Anda di halaman 1dari 16

JURNAL ARTEKS VOL. I, No.

1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

PENATAAN PERMUKIMAN NELAYAN MENUJU KAWASAN


ZERO WASTE
(Studi Kasus: Permukiman Nelayan Gudang Lelang Bandar Lampung)

Roswita Rensa Susanto


Magister Arsitektur, Program Pascasarjana, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Indonesia
Email: renssusanto@gmail.com

Abstrak
Permukiman Nelayan Gudang Lelang Bandar Lampung semakin mengalami penurunan kualitas
lingkungan akibat permasalahan sampah. Tujuan penelitian adalah mengetahui bentuk penataan
kawasan yang tepat sebagai pemecahan permasalahan menyangkut sampah untuk diterapkan pada
Permukiman Nelayan Gudang Lelang sehingga menjadi kawasan zero waste. Metode yang dilakukan
dalam pengumpulan data antara lain observasi, literatur, dan wawancara. Analisa yang dilakukan
melingkupi lingkungan, manusia, bangunan yang hasil kajian dari analisa tersebut berupa strategi
penataan kawasan.

Kata kunci: Penataan suatu kawasan, permukiman nelayan, sampah.

Abstract

Title: Fisherman Settlement Arrangement to Area Zero Waste

The quality of the environment in Gudang Lelang fishermen district is getting decrease because of
trash problem. The purpose of the research is to know the appropriate form of the district’s
arrangement as a problem solving of trash to be applied to Gudang Lelang fishermen as a Zero Waste
district. The methods of data collection are observation, literature, and interview. The analysis
performed covers environment, human and building which the result of the analysis is startegy for
district planning.

Keywords: A district’s system, fishermen settlement, trash.

Pendahuluan Sistem pengolahan dan penanganan


sampah yang minim menyebabkan
Persampahan merupakan isu penting sampah tidak tertangani dengan baik
penyebab pencemaran lingkungan di sehingga menimbulkan masalah bagi
berbagai wilayah Indonesia. Di daerah kesehatan lingkungan seperti
perkotaan dengan tingkat pertumbuhan pencemaran tanah, air, dan udara.
dan jumlah penduduk yang tinggi Sampah adalah segala bentuk limbah
terdapat permasalahan sampah yang yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia
tidak dapat terelakkan (Ramang R, dkk, maupun binatang yang berbentuk padat
2007). Hal tersebut menimbulkan dan secara umum sudah dibuang, tidak
permasalahan serius pada lingkungan. bermanfaat atau tidak dibutuhkan lagi

83
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

yang terus menerus meningkat. mengurangi jumlah timbunan sampah


(Theisen, 1997). pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Timbunan sampah tidak dapat Konsep zero waste pun dapat diterapkan
dihentikan, akan tetapi harus dikelola, mulai dari skala individu/rumah tangga,
dikurangi atau diminimalisasi secara skala kawasan hingga skala kota.
baik. Berbagai penyelesaian Saat ini permasalahan sampah tidak
permasalahan sampah mulai disadari hanya terdapat pada area kota, tetapi
oleh pemerintah maupun masyarakat, hal juga di area pesisir. Permasalahan ini
ini terlihat dengan bermunculan konsep- terjadi karena semakin padatnya jumlah
konsep penyelesaian permasalahan penduduk yang tinggal di tepi pantai,
sampah salah satunya dengan konsep keterbatasan lahan untuk tempat
zero waste. Menurut Recycling Council pembuangan sampah pun menjadi
of British Columbia (RCBC), zero waste masalah utama. Kondisi ini kemudian
merupakan suatu prinsip untuk diperparah dengan kurangnya
merancang siklus suatu sumber daya penyediaan sarana dan prasarana yang
sehingga memungkinkan seluruh seluruh memadai seperti fasilitas penanganan
dapat digunakan dengan meminimalisasi sampah, sehingga menyebabkan
produktifitas sampah. Sedangkan masyarakat cenderung membuang
menurut Anom Wibisono (2008) zero sampah sembarangan.
waste merupakan salah satu alternatif Sama halnya dengan kondisi pada
memecahkan permalasahan sampah kawasan pesisir di permukiman nelayan
dengan pola pendekatan pengolahan Gudang Lelang Kota Bandar Lampung.
sampah pada sumber melalui metode Permasalahan sampah menjadi
partisipatoris, dimana peran aktif permasalahan yang tengah dihadapi.
masyarakat dalam mengurangi dan Minimnya penyediaan fasilitas sampah
mangolahnya sendiri secara dini seperti tempat sampah yang terbatas,
merupakan keutamaan untuk mencapai perilaku masyarakat lokal yang
lingkungan permukiman yang bersih dan cenderung membuang sampah
sehat. Tujuan konsep zero waste (EPA, sembarangan serta menejemen
2009) antara lain: pengolahan sampah yang kurang
1. Mengurangi jumlah timbulan diperhatikan mengakibatkan kondisi
sampah persampahan di kawasan tersebut
2. Mengurangi konsumsi sumber daya semakin mengkawatirkan.
untuk menghemat energi Sampah padat yang ditemui di kawasan
3. Mengurangi perubahan iklim objek studi adalah jenis sampah organik
4. Mencegah pembentukan dan anorganik. Sampah organik meliputi
pencemaran sampah ikan yang terbuang dan sisa-sisa
5. Meminimalkan kerusakan ekosistem pengolahan bahan makanan dari ikan,
Konsep zero waste bertujuan untuk sedangkan sampah anorganik berupa
menanggulangi masalah persampahan sampah plastik yang terlihat berserakan
sehingga sampah dapat diolah, didaur di sekitar area studi. Sampah-sampah
ulang dan digunakan kembali sebagai yang ada disebabkan karena para warga
sumber daya alternatif baru yang yang membuang sampah sembarangan.
bermanfaat baik dari segi ekonomi Pada umumnya sampah dibuang
maupun lingkungan serta dapat langsung ke laut dan dibuang di sekitar

84
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

lingkungan permukiman. Jika Kota Bandar Lampung. Adapun luas


permasalahan sampah tidak ditangani kawasan studi adalah 50.000 m2. Batas-
dengan baik maka akan menyebabkan batas wilayah studi adalah Kelurahan
degradasi lingkungan terutama Kangkung Dalam di bagian utara, Teluk
pencemaran air laut. Lampung di bagian Selatan, Kecamatan
Penanganan masalah sampah tidak Pesawaran di bagian Barat, Kecamatan
hanya dapat diselesaikan secara teknis Bumi Waras di bagian Timur.
seperti pengolahan sampah menjadi Kawasan studi merupakan daerah
pupuk maupun sumber energi saja tetapi permukiman bagi nelayan yang
juga dapat berupa pendekatan lewat pekerjaannya menangkap ikan, binatang
desain kawasan melalui perencanaan dan laut, kerang-kerangan. Penggunaan
perancangan sebuah kawasan lahan pada kawasan studi sebagian besar
berkonsepkan zero waste. untuk permukiman dan kegiatan
Pendekatan dalam desain kawasan perekenomian seperti pasar, pertokoan,
menjadi penting diantaranya penataan dan tempat pelelangan ikan.
tata bangunan sehingga tidak
menimbulkan permasalahan lingkungan,
sistem sirkulasi yang tidak hanya
terhubung dengan baik tetapi menunjang
dalam hal pengangkutan dan
pengelolaan sampah, hingga pada sarana
dan prasarana penunjang kawasan yang
lain yang kesemuanya dapat mendukung
terciptanya kawasan yang bebas sampah.
Pada kasus persampahan di kawasan
Permukiman Nelayan Gudang Lelang
juga seharusnya dapat diselesaikan
dengan menggunakan arahan penataan
kawasan yang baik sehingga dapat
menjadikan kawasan Permukiman
Nelayan Gudang Lelang sebagai
kawasan permukiman yang bebas
sampah (zero waste).

Materi dan Metode


Objek studi Gambar 1. Lokasi permukiman nelayan
gudang lelang Bandar Lampung
Permukiman Nelayan Gudang Lelang Sumber: Hasil Analisis, 2016
terletak di Lingkungan III, Kelurahan
Kangkung, Kecamatan Bumi Waras,

85
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

Gambar 2. Kawasan studi


Sumber: Hasil Analisis, 2016

Sebagaimana diketahui bahwa sebagian didapat gambaran umum kondisi


besar kawasan studi dimanfaatkan untuk permukiman sebagai berikut:
kawasan permukiman. Pola permukiman 1. Kondisi fisik bangunan pada daerah
yang terbentuk adalah linier dengan permukiman umumnya non
pertumbuhan permukiman yang terjadi permanen;
secara incremental. Tumbuh secara 2. Pola pertumbuhan permukiman
natural tanpa adanya pengendalian tersebut kurang teratur;
secara spatial. Awal mula pertumbuhan 3. Sarana aksesibilitas yang mampu
permukiman berada di daratan namun menjangkau sistem pelayanan
akibat terjadinya arus urbanisasi dan pengangkutan sampah yang ada
sempitnya lahan, maka penduduk berupa jalan selebar 6 meter sebagai
membangun rumah di atas perairan jalan utama;
sehingga kawasan tumbuh dan 4. Beberapa sarana dan prasarana
berkembang tidak merata. Hal ini lingkungan pengelolaan sampah
menyebabkan kawasan studi sangat belum tersedia;
potensial menjadi kumuh, apabila tidak 5. Banyaknya timbunan sampah di
segera dicari pemecahan untuk permukiman khususnya di wilayah
pengendalian. perairan menyebabkan terjadinya
Dari pengamatan di lapangan pencemaran lingkungan Teluk

86
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

Lampung. dengan lainnya. Rata-rata satu


Fenomena itu tergambar dengan jelas rumah dibangun dengan jarak 40-60
pada kawasan studi sebagai kawasan cm dengan rumah lainnya dan
dengan lingkungan yang kurang terjaga. dibangun berdempet langsung
Hal itu yang menjadi alasan pemilihan dengan gang. Kondisi fisik rumah
kawasan studi sebagai objek penelitian. penduduk mempunyai ciri-ciri
Unruk mendapatkan arahan penataan sebagai berikut:
kawasan maka diperlukan analisis a. Lantai dan dinding berupa kayu
permukiman nelayan serta masalah (rumah di atas perairan)
pengelolaan sampah di dalamnya dan b. Lingkungan sekitar yang
faktor-faktor yang mmpengaruhinya. kumuh karena banyaknya
Lalu dilakukan analisis topik kajian serta sampah.
data kualitatif dan kuantitatif yang Berdasarkan survei lapangan, jarak
terkait. antar rumah digunakan sebagai
ruang pembuangan sampah.

Hasil dan Pembahasan


1. Karakteristik permukiman
nelayan gudang lelang

A. Status penguasaan bangunan


Jumlah KK yang menempati bangunan
bukan milik sendiri adalah 1.304 KK di
permukiman nelayan Gudang Lelang.
Adanya KK yang belum mempunyai
rumah sendiri dan menumpang pada
orang tua/saudara akan mempengaruhi
tingkat penggunaan luas lantai
bangunan.

B. Kondisi bangunan
i. Permukiman
Bentuk dan kondisi rumah nelayan Gambar 3. Kondisi timbunan sampah di area
perumahan
beragam dan sangat sederhana.
Sumber: Hasil Analisis, 2016
Berdasarkan letaknya, rumah
nelayan dibangun di daratan dan di ii. Perdagangan
atas perairan, ditempati dengan cara Bangunan di area perdagangan
dibangun sendiri (semi permanen). terletak di sepanjang koridor jalan
Jumlah rumah yang berada di utama (Jalan Ikan Bawal) yang
daratan mencapai 183 rumah terdiri dari pertokoan, pasar, TPI
sedangkan di atas perairan sebanyak (Tempat Pelelangan Ikan dan PPI
311 rumah. Tata letak bangunan (Pusat Pendaratan Ikan), dan TPS
dibangun berhimpitan satu rumah (Tempat Pembuangan Sampah).

87
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

Pola bangunan berbentuk linier utama. Hal itu dikarenakan karena alat
dengan orientasi ke arah jalan dan pengangkut sampah berupa gerobak
berhimpitan langsung dengan jalan. motor pengangkut sampah yang
disediakan pemerintak sulit untuk masuk
C. Kondisi persampahan ke area hunian. Ukuran gerobak sampah
Komposisi dari sampah yang dihasilkan yang digunakan adalah 300x125x126
di permukiman nelayan Gudang Lelang cm. Sebelum tahun 2012, alat
didominasi oleh sampah organik, yang pengangkut sampah yang disediakan
mencapai 75,73% total sampah yang adalah gerobak dorong dengan ukuran
dihasilkan. 120x60x100 cm, hal tersebut
Timbulan sampah yang terdapat di memungkinkan untuk memasuki
permukiman dengan area hunian beberapa wilayah hunian untuk
memiliki timbulan sampah terbesar mengangkut sampah pada masing-
sebanyak 4432,5 L, sedangkan ruko masing rumah.
sebanyak 42 L dan area pasar dan TPI 90% KK menimbun sampah kemudian
sebanyak 15,6 L. Pada area jalan, jalan membuang sampah ke laut. Hal ini
lingkungan menghasilkan timbulan disebabkan beberapa hal yaitu:
terbesar yaitu 263,1 L sedangkan jalan i. Belum adanya wadah sampah
utama hanya 8,4 L. individual yang disediakan setiap
Jumlah sampah yang diproduksi untuk KK.
area perumahan di atas perairan ii. Lokasi rumah yang dekat dengan
memiliki presentase hasil produksi lebih laut terutama rumah yang terletak di
besar dengan presentase 64% sedangkan atas perairan membuat warga
perumahan di daratan 36%. cenderung lebih memilih membuang
Di kawasan ini terdapat 1 wadah sampah langsung ke laut.
komunal berupa TPS. Lokasi TPS iii. Pola pengumpulan sampah oleh
berada di Jalan Ikan Bawal yang terletak petugas yang hanya dilakukan di
berdekatan dengan area permukiman dan koridor jalan utama (pertokoan,
pertokoan. Berdasarkan hasil pasar dan TPI) sedangkan jalan
pengamatan, jangkauan TPS terhadap kecil/gang tidak memiliki sistem
area permukiman hanya mencapai 15 pengumpulan.
meter, hal ini dapat dilihat dari warga
yang menempati hunian dengan jarak 15 D. Kondisi jalan
meter dari TPS masih membuang Kawasan ini terletak di satu jalan utama,
sampah langsung ke TPS, hunian dengan yaitu Jalan Ikan Bawal. Jalan Ikan
jarak lebih dari 15 meter memilih untuk Bawal memiliki lebar sekitar 6 meter
membuang sampah pada wadah yang pada area pertokoan dan 3 meter pada
disediakan sendiri atau langsung area pasar. Pada jalur utama, setiap
membuang sampah ke laut. harinya, jalur ini melayani kendaraan
Penanganan sampah di kawasan ini pengangkut sampah dan pengangkut
menggunakan sistem pengumpulan dan hasil tangkapan ikan, dan kendaraan
pengangkutan ke TPS sebelum diangkut bermotor.
ke TPA. Sistem pengumpulan dan
pengangkutan sendiri saat ini hanya
dilakukan di area komersil di jalan

88
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

lahan kosong tersebut dibiarkan begitu


saja, maka warga di lingkungan tersebut
menggunakan lahan tersebut sebagai
tempat pembuangan sampah.
Selain itu terdapat ruang terbuka yang
disediakan oleh warga sendiri sebagai
tempat penjemuran ikan. Lokasi ruang
penjemuran ikan berada di atas perairan
di dekat rumah warga dan dikelola oleh
Gambar 4. Lebar jalan utama kawasan
Sumber: Hasil Analisis, 2016 pemiliknya. Sisa-sisa ikan yang terbuang
langsung dibuang oleh warga ke laut.
Selain itu terdapat jalan gang yang karena lokasi yang berada di atas
menghubungan masing-masing perairan.
perumahan di lingkungan sekitar Ruang terbuka yang ada di dalam
permukiman di sekitar kawasan dengan kawasan ini berpotensi sebagai tempat
lebar jalan 0,8-1 meter. Pada jalan gang penghasil sampah. Warga
kawasan ini, merupakan jaringan jalan mempergunakan ruang terbuka sebagai
yang tidak dilewati oleh petugas tempat untuk membuang sampah, hal ini
kebersihan untuk mengangkut sampah. menyebabkan terjadinya pencemaran
Lebar jalan yang tidak memadai lingkungan, seperti menimbulkan bau
membuat alat pengangkut sampah yaitu sampah, serta merusak biota laut di
gerobak sampah tidak dapat melewati. kawasan tersebut. Luas ruang terbuka
Gerobak sampah yang dimiliki petugas tersebut hanya 3% dari luas perumahan
kebersihan memiliki lebar 1,2 m, pada permukiman nelayan Gudang
sehingga sangat tidak memungkinkan Lelang padahal ruang terbuka yang
petugas untuk mengangkut sampah pada dibutuhkan adalah >10%.
area di jalan ini.
F. Tingkat kepadatan penduduk
Tingkat kepadatan penduduk pada
permukiman nelayan Gudang Lelang
adalah 210 jiwa/ Ha. Tingkat kepadatan
penduduk mempengaruhi kondisi
pengelolaan persampahan karena
semakin besar jumlah penduduk, maka
semakin banyak limbah yang dihasilkan.
Limbah penduduk yang belum dikelola
dengan baik mengakibatkan tekanan
terhadap daya dukung fisik lingkungan
Gambar 5. Lebar jalan gang kawasan yang selanjutnya menyebabkan
Sumber: Hasil Analisis, 2016 penurunan kualitas lingkungan.

E. Ruang terbuka G. Jumlah KK per rumah


Ruang terbuka pada permukiman Jumlah KK per rumah pada permukiman
nelayan Gudang lelang berupa lahan nelayan Gudang Lelang adalah 2
kosong milik warga setempat. Karena KK/rumah Terdapatnya lebih dari 1 KK

89
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

dalam 1 rumah mengakibatkan tingkat i. Perbaikan jalan area perumahan


penggunaan luas lantai bangunan dapat sepanjang 2,21 km dengan
bernilai 2 m2/orang juga menyebabkan melakukan pelebaran jalan
tingkat kepadatan penduduk sangat sehingga sistem pengangkutan
tinggi hingga mencapai 210 jiwa/Ha. sampah dapat berjalan.
ii. Penambahan ruang terbuka
H. Partisipasi Masyarakat berupa jalur hijau di sepanjang
Partisipasi masyarakat dalam jalan area perumahan serta jalur
pengelolaan sampah di permukiman hijau di sekitar area perdagangan.
nelayan Gudang Lelang belum baik, iii. Penyediaan rusun dengan sistem
terbukti dalam hasil survei dan sewa untuk menampung 1.304
wawancara di lapangan, menunjukan KK dengan melakukan
hasil yang signifikan bahwa sebagian pemindahan seluruh warga yang
besar masyarakat belum mendukung menempati wilayah perairan ke
sistem pengelolaan sampah yang ada. rusun.
Sebanyak 90% masyarakat memilih
membuang sampah ke laut. Selain itu
juga belum ada pemilahan sampah yang
dilakukan oleh masyarakat setempat.

2. Faktor-faktor yang
mempengaruhi penataan nelayan
gudang lelang
Faktor-faktor yang mempengaruhi
penataan permukiman nelayan Gudang
Lelang berdasarkan hasil analisis faktor Gambar 6. Tipologi bangunan rusun
adalah (1) faktor prasarana jalan, sarana Sumber: Hasil Analisis, 2016
ruang terbuka, dan tingkat kepadatan
b. Arahan pengelola sampah
penduduk dengan pengaruh sebesar
i. Untuk pewadahan
34,5% terhadap penataan permukiman
diklasifikasikan sesuai sumber
dengan variabel kondisi bangunan, jalan,
sampah. Secara umum
dan besarnya ruang terbuka, (2) faktor
penggunaan elemen warna untuk
kondisi sampah dengan pengaruh
membedakan ketiga jenis tempat
terhadap penataan permukiman sebesar
sampah yaitu:
18,45% yang meliputi kondisi
1). Warna hijau untuk sampah
persampahan dan pengelolaan sampah.
organik
2). Warna kuning untuk sampah
3. Arahan/prinsip penataan nelayan
anorganik
gudang lelang
3). Warna merah untuk sampah
Arahan penataan permukiman
berbahaya/ B3
nelayan Gudang lelang meliputi
Jenis pewadahan dibedakan
a. Arahan penataan prasarana jalan,
berdasarkan sumber sampah,
sarana ruang terbuka, dan
yaitu:
kepadatan penduduk

90
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

a) Daerah hunian sampah melalui sistem


- Kantung plastik/kertas, komposting. Pengelolaan sampah
volume sesuai yang dikoordinir oleh masing-masing
tersedia di pasaran; RT dengan melibatkan partisipasi
- Bin plastik/tong, volume masyarakat. Pengolahan sampah
40-60 liter, dengan tutup. dan limbah kawasan adalah
b) Pasara dan TPI dengan tujuan untuk mengolah
- Bin/tong sampah, sampah menjadi produk yang
volume 50-60 liter; memiliki nilai ekonomis sekaligus
- Gerobak sampah, volume sebagai upaya menekan jumlah
1.0 m3; timbulan sampah kawasan.
- Bak sampah. Pengolahan ini diharapkan dapat
c) Pertokoan mereduksi produksi sampah
- Kantung plastik, volume mencapai 70%.
bervariasi;
- Bin plastik/tong, volume
50-60 liter.
ii. Setiap bangunan rumah tinggal
disediakan tempat sampah untuk
mewadahi sampah rumah tangga.
iii. Setiap bangunan komersil
disediakan tempat sampah untuk
mewadahi sampah kuliner.
iv. Setiap ruang terbuka dilengkapi
dengan fasilitas pewadahan
sampah berupa tempat sampah.
Gambar 8. Rumah komposting
Sumber: google image.com, 2016

4. Strategi perancangan penataan


kawasan permukiman nelayan
gudang lelang
Berikut strategi penataan kawasan
permukiman nelayan Gudang Lelang:
a. Pembagian sub kawasan dan
pendekatan yang dilakukan
Dalam proses perumusan strategi
penataan kawasan diperlukan suatu
Gambar 7. Jenis tempat sampah
pendekatan yang digunakan dalam
Sumber: google image.com, 2016 menentukan tingkat perubahan dari
upaya penataan yang dilakukan.
v. Pengelolaan sampah secara Pendekatan ini juga berfungsi sebagai
mandiri melalui 3R (Reduce, arahan dalam melakukan upaya penataan
Reuse, Recycle) dengan melakukan yang sesuai dengan kondisi tapak dan
pemilahan sampah dan pengolahan tujuan pengembangan yang ingin

91
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

dicapai. Beberapa hal yang perlu kawasan sesuai dengan kebutuhan.


dilakukan adalah membagi setiap sub Untuk itu, kawasan ini akan dibagi atas
kawasan di dalam kawasan berdasarkan dua sub kawasan, yaitu sub kawasan A
karakteristik fisik dan fungsinya. Hal ini dan B.
dilakukan untuk memudahkan dalam
menentukan bentuk pendekatan penataan

Gambar 9. Pendekatan penataan kawasan permukiman nelayan gudang lelang


Sumber: Hasil Analisis, 2016
dibongkar. Sedangkan fungsi hunian
b. Konsolidasi lahan baru berupa rusun akan dibangun 384
Dalam program penataan kawasan unit rusun sistem sewa. Kebutuhan
permukiman nelayan Gudang Lelang, fasilitas fasilitas sosial dan umum yang
perombakan unit-unit bangunan untuk akan ditambah pada kawasan ini berupa
pembangunan fungsi baru akan sarana ibadah, sarana kebudayaan, ruang
dilakukan pada sub kawasan B dengan terbuka, dan sarana pengolahan sampah.
tingkat perubahan besar. Konsolidasi
lahan pada kedua sub kawasan ini akan c. Program fungsi kawasan
mengakibatkan terjadinya pemindahan Berdasarkan hasil-hasil analisis yang
penduduk dalam jumlah besar. telah dilakukan, telah ditentukan bahwa
Penambahan fungsi baru dan sebagian besar kawasan akan mengalami
pembangunan kembali di kawasan penataan fisik. Kawasan akan
memerlukan 494 unit hunian yang dikembangkan menjadi sebuah kawasan

92
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

hunian dan perdagangan. Kawasan fungsi perdagangan lainnya seperti toko


hunian akan dikembangkan melalui kelontong, warung dan swalayan skala
beberapa strategi diantaranya perbaikan kecil. Zona hunian dibagi atas jenis
dan perombakan. penghuninya meliputi hunian bagi warga
Penambahan ruang terbuka hijau dan asli dengan ragam profesi. Zona ruang
fasilitas pendukung juga menjadi aspek terbuka hijau dibagi atas bentuk
penting dalam program penataan ini, penghijauan secara luas dan penghijauan
karena pengembangan kawasan menuju koridor.
konsep zero waste bertujuan untuk Penempatan fungsi pada jalur utama
memperbaiki fisik kawasan dan jalan Ikan Bawal sebagian besar
mewadahi aktivitas masyarakatnya, mengikuti kondisi eksisting dan hanya
tanpa mengorbankan keberlanjutan mengalami sedikit penataan fisik untuk
ekosistem lingkungannya. meningkatkan kualitas visual kawasan.
Koridor komersial diletakkan pada area
d. Konsep tata guna lahan jalan utama kawasan yaitu sepanjang
Dalam konsep ini akan ditentukan tata koridor jalan Ikan Bawal. Penempatan
guna lahan sesuai dengan fungsi, area komersial pada lapisan terluar
kemudahan sirkulasi, dan sistem kawasan bertujuan untuk memudahkan
pengolahan sampahnya. Secara garis pencapaian pengunjung dan membagi
besar konsep tata guna lahan yang intensitas pengunjung lebih banyak pada
diterapkan dalam program penataan zona publik.
kawasan ini terbagi atas 4 zona fungsi Strategi ini jugadipergunakan untuk
besar, yaitu zona komersial, zona hunian mempertahankan sebagian karakteristik
dan zona ruang terbuka hijau. Zona kawasan yang telah membentuk kawasan
komersial meliputi fungsi-fungsi komersial pada area utara kawasan.
perdagangan seperti toko pedagang
bahan kebutuhan rumah tangga, dan

Gambar 10. Konsep tata guna lahan kawasan permukiman nelayan gudang lelang
Sumber: Hasil Analisis, 2016

93
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

e. Konsep tata massa bangunan berbatasan langsung dengan jalur


Massa bangunan pada umumnya sirkulasi utama.
memiliki arah orientasi pada jalur Pola penataan bangunan dalam bentuk
sirkulasi dan ruang-ruang publik. Hal grid dengan pola jalan yang saling
tersebut dilakukan agar tidak tercipta memotong tegak lurus sehingga dengan
ruang mati/negatif pada jalur sirkulasi pola seperti itu akan menambah
dan menciptakan interaksi positif antara hembusan angin yang berasal dari arah
ruang dalam bangunan dan ruang luar, selatan kawasan yang dapat
khususnya pada koridor utama yang dimanfaatkan untuk ventilasi di dalam
bangunan.

Gambar 11. Pola massa bangunan untuk memperlancar pergerakan angin dari Selatan kawasan
Sumber: Hasil Analisis, 2016

f. Konsep sirkulasi
Perencanaan sistem sirkulasi di kawasan
ini dibagi atas dua jenis yaitu pola
sirkulasi yang dipertahankan dan pola
sirkulasi yang baru. Pola sirkulasi yang
dipertahankan meliputi pola sirkulasi
pada jalur utama yaitu jalan Ikan Bawal.
Sebagian besar jalur sirkulasi dan parkir Gambar 12. Potongan jalur sirkulasi area
dalam kawasan dirancang dengan perdagangan
menyediakan wadah-wadah sampah. Sumber: Hasil Analisis, 2016
Konsep ini dapat membantu warga untuk
membuang sampah.

94
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

g. Konsep ruang terbuka hijau


Perencanaan ruang terbuka hijau pada
kawasan permukiman nelayan Gudang
Lelang secara umum dibagi atas dua
jenis yaitu perencanaan jalur hijau
(green belt) dan taman hijau (square).
Untuk jalur hijau dapat
diimplementasikan pada jalur-jalur
sirkulasi utama dan sirkulasi pedestrian,
Gambar 13. Perspektif jalur sirkulasi area
sedangkan taman hijau dapan dibentuk
perdagangan
Sumber: Hasil Analisis, 2016 dari ruang kosong diantara bangunan
atau ruang-ruang komunal. Konsep
pambangunan hunian vertikal
memberikan manfaat tersedianya banyak
ruang terbuka yang dapat dipreservasi
sebagai ruang terbuka hijau.

Gambar 14. Perspektif jalur sirkulasi area


perumahan
Sumber: Hasil Analisis, 2016

Gambar 15. Konsep ruang terbuka hijau kawasan permukiman nelayan gudang lelang
Sumber: Hasil Analisis, 2016

95
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

h. Konsep sistem pengolahan sampah i. Pengolahan Sampah dan Limbah


Sistem pembuangan sampah pada Kawasan dengan Konsep Zero
kawasan ini disediakan dengan Waste
menempatkan beberapa tempat Pengolahan sampah dan limbah
pembuangan sampah sementara di setiap kawasan adalah dengan tujuan untuk
zona hunian. Pengelolaan sampah dalam menolah sampah menjadi produk
skala lingkungan dengan pendekatan yang memiliki nilai ekonomis
Reduce, Reuse, Recycle (3R) untuk sekaligus sebagai upaya menekan
mengurangi produksi sampah dari jumlah timbulan sampah kawasan.
sumbernya. Adapun arahan pengolahan dapat
dilihat pada bagan di bawah ini:

Gambar 16. Konsep sistem pengolahan sampah


Sumber: Hasil Analisis, 2016

ii. Sistem pengangkutan sampah ataupun sampah plastik yang harus


Penjadwalan waktu pengumpulan, diolah menjadi produk.
dimana sampah mudahmembusuk b) Sampah kayu; Penyapuan sampah
hendaknya diangkut paling lama 2 hari kayu dilakukan oleh petugas
sekali, sedangsampah non-hayati kebersihan yang kemudian diangkut
(anorganik) diangkut dengan dan dikumpulkan pada rumah
frekuensiseminggu sekali. komposting yang mana akan
a) Sampah Plastik; sampah diangkut digunakan sebagai bahan baku
dari setiap tempat sampah disetiap pembuatan pupuk kompos.
sumber sampah yang kemudian c) Sampah Kuliner; Sampah kuliner
dikumpulkan dan dipilah pada berupa sisa makan pada tempat
rumah pilah sampah. pemilahan sampah diangkut dari setiap warung
dilakukan untuk memilah sampah kuliner kemudian dikumpulkan pada
plastik yang dapat dijual langsung rumah komposting juga yang

96
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

berfungsi sebagai wadah untuk nelayan Gudang Lelang


mengeringkan jenis sampah ini yang terpadu dan
untuk pembuatan pakan ikan dan melibatkan dinas terkait,
pupuk. pemerintah kecamatan,
d) Alat pengumpul sampah dapat perangkat desa, pengurus
dilaksanakn dengan berbagai cara RW hingga RT, serta dapat
diantaranya; berkomunikasi dan
- Alat pengumpul tradisional, menjalin kerja sama yang
seperti gerobak dan beca baik dengan investor dan
sampah. masyarakat sehingga
- Alat pengumpul bermotor, penataan dapat mencapai
seperti motor sampah. tujuan dan sasaran.
Kesimpulan c. Saran bagi masyarakat
i. Masyarakat lebih peduli
Kesimpulan dari penelitian adalah dan berperan aktif dalam
1. Arahan dan strategi penataan menata permukiman
permukiman nelayan Gudang nelayan Gudang Lelang.
Lelang disusun berdasarkan ii. Masyarakat bersama
prioritas kepentingan masyarakat pemerintah
serta dibuat sesuai dengan mempertahankan kondisi
permasalahan dan potensi yang ada. permukiman yang sudah
2. Beberapa saran yang dapat baik agar tidak memburuk
diberikan berdasarkan hasil di masa mendatang dan
penelitian adalah kalau memungkinkan
a. Saran bagi akademis melakukan peningkatan
i. Penelitian lanjutan kondisi permukiman
mengenai potensi tersebut agar menjadi lebih
pengolahan sampah baik.
Gudang lelang agar potensi
yang ada dapat
dimanfaatkan secara
maksimal untuk mencapai Daftar Pustaka
kesejahteraan masyarakat
EPA (2009). Zero Waste from
Gudang Lelang.
philosophy to implementation.
b. Saran bagi pemerintah
September 9, 2009.
i. Pemerintah dapat
http://www.epa.gov/wastes/rcc/web-
menggunakan informasi
academ/.html.
dan arahan penataan dari
Ramang, R., dkk. (2007). Pola
hasil penelitian sebagai
Penangan Sampah di Daerah
bahan pertimbangan untuk
Perkotaan Berdasarkan
menentukan kebijakan
Karakteristik Tipe Rumah (Studi
penataan permukiman
Kasus Kota Cimahi) . dalam Jurnal
nelayan Gudang Lelang.
Teknik Lingkungan, Volume 13,
ii. Dibentuk suatu tim
Nomor 1, April 2007.
penataan permukiman

97
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

Theisen H. (1997). Solid Wastes:


Engineering Principles and
Management Issues, Mc Graw Hill.
Kogakhusa, Tokyo.
http://anomwibisono.blogspot.com/2008
_09_14_archive.html. Posted 29
September 2008 by Anom
Wibisono. (diakses pada
11/12/2005).
http://www.rcbc.ca/resources/zero-
waste/. (diakses pada 12/12/2015).

98