Anda di halaman 1dari 43

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Penyakit

1. Definisi

Tuberkulosis atau TB paru adalah suatu penyakit menular yang paling

sering mengenai parenkim paru, biasanya disebabkan oleh Mycobacterium

tuberculosis. TB paru dapat menyebar ke setiap bagian tubuh, termasuk

meningen, ginjal, tulang dan nodus limfe (Smeltzer&Bare, 2015). Selain

itu TB paru adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium

tuberculosis, yakni kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru atau di

berbagai organ tubuh lainnya yang mempunyai tekanan parsial oksigen

yang tinggi (Tabrani Rab, 2010). Pada manusia TB paru ditemukan dalam

dua bentuk yaitu: (1) tuberkulosis primer: jika terjadi pada infeksi yang

pertama kali, (2) tuberkulosis sekunder: kuman yang dorman pada

tuberkulosis primer akan aktif setelah bertahun-tahun kemudian sebagai

infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (Somantri, 2009).

Menurut Robinson, dkk (2014),TB Paru merupakan infeksi akut atau

kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis di tandai dengan

adanya infiltrat paru, pembentukan granuloma dengan perkejuan, fibrosis

serta pembentukan kavitas.

2. Anatomi Fisiologi

Sistem pernapasan terdiri dari hidung, faring, laring, trakea,

bronkus, sampai dengan alveoli dan paru-paru (Pearce, 2009).

8
9

a. Hidung

Hidung merupakan seluran pernapasan yang pertama, nares

anterior adalah saluran-saluran didalam rongga hidung. Saluran-saluran

itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum. Rongga

hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh

darah, dan bersambung dengan lapisan faring dan dengan selaput lendir

sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam rongga hidung. Septum

nasi memisahkan kedua cavum nasi. Struktur ini tipis terdiri dari tulang

dan tulang rawan, sering membengkok kesatu sisi atau sisi yang lain,

dan dilapisi oleh kedua sisinya dengan membran mukosa. Tulang

lengkung yang halus dan melekat pada dinding lateral dan menonjol ke

cavum nasi adalah : konka superior, media, dan inferior. Tulang-tulang

ini dilapisi oleh membran mukosa. Dasar cavum nasi dibentuk oleh os

frontal dan os palatinus sedangkan atap cavum nasi adalah celah sempit

yang dibentuk oleh os frontal dan os sphenoidale. Membran mukosa

olfaktorius, pada bagian atap dan bagian cavum nasi yang berdekatan,

mengandung sel saraf khusus yang mendeteksi bau.

Sinus paranasalis adalah ruang dalam tengkorak yang berhubungan

melalui lubang kedalam cavum nasi, sinus ini dilapisi oleh membran

mukosa yang bersambungan dengan cavum nasi.

b. Faring

Faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan

dan jalan makanan, terdapat dibawah dasar tengkorak, di belakang

rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Hubungan
10

faring dengan organ- organ lain yaitu keatas berhubungan dengan

rongga hidung, dengan perantaraan lubang yang bernama koana,

kedepan berhubungan dengan rongga mulut, tempat hubungan ini

bernama ismus fausium, kebawah terdapat dua lubang kedepan lubang

laring dan kebelakang lubang esofagus. Dibawah selaput lendir terdapat

jaringan ikat, juga dibeberapa tempat terdapat folikel getah bening,

disebelahnya terdapat dua tonsil kiri dan kanan dari tekak, disebelah

belakang terdapat epiglotis.

c. Trakea

Trakea merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16

sampai 20 cincin yang terdiri dari tulang rawan yang terbentuk seperti

kuku kuda (huruf C). Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang

berbulu getar yang disebut sel bersilia. Panjang trakea 9-11 cm dan

dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos. Sel-

sel bersilia berguna untuk mengeluarkan benda-benda asing yang

masuk bersamaan dengan udara pernapasan, trakea dipisahkan oleh

karina menjadi dua bronkus yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri.

d. Bronkus

Bronkus merupakan lanjutan dari trakea, terdiri dari dua buah yang

terdapat pada ketinggian vertebra torakalis IV dan V, mempunyai

struktur serupa dengan trakea dan di lapisi oleh jenis sel yang sama,

bronkus itu berjalan ke bawah dan ke samping kearah tampuk paru-

paru. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari pada bronkus

kiri, terdiri dari 6-8 cincin dan mempunyai tiga cabang. Bronkus kiri
11

lebih panjang dan lebih ramping dari pada bronkus kanan, terdiri dari 9-

12 cincin dan mempunyai dua cabang. Bronkus ini bercabang-cabang,

cabang yang lebih kecil di sebut bronkiolus (bronkioli). Pada bronkioli

tidak terdapat cincin lagi, dan pada ujung bronkioli terdapat gelembung

paru atau alveoli.

e. Paru-paru

Paru- paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar

terdiri dari gelembung–gelembung alveoli, banyaknya gelembung paru-

paru ini kurang lebih 700.000.000 buah (paru-paru kiri dan kanan).

Paru-paru terbagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan, terdiri dari tiga

lobus yaitu lobus pulmo dekstra superior, lobus media, dan lobus

inferior dan paru-paru kiri dua lobus yaitu lobus superior dan lobus

inferior. Tiap-tiap lobus terdiri dari belahan yang lebih kecil yang

bernama segmen. Paru-paru kiri mempunyai 10 segmen yaitu 5 buah

segmen pada lobus superior dan 5 segmen pada inferior, paru-paru

kanan mempunyai 10 segmen, 5 segmen pada lobus superior, 2 buah

segmen pada pada lobus medialis dan 3 buah segmen pada lobus

inferior.

Paru-paru terletak pada rongga dada yang diantaranya menghadap

ke tengah rongga dada kavum mediastinum. Paru-paru dibungkus oleh

selaput yang bernama pleura. Pleura dibagi menjadi dua yaitu pleura

viseral (selaput dada pembungkus) yaitu selapu paru yang langsung

membungkus paru-paru. Dan pleura parietal yaitu selaput yang

melapisi rongga dada sebelah luar. Antara kedua pleura ini terdapat
12

rongga (kavum) yang disebut kavum pleura. Pada keadaan normal,

kavum pleura ini vakum (hampa udara) sehingga paru-paru dapat

berkembang kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat) yang

berguna untuk meminyaki permukaannya, menghindarkan gesekan

antara paru-paru dan dinding dada sewaktu ada gesekan bernafas.

Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar

yang mengandung oksigen ke dalam tubuh (inspirasi) serta

mengeluarkan udara yang mengandung karbondioksida sisa oksidasi

keluar tubuh (ekspirasi) yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan

antara rongga pleura dan paru-paru. Proses pernapasan tersebut terdiri

dari 3 bagian yaitu:

1) Ventilasi pulmoner

Ventilasi merupakan proses inspirasi dan ekspirasi yang

merupakan proses aktif dan pasif yang mana otot-otot interkosta

interna berkontraksi dan mendorong dinding dada sedikit ke arah

luar, akibatnya diafragma turun dan otot diafragma berkontraksi.

Pada ekspirasi diafragma dan otot-otot interkosta eksterna

relaksasi dengan demikian rongga dada menjadi kecil kembali,

maka udara terdorong keluar.

2) Difusi Gas

Difusi Gas adalah bergeraknya gas CO2 atau partikel lain dari area

yang bertekanan tinggi kearah yang bertekanan rendah. Difusi gas

melalui membran pernafasan yang dipengaruhi oleh factor

ketebalan membran, luas permukaan membran, komposisi


13

membran, koefisien difusi O2 dan CO2 serta perbedaan tekanan

gas O2 dan CO2. Dalam Difusi gas ini pernapasan yang berperan

penting yaitu alveoli dan darah.

3) Transportasi Gas

Transportasi gas adalah perpindahan gas dari paru ke jaringan dan

dari jaringan ke paru dengan bantuan darah (aliran darah).

Masuknya O2 kedalam sel darah yang bergabung dengan

hemoglobin yang kemudian membentuk oksihemoglobin sebanyak

97% dan sisa 3 % yang ditransportasikan ke dalam cairan plasma

dan sel .

Gambar 1. Anatomi Sistem Pernafasan

3. Etiologi

Penyebab penyakit Tuberkulosis adalah Mycobakterium

Tuberkulosa. Bakteri ini mempunyai ciri sebagai berikut : bakteri

berbentuk basil / batang, berukuran panjang 1-4 mikron dan tebal 0,3-0,6

mikron, bersifat aerob, terdiri atas asam lemak (lipid) peptidoglikan dan

arabionomanan, hidup berpasangan atau berkelompok, tahan asam, dapat

bertahan hidup lama pada udara kering maupun pada udara dingin dan
14

suasana lembab dan gelap dapat bertahan sampai berbulan-bulan, mudah

mati dengan sinar ultraviolet dan dapat tahan hidup lama pada suhu kamar,

sudah mati pada air mendidih (5 menit pada suhu 800C dan 20 menit pada

suhu 600C), penularan tuberkulosis terjadi karena kuman dibatukkan atau

dibersihkan keluar menjadi droplet nuklei dalam udara (Smeltzer&Bare,

2015).

4. Tanda dan Gejala

Arif Mutaqqin (2012), menyatakan secara umum gejala klinik TB

paru primer dengan TB paru DO sama. Gejala klinik TB Paru dapat dibagi

menjadi 2 golongan, yaitu gejala respiratorik (atau gejala organ yang

terlibat ) dan gejala sistematik.

a. Gejala respratorik

1) Batuk

Keluhan batuk, timbul paling awal dan merupakan gangguan yang

paling sering dikeluhkan.

2) Batuk darah

Keluhan batuk darah pada klien TB Paru selalu menjadi alas an

utama klien untuk meminta pertolongan kesehatan.

3) Sesak nafas

Keluhan ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas

atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura,

pneumothoraks, anemia, dan lain-lain.

4) Nyeri dada

Nyeri dada pada TB Paru termasuk nyeri pleuritik ringan. Gejala


15

ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena TB.

b. Gejala sistematis

1) Demam

Keluhan yang sering dijumpai dan biasanya timbul pada sore atau

malam hari mirip demam atau influenza, hilang timbul, dan

semakin lama semakin panjang serangannya, sedangkan masa

bebas serangan semakin pendek.

2) Keluhan sistemis lain

Keluhan yang biasa timbul ialah keringat malam, anoreksia,

penurunan berat badan, dan malaise.Timbulnya keluhan biasanya

bersifat gradual muncul dalam beberapa minggusampai bulan.Akan

tetapi penampilan akut dengan batuk, panas, dan sesak nafas.

Gejala reaktivasi tuberkulosis berupa demam menetap yang naik

dan turun (hectic fever), berkeringat pada malam hari yang menyebabkan

basah kuyup (drenching night sweat), kaheksia, batuk kronik dan

hemoptisis.Pemeriksaan fisik sangat tidak sensitif dan sangat non spesifik

terutama pada fase awal penyakit.Pada fase lanjut diagnosis lebih mudah

ditegakkan melalui pemeriksaan fisik, terdapat demam penurunan berat

badan, crackle, mengi, dan suara bronkial. (Darmanto, 2009)

Gejala klinis yang tampak tergantung dari tipe infeksinya.Pada tipe

infeksi yang primer dapat tanpa gejala dan sembuh sendiri atau dapat

berupa gejala neumonia, yakni batuk dan panas ringan. Gejala TB, primer

dapat juga terdapat dalam bentuk pleuritis dengan efusi pleura atau dalam

bentuk yang lebih berat lagi, yakni berupa nyeri pleura dan sesak napas.
16

Tanpa pengobatan tipe infeksi primer dapat sembuh dengan sendirinya,

hanya saja tingkat kesembuhannya 50%. TB postprimer terdapat gejala

penurunan berat badan, keringat dingin pada malam hari, tempratur

subfebris, batuk berdahak lebih dari dua minggu, sesak napas, hemoptisis

akibat dari terlukanya pembuluh darah disekitar bronkus, sehingga

menyebabkan bercak-bercak darah pada sputum, sampai ke batuk darah

yang masif, TB postprimer dapat menyebar ke berbagai organ sehingga

menimbulkan gejala-gejala seperti meningitis, tuberlosis miliar, peritonitis

dengan fenoma papan catur, tuberkulosis ginjal, sendi, dan tuberkulosis

pada kelenjar limfe dileher, yakni berupa skrofuloderma. (Tabrani Rab,

2011)

5. Patofisiologi

Penyebaran kuman Mycrobacterium tuberkolusa bisa masuk

melalui tiga tempat yaitu saluran pernapasan, saluran pencernaan dan

adanya luka yang terbuka pada kulit. Infeksi kuman ini sering terjadi

melalui udara (airbone) yang cara penularannya dengan droplet yang

mengandung kuman dari orang yang terinfeksi sebelumnya. Penularan

tuberculosis paru terjadi karena penderita Tuberculosis membuang ludah

dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan

keluar. Dalam dahak dan ludah terdapat basil tuberculosis, sehingga basil

ini mengering lalu diterbangkan angin kemana-mana. Kuman terbawa

angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh

manusia melalui paru-paru dan bersarang serta berkembangbiak di paru-

paru. Pada permulaan penyebaran akan terjadi beberapa kemungkinan


17

yang 17biasa muncul yaitu penyebaran limfohematogen yang dapat

menyebar melewati getah bening atau pembuluh darah. Kejadian ini dapat

meloloskan kuman dari kelenjar getah bening dan menuju aliran darah

dalam jumlah kecil yang dapat menyebabkan lesi pada organ tubuh yang

lain. Basil tuberkolusa yang 17ias mencapai permukaan alveolus biasanya

di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari 1-3 basil. Dengan adanya

basil yang mencapai ruang alveolus, ini terjadi dibawah lobus atas paru-

paru atau dibagian atas lobus bawah, maka hal ini 17ias membangkitkan

reaksi peradangan (Smelzer & Bare, 2015).


18

6. Pathway

Respon batuk

Pengeluaran Droplet

Resiko Penularan Infeksi

Stress Meningkat

Ketidaklengkapan informsi proses


penyakit
Sumber : Aplikasi NANDA NIC NOC, 2015
Defisiensi Pengetahuan

Gambar 2. Pathway Tuberculosis


19

7. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi ialah foto rontgen dada (thorak). Pada

pemeriksaan foto thoraks Tuberculosis dapat memberikan bermacam-

macam bentuk. Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai kelainan

Tuberculosis yang masih aktif, bila didapatkan gambaran bayangan

berawan/nodular di bagian atas paru, gambaran kavitas (lubang pada

paru), dan bayangan bercak milier (berbintik-bintik putih seukuran

jarum pentul yang berupa gambaran nodul-nodul (becak bulat) miliar

yang tersebar pada lapangan paru).

b. Pemeriksaan Bakteriologi

Pemeriksaan bakteriologi untuk menentukan kuman tuberkulosis

mempunyai arti yang sangat penting dalam penegakkan diagnosa.

Macam-macam pemeriksaan bakteriologik ialah, pemeriksaan yang

menggunakan mikroskop biasa yang diberikan pewarnaan khusus

dimana bakteri Mycobacterium tuberculosa akan tetap tahan terhadap

asam (tetap memberikan warna merah) sehingga disebut sebagai

bakteri tahan asam (BTA). Dahak diambil sebanyak 3 kali yaitu dahak

sewaktu, pagi dan sewaktu yang dilakukan secara berturut-turut, bila

didapatkan hasil 2 kali positif maka dikatakan mikroskopik BTA (+),

bila 1 kali positif, 2 kali negatif maka pemerisaan BTA perlu diulang

kembali. Pada pemeriksaan ulangan didapatkan 1 kali positif maka

dikatakan mikroskopik BTA (+), sedangkan bila tiga kali negatif hasil

pemeriksan dikatakan BTA(-). Hasil pemeriksaan darah rutin kurang


20

menunjukkan indikator yang spesifik untuk tuberkulosis. Biasanya

akan dijumpai peningkatan Laju Endap Darah (LED) namun nilai LED

yang normal tidak menyingkirkan diagnosis. Selain itu dapat dijumpai

limfositosis (tingginya kadar limfosit-salah satu jenis sel darah putih)

pada hitung jenis leukosit (sel darah putih ).

c. Pemeriksaan test tuberculin

Pemeriksaan test tuberkulin ini sangat berarti dalam usaha

mendeteksi infeksi Tuberculosis. Di Indonesia karena angka prevalensi

(kasus) Tuberculosis paru yang tinggi maka test tuberkulin sebagai alat

bantu diagnosis. Ekstrak basil tuberkel (tuberkulin) disuntikan ke

dalam lapisan intrakutan di lengan bawah, sekitar 10 cm dari siku. 0,1

ml Purified Protein Derivate (PPD) yang dimurnikan di suntikan

dengan menggunakan jarum 1,25 cm no. 26 atau 27 ditusukan

kebawah kulit dengan bevel jarum menghadap ke atas. Hasil

pemeriksaan akan terlihat 48 sampai 72 jam setelah suntikan. Test

dianggap positif bila terjadi pembengkakan atau kemerahan melebihi

ukuran 5 mm sampai 10 mm.

8. Komplikasi

Pada anak dengan tuberculosis biasanya sering terjadi komplikasi.

Menurut Wallgren, ada 3 komplikasi dasar Tuberculosis paru pada

anak, yaitu penyebaran limfohematogen, Tuberculosis endobronkial,

dan Tuberculosis paru kronik. Sebanyak 0,5-3% penyebaran

limfohematogen akan menjadi Tuberculosis milier atau meningitis

Tuberculosis, hal ini biasanya terjadi 3-6 bulan setelah infeksi primer.
21

Tuberkulosis endobronkial (lesi segmental yang timbul akibat

pembesaran kelenjar regional) dapat terjadi dalam waktu yang lebih

lama (3-9 bulan). Terjadinya Tuberculosis paru kronik sangat

bervariasi, Tuberculosis paru kronik biasanya terjadi akibat reaktivasi

kuman di dalam lesi yang tidak mengalami resolusi sempurna.

Reaktivasi ini jarang terjadi pada anak, tetapi sering pada remaja dan

dewasa muda.

Tuberkulosis ekstrapulmonal dapat terjadi pada 25-30% anak yang

terinfeksi Tuberculosis. Tuberculosis tulang dan sendi terjadi pada 5-

10% anak yang terinfeksi, dan paling banyak terjadi dalam 1 tahun

tetapi dapat juga 2-3 tahun kemudian. Tuberculosis ginjal biasanya

terjadi 5-25 tahun setelah infeksi primer (Black, 2014).

9. Penatalaksanaan

Menurut Zain (2001) membagi penatalaksanaan tuberkulosis paru

menjadi tiga bagian, pengobatan, dan penemuan penderita (active case

finding).

a. Pemeriksaan kontak, yaitu pemeriksaan terhadap individu yang

bergaul erat dengan penderita TB paru BTA positif. Pemeriksaan

meliputi tes tuberkulin, klinis dan radiologis. Bila tes tuberkulin

positif, maka pemeriksaan radiologis foto thoraks diulang pada 6

dan 12 bulan mendatang. Bila masih negatif, diberikan BCG

vaksinasi. Bila positif, berarti terjadi konversi hasil tes tuberkulin

dan diberikan kemoprofilaksis.


22

b. Mass chest X-ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap kelompok

kelompok populasi tertentu misalnya: Karyawan rumah

sakit/Puskesmas/balai pengobatan, Penghuni rumah tahanan.

c. Vaksinasi BCG

Tabrani Rab (2010), Vaksinasi BCG dapat melindungi anak

yang berumur kurang dari 15 tahun sampai 80%, akan tetapi

dapat mengurangi makna pada tes tuberkulin. Dilakukan

pemeriksaan dan pengawasan pada pasien yang dicurigai

menderita tuberkulosis, yakni:

1) Pada etnis kulit putih dan bangsa Asia dengan tes Heaf positif

dan pernah berkontak dengan pasien yang mempunyai

sputum positif harus diawasi.

2) Walaupun pemeriksaan BTA langsung negatif, namun tes

Heafnya positif dan pernah berkontak dengan pasien penyakit

paru. Yang belum pernah mendapat kemoterapi

dan mempunyai kemungkinan terkena.

3) Bila tes tuberkulin negatif maka harus dilakukan tes ulang

setelah 8 minggu dan ila tetap negatif maka dilakukan

vaksinasi BCG. Apabila tuberkulin sudah mengalami

konversi, maka pengobatan harus diberikan.

d. Kemoprofilaksis dengan mengggunakan INH 5 mg/kgBB selama

6-12 bulan dengan tujuan menghancurkan atau mengurangi

populasi bakteri yang masih sedikit. Indikasi kemoprofilaksis

primer atau utama ialah bayi yang menyusu pada ibu dengan BTA
23

positif, sedangkan kemoprofilaksis sekunder diperlukan bagi

kelompok berikut:

1) Bayi dibawah lima tahun dengan hasil tes tuberkulin

positif karena resiko timbulnya TB milier dan meningitis TB,

2) Anak dan remaja dibawah dibawah 20 tahun dengan hasil

tuberculin positif yang bergaul erat dengan penderita TB

yang menular,

3) Individu yang menunjukkan konversi hasil tes tuberkulin dari

negative menjadi positif,

4) Penderita yang menerima pengobatan steroid jangka

panjang,

5) Penderita diabetes melitus.

e. Komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) tentang penyakit

tuberkulosis kepada masyarakat di tingkat puskesmas maupun

ditingkat rumah sakit oleh petugas pemerintah maupun petugas

LSM (misalnya Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Paru

Indonesia-PPTI). (Mutaqqin Arif, 2012)

Arif Mutaqqin (2012), mengatakan tujuan pengobatan pada

penderita TB paru selain mengobati, juga untuk mencegah kematian,

kekambuhan, resistensi terhadap OAT, serta memutuskan mata rantai

penularan. Untuk penatalaksanaan pengobatan tuberkulosis paru,

berikut ini adalah beberapa hal yang penting untuk diketahui.

Mekanisme Kerja Obat anti-Tuberkulosis (OAT)

1) Aktivitas bakterisidal, untuk bakteri yang membelah cepat.


24

a) Ekstraseluler, jenis obat yang digunakan ialah Rifampisin (R)

dan Streptomisin (S).

b) Intraseluler, jenis obat yang digunakan ialah Rifampisin dan

Isoniazid (INH).

2) Aktivitas sterilisasi, terhadap the persisters (bakteri semidormant)

a) Ekstraseluler, jenis obat yang digunakan ialah Rimpafisin dan

Isoniazid.

b) Intraseluler, untuk slowly growing bacilli digunakan Rifampisin

dan Isoniazid. Untuk very slowly growing bacilli, digunakan

Pirazinamid (Z).

3) Aktivitas bakteriostatis, obat-obatan yang mempunyai aktivitas

bakteriostatis terhadap bakteri tahan asam.

a) Ekstraseluler, jenis obat yang digunakan ialah Etambutol (E),

asam para-amino salistik (PAS), dan sikloserine.

b) Intraseluler, kemungkinan masih dapat dimusnahkan oleh

Isoniazid dalam keadaan telah terjadi resistensi sekunder.

Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi dua fase yaitu fase intensif

(2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan).Panduan obat yang digunakan

terdiri atas obat utama dan obat tambahan. Jenis obat utama yang

digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin,

Isoniazid, Pirazinamid, Streptomisin, dan Etambutol (Depkes RI, 2004)

Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu

berdasarkan lokasi TB paru, berat ringannya penyakit, hasil

pemeriksaan bakteriologi, apusan sputum dan riwayat pengobatan


25

sebelumnya.Disamping itu, perlu pemahaman tentang strategi

penanggulangan TB paru yang dikenal sebagai Directly Observed

Treatment Short Course (DOTSC).

DOTSC yang direkomendasikan oleh WHO terdiri atas lima

komponen, yaitu:

a. Adanya komitmen politis berupa dukungan para pengambil

keputusan dalam penanggulangan TB paru.

b. Diagnosis TB paru melalui pemeriksaan sputum secara mikroskopik

langsung, sedangkan pemeriksaan penunjang lainnya seperti

pemeriksaan radiologis dan kultur dapat dilaksanakan di unit

pelayanan yang memiliki

sarana tersebut.

c. Pengobatan TB paru dengan paduan OAT jangka pendek dibawah

pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO),

khususnya dalam dua bulan pertama di mana penderita harus minum

obat setiap hari. Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka

pendek yang cukup. Pencatatan dan pelaporan yang baku.


26

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Pada dasarnya, tujuan pengkajian adalah mengumpulkan data objektif dan

subjektif dari klien.Adapun data yang terkumpul mencakup informasi klien,

keluarga, masyarakat, lingkungan, atau budaya. Hal-hal yang perlu

diperhatikan selama pengkajian adalah sebagai berikut :

a. Memahami secara keseluruhan situasi yang sedang dihadapi oleh klien

dengan cara memperhatikan kondisi fisik, psikologi, emosi,

sosiokultural, dan spiritual yang bisa mempengaruhi status kesehatannya.

b. Mengumpulkan semua infomasi yang bersangkutan dengan masa lalu

dan saat ini, bahkan sesuatu yang berpotensi menjadi masalah bagi klien,

guna membuat suatu basis data yang lengkap. Data yang terkumpul

berasal dari perawat dan klien selama berinteraksi serta sumber yang

lain.

c. Memahami bahwa klien adalah sumber informasi primer.

d. Sumber informasi sekunder meliputi anggota keluarga, orang yang

berperan penting, dan catatan kesehatan klien.

(Deswani, 2009)

Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai

berikut :

a. Melakukan wawancara

b. Riwayat kesehatan/keperawatan

c. Pemeriksaan fisik
27

d. Mengumpulkan data penunjang hasil pemeriksaan laboratorium,

pemeriksaan diagnostik, serta catatan kesehatan(rekam medik)

(Deswani, 2009).

Menurut Doenges (2012), pengkajian pada kasus TB paru adalah sebagai

berikut

a. Aktivitas/istirahat

Gejala : Kelelahan umum dan kelemahan, nafas pendek karena kerja,

kesulitan tidur pada malam hari atau demam malam hari,

menggigil dan/berkeringat, mimpi buruk.

Tanda : Takikardia, takipnea/dispnea pada kerja, kelelahan otot, nyeri,

dan sesak (tahap lanjut).

b. Integritas ego

Gejala : Adanya/faktor stres lama, masalah keuangan, rumah, perasaan

tak berdaya/tak ada harapan.

Tanda : Menyangkal (khususnya selama tahap dini),ansietas, ketakutan,

mudah terangsang.

c. Makanan/cairan

Gejala : Kehilangan nafsu makan, tidak dapat mencerna, penurunan

berat badan.

Tanda : Turgor kulit buruk, kering/kulit bersisik, kehilangan otot/hilang

lemak subkutan.

d. Nyeri/kenyamanan

Gejala : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.

Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah.


28

e. Pernapasan

Gejala : Batuk produktif atau tak produktif, napas pendek, riwayat

tuberkulosis/terpajan pada individu terinfeksi.

Tanda : Peningkatan frekuensi pernapasan (penyakit luas atau fibrosis

parenkim paru dan pleural), perkusi pekak dan penurunan

vermitus (cairan atau penebalan pleural), bunyi napas :

menurun/tak ada, krekels tercatat di atas apeks paru selama

inspirasi cepat setelah batuk pendek (krekels posttussic),

karakteristik sputum: hijau/purulent, mukoid/kuning, atau

bercak darah, deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).

f. Keamanan

Gejala : Adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker, tes HIV

postif.

Tanda : Demam rendah atau sakit panas akut.

g. Interaksi sosial

Gejala : Perasaan asolasi/penolakan karena penyakit menular, perubahan

pola biasa dalam tanggung jawab atau perubahan kapasitas fisik

untuk melaksanakan peran.

h. Penyuluhan/pembelajaran

Gejala : Riwayat keluarga TB, ketidakmampuan umum/status kesehatan

buruk, gagal untuk membaik/kambuhnya TB, tidak

berpartisipasi dalam terapi.

Rencana pemulangan :memerlukan bantuan dalam terapi obat dan

perawatan diri serta pemeliharaan/perawatan rumah.


29

2. Diagnosa Keperawatan

a. Ketidakefektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan bronkospasme

b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti paru, hipertensi

pulmonal, penuruanan perifer yang mengakibatkan asidosis laktat dan

penurunan curah jantung

c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan

dyspneu

d. Hipertermia berhubungan dengan proses peradangan

e. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peluritis

f. Defisiensi pengetahuan tentang kondisi, terapi dan pencegahan

berhubungan dengan informasi kurang atau tidak akurat

g. Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan batuk darah

h. Resiko penularan infeksi berhubungan dengan oraganisme purulen.


30

3. Perencanaan (Intervensi)

Tabel 1. Rencana Tindakan pada Pasien Tuberculosis

No NANDA: Nursing Diagnosis Nursing Care Plan


Nursing Outcomes Classification (NOC) Nursing Interventions Classification (NIC)
1 Ketidakefektif Bersihan Jalan Nafas Setelah dilakukan tindakan keperawatan Airway Suctioning
Definisi : Ketidakmampuan untuk selama …. x 24 jam klien akan: Aktivitas keperawatan:
membersihkan sekresi atau obstruksi dari - Respiratory status : Ventilation 1. Pastikan kebutuhan oral / tracheal
saluran pernafasan untuk - Respiratory status : Airway patency suctioning
mempertahankan kebersihan jalan nafas. - Respiratory Status: Gas Exchange 2. Auskultasi suara nafas sebelum dan
Batasan Karakteristik : sesudah suctioning.
 Tidak ada batuk Aspiration Prevention, yang dibuktikan 3. Informasikan pada klien dan keluarga
 Suara napas tambahan dengan indikator sebagai berikut: tentang suctioning
 Perubahan frekuensi napas (1-5 = tidak pernah, jarang, kadang-kadang, 4. Minta klien nafas dalam sebelum suction
 Perubahan irama napas sering, atau selalu) dilakukan.
 Sianosis Kriteria Hasil : 5. Berikan O2 dengan menggunakan nasal
 Kesulitan berbicara/mengeluarkan - Mendemonstrasikan batuk efektif dan untuk memfasilitasi suksion nasotrakeal
suara suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis 6. Gunakan alat yang steril sitiap melakukan
31

 Penurunan bunyi napas dan dyspneu (mampu mengeluarkan tindakan


 Dispnea sputum, mampu bernafas dengan mudah, 7. Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas
 Sputum dalam jumlah yang tidak ada pursed lips) dalam setelah kateter dikeluarkan dari
berlebihan - Menunjukkan jalan nafas yang paten nasotrakeal
 Batuk yang tidak efektif (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, 8. Monitor status oksigen pasien
 Ortopnea frekuensi pernafasan dalam rentang 9. Ajarkan keluarga bagaimana cara
 Gelisah normal, tidak ada suara nafas abnormal) melakukan suksion
 Mata terbuka lebar - Mampu mengidentifikasikan dan 10. Hentikan suksion dan berikan oksigen
mencegah factor yang dapat menghambat apabila pasien menunjukkan bradikardi,
Faktor yang berhubungan: jalan nafas peningkatan saturasi O2, dll.
Lingkungan
 Perokok pasif Airway Management
 Mengisap asap Aktivitas keperawatan:
 Merokok 1. Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift
Obstruksi jalan napas atau jaw thrust bila perlu
 Spasme jalan napas 2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan
 Mucus dalam jumlah yang berlebihan ventilasi
 Eksudat dalam alveoli 3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan
 Materi asing dalam jumlah napas alat jalan nafas buatan
32

 Adanya jalan napas buatan 4. Pasang mayo bila perlu


 Sekresi yang tertahan/sisa sekresi 5. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
 Sekresi dalam bronki 6. Keluarkan sekret dengan batuk atau
Fisiologis suction
 Jalan napas alergik 7. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
 Asma tambahan
 Penyakit paru obstruksi kronis 8. Lakukan suction pada mayo
 Hyperplasia dinding bronchial 9. Berikan bronkodilator bila perlu
 Infeksi 10. Berikan pelembab udara Kassa basah
 Disfungsi neuromuscular NaCl Lembab
11. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
keseimbangan.
12. Monitor respirasi dan status O2
2 Gangguan pertukaran gas Setelah dilakukan tindakan keperawatan Airway Management
Definisi : Kelebihan atau deficit pada selama …. x 24 jam klien akan: Aktivitas keperawatan:
oksigenasi dan atau eliminasi karbon - Respiratory status : Gas exchange 1. Buka jalan nafas, gunakan tehnik chinlift
dioksida pada membran alveolar kapiler - Respiratory status : Ventilation atau jaw thrust bila perlu
Batasan karakteristik : - Vital sign status 2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan
 PH darah arteri abnormal ventilasi
33

 PH arteri abnormal Kriteria Hasil : 3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan


 Pernafasn abnormal (miss, kecepatan, - Mendemonstrasikan peingkatan ventilasi alat jalan nafas buatan
irama,kedalaman) dan oksigenasi yang adekuat 4. Pasang mayo bila perlu
 Warna kulit abnormal (miss. Pucat - Memelihara kebersihan paru paru dan 5. Lakukan fisioterapi dada bila perlu
kehitaman) bebas dari tanda – tanda distress 6. Keluarkan secret dengan batuk atau
 Konvusi pernafasan suction
 Sianosis(pada neonatus saja) - Mendemonstrasikan batuk efektif dan 7. Auskultasisuara nafas catat adanya suara
 Penurunan karbon dioksida suara nafas yang bersih, tidak ada tambahan
 Diaforesis sianosis dan dyspnea ( mampu 8. Lakukan suction pada mayo
 Dispneu mengeluarkan sputum , mampu bernafas 9. Berikanbronkodilator bila perlu
 Sakit kepala saat bangun dengan mudah, tidak ada pussed lips) 10. Berikan pelembab udara
 Hkiperkapnea - Tanda – tanda vital dalam rentang 11. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
 Hipoksemia normal keseimbangan
 Hipoksia 12. Monitor respirasi dan status oksigen
 Irritabilitas Respiratory Monitoring
 Nafas Cuping hidung 1. Monitor rata – rata kedalaman, irama dan
 Gelisah usaha respirasi
 Somnolen 2. Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan,
 Takikardia penggunaan otot tambahan, reaksi otot
34

 Gangguan penglihatan supraclavicular dan intercostal


Faktor yang berhubungan : 3. Monitor suara nafas,seperti dengkur
 Perubahan membrane alveolar kapiler 4. Monitor pola nafas: bradipena, takipena,
 Ventilasi -perfusi kussmaul, hiperventilasi, cheynostoke,
biots,
5. Catat lokasi trakea
6. Monitor kelelahan otot diafragma
(Gerakan paradoksis)
7. Auskultasi suara nafas,catat area
penuruanan atau tidak adanya ventilasi
dan suara tambahan
8. Tentukan kebutuhan suction dengan
mengauskultasi crackles dan ronchi pada
jalan nafas utama
9. Auskultasi suara paru setelah tindakan
untuk mengetahui hasilnya
35

3 Ketidakseimbangan Nutrisi : Kurang Setelah dilakukan tindakan keperawatan Nutrition Management


Dari Kebutuhan Tubuh selama …. x 24 jam klien akan: Aktivitas keperawatan:
Definisi : Intake nutrisi tidak cukup - Nutritional Status : food and Fluid 1. Kaji adanya alergi makanan
untuk keperluan metabolisme tubuh. Intake 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
Batasan karakteristik : - Weight : Body Mass, yang dibuktikan menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
 Kram abdomen dengan indikator sebagai berikut: dibutuhkan pasien.
 Nyeri abdomen (1-5 = tidak pernah, jarang, kadang- 3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan
 Menghindari makan kadang, sering, atau selalu) intake Fe
 Berat badan 20% atau lebih di bawah Kriteria Hasil : 4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan
berat badan ideal - Adanya peningkatan berat badan sesuai protein dan vitamin C
 Kerapuhan kapiler dengan tujuan 5. Berikan substansi gula
 Diare - Berat badan ideal sesuai dengan tinggi 6. Yakinkan diet yang dimakan mengandung
 Kehilangan rambut berlebihan badan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
 Bising usung hiperaktif - Mampu mengidentifikasi kebutuhan 7. Berikan makanan yang terpilih ( sudah
 Kurang makan nutrisi dikonsultasikan dengan ahli gizi)
 Kurang informasi - Tidak ada tanda tanda malnutrisi 8. Ajarkan pasien bagaimana membuat
 Kurang minat pada makanan - Tidak terjadi penurunan berat badan catatan makanan harian.
 Penurunan berat badan dengan asupan yang berarti 9. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan
makanan adekuat kalori
36

 Kesalahan konsepsi 10. Berikan informasi tentang kebutuhan


 Kesalahan informasi nutrisi
 Membrane mukosa pucat 11. Kaji kemampuan pasien untuk
 Ketidakmampuan memakan makanan mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
 Tonus otot menurun
 Mengeluh gangguan sensasi rasa Nutrition Monitoring
 Mengeluh asupan makanan kurang Aktivitas keperawatan:
dari RDA (recommended daily 1. BB pasien dalam batas normal
allowance) 2. Monitor adanya penurunan berat badan
 Cepat kenyang setelah makan 3. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang
 Sariawan rongga mulut biasa dilakukan
 Steatore 4. Monitor interaksi anak atau orangtua
 Kelemahan otot pengunyah selama makan
 Kelemahan otot untuk menelan 5. Monitor lingkungan selama makan
Faktor yang berhubungan : 6. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak
 Faktor biologis selama jam makan
 Faktor ekonomi 7. Monitor kulit kering dan perubahan
 Ketidakmampuan untuk mengabsorpsi pigmentasi
nutrisi 8. Monitor turgor kulit
37

 Ketidakmampuan untuk mencerna 9. Monitor kekeringan, rambut kusam, dan


makanan mudah patah
 Faktor psikologis 10. Monitor mual dan muntah
11. Monitor kadar albumin, total protein, Hb,
dan kadar Ht
12. Monitor makanan kesukaan
13. Monitor pertumbuhan dan perkembangan
14. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan
jaringan konjungtiva
15. Monitor kalori dan intake nuntrisi
16. Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas oral.
17. Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet

4 Hipertermia NOC: NIC :


Berhubungan dengan : Thermoregulasi
1. Monitor suhu sesering mungkin
- penyakit/ trauma Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2. Monitor warna dan suhu kulit
- peningkatan metabolisme selama………..pasien menunjukkan : 3. Monitor tekanan darah, nadi dan RR
- aktivitas yang berlebih Suhu tubuh dalam batas normal dengan
38

- dehidrasi kreiteria hasil: 4. Monitor penurunan tingkat kesadaran


5. Monitor WBC, Hb, dan Hct
 Suhu 36 – 37C
DO/DS: 6. Monitor intake dan output
 Nadi dan RR dalam rentang normal
 kenaikan suhu tubuh diatas rentang  Tidak ada perubahan warna kulit dan 7. Berikan anti piretik:
normal 8. Kelola Antibiotik:………………………..
tidak ada pusing, merasa nyaman
 serangan atau konvulsi (kejang) 9. Selimuti pasien
 kulit kemerahan 10. Berikan cairan intravena

 pertambahan RR 11. Kompres pasien pada lipat paha dan aksila

 takikardi 12. Tingkatkan sirkulasi udara

 Kulit teraba panas/ hangat 13. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
14. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
15. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
16. Monitor hidrasi seperti turgor kulit,
kelembaban membran mukosa)
39

5 Gangguan rasa nyaman (Nyeri) NOC : NIC :


berhubungan dengan:  Pain Level, 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
Agen injuri (biologi, kimia, fisik,  pain control, komprehensif termasuk lokasi,
psikologis), kerusakan jaringan  comfort level karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
Setelah dilakukan tinfakan keperawatan dan faktor presipitasi
DS: selama …. Pasien tidak mengalami nyeri, 2. Observasi reaksi nonverbal dari
- Laporan secara verbal dengan kriteria hasil: ketidaknyamanan
DO:  Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab 3. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
- Posisi untuk menahan nyeri nyeri, mampu menggunakan tehnik dan menemukan dukungan
- Tingkah laku berhati-hati nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, 4. Kontrol lingkungan yang dapat
- Gangguan tidur (mata sayu, tampak mencari bantuan) mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
capek, sulit atau gerakan kacau,  Melaporkan bahwa nyeri berkurang pencahayaan dan kebisingan
menyeringai) dengan menggunakan manajemen nyeri 5. Kurangi faktor presipitasi nyeri
- Terfokus pada diri sendiri  Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, 6. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
- Fokus menyempit (penurunan persepsi frekuensi dan tanda nyeri) menentukan intervensi
waktu, kerusakan proses berpikir,  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri 7. Ajarkan tentang teknik non farmakologi:
penurunan interaksi dengan orang dan berkurang napas dala, relaksasi, distraksi, kompres
lingkungan)  Tanda vital dalam rentang normal hangat/ dingin
- Tingkah laku distraksi, contoh : jalan- 8. Berikan analgetik untuk mengurangi
40

jalan, menemui orang lain dan/atau Tidak mengalami gangguan tidur nyeri: ……...
aktivitas, aktivitas berulang-ulang) 9. Tingkatkan istirahat
- Respon autonom (seperti diaphoresis, 10. Berikan informasi tentang nyeri seperti
perubahan tekanan darah, perubahan penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
nafas, nadi dan dilatasi pupil) berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan
- Perubahan autonomic dalam tonus otot dari prosedur
(mungkin dalam rentang dari lemah ke 11. Monitor vital sign sebelum dan sesudah
kaku) pemberian analgesik pertama kali
- Tingkah laku ekspresif (contoh :
gelisah, merintih, menangis, waspada,
iritabel, nafas panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan dalam nafsu makan dan
minum

6 Defisiensi Pengetahuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Teaching : Disease Process


Definisi : selama …. x 24 jam klien akan: Aktivitas keperawatan:
Ketiadaan atau defisiensi informasi - Kowledge : disease process 1. Berikan penilaian tentang tingkat
kognitif yang berkaitan dengan topik - Kowledge : health behavior, yang pengetahuan pasien tentang proses
tertentu. dibuktikan dengan indikator sebagai penyakit yang spesifik
41

Batasan karakteristik : berikut: 2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan


 Perilaku hiperbola (1-5 = tidak pernah, jarang, kadang-kadang, bagaimana hal ini berhubungan dengan
 Ketidakdaruratan mengikuti perintah sering, atau selalu) anatomi dan fisiologi, dengan cara yang
 Ketidakdaruratan melakukan tes Kriteria Hasil : tepat.
 Perilaku tidak tepat (mis ; histeria, - Pasien dan keluarga menyatakan 3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa
bermusuhan, agitasi, apatis) pemahaman tentang penyakit, kondisi, muncul pada penyakit, dengan cara yang
 Pengungkapan masalah prognosis dan program pengobatan tepat
Faktor yang berhubungan : - Pasien dan keluarga mampu 4. Gambarkan proses penyakit, dengan cara
 Keterbatasan kognitif melaksanakan prosedur yang dijelaskan yang tepat
 Salah interpretasi informasi secara benar 5. Identifikasi kemungkinan penyebab,
 Kurang pajanan - Pasien dan keluarga mampu menjelaskan dengna cara yang tepat
 Kurang minat dalam belajar kembali apa yang dijelaskan perawat/tim 6. Sediakan informasi pada pasien tentang
 Kurang dapat mengingat kesehatan lainnya kondisi, dengan cara yang tepat
 Tidak familiar dengan sumber 7. Hindari harapan yang kosong
informasi 8. Sediakan bagi keluarga informasi tentang
kemajuan pasien dengan cara yang tepat
9. Diskusikan perubahan gaya hidup yang
mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan datang dan
42

atau proses pengontrolan penyakit


10. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
11. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion dengan cara
yang tepat atau diindikasikan
12. Eksplorasi kemungkinan sumber atau
dukungan, dengan cara yang tepat
13. Rujuk pasien pada grup atau agensi di
komunitas lokal, dengan cara yang tepat
14. Instruksikan pasien mengenai tanda dan
gejala untuk melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan cara yang
tepat

7 Resiko Penyebaran infeksi Setelah dilakukan tindakan keperawatan Infection Control


Definisi : mengalami peningkatan risiko selama …. x 24 jam klien akan: Aktivitas keperawatan:
terserang organisme patogen - Immune Status 1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai
Faktor Risiko : - Infection Severity pasien lain
 Penyakit kronis - Knowledge : Infection control 2. Pertahankan teknik isolasi
43

- DM - Nutritional status 3. Batasi pengunjung bila perlu


- Obesitas - Tissue Integrity: Skin & Mucous 4. Instruksikan pada pengunjung untuk
 Pengetahuan yang kurang untuk membranes, yang dibuktikan dengan mencuci tangan saat berkunjung dan
menghindari pamajanan patogen indikator sebagai berikut: setelah berkunjung meninggalkan pasien
 Pertahanan tubuh primer yang (1-5 = tidak pernah, jarang, kadang-kadang, 5. Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci
tidak adekuat sering, atau selalu) tangan
 Gangguan peristalsis Kriteria Hasil : 6. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah
 Kerusakan integritas kulit - Klien bebas dari tanda dan gejala tindakan kperawtan
(pemasangan kateter intravena, infeksi 7. Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat
prosedur invasif) - Mendeskripsikan proses penularan pelindung
 Perubahan sekresi pH penyakit, factor yang mempengaruhi 8. Pertahankan lingkungan aseptik selama
 Penurunan kerja siliaris penularan serta penatalaksanaannya, pemasangan alat
 Pecah ketubah dini - Menunjukkan kemampuan untuk 9. Ganti letak IV perifer dan line central dan
 Pecah ketubah lama mencegah timbulnya infeksi dressing sesuai dengan petunjuk umum
 Merokok - Jumlah leukosit dalam batas normal 10. Gunakan kateter intermiten untuk
 Stasis cairan tubuh - Menunjukkan perilaku hidup sehat menurunkan infeksi kandung kencing
 Trauma jaringan (mis trauma, 11. Tingktkan intake nutrisi
destruksi jaringan) 12. Berikan terapi antibiotik bila perlu
 Malnutrisi
44

 Ketidakadekuatan pertahanan Infection Protection


tubuh Aktivitas keperawatan:
 Penurunan Hb 1. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik
 Imunosupresi (mis imunitas dan lokal
didapat tidak adekuat, agens 2. Monitor hitung granulosit, WBC
farmaseutikal termasuk 3. Monitor kerentanan terhadap infeksi
imunosupresan, steroid, antibodi 4. Batasi pengunjung
monoklonal, imunomodulator) 5. Saring pengunjung terhadap penyakit
 Leukopenia menular
 Supresi respons inflamasi 6. Partahankan teknik aspesis pada pasien
 Vaksinasi tidak adekuat yang beresiko
 Pemajanan terhadap patogen 7. Pertahankan teknik isolasi k/p
lingkungan meningkat 8. Berikan perawatan kuliat pada area
 Wabah epidema
9. Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan, panas, drainase
10. Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
11. Dorong masukkan nutrisi yang cukup
12. Dorong masukan cairan
45

13. Dorong istirahat


14. Instruksikan pasien untuk minum
antibiotik sesuai resep
15. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan
gejala infeksi
16. Ajarkan cara menghindari infeksi
17. Laporkan kecurigaan infeksi
18. Laporkan kultur positif

8 Resiko Syok Hipovolemik berhubungan NOC NIC :


dengan perdarahan yang berlebihan,  Syok prevention Syok prevention
pindahnya cairan intravaskuler ke  Syok management 1. Monitor status sirkulasi BP, warna kulit,
ekstravaskuler Kriteria Hasil : suhu kulit, denyut jantung, HR, dan ritme,
- Nadi dalam batas yang diharapkan nadi perifer, dan kapiler refill
- Irama jantung dalam batas yang 2. Monitor tanda inadekuat oksigenasi
diharapkan jaringan
- Frekuensi nafas dalam batas yang 3. Monitor suhu dan pernafasan
diharapkan 4. Monitor input dan output
- Natrium serum dbn 5. Pantau nilai laboratorium : HB,HT,AGD
46

- Kalium serum dbn dan elektrolit


- Klorida serum dbn 6. Monitor hemodinamik invasi yang sesuai
- Kalsium serum dbn Magenesium serum 7. Monitor tanda dan gejala asites
dbn 8. Monitor tanda awal syok
- PH darah serum dbn 9. Tempatkan pasien pada posisi supine,kaki
- Hidrasi elevasi untuk peningkatan preload dengan
- Indikator tepat
- Mata cekung tidak ditemukan 10. Lihat dan pelihara kepatenan jalan nafas
- Demam tidak ditemukan 11. Berikan cairan iv dan atau oral yang tepat
- TD dbn 12. Berikan vasodilator yang tepat
- Hematokrit dbn 13. Ajarkan keluarga dan pasien tentang tanda
dan gejala datangnya syok
14. Ajarkan keluarga dan pasien tentang
langkah untuk mengatasi gejala syok
Syok management
1. Monitor fungsi neurologis
2. Monitor fungsi renal ( e.g. BUN dan Cr
lavel )
3. Monitor tekanan nadi
47

4. Monitor status cairan,input output


5. Catat gas darah arteri dan oksigen
dijaringan
6.  Memonitor gejala gagal pernafasan (
misalnya,rendah PaO₂ peningkatan
PaO₂ tingkat,kelelahan otot pernafasan)
Sumber : Nanda (2015) : Nursing Intervention Classification (NOC) (2013) : Nursing Outcome Classification (NIC) (2013)
48

4. Pelaksanaan (Implementasi)

Pelaksanaan rencana keperawatan adalah kegiatan atau tindakan yang

diberikan kepada pasien sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Tindakan tang diberikan tergantung pada situasi dan kondisi pasien saat ini

(Debora, 2011). Menurut Doengoes (2012), implementasi adalah tindakan

pemberian keperawatan yang dilaksanakan untuk membantu mencapai tujuan

pada rencana tindakan keperawatan yang telah disusun. Setiap tindakan

keperawatan yang dilaksanakan dicatat dalam catatan keperawatan yaitu cara

pendekatan pada pasien efektif, teknik komunikasi terapeutik serta penjelasan

untuk setiap tindakan yang diberikan kepada pasien. dalam melakukan

tindakan keperawatan menggunakan 3 tahap pendekatan, yaitu independen,

dependen, interpedenden. Tindakan keperawatan secara independen adalah

suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah

dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya. Interdependen adalah tindakan

keperawatan yang menjelaskan suatu kegiatan dan memerlukan kerja sama

dengan tenaga kesehatan lainnya, misalnya tenaga sosial, ahli gizi, dan dokter.

Sedangkan dependen adalah tindakan yang berhubungan dengan pelaksanaan

rencana tindakan medis. Keterampilan yang hanya dipunyai perawat dalam

melaksanakan tindakan keperawatan yaitu kognitif, sikap dan psikomotor.

Dalam melakukan tindakan yang khususnya pada pasien dengan gastritis yang

harus diperhatikan adalah pola nutrisi, skala nyeri pasien, serta melakukan

pendidikan kesehatan pada pasien.


49

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari

tindakan keperawatan pada pasien. evaluasi dapat dibagi menjadi dua yaitu

proses atau formatif dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan

keperawatan, evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan

respon pasien pada tujuan khusus dan umum yang telah ditentukan (Nursalam,

2011). Pada bagian ini ditentukan apakah perencanaan sudah tercapai atau

belum, dan dapat juga timbul masalah baru dan setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan nyeri berkurang / hilang, kecemasan pasien

berkurang, resiko infeksi tidak terjadi, kebutuhan nutrisi seimbang dan

tercukupi.
50

C. Kerangka Konsep

Menurut Nursalam (2009), tahap yang penting dalam suatu penelitian

adalah menyusun kerangka konsep. Konsep adalah abstraksi dari suatu realitas

agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan

keterkaitan anatara variabel (baik variabel yang diteliti maupun yang tidak diteliti.

Asuhan
Keperawatan 1. Masalah Teratasi
Tuberkulosis: 2. Masalah teratasi
Pasien dengan
1. Pengkajian Sebagian
Tuberkulosis
2. Diagnosa 3. Masalah Tidak
Keperawatan Teratasi
3. Perencanaan
4. Implementasi
5. Evaluasi

: Diteliti

: Tidak Diteliti

Sumber : Nanda, NIC dan NOC, 2015

Gambar 3. Kerangka Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan

Tuberculosis