Anda di halaman 1dari 18

Perjanjian No III/LPPM/2018-01/37-P

LAPORAN
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SUPERABSORBEN BERBASIS
NATRIUM ALGINAT DENGAN KOMPOSIT BENTONIT

Disusun Oleh:
Angela Martina, S.T., M.T.
Dr. Judy R. B. Witono, Ir., M.App.Sc.
Y.I.P. Arry Miryanti, Ir., M.Si.
Michelle F. Kezia

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat


Universitas Katolik Parahyangan
2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 2
ABSTRAK ................................................................................................................................. 3
BAB I. PENDAHULUAN ......................................................................................................... 4
I.1 Latar belakang ............................................................................................................. 4
I.2 Perumusan masalah ..................................................................................................... 5
I.3 Tujuan penelitian ......................................................................................................... 5
I.4 Target luaran ............................................................................................................... 5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................. 6
II.1 Natrium alginat ............................................................................................................ 6
II.2 Superabsorben ............................................................................................................. 6
II.3 Metode pembuatan superabsorben .............................................................................. 7
BAB III. METODE PENELITIAN ........................................................................................... 9
BAB IV. JADWAL PELAKSANAAN ................................................................................... 12
BAB V. PEMBAHASAN ........................................................................................................ 13
V.1 Sintesis superabsorben .................................................................................................. 13
V.2 Pengaruh jenis monomer terhadap ES........................................................................... 13
V.3 Pengaruh perbandingan konsentrasi monomer terhadap ES ......................................... 15
V.4 Pengaruh pH terhadap ES.............................................................................................. 15
V.5 Analisis FTIR ................................................................................................................ 15
V.6 Analisis SEM................................................................................................................. 16
DAFTAR PUSAKA................................................................................................................. 17

2
ABSTRAK

Natrium alginat merupakan salah satu produk turunan rumput laut yang dapat diolah menjadi
superabsorben yang lebih ramah lingkungan. Pada penelitian ini sintesis superabsorben
berbasis natrium alginate dilakukan dengan metode polimerisasi grafting-crosslinking dengan
variasi rasio mol asam akrilat (AA) : akrilamida (AAm) sebesar 0:1; 1:0; 1:1; 1:3; dan 3:1
dan variasi medium penyerapan pada pH 3, 7, dan 11. Natrium alginat dicampurkan dengan
bentonit, inisiator amonium persulfat (APS), monomer, dan crosslinker metilenbisakrilamida
(MBA) ke dalam reaktor berpengaduk 400 rpm selama 1 jam pada temperatur 70 oC dibawah
atmosfer nitrogen. Hasil penelitian menunjukkan superabsorben dengan rasio monomer
AA:AAm sebesar 1:1 tanpa penambahan bentonit memberikan daya serap (ES) paling besar,
yaitu 98,13 g/g. Hasil FTIR (Fourier-Transform Infrared Spectroscopy) menunjukkan adanya
gugus –OH, -NH, dan C=O yang menandakan terjadinya proses grafting-crosslinking. Hasil
SEM (Scanning Electron Microscope) menujukkan perubahan morfologi natrium alginat dan
superabsorben yang dihasilkan.

Kata kunci : superabsorben, natrium alginat, grafting, crosslinking, bentonit

3
BAB I. PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang


Indonesia merupakan negara penghasil rumput laut kedua terbesar di dunia (dapat
dilihat pada Tabel 1.1). Sebagian besar hasil rumput laut ini hanya dimanfaatkan secara
langsung dalam industri pangan atau sebagai produk ekspor dalam bentuk mentah.
Alginat merupakan salah satu polisakarida yang terkandung dalam rumput laut coklat,
yang dapat diektraksi dalam bentuk asam alginat. Asam alginat ini kemudian dapat diolah
kembali untuk membentuk garam-garam alginat seperti kalsium alginat, dan natrium alginat.
Saat ini pemanfaatan alginat lebih didominasi oleh industri pangan, farmasi, dan kosmetik,
sebagai bahan pengental, emusifier, stabiliser, dan enkapsulasi.

Tabel 1.1 Lima negara penghasil rumput laut terbesar di dunia tahun 2015 (FAO, 2015)
Volume
No Negara
Produksi (ton)
1 Republik Rakyat Cina 13,479,355
2 Indonesia 9,298,474
3 Filipina 1,558,378
4 Republik Korea 1,131,305
5 Jepang 418,365

Salah satu produk inovasi berbasis natrium alginat yang dapat dikembangkan adalah
superabsorben. Superabsorben merupakan polimer yang memiliki kemampuan menyerap air
1000-100,000 kali dari beratnya sendiri dan tetap dapat mempertahankan bentuknya (Elliot,
1997). Teknologi superabsorben ini dapat diaplikasikan untuk berbagai kebutuhan industri,
seperti pemisahan air-minyak pada pertambangan minyak, pengawetan makanan, dan
pengolahan limbah cair rumah sakit. Berbagai jenis produk komersial seperti popok bayi dan
dewasa, tissue basah, dan pembalut wanita pun memanfaatkan teknologi superabsoben ini.
(Province, 2008).
Saat ini, superabsorben umumnya dibuat dari polimer sintetik seperti poly-acrylic
acid, poly-vinyl alcohol dan poly-ethylene oxide (Elliot, 1997). Polimer sintetik ini tidak
dapat terbiodegradasi dengan baik dan dapat memicu pencemaran lingkungan, sehingga perlu
dikembangkan superabsorben berbasis biomassa yang dapat terbiodegradasi dengan baik di
lingkungan. Natrium alginat yang merupakan polisakarida dari biomassa rumput laut coklat

4
dapat dimanfaatkan dalam sintesis superabsorben. Selain lebih mudah terbiodegradasi,
superabsorben berbasis natrium alginat juga memiliki faktor keamanan penggunaan yang
lebih baik mengingat sebagian besar superabsorben digunakan dalam produk-produk sanitasi.

I.2 Perumusan masalah


Saat ini, sebagian besar produksi natrium alginat Indonesia hanya dimanfaatkan dalam
industri pangan, farmasi, dan kosmetik. Untuk pemanfaatan yang lebih luas, natrium alginat
dapat digunakan sebagai bahan baku superabsorben yang lebih ramah lingkungan.

I.3 Tujuan penelitian


Tujuan penelitian ini adalah :
1. Memanfaatkan natrium alginat sebagai produk turunan rumput laut untuk diproses
menjadi produk inovasi dengan nilai jual lebih tinggi, yaitu superabsorben.
2. Mengembangkan proses pembuatan superabsorben berbasis natrium alginat
menggunakan metode crosslinking grafting dengan dan tanpa komposit bentonit.

I.4 Target luaran


Hasil penelitian ini akan dipublikasikan melalui jurnal nasional tidak terakreditasi.

5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Natrium alginat


Alginat merupakan polimer alami dengan berat molekular yang tinggi (Imeson, 2010).
Alginat tersedia dalam bentuk asam sebagai komponen amorf penyusun dinding sel rumput
laut coklat (Percival, 1979). Asam alginat secara struktural tersusun dari β-ᴅ-asam
mannuronik dan C5-epimer α-ʟ-asam guluronik yang terikat melalui ikatan β-(1,4)-gliosidik.
Umumnya asam alginat diolah terlebih dahulu menjadi garam alginat (seperti kalsium alginat
atau natrium alginat) untuk diaplikasikan pada industri pangan. Struktur molekul natrium
alginat dapat dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Struktur molekul natrium alginat (Wang, 2010)

II.2 Superabsorben
Superabsorben merupakan suatu material polimer yang mempunyai kemampuan
untuk menyerap air dan larutan dalam jumlah besar dan dapat mempertahankannya (Elliot,
1997). Polimer superabsorbent ini terdiri dari rantai panjang yang memiliki monomer
berulang (Amit Bhattacharya, 2009). Superabsorben dapat menyerap 10-1.000 gram air per
gram beratnya sendiri dan dapat mempertahankan air yang diserap tersebut. (Omidian,
Zohuriaan-Mehr, Kabiri, & Shah, 2004).
Polimer superabsorben dapat memiliki bentuk tiga dimensi yang berbeda-beda, seperti
bentuk gel (hydrogel), bubuk, fiber, membran, butiran-butiran kecil (microbeads), atau
cairan. Bentuk superabsorben yang berbeda-beda ini bergantung dari metode pembuatannya
(Deyu, Thomas, Heimann, & Struttgart, 2003). Umumnya, polimer superabsorben dibuat dari
pati yang dimodifikasi secara kimia, selulosa, dan polimer sintetis lain, seperti poly-vinyl
alcohol dan poly-ethylene oxide. Dengan proses crosslinking secara kimia maupun fisika,
polimer-polimer ini dapat menyerap air tetapi tidak larut dalam air (water-soluble). Seiring
berkembangnya penelitian dan teknologi, polimer superabsorben dibuat dari poly-acrylic acid
yang telah dicrosslink serta dinetralisasikan dan polimer superabsorben ini terbukti memiliki

6
rasio performa yang lebih baik (Elliot, 1997). Namun, dewasa ini superabsorben dari
polisakarida mulai banyak dikembangkan karena kemampuannya menggantikan pati atau
polimer sintetis untuk membentuk superabsorben (biocompatibility), bersifat biodegradable,
dan tidak beracun (Sadeghi, 2011).
Penyerapan air pada superabsorben dapat terjadi karena polimer tersebut memiliki
gugus hidrofilik seperti gugus karboksilat (–COO-) atau gugus ester sulfat (-OSO3-) dimana
gugus-gugus tersebut dapat menarik molekul air. Kapasitas swelling superabsorben dapat
dihitung dengan besaran ES (Equilibrium Swelling) atau daya serap air. Equilibrium Swelling
suatu superabsorben dapat dipengaruhi oleh perubahan pH, kekuatan ionik larutan,
temperatur, photo-irradiation, dan medan listrik yang dapat mempengaruhi ukuran, bentuk,
kelarutan, dan derajat ionisasi dari polimer superabsorben tersebut (Elliot, 1997). Untuk
meningkatkan penyerapan air pada superabsorben, senyawa komposit dapat ditambahkan
dalam sintesis polimer superabsorben.

II.3 Metode pembuatan superabsorben


Metode yang paling umum digunakan untuk sintesis superabsorben adalah metode
polimerisasi grafting-crosslinking. Metode ini merupakan gabungan proses crosslinking dan
grafting pada polimer. Metode grafting merupakan proses menghubungkan suatu monomer
ke bagian backbone dari monomer lain dengan sifat kimia yang berbeda sehingga terbentuk
kopolimer (Amit Bhattacharya, 2009). Crosslinking merupakan penggabungan dua atau lebih
makromolekul dengan molekul yang lebih kecil. Crosslinker yang umum digunakan pada
pembuatan superabsorben adalah molekul organik yang memiliki 2 atau lebih ikatan rangkap
yang dapat dipolimerisasikan. Molekul-molekul tersebut akan digabungkan ke dalam
backbone dari rantai polimer bersamaan dengan reaksi pemanjangan atau pertumbuhan rantai
polimer (Elliot, 1997).
Dalam proses pembuatan superabsorben dengan metode crosslinking-graft
polymerization, monomer di-grafting secara simultan ke backbone natrium alginat dengan
bantuan crosslinker. Proses ini membutuhkan inisiator untuk membentuk senyawa radikal
yang dapat memisahkan hidrogen dari grup –OH yang berada pada backbone natrium alginat.
Inisiator yang umum digunakan adalah Ammonium Persulfate (APS). Ammonium Persulfate
(APS) akan membentuk anion sulfat radikal yang akan bergabung dengan hidrogen yang
telah dipisahkan dari grup -OH pada backbone natrium alginat. Mekanisme pengikatan
natrium alginat kepada senyawa radikal bebas yang dihasilkan oleh inisiator dimulai dengan
tahap inisiasi, yaitu pembentukkan anion sulfat radikal oleh disosisasi dari Ammonium

7
Persulfate (APS). Dilanjutkan dengan tahap propagasi, yaitu abstraksi hidrogen oleh anion
sulfat radikal (Hosseinzadeh, H., 2012). Selanjutnya berlangsung proses crosslinking-graft
dan kopolimerisasi antar monomer-monomer dan crosslinker, sehingga terbentuk kopolimer
dengan struktur tiga dimensi.
Senyawa komposit juga memiliki peranan penting dalam pembuatan superabsorben.
Komposit yang umum digunakan dalam pembuatan superabsorben adalah celite, kaolin, dan
bentonit. Menurut hasil penelitian Mohammad Sadeghi, penambahan komposit pada sintesis
superabsorben dapat menyebabkan penghambatan pemanjangan rantai polimer sehingga
polimer tidak dapat menyerap air dengan baik sehingga daya serap airnya menurun (Sadeghi,
2012). Penggunaan komposit dalam pembentukkan superabsorben diperkirakan tidak
ditujukan untuk peningkatan daya serap air melainkan untuk mempertahankan struktur dari
superabsorben itu sendiri. Berdasarkan uji Thermogravimetric Analysis/TGA, superabsorben-
komposit memiliki % weight retention yang lebih tinggi dibandingkan dengan superabsorben
tanpa komposit, atau dengan kata lain superabsorben-komposit memiliki stabilitas terhadap
pengaruh temperatur yang lebih baik dibandingkan dengan superabsorben tanpa komposit
(Sadeghi, 2012).

8
BAB III. METODE PENELITIAN

Penelitian dibagi menjadi 2 tahap, yaitu pembuatan superabsorben dan analisis produk
superabsorben. Parameter konstan dan parameter yang divariasikan dalam penelitian dapat
dilihat pada Tabel 3.1 dan Tabel 3.2. Prosedur pembuatan superabsorben dapat dilihat pada
Gambar 3.1. Identifikasi struktur produk superabsorben dilakukan menggunakan FTIR.
Morfologi superabsorben dapat dianalisis menggunakan SEM. Produk superabsorben
dianalisis kemampuan daya serapnya menggunakan larutan dengan pH berbeda, yaitu pH
netral (air), asam (HCl), dan basa (NaOH). Daya serap/equilibrium swelling (ES) dapat
dihitung dengan persamaan 3.1.
𝑔 𝑊2 − 𝑊1
𝐸𝑆 (𝑔) = (3.1)
𝑊1

W1 dan W2 adalah massa dari gel superabsorben kering dan gel superabsorben yang telah
mengalami swelling.
Tabel 3.1 Parameter konstan

No Parameter Konstan
1 Natrium alginat 5 % b/v dalam air
2 Konsentrasi monomer 0,5 mol/L
3 Rasio massa (komposit:natrium alginat) 1 :2

4 Konsentrasi amonium persulfat (APS) 0,02 mol/L

5 Konsentrasi metilenbisakrilamida (MBA) 0,007 mol/L

6 Temperatur grafting 70 °C
7 Waktu grafting 1 jam
8 Temperatur dan waktu pengeringan 50 °C hingga konstan berat konstan

9 Kecepatan pengadukan 400 rpm

9
Tabel 3.2 Variasi Penelitian
Monomer
Run Metode Pembuatan
Ratio mol AA:AAm
1 Reaksi grafting + crosslinking
0 : 1
2 Grafting + crosslinking + komposit Bentonit
3 Reaksi grafting + crosslinking
1 : 0
4 Grafting + crosslinking + komposit Bentonit
5 Reaksi grafting + crosslinking
1 : 1
6 Grafting + crosslinking + komposit Bentonit
7 Reaksi grafting + crosslinking
1 : 3
8 Grafting + crosslinking + komposit Bentonit
9 Reaksi grafting + crosslinking
3 : 1
10 Grafting + crosslinking + komposit Bentonit

10
Aquades sebanyak 500 mL dimasukkan dalam reaktor 1 L dengan pengaduk propeller
(three blade) dan diatur suhunya hingga 40˚C

Natrium alginat (5%b/v) dimasukkan kedalam reaktor, kemudian reaktor diatur pada 70˚C

Larutan diaduk selama 10 menit pada 400 rpm untuk mendapatkan larutan yang homogen

*Bubuk bentonit sesuai tabel 3.2 ditambahkan dan diaduk selama 10 menit

APS sesuai tabel 3.2 ditambahkan ke dalam campuran dan diaduk selama 10 menit

AA , AAm, dan MBA sesuai tabel 3.2 ditambahkan secara simultan ke dalam reaktor

Campuran diaduk selama 1 jam dengan kecepatan 400 rpm pada suhu 70˚C dengan
atmosfer nitrogen

Produk dicuci dengan etanol 400 mL dan dibiarkan dewater selama 24 jam

Produk digunting hingga berukuran sama dan dicuci dengan 100 mL etanol lalu disaring

Produk dikeringkan dengan oven pada suhu 50˚C hingga berat konstan

Produk digerus dan disimpan jauh dari kelembaban, panas dan cahaya
Gambar 3.1 Diagram proses superabsorben dengan grafting-crosslinking-composite
*tahap ini diabaikan untuk sistesis superabsorben tanpa bentonit

11
BAB IV. JADWAL PELAKSANAAN

Rencana pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Rencana Pelaksanaan Penelitian


Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan
No Kegiatan
ke-1 ke-2 ke-3 ke-4 ke-5 ke-6 ke-7 ke-8 ke-9 ke-10
Studi
1
pustaka
Persiapan
bahan baku
2
dan alat
penelitian

Analisis
3
bahan baku

Pengolahan
data dan
4
hasil analisis
bahan baku

Proses
5 pemurnian
garam
Analisis
6 hasil
penelitian
Pengolahan
data dan
7
hasil
penelitian
Penyelesaian
8 akhir
laporan

12
BAB V. PEMBAHASAN

V.1 Sintesis superabsorben


Superabsorben disintesis dengan bahan baku berupa natrium alginat, inisiator
amonium persulfat (APS), monomer akril amida dan asam akrilat, serta crosslinker
metilenbisakrilamida (MBS) mengikuti tiga tahap reaksi sebagai berikut, yaitu : (1) disosiasi
amonium persulfat (APS), (2) abstraksi hidrogen saat anion sulfat radikal bereaksi dengan
natrium alginate, dan (3) pembentukan kopolimer saat radikal aktif mengikat gugus amida
pada akrilamida atau gugus karboksilat pada asam akrilat (grafting) sekaligus terjadi
crosslinking oleh metilenbisakrilamida (MBS).
Komposit berupa bentonit ditambahkan dengan tujuan untuk memperkuat struktur
superabsorben, dengan demikian superabsorben yang dihasilkan diharapkan akan lebih
mampu untuk menahan air yang sudah diserapnya. Penghentian reaksi dilakukan secara
mendadak dengan memasukkan hasil superabsorben ke dalam freezer bertemperatur ±-2,5oC.
Pencucian kemudian dilakukan menggunakan etanol untuk menghilangkan sisa homopolimer
yang tidak bereaksi. Analisis daya serap air/equilibrium swelling (ES) dilakukan pada
superabsorben kering dengan ukuran seragam -50+60 mesh pada media dengan pH 3 (larutan
HCl), pH 7 (air), dan pH 11 (larutan NaOH).

V.2 Pengaruh jenis monomer terhadap ES


Pada penelitian digunakan monomer sintetis berupa akril amida (AAm) dan asam
akrilat (AA) yang struktur molekulnya masing-masing dapat dilihat pada Gambar 5.1.

(a) (b)
Gambar 5.1. Struktur molekul asam akrilat (a) dan akril amida (b)

AAm mempunyai gugus amida (-CONH2) yang bersifat mampu membentuk jaringan
rapat dan bersifat kompak. sedangkan AA mempunyai gugus karboksilat (-COOH) yang
bersifat mampu menyerap air dan menahan air didalamnya. Dengan mengabungkan kedua
sifat monomer tersebut diharapkan superabsorben yang terbentuk akan bersifat kompak dan

13
mampu menyerap air lebih banyak. Berdasarkan hasil yang dapat dilihat pada Gambar 5.2
dan 5.3, superabsoben yang hanya mengandung monomer AA (rasio mol AA/AAm = 1:0)
memiliki nilai ES yang lebih besar dibandingkan superabsorben yang hanya mengandung
AAm (rasio mol AA/AAm = 0:1). Monomer AA yang memiliki gugus -COOH lebih bersifat
hidrofilik. Gugus -COOH cenderung dapat melepas ion H+ sehingga terbentuk ion
COO- yang menyebabkan gaya tolak-menolak pada polimer yang membuat polimer menjadi
bersifat lebih fleksibel dan mampu menyerap air. (Seddiki Nesrinne dan Aliouche Djamel,
2013). Sebaliknya monomer AAm yang mempunyai struktur jaringan lebih rapat dan kompak
akan cenderung lebih sulit untuk menyerap air (A. K. Bajpai, 2002).

100
pH = 3
90
80 pH = 7
70 pH = 11
60
ES (g/g)

50
40
30
20
10
0
1:0 0:1 1:1 1:3 3:1
AA/AAm mol ratio

Gambar 5.2. ES superabsorben tanpa komposit

100
pH = 3
90
pH = 7
80
70 pH = 11
60
ES (g/g)

50
40
30
20
10
0
1:0 0:1 1:1 1:3 3:1
AA/AAm mol ratio

Gambar 5.3. ES superabsorben dengan komposit bentonit

14
V.3 Pengaruh perbandingan konsentrasi monomer terhadap ES
Berdasarkan hasil penelitian yang dapat dilihat pada Gambar 5.2 dan 5.3,
superabsorben dengan kandungan monomer AA yang semakin banyak (rasio mol AA/AAm =
3:1) memiliki nilai ES yang cenderung lebih besar dibandingan dengan hasil ES pada
superabsorben dengan rasio mol AA/AAm = 1:3. Hal ini berikaitan dengan sifat monomer
AA seperti yang sudah dijelaskan pada sub bab 5.2 dimana AA memiliki sifat yang mampu
menyerap air, sehingga semakin banyak kandungan monomer AA akan membuat
superabsorben memiliki kemampuan menyerap air yang lebih besar pula.
Namun, superabsorben dengan rasio mol AA/AAm = 1:1 memiliki nilai ES paling
besar. AAm yang bersifat kompak dan rapat membuat superabsorben dapat mempertahankan
strukturnya saat AA dapat menyerap lebih banyak air, dengan demikian akan semakin banyak
air yang dapat diserap dan dipertahankan oleh superabsorben tersebut.

V.4 Pengaruh pH terhadap ES


Analisis ES dilalukan pada media dengan pH 3, 7, dan 11. Hasil percobaan pada
Gambar 5.2 dan 5.3 menunjukkan bahwa superabsorben mampu menyerap larutan pada pH
netral (7) lebih banyak dibandingkan pada pH asam atau basa. Hal ini ditunjukkan dengan
nilai ES pada pH 7 lebih besar dibandingkan pada pH 3 dan 11. Adanya ion Na+ pada larutan
basa menyebabkan melemahnya gaya tarik-menarik antara gugus anion, sehingga penyerapan
air menjadi lebih sedikit (Mirdarikvande, 2014).
Adanya fenomena charge screening effect, dimana ion Cl- dari larutan asam akan
menghalangi ion ammonium dari gugus amida sehingga dapat menghalangi penyerapan air
juga mengakibatkan nilai ES pada pH 3 lebih kecil dibandingkan pH 7 (Mirdarikvande, 2014)
(Sadeghi, 2012).

V.5 Analisis FTIR


Berdasarkan Gambar 5.4 dapat dilihat adanya puncak-puncak pada rentang panjang
gelombang 3100-3500 cm-1 yang menunjukkan adanya gugus -OH dan –NH. Adanya ikatan
O-H dan N-H ini menandakan bahwa monomer asam akrilat dan akrilamida ini telah ter-
crosslink pada backbone k-karaginan. Selain itu, terbentuk pula puncak pada panjang
gelombang 1650 cm-1 yang menunjukkan adanya gugus C=O yang mungkin terbentuk saat
proses polimerisasi grafting (Hosseinzadeh, 2012) (Cresswell, Runquist, & Campbell, 2005).

15
Gambar 5.4 Analisa FTIR superabsorben

V.6 Analisis SEM


Hasil analisis SEM yang dapat dilihat pada Gambar 5.5a menunjukkan permukaan
superabsorben pada perbesaran 500x. Dibandingkan dengan morfologi natrium alginat
sebelum mengalami proses (Gambar 5.5b) dimana morfologinya lebih halus dan tidak terlihat
adanya pori, superabsorben yang dihasilkan memiliki morfologi berpori. Struktur berpori
dengan ukuran pori yang cukup kecil inilah yang memberikan keuntungan untuk menyerap
molekul air ataupun senyawa lain yang lebih kecil.

(a) (b)

Gambar 5.5 Morfologi natrium alginat (a) dan superabsorben (b)

16
DAFTAR PUSAKA

Amit Bhattacharya, J. R., 2009, Polymer Grafting and Crosslinking, John Wiley & Sons, Inc.

Bajpai, A.K. dan Mudita S., 2002, Swelling kinetics of a hydrogel of poly(ethylene glycol)
and poly(acrylamide-co-styrene), J Appl Polym Sci 85, 1419–1428

Deyu, G., Thomas, B., Heimann, R., & Struttgart, P.,2003, Superabsorbent Polymer
Composite (SAPC) Materials and Their Industrial and High-Tech Application,
Dissertation, Technischen Universitat Bergakademie Freiberg Genehmigte

Elliot , M., 1997, Superabsorbent Polymers, BASF Aktiengesellschaft

FAO, 2015, Global Aquaculture Production statistics database updated to 2013 Summary
Information, Fisheries and Aquaculture Department

Hosseinzadeh, H., 2012, Full-Polysaccharide Superabsorbent Hydrogels Based on


Carrageenan and Sodium Alginate, Middle-East Journal of Scientific Research 12,
1521-1527

Imeson, A., 2010, Food Stabilisers, Thickeners, and Gelling Agents, Oxford: Blackwell
Publishing.

Mirdarikvande, S., Mansouri, L., Alahyari, M., Sadeghi, H., Shasavari, H., and Khani, F.,
Synhtesis of a New Drug Delivery System Based on Alginate via Graft
Copolymerization, Biosciences Biotechnology Research Asia, 11(1), 67-72

Omidian, H., Zohuriaan-Mehr, M., Kabiri, K., & Shah, K., 2004, Polymer chemistry
attractiveness: Synthesis and swelling studies of gluttonous hydrogels in the advanced
academic laboratory, Journal of Polymer Materials, 21(3), 281-292

Percival, E., 1979, The polysaccharides of green, red, and brown seaweeds: Their basic
structure, biosynthesis and function, British Phycological Journal, 14(2), 103-117

Province, P. G., 2008, 30 Thousand Ton/Year Super Absorbent Polymer Project of Jilin City.

Sadeghi, M., 2012, Synthesis of a Biocopolymer Carrageenan-g-Poly(AAm-co-


IA)/Montmorilonite Superabsorbent Hydrogel Composite, Braz. J. Chem. Eng., 29(2),
295-296.

17
Sadeghi, M and Soleimani, F., 2011, Synthesis of Novel Polysaccharide-Based
Superabsorbent Hydrogels Via Graft Copolymerization of Vinylic Monomers onto
Kappa-Carrageenan. International Journal of Chemical Engineering and
Applications, 2(5), 304-306.

Wenbo Wang, A. W., 2010, Synthesis and swelling properties of pH-sensitive semi-IPN
superabsorbent hydrogels based on sodium alginate-g-poly(sodium acrylate) and
polyvinylpyrrolidone, Carbohydrate Polymers , 80, 1028 - 1036

18