Anda di halaman 1dari 10

PENATAAN WILAYAH REPUBLIK INDONESIA

OLEH :
AISYAH RACHMAWATI WAHYUNINGRUM
10111800000004
KEWARGANEGARAAN KELAS 37

FAKULTAS VOKASI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa sudah memberikan kita semua hidayah dan kemudahan
sehingga kita dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah yang kami buat ini
lengkap dan dikerjakan dengan maksimal. Tentunya juga dengan bantuan dari berbagai pihak
sehingga memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih
untuk semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari hal tersebut, kami juga bisa menyadari bahwa kami masih ada kekurangan. Untuk
itu, kami siap menerima segala bentuk saran atau kritik dari pembaca agar makalah ini bisa
menjadi lebih baik.

Demikian kami juga berharap, semoga dengan makalah terkait Penataan Wilayah Republik
Indonesia bisa memberikan untuk kita semua dari sisi manfaat atau pengetahuan yang luas
kepada pembaca.
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Penataan wilayah merupakan suatu sistem proses penataan dan pembagian wilayah.
Wilayah di nusantara ini meliputi wilayah darat, laut, bahkan udara. Penataan ruang terdiri
dari tiga kegiatan utama yaitu perencanaan tata ruang, perwujudan tata ruang, dan
pengendalian tata ruang. Kewenangan terhadap penyelenggaraan kegiatan utama penataan
ruang diberikan kepada Pemerintah dan pemerintah daerah. Meskipun negara memberikan
kewenangan penyelenggaraan penataan ruang kepada Pemerintah, penyelenggaraan
penataan ruang tersebut dilakukan dengan tetap menghormati hak yang dimiliki orang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hal ini dimaksudkan agar orang
yang memiliki kepentingan ataupun yang memiliki hak tidak merasa dirugikan dengan
adanya kegiatan penyelenggaraan penataan ruang yang dilakukan oleh Pemerintah.
Pelaksanaan penataan ruang didasarkan pada beberapa pendekatan yaitu pendekatan
sistem, fungsi utama kawasan, wilayah administratif, kegiatan kawasan, dan nilai strategis
kawasan. Penataan ruang dengan pendekatan menggunakan wilayah administratif dapat
dibagi menjadi wilayah nasional, wilayah provinsi, wilayah kabupaten, dan wilayah kota.
Kawasan perkotaan, menurut besarannya, dapat berbentuk kawasan perkotaan kecil,
kawasan perkotaan sedang, kawasan perkotaan besar, kawasan metropolitan, dan kawasan
megapolitan. Penataan ruang kawasan metropolitan dan kawasan megapolitan, khususnya
kawasan metropolitan yang berupa kawasan perkotaan inti dengan kawasan perkotaan di
sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional dan dihubungkan dengan jaringan
prasarana wilayah yang terintegrasi, merupakan pedoman untuk keterpaduan perencanaan
tata ruang wilayah administrasi di dalam kawasan, dan merupakan alat untuk
mengoordinasikan pelaksanaan pembangunan lintas wilayah administratif yang
bersangkutan. Penataan ruang kawasan perdesaan diselenggarakan pada kawasan
perdesaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten atau pada kawasan yang secara
fungsional berciri perdesaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten pada 1
(satu) atau lebih wilayah provinsi. Kawasan perdesaan yang merupakan bagian wilayah
kabupaten dapat berupa kawasan agropolitan.
1.2 TUJUAN
1. Untuk mengetahui bagaimana penataan wilayah pada Negara Kesatuan Republik
Indonesia
2. Untuk mengetahui peraturan dan kebijakan yang berlaku untuk penataan wilayah
3. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan penataan wilayah Negara Indonesia

1.3 RUMUSAN MASALAH


1. Apa saja peraturan dan kebijakan yang berlaku dalam penataan wilayah Republik
Indonesia?
2. Bagaimana perkembangan penataan wilayah Republik Indonesia?

1.4 MANFAAT
1. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang penataan wilayah Republik Indonesia
2. Mengetahui aturan-aturan yang berlaku dalam penataan wilayah
3. Memahami tentang bagaimana perkembangan penataan wilayah Republik Indonesia
BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 PERATURAN DAN KEBIJAKAN PENATAAN WILAYAH REPUBLIK


INDONESIA
- Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang
- Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 tentang penataan ruang

2.2 TUJUAN PENATAAN WILAYAH

Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah


nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan
Nusantara dan Ketahanan Nasional, yaitu :
A. Mewujudkan wilayah nasional yang aman, maksudnya situasi masyarakat dapat
menjalankan aktivitas kehidupannya dengan terlindungi dari berbagai ancaman.
B. Mewujudkan wilayah nasional yang nyaman, yakni suatu keadaan masyarakat dapat
mengartikulasikan (berperan mewujudkan atau mengaktualisasikan sesuatu dalam
kehidupannya secara nyta) nilai sosial budaya dan fungsinya dalam suasana yang
tenang dan damai.
C. Mewujudkan wilayah nasional yang produktif, maksudnya proses produksi dan
distribusi berjalan secara efisien sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi
untuk kesejahteraan masyarakat, sekaligus meningkatkan daya saing.
D. Mewujudkan wilayah nasional yang berkelanjutan, maksudnya kondisi kualitas
lingkungan fisik dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan, termasuk pula
antisipasi untuk mengembangkan orientasi ekonomi kawasan setelah habisnya SDA
tak terbarukan.

2.3 KLASIFIKASI PENATAAN WILAYAH

Menurut UU RI NO. 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG


penataan ruang diklasifikasikan berdasarkan sistem, fungsi utama kawasan, wilayah
administratif, kegiatan kawasan, dan nilai strategis kawasan, yaitu :
1. Penataan ruang diselenggarakan dengan memperhatikan:
A. Kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang rentan
terhadap bencana;
B. potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan;
kondisi ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, pertahanan keamanan,
lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai satu kesatuan;
dan
C. geostrategi, geopolitik, dan geoekonomi.

2. Penataan ruang wilayah nasional, penataan ruang wilayah provinsi, dan penataan ruang
wilayah kabupaten/kota dilakukan secara berjenjang dan komplementer.

3. Penataan ruang wilayah nasional meliputi ruang wilayah yurisdiksi dan wilayah
kedaulatan nasional yang mencakup ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk
ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan.

4. Penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota meliputi ruang darat, ruang laut,
dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

5. Ruang laut dan ruang udara, pengelolaannya diatur dengan undang-undang tersendiri.

2.4 PERKEMBANGAN PENATAAN WILAYAH REPUBLIK INDONESIA


Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, sebagai
dasar pengaturan penataan ruang selama ini, pada dasarnya telah memberikan andil
yang cukup besar dalam mewujudkan tertib tata ruang sehingga hampir semua
pemerintah daerah telah memiliki rencana tata ruang wilayah. Sejalan dengan
perkembangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, beberapa pertimbangan
yang telah diuraikan sebelumnya, dan dirasakan adanya penurunan kualitas ruang pada
sebagian besar wilayah menuntut perubahan pengaturan dalam Undang-Undang
tersebut.

Beberapa perkembangan tersebut antara lain :


 situasi nasional dan internasional yang menuntut penegakan prinsip keterpaduan,
keberlanjutan, demokrasi, dan keadilan dalam rangka penyelenggaraan penataan
ruang yang baik;
 pelaksanaan kebijakan otonomi daerah yang memberikan wewenang yang semakin
besar kepada pemerintah daerah dalam penyelenggaraan penataan ruang sehingga
pelaksanaan kewenangan tersebut perlu diatur demi menjaga keserasian dan
keterpaduan antardaerah, serta tidak menimbulkan kesenjangan antardaerah; dan
 kesadaran dan pemahaman masyarakat yang semakin tinggi terhadap penataan ruang
yang memerlukan pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan
ruang agar sesuai dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat.

Saat diberlakukannya UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,


menyisakan banyak pertanyaan. Terutama tentang kualitas produk rencana tata ruang,
keterbatasan biaya perencanaan, dan miskinnya kognisi dalam dinamika 3 aspek proses
merencana, yaitu teknoratis, partisipatif, dan legislatif. Pertumbuhan ekonomi,
investasi dan percepatan pembangunan infrastruktur dasar terhambat karena konflik
ruang. Proyek-proyek strategis bertabrakan dengan produk rencana di level nasional
dan lokal.
Namun aturan-aturan itu belum berhasil mewujudkan tata ruang kota yang
diidamkan semua orang. Persoalan-persoalan yang mengemuka di media massa
merupakan fakta ada hal-hal tertentu yang luput dari perhitungan pemerintah. Ikatan
Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia menilai persoalan tata ruang sampai saat ini sudah
mengalami tumpang tindih yang bisa berdampak pada konflik berkepanjangan di
kemudian hari, sehingga memerlukan perhatian serius dari pemerintah agar persoalan
pembangunan ruang kota ini tidak menghambat pertumbuhan ekonomi, investasi dan
percepatan pembangunan infrastruktur.
BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 KESIMPULAN
Ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik sebagai kesatuan
wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di
dalam bumi, maupun sebagai sumber daya, merupakan karunia Tuhan Yang Maha
Esa kepada bangsa Indonesia yang perlu disyukuri, dilindungi, dan dikelola secara
berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat sesuai dengan makna yang
terkandung dalam falsafah dan dasar negara Pancasila. Dalam Undang-Undang
tentang Penataan Ruang menyatakan bahwa negara menyelenggarakan penataan
ruang, yang pelaksanaan wewenangnya dilakukan oleh Pemerintah dan pemerintah
daerah dengan tetap menghormati hak yang dimiliki oleh setiap orang.

3.2 SARAN
Meninjau dari pembahasan tentang penataan wilayah, sebaiknya Indonesia lebih
berinovasi lagi. Pemerintah juga harus segera mereformasi instrumentasi kebijakan,
lakukan padu serasi semua peraturan yang bersifat normatif dan teknis terkait dengan
penyelenggaraan tata ruang. Contohnya melalui Komisi Perencanaan di daerah untuk
mengawal transformasi kelembagaan penataan ruang dan pertanahan. Hal itu bisa
menjamin inklusifitas dan akuntabilitas perizinan yang selama ini prosesnya
disangsikan oleh masyarakat. Pengendalian pemanfaatan lahan harus seimbang.
Masalah aksesibilitas dan mobilitas akan menjadi isu penting kota-kota Indonesia.
Mobilitas masyarakat perlu didukung oleh angkutan masal yang mumpuni.
DAFTAR PUSTAKA

http://eprints.ums.ac.id/32331/2/4.%20Bab%201%20-%20E100130079.pdf

http://e-journal.uajy.ac.id/5017/2/1HK09907.pdf

http://www.gitews.org/tsunami-
kit/en/E6/further_resources/national_level/undang_undang/UU%2026-
2007_Penataan%20Ruang.pdf

http://www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/640.pdf