Anda di halaman 1dari 25

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan tentang Soil Transmitted Helminth


Kata “Helminth” berasal dari bahasa yunani yang berarti cacing,
semua yang ditujukan pada cacing usus tetapi lebih umum dimaksudkan
meliputi keduanya, baik spesies yang bersifat parasit maupun spesies yang
hidup bebas dari cacing bulat, cacing daun dan cacing pita
(Djaenudin Natadisastra, 2009: 17)
Helminthes (cacing) adalah parasit berupa hewan bersel banyak yang
tubuhnya simetris kiri-kanan. Cacing yang penting bagi manusia
dikelompokkan ke dalam dua filum, yaitu Filum Plathyhelminthes (cacing
pipih) dan Filum Nemathelminthes (Cacing bulat)
Kata Platyhelminthes berasal dari bahasa yunani yaitu dari kata
“platys”, artinya pipih dan “helminthes”, artinya cacing. Jadi Platyhelminthes
adalah cacing yang mempunyai bentuk pipih. Tidak mempunyai sistem
peredaran darah, tidak bersegmen, tidak berongga badan dan tanpa lubang
dubur. Cacing pipih hidup bebas mempunyai mata berupa bintik mata
(Koes Irianto, 2013: 211).
Namathelminthes berasal dari kata yunani “namatos” yang berarti
benang dan “helminthes” yang berarti cacing cacing atau cacing benang.
Cacing ini sering disebut cacing gilik. Cacing yang termasuk dalam filum ini
sangat banyak, sehingga dalam tanah, halaman terdapat jutaan jumlahnya,
namun demikian peluang untuk melihatnya sangat kecil dan disebabkan
karena ukurannya yang sangat kecil seperti benang.
Nemathelminthes mempunyai kelas nematoda. Menurut habitat
(tempat tinggal) nematoda dibagi menjadi dua kelompok yaitu nematoda usus
dan nematoda darah dan jaringan (Koes Irianto, 2013: 212). Nematoda darah
dan jaringan dikelompokkan ke dalam (1) Filaria dan Dracunculus yaitu
Wuchereria bancofi, Brugia malayi, B. timori, Onchocerca volvulus, Loa loa,
Achathocheilonema perstans, Mansonella ozzardi dan Dracuchulus
medinensis; (2) Larva migrans yaitu Visceral larva migrans dan Cutaneus
7

larva migrans; (3) nematoda yang jarang didapat yaitu Capillaria hepatica,
Diocthaphyma renale dan spesies lainnya (Djaenudin Natadisatra, 2009: 23)
Kelas nematoda usus berdasarkan cara penyebarannya dapat dibagi
menjadi kelompok nematoda usus yang tidak memerlukan tanah dalam
hidupnya dan kelompok yang ditularkan melalui tanah (Soil Transmitted
Helminth. Kelompok nematoda usus yang tidak memerlukan tanah dalam
siklus hidupnya yaitu spesies Enterobius vermicuralis, Trichinella spiralis
dan Capillaria philippinensis (Djaenudin Natadisatra, 2009: 23)
Kelompok yang ditularkan melalui tanah (Soil Transmitted Helminth)
yaitu kelompok cacing yang membutuhkan tanah utuk pematangan dari bentuk
noninfektif menjadi bentuk infektif dan kelompok nematoda usus lainnya yang
tidak memerlukan tanah dalam hidupnya. Kelompok Soil Transmitted
Helminth terdiri atas beberapa spesies yaitu Trichuris trichura, cacing
tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale), Strongyloides
stercolaris, Ascaris lumbricoides, dan beberapa spesies Trichostongylus
(Djaenudin Natadisatra, 2009: 23)
1. Trichuris trichiura (cacing cambuk)
Trichuris trichiura termasuk nematoda usus yang biasa dinamakan
cacing cemeti atau cacing cambuk, karena tubuhnya menyerupai cemeti
dengan bagian depan yang tipis dan bagian belakangnya jauh lebih tebal.
Trichuris yang berarti ekor benang, yang pada mulanya salah pengertian.
Penyakitnya disebut trichuriasis, trichocephaliasis atau infeksi cacing
cambuk (Koes Irianto, 2013: 227)
a) Epidemiologi
Didaerah tropis tercatat 80% penduduk positif, sedangkan
diseluruh dunia tercatat 500 juta yang terkena infeksi menurut Brown
dan Belding tahun 1958. Infeksi banyak terdapat didaerah curah hujan
tinggi, iklim subtopis dan pada tempat yang banyak populasi tanah
(Koes Irianto, 2013: 231)
Infeksi berat terhadap anak-anak yang suka bermain tanah dan
mereka mendapat kontaminasi dari pekarangan yang kotor. Infeksi
terjadi karena menelan telur yang telah berembrio melalui tangan,
8

makanan, atau minuman yang telah terkontaminasi, langsung melalui


debu, hewan rumah atau barang mainan (Koes Irianto, 2013: 231)
b) Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Nemathelmintes
Kelas : Nematoda
Ordo : Enoplida
Famili : Trichuridea
Genus : Trichuris
Spesies : Trichuris trichiura (Irianto, 2013: 228)
c) Morfologi
Gambar 2.1 telur Trichuris trichiura

(Sumber : Ferlianti, 2009)

Telur berukuran 50x25 mikron, memiliki bentuk seperti


tempayan, pada kutubnya terdapat operculum yaitu semacam penutup
yang jernih dan menonjol. Dinding terdiri atas dua lapis, bagian dalam
yang jernih dan bagian dalam yang berwarna kecoklatan
(Djaenudin Natadisastra, 2009: 78)
Seekor cacing betina dalam satu hari dapat bertelur 3000-4000
butir. Telur ini keluar bersama tinja, dan ditanah dengan suhu optimum
dalam waktu 3-6 minggu menjadi infektif. Manusia terinfeksi dengan
memakan telur infektif. Cacing ini berhabitat diusus besar
(Rosdiana Safar, 2009)
Cacing dewasa menyerupai cambuk sehingga di sebut cacing
cambuk. Tiga per-lima bagian anterior tubuh halus seperti benang,
pada ujungnya terdapat kepala (trix =rambut, aura = ekor, cephalus=
kepala), esophagus sempit berdinding tipis terdiri dari satu lapis sel,
tidak memiliki bulbus esophagus. Bagian anterior yang halus ini akan
9

menancapkan dirinya pada mukosa usus. 2/5 bagian posterior lebih


tebal, berisi usus dan perangkat alat kelamin
(Djaenudin Natadisastra, 2009:78)
Cacing jantan memiliki panjang 30-45 mm, bagian posterior
melengkung ke depan sehingga membentuk satu lingkungan penuh.
Pada bagian posterior ini terdapat satu spikulum yang menonjol keluar
melalui selaput retraksi (Djaenudin Natadisaastra, 2009: 78)
Cacing betina panjangnya 30-50 mm, ujung posterior tubuhnya
membulat tumpul. Organ kelamin tidak berpasangan (simpleks) dan
berakhir di vulva yang terletak pada tempat tubuhnya mulai menebal
(Djaenudin Natadisastra, 2009: 78)
d) Daur hidup
Cacing betina sehari dapat menghasilkan 3000-4000 telur. Telur
keluar bersama tinja dalam keadaan belum matang, tidak infektif
(Djaenudin Natadisastra, 2009: 78).
Telur Trichuris trichura perlu pematangan didalam tanah 3-5
minggu sampai terbentuk telur infektif yang berisi embrio didalamnya.
Manusia dapat terinfeksi jika telur infektif tertelan. Selanjutnya
dibagian proksimal usus halus, telur menetas keluar larva, menetap
selama 3-10 hari. Setelah dewasa cacing akan turun ke usus besar dan
menetap dalam beberapa tahun. Waktu yang diperlukan cacing betina
menghasilkan telur adalah sekitar 30-90 hari
(Djaenudin Natadisastra, 2009: 78)
e) Patologi
Infeksi oleh cacing Trichuris trichura disebut trichuriasis,
trichocephaliasis atau infeksi cacing cambuk. Infeksi ringan biasanya
tanpa gejala. Pada infeksi berat, cacing tersebar diseluruh colon dan
rectum kadang-kadang terlihat pada mukosa rectum
(Djaenudin Natadisastra, 2009: 80)
Infeksi kronis sangat berat dab menunjukkan gejala-gejala
anemia berat, Hb rendah sekali dapat mencapai 3 gr%. Karena seekor
cacing tiap hari menghisap darah kurang lebih 0,005 cc. Diare dengan
tinja sedikit dan mengandung sedikit darah. Sakit perut, mual, muntah
10

serta berat badan menurun. Mungkin disertai sakit kepala dan demam
(Djaenudin Natadisastra, 2009: 80).
2. Cacing tambang (Hookworm)
Cacing tambang atau cacing kait (hookworm) pada manusia ada
dua spesies yaitu Necator americanus dan Ancylostoma duodenale.
Penyakit oleh N. americanus disebut necatoriasis dan oleh A.
duodenale disebut Ancylostomiasis (Djaenudin Natadisastra, 2009: 80)
a) Epidemiologi
Cacing ini terdapat hampir diseluruh daerah khatulistiwa,
terutama didaerah pertambangan. Frekuensi cacing ini di Indonesia
masih tinggi kira-kira 60-70%, terutama didaerah pertanian dan
pinggir jalan pantai
b) Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
Ordo : Rhabditida
Famili : Ancylostomatidae
Genus : Ancylostoma / Necator
Spesies : Ancylostoma duodenale / Necator americanus
(Irianto, 2013: 242)
11

c) Morfologi

Gambar 2.2 telur Cacing tambang


Telur mempunyai selapis kulit hialin yang tipis transparan.
Telur yang segar baru keluar mengandung 2-8 sel. Bentuk telur
Ancylostoma duodenale dan Necator amricanus sama, hanya
berbeda dalam ukuran telur. Ancylostoma duodenale berukuran
(56-60) x (36-40) µ sedangkan telur Necator americanus berukuran
(64-76) x (36-40) µ. Seekor betina Ancylostoma duodenale
maksimum dapat bertelur 20.000 butir sedangkan Necator
americanus 10.000 butir (Koes Irianto, 2013: 243)
Cacing dewasa berukuran kecil, silindris, berbentuk
gelondong dan berwarna putih kelabu. Bila sudah menghisap darah
cacing segar berwarna kemerahan. Yang betina berukuran (9-13) x
(0,35-60) mm, lebih besar dari yang jantan berukuran (5-110) x
(0,3-0,45) mm. Necator americanus lebih kecil daripada
Ancylostoma duodenale (Koes Irianto, 2013: 243)
Cacing ini relatif memiliki kutikula yang tebal Bagian
ujung belakang yang jantan mempunyai bursa kopulatrix seperti
jari yang berguna sebagai alat pemegang pada waktu kopulasi.
12

Badan yang betina diakhiri dengan ujung yang runcing


(Koes Irianto, 2013: 243)

d) Daur hidup
Telur keluar bersama tinja pada tanah yang cukup baik,suhu
optimal 23-33oC dalam 1-2 hari akan menetas keluar larva
rhabditiform yang berukuran 300 x 17 mikron. Larva ini aktif
memakan sisa-sisa pembusukan organik atau bakteri pada tanah
sekitar tinja. Pada hari kelima, berubah menjadi larva yang lebih
kurus dan panjang disebut larva filariform yang infektif. Larva ini
tidak makan, mulutnya tertutup, ekor panjang dan dapat hidup pada
tanah yang baik selama 2 minggu
(Djaenudin Natadusastra, 2009: 82)
Jika larva menyentuh kulit manusia biasanya pada sela
antara dua jari kaki atau dorsum pedis melalui folikel rambut, pori-
pori kulit atau kulit yang rusak, larva secara aktif menembus kulit
masuk kedalam kapiler darah terbawa aliran darah
(Djaenudin Natadusastra, 2009: 82)
e) Patologi
Larva yang menembus kulit menyebabkan rasa gatal.
Apabila sejumlah larva menembus paru-paru, bagi orang-orang
peka maka suatu waktu dapat menyebabkan bronchitis atau
pneumonitis (Koes Irianto, 2009: 78)
Penyakit cacing tambang sebenarnya merupakan suatu
infeksi kronis. Orang-orang yang terinfeksi kadang-kadang tidak
melibatkan simpton akut, karena serangan cacing dewasa dapat
menyebabkan anemia yang disebabkan kehilangan darah secara
terus-menerus. Satu ekor cacing dapat menghisap darah setiap hari
0,1-1,4 cm3, berarti penderita yang mengandung 500 ekor cacing
akan kehilangan darah 50-500 cm3 setiap harinya
(Koes Irianto, 2009: 78)
3. Ascaris lumbricoides
Beberapa survei yang dilakukan di Indonesia (tahun 1970-1974)
menunjukkan bahwa seringkali prevalensi Ascaris lumbricoides
13

disertai prevalensi Thrichuris trichiura yang tinggi pula. Dimana


manusia adalah satu-satunya hospes dari Ascaris lumbricoides.
Penyakit yang disebabkan Ascaris lumbricoides disebut ascariasis
(Gandahusada, 1990: 8 dan 19)
B. Tinjauan tentang Telur Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides disebut juga cacing gelang termasuk ke dalam
kelas Nematoda usus Soil Transmitted Helminth. Ascaris lumbricoides
banyak diperoleh di daerah-daerah tropis dan subtropis yang keadaan
daerahnya menunjukkan kebersihan dan lingkungan yang kurang baik
(Irianto, 2013: 232)
Harold W. Brown tahun 1979 menyatakan bahwa hampir 900 juta
manusia di muka bumi ini terserang Ascaris lumbricoides dan frekuensi
dibanyak Negara mencapai 80 persen. Demikian juga Noble tahun 1961
menyatakan bahwa bila seseorang dinyatakan berpenyakit cacingan, maka
biasanya orang tersebut diinfeksi cacing Ascaris lumbricoides
(Irianto, 20013: 232).
1. Epidemiologi
Cacing ini ditemukan kosmopolit (diseluruh dunia) terutama di
daerah tropik dan erat hubungannya dengan hygiene dan sanitasi. Lebih
sering ditemukan pada anak-anak. Di Indonesia frekuensinya tinggi
berkisar 20-90% (Rosdiana, 2009: 155)
Ascaris lumbricoides merupakan Soil Hransmitted Helminth
bersama-sama Hookworm dan Thrichuris thrichiura. Sumber penularan
yang paling sering adalah sayuran. Ada kepustakaan yag mengatakan
bahwa rata-rata ditemukan 1,44 telur per spesimen sayur atau 42,8%
sayuran mengandung telur Ascaris lumbricoides. Lebih jauh dikatakan
bahwa 23,1% dari telur yang ditemukan merupakan telur yang
berembrio. Sumber penularan lain adalah tanah. Pada kepustakaan yang
sama dikatakan bahwa pada setiap 5 gram tanah dapat dijumpai 360 telur.
Dalam debu dapat juga dijumpai telur Ascaris lumbricoides. dalam setiap
gram debu rumah dapat ditemukan 31 butir telur Ascaris lumbricoides.
Serangga sering pula disebut sebagai sumber penularan. Penularan dari
14

sumber-sumber penularan ini lebih dipermudah lagi karena telur Ascaris


lumbricoides tahan terhadap asam, alkohol juga bahan-bahan pengawet
yang biasa dipakai di rumah tangga (Bernardus, 2007 : 124)
Dapat dikatakan bahwa Ascariasis dapat terjadi disemua
golongan umur, namun insiden tertinggi terjadi pada umur 5-9 tahun. Hal
ini mungkin terjadi karena faktor perilaku dan pekerjaan penderita.
Disamping itu penggunaan tinja sebagai pupuk merupakan salah satu
faktor yang menyebabkan tingginya ascariasis di Asia
(Bernardus, 2007 : 124)
2. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
Sub-kelas : Phasmida
Ordo : Rhabdidata
Sub-Ordo : Ascaridata
Famili : Ascarididae
Genus : Ascaris
Spesies : Ascaris lumbricoides (Irianto, 2013: 233)
3. Morfologi
Seekor cacing Ascaris lumbricoides betina setiap harinya dapat
menghasilkan 200 ribu telur. Telurnya berbentuk ovoid (bulat telur)
dengan kulit tebal dan transparan terdiri dari membran lipoid yang relatif
non-permabel (Irianto, 2009: 68)
Cacing dewasa Ascaris lumbricoides merupakan nematoda usus
terbesar, berwarna putih kekuning-kuningan sampai merah muda,
sedangkan pada cacing mati berwarna putih. Bentuk badannya bulat
memanjang, kedua ujung lancip, bagian anterior lebih tumpul daripada
posterior. Pada bagian anterior terdapat mulut dengan tiga lipatan bibir (1
bibir dorsal dan 2 di ventral), pada bibir lateral terdapat sepasang papil
peraba (Natadisastra, 2009: 73)
Cacing jantan memiliki ukuran panjang 15-30 cm x lebar 3-5
mm, bagian posterior melengkung kedepan, terdapat kloaka dengan 2
spikula yang dapat ditarik. Cacing betina berukuran panjang 22-35 cm x
15

lebar 3-6 mm, Vulva membuka kedepan pada 2/3 bagian posterior tubuh
terdapat penyempitan lubang vulva yang disebut kopulasi
(Natadisastra, 2009: 73)

Gambar 2.3 cacing dewasa Ascaris lumbricoides

(Sumber : Ferlianti, 2009)

Cacing betina memiliki vagina bercabang membentuk pasangan


saluran genital. Saluran genital terdiri dari seminal reseptakulum, oviduk,
ovarium, dan saluran-salurannya berkelok-kelok menuju ujung posterior
tubunya yang berisi 27 juta telur. Yang tiap harinya seekor cacing betina
dapat menghasilkan 200.000 butir telur sehari dan dapat berlangsung
selama hidupnya kira-kira 6-12 bulan. Untuk dapat membedakan cacing
betina dengan cacing jantan dapat dilihat pada bagian ekornya (ujung
posterior), dimana cacing jantan ujung ekornya melengkung ke arah
ventral (Irianto, 2013: 233)
Ada 4 bentuk telur cacing Ascaris lumbricoides yaitu telur fertil,
telur dekortikated, telur infertil dan telur berembrio.

a. Telur fertil
Gambar 2.4 telur fertil Ascaris lumbricoides
16

(Sumber : Ferlianti, 2009)

Telur fertil atau telur yang dibuahi berukuran 60-45 m,


bentuk bulat atau oval dengan dinding telur yang kuat, terdiri atas 3
lapis yaitu lapisan luar yang terdiri dari lapisan almunoid dengan
permukaan tidak rata, bergerigi, berwarna kecoklat-coklatan.
Lapisan tengah merupakan lapisan chitin terdiri atas polisakarida dan
lapisan dalam, membran vitellin yang terdiri atas steril yang liat
sehingga telur dapat tahan sampai satu tahun dan terapung dalam
larutan garam jenuh (Natadisastra, 2009: 73)
b. Telur decorticated

Gambar 2.5 telur dekortikated Ascaris lumbricoides


(Sumber : Ferlianti, 2009)

Telur decorticated adalah telur yang dibuahi akan tetapi


kehilangan lapisan albuminoidnya sehingga dindingnya jernih.
Bentuk bulat lonjong, dinding tebal. Telur ini terapung dalam larutan
garam jenuh (Natadisastra, 2009: 74).
c. Telur infertil
Gambar 2.6 telur infertil Ascaris lumbricoides
17

(Sumber : Ferlianti, 2009)

Telur infertil atau telur tidak dibuahi mungkin dihasilkan oleh


betina yang tidak subur atau terlalu cepat dikeluarkan oleh betina
yang subur dan dalam usus hospes hanya terdapat cacing betina saja
sehingga fertilasi tidak terjadi. Berbentuk lonjong ,berukuran 90x49
m, dan berdinding tipis (Natadisastra, 2009: 74)
d. Telur berembrio
Gambar 2.7 telur berembrio Ascaris lumbricoides
(Sumber : Ferlianti, 2009)

Telur berembrio berisi telur embrio. Telur berembrio ini


bersifat infektif yang dapat hidup lama dan tahan terhadap pengaruh
buruk (Rosdiana, 2009: 156)

4. Daur hidup
18

Gambar 2.8 Daur hidup Ascaris lumbricoides

Ascaris lumbricoides hidup dari makanan yang dicernakan oleh


manusia, menyerap mukosa usus dengan bibirnya, menghisap darah dan
cairan jaringan usus. Ascaris lumbricoides dewasa akan hidup dan
mengadakan kopulasi didalam usus manusia. Setiap hari Ascaris
lumbricoides betina akan menghasilkan 200.000 telur
(Irianto, 2013: 234)
Telur Ascaris lumbricoides akan keluar bersama tinja manusia,
masih belum bersegmen dan tidak menular. Di alam telur berada di
tempat-tempat yang lembab, temperatur yang cocok, dan cukup sirkulasi
udara. Telur tumbuh dengan baik sampai menjadi infektif setelah kira-
kira 20-24 hari. Telur Ascaris lumbricoides tidak akan tumbuh dalam
keadaan kering, karena dinding telur harus dalam keadaan lembab untuk
pertukaran gas. Pertumbuhan telur Ascaris lumbricoides tidak tergantung
dari pH tanah dan juga telur sangat resisten, maka kekurangan oksigen
tidak menjadi sebab utama penghambat pertumbuhan telur. Pertumbuhan
telur Ascaris lumbricoides dapat terjadi pada suhu 8-37oC
(Irianto, 2009: 69)
Proses pembentukan embrio terjadi pada habitat yang
mempunyai kelembapan yang relatif 50% dengan suhu antara 22-23oC.
19

Dengan temperatur, kelembapan, dan cukup sirkulasi udara pertumbuhan


embrio akan lebih cepat dalam waktu 10-14 hari. Jika telur infektif
tertelan maka 4-8 jam kemudian didalam saluran pencernaan menetas
menjadi larva (Irianto, 2013: 236)
Telur infektif berembrio masuk bersama makanan akan tertelan
sampai lambung, telur menetas dan keluar larva yang dinamakan larva
rhabditiforom berukuran 200-300m x 14m. Cairan lambung akan
mengaktifkan larva, bergerak menuju usus halus kemudian menembus
mukosa usus untuk masuk kedalam kapiler (Natadisastra, 2009: 74)
Larva terbawa aliran darah kedalam hati, jantung kanan
akhirnya keparu-paru membutuhkan waktu 1-7 hari setelah infeksi.
Selanjutnya larva ke luar dari kapiler darah masuk kedalam alvoelus,
terus bronchiolus, bronchus, trachea sampai ke laring yang kemudian
akan tertelan masuk ke esofagus, kelambung, dan kembali ke usus halus
untuk kemudian usus halus kemudian menjadi dewasa. Keluarnya larva
dari kapiler alveolus untuk masuk ke dalam laring dan dan akhirnya
sampai ke dalam usus tempat larva menetap dan menjadi dewasa
(Natadisastra, 2009: 74)
5. Patologi
Ascaris lumbricoides dapat menghasilkan telur dalam setiap
harinya 20.000 butir, atau kira-kira 2-3 buah telur tiap detik. Hal ini dapat
menimbulkan anemia, dan dalam jumlah yang sangat banyak ini dapat
juga menyebabkan toksaemi (karena toksin dari Ascaris lumbricoides)
dan apendisitis yaitu disebabkan cacing dewasa masuk kedalam lumen
apendiks (Irianto, 2013: 238)
Infeksi yang disebabkan oleh Ascaris lumbricoides, merupakan
infeksi yang sangat umum, kebanyakan penderita adalah anak-anak.
Infeksi ini dapat menyebabkan kematian, baik dikarenakan larva maupun
cacing dewasanya (Irianto, 2013: 238)
Larva cacing Ascaris lumbricoides dapat menimbulkan hepatitis,
ascariasis pneumonia, juga kutaneus edema yaitu edema pada kulit,
terhadap anak-anak dapat mengakibatkan nausea (rasa mual), kolik
(mulas), diare, urtikaria (gatal-gatal), kejang-kejang, meningitis (radang
20

selaput otak), juga kadang-kadang menimbulkan demam, apatis, rasa


ngantuk, strabismus (mata juling) dan paralys (kelumpuhan) dari anggota
Terjadi hepatitis dikarenakan larva cacing menembus dinding usus dan
terbawa aliran darah ke dalam hati sehingga dapat menimbulkan
kerusakan pada hati badan (Irianto, 2013: 238)
Pada fase migrasi, larva dapat mencetus timbulnya reaksi pada
jaringan yang dilaluinya. Di paru, antigen larva menimbulkan respons
inflamasi berupa infiltrat yang tampak pada foto toraks. Terdapat gejala
pnemonia atau radang paru seperti batuk kering, demam, dan pada
infeksi berat dapat timbul dahak yang disertai darah. Pneumonia yang
disertai eosinophilia dan peningkatan IgE disebut sindrom loeffler. Larva
yang mati di hati dapat menimbulkan granuloma eosinophilia
(Kemenkes, 2012: 10)
Cacing dewasa dapat menyebabkan intoleransi laktosa,
malabsorsi vitamin A dan mikronutrisi. Efek serius terjadi bila cacing
menggumpal dalam usus sehingga terjadi obstruksi usus. Selain itu
cacing dewasa dapat masuk ke lumen usus buntu dan dapat menimbulkan
apendisitis akut atau gangrene. Jika cacing dewasa masuk dan
menyumbat saluran empedu dapat terjadi kolik, kolesititis, kolangitis,
pangkreatitis dan abses hati. Selain bermigrasi ke organ, cacing dewasa
dapat bermigrasi keluar anus, mulut atau hidung. Migrasi cacing dewasa
dapat terjadi karena rangsangan seperti demam tinggi
(Kemenkes, 2012: 10)
6. Pencegahan
Penularan Ascaris lumbricoides dapat terjadi secara oral, maka
sebagai pencegahannya menghidarkan tangan dalam keadaan kotor,
karena kemungkinan adanya kontaminasi dari telur-telur Ascaris
lumbricoides , dan membiasakan mencuci tangan sebelum makan
(Irianto, 2013: 237)
Menghindarkan sayuran mentah yang tidak dimasak terlebih
dahulu dan jangan membiarkan makanan terbuka begitu saja, sehingga
debu-debu beterbangan dapat mengontaminasi makanan tersebut ataupun
21

dihinggapi serangga dimana terbawa-bawa telur tersebut


(Irianto, 2013: 237)
Mengingat prevalensi yang tinggi pada golongan anak-anak maka
perlu diadakan pendidikan di sekolah-sekolah mengenai cacing Ascaris
lumbricoides ini. Dan dianjurkan untuk membiasakan mencuci tangan
sebelum makan, mencuci makanan dan memasaknya dengan baik,
memakai alas kaki terutama diluar rumah (Irianto, 2013: 237)
7. Pengobatan
Beberapa obat anhelmentik sekarang ini lebih efektif dengan
efek toksik yang relatif rendah dari pada obat obat dulu yang sudah
popular misalnya santonin, oleum chenopodium serta hexylresorcinol
(Djaenudin Natadisastra, 2009: 77)
Anhelmentik untuk pengobatan ascaris dapat dipilih beberapa
obat di bawah ini (Djaenudin Natadisastra, 2009: 77)
1) Pyrantel pamoate, diberikan sebagai dosis tunggal 10 mg per-kg
berat badan dengan maksimum pemberian 1 gram.
2) Levamisole hydrochloride diberikan sebagai dosis tunggal 2,5-5
mg per-kg berat badan.
3) Garam piperazine, 75 mg per-barat badan, maksimum 3,5 gram,
diberikan 2 hari sebagai dosis harian tunggal. Merupakan obat
pilihan pada obstruksi intestinal oelh ascaris lumbricoides, karena
obat ini mengakibatkan paralisis yang flasid pada cacing.
4) Albendazole, untuk orang dewasa dan anak- anak di atas 2 tahun
yang diberikan dengan dosis tunggal 400 mg.
5) Mebendazole, dibrikan dengan dosis 100 mg dua kali per hari
selama 3 hari berturut- turut.
6) Cyclobendazole adalah derivate benzimidazole baru yang dapat
membunuh ascaris lumbriciodes (sturchlet et.al.,1980)
Obat – obat di atas tidak perlukan pencahar ataupun puasa sebelum
atau sesudah pengobatan.
C. Tinjauan tentang Sayur kangkung
Daerah asal kangkung tidak diketahui dengan pasti, walaupun daerah
tropika Afrika, Asia, dan India mungkin daerah asalnya. Tanaman ini memiliki
sejarah budidaya yang panjang diwilayah tenggara Cina. Kangkung (Ipomoea
aquatica forsk) adalah tanaman tahunan akuatik atau semiakuatik yang
22

ditemukan dibanyak wilayah tropika dan subtropika (Rubatzky,


1999: 197)
1. Klasifkasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Convolvulales
Famili : Convolvulacae
Genus : Ipomoea
Spesies : Ipomoea aquatic
2. Definisi sayur kangkung
Kangkung adalah tumbuhan yang termaksud jenis sayur-sayuran
dan ditanam sebagai makanan. Kangkung banyak dijual di pasar-pasar
(Aini, 2015: 105).
Ada dua jenis kangkung yakni kangkung darat yang sering disebut
kangkung china, dan kangkung air yang tumbuh secara alami disawah,
rawa dan parit. Yang lazim diolah dalam masakan adalah kangkung darat
karena cita rasanya yang lebih nikmat dan daunnya yang lebih lembut.
Kangkung darat berbunga putih bersih dengan batang putih kehijauan.
Ukuran daun dan batangnya lebih kecil dibandingkan kangkung air.
Kangkung air berbunga putih kemerahan dengan batang berwarna hijau
(Aini, 2015: 105)
Batang beserta daun muda kangkung dapat diolah menjadi
berbagai masakan. Misalnya oseng-oseng, tumis, cah, urap dan pecel
(Haryoto, 2009 :13)
3. Kandungan sayur kangkung
Kangkung banyak mengandung vitamin A serta bahan-bahan
mineral terutama zat besi dan kalsium. Kedua jenis mineral tersebut
merupakan zat yang sangat diperlukan pertumbuhan manusia. Sementara
vitamin A sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata. Kandungan
gizi kegunaan utama kangkung adalah sebagai sumber utama nabati yang
bergizi tinggi (Haryoto, 2009: 13)
23

Dalam setiap 100 gr kangkung yang direbus, tanpa garam


terkandung air 91,2 gr, energy 28 kkal, protein 1,9 gr, lemak 0,4 gr,
karbohidrat 5,63 gr, serat 2 gr dan ampas 0,87 gr (Aini, 2015: 105)
Kangkung juga kaya vitamin A, B, C , mineral, asam amino,
kalsium, fosfor, karotem, dan zat besi. Karena berbagai kandungan itu,
kangkung memiliki sifat anti racun, peluruhan perdarahan, diuretic
(pelancar kencing), antiradang, dan sedative (penenang/obat tidur). Oleh
sebab itu, jangan heran jika setelah makan kangkung, anda merasa
mengantuk (Aini, 2015: 105)
Kandungan gizi kangkung secara lengkap dapat tersaji dalam
Tabel 2.1 Kandungan gizi kangkung
Kandungan gizi Jumlah
Energy (kal) 729
Protein (g) 3,0
Lemak (g) 0,3 (Sumber :
Haryoto,
2009: Karbohidrat (g) 5,4 13)
4. Jenis- Kalsium (mg) 73 jenis sayur
Fosfor (mg) 50 kangkung
Ada dua jenis
Zat besi (mg) 2,5
kangkung
Vitamin A 6300
yakni kangkung
darat Vitamin B1(mg) 0,07

yang Vitamin C (mg) 32


sering Air (g) 89,7

disebut kangkung china, dan kangkung air (Aini, 2015: 105)


Gambar 2.9 sayur kangkung darat (kiri) dan air (kanan)
a. Kangkung darat
24

Ciri-ciri sayur kangkung darat : bentuk daun panjang dengan


ujung runcing, berwarna keputih-putihan dan bunganya berwarna putih
(Rukmana, 1994: 18)
Kangkung darat udah dibedakan dengan kangkung air dari warna
bunganya yang putih bersih. Kangkung darat umunya dijual dalam
bentuk cabutan tanaman bersama akarnya. Maka itu, di pasaran
kangkung ini diistilahkan dengan kangkung cabut (Haryoto, 2009: 10)
Akar kangkung darat menyebar ke segala arah dan dapat
menembus tanah sampai kedalaman 50 cm lebih. Batang tanaman
berbentuk bulat panjang, beruas mirip batang bambu. Batang ini
berwarna hijau keputih-putihan, banyak mengandung air dan
berongga. Setiap ruas batang ditumbuhi akar dan berpotensi ditumbuhi
cabang baru atau bunga (Haryoto, 2009: 11)
Daun kangkung berwarna hijau tua dibagian atasnya. Tungkai
daunnya panjang dan melekat pada setiap ruas batang. Bentuk daunnya
menyerupai jantung-hati dan berujung runcing. Panjang daun sekitar 7-
10 cm dengan lebar 23 cm. Daun dan batang kangkung enak dimakan
dan bergizi (Haryoto, 2009: 11)
Kangkung darat gampang berbunga dan berbuah. Bunganya
berbentuk terompet berwarna putih bersih. setelah mekar penuh, bunga
kangkung darat mempunyai lebar sekitar 4 cm (Haryoto, 2009: 11)
Setelah terjadi pembuahan, bunga akan layu dan terbentuklah
pentil buah. Buah muda berwarna hijau keputih-putihan dan berubah
menjadi coklat tua setelah tua dan kering. Buah berukuran sekitar 1
cm, berbentuk bersegi-segi dan tumpul pada sudut-sudutnya. Buah
kangkung termasuk buah polong. Setiap polong berisi 3-4 butir biji.
Biji buah berkeping dua dan berfungsi sebagai alat perkembangbiakan
tanaman secara generatif (Haryoto, 2009: 11)
a. Kangkung air
Ciri-ciri sayur kangkung air : bentuk daun panjang dengan ujung
agak tumpul, berwarna hijau-kelam dan bunganya berwarna putih
25

kekuning-kuningan atau kemerah-merahan. Kangkung air umumnya


dijual sebagai sebagai sayuran dalam bentuk otongan yang diikat
(Rukmana, 1994: 18)
5. Cara bertanam sayur kangkung
Tanaman kangkung tidak memerlukan persyaratan tempat tumbuh
yang sulit. Salah satu syarat yang penting adalah air yang cukup. Apabila
kekurangan air pertumbuhannya akan mengalami hambatan. Kangkung
baik ditanam di dataran rendah. Di dataran tinggi tumbuhnya lambat dan
hasilnya kurang. Di dataran rendah, kangkung biasanya ditanam di kolam
atau di rawa-rawa atau pada timbunan sampah. Di tempat yang
mengandung bahan organik tinggi, tanaman juga akan tumbuh subur sekali
(Sutarya, 1995: 203)
Kangkung darat lebih toleran terhadap cuaca dingin. Pola
pertumbuhan tanaman ini adalah menyebar dan merayap. Daun memiliki
panjang 7-14 cm berbentuk jantung pada pangkalnya dan biasanya runcing
ujungnya. Batang berongga dan mengapung pada permukaan
(Rubatzky, 1999: 198)
Pada kangkung darat panen biasanya dilakukan setelah umur 28-35
hari dengan jalan mencabut bersama akarnya. Kangkung darat yang masih
muda dengan batang besar dan berlubang memiliki kualitas pasar yang
lebih baik daripada kangkung air dengan batang tipis tetapi batangnya
besar (Sutarya,1995: 206).
Adanya usaha untuk meningkatkan kesuburan tanaman sayuran
dengan menggunakan tinja manusia sebagai pupuk dalam bertanam
menyebabkan sayur kangkung dapat menjadi sumber infeksi dari Ascaris
lumbricoides (Irianto, 2013: 237)
D. Tinjauan tentang Pasar
1. Pengertian Pasar
Menurut Menteri Perdagangan Republik Indonesia, pasar dalam
pengertian teori ekonomi adalah suatu situasi seorang atau lebih pembeli
dan penjual melakukan transaksi setelah sedua pihak telah mengambil kata
sepakat tentang harga terhadap sejumlah barang dengan kuantitas tertentu
yang menjadi objek transaksi. Sedangkan menurut kajian sosiologi, pasar
26

dibedakan menjadi antara pasar sebagai tempat pasar (market place) dan
pasar (market). Pasar sebagai tempat pasar merupakan bentuk fisik dimana
barang dan jasa dibawa untuk dijual dan dimana pembeli bersedia membeli
barang dan jasa tersebut. Sedangkan pasar dilihat dari sosiolog sebagai
suatu institusi sosial yaitu suatu struktur sosial yang memberikan tatanan
bagi kebutuhan dasar manusia (Oktavina, 2012)
Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 112 tahun 2007
mendefinisikan pasar tradisional sebagai pasar yang dibangun dan dikelola
Oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Pemerintah Swasta, Badan Usaha
Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan
swasta dengan tempat usaha berupa took, kios los dan tenda yang dimiliki
atau dikelola oleh pedangang kecil, menengah, swadaya masyarakat
dengan modal usaha skala kecil, modal menengah dan dengan proses jual
beli barang melalui tawar-menawar. Sedangkan menurut Menurut Menteri
Perdagangan Republik Indonesia, pasar tradisional adalah wadah utama
penjualan produk-produk kebutuhan pokok yang dihasilkan oleh para
pelaku ekonomi berskala menengah, kecil serta mikro. Salah satu pelaku
dipasar tradisional adalah para petani, nelayan, pengrajin dan home
industri (Oktavina, 2012)
2. Fungsi Pasar Tradisional
Keberadaan pasar mempunyai fungsi yang sangat penting. Bagi
konsumen, adanya pasar akan mempermudah memperoleh barang dan jasa
kebutuhan sehari-hari. Adapun bagi produsen, pasar menjadi tempar untuk
mempermudah proses penyaluran barang hasil produksi. Secara umum
pasar mempunyai tiga fungsi utama yaitu sebagai saran distribusi,
pembentukan harga dan sebagai tempat promosi (Oktavina, 2012)
a) Pasar sebagai sarana distribusi
Pasar berfungsi untuk memperlancar proses penyaluran barang
atau jasa dari produsen ke konsumen. Dengan adanya pasar, produsen
dapat berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk
menawarkan barang hasil produksinya ke konsumen
b) Pasar sebagai pembentuk harga
27

Pembeli yang membutuhkan barang atau jasa akan berusaha


menawar harga dari barang atau jasa tersebut, sehingga terjadilah
tawar-menawar antara kedua belah pihak. Setelah terjadi kesepakatan
terbentuklah harga. Dengan demikian pasar berfungsi sebagai
pembentuk harga

c) Pasar sebagai sarana promosi


Pasar sebagai sarana promosi artinya pasar menjadi tempat
memperkenalkan dan menginformasikan suatu barang/jasa tentang
manfaat, keunggulan dan kekhasannya pasa konsumen, promosi
dilakukan untuk menarik perhatian dan minat pembeli terhadap barang
dan jasa.
3. Ciri-ciri Pasar Tradisional
Ciri-ciri pasar tradisional antara lain:
a) Adanya sistem tawar-menawar anatar penjual dan pembeli.
b) Pedagang dipasar tradisional berjumlah lebih dari satu, dan pedagang
tersebut memiliki ha katas stan yang dimiliki dan hak penuh atas
barang dagangan pada masing-masing stan
c) Ciri pasar berdasarkan pengelompokkan dan jenis barang
Lilananda (1997), jenis barang dipasar umumnya dibagi dalam
empat kategori yaitu
(1) Kelompok bersih (kelompok jasa, warung toko)
(2) Kelompok kotor yang tidak bau (kelompok hasil bumi dan buah-
buahan
(3) Kelompok kotor yang bau dan basah (kelompok sayur dan bumbu)
(4) Kelompok bau, basah, kotor dan busuk (kelompok ikan basah dan
daging)
d) Ciri pasar berdasarkan tipe tempat berjualan
Tempat-tempat strategis selalu diminati oleh perdagangan
karena terlebih dahulu terlihat atau dikunjungi pembeli
(Oktavina, 2012)
(1) Kios
28

Merupakan tipe tempat berjualan yang tertutup, tingkat


keamanan lebih tinggi disbanding dengan yang lain.
(2) LODS
Merupakan tipe tempat berjualan terbuka tetapi tetap
dibatasi secara pasti atau tetap
(3) Pelataran
Merupakan tipe tempat berjualan yang terbuka atau tidak
dibatasi secara tetap tapi mempunyai tempatnya sendiri.

E. Tinjauan tentang Metode Pemeriksaan


Identifikasi telur cacing dilaboratorium dapat dilakukan dengan
pemeriksaan pada sampel yang diduga mengandung atau terkontaminasi telur
cacing. Salah satu metode yang sering digunakan adalah metode konsentrasi.
Metode konsentrasi ada dua yaitu sedimentasi dan flotasi (pangapungan).
Tujuan dilakukannya metode ini adalah untuk memisahkan telur cacing dari
bahan-bahan yang terkandung dalam sampel berdasarkan berat jenis masing-
masing (Sandjaja, 2007: 46)
1. Metode Flotasi
Pada metode flotasi berat jenis larutan yang digunakan harus lebih
besar daripada berat jenis telur cacing yang berkisar 1,10-1,20 sehingga
telur cacing akan terapung pada permukaan selanjutnya diambil untuk
pemeriksaan (Sumanto, 2012: 3)
Metode flotasi sangat baik digunakan untuk pemeriksaan sampel
yang mengandung sedikit telur cacing dan untuk diagnosis infeksi berat
dan ringan penyakit kecacingan. Sediaan yang dihasilkan metode flotasi
lebih bersih daripada dengan metode sedimentasi karena telur cacing akan
terpisah dari kotoran sehingga telur cacing dapat jelas terlihat. Selain itu
metode flotasi menunjukkan sesnsitivitas yang tinggi sebagai pemeriksaan
diagnosis infeksi Soil Hransmitted Helminthdengan tingkat infeksi rendah.
Kekurangan metode flotasi adalah memerlukan waktu yang cukup lama
dan hanya berhasil untuk telur Nematoda, Schistoma, Dibothriosephalus
dan jenis telur dari famili Taenidae
29

Bahan kimia yang biasa digunakan untuk membuat larutan


pengapung diantaranya adalah glukosa, ZnSO4 dan NaCl yang dibuat
jenuh. Teknik pengapungan menggunakan NaCl jenuh lebih disukai karena
tidak memerlukan alat yang lebih komplek (Sumanto, 2012: 3)
Prinsip pemeriksaan metode flotasi dengan NaCl jenuh adalah
sampel dielmusikan kedalam larutan NaCl jenuh, dimana telur cacing pada
sampel mengapung kepermukaan larutan dikarenakan perbedaan berat
jenis antara telur dan larutan NaCl (Sandjaja, 2007: 46)
Semua jenis garam (NaCl) dapat digunakan untuk melakukan
pemeriksaan laboratorium metode flotasi. NaCl yang beredar ada 2 macam
diantaranya :
1) NaCl murni
Garam atau NaCl murni merupakan garam keluaran pabrik
yang dibuat untuk kebutuhan bahan kimia untuk laboratorium
kesehatan dan industri. Garam NaCl murni dalam sediaan farmasi
merupakan Kristal yang berbentuk heksahedral, berwarna putih dan
memiliki rasa asin. Kemurniaan yang dipersyarakatkan dalam
Farmakope Indonesia edisi III tahun 1979 menimal sebesar 99,5%.
NaCl merupakan jenis garam yang mudah larut dalam air dan gliserol
(Sumanto, 2012: 3)
2) Garam (NaCl) dapur
Garam (NaCl) dapur adalah garam yang sudah dikenal
masyarakat luas yang berfungsi sebagai bumbu masak. Garam dapur
jenisnya ada bermacam-macam diantaranya adalah garam meja
(berbentuk butiran), dan garam cetak (berbentuk seperti balok) dan
garam krosok. Segala jenis garam dapur berasal dari garam krosok
(Sumanto, 2012: 3)
Garam krosok merupakan jenis garam dapur yang memiliki
penampakan paling kotor karena biasanya belum melalui proses
pencucian garam, sedangkan garam meja dan garam cetak memiliki
tampilan yang relative putih bersih. Garam meja merupakan garam
krosok yang telah melalui proses pencucian dan penghalusan
sedangkan garam cetak selain melalui proses pencucian dan
30

penghalusan ada tahapan selanjutnya yaitu percetakan


(Sumanto, 2012: 3)
2. Metode Sedimentasi
Pada metode sedimentasi berat jenis larutan yang digunakan lebih
kecil daripada telur cacing sehingga telur cacing akan mengendap di dasar
tabung. Prinsip pemeriksaan metode sedimentasi adalah dengan adanya
gaya sentrifuge dapat memisahkan antara suspensi dan supernatannya
sehingga telur dapat terendapkan. Kelebihan pemeriksaan dengan metode
sedimentasi dibandingkan flotasi adalah lebih efisien dalam mencari
protozoa dan berbagai macam telur cacing (Bramantyo, 2014)