Anda di halaman 1dari 21

LIMPASAN HUJAN PERHITUNGAN

DAN PENGUKURANNYA

MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hidrologi

Dosen Pembimbing Roni Alim B.K, M.Pd

Disusun Oleh:

1. Maria E. Jena (120401050046)


2. Rosiana Mirati (120401050047)
3. Margareta Ate (120401050048)
4. Fitria (dari kelas C Ikut kelas B) (120401050122).
5. Nobertus Wahyudi (12040105015)

UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI

2014

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena berkat
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan ”Makalah Hidrologi” dengan topik “
Pengertian Limpasan Perhitungan Dan Pengukurannya”. Penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan
sesuai dengan waktunya.
Makalah ini masih jauh dari sempurna, Oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas makalah
kedepannya. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi mahasiswa khususnya dan
masyarakat pada umumnya sehingga dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu
pengetahuan bagi kita semua.

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI ………………………… …………………………………………………….ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Rumusan Masalah ……………………………………………………………….1


1.2 Tujuan ……………………………………………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN

2.1. Pemahaman tentang air limpan atau Run off ………………………………….3

2.1. Bagan siklus run off……………………………………………………………..4

2.2. Menghitung ketebalan dan Debit limpasan Hujan……………………………...5

2.3. Pengukuran debit sungai…………………………………………………….…..7

2.4. Pembuatan Hidrograf Aliran sungai…………………………………………...12

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan …………………………………………………………………….15

3.2. Saran…………………………………………………………………………….16

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
Salah satu komponen dalam siklus hidrologi adalah limpasan hujan. Komponen
limpasan hujan dapat berupa run-off (aliran permukaan) ataupun aliran yang lebih besar
seperti aliran air di sungai. Runoff atau limpasan hujan merupakan bagian air hujan yang
masuk dan mengalir dan masuk dalam badan sungai.
Secara umum analisis debit berdasarkan curah hujan yang sering dilakukan di
Indonesia adalah menggunakan metode empiris dari Dr. FJ. MOCK (1973) yaitu analisis
keseimbangan air untuk menghitung harga debit bulanan berdasarkan transformasi data
curah hujan bulanan,evapotanspirasi,kelembaban tanah. metode empiris tersebut
digunakan apabila terdapat catatan debit sungai yang hilang. Prinsip metode Mock
menyatakan bahwa hujan yang jatuh pada tangkapan air, sebagian akan hilang akibat
evapotanspirasi,sebagian akan langsung menjadi direct runoff dan sebagian lagi akan
masuk kedalam tanah atau terjadi infiltrasi, ini mula-mula akan menjenuhkan permukaan
tanah, kemudian terjadi perkolasi ke air tanah dan akan keluar sebagai base flow.
Pengukuran sungai umumnya di tujukan untuk mengukur besarnya debit sungai.
Debit air adalah besarnya volume air yang mengalir melalui penampang sungai per
satuan waktu. Pengukuran debit air tidak di lakukan di sembarang kondisi sungai.
Pengukuran debit air agar hasilnya teliti dan valid.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Pemahaman Tentang Air Limpasan (run-off)?
2. Bagaimana Perhitungan ketebalan dan debit limpasan hujan (runoff) dengan metode
F.J MOCK (Ketersediaan Air)?
3. Bagaimana Teknik pengukuran debit sungai?
4. Bagaimana Pembuatan hidrograf aliran sungai?

4
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui Air Limpasan (run-off).
2. Untuk mengetahui perhitungan ketebalan dan debit limpasan hujan (runoff) dengan
metode F.J MOCK (Ketersediaan Air).
3. Untuk mengetahui Teknik pengukuran debit sungai.
4. Untuk mengetahui Pembuatan hidrograf aliran sungai.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pemahaman Tentang Air Limpasan (run-off),


Salah satu komponen dalam siklus hidrologi adalah limpasan hujan. Komponen
limpasan hujan dapat berupa run-off (aliran permukaan) ataupun aliran yang lebih besar
seperti aliran air di sungai.
Limpasan akibat hujan ini dapat terjadi dengan cepat dan dapat pula setelah beberapa
jam setelah terjadinya hujan. Lama waktu kejadian hujan puncak dan aliran puncak sangat
dipengaruhi oleh kondisi wilayah tempat jatuhnya hujan. Makin besar perbedaan waktu
kejadian hujan puncak dan debit puncak, makin baik kondisi wilayah tersbut dalam
menyimpan air di dalam tanah.
Wilayah Indonesia dengan kondisi tropis dimana hujan terjadi terpusat pada enam
bulan periode hujan menyebabkan kita harus bisa melakukan rekayasa konservasi air dengan
cara menyimpan air hujan sebanyak mungkin di dalam tanah selama musim hujan dan
memanfaatkannya setelah datangnya periode musim kemarau. Disamping itu, penyimpanan
air hujan yang baik akan mampu meredam kejadian aliran puncak yang tinggi yang dapat
menyebabkan banjir.
Runoff merupakan bagian air hujan yang masuk dan mengalir dan masuk dalam badan
sungai. Masuknya air hujan kedalam sungai dapat melalui berbagai cara, yaitu;
1. Langsung jatuh kedalam badan sungai (channel precipitation),
2. Mengalir terlebih dahulu diatas permukaan tanah kemudian masuk ke badan sungai
(direct runoff),
3. Masuk ke dalam tanah (infiltration) kemudian mengalir mengikuti horizon tanah
menuju badan sungai (sub-surface flow),
4. Masuk ke dalam tanah terus menuju air tanah (percolation) kemudian mengalir ked
alam sungai (groundwater flow). Perjalanan air hujan menuju air sungai ini disebut
siklus runoff. Secara visual siklus runoff tersebut dapat digambarkan dalam bentuk
skema dan sketsa penampang sungai berikut ini.

6
Gambar Bagan siklus Runoff

Precipitation

Precipitation Losses

Excess

Infiltration Other Losses

Runoff
E (Qs)
Percolation
Sub-surface
flow (Qss)
Direct
Runoff
Groundwater
(Qds) Discharge
(Qgs)

Total Runoff (River


Channel
Discharge)
Precipitation
r
Berdasarkan bagan siklus runoff tersebut dapat diketahui bahwa pada dasarnya aliran
sungai itu berasal dari curah hujan. Air hujan untuk sampai ke badan sungai melalui berbagai
proses,ada yang langsung masuk ke badan sungai, ada yang melalui perjalanan pendek, tetapi
ada pula yang harus melalui perjalanan yang panjang dan dalam waktu lama. Air hujan yang
langsung masuk ke badan sungai disebut channel precipitation,dan air hujan yang melalui
perjalanan agak panjang disebut aliran langsung (direct runoff). Sedangkan air hujan yang masuk
ke sungai dengan melalui perjalanan panjang adalah aliran air tanah baik dalam bentuk sub-
surface flow maupun groundwater flow. Berdasarkan proses perjalanan air hujan menuju sungai
tersebut, maka total aliran air sungai merupakan akumulasi dari channel precipitation, direct
flow, sub-surface flow, dan groundwater flow.

7
2.2 PENGHITUNGAN KETEBALAN DAN DEBIT LIMPASAN HUJAN
Secara umum analisis debit berdasarkan curah hujan yang sering dilakukan di
Indonesia adalah menggunakan metode empiris dari Dr. FJ. MOCK (1973) yaitu analisis
keseimbangan air untuk menghitung harga debit bulanan berdasarkan transformasi data curah
hujan bulanan,evapotanspirasi,kelembaban tanah. Metode empiris tersebut digunakan apabila
terdapat catatan debit sungai yang hilang.
Prinsip metode Mock menyatakan bahwa hujan yang jatuh pada tangkapan air,
sebagian akan hilang akibat evapotranspirasi,sebagian akan langsung menjadi direct runoff
dan sebagian lagi akan masuk kedalam tanah atau terjadi infiltrasi, ini mula-mula akan
menjenuhkan permukaan tanah, kemudian terjadi perkolasi ke air tanah dan akan keluar
sebagai base flow. Hal ini terdapat keseimbangan antara air hujan yang jatuh dengan
moisture dan ground water discharge. Aliran dalam sungai adalah jumlah aliran yang
langsung dipermukaan tanah dan base flow.
Curah hujan rata-rata bulanan di daerah pengaliran sungai dihitun berdasarkan data
pengukuran curah hujan dan evapotanspirasi yang sebenarnya dari data meteorology dengan
menggunakan metode penman dan karakteristik vegetasi,perbedaan antara curah hujan dan
evapotanspirasi mengakibatkan limpasan air hujan langsung(direct runoff),aliran dasar/air
hujan lebat (strom runoff).
Data asumsi dan yang diperlukan untuk penghitungan metode mock adalah sebagai
berikut:
1. Data curah hujan.
Data curah hujan yang digunakan adalah curah hujan 10 harian. stasiun curah
hujan yang dipakai adalah stasiun yang dianggap mewakili kondisi hujan di daerah
tersebut.
2. Evapotranspirasi terbatas.
Evapotranspirasi terbatas adalah evapotranspirasiactual denga mempertimbangkan
kondisi vegetasi dan permukaan tanah serta frekuensi curah hujan. Untuk menghitung
evapotranspirasi terbatas diperlukan data:
 Curah hujan sepuluh harian (P).
 Jumlah hari hujan (n).

8
 Jumlah permukaan kering 10 harian (d) dihitung dengan asumsi bahwa tanah dalam
suatu hari hanya mampu menahan air 12 mm dan selalu menguap sebesar 4 mm.
 Exposed surface (m%) ditaksi berdasarkan peta tata guna lahan atau dengan asumsi:
m= 0% untuk lahan dengan hutan lebat.
m= 10% - 40% untuk lahan sekunder.
m= 20% -50% untuk lahan pertanian yang diolah.
Secara sistematis evapotranspirasi dirumuskan sebagai berikut:

Keterangan;
Delta E =beda antara evapotranspirasi potensional dengan evapotranspirasi
terbatas (mm).
Eactual =evapotranspirasi terbatas (mm).
Epm = evapotranspirasi potensial (mm).
M =singkapan lahan (Exposed surface).
3. Faktor karakteristik hidrologi faktor bukan lahan.
M=0% untuk lahan dengan hutan lebat.
M=10-40% untuk lahan tererosi.
M=30-50% untuk pertanian yang diolah.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan untuk seluruh daerah studi yang
merupakan daerah lahan pertanian yang diolah dan lahan tererosi maka dapat
diasumsikan untuk faktor m diambil 30%.
4. Luas daerah pengaliran.
Semakin besar daerah pengaliran dari suatu aliran kemungkinan akan semakin
besar pulau ketersedian debitnya.
5. Water Surplus.
Water surplus didefenisikan sebagai curah hujan yang telah mengalami
evapotranspirasi dan mengisi soil storage (SS).water surplus secara langsung
berpengaruh pada infiltrasi/porkalasi dan total run-off yang merupakan komponen dari
debit. Persamaan water surplus (WS) adalah sebagai berikut:

9
Wa = (P-Ea)+SS

Water surplus adalah air permukaan run-off dan infiltrasi. Soil Moistur Storage
(SMS) terdiri dari soil moisture capacity (SMS),zone dari infiltrasi, limpasan permukaan
dan soil stroge. Besar soil moisture storage (SMS) untuk masing-masing wilayah
tergantung pada jenis tanaman ,tutupan lahan (land cover) dan jenis tanah.
Dalam Mock, SMS dihitung sebagai berikut :

SMS = ISMS+(P-
Ea)
6. Kapasitas kelembaban tanah (SMC) soil moisture capacity,
Adalah kapasitas kandungan air pada lapisan tanah permukaan (surface soil )per
M2. Besarnya SMC untuk perhitungan ketersediaan air ini diperkirakan berdasarkan
kondisi prositas lapisan tanah permukaan dari DPS. Semakin besar semakin besar
porositas tanah akan semakin besar pula SMC yang ada .dalam perhitungan ini nilai
SMC diambil antara 50 mm sampai 200 mm. Persamaan yang digunakan untuk besarnya
kapasitas kelembaban tanah adalah:

Keterangan;
Eactual =evapotraspirasi aktual, mm/bulan;
SMS =simpanan kelembban tanah,mm/bulan;
ISMS =kelembaban tanah awal,mm/bulan;
P =curah hujan bulanan,mm/bulan;
WS =kelebihan air,mm/bulan;

2.3 PENGUKURAN DEBIT SUNGAI


Pengukuran sungai umumnya ditujukan untuk mengukur besarnya debit sungai.
Debit air adalah besarnya volume air yang mengalir melalui penampang sungai per satuan
waktu. Pengukuran debit air tidak di lakukan di sembarang kondisi sungai. Pengukuran debit
air agar hasilnya teliti dan valid, maka harus mengikuti persyaratan sebagai berikut yang di

10
tetapkan oleh masing masing model atau formula debit. Beberapa hal yang harus di
perhatikan dalam pengukuran debit adalah :
1) Pemilihan tempat pengukuran (Gauging site).
Dalam pengukuran debit air biasanya di lakukan pengukuran pengukuran tinggi
muka air (stage elevation )dan parameter penampang sungai lainnya .untuk
melaksanakan pengukuran tersebut, penempatan stasiun pengukuran harus
memperhatikan 4 hal yaitu :
 Tempat pengukuran harus mudah di capai pengamat.
 Kondisi tempat harus sesuai dengan alat yang di gunakan .
 Kedudukan tempat harus stabil.
 Kondisi alat harus standard an stabil.
2) Pemilihan lokasi pengukuran pengukuran tinggi muka air
Dalam pemilihan lokasi pengukuran tinggi muka air, ada beberapa syarat yang
harus di perhatikan yaitu lokasi pengukuran hendaknya :
 Tidak terlalu dekat dengan percabangan sungai,untuk menghindari efek back
water.
 Berada di hulu dan hilir dari bangunan hidrologi,seperti bendungan atau dam dan
ambang (weir).
 Mudah di capai,misalnya dekat dengan jembatan dan sebagainya.
 Berada pada bagian sungai yang lurus agar di peroleh ketelitian yang tinggi.
 Berada pada dasar sungai yang stabil.
3) Syarat pengukuran kecepatan aliran.
Pada dasarnya debit air merupakan fungsi dari luas penampang saluran dan
kecepatan aliran,maka dalam pengukuran debit beberapa hal berkait dengan kedua
parameter tersebut harus dp perhatikan .adapun syarat syarat yang harus di perhatikan
dalam pengukuran kecepatan aliran yaitu :
 Penampang hendaknya tegak lurus dengan badan sungai,dan kecepatan aliran
pada semua titik hendaknya seragam.
 Dapat menghasilkan kurva distribusi kecepatan aliran yang teratur.
 Kecepatan aliran lebih besar dari 10/15 sentimeter per detik.
 Dasar sungai hendaknya di pilih yang stabil.

11
 Kedalaman air hendaknya lebih dari 30 cm.
 Hendaknya tidak ada aliran yang melampaui tebing.
 Hendaknya tidak terdapat tumbuhan atau benda pengganggu lainnya.
4) Alat untuk mengukur tinggi muka air.
 Untuk mengukur tinggi muka air di perlukan beberapa alat antara lain :
 Alat ukur manual berupa papan duga (staff gauge).
 Alat ukur otomatis berupa automatic water level recorder (AWLR).
5) Metode pengukuran debit air.
Debit air adalah besarnya volume air yang mengalir melalui penampang tertentu
persatuan waktu. Debit air merupakan fungsi dari luas penampang di kalikan
kecepatan aliran. Luas penampang saluran yang berbentuk teratur di hitung menurut
bentuk bangunnya, sedangkan penampang yang tidak teratur di hitung dengan
menggunakan prinsip rata rata kedalaman air, sedangkan kecepatan aliran merupakan
fungsi dari bentuk saluran,nilai kekasaran saluran, dan kemiringan aliran.
Metode pengukuran debit air ada beberapa macam,dan setiap metode memiliki
kesesuaian dengan kondisi sungai atau saluran air yang akan di ukur debitnya.
Pengukuran debit air dengan menggunakan 3 macam metode yaitu
1. Slope area.
2. Metodw kontinyu
3. Metode pelampung
4. Metode weir.
Adapun cara pengukuran debit dengan ketiga metode tersebut sebagai berikut :
1. Pengukuran debit air dengan menggunakan metode Slope Area. Prinsip rumus debit
air dengan metode Slope Area adalah mengalihkan luas penampang saluran dengan
kecepatan aliran. Luas penampang saluran di ukur dan di hitung sesuai rumus bentuk
bangunan saluran. Sedangkan kecepatan aliran merupakan fungsi dari bentuk
penampang,kekasaran dasar saluran,dan kemiringan permukaan air. Pada prinsip
peran kekasaran saluran adalah semakin kasar dasar saluran,akan semakin besar
hambatan,dan berarti semakin kecil kecepatan aliran air. Sedangkan kemiringan
permukaan air di tentukan oleh beda tinggi antara titik hulu dan hilir sungai. Semakin
besar kemiringan dasar saluran akansemakin besar beda tinggi permukaan

12
air,sehingga akan semakin cepat aliran air. Ada pun rumus debit air sungai dengan
metode Slope Area sebagai berikut :

Q =A.V

Keterangan :
Q = A´V

V = kecepatan aliran (m/dt)

N = koefisien kekasaran Manning menurut Cowan

R = radius hidraulik = A/P

A = luas penampang basah (m2)

P = panjang dasar penampang basah (m)

S = kemiringan permukaan air

Contoh soal:

2. Pengukuran Debit dengan Metode Kontinyu


Current meter diturunkan kedalam aliran air dengan kecepatan penurunan yang
konstant dari permukaan dan setelah mencapai dasar sungai diangkat lagi ke atas
dengan kecepatan yang sama.
Contoh perhitungan dengan menggunakan metode kontiny

13
3. Pengukuran debit sungi dengan metode penampung.
Pada prinsipnya rumus debit air sungai metode Apung merupakan hasil kali luas
penampang sungai dengan kecepatan aliran.cara memperoleh nilai luas penampang
sungai sama seperti dalam metode slope area.sedangkan kecepatan aliran air di
perkirakan berdasarkan kecepatan pelampung yang di hanyutkan dalam air.oleh
karena massa pelampung tidak sama dengan massa air,maka kecepatan hanyut
perlampung tidak otomatis sama dengan kecepatan aliran air berdasarkan kecepatan
hanyut perlampung di hitung

14
Rumus:
Q = A´k´ V
Keterangan :
Q = debit aliran (m3/dt)
A = luas penampang basah (m2)

k = koefisien

V = kecepatan pelampung (m/dt)

Nilai k tergantung dari jenis pelampung yang dipakai, dan dapat dihitung dengan
persamaan sebagai berikut: k = 1 – 0,116 ( - 0,1)

Contoh Soal:

Pelampung

a. Gabus

A = Luas penampang = 2.7 m2

V = 1.15 m/dtk

Q =AxV

= 2.7 x 1.15

= 3.105 m3/dtk

4. Pengukuran debit air sungai dengan Bendung (weir).


Weir adalah alat pembendung air dengan bentuk tertentu yang di gunakan untuk
mengukur debit air saluran.bentuk yang banyak di gunakan pada metode ini adalah
bentuk segitiga, segi empat,dan persegi panjang. Weir dapat di buat dari pelat besi
yang di gores dengan bentuk tertentu di tengahnya. Weir ini di pasang dalam sungai
,sehingga seluruh aliran air terbendung dan meangalir melalui bagian weir yang di
gores tersebut.Rectanguler Weir
Cara Kerja :
1.Menentukan lebar weir yang dipergunakan.
2.Membendung selokan dengan menggunakan weir

15
3.Mengukur tinggi perairan dari dasar perairan sampai garis bawah air.

4.Mengukur ketinggian air setelah dipasang weir.

5.Menghitung debit dengan rumus :

Q = 3,33 x H3/2 ( L-0,2H )

Q = Debit air (cfs=cubis feet per second)

H = TinggiWeir (feet)

L = Lebar Weir (feet)

Beberapa rumus pengukuran debit dengan weir di sajikan sebagai berikut


(sosrodarsono dan takeda 2003 )

a) Bendung segitiga siku siku.


Rumus debit bendung segitiga siku siku adalah:

Q=K.h 5/2

Keterangan :
Q=debit (m3/menit).
H=tinggi muka air di atas weir (m).
K= koefisien debit.
=81,2+0,24/h+(8,4+12D)(h/B-0,09)2.
B=Lebar saluran(M).
D=Tinggi Dari dasar saluran ke titik terendah dari weir.
b) Bendung persegi empat.
Rumus bending persegi empat adalah :

Q=K b h 3/2

Q=K b h 3/2.
Keterangan :
Q= debit ( m3/detik).
B= lebar mercu (m).
H= tinggi muka air di atas weir (m).

16
K= koefisien debit.
B=Lebar saluran (m).
D= Tinggi dari dasar saluran ke titik terendah dari weir (m).
c) Bendung lebar penuh.
Rumus bending persegi empat adalah :
Q=KBh3/2
Keterangan
Q= debit ( m3/detik)
B= lebar mercu ( m)
H= tinggi muka air di atas weir (m)
K= koefisien debit
B=Lebar saluran (m)
D= Tinggi dari dasar saluran ke titik terendah dari weir (m)

2.4. PEMBUATAN HIDROGRAF ALIRAN SUNGAI


Hidrograf merupakan penyajian grafis antara salah satu unsur aliran yaitu debit
sungai atau tinggi muka air dengan waktu, tetapi hidrograf yang dimaksudkan pada
uraian selanjutnya adalah hidrograf debit. Debit sungai yang diperoleh dari pengamatan
digambarkan sebagai ordinat dan waktu pengamatan sebagai absis. Bentuk lengkung
hidrografnya tergantung pada karakteristik hujan yang mengakibatkan aliran. Pada
umumnya semakin besar intensitas hujannya semakin tinggi puncak hidrografnya. Daerah
Aliran Sungai dengan intensitas hujan tetap, semakin lama durasi hujannya sehingga
melebihi waktu konsentrasi semakin lama durasi puncak hidrografnya. Bentuk hidrograf
pada kondisi tersebut mendekati trapesium (Wanielista, 1990:155); Sobriyah dan
Sudjarwadi (1998:12).
Suatu hidrograf dapat dianggap sebagai suatu gambaran dari karakteristik
fisiografis dan klimatis yang mengendalikan hubungan antara curah hujan dan pengaliran
dari suatu DAS tertentu. Komponen yang merupakan sumber penyebab aliran di sungai
antara lain; air yang berasal langsung dari hujan (precipitation), limpasan permukaan
(surface runoff), aliran bawah tanah (subsurface flow, interflow) dan aliran air tanah
(groundwater flow), Chow,1964 dalam Sri Harto (1993:144).

17
Hidrograf aliran terdiri dari tiga komponen, yaitu:
1. sisi naik (rising limb).
2. bagian puncak (crest).
3. sisi resesi atau sisi turun(recession limb)
sebagai ditunjukkan pada Gambar 1. Sisi naik menandakan masih adanya kontribusi
hujan terhadap debit aliran. Puncak hidrograf adalah debit maksimum yang terjadi dalam
suatu aliran dengan waktu naik yang merupakan selang waktu antara mulai bertambahnya
aliran sampai tercapainya debit puncak. Sisi turun merupakan proses pengatusan daerah
tangkapan. Waktu dasar yaitu waktu mulai bertambahnya debit aliran sampai kembali ke
debit aliran dasar. Hidrograf tersebut adalah hidrograf tunggal yang dihasilkan oleh
hujan periode tunggal, sedang hidrograf kompleks yang mempunyai puncak ganda atau
lebih merupakan aliran dari hujan periode panjang dengan intensitas yang bervariasi.

1. Gambar Komponen Hidrograf

105 2

Q 1
3

Waktu
1. Sisi naik 2. Sisi puncak 3. Sisi turun

Sifat-sifat Hidrograf antara lain :


a. Time Lag (L) : waktu dari titik berat hujan sampai puncak
hidrograf.
b. Waktu naik (rising time) tp : waktu mulai hujan sampai puncak.
c. Waktu konsentrasi tc : waktu dari akhir hujan sampai titik belok pada sisi
turun.

18
d. Waktu turun (recession time) tr : waktu dari puncak sampai akhir limpasan permukaan.
e. Waktu dasar (base time) tb : waktu dari awal sampai akhir limpasan permukaan.

BAB III
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Aliran permukaan (run off) adalah bagian dari curah hujan yang mengalir diatas
permukaan tanah menuju ke sungai, danau dan lautan. Air hujan yang jatuh ke permukaan
tanah ada yang langsung masuk ke dalam tanah atau disebut air infiltrasi. Karakteristik
daerah yang berpengaruh terhadap bagian air hujan antara lain adalah topografi, jenis tanah,
dan penggunaan lahan atau penutup lahan. Berdasarkan data yang didapat maka terjadinya
limpasan ditentukan oleh faktor kelebatan hujan, yakni besaran hujan yang tercurah dalam
satuan waktu.

Runoff merupakan bagian air hujan yang masuk dan mengalir dan masuk dalam badan
sungai. Masuknya air hujan kedalam sungai dapat melalui berbagai cara, yaitu, a). Langsung
jatuh kedalam badan sungai (channel precipitation), b). Mengalir terlebih dahulu diatas
permukaan tanah kemudian masuk ke badan sungai (direct runoff), c). Masuk ke dalam
tanah (infiltration) kemudian mengalir mengikuti horizon tanah menuju badan sungai (sub-
surface flow),d). Masuk ke dalam tanah terus menuju air tanah (percolation) kemudian
mengalir dalam sungai (groundwater flow). Dalam pengukuran limpasan hujan di Indonesia
pada umumnya menggunakan metode Dr. FJ. Mock yaitu analisis keseimbangan air untuk
menghitung harga debit bulanan berdasarkan transformasi data curah hujan
bulanan,evapotanspirasi,kelembaban tanah. Metode empiris tersebut digunakan apabila
terdapat catatan debit sungai yang hilang.
Dalam pembuatan hidrograf aliran terdiri dari tiga komponen, yaitu:
(1) sisi naik (rising limb).
(2) bagian puncak (crest).
(3) sisi resesi atau sisi turun(recession limb).

19
4.2. Saran
Pengukuran sungai umumnya di tujukan untuk mengukur besarnya debit sungai.
Pengukuran debit air tidak di lakukan di sembarang kondisi sungai. Dalam Pengukuran debit
air harus lebih benar dan valid agar hasilnya memuaskan, dalam pengukuran debit air
sebaiknya di lakukan dengan:
1. Proses kalibrasi terhadap model yang didapat agar model tersebut dapat diaplikasikan di
lapangan.
2. Penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh aliran masuk (inflow),disamping hujan,
terhadap limpasan.
3. Percobaan dilakukan dengan variasi kemiringan dan intensitas hujan yang lebih banya

20
DAFTAR PUSTAKA

 Utaya,Sugeng. 2013.Pengantar Hidrologi. Aditya Media Publishing.


 http://one- geo.blogspot.com/2011/01/limpasan-permukaan-runoff.html
 http://www.slideshare.net/infosanitasi/curah-hujan-dan-aliran- limpasan
 http://www.spk 2009.hostoi.com/Drainase/Fakta Analisa Analisis DebitAir limpasan.html

21