Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masa nifas atau puerperium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6
minggu (42 hari) setelah itu (Hadijono, 2008). Masa nifas adalah masa sesudah persalinan
dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali
seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama ±6 minggu (Pelayanan
kesehatan maternal dan neonatal, 2002). Di Negara berkembang seperti Indonesia, masa
nifas merupakan masa yang kritis bagi ibu yang sehabis melahirkan. Diperkirakan bahwa
60% kematian ibu terjadi setelah persalinan dan 50% diantaranya terjadi dalam selang
waktu 24 jam pertama (Prawirardjo, 2006). Dari laporan WHO di Indonesia merupakan
salah satu angka kematian ibu tergolong tinggi yaitu 420 per 100.000 kelahiran hidup, bila
dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Masa nifas (puerperium) dimulai
setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti saat
sebelum hamil, berlangsung selama 6 minggu. Pada beberapa jam setelah bayi dilahirkan
dan plasenta dikeluarkan adalah masa-masa perhatian dimana seorang ibu perlu benar-
benar dipantau keadaanya karena bisa terjadi masalah seperti adanya perdarahan dan juga
infeksi di tempat bekas jahitan akibat proses kelahiran

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa Yang Dimaksud Dengan Post Partum?
2. Bagaimana Fisiologi Post Partum ?
3. Bagaimana Asuhan Keperawatan Post Partum ?
4. Apa Yang Dimaksud Dengan Home Visit Post Partum ?
1.3 Tujuan
1. Untuk Mengetahui Dan Memahami Tentang Definisi Post Partum
2. Untuk Mengetahui Gejala Klinis Atau Fisiologi Nifas
3. Untuk Memahami Dan Sebagai Panduan Atau Bahan Belajar Dalam Asuhan
Keperawatan Post Partum
4. Untuk Memahami Pengertian Dari Home Visit Post Partum Dan Apa Yang
Dilakukan Pada Saat Kunjungan Nifas Kerumah Klien

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Post Partum

A. Pengertian Post Partum

Post partum adalah masa sesudah persalinan dapat juga disebut masa nifas (puerperium)
yaitu masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang
lamanya 6 minggu. Post partum adalah masa 6 minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ
reproduksi sampai kembali ke keadaan normal sebelum hamil (Bobak,2010). Nifas
(puerperium) adalah masa mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6
minggu. Akan tetapi, seluiruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum ada
kehamilan dalam waktu 3 bulan (Prawiroharjo, 2002). Nifas atau masa puerperium adalah
masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Manjoer, 2000.
Hal.316). Hanifa (2006) mengatakan bahwa masa puerperium atau masa nifas mulai setelah
putus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu Nifas adalah masa pulihnya kembali,
mulai dari persalinan selesai sampai alat- alat kandungan kembali seperti pre hamil. Lama
masa nifas ini yaitu 6-8 minggu (Mochtar, 1999). Masa nifas atau puerperium mulai setelah
partus selesai dan berakhir kira-kira 6 minggu (Wiknjosastro, 2006)

B. Klasifikasi Post Partum

Dibagi Menjadi 3 Periode

1. Puerpurium Dini Yaitu pulihnya ibu setelah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
Dalam agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja selama 40 hari.

2. Puerpurium Intermedial Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6


minggu

3. Remote Puerpurium Adalah waktu yang diperlukan untuk pulihnya dan sehat sempurna
terutama bila selama kehamilan atau waktu persalinan mempunyai komplikasi
(Synopsis Obstetri I, 2002).

2
C. Gejala Klinis (Fisiologi Nifas)

Pada masa puerperium atau nifas tampak perubahan dari organ yaitu :

1. Uterus Setelah bayi dilahirkan, uterus yang selama persalinan mengalami kontraksi dan
retraksi akan menjadi keras, sehingga dapat menutup pembuluh darah besar yang
bermuara pada bekas implantasi plasenta. Otot rahim terdiri dari 3 lapis otot yang
membentuk anyaman sehingga pembuluh darah dapat tertutup sempurna, dengan
demikian terhindari dari perdarahan post partum. Pada involusi uteri, jaringan ikat dan
jaringan otot mengalami proses proteolitik, berangsur-angsur akan mengecil sehingga
pada akhir kala nifas besarnya seperti semula dengan berat 50-60 gram. Proses
proteolitik adalah pemecahan protein yang akan dikeluarkan melalui urine. Dengan
penimbunan air saat hamil akan terjadi pengeluaran urine setelah persalinan, sehingga
hasil pemecahan protein dapat dikeluarkan. Adapun tinggi fundus uteri (TFU) post
partum menurut masa involusi

2. Kontraksi Intensitas kontraksi uterus meningkat segera setelah bayi lahir, diduga terjadi
sebagai respons terhadap penurunan volume intrauterine yang sangat besar. Hemostasis
pascapartum dicapai terutama akibat kompresi pembuluh darah involusi TFU berat
uterus bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram Placenta lahir ± 2 cm di bawah umbilicus
dengan bagian fundus bersandar pada promontorium sakralis ± 1000 gram 1 minggu
Pertengahan antara umbilikus dan simfisis pubis 500 gram 2 minggu Tidak teraba di
atas simfisis 350 gram 6 minggu Bertambah kecil 50-60 gram intramiometrium, bukan
oleh agregasi trombosit dan pembentukan bekuan. Hormone oksigen yang dilepas
kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengkompresi pembuluh
darah, dan membantu hemostasis. Selama 1 sampai 2 jam pertama pascapartum
intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Karena penting
sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini, biasanya suntikan
oksitosin ( pitosin ) secara intravena atau intramuscular diberikan segera setelah
plasenta lahir.

3. After pain Perasaan nyeri yang berlebihan akibat kontraksi uterus yang intermiten

4. Lochea Pada post partum terdapat lochia yaitu cairan/sekret yang berasal dari kavum

uteri dan vagina. Macam-macam lochia :

a. Lochia rubra: berisi darah segar dan sisa – sisa selaput ketuban, terjadi selama 2 hari
pasca persalinan

b. Lochia Sanguinolenta: berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, terjadi hari ke 3 –
7 pasca persalinan

c. Lochia serosa: Keluar cairan tidak berisi darah berwarna kuning. Terjadi hari ke 7 – 14
hari pasca persalinan

d. Lochia alba: Cairan putih setelah 2 minggu pasca persalinan

3
e. Lochia Furulenta

5. Serviks

a. Segera setelah melahirkan serviks melunak

b. 18 jam post Partum serviks memendek denan konsistensi lebih padat dan bentuk
seperti semula

c. Hari 4 – 6 serviks bisa dimasuki 2 jari

d. Setelah melahirkan muara serviks eksternal terlihat memanjang seperti celah, sering
disebut mulut ikan

6. Vulva dan Vagina, Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat
besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses
tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan
vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur
akan muncul kembali sementara labia menjadi lebih menonjol.

7. Perineum Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang
oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari ke 5, Perineum sudah
mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap kendur dari pada keadaan
sebelum melahirkan.

8. Payudara Perubahan pada payudara dapat meliputi :

a. Penurunan kadar progesterone secara tepat dengan peningkatan hormone prolaktin


setelah persalinan.

b. Kolostrum sudah ada saat persalinan. Produksi ASI terjadi pada hari ke-2 atau hari ke-3
setelah persalinan.

c. Payudara menjadi besar dan keras sebagai tanda mulainya proses laktasi.

9. Sistem Perkemihan Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama. Urin dalam jumlah
yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta
dilahirkan, kadar hormon estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan
yang mencolok. Keadaan ini menyebabkan diuresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali
normal dalam tempo 6 minggu.

10.Sistem Kardiovaskuler Setelah terjadi diuresis yang mencolok akibat penurunan kadar
estrogen, volume darah kembali kapada keadaan tidak hamil. Jumlah sel darah merah dan
haemoglobin kembali normal pada hari ke-5. Meskipun kadar estrogen mengalami penurunan
yang sangat besar selama masa nifas, namun kadarnya masih tetap lebih tinggi daripada
normal. Plasma darah tidak begitu mengandung cairan dan dengan demikian daya koagulasi
meningkat. Pembekuan darah harus dicegah dengan penangan yang cermat dan penekanan
pada ambulansi dini.

4
11.Sistem Gastrointestinal / Pencernaan Beberapa wanita mengalami konstipasi pada masa nifas,
dikarenakan kurangnya makanan berserat selama proses persalinana dan adanya rasa takut
dari ibu karena perineum sakit, terutama jika terdapat luka perineum. Namaun kebanyakan
kasus sembuh secara spontan, dengan adanya ambulasi dini dan dengan mengonsumsi
makanan yang berserat. Jika tidak, dapat diberikan supositoria biskodil per rektal untuk
melunakan tinja. Defakasi harus terjadi dalam 3 hari post partum.

12.Integumen Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah
bayi lahir. Kulit yang meregang pada payudara,abdomen, paha, dan panggul mungkin
memudar tetapi tidak hilang seluruhnya.

D. Perubahan Psikologis Periode masa nifas

merupakan waktu untuk terjadi stress, Periode itu dibagi menjadi 3 tahap, yaitu :

1. Talking In Period Terjadi pada hari 1-2 setelah persalinan, ibu masih pasif dan sangat
tergantung, fokus perhatian terhadap tubuhnya, ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan
dan persalinan yang dialami, kebutuhan tidur meningkat, nafsu makan meningkat.

2. Taking Hold Period Berlangsung 3-4 hari setelah post partum, ibu lebih berkonsentrasi pada
kemampuannya menerima tanggung jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa
ini ibu menjadi sangat sensitif, sehingga membutuhkan bimbingan dan dorongan perawat
untuk mengatasi kritikan yang dialami ibu.

3. Letting Go Period Ibu menerima tanggung jawab sebagai ibu dan ibu menyadari atau merasa
kebutuhan bayi yang sangat tergantung dari kesehatan sebagai ibu.

E. Tanda Bahaya Nifas

1. Perdarahan per vagina Perdarahan > 500 cc pasca salin dalam 24 jam

a. Satelah anak dan plasenta lahir

b. Perkiraan perdarahan kadang bercampur amnion,urine, darah.

c. Akibat kehilangan darah bervariasi

d. Perdarahan dapat terjadi lambat→waspada terhadap shock

2. Infeksi nifas Semua peradangan yang disebabkan masuknya kuman ke dalam alat-alat
genitalia pada waktu persalinan dan nifas, faktor predisposisi infeksi nifas

a. Partus lama

b. Tindakan operasi persalinan

c. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah

d. Perdarahan ante partum dan post partum

5
e. Anemia

f. Ibu hamil dengan infeksi (endogen)

g. Manipulasi penolong (eksogen)

h. Infeksi nosokomial

i. Bakteri colli

3. Demam nifas / febris purpuralis Kenaikkan suhu lebih dari 380 C selama 2 hari - 10 hari
pertama post partum. Faktor predisposisi :

a. Pertolongan persalinan kurang steril

b. Partus lama

c. Malnutrisi

d. Anemia.

4. Rasa sakit waktu berkemih Gejala :

a. Kencing sakit

b. Nyeri tekan di atas simpisis

5. Mastitis (peradangan pada payudara) Gejalanya:

a. Suhu tubuh > 380 C

b. Terjadi minggu pertama post partum

c. Nyeri tekan pada payudara

6. Inflamasi vena femoralis dengan pembentukan pembekuan darah

a. edema pada bagian paha atas dan tungkai

b. Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha dan pada betis

c. Tampak benalungan pembuluh darah

d. Suhu badan meningkat, menggigil

6
2.2 Asuhan Kepeawatan Pada Post Patum

LANDASAN TEORI KEPERAWATAN

1. Pengkajian Dasar data Klien


a. Aktivitas / Istirahat
Dapat tampak berenergi atau kelelahan/keletihan mengantuk .
b. Sirkulasi
Nadi biasanya lambat (50-70 x/m) karena hipersensitifitas TD bervariasi, mungkin lebih
rendah pada respons terhadap analgesik / anestesta atau meningkat pada respon
terhadap pemberian oksotoxin atau hipertensi karena kehamilan.Edema, bila ada mungkin
dependen (misalnya, ditemukan pada ekstremitas bawah, atas dan bawah)
c. Integritas Ego
Reaksi emosional bervariasi dan dapat berubah-ubah, misalnya perilaku menunjukkan
kurang kedekatan, kelelahan.Dapat mengekspresikan masalah atau meminta maaf untuk
perilaku intrapartum atau kehilangan kontrol dapat mengekspresikan rasa takut mengenai
kondisi bayi baru lahir atau perawatan segera pada neonatal.
d. Eliminasi
Hemoroid sering ada menonjol kandung kemih mungkin teraba diatas simfisis pubis atau
karakter Uriruarius mungkin dipasang.
e. Makanan/Cairan
Dapat mencegah haus lapar atau mual
f. Neurosensori Sensasi dan gerakan ekstremitas bawah menurun pada adanya anastesia
spinal dan analgesia.
g. Nyeri b/d Ketidaknyamanan
Misalnya setelah nyeri trauma jaringan / perbaikan episiotomi, kandung kemih penuh atau
perasaan dingin dengan menggigil.
h. Keamanan
Pada awalnya suhu tubuh meningkat sedikit.
i. Perbaikan episiotomi utuh dengan tepi jaringan merapat.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pola tidur b/d respon - respon hormonal dan psikologi atau ketidak nyamanan
proses kelelahan persalinan atau kebutuhan tuntutan anggota keluarga.
Dengan kriteria hasil :
 Mengungkapkan keluhan, kesulitan tidur
 Perasaan cepat marah
Hasil yang diharapkan :
 Mengidentifikasi penyesuaian untuk menerima perubahan yang diperlukan oleh
tuntutan keluarga
 Sedikitnya 8 jam tidur setiap malam dan tudur siang setiap hari

7
No Intervensi Rasional
1 Kaji persepsi klien terhadap kelelahan, kebutuhan tidur dan Mengindentifikasi
kekurangan tidur persepsi klien tentang
masalah
2 Kaji lingkungan Rumah sakit, ukuran dan situasi keluarga
serta kesediaan bantuan Bantu klien dalam
merencanakan periode
tidur atau istirahat siang
3 Anjurkan perlunya istirahat lebih awal daripada biasanya - malam, secara kritis
dalam jadwal anggota
keluarga.

4 Beri informasi yang berhubungan dengan aspek-aspek Klien punya tanggung


positif tentang istirahat dan tidur jawab untuk merawat
bayi serta melakukan
5 Anjurkan untuk pembatasan jumlah dan lamanya waktu peran - peran barunya,
kunjungan situasi ini
mengakibatkan
6 Anjurkan klien untuk menggunakan tablet vitamin dan zat kelelahan berlebihan,
besi setiap hari dan pilih diet yang tepat memperberat
kekurangan tidur.

Tidur dan
ketidakefektifan
mencerminkan laju
metabolic basal dan
memungkinkan oksigen
dan nutrient digunakan
untuk pemulihan

Kelelahan berlebihan
dapat diakibatkan dari
penggunaan waktu
kunjungan yang sering

Membantu
memperbaiki kadar Hb
yang diperlukan untuk
transfort oksigen dan
meningkatkan
pemulihan, membantu
mengatasi devisiensi
nutrient yang
memperberat proses
kelelahan berlebihan

8
b. Nyeri b/d pengeluaran lochia
Tujuan :
Nyeri teratasi
kriteria hasil :
 Ekspresi wajah tenang
 Secara verbal pasien menyatakan nyeri hilang atau berkurang
 Pasien tidak mengelus-elus perutnya lagi

No Intervensi Rasional
1 Kaji dan catat lokasi nyeri, lamanya, Dapat memberikan informasi tentang
intensitasnya, dan kaji tinggi fundus uteri nyeri dan membantu dalam pemilihan
intervensi

2 Berikan Health Education tentang Dengan beraktivitas, akan


pentingnya beraktivitas untuk memperlancar pengeluaran lochia dan
memperlancar pengeluaran lochia mengurangi rasa nyeri

3 Ajarkan tekhnik relaksasi napas dalam Menurunkan ketegangan otot dan


dengan menarik nafas panjang lewat hidung dapat meningkatkan koping pasien
dan menghembuskan lewat mulut, terhadap nyeri
dilakukan 3-4 kali

9
PATHWAY POST PARTUM

10
2.3 Definisi Home Visite

KUNJUNGAN NIFAS

Banyak program pulang dini memakai kunjungan rumah pasca partum sebagai
suatu tindakan tambahan untuk pemeriksaan pasca partum lanjutan. Kunjungan rumah
dapat menjadi bagian dari layanan rumah sakit, dokter pribadi, departemen kesehatan
masyarakat atau badan swasta yang khusus memberi pelayanan dirumah untuk pasien
maternitas. Kunjungan pertama dilakukan 6-8 jam setelah persalinan, Keputusan untuk
memperpanjang kontrak kunjungan rumah setelah satu minggu akan dibuat sesuai dengan
kebutuhan masing-masing keluarga. Selama kunjungan rumah, perawat melakuakn
pengkajian yang sistematis terhadap ibu dan bayi yang baru lahir untuk menentukan
penyesuaian fisiologis dan untuk mengidentifikasi setiap komplikasi yang potensial.
Pengkajian juga difokuskan pada penyesuaian emosional ibu, termasuk factor – factor
keseimbangan ( persepsi, koping dan dukungan) dan mencegah krisis.

Perawat juga mengkaji pengetahuan ibu tantang perawatan diri sendiri dan
perawatan bayi. Observasi orang tua baru, bayi baru lahir dan anggota keluarga lain dan
situasi yang alami ini memungkinkan perawat memperoleh data tentang lingkungan
kehidupan mereka yang tidak didapat dengan cara lain. Kunjungan rumah memiliki
keuntungan yang sangat jelas karena membuat perawat dapat melihat dan berinteraksi
dengan anggota keluarga di dalam lingkungan yang alami dan aman. Perawat mampu
mengkaji kecukupan sumber yang ada di rumah, demikian pula keamanan di rumah, dan
lingkungan sekitarnya. Misalnya, perawat dan Ibu bersama-sama membahas hal-hal yang
harus dipelajari sampai kunjungan berikutnya, mempelajari perawatan bayi lebih mudah
karena benda-benda yang dipakai demonstrasi adalah benda-benda yang dipakai untuk
demonstrasi adalah benda-benda yang sebenarnya yang digunakan sehari-hari di rumah.
Oleh karena itu, kunjungan rumah lebih mudah dilakukan untuk mengidentifikasi
penyesuaian psikologis dan fisik yang rumit. Kunjungan nifas dilakukan paling sedikit 4
kali. Hal ini dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir serta untuk mencegah
terjadinya masalah.

11
Kunjungan pertama dilakukan 6-8 jam setelah persalinan, tujuannya :

 Mencegah perdarahan waktu nifas karena atonia uteri.


 Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut.
 Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bila terjadiperdarahan
banyak.
 Pemberian ASI awal.
 Melakukan hubungan antara ibu dan bayi.
 Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah terjadinya hipotermia.
Jika petugas kesehatan menolong persalinan petugas harus tinggal dan mengawasi sampai
2 jam pertama.

Kunjungan kedua 6 hari setelah persalinan, tujuannya :

 Memastikan involusi uteri berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus uteri di bawah
umbilicus, tidak ada perdarahan dan tidak berbau.
 Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.
 Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat.
 Memastika ibu menyusui bayinya dengan baik dan tidak menunjukkan tanda-tanda
penyakit.
 Memberiukan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi
supaya tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.

Kunjungan ke tiga 2-3 minggu setelah persalinan


 Memastikan involusi uteri berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus di bawh umbilicus,
tidak ada perdarahan dan tidak berbau.
 Menilai tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.
 Memastikan ibu cukup makanan, cairan dan istirahat.
 Memastikan ibu menyususi bayinya dengan baik dan tidak menunjukkan tanda-tanda
penyakit.
 Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi supaya tetap hangat dan
merawat bayi.

12
Kunjungan ke empat 4-6 minggu setelah persalinan
 Menanyakan pada ibu tentang penyakit-penyakit yang ibu dan bayi alami.
 Memberikan konseling KB secara dini.
 Tali pusat harus tetap kering, ibu perlu diberitahu bahaya mebubuhkan sesuatu pada tali
pusat bayi, missal minyak atau bahan kain. Jika ada kemerahan pada pusat, perdarahan
tercium bau busuk, bayi segera dirujuk.
 Perhatikan kondisi umum bayi, apakah ada ikterus atau tidak, ikterus pada hari ketiga
postpartum adalah fisiologis yang tidak perlu pengobatan. Namun bila ikterus terjadi pada
hari ketiga atau kapan saja dan bayi malas untuk menyusu serta tampak mengantuk maka
segera rujuk bayi ke RS.
 Bicarakan pemberian ASI dengan ibu dan perhatikan apakah bayi menyusu dengan baik.
 Nasehati ibu untuk hanya memberikan ASI kepada bayi selama minimal 4-6 bulan dan
bahaya pemberian makanan tambahan selain ASI sebelum usia 4-6 bulan.
 Catat semua dengan tepat hal-hal yang diperlukan.
 Jika ada yang tidak normal segeralah merujuk ibu dan atau bayi ke puskesmas atau RS.

Ada beberapa keterbatasan kunjungan rumah sebagai suatu strategi tindak lanjut

pascapartum.

a. Biaya untuk mengunjungi keluarga yang jaraknya jauh.

b. Terbatasnya jumlah perawat yang berpengalaman dalam memberi pelayanan maternitas


dan perawatan bayi baru lahir.

c. Kekhawatiran tentang keamanan untuk mendatangi keluarga di daerah tertentu

13
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Post partum adalah masa sesudah persalinan dapat juga disebut masa nifas
(puerperium) yaitu masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat
kandungan yang lamanya 6 minggu. Post partum adalah masa 6 minggu sejak bayi lahir
sampai organ-organ reproduksi sampai kembali ke keadaan normal sebelum hamil
(Bobak,2010) Klasifikasi Post Partum Dibagi Menjadi 3 Periode, dan post partum
memiliki gejala klinis dan terjadi perubahan-Perubahan Psikologis Periode masa nifas
Sehingga tidak menolak kemungkinan bahwa adanya tanda Bahaya Nifas, diantaranya :
1. Perdarahan per vagina Perdarahan > 500 cc pasca salin dalam 24 jam

2. Infeksi nifas Semua peradangan yang disebabkan masuknya kuman ke dalam alat-alat
genitalia pada waktu persalinan dan nifas, faktor predisposisi infeksi nifas

3. Demam nifas / febris purpuralis Kenaikkan suhu lebih dari 380 C selama 2 hari - 10 hari
pertama post partum. Faktor predisposisi :

4. Rasa sakit waktu berkemih Gejala :

5. Mastitis (peradangan pada payudara) Gejalanya:

6. Inflamasi vena femoralis dengan pembentukan pembekuan darah

Kunjungan nifas dilakukan paling sedikit 4 kali. Hal ini dilakukan untuk menilai status ibu
dan bayi baru lahir serta untuk mencegah terjadinya masalah.

3.2 Saran

Diharapkan bagi pembaca dapat memahami pengertian, penyebab, klasifikasi,


fisiologi dan penatalaksanaan pada saat post partum . Diharapkan kita perawat dapat
menggunakan proses keperawatan sebagai kerangka kerja untuk perawatan pasien dengan
post partum. Serta memahami tentang home visit dan kegunaan home visit post partum.
Selain itu penulias juga menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah
ini, untuk itu kritik dan saran sangat dibutuhkan demi membangun motivasi untuk
penyusunan makalah berikutnya lebih baik lagi

14