Anda di halaman 1dari 8

RSIA KUSUMA Prosedur Pencegahan Flebitis dan Infeksi Aliran

PRADJA Darah Primer (IADP)


No. Dokumen No. Revisi Halaman
SPO Tanggal Terbit Ditetapkan:
Direktur RSIA KUSUMA PRADJA

PENGERTIAN Flebitis adalah timbulnya bengkak¸ nyeri¸ kemerahan¸


dan panas pada kulit sekitar tempat pemasangan kateter
intravascular.

Kateter Intravaskular:
 Kateter vena perifer
 Kateter midline / kateter vena midline
 Kateter arteri perifer

Infeksi Aliran Darah Primer (IADP):


Infeksi aliran darah yang timbul tanpa ada organ /jaringan
lain yang dicurigai sebagai sumber infeksi
TUJUAN Sebagai pedoman langkah dalam upaya pencegahan
terjadinya flebitis dan infeksi aliran darah primer
KEBIJAKAN Pencegahan flebitis dan infeksi aliran darah primer harus
dilaksanakan sesuai prosedur
PROSEDUR 1. Indikasi pemasangan kateter intravaskular hanya
dilakukan untuk tindakan pengobatan dan atau untuk
kepentingan diagnostic
2. Cuci tangan aseptik /handrubs dilakukan sebelum
melakukan pemasangan kateter intravaskular
3. pemilihan lokasi pemasangan pada orang dewasa
sebaiknya pada tungkai atas daripada tungkai bawah
4. Lokasi penusukan diberikan antisepsis dahulu dengan
antiseptik (alkohol 70%) dan ditunggu sampai kering
minimal 30 detik sebelum dipasang.
5. Ukuran kateter harus lebih kecil dari lumen pembuluh
darah
6. Setelah pemasangan tutuplah dengan kasa
steril/penutup transparan khusus serta cantumkan
tanggal pemasangan di tempat yang mudah dibaca.
7. Apabila penutup (kassa steril/penutup transparan)
lepas/basah/kotor segera ganti penutup yang baru
8. Kateter intravena segera dilepas apabila sudah tidak
ada indikasi pemasangan
9. Perawatan tempat pemsangan
 Tempat tusukan diperiksa setiap hari untuk melihat
kemungkinan timbulnya komplikasi
(Flebitis/IADP) tanpa membuka kasa penutup yaitu
dengan cara meraba daerah vena tersebut
 Bila ada demam yang tidak bisa dijelaskan dan ada
nyeri tekan pada tempat tusukan barulah kasa
penutup dibuka untuk melihat kemungkinan
komplikasi
 Bila kateter intravena harus dipertahankan untuk
waktu lama¸ maka setiap 24─72 jam kasa penutup
harus diganti dengan yang baru dan steril
10. Selang infus yang dipergunakan untuk pemberian
parenteral nutrisi harus diganti setiap 24─48 jam
11. Setelah pemberian darah¸ produk darah atau emulsi
lemak selang infus harus diganti maksimal dalam 24
jam dari waktu pemasangan
12. Selang infus pada pemberian terapi intravena harus
diganti setelah ˃72 jam
13. Desinfeksi injection ports dengan alkohol 70%
sebelum dipergunakan
14. kurangi jumlah stopcocks yang disambung ke kateter
intravena
15. Lakukan pembilasan secara rutin dengan cairan NaCl
0¸9% atau menggunakan heparin 10 unit/cc pada
penggunaan heparin lock
16. Pergunakan kateter midline apabila pemberian terapi
i.v diperkirakan > 6 hari
17. Apabila terjadi flebitis atau IADP maka semua sistem
(kateter intravena dan selang infus) harus dicabut.
UNIT 1. Rawat Inap
TERKAIT 2. Rawat Jalan
3. Instalasi Gawat Darurat
4. Instalasi Kamar Bedah
5. Instalasi Kamar Bersalin
RSIA Prosedur Pencegahan Infeksi Daerah Operasi
KUSUMA
PRADJA No. Dokumen No. Revisi Halaman
SPO Tanggal Terbit Ditetapkan:
Direktur RSIA KUSUMA PRADJA

PENGERTIAN Infeksi Daerah Operasi (IDO) adalah infeksi yang terjadi


pada pasien yang dilakukan tindakan pembedahan yang
meliputi lapisan kulit¸ sub kutis¸ fascia¸ otot¸ organ dan
rongga.
Infeksi dapat terjadi pra atau pasca bedah untuk semua
tindakan pembedahan.
TUJUAN Sebagai pedoman langkah dalam upaya pencegahan
terjadinya infeksi daerah operasi yang terjadi di rumah
sakit.
KEBIJAKAN Pencegahan infeksi daerah operasi harus dilaksanakan
sesuai prosedur
PROSEDUR Tindakan pencegahan Infeksi Daerah Operasi
dikelompokkan ke dalam:
A. Sebelum masuk Rumah Sakit
1. Semua pemeriksaan dan pengobatan untuk persiapan
operasi hendaknya dilakukan sebelum rawat inap
agar waktu pra bedah menjadi pendek (<2 hari)
2. Perbaiki keadaan yang memperbesar kemungkinan
terjadinya IDO antara lain: Diabetes Melitus¸
malnutrisi¸ obesitas¸ infeksi¸ pemakaian
kortikosteroid
B. Persiapan Pasien Pra Bedah
1. Semua pasien mempunyai hak yang sama dalam
memperoleh usaha pencegahan infeksi pasca operasi
2. perhatian lebih pada pasien yang mempunyai resiko
lebih tinggi untuk infeksi
3. Kenali faktor resiko infeksi
4. Antimikroba profilaktik (AMP) yang memadai
sesuai prosedur
5. Mandi atau shower rambut dengan shampo
antiseptik sebelum hari operasi
6. Antiseptik yang dianjurkan yang mengandung
chlorhexidine glukonate yang dapat menurunkan
mikroba kulit sampai 9x lipat
7. Optimalisasi kadar gula darah
8. Kurangi hari rawat sebelum operasi
9. Cuci dan bersihkan daerah sekitar tempat insisi
untuk menghilangkan kontaminasi sebelum
melakukan tindakan antiseptik pada kulit
10.Tindakan antiseptik pada kulit dilakukan sirkular ke
arah perifer. tempat yang disiapkan harus cukup luas
untuk insisi dan kemungkinan insisi baru atau jika
perlu pemasangan drain.
C. Intra Operasi
1. Tenaga medis dan perawat melakukan tindakan
aseptik dan antiseptik dengan benar.
2. Kamar operasi disiapkan sesuai jadwal
3. Instrument disiapkan sesuai dengan kebutuhan
4. Pertahankan ventilasi tekanan positif di kamar
operasi
5. Upayakan pintu kamar operasi selalu tertutup
6. Batasi jumlah orang yang berada di kamar operasi
sesuai kebutuhan

D. Post Operasi/Di Ruang Perawatan


1. Observasi tanda─tanda vital dan keadaan umum
pasien
2. Berikan hidrasi dan nutrisi yang adekuat
3. Lakukan mobilisasi sedini mungkin
4. Kenali tanda - tanda infeksi pada daerah operasi dan
diskusikan dengan dokter penanggung jawab pasien
tersebut
5. Lakukan tindakan aseptik dan antiseptik saat
melakukan perawatan luka
6. Cabut drain sesegera mungkin atas indikasi

UNIT 1. Kamar Operasi


TERKAIT 2. Ruang Perawatan
3. CSSD
4. SMF terkait
RSIA KUSUMA Prosedur Kebersihan Tangan dengan Menggunakan
PRADJA Sabun dan Air Mengalir (Hand Washing)

No. Dokumen No. Revisi Halaman


SPO Tanggal Terbit Ditetapkan:
Direktur RSIA KUSUMA PRADJA

PENGERTIAN Hand Washing adalah suatu prosedur tindakan


membersihkan tangan tanpa adanya asesoris
menggunakan antiseptik di bawah air mengalir dengan
waktu paling sedikit 40─60 detik dengan frekuensi 3x
untuk setiap langkah.
Antiseptik adalah tindakan pengurangan mikroorganisme
pada kulit¸ selaput lendir atau jaringan tubuh lain dengan
bahan antimikroba.
TUJUAN Sebagai pedoman langkah dalam hand hygiene
KEBIJAKAN
PROSEDUR 1. Buka kran dan basahi tangan dengan air mengalir
2. Tuangkan sabun cair/antiseptik 2─3 cc pada salah satu
telapak tangan
3. Ratakan sabu/antiseptik dengan kedua telapak tangan
4. Gosok punggung tangan kanan dengan telapak tangan
kiri dengan jemari saling menyilang
5. Gosok punggung jemari dengan telapak tangan dalam
posisi saling mengunci
6. Genggam ibu jari dengan tangan kanan kemudian
gosok secara memutar dan sebaliknya
7. Gosok secara memutar ujung jari kanan pada telapak
kiri kearah depan dan belakang dan sebaliknya
8. Bilas tangan dengan air mengalir dengan posisi tangan
lebih rendah dari sikut
9. keringkan tangan secara merata dengan handuk /tissue
sekali pakai
10. Matikan kran dengan menggunakan handuk /tissue
tersebut

UNIT 1. Rawat Inap


TERKAIT 2. Rawat Jalan
3. Instalasi Gawat Darurat
RSIA Prosedur Kebersihan Tangan dengan Menggunakan
KUSUMA Antiseptik berbasis Alkohol (Hand Rub)
PRADJA No. Dokumen No. Revisi Halaman
SPO Tanggal Terbit Ditetapkan:
Direktur RSIA KUSUMA PRADJA

PENGERTIAN Hand Rub adalah suatu prosedur tindakan membersihkan


tangan tanpa adanya asesoris menggunakan antiseptik
berbasis alkohol dengan waktu paling sedikit 20─30 detik
dengan frekuensi 3x untuk setiap langkah.
Antiseptik adalah tindakan pengurangan mikroorganisme
pada kulit¸ selaput lendir atau jaringan tubuh lain dengan
bahan antimikroba.
TUJUAN Sebagai pedoman langkah dalam hand hygiene
KEBIJAKAN
PROSEDUR Waktu cuci tangan paling sedikit 20─30 detik
1. Ratakan antiseptik dengan kedua telapak tangan secara
memutar berlawanan arah jarum jam
2. Gosok punggung tangan kanan dengan telapak tangan
kiri dengan jemari saling menjalin dan sebaliknya
3. Gosok kedua telapak tangan dengan jemari saling
menyilang
4. Gosok punggung jemari dengan telapak tangan dalam
posisi saling mengunci
5. Genggam ibu jari kiri dengan tangan kanan kemudian
gosok secara memutar dan sebaliknya
6. Gosok secara memutar ujung jari tangan kiri pada
telapak tangan kanan dan sebaliknya
UNIT 1. Rawat Inap
TERKAIT 2. Rawat Jalan
3. Instalasi Gawat Darurat
RSIA Prosedur Penggunaan Kacamata (Googles)
KUSUMA No. Dokumen No. Revisi Halaman
PRADJA
SPO Tanggal Terbit Ditetapkan:
Direktur RSIA KUSUMA PRADJA

PENGERTIAN Penggunaan kaca mata merupakan barrier fisik untuk


melindungi daerah mata petugas /individu dari
kontaminasi mikroorganisme
TUJUAN Sebagai acuan dalam menerapkan langkah langkah
pencegahan transmisi mikroorganisma melalui percikan
(droplet) dan kontak
KEBIJAKAN
PROSEDUR Googles/kacamata dan penutup muka (face shield)
 Digunakan untuk melindungi membran mukosa mata
ketika melakukan prosedur yang diperkirakan akan
terjadi
 Cipratan darah¸ cairan tubuh¸ sekresi ataupun ekskresi
 Apabila bersifat disposible maka langsung dibuang
 Apabila di reused¸ setelah dipakai harus
didekontaminasi terlebih dahulu dengan larutan klorin
0¸5% baru dicuci dengan deterjen/sabun dan dibilas
dengan air selanjutnya dikeringkan
UNIT 1. Rawat Inap
TERKAIT 2. Rawat Jalan
3. Instalasi Gawat Darurat
4. Instalasi Kamar Bedah
RSIA Prosedur Dekontaminasi, Pembersihan, Desinfeksi
KUSUMA Alat Bekas Pakai Di Ruangan/Poliklinik
PRADJA No. Dokumen No. Revisi Halaman
SPO Tanggal Terbit Ditetapkan:
Direktur RSIA KUSUMA PRADJA

PENGERTIAN 1. Dekontaminasi : Proses yang membuat benda mati


lebih aman untuk ditangani oleh staf sebelum
dibersihkan (umpamanya menginaktifasi HBV¸ HCV¸
dan HIV) dan mengurangi tetapi tidak menghilangkan
jumlah mikroorganisme yang mengkontaminasi.
Dekontaminasi merupakan langkah pertama dalam
menangani benda yang sudah dipakai
2. Pembersihan : Proses yang secara fisik membuang
semua debu yang tampak¸ kotoran¸ darah/cairan tubuh
lainnya dari benda mati ataupun membuang sejumlah
mikroorganisme untuk mengurangi resiko bagi mereka
yang menyentuh kulit/menangani objek. Proses terdiri
dari sepenuhnya dengan sabun/deterjen dan
membilasnya dengan air bersih kemudian ikeringkan.
3. Desinfeksi : Proses menghilngkan semua
mikroorganisme¸ kecuali beberapa endospora bacterial
dari objek¸ dengan merebus¸ menguapkan¸ atau
memakai desinfektan kimiawi.
4. Alat bekas pakai adalah alat yang sudah digunakan
untuk tindakan di ruangan
TUJUAN Sebagai acuan penerapan langkah langkah mengenai
dekontaminasi¸ pembersihan dan desinfeksi dengan
prosedur yang benar
KEBIJAKAN
PROSEDUR 1. Petugas melakukan perendaman alat kotor dalam
baskom plastik yang berisi klorin 0¸5% selama 10
menit
2. Petugas melakukan pemindahan alat ke dalam larutan
deterjen
3. Petugas melakukan penyikatan dengan sikat yang
sesuai
4. Petugas melakukan pembilasan dengan air yang
mengalir
5. Bila alat tidak terpakai¸ bersih/masih baru¸ petugas
harus melakukan pencucian dengan air mengalir
6. Petugas melakukan pengeringan dengan kain yang
mampu menyerap air
7. Petugas melakukan pengepakan alat yang sudah bersih
dan kering sesuai dengan jenis tindakan
UNIT 1. Rawat Inap
TERKAIT 2. Rawat Jalan
3. CSSD