0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan54 halaman

Kasus Bronchopneumonia pada Anak 2 Tahun

Dokumen ini berisi laporan kasus seorang anak laki-laki berusia 2 tahun 1 bulan dengan keluhan sesak napas dan batuk. Berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium didiagnosis menderita bronchopneumonia berat akibat Streptococcus pneumoniae dan asma tidak dalam serangan. Pengobatan yang diberikan antara lain parasetamol, antibiotik, dan nebulisasi. Prognosis pasien dinilai baik.

Diunggah oleh

Indrayudha Pramono
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan54 halaman

Kasus Bronchopneumonia pada Anak 2 Tahun

Dokumen ini berisi laporan kasus seorang anak laki-laki berusia 2 tahun 1 bulan dengan keluhan sesak napas dan batuk. Berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium didiagnosis menderita bronchopneumonia berat akibat Streptococcus pneumoniae dan asma tidak dalam serangan. Pengobatan yang diberikan antara lain parasetamol, antibiotik, dan nebulisasi. Prognosis pasien dinilai baik.

Diunggah oleh

Indrayudha Pramono
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

CASE REPORT SESSION

Monika Meirani Yanomi 12100112025

Preseptor: dr. Hj. Rini Sulviani, Sp A., M.Kes

Ilmu Penyakit Anak RS Syamsudin, SH P3D Unisba Bandung

IDENTITAS
Pasien Nama Jenis Kelamin Tanggal Lahir Umur Tanggal Masuk RS Tanggal Pemeriksaan : An. R : Laki-laki : 10 Februari 2011 : 2 tahun 1 bulan : Senin, 18 Maret 2013 : Rabu, 20 Maret 2013

Ibu Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Alamat Ayah Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Alamat

: Ny. A : 30 tahun : SMP : Ibu Rumah Tangga : Sukaraja

: Tn. J : 33 tahun

: SMA : Karyawan : Sukaraja

KELUHAN UTAMA

SESAK NAPAS

Sejak 2 hari yang lalu sebelum masuk rumah sakit orang tua mengeluhkan bahwa anaknya mengalami sesak nafas. Sesak napas dirasakan tiba-tiba dan semakin lama semakin terasa sesak, sehingga membuat pasien terkadang tidak mau untuk menyusu. Orang tua pasien mengatakan bahwa nafas anaknya menjadi lebih cepat, dan sesak tidak disertai dengan adanya kebiruan. Sesak nafas terjadi ketika batuk terus menerus. Ketika sesak terjadi pasien masih bisa berbicara, sedikit mengganggu aktivitas dan sedikit membaik ketika diistirahatkan terlentang.

Sesak nafas disertai batuk dan pilek sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Batuk biasanya muncul pada malam hari, keadaan dingin dan ketika pasien sedang kelelahan. Batuk dirasakan terus-menerus namun dahak sulit dikeluarkan, tapi pernah sekali waktu keluar dengan warna kehijauan, dan kental. Terdapat suara ketika pasien batuk, seperti suara dahak yang tidak dapat dikeluarkan, selain itu saat terjadi keluhan terdengar suara mengi. Kemudian keluarga pasien mengeluhkan adanya demam yang dirasakan 2 hari sebelum masuk rumah sakit, muncul secara tiba-tiba dan dirasakan terus menerus. Demam sempat menurun ketika pasien mengkonsumsi obat penurun panas. Keluarga pasien juga mengeluhkan adanya mual, dan muntah yang terjadi 2x pada waktu pasien masuk rumah sakit. Dari keterangan menurut keluarga pasien, pasien menjadi tampak rewel dan sulit tidur.

Keluhan sesak tidak disertai kebiruan pada mulut terutama setelah diberi ASI maupun menangis yang tampak tersenggal-senggal, ketika sesak tidak ada suara mengorok. Selain itu pasien juga tidak pernah tersedak ataupun menelan benda asing. Keluarga pasien juga menyangkal adanya bengkak baik pada wajah maupun kaki. Keluhan juga tidak disertai dengan berat badan yang sulit naik, dan tidak terdapat kontak dengan pasien TB dewasa. Keluarga pasien tidak mengeluhkan adanya benjolan pada leher atau pada bagian punggung. Tidak terdapat riwayat kejang ataupun penurunan kesadaran.

Untuk mengobati keluhannya, pasien sudah pernah beberapa kali diobati oleh dokter dan salah satu obatnya ialah sanmol dan extropec namun tidak ada perubahan. Sehingga pasien dibawa ke Rumah Sakit Syamsudin dan dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan hasil hemoglobin 10,8 mg/dl, jumlah leukosit 25.900/uL, hematokrit 32 %, jumlah trombosit 347.000/uL, setelah itu pasien menjalani perawatan sekitar 5 hari di rumah sakit. Pada hari rawat kedua (19 Maret 2013) sesak napas masih ada, peningkatan upaya nafas yang ditandai dengan pernafasan cuping hidung masih ada, tarikan dinding dada masih ada, batuk berdahak masih ada dan dahak masih sulit untuk dikeluarkan. Pada pemeriksaan fisik terdengar suara tambahan yaitu crackles (+/+), slem (+/+).

Pada hari rawat ketiga (20 Maret 2013) sesak napas dan batuk masih ada, namun dahak sudah dapat dikeluarkan, peningkatan upaya nafas seperti pernafasan cuping hidung masih ada, tarikan dinding dada masih ada, pada pemeriksaan fisik masih terdengar suara tambahan yaitu crackles (+/+), slem (+/+).Pada hari rawat keempat (21 Maret 2013) sesak napas sudah tidak ada, batuk masih ada, namun dahak sudah dapat dikeluarkan, peningkatan upaya nafas seperti pernafasan cuping hidung sudah tidak ada, tarikan dinding dada sudah tidak ada, pada pemeriksaan fisik tidak terdengar suara tambahan yaitu crackles (-/-), slem (-/-). Kemudian pengobatan pada pasien masih terus dilanjutkan sampai pasin mengalami perbaikan dari keluhannya

Riwayat penyakit keluarga: Orang tua pasien memiliki riwayat alergi makanan dan riwayat asma namun tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat. Ibu pasien sering mengalami panas badan dan juga batuk pilek.
Riwayat penyakit dahulu: keluhan ini pernah dirasakan beberapa kali oleh pasien. Pasien memiliki riwayat asma dan sering mengalami pilek.

Riwayat Kehamilan dan Persalinan pasien dilahirkan dari ibu P1A0, usia kehamilan cukup bulan (9 bulan) dengan persalinan normal. Saat hamil, ibu pasien rutin kontrol ke bidan dan mengkonsumsi makanan bergizi. Berat badan pasien pada saat lahir 3,6 Kg dengan panjang 50 cm. Riwayat Makanan 0-7 bulan 7-sekarang + makanan

: ASI : susu formula + bubur keluarga

Riwayat Imunisasi BCG , Hepatitis B, Polio, DTP, Campak Orang tua menyatakan bahwa menjalani imunisasi telah lengkap sesuai KMS.

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Duduk sendiri pada usia 6 bulan Dapat berdiri pada usia 9 bulan Pasien mampu menggenggam mainan Pasien sering mengoceh namun belum bisa berbicara Pasien sudah dapat bermain dengan temannya

Lingkungan Pasien tinggal di daerah yang padat penduduk. Dalam satu rumah terdapat 7 orang. Tetangga pasien sering bermain dengan pasien tapi tidak memiliki riwayat penyakit serupa.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum Kesadaran Tanda-tanda Vital Nadi cukup Tekanan Darah Respirasi Suhu Antropometri Umur Berat badan Panjang badan Lingkar kepala BB/TB (WHO) TB/U (WHO) BB/U (WHO) : Sakit sedang : Terlihat rewel, gelisah, sesak : 120x/menit (80-130) ,regular,equal, isi : sulit dilakukan : 60 x/menit (20-30) abdominotorakal : 38,5 C (36,5-37,5)

: 2 tahun 1 bulan : 14 kg : 90 cm : 48 cm : 0 s/d +1 = normal : 0 s/d -1 = normal : 0 s/d +1 = normal

1. Kulit 2. Otot 3. Kepala Bentuk Ubun-ubun Rambut Wajah Mata ikterik Pupil Hidung cuping Telinga Mulut

: Tidak pucat, sianosis (-), jaundice (-), ptekiae (-). : Atrofi (-), hipertrofi (-)

: simetris : datar : Hitam, halus, tidak mudah rapuh : Simetris, flushing (-) : Simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak
: bulat isokor : Simetris, epistaksis -/-, sekret -/-, Pernafasan hidung(+) : Simetris, sekret -/: Bibir tidak kering, perioral sianosis (-), perdarahan gusi (-)

4. Leher Kelenjar Getah Bening : Tidak terdapat pembesaran Kelenjar Tiroid : Tidak ada pembesaran JVP : Tidak mengalami peningkatan Retraksi suprasternal (-) 5. Thorax Paru Inspeksi : Bentuk dan pergerakan simetris, retraksi intercostal (+) Palpasi : Pergerakan simetris Perkusi : Sonor Auskultasi : VBS kanan = kiri, wheezing -/-, crackles +/+, slem +/+

6. Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi

: Iktus kordis tidak tampak : Iktus kordis tidak teraba, thrill (-) : Tidak ada pembesaran jantung : S1-S2 normal reguler, murmur (-)

7. Abdomen Inspeksi Palpasi Hepar Limpa Perkusi Auskultasi

: Datar, retraksi epigastrium (-) : Lembut, turgor kembali cepat : Tidak ada pembesaran : Tidak ada pembesaran, ruang trobe kosong : Timpani : Bising usus (+) normal

8. Anogenital : tidak diperiksa 9. Ekstremitas : Bentuk simetris, deformitas (-), sianosis (-), ptekie (-), tidak pucat,Capillary Refil Test < 2 detik. 10. Neurologis Refleks fisiologis : +/+ Refleks Patologis : -/-

RESUME
Seorang anak laki-laki berusia 2th, dengan status gizi baik datang dengan keluhan sesak sejak 2 hari SMRS, sesak napas disertai dengan batuk, pilek, dan demam sejak 2 hari SMRS, batuknya terus-menerus dengan dahak warna kehijauan, dan kental. Terdapat suara dahak yang sulit dikeluarkan ketika pasien batuk an erdengar suara mengi. Selain itu juga terdapat demam yang muncul secara tiba-tiba dan dirasakan terus menerus. Selain itu pasien juga mual, muntah yang terjadi 2x, dan tampak rewel. Memiliki riwayat asma Didapatkan hasil pemeriksaan fisik dengan keadaan umum sakit sedang dan memiliki status gizi baik. Kesadaran pasien tampak rewel, gelisah, dan sesak, dengan pernafasan pada tanda vital takipneu. Selain itu peningkatan upaya nafas yang ditandai dengan pernafasan cuping hidung (+), pada pemeriksaan thoraks terdengar suara tambahan yaitu crackles (+/+), slem (+/+), dan terdapat retraksi intercostal (+) , pada pemeriksaan refleks fisiologis (+/+) dan pemeriksaan lain dalam

DIAGNOSA BANDING
1.

2.

Bronchopneumonia derajat berat e.c streptococcus pneumonia + Asma bronchiale tidak dalam serangan + status gizi baik Bronchopneumonia derajat berat e.c haemophilus influenza + Asma bronchiale tidak dalam serangan + status gizi baik

USULAN PEMERIKSAAN
Laboratorium darah (leukosit, trombosit, Hb, Ht, Diff count) AGD Foto Thorax PA Kultur Bakteri (kultur darah) + Tes Resistensi Skin prick test

DIAGNOSA KERJA

Bronchopneumonia derajat berat e.c S.pneumoniae + Asma bronchiale tidak dalam serangan + status gizi baik

PENATALAKSANAAN

Umum Rawat dalam bangsal Konsul rehabilitasi medik untuk chest physiotherapy

PENATALAKSANAAN
Khusus Paracetamol syr 3x1 cth jika demam Sefotaksim 25-50mg/kgBB, 3x500 Nebulisasi combivent

PROGNOSIS

Quo Ad Vitam : ad bonam Quo Ad fungsionam : ad bonam Quo Ad sanasionam : ad bonam

PENCEGAHAN
Penyakit bronkopneumonia dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan penderita atau mengobati secara dini penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya bronkopneumonia ini. Selain itu hal-hal yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit saluran nafas seperti : cara hidup sehat, makan makanan bergizi dan teratur ,menjaga kebersihan ,beristirahat yang cukup, dll. Melakukan vaksinasi juga diharapkan dapat mengurangi kemungkinan terinfeksi antara lain: Vaksinasi PCV (Pneumococcal conjugated vaccine

PEMBAHASAN

Pada pasien ini didapatkan diagnosis kerja Bronchopneumonia derajat berat e.c S.pneumoniae + Ashtma bronchiale tidak dalam serangan , berdasarkan : 1. Bronchopneumonia Berdasarkan anamnesis didapatkan keluhan sesak sejak 2 hari SMRS. Sesak napas semakin lama semakin terasa sesak, Sesak nafas terjadi ketika batuk terus menerus. Sesak nafas disertai batuk dan demam sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Batuk dirasakan terusmenerus namun dahak sulit dikeluarkan, tapi pernah sekali waktu keluar dengan warna kehijauan, dan kental. Terdapat suara ketika pasien batuk, seperti suara dahak yang tidak dapat dikeluarkan. Pasien tinggal di daerah yang padat penduduk, terdapat 7 orang yang tinggal dirumahnya sehingga dapat menyebabkan meningkatnya penularan penyakit dan dapat meningkatkan faktor polusi di dalam rumah sehingga dapat merusak mekanisme pertahanan paru dan memudahkan timbulya penyakit.

2. Derajat Berat Karena dari pemeriksaan fisik di dapatkan pernafasan takipneu, dengan adanya peningkatan upaya nafas yang ditandai dengan adanya pernafasan cuping hidung, retraksi intercostal, dan terdapat suara tambahan seperti crackles (+/+), dan slem (+/+). 3.Bakteri penyebab Streptococcus pneumoniae Karen bakteri penyebab bronkopneumonia pada usia 2-5 tahun itu salah satunya Streptococcus pneumonia dan merupakan bakteri tersering yang menyebabkan penyakit tersebut dengan persentase 30-50%. Dan dilihat dari hasil laboratorium jumlah leukosit 25.900/uL yang menandakan penyebabnya itu ialah bakteri

4. Ashtma Bronchiale Menurut anamnesis didapatkan adanya keluhan batuk yang biasanya muncul pada malam hari, keadaan dingin dan ketika pasien sedang kelelahan. Selain itu saat terjadi keluhan terdengar suara mengi. Orang tua pasien memiliki riwayat alergi makanan dan riwayat asma Keluhan ini pernah dirasakan beberapa kali oleh pasien. Pasien memiliki riwayat asma 5. Tidak dalam serangan Pada waktu dilakukan pemeriksaan fisik, tidak didapatkan suara tambahan seperti wheezing pada kedua lapang paru.

Tanggal

Tanda Vital N R 48 S 37,2 oC

Keluhan + Pemeriksaan Fisik BB 14 kg Tenang, batuk +

Keterangan

Rabu, 21 Maret 2013

110

Nebu +

PCH Crackles -/-, retraksi Slem +/+

Kamis, 22 Maret 2013

110

40

36,2 oC

BB 14 kg Tenang, batuk + PCH Crackles -/-, retraksi Slem -/Nebu + Rencana pulang

PNEUMONIA
Definisi Pneumonia adalah inflamasi yang terjadi pada parenkima paru (nelson) Penyakit peradangan akut pada paru yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme (pedoman diagnostik dan terapi) Parenkim adalah unit fungsional suatu organ. Pada paru unit fungsionalnya adalah terminal respiratory unit terdiri dari respiratory bronchiole, alveolar duct, dan alveoli. Terminal respiratory adalah suatu unit fungsional untuk terjadinya pertukaran gas.

LOWER RESPIRATORY TRACT


Bronchus Right and left pulmonary bronchi Secondary bronchi / lobar Tertiary bronchi / segmental Terminal bronchioles Respiratory bronchioles Alveolar duct Alveolar sacs

PERBEDAAN ANATOMI-HISTOLOGI PARU-PARU PADA ANAK DAN DEWASA Diameter airway pada anak lebih kecil jika dibandingkan dengan dewasa. Jumlah alveoli pada anak baru lahir 1/6 jumlah alveoli dewasa, sisanya dibentuk sampai10 tahun pertama kehidupan. Stroma/ jaringan ikat pada anak dan dewasa sama, namun dikarenakan pada anak jumlah alveolinya 1/6 dari dewasa, sehingga : -Dinding lebih tebal -Difusi lebih sulit -Gas exchange lebih sulit daripada pada dewasa Elastisitas recoil pada anak lebih rendah daripada dewasa.

EPIDEMIOLOGI
Penyebab kesakitan dan kematian pada anak (terutama pada anak < 5 tahun) di seluruh dunia, terutama di Negara berkembang Diperkirakan lebih dari 2 juta anak balita meninggal dunia karena pneumonia atau radang paru akut setiap tahunnya

ETIOLOGI
Terdiri dari bakteri, virus, dan jamur Bakteri adalah penyebab utama di negara berkembang, yaitu S. pneumoniae: 30-50% H. influenza type b (Hib) S.aureus, dll Virus Respiratory syncytial virus (RSV) : 15-40% Virus influenza A dan B Parainfluenza, dll

ETIOLOGI PNEUMONIA PADA ANAK BERDASARKAN USIA


Kelompok Usia Usia < 1 bl Patogen penyebab Streptokokus grup B, E. coli, Listeria monocytogenes S.pneumoniae, P. aeruginosa, H. influenza, S.aureus, C.trachomatis S. pneumoniae, H. influenzae, M.pneumoniae S. pneumoniae, M.pneumoniae, M. tuberculosis

Usia 2 bulan- 12 bulan

Usia 2- 5 tahun Usia 6 18 tahun

FAKTOR RESIKO
Malnutrisi Berat badan lahir rendah (bblr) Tidak mendapat imunisasi campak Kepadatan penduduk Polusi udara dalam rumah

KLASIFIKASI
Pembagian pneumonia berdasarkan
1.

Lokasi

Lobaris Interstitialis Bronchopneumonia (lobulus)

2.

Asal infeksi

CAP (Community acquired pneumonia) HAP (hospital acquired pneumonia)

3.

Mikroorganisme penyebab Bakteri, virus, jamur

DIAGNOSIS
Anamnesa Demam tinggi, batuk, gelisah, rewel, dan sesak napas. Gejala pada bayi tidak khas, seringkali tanpa demam dan batuk. Pada anak yang lebih besar kadang mengeluh sakit kepala,nyeri abdomen, disertai muntah.

Pemeriksaan fisik Neonatus : takipnea, grunting, PCH, retraksi dinding dada, sianosis, dan malas menetek. Bayi yang lebih besar : batuk, panas, rewel. Pada auskultasi ditemukan crackles (ronki basah halus)
< 2 bulan 2-12 bulan = 60x/menit = 50x/menit

12 bulan-5 tahun

= 40x/menit

Radiologis Karakteristik : Pada viral pneumonia terdapat hyperinflation dengan infiltasi interstisial bilateral Pada pneumococcal pneumonia terdapat gambaran confluent lobar consolidation.

Laboratorium Pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat membedakan antara pneumonia viral dan bacterial : Virus Leukosit normal atau meningkat (tidak melebihi 20.000/mm3 ), limfosit yang predominan Bakteri Leukosit meningkat (15.000 40.000 / mm3), dengan neutrofil predominan

Derajat Berat Pneumonia pada Anak Usia 2Bulan sampai 5Tahun KLASIFIKASI GEJALA
Tidak dapat makan, distres pernapasan berat sianosis sentral penurunan kesadaran, kejang. atau atau atau atau PNEUMONIA SANGAT BERAT

atau PENYAKIT SANGAT BERAT

Tarikan dinding dada ke dalam dan tidak ada tanda pneumonia sangat berat Napas cepat, dan tidak ada tanda pneumonia berat atau sangat berat

PNEUMONIA BERAT

BUKAN PNEUMONIA BERAT

Tidak ada tanda tanda pneumonia atau pneumonia sangat berat

BATUK ATAU FLU: BUKAN PNEUMONIA

PATOGENESIS
Inhalasi mikroorganisme atau masuknya kuman flora normal saluran respiratorik atas, sebagian kecil melalui hematogen

Kedalam alveoli
eksudasi cairan intra-alveolar, deposisi fibrin serta infiltrasi neutrofil (red hepatization)

CONT....

Penurunan compliance dan kapasitas vi tal paru Desaturasi oksigen akan mengakibatkan meningkatnya kerja jantung

deposisi fibrin dan disintegrasi sel inflamasi makin meningkat secara progresif (gray hepatization) resolusi terjadi setelah 8-10 hari bila berlangsung digesti eksudat secara enzimatik reabsorbsi dan pengeluaran oleh mekanisme batuk.

PENATALAKSANAAN
Kuman yang dicurigai atas dasar data klinis, etiologis, dan epidemiologis Berat ringan penyakit Riwayat pengobatan sebelumnya serta respon klinis Ada tidaknya penyakit yang mendasari

Antibitotika

Simptomatik

Cairan dan diet

Supprotif

Antibiotika
inisial : Ampisilin iv atau im harus dipantau dalam 24 jam selama 48-72 jam pertama. Bila keadaan klinis berat, pengobatan inisial berupa kombinasi ampisilin-gentamisin atau ampisilinkloramfenikol Kalau membaik, maka antibiotik dilanjutkan 5 7 hari Pada bayi < 2bl atau pneumonia sangat berat ampisilin ditambah gentamisin. Sesudah 48 jam pneumonia sangat berat tidak tampak perbaikan, antibiotik dirubah menjadi sefalosporin generasi 3 yaitu seftriakson dan sefotaksim.

SIMPTOMATIK
Obat penurun panas dan pereda batuk sebaiknya tidak diberikan terutama pada 72 jam pertama karena akan mengaburkan interpretasi reaksi terhadap antibiotik awal.

Supportive

Oksigen 0,5-1 liter/menit sampai sesak hilang

CAIRAN DAN NUTRISI


Dapat diberikan secara oral atau infus atu pipa nasogatrik Jumlah cairan disesuaikan dengan keseimbangan elektrolit

ANALISIS KASUS
Pada kasus ini, diagnosis banding bronchopneumonia e.c S.pneumonia adalah bronchopneumonia e.c H.influenza. Adapun perbedaan kedua penyakit tersebut adalah : Pneumococus (pneumonia streptococcus) Anak dan remaja Sesudah URTI ringan, demam tinggi, yang disertai rasa gelisah,rewel, pernafasan cepat, batuk berdahak. Mungkin ada sianosis disekitar mulut Banyak anak yang dibidai pada sisi yang terkena untuk meminimalisir nyeri pleuritis dan memperbaiki ventilasi Berbaring miring dengan lutut ditarik ke atas pada dada Adanya retraksi, nasal flaring, terdapat ronki halus pada sisi yang terkena Distress pernapasan (pernafasan cuping hidung, retraksi supraklavikula, interkostal, dan subkostal, takipnea, takikardia PE: suara pernapasan melemah dan halus, ronki pada sisi yang terkena, terdapat slem Tanda tanda fisik pada paru biasanya berubah sedikit selama perjalanan penyakit, walaupun ronki mungkin lebih dapat didengar selama penyembuhan

Pneumonia Haemophilus influenza infeksi nasofaring hampir mendahului semua variasi penyakit ini, terlokalisasi, seperti epiglotitis, pneumonia, meningitis Manifestasi klinis hampir sama dengan pneumococcus, tetapi pada pasien ini semulai secara tersembunyi dan perjalanannya selama beberapa minggu Batuk nonproductive, fever, takipnea, nasal flaring, retraksi dinding dada

USULAN PEMERIKSAAN
Laboratorium

darah (leukosit, trombosit, Hb, Ht, Diff count)

Pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung jenis leukosit dapat membedakan antara pneumonia viral dan bacterial :

Virus :Leukosit normal atau meningkat (tidak melebihi 20.000/mm3 ), limfosit yang predominan
Bakteri :Leukosit meningkat (15.000 40.000 / mm3), dengan neutrofil predominan
AGD

Pada pasien didapatkan keluhan sesak, ditakutkan sampai terjadi asidosis respiratorik.
Foto

Thorax PA :

Tujuannya untuk mengkonfirmasi diagnosis pneumoni, Karakteristik Pada viral pneumonia terdapat hyperinflation bilateral.

dengan infiltasi interstisial

Pada pneumococcal pneumonia terdapat gambaran confluent lobar consolidation. Gambaran radiografik saja bukan merupakan diagnostic, oleh karena itu

Kultur

Bakteri (kultur darah) + Tes Resistensi Dilakukan kultur bakteri melalui darah untuk menentukan jenis bakteri dan dapat menentukan penatalaksanaan yang akan diberikan kepada pasien. Skin prick test Diperlukan untuk kasus asma untuk menentukan kemungkinan beasr berhubungan dengan alergi terhadap suatu allergen tertentu. Dan juga apat membantu mengidentifikasi faktor pencetus

USULAN PENATALAKSANAAN
Umum Rawat dalam bangsal : untuk memantau dari keluhan sesak. Dan adanya pernafasan cuping hidung dan juga adanya retraksi dinding dada merupakan indikasi rawat inap. Tirah baring : untuk mengurangi keluhan sesak Oksigen 0,5-1 liter/menit Kebutuhan cairan (RL) 1200 cc/hari 16 gtt/mnt (macro) Konsul rehabilitasi medik untuk chest physiotherapy : untuk membantu mengencerkan dan mengeluarkan dahak pada pasien

Khusus Paracetamol syr 3x1 cth (125mg/5ml) Ampisilin (iv) 50mg/kgBB, diberikan 4x1 4x 500 mg iv ditambah kloramfenikol (iv) 25mg/kgBB, diberikan 4x1 4x 350 mg iv selama 5 hari Bila keadaan klinis berat, pengobatan inisial berupa kombinasi ampisilin-kloramfenikol. Diberikan sesuai dengan kumannya. Ampisilin untuk s.pneumonia, dan kloramfenikol untuk h.influenza

Quo Ad Vitam : ad bonam Mortalitas jarang terjadi pada anak dengan bronkopneumonia. Pada pasien ini terjadi perbaikan klinis dengan pemberian antibiotik yang ditanda dengan menghilangnya gejala klinis. Quo Ad Fungsionam : ad bonam Pada pasien ini terjadi bronkopneumonia dengan derajat berat, namun dengan antibiotic yang adekuat dan sesuai dengan kumannya dapat mengalami perbaikan pada keluhannya. Quo Ad Sanasionam : ad bonam Brronkopneumonia dapat berulang jika terdapat faktor pencetus. Namun secara umum, pada pasien ini berespon baik terhadap pemberian antibiotik, dan kepatuhan dari pasien ini sendiri baik.

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai