Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA PENYULUHAN

(SAP)

Pokok Bahasan : Gizi pada Balita


Sub Pokok Bahasan : Pentingnya pemenuhann Gizi Pada Balita
Sasaran : Ibu dan Balita
Waktu : 40 menit
Tempat : Rumah Keluarga Binaan
A. Latar Belakang
Konsumsi gizi yang baik dan cukup sering kali tidak bisa dipenuhi oleh seorang
anak karena factor eksternal maupun internal. Faktor eksternal menyangkut keterbatasaan
ekonomi keluarga sehingga uang yang tersedia tidak cukup untuk membeli makanan.
Sedangkan faktor internal adalah factor yang terdapat di dalam diri anak yang secara
psikologis muncul sebagai problema makan pada anak.
Anak balita memang sudah bisa makan apa saja seperti halnya orang dewasa.
Tetapi mereka pun bisa menolak bila makanan yang disajikan tidak memenuhi selera
mereka. Oleh karena itu, sebagai orang tua kita harus berlaku demokratis untuk sekali-
kali menghidangkan makanan yang memang menjadi kegemaran si anak.
Intake gizi yang baik berperan penting di dalam mencapai pertumbuhan badan yang
optimal. Dan pertumbuhan badan yang optimal ini mencakup pula pertumbuhan otak
yang sangat menentukan kecerdasan seseorang.
Faktor yang paling terlihat pada lingkungan masyarakat adalah kurangnya
pengetahuan ibu mengenai gizi-gizi yang harus dipenuhi anak pada masa pertumbuhan.
Ibu biasanya justru membelikan makanan yang enak kepada anaknya tanpa tahu apakah
makanan tersebut mengandung gizi-gizi yang cukup atau tidak, dan tidak
mengimbanginya dengan makanan sehat yang mengandung banyak gizi.
B. TUJUAN PENYULUHAN/KEGIATAN
1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti Penyuluhan ini, Ibu diharapkan dapat mengerti dan memahami
pentingnya Gizi pada Balita.
2. Tujuan Khusus
a. Setelah mengikuti penyuluhan ini, Ibu diharapkan dapat mengerti dan
memenuhi kebutuhan Gizi Pada Balita .
b. Mengetahui Menu Makanan Pada Balita
c. Mengetahui Faktor yang mempengaruhi status Gizi Balita
d. Mengetahui masalah -masalah yang mempengaruhi Gizi Balita

C. MATERI PENYULUHAN
Terlampir
D. METODE

1. Ceramah
2. Tanya Jawab

E. ALAT/MEDIA
Leaflet
F. PROSES PENYULUHAN
KEGIATAN
No Tahapan Waktu
Penyuluhan Peserta
1 Pembukaan Mengucapkan salam Menjawab salam 10 menit
Memperkenalkan diri Mendengarkan
Menyebutkan topik
2 Penyajian Menjelaskan tentang Mendengarkan dan 20 menit
materi pemenuhan Gizi pada memperhatikan
penyuluhan Balita. penyuluhan.
Menjelaskan Menu Mendengarkan
Makanan pada Balita. penyuluhan.
Menjelaskan Faktor yang
mempengaruhi status Gizi Menanyakan hal-hal yang
Balita kurang jelas.
Memberi pertanyaan pada
peserta secara lisan. Menjawab pertanyaan
3 Penutup Merangkum materi Menjawab salam 10 menit
penyuluhan
Mengucapkan salam
penutup
G. Seting Tempat

H. Evaluasi

I. Daftar Pustaka
PEMENUHAN GIZI PADA BALITA

A. Pemenuhan Gizi pada Balita


1. Mengenal Balita
Secara harfiah, balita (anak bawah lima tahun) adalah anak usia kurang dari
lima tahun sehingga bayi usia dibawah satu tahun juga termasuk dalam golongan ini.
Namun, karena faal (kerja alat tubuh semestinya) bayi usia dibawah satu tahun
berbeda dangan anak usia diatas satu tahun, banyak ilmuwan yang membedakannya.
Utamanya, makanan bayi berbentuk cair, yaitu air susu Ibu (ASI), sedangkan
umumnya anak usia lebih dari satu than mulai menerima makanan padat seperti orang
dewasa.
Anak usia 1-5 tahun dapat pula dikatakan mulai disapih atau selepas menyusu
sampai dengan pra sekolah. Sesuai dengan pertumbuhan badan dan perkembangan
kecerdasan, faal tubuhnya juga mengalami perkembangan sehingga jenis makanan
dan cara pemberiannya pun harus disesuaikan dengan keadaannya. Menurut Persagi
(1992), berdasarkan karakteristiknya balita usia 1-5 tahun dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu anak usia lebih dari 1 tahun sampai tiga tahun yang dikenal dengan “batita”
dan anak usia lebih dari tiga tahun sampai lima tahun yang dikenal dengan usia
“prasekolah”.

2. Karakteristik Balita
Anak usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif, artinya anak menerima
makanan dari apa yang disediakan ibunya. Dengan kondisi demikian, sebaiknya anak
balita diperkenalkan dengan berbagai bahan makanan. Laju pertumbuhan masa batita
lebih besar dari masa usia pra sekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang
relati lebih besar. Namun, perut yang masih lebih kecil menyebabkan jumlah
makanan yang mampu diterimanya dalam sekali makan lebih kecil daripada anak
yang usiany lebih besar. Karena itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil
dengan frekwensi sering.
3. Karakteristik Usia Prasekolah
Pada usia prasekolah, anak menjadi konsumen aktif yaitu mereka sudah dapat
memilih makanan yang disukainya. Masa ini juga sering dikenal sebagai “masa keras
kepala” akibat pergaulan dengan lingkungan terutama dengan anak-anak yang lebi
besar, anak mulai senang jajan. Jika hal ini dibiarkan, jajanan yang dipilih dapat
mengurangi asupan zat gizi yang diperlukan bagi tubuhnya sehingga anak kurang gizi.
Perilaku makan sangat dipengaruhi oleh keadaan psikologis, kesehatan, dan
social anak. Oleh karena itu, keadaan lingkungan dan sikap keluarga merupakan hal
yang sangat penting dalam pemberian makan pada anak agar tidak cemas dan
khawatir terhadap makanannya. Seperti pada orang dewasa, suasana yang
menyenangkan dapat membangkitkan selera makan anak.

4. Peran Makanan Bagi Balita


a. Makanan Sebagai Sumber Zat Gizi
Di dalam makanan terdapat 6 jenis zat gizi, yaitu karbohidrat, lemak,
protein, vitamin, mineral, dan air. Zat gizi ini diperlukan bagi balita sebagai zat
tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur.
1) Zat Tenaga
Zat gizi yang menghasilkan tenaga atau energi adalah karbohidrat, lemak dan
protein. Bagi balita, tenaga diperlukan untuk melakukan aktivitasnya serta
pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh karena itu, kebutuhan zat gizi
sumber tenaga balita relative lebih besar daripada orang dewasa.
2) Zat Pembangun
Protein sebagai zat pembangun bukan hanya untuk pertumbuhan fisik dan
perkembangan organ-organ tubuh balita, tetapi juga menggantikan jaringan
yang aus atau rusak.
3) Zat Pengatur
Zat pengatur berfungsi agar faal organ-organ dan jaringan tubuh termasuk otak
dapat berjalan seperti yang diharapkan. Berikut ini zat yang berperan sebagai
zat pengatur.
a) Vitamin, baik yang larut dalam air (vitamin B kompleks dan vitamin C)
maupun yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K)
b) Berbagai mineral, seperti kalsium, zat besi, iodium, dan flour
c) Air, sebagai alat pengatur vital kehidupan sel-sel tubuh
5. Kebutuhan Gizi Balita
Kebutuhan gizi seseorang adalah jumlah yang diperkirakan cukup memelihara
kesehatan pada umumnya. Secara garis besar, kebutuhan gizi ditentukan oleh usia,
jenis kelamin, aktivitas, berat badan, dan tinggi badan. Antara asupan zat gizi dan
pengeluarannya harus ada keseimbangan sehingga diperoleh status gizi yang baik.
Status gizi balita dapat dipantau dengan menimbang anak setiap bulan dan
dicocokkan dengan Kartu Menuju Sehat (KMS)
a. Kebutuhan Energi
Kebutuhan energi bayi dan balita relative besar dibandingkan dengan orang
dewasa, sebab pada usia tersebut pertumbuhannya masih sangat pesat.
Kecukupannya akan semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia.
b. Kebutuhan Zat Pembangun
Secara fisiologis, balita sedang dalam masa pertumbuhan sehingga kebutuhannya
relatif lebih besar daripada orang dewasa. Namun, jika dibandingkan dengan bayi
yang usianya kurang dari 1 tahun, kebutuhannya relatif lebih kecil.
c. Kebutuhan Zat Pengatur
Kebutuhan air bayi dan balita dalam sehari berfluktuasi seiring dengan
bertambahnya usia.
6. Beberapa Hal yang Mendorong Terjadinya Gangguan Gizi
Ada beberapa hal yang sering merupakan penyebab terjadinya gangguan gizi,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai penyebab langsung gangguan
gizi, khususnya gangguan gizi pada bayi dan anak usia dibawah lima tahun (balita)
adalah tidak sesuainya jumlah gizi yang mereka peroleh dari makanan dengan
kebutuhan tubuh mereka.
Berbagai faktor yang secara tidak langsung mendorong terjadinya gangguan
gizi terutama pada anak balita, antara lain sebagai berikut :
a. Ketidaktahuan Akan Hubungan Makanan dan Kesehatan
Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari sering terlihat keluarga yang
sungguh pun berpenghasilan cukup akan tetapi makanan yang dihidangkan
seadanya saja. Dengan demikian, kejadian gangguan gizi tidak hanya ditemukan
pada keluarga yang berpenghasilan kurang akan tetapi juga pada keluarga yang
berpenghasilan relatif cukup. Keadaan ini menunjukkan bahwa ketidaktahuan
akan faedah makanan bagi kesehatan tubuh mempunyai sebab buruknya mutu gizi
makanan keluarga, khususnya makanan anak balita.
Menurut dr.Soegeng Santoso, M.pd,1999, masalah gizi karena kurang
pengetahuan dan keterampilan dibidang memasak menurunkan konsumsi anak,
keragaman bahan dan keragaman jenis masakan yang mempengaruhi kejiwaan
misalnya kebosanan.
b. Prasangka Buruk Terhadap Bahan Makanan Tertentu
Banyak bahan makanan yang sesungguhnya bernilai gizi tinggi tetapi tidak
digunakan atau hanya digunakan secara terbatas akibat adanya prasangka yang
tidak baik terhadap bahan makanan itu.
Penggunaan bahan makanan itu dianggap dapat menurunkan harkat
keluarga. Jenis sayuran seperti genjer, daun ubi kayu yang kaya akan zat besi,
vitamin A dan protein dibeberapa daerah masih dianggap sebagai makanan yang
dapat menurunkan harkat keluarga.
c. Adanya Kebiasaan atau Pantangan yang Merugikan
Berbagai kebiasaan yang bertalian dengan pantang makanan tertentu masih
sering kita jumpai terutama di daerah pedesaan. Larangan terhadap anak untuk
makan telur, ikan, atapun daging hanya berdasarkan kebiasaan yang tidak ada
datanya dan hanya diwariskan secara turun temurun, padahal anak itu sendiri
sangat membutuhkan bahan makanan seperti itu guna keperluan pertumbuhan
tubuhnya.
d. Kesukaan yang Berlebihan Terhadap Jenis Makanan Tertentu
Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan tertentu atau
disebut sebagai “faddisme makanan” akan mengakibatkan tubuh tidak
memperoleh semua zat gizi yang diperlukan.
e. Jarak Kelahiran yang Terlalu Rapat
Banyak hasil penelitian membuktikan bahwa banyak anak yang menderita
gangguan gizi oleh karena ibunya sedang hamil lagi atau adiknya yang baru telah
lahir, sehingga ibunya tidak dapat merawatnya secara baik.
Anak yang dibawah usia 2 tahun masih sangat memerlukan perawatan
ibunya, baik perawatan makanan maupun perawatan kesehatan dan kasih saying,
jika dalam masa 2 tahun itu ibu sudah hamil lagi, maka bukan saja perhatian ibu
terhadap anak akan menjadi berkurang. Akan tetapi air susu Ibu (ASI) yang masih
sangat dibutuhkan anak akan berhenti keluar.
f. Sosial Ekonomi
Keterbatasan penghasilan keluarga turut menentukan mutu makanan yang
disajikan. Tidak dapat disangkal bahwa penghasilan keluarga akan turut
menentukan hidangan yang disajikan untuk keluarga sehari-hari, baik kualitas
maupun kuantitas makanan.
g. Penyakit Infeksi
Infeksi dapat menyebabkan anak tidak merasa lapar dan tidak mau makan.
Penyakit ini juga menghabiskan sejumlah protein dan kalori yang seharusnnya
dipakai untuk pertumbuhan. Diare dan muntah dapat menghalangi penyerapan
makanan.
Penyakit-penyakit umum yang memperburuk keadaan gizi adalah : diare, infeksi
saluran pernafasaan atas, tuberculosis, campak, batuk rejan, malaria
kronis,cacingan (dr.Harsono, 1999).

7. Akibat Gizi yang Tidak Seimbang


a. Kekurangan Energi dan Protein (KEP)
Berikut ini merupakan sebab-sebab kurangnya asupan energi dan protein :
1. Makanan yang tersedia kurang mengandung energi
2. Nafsu makan anak terganggu sehingga tidak mau makan
3. Gangguan dalam saluran pencernaan sehingga penyerapan sari makanan
dalam usus terganggu
4. Kebutuhan yang meningkat, misalnya karena penyakit infeksi yang tidak
diimbangi dangan asupan yang memadai. Kurangnya energy dan protein
mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan balita terganggu. Gangguan
asupan gizi yang bersifat akut menyebabkan anak kurus kering yang disebut
dengan “wasting”, yaitu berat badan anak tidak sebanding dengan tinggi badan
anak. Jika kekurangan ini bersifat menahun (kronik), artinya sedikit demi
sedikit tetapi dalam jangka waktu yang lama maka akan terjadi keadaan
stunting (anak menjadi pendek dan tinggi badan tidak sesuai dengan usianya
walaupun secara sekilas anak tidak kurus).
Berdasarkan penampilan yang ditunjukkan, KEP akut derajat berat dapat
dibedakan menjadi 3 bentuk, yaitu :
1. Marasmus
Pada kasus marasmus, anak terlihat kurus kering sehingga
wajahnya seperti orang tua. Bentuk ini dikarenakan kekurangan energi
yang dominan.
2. Kwashiorkor
Anak terlihat gemuk semua akibat oedema, yaitu penumpukan
cairan di sela-sela sel dalam jaringan. Walaupun terlihat gemuk, tetapi
otot-otot tubuhnya mengalami pengurusan (wasting). Oedema dikarenakan
kekurangan asupan protein secara akut (mendadak), misalnya karena
penyakit infeksi padahal cadangan protein dalam tubuh sudah habis.
3. Marasmik-Kwashiorkor
Bentuk ini merupakan kombinasi antara marasmus dan
kwashiorkor. Kejadian ini dikarenakan kebutuhan energy dan protein yang
meningkat tidak dapat terpenuhi dari asupannya
b. Obesitas
Timbulnya obesitas dipengaruhi berbagai faktor, diantaranya faktor
keturunan dan lingkungan. Tentu saja, faktor utama adalah asupan energy yang
tidak sesuai dengan penggunaan. Menurut Aven-Hen (1992), Obesitas sering
ditemui pada anak-anak sebagai berikut
A. Anak yang setiap menangis sejak bayi diberi susu botol
B. Bayi yang terlalu dini diperkenalkan dengan makanan padat
C. Anak dari ibu yang terlalu takut anaknya kekurangan gizi
D. Anak yang selalu mendapat hadiah cookie atau gula-gula jika ia berbuat sesuai
keinginan orang tua
E. Anak yang malas untuk beraktivitas fisik.
8. Penyebab Balita Kurang Nafsu Makan
a. Faktor penyakit organis
b. Faktor gangguan psikologi
Anak akan kehilangan nafsu makan karena hal-hal sebagai berikut :
1. Air susu Ibu yang diberikan terlalu sedikit sehingga bayi menjadi frustasi dan
menangis
2. Anak terlalu dipaksa untuk menghabiskan makanan dalam jumlah/takaran
tertenu sehingga anak menjadi tertekan
3. Makanan yang disajikan tidak sesuai dengan yang diinginkan/membosankan
4. Susu formula yang diberikan tidak disukai anak atau ukuran/dosis yang
diberikan tidak sesuai sehingga susu yang diberikan tidak dihabiskan
5. Suasana makan tidak menyenangkan anak tidak pernah makan bersama kedua
orang tuanya
c. Faktor pengaturan makanan yang kurang baik
Berikut ini beberapa upaya untuk mengatasi anak suli makan (faktor
organis, faktor psikologi, atau faktor pengaturan makanan)
1. Jika penyebabnya faktor organis, yang harus dilakukan adalah dengan
penyembuhan penyakitnya melalui dokter
2. Jika penyebabnya faktor psikologis, berikut beberapa hal yang dapat
dilakukan
a) Makanan dibuat dengan resep masakan yang mudah dan praktis sehingga
dapat menggugah selera makan anak dan disajikan semenarik mungkin
b) Jangan memaksa anak untuk menghabiskan makanan,orang tua harus
sabar saat member makan anak
c) Upayakan suasana makan menyenangkan, sebaiknya waktu makan
disesuaikan dengan waktu makan keluarga karena anak punya semangat
untuk menghabiskan makanannya dengan bersama keluarga (orang tua)
d) Pembicaraan yang kurang menyenangkan terhadap suatu jenis makanan
sebaiknya dihindari dan ditanamkan pada anak memilih bahan/jenis
makanan yang baik
3. Jika penyebabnya adalah faktor pengaturan makanan dapat dilakukan
beberapa hal berikut ini :
a. Diusahakan waktu makan teratur dan makanan diberikan pada saat anak
benar-benar lapar dan haus
b. Makanan selingan dapat diberikan asalkan makanann tersebut tidak
membuat anak menjadi kenyang agar anak tetap memakan nasi
c. Untuk membeli makanan jajanan sebagai makanan selingan, sebaiknya
didampingi orang tuanya sehingga anak dapat memilih makanan jajan
yang baik dari segi kandungan gizi maupun kebersihannya
d. Kuantitas dan kualitas makanan diberikan harus disesuaikan dengan
kebutuhan/kecukupan gizinya sehingga anak tidak menderita gizi kurang
atau gizi lebih
e. Bentuk dan jenis makanan yang diberikan harus disesuaikan dengan tahap
pertumbuhan dan perkembangan anak

B. Menu Makanan Balita


Makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhab fisik dan kecerdasan
anak. Oleh karenanya, pola makanan yang baik dan teratur perlu diperkenalkan sejak dini,
antara lain dengan pengenalan jam-jam makan dan variasi makanan.
Kebutuhan bahan makanan itu perlu diatur, sehingga anak mendapatkan asupan
gizi yang diperlukannya secara utuh dalam satu hari. Waktu-waktu yang disarankan
adalah :
 Pagi hari waktu sarapan
 Pukul 10.00 sebagai selingan, tambahkan susu
 Pukul 12.00 waktu makan siang
 Pukul 16.00 sebagai selingan
 Pukul 18.00 waktu makan malam
 Sebelum tidur malam tambahkan susu
 Jangan lupa kumur-kumur dengan air putih atau gosok gigi
Contoh Pola Jadwal Pemberian Makanan Menjelang Anak Usia 1 tahun. Jadwal
makanan ini fleksibel (dapat bergeser, tetapi jangan terlalu jauh)
 Pukul 06.00 : Susu
 Pukul 08.00 : Bubur saring/Nasi tim
 Pukul 10.00 : Susu/Makanan selingan
 Pukul 12.00 : Bubur saring/Nasi tim
 Pukul 14.00 : Susu
 Pukul 16.00 : Makanan selingan
 Pukul 18.00 : Bubur saring/Nasi tim
 Pukul 20.00 : Susu
Gizi makanan sangat mempengaruhi pertumbuhan termasuk pertumbuhan sel
otak sehingga dapat tumbuh optimal dan cerdas, untuk ini makanan peril diperhatikan
keseimbangan gizinya sejak janin melalui makanan ibu hamil. Petumbuhan sel otak akan
berhenti pada usia 3-4 tahun.
Pemberian makanan balita sebaiknya beraneka ragam, menggunakan makanan
yang telah dikenalkan sejak bayi usia enam bulan yang telah diterima oleh bayi, dan
dikembangkan lagi dengan bahan makanan sesuai makanan keluarga.
Makanan selingan tidak kalah pentingnya diberikan pada jam diantara makan
pokoknya. Makanan selingan dapat membantu jika anak tidak cukup menerima porsi
makan karena anak susah makan, namun pemberian yang berlebihan pada makanan
selingan tidak baik karena akan mengganggu nafsu makannya.
Jenis makanan selingan yang baik adalah yang mengandung zat gizi lengkap
yaitu sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral, seperti tahu isi daging, sayuran,
roti isi yogurt, ayam, pizza, dan lain-lain.
Fungsi Makanan Selingan adalah :
1. Memperkenalkan aneka jenis bahan makanan yang terdapat dalam bahan makanan
selingan
2. Melengkapi zat-zat gizi yang mungkin kurang dalam makanan utamanya (pagi, siang
dan malam)
3. Mengisi kekurangan kalori akibat banyaknya aktivitas anak pada usia balita
Makanan selingan yang baik dibuat sendiri dirumah sehingga sangat hygienis
dibandingkan jika dibeli diluar rumah.
Bila terpaksa membeli, sebaiknya dipilih tempat yang bersih dan dipilih yang
lengkap gizi, jangan hanya sumber karbohidrat saja seperti hanya mengandung gula saja.
Makanan ini jika diberikan terus menerus sangan berbahaya jika sejak kecil hanya
senang yang manis-manis saja maka kebiasaan ini akan dibawa sampai dewasa dan
resiko mendapat kegemukan menjadi meningkat. Kegemukan merupakan faktor resiko
pada usia yang relatif mudah dapat terserang penyakit tertentu.
C. Menu Untuk Balita yang Sedang Sakit
Penyakit balita secara umum biasanya adalah gejala panas, diare, batuk, muntah.
Tindakan terbaik adalah berkonsultasi ke dokter supaya lekas ditangani dengan obat yang
tepat, sehingga cepat sembuh. Untuk mempercepat kesembuhan balita, bisa diimbangi
dengan pengaturan makanannya
1. Untuk balita dengan panas tinggi
Penderita penyakit yang disertai panas tinggi kebutuhan gizinya meningkat. Hal ini
disebabkan metabolism tubuh meningkat menyerap zat-zat gizi menurun dan adanya
faktor lain yang berhubungan dengan penyakitnya. Nafsu makan pun biasanya
menurun.
Makanan hendaknya memenuhi syarat-syarat:
a. Konsistensinnya lunak. Makanan pokok seperti Nasi tim, kentang pure, bubur,
dan lain-lain
b. Kebutuhan kalori meningkat sebaiknya diberikan porsi kecill dan sering
c. Sumber protein seperti susu, daging, hati, ikan, telur, tahu, tempe, dan kacang-
kacangan diberikan lebih dari porsi normalnya
d. Kebutuhan air diberikan lebih banyak. Karena suhu lebih tinggi dari normal
sehingga banyak terjadi penguapan melalui keringat. Sari buah sangat baik karena
mengandung air, vitamin dan mineral
e. Makanan minuman tidak boleh diberikan terlalu panas atau terlalu dingin
2. Untuk balita dengan gejala mencret (diare)
Diare pada bayi dan anak merupakan penyakit utama di Indonesia. Diare
diartikan sebagai buang air besar (BAB) tidak normal atau bentuk tinja encer dengan
frekuensi lebih banyak dari biasanya.
Penyebab diare ada beberapa faktor, yaitu :
a. Infeksi. Infeksi virus atau infeksi bakteri pada saluran pencernaan merupakan
penyebab diare pada anak
b. Malabsorpsi. Gangguan absorpsi biasanya terhadadap zat-zat gizi yaitu
karbohidrat (umumnya laktosa), lemak dan protein
c. Makanan basi, beracun, atau alergi terhadap makanan tertentu
d. Faktor psikologis. Rasa takut, cemas (umumnya jarang terjadi pada anak).
Akibat diare (mencret), anak akan kehilangan banyak air dan elektrolit
(dehidrasi) yang menyebabkan tubuh kekurangan cairan, gangguan gizi sebab
masukkan makanan kurang sedang pengeluaran bertambah, dan hipoglikemia yaitu
kadar gula darah turun di bawah normal.
Pengaturan makanannya secara umum adalah :
a. Cairan harus cukup untuk menggantikan cairan yang hilang, baik melalui muntah
maupun diare. Setiap kali buang air besar beri minum satu gelas larutan oralit atau
larutan gula garam.
b. Berikan makanan yang rendah serat, cukup energi, protein, vitamin dan mineral.
c. Suhu makanan dan minuman lebih baik dalam keadaan hangat, tidak panas atau
terlalu dingin.
d. Bentuk makanan lunak.
3. Untuk balita dengan gejala penyakit saluran pernafasan
Penyakit saluran pernafasan yang dikenal adalah bronchitis, dan umumnya
disebabkan virus, misalnya virus influenza. Selain juga karena cuaca dan polusi udara.
Mengatur makanannya dengan :
a. Banyak diberi minum, terutama sari buah-buahan sebaiknya diberikan dalam
keadaan hangat.
b. Makanan diberikan dalam keadaan lunak.
c. Susu dapat diberikan dalam bentuk minuman atau campuran seperti syrup dan
lain-lain. Bisa juga dibentuk makanan kecil seperti pudding.
d. Hindari makanan yang digoreng.
4. Untuk balita dengan gejala muntah
Muntah adalah gejala dari beberapa penyakit antara lain keracunan makanan,
infeksi appendiks, gula darah yang sangat rendah, dan lain-lain.
Syarat makanannya :
a. Berikan makanan lunak yang mudah dicerna, dalam porsi kecil bertahap dan
sering.
b. Banyak cairan untuk mengganti cairan yang keluar, seperti sari buah yang segar
dan susu campur buah supaya segar.
c. Cukup protein, meningkat karena penyakitnya yang membutuhkan peningkatan
protein dibandingkan dengan kebutuhan biasa. Bisa diperoleh dari telur, susu,
daging, ayam dan lain-lain.
d. Lemak perlu diberikan, untuk menberi rasa dan meningkatkan kalori. Tetapi
berikan makanan yang mudah dicerna dan secukupnya, karena kelebihan lemak
akan membuat mual.
5. Untuk balita dengan gejala batuk
Gejala batuk bisa bercampur dengan gejala lain, misalnya pada penyakit
bronchitis yang disertai panas, demikian juga penyakit lain seperti flu dan sebagainya.
Pengaturan makanan yang perlu diperhatikan :
a. Kalau ada gejala panas, beri makanan lunak dan banyak cairan ataupun minum
b. Nafsu makan yang menurun akibat batuk terus menerus harus diimbangi makan
yang cukup supaya kondisi tubuh membaik
c. Untuk memudahkan pengaturan makanannya, beri pori kecil tetapi sering dan
bertahap supaya kebutuhan gizinya terpenuhi
d. Cukup protein karena penyakit dengan gejala batuk membutuhkan protein lebih
tinggi dari biasanya
e. Jangan makan gorengan atau bumbu yang merangsang agar tidak menimbulkan
batuk
Kurangi mengkonsumsi yang terlalu manis dan bisa menimbulkan batuk seperti
coklat, permen, manisan, dan minuman manis
f. Setelah anak sembuh, kalau berat badannya turun perlu ditingkatkan konsumsi
makanannya.
D. Kebutuhan Energi dan Zat Gizi Balita
 Perhitungan Berat Badan Ideal
a. Berat badan ideal anak umur 1 tahun = 3 x BB Lahir
b. Berat badan ideal anak umur 2 tahun = 4 x BB Lahir