Anda di halaman 1dari 8

Nama : Saqilla Putri Aulia

Kelas : VIII. 1

RINDUKU KENANGANKU

oleh: Rica Okta Yunarweti

Cahaya keemasan matahari dan hembusan angin sore membuat daun-


daun kecil berguguran di pinggir danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik
kertas di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan sebuah kuas yang
terukir namaku “Diana”. Yah, boleh dikatakan aku gemar melukis di tempat-tempat
yang menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang sahabat, membuat
hidupku lebih berarti.
Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu semakin mendekati
gendang telingaku. Alunan merdu itu membuatku semakin penasaran.
“Ya sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja”
Dengan rasa penasaran, aku sambil mengemas peralatan lukisku dan
mengendarau sepeda menyusuri jalan komplek rumahku yang berbukit dan
rindangnya pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang mulai redup.

***

Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Lintang. Seorang gadis tomboy
berambut hitam panjang yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di
bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang airnya tenang, setelah
pulang dari les. Dengan mengusap keringat di pipinya dia bergegas menyusuri
komplek rumahnya dengan perasaantakut karena selalu pulang telat.
Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan sepedanya ke garasi dan melihat
Lintang.
“Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu?
“Aku mencarimu! Kata Diana
“Aku main basket di tempat biasa, di bawah rumah pohon. Ma’af, udah
buatmu khawatir.”
“Entahlah…. Sudah dulu ya, bau banget nih.
“Huuhh,, dasar cewek gadungan, aku dicuekin lagi…! Kesal Diana
Dengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar khayalannya.
Meletakkan peralatan lukisnya di sudut ruangan dekat lemari kaca yang penuh
dengan boneka kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia selalu
menatap lukisan sunset yang di belakang pintu kamarnya. Ketika melihat itu, ia
merasakan tenangnya dunia di laut lepas.

***
Lintang segera membersihkan dirinya karena takut ibunya marah. Ibunya
pun heran melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang
yang biasanya tampak, namun kala itu hati tomboynya bisa luluh dengan rasa
bersalahnya. Ketika ia duduk di atas kursi yang tinggi sambil mengamati indahnya
malam. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada badannya, perutnya nyeri dan nafasnya
terasa sesak. Lintang bingung dengan apa yang dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh
dari kursi tingginya, mencoba mengendalikan diri untuk bangkit ke tempat tidur dan
beristirahat.

***
Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon
nan rindang, membuat siswi SMA ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang
sungguh nyata membawa ia larut dalam impian.
“Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti lagi gambar aku
kan? Kejut Lintang
“Hmm,, ngapain juga aku gambar kamu. Seperti gak ada objek lain aja
yang lebih bagus.. hahahha..
Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan teman yang lain di
sekitarnya yang merasa kebisingan karena tingkah mereka yang sungguh beda
dengan siswi lainnya. Dan anak-anak yang lain sebaliknya sudah merasa biasa
dengan sikap mereka itu.
“Aku mau cerita..tapi……….(serius Lintang_
“Cerita aja…ada apa? ( menatap Lintang kebingungan)
Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia bicarakan tidak mampu
terucap. Kepanikan gadis seni ini sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang
terbaring tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari telepon di
sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang tua Lintang dan membawanya ke
rumah sakit..
“Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)
“Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman belakang sekolah.
Kamu nggak apa-apa kan? (khawatir Diana)
“Aku sakit apa? Mana ayah?”
“Dokter masih belum memberitahukan pasti penyakitmu. Ayahmu masih
dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar. Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa
belajar bareng, kan kamu udah janji kemaren.”
“Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir gitu, kamu pasti
sembuh. Semangatlah, aku akan ada di sampingmu..”
“Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap rangkingku.
Hhaha…”
“Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong aku bisa. Hhehe”
“Ya deh,, buktikan ke aku ya nanti.”
“Iya, pasti. Suatu saat kita akn merayakan keberhasilan kita. Aku ke
sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu juga akan ke sini. Bye !!”
“Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!"

***
Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada seorang gadis berambut
hitam pendek duduk di depan kelas musik sambil membawa biola dengan wajah
yang tampak murung, Diana segera menghampirinya.
“Hai, kenapa kamu sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya Diana heran
“Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”
“Jangan seperti anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa yang membuatmu
sedih?” penuh heran
“Tadi, ketika ada pemilihan bakat pemain biola, aku ada kesalahan
memainkan nada, sampai-sampai alunannya nggak enak didengar. Mereka
menertawakanku, padahal aku baru saja pindah ke sekolah ini jadi aku masih belum
pandai memainkan alat musik seperti biola ini..”
“Kamu sudah hebat kok, kamu bisa memainkan alat musik kesukaanku,
dan aku… aku hanya bisa menggambarnya. Yang penting, tetap berjuang!!
Daah..aku ke kelas dulu ya..”
“Thengs.. siapa namamu?”
“Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)
Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis lembut nan periang
itu. Diana segera masuk ke kelas lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil
menyapu keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.
(Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya berkata.
Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana yang sedang melamun
segera menghampirinya.
“Diana, kenapa kamu?”
“Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”
“Kamu bohong, da masalah ya? Tidak biasanya kamu seperti ini!”
“Ii..ia bu.”
“Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu pikiranmu seperti ini?’
“Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan sepertinya penyakitnya
parah.”
“Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya”
ajak bu Tari
“Ibu mau menjenguknya? “
“Iya,, nggak apa-apa kan?”
“I..ya. nggak masalah.” Semangat Diana
Ibu Tari adalah guru yang paling disukai banyak siswa. Tak kadang banyak
siswa yang curhat. Beliau memiliki jiwa keibuan, walaupun beliau belum menikah.
Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.
Ibu Tari memberi semangat Diana, membuat ia semangat pula bertemu
Lintang. Ia menyelesaikan lukisan pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali
ini, ia mendapat pujian dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-sampai lukisannya
akan diikutkan dalam pameran lukisan. Lukisannya menggambarkan eorang gadis
berkerudung duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi pantai. Lukisan
itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di penghujung hari. Gambarnya begitu nyata,
dan membawa dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat menjenguk
Lintang.
Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah. Tak heran, suara mereka
menggema ketika lewat lorong sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah
taman di samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang gadis duduk di
atas potongan pohon. Ketika ia hampiri, ternyata gadis biola itu.
“Hai, belum pulang?" Sapa Diana
“Hmmn. Belum Diana’
“Ngapain kamu sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari
“Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana
“Uta, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal Lizy”
“Ohh, namamu Lizy ya?”
“Iya,, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”
“Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya Diana. Kamu
mau ikut?”
“Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai membakar kulit
nih..” ajak Lizy
“Hhhhaha….” Sambung Diana

***
Diana meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya. Kebetulan, kapten
tim basket mereka juga jenguk Lintang. Rasa tak percaya meliputi kedua sahabat ini.
Dalam keadaan yang tak mudah untuk mereka bersenda gurau. Padahal, rame kan,
semuanya pada kumpul.
“Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy
“Ya, lumayan lah, agak mendingan.” Dengan suara datar sambil
menunduk.
Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!” teriaknya
“Bagaimana bisa kamu di sini Zy?”
“Syukurlah. Tadi aku diajak bu Tari dan Diana. Dan ternyata, yang
terbaring saat ini adalah sahabatku.”
“Sebenarnya, kamu sakit apa sih?” sambung Diana
“a..ku, sakit Leukimia..”
Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang berani memulai
pembicaraan. Termasuk kapten basket Deva yang langsung terdiam ketika ia
memainkan dasinya..
“Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini aku tak akan membuat kalian
kecewa”
“Jangan bilang begitu, yakinlah kamu masih bisa bermain basket lagi..”
sahut Deva
“Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir Tuhan. Semoga
kamu cepat sembuh.” Sambung bu Tari
( Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen ini. Ia memejamkan
matanya hingga butiran air menetes di pipinya). Semuanya merasa iba padanya,
khususnya Deva teman basketnya yang justru tidak mau kehilangan main lawannya
walaupun Diana dan Lizy merasakan halyang sama dengannya. Bu Tari memulai
pembicaraan setelah semuanya membeku.
“Hari mulai sore nih, kalian semua masih belum ada yang mau pulang?”
“Belum bu, sebentar lagi.” Jawab mereka serempak.
“Ya sudah, ibu pulang duluan. Cepat sembuh, ya Lintang. Jangan patah
semangat, kasihan sahabat dan tim basketmu, pasti mengkhawatirkanmu.
Asalamualaikum…” kata bu Tari
“walaikumsallam.. Iya bu, makasih. Hati-hati ya bu..”
Suasana berubah menjadi hening kembali..
“Aku tak ingin kehilanganmu, Lintang. Selalu ingat kata-kataku…" (bisik
Diana)
“Kamu-Sahabat_Terbaikku” mereka serempak.
Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka dalam canda tawa dan
kerinduan. Diana dan Lizy segera pulang membawakabar perih dan memandang
dengan rasa tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam hatinya dia ingin
menjual lukisan itu untuk biaya Lintang. Ia merasa iba melihat orang tua Lintang
pergi bolak balik mencari uang.
“Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang
“Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”
“ohh, ya. Besok mungkin aku sudah diperbolehkan pulang jika kondisiku
stabil”
“Cepat sembuh, ya”……

***
Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil menulis di buku diarynya.

Malam ku sepi..
Tak sanggup ku mengungkapkan
Air mata membendung di kelopak mataku..
Walaupun aku tertawa, tapi aku tetap merasakan bila hati ini menangis melihat nya
tersenyum.
Jika Engkau mengizinkan. Takkan ku biarkan ia terbelenggu…
Kamu_sahabat_Terbaikku

Ia simpan buku diarynya di tumpukkan buku pelajarannya. Diana


memikirkan solusi untuk membantu Lintang. Iameluangkan waktu untuk melukis
sebanyak-banyaknya untuk di jual tanpa sepengetahuan Lintang. Lizy yang baru
dikenalnya juga turut membantu. Tak heran, ibunya Diana tiap hari selalu
menyiapkan keperluanlukisnya. Malam semakin larut, Lizy yang juga tampak terlihat
lelah memutuskan untuk menginap. Mereka terbaring di tempat tidur, namun tak ada
salah satu dari mereka yang tertidur.mereka sama-sama ingin merencanakan
sesuatu….

3 hari kemudian…

Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang masuk dicelah-


celah dedaunan yang rindang. Diana dan Lizy sengaja membawa Lintang ke danau.
Diana menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan tempat mereka
duduk. Sedangkan Lizy bersiap-siap di atas rumah pohon sambil memegang biola
kesayangnnya. Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan dengan
kedua temannya itu, sambil mengikik heran melihatnya.
Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya menandakan Lizy yang
memainkan alunan biola yang merdu dengan lagu berjudul “semua tentang kita”
sambil bernyanyi.

Waktu terasa semakin berlalu


Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat duu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kitaberduka saat kita tertawa

Ketika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua terdiam sejenak. Suasana


seperti di pemakaman, sepi, sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar.
Diana membuka pembicaraan.
“Dan aku baru ingat. Dulu ketika aku melukis sendiri di sini aku kagum dan
penasaran siapa yang memainkan biola ternyata… itu kamu, Lizy!”
“Iya,, tengs. Aku sengaja memainkannya karena semenjak aku tinggal di
sini aku sangat kesepian. Dan ketika aku menemukan tempat indah ini, setiap sore
di waktu luangku, aku bermain biola. Kebetulan, aku melihat seorang gadis sedang
melukis.”
“waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada kalian, kalian sendiri
yang membuat acara ini dan kalian juga yang mendapatkan kejutan. Ketika pertama
kali bertemu Diana, aku juga kagum atas sikapmu yang selalu memperdulikan
teman-temanmu. Jika aku pergi nanti jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”
“Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya atas pujiannya.ku
yakin, kalian juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan kamu Lintang, si
cewek gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan dengan adanya
penyakit ini. Justru dengan ini kamu bisa bertambah tegar yang tahan bantingan..
hahaha.
“Emang aku bola, tahan bantingan. Hahaha! Ketus Lintang
Diana tak ingin membuat hati teman-temannya terluka, ia selalu mencoba
untuk tersenyum walau di hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis
simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva sedang bersepeda
mengitari danau, melihat tingkah mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda
tawa. Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu sambil membawa
gitarnya dan langsung duduk di tikar.
“Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum? Sembarangan aja
duduk.” Judes Diana
“Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang
“Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin acara kita.” Sebel Diana
“Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu. Sekali-sekali dong
aku ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa dekat sama cowok popular di sekolah.
hitung-hitung kesempatan buat kalian.”
“Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai Lizy
“Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak) “LiDiZyVa” kan lebih
keren!” sahut Deva
“Ah, kamu ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang untuk menulis
namamu ya.. hahaha
“hhuuhh…”
Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang. Walaupun diantara
mereka baru saling mengenal, tapi mereka seperti mempunyai kekuatan magnet.
Hari-hari mereka selalu bersama.

***
Waktu yang tepat ditemukan Diana dan Lizy untuk menjalani rencana
kedua mereka. Mereka sudah mengatur strategi agar lukisan Diana laku terjual.
Hampir 2 minggu penuh mereka meluangkan waktu untuk menjualnya. Uang yang
terkumpul lumayan banyak, dan segera mereka berikan pada orang tua Lintang
tanpa sepengetahuan Lintang. Deva yang biasanya sibuk dengan tim basketnya,
akhirnya ikut membantu juga.
Di waktu yang bersamaan mereka datang ke rumah Lintang secara
tersembunyi, mereka melihat Lintang kesakitan sambil memegang perutnya.
Kekhawatiran mereka tak dapat dibendung. Mereka segera membawa Lintang ke
rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya. Mengingat Lintang adalah anak
semata wayang orang tuanya.
Ternyata, penyakitnya bertambah parah. Sebenarnya, Lintang pulang dari
rumah sakit karena keterbatasan biaya. Uang yang mereka dapatkan tidak cukup
untuk membiayai semua pengobatan Lintang. Di tambah lagi ayah Lintang yang
hanya memiliki tabungan seadanya, itu pun telah habis digunakan. Terpaksa,
Lintang hanya bisa di opname tanpa harus membeli semua obat yang diperlukan.

***
Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi yang mendengar kabar
mengenai Lintang. Anak yang tomboy dan disenangi banyak orang.
“Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia membaik? Kapan
kalian mau menjenguknya lagi?” (pertanyaan runtun dari Deva)
“Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara
kan?” jawab Diana
“Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita
jenguk aja sama-sama pulang sekolah” tegas Lizy
Bunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Hujan yang
tampak lebat, membuat para siswa harus menunggu sampai hujan reda. Tiba-tiba
handphone Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang membawa
handphone, suara di seberang membawa berita buruk.
Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka lari basah-basahan
menuju rumah sakit sambil menangis terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak
percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka Lintang meninggal
dunia. Nyawanya tak dapat tertolong lagi karena penyakitnya semakin hari semakin
parah. Orang tua Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun semua adalah
kehendak-Nya. Orang tua Lintang juga sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan
Deva. Menganggap mereka sebagai anaknya.

***

“Tak sempat ku berikan


Tak sempat ku sampaikan”
_LiDiZyVa_

Kalimat itu selalu melintas dipikiran Diana. Begitu pula Lizy dan Deva. Kerasa tak
percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenak mereka. Mereka termenung di tepi
danau sambil menyanyikan lagu “Semua Tentang Kita” yang biasa mereka
nyanyikan.

Waktu terasa semakin berlalu


Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Belum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata membasahi di pipi ketiganya.
Orang tua Lintang tiba-tiba dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan
semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan mereka juga menjadi
kebanggaan orang tua angkat mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik
kertas berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva bergetar ketika
memegang kertas itu. Rasa penasaran membuat ia segera membuka dan
membacanya seperti sedang lomba baca puisi.

Sahabatku impianku
Cita-citaku imajinasiku
Bukan hal yang salah memiliki mimpi
Bukan hal yang salah mempunyai tujuan
Tujuan seperti sinar
Kesana lah kita berlari
Dan untuk itulsh kita hidup
Tapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukan
Membuat kita sulit melihat
Sehingga tiba suatu saat kita harus sejenak berhenti
Untuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri

“Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker karena fisiknya lemah,


jiwanya akan goyah. Tapi aku salah. Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan
lukisannya.
“Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.
Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana berteriak girang sambil
meneteskan butiran air mata yang melintas di pipinya.
“Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” akhirnya selesai”
“Waahh..keren.!”
Mereka menatap terpesona lukisan yang melambangkan persahabatan ini
yang terlihat indah karena di sekitar tulisan itu ada gambar wajah mereka masing-
masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku. Dan tempat inilah aku dan
sahabatku berbagi walau hanya sekedar untuk mengenang Lintang.

SELESAI

Anda mungkin juga menyukai