Anda di halaman 1dari 6

Analisis Kekuatan Tarik Pengelasan Metal Inert Gas Pada Logam

Aluminium Paduan AA6063 Dengan Variasi Arus Listrik Pengelasan

A s r u l¹, Kusno Kamil², Muhammad Halim Asiri² dan Hasbi Assiddiq S1

¹Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Politeknik Kotabaru


Jl. Raya Stagen km 9.5 Kotabaru. Kalimantan selatan
²Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia
Jl. Urip Sumoharjo Km. 05, Kota Makassar
E-mai Korespondensi: mesinasrul@gmail.com

Abstrak
Sambungan las dapat berpengaruh terhadap pemilihan arus pengelasan dan bahan
pengisi dengan logam induk. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kekuatan
sambungan las aluminium paduan AA6063 terhadap variasi arus listrik yaitu 150 ampere,
155 ampere dan 160 ampere menggunakan kampuh V sudut 60° dengan las MIG. Data hasil
pengujian tarik dengan menggunakan standar ASTM B 557M 02-a dengan nilai tegangan
tarik tertinggi diperoleh pada pengelasan dengan menggunakan arus 155 ampere, yaitu
13,03 kg/mm² dan nilai tegangan tarik paling rendah pada arus 160 ampere 9,47 kg/mm².
Hasil pengujian nilai kekerasan tertinggi pada daerah weld metal dengan arus 160 ampere
yaitu 87,09 BHN namun mengalami penurunan nilai kekerasan pada daerah HAZ dan
kembali naik pada daerah logam induk.
Kata kunci: Sambungan las, kuat arus listrik, pengujian tarik, pengujian kekerasan

Abstract
Welded joints may influence the selection of the welding current and filling material
with the parent metal. The purpose of this study to determine the effect of the strength of
welded joints of aluminum alloy AA6063 to variations in electrical current of 150 amperes,
155 amperes and 160 amperes using the hem V angle of 60 ° with MIG welding. Tensile test
data using the standard ASTM B 557M 02-a with the highest tensile stress values obtained in
the welding using 155 amperes flows, ie 13.03 kg / mm² and the lowest value of tensile stress
at 160 ampere current 9.47 kg / mm² , The test results on the value of the highest hardness of
weld metal regions with a current of 160 amperes is 87.09 BHN but decreased hardness in
HAZ area and back up to the area of the parent metal.
Keywords: Welded, strong electrical currents, tensile testing, hardness testing

1. Pendahuluan sifat-sifat bahan yang akan di las dan lain-


lain. Yang termasuk prosedur pengelasan
Dalam merancang suatu konstruksi adalah pemilihan parameter las seperti
permesinan atau bangunan yang tegangan busur las, besar arus las, penetrasi,
menggunakan sambungan las, banyak kecepatan pengelasan dan beberapa kondisi
faktor yang harus diperhatikan seperti standar pengelasan seperti bentuk kampuh
keahlian dalam mengelas, pengetahuan las, tebal pelat, jenis elektroda, diameter inti
yang cukup tentang prosedur pengelasan, elektroda, dimana parameter-parameter
tersebut mempengaruhi sifat mekanik lasan di bawah pusat busur dan juga
logam las. [1] memperluas distribusi masukan panas.
Proses pengelasan MIG (metal Inert c. Peningkatan arus pada pengelasan juga
Gas), yaitu panas dari proses pengelasan ini mengakibatkan masukan panas yang
dihasilkan oleh busur las yang terbentuk meningkat pada kampuh las. Masukan
diantara elektroda kawat (wire elektrode) panas yang meningkat tersebut akan
dengan benda kerja. Selama proses las MIG menurunkan kecepatan pendinginan
(metal inert gas), elektroda meleleh pada logam las yang berpengaruh
kemudian menjadi deposit logam las dan terhadap strukur dan mekanis yang
membentuk butiran las (weld beads). Gas terbentuk.
pelindung digunakan untuk mencegah Gas yang biasanya digunakan sebagai
terjadinya oksidasi dan melindungi hasil las pelindung adalah gas helium (He) gas argon
selama masa pembekuan (solidification) [2] (Ar) gas karbon dioksida (CO2 ) atau
Kampuh las merupakan bagian dari campuran dari gas tersebut diatas. Las
logam induk yang nantinya akan diisi oleh busur gas (GMAW) dengan elektroda
deposit las atau logam las (weld metal), kawat gulung yang disalurkan melalui
kampuh las awalnya adalah berupa pemegang elektroda untuk dicairkan
kubungan las (weld pool) yang kemudian sebagai pengisi sambungan dalam
diisi dengan logam las. [3] pengelasan. [4]
Pada dasarnya dalam memilih bentuk
kampuh harus menuju kepada penurunan 2. Tinjauan Pustaka
masukan panas dan penurunan logam las Aluminium merupakan logam ringan
sampai kepada harga terendah dan tidak mempunyai ketahanan korosi yang baik dan
menurunkan mutu sambungan. Untuk hantaran listrik yang baik dan sifat-sifat
kampuh las pada saat pembakarannya dapat yang baik lainnya sebagai sifat logam.
mengisi pada seluruh logam las. Sebelum Sebagai tambahan terhadap, kekuatan
pengelasan dilakukan kampuh las harus mekaniknya yang sangat meningkat dengan
mulai pengerjaan awal. Karat, minyak, cat penambahan Cu, Mg, Si, Mn, Zn, Ni, dsb,
harus di hilangkan. Untuk memperoleh serta satu persatu atau bersama-sama,
pembakaran yang baik. [1] memberikan juga sifat-sifat baik lainnya
Arus sangat mempengaruhi dalam seperrti ketahanan korosi, ketahanan aus,
proses pengelasan busur listrik, besar kecil koefisien pemuaian rendah dsb. Material ini
arus yang dipergunakan dalam proses dipergunakan didalam bidang yang luas
pengelasan tersebut dapat menentukan bukan saja untuk peralatan rumah tangga
ukuran dan bentuk hasil penetrasi dan tapi juga dipakai untuk keperluan material
deposit las. Pengaruh dari penggunaan arus pesawat terbang, mobil, kapal laut,
dapat dijelaskan sebagai berikut : konstruksi dan sebagainya. [5]
Las MIG adalah suatu metode
a. Dengan adanya peningkatan arus maka pengelasan dimana gas disemburkan ke
akan meningkatkan pengadukan daerah yang dilas untuk melindungi busur,
elektromagnetik pada kawah las. Arus elektroda dan logam induk yang mencair
yang lebih tinggi cenderung terhadap pengaruh udara luar. Gas
menghasilkan penetrasi yang lebih pelindung yang dipakai adalah gas yang
dalam dan luas daerah lasan sempit. tidak mudah bereaksi baik terhadap udara
b. Dengan peningkatan arus akan luar maupun logam yang mencair.
menyebabkan meningkatnya kecepatan Elektroda sekaligus berfungsi sebagai
masukan panas maksimum ke daerah logam pengisi, diumpankan secara terus
menerus dengan kecepatan konstan tertentu
bergerak sepanjang sambungan las. Pada sebagai elektroda yang dapat menghasilkan.
las MIG panas dihasilkan oleh arus yang busur listrik sedangkan untuk elektroda
bergerak melalui celah antara elektroda terumpan menggunakan kawat las. [4]
dengan benda kerja. [6] Dengan adanya
panas ini menyebabkan logam induk serta 3. Metode Penelitian
elektroda mencair yang kemudian
Dalam penelitian ini digunakan
membeku bersama-sama membentuk
metode pengelasan MIG (metal inert gas)
ikatan. Busur yang dihasilkan selalu
dengan material logam aluminium paduan
runcing, inilah yang menyebabkan butir-
AA6063 dengan menggunakan pengujian
butir logam cair menjadi halus dan
kekerasan, dan pengujian tarik.
pemindahannya berlangsung sangat cepat.
Dalam las MIG ini gas yang digunakan
adalah gas argon, helium atau campuran
keduanya. Untuk memantapkan busur
kadang-kadang ditambahkan gas O2 antara
2% sampai 5% atau CO2 antara 5% sampai
20%. Las MIG biasanya dilaksanakan
secara otomatik atau semi otomatik dengan
arus searah (DC) polaritas balik dan
menggunakan kawat elektroda berdiameter
1,2 sampai dengan 2,4 mm. [1] Pengujian Tarik dan
Kekerasan

Gambar 2.1 Skema las MIG Gambar 3.1 Diagram alir penelitian
Keterangan gambar : Uji tarik adalah salah satu uji stress-
1 Kawat Elektroda 5 Nosel strain mekanik yang bertujuan untuk
2 Gas pelindung 6 Hasil lasan mengetahui kekuatan bahan terhadap gaya
3 Konduktor arus 7 Busur listrik tarik. [8] Dalam pengujiannya, bahan uji
4 Slang elektroda 8 Logam las ditarik sampai putus. Banyak hal yang
dapat kita pelajari dari hasil uji tarik.
Las busur dengan pelindung gas Biasanya yang menjadi fokus perhatian
adalah pengelasan dengan cara gas adalah kemampuan maksimum bahan
dihembuskan ke daerah las untuk tersebut dalam menahan beban tarik.
melindungi busur dan logam yang mencair Kemampuan ini umumnya disebut (ultimate
terhadap pengaruh atmosfir. [7] tensile strength) dalam bahasa Indonesia
Las busur dengan pelindung gas disebut kekuatan tarik maksimum.
biasanya dibagi dalam 2 kelompok besar Perubahan panjang dalam kurva disebut
yaitu kelompok elektroda tak terumpan dan sebagai regangan yang didefinisikan
elektroda terumpan. Kelompok elektroda sebagai perubahan panjang yang terjadi
tak terumpan menggunkan wolframe akibat perubahan statik (∆L) terhadap
panjang batang mula-mula (𝐿𝐿𝑜𝑜 ).Tegangan
yang dihasilkan pada proses ini disebut
dengan tegangan teknik (σ), dimana
didefinisikan sebagai nilai pembebanan
yang terjadi (F) pada suatu luas penampang
awal (𝐴𝐴𝑜𝑜 ). Tegangan normal tesebut akibat
beban tekan statik dapat ditentukan
berdasarkan persamaan dibawah. [9]

F
σ=
Ao

keterangan : Gambar 3.3 Proses pengelasan MIG

σ = Kekuatan Tarik (Kg/mm²)


F =Beban maksimum yang mampu ditahan
spesimen (Kg)
Ao =Luas penampang awal spesimen (mm²)

L
R

C
W

B A B

Gambar 3.2 Bentuk spesimen uji Gambar 3.4 Spesimen sudah diuji tarik
Keterangan :
4. Hasil Dan Pembahasan
Length of reduced section (A) : 57
Width (W) : 12,5 mm a. Hasil Penelitian
Radius of fillet (R) : 12,5 Pengujian tarik dilakukan sesuai
Overall lenght (L) : 200 mm dengan standar ASTM B 557M-02a
Width of grip section (C) : 20 mm (standard thest methods of tension testing
Lenght of grip section (B) : 50 wrought and cast aluminum and
a. Perencanaan kuat arus magnesium-alloy products) hasilnya
Untuk material dengan ketebalan 12 disajikan pada tabel dan grafik berikut. [11]
mm, diameter elektroda 1,2 mm dengan
menggunakan arus listrik 150 ampere, Tabel 4.1 Data hasil pengujian tarik
155 ampere dan 160 ampere.
Tegangan Nilai Rata-
b. Perencanaan tegangan Arus Nomor
Tarik rata
Tegangan yang diambil dalam penelitian (A) Spesimen
(kg/mm²) (kg/mm²)
ini adalah 24 V dan dijaga konstan 1 11,23
d. Perencanaan kecepatan pengelasan 150 2 11,22 11,06
Besarnya kecepatan yang diambil dalam 3 10,74
penelitian ini adalah 25 inchi/menit 1 14,76
dengan kecepatan konstan 155 2 10,41 13,03
3 13,91
e. Perencanaan alur 1 7,16
Dengan tebal material 12mm maka 160 2 12,07 9,47
dipilih kampuh V sesuai standar ISO 3 9,19
9692. [10]
14.00 semakin besar yang menyebabkan daya
Nilai Tegangan Tarik
13.03 ikatannya akan semakin berkurang. Kondisi
(kg/mm²) 12.00 yang ideal dicapai pada penggunaan arus
11.06 155 ampere. Sedang jika kuat arus listrik
10.00 ditambah lagi, maka akan terjadi penetrasi
9.47
yang besar pada logam induk yang
8.00
mengakibatkan sambungan akan menurun.
150 155 160
Arus Pengelasan (Ampere) Dari hasil pengujian kekerasan
menunjukan bahwa kuat arus 160 ampere
Gambar 4.1 Grafik tegangan tarik menunjukan nilai kekerasan paling tinggi
dan memberikan pengaruh yang nyata
Tabel 4.2 Data hasil pengujian kekerasan terhadap nilai kekerasan pada daerah weld
Logam Weld Logam
metal dan akan perlahan menurun nilai
ARUS HAZ HAZ
Induk Metal Induk kekerasannya pada daerah HAZ sampai
150 average
SD
77,56
0,40
77,72
0,51
81,68
3,34
76,68
2,65
77,38
0,31
daerah logam induk dan kemudian akan
average-SD
Data Rata-rata
77,16 77,21 78,34 74,03 77,07 naik lagi setelah tidak terpengaruh panas
77,68 77,83 82,79 77,85 77,38
Sortir dari proses pengelasan terlihat pada Tabel
155 average 76,18 75,64 82,86 76,44 75,62
SD 1,73 3,30 5,20 2,15 3,72 4.2. Penyebab nilai kekerasan pada daerah
average-SD 74,45 72,34 77,66 74,29 71,90
Data Rata-rata
76,83 77,00 84,91 77,30 77,28
weld metal paling tinggi adalah proses
Sortir
160 average 77,44 75,22 86,10 76,24 75,92
peleburan logam pengisi atau elektroda
average-SD
SD 0,27
77,17
4,88
70,34
2,16
83,94
4,01
72,23
2,33
73,59
karena penetrasi yang didapat dari kuat arus
Data Rata-rata
Sortir
77,45 77,40 87,09 77,43 76,95 langsung berdampak pada daerah isian
logam yang akan dilas.

5. Kesimpulan dan Saran


a. Kesimpulan
Adapun hasil dari penelitian ini yang
bisa diambil kesimpulan adalah sebagai
berikut :
1. Variasi kuat arus listrik menunjukan
bahwa sambungan las MIG memberikan
pengaruh terhadap kekuatan sambungan
las.
Gambar 4.2 Grafik nilai kekerasan 2. Kekuata sambungan las tertinggi
b. Pembahasan diperoleh pada pengelasan yang
Dari hasil pengujian tarik yang menggunakan arus 155 ampere dengan
menunjukan bahwa kuat arus listrik nilai kekuatan tarik 13,02 Kg/mm².
memberikan pengaruh yang nyata terhadap 3. Nilai kekerasan tertinggi diperoleh pada
kekuatan sambungan las, dari variasi arus daerah weld metal dengan arus 160
seperti pada gambar grafik 4.1 menunjukan ampere sebesar 87,09 BHN. Dan nilai
bahwa arus 155 ampere paling tinggi nilai kekerasan terendah pada arus 150
tegangan tariknya dan arus 160 ampere ampere sebesar 82,78 BHN pada daerah
mengalami penurunan nilai tegangan tarik weld metal.
lagi. Hal ini disebabkan oleh pemindahan
logam cair elektroda, dimana pada kuat arus b. Saran
listrik yang lebih rendah maka butiran Berdasarkan hasil penelitian yang telah
logam cair yang terbawa kuat arus listrik dilaksanakan, maka disarankan agar :
1. Sebaiknya dalam penelitian ini current and welding speed on fatigue
menggunakan mesin las otomatis life , impact energy and bead
untuk mendapatkan hasil yang lebih penetration of AA6061 joints
maksimal produced by robotic MIG welding,
2. Sebaiknya dalam penelitian yang lain indian J. Sci. Technol., vol. 5356, no.
melakukan penelitian dengan February, pp. 1–7, 2010.
perbandingan kampuh las untuk
mengetahui lebih jauh pengaruh arus [8] L. H and V. Vlack, Elements of
dalam pengelasan Materials Science and Engineering.
3. Hasil penelitian ini sebaiknya 1991.
menjadi dasar untuk penelitian
[9] W. D. Callister and J. Wiley,
sejenisnya.
Materials Science And Engineering
Sixth Edition.
DAFTAR PUSTAKA
[10] ISO 9692-1, International Standard
[1] Muku and Krishna Made I Dewa,
of joint preparation, Switzerland,
Kekuatan Sambungan Las
ISO 9692-1:2013 (E), 2013.
Aluminium Seri 1100 dengan Variasi
Kuat Arus Listrik Pada Proses Las [11] ASTM, “ASTM E92 Standard test
Metal Inert Gas ( MIG ) Cakram, methods for Vickers hardness of
vol. 3, no. 1, pp. 11–17, 2009. metallic materials,” vol. 82, no.
Reapproved, p. 10, 1997.
[2] B. Mishra, R. R. Panda, and D. K.
Mohanta, Metal Inert Gas ( Mig )
Welding Parameters Optimization,”
no. June, pp. 637–639, 2014.
[3] American Welding Society, welding
hand book, Vol. 1. 1976.
[4] Wiryosumarto, Harsono, and T.
Okimura, Teknologi Pengelasan
Logam. Jakarta: PT. Pradnya
Paramita, 2000.
[5] Tata Surdia dan S. Saito,
Pengetahuan Bahan Teknik, vol. 4,
no. PT. Pradnya Paramita, Jakarta.
1999.
[6] M. Ishak, N. F. M. Noordin, A. S. K.
Razali, L. H. A. Shah, and F. R. M.
Romlay, Effect Of Filler On Weld
Metal Structure Of Aa6061
Aluminum Alloy By Tungsten Inert
Gas Welding M., vol. 11, no. June,
pp. 2438–2446, 2015.
[7] H. R. Ghazvinloo and N. Shadfar,
Effect of arc voltage , welding