Anda di halaman 1dari 6

TAAT PADA PEMIMPIN YANG ZALIM

Penulis
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap
mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. (HR.
Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)
Islam lewat lisan Nabinya telah mengajarkan bagaimana kita bermuamalah dengan pemerintah
atau penguasa. Sebagian kalangan bersikap keras sehingga mudah mengkafirkan. Sebagian lagi
bersikap lembek. Sikap terbaik yang menjadi akidah seorang muslim adalah tetap menasehati
penguasanya dengan baik tatkala mereka tergelincir. Penyampaian nasehat ini pula disalurkan
dengan cara yang baik, bukan dengan menyebarkan aib mereka di depan umum. Juga prinsip
penting dalam muamalah dengan penguasa adalah tetap mentaati mereka selama mereka masih
muslim, walaupun mereka berbuat zholim. Berikut nasehat Nabi kita -shallallahu ‘alaihi wa
sallam- dan para ulama dalam hal ini.
Dari Abu Najih, Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat
yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinang”. Kami (para sahabat) bertanya,
“Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka
berilah kami wasiat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‫طا َع ِة َوإِ ْن تَأ َ َّم َر َعلَيْكَ َعبْد‬
َّ ‫س ْمع َوال‬ ِ ‫أ ُ ْو‬
ِ َّ ‫ َوال‬, ‫ص ْي ُك ْم بِت َ ْق َوى هللاِ َع َّز َو َج َّل‬
“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap
mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. (HR.
Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)

MENTAATI PEMIMPIN DALAM KEBAJIKAN


Ta’at kepada pemimpin adalah suatu kewajiban sebagaimana disebutkan dalam Al Kitab dan
As Sunnah. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman,
‫سو َل َوأُو ِلي ْاْل َ ْم ِر ِم ْن ُك ْم‬ َّ ‫َّللاَ َوأَ ِطيعُوا‬
ُ ‫الر‬ َّ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َ َمنُوا أ َ ِطيعُوا‬
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di
antara kamu.” (QS. An Nisa’ [4] : 59)
Dalam ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan
pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafazh
‘ta’atilah’ karena ketaatan kepada pemimpin merupakan ikutan (taabi’) dari ketaatan kepada
Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, apabila seorang pemimpin
memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, maka tidak ada lagi kewajiban dengar dan
ta’at.
Makna zhohir (tekstual) dari hadits ini adalah kita wajib mendengar dan ta’at kepada pemimpin
walaupun mereka bermaksiat kepada Allah dan tidak menyuruh kita untuk berbuat maksiat
kepada Allah. Karena terdapat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Hudzaifah bin Al
Yaman.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ُ‫ قَا َل قُ ْلت‬.» ‫ان ِإ ْن ٍس‬
ِ ‫ين فِى ُجثْ َم‬ ِ ‫اط‬ َّ ‫س َيقُو ُم ِفي ِه ْم ِر َجال قُلُوبُ ُه ْم قُلُوبُ ال‬
ِ ‫ش َي‬ َ ‫سنَّ ِتى َو‬ َ َ‫« َي ُكونُ َب ْعدِى أ َ ِئ َّمة الَ َي ْهتَد ُونَ ِب ُهد‬
ُ ‫اى َوالَ َي ْستَنُّونَ ِب‬
.» ‫ظ ْه ُركَ َوأ ُ ِخذَ َمالُكَ فَا ْس َم ْع َوأَ ِط ْع‬
َ ‫ب‬ َ ‫ير َو ِإ ْن ض ُِر‬ِ ‫َّللاِ ِإ ْن أَد َْر ْكتُ ذَلِكَ قَا َل « ت َ ْس َم ُع َوت ُ ِطي ُع ِلأل َ ِم‬
َّ ‫سو َل‬ ُ ‫صنَ ُع َيا َر‬ ْ َ‫ْف أ‬
َ ‫َكي‬
“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu,
pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-
tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad
manusia. “
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti
itu?”
Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa
punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR.
Muslim no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al
Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah)
Padahal menyiksa punggung dan mengambil harta tanpa ada sebab yang dibenarkan oleh
syari’at –tanpa ragu lagi- termasuk maksiat. Seseorang tidak boleh mengatakan kepada
pemimpinnya tersebut, “Saya tidak akan ta’at kepadamu sampai engkau menaati Rabbmu.”
Perkataan semacam ini adalah suatu yang terlarang. Bahkan seseorang wajib menaati mereka
(pemimpin) walaupun mereka durhaka kepada Rabbnya.
Adapun jika mereka memerintahkan kita untuk bermaksiat kepada Allah, maka kita dilarang
untuk mendengar dan mentaati mereka. Karena Rabb pemimpin kita dan Rabb kita (rakyat)
adalah satu yaitu Allah Ta’ala oleh karena itu wajib ta’at kepada-Nya. Apabila mereka
memerintahkan kepada maksiat maka tidak ada kewajiban mendengar dan ta’at.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ِ ‫عةُ فِى ْال َم ْع ُر‬
‫وف‬ َّ ‫ إِنَّ َما ال‬، ‫صيَ ٍة‬
َ ‫طا‬ ِ ‫طا َعةَ فِى َم ْع‬
َ َ‫ال‬
“Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam
perkara yang ma’ruf (bukan maksiat).” (HR. Bukhari no. 7257)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
َ‫طا َعة‬
َ َ‫س ْم َع َوال‬ ِ ‫ فَإِذَا أ ُ ِم َر ِب َم ْع‬، ‫صيَ ٍة‬
َ َ‫صيَ ٍة فَال‬ ِ ‫ َما لَ ْم يُؤْ َم ْر ِب َم ْع‬، َ‫ فِي َما أ َ َحبَّ َوك َِره‬، ‫َعلَى ْال َم ْر ِء ْال ُم ْس ِل ِم‬
“Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama
tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada
kewajiban mendengar dan taat.” (HR. Bukhari no. 7144)
(Pembahasan ini kami sarikan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin
dalam Syarh Arba’in An NAwawiyah, hal. 279, Daruts Tsaroya)

BERSABARLAH TERHADAP PEMIMPIN YANG ZHOLIM


Ibnu Abil ‘Izz mengatakan,
“Hukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zholim (kepada kita). Jika
kita keluar dari mentaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezholiman
yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezholiman mereka dapat melebur dosa-dosa
dan akan melipat gandakan pahala. Allah Ta’ala tidak menjadikan mereka berbuat zholim selain
disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan
sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al jaza’ min jinsil ‘amal). Oleh karena itu,
hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istigfar dan taubat serta berusaha mengoreksi
amalan kita.
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut,
ٍ ‫ت أ َ ْيدِي ُك ْم َو َي ْعفُو َع ْن َك ِث‬
‫ير‬ َ ‫صيبَ ٍة فَبِ َما َك‬
ْ ‫س َب‬ ِ ‫صابَ ُك ْم ِم ْن ُم‬ َ َ ‫َو َما أ‬
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan
tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS.
Asy Syura [42] : 30)
‫ص ْبت ُ ْم ِمثْلَ ْي َها قُ ْلت ُ ْم أَنَّى َهذَا قُ ْل ه َُو ِم ْن ِع ْن ِد أ َ ْنفُ ِس ُك ْم‬
َ َ ‫صيبَة قَدْ أ‬ َ َ ‫أ َ َولَ َّما أ‬
ِ ‫صابَتْ ُك ْم ُم‬
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah
menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar),
kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan)
dirimu sendiri”.” (QS. Ali Imran [3] : 165)
َ‫سيِِّئَ ٍة فَ ِم ْن نَ ْفسِك‬
َ ‫صابَكَ ِم ْن‬ َ َ ‫َّللاِ َو َما أ‬ َّ َ‫سنَ ٍة فَ ِمن‬َ ‫صابَكَ ِم ْن َح‬ َ َ ‫َما أ‬
“Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang
menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An Nisa’ [4] : 79)
Allah Ta’ala juga berfirman,
َ‫ظا ِل ِمينَ بَ ْعضًا بِ َما كَانُوا َي ْك ِسبُون‬ َّ ‫ض ال‬َ ‫َو َكذَلِكَ نُ َو ِلِّي بَ ْع‬
“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi
sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al An’am [6] : 129)
Apabila rakyat menginginkan terbebas dari kezholiman seorang pemimpin, maka hendaklah
mereka meninggalkan kezholiman.
(Inilah nasehat yang sangat bagus dari seorang ulama Robbani. Lihat Syarh Aqidah Ath
Thohawiyah, hal. 381, Darul ‘Aqidah)

INGATLAH: SEMAKIN BAIK RAKYAT, SEMAKIN BAIK PULA PEMIMPINNYA


Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan,
“Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja,
pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan
perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika
rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula
penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat
zholim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan
terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya,
maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya.
Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin
mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka
dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil
pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.
Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka.
Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat
sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka
demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga
akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini
dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu
Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula
pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu.
Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah
Ta’ala.” (Lihat Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178)
Pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu ada seseorang yang bertanya
kepada beliau, “Kenapa pada zaman kamu ini banyak terjadi pertengkaran dan fitnah (musibah),
sedangkan pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak?
Ali menjawab,
“Karena pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi rakyatnya adalah aku dan
sahabat lainnya. Sedangkan pada zamanku yang menjadi rakyatnya adalah kalian.”
Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan kaum muslimin menjadi lebih baik, maka hendaklah
setiap orang mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri, bukan mengubah penguasa yang ada.
Hendaklah setiap orang mengubah dirinya yaitu dengan mengubah aqidah, ibadah, akhlaq dan
muamalahnya. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,
‫َّللاَ َال يُغَ ِي ُِّر َما ِبقَ ْو ٍم َحتَّى يُ َغ ِي ُِّروا َما ِبأ َ ْنفُ ِس ِه ْم‬
َّ ‫ِإ َّن‬
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du [13] : 11) (Dinukil dari buku Ustadz
Yazid bin Abdil Qodir Jawas, Nasehat Perpisahan, hadits Al ‘Irbadh)

MENEGAKKAN NEGARA ISLAM


Ada seorang da’i saat ini berkata,
ِ ‫ تَقُ ْم لَ ُك ْم َعلَى أ َ ْر‬،‫اإل ْسالَ ِم فِي قُلُ ْوبِ ُك ْم‬
‫ض ُك ْم‬ ِ َ‫أَقِ ْي ُم ْوا دَ ْولَة‬
“Tegakkanlah Negara Islam di dalam hati kalian, niscaya negara Islam akan tegak di bumi
kalian.”
Bukanlah jalan melepaskan diri dari kezoliman penguasa adalah dengan mengangkat senjata
melalui kudeta yang termasuk bid’ah pada saat ini. Pemberontakan semacam ini telah
menyelisihi nash-nash yang memerintahkan untuk merubah diri sendiri terlebuh dahulu dan
membangun bangunan dari pondasi (dasar). Allah Ta’ala berfirman,
ٌّ ‫َّللاَ لَقَ ِو‬
‫ي َع ِزيز‬ ُ ‫َّللاُ َم ْن يَ ْن‬
َّ ‫ص ُرهُ ِإ َّن‬ ُ ‫َولَيَ ْن‬
َّ ‫ص َر َّن‬
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hajj [22] : 40)
Jalan keluar dari kezholiman penguasa –di mana kulit mereka sama dengan kita dan berbicara
dengan bahasa kita- adalah dengan :
1. Bertaubat kepada Allah Ta’ala
2. Memperbaiki aqidah
3. Mendidik diri dan keluarga dengan ajaran Islam yang benar
(At Ta’liqot Al Atsariyah ‘alal Aqidah Ath Thohawiyah li Aimmati Da’wah Salafiyah, 1/42,
Maktabah Syamilah)
Oleh karena itu, setiap da’i yang ingin mendakwahkan islam hendaklah memulai dakwahnya
dengan dakwah tauhid. Inilah dakwah para Nabi dan dakwah pertama yang Nabi perintahkan
kepada da’i dari kalangan sahabat untuk menyampaikannya kepada umat. Para sahabat tidaklah
diperintahkan untuk menegakkan khilafah islamiyah terlebih dahulu atau menguasai
pemerintahan melalui politik. Namun, dakwah yang beliau perintah untuk disampaikan pertama
kali adalah dakwah tauhid.
Lihatlah nasehat beliau shallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mengutusnya ke Yaman –negeri
Ahli Kitab-,
‫س‬َ ‫ض َعلَ ْي ِه ْم خ َْم‬ َّ ‫َّللاَ فَأ َ ْخبِ ْر ُه ْم أ َ َّن‬
َ ‫َّللاَ قَدْ فَ َر‬ َّ ُ ‫ فَ ْليَ ُك ْن أ َ َّو َل َما تَدْعُو ُه ْم إِلَ ْي ِه ِعبَادَة‬، ‫ب‬
َّ ‫ فَإِذَا َع َرفُوا‬، ِ‫َّللا‬ ٍ ‫إِنَّكَ تَ ْقدَ ُم َعلَى قَ ْو ٍم أ َ ْه ِل ِكت َا‬
‫ت فِى يَ ْو ِم ِه ْم َولَ ْيلَتِ ِه ْم‬
ٍ ‫صلَ َوا‬
َ
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum Ahli Kitab. Jadikanlah dakwah pertamamu
kepada mereka adalah untuk beribadah kepada Allah (mentauhidkannya). Apabila mereka
sudah mentauhidkan Allah, beritahukanlah mereka bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu
sehari semalam kepada mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

JAUHILAH PERTUMPAHAN DARAH


Kita harus memperhatikan kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa. Karena, bila kita
tidak mentaati mereka, maka akan terjadi kekacauan, pertumpahan darah dan terjadi korban
pada kaum muslimin. Ingatlah bahwa darah kaum muslimin itu lebih mulia daripada hancurnya
dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
َّ ‫لَزَ َوا ُل الدُّ ْنيَا أ َ ْه َونُ َعلَى‬
‫َّللاِ ِم ْن قَتْ ِل َر ُج ٍل ُم ْس ِل ٍم‬
“Hancurnya dunia ini lebih ringan (dosanya) daripada terbunuhnya seorang muslim.” (HR.
Tirmidzi)
Allah Ta’ala berfirman,
َ َّ‫ض فَ َكأَنَّ َما قَت َ َل الن‬
‫اس َج ِمي ًعا‬ ِ ‫سا ٍد ِفي ْاْل َ ْر‬َ َ‫سا ِب َغي ِْر نَ ْف ٍس أ َ ْو ف‬
ً ‫َم ْن قَت َ َل نَ ْف‬
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang
lain , atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah
membunuh manusia seluruhnya.” (QS. Al Ma’idah [5] : 32)
Sekarang kita dapat menyaksikan orang-orang yang memberontak kepada penguasa. Mereka
hanya mengajak kepada pertumpahan darah dan banyak di antara kaum muslimin yang tidak
bersalah menjadi korban.
Yang wajib dan terbaik adalah mendengar dan mentaati mereka. Namun bukan berarti tidak ada
amar ma’ruf nahi mungkar. Hal itu tetap ada tetapi harus dilakukan menurut kaedah yang telah
ditetapkan oleh syari’at yang mulia ini.

HENDAKLAH KITA MENDOAKAN PEMIMPIN KITA


Sebagaimana dalam penjelasan yang telah lewat bahwa pemimpin adalah cerminan rakyatnya.
Jika rakyat rusak, maka pemimpin juga akan demikian. Maka hendaklah kita selalu mendo’akan
pemimpin kita dan bukanlah mencelanya. Karena do’a kebaikan kita kepada mereka merupakan
sebab mereka menjadi baik sehingga kita juga akan ikut baik. Ingatlah pula bahwa do’a
seseorang kepada saudaranya dalam keadaan saudaranya tidak mengetahuinya adalah salah satu
do’a yang terkabulkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
َ‫ب ُم ْست َ َجا َبة ِع ْندَ َرأْ ِس ِه َملَك ُم َو َّكل ُكلَّ َما دَ َعا ْل َ ِخي ِه ِب َخي ٍْر قَا َل ْال َملَكُ ْال ُم َو َّك ُل ِب ِه ِآمينَ َولَك‬
ِ ‫ظ ْه ِر ْالغَ ْي‬
َ ‫دَع َْوة ُ ْال َم ْر ِء ْال ُم ْس ِل ِم ْل َ ِخي ِه ِب‬
‫ِب ِمثْ ٍل‬
“Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah
do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang memiliki tugas mengaminkan
do’anya kepada saudarany, pen). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat
tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang sama dengannya.” (HR. Muslim no.
2733)
Sampai-sampai sebagian salaf mengatakan:
Seandainya aku mengetahui bahwa aku memiliki do’a yang mustajab, niscaya akan aku
manfaatkan untuk mendo’akan pemimpin.
Masya Allah inilah akhlaq yang mulia. Selalu mentaati pemimpin selain dalam hal maksiat.
Dengan inilah akan tercipta kemaslahatan di tengah-tengah kaum muslimin.
Semoga Allah selalu memperbaiki keadaan pemimpin kita. Amin Ya Robbal ‘Alamin.
“Ya Allah, berilah kemanfaatan kepada kami terhadap apa yang kami ajarkan dan ajarkanlah
pada kami ilmu yang bermanfaat serta tambahkanlah ilmu pada kami.”
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumman fa’ana bimaa ‘allamtana,
wa ‘alimna maa yanfa’una wa zidnaa ‘ilmaa. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa
‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Tulisan lawas, diedit ulang di Madinah Nabawiyah, Jum’at-13 Rabi’ul Awwal 1434 H
www.rumaysho.com

Sumber https://rumaysho.com/3111-taat-pada-pemimpin-yang-zalim.html