolus dan jaringan interstitial.

Epidemiologi
Penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak usia kurang dari 5 tahun di seluruh
dunia, terutama di negara berkembang. Pneumonia merupakan penyebab kesakitan dan kematian
pada anak-anak usia <5 tahun. Biasanya mengenai anak pada usia 4 bulan – 5 tahun. Haemophilus
Influenza type B menjadi penyebab utama pneumonia yang disebabkan oleh bakteri sehingga pada
anak dilakukan vaksin rutin. Penyebab kematian anak 20% disebabkan oleh pneumonia dan angka
kejadian di Afrika dan Asia Tenggara sebanyak 70%. Angka kejadian biasanya lebih sering di
negara berkembang dan Indonesia menduduki peringkat keenam. Vaksin yang dilakukan rutin
berdampak baik pada angka kejadian pneumonia di US, insidensi menurun pada infant dan anak
di United States. Usia 1 tahun kehidupan terjadi penurunan kejadian pneumonia yaitu 30%, pada
2 tahun kehidupan menurun sebanyak 20%, dan lebih dari 2 tahun kehidupan penurunnya hanya
10%.

Etiologi
Penyebab dari pneumonia yaitu bakteri, virus, mikobakterium, dan jamur. Bakteri adalah
penyebab utama untuk pneumonia di negara berkembang, taitu Streptoccus pneumonia (30-50%),
Haemophilus influenza type b (Hib), Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumonia. Tetapi
berbeda dengan negara maju, di negara maju penyebab utamanya adalah virus yaitu RSV sebanyak
15-40%, Virus Influenza A dan B, Parainfluenza, Human metopneumovirus, Adenovirus.
Di negara industry, epidemic RSV danatau influenza koinsidensi dengan epidemic S.
Pneumonia. Di negara berkembang, infeksi virus sering disertai infeksi sekunder. Selain itu juga
usia menjadi predictor yang baik untuk memperkirakan pathogen penyebab pneumonia.
- Virus penyebab utama pneumonia pada anak usia lebih muda (<2 tahun)
- Bakteri penyebab sebagian besar pneumonia pada anak besar

Table. Penyebab Utama Pneumonia yang Didapat di Masyarakat pada Anak berdasarkan
Usia
Usia Penyebab Tersering Penyebab jarang
Bakteri
Bakteri Organisme
Escherichia coli Group B streptococci
0-20 hari
Group B streptococci Haemophillus influenza
Listeria monocytogenes Streptococcus pneumonia
Ureaplama urealyticum
Bakteri
Bakteri Bordetella pertussis
Chlammydia trachomatis H. Influenzae tipe B dan non-
S. pneumonia Typeable
Virus Moraxella catarrhalis
3 minggu – 3 bulan
Adenovirus Staphylococcus aureus
Influenza virus U. urealyticum
Parainfluenza virus 1,2, 3
Respiratory syncytial virus Virus
Cytomegalovirus
Bakteri
Chlammydia trachomatis Bakteri
Mycoplasma pneumonia H. influenza tipe B
S. pneumonia M. catarrhalis
Virus Mycobacterium tuberculosis
4 bulan – 5 tahun
Adenovirus Neisseria meningitis
Influenza virus S. aureus
Parainfluenza virus Virus
Rhinovirus Varicella-zoster virus
Repiratory syncytial virus
Bakteri
H. Influenza
Legionella species
M. tuberculosis
S. aureus
Bakteri
Virus
C. pneumonia
6 tahun – 18 tahun Adenovirus
M. pneumonia
Epstein-Barr virus
S. Pneumonia
Influena virus
Parainfluenza virus
Rhinovirus
Respiratory syncytial virus
Varicella-zoster virus
Patogen yang Menyebabkan Pneumonia Berdasarkan Umur

Dikutip dari: Sectish TC, Prober CG. Nelson Textbook of Pediatrics. Pediatrics. 18t ed. 2007.

Etiologi yang memungkinkan pada pasien ini adalah Streptococcus pneumonia,


dikarenakan secara epidemiologi bakteri Streptococcus pneumonia merupakan etiologi
paling sering pada kasus pneumonia.

Faktor risiko
Beberapa factor meningkatkan risiko kejadian dan derajat pneumonia antara lain defek
anatomi bawaan, deficit imunologi, aspirasi, gizi buruk, malnutrisi, berat badan lahir rendah
(BBLR), tidak mendapat ASI eksklusif, tidak mendapat imunisasi campak, ada saudara serumah
yang menderita batuk, polusi udara dalam rumah dan kepadatan hunian.
“Pada pasien ini yang menjadi faktor risiko adalah polusi udara dalam rumah dan
sekitarnya serta kepadatan hunian.”
Klasifikasi
1. Berdasarkan klinis dan epideologis :
a. Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia)
b. Pneumonia nosokomial (hospital-acqiured pneumonia / nosocomial pneumonia)
c. Pneumonia aspirasi
d. Pneumonia pada penderita Immunocompromised pembagian ini penting untuk
memudahkan penatalaksanaan.
2. Berdasarkan bakteri penyebab
a. Pneumonia bakterial / tipikal. Dapat terjadi pada semua usia. Beberapa bakteri mempunyai
tendensi menyerang sesorang yang peka, misalnya Klebsiella pada penderita alkoholik,
Staphyllococcus pada penderita pasca infeksi influenza.
b. Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia
c. Pneumonia virus
d. Pneumonia jamur sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama pada penderita
dengan daya tahan lemah (immunocompromised)
3. Berdasarkan predileksi infeksi
a. Pneumonia lobaris. Sering pada pneumania bakterial, jarang pada bayi dan orang tua.
Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen kemungkinan sekunder disebabkan
oleh obstruksi bronkus misalnya : pada aspirasi benda asing atau proses keganasan
b. Bronkopneumonia. Ditandai dengan bercak-bercak infiltrat pada lapangan paru. Dapat
disebabkan oleh bakteria maupun virus. Sering pada bayi dan orang tua. Jarang
dihubungkan dengan obstruksi bronkus
c. Pneumonia interstisial
4. Klasifikasi berdasarkan MTBS
a. Pneumonia sangat berat : Sianosis sentral dan tidak dapat minum
b. Pneumonia berat : Tarikan dada dalam, tidak sianosis, dapat minum
c. Pneumonia : Tidak ada tarikan dada dalam, nafas cepat
d. Bukan pneumonia : Tidak aada tarikan dada dalam, tidak ada nafas cepat
5. Klasifikasi derajat berat menurut WHO
Menurut WHO derajat brat pneumonia pada anak usia 2 bulan sampai 5 tahun seperti table
dibawah ini:
Gambaran klinis Berat penyakit
Batuk atau kesulitan bernapas dengan:
Saturasi Oksigen < 90% atau sianosis sentral
Distress saluran respiratori berat (tarikan dinding dada
Pneumonia sangat berat
bagian bawah berat, grunting)
tanda pneumonia disertai tanda bahaya (tidak dapat
minum, penurunan kesadaran, kejang)
Tarikan dinding dada bagian bawah Pneumonia berat
Napas cepat:
≥50x/menit pada anak usia 2-11 bulan Pneumonia
≥40x/menit pada anak usia 1-5 tahun
Bukan pneumonia; batuk atau
Tidak ada tanda pneumonia atau pneumonia sangat berat
“flu”
““Jenis pneumonia pada pasien ini merupakan bronkopneumonia yang disebabkan oleh
bakteri yang kemungkinan berasal dari polusi lingkungan sekitar dan kepadatan hunian.”

Patogenesis

Pada kondisi normal saluran pernafasan bawah merupakan area yang selalu steril karena
terdapat sistem pertahanan, yakni adanya mucociliary clearence, disekresikannya
Immunoglobulin A (IgA) dan membersihkan udara dengan cara batuk. Mekanisme lainnya yaitu
didalam paru terdapat makrofag yang ada di alveoli dan bronchiol. Sistem pertahanan ini nantinya
akan membatasi atau mencegah patogen invasi kedalam paru-paru.

Ketika terdapat bakteri menginfeksi kedalam sistem pernafasan yaitu kedalam alveoli
maka akan menyebabkam reaksi inflamasi di alveoli dengan adanya infiltrasi sel-sel radang.
Pertahanan awalnya nanti akan terjadi fagositosis yang akan mengelilingi dan menghancurkan
bakteri yang menginfeksinya, yang kemudiaan akan terbentuk zona-zona. Tapi tidak semua jenis
bakteri cara merusaknya sama. Misalnya pada Mycoplasma pneumoniae, jenis bakteri ini akan
menempel pada epitel pernafasan, menghambat peran silia yang kemudian akan meusak sel dan
terjadilah respon inflamasi pada submukosa. Pada Streptococcus pneumonia akan menghasilkan
edema lokal yang kemudian akan membantu proliferasinya organisme tersebut yang kemudian
meluas kebagian paru-paru lainnya.

Pneumonia yang disebabkan oleh virus biasanya dihasilkan dari infeksi pernafasan yang
menyebar disepanjang saluran pernafasan, disertai dengan adanya jejas di lapisan epitel pada
saluran pernafasan. Adanya edema, sekresi yang tidak normal semuanya ini akan memperparah
infeksinya. Terjadinya atelektasis, edema interstitial dan tidak seimbangnya ventilasi-perfusi akan
menyebabkan hipoksemia. Infeksi virus pada saluran pernafasan juga dapat menjadi predisposisi
infeksi sekunder dengan mengganggu mekanisme pertahanan, mengubah sekresi dengan
memodifikasi flora normal bakteri.

Patofisiologi

Makrofag dengan protein lokal yaitu surfaktan A dan D yang memiliki sifat opsonisasi,
antibakteri dan antivirus akan menghancurkan bakteri dengan cara fagositosis. Tapi pada saat
makrofag tidak mampu menghancurkan bakteri tersebut makan akan terjadi respon inflamasi untuk
memperkuat sistem pertahanan tubuh. Respon inflamasinya berupa dilepaskannya mediator
inflamasi yaitu interleukin-1 (IL-1), Tumor Necrosis Factor (TNF) yang akan menyebabkan
demam. Selain itu juga ada IL-8, granulosit colony-stimulating factor yang akan merangsang
pelepasan neutrofil, menyebabkan leukositosis dan meningkatkan sekresi purulent. Adanya
pelepasan makrofag dan direkrutnya neutrofil akan mengakibatkan kapiler menjadi bocor yang
sifatnya terlokalisasi. Sehingga sel darah merah dapat keluar dari pembuluh darah kemudian akan
menuju alveoli yang kemudian akan membentuk zona red hepatisasi.

Terjadi juga ekstravasasi cairan ke interstitial yang mengakibatkan edema sehingga pada
pasien akan terasa sesak, terjadi retraksi dinding dada, respiratory rate meningkat dan adanya
pernafasan cuping hidung. Pada gambaran radiologinya akan ada gambaran infiltrasi, pada
pemeriksaan auskultasi akan terdengar suara rales. Selain itu juga pada pneumonia akan terjadi
batuk-batuk dikarenakan terdapat sputum yang banyak.

Manifestasi klinis
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pneumonia yang disebabkan oleh virus akan terjadi
demam yang lebih tinggi dibandingkan pneumonia yang disebabkan oleh bakteri. Selain itu juga
akan timbul rhinitis, batuk, takipnea, retraksi dinding dada, pernafasan cuping hidung dan saat
bernafas menggunankan otot-otot aksesori. Saat dilakukannya auskultasi akan didapatkan suara
wheezing tersebar di lapang paru dan ada ronki yang terjadi di lapang paru yang terkena. Biasanya
pada bayi gejala dan tandanya akan terjadi penurunan nafsu makan, demam yang terjadi tiba-tiba,
gelisah, gangguan pernafasan, pernafasan cuping hidung, retraksi supraklavikula, intercostal,
subcostal, takipnea, takikardi, kekurangan udara dan sering terjadi sianosis.
Sebagian besar pneumonia pada anak menunjukkan gambaran klinis yang ringan sampai
sedang sehingga dapat berobat jalan saja. Hanya sebagian ank kecil anak mengalami pneumonia
berat yang mengancam kehidupan dan mungkin terdapat komplikasi, sehingga memerlukan
perawatan di rumah sakit. Gambaran klinis pada pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada
berat ringan infeksi.
Gejala infeksi umum adalah demam, sakit kepala, gelisah, malaise, nafsu makan menurun,
keluhan gastrointestinal seperti mual muntah atau diare, malnutrisi berat dan demam jarang terjadi.
Selain itu juga terdapat gejala gangguan respiratori yaitu batuk sesak napas, retraksi dinding dada,
takipnea, napas cuping hidung, air hunger, merintih dan sianosis. Gambaran klinik pneumonia
pada anak dengan malnutrisi berat kurang spesifk dan dapat tumpang tindih dengan sepsis.
Pneumonia bacterial harus dipertimbangkan pada anak usia < 3 tahun yang mengalami
panas bada > 38.5 ˚C disertai dengan dinding dada dan frekunsi nafas >50x/menit. Pneumonia
yang disebabkan pneumococcus spp. Biasanya diawali dengan demam dan napas cepat. Gejala
lain yang umum dtemukan adalah kesukaran bernaps, retraksi dinding dada, dan anak tampak tidak
sehat (unwell appearance). Pneumonia yang disebabkan staphylococcus spp. Mempunyai gejala
yang sama degan pneumonia yang disebabkan pneumococcus, sering ditemukan pada bayi, tetapi
dapat ditemukan pada anak yang lebih besar sebagai komplikasi dari influenza. Pneumonia yang
disebabkan Mycoplasma spp.harus dicurgai pada anak usia sekolah yang menunjukkan gejala
demam, nyeri sendi, sakit kepala dan batuk.
“Pada pasien ini untuk manifestasinya sesuai dengan pneumonia, seperti demam,
gelisah, malaise, nafsu makan menurun, muntah, batuk.

Diagnosis
- Anamnesis
Dari anamnesis akan didaptakan bahwa ada demam, batuk, gelisah, rewel dan sesak napas.
Pada bayi gejala tidak khas sering kali tanpa demam dan batuk. Pada anak besar kadang mengeluh
nyeri kepala, nyeri abdomen disertai dengan muntah
- Pemeriksaan fisik
Manifestasi klinis yang terjadi akan berbeda-beda berdasarkan kelompok usia tertentu.
Pada neonates sering dijumpai takipnea, grunting, pernapasan cuping hidung retraksi dinding dada,
sianosis, dan malas menetek. Pada bayi yang lebih besat jarang ditemui grunting. Gejala lain yang
sering terlihat adalah batuk, panas dan irritable. Pada anak prasekolah selain gejala-gejala yang
telah disebutkan dapat juga ditemui batuk yang produktif dan dyspnea. Pada anak sekolah dan
remaja gejala lainnya yang dapat dijumpai yaitu nyeri dada, nyeri kepala, dehidrasi dan letargi.
Takipnea berdasarkan WHO:
Usia <2 bulan → ≥ 60x/menit
Usia 2-<12 bulan → ≥ 50x/menit
Usia 1-5 tahun → ≥ 40x/menit
Takipnea terbukti memiliki sensitivitas dan spesifitas yang tinggi dalam mendiagnosis pneumonia.
Auskultasi ditemukan fine crackles (ronki basah halus) yang khas pada anak besar, mungkin tidak
ditemukan ada bayi. Iritasi pleura akan menyebabkan nyeri dada bila gerakan dada tetinggal waku
inspirasi, anak berbaring ke arah yang sakit dengan kaki fleksi. Kemudian didapatkan rasa nyeri
dapat menjalar ke leher, bahu, dan perut.

Pemeriksaan penunjang
Radiologis
Foto rontgen toraks proyeksi posterior-anterior (PA) merupakan diagnosis utama
pneumonia, tetapi foto rontgen toraks ini tidak dapat membedakan antara pneumonia batkteri atau
pneumonia virus. Gambaran radiologis yang klasik dapat berupa:
- Konsolidasi lobar atau segmental disertai air bronchogram, biasanya disebabka infeksi
pneumococcus spp. Atau bakteri lain
- Pneumonia interstitial biasanya karena virus atau mikoplasma. Gambaran berupa coracan
bronkovaskular bertambah, peribronchial cuffing, dan overaeration, bila kejadian berat
terjadi patchy consolidation karena atelectasis
- Gambaran difus bilateral, coracan peribronkial bertambah, dan infiltrat halus sampai ke
perifer. Gambaran pneumonia karena S. aureus biasanya menunjukkan pneumatokel

Laboratorium
Jumlah leukosit >15.000/uL dengan dominasi neutrophil sering didaptkan pada pneumonia
bakteri, tetapi dapat pula karena pneumonia nonbakteri. Diagnosis pasti pneumonia bakteria adalah
dengan isolasi mikroorganisme dari paru, cairan pleura, atau darah. Pengambilan specimen dari
paru sangat invasive dan tidak rutin diindikasikan dan dilakukan. Pada pemriksaan kultur darah
hanya (+) ppda 10-3-% kasus. Pemeriksaan c-reactive protein perlu dipertimbangkan pada
pneumonia dega komplikasi dan dapat bermanfaat untuk melihat respon antibiotik.
Meskipiun penyebabpneumonia sulit di tentukan, tetap pada beberapa gejala dan tanda yang dapat
dikenali secara klinis, yaitu:
- Staphylococcus aureus: progresivitas penyakit sangat cepat dengan gejala respiratori
sangat berat: grunting, sianosis,takipnea dan gambaran radiollogis necrotizing pneumonia,
pneumonia dengan komplikasi (efusi pleura, empyema, piopneumotoraks), perburukan
klinis dan radiologis yang sangat cepat, atau pada keadaan pascainfeksi campak (saat ini
atau 4 minggu sebelumnya)
- Streptococcus group A: penyebab tersering faringitis, tonsillitis dengan limfadenitiss koli,
demam, malaise sakit kepala dan gejala pada abdomen. Sering merupakan komplikas
infeksi kulit pada anak dengan varisela. Biasanya pneumonia yang disebabkan
streptococcis group A ini memburuk dalam 24 jam, dan seriing diikuti dengan syok septik,
empyema, dan pneumatokel yang terjadi dalam beberapa hari sampai 1 minggu sesudah
pengbatan.

Pulse oxymetri
Pengukuran saturasi O2 merupskan pemeriksaan noninvasive yng dapat memperkirakan oksigensi
arteri. Semua anak yang dirawat inap karena pneumonia seharusnya diperiksa pulse oxymetri.
Pemeriksaan ini sangat dianjurkan untuk negara berkembang dengan keterbatasan sarana untuk
mendeteksi hipoksemia.

Pemeriksaan mikrobiologis
Pemeriksaan biakan dara harus dilakukan pada semua anak yang dicurigai menderita pneumonia
bakteri, pneumonia berat, pneumonia dengan kommplikasi.

Pemeriksaan sputum
Walaupun kurang berguna, tetapi jika anak memungkinkan untuk mengeluarkan sputum lakukan
pemeriksaan preparat gram. Rapid test untuk deteksi antigen bakteri mempunyai spesifitas dan
sensitivitas rendah.
“Pada pasien ini sudah dilakukan pemeriksaan penujang foto thoraks dan
pemeriksaan laboratorium. Pada foto thoraks menunjukan adanya hilus kanan dengan
noda-noda, parakardial kanan garis-garis dan noda-noda granuler yang menunjukan
bronkopneumonia. Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin menunjukkan adanya
peningkatan leukosit sebesar 14.800.”

Tatalaksana
Kriteria rawat inap
Bayi:
- Saturasi oksigen ≤92%, sianosis
- Frekuensi napas >60x/menit
- Distress pernapasan, apnea itermitte, atau grunting
- Tidak mau minum/menetek
- Keluarga tidak bisa merawat dirumah
Anak:
- Saturasi oksigen ≤92%, sianosis
- Frekuensi napas >50x/menit
- Distress pernapasan
- Grunting
- Terdapat tanda-tanda dehidrasi
- Keluarga tidak bisa merawat dirumah

Perawatan umum di Rumah Sakit


- Terapi oksigen: bayi dan anak yang mengalami hipoksia mungkin tidak tampak sianosis,
agitas mungkin indikasi hipoksia. Oksigen diberikan pada penderita dengan saturasi
oksigen < 90% pada udara kamar untuk mempertahankan saturasi oksigen ≥90% dan pada
penderita dengan distress napas.
- Analgetik antipiretik: amak yang terkena infeksi saluran respiratori bagian bawah akut
umumnya mengalami pireksia dan dapat merasakan nyeri seperti nyeri kepala, nyeri dada,
nyeri sendi, nyeri perut dan nyeri telinga.
- Terapi cairan: anak yang tidak mampu mempertahankan asupan cairan akibat sesak atau
kelelahan memerlukan terapi cairan. Pipa NGT dapat mempengaruhi pernapasan dank
arena itu bayi dengan lubang hidung yang kecil diperlukan terapi caran. Penderita dengan
muntah-muntah atau sakit berat memerlukan cairan i.v. bila diperlukan cairan ivv diberikan
80% dari kebutuhan basal dan perlu dipantau elektrolit serum.
- Pemberian antibiotic: antibiotic diberikan berdasarkan usia dan derajat penyakit. Untuk
pneumonia atau bukan pneumonia berat dapat diberikan kotrimoksazol (8mg/kgBB/dosis
trimetropim dalam 2 dosis p.o) atau amoksisilin 25 mg/kgBB/dosis diberikan tiap 12 jam
p.o. selama 3-5 hari. Efikasi kedua obat sama kecuali daerah yang mengalami resisteni
pada salah satu obat. Antibiotic parenteral harus diberikan pada anak dengan pneumonia
berat. Pemilihan antibiotic inisal pada pneumonia anak diberikan ampisilin
50mg/kgBB/dosisi iv setiap 6 jam yang harus dipantau selama 24 jam selama 48-72 jam
pertama, bila keadaan klinis berat pengobatan inisial berupa kombinasi ampisilim-
gentamisin. Pada bayi usia <2 bulan atau pneumonia sangat berat, ampisilin dosis ditambah
gentamisin 7,5 mg/kgBB iv atau im sekali sehari. Pada keadaan yang dicurigai meningitis
(malas menetek, letargis, kejangm menangis lemah, fontanel menonjol) dan septicemia
maka obat piiah pertama adalah sefotaksim atau seftriakson i.v. sesudah 48 jam pengobatan
pneumonia sangat berat tidak tampak perbaikan, antiniotik diubah menjadi sefalosporin
generasi ketiga seperti seftrakson dan sefotaksim.
Berdasarkan pedoman diagnosis dan penatalaksaan di Indonesia pemilihan antibiotic untuk
pneumonia sebagai berikut:
o Streptococcus pneumoniae (PRSP): Betalaktam oral dosis tinggi (untuk rawat
jalan), Sefotaksim, Seftriakson dosis tinggi, Makrolid baru dosis tinggi,
Fluorokuinolon respirasi
o Pseudomonas aeruginosa: Aminoglikosid, Seftazidim, Sefoperason, Sefepim,
Tikarsilin, Piperasilin, Karbapenem (Meropenem, Imipenem), Siprofloksasin,
Levofloksasin
o Legionella: Makrolid, Fluorokuinolon, Rifampisin
o Mycoplasma pneumoniae: Doksisiklin, Makrolid, Fluorokuinolon, Chlamydia
pneumoniae,, Doksisikin, Makrolid Fluorokuinolon
Tatalaksana pada pasien ini sudah tepat dilakukan rawat inap dengan diberikan terapi
antibiotik yang adekuat.

Indikasi penderita dipulangkan


Perbaikan secara klinis, nafsu maksn membaik, bebas demam 12-24 jam, stabil , saturasi O2 >
92% dalam udara ruangan selama 12-24 jam (tanpa O2), orang tua sudah mengerti untuk
melanjutkan pemberian antibiotic oral.

Pencegahan
Vaksinasi dengan vaksin pertussis (DTP), campak, pneumokokus dan H. influenza. Vaksin
influenza untuk bayi > 6 bulan dan usia remaja. Untuk orang tua atau pengasuh bayi < 6 bulan
disarankan untuk diberikan vaksin influenza dan pertusis.

KURANG ENERGI PROTEIN (KEP)


Batasan
Suatu kondisi patologis yang diakibatkan kegagalan kronik dan kumulatif terpenuhinya
kebutuhan fisiologis energi dan protein. Manifestasi klinis diperngaruhi oleh beberapa faktor: usia,
infeksi, kondisi status gizi sebelumnya, serta jenis dan jumlah keterbatasan makanan yang
diterima.

Tabel kualifikasi Kurang Energi Protein (KEP)


KEP Sedang KEP Berat
Ya
Edema simetris Tidak
Kwashiorkor
BB/TB <-3 SD marasmus (sangat
-2 s.d – 3 SD (kurus)
(Z-skor) kurus)
TB/U
-2 s/d – 3 SD (pendek) <-3 (sangat pendek)
(Z-kor)

Berdasarkan table kualifikasi KEP pasien dengan BMI/U pada ini digaris -3 SD,
termasuk klasifikasi KEP Sedang. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pasien ini
termasuk KEP sedang dan sesuai dengan diagnosis pada pasien ini.

Etiologi
- Primer : kekurangan konsumsi karena tidak tersedia bahan makanan. Factor-faktor
penyebab KEP akibat dari asupan makanan yang kurang atau asupan makanan dengan
kualitas nutrisi protein yang terendah diantaranya faktor sosio ekonomi, faktor
biologis,faktor lingkungan dan faktor host.
- Sekunder : kekurangan kalori-protein akibat penyakit (misal: penyakit infeksi, ginjal,
hati, jantung, paru, dll).
- “Etiologi yang memungkinkan pada pasien ini adalah Primer : asupan makanan dan
minuman yang tidak adekuat setiap harinya.

Kriteria Diagnosis
Anamnesis, asupan makanan, aktivitas, penyakit yang mendasari
Pemeriksanaan Fisis, klinis penyakit yang mendasari tanda-tanda klinis defisiensi makro
dan mikronutrien, antropometri.
Pemeriksaan Penunjang
Darah: Hb, leukosit, eritrosit, nilai absolut eritrosit, Ht, apus daral tepi, albumin, protein
total, ureum, kreatinin, kolesterol total, HDL, tigliserida, Fe, TIBC, elektrolit, glukosa, dan
biakan
Urin: rutin, kultur
Apus rektal untuk pemeriksaan parasite
Foto rontgen toraks

Penyulit
Mudah terserang infeksi, sepsis
Diare
Hipotermia
Hipoglikemia
Anemia
Ketidaksinambungan cairan dan elektrolit

Tatalaksana
Terapi KEP III (KEP Berat)
Pada tatalaksana rawat nap KEP berat di rumah sakit terdapat 5 aspek penting yang perlu
diperhatikan, yaitu:
1. Prinsip dasar pengobatan rutin KEP Berat (10 langkah utama)
2. Pengobatan penyakit penyerta
3. Kegagalab pengobatan
4. Penderita peluang sebelum rehabilitasi tuntas
5. Tindakan pada kegawatan
Pengobatan rutin yang dilakukan di rumah sakit berupa 10 langkah utama sebagai berikut:
1. Atas/cegah higlikemia
2. Atas/cegah hipotermia
3. Atas/cegah dehidrasi
4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
5. Obati/cegah infeksi
6. Koreksi defisiensi mikronutnien
7. Mulai pemberian makanan
8. Fasilitas tumbuh-kejar (catch-up growth)
9. Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental
10. Siapkan dan rencanakan tindak lanjut sesudah sembuh
Pengobatan terdiri atas 3 fase: stabilisasi, transisi, dan rehabilitasi. Petugas kesehatan harus
terampil memilih langkah mana yang cocok untuk setiap fase tatalaksana ini digunakan baik pada
penderita kwashiorkor, marasmus, maupun marasmik-kwashiorkor. pengobatan untuk KEP yang
disertai dengan penyakit tuberculosis yaitu diobati sesuai dengan pedomam pengobatan
tuberculosis.

Tatalaksana diet pada KEP


Tatalaksana diet pada balita dengan KEP ditujukan untuk memberikan makan tinggi energy,
protein, dan cukup vitamin, dan mineral secara bertahap guna mencapai status gizi yang optimal.
Terdapat 4 kegiatan penting dalam tatalaksana diet yaitu pemberian diet, pemantauan dan evaluasi,
penyuluhan gizi serta tindak lanjut.
1. Pemberian diet, syarat pemberian diet pada KEP:
- Melalui 3 fase stabilisasi, transisi, rehabilitasi
- Kebutuhan energi 100-200 kkal/kgBB/hr
- Kebutuhan protein 1-6g/kgBB/hr
- Pemberi suplementasi vitamin dan mineral bila ada defisiensi atau pemberian bahan
makanan sumber mineral tertentu sbb:
Sumber Zn: daging sapp, hati, akanan laut, kacang tanah telur ayam
Sumber Cu: tiram, daging, hati
Sumber Mn: beras, kacang tanah, kedelai
Sumber Mg: daun seledri, bubuk coklat, kacang-kacangan, bayam
Sumber K: jus tomat, pisang, kacang-kacangan, kentang, apel, alpukat, bayam,
daging tanpa lemak.
Jumlah cairan: 150-200 mL/kgBB/hr, bila edema dikurangi
Cairan pemberian: p.o. atau lewat NGT
Porsi makamam kecil dan frekuensi sering
Makanan fase stabilisasi harus hipoosmolar, rendah laktos: dan rendah serat
Terus memeberikan ASI
Jenis makanan: berdasarkan BB
BB <7kg diberikan kembali makanan bayi
BB >7kg dapat langsung diberikan makanan anak secara bertahap
2. Evaluasi dan Pemenatauan Pemberian Diet
- BB sekali seminggu
Bila tidak meningkat, kaji peyebab a.i.:masukan zat gizi tidak adekuat, defisiensi
zat gizi tertentu, misalnya ioodium, ada infeksi, dan ada masalah psikologis
- Pemeriksaan laboratorium: Hb, gula darah, feses (ada cacing), dan urin
- Masukan saat gizi: bila kurang, maka modifikasi diet sesuai selera
- Kejadian diare: gunakan formula rendah atau bebas laktosa dan hipoosmolar, misal susu
rendah lemak laktosa, tempe, dan tepung-tepungan
- Kejadian hipoglikemia: beri minum air gula atau makan per 2 jam
3. Penyuluhan Gizi di Rumah Sakit
- Menggunakan leafet khusus yang berisi: jumlah, jenis, dan frekuensi pemberian bahan
makanan
- Selalu memberikan contoh menu
- Mempromosikan ASI
- Memperhatikan riwayat gizi
- Mempertimbangkan sosioekonomi keluarga
- Memberikan demonstrasi/praktik memasak makanan balita untuk ibu
4. Tindak lanjut
- Merujuk ke Puskesmas
- Merencanakan dan mengikuti kunjungan rumah
- Merencanakan permberdayaan keluarga