Anda di halaman 1dari 32

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah sebuah negara dengan kekayaan alam dan kekayaan


budaya yang sangat luar biasa. Ada banyak peninggalan budaya di Indonesia yang
masih bisa dilihat hingga saat ini, salah satunya adalah candi. Ada banyak candi
terkenal di Indonesia yang kemudian menjadi tempat wisata budaya yang populer.
Candi-candi tersebut tersebar di seluruh Indonesia dengan karakteristik yang
berbeda. Bahkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan peninggalan candi
terbanyak di dunia.

Di Indonesia, candi dapat ditemukan di pulau Jawa, Bali, Sumatera, dan


Kalimantan, akan tetapi candi paling banyak ditemukan di kawasan Jawa Tengah
dan Jawa Timur. Kebanyakan orang Indonesia mengetahui adanya candi-candi di
Indonesia yang termasyhur seperti Borobudur, Prambanan, dan Mendut.

Pada suatu era dalam sejarah Indonesia, yaitu dalam kurun abad ke-8
hingga ke-10 tercatat sebagai masa paling produktif dalam pembangunan candi.
Pada kurun kerajaan Medang Mataram ini candi-candi besar dan kecil memenuhi
dataran Kedu dan dataran Kewu di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Hanya
peradaban yang cukup makmur dan terpenuhi kebutuhan sandang dan pangannya
sajalah yang mampu menciptakan karya cipta arsitektur bernilai seni tinggi seperti
ini. Beberapa candi yang bercorak Hindu di Indonesia adalah Candi Prambanan,
Candi Jajaghu (Candi Jago), Candi Gedongsongo, Candi Dieng, Candi Panataran,
Candi Angin, Candi Selogrio, Candi Pringapus, Candi Singhasari, dan Candi
Kidal. Candi yang bercorak Buddha antara lain Candi Borobudur dan Candi
Sewu. Candi Prambanan di Jawa Tengah adalah salah satu candi Hindu-Siwa
yang paling indah. Candi itu didirikan pada abad ke-9 Masehi pada masa
Kerajaan Mataram Kuno.
2

Kebanyakan candi-candi yang ditemukan di Indonesia tidak diketahui


nama aslinya. Kesepakatan di dunia arkeologi adalah menamai candi itu
berdasarkan nama desa tempat ditemukannya candi tersebut. Candi-candi yang
sudah diketahui masyarakat sejak dulu, kadang kala juga disertai dengan legenda
yang terkait dengannya. Ditambah lagi dengan temuan prasasti atau mungkin
disebut dalam naskah kuno yang diduga merujuk kepada candi tersebut.
Akibatnya nama candi dapat bermacam-macam, misalnya candi Prambanan,
candi Rara Jonggrang, dan candi Siwagrha merujuk kepada kompleks candi yang
sama. Prambanan adalah nama desa tempat candi itu berdiri. Rara Jonggrang
adalah legenda rakyat setempat yang terkait candi tersebut. Sedangkan Siwagrha
(Sanskerta: "rumah Siwa") adalah nama bangunan suci yang dipersembahkan
untuk Siwa yang disebut dalam Prasasti Siwagrha dan merujuk kepada candi yang
sama.

Candi adalah istilah dalam Bahasa Indonesia yang merujuk kepada sebuah
bangunan keagamaan tempat ibadah peninggalan purbakala yang berasal dari
peradaban Hindu-Buddha. Bangunan ini digunakan sebagai tempat pemujaan
dewa-dewi ataupun memuliakan Buddha. Akan tetapi, istilah. candi tidak hanya
digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja, banyak situs-
situs purbakala non-religius dari masa Hindu-Buddha Indonesia klasik, baik
sebagai istana (kraton), pemandian (petirtaan), gapura, dan sebagainya, juga
disebut dengan istilah candi.

Candi merupakan bangunan replika tempat tinggal para dewa yang


sebenarnya, yaitu Gunung Mahameru. Karena itu, seni arsitekturnya dihias
dengan berbagai macam ukiran dan pahatan berupa pola hias yang disesuaikan
dengan alam Gunung Mahameru. Candi-candi dan pesan yang disampaikan lewat
arsitektur, relief, serta arca-arcanya tak pernah lepas dari unsur spiritualitas, daya
cipta, dan keterampilan para pembuatnya.
3

Beberapa candi seperti Candi Borobudur dan Prambanan dibangun amat


megah, detil, kaya akan hiasan yang mewah, bercitarasa estetika yang luhur,
dengan menggunakan teknologi arsitektur yang maju pada zamannya. Bangunan-
bangunan ini hingga kini menjadi bukti betapa tingginya kebudayaan dan
peradaban nenek moyang bangsa Indonesia
4

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Macam-macam Candi di Indonesia

Candi berasal dari frase candika graha yang berarti kediaman Betari Durga.
Durga ini disembah terutama oleh umat Buddha. Dalam dunia pewayangan di
Indonesia, Durga merupakan istri Dewa Siwa yang dikutuk dari berwajah cantik
menjadi raksasa. Yang pertama mendirikan candi di India diduga adalah umat
Buddhis. Ini terlihat dari temuan candi tertua di sana yang dibangun pada abad ke-3
SM. Pada perkembangan berikutnya, candi pun didirikan oleh umat Hindu.

Candi sebagai tempat makam hanya terdapat dalam agama Hindu. Sedangkan,
candi-candi dalam agama Buddha sebagai tempat pemujaan. Di dalamnya tidak
terdapat peti pripih dan arcanya bukan perwujudan seorang raja. Abu jenazah dari
para biksu yang terkemuka, ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.

Pada umumnya bangunan candi terdiri atas tiga bagian (triloka), yakni kaki
candi, tubuh candi, dan atap candi. Pembagian itu melambangkan pembagian alam
semesta.

a. Kaki candi melambangkan alam bawah (bhurloka), ialah dunia manusia yang
masih berkaitan dengan hal-hal duniawi. Kaki candi bentuknya bujur sangkar,
di tengah-tengahnya ditanam pripih.
b. Tubuh candi melambangkan alam antara (bhurwarloka), ialah dunia manusia
yang sudah tidak berkaitan dengan hal-hal duniawi. Tubuh candi terdiri atas
bilik yang berisi arca perwujudan. Dinding luar sisi bilik diberi relung (ceruk)
yang berisi arca.
c. Atap candi melambangkan dunia atas (swargaloka), yaitu dunia para dewa,
dunia di mana para dewa bersemayam. Atap candi terdiri atas tiga tingkat,
makin ke atas makin kecil dan di puncaknya terdapat lingga atau stupa.
Bagian dalam atap (bilik) ada sebuah rongga kecil yang dasarnya berupa batu
5

persegi empat dengan gambar teratai, melambangkan takhta dewa. Pada


upacara pemujaan, jasad dari dalam pripih dinaikkan rohnya dari rongga atau
diturunkan ke arca perwujudan sehingga hiduplah arca tersebut yang
merupakan perwujudan raja sebagai dewa (pemujaan terhadap roh nenek
moyang dalam Candi Hindu).

2.2 Candi Borobudur

2.2.1 Pengertian Candi Borobudur

Borobudur adalah sebuah candi budha yang terletak di borobodur


Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini berlokasi di kurang lebih
100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan
40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh
para penganut agama Buddha Mahayana sekitar abad ke-8 masehi pada masa
pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha
terbesar di dunia, sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.

Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang
diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan
2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki
koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Stupa utama terbesar
teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan
melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah
duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap
tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai


tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai
tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi
menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Para peziarah
masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan
6

melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan
berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha.

Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa


nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud).
Dalam perjalanannya ini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga
dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada
dinding dan pagar langkan.

Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14


seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai
masuknya pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini
sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat
sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah
mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran
terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik
Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs
Warisan Dunia.

Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap


tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara
berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia
pariwisata, Borobudur adalah objek wisata tunggal di Indonesia yang paling
banyak dikunjungi wisatawan

2.2.2 Type Candi Borobudur

Di antara banyaknya peninggalan-peninggalan candi di Indonesia,


Borobudur khas, tidak ada ruang dalam yang biasanya merupakan unsur utama
kebanyakan candi di Indonesia. Bentuknya hanya dapat dijelaskan sebagai
gabungan dari sejumlah unsur asing dan tradisi arsitektur lama; punden berundak.
7

Puncak Borobudur berupa sebuah stupa. Candi ini terdiri dari enam
tingkat teras bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar (lingkaran
konsentris) dalam bentuk 10 pelataran yang berdiri di atas dasar berukuran
123×123 meter pada tiap sisinya dengan tinggi 4 meter.

Luas bangunan mencapai 15.129 m2, tersusun dari 55.000 m3 batu, kurang
lebih ada dua juta potongan batu-batuan. Panjang potongan batu mencapai 500
km dengan berat keseluruhannya dapat mencapai 1,3 juta ton. Rata-rata ukuran
batunya 25 cm x 10 cm x 15 cm. Tinggi candi dari permukaan tanah sampai
ujung stupa induk 35 meter—dahulu mencapai 42 meter. Struktur batu
Borobudur tidak menggunakan perekat, tetapi menggunakan sistem interlock,
sistem kuncian seperti balok-balok lego yang dapat menempel tanpa lem atau
semen.

2.2.3 Karakteristik candi borobudur

Candi Borobudur merupakan candi Budha, terletak di desa Borobudur


kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dibangun oleh Raja Samaratungga, salah
satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Nama
Borobudur merupakan gabungan dari kata Bara dan Budur. Bara dari bahasa
Sansekerta berarti kompleks candi atau biara. Sedangkan Budur berasal dari kata
Beduhur yang berarti di atas, dengan demikian Borobudur berarti Biara di atas
bukit. Sementara menurut sumber lain berarti sebuah gunung yang berteras-teras
(budhara), sementara sumber lainnya mengatakan Borobudur berarti biara yang
terletak di tempat tinggi.

Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat,


berukuran 123 x 123 meter. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5
meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai
penahan. Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di
kompleksnya. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga
8

tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa
stupa Budha yang menghadap ke arah barat.

Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai


mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai
Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut. Kamadhatu, bagian
dasar Borobudur, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu.
Rupadhatu, empat tingkat di atasnya, melambangkan manusia yang telah dapat
membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat
tersebut, patung Budha diletakkan terbuka. Arupadhatu, tiga tingkat di atasnya
dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang. Melambangkan
manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Arupa, bagian paling
atas yang melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.

Setiap tingkatan memiliki relief-relief yang akan terbaca secara runtut


berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya
Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, bermacam-
macam isi ceritanya, antara lain ada relief-relief tentang wiracarita Ramayana,
ada pula relief-relief cerita jātaka. Selain itu, terdapat pula relief yang
menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas
petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief
kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu
berpusat di Bergotta (Semarang).

Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran


sang Budha. Seorang budhis asal India bernama Atisha, pada abad ke 10, pernah
berkunjung ke candi yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan
4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini. Berkat mengunjungi Borobudur
dan berbekal naskah ajaran Budha dari Serlingpa (salah satu raja Kerajaan
Sriwijaya), Atisha mampu mengembangkan ajaran Budha. Ia menjadi kepala
biara Vikramasila dan mengajari orang Tibet tentang cara mempraktekkan
9

Dharma. Enam naskah dari Serlingpa pun diringkas menjadi sebuah inti ajaran
disebut “The Lamp for the Path to Enlightenment” atau yang lebih dikenal
dengan nama Bodhipathapradipa.

2.2.3 Gambar candi borobudur


10

2.2.4 Gambar ornamen/relief Candi Borobudur

Gambar Relief panel kapal Borobudur.

Gambar Relief Sailendra King And Queen, Borobudur

Gambar Relief Musician Borobudur


11

2.3 Candi Prambanan

2.3.1 Pengertian Candi Prambanan

Candi prambanan atau candi Roro Jongrang adalah


kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9
masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu
yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara,
dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Berdasarkan prasasti Siwagrha nama asli
kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa Sanskerta yang bermakna 'Rumah
Siwa'), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca
Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa
Siwa lebih diutamakan.

Kompleks candi ini terletak di kecamatan Prambanan, Sleman dan


kecamatan Prambanan, Klaten, kurang lebih 17 kilometer timur laut Yogyakarta,
50 kilometer barat daya Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di
perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Letaknya sangat unik, Candi Prambanan terletak di wilayah administrasi
desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, sedangkan pintu masuk kompleks Candi
Prambanan terletak di wilayah adminstrasi desa Tlogo, Prambanan, Klaten

Candi ini adalah termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu
terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara.
Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur
Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama memiliki
ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-
candi yang lebih kecil. Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara,
candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia.

Menurut prasasti Siwagrha, candi ini mulai dibangun pada sekitar


tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan, dan terus dikembangkan dan diperluas
12

oleh Balitung Maha Sambu, pada masa kerajaan Medang Mataram.


Nama Prambanan, berasal dari nama desa tempat candi ini berdiri, diduga
merupakan perubahan nama dialek bahasa Jawadari istilah teologi Hindu Para
Brahman yang bermakna "Brahman Agung" yaitu Brahman atau realitas abadi
tertinggi dan teragung yang tak dapat digambarkan, yang kerap disamakan
dengan konsep Tuhan dalam agama Hindu. Pendapat lain menganggap Para
Brahman mungkin merujuk kepada masa jaya candi ini yang dahulu dipenuhi
oleh para brahmana. Pendapat lain mengajukan anggapan bahwa nama
"Prambanan" berasal dari akar kata mban dalam Bahasa Jawa yang bermakna
menanggung atau memikul tugas, merujuk kepada para dewa Hindu yang
mengemban tugas menata dan menjalankan keselarasan jagat.

Nama asli kompleks candi Hindu ini adalah nama dari Bahasa
Sansekerta; Siwagrha (Rumah Siwa) atau Siwalaya (Alam Siwa),
berdasarkan Prasasti Siwagrha yang bertarikh 778 Saka (856
Masehi). Trimurti dimuliakan dalam kompleks candi ini dengan tiga candi
utamanya memuliakan Brahma, Siwa, dan Wisnu. Akan tetapi Siwa Mahadewa
yang menempati ruang utama di candi Siwa adalah dewa yang paling dimuliakan
dalam kompleks candi ini.

Prambanan adalah candi Hindu terbesar dan termegah yang pernah


dibangun di Jawa kuno, pembangunan candi Hindu kerajaan ini dimulai
oleh Rakai Pikatan sebagai tandingan candi Buddha Borobudur dan juga candi
Sewu yang terletak tak jauh dari Prambanan. Beberapa sejarawan lama menduga
bahwa pembangunan candi agung Hindu ini untuk menandai kembali
berkuasanya keluarga Sanjaya atas Jawa, hal ini terkait teori wangsa kembar
berbeda keyakinan yang saling bersaing; yaitu wangsa Sanjaya penganut Hindu
dan wangsa Sailendrapenganut Buddha. Pastinya, dengan dibangunnya candi ini
menandai bahwa Hinduisme aliran Saiwa kembali mendapat dukungan keluarga
kerajaan, setelah sebelumnya wangsa Sailendracenderung lebih
mendukung Buddha aliran Mahayana. Hal ini menandai bahwa kerajaan
13

Medang beralih fokus dukungan keagamaanya, dari Buddha Mahayana ke


pemujaan terhadap Siwa.

Bangunan ini pertama kali dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai
Pikatan dan secara berkelanjutan disempurnakan dan diperluas oleh Raja
Lokapala dan raja Balitung Maha Sambu. Berdasarkan prasasti
Siwagrha berangka tahun 856 M, bangunan suci ini dibangun untuk memuliakan
dewa Siwa, dan nama asli bangunan ini dalam bahasa Sanskerta
adalah Siwagrha (Sanskerta:Shiva-grha yang berarti: 'Rumah Siwa')
atau Siwalaya (Sanskerta:Shiva-laya yang berarti: 'Ranah Siwa' atau 'Alam
Siwa'). Dalam prasasti ini disebutkan bahwa saat pembangunan candi Siwagrha
tengah berlangsung, dilakukan juga pekerjaan umum perubahan tata air untuk
memindahkan aliran sungai di dekat candi ini. Sungai yang dimaksud
adalah sungai Opak yang mengalir dari utara ke selatan sepanjang sisi barat
kompleks candi Prambanan. Beberapa arkeolog berpendapat bahwa arca Siwa
di garbhagriha (ruang utama) dalam candi Siwa sebagai candi utama merupakan
arca perwujudan raja Balitung, sebagai arca pedharmaan anumerta dia.

Kompleks bangunan ini secara berkala terus disempurnakan oleh raja-raja


Medang Mataram berikutnya, seperti raja Daksa dan Tulodong, dan diperluas
dengan membangun ratusan candi-candi tambahan di sekitar candi utama.
Karena kemegahan candi ini, candi Prambanan berfungsi sebagai candi agung
Kerajaan Mataram, tempat digelarnya berbagai upacara penting kerajaan. Pada
masa puncak kejayaannya, sejarawan menduga bahwa ratusan
pendeta brahmana dan murid-muridnya berkumpul dan menghuni pelataran luar
candi ini untuk mempelajari kitab Weda dan melaksanakan berbagai ritual dan
upacara Hindu. Sementara pusat kerajaan atau keraton kerajaan Mataram diduga
terletak di suatu tempat di dekat Prambanan di Dataran Kewu.

Sekitar tahun 930-an, ibu kota kerajaan berpindah ke Jawa


Timur oleh Mpu Sindok, yang mendirikan Wangsa Isyana. Penyebab kepindahan
14

pusat kekuasaan ini tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi sangat mungkin
disebabkan oleh letusan hebat Gunung Merapi yang menjulang sekitar 20
kilometer di utara candi Prambanan. Kemungkinan penyebab lainnya adalah
peperangan dan perebutan kekuasaan. Setelah perpindahan ibu kota, candi
Prambanan mulai telantar dan tidak terawat, sehingga pelan-pelan candi ini mulai
rusak dan runtuh.

Bangunan candi ini diduga benar-benar runtuh akibat gempa bumi hebat
pada abad ke-16. Meskipun tidak lagi menjadi pusat keagamaan dan ibadah umat
Hindu, candi ini masih dikenali dan diketahui keberadaannya oleh warga Jawa
yang menghuni desa sekitar. Candi-candi serta arca Durga dalam bangunan
utama candi ini mengilhami dongeng rakyat Jawa yaitu legenda Rara Jonggrang.
Setelah perpecahan Kesultanan Mataram pada tahun 1755, reruntuhan candi dan
sungai Opak di dekatnya menjadi tanda pembatas antara wilayah Kesultanan
Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta (Solo).

2.3.2 Type Candi Prambanan

Kekayaan Prambanan akan relief bahkan menghasilkan berbagai cerita


dan simbolisasi. Kisah Rama – Sinta merupakan salah satu yang tergambar di
relief Prambanan. Dari relief salah satu candi di kompleks Prambanan pula
burung mistik Garuda yang digambarkan sebagai setengah manusia setengah
burung dikenal. Konon, dijadikannya Garuda sebagai lambang negara terinspirasi
dari candi ini. Kini kompleks candi Prambanan telah menjadi salah satu objek
wisata paling diminati di Yogyakarta. Sejak 1991, kompleks candi Prambanan
ditetapkan sebagai cagar budaya dunia oleh UNESCO.

Dalam kompleks candi terdapat tiga candi utama, yaitu Candi Wisnu,
Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut melambangkan Trimurti dalam
kepercayaan Hindu. Setiap candi menghadap ke timur dan berdekatan dengan
candi pendamping yang menghadap ke barat. Nandini untuk Siwa, Angsa untuk
Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi
15

kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi. Candi-
candi utama di kompleks Prambanan menjulang tinggi sampai 47 meter, lebih
tinggi lima meter dari Borobodur. Candi juga dikelilingi taman yang dapat
dijadikan tempat istirahat pengunjung

2.3.3 Karakteristik candi prambanan

Candi Prambanan berbentuk bangunan yang menjulang khas arsitektur


Hindu, dan tata letak bangunan candi berupa Mandala, seperti Borobudur.
Sebagai simbol dunia/kosmos dalam ajaran Hindu, candi dibagi dalam tiga
bagian baik ke atas maupun ke samping. Bhurloka, yaitu bagian dasar candi, juga
bujursangkar luar menggambarkan dunia bawah. Tempat untuk orang biasa,
tempat yang kotor di mana angkara banyak terjadi. Daerah ini bukan daerah
suci. Bhuvarloka, yaitu bagian tengah candi dan bujursangkar tengah pada
komplek candi, melambangkan 'dunia tengah' sebuah tempat bagi mereka yang
telah meninggalkan nafsu duniawi yang kemudian dalam Hindu di kenal dengan
nama San Yasin. Tempat di mana orang mulai mendapat
pencerahan.Svarloka, yaitu puncak candi, dan bujursanngkar paling dalam
melukiskan dunia para dewa, tempat paling suci, dan bermahkota.

Candi Prambanan memiliki tiga candi utama di halaman utama yang


sama-sama menghadap ke timur, yaitu Candi Wisnu (di sebelah utara),
Brahma(di sebelah selatan), dan Siwa (di tengah). Ketiga candi tersebut adalah
lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Setiap candi utama memiliki satu
candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa
untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu, tiga candi itu disebut dengan candi
Wahana, yaitu kendaraan dari masing-masing dewa tersebut. Selain itu, masih
terdapat dua candi apit, empat candi kelir, dan empat candi sudut. Sementara,
halaman kedua memiliki 224 candi.

Relief-relif lain yang terdapat pada candi prambanan yaitu relief burung
yang nyata, relief-relief burung di Candi Prambanan begitu natural sehingga para
16

biolog bahkan dapat mengidentifikasinya sampai tingkat genus. Salah satunya


relief Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) yang mengundang
pertanyaan. Sebabnya, burung itu sebenarnya hanya terdapat di Pulau
Masakambing, sebuah pulau di tengah Laut Jawa.

2.3.4.Gambar candi prambanan


17

2.3.5 Ornamen/relief Candi Prambanan


18

2.4 Candi Mendut

2.4.1 Pengertian Candi Mendut

Candi Mendut adalah sebuah candi bercorak Buddha. Candi yang terletak
di Jalan Mayor Kusen Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini,
letaknya berada sekitar 3 kilometer dari candi Borobudur. Candi Mendut
didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam
prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra
telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan
bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini
dihubungkan dengan Candi Mendut.
19

Candi Mendut merupakan candi bercorak Budha yang cukup terkenal


baik dalam skala nasional atau pun mancanegara. Kata mendut sendiri berasal
dari kata Venu, Vana, Mandira yang artinya candi yang berada di tengah hutan
bambu. Sejarah awal pembangunan candi mendut masih memiliki beberapa versi
dan belum dapat dipastikan kebenarannya.

Sejarawan terkenal bernama J.G. de Casparis memaparkan bahwa candi


mendut dibangun pada masa kerajaan dinasti Syailendra di tahun 824 M. Hal ini
berdasarkan isi dari Prasati Karangtengah per tahun 824 M. Di dalam prasasti
tersebut disebutkan bahwa Raja Indra membangun sebuah bangunan suci dan
menamainya Wenuwana. Wenuwana atau hutan bambu ini diartikan oleh de
Casparis sebagai Candi Mendut. Dengan menggunakan asumsi, maka sejarah
candi mendut sudah dimulai sebelum candi borobudur. Candi mendut memiliki
umur yang lebih tua dibandingkan Candi Borobudur, salah satu candi terbesar
dan tersohor di dunia yang sempat masuk ke 7 Keajaiban Dunia.

Bahan bangunan candi sebenarnya adalah batu bata yang ditutupi dengan
batu alam. Bangunan ini terletak pada sebuah basement yang tinggi, sehingga
tampak lebih anggun dan kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap ke
barat-daya. Di atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi.
Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil. Jumlah stupa-stupa
kecil yang terpasang sekarang adalah 48 buah. Tinggi bangunan adalah 26,4
meter. Hiasan yang terdapat pada candi Mendut berupa hiasan yang berselang-
seling. Dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan berupa dewata
gandarwa dan apsara atau bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda. Pada kedua
tepi tangga terdapat relief-relief cerita Pancatantra dan jataka.

Dinding candi dihiasi relief Boddhisatwa di antaranya Awalokiteśwara,


Maitreya, Wajrapāṇi dan Manjuśri. Pada dinding tubuh candi terdapat relief
kalpataru, dua bidadari, Harītī (seorang yaksi yang bertobat dan lalu mengikuti
Buddha) dan Āţawaka. Di dalam induk candi terdapat arca Buddha besar
20

berjumlah tiga: yaitu Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan (mudra)
dharmacakramudra. Di depan arca Buddha terdapat relief berbentuk roda dan
diapit sepasang rusa, lambang Buddha. Di sebelah kiri terdapat arca
Awalokiteśwara (Padmapāņi) dan sebelah kanan arca Wajrapāņi.

2.4.2 Type Candi Mendut

Candi ini pertama kali ditemukan kembali pada tahun 1836. Seluruh
bangunan candi Mendut diketemukan, kecuali bagian atapnya. Pada tahun 1897-
1904, pemerintah Hindia Belanda melakukan uapaya pemugaran yang pertama
dengan hasil yang cukup memuaskan walaupun masih jauh dari sempurna. Kaki
dan tubuh candi telah berhasil direkonstruksi. Pada tahun 1908, Van Erp
memimpin rekonstruksi dan pemugaran kembali Candi Mendut, yaitu dengan
menyempurnakan bentuk atap, memasang kembali stupa-stupa dan memperbaiki
sebagian puncak atap. Pemugaran sempat terhenti karena ketidaktersediaan dana,
namun dilanjutkan kembali pada tahun 1925.

Belum didapatkan kepastian mengenai kapan Candi Mendut dibangun,


namun J.G. de Casparis menduga bahwa Candi Mendut dibangun oleh raja
pertama dari wangsa Syailendra pada tahun 824 M. Dugaan tersebut didasarkan
pada isi Prasasti Karangtengah (824 M), yang menyebutkan bahwa Raja Indra
telah membuat bangunan suci bernama Wenuwana. Casparis mengartikan
Wenuwana (hutan bambu) sebagai Candi Mendut. Diperkirakan usia candi
Mendut lebih tua daripada usia Candi Barabudhur.

2.4.3 Karakteristik Candi Mendut

Secara umum, candi mendut memiliki denah dengan bentuk persegi.


Candi mendut memilki tinggi bangunan keseluruhan 26.4 m. Bagian tubuh candi
berada di atas batu dengan tinggi 2 m. Di permukaan batu tersebut memilki
selasar yang lebar. Di dinding candi mendut, terdapat kurang lebih 31 panel yang
menampilkan beberapa relief cerita, sulur suluran serta pahatan bunga yang
21

menandakan corak dari candi mendut. Bila Anda berkunjung ke candi ini, Anda
akan melihat beberapa saluran untuk membuang air dari selasar di sepanjang
dinding luar langkan. Bagian saluran ini disebut dengan jaladwara.

Jaladwara ini menjadi ciri khas pada candi candi yang berada di kawasan
Jawa Tengah. Jenis jaladwara ini dapat Anda temukan pada candi candi terkenal
di Jawa Tengah & Yogjakarta seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Situs
Ratu Baka dan Candi Banyuniba. Meski begitu, bentuk jaladwara tidaklah sama
dan memilki ciri sendiri sesuai dengan ciri khas candi tersebutBagian tangga
candi terletak di sisi barat candi yang juga berada di depan pintu masuk ke dalam
tubuh candi. Di pintu masuk candi ini, Anda bisa melihat bilik penampil yang
menjorok keluar. Bilik penampil ini memiliki tinggi yang serupa dengan atap
candi sehingga terlihat menyatu dengan tubuh candi. Pintu masuk tubuh candi ini
tidak memiliki garupa ataupun bingkai pintu sebagaimana candi lainnya. Bilik ini
memiliki bentuk berapa lorong dengan langit berongga rongga memanjang
dengan penampang segi tiga.

Candi mendut dibangun lebih dahulu dari pada Candi Pawon dan Candi
Borobudur yang terletak dalam satu garis lurus. Candi ini dibangun menghadap
ke arah barat berlainan dengan candi Borobudur yang dibangun menghadap ke
arah matahari terbit.

Saat memasuki pelataran dan kaki candi, anda dapat melihat beberapa
relief yang menceritakan tentang kura-kura, burung, kera dan burung manyar,
brahmana dan kepiting. Relief ini sepintas terlihat seperti dongeng yang
ditujukan kepada anak-anak, tetapi sebenarnya cerita tersebut menceritakan kisah
jataka yang memberikan pesan moral kepada semua orang yang datang
berkunjung ke Candi Mendut ini. Di bagian badan candi, anda akan mendapatkan
8 relief Bodhisattva yang berukuran lebih besar dibandingkan dengan relief yang
ada di candi Borobudur.
22

Aroma hio tercium bercampur dengan semerbak wangi bunga akan


mengiringi anda saat melangkahkan kaki memasuki bilik candi. Selanjutnya akan
tampak didepan mata arca setinggi 3 meter berjumlah 4 disinari cahaya
kekuningan. Tiga arca berukuiran besar yang berada di dalam bilik Candi
Mendut ini bernama arca Dyani Buddha Cakyamuni atau Vairocana, arca
Avalokitesvara dan arca Bodhisatva Vajrapani.

Arca Dyani Buddha Cakyamuni yang terletak di tengah, sedang duduk


dengan kaki menyiku kebawah dengan posisi tangan memutar roda dharna. Arca-
arca tersebut dipahat dari bahan batu hitam utuh dengan sangat cermat sehingga
dihasilkan maha karya yang luaar biasa. Terdapat rangakaian bunga segar, hiolo
dan hio terletak di depan arca-arca tersebut.

2.4.4 Gambar Candi Mendut


23

2.4.5 Gambar Relief Candi Mendut

Gambar Relief Brahmana dan seekor kepiting

Gambar Relief Angsa dan kura-kura

Gambar Relief Dharmabuddhi dan Dustabuddhi


24

2.5 Candi Sewu

2.5.1 Pengertian Candi Sewu

Candi Sewu atau Manjusrighra adalah candi Buddha yang dibangun pada
abad ke-8 yang berjarak hanya delapan ratus meter di sebelah utara Candi
Prambanan. Candi Sewu merupakan kompleks candi Buddha terbesar kedua
setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah. Candi Sewu berusia lebih tua daripada
Candi Borobudur dan Prambanan. Meskipun aslinya memiliki 249 candi, oleh
masyarakat setempat candi ini dinamakan "Sewu" yang berarti seribu dalam
bahasa Jawa. Penamaan ini berdasarkan kisah legenda Loro Jonggrang.

Secara administratif, kompleks Candi Sewu terletak di Dukuh Bener,


Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.
Berdasarkan Prasasti Kelurak yang berangka tahun 782 dan Prasasti
Manjusrigrha yang berangka tahun 792 dan ditemukan pada tahun 1960, nama
asli candi ini adalah ”Prasada Vajrasana Manjusrigrha”. Istilah Prasada
bermakna candi atau kuil, sementara Vajrajasana bermakna tempat Wajra (intan
atau halilintar) bertakhta, sedangkan Manjusri-grha bermakna Rumah Manjusri.
Manjusri adalah salah satu Boddhisatwa dalam ajaran buddha. Candi Sewu
diperkirakan dibangun pada abad ke-8 masehi pada akhir masa pemerintahan
Rakai Panangkaran. Rakai Panangkaran (746–784) adalah raja yang termahsyur
dari kerajaan Mataram Kuno.

Kompleks candi ini mungkin dipugar, dan diperluas pada masa


pemerintahan Rakai Pikatan, seorang pangeran dari dinasti Sanjaya yang
menikahi Pramodhawardhani dari dinasti Sailendra. Setelah dinasti Sanjaya
berkuasa rakyatnya tetap menganut agama sebelumnya. Adanya candi Sewu
yang bercorak buddha berdampingan dengan candi Prambanan yang bercorak
hindu menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu di Jawa umat Hindu dan Buddha
hidup secara harmonis dan adanya toleransi beragama. Karena keagungan dan
25

luasnya kompleks candi ini, candi Sewu diduga merupakan Candi Buddha
Kerajaan, sekaligus pusat kegiatan agama buddha yang penting pada masa lalu.
Candi ini terletak di lembah Prambanan yang membentang dari lereng selatan
gunung Merapi di utara hingga pegunungan Sewu di selatan, di sekitar
perbatasan Yogyakarta dengan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Di lembah ini
tersebar candi-candi dan situs purbakala yang berjarak hanya beberapa ratus
meter satu sama lain. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini merupakan
kawasan penting artinya dalam sektor keagamaan, politik, dan kehidupan urban
masyarakat Jawa kuno.

Candi perwara (pengawal) yang berukuran lebih kecil aslinya terdiri atas
240 buah dengan disain yang hampir serupa dan tersusun atas empat barisan
yang konsentris. Dilihat dari bagian terdalam (tengah), baris pertama terdiri atas
28 candi, dan baris kedua terdiri atas 44 candi yang tersusun dengan interval
jarak tertentu. Dua barisan terluar, baris ketiga terdiri dari 80 candi, sedangkan
baris keempat yang terluar terdiri atas 88 candi-candi kecil yang disusun
berdekatan.

Dari keempat baris candi perwara ini terdapat dua junis rancangan candi
perwara; baris keempat (terluar) memiliki rancang bentuk yang serupa dengan
baris pertama (terdalam), yaitu pada bagian penampang gawang pintunya,
sedangkan baris kedua dan ketiga memiliki rancang bentuk yang lebih tinggi
dengan gawang pintu yang berbeda. Banyak patung dan ornamen yang telah
hilang dan susunannya telah berubah. Candi-candi perwara ini diisi arca-arca
Dhyani Buddha. Ditemukan empat jenis Dhyani Buddha di

2.5.2 Tipe Candi Sewu

kompleks Candi Sewu. Arca-arca buddha yang dulu mengisi candi-candi


ini mengkin serupa dengan arca buddha di Borobudur. Candi-candi yang lebih
kecil ini mengelilingi candi utama yang paling besar tetapi beberapa bagiannya
26

sudah tidak utuh lagi. Di balik barisan ke-4 candi kecil terdapat pelataran beralas
batu dan ditengahnya berdiri candi utama.

Candi utama memiliki denah poligon bersudut 20 yang menyerupai salib atau
silang yang berdiameter 29 meter dan tinggi bangunan mencapai 30 meter. Pada
tiap penjuru mata angin terdapat struktur bangunan yang menjorok ke luar,
masing-masing dengan tangga dan ruangan tersendiri dan dimahkotai susunan
stupa. Seluruh bangunan terbuat dari batu andesit. Ruangan di empat penjuru
mata angin ini saling terhubungkan oleh galeri sudut berpagar langkan.

Berdasarkan temuan pada saat pemugaran, diperkirakan rancangan awal


bangunan hanya berupa candi utama berkamar tunggal. Candi ini kemudian
diperluas dengan menambahkan struktur tambahan di sekelilingnya. Pintu dibuat
untuk menghubungkan bangunan tambahan dengan candi utama dan
menciptakan bangunan candi utama dengan lima ruang. Ruangan utama di
tengah lebih besar dengan atap yang lebih tinggi, dan dapat dimasuki melalui
ruang timur. Kini tidak terdapat patung di kelima ruangan ini. Akan tetapi
berdasarkan adanya landasan atau singgasana batu berukir teratai di ruangan
utama, diduga dahulu dalam ruangan ini terdapat arca bodhisattwa Manjusri atau
buddha dari bahan perunggu yang tingginya mencapai 4 meter. Akan tetapi kini
arca itu telah hilang, mungkin telah dijarah untuk mengambil logamnya sejak
berabad-abad lalu.

2.5.3 Karaktersitik Candi Sewu

Kompleks candi Sewu adalah kumpulan candi Buddha terbesar di


kawasan sekitar Prambanan, dengan bentang ukuran lahan 185 meter utara-
selatan dan 165 meter timur-barat. Pintu masuk kompleks dapat ditemukan di
keempat penjuru mata angin, tetapi mencermati susunan bangunannya, diketahui
pintu utama terletak di sisi timur. Tiap pintu masuk dikawal oleh sepasang arca
Dwarapala. Arca raksasa penjaga berukuran tinggi sekitar 2,3 meter ini dalam
27

kondisi yang cukup baik, dan replikanya dapat ditemukan di Keraton


Yogyakarta.

Aslinya terdapat 249 bangunan candi di kompleks ini yang disusun


membentuk mandala wajradhatu, perwujudan alam semesta dalam kosmologi
Buddha Mahayana. Selain satu candi utama yang terbesar, pada bentangan poros
tengah, utara-selatan dan timur-barat, pada jarak 200 meter satu sama lain, antara
baris ke-2 dan ke-3 candi Perwara (pengawal) kecil terdapat 8 Candi Penjuru,
candi-candi ini ukurannya kedua terbesar setelah candi utama. Aslinya di setiap
penjuru mata angin terdapat masing-masing sepasang candi penjuru yang saling
berhadapan, tetapi kini hanya candi penjuru kembar timur dan satu candi penjuru
utara yang masih utuh. Berdasarkan penelitian fondasi bangunan, diperkirakan
hanya satu candi penjuru di utara dan satu candi penjuru di selatan yang sempat
dibangun, keduanya menghadap timur. Itu berarti mungkin memang candi
penjuru utara sisi timur dan penjuru uselatan sisi timur memang tidak pernah
(tidak sempat) dibangun untuk melengkapi rancangan awalnya.

2.5.4 Gambar Candi Sewu


28

2.5.5 Gambar Ornamen/relief Candi Sewu


29
30

BAB III

PENUTUP DAN KESIMPULAN

Candi adalah istilah dalam Bahasa Indonesia yang merujuk kepada sebuah
bangunan keagamaan tempat ibadah peninggalan purbakala yang berasal dari
peradaban Hindu-Buddha. Bangunan ini digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-
dewi ataupun memuliakan Buddha. Akan tetapi, istilah 'candi' tidak hanya digunakan
oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja, banyak situs-situs purbakala
non-religius dari masa Hindu-Buddha Indonesia klasik, baik sebagai istana (kraton),
pemandian (petirtaan), gapura, dan sebagainya, juga disebut dengan istilah candi.

Candi merupakan bangunan replika tempat tinggal para dewa yang


sebenarnya, yaitu Gunung Mahameru. Karena itu, seni arsitekturnya dihias dengan
berbagai macam ukiran dan pahatan berupa pola hias yang disesuaikan dengan alam
Gunung Mahameru. Candi-candi dan pesan yang disampaikan lewat arsitektur, relief,
serta arca-arcanya tak pernah lepas dari unsur spiritualitas, daya cipta, dan
keterampilan para pembuatnya.

Borobudur adalah sebuah candi budha yang terletak di borobodur


Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini berlokasi di kurang lebih 100 km di
sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah
barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para
penganut agama Buddha Mahayana sekitar abad ke-8 masehi pada masa
pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar
di dunia, sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.

Candi prambanan atau candi Roro Jongrang adalah


kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi.
Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu
yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara,
dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Berdasarkan prasasti Siwagrha nama asli
31

kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa Sanskerta yang bermakna 'Rumah
Siwa'), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa
Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih
diutamakan.

Candi Mendut adalah sebuah candi bercorak Buddha. Candi yang terletak di
Jalan Mayor Kusen Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini, letaknya
berada sekitar 3 kilometer dari candi Borobudur. Candi Mendut didirikan semasa
pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah
yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan
suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli
arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi
Mendut.
32

Daftar Pustaka

https://id.wikipedia.org/wiki/Candi

https://en.wikipedia.org/wiki/Borobudur

https://en.wikipedia.org/wiki/Prambanan

https://en.wikipedia.org/wiki/Mendut

http://sejarahlengkap.com/agama/buddha/candi-peninggalan-budha

http://www.anton-nb.com/2015/09/sejarah-candi-borobudur.html

https://candi1001.blogspot.co.id/2014/08/sejarah-candi-prambanan.html

http://sejarahlengkap.com/bangunan/sejarah-candi-mendut