Anda di halaman 1dari 38

IMPLEMENTASI LCA (LIFE CYCLE ASSESSMENT)

PADA BATA MERAH DAN BATAKO

AGIT SUPRIADI

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Implementasi LCA


(Life Cycle Assessment) pada Bata Merah dan Batako” adalah benar karya saya
dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun
kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari
karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan
dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Juni 2014

Agit Supriadi
NIM F44100021
ABSTRAK

AGIT SUPRIADI. Implementasi LCA (Life Cycle Assessment) pada Bata Merah
dan Batako. Dibimbing oleh ARIEF SABDO YUWONO.

Bata merah dan batako merupakan material utama dalam proses pembangunan
rumah atau gedung. Belum adanya instrumen yang diterapkan dalam menentukan
material bata merah dan batako yang lebih ramah lingkungan menjadi kendala.
Tujuan penelitian adalah menentukan material diantara bata merah atau batako
yang lebih baik dampaknya terhadap lingkungan berdasarkan metode LCA.
Metode LCA adalah suatu metode yang digunakan untuk mengevaluasi dampak
yang dihasilkan dari suatu proyek atau material atau jasa terhadap lingkungan.
Tahapan LCA ISO 14040 meliputi menentukan tujuan dan ruang lingkup, analisis
inventori, analisis dampak lingkungan, dan interpretasi. Hasil penelitian
diantaranya, kebutuhan bahan baku untuk pembuatan bata merah dalam satu unit
fungsional 1 m2 dinding, tanah 64 liter dan air 1 liter. Kebutuhan bahan baku batako
adalah tanah 45 liter, kapur 11 liter, dan air 1 liter. Tingkat kebisingan lingkungan
pabrik bata merah adalah 83 dB(A), sedangkan pabrik batako sebesar 57 dB(A).
Tingkat kebisingan pabrik bata merah melebihi baku mutu yang ditetapkan dalam
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor No. KEP- 48/MENLH
/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Energi yang diperlukan untuk
membuat 1 m2 dinding berbahan bata merah sebesar 2047 kkal sedangkan batako
hanya 186 kkal. Berdasarkan metode LCA material pembuat dinding yang lebih
baik dampaknya terhadap lingkungan adalah batako.

Kata kunci: bata merah, batako, penilaian daur hidup

ABSTRACT

AGIT SUPRIADI. Implementation of LCA (Life Cycle Assessment) on Red Brick


and Brick. Supervised by ARIEF SABDO YUWONO.

Red brick and brick are important materials on building project as like house.
Purpose this research is determine the material between red brick and brick who
have less impact to environment. LCA is one of method to evaluate impact
assessment for a project or product. LCA ISO 14040 stage include goal definition
and scoping, inventory analysis, impact assessment, and interpretation. Result this
research is raw materials of red brick to make walls which function unit 1m 2 wall
soil 64 liter, and water 1 liter. Raw materials of brick to make 1 m 2 walls is soil 45
liter, limestone 11 liter, and water 1 liter. Noise level of redbrick fabric is 83 dB(A).
Noise level of brick fabric is 57 dB(A). Value the noise level of redbrick industry
was exceeds the quality standards specified in the Decree of the Minister of
Environment No.:KEP-48/MENLH/11/1996 pertaining on Noise Threshold.
Energy consumption to make redbrick for 1 m2 walls was 2047 kcal whereas energy
consumption for to make 1 m2 brick was 186 kcal. Based on the method of LCA
(Life Cycle Assessment), the best material for make walls between redbrick and
brick was a brick.
Keywords: brick, red brick, life cycle assessment
IMPLEMENTASI LCA (LIFE CYCLE ASSESSMENT)
PADA BATA MERAH DAN BATAKO

AGIT SUPRIADI

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknik
pada
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
Judul Skripsi : Implementasi LCA (Life Cycle Assessment) pada Bata Merah dan
Batako
Nama : Agit Supriadi
NIM : F44100021

Bogor, Juni 2014


Disetujui,
Pembimbing Akademik

Dr. Ir. Arief Sabdo Yuwono, M.Sc.


NIP. 19660321 199003 1 012

Diketahui oleh

Prof. Dr. Ir. Budi Indra Setiawan, MAgr


Ketua Departemen

Tanggal Lulus:
PRAKATA

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas
segala karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
Implementasi LCA (Life Cycle Assessment) pada Bata Merah dan Batako. Skripsi
ini disusun sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana teknik di Departemen
Teknik Sipil dan Lingkungan, Fateta.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Arief Sabdo
Yuwono, M.Sc sebagai dosen pembimbing atas arahan, bimbingan, motivasi, serta
kesabaran dalam membimbing penulis. Penulis mengucapkan terima kasih kepada
dosen penguji Bapak Muhammad Fauzan, S.T. M.T dan Bapak Dr. Satyanto Krido
Saptomo, S.Tp, M.Si atas perbaikan terhadap skripsi penulis. Penulis juga
menyampaikan terima kasih kepada keluarga Bapak H. Rahman selaku pemilik
pabrik bata merah dan bapak Jumadi selaku pemilik pabrik batako. Terima kasih
penulis ucapkan karena telah diberikan kesempatan untuk belajar banyak hal terkait
bata merah dan batako. Terima kasih juga atas doa dan bimbingan keluarga besar,
rekan-rekan di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, dan keluarga DKM
Alhurriyyah.
Semoga skripsi ini bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan
dimasa yang akan datang.

Bogor, Juni 2014

Agit Supriadi
DAFTAR ISI

PRAKATA vi
DAFTAR ISI vii
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR LAMPIRAN viii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 1
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 2
Ruang Lingkup Penelitian 2
METODE 2
Prosedur Pengumpulan Data 3
Studi Pustaka 3
Observasi Lapangan 3
Wawancara 3
Penilaian Daur Hidup 4
Penggunaan Bahan Baku 4
Penggunaan Energi 4
Dampak Lingkungan 4
HASIL DAN PEMBAHASAN 5
Tujuan dan Ruang Lingkup (Goal Definition and Scoping) 5
Analisis Inventori (Inventory Analysis) 5
Analisis Dampak Lingkungan (Impact Assessment) 8
Interpretasi (Interpretation) 11
SIMPULAN DAN SARAN 12
Simpulan 12
Saran 12
DAFTAR PUSTAKA 12
DAFTAR TABEL

1 Kebutuhan bahan baku 7


2 Kebutuhan energi untuk produksi 1 m2 dinding berbahan bata merah 7
3 Kebutuhan energi untuk produksi 1 m2 dinding berbahan batako 7
4 Tingkat kebisingan lingkungan pabrik batako 8
5 Tingkat kebisingan lingkungan pabrik bata merah 9
6 Jumlah emisi yang dihasilkan untuk 1 m2 dinding 10
7 Material terbaik antara bata merah dan batako 11

DAFTAR LAMPIRAN
1 Kebutuhan bahan baku bata merah dan batako 14
2 Perhitungan kebutuhan energi produksi batako 15
3 Perhitungan kebutuhan energi produksi bata merah 17
4 Perhitungan emisi gas buang 20
5 Metode perngukuran, perhitungan tingkat kebisingan lingkungan 23
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pertumbuhan penduduk yang semakin pesat mengakibatkan tingginya


permintaan komoditas yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Komoditas yang
dimaksud adalah sandang, pangan, dan perumahan. Perumahan merupakan
kebutuhan mendasar bagi kesejahteraan fisik, psikologi, dan ekonomi penduduk di
suatu wilayah. Kebutuhan perumahan menarik minat para penanam modal untuk
membangun suatu kawasan pemukiman baru yang memberikan kenyamanan,
keamanan serta harga yang terjangkau (Zoebar 2004).
Berkembangnya kebutuhan perumahan sangat dipengaruhi oleh kemajuan
industri penyedia bahan bangunan. Contoh bahan bangunan yang dibutuhkan
adalah batu bata dan batako sebagai bahan pembuat dinding. Batu bata adalah bahan
bangunan dalam pembuatan konstruksi bangunan yang terbuat dari tanah liat
ditambah air dengan atau tanpa bahan campuran lain. Batako merupakan bahan
bangunan berupa bata cetak alternatif pengganti batu bata yang tersusun dari
komposisi antara pasir, semen portland dan air (Zhang 2013). Berdasarkan
bentuknya, batako digolongkan ke dalam dua kelompok utama yaitu batako padat
dan batako berlubang (Turgut 2012). Sedangkan berdasarkan bahan bakunya,
batako dibedakan menjadi dua, yaitu batako putih dan batako semen (Lin dan Weng
2001).
Bata merah dan batako memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-
masing. Pemilihan bata merah atau batako dapat dikaji guna menentukan material
yang paling baik dampaknya terhadap lingkungan. Ketiadaan instrumen dalam
menentukan material yang ramah lingkungan menjadi kendala. Berdasarkan hal
tersebut, instrumen yang akan diimplementasikan untuk menentukan pemilihan
material bata merah atau batako yang ramah lingkungan adalah LCA (Life Cycle
Assessment). LCA adalah suatu metode analisis yang digunakan untuk
mengevaluasi dampak yang dihasilkan dari suatu proyek atau produk atau jasa
terhadap lingkungan (Finnveden et al. 2009). LCA dapat dipakai untuk mengetahui
potensi limbah yang akan muncul, konsumsi energi yang digunakan serta bahan
baku yang diperlukan selama proses produksi (Thorn et al. 2011). Cabeza et al.
2013 menyatakan bahwa LCA terdiri dari empat tahap, yaitu penentuan tujuan dan
ruang lingkup, analisis inventori, analisis dampak, dan interpretasi.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, beberapa permasalahan yang dapat


dirumuskan diantaranya:
1. Belum adanya instrumen untuk menentukan material bata merah atau
batako yang lebih ramah lingkungan.
2. Perlu penjabaran siklus hidup material bata merah dan batako sehingga
didapatkan material yang lebih ramah lingkungan.
Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan, tujuan dari penelitian ini adalah


sebagai berikut:
1. Mengimplementasikan metode LCA (Life Cycle Assessment) pada bata
merah dan batako.
2. Menentukan pilihan material diantara bata merah dan batako yang lebih
baik dampaknya terhadap lingkungan berdasarkan metode LCA (Life
Cycle Assessment).

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini bagi masyarakat adalah menjadikan LCA sebagai salah
satu metode pemilihan material pembuat dinding yang ramah lingkungan.
Penelitian ini juga bermaksud mengajak masyarakat senantiasa menggunakan
bahan material yang lebih ramah lingkungan.

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian meliputi analisis kebutuhan bahan baku, konsumsi


energi, dan analisis potensi limbah yang ditimbulkan pada setiap tahapan produksi
bata merah dan batako. Proses produksi bata merah dan batako dimulai dari
penggalian tanah yang menjadi bahan baku sampai produk siap untuk dipasarkan
ke masyarakat.

METODE

Tahapan penelitian yang dilakukan terdiri dari studi pustaka, observasi


lapangan, wawancara, serta pengolahan data. Jenis data yang digunakan pada
penelitian ini berupa data primer dan data sekunder yang berupa data kualitatif dan
kuantitatif. Data primer merupakan data yang diperoleh dari hasil wawancara
langsung di lokasi produksi bata merah dan batako. Sedangkan data sekunder
berupa perhitungan energi manusia dan mesin, perhitungan emisi dari bahan bakar
solar dan kayu. Deskripsi produksi bata merah dan batako beserta analisis dampak
lingkungan diperoleh dari studi pustaka. Diagram alir penelitian disajikan dalam
Gambar 1.
Menentukan Tujuan
dan Ruang Lingkup

Studi Pustaka Observasi Lapangan Wawancara


LCA, Bata Merah dan Pabrik Bata Merah dan Pekerja Produksi Bata
Batako Pabrik Batako Merah dan Batako
Ahli LCA

Kajian
Penggunaan Bahan Baku, Energi, Analisis
Dampak Lingkungan

Penilaian Daur Hidup (Life Cycle Assessment)

Gambar 1 Diagram Alir Penelitian

Prosedur Pengumpulan Data

Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan untuk memperoleh data sekunder yang dibutuhkan.
Studi pustaka dilakukan pada buku-buku acuan, jurnal dan literatur lainnya. Studi
pustaka pada penelitian ini dilakukan untuk memperoleh data deskripsi produksi
bata merah dan batako serta dampak lingkungan yang ditimbulkan. Studi pustaka
terkait penjelasan metode LCA.

Observasi Lapangan
Observasi lapangan dilakukan untuk menghitung jumlah bahan baku yang
digunakan. Observasi lapangan dilakukan pada bulan Maret sampai April 2014 di
pabrik produksi bata merah di Desa Leuwisadeng, Kecamatan Leuwisadeng,
Kabupaten Bogor dan tempat pembuatan batako di Desa Giri Harja, Kecamatan
Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Observasi lapangan juga dilakukan di sejumlah
toko bangunan di Kabupaten Bogor.

Wawancara

Wawancara dilakukan pada pekerja dan pemilik dari pabrik produksi bata
merah dan batako. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data siklus produksi
bata merah dan batako.
Penilaian Daur Hidup

Tahapan LCA yang digunakan mengikuti prosedur LCA yang terdiri dari
empat fase (ISO 14040 1997) yaitu penentuan tujuan dan ruang lingkup, analisis
inventori, analisis dampak, dan interpretasi. Tahapan dalam LCA dapat
digambarkan dalam bentuk bagan seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2. Kajian
utama dalam penelitian ini meliputi penggunaan bahan baku, konsumsi energi
selama produksi pembuatan bata merah dan batako, serta analisis dampak yang
terjadi.

Tujuan dan Ruang Lingkup

Analisis Inventori Interpretasi Hasil

Analisis Dampak

Gambar 2 Tahapan LCA (ISO 14040 1997)

Penggunaan Bahan Baku


Bahan baku pembuatan bata merah terdiri dari tanah dan air. Sedangkan
bahan baku untuk batako meliputi tras, kapur dan air. Penggunaan bahan-bahan
selama proses produksi dikaji menggunakan analisis inventori sesuai dengan
metode LCA.

Penggunaan Energi
Kebutuhan energi yang digunakan selama proses produksi bata merah dan
batako terdiri dari dua sumber yaitu energi yang berasal dari tenaga mesin dan
energi yang berasal dari manusia. Perhitungan energi manusia menggunakan
Metode SNI 7269 2009 Tentang Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Tingkat
Kebutuhan Kalori Menurut Pengeluaran Energi. Penilaian beban kerja dilakukan
dengan mengukur berat badan pekerja, mengamati aktivitas tenaga kerja, dan
menghitung kebutuhan kalori berdasarkan pengeluaran energi sesuai tabel
perhitungan di SNI 7269 2009. Perhitungan energi dari bahan bakar solar dilakukan
dengan cara mengkonversi jumlah kebutuhan bahan bakar menjadi energi dalam
satuan kilo kalori.

Dampak Lingkungan
Aspek kuantitatif dampak lingkungan yang ditimbulkan selama proses
produksi dianalisis menggunakan analisis inventori. Berdasarkan observasi
lapangan dampak lingkungan yang diperoleh berupa emisi dari proses pencetakan,
pembakaran bata merah, dan proses pengangkutan bahan dari hasil galian tanah
untuk proses produksi batako, serta kebisingan yang ditimbulkan pada proses
pencetakan bata merah. Pada proses produksi batako tidak ditemukan limbah cair
dan limbah padat. Perhitungan emisi dilakukan dengan bantuan faktor emisi dari
literatur yang ada. Kebisingan lingkungan diukur dengan cara sederhana. Alat yang
digunakan adalah Sound Level Meter (SLM). Alat ini mengukur tingkat tekanan
bunyi dB(A) selama 10 menit untuk setiap pengukuran. Pembacaan dilakukan
setiap 5 detik. Hasil pengukuran dibandingkan dengan Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor: KEP-48/MENLH/11/1996 Tentang Baku Tingkat
Kebisingan serta Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor
Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan
Faktor Kimia di Tempat Kerja.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tujuan dan Ruang Lingkup (Goal Definition and Scoping)

Bata merah dan batako merupakan salah satu material utama dalam proses
mendirikan suatu bangunan. Kedua material ini berfungsi sebagai komponen untuk
membuat dinding. Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan metode
LCA (Life Cycle Assessment) pada bata merah dan batako. Metode LCA akan
memberikan penjabaran material yang ramah lingkungan antara bata merah dan
batako. Unit fungsional yang ditetapkan pada penelitian ini adalah 1 m 2 dinding.
Ruang lingkup proses yang ditetapkan pada penelitian ini mulai dari
penggalian tanah, pengadukan atau pencampuran bahan sampai batu merah atau
batako siap dipasarkan. Penentuan kriteria bata merah dan batako dipilih
berdasarkan hasil observasi lapangan. Observasi lapangan dilakukan di Kabupaten
Bogor khususnya Bogor Barat meliputi daerah Dramaga, Ciampea, Cibumbulang,
sampai ke daerah Leuwisadeng. Observasi lapangan dilakukan pada bulan Maret
sampai April 2014 di sepuluh (10) pabrik bata merah dan sepuluh (10) pabrik
batako. Berdasarkan observasi lapangan, bata merah yang dipilih berukuran
panjang 20 cm, lebar 10 cm, dan tebal 5 cm. Bata merah yang dimaksud merupakan
campuran dari tanah liat dan air yang dicetak dan dibakar pada suhu yang tinggi
hingga tidak hancur bila direndam air. Proses pembuatan bata merah dicetak dengan
menggunakan dua sumber energi yaitu energi manusia dan mesin. Lokasi
pengambilan data untuk bata merah bertempat di Desa Leuwisadeng Kecamatan
Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. Batako yang dijadikan bahan penelitian berukuran
panjang 23 cm, lebar 13 cm, dan tebal 7 cm. Batako ini terbuat dari bahan baku tras,
kapur, dan air. Pembuatan batako dilakukan dengan energi manusia dan mesin.
Pada proses penggalian tanah dibantu dengan tenaga mesin. Pabrik batako yang
menjadi tempat penelitian bertempat di Blok Pabuaran, Desa Giri Harja, Kecamatan
Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Analisis Inventori (Inventory Analysis)

Analisis inventori adalah proses pengumpulan data yang dibutuhkan dalam


tahapan LCA. Analisis inventori yang dilakukan meliputi kebutuhan bahan baku,
konsumsi energi, dan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan, baik limbah
padat, limbah cair, dan limbah gas. Salah satu hal penting dalam menentukan bahan
baku sampai dampak yang ditimbulkan adalah mengetahui proses produksi dari
kedua material.
Proses Produksi
Proses produksi bata merah diawali dari penggalian tanah. Di Desa
Leuwisadeng Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor setiap hari dilakukan
penggalian tanah sebanyak 5 m3. Tanah ini dicetak menjadi bata merah sebanyak
4860 buah. Proses pencetakan bata merah dilakukan selama 5 jam setiap hari.
Tahapan setelah penggalian tanah adalah pengadukan. Tanah diaduk sambil
diberikan air sebanyak 80 liter. Tanah yang telah dianggap tercampur merata
dimasukan ke dalam mesin pencetak bata dengan menggunakan sekop. Bata merah
yang padat akan keluar dari mesin pencetak. Cetakan bata merah yang memanjang
dipotong dengan alat pemotong. Pada proses pemotongan bata merah dibutuhkan
bahan bakar solar sebanyak 15 liter untuk sekali produksi. Satu kali pemotongan
menghasilkan 3 buah bata merah. Bata merah yang sudah dipotong disusun di
tempat penyimpanan. Faktor cuaca sangat berpengaruh terhadap proses
penyimpanan. Penyimpanan juga dimaksudkan sebagai pengeringan bata merah.
Untuk mendapatkan kualitas bata merah yang baik, penyimpanan bata merah
dilakukan selama 5 hari dengan kondisi cuaca cerah. Tahapan terakhir adalah
proses pembakaran. Proses pembakaran dilakukan selama 72 Jam atau selama tiga
hari tiga malam. Setiap satu kali pembakaran terdapat 50.000 - 70.000 buah bata
merah. Bahan bakar yang digunakan adalah potongan kayu. Kayu yang disediakan
untuk sekali pembakaran adalah 32 ton. Proses pembakaran sangat bergantung pada
cuaca. Jika kondisi cuaca cerah (musim kemarau), pembakaran dapat dilakukan
setiap 20 hari. Selama musim penghujan, pembakaran hanya dapat dilakukan rata-
rata satu (1) kali per bulan.
Produksi batako diawali dengan proses penggalian tanah. Tanah yang sudah
digali diangkut dengan mobil bak terbuka. Setiap hari tanah yang diangkut ke
tempat produksi sebanyak 4 mobil atau setara dengan 4 m 3. Tanah yang sudah
berada ditempat produksi dicampur dengan kapur sebanyak 1 m3. Campuran akan
lebih merata setelah ditambahkan air sebanyak 90 liter. Proses setelah pengadukan
adalah pencetakan batako. Mayoritas masyarakat di Desa Giri Harja Kecamatan
Cibungbulang mencetak batako secara manual. Setiap orang dapat mencetak batako
sebanyak 400 buah setiap 8 jam kerja. Batako yang sudah dicetak disusun dengan
rapi ditempat penyimpanan. Batako siap dijual ke pasaran minimal sudah
dikeringkan selama 1 minggu.

Bahan Baku
Bahan baku utama yang digunakan untuk membuat bata merah adalah tanah
liat dan air. Tanah liat adalah tanah hasil pelapukan batuan keras yang memiliki
sifat salah satunya adalah plastis. Bahan baku batako terdiri dari tras, kapur, dan air.
Tras diartikan sebagai tanah hasil letusan gunung berapi, berbentuk butiran halus
yang mengandung oksida silika yang telah mengalami proses pelapukan hingga
derajat tertentu. Kebutuhan bahan baku untuk pembuatan bata merah dan batako
dalam satu unit fungsional 1 m2 dinding dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kebutuhan bahan baku

Jumlah setiap Bahan baku setiap 1 m2 dinding


Jenis bahan 1 m2 dinding
(buah) Tanah (liter) Kapur (liter) Air (liter)
Bata merah 64 64 0 1
Batako 27 45 11 1

Pada Tabel 1 ditampilkan bahwa untuk membuat 1 m2 dinding dibutuhkan 64


buah bata merah dan 27 buah batako. Hal ini berdasarkan perhitungan langsung di
lapangan dengan terlebih dahulu menetapkan spasi mortar berukuran tebal 2 cm.

Kebutuhan Energi
Proses pembuatan bata merah atau batako membutuhkan energi. Energi
pembuatan bata merah dan batako berasal dari energi mesin dan tenaga manusia.
Total kebutuhan energi disajikan pada Tabel 2 dan Tabel 3.
Tabel 2 Kebutuhan energi untuk produksi 1 m2 dinding berbahan bata merah

Energi Manusia Mesin Total Energi


Produksi Bata Merah
(kkal) (kkal) (kkal)
Penggalian Tanah 12 0 12
Pencampuran Bahan 15 0 15
Pencetakan 9 1825 1834
Penyimpanan 147 0 147
Pembakaran 39 0 39
Energi Total 2047

Tabel 3 Kebutuhan energi untuk produksi 1 m2 dinding berbahan batako

Energi Manusia Mesin Total Energi


Produksi Batako (kkal)
(kkal) (kkal)
Penggalian Tanah 15 10 25
Pencampuran Bahan 15 0 15
Pencetakan 73 0 73
Penyimpanan 73 0 73
Energi Total 186

Kebutuhan energi manusia dihitung berdasarkan SNI 7269 2009 tentang


Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Tingkat Kebutuhan Kalori Menurut
Pengeluaran Energi. Prinsip perhitungan energi manusia ini dipengaruhi oleh posisi
pekerja, berat badan pekerja, serta waktu yang dibutuhkan dalam bekerja.
Berdasarkan Tabel 2 dan Tabel 3, total energi untuk membuat 1 m 2 dinding
berbahan bata merah adalah 2047 kkal sedangkan untuk 1 m2 berbahan batako
sebesar 186 kkal. Tahapan pencetakan bata merah memerlukan energi mesin
sebesar 1834 kkal. Mesin diesel mengkonsumsi solar sebanyak 15 liter untuk
menghasilkan bata merah sebanyak 4860 buah.
Analisis Dampak Lingkungan (Impact Assessment)

Berdasarkan observasi di lapangan, proses pembuatan batako secara manual


tidak menimbulkan limbah padat, dan limbah cair. Air yang digunakan untuk proses
produksi digunakan secara maksimal sehingga tidak terdapat aliran air dari proses
pembuatan batako. Bahan-bahan seperti kapur dan tras dimanfaatkan semuanya
pada setiap tahapan produksi. Setiap kali tahapan produksi digunakan 4 m3 tras dan
1 m3 kapur yang kesemuanya diproses menjadi batako. Emisi gas buang dihasilkan
dari proses pengangkutan tanah hasil penggalian ke tempat percetakan. Proses
pengangkutan tanah menggunakan mobil bak terbuka dengan kapasitas angkut 800
kg. Produksi batako secara manual tidak membutuhkan energi tambahan seperti
daya listrik.
Proses pembuatan bata merah dibantu dengan tenaga mesin. Emisi gas buang
ditimbulkan pada proses pencetakan bata merah. Produksi bata merah melalui
tahapan pembakaran sehingga emisi gas buang pun dihasilkan pada proses ini.
Selain emisi gas buang dihasilkan juga kebisingan lingkungan yang bersumber dari
mesin diesel. Produksi bata merah tidak menghasilkan limbah padat dan limbah
cair.
Analisis dampak lingkungan membahas terkait kebisingan, emisi gas buang,
dan efisiensi biaya pada produksi bata merah dan batako. Kebisingan lingkungan
merupakan salah satu faktor yang diukur dalam implementasi LCA. Kebisingan
adalah gabungan berbagai macam bunyi yang mempunyai efek yang tidak
menyenangkan atau tidak diinginkan oleh pendengar. Tingkat kebisingan
lingkungan pabrik batako disajikan pada Tabel 4, sedangkan kebisingan lingkungan
pabrik bata merah pada Tabel 5.
Tabel 4 Tingkat kebisingan lingkungan pabrik batako
Leq Waktu Mewakili dB(A)
Siang Hari
L1 Pukul 08.20 Pukul 06.00 - 09.00 58
L2 Pukul 10.00 Pukul 09.00 - 11.00 61
L3 Pukul 13.30 Pukul 11.00 - 17.00 61
L4 Pukul 20.10 Pukul 17.00 - 22.00 55
Ls (pengukuran siang hari) 59
Malam Hari
L5 Pukul 22.00 Pukul 22.00 - 24.00 46
L6 Pukul 02.30 Pukul 24.00 - 03.00 45
L7 Pukul 03.00 Pukul 03.00 - 06.00 46
Lm (pengukuran malam hari) 46
Lsm (pengukuran siang dan malam hari) 57
Tabel 5 Tingkat kebisingan lingkungan pabrik bata merah
Leq Waktu Mewakili dB(A)
Siang Hari
L1 Pukul 07.00 Pukul 06.00 - 09.00 90
L2 Pukul 10.00 Pukul 09.00 - 11.00 90
L3 Pukul 13.30 Pukul 11.00 - 17.00 45
L4 Pukul 20.10 Pukul 17.00 - 22.00 48
Ls (pengukuran siang hari) 85
Malam Hari
L5 Pukul 22.47 Pukul 22.00 - 24.00 45
L6 Pukul 01.04 Pukul 24.00 - 03.00 43
L7 Pukul 03.22 Pukul 03.00 - 06.00 43
Lm (pengukuran malam hari) 44
Lsm (pengukuran siang dan malam hari) 83

Berdasarkan hasil pengukuran tingkat kebisingan lingkungan yang disajikan


pada Tabel 4 dan Tabel 5, tingkat kebisingan lingkungan di pabrik bata merah
selama 24 jam (Lsm) sebesar 83 dB(A) sedangkan tingkat kebisingan lingkungan
di pabrik batako sebesar 57 dB(A). Nilai kebisingan lingkungan pabrik bata merah
lebih besar dari pabrik batako. Sumber kebisingan di pabrik bata merah berasal dari
mesin diesel yang digunakan untuk mencetak bata merah. Di pabrik batako tidak
digunakan peralatan yang menimbulkan sumber kebisingan. Hasil pengukuran ini
dibandingkan dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-
48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan untuk daerah industri. Baku
mutu tingkat kebisingan lingkungan industri berdasarkan Kepmen tersebut sebesar
70 dB(A). Tingkat kebisingan lingkungan pabrik bata merah melebihi baku mutu
yang ditentukan.
Pengukuran tingkat kebisingan lingkungan untuk siang hari pada bata merah
sebesar 85 dB(A) sedangkan untuk kebisingan lingkungan pabrik batako sebesar
59 dB(A). Berdasarkan pengukuran spesifik di siang hari didapatkan hasil selama
5 jam pemaparan kebisingan di daerah pabrik bata merah sebesar 90 dB(A). Hasil
pengkuran tingkat kebisingan lingkungan ini dibandingkan dengan Peraturan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011
Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja.
Peraturan ini memberikan penjelasan berapa lama pekerja boleh berada di
lingkungan sumber bising. Waktu pemaparan yang dibolehkan untuk untuk tingkat
kebisingan lingkungan sebesar 88-90 dB(A) hanya 4 jam. Berdasarkan hasil
pengukuran di siang hari tersebut nilai kebisingan di pabrik bata merah melebihi
waktu pemaparan yang dibolehkan yaitu 5 jam. Sunu 2001 menyatakan ketika nilai
tingkat kebisingan di atas 80 dB(A) maka harus digunakan pelindung alat
pendengaran.
Analisis dampak lingkungan yang dihitung selain kebisingan adalah limbah
gas. Emisi gas buang dihasilkan di pabrik bata merah akibat proses pencetakan bata
merah dan pembakaran bata merah. Pencetakan bata merah dengan menggunakan
mesin diesel sehingga menimbulkan gas buang dari pembakaran solar. Selain bahan
bakar solar, pembakaran bata merah menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya.
Kedua bahan bakar ini dapat menimbulkan emisi gas buang bagi lingkungan. emisi
yang ditimbulkan akan berdampak pada penurunan kualitas udara disekitar pabrik.
Pada pabrik batako juga dihasilkan emisi gas buang. Emisi ini berasal dari proses
pengangkutan tanah dari penggalian ke tahapan produksi. Perhitungan emisi
dilakukan dengan mengacu undang-undang nomor 12 tahun 2012 Tentang
Pedoman Penghitungan Beban Emisi Kegiatan Industri Minyak dan Gas Bumi.
Perhitungan emisi gas buang membutuhkan nilai faktor emisi. Faktor emisi yang
digunakan mengacu pada United State Environmental Protection Agency (USEPA).
Faktor emisi bahan bakar solar menurut USEPA Chapter 3.4, Large Stationary
Diesel and All Stationary yaitu NOx 1.935 lb/MMBtu, SO2 0.050 lb/MMBtu, PM10
0.057 lb/MMBtu, CO 0.134 lb/MMBtu, dan VOC 0.082 lb/MMBtu. Faktor emisi
bahan bakar kayu berdasarkan USEPA Chapter 1.6, Wood Residue Combustion in
Boilers, NOx 1. 466 lb/MMBtu, SO2 0.232 lb/MMBtu, PM10 1.175 lb/MMBtu, CO
4.432 lb/MMBtu, dan VOC 0.015 lb/MMBtu. Emisi gas buang yang dihasilkan dari
proses pembuatan bata merah dan batako dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Jumlah emisi yang dihasilkan untuk 1 m2 dinding


Besar Emisi (g/m2) Total
Material
NOx SO2 PM10 CO VOC (g/m2)
Bata merah 22 701 3592 26 581 68 966 2445 124 282
Batako 0.1 0.002 0.003 0.01 0.004 0.1

Emisi gas buang paling besar berasal dari parameter CO pada pabrik bata
merah sebesar 68.966 g/m2. Penyumbang emisi gas buang terbesar dari pabrik
batako adalah NOx yaitu 0.1 g/m2. Emisi gas buang yang dihasilkan oleh ke lima
(5) parameter ini hanya untuk kebutuhan 1 m2 dinding berbahan bata merah dan
Batako. Nilai dari emisi yang ditimbulkan akan semakin meningkat ketika dikalikan
sejumlah produksi bata merah dan batako pada tahapan produksi pencetakan dan
pembakaran. Emisi yang dihasilkan melebihi baku mutu yang ditimbulkan
berdasarkan Kep-13/MENLH/3/1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak
Bergerak. Emisi gas buang yang ditimbulkan dapat mempengaruhi kualitas udara
disekitar pabrik bata merah.
Dampak terakhir terkait efisiensi biaya dari proses produksi bata merah dan
batako. Kondisi ekonomi masyarakat berpengaruh pada proses pemilihan material
bangunan. Masyarakat akan memilih material yang sesuai dengan kemampuan
keuangannya. Kondisi tersebut termasuk dalam memilih material pembuat dinding
antara bata merah dan batako. Berdasarkan observasi lapangan, harga persatuan
bata merah di pabrik bata merah di Desa Leuwisadeng, Kecamatan Leuwisadeng
Kabupaten Bogor adalah Rp520. Harga persatuan batako di pabrik batako di Desa
Giri Harja, Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor adalah Rp650. Harga
satuan bata merah lebih murah dari harga satuan batako. Jumlah bata merah untuk
setiap 1 m2 dinding adalah 64 buah sedangkan untuk batako jumlahnya 27 buah.
Sehingga untuk membuat 1 m2 dinding berbahan bata merah diperlukan biaya
sebesar Rp33 280. Biaya yang dibutuhkan untuk 1 m2 dinding dari batako sebesar
Rp17 550. Kebutuhan biaya dalam membuat 1 m2 dinding berbahan bata merah
lebih besar dari bahan batako. Selisih harganya mencapai Rp15 730.
Interpretasi (Interpretation)

Interpretasi merupakan proses membanding kedua material berdasarkan


analisis inventori dan analisis dampak lingkungan yang diperoleh. Interpretasi
material terbaik antara bata merah dan batako ditampilkan pada Tabel 7. Tabel ini
disusun berdasarkan jumlah material penyusun, keperluan energi dan dampak
lingkungan yang ditimbulkan selama proses produksi.
Tabel 7 Material terbaik antara bata merah dan batako

Tahapan Material
Parameter Bata Merah Batako
LCA Terbaik
Siklus Hidup 5 tahapan 4 tahapan Batako
Kebutuhan Bahan Baku (liter)
Tanah 64 45 Batako
Kapur 0 11 Bata merah
Air 1 1 Kedua material
Analisis
Kebutuhan Energi (kkal)
Inventori
Penggalian Bahan 12 25 Bata merah
Pencampuran Bahan 15 15 Kedua material
Pencetakan 1834 73 Batako
Penyimpanan 147 73 Batako
Pembakaran 39 0 Batako
2
Emisi gas buang (g/m )
NOx 22 701 0.1 Batako
CO 68 966 0.01 Batako
Analisis
Dampak SO2 3592 0.002 Batako
Lingkungan PM10 26 581 0.003 Batako
VOC 2445 0.004 Batako
Kebisingan Lingkungan
dB(A) 83 57 Batako
Biaya untuk 1 m2 dinding
33 280 17 550 Batako
(Rupiah)

Perbandingan analisis inventori dilakukan pada beberapa kriteria seperti


siklus produksi bata merah dan batako, kebutuhan bahan baku, dan kebutuhan
energi. Analisis dampak lingkungan pada pabrik bata merah dan batako berupa
emisi gas buang dan kebisingan lingkungan. Berdasarkan Tabel 7 siklus produksi
bata merah lebih panjang dari batako. Tahapan produksi yang lebih lama
berdampak pada penyaluran material ke masyarakat. Berdasarkan interpretasi
terhadap analisis inventori dan analisis dampak lingkungan yang paling baik
diantara kedua jenis material konstruksi (bata merah dan batako) adalah batako.
SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Simpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Metode LCA telah dapat diimplementasikan pada bata merah dan batako
yang mencakup batasan tujuan dan ruang lingkup, analisis inventori,
analisis dampak lingkungan dan interpretasi.
2. Material terbaik antara bata merah atau batako berdasarkan metode LCA
adalah batako. Pilihan ini didasarkan atas keperluan bahan baku yang
lebih sedikit dan dampak lingkungan yang rendah.

Saran

Implementasi LCA sebaiknya juga dilakukan pada batako dengan proses


produksinya menggunakan mesin atau batako yang berbahan semen.

DAFTAR PUSTAKA

Cabeza LF, Rincon L, Vilarino V, Perez G, Castell A. 2013. Life Cycle Assessment
(LCA) And Life Cycle Energy Analysis (LCEA) Of Buildings and The Building
Sector: A Review. Renewable and Sustainable Energy Reviews. 29:394–416.
doi:10.1016/j.rser.2013.08.037
Finnveden G, Hauschild MZ, Ekvall T, Guinee J, Heijungs R, Hellweg S,
Pennington D, Suh S. 2009. Recent Developments In Life Cycle Assessment.
Journal of Environmental Management. doi:10.1016/j.jenvman.2009.06.018
ISO 14040. 1997. Environmental Management Life Cycle Assessment Principles
and Framework EN ISO 14040. The International Standards Association.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-48/MENLH/11/1996
tentang Baku Tingkat Kebisingan.
Lin DF, Weng CH. 2001. Use Of Sewage Sludge Ash As Brick Material. Journal
of Environmental Engineering. 10(127): 922–927.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011
Tahun 2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di
Tempat Kerja.
Sunu P. 2001. Melindungi Lingkungan dengan Menerapkan ISO 140001. Jakarta
(ID). Grasindo.
Thorn MJ, Kraus JL, Parker DR. 2011. Life-Cycle Assessment as a Sustainability
Management Tool: Strengths, Weaknesses, and Other Considerations.
Environmental Quality Management. 20(2011):1-10. doi: 10.1002/tqem.20285
Turgut P. 2012. Manufacturing of Building Bricks Without Portland Cement.
Journal of Cleaner Production. 37(2012): 361-367.
doi:10.1016/j.jclepro.2012.07.047
United State Environmental Protection Agency (US-EPA).1998. Fuel Oil
Combustion. United States Environmental Protection Agency. Washington.
United State Environmental Protection Agency (US-EPA).2003. Wood Residue
Combustion in Boilers. United States Environmental Protection Agency.
Washington.
Zhang L. 2013. Production of Bricks from Waste Materials–A review. Construction
and Building Material. 47(2013):643–655. doi:10.1016/
j.conbuildmat.2013.05.043
Zoebar Y. 2004. Potensi Permintaan dan Harga Batu Bata Dalam Pembangunan
Fasilitas Hunian di Kota Pekanbaru. Jurnal Sains dan Teknologi. 3 (1): 25-29.
Lampiran 1 Kebutuhan bahan baku bata merah dan batako

Ukuran Kebutuhan bahan baku per hari


Jenis Panjang x Jumlah produksi
Material Lebar x Tanah (m3) Kapur (m3) Air (liter) perhari (buah)
Tebal (cm)
Bata Merah 20 x 10 x 5 5 0 80 4860
Batako 23 x 13 x 7 4 1 96 2400

Ukuran Kebutuhan bahan baku per satuan


Jenis Panjang x Jumlah Material
Material Lebar x Tebal Tanah (m3) Kapur (m3) Air (liter) 1 m2 dinding
(cm)
Bata Merah 20 x 10 x 5 0.001 0 0.02 64
Batako 23 x 13 x 7 0.002 0.0004 0.04 27

Ukuran Kebutuhan bahan baku per 1 m2 dinding


Jenis Panjang x
Material Lebar x Tebal Tanah (liter) Kapur (liter) Air (liter)
(cm)
Bata Merah 20 x 10 x 5 64 0 1
Batako 23 x 13 x 7 45 11 1
Lampiran 2 Perhitungan kebutuhan energi produksi batako
15
Energi Manusia
Rerata beban kerja dihitung dengan rumus sebagai berikut:
( 𝐵𝐾1×𝑇1)+(𝐵𝐾2×𝑇2)+⋯(𝐵𝐾𝑛 ×𝑇𝑛)
RerataBK = × 60 𝑘𝑘𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑟 𝑗𝑎𝑚
(𝑇1+𝑇2+⋯+𝑇𝑛)
MB untuk laki-laki = berat badan dalam kg × 1 kkal per jam
MB untuk wanita = berat badan dalam kg × 0.9 kkal per jam
Total BK = rerata BK + MB
Keterangan:
BK adalah beban kerja per jam
BK1,BK2, BKn adalah beban kerja sesuai aktivitas kerja 1,2,…n (dalam satuan menit)
T adalah waktu (dalam satuan menit)
T1, T2,..Tn adalah waktu sesuai aktivitas kerja tenaga kerja 1, 2, … n (dalam satuan menit)
MB adalah metabolisme basal

Penggalian Tanah Pengadukan Bahan Energi untuk


Metabolisme Rerata Beban
Nama 1 m2 Dinding
Basal (MB) Beban Waktu Beban Waktu Beban Kerja Kerja
Pekerja dari Batako
kkal /jam Kerja/jam Aktivitas (T) Kerja/jam Aktivitas (T) (kkal/jam) (kkal/jam)
(kkal)
Jayadi 54 2.85 50 2.85 50 342 450
Devi 51 2.85 50 2.85 50 342 444
Jani 50 2.85 50 2.85 50 342 442
30
Suharma 45 2.85 50 2.85 50 342 432
Pian 43 2.85 50 2.85 50 342 428
Sueb 58 2.85 50 2.85 50 342 458
Lampiran 2 Perhitungan kebutuhan energi produksi batako
Posisi kerja
1. Pekerja berjenis kelamin laki-laki
2. Posisi kerja pada saat pencetakan batako
 Berdiri
 Pekerjaan dengan dua tangan
3. Posisi kerja saat penyimpanan
 Berjalan
 Pekerjaan dengan satu tangan

Pencetakan Penyimpanan Energi untuk


Metabolisme Rerata Beban
Nama Total Waktu 1 m2 Dinding
Basal (MB) Beban Waktu Beban Waktu Beban Kerja Kerja
Pekerja Kerja (Jam) dari Batako
kkal /jam Kerja/jam Aktivitas (T) Kerja/jam Aktivitas (T) (kkal/jam) (kkal/jam)
(kkal)
Jayadi 54 2.85 35 3.9 15 190 244
Devi 51 2.85 35 3.9 15 190 241
Jani 50 2.85 35 3.9 15 190 240
9 146
Suharma 45 2.85 35 3.9 15 190 235
Pian 43 2.85 35 3.9 15 190 233
Sueb 58 2.85 35 3.9 15 190 248
17

Lampiran 3 Perhitungan kebutuhan energi produksi bata merah

1. Pekerja berjenis kelamin laki-laki


2. Posisi kerja pada saat penggalian dan pencampuran bahan bata merah
 Berdiri
 Pekerjaan dengan dua tangan

Metabolisme Penggalian Tanah Rerata Beban Energi untuk 1 m2


Nama
Basal (MB) Beban Waktu Beban Kerja Kerja Dinding dari Bata
Pekerja
kkal /jam Kerja/jam Aktivitas (T) (kkal/jam) (kkal/jam) merah (kkal)
Kasim 54 2.85 60 171 225
Rustandi 50 2.85 60 171 221
12
Anaf 53 2.85 60 171 224
Kusnadi 58 2.85 60 171 229
Lampiran 3 Perhitungan kebutuhan energi produksi bata merah

1. Pekerja berjenis kelamin laki-laki


2. Posisi kerja pada saat pencampuran bahan
 Berdiri
 Pekerjaan dengan dua tangan
3. Posisi kerja saat pencetakan
 Duduk
 Pekerjaan dengan dua tangan

Metabolisme Pencampuran bahan Pencetakan Rerata Beban Energi untuk 1 m2


Nama
Basal (MB) Beban Waktu Beban Waktu Beban Kerja Kerja Dinding dari Bata
Pekerja
kkal /jam Kerja/jam Aktivitas (T) Kerja/jam Aktivitas (T) (kkal/jam) (kkal/jam) merah (kkal)

Kasim 54 2.85 50 171 225 15

Rustandi 50 1.55 50 93 143 9


Lampiran 3 Perhitungan kebutuhan energi produksi bata merah 19

1. Pekerja berjenis kelamin laki-laki


2. Posisi kerja pada saat penyimpanan bata merah
 Berdiri, berjalan, membawa gerobak
 Pekerjaan dengan dua tangan
3. Posisi kerja pada saat pembakaran bata merah
 Berdiri, Duduk
 Pekerjaan dengan dua tangan
4. Perhitungan energi mesin

Metabolisme Penyimpanan Pembakaran Rerata Beban Energi untuk 1 m2


Nama
Basal (MB) Beban Waktu Beban Waktu Beban Kerja Kerja Dinding dari Bata
Pekerja
kkal /jam Kerja/jam Aktivitas (T) Kerja/jam Aktivitas (T) (kkal/jam) (kkal/jam) merah (kkal)
Anaf 53 6.25 30 375 428
Kusnadi 58 6.25 30 375 433 147
Ejen 55 4.25 60 255 310
Supri 55 3.25 50 201 256
39
Ocang 56 3.25 50 201 257
Energi solar 138 700 BTU per US Gallon 1 BTU = 1055.056 Joule
1 Joule = 4.184 Kalori 1 US Gallon = 3.785 liter
1 liter solar = 9240 kkal 15 liter solar = 138 600 kkal
2
Untuk 1 m dinding dari bata merah 64 buah = 1825 kkal
Lampiran 4 Perhitungan emisi gas buang

Faktor
Faktor Emisi Jumlah Emisi untuk
Parameter Emisi US Jumlah kayu Emisi gas Emisi gas
US EPA Produksi bata 1 m2 Bata
Polutan EPA (ton) buang (lb) buang (kg)
(lb/ton) merah (buah) merah (kg)
(lb/MMBtu)
NOx 1.935 0.071 15 1.071 0.486 4860 0.0064
CO 0.134 0.005 15 0.074 0.034 4860 0.0004
SO2 0.050 0.002 15 0.028 0.013 4860 0.0002
PM10 0.057 0.002 15 0.032 0.014 4860 0.0002
VOC 0.0820 0.0030 15 0.0454 0.0206 4860 0.0003

Emisi per
Faktor Jumlah Emisi untuk
Faktor Emisi Emisi gas satuan
Parameter Emisi US Jumlah Emisi gas produksi 1 m2 dinding
US EPA buang bata
Polutan EPA kayu (ton) buang (lb) bata merah Bata merah
(lb/ton) (kg) merah
(lb/MMBtu) (buah) (kg)
(kg)
NOx 0.158 1.466 32 47 21 60.0000 0.355 22 701
CO 0.480 4.454 32 143 65 60.0000 1.078 68 966
SO2 0.025 0.232 32 7 3 60.0000 0.056 3592
PM10 0.185 1.717 32 55 25 60.0000 0.415 26 581
VOC 0.017 0.158 32 5 2 60.0000 0.038 2443
21
Lampiran 4 Perhitungan emisi gas buang
Pengangkutan tanah hasil penggalian untuk produksi batako
Kapasitas angkut mobil 800 kg
1 liter = 14 km

Faktor Jumlah Emisi untuk


Faktor Emisi Jumlah Emisi gas
Parameter Emisi US Emisi gas produksi 1 m2 dinding
US EPA solar buang
Polutan EPA buang (lb) batako Bata merah
(lb/liter) (liter) (kg)
(lb/MMBtu) (buah) (kg)
NOx 1.9350 0.0714 0.1 0.0071 0.0032 2400 0.1
CO 0.1340 0.0049 0.1 0.0005 0.0002 2400 0.01
SO2 0.0505 0.0019 0.1 0.0002 0.0001 2400 0.002
PM10 0.0573 0.0021 0.1 0.0002 0.0001 2400 0.003
VOC 0.0820 0.0030 0.1 0.0003 0.0001 2400 0.004
Lampiran 5 Metode perngukuran, perhitungan tingkat kebisingan lingkungan

METODA PENGUKURAN, PERHITUNGAN


DAN EVALUASI TINGKAT KEBISINGAN LINGKUNGAN
KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
KEP-48/MENLH/11/1996

1. Metoda Pengukuran

Pengukuran tingkat kebisingan dapat dilakukan dengan dua cara :

1) Cara Sederhana
Dengan sebuah sound level meter biasa diukur tingkat tekanan bunyi dB (A)
selama 10 (sepuluh) menit untuk tiap pengukuran. Pembacaan dilakukan setiap 5
(lima) detik.

2) Cara Langsung

Dengan sebuah integrating sound level meter yang mempunyai fasilitas


pengukuran LTM5, yaitu Leq dengan waktu ukur setiap 5 detik, dilakukan pengukuran
selama 10 (sepuluh) menit.
Waktu pengukuran dilakukan selama aktifitas 24 jam (LSM) dengan cara pada
siang hari tingkat aktifitas yang paling tinggi selama 16 jam (LS) pada selang waktu
06.00 – 22.00 dan aktifitas malam hari selama 8 jam (LM) pada selang 22.00 – 06.00.
Setiap pengukuran harus dapat mewakili selang waktu tertentu dengan
menetapkan paling sedikit 4 waktu pengukuran pada siang hari dan pada malam
hari paling sedikit 3 waktu pengukuran, sebagai contoh :
- L1 diambil pada jam 07.00 mewakili jam 06.00 – 09.00
- L2 diambil pada jam 10.00 mewakili jam 09.00 – 11.00
- L3 diambil pada jam 15.00 mewakili jam 14.00 – 17.00
- L4 diambil pada jam 20.00 mewakili jam 17.00 – 22.00
- L5 diambil pada jam 23.00 mewakili jam 22.00 – 24.00
- L6 diambil pada jam 01.00 mewakili jam 24.00 – 03.00
- L7 diambil pada jam 04.00 mewakili jam 03.00 – 06.00

Keterangan:
Leq = Equivalent Continous Noise Level atau Tingkat Kebisingan
Sinambung Setara ialah nilai tingkat kebisingan dari kebisingan
yang berubah-ubah (fluktuatif) selama waktu tertentu, yang setara
dengan tingkat kebisingan dari kebisingan ajeg (steady) pada selang
waktu yang sama. Satuannya adalah dB (A)
LTM5 = Leq dengan waktu sampling tiap 5 detik
Ls = Leq selama siang hari
Lm = Leq selama malam hari
LSm = Leq siang dan malam hari
23
2. Metoda Perhitungan

LS dihitung sebagai berikut :


0.1.L1 0.1.L4
LS = 10 log 1/16 {T1.10 + … + T4.10 } dB (A)
LM dihitung sebagai berikut :
0.1.L5 0.1.L7
LM = 10 log 1/8 {T5.10 + … + T7.10 } dB (A)

Untuk mengetahui apakah kebisingan sudah melampaui tingkat kebisingan maka


perlu dicari nilai LSM dari pengukuran lapangan. LSM dihitung dengan rumus :
0.1.Ls 0.1(Lm+5)
LSM = 10 log 1/24 {16.10 + … + 8.10 } dB (A)

3. Metoda Evaluasi

Nilai LSM yang dihitung dibandingkan dengan nilai baku tingkat kebisingan yang
ditetapkan dengan toleransi + 3 dB (A)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Desa Ciranca, Kecamatan Malausma, Kabupaten


Majalengka pada tanggal 12 Oktober 1992 dari pasangan suami istri Ahmadudin
dan Ida. Penulis merupakan putra pertama dari tiga bersaudara, yaitu kakak dari
Ade Hilman Fahmidin dan Aisya Zahra Nisa. Penulis lulusan SMA 1 Majalengka
pada tahun 2010. Penulis diterima di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan,
Fakultas Teknologi Pertanian, IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB
(USMI).
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di berbagai kegiatan di luar
akademik. Penulis pernah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa FATETA 2012,
menjadi Ketua Lembaga Pengajaran Quran (LPQ) Alhurriyyah 2013, Ketua
Departemen Sumberdaya Manusia LDK Alhurriyyah 2014. Penulis juga aktif
mengikuti kegiatan himpunan profesi seperti pelatihan autocad dan kunjungan
himpro. Penulis pernah tercatat sebagai delegasi IPB pada pelaksanaan MTQ
Tingkat Nasional di Kota Padang 2013.
Penulis melakukan Praktik Lapangan dengan judul “Pengelolaan Proses
Pengolahan Limbah Tambang Emas di Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE)
Pongkor”. Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir, penulis menyusun skripsi
dengan judul “Implementasi LCA (Life Cycle Assessment) pada Bata Merah dan
Batako” di bawah bimbingan Dr. Ir. Arief Sabdo Yuwono, M.Sc.

Anda mungkin juga menyukai