Anda di halaman 1dari 33

FORM HASIL KEGIATAN HOME VISIT

LAPORAN HOME VISIT DOKTER KELUARGA


Berkas Pembinaan Keluarga
Puskesmas Tulangan No RM :

Tanggal kunjungan pertama kali 4 Mei 2018


Nama DM Pembina : Putu Ayu Ngurah Pratiwi Purwa

Tabel 1. CATATAN KONSULTASI PEMBIMBING (diisi setiap kali selesai satu


periode pembinaan )
Tanggal Tingkat Paraf Paraf Keterangan
Pemahaman Pembimbing

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA


Nama Kepala Keluarga : TN. F
Alamat lengkap : Medalem RT 1 RW 3
Bentuk Keluarga : Nuclear Family
Tabel 2.Daftar Anggota keluarga yang tinggal dalam satu ruma

No Nama Kedudukan L/ Umur Pendidika Pekerjaan Pasien Ket


dalam keluarga P n Klinik
(Y/T)
1 Tn. F (Ayah) L 62 th SMP Tidak Bekerja Y

2 Ny. N (Ibu) P 56 th SMP IRT T


3 Tn.H (Anak) L 38 th S1 Wiraswasta T
4 Ny.S (Anak) P 37 th S1 Wiraswasta T

1
5 Ny.N (Anak) P 34 th S1 IRT T
6 Ny.E (Anak) P 31 th S1 Wiraswasta T
7 Ny.F (Anak) P 24 th S1 IRT T

Sumber : keterangan keluarga oleh Tn. F, 4 Mei 2018

2
LAPORAN KASUS KEDOKTERAN KELUARGA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dermatitis kontak alergi adalah reaksi inflamasi imunologik spesifik yang
disebabkan oleh faktor paparan allergen atau kontak atau ketika suatu bahan yang
bertanggung jawab terhadap munculnya kelainan kulit. Penyebab DKA adalah
multifaktorial antara lain karena faktor endogen dan faktor eksogen. Faktor
endogen berupa faktor herediter, gangguan sistem imunologi, keadaan kulit
penderita, vaskularisasi, hormonal, dan stres emosional. Sedangkan faktor eksogen
berupa bahan alergen, iritan, cahaya, cuaca, dan infeksi. DKA dapat dipengaruhi
oleh usia, jenis kelamin, ras, atopi, lingkungan.
Dermatitis kontak alergi adalah suatu dermatitis atau peradangan kulit yang
timbul setelah kontak dengan alergen melalui proses sensitasi. Dermatitis kontak
alergi merupakan dermatitis kontak karena sensitasi alergi terhadap substansi yang
beraneka ragam yang menyebabakan reaksi peradangan pada kulit bagi mereka
yang mengalami hipersensivitas terhadap alergen sebagai suatu akibat dari pajanan
sebelumnya.
Laporan ini diambil berdasarkan kasus yang diambil dari seorang pasien
Dermatitis Kontak Alergi, berjenis kelamin laki-laki dan berusia 62 tahun, dimana
pasien merupakan salah satu dari pasien dermatitis kontak alergi yang berada di
wilayah Puskesmas Tulangan, Kabupaten Sidoarjo beserta berbagai permasalahan
yang dihadapi. Mengingat terdapatnya kasus ini di daerah Puskesmas Tulangan
Kabupaten Sidoarjo, maka perlu di cermati mengenai permasalahan timbulnya
dermatitis kontak alergi. Permasalahan ini seperti masih kurangnya pengetahuan
masyarakat tentang dermatitis kontak alergi terutama masalah gejala awal dan
pengobatan penyakit dermatitis kontak alergi tersebut. Oleh karena itu penting
kiranya bagi penulis untuk memperhatikan dan mencermatinya untuk kemudian
bisa menjadikannya sebagai pengalaman di lapangan.

3
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah hubungan antara kehidupan sosial dan ekonomi pasien
dengan penyakit yang diderita pasien?
2. Bagaimanakah hubungan antara pelayanan kesehatan yang diterima pasien
dengan penyakit yang diderita pasien?
3. Bagaimanakah hubungan antara lingkungan sekitar pasien dengan penyakit
yang diderita pasien?

1.3 TUJUAN
1.3.1 Tujuan Umum

a. Untuk mengetahui hubungan antara kehidupan sosial dan ekonomi pasien


dengan penyakit yang diderita pasien
b. Untuk mengetahui hubungan antara pelayanan kesehatan yang diterima
pasien dengan penyakit yang diderita pasien
c. Untuk mengetahui hubungan antara lingkungan sekitar pasien dengan
penyakit yang diderita pasien

1.3.2 Tujuan Khusus


a. Untuk mengetahui identifikasi pasien sesuai dengan yang ditetapkan
puskesmas
b. Untuk mengetahui identifikasi kehidupan pasien dalam keluarga melalui
APGAR
c. Untuk mengetahui identifikasi faktor sosial ekonomi pasien melalui
SCREEM
d. Untuk mengetahui identifikasi faktor keturunan pasien melalui
Genogram
e. Untuk mengetahui identifikasi faktor pelayanan kesehatan
f. Untuk mengetahui identifikasi perilaku pasien disertai dengan
penyakitnya
g. Untuk mengetahui identifikasi faktor lingkungan (fisik, sosial, ekonomi,
dsb)

4
1.4 MANFAAT
1. Manfaat bagi Pasien dan Keluarganya
Adapun manfaat home visit ini bagi pasien dan keluarganya adalah
sebagai pendekatan dalam pemberian informasi mengenai penyakit yang
di derita pasien serta hubungannya terhadap sosial, ekonomi, pelayanan
kesehatan, perilaku pasien dan faktor lingkungan
2. Manfaat bagi Pelayanan Kesehatan
Adapun manfaat home visit ini bagi pelayanan kesehatan adalah sebagai
sumber evaluasi dalam memberikan pelayanan terhadap penyakit
Tuberkulosis Paru
3. Manfaat bagi dokter muda
Adapun manfaat home visit ini bagi dokter muda adalah untuk menambah
wawasan, memperluas ilmu pengetahuan, serta sebagai tambahan
informasi mengenai penyakit tuberkulosis paru.

5
BAB II

HASIL KUNJUNGAN

2.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Tn. F
Umur : 62 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Tidak bekerja (Pensiun)
Pendidikan : SMP
Agama : Kristen
Alamat : Medalem RT 1 RW 3
Suku : China
Tanggal periksa : 4 Mei 2018

2.2 ANAMNESIS
Keluhan Utama : Gatal pada seluruh badan.

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke puskesmas


tulangan dengan keluhan gatal diseluruh badan sejak 4 hari yang lalu. Pasien
mengatakan sebelumnya mengkonsumsi ikan bader lalu tiba-tiba dirasakan
gatal pada seluruh tubuh dan gatal memberat dirasakan pada kedua kaki
pasien. Pasien mengatakan gatal dirasakan hilang timbul dan tidak
bertambah jika berkeringat. Pasien juga mengatakan tidak terasa nyeri, tidak
pedih, tidak ada rasa terbakar dan tidak panas. Selama ini pasien
mengatakan bila timbul gatal pasien akan memberikan minyak tawon dan
akan lagsung mandi menggunakan sabun asepso. Pasien mengatakan jika
gatal dirasakan memberat sering tidak bisa tidur pada malam hari karna
menahan gatal pada badannya.
Pasien juga mengatakan sebelumnya setiap menkonsumsi makanan
laut seperti ikan laut dan olahan makanan lainnya yang berbahan ikan maka
pasien akan mengalami gatal pada seluruh tubuhnya. Pasien mengatakan

6
tidak bisa mengurangi konsumsi makanan laut karena sejak dahulu pasien
sangat menyukai makanan laut dan setiap badannya gatal makan pasien
akan memberikan minyak tawon pada badannya.

Riwayat Penyakit Dahulu:


- Riwayat Alergi : (+) ayam broiler dan makanan laut (ikan)
- Riwayat bersin-bersin di pagi hari : disangkal
- Riwayat mata merah,berair dan gatal : disangkal
- Riwayat alergi obat : disangkal
- Riwayat Asma : disangkal

Riwayat pengobatan : Pasien sebelumnya belum pernah berobat. Pasien


Akan memberikan minyak tawon apabila badannya terasa gatal-gatal

Riwayat Penyakit Keluarga


- Riwayat keluarga dengan penyakit serupa : (+) ayah kandung dan
saudara kandung
- Riwayat alergi : (+) istri mengatakan
alergi pada debu
- Riwayat asma : disangkal

Riwayat Kebiasaan
Sehari-hari pasien melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga bersama istrinya
di rumah dan mengasuh cucunya yang masih kecil. Pasien mengatakan mempunyai
kebiasaan bila terasa gatal pasien akan menggaruk pada bagian yang terasa gatal
dan lalu akan mengkompres bagian yang gatal dengan cairan antiseptik (asepso atau
detol)

Riwayat Sosial Ekonomi


Penderita adalah seorang kepala keluarga dari satu orang istri dengan 5 orang anak.
Penderita tinggal di sebuah rumah yang berpenghuni 2 orang (penderita dan

7
istrinya). Penderita sudah tidak bekerja sejak 4 tahun yang lalu. Penderita
mengatakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dikatakan telah diberikan oleh
kelima anaknya dan mendapat uang pensiun dari pabriknya terdahulu. Keadaan
sosial ekonomi pasien terkesan cukup. Rumah yang di tempati pasien merupakan
rumah pasien. Lingkungan tempat tinggal pasien merupakan lingkungan yang
cukup baik karena memiliki ventilasi maupun tingkat pencahayaan yang cukup baik
di rumah pasien dan tidak terkesan lembab.

Riwayat Gizi.
Pasien makan sehari-harinya biasanya antara 1-3 kali sehari dengan nasi dan lauk-
pauk seperti ikan laut, susu, dan telur kadang-kadang makan buah.

ANAMNESIS
1. Kulit : warna kulit putih, kulit gatal (+)
2. Kepala : sakit kepala (-), pusing (-), rambut kepala tidak rontok,
luka pada kepala (-), benjolan/borok di kepala (-)
3. Mata : pandangan mata berkunang-kunang (-), penglihatan
kabur (-),
4. Hidung : tersumbat (-), mimisan (-)
5. Telinga : pendengaran berkurang (-), berdengung (-), keluar cairan (-)
6. Mulut : sariawan (-), mulut kering (-), lidah terasa pahit(-)
7. Tenggorokan : sakit menelan (-), serak (-)
8. Pernafasan : sesak nafas (-), batuk lama (-), mengi (-), batuk darah (-
)
9. Kadiovaskuler : berdebar-debar (-), nyeri dada (-).
10. Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), diare (-), nafsu makan menurun (-
), nyeri perut (-), BAB tidak ada keluhan
11. Genitourinaria : BAK lancar, 1 kali dalam 2 hari warna dan jumlah biasa
12. Neuropsikiatri : Neurologik : kejang (-), lumpuh (-)
Psikiatrik : emosi stabil, mudah marah (-)
13. Muskuloskeletal : kaku sendi (-), nyeri sendi bahu kanan dan kedua lutut
(-), kesemutan pada kaki (-)

8
14. Ekstremitas : Atas : bengkak (-), sakit (-)
Bawah : bengkak (-), sakit (-)

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


1. Keadaan Umum
Tampak cukup baik, kesadaran compos mentis (GCS 456), status gizi kesan
cukup.
2. Tanda Vital dan Status Gizi
Tanda Vital
Nadi : 90x/menit, reguler, isi cukup, simetris
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,7 ºC
Tensi : 120/70 mmHg
 Status gizi ( Kurva NCHS ) :
BB : 58 kg
TB : 170 cm
IMT = BB = 58 = 20,06
(TB)2 (1,70)2
BMI< 18,5 = Kurang
BMI 18,5 – 23,9 = Normal
BMI 25 – 26,9 = Gemuk (gizi lebih)
BMI ≥27 = Obesitas
Status gizi Normal
3. Kulit
Warna : putih, ikterik (-), sianosis (-)
Status Lokalis :
Pada ektremitas atas, ektremitas bawah kanan dan kiri dan abdomen tampak
makula eritema berbatas tidak tegas disertai dengan skuama
dengan tepi tidak aktif.
Pada Lengan Kanan didapatkan krustka (+) disertai skuama.

9
Kepala : Bentuk mesocephal, tidak ada luka, rambut tidak mudah
dicabut, atrofi m. temporalis(-), makula (-), papula (-), nodula
(-), kelainan mimik wajah/bells palsy (-)
4. Mata
Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (3mm/3mm), reflek
kornea (+/+), warna kelopak (coklat kehitaman), katarak (-/-),
radang/conjunctivitis/uveitis (-/-)
5. Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), deformitas hidung (-),
hiperpigmentasi (-), sadle nose (-)
6. Mulut
Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi
lidah hiperemis (-), tremor (-)
7. Telinga
Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-), pendengaran berkurang (-), cuping
telinga dalam batas normal
8. Tenggorokan
Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-)
9. Leher
JVP tidak meningkat, trakea ditengah, pembesaran kelenjar tiroid (-),
pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-)
10. Thoraks
Simetris, retraksi interkostal (-), retraksi subkostal (-)
- Cor : I : ictus cordis tak tampak
P : ictus cordis tak kuat angkat
P : batas kiri atas : PSL Sinsitra II
batas kanan atas : PSL Dextra II
batas kiri bawah : MCL V
batas kanan bawah :MCL IV
batas jantung kesan tidak melebar
A: BJ I–II intensitas normal, regular, bising (-)
- Pulmo: Statis (depan dan belakang)

10
I : pengembangan dada kanan sama dengan kiri
P : fremitus raba kiri sama dengan kanan
P : sonor/sonor
A: suara dasar vesikuler (+/+)
suara tambahan Rhochi(-/-), whezing (-/-)
Dinamis (depan dan belakang)
I : pergerakan dada kanan sama dengan kiri
P : fremitus raba kiri sama dengan kanan
P : sonor/sonor
A: suara dasar vesikuler (+/+)
suara tambahan Rhonci (-/-), whezing (-/-)
11. Abdomen
I : dinding perut cekung
P : supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba
P : timpani seluruh lapang perut
A : peristaltik (+) normal
12. Sistem Collumna Vertebralis
I : deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
P : nyeri tekan (-)
P : NKCV (-)
13. Ektremitas: palmar eritema(-/-) hiperemi pada jari (-),atrofi otot (-/-)
akral dingin oedem
- - - -
- - - -

14. Sistem genetalia: dalam batas normal


15. Pemeriksaan Neurologik
Fungsi Luhur : dalam batas normal
Fungsi Vegetatif : dalam batas normal
Fungsi Sensorik : dalam batas normal

11
Fungsi motorik :
K 5 5 T N N RF 2 2 RP - -
5 5 N N 2 2 - -

16. Pemeriksaan Psikiatrik


Penampilan : sesuai umur, perawatan diri cukup
Kesadaran : kualitatif tidak berubah; kuantitatif compos mentis
Afek : appropriate
Psikomotor : normoaktif
Proses pikir : bentuk : realistik
isi : waham (-), halusinasi (-), ilusi (-)
arus : koheren
Insight : baik

2.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang
2.5 PATIENT CENTERED DIAGNOSIS
Diagnosis Biologis
1. Dermatitis Kontak Alergika ec makanan laut (Ikan)
Diagnosis Psikologis
1. (-)
Diagnosis Sosial Ekonomi dan Budaya
1. Status ekonomi cukup.
2. Penyakit mengganggu aktifitas sehari-hari.
3. Kondisi lingkungan dan rumah cukup sehat

2.6 PENATALAKSANAAN
Non Medika mentosa
1. Mengindari pajanan faktor alergen
2.Istirahat yang cukup dan minum vitamin.

12
3. Makan-makanan yang bergizi yaitu dengan makan banyak protein,
sayur dan buah-buahan.
4.Pasien patuh dalam meminum obat.
5.Menggunakan sabun yang tidak berbahan antiseptik karna dapat mem-
perparah penyakitnya.
Medikamentosa
Pendekatan terapeutik
- Antihistamin
- Kortikosteroid

2.7 FUNGSI FISIOLOGI KELUARGA (APGAR SCORE)


ADAPTATION
Selama ini dalam menghadapi masalah keluarga, pasien selalu membicarakannya
kepada istrinya tentang apapun yang dikeluhkan. Penyakitnya ini kadang mengganggu
aktivitasnya sehari-hari. Dukungan dari keluarga dan petugas kesehatan yang sering
memberi penyuluhan kepadanya, sangat memberi motivasi untuk sembuh, karena
penderita dan keluarganya yakin penyakitnya bisa sembuh total bila ia mematuhi
aturan pengobatan sampai sakitnya benar-benar sembuh. Hal ini menumbuhkan
kepatuhan penderita dalam mengkonsumsi obat. Sehingga pasien selalu berpikiran
positif tentang penyakitnya dan memeriksakan kesehatan secara rutin

PARTNERSHIP
Penderita mau mengikuti perintah istrinya untuk meminum obat secara teratur dan
mengubah pola makan serta berperilaku lebih sehat. Istrinya saat memahami keadaan
suaminya dan selalu mendukung serta memberikan motivasi untuk tetap bersemangat
menjalani hidupnya. Istrinyapun selalu mengantar suami untuk berobat ke puskesmas.

GROWTH
Tn. F sadar bahwa ia harus bersabar dalam menjalani pengobatan yang teratur
karena penderita juga tidak ingin penyakitnya mengganggu aktivitasnya sehari hari
maka pasien mengikuti saran dokter untuk teratur menkonsumsi obat karena jika tidak

13
teratur dalam menkonsumsi obat akan menyebabkan dampak negatif pada
penyakitnya.

AFFECTION
Tn. F merasa hubungan kasih sayang dan interaksinya dengan keluarganya baik
meskipun akhir-akhir ini ia sering menderita sakit. Bahkan perhatian yang dirasakannya
bertambah. Sehingga ia memiliki semangat yang cukup besar untuk terus menerus
berfikir positif terhadap penyakitnya agar tidak timbul komplikasi yang tidak di
inginkan.
RESOLVE
Tn. F merasa cukup puas dengan kebersamaan dan waktu yang ia dapatkan dari
keluarganya walaupun waktu yang tersedia tidak banyak karena anak-anaknya harus
bekerja diluar rumah.

APGAR Tn. A Terhadap Keluarga Sering Kadang Jarang/tida


/selalu -kadang k
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke 
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya 
membahas dan membagi masalah dengan
saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya 
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya 
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll

14
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan 
saya membagi waktu bersama-sama

Total poin = 9 fungsi keluarga dalam keadaan baik

Secara keseluruhan total poin dari APGAR keluarga Tn. F adalah 9. Hal ini
menunjukkan bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga Tn. F dan
keluarganya dalam keadaan baik. Hubungan antar individu dalam keluarga
tersebut terjalin baik.

2.8 FUNGSI PATOLOGIS KELUARGA (SCREEM)


SUMBER PATHOLOGY KET
Sosial Interaksi sosial yang baik antar anggota -
keluarga tetapi pasien masih beriknteraksi
dengan masyarakat dikarenakan rumah
pasien dekat dengan tetangganya.
Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya -
baik, hal ini dapat dilihat dari pergaulan
sehari-hari baik dalam keluarga maupun di
lingkungan, banyak tradisi budaya yang
masih diikuti.
Religius Pemahaman agama baik. Penerapan ajaran -
Agama menawarkan agama baik, hal ini dapat dilihat dari pasien
pengalaman spiritual yang baik dan keluarga menjalankan acara keagamaan
untuk ketenangan individu yang dengan tepat waktu. Di dalam rumah pasien
tidak didapatkan dari yang lain juga memiliki tempat beribadah khusus yang
tidak tercampur dengan ruangan lain.
Ekonomi Ekonomi keluarga ini tergolong cukup , -
untuk kebutuhan primer bisa terpenuhi dan

15
mampu mencukupi kebutuhan sekunder
tanpa mengabaikan skala prioritas kebutuhan
sehari-hari.
Edukasi Pendidikan anggota keluarga baik. Tingkat -
pendidikan dan pengetahuan pasien dan
keluarga lainnya sudah baik. Sarana dan
fasilitas untuk pembelajaran juga memadai.
Medical Mampu menggunakan pelayanan kesehatan -
Pelayanan kesehatan puskesmas yang memadai. Dalam mencari pelayanan
memberikan perhatian khusus kesehatan keluarga ini biasanya
terhadap kasus pasien menggunakan Puskesmas hal ini mudah
dijangkau karena letaknya dekat

Keterangan :
 Keluarga Tn. A tidak memiliki masalah dalam hal ini, karena semua
berjalan dengan baik.

2.9 KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA


Alamat lengkap : Medalem RT 1 RW 3
Bentuk Keluarga : Nuclear Family
Diagram 1. Genogram Keluarga Tn. A
Dibuat tanggal 4 Mei 2018

16
Sumber : Data Primer, april 2017
Keterangan :

= Pasien

= Meninggal

2.10 INFORMASI POLA INTERAKSI KELUARGA

17
Keterangan : : hubungan baik
: hubungan tidak baik

Hubungan antara Tn. F, dan istri baik dan dekat. Dalam keluarga ini tidak sampai
terjadi konflik atau hubungan buruk antar anggota keluarga

2.11 Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga


2.11.1 Faktor Perilaku Pasien
Pasien Tn. Aada seorang pensiunan pabrik roti yang sehari-harinya hanya diam
di rumah. Kadang Tn. F membantu pekerjaan istrinya untuk mengurusi urusan
rumahnya . Pasien memiliki kebiasaan tidak bisa menghindari makanan yang
dapat menyebabkan penyakitnya (dermatitis kontak alergi) karena menurut
pasien makanan tersebut sudah ia gemari sejak dahulu dan mempunyai banyak
vitamin yang baik untuk tubuh. Pasien tinggal di lingkungan yang tidak terlalu
padat penduduk namun untuk lingkungan dan rumah terkesan cukup bersih
2.11.2 Faktor Pelayanan Kesehatan
Kondisi pelayanan kesehatan juga menunjang derajat kesehatan
masyarakat. Pelayanan kesehatan yang berkualitas sangatlah dibutuhkan.
Masyarakat membutuhkan posyandu, puskesmas, rumah sakit dan
pelayanan kesehatan lainnya untuk membantu dalam mendapatkan
pengobatan dan perawatan kesehatan. Terutama untuk pelayanan kesehatan
dasar yang memang banyak dibutuhkan masyarakat. Kualitas dan kuantitas
sumber daya manusia di bidang kesehatan juga mesti ditingkatkan.
Puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan
masyarakat sangat besar perananya. Setiap kali pasien ada keluhan selalu
berobat ke Puskesmas Tulangan, hal ini dikarenakan jarak antara rumah
pasien dan puskesmas tidak terlalu jauh.

18
2.11.3 Faktor Non Perilaku
Dipandang dari segi ekonomi keluarga ini termasuk golongan cukup
.keluarga ini mendapat sumber penghasilan dari dana pensiunan suaminya
dan kiriman dari anak-anaknya. Kedua orang tua pasien ada yang menderita
penyakit serupa jadi merupakan faktor genetik

H. FAKTOR LINGKUNGAN PASIEN


Gambaran Lingkungan
Keluarga ini tinggal di sebuah rumah yang berdempetan dengan sawah.
rumah Terdiri dari ruang tamu yang digunakan untuk menerima tamu., 2 kamar
tidur, 1dapur dan 1 kamar mandi yang juga sebagai jamban keluarga. Terdiri
dari 1 pintu keluar, yaitu pintu depan. Jendela ada 2 buah, yaitu di ruang
tamu,kamar pasien dan kamar anak pasien. Lantai rumah seluruhnya terbuat
dari keramik.Ventilasi dan penerangan rumah cukup baik di bagian dalam
rumah sehinnga terkesan tidak lembab. Atap rumah tersusun dari genteng dan
ditutup langit-langit. Dinding rumah terbuat dari tembok yang sudah dilapisi
dengan cat. Perabotan rumah tangga cukup. Sumber air untuk kebutuhan sehari-
harinya keluarga ini menggunakan air sumur dan PDAM . Secara keseluruhan
kebersihan rumah cukup baik. Sehari-hari keluarga memasak menggunakan
kompor gas.

19
Denah Rumah
Teras Rumah

R.Tamu

Kamar Pasien

U
Kamar anak
Pasien
Tempat
cuci
baju
S
Dapur dan
Kamar
ruang makan
Mandi

Keterangan:
: Jendela

: Pintu

: Tembok beton

: Tembok pembatas

20
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 PEMBAHASAN MASALAH


A. MASALAH AKTIF :
a. Dermatitis Kontak Alergi
b. Kurangnya kepatuhan dalam menghindari pajanan alergen.

B. FAKTOR RESIKO :
a. Menggunakan sabun antiseptik yang dapat memperburuk penyakitnya
b. Kurangnya komsumsi makanan yang bergizi yang dapat menjaga daya tahan
tubuh

C. DIAGRAM PERMASALAHAN PASIEN


(Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada
dengan faktor-faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)

Keturunan
Terdapat riwayat
alergi di keluarga
pasien

Lingkungan Perilaku
 Kurangnya
Tn. F kepatuhan untuk
 Status sosial 62 th menghindari faktor
ekonomi cukup alergen
 Tidak didapatkan  Menggunakan
permasalahan Sabun antiseptik
dari lingkungan  Kurangnya
pasien menkonsumsi
Pelayanan Kesehatan makanan bergizi
Pelayanan kesehatan
yang didapatkan
21 oleh tn.
F sudah dirasakan cukup
baik
3.2 PEMBAHASAN MASALAH SESUAI DENGAN H.L BLUM
1. Faktor Keturunan / Genetik
Pada genogram Tn. F ditemukan adanya faktor keturunan yang
mempengaruhi penyakit dari Tn.F. Memang sebagian besar teori
menyatakan bahwa Alergi dapat disebabkan oleh faktor keturunan/genetik.
2. Faktor Lingkungan
Lingkungan sosial-ekonomi menengah
Keluarga pasien Tn. F merupakan termasuk keluarga dengan status ekonomi
cukup untuk kehidupan sehari-hari dan berobat ke rumah sakit karena selain
adanya dana pensiuanan dari pabriknya dahulu pasian juga mengatakan
anak-anaknya kerap memberikan uang tiap bulannnya. Dalam kehidupan
sosial interaksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar cukup baik
3. Faktor Perilaku
Pasien Tn. F adalah pasien yang memiliki kegemaran untuk menkonsumsi
makanan laut walaupun ia telah mengetahui apa dampak yang akan terjadi
bilang ia menkonsumsi makanan tersebut. Pasien mengatakan susah untuk
menghindari menkonsumsi makanan yang ia gemari.
Untuk masalah perilaku ini disarankan agar pasien melakukan
perubahan pola makan dan harus menghindari faktor alergi tersebut untuk
meningkatkan penyembuhan penyakitnya Pasien juga harus
memperhatikan pola makan agar menghindari faktor allergen untuk
menghindari kekambuhan dan perburukan dari penyakit.

4. Faktor Pelayanan Kesehatan


Kondisi pelayanan kesehatan juga menunjang derajat kesehatan
masyarakat. Pelayanan kesehatan yang berkualitas sangatlah dibutuhkan.
Masyarakat membutuhkan posyandu, puskesmas, rumah sakit dan
pelayanan kesehatan lainnya untuk membantu dalam mendapatkan
pengobatan dan perawatan kesehatan. Terutama untuk pelayanan kesehatan
dasar yang memang banyak dibutuhkan masyarakat. Kualitas dan kuantitas
sumber daya manusia di bidang kesehatan juga mesti ditingkatkan.

22
Puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan
masyarakat sangat besar perananya. Setiap kali pasien ada keluhan selalu
berobat ke Puskesmas Tulangan, hal ini dikarenakan jarak antara rumah
pasien dan puskesmas tidak terlalu jauh dan pasien mengatakan pelayanan
yang didapatkan di puskesmas Tulangan sudah cukup bagus untuk dirinya.

3.2 SKALA PRIORITAS PENYELESAIAN MASALAH YANG


DITEMUKAN
Untuk mempermudah penyelesaian masalah pada Tn. F dapat
menggunakan system scoring. Hal ini dilakukan untuk mempermudah
penyelesaian masalah berdasarkan skala prioritas yang dari yang tertinggi
sampai yang terendah.

Tabel 1. Penentuan Prioritas Penyeselaian Masalah


No Kegiatan M I V C P (MxIxV/C)
Memberikan penyuluhan
1 mengenai dermatitis 4 3 4 4 12
kontak alergi
Melatih Pola hidup sehat
2 untuk pasien dan 4 3 3 4 9
keluarganya

Keterangan :
P :Prioritas penyeselaian masalah
M : Magnitude, besarnya masalah yang bisa diatasi apabila solusi
inidilaksanakan (turunnya prevalensi dan besarnya masalah lain)
I : Implementasi, kelanggengan selesai masalah
V : Vulnerability, sensitifnya dalam mengatasi masalah
C : Cost, Biaya yang diperlukan
Berdasarakan skala prioritas di atas masalah didapatkan hasil
memberikan penyuluhan mengenai Dermatitis Kontak Alergi serta

23
pentingnya. Tentunya rencana program penyuluhan dapat dilakukan untuk
melaksanakan penyelesaian tersebut terlampir pada tabel dibawah.

24
1
Tabel.2 kegiatan Memberikan Penyuluhan Mengenai Pencegahan dan Pengobatan DKA

Volume Rincian Tenaga Kebutuhan


No Kegiatan Sasaran Target Lokasi Jadwal
Kegiatan Kegiatan Pelaksana Pelaksanaan
1. Memilih/menyeleksi  Ruangan
Semua
kandidat TIM  LCD
Pembentukan Pegawai Terbentuk 2x Ruang Pegawai Senin-
1 2. Persetujuan  MIC
TIM Puskesmas TIM pertemuan rapat Yang Kamis
3. Pembentukan Terpilih  Laptop
structural  Kursi
1. Pengumpulan bahan  Ruangan
Penyusunan mengenai TB yaitu  LCD
Terbentuk 2x Ruang Senin-
2 materi TIM cara penularan dan TIM  MIC
materi pertemuan rapat Kamis
penyuluhan pengobatan  Laptop
2. Penyusunan materi  Kursi
Pembuatan
1 hari 1. Laptop
bahan Anggota Terbentuknya Anggota
1x 1. Mendesign PPT, Ruang setelah
3 penyuluhan TIM yang PPT, leaflet, TIM yang 2. Printer
pertemuan leaflet, banner rapat bahan
yang akan ditunjuk banner ditunjuk
terkumpul 3. Flashdisk
disajikan

2
 Konsumsi
 LCD
Warga desa Materi bisa 1x 1. Penyuluhan Angota  MIC
Sebulan
4 Penyuluhan tempat diterima penyuluhan 2. Tanya jawab Balai desa TIM yang  Kursi
Sekali
penyuluhan peserta tiap desa 3. Membagikan leaflet ditunjuk  Laptop
 Leaflet
 Banner
Desa yang
Tingkat
sudah Anggota Sebulan  Buku
5 Evaluasi Warga desa kejadian DKA 1x sebulan Pendataan pasien DKA
berkurang
mendapat TIM sekali  Pulpen
penyuluhan

3
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Segi Biologis :
 Tn. F (62 tahun), menderita penyakit Dermatitis Kontak Alergi
2. Segi Psikologis :
 Hubungan antara anggota keluarga terjalin cukup akrab
berhubungan dengan tingkat pendidikan yang masih rendah
 Tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi obat yang baik, mendukung
untuk penyembuhan penyakit tersebut
3. Segi Sosial :
 Tidak ada masalah dari segi sosial
4. Segi fisik :
 Rumah dan lingkungan sekitar tampak cukup bersih.

B. SARAN
Preventif
- Menghindari konsumsi atau pajanan faktor alergen
- Makan makanan bergizi sehari-hari, terutama tinggi protein agak terbentuk
sistem kekebalan tubuh yang baik
- Istirahat yang cukup.
Promotif
- edukasi penderita dan keluarga mengenai dermatitis kontak alergi dan
pengobatannya oleh petugas kesehatan atau dokter yang menangani.
Kuratif
- saat ini penderita memasuki pengobatan rawat jalan, dan harus kontrol apabila
dirasakan keluhan tidak membaik atau memperburuk
Rehabilitatif
- mengembalikan kepercayaan diri Tn. A sehingga tetap memiliki semangat
untuk sembuh.
.

4
5
6
LAMPIRAN

7
8
Catatan :
Untuk Kasus Homevisit Tn.F pihak keluarga mengatakan tidak nyaman apabila dilakukan
pengambilan gambar pada bagian rumahnya.