Anda di halaman 1dari 2

Fase Pertama: Pengembangan Karyawan (Employee Development)

Tindakan pemimpin yang secara aktif dan terus-menerus mengembangkan


karyawan (anggota organisasi) akan mengarahkan pada terciptanya kepuasan kerja
dan meningkatnya komitmen karyawan terhadap perusahaan dan pekerjaannya
secara signifikan. Pengembangan karyawan juga akan memberikan pengaruh positif
pada peningkatan produktivitas kerja karyawan, yang selanjutnya berakibat pada
naiknya kinerja atau performansi.

Fase Kedua: Penciptaan Nilai Tambah bagi Pelanggan (Value


Added far Customers)
Karyawan yang tingkat kepuasan dan komitmennya tinggi terhadap pekerjaan serta
organisasi dan memiliki performansi kerja yang baik, secara otomotis akan terus
berusaha untuk melaya ni pelanggan dengan segenap hatinya. Karyawan akan
selalu memberikan yang terbaik melalui pekerjaannya. la akan mengabdikan diri
dengan sepenuh hati demi tercapainya tujuan-tujuan organisasi yang telah
ditetapkan. Ia akan menyelaraskan visi pribadinya ke dalam visi perusahaan.
Perilaku tersebut akan mengarah pada terciptanya nilai tambah yang dapat
diberikan dalam bentuk produk atau jasa yang lebih prima kepada pelanggan. Hal ini
terjadi melalui pelayanan yang prima kepada pelanggan dan tindakan -tindakan
yang menciptakan efisiensi kerja di perusahaan.

Fase Ketiga: Terciptanya Kepuasan Pelanggan


Nilai tambah yang diberikan perusahaan melalui karyawan kepada pelanggan
membuat pelanggan puas akan produk atau jasa yang mereka bell. Kepuasan yang
dihasilkan dan tercipta dalam berbagai kesempatan akan membuat mereka loyal
dan komit pada perusahaan

Fase Keempat: Keberhasilan Perusahaan Berkesinambungan


Proses keberhasilan untuk meningkatkan pendapatan dan profit perusahaan akan
terjadi secara terus-menerus, bahkan akan terus diperkuat. Hal ini jelas akan
berakibat pada keberhasilan yang langgeng.

Kepemimpinan pelayan
kepemimpinan pelayan adalah suatu kepemimpinan yang berawal dari perasaan
tulus yang timbul dari dalam hati untuk melayani, menempatkan kebutuhan pengikut
sebagai prioritas, menyelesaikan sesuatu bersama orang lain dan membantu orang
lain dalam mencapai suatu tujuan bersama.
Karakeristik kepemimpinan pelayan

1. Mendengarkan (Listening). mendengarkan dengan penuh perhatian kepada


orang lain, mengidentifikasi dan membantu memperjelas keinginan kelompok,
juga mendengarkan suara hati dirinya sendiri.

2. Empati (Empathy). Pemimpin yang melayani adalah mereka yang berusaha


memahami rekan kerja dan mampu berempati dengan orang lain.

3. Penyembuhan (Healing). mampu menciptakan penyembuhan emosional dan


hubungan dirinya, atau hubungan dengan orang lain, karena hubungan
merupakan kekuatan untuk transformasi dan integrasi.

4. Kesadaran (Awareness). Kesadaran untuk memahami isu-isu yang melibatkan


etika, kekuasaan, dan nilai-nilai. Melihat situasi dari posisi yang seimbang yang
lebih terintegrasi.

5. Persuasi (Persuasion). Pemimpin yang melayani berusaha meyakinkan orang lain


daripada memaksa kepatuhan. Ini adalah satu hal yang paling membedakan
antara model otoriter tradisional dengan servant leadership.

6. Konseptualisasi (Conceptualization). Kemampuan melihat masalah dari perspektif


konseptualisasi berarti berfikir secara jangka panjang atau visioner dalam basis
yang lebih luas.

7. Kejelian (Foresight). Jeli atau teliti dalam memahami pelajaran dari masa lalu,
realitas saat ini, dan kemungkinan konsekuensi dari keputusan untuk masa
depan.

8. Keterbukaan (Stewardship). Menekankan keterbukaan dan persuasi untuk


membangun kepercayaan dari orang lain.

9. Komitmen untuk Pertumbuhan (Commitment to the Growth of People). Tanggung


jawab untuk melakukan usaha dalam meningkatkan pertumbuhan profesional
karyawan dan organisasi.

10. Membangun Komunitas (Building Community). Mengidentifikasi cara untuk


membangun komunitas.