Anda di halaman 1dari 4

1..

Dampak Pemerintahan yang Tidak Transparan

Suatu pemerintahan atau kepemerintahan dikatakan Transparan (terbuka), apabila dalam


penyelenggaraan kepemerintahannya terdapat kebebasan aliran informasi dalam berbagai proses
kelembagaan sehingga mudah diakses oleh mereka yang membutuhkan. Berbagai informasi telah
disediakan secara memadai dan mudah dimengerti, sehingga dapat digunakan sebagai alat
monitoring dan evaluasi. Kepemerintahan yang tidak transparan, cepat atau lambat cendrung akan
menuju kepemerintahan yang korup, otoriter, atau diktatur.
Dalam penyelenggaraan Negara, pemerintah dituntut bersikap terbuka terhadap kebijakan-
kebijakan yang dibuatnya termasuk anggaran yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kebijakan
tersebut. Sehingga mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi terhadap kebijakan
tersebut pemerintah dituntut bersikap terbuka dalam rangka ”akuntabilitas public”.
Realitasnya kadang kebijakan yang dibuat pemerintah dalam hal pelaksanaannya kurang bersikap
ransparan, sehingga berdampak pada rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap setiap
kebijakan yang dibuat pemerintah. Sebagai contoh, setiap kenaikan harga BBM selalu di ikuti oleh
demonstrasi “penolakan” kenaikan tersebut. Pada hal pemerintah berasumsi kenaikan BBM dapat
mensubsidi sector lain untuk rakyat kecil “miskin”, seperti pemberian fasilitas kesehatan yang
memadai, peningkatan sector pendidikan, dan pengadaan beras miskin (raskin). Akan tetapi
karena kebijakan tersebut pengelolaannya tidka transparan bahkan sering menimbulkan kebocoran
(korupsi), rakyat tidak mempercayai kebijakan serupa dikemudain hari.

a. Factor penyebab terjadinya penyelenggaraan pemerintah yang tidak transparan


Terjadinya penyelenggaraan pemerintahan yang tidak transparan disebabkan banyak hal
disamping factor system politik yang bersifat tertutup, sehingga tidak memungkinkan partisipasi
warga Negara dalam mengambil peran terhadap kebijakan public yang dibuat pemerintah, juga
disebabkan karena sumber daya manusianya yang bersifat feudal, oportunitis, dan penerapan “aji
mumpung” serta pendekatan “ingin dilayani” sebagai aparat pemerintah.

2. Dengan adanya pemerintahan yang tidak transparan tentu memunculkan dampak atau akibat yang tidak
baik. Di antara dampak atau akibat penyelenggaraan pemerintahan yang tidak transparan, dampak yang
paling besar adalah korupsi. Istilah "korupsi" dapat dinyatakan sebagai suatu perbuatan tidak jujur atau
penyelewengan yang dilakukan karena adanya suatu pemberian. Dalam praktiknya, korupsi lebih dikenal
sebagai menerima uang yang ada hubungannya dengan jabatan tanpa adanya catatan administratif, perilaku
pejabat, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau
memperkaya mereka yang dekat dengannya dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan
kepada mereka.

a. Timbulnya berbagai penyimpangan di berbagai kehidupan

b. Dapat menimbulan disintegrasi bangsa


c. Kehidupan negara yang tidak demokratis
d. Kehidupan pers yang tidak bebas
e. Terjadinya berbagai pelanggaran hak asasi manusia
f. Tidak mendapat dukungan politik dari rakyat

Menganalisis dampak penyelenggaraan


pemerintahan yang tidak transparan
Ketertutupan para penyelenggara Negara membuat sesuatu menjadi kabur, sehingga
peluang peyalahgunaan kekuasaan oleh pemerintah sangatlah memungkinkan. Dan akibat
ketertutupan inilah partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintah semakin
kecil. Apabila hal ini terus berlangsung, dan para penyelenggara pemerintahan semakin
menyalahgunakan kekuasaannya, maka dapat dipastikan bahwa pemerintahan Negara
semakin tidak dipercaya oleh masyarakat. Hilangnya kepercayaan yang nantinya dapat
berujung pada rasa saling curiga dari masyarakat terhadap pemerintah, dapat mengancam
stabilitas nasional.
Sementara tujuan Negara kita adalah terpenuhinya keadilan bagi rakyat Indonesia,
sesuai pembukaan UUD 1945 , bahwa Negara yang hendak didirikan adalah Negara
Indonesia yang adil dan makmur dan bertujuan menciptakan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia. Inilah yang seharusnya menjadi pedoman dan pemicu semangat bagi para
penyelengara Negara bahwa tugas utamanya adalah menciptakan keadilan. Ketidakadilan
merupakan sumber perpecahan sebuah bangsa. Adanya pertentangan, kerusuhan missal,
aksi-aksi demo, dan pergolakan di suatu wilayah, salah satu sumbernya adalah
ketidakadilan.

Faktor- faktor penyebab terjadinya pemerintahan yang tidak transparan adalah sebagai
berikut :
1. Pengaruh kekuasaan
 Penguasa yang ingin mempertahankan kekuasaannya
 Peralihan kekuasaan yang sering menimbulkan konflik
 Pemerintah mengabaikan proses demokratisasi
 Pemerintah yang sentralis
 Penyalahgunaan kekuasaan

2. Moralitas
 Terbaliknya nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagai sumber etika.

3. Sosial Ekonomi
 Sering terjadinya konflik social sebagai konsekuensi keberagaman suku, agama, ras dan
golongan yang tidak dikelola dengan baik dan adil
 Perilaku ekonomi yang sarat dengan praktik KKN

4. Politik dan Hukum


 System politik yang otoriter
 Hukum telah menjadi alat kekuasaan

Akibat dari pemerintahan yang tidak transparan :


1. Rendahnya kepercayaan warga Negara terhadap pemerintah
2. Rendahnya partisipasi warga Negara terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah
3. Sikap apatis warga Negara dalam mengambil inisiatif dan peran yang berkaitan dengan
kebijakan public
4. Jika warga negara apatis, ditunjang dengan rezim yang berkuasa sangat kuat dan lemahnya
fungsi legislatif, KKN akan merajalela dan menjadi budaya yang mendarah daging (Nilai
dominan)
5. Krisis moral dan akhlak yang berdampak pada ketidak adilan, pelanggaran hukum dan hak
asasi manuasia

Korupsi membawa akibat lanjutan yang luar biasa, yaitu krisis multidimensional.
Contoh krisis multidimensional di berbagai bidang;
a. Bidang Politik
Lembaga politik baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif tidak berfungsi
optimal. Mereka sangat sedikit menghasilkan kebijakan yang berpihak untuk kepentingan
umum, seringkali kebijakan itu sebagai proyek untuk memperkaya diri. Yudikatif sering
menghasilkan keputusan yang bertentangan dengan rasa keadilan karena hukum bisa
dibeli.
b. Bidang Ekonomi
Semua kegiatan ekonomi yang bersinggungan dengan birokrasi pemerintahan
diwarnai uang pelicin sehingga kegiatan ekonomi berbelit-belit dan mahal. Investor
menjadi enggan berinvestasi karena banyak perizinan sehingga perekonomian tidak
tumbuh maksimal.
c. Bidang Sosial, Budaya, dan Agama
Di bidang sosial, budaya, dan agama terjadi pendewaan materi dan konsumtif.
Hidup diarahkan semata-mata untuk memperoleh kekayaan dan kenikmatan hidup tanpa
memedulikan moral dan etika agama. Hal itu terwujud dalam tindakan korupsi.
d. Bidang Pertahanan dan Keamanan
Di bidang pertahanan dan keamanan, terjadi ketertinggalan profesionalalitas aparat,
yaitu tidak sesuai dengan tuntutan zaman sehingga aparat keamanan tidak mampu
mencegah secara dini gejolak sosial dan gangguan keamanan.

Jika penyelenggaraan pemerintahan dengan tertutup dan tidak transparan secara


umum akan berdampak pada tidak tercapainya kesejahteraan masyarakat atau warga
negara, sebagaimana tercantum dalam konstitusi negara, yaitu pencapaian masyarakat adil
dan makmur.

5. Ketertutupan para penyelenggara Negara membuat sesuatu menjadi


kabur, sehingga peluang penyalahgunaan kekuasaan oleh pemerintah
sangatlah memungkinkan.Dan kenyataan inilah yang saat ini terjadi dalam
pemerintahan kita. Lihat saja bagaimana praktik korupsi, kolusi, dan
nepotisme yang di lakukan oleh oknum pemerintah begitu tertutup rapih dan
seolah-olah menjadi budaya dikalangan elit politik. Sungguh kenyataan yang
sangat ironis dan memprihatinkan.
Dan akibat ketertutupan inilah partisipasi masyarakat terhadap
penyelenggaraan pemerintah semakin kecil. Apabila hal ini terus
berlangsung, dan para penyelenggara pemerintahan semakin
menyalahgunakan kekuasaannya, maka dapat dipastikan bahwa
pemerintahan Negara semakin tidak dipercaya oleh masyarakat. Bisa
dibayangkan seandainya hal ini terjadi. Bila suatu pemerintah sudah
kehilangan kepercayaan dari masyarakat, berbagai unjuk rasa, penentangan,
kerusuhan massal yang akhir-akhir ini merebak, tidak dapat dielakan. Kita
lihat di lapangan bagaimana oknum pemerintah melakukan penggusuran
secara paksa terhadap Rakyat kecil. Para pedagang kaki lima yang digusur
secara paksa. Dimanakah letak keadilan? masihkah ada hati nurani dari para
pemegang kekuasaan. Sekali lagi dimanakah letak sebuah keadilan?
Sementara tujuan Negara kita adalah terpenuhinya keadilan bagi
rakyat Indonesia, sesuai pembukaan UUD 1945 , bahwa Negara yang hendak
didirikan adalah Negara Indonesia yang adil dan makmur dan bertujuan
menciptakan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Pesan yang
terkandung dalam UUD 1945 inilah yang seharusnya menjadi pedoman dan
pemicu semangat bagi para penyelengara Negara bahwa tugas utamanya
adalah menciptakan keadilan. Ketidakadilan merupakan sumber perpecahan
sebuah bangsa. Adanya pertentangan, kerusuhan missal, aksi-aksi demo, dan
pergolakan di suatu wilayah, salah satu sumbernya adalah ketidakadilan.
Sementara para penyelenggara pemerintah menikmati kekayaan yang
mereka tumpuk, rakyat kecil semakin terpuruk. Apa sebenarnya demokrasi
itu? “Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.” Apakah hal ini hanya dijadikan
kedok untuk menutupi kebobrokan pemerintah kita saat ini? kekuasaan yang
dimiliki oleh pemerintah sesungguhnya adalah suatu amanat yang harus
dijalankan dengan kejujuran oleh para penyelenggara pemerintahan.

Hilangnya kepercayaan yang nantinya dapat berujung pada rasa saling curiga
dari masyarakat terhadap pemerintah, dapat mengancam stabilitas nasional.
Untuk itu perlu di bangun dan di bina sikap saling keterbukaan antara
penyelenggara pemerintahan dan rakyat. Dengan adanya keterbukaan inilah
dapat melahirkan komunikasi yang akan menumbuhkan kepercayaan dan
mengatasi rasa saling curiga dengan demikian suatu kehidupan yang yang
menjadi tujuan Negara Indonesia sebagaimana yang tertuang dalam UUD
1945 dapat terwujud.tentunya hal inilah yang selama ini kita idamkan.