Anda di halaman 1dari 10

i

MAKALAH

“MUATAN CURAH CAIR”

NAMA : JUAN SAID


NIM : 1562 4179

JURUSAN KEPELABUHANAN
BITUNG LOGISTIC COMMUNITY COLLEGE
2016
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat
rahmat-Nya semata penulis bisa menyelesaikan makalah ini dengan cukup baik
sebagai tugas yang penulis terima dari dosen dengan isi makalah
tentang ”MUATAN CURAH CAIR”

Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
banyak membantu dan ikut serta dalam penyusunan makalah ini agar menjadi hasil
yang dapat atau bisa di terima oleh dosen maupun pembaca.

Pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen-dosen
Jurusan Kepelabuhanan atas ilmu yang telah diberikan, serta teman-teman yang
telah membantu, dan juga Orang Tua yang telah mendoakan sehingga Laporan
Penelitian ini bisa terselesaikan. Semoga apa yang terkandung di dalam Laporan
Penelitian ini bisa bermanfaat bagi pembaca.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan kata kalimat maupun dari struktur
makalah ini memang belum sempurna untuk itu penulis sebagai penyusun mohon
kritik atau saran yang bersifat konstruktif agar dapat terbentuknya makalah yang
lebih sempurna dari ini di kemudian hari.

Sekian dari penulis , sekali lagi penulis ucapkan terima kasih kepada semua.

Bitung, 23 September 2016

Penulis

Juan Said
iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI...................................................................................................... iii
BAB I ISI ........................................................................................................ 4
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 10
BAB I

ISI

MUATAN CURAH CAIR (liquid bulk cargo)

Yaitu muatan curah yang berbentuk cairan yang diangkut dengan menggunakan
kapal-kapal khusus yang disebut kapal tanker. Contoh muatan curah cair ini adalah
bahan bakar, crude palm oil (CPO), produk kimia cair dan sebagainya.

Muatan Cair (Liquid cargoes) I Basil minyak (Oil product). Yaitu muatan olahan
dari basil minyak. Contoh : :MDF, Bensin, Kerosine, .Minyak kelapa sawit. dll.

BULK CARGO VESSEL.


Adalah kapal pengangkut barang-barang yang bersifat homogen dalam bentuk
partikel-partikel, liquid atau cair dalam bentuk curah.
Cara bongkar-muat barang yang diangkut tersebut dapat dilakukan dengan Pompa
Blower, Conveyor, Crabs atau Bracket dll, sehubungan dengan hal ini maka perlu
diperhatikan pula mengenai distribusi beban pada arah memanjang kapal.

Liquid Bulk Cargo vessel.(Kapal Tankers)


adalah kapal pengangkut yang direncanakan untuk mengangkut produk-produk
bersifat liquid dengan kepadatan 37 – 49 cubic feet per toin (fpt). (jenis crued oil)
dan mempunyai titik nyala dibawah 60 derajat Celcius., muatan dalam bentuk
curah.
Perkembangan jenis Kapal Tankers berkembang disesuai dengan jenis barang
muatan yang dibawanya, yaitu :

Chemical Tankers
Kapal tankers ini dirancang khusus untuk membawa muatan atau cargo dalam
bentuk curah atas Chemical yang bersifat sangat mudah terbakar, berbahaya,
beracun, korosif & bereaksi dengan air.

Gas Carrier (LNG & LPG) Tankers.


Kapal tankers ini dirancang khusus untuk mengangkut Gas (baik yang Natural Gas
seperti Methane atau Petrolium Gas seperti Propane & Butane) muatan dalam
bentuk curah.
Umumnya tangki dirancang khusus untuk tekanan tinggi dan temperatur di
dinginkan sampai –50 derajat celcius.
Suatu pelayanan angkutan muatan dapat dikatakan baik, jika :
a. Barang yang diangkut tiba tepat pada waktunya,
b. Muatan yang diangkut tidak rusak atau hilang,
c. Tarif uang tambang (freight) sesuai dengan pasar sehingga harga jual barang
masih menghasilkan keuntungan.
d. Terjalin hubungan yang baik dengan para pengangkut,
e. Klaim kerusakan atau kehilangan cepat dibayar.

Agar kapal-kapal dapat beroperasi seefisien mungkin, dalam merencanakan


pengangkutan muatan, perusahaan pelayaran harus terlebih dahulu melihat :
a. Jenis muatan yang akan diangkut,
b. Jumlah pelabuhan yang akan disinggahi dan fasiitas untuk menerima atau
membongkar muatan.
c. Jenis kapal, bentuk ruang muatan, serta rintangan yang mungkin akan ditemui.
d. Opsi muatan yang mungkin didapat.
e. Jadwal pelayaran kapal-kapalnya agar tidak berlayar bersamaan.

Untuk mencapai hasil tersebut, perusahaan pelayaran harus memperhatikan kendala


dalam hal :
a. kerusakan kapal
b. keselamatan ABK dan orang lain
c. kerusakan muatan.
d. Penggunaan ruang muat kapal secara maksimum
e. Sistematika dan kecepatan bongkar muat
MUATAN CAIR DALAM BULK ( Bulk Liquid Cargo )

Bulk Liquid Cargo : muatan cair / minyak.

Ada dua jenis kapal tangki, yaitu :

1. The Crude Oil Tanker :

Ini merupakan kapal minyak yang besar. Beberapa dari kapal ini memiliki bobot
mati lebih dari 400.000 ton, sedangkan bobot mati kapal umumnya 200.000 ton.
Kapal ini digunakan untuk mengangkut minyak mentah dari sumber minyak atau
tempat pengeboran minyak, biasanya di daerah Timur Tengah menuju ke tempat
pemurniannya / pengolahannya.
Kapal minyak mentah ini memiliki sebuah sistem pipa saluran yang cukup
sederhana dan kapasitas pemompaan yang tinggi untuk penghematan waktu pada
saat bongkar – muat berlangsung. Biasanya sebelum pemuatan diawalii dengan
pemanasan gulungan pipa .

2. The Product Tanker :


Kapal tangki ini khusus membawa minyak yang sudah diolah / dimurnikan dari
tempat pemurnian minyak mentah ke tangki – tangki penyimpanan di pelabuhan –
pelabuhan yang tersebar di dunia. Rata – rata bobot mati kapal ini sekitar 30.000
ton.
Produk – produk minyak pemurnian ini dibedakan atas produk hitam seperti
minyak bahan bakar dan diesel, sedangkan produk putih seperti bensin, minyak
tanah, gas dan minyak pelumas.
Pemisahan tingkat yang berbeda – beda merupakan paling penting saat membawa
produk – produk minyak pemurnian tersebut. Kontaminasii akan membuat produk
tersebut menjadi tidak berguna bahkan mungkin berbahaya. Namun sistem pipa
saluran (pipe lines) yang rumit yang dipasang pada kapal tangki justru dapat
mengurangi resiko akan kontaminasi muatan tersebut.
Pemuatan :

Deep Tank Liquids :


Sebelum muatan cair dimuat ke dalam tangki – tangki dalam, tangki – tangki
tersebut harus diuji terlebih dahulu untuk memastikan bahwa tak akan ada
kebocoran dan kerusakan pada muatan yang lain. Ujung tangki dikunci dengan kuat
dan tangki diisi dengan air sampai ujung atas dari pipa – pipa tang diisi. Kemudian
tangki diperiksa, khususnya di bagian ujung atau tepi tangki, lalu dipompa. Tangki
dalam serta tangki dalam berganda harus diperiksa secara internal untuk mencegah
kalau – kalau ada tanda – tanda kebocoran. Seorang pemeriksa akan mengeluarkan
sebuah sertifikat yang menyatakan bahwa tangki-tangki yang diperiksa itu sudah
kuat dan boleh membawa muatan cair.

Setelah melalui pengujian yang ketat, tangki – tangki tersebut kemudian


dibersihkan secara keseluruhan dan membersihkan minyak -minyak yang masih
melapisi tangki dengan menggunakan air bersih dan sabun pembersih. Tapi jika
tangki – tangki tersebut tidak kotor, maka cukup dibersihkan atau dicuci dengan
sabun pembersih. Sabun pembersih itu dimasukkan ke dalam drum yang
dihubungkan dengan pipa penyemprot. Sementara tangki yang akan dibersihkan
masih panas, maka disemprotkanlah pembersih tadi ke dalam tangki kemudian
digosok dengan hati – hati dan disikat. Setelah kotoran lepas dan lapisan kotoran
terkelupas, semprotkanlah air bersih ke dalam tangki.
Ketika kapal akan memuat muatan getah / karet (latex) , tangki – tangki tersebut
dilapisi dengan parafin atau lapisan lilin untuk mencegah kontak langsung getah
dengan logam tangki. Kontak langsung dengan udara pun bisa mengurangi volume
tangki, jadi digunakanlah keran untuk menyemprotkan udara dengan tekanan
tertentu daripada menggunakan ventilasi.
Memuat Penuh : (Load on Top)

Minyak-minyak di ballast kotor akan mengalir ke puncak air laut. Kebanyakan air
dari masing-masing tangki dapat dibongkar/buang ke laut, namun demikian puncak
lapisan dipompa ke tangki pembuangan. Air kotor dari saluran pencucian dan
pembersihan juga dipompa ke tangki pembuangan sebagaiman larangan untuk tidak
membuang air pembuangan /kotor ke laut. Campuran dalam tangki pembuangan
dibiarkan terpisah dan air bersihnya dipompa ke laut. Minyak pada puncak tangki
ditahan dalam kapal dan dibuang bersamaan dengan pembongkaran muatan
berikutnya.
Pada umumnya pemuatan untuk kapal jenis ini dilakukan dari darat . Biasanya
tangki didarat letaknya agak tinggi, hingga perbedaan permukaan cukup
menimbulkan tekanan pada pipa, tetapi pemuatan dapat juga terjadi dimana
diperlukan suatu pompa muatan yang bekerja didarat, apalagi kalau muatannya
dilakukan dari pengeboran lepas pantai yang tangkinya lebih rendah.
Kemudian pipa darat disambung (connect) dengan kran pipa kapal (manifold) , hal
ini harus dilakukan dengan hati – hati karena mungkin ada perbedaan tegangan
antara pipa kapal dengan pipa dari darat . Untuk menjaga perbedaan tegangan itu
maka dipasanglah kawat tembaga diantara pipa – pipa tersebut, kemudian dipasang
sakelar (sebelumnya dikenal dengan nama “bounding cable”), mengingat pada
pelaksanaan pemuatan “power kerosene” dan “avigas” walau dilakukan dengan hati
– hati dalam pemuatannya serta dengan kecepatan pemuatan dalam pipa yang
rendah tetapi masih sering menimbulkan listrik (electric statics) .

Temperatures :
Ada instruksi pemanasan yang perlu dipatuhi, jadi sah-sah saja jika mengambil
temperatur suhu muatan-muatan sebanyak dua kali sehari dan mengirimkan
salinannya ke ‘cosignee’. Kelalaian dalam hal suhu muatan bisa membuat jadi
kurang berkualitas. Sebaliknya ada yang susah sulit sekali dibongkar. Jika tidak
dipanaskan, beberapa muatan cair akan menjadi padat dan tidak bisa lagi
mengembalikan ke bentuk air lagi meskipun sudah dipanaskan.
Pada perhitungan muatan diatas kapal – kapal tanker pada umumnnya dilakukan
dalam bentuk perhitungan untuk mencari “Ullage” yang dinyatakan dalam meter
dan kemudian dirubah menjadi meter kubik untuk selanjutnya diubah menjadi ton.
Pihak pembuat kapal – kapal tanker telah melampirkan daftar kalibrasi untuk tiap
– tiap kapal tanker dimana telah dicantumkan kapasitas tangki dalam meter kubik
dan persamaannya dengan “dalam” atau “tinggi” Ullage untuk setiap 1/8 m atau
0,125 m setiap interval.

Adapun data – data yang dibutuhkan untuk merubah satuan “Meter Kubik” (cbm)
menjadi satuan dalam “Ton” adalah sebagai berikut :
1. Berat jenis cair.
2. Suhu atau temperatur zat cair.
3. Koefisien muai zat cair.
Biasanya kapal – kapal tanker telah dilengkapi dengan “tanker table” yang
berisikan akan semua data – data diatas ; sehingga apabila volume ( dalam meter
kubik ) suatu zat cair diketahui, berat zat cair tersebut diketahui, maka berat zat cair
tersebut dapat dihitung ( ton ). Volume zat cair ( meter kubik ) dapat juga diganti
langsung menjadi ton dengan cara penggunaan “stowage factor”nya yang telah
tercantum dalam tanker table kapal tersebut .
DAFTAR PUSTAKA

https://infokapal.wordpress.com/2009/09/16/muatan-cair-dlm-bulk-bulk-liquid-
cargo/
http://www.maritimeworld.web.id/2011/04/pengertian-muatan.html