Laporan Kasus Pneumonia Anak 1 Tahun
Laporan Kasus Pneumonia Anak 1 Tahun
PNEUMONIA
Disusun oleh:
Mochamad Rizki Budiman
12100115106
Preseptor:
Nina Surtiretna, dr,. Sp A,.M.Kes
Riwayatnutrisi :
• 0-6 bulan : ASI ekslusif
• 6-12bulan : ASI + bubur+ nasi lembek + buah-buahan
• 12 bulan – sekarang : ASI+ bubur+ nasi lembek + buah-buahan + sayuran
Riwayat tumbuh kembang :
Riwayatimunisasi :
pasien mengikuti imunisasi lengkap sampai 9 bulan di puskesmas tanpa
penambahan booster sampai saat ini.
Imunisasi dasar usia Skar ulangan
BCG + 1 bln - -
Campak + 9 bln - -
Pemeriksaan fisik :
KeadaanUmum : sakit sedang
Kesadaran : composmentis, PCS 15 (E4V5M6)
Tanda vital :
◦ Tekanan darah : sulit dinilai
◦ Nadi : 100x/ menit, teratur, isi dan tegangan cukup, equal, regular
◦ Suhu : 36,4oC
◦ Pernafasan : 48 x/menit, abdominotorakal
BeratBadan : 10 kg
Tinggi Badan : 82 cm
Lingkar Kepala : 46 cm
Head circumference diatara 0-(-1) maka normocephali
TB/U: diantara 0-2 SD maka tinggi dalam rata-rata
BB/U: diantara 0-(-2) maka berat badan dalam rata-rata
BMI/U: diantara (-1)-(-2) maka dalam rata rata
Kesimpulan status gizi: baik
Resume :
Seorang anak laki-laki umur 1 tahun 3 bulan dengan status gizi baik, mengeluhkan
batuk sejak 10 hari SMRS. Batuk disertai dengan dahak berwarna putih, sebelum batuk
didahului dengan pilek dan demam sejak 13 hari SMRS dan menghilang setelah 3 hari
kemudian, orang tua pasien tidak mengetahui adanya keluhan sesak/nafas cepat. Selain itu
keluhan disertai dengan adanya mencret 3x/hari dan muntah-muntah 2x/hari sejak 3 hari
SMRS.
Pada pemeriksaan fisik keadaam umum tampak sakit sedang, kesadaran kompos
mentis, pernafasan meningkat, tanda vital lain dalam batas normal, pada pemeriksaan fisik
thorak ditemukan adanya fine crackles di paru kanan, retraksi epigastrium. Tidak ditemukan
tanda-tanda dehidrasi. Pemeriksaan fisik lainnya dalam batas normal.
Diagnosis banding :
Bronkopneumonia e.c Streptokokkus pneumonia
Bronkopneumonia e.c Streptokokkus pneumonia + Diare akut non disentri e.c
rotavirus tanpa dehidrasi
Bronkopneumonia e.c H. Influenza type B
Bronkopneumonia e.c Respiratory syncitial virus
Usulan Pemeriksaan :
Darah rutin (Hb. Ht, leukosit, trombosit, diff.count).
Foto thorax AP.
Kultur darah dan test resistensi.
Feses rutin
Pulse oxymetry
Hasil Pemeriksaan :
Tanggal 20-agustus-2016
◦ Hb : 11,1 mg/dL (10,7-13,1)
◦ Ht : 34% (33-39%)
◦ Leukosit : 13.700 sel/mm3 (4.000-10.000)
◦ Trombosit : 620.000 sel/mm3 (150.000-400.000)
◦ Diff count : -/4/68/5/23 (0-1/1-4/35-70/2-10/20-40).
Foto roentgen:
Kesan foto:
◦ Cor dan diafragma normal, sinus-sinus terbuka
◦ Pulmo: bercak-bercak lunak pericardial kanan.
Interpretasi :
◦ Bronkopneumonia.
Diagnosis Kerja :
Bronkopneumonia e.c Streptokokkus pneumonia
Tatalaksana :
Umum :
Rawat inap
Infus RL 1000 ml/hari 20 gtt/ menit makrodrip.
Nutrisi: kalori: 810 kkal/hari, dengan protein 11 gr/hari.
Khusus :
Amoxicillin 50-100 mg/kgBB/hari x 10 kg= 500 mg /hari iv diberikan tiap 8 jam,
3x200mg/IV. Setelah test resistensi muncul berikan terapi antibiotik yang sesuai.
Ambroxol 0,5 mg/kgBB/kali x 10kg = 5 mg, 1/3 Corg tiap 8 jam.
Pencegahan :
- Menjaga kebersihan lingkungan, terutama di kawasan rumah bersama/asrama.
- Jika terdapat orang yang skait segera ke dokter.
- Hindari penggunaan alat alat secara bersamaan jika lagi ada yang sakit.
- Imunisasi PCV, HiB, influenza.
Penyuluhan :
- Menjelaskan tentang penyakitnya.
- Menjelaskan etika batuk
Prognosis :
Quo ad vitam: ad bonam.
Quo ad functionam: ad bonam
Quo ad sanationam: ad bonam
Follow-Up :
20 -agustus -2016
S :Batuk berdahak belum berhenti, mencret 3x, tidak ada muntah dan demam
O:
KU : CM
◦ Tanda vital : T: 36,4 derajat celsius, R: 48 x/menit, tensi: , nadi 110 x/menit.
◦ Kulit : skin turgor < 2 detik.
◦ Thorax: pulmo: fine cracles +/-
◦ Abdomen : BU +
◦ Ekstremitas : akral hangat , CRT < 2 detik
laboratorium
◦ Hb : 11,1 mg/dL (10,7-13,1)
◦ Ht : 34% (33-39%)
◦ Leukosit : 13.700 sel/mm3 (4.000-10.000)
◦ Trombosit : 620.000 sel/mm3 (150.000-400.000)
◦ Diff count : -/4/68/5/23 (0-1/1-4/35-70/2-10/20-40).
A : bronkopneumonia
P : infus Ka En IB 20 gtt/menit
Cefotaxime 3x500 mg
Mucos 2x0,5 mg
Ondansentron 3x0,8 mg
21 –agustus-2016
S :Batuk berdahak, muntah 2 kali, tidak demam.
O: CM
◦ Tanda vital : T: 37,0 derajat celsius, R: 44 x/menit, tensi: , nadi 120 x/menit.
◦ Kepala : normocephal
◦ Kulit :skin turgor <2 detik
◦ Pulmo: fine cracles +/-
◦ Abdomen : BU (+)
◦ Ekstremitas : akral hangat , CRT < 2 detik
A : bronkopneumonia
P:
infus Ka En IB 20 gtt/menit
Cefotaxime 3x500 mg
Mucos 2x0,5 mg
Ondansentron 3x0,8 mg
Sanmol drop 3x1 cc
22 –agustus-2016
S :Batuk berdahak, muntah 1 kali, mencret sudah tidak ada, demam tidak ada
O:
◦ KU : CM, T: 36,2 derajat celsius, N: 120 x/menit, R: 42 x/menit, Tensi:
◦ Kepala : normocephal
◦ Kulit :skin turgor <2 detik
◦ Pulmo: fine cracles +/-
◦ Abdomen : BU (+)
◦ Ekstremitas : akral hangat , CRT < 2 detik
A : bronkopneumonia
P:
infus Ka En IB 20 gtt/menit
Cefotaxime 3x500 mg
Mucos 2x0,5 mg
Nebulisasi dengan bisolvon 8gtt dengan NaCl 0,9 %.
23-agustus -2016
S :Batuk berdahak sudah agak mendingan, mencret -, tidak ada muntah dan demam
O:
KU : CM
◦ Tanda vital : T: 36,4 derajat celsius, R: 44 x/menit, tensi: , nadi 110 x/menit.
◦ Kulit : skin turgor < 2 detik.
◦ Thorax: pulmo: fine cracles +/-
◦ Abdomen : BU +
◦ Ekstremitas : akral hangat , CRT < 2 detik
A : bronkopneumonia
P : boleh pulang.
PEMBAHASAN
PNEUMONIA
Definisi
Pneumonia adalah radang paru dengan konsolidasi (proses ketika paru menjadi keras
karena radang, udara terisi dengan eksudat. Pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru
yang meliputi alveolus dan jaringan interstitial.
Epidemiologi
Penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak usia kurang dari 5 tahun di
seluruh dunia, terutama di negara berkembang.Pneumonia merupakan penyebab kesakitan
dan kematian pada anak-anak usia <5 tahun. Biasanya mengenai anak pada usia 4 bulan – 5
tahun. Haemophilus Influenzatype B menjadi penyebab utama pneumonia yang disebabkan
oleh bakteri sehingga pada anak dilakukan vaksin rutin. Penyebab kematian anak 20%
disebabkan oleh pneumonia dan angka kejadian di Afrika dan Asia Tenggara sebanyak 70%.
Angka kejadian biasanya lebih sering di negara berkembang dan Indonesia menduduki
peringkat keenam. Vaksin yang dilakukan rutin berdampak baik pada angka kejadian
pneumonia di US, insidensi menurun pada infant dan anak di United States. Usia 1 tahun
kehidupan terjadi penurunan kejadian pneumonia yaitu 30%, pada 2 tahun kehidupan
menurun sebanyak 20%, dan lebih dari 2 tahun kehidupan penurunnya hanya 10%.
Etiologi
Penyebab dari pneumonia yaitu bakteri, virus, mikobakterium, dan jamur. Bakteri
adalah penyebab utama untuk pneumonia di negara berkembang, taitu Streptoccus
pneumonia (30-50%), Haemophilus influenza type b (Hib), Staphylococcus aureus,
Klebsiella pneumonia. Tetapi berbeda dengan negara maju, di negara maju penyebab
utamanya adalah virus yaitu RSV sebanyak 15-40%, Virus Influenza A dan B, Parainfluenza,
Human metopneumovirus, Adenovirus.
Di negara industry, epidemic RSV danatau influenza koinsidensi dengan epidemic S.
Pneumonia. Di negara berkembang, infeksi virus sering disertai infeksi sekunder. Selain itu
juga usia menjadi predictor yang baik untuk memperkirakan pathogen penyebab pneumonia.
- Virus penyebabutama pneumonia padaanakusialebihmuda (<2 tahun)
- Bakteripenyebabsebagianbesar pneumonia padaanakbesar
Table. Penyebab Utama Pneumonia yang Didapat di Masyarakat pada Anak
berdasarkan Usia
Usia PenyebabTersering Penyebabjarang
Bakteri
Bakteri Organisme
Escherichia coli Group B streptococci
0-20 hari
Group B streptococci Haemophillus influenza
Listeria monocytogenes Streptococcus pneumonia
Ureaplamaurealyticum
Bakteri
Bakteri Bordetella pertussis
Chlammydia trachomatis H. Influenzaetipe B dannon-
S. pneumonia Typeable
Virus Moraxella catarrhalis
3 minggu – 3 bulan
Adenovirus Staphylococcus aureus
Influenza virus U. urealyticum
Parainfluenza virus 1,2, 3
Respiratory syncytial virus Virus
Cytomegalovirus
Bakteri
Chlammydia trachomatis Bakteri
Mycoplasma pneumonia H. influenza tipe B
S. pneumonia M. catarrhalis
Virus Mycobacterium tuberculosis
4 bulan – 5 tahun
Adenovirus Neisseria meningitis
Influenza virus S. aureus
Parainfluenza virus Virus
Rhinovirus Varicella-zoster virus
Repiratory syncytial virus
Bakteri
H. Influenza
Legionella species
M. tuberculosis
S. aureus
Bakteri
Virus
C. pneumonia
6 tahun – 18 tahun Adenovirus
M. pneumonia
Epstein-Barr virus
S. Pneumonia
Influena virus
Parainfluenza virus
Rhinovirus
Respiratory syncytial virus
Varicella-zoster virus
Patogen yang Menyebabkan Pneumonia Berdasarkan Umur
Dikutip dari: Sectish TC, Prober CG. Nelson Textbook of Pediatrics. Pediatrics. 18t ed. 2007.
Dari data kelompok usia penyebab pneumonia salah satu penyebab tersering
peumonia adalah bakteri seperti S. Pneumonia dan salahsatu kelompok virus adalah
Respiratory syncitial virus.
Faktor risiko
Beberapa factor meningkatkan risiko kejadian dan derajat pneumonia antara lain
defek anatomi bawaan, deficit imunologi, aspirasi, gizi buruk, malnutrisi, berat bdan lahir
rendah (BBLR), tidak mendapat ASI eksklusif, tidak mendapat imunisasi campak, ada
saudara serumah yang menderita batuk, polusi udara dalam rumah dan kepadatan hunian.
Pada kasusu ini pasien memiliki faktor risiko saudara serumah atau
selingkungan yang batuk, polusi udara dan kepadatan hunian.
Klasifikasi
1. Berdasarkan klinis dan epideologis :
a.Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia)
b.Pneumonia nosokomial (hospital-acqiured pneumonia / nosocomial pneumonia)
c.Pneumonia aspirasi
d.Pneumonia pada penderita Immunocompromised pembagian ini penting untuk
memudahkan penatalaksanaan.
2. Berdasarkan bakteri penyebab
a.Pneumonia bakterial / tipikal. Dapat terjadi pada semua usia. Beberapa bakteri
mempunyai tendensi menyerang sesorang yang peka, misalnya Klebsiella pada
penderita alkoholik, Staphyllococcus pada penderita pasca infeksi influenza.
b.Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia
c.Pneumonia virus
d.Pneumonia jamur sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama pada
penderita dengan daya tahan lemah (immunocompromised)
3. Berdasarkan predileksi infeksi
a.Pneumonia lobaris. Sering pada pneumania bakterial, jarang pada bayi dan orang
tua. Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen kemungkinan sekunder
disebabkan oleh obstruksi bronkus misalnya : pada aspirasi benda asing atau proses
keganasan
b. Bronkopneumonia. Ditandai dengan bercak-bercak infiltrat pada lapangan paru.
Dapat disebabkan oleh bakteria maupun virus. Sering pada bayi dan orang tua. Jarang
dihubungkan dengan obstruksi bronkus
c.Pneumonia interstisial
4. Klasifikasi berdasarkan MTBS
a. Pneumonia sangat berat : sianosis sentral dan tidak dapat minum
b. Pneumonia berat : tarikan dada dalam, tidak sianosis, dapat minum
c. Pneumonia : tidak ada tarikan dada dalam, nafas cepat
d. Bukan pneumonia : tidak aada tarikan dada dalam, tidak ada nafas cepat
Gambaranklinis Beratpenyakit
Batukataukesulitanbernapasdengan:
SaturasiOksigen< 90% atausianosissentral
Distress saluranrespiratoriberat (tarikandinding dada Pneumonia sangatberat
bagianbawahberat, grunting)
tanda pneumonia disertaitandabahaya (tidakdapat
minum, penurunankesadaran, kejang)
Tarikandinding dada bagianbawah Pneumonia berat
Napascepat:
≥50x/menitpadaanakusia 2-11 bulan Pneumonia
≥40x/menitpadaanakusia 1-5 tahun
Bukan pneumonia; batukatau
Tidakadatanda pneumonia atau pneumonia sangatberat
“flu”
• Pada kasus ini adalah pneumonia komuniti karena di asramanya
terdapat orang yang menderita hal yang sama. Termasuk pneumonia bakteri
karena berdasarkan epidemiologi terbanyak adalah S. Pneumonia dengan
gambaran klinis batuk berdahak berwarna putih. Berdasarkan tempatnya
termasuk bronkopneumonia dilihat dari hasil radiologi. Dan termasuk
pneumonia karena terdapat nafas cepat.
Patogenesis
Pada kondisi normal saluran pernafasan bawah merupakan area yang selalu steril
karena terdapat sistem pertahanan, yakni adanya mucociliary clearence, disekresikannya
Immunoglobulin A (IgA) dan membersihkan udara dengan cara batuk. Mekanisme lainnya
yaitu didalam paru terdapat makrofag yang ada di alveoli dan bronchiol. Sistem pertahanan
ini nantinya akan membatasi atau mencegah patogen invasi kedalam paru-paru.
Ketika terdapat bakteri menginfeksi kedalam sistem pernafasan yaitu kedalam alveoli
maka akan menyebabkam reaksi inflamasi di alveoli dengan adanya infiltrasi sel-sel radang.
Pertahanan awalnya nanti akan terjadi fagositosis yang akan mengelilingi dan
menghancurkan bakteri yang menginfeksinya, yang kemudiaan akan terbentuk zona-zona.
Tapi tidak semua jenis bakteri cara merusaknya sama. Misalnya pada Mycoplasma
pneumoniae, jenis bakteri ini akan menempel pada epitel pernafasan, menghambat peran silia
yang kemudian akan meusak sel dan terjadilah respon inflamasi pada submukosa. Pada
Streptococcus pneumonia akan menghasilkan edema lokal yang kemudian akan membantu
proliferasinya organisme tersebut yang kemudian meluas kebagian paru-paru lainnya.
Pneumonia yang disebabkan oleh virus biasanya dihasilkan dari infeksi pernafasan
yang menyebar disepanjang saluran pernafasan, disertai dengan adanya jejas di lapisan epitel
pada saluran pernafasan. Adanya edema, sekresi yang tidak normal semuanya ini akan
memperparah infeksinya. Terjadinya atelektasis, edema interstitial dan tidak seimbangnya
ventilasi-perfusi akan menyebabkan hipoksemia. Infeksi virus pada saluran pernafasan juga
dapat menjadi predisposisi infeksi sekunder dengan mengganggu mekanisme pertahanan,
mengubah sekresi dengan memodifikasi flora normal bakteri.
Mikroorganisme masuk ke
jaringansekitar dan berproliferasi
Memasuki stadium
hepatisasi merah
Memasuki stadium
hepatisasi kelabu
Jumlah makrofag
meningkat di alveoli
Stadium resolusi
Patofisiologi
Makrofag dengan protein lokal yaitu surfaktan A dan D yang memiliki sifat
opsonisasi, antibakteri dan antivirus akan menghancurkan bakteri dengan cara fagositosis.
Tapi pada saat makrofag tidak mampu menghancurkan bakteri tersebut makan akan terjadi
respon inflamasi untuk memperkuat sistem pertahanan tubuh. Respon inflamasinya berupa
dilepaskannya mediator inflamasi yaitu interleukin-1 (IL-1), Tumor Necrosis Factor (TNF)
yang akan menyebabkan demam. Selain itu juga ada IL-8, granulosit colony-stimulating
factor yang akan merangsang pelepasan neutrofil, menyebabkan leukositosis dan
meningkatkan sekresi purulent. Adanya pelepasan makrofag dan direkrutnya neutrofil akan
mengakibatkan kapiler menjadi bocor yang sifatnya terlokalisasi. Sehingga sel darah merah
dapat keluar dari pembuluh darah kemudian akan menuju alveoli yang kemudian akan
membentuk zona red hepatisasi.
Diagnosis
- Anamnesis
Dari anamnesis akan didaptakan bahwa ada demam, batuk, gelisah, rewel dan sesak
napas. Pada bayi gejala tidak khas sering kali tanpa demam dan batuk. Pada anak besar
kadang mengeluh nyeri kepala, nyeri abdomen disertai dengan muntah
- Pemeriksaanfisik
Manifestasi klinis yang terjadi akan berbeda-beda berdasarkan kelompok usia
tertentu. Pada neonates sering dijumpai takipnea, grunting, pernapasan cuping hidung retraksi
dinding dada, sianosis, dan malas menetek. Pada bayi yang lebih besat jarang ditemui
grunting. Gejala lain yang sering terlihat adalah batuk, panas dan irritable. Pada anak
prasekolah selain gejala-gejala yang telah disebutkan dapat juga ditemui batuk yang produktif
dan dyspnea. Pada anak sekolah dan remaja gejala lainnya yang dapat dijumpai yaitu nyeri
dada, nyeri kepala, dehidrasi dan letargi.
Takipnea berdasarkan WHO:
Usia <2 bulan → ≥ 60x/menit
Usia 2-<12 bulan → ≥ 50x/menit
Usia 1-5 tahun → ≥ 40x/menit
Takipnea terbukti memiliki sensitivitas dan spesifitas yang tinggi dalam mendiagnosis
pneumonia.
Auskultasi ditemukan fine crackles (ronki basah halus) yang khas pada anak besar, mungkin
tidak ditemukan ada bayi. Iritasi pleura akan menyebabkan nyeri dada bila gerakan dada
tetinggal waku inspirasi, anak berbaring ke arah yang sakit dengan kaki fleksi. Kemudian
didapatkan rasa nyeri dapat menjalar ke leher, bahu, dan perut.
Pemeriksaan penunjang
Radiologis
Foto rontgen toraks proyeksi posterior-anterior (PA) merupakan diagnosis utama
pneumonia, tetapi foto rontgen toraks ini tidak dapat membedakan antara pneumonia batkteri
atau pneumonia virus. Gambaran radiologis yang klasik dapat berupa:
- Konsolidasi lobar atau segmental disertai air bronchogram, biasanyadisebabkainfeksi
pneumococcus spp. Ataubakteri lain
- Pneumonia interstitial biasanyakarena virus ataumikoplasma. Gambaran berupa corak
bronkovaskular bertambah, peribronchial cuffing, dan overaeration, bila kejadian
berat terjadi patchy consolidation karena atelectasis
- Gambarandifus bilateral, coracanperibronkialbertambah, dan infiltrate halus sampai
keperifer. Gambaran pneumonia karena S. aureus biasanya menunjukkan
pneumatokel
Laboratorium
Jumlah leukosit >15.000/uL dengan dominasi neutrophil sering didaptkan pada
pneumonia bakteri, tetapi dapat pula karena pneumonia nonbakteri. Diagnosis pasti
pneumonia bakteria adalah dengan isolasi mikroorganisme dari paru, cairan pleura, atau
darah. Pengambilan specimen dari paru sangat invasive dan tidak rutin diindikasikan dan
dilakukan. Pada pemriksaan kultur darah hanya (+) ppda 10-3-% kasus. Pemeriksaan c-
reactive protein perlu dipertimbangkan pada pneumonia dega komplikasi dan dapat
bermanfaat untuk melihat respon antibiotik.
Meskipiun penyebabpneumonia sulit di tentukan, tetap pada beberapa gejala dan tanda yang
dapat dikenali secara klinis, yaitu:
- Staphylococcus aureus:
progresivitaspenyakitsangatcepatdengangejalarespiratorisangatberat: grunting,
sianosis,takipneadangambaranradiollogis necrotizing pneumonia, pneumonia dengan
komplikasi (efusi pleura, empyema, piopneumotoraks), perburukan klinis dan
radiologis yang sangat cepat, atau pada keadaan pascainfeksi campak (saat ini atau 4
minggu sebelumnya)
- Streptococcus group A: penyebab tersering faringitis, tonsillitis dengan limfadenitis
koli, demam, malaise sakit kepala dan gejala pada abdomen. Sering merupakan
komplikasi infeksi kulit pada anak dengan varisela. Biasanya pneumonia yang
disebabkan streptococcus group A ini memburuk dalam 24 jam, dan seriing diikuti
dengan syok septik, empyema, dan pneumatokel yang terjadi dalam beberapa hari
sampai 1 minggu sesudah pengbatan.
Pulse oxymetri
Pengukuran saturasi O2 merupskan pemeriksaan noninvasive yng dapat memperkirakan
oksigensi arteri. Semua anak yang dirawat inap karena pneumonia seharusnya diperiksa pulse
oxymetri. Pemeriksaan ini sangat dianjurkan untuk negara berkembang dengan keterbatasan
sarana untuk mendeteksi hipoksemia.
Pemeriksaan mikrobiologis
Pemeriksaan biakan dara harus dilakukan pada semua anak yang dicurigai menderita
pneumonia bakteri, pneumonia berat, pneumonia dengan kommplikasi.
Pemeriksaan sputum
Walaupun kurang berguna, tetapi jika anak memungkinkan untuk mengeluarkan sputum
lakukan pemeriksaan preparat gram. Rapid test untuk deteksi antigen bakteri mempunyai
spesifitas dan sensitivitas rendah.
Padapasieninisudahdilakukanpemeriksaanpenujangfotothoraksdanpemeriksaan
laboratorium.Padafotothoraksmenunjukanadanya bercak-bercak lunak pericardial
kanan yang menunjukan bronkopneumonia. Pada pemeriksaan laboratorium darah
rutin menunjukkan adanya peningkatan leukosit sebesar 13.700. sedangkan untuk
pemeriksaan penunjang lainnya tidak dilakukan.
Tatalaksana
Kriteria rawat inap
Bayi:
- Saturasioksigen ≤92%, sianosis
- Frekuensinapas>60x/menit
- Distress pernapasan, apnea itermitte, atau grunting
- Tidakmauminum/menetek
- Keluargatidakbisamerawatdirumah
Anak:
- Saturasioksigen ≤92%, sianosis
- Frekuensinapas>50x/menit
- Distress pernapasan
- Grunting
- Terdapattanda-tandadehidrasi
- Keluargatidakbisamerawatdirumah
Pencegahan
Vaksinasi dengan vaksin pertussis (DTP), campak, pneumokokus dan H. influenza.
Vaksin influenza untuk bayi > 6 bulan dan usia remaja. Untuk orang tua atau pengasuh bayi <
6 bulan disarankan untuk diberikan vaksin influenza dan pertusis.