Anda di halaman 1dari 39

1

6
Pada pekerjaan Detail Engineering Desain (DED) Jalan
Ruas ......................................................Provinsi .................... digunakan kriteria desain acuan
pekerjaan sekaligus memberikan penjelasan-penjelasan dari masing-masing bidang
perhitungan teknik.
Adapun penjelasan meliputi kriteria : perencanaan geometrik, perencanaan hidrologi
dan drainase, perencanaan perkerasan jalan, perencanaan rambu, perencanaan
stabilitas lereng, perencanaan stabilitas badan jalan dan perencanaan penerangan
jalan umum.

6.1 Perencanaan Geometrik Jalan


6.1.1 Standar Acuan
Standar Perencanaan Geometrik Untuk Jalan Antar kota, September 1997,
Direktorat Jenderal Bina Marga, Direktorat Pembinaan Jalan Kota.
6.1.2 Kriteria Desain Geometrik
6.1.2.1 Persyaratan Jalan Air
a. Umum
Persyaratan saluran air harus ditentukan oleh yang berwenang setelah
berkonsultasi degan pihak-pihak lain yang terkait. Faktor-faktor berikut
ini harus dipertimbangkan :
1. Bentang dan ruang bebas vertikal perlu disediakan untuk sungai
selama aliran arus normal atau pada tingkat banjir yang telah
ditentukan.
2. Persyaratan-persyaratan daya layan jembatan sebagai bagian dari
sistem jalan, termasuk frekuensi dan lamanya jembatan terendam

1
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

banjir dan tingkat ketergantungan masyarakat setempat pada


sambungan jalan tersebut.
3. Persyaratan daya layan lahan sekitarnya. Persyaratan penggunaan
lahan akan menentukan batas-batas aliran yang diperbolehkan
mengalir ke satu daerah selama banjir.
4. Persyaratan daya layan dasar saluran, tepi sungai dan tanggul jalan
termasuk pengaruh-pengaruh setempat dari pilar-pilar dan kepala-
kepala jembatan. Hal ini akan menentukan kecepatan yang diizinkan,
masalah-maslah penggerusan dan batas perlindungan terhadap
penggerusan.
5. Persyaratan daya layan jembatan yang tetap baik secara struktural di
bawah pengaruh banjir pada masa pelayanan rencana jembatan.
Harus dipertimbangkan juga pengaruh dari sampah.
6. Kekuatan dan stabilitas bangunan jembatan yang tidak boleh runtuh
terhadap pengaruh banjir ultimate rencana termasuk sampah.
b. Ruang Bebas Vertikal
Pengecualian pada ruang bebas jika tidak disetujui oleh yang berwenang,
ruang bebas vertikal antara titik paling rendah bangunan atas dan muka
air tinggi rencana pada keadaan batas ultimate paling sedikit 1.0 meter.
Ruang bebas ini ditingkatkan, apabila terdapat benda hanyutan
berukuran besar.
Ruang bebas vertikal dapat dikurangi, apabila muka air tinggi rencana
terjadi pada air yang dibendung/ditahan, tetapi walau bagaimanapun
juga tidak boleh kurang dari 0.3 meter.
Untuk bentang jembatan yang tidak lurus, ruang bebas yang perlu
disediakan, paling sedikit 80 % panjang bentang, kecuali tidak disetujui
oleh yang berwenang.
6.1.2.2 Persyaratan Geometrik
a. Lebar Bangunan
Lebar jalan adalah lebar bersih yang diukur tegak lurus terhadap sumbu
jalan antara bagian-bagian bawah kerb. Apabila tidak ada kerb, lebarnya

2
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

adalah lebar minimum yang diukur antara bidang-bidang paling dekat


dari jembatan kereta api.
Kriteria desain geometrik disajikan pada Tabel .1 dan

Tabel .1 Kriteria Desain Geometrik Kecepatan Rencana 40 Km/jam

KRITERIA
NO PARAMETER GEOMETRIK SATUAN
DESAIN
1 Kecepatan Rencana km/jam 40
2 Parameter Potongan Melintang :
- Lebar Lajur Lalu Lintas m 3.50
- Lebar Bahu Jalan Bagian Luar m 2
- Kemiringan Melintang Normal Jalur Lalu lintas % 2
- Kemiringan Melintang Normal Bahu Jalan Luar % 4
- Tinggi Ruang Bebas Minimum
a) Jalan m 5.1

b) Kereta Api m 7.1

3 Jarak Pandang :
- Jarak Pandang Henti Minimum m 40
- Jarak Pandang Mendahului m 200
Parameter Alinyemen Horizontal :
- Panjang Jari-jari Minimum m 50
4 - Jari-jari Tikungan yang Disarankan m 60
- Jari-jari Tikungan yang Tidak Memerlukan Peralihan m 250
- Panjang Minimum Lengkung Peralihan m 10
5 Parameter Alinyemen Vertikal :
- Landai Maksimum % 10
- Jari-jari minimum lengkung vertikal
a) Cembung m 450
b) Cekung m 450

- Panjang minimum lengkung vertikal m 40-80

Sumber : Standar Perencanaan Geometrik Untuk Jalan Perkotaan, Maret 1997

Tabel .2 Kriteria Desain Geometrik Kecepatan Rencana 30 Km/jam


KRITERIA
NO PARAMETER GEOMETRIK SATUAN
DESAIN

3
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

1 Kecepatan Rencana km/jam 30


2 Parameter Potongan Melintang :
- Lebar Lajur Lalu Lintas m 3.50
- Lebar Bahu Jalan Bagian Luar m 2
- Kemiringan Melintang Normal Jalur Lalu lintas % 2
- Kemiringan Melintang Normal Bahu Jalan Luar % 4
- Tinggi Ruang Bebas Minimum
a) Jalan m 5.1

b) Kereta Api m 7.1

3 Jarak Pandang :
- Jarak Pandang Henti Minimum m 27
- Jarak Pandang Mendahului m 150
Parameter Alinyemen Horizontal :
- Panjang Jari-jari Minimum m 30
4 - Jari-jari Tikungan yang Disarankan m 40
- Jari-jari Tikungan yang Tidak Memerlukan Peralihan m 130
- Panjang Minimum Lengkung Peralihan m -
5 Parameter Alinyemen Vertikal :
- Landai Maksimum % 10
- Jari-jari minimum lengkung vertikal
a) Cembung m 250
b) Cekung m 250

- Panjang minimum lengkung vertikal 20-30

Sumber : Standar Perencanaan Geometrik Untuk Jalan Perkotaan, Maret 1997

6.2 Perencanaan Hidrologi dan Drainase


6.2.1 Referensi Standar
a. Sri Harto Br. : “Analisis Hidrologi:, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993
b. Suyono Sosrodarsono : “Hidrologi untuk Pengairan”, Pradnya Paramita,
Jakarta, 1993.
c. Joesroen Loebis : “Banjir Rencana untuk bangunan Air”, Yayasan Badan
Penerbit Pekerjaan Umum, jakarta, 1992.
d. Soewarno : “Hidrologi - aplikasi Metode Statistik untuk Analisis Data Jilid
I dan II”, Nova, Bandung, 1995.
e. Linsley Ray K Jr. : Hidrologi untuk Insinyur”, Erlangga, Jakarta, 1986.

4
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

f. Dewan Standarisasi Nasional : tata Cara Perencanaan Drainase


Permukaan Jalan”, Yayasan Badan Penerbit Pekerjaan Umum, Jakarta,
1994.
g. Ven Te Chow : “Hidrolika Saluran Terbuka”, Erlangga, Jakarta, 1992.
h. United States Department of the Interior : “Design of Small Dams” ,
Oxford & IBH Publishing Co., New Delhi, 1974.
i. Centre of Civil Engineering Research and Codes : “Guide Road
Construction over Peat and Organic Soil”, draft version 4, jakarta,
Nopember 2000.
j. Transportation Technology for Developing Countries : “Copendum 3 -
Small Drainage Structure”, USAID, Washington DC, 1978.
k. Transportation Technology for Developing Countries : “Copendum 5 -
Small Drainage Structure”, USAID, Washington DC, 1979.
l. NN : “Drainage of Asphalt Pavement Structures (Manual Series-15)”, the
Asphalt Institute, Maryland, 1981.

6.2.2 Survey Hidrologi dan Hidraulik


6.2.2.1 Tujuan
Tujuan survey hidrologi dan hidrolika yang dilaksanakan dalam pekerjaan ini
adalah untuk mengumpulkan data hidrologi dan karakter/perilaku aliran air
pada bangunan air yang ada (sekitar jalan), guna keperluan analisis
hidrologi, penentuan debit banjir rencana (elevasi muka air banjir),
perencanaan drainase dan bangunan terhadap gerusan, river training
(pengarah arus) yang diperlukan.

6.2.2.2 Ruang Lingkup


Lingkup pekerjaan survey hidrologi dan hidrolika ini meliputi :
a. Mengumpulkan data curah hujan harian maksimum (mm/hr) paling
sedikit dalam jangka 10 tahun pada daerah tangkapan (catchment area)
atau pada daerah yang berpengaruh terhadap lokasi pekerjaan, data

5
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

tersebut bisa diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika dan/atau


instansi terkait di kota terdekat dari lokasi perencanaan.
b. Mengumpulkan data bangunan pengaman yang ada seperti gorong-
gorong, jembatan, selokan yang meliputi : lokasi, kondisi, tinggi muka air
banjir.
c. Menganalisis data curah hujan dan menentukan curah hujan rencana,
debit dan tinggi muka air banjir rencana dengan periode ulang 10
tahunan untuk jalan arteri, 7 tahun untuk jalan kolektor, 5 tahun untuk
jalan lokal, dan 50 tahunan jembatan dengan metode yang sesuai.
d. Menganalisa pola aliran air pada daerah rencana untuk memberikan
masukan dalam proses perencanaan yang aman.
e. Menghitung dimensi dan jenis bangunan pengaman yang diperlukan.
f. Menentukan rencana elevasi aman untuk jalan/jembatan termasuk
pengaruhnya akibat adanya bangunan air (aflux).
g. Merencanakan bangunan pengaman jalan/jembatan terhadap gerusan
samping atau horizontal dan vertikal.

6.2.2.3 Persyaratan
Proses analisa perhitungan harus mengacu pada:
a. Standar Nasional Indonesi (SNI) No: 03-3424-1994.
b. Standar Nasional Indonesia (SNI) N0: 03-1724-1989.
c. SKBI-1.3.10.1987 (Tata Cara Perencanaan Hidrologi dan Hidrolika untuk
Bangunan di Sungai).

6.2.3 Kajian Teori Perencanaan Drainase


Dalam perencanaan drainase harus mengacu pada Standar Perencanaan
Drainase Permukaan Jalan SNI No. 03-3424-1994 dan mengakomodasi faktor
keselamatan, pengendalian hanyutan/polusi peralatan dan lain-lain.
Saluran drainase memegang peranan yang sangat penting dalam hal
mengumpulkan dan menyalurkan air permukaan dari daerah milik jalan,
sehingga perencanaannya harus mempunyai kapasitas yang cukup (dengan
periode ulang banjir 10 tahunan untuk jalan arteri, 7 tahunan untuk jalan
kolektor serta 5 tahunan untuk jalan lokal). Lokasi dan bentuk saluran

6
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

drainase harus direncanakan agar dapat mencegah bahaya lalu lintas, tahan
erosi, bersih terhadap hanyutan penumpukan material yang akan
mengurangi kapasitas drainase.
Perencanaan drainase meliputi :
a. Mempelajari pola aliran sesuai dengan kondisi terrain dan rencana jalan
b. Mempelajari daerah tangkapan air yang ada pada drainase
c. Menampung dan mengalirkan air permukaan pada daerah manfaat jalan
d. Merencanakan alinyemen saluran
e. Merencanakan saluran pada daerah kaki lereng timbunan untuk
menyalurkan air permukaan sekitar menuju daerah buangan
f. Merencanakan saluran di atas lereng bukit yang berfungsi untuk
mencegah rembesan air dari atas
g. Merencanakan saluran yang berfungsi untuk terjunan atau pematah arus
pada daerah curam.

6.2.3.1 Umum
Sistem Drainase permukaan jalan terdiri dari kemiringan melintang
perkerasan dan bahu jalan, saluran samping, gorong-gorong dan saluran
penangkap Seperti Gambar .1 berikut :

Gambar .1 Sistim Drainase Permukaan Jalan Kondisi Umum/Normal

6.2.3.2 Kemiringan Melintang Perkerasan dan Bahu Jalan


Kemiringan melintang harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Daerah jalan yang datar dan lurus
1. Kemiringan perkerasan dan bahu jalan mulai dari tengah perkerasan
menurun/ melandai ke arah Saluran.

7
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

2. Besarnya kemiringan bahu jalan diambil 2% lebih besar dari pada


kemiringan permukaan.
3. Besarnya kemiringan melintang normal pada perkerasan jalan dapat
dilihat sebagaimana Tabel .3 berikut ini:
Tabel .3 Kemiringan Melintang Perkerasan Jalan Dan Bahu Jalan

No Lapis Permukaan Jalan Kemiringan Melintang Normal

1. Beraspal, beton 2% - 3%
2. Japat 4% - 6%
3. Kerikil 3% - 6%
4. Tanah 4% - 6%
Sumber : Standar Nasional Indonesi (SNI) No: 03-3424-1994

b. Daerah jalan yang lurus pada tanjakan / turunan :


1. Perlu mempertimbangkan besarnya kemiringan alinyemen vertikal
jalan yang berupa tanjakan dan turunan, agar aliran air secepatnya
bisa mengalir ke Saluran Samping.
2. Untuk menentukan kemiringan perkerasan jalan gunakan nilai-nilai
maksimum dari Tabel .3 di atas.
c. Pada daerah tikungan :
1. Harus mempertimbangkan kebutuhan kemiringan jalan menurut
persyaratan alinyemen horizontal jalan
2. Kemiringan perkerasan jalan harus dimulai dari sisi luar tikungan
menurun / melandai ke sisi dalam tikungan
3. Besarnya kemiringan daerah ini ditentukan oleh nilai maksimum
kebutuhan kemiringan menurut keperluan drainase
4. Besarnya kemiringan bahu jalan ditentukan dengan kaidah diatas.

6.2.3.3 Saluran Samping (Side Ditch)


Bahan bangunan Saluran Samping ditentukan oleh besarnya kecepatan
rencana aliran air yang akan melewati Saluran Samping seperti pada Tabel .4
berikut
Tabel .4 Kecepatan Aliran Air Yang Diijinkan Berdasarkan Jenis Material
Kecepatan aliran yang
Jenis Bahan
diijinkan (m/dtk)
Pasir halus 0.45

8
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

Kecepatan aliran yang


Jenis Bahan
diijinkan (m/dtk)
Lempung kepasiran 0.50
Lanau alivial 0.60
Kerikil halus 0.75
Lempung kokoh 0.75
Lempung padat 1.10
Kerikil kasar 1.20
Batu-batu besar 1.50
Pasangan batu 1.50
Beton >1.50
Beton bertulang >1.50
Sumber : Standar Nasional Indonesi (SNI) No: 03-3424-1994
Kemiringan Saluran Samping ditentukan berdasarkan bahan yang digunakan,
hubungan antara bahan yang digunakan dengan kemiringan Saluran
Samping arah memanjang yang dikaitkan dengan erosi aliran ditunjukkan
pada Tabel .5 berikut:
Tabel .5 Hubungan Kemiringan Saluran Samping Dengan Jenis Material
Jenis Material Kemiringan Saluran Samping
Tanah Asli 0%-5%
Kerikil 5 % - 7.5 %
Pasangan 7.5 %
Sumber : Standar Nasional Indonesi (SNI) No 03-3424-1994.
Pematah arus untuk mengurangi kecepatan aliran diperlukan bagi Saluran
Samping yang panjang dan mempunyai kemiringan cukup besar. Tipe dan
jenis Saluran Samping didasarkan atas kondisi tanah dasar, dengan luas
penampang minimum Saluran Samping jalan 0.5 m2.
Kedudukan muka air tanah dan kecepatan abrasi air sebagai mana
ditunjukan pada Tabel .6 berikut :

Tabel .6 Tipe Penampang Saluran Samping Jalan


Tipe Saluran
No. Sketsa Bahan Yang Dipakai
Samping

Bentuk
1. Tanah Asli
Trapesium

Pasangan batu kali atau


2. Bentuk Segi Tiga
tanah asli

9
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

Tipe Saluran
No. Sketsa Bahan Yang Dipakai
Samping
Bentuk
3. Pasangan Batu Kali
Trapesium
Bentuk Segi
4. Pasangan Batu Kali
Empat
Beton bertulang pada
Bentuk Segi
5. bagian dasar diberi lapisan
Empat
pasir 10 cm
Beton bertulang pada
Bentuk Segi bagian dasar diberi pasir 10
6.
Empat cm pada bagian atas ditutup
dengan plat beton
Pasangan batu kali pada
bagian dasar diberi lapisan
Bentuk Segi
7. pasir 10 cm pada bagian
Empat
atas ditutup dengan plat
beton bertulang
Bentuk setengah Pasangan batu kali atau
8.
lingkaran beton bertulang (Precast)
Sumber : Buku Drainase Perkotaan

6.2.3.4 Gorong-Gorong Pembuang Air

Gorong-gorong pembuang air meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. Ditempatkan melintang jalan yang berfungsi untuk menampung air dari


saluran samping jalan dan membuangnya.
b. Harus cukup besar untuk melewatkan debit air maksimum dari daerah
pengaliran secara efisien.
c. Harus dibuat dengan tipe yang permanen, bagian gorong-gorong terdiri
dari tiga bagian konstruksi utama:
1. Pipa kanal air utama yang berfungsi untuk mengalirkan air dari
bagian udik ke bagian hilir secara langsung.
2. Tembok kepala yang menopang ujung lereng jalan, tembok penahan
yang dipasang bersudut dengan tembok kepala, untuk menahan
bahu dan kemiringan jalan.

10
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

3. Apron (dasar) dibuat pada tempat masuk untuk mencegah


terjadinya erosi dan dapat berfungsi sebagai dinding penyekat
lumpur, bentuk gorong-gorong tergantung pada tempat yang ada
dan tingginya timbunan.
4. Bak penampung diperlukan pada kondisi :
a) Pertemuan antara gorong-gorong dan saluran tepi
b) Pertemuan lebih dua arah aliran.
5. Kemiringan gorong-gorong 0.5 % - 2%.

Gambar .2 Bagan Gorong-gorong

6. Jarak gorong-gorong pada daerah datar maksimum 100 meter, di


daerah pegunungan dua kali lebih banyak.
7. Kemiringan gorong-gorong 0.5 - 2% dengan pertimbangan faktor -
faktor lain yang dapat mengakibatkan terjadinya pengendapan
erosi di tempat air masuk (Inlet) dan pada bagian pengeluaran
(Out Let).
8. Tipe dan bahan gorong-gorong yang permanen dengan desain
umur rencana seperti pada Tabel .7. Berikut yang juga berlaku
pada perencanaan fasilitas drainase lainnya :

Tabel .7 Standar penentuan Periode Ulang Perencanaan Drainase


Periode Ulang
No Saluran Drainase
(tahun)
1. Sungai Besar (Q≥200 m3/det) 100
2. Sungai Kecil (Q<200 m3/det) 50
3. Saluran Drainase Jalan dan Saluran Samping 10
4. Gorong-Gorong (Cross Drain)
a) Jalan Tol 25
b) Jalan Arteri 10
c) Jalan Lokal 10
Sumber : Standar Nasional Indonesi (SNI) No 03-3424-1994.

11
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

9. Untuk daerah-daerah yang berpasir, bak pengontrol dibuat/


direncanakan sesuai dengan kondisi setempat.
10. Dimensi gorong-gorong minimum dengan diameter 80 cm,
kedalaman gorong-gorong yang aman terhadap permukaan jalan
tergantung tipe :

Tabel .8 Tipe Penampang Gorong-gorong


Tipe Gorong-
No. Potongan Melintang Material yang dipakai
Gorong

Metal gelombang, beton


Pipa tunggal
1. bertulang atau beton
atau lebih
tumbuk, besi cor dll.

Pipa
lengkung
2. Metal Gelombang
tunggal atau
lebih
Gorong-
gorong
Beton Bertulang
3. Persegi (Box
Culvert)
Sumber : Buku Drainase Perkotaan

6.2.3.5 Menentukan Debit Aliran


Faktor-faktor untuk menentukan debit aliran, yaitu :
a. Intensitas curah hujan (I) dihitung berdasarkan data-data sebagai
berikut :
1. Data Curah Hujan.
2. Merupakan data curah hujan harian maksimum dalam setahun
dinyatakan dalam mm/hari, data curah hujan ini diperoleh dari
lembaga meteorologi dan geofisika, untuk stasiun curah hujan yang
terdekat dengan lokasi sistim drainase, jumlah data curah hujan
paling sedikit dalam jangka waktu 10 tahun.

12
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

3. Periode Ulang.
4. Karakteristik hujan menunjukkan bahwa hujan besar tertentu
mempunyai periode ulang tertentu, periode ulang rencana untuk
Saluran dan gorong-gorong ditentukan 10 tahun, atau seperti pada
Tabel .8.
5. Waktu konsentrasi (Tc), dihitung dengan rumus :
Tc = T1 + T2
0.167
�2 nd �
T1 = � x3.28xL�
ox �
�3 S�
L
T2 =
60V
dimana :
Tc = Waktu konsentrasi (menit)
T1 = Waktu Inlet (menit)
T2 = Waktu Aliran (menit)
Lo = Jarak dari titik terjauh ke fasilitas drainase (m)
L = Panjang saluran
nd = Koeffisien hambatan (Manning’s Coeficient)
s = Kemiringan daerah pengaliran
V = Kecepatan air rata-rata di Saluran (m/det.).

Tabel .9 Hubungan Kondisi Permukaan Dengan Koefisien Hambatan (Nd) Yang


Merupakan Koefisien Kekasaran Manning’s

No Jenis Permukaan Min. Normal Mak.

1. Gorong-gorong slab 0,018 0,025 0,030


2. Gorong-gorong beton, bebas kikisan 0,010 0,011 0,013
Gorong-gorong beton, salur-an pembuang
3. 0,013 0,015 0,017
dengan bak kontrol, apron dan lurus
4. Gorong-gorong baja bergelombang 0,013 0,016 0,017
Saluran tanah, lurus dan seragam, bersih baru
5. 0,016 0,018 0,020
dibuat
Saluran tanah, lurus dan seragam, berum put
6. 0,022 0,027 0,033
pendek, sedikit tanaman pengganggu
Saluran tanah, berkelok-kelok dan tenang
7. 0,023 0,025 0,030
tanpa tetumbuhan

13
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

No Jenis Permukaan Min. Normal Mak.


Saluran tanah, berkelok-kelok dan tenang
8. dengan beberapa tanaman pengganggu 0,025 0,030 0,033

9. Saluran tanah, berkelok-kelok dan tenang 0,030 0,035 0,040


banyak tanaman pengganggu atau tana man
air pada saluran yang dalam
Saluran tanah, dasar tanah dengan tebing dari
10. 0,028 0,030 0,035
batu pecah
Saluran tanah hasil galian atau kerukan tanpa
11. 0,025 0,028 0,033
tetumbuhan
Saluran tanah hasil galian atau kerukan
12. 0,035 0,050 0,060
dengan semak-semak kecil di tebing
13. Saluran pasangan batu disemen 0,017 0,025 0,030
14. Saluran pasangan batu 0,023 0,032 0,035
15. Saluran beton dipoles 0,015 0,017 0,020

16. Saluran beton tidak dipoles 0,014 0,017 0,020


Sumber : Standar Nasional Indonesi (SNI) No 03-3424-1994.

b. Luas daerah pengaliran batas-batasnya tergantung dari daerah


pembebasan dan daerah sekelilingnya dan ditetapkan sebagaimana
gambar berikut :

Gambar .3 Batas Daerah Pengaliran yang Diperhitungkan (L1 + L2 + L3)

Keterangan :
L1 : Ditetapkan dari as jalan sampai bagian tepi perkerasan
L2 : Ditetapkan dari tepi perkerasan yang ada sampai tepi bahu jalan.
L3 : Tergantung dari keadaan daerah setempat dan panjang
maksimum 200 m.

14
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

c. Harga koefisien pengaliran (C) untuk berbagai kondisi ditentukan


berdasarkan tabel berikut :

Tabel .10 Hubungan Kondisi Permukaan Tanah dengan Koefisien Pengaliran

No Kondisi Permukaan Koefisien Pengaliran


1. Jalan Beton dan Jalan Aspal 0.70 - 0.95
2. Jalan Kerikil dan Jalan Tanah 0.40 - 0.70
3. Bahu Jalan:
- Tanah berbutir halus 0.40 - 0.65
- Tanah berbutir kasar 0.10 - 0.20
- Batuan masif keras 0.70 - 0.85
- Batuan masif lunak 0.60 - 0.75
4. Daerah perkotaan 0.70 - 0.95
5. Daerah pinggir kota 0.60 - 0.70
6. Daerah Industri 0.60 - 0.90
7. Pemukiman padat 0.40 - 0.60
8. Pemukiman tidak padat 0.40 - 0.60
9. Taman dan kebun 0.20 - 0.40
10. Persawahan 0.45 - 0.60
11. Perbukitan 0.70 - 0.80
12. Pegunungan 0.75 - 0.90
Sumber : Standar Nasional Indonesi (SNI) No 03-3424-1994.

Keterangan :
untuk daerah datar diambil nilai C yang terkecil dan untuk daerah lereng
diambil nilai C yang terbesar.

Bila daerah pengaliran terdiri dari beberapa tipe kondisi permukaan yang
mempunyai nilai C yang berbeda, harga C rata-rata ditentukan dengan
persamaan berikut :
C1A1 + C2 A 2 + C3 A 3
C =
A1 + A 2 + A 3

Cr = Koefisien pengaliran yang sesuai dengan tipe kondisi permukaan.


Cn = Luas daerah pengaliran yang diperhitungkan sesuai dengan
kondisi permukaan.
d. Rumus untuk menghitung debit air (Q) menggunakan persamaan
sebagai berikut :
1
Q= xCxIxA
36
dimana :
Q= Debit Air (M3/dtk)

15
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

C= Koefisien Pengaliran
I = Intensitas Hujan (mm/jam)
A= Luas daerah pengaliran (Km2).

6.2.3.6 Penampang Basah Saluran Samping dan Gorong-gorong


Penampang basah Saluran samping dan gorong-gorong dihitung
berdasarkan :
a. Penampang basah yang paling ekonomis, untuk menampung debit
maksimum (Fe).
1. Saluran bentuk trapesium

Gambar .4 Saluran bentuk trapezium

Keterangan :
b : Lebar saluran (m)
d : Dalamnya saluran tergenang air (m)
m : Perbandingan kemiringan talud
R : Jari-jari hidrolis (m).

Tabel .11 Kemiringan Talud

Debit Air (Q) (M3/dtk) Kemiringan Talud


0.00 - 0.75 1:1
0.75 - 15.0 1 : 1.5
15.0 - 80.0 1 : 2
Sumber : Standar Nasional Indonesi (SNI) No 03-3424-1994.
2. Saluran bentuk segi empat

Gambar .5 Saluran Samping Segi Empat

b = 2d

16
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

d
R =
2

3. Saluran bentuk segitiga

Gambar .6 Saluran Samping Segitiga

F = d2

P = 2d 2
R = ¼ d2
B = 2d
Keterangan :
F : Luas penampang basah (m2)
P : Keliling Basah (m)
R : Jari-jari hidrolik (m)
b : Lebar atas Saluran yang tergenang air (m)
d : Tinggi Saluran yang tergenang air (m).
4. Saluran bentuk setengah lingkaran

Gambar .7 Saluran bentuk setengah lingkaran

p 2
d
F = 2
P = ½ µr2
R = 0.5d
b = 2d
Keterangan :
F : Luas penampang basah (m2)
P : Keliling Basah (m)

17
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

R : Jari-jari hidrolik (m)


b : Lebar atas Saluran yang tergenang air (m)
d : Tinggi Saluran yang tergenang air (m).
5. Saluran bentuk lingkaran / gorong-gorong

Gambar .8 Saluran bentuk lingkaran / gorong-gorong

 = 2.5 radian
d = 0.8D
1
F = (  - Sin ) D 2
8
P = 2r
F
R =
P
Keterangan :
q : Besarnya sudut dalam radian
d : Tinggi Saluran yang tergenang air (m)
F : Luas penampang basah (m2)
D : Garis tengah Saluran bentuk lingkaran (m)
P : Keliling basah
r : Jari-jari lingkaran (m)
R : Jari-jari hidrolik (m).
6. Penampang basah berdasarkan debit air dan kecepatan
Q
F =
V
Dimana :
Fd : Luas penampang (m2)
Q : Debit air (m3/dtk)
V : Kecepatan aliran (m/dtk)
7. Dimensi Saluran ditentukan atas dasar

18
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

Fe = Fd
Dimana :
Fe : Luas penampang ekonomis (m2)
Fd : Luas penampang berdasarkan debit air yang ada (m2)
8. Untuk gorong-gorong yang berbentuk metal gelombang, hanya
diperhitungkan debit air dan penentuan penampang basah
disesuaikan dengan spesifikasi yang telah ditentukan.

6.2.3.7 Tinggi Jagaan Saluran Samping

Tinggi jagaan (w) untuk Saluran samping bentuk trapesium dan segi empat
ditentukan berdasarkan persamaan :
w = 0.5d
dimana :
d : Tinggi Saluran yang terendam air

6.2.3.8 Kemiringan Saluran samping dan Gorong-gorong Pembuang Air

Untuk menghitung kemiringan Saluran samping dan gorong-gorong


pembuang air digunakan persamaan sebagai berikut:
1 2 3 12
V = R i
n
2
�V.n �
I =� 2 �
�R 3�
dimana
V : Kecepatan aliran (m/dtk)
n : Koefsisien kekasaran manning
R : Jari-jari hidrolis (m)
F : Luas penampang basah (m2)
I : Kemiringan saluran yang diijinkan.

6.2.3.9 Kemiringan Tanah

Kemiringan tanah di tempat dibuatnya fasilitas Saluran dan gorong-gorong


ditentukan dari hasil pengukuran di lapangan, dan dihitung dengan
persamaan berikut :

19
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

t1 - t 2
i = x100%
L
dimana
t1 : Tinggi tanah di bagian tertinggi (m)
t2 : Tinggi tanah di bagian terendah (m)

6.3 Perencanaan Perkerasan


6.3.1 Standar Perencanaan

a. Rigid Pavement
American Association of State Highway and Transportation Officials
(AASHTO 1993).
b. Flexible Pavement
American Association of State Highway and Transportation Officials
(AASHTO 1993).
c. Gabungan Rigid dan Flexible Pavement (Composite)
American Association of State Highway and Transportation Officials
(AASHTO 1993).

6.3.2 Equivalent Standard Axle Loads

Umur rencana 50 tahun

6.3.3 Cumulative Equivalent Standard Axles (CEsAs)

a. Faktor Distribusi arah (D0) = 0,5


b. Faktor Distribusi Lajur (D1)
Jumlah Lajur DL
tiap arah (%)
1 100
2 80 - 100
3 60 - 80
4 50 - 75

20
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

6.3.4 Tebal Perkerasan

a. Parameter
 Reliability : 90%
 Standar Error (S0) : - Flexible Pavement : 0,45
- Rigid Pavement : 0,35
 Initial Serviceability (P0) : - Flexible Pavement : 4,2
- Rigid Pavement : 4,5
 Terminal Serviceability (Pt) : 2,5
 Modulus reaksi tanah dasar (k) : 160 pci
 Modulus elastisitas beton (Ec) : 2.630.000 psi
 Flexural Strength (S’c) : 603 psi
 Drainage coefficient : 1,20
 Load transfer coefficient (J) : 2,5
b. Materials
 Subgrade (selected material) : CBR 6%
MR = 9.000 psi
 Subbase kelas A : CBR 80%, MR = 40.000 psi
 Subbase kelas B : CBR 40%; MR = 30.000 psi
 Base Course : CTB : kuat tekan 7 hari
78 kg/cm2 = 1.100 psi
: ATB : MS 900 kg; E = 420.000 psi
 Surfacing : Asphalt concrete; MS 1100 kg
c. Layer Coefficient
 Asphalt concrete (wearing course) : 0,42
 Asphalt concrete (binder course) : 0,42
 ATB : 0,33
 CTB : 0,26
 Subbase (kelas B) : 0,12
 Koefisien drainage : - Flexible pavement : 1,35
- Rigid pavement : 1,2
d. Beban Gandar (Vehicle Damage Factor)

Tabel .12 Beban Gandar

21
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

Golongan IA IIA IIIA


VDF 0,001 2,478 3,843

6.4 Perencanaan Stabilitas Lereng


Perhitungan stabilitas lereng dilakukan guna memberikan informasi tentang
berapa tinggi maksimum dan kemiringan lereng desain galian yang aman
dari keruntuhan.

6.4.1 Stabilitas Lereng

Suatu permukaan tanah yang miring yang membentuk sudut tertentu


terhadap bidang horisontal disebut sebagai lereng (slope). Lereng dapat
terjadi secara alamiah atau dibentuk oleh manusia dengan tujuan tertentu.
Jika permukaan membentuk suatu kemiringan maka komponen massa tanah
di atas bidang gelincir cenderung akan bergerak ke arah bawah akibat
gravitasi. Jika komponen gaya berat yang terjadi cukup besar, dapat
mengakibatkan longsor pada lereng tersebut. Kondisi ini dapat dicegah jika
gaya dorong (driving force) tidak melampaui gaya perlawanan yang berasal
dari kekuatan geser tanah sepanjang bidang longsor seperti yang
diperlihatkan pada Gambar 6.9.

Gambar .9 Kelongsoran Lereng

Bidang gelincir dapat terbentuk dimana saja di daerah-daerah yang lemah.


Jika longsor terjadi dimana permukaan bidang gelincir memotong lereng
pada dasar atau di atas ujung dasar dinamakan longsor lereng (slope failure)
seperti yang diperlihatkan pada Gambar 6.10a. Lengkung kelongsoran

22
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

disebut sebagai lingkaran ujung dasar (toe circle), jika bidang gelincir tadi
melalui ujung dasar maka disebut lingkaran lereng (slope circle). Pada
kondisi tertentu terjadi kelongsoran dangkal (shallow slope failure) seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 6.10b. Jika longsor terjadi dimana
permukaan bidang gelincir berada agak jauh di bawah ujung dasar
dinamakan longsor dasar (base failure) seperti pada Gambar 6.10c.
Lengkung kelongsorannya dinamakan lingkaran titik tengah (midpoint
circle) (Braja M. Das, 2002). Proses menghitung dan membandingkan
tegangan geser yang terbentuk sepanjang permukaan longsor yang paling
mungkin dengan kekuatan geser dari tanah yang bersangkutan dinamakan
dengan Analisis Stabilitas Lereng (Slope Stability Analysis).

23
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

Gambar .10 Bentuk-bentuk keruntuhan lereng (a) Kelongsoran Lereng,


(b) Kelongsoran Lereng Dangkal, (c) Longsor dasar

6.4.2 Parameter

Untuk analisis stabilitas lereng diperlukan parameter tanah/batuan :


a. Kuat geser
Kuat geser terdiri dari kohesi (c) dan sudut geser dalam (φ). Untuk
analisis stabilitas lereng untuk jangka panjang digunakan harga kuat
geser efektif maksimum (c’ , φ’). Untuk lereng yang sudah mengalami
gerakan atau material pembentuk lereng yang mempunyai
diskontinuitas tinggi digunakan harga kuat geser sisa (cr = 0; φr).

24
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

b. Berat Isi
Berat isi diperlukan untuk perhitungan beban guna analisis stabilitas
lereng. Berat isi dibedakan menjadi berat isi asli, berat isi jenuh, dan
berat isi terendam air yang penggunaannya tergantung kondisi
lapangan.
Kekuatan geser tanah dapat dinyatakan dengan rumus :
S = C’ + ( τ- μ ) tan φ
dimana : S = kekuatan geser
τ= tegangan total pada bidang geser
µ = tegangan air pori
C’= kohesi efektif
φ = sudut geser dalam efektif

Gambar .11 Kekuatan geser tanah/batuan

Analisis stabilitas lereng pada dasarnya dapat ditinjau sebagai


mekanisme
gerak suatu benda yang terletak pada bidang miring. Benda akan tetap
pada posisinya jika gaya penahan R yang terbentuk oleh gaya geser
antara benda dan permukaan lereng lebih besar dibandingkan dengan
gaya gelincir T dari benda akibat gaya gravitasi. Sebaliknya benda akan
tergelincir jika gaya penahan R lebih kecil dibanding dengan gaya
gelincir T. Secara skematik terlihat pada Gambar (6.12). Secara
matematis stabilitas lereng dapat diformulasikan sebagai :

25
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

dimana FK = faktor keamanan


R = gaya penahan
T = gaya yang menyebabkan gelincir
Jika FK < 1 benda akan bergerak
FK = 1 benda dalam keadaan seimbang
FK > 1 benda akan diam

Gambar .12 Keseimbangan Benda Pada Bidang Miring

6.4.3 Angka Keamanan (Safety Factor)

Mengingat lereng terbentuk oleh banyaknya variabel dan banyaknya


factor ketidakpastian antara lain parameter-parameter tanah seperti
kuat geser tanah, kondisi tekanan air pori maka dalam menganalisis
selalu dilakukan penyederhanaan dengan berbagai asumsi. Secara
teoritis massa yang bergerak dapat dihentikan dengan meningkatkan
kekuatan gesernya. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan
kriteria factor keamanan adalah resiko yang dihadapi, kondisi beban dan
parameter yang digunakan dalam melakukan analisis stabilitas lereng.
Resiko yang dihadapi dibagi menjadi tiga yaitu : tinggi, menengah dan
rendah. Secara umum, faktor keamanan dapat dijelaskan sebagai berikut
:

dimana FK = angka keamanan terhadap kekuatan tanah.


τf = kekuatan geser rata-rata dari tanah.
τd = Tegangan geser rata-rata yang bekerja sepanjang bidang longsor.

26
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

Kekuatan geser suatu lahan terdiri dari dua komponen, friksi dan kohesi,
dan
dapat ditulis,

dimana, c = kohesi tanah penahan


φ= sudut geser penahan
σ= tegangan normal rata-rata pada permukaan bidang longsor.
Atau dapat ditulis,

Dimana cd adalah kohesi dan φd sudut geser yang bekerja sepanjang


bidang
longsor. Dengan mensubstitusi persamaan (2.4) dan persamaan (2.5) ke
dalam
persamaan (2.3) sehingga kita mendapat persamaan yang baru,

Tabel .13 Faktor Keamanan Minimum Stabilitas Lereng

27
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

6.5 Perencanaan Rambu


6.5.1 Standar Perencanaan

Standar perencanaan perangkat pengendali lalu lintas atau perambuan yang


digunakan sebagai acuan dalam perencanaan adalah sebagai berikut :
a. Keputusan Menteri Perhubungan No.60 tahun 1993 tentang Marka Jalan
b. Keputusan Menteri Perhubungan No.61 tahun 1993 tentang Rambu–
rambu Lalu Lintas di Jalan.

6.5.2 Jenis Rambu

Secara umum jenis rambu di jalan tol dibagi menjadi 3, yaitu:


a. Rambu Peringatan
1. Rambu peringatan standar (sesuai Tabel I pada Keputusan Menteri
Perhbungan No. KM 61 thun 1993)
2. Rambu peringatan berupa kata-kata.
b. Rambu Larangan
1. Rambu larangan standar (sesuai Tabel II A pada Keputusan Menteri
Perhubungan No. KM 61 thun 1993)
2. Rambu larangan berupa kata-kata.
c. Rambu Petunjuk
1. Rambu Petunjuk Jurusan (RPJ) untuk menyatakan arah agar dapat
mencapai suatu tujun antara lain kota, daerah/wilayah.
2. Rambu Petunjuk bukan Jurusan untuk menyatakan fasilitas umum,
batas wilayah suatu daerah, situasi jalan dan sebagainya.

6.5.3 Ukuran Rambu

Rambu lalu lintas terbagi atas dua ukuran, yaitu:


a.Rambu Ukuran Standar
Rambu ukuran standar adalah rambu-rambu yang sesuai tabel I, IIA, IIB
dan III dari Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 61 tahun 1993
dengan ukuran sebagai berikut:
1. Tipe A : diameter 90 cm dan 90 x 90 cm, untuk kecepatan lebih dari
60 km/jam.

28
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

2. Tipe B : diameter 75 cm dan 75 x 75 cm, untuk kecepatan < 60


km/jam
b. Rambu Ukuran Besar (berupa kata – kata)
Ukuran rambu berupa kata – kata ditentukan berdasarkan ukuran
huruf, jarak antara huruf serta jarak ke tepi panel (bukan dengan
ukuran standar tertentu).
Ukuran huruf yang digunakan mengacu pada Standard Alphabets for
Highway Sign and Pavement Marking dari Federal Highway
Administration (FHWA 1977).
1. Rambu Petunjuk selain Jurusan (warna dasar biru)
Menggunakan jenis huruf kapital seri D atau E.
2. Rambu Petunjuk Jurusan (warna dasar hijau)
Menggunakan jenis huruf kapital seri E (m) untuk huruf awal dan
selanjutnya huruf kecil seri Lc (lower case).
3. Rambu larangan (warna dasar putih)
Menggunakan jenis huruf kapital seri D atau E.
4. Rambu peringatan (warna dasar kuning)
Menggunakan jenis huruf kapital seri D atau E.

6.5.4 Warna Rambu

Warna yang digunakan dalam panel rambu sesuai dengan ketentuan yang
ada dalam Kepmenhub No. 61 tahun 1993 tentang Rambu Lalu Lintas di
Jalan.
Warna-warna tersebut adalah :
a. Rambu Peringatan
Warna dasar yang digunakan adalah kuning (reflektif) dengan tulisan,
gambar lambang dan garis tepi berwarna hitam.
b. Rambu Larangan
Warna dasar yang digunakan adalah putih (reflektif) dengan tepi
berwarna merah (reflektif) dan gambar lambang dan tulisan huruf
berwarna hitam (reflektif).

29
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

Untuk rambu larangan berupa kata-kata warna dasar yang digunakan


putih (reflektif) dan garis tepi berwarna merah (reflektif) tebal 8 cm
yang dimulai dari tepi panel.
c. Rambu Perintah
Warna dasar yang digunakan adalah biru (reflektif) dan lambang atau
tulisan putih (reflektif) dan garis tepi berwarna putih (relflektif) dengan
ketebalan 3 cm untuk panel ukuran 2,0 x 3,0 m dan 5 cm untuk panel
ukuran lebih besar. Garis tepi dimulai dari tepi panel.
d. Rambu Petunjuk
Rambu petunjuk terdapat beberapa macam warna yang digunakan
yaitu :
1. Rambu petunjuk bukan jurusan
Warna dasar yang digunakan adalah biru (reflektif), simbol
berwarna hitam dan tulisan berwarna putih (reflektif)
Pada rambu petunjuk bukan jurusan berupa kata-kata warna dasar
yang digunakan adalah biru (reflektif) serta tulisan dan garis tepi
berwarna putih (reflektif) dari tepi panel.
2. Rambu petunjuk jurusan
Warna dasar yang digunakan hijau (reflektif), simbol, tulisan dan
garis tepi berwarna putih (reflektif) dimulai dari tepi panel.

6.5.5 Jenis Lapisan Reflektif (Reflektive Sheeting)

Lapisan Reflektif yang digunakan sebagai salah satu jenis material rambu di
jalan tol terdiri dari:
a.Engineering Grade (EG), digunakan pada:
1. Rambu-rambu di jalan non tol
2. Rambu-rambu darurat
3. Dasar panel rambu-rambu di jalan tol.
b. High Intensity (HI), digunakan pada tulisan, panah, garis tepi dan logo
pengelola jalan tol yaitu pada:
1. Rambu-rambu di road side, rambu bentuk standar dan rambu
berupa kata-kata

30
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

2. Semua rambu–rambu di overhead (portal, kupu-kupu dan


cantilever)
3. Semua rambu pada jalan dengan lajur lalu lintas lebih dari 2 lajur
tiap arah.

6.5.6 Jenis Konstruksi Tiang

Jenis konstruksi tiang yang digunakan sebagai berikut :


a. Kantilever
Digunakan untuk Rambu Petunjuk Jurusan (RPJ) jalan tol luar kota 2
lajur.

b. Kupu – kupu
Digunakan untuk rambu petunjuk jurusan (RPJ) di gore atau pada titik
diverging.

c. Dua Tiang Pipa Galvanis


Digunakan untuk rambu-rambu road side seperti rambu larangan atau
rambu petunjuk berupa kata – kata.

d. Satu Tiang Pipa Galvanis


Digunakan untuk rambu ukuran standar

31
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

6.5.7 Penempatan Rambu

Agar tidak saling menutupi maka penempatan dan jarak antar rambu
dengan rambu lainnya diatur sebagai berikut :
a. Pada jalur dengan kecepatan rencana rendah ( ≤ 60 km/jam)
1. Untuk rambu ukuran standar : 25 m
2. Untuk rambu ukuran besar : 25 m
b. Pada jalur utama dengan kecepatan rencana tinggi ( > 60 km/jam)
1. Untuk rambu ukuran standar : 100 m
2. Untuk rambu ukuran besar : 200 m
Untuk keamanan ruang bebas maka pemasangan rambu di atur sebagai
berikut :
a. Rambu dengan kecepatan rendah (Ukuran rambu tipe B :  75 cm dan 75
cm x 75 cm) jarak ke tepi perkerasan adalah : 60 cm.
b. Rambu tipe 2 tiang pipa galvanis, jarak dari tepi bawah panel ke
permukaan perkerasan diukur dari garis marka menerus paling kiri :
210 cm.
c. Kemiringan horizontal sebesar 3o keluar dari garis tegak lurus sumbu
jalan.
d. Rambu dengan konstruksi tiang portal, kupu-kupu dan cantalever jarak
dari tepi bawah panel ke permukaan perkerasan minimum 510 cm.

6.5.8 Ukuran dan Tipe Huruf

Untuk rambu berupa kata-kata digunakan jenis dan ukuran huruf sebagai
berikut :

Tabel .14 Penggunaan Ukuran dan Type Huruf

Jalur Utama 2
Jenis Rambu Jalan Masuk/Ramp
Lajur
1. Peringatan D 200 D 200
2. Larangan D 200 D 200
D 150 D 150
3. Perintah D 200 D 200
D 150 D 150
4. Petunjuk Jurusan E (M) 265/200 E (M) 330
Lc 200/150 Lc 250

32
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

5. Angka Mengikuti seri huruf yang digunakan


Sumber : Penempatan Marka Jalan Pd T-12-2004-B

6.6 Perencanaan Penerangan Jalan Umum (PJU)


Maksud dan tujuan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) adalah untuk
mengurangi terjadinya kecelakaan lalu lintas pada saat cuaca gelap dan
untuk membuat lebih nyaman dan menarik para pemakai jalan.
Perencanaan desain Penerangan Jalan Umum (PJU) dibuat berdasarkan “
Standard Penerangan Jalan Kota “ dari Dit Jend. Bina Marga 1985 dengan
rekomendasi dari “Japan Road Standard “ dan dari “ Commission
International Del Enclairge ( CIE ).

6.6.1 Konsep dan Kriteria Dasar

Dalam perencanaan Penerangan Jalan Umum (PJU), kami mendasarkan pada


beberapa konsep dan kriteria dasar sebagai berikut :

6.6.1.1 Penghematan Biaya Beban Listrik

Untuk mendapatkan penghematan biaya beban listrik maka disini ada 2


(dua) alternatif yaitu sebagai berikut :
a. Sistim 50% hidup dan 50% padam/mati
Pada saat Volume Traffic relatif rendah, yaitu antara jam 23.00 malam
sampai dengan 6.00 pagi maka secara otomatic timer system akan
mematikan 50% dari lampu penerangan yang ada dan yang hidup hanya
50% saja secara selang-seling, sehingga kebutuhan daya listrik juga
hanya 50%.
b. Sistim Dimming
Pada saat Volume Traffic relatif rendah, yaitu antara jam 23.00 malam
sampai dengan 6.00 pagi maka secara otomatic timer system pada
masing-masing ballast lampu akan mengurangi daya pemakaian lampu
hingga 50%, sehingga seluruh lampu akan menyala lebih redup (tidak
secara selang-seling), sehingga ada penghematan daya listrik 50%.

33
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

6.6.1.2 Daerah gelap / black spot

Untuk menghindari terjadinya daerah gelap / black spot pada sepanjang


jalan maka perlu dicapai besaran-besaran sebagai berikut :

dimana : E min = Flux minimum


E av = Flux rata-rata
E max = Flux maximum
Flux = Intensitas illuminasi

6.6.1.3 Illuminasi maximum

Untuk mendapatkan illuminasi/kuat penerangan yang maximum, maka


perencanaan penerangan didasarkan pada factor perkerasan flexible/asphalt,
mengingat warna perkerasan flexible lebih gelap dari pada warna perkerasan
rigid, sehingga lebih banyak cahaya yang diserap.

6.6.1.4 Sistem Timer

Penerangan lampu jalan secara otomatis akan hidup dan padam dengan
memakai systim timer (jam 18.00 – 6.00 hidup dan am 6.00 – 18.00 padam).

6.6.2 Perlengkapan Penerangan

6.6.2.1 Luminaire/Lampu

Lampu untuk penerangan jalan diperlukan persyaratan : umur panjang /


awet, efficiensi tinggi, warna yang bagus / tidak silau, fluktuasi temperture
yang aman dan mempunyai kapasitas lumen per lampu yang tinggi.
Untuk keperluan diatas dapat dipakai lampu “high pressure Sodium” dengan
alasan sebagai berikut :
a. Effisiensi luminasi yang tinggi
b. Tidak silau / minimum glare
c. Biaya pemakaian dan pemeliharaan yang rendah.
Besar lumen adalah sebagai berikut :
a. High pressure SONT 150 W 15000 lumen
b. High pressure SONT 250 W 32000 lumen

34
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

c. High pressure SONT 400 W 55000 lumen.

6.6.2.2 Lampu Penerangan Area Luasan

Untuk penerangan area/luasan seperti parkir dan lain-lain, dipakai lampu


Sodium plus 1000 W high mast dengan tiang lampu tinggi 20 – 25 m.

6.6.2.3 Tiang Lampu

Tiang lampu adalah hot dip galvanis tiang baja berdasarkan Standard pada
”Perencanaan Jalan Kota”. Warna cat adalah warna netral alami sesuai
dengan “Peraturan cat Indonesia”.
Secara umum hubungan antara tinggi tiang dan jarak tiang dapat
digambarkan sebagai berikut :
Sesuai dengan panduan “Perencanaan Jalan Perkotaan” dari Dirjen Bina
Marga.

Susunan Tiang Jarak Over long


Tinggi Tiang
Tiang Panjang (B)
Patern H (M) S (M)
> 1,0 W < 3,0 W
A Satu Sisi B = 0,8
> 1,5 W < 3,5 W
Dua Sisi > 0,7 W
B < 3,0 W 1,8
Zig-zag
> 0,5 W
Dua Sisi < 3,0 W
C > 0,7 W 2,1
Berhadapan < 3,5 W

Keterangan : W = lebar jalan


S = Jarak Tiang
H = Tinggi Tiang

6.6.2.4 Kabel listrik

Kabel tanah adalah kabel yang memakai perlindungan metal (dipakai jenis
NYFGBY) yang ditanam di dalam tanah sedalam 80 cm dan dilindungi dengan
batu bata diatasnya.
Pada lokasi memotong jalan maka kabel diberi pelindung ducting pipa besi
galvanis.
a. Tipe Kabel
NYY (3x2,5) mm2 : Didalam tiang
NYY + BCC 6 mm2 : Didalam parapet

35
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

NYFGBY : - Tiang ke tiang dan ke panel Distribusi


- Main Distribution panel ke Distribution panel
- PLN ke Main Distribution panel.
b. Maximum drop voltage / penurunan voltage yang terjadi pada kabel
maximum = 5%.
c. Grounding
Kabel grounding terdiri dari kawat tembaga telanjang dengan cross area
yang sama dengan kabel jaringan pada sistem, dengan minimum cross
area = 6 mm2, (BCC). Batang tembaga dipakai ukuran : 10 mm  x 1,5 M
dibenam sedalam minimum 1,20 M dibawah finished grade.
Tahanan grounding maximum 5 ohm.

36
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

Daftar ISI
6 6-1
6.1 Perencanaan Geometrik Jalan........................................................................................... 6-1
6.1.1 Standar Acuan 6-1
6.1.2 Kriteria Desain Geometrik 6-1
6.2 Perencanaan Hidrologi dan Drainase............................................................................6-5
6.2.1 Referensi Standar 6-5
6.2.2 Survey Hidrologi dan Hidraulik 6-5
6.2.3 Kajian Teori Perencanaan Drainase 6-7
6.3 Perencanaan Perkerasan.................................................................................................. 6-21
6.3.1 Standar Perencanaan 6-21
6.3.2 Equivalent Standard Axle Loads 6-21
6.3.3 Cumulative Equivalent Standard Axles (CEsAs) 6-22
6.3.4 Tebal Perkerasan 6-22
6.4 Perencanaan Stabilitas Lereng....................................................................................... 6-23
6.4.1 Stabilitas Lereng 6-23
6.4.2 Parameter 6-26
6.4.3 Angka Keamanan (Safety Factor) 6-28
6.5 Perencanaan Rambu........................................................................................................... 6-29
6.5.1 Standar Perencanaan 6-29
6.5.2 Jenis Rambu 6-30
6.5.3 Ukuran Rambu 6-30
6.5.4 Warna Rambu 6-31
6.5.5 Jenis Lapisan Reflektif (Reflektive Sheeting) 6-32
6.5.6 Jenis Konstruksi Tiang 6-32
6.5.7 Penempatan Rambu 6-33
6.5.8 Ukuran dan Tipe Huruf 6-34
6.6 Perencanaan Penerangan Jalan Umum (PJU)...........................................................6-35
6.6.1 Konsep dan Kriteria Dasar 6-35
6.6.2 Perlengkapan Penerangan 6-36

Daftar Gambar

37
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

Gambar 6.1 Sistim Drainase Permukaan Jalan Kondisi Umum/Normal 6-8


Gambar 6.2 Bagan Gorong-gorong 6-12
Gambar 6.3 Batas Daerah Pengaliran yang Diperhitungkan (L1 + L2 + L3) 6-15
Gambar 6.4 Saluran bentuk trapezium 6-17
Gambar 6.5 Saluran Samping Segi Empat 6-18
Gambar 6.6 Saluran Samping Segitiga 6-18
Gambar 6.7 Saluran bentuk setengah lingkaran 6-18
Gambar 6.8 Saluran bentuk lingkaran / gorong-gorong 6-19
Gambar 6.9 Kelongsoran Lereng 6-24
Gambar 6.10 Bentuk-bentuk keruntuhan lereng (a) Kelongsoran Lereng,
(b) Kelongsoran Lereng Dangkal, (c) Longsor dasar 6-26
Gambar 6.11 Kekuatan geser tanah/batuan 6-27
Gambar 6.12 Keseimbangan Benda Pada Bidang Miring 6-28

Daftar Tabel
Tabel 6.1 Kriteria Desain Geometrik Kecepatan Rencana 40 Km/jam 6-3
Tabel 6.2 Kriteria Desain Geometrik Kecepatan Rencana 30 Km/jam 6-4
Tabel 6.3 Kemiringan Melintang Perkerasan Jalan Dan Bahu Jalan 6-8
Tabel 6.4 Kecepatan Aliran Air Yang Diijinkan Berdasarkan Jenis Material 6-9
Tabel 6.5 Hubungan Kemiringan Saluran Samping Dengan Jenis Material 6-9
Tabel 6.6 Tipe Penampang Saluran Samping Jalan 6-10
Tabel 6.7 Standar penentuan Periode Ulang Perencanaan Drainase 6-12
Tabel 6.8 Tipe Penampang Gorong-gorong 6-13
Tabel 6.9 Hubungan Kondisi Permukaan Dengan Koefisien Hambatan (Nd) Yang
Merupakan Koefisien Kekasaran Manning’s 6-14
Tabel 6.10 Hubungan Kondisi Permukaan Tanah dengan Koefisien Pengaliran6-16
Tabel 6.11 Kemiringan Talud 6-17
Tabel 6.12 Beban Gandar 6-23
Tabel 6.13 Faktor Keamanan Minimum Stabilitas Lereng 6-29
Tabel 6.14 Penggunaan Ukuran dan Type Huruf 6-34

38
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis/DED Ruas Jalan
.............................................

39