Anda di halaman 1dari 30

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejarah Penyakit Bipolar Disorder (Manic Depression) – Gangguan

bipolar merupakan salah satu gangguan penyakit kejiwaan tertua pada manusia.

Dalam gangguan ini, suasana hati penderitanya berubah antara keadaan yang

sangat bersemangat yang disebut mania dan keadaan lain yang disebut depresi.

Banyak ilmuwan, psikiater, dan dokter dari berbagai negara telah meneliti tentang

penyakit mental bersejarah ini. Dokter Yunani yang hidup antara tahun 30 dan

150 Masehi di kota Alexandria menyebutkan bahwa penyebab utama dibalik

gangguan bipolar adalah ‘empedu hitam’.

Emil Kraepelin (1856-1926), seorang psikiater dari Jerman mempelajari

perilaku orang dengan gangguan bipolar. Dalam studinya, Kraepelin menemukan

bahwa pasien gangguan bipolar menunjukkan gejala seperti mania dan depresi,

namun tahapan gejala-gejala ini diikuti oleh fase bebas dari stres atau normal. Dia

dipuji dengan dikonsep gangguan ini di zaman modern.

Gangguan bipolar, yang sering disebut dengan gangguan manik depresi,

adalah suatu gangguan mood yang dikarakterisasikan oleh adanya fluktuasi mood

yang ekstrim dari euforia menjadi depresi berat, dan diperantarai oleh periode

mood yang normal (eutimik). Gangguan bipolar merupakan salah satu masalah

kesehatan mental yang penting, yang terjadi hampir 2% - 4% dari populasi. Hal

ini mungkin disebabkan seringnya terjadi kekambuhan dan banyaknya dampak

1
yang merugikan yang dapat disebabkan olehnya, dimana gangguan bipolar

mengakibatkan dampak yang berat untuk pasien, keluarga, dan masyarakat.

Depresi inilah yang sangat berbahaya karena orang yang menderita depresi

akan sulit berfungsi secara sosial dan berisiko tinggi untuk mengakhiri hidupnya

atau bunuh diri. Sering kali diagnosis psikiatri baru muncul setelah seorang

individu melakukan bunuh diri. Analisis tingkah laku,suasana hati, dan pikiran

individu yang melakukan bunuh diri didasarkan atas laporan dari keluarga dan

temanteman inidividu tersebut serta tulisan atau catatan-catatan individual.

Prevalensi gangguan bipolar bervariasi, 1-4 persen. Episode pertama yang

muncul pada laki-laki biasanya mania dan pada perempuan depresi. Prevalensi

gangguan bipolar di Indonesia hanya sekitar 2% sama dengan prevalensi

skizofrenia. Prevalensi antara laki-laki dan wanita sama besar. Onset gangguan

bipolar adalah dari masa anak-anak (usia 5-6 tahun) sampai 50 tahun atau lebih.

Usia pertama depresi pada lelaki lebih muda (22 tahun) dibandingkan dengan

perempuan (26-27 tahun). Rata-rata usia yang terkena adalah usia 30 tahun.

Gangguan bipolar cenderung mengenai semua ras.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana prosedur anamnesis pada kasus?

2. Apa diagnosis yang tepat pada kasus?

3. Apa etiologi pada kasus?

4. Bagaimana gejala dan faktor esiko pada kasus?

5. Apa saja akibat yang ditimbulkan pada kasus?

6. Bagaimana KIE yang benar untuk keluarga pasien pada kasus?

7. Bagaimana penatalaksanaan pada kasus?

2
8. Bagaimana prognosis pada kasus?

1.3. Tujuan

1. Untuk mengetahui prosedur anamnesis pada kasus?

2. Mengetahui apa diagnosis yang tepat pada kasus?

3. Mengetahui apa saja etiologi pada kasus?

4. Mengetahui bagaimana gejala dan faktor esiko pada kasus?

5. Mengetahui apa saja akibat yang ditimbulkan pada kasus?

6. Mengetahui bagaimana KIE yang benar untuk keluarga pasien pada

kasus?

7. Mengetahui bagaimana penatalaksanaan pada kasus?

8. Mengetahui bagaimana prognosis pada kasus?

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ilmu Jiwa

Psikiatri (Ilmu Kedokteran Jiwa) adalah cabang spesialistik Ilmu

Kedokteran, yang mempelajari patogenesis, diagnosis, terapi, rehabilitasi,

pencegahan gangguan jiwa dan peningkatan ikhtiar peningkatan taraf kesehatan

jiwa.Penyandang profesi keahliannya adalah psikiater atau spesialis kedokteran

jiwa.

Menurut Sasanto Wibisono, kesehatan Jiwa (Mental Health) merupakan

bidang yang luas, yang menggambarkan segi kualitas taraf kesehatan di bidang

kejiwaan. Meskipun psikiatri mempunyai peran sangat penting dalam bidang

kesehatan jiwa, sebenarnya kesehatan jiwa merupakan tanggung jawab semua

pihak, bersifat multidisiplin dan multisektor (berbagai pihak/bidang disiplin baik

dalam lingkup kedokteran maupun lainnya – misalnya psikologi, ilmu sosial,

keluarga, masyarakat, segi budaya, segi agama/spiritual, sosio-ekonomi, dsb).

2.2 Gangguan Jiwa

2.2.1 Pengertian Gangguan Jiwa

Saat ini gangguan jiwa didefinisikan dan ditangani sebagai masalah medis.

Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2010) adalah suatu perubahan pada fungsi

jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa yang menimbulkan

penderitaan pada individu dan hambatan dalam melaksanakan peran sosial.

Gangguan jiwa atau mental illenes adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh

seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya

4
tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri (Budiman, 2010).

Gangguan Jiwa menyebabkan penderitanya tidak sanggup menilai dengan

baik kenyataan, tidak dapat lagi menguasai dirinya untuk mencegah mengganggu

orang lain atau merusak/menyakiti dirinya sendiri (Yosep, 2009). Gangguan Jiwa

sesungguhnya sama dengan gangguan jasmaniah lainnya, hanya saja gangguan

jiwa bersifat lebih kompleks, mulai dari yang ringan seperti rasa cemas, takut

hingga yang tingkat berat berupa sakit jiwa atau lebih kita kenal sebagai gila

(Budiman, 2010).

2.2.2 Faktor Yang Menyebabkan Gangguan Jiwa

Menurut Stuart dan Sundeen (2008) penyebab gangguan jiwa dapat

dibedakan atas :

a. Faktor Biologis/Jasmaniah

1. Keturunan

Peran yang pasti sebagai penyebab belum jelas, mungkin terbatas

dalam mengakibatkan kepekaan untuk mengalami gangguan jiwa tapi hal

tersebut sangat ditunjang dengan faktor lingkungan kejiwaan yang tidak

sehat.

2. Jasmaniah

Beberapa peneliti berpendapat bentuk tubuh seseorang

berhubungan dengan ganggua jiwa tertentu. Misalnya yang bertubuh

gemuk/endoform cenderung menderita psikosa manik, depresif, sedang

yang kurus/ectoform cenderung menjadi skizofrenia.

5
3. Temperamen

Orang yang terlalu peka/sensitif biasanya mempunyai masalah

kejiwaan dan ketegangan yang memiliki kecenderungan mengalami

gangguan jiwa.

4. Penyakit dan cedera tubuh

Penyakit-penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, kanker, dan

sebagainya mungkin dapat menyebabkan merasa murung dan sedih.

Demikian pula cedera/cacat tubuh tertentu dapat menyebabkan rasa rendah

diri.

b. Ansietas dan Ketakutan

Kekhawatiran pada sesuatu hal yang tidak jelas dan perasaan yang tidak

menentu akan sesuatu hal menyebabkan individu merasa terancam, ketakutan

hingga terkadang mempersepsikan dirinya terancam.

c. Faktor Psikologis

Bermacam pengalaman frustasi, kegagalan dan keberhasilan yang dialami

akan mewarnai sikap, kebiasaan dan sifatnya. Pemberian kasih sayang orang tua

yang dingin, acuh tak acuh, kaku dan keras akan menimbulkan rasa cemas dan

tekanan serta memiliki kepribadian yang bersifat menolak dan menentang

terhadap lingkungan.

d. Faktor Presipitasi

Faktor stressor presipitasi mempengaruhi dalam kejiwaan seseorang.

Sebagai faktor stimulus dimana setiap individu mempersepsikan dirinya melawan

tantangan, ancaman, atau tuntutan untuk koping. Masalah khusus tentang konsep

diri disebabkan oleh setiap situasi dimana individu tidak mampu menyesuaikan.

6
Lingkungan dapat mempengaruhi konsep diri dan komponennya. Lingkungan dan

stressor yang dapat mempengaruhi gambaran diri dan hilangnya bagian badan,

tindakan operasi, proses patologi penyakit, perubahan struktur dan fungsi tubuh,

proses tumbuh kembang, dan prosedur tindakan serta pengobata (Stuart dan

Sundeen, 2008).

2.3.3 Klasifikasi Gangguan Jiwa

Klasifikasi berdasarkan Diagnosis gangguan jiwa menurut Dalami (2009)

dibagi menjadi:

a. Gangguan Jiwa Psikotik

Gangguan jiwa psikotik yang meliputi gangguan otak organik ditandai

dengan hilangnya kemampuan menilai realita, ditandai waham (delusi) dan

halusinasi, misalnya skizofrenia dan demensia.

1) Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan berbagai

tingkat kepribadian diorganisasi yang mengurangi kemampuan individu untuk

bekerja secara efektif dan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Gejala klinis

skizofrenia sering bingung, depresi, menarik diri atau cemas.Hal ini berdampak

pada keinginan dan kemampuan untuk meakukan tindakan oral hygiene.

2) Demansia

Demansia diklasifikasikan sebagai gangguan medis dan kejiwaan,

demensia terkait dengan hilangnya fungsi otak. Demensia melibatkan masalah

progresif dengan memori, perilaku, belajar, dan komunikasi yang mengganggu

fungsi sehari-hari dan kualitas hidup. Dimansia dibagi menjadi 2 yaitu:

7
a. Kerusakan kognitif reversibel

Sering dikaitkan dengan obat-obatan, resep atau lainnya, endokrin,

kekurangan gizi, tumor, dan infeksi.

b. Kerusakan kognitif ireversibel

Alzheimer dan vaskular demensia merupakan kerusakan kognitif

ireversibel yang paling umum. Alzheimer memiliki resiko meliputi usia,

genetika, kerusakan otak, sindroma down. Demensia vaskular melibatkan

kerusakan kognitif yang permanen akibat penyakit serebrovaskuler.

Tingkat keparahan dan durasi gangguan tergantung pada penyakit

serebrovaskular dan respon individu terhadap pengobatan.

b. Gangguan Jiwa Neurotik

Gangguan kepribadian dan gangguan jiwa yang lainnya merupakan suatu

ekspresi dari ketegangan dan konflik dalam jiwanya, namun umumnya penderita

tidak menyadari bahwa ada hubungan antara gejala-gejala yang dirasakan dengan

konflik emosinya. Gangguan ini tanpa ditandai kehilangan intrapsikis atau

peristiwa kehidupan yang menyebabkan kecemasan (ansietas), dengan gejala

gejala obsesi, fobia, dan kompulsif.

c. Depresi

Depresi merupakan penyakit jiwa akibat dysphoria (merasa sedih), tak

berdaya, putus asa, mudah tersinggung, gelisah atau kombinasi dari karakteristik

ini. Penderita depresi sering mengalami kesulitan dengan memori, konsentrasi,

atau mudah terganggu dan juga sering mengalami delusi atau halusinasi. Ketika

seseorang dalam keadaan depresi ada penurunan signifikan dalam personal

hygiene dan mengganggu kebersihan mulut.

8
1) Gangguan jiwa fungsional

Gangguan jiwa fungsional tanpa kerusakan struktural dan kondisi biologis

yang diketahui jelas sebagai penyebabkinerja yang buruk.

2) Gangguan jiwa organic

Gangguan jiwa organik adalah kesehatan yang buruk diakibatkan oleh

suatu penyebab spesifik yang mengakibatkan perubahan struktural di otak,

biasanya terkait dengan kinerja kognitif atau demensia.

3) Gangguan retardasi mental

Gangguan retardasi mental adalah suatu keadaan perkembangan mental

yang terhenti dan tidak lengkap yang terutama ditandai oleh rendahnya

keterampilan yang berpengaruh pada semua tingkat intelegensia yaitu kemampuan

kognitif (daya ingat, daya pikir, daya belajar), bahasa, motorik, dan sosial.

2.3.4 Dampak Gangguan Jiwa bagi Keluarga

Menurut Wahyu, (2012) dari anggota yang menderita gangguan jiwa bagi

keluarga diantaranya keluarga belum terbiasa dengan:

a. Penolakan

Sering terjadi dan timbul ketika ada keluarga yang menderita gangguan

jiwa, pihak anggota keluarga lain menolak penderita tersebut dan meyakini

memiliki penyakit berkelanjutan. Selama episode akut anggota keluarga akan

khawatir dengan apa yang terjadi pada mereka cintai. Pada proses awal, keluarga

akan melindungi orang yang sakit dari orang lain dan menyalahkan dan

merendahkan orang yang sakit untuk perilaku tidak dapat diterima dan kurangnya

prestasi. Sikap ini mengarah pada ketegangan dalam keluarga, dan isolasi dan

kehilangan hubungan yang bermakna dengan keluarga yang tidak mendukung

9
orang yang sakit. Tanpa informasi untuk membantu keluarga belajar untuk

mengatasi penyakit mental, keluarga dapat menjadi sangat pesimis tentang masa

depan. Sangat penting bahwa keluarga menemukan sumber informasi yang

membantu mereka untuk memahami bagaimana penyakit itu mempengaruhi orang

tersebut. Mereka perlu tahu bahwa dengan pengobatan, psikoterapi atau

kombinasi keduanya, mayoritas orang kembali ke gaya kehidupan normal.

b. Stigma

Informasi dan pengetahuan tentang gangguan jiwa tidak semua dalam anggota

keluarga mengetahuinya. Keluarga menganggap penderita tidak dapat

berkomunikasi layaknya orang normal lainnya. Menyebabkan beberapa keluarga

merasa tidak nyaman untuk mengundang penderita dalam kegiatan tertentu.

stigma dalam begitu banyak di kehidupan sehari-hari, tidak mengherankan, semua

ini dapat mengakibatkan penarikan dari aktif berpartisipasi dalam kehidupan

sehari-hari.

c. Frustasi, tidak berdaya dan kecemasan

Sulit bagi siapa saja untuk menangani dengan pemikiran aneh dan tingkah laku

aneh dan tak terduga. Hal ini membingungkan, menakutkan, dan melelahkan.

Bahkan ketika orang itu stabil pada obat, apatis dan kurangnya motivasi bisa

membuat frustasi. Anggota keluarga memahami kesulitan yang penderita miliki.

Keluarga dapat menjadi marah-marah, cemas, dan frustasi karena berjuang untuk

mendapatkan kembali ke rutinitas yang sebelumnya penderita lakukan.

d. Kelelahan dan Burn out

Seringkali keluarga menjadi putus asa berhadapan dengan orang yang

dicintai yang memiliki penyakit mental. Mereka mungkin mulai merasa tidak

10
mampu mengatasi dengan hidup dengan orang yang sakit yang harus terus-

menerus dirawat. Namun seringkali, mereka merasa terjebak dan lelah oleh

tekanan dari perjuangan sehari-hari, terutama jika hanya ada satu anggota

keluarga mungkin merasa benar-benar diluar kendali. Hal ini bisa terjadi karena

orang yang sakit ini tidak memiliki batas yang ditetapkan di tingkah lakunya.

Keluarga dalam hal ini perlu dijelaskan kembali bahwa dalam merawat penderita

tidak boleh merasa letih, karena dukungan keluarga tidak boleh berhenti untuk

selalu men-support penderita.

e. Duka

Kesedihan bagi keluarga di mana orang yang dicintai memiliki penyakit

mental. Penyakit ini mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi dan

berpartisipasi dalam kegiatan normal dari kehidupan sehari-hari, dan penurunan

yang dapat terus-menerus. Keluarga dapat menerima kenyataan penyakit yang

dapat diobati, tetapi tidak dapat disembuhkan. Keluarga berduka ketika orang

yang dicintai sulit untuk disembuhkan dan melihat penderita memiliki potensi

berkurang secara substansial bukan sebagai yang memiliki potensi berubah.

f. Kebutuhan pribadi dan mengembangkan sumber daya pribadi

Jika anggota keluarga memburuk akibat stress dan banyak pekerjaan,

dapat menghasilkan anggota keluarga yang sakit tidak memiliki sistem pendukung

yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, keluarga harus diingatkan bahwa

mereka harus menjaga diri secara fisik, mental, dan spiritual yang sehat. Memang

ini bisa sangat sulit ketika menghadapi anggota keluarga yang sakit mereka.

Namun, dapat menjadi bantuan yang luar biasa bagi keluarga untuk menyadari

bahwa kebutuhan mereka tidak boleh diabaikan.

11
2.3 Gangguan Bipolar

2.3.1 Pengertian Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar yang dikenal sebagai manic-depresive illness adalah

penyakit medis yang mengancam jiwa karena adanya percobaan bunuh diri yang

cukup tinggi pada populasi bipolar, yaitu 10-15%. Gangguan bipolar adalah suatu

penyakit jangka panjang dan episodik dengan berbagai macam variasi perjalanan

penyakit. Gangguan bipolar sering tidak diketahui dan salah diagnosa dan bahkan

bila terdiagnosa sering tidak terobati dengan adekuat (Evans 2000; Tohen &

Angst 2002; Toni et al 2000).

Gangguan bipolar pertama kali dideskripsikan oleh Aretaius of

Cappadocia pada tahun 30 (Adams, 2000). Dalam sejarah kontemporer, Falret

pada tahun 1854 mendeskripsikan gangguan ini sebagai gangguan yang terpisah

yang disebut folie circulaire. Kraepelin (1921) juga mendefinisikan konsep yang

terpisah dari dementia praecox atau skizofrenia. Menurut Kraepelin, manic-

depressive illness dikarakteristikkan sebagai perjalanan penyakit dengan

prognosis yang baik dan gejala mood pada fase akut. Bagi Kraepelin, perjalanan

penyakit adalah hal yang paling membedakan dengan skizofrenia. Kraepelin

kemudian membagi manic depresive illness menjadi ringan dan berat, gangguan

afektif episode tunggal dan periodik termasuk juga melankolia involusional.

2.3.2 Etiologi Gangguan Bipolar

Penyebab gangguan bipolar sampai saat ini belum dapat diketahui dengan

pasti. Banyak faktor yang mempengaruhi dalam gangguan bipolar yaitu faktor

genetik, faktor biokimia, faktor neurofisiologi, faktor psikodinamik, dan faktor

lingkungan. Faktor yang mempengaruhi bipolar secara umum dibagi menjadi :

12
a) Faktor biologis

Adanya gangguan disebabkan oleh kelainan zat kimiawi pada sel saraf

otak dan faktor genetik. Individu yang salah satu orang tuanya menderita bipolar

memiliki resiko 15-30% untuk juga menderita gangguan bipolar. Apabila kedua

orang tuanya menderita bipolar maka kemungkinan anaknya 50-75% akan

mengalami gangguan yang sama. Pada kembar indentik resiko 33-90% saudara

kembar kemungkinan mengalami bipolar. Sebanyak 10-15% keluarga dari pasien

yang mengalami gangguan bipolar pernah mengalami satu episode ganagguan

afek / mood. Selain faktor biologis genetic gangguan bipolar juga dipengaruhi

oleh neurokimia yang mengalami gangguan reseptor neurotransmitter. penurunan

sensitivitas terhadap dopamine erat hubungannya dengan depresi,sebaliknya jika

terjadi peningkatan sesitivitas terhadap dopamine maka memungkinkan untuk

meningkatkan rasa bahagia yang berlebihan atau mania. Penurunan serotonin dan

norephineprine bisa menyebabkan depresi.

b) Faktor psikososial

Peristiwa hidup yang penuh stress atau trauma mental yang lain

ditenggarai bisa menyebabkan perubahan biologis pada otak dan signal terhadap

saraf. Informasi yang dialami akan disimpan didalam otak yang akan terpanggil

kembali pada suatu kejadian yang membangkitkan memori. Proses memori juga

bisa terjadi walaupun tidak ada sesuatu rangsangan pemicu dari luar.

13
BAB III

PEMBAHASAN

Kasus

Seorang perempuan berusia 30 tahun dibawa keluarga ke IGD RS dengan

keluhan tidak tidur kurang lebih 1 minggu ini. Menurut keluarga, pasien menjadi

banyak bicara, merasa dirinya paling hebat dan mempunyai banyak harta. Pada

anamnesis diperoleh, pasien pernah mengalami kondisi yang berbeda 1 tuhun lalu.

Saat itu pasien tampak sedih,malas beraktifitas dan riwayat tentament suicidee.

Dari pemeriksaan, dokter mengatakan pasien saat ini mengalami kondisi manik

dan membutuhkan mood stablizer. Keluarga menanyakan kepada dokter apakah

kondisi pasien saat ini merupakan penyakit yang sama dengan dulu dan apakah

penyebab kondisi saat ini.

Terminologi

 Tentament Suicide : Adalah percobaan bunuh diri

 Mood Stabilizer : Adalah obat untuk menstabilkan suasana hati

 Manic : Adalah bagian kelainan bipolar yang ditandai dengan perasaan

senang yang luar biasa.

3.1 Prosedur Anamnesis Pada Kasus

Bagaimana pemeriksaan subjektif dan objektif berdasarkan kasus?

1. Pemeriksaan subjektif

A. Identitaspasien

- Nama : Tari

- Usia : 30 tahun

- Jenis kelamin: perempuan

14
- Alamat :Jalan gajah mada no.46 Padang.

B. Riwayat kesehatan

- Keluhan utama :

Pasien tidak tidur lebih kurang 1 minggu ini.

- Keluhan tambahan :

Pasien menjadi banyak bicara, merasa dirinya paling hebat

dan mempunyai banyak harta.

C. Riwayat penyakit terdahulu

Pasien pernah mengalami kondisi yang berbeda 1 tahun yang

lalu.Saat itu, pasien tampak bersedih, malas beraktivitas, dan riwayat

tentament suicide.

2. Pemeriksaan objektif

Bila dokter menduga adanya gangguan bipolar, maka dokter biasanya

akan mengajukan beberapa pertanyaan dan melakukan pemeriksaan fisik

dan psikologis. Hal tersebut diperlukan untuk menyingkirkan

kemungkinan adanya penyakit lain yang menimbulkan gejala seperti yang

dikeluhkan oleh pasien, menemukan diagnose penyakit dan mendeteksi

adanya komplikasi. Beberapa pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah

(Jiwo dan Tirto, 2012) :

a. Pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan berat badan

tinggi badan, suhu tubuh, tekanan darah dan detak nadi, mendengarkan

jantung dan paru paru serta memeriksa perut.

b. Pemeriksaan laboratorium.

15
Dokter mungkinakan memerintahkan pemeriksaan darah rutin.

c. Pemeriksaan psikologis.

Untuk mengecek ada tidaknya depresi dan mania, dokter atau

tenaga kesehatanakan menanyakan tentang perasaan dan pikiran, dan pola

perilaku pasien. Dokter atau petugas akan mengajukan pertanyaan tentang

gejala, kapan mulainya, apakah pernah mengalami hal yang sama dulu.

Dokter juga akan menanyakan apakah ada pemikiran kearah menganiaya

diri sendiri atau bunuh diri. Pasien mungkin akan diminta untuk mengisi

kuestionnaire (daftar pertanyaan) untuk membantu menentukan ada

tidaknya depresi dan mania.

d. Mood charting.

Untuk mengetahui secara pasti apa yang terjadi, dokter akan

meminta pasien untuk mencatat suasana hati (mood), pola tidur dan hal hal

lain yang akan mendukung diagnose dan pengobatan gangguan bipolar.

3.2 Apa Diagnosis Yang Tepat Pada Kasus?

Menurut kelompok kami diagnosis pada kasus yaitu “GANGGUAN

AFEKTIF BIPOLAR EPISODE MANIK DENGAN GEJALA PSIKOTIK”

Alasan nya karena pada kasus penderita gangguan bipolar pernah mengalami

gejala psikotik minimal satu kali dalam hidupnya.

3.3 Apa Etiologi Pada Kasus?

Penyebab gangguan bipolar sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.

Banyak faktor yang mempengaruhi dalam gangguan bipolar yaitu faktor genetik,

faktor biokimia, faktor neurofisiologi, faktor psikodinamik, dan faktor

lingkungan. Faktor yang mempengaruhi bipolar secara umum dibagi menjadi:

16
a) Faktor biologis

Adanya gangguan disebabkan oleh kelainan zat kimiawi pada sel saraf

otak dan faktor genetik. Individu yang salah satu orang tuanya menderita

bipolar memiliki 15-30% untuk juga menderita gangguan bipolar. Apabila

kedua orang tuanya menderita bipolar maka kemungkinan anaknya 50-75%

akan mengalami gangguan yang sama. Sebanyak 10-15% keluarga dari pasien

yang mengalami gangguan bipolar pernah mengalami satu episode gangguan

afek atau mood. Selain faktor biologis genetik gangguan bipolar juga

dipengaruhi oleh neurokimia yang mengalami gangguan reseptor

neurotransmitter. Penurunan sensitivitas terhadap dopamine erat hubungannya

dengan depresi, sebaliknya jika terjadi peningkatan sensitivitas terhadap

dopamine maka memungkinkan untuk meningkatkan rasa bahagia yang

berlebihan atau maniak. Penurunan serotonin dan norephineprine bisa

menyebabkan depresi (Copel dan Linda, 2007).

b) Faktor psikososial

Peristiwa hidup yang penuh stress atau trauma mental yang lain

ditenggarai bisa menyebabkan perubahan biologis pada otak dan signal

terhadap saraf. Informasi yang dialami akan disimpan didalam otak yang akan

terpanggil kembali pada suatu kejadian yang membangkitkan memori. Proses

memori juga bisa terjadi walaupun tidak ada sesuatu rangsangan pemicu dari

luar (Copel dan Linda, 2007).

3.4 Bagaimana Gejala dan Faktor Resiko Pada Kasus?

a. Gejala

Gejala-gejala dari tahap mania gangguan bipolar adalah sebagai berikut:

17
1. Gembira berlebihan.

2. Mudah tersinggung sehingga mudah marah.

3. Merasa dirinya sangat penting.

4. Merasa kaya atau memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain.

5. Penuh ide dan semangat baru.

6. Cepat berpindah dari satu ide ke ide lainnya.

7. Mendengar suara yang orang lain tak dapat mendengarnya.

8. Nafsu seksual meningkat.

9. Menyusun rencana yang tidak masuk akal.

10. Sangat aktif dan bergerak sangat cepat.

11. Berbicara sangat cepat sehingga sukar dimengerti apa yang

dibicarakan.

12. Menghambur-hamburkan uang.

13. Membuat keputusan aneh dan tiba-tiba, namun cenderung

membahayakan.

14. Merasa sangat mengenal orang lain.

15. Mudah melempar kritik terhadap orang lain.

16. Sukar menahan diri dalam perilaku sehari-hari.

17. Sulit tidur.

18. Merasa sangat bersemangat, seakan-akan satu hari tidak cukup 24 jam.

b. Faktor Predisposisi

1. Genetika

Genetika bawaan adalah faktor umum penyebab gangguan bipolar.

Seseorang yang lahir dari orang tua yang salah satunya merupakan pengidap

18
gangguan bipolar memiliki risiko mengidap penyakit yang sama sebesar 15 %

hingga 30%. Bila kedua orangtuanya mengidap gangguan bipolar, maka

berpeluang mengidap gangguan bipolar sebesar 50% - 75%. Kembar identik dari

seorang pengidap gangguan bipolar memiliki risiko tertinggi kemungkinan

berkembangnya penyakit ini daripada yang bukan kembar identik (Rihmers dan

Kiss, 2002).

2. Fisiologis

a) Sistem neurokimia dan gangguan suasana hati

Salah satu faktor utama penyebab seseorang mengidap gangguan bipolar

adalah terganggunya keseimbangan cairan kimia utama di dalam otak. Sebagai

organ yang berfungsi menghantarkan rangsang, otak membutuhkan

neurotransmitter (saraf pembawa pesan atau isyarat dari otak ke bagian tubuh

lainnya) dalam menjalankan tugasnya. Norepinephrin, dopamin,

dan serotonin adalah beberapa jenis neurotransmitter yang penting dalam

penghantaran impuls saraf. Pada penderita gangguan bipolar, cairan-cairan kimia

tersebut berada dalam keadaan yang tidak seimbang.

Sebagai contoh, ketika seorang pengidap gangguan bipolar dengan kadar

dopamin yang tinggi dalam otaknya akan merasa sangat bersemangat, agresif dan

percaya diri. Keadaan inilah yang disebut fase mania. Sebaliknya dengan fase

depresi yang terjadi ketika kadar cairan kimia utama otak itu menurun di bawah

normal, sehingga penderita merasa tidak bersemangat, pesimis dan bahkan

keinginan untuk bunuh diri yang besar.

19
Seseorang yang menderita gangguan bipolar menandakan adanya

gangguan pada sistem motivasional yang disebut dengan behavioral activation

system (BAS). BAS memfasilitasi kemampuan manusia untuk memperoleh

penghargaan (pencapaian tujuan) dari lingkungannya. Hal ini dikaitkan

dengan positive emotional states, karakteristik kepribadian seperti ekstrovert

(bersifat terbuka), peningkatan energi dan berkurangnya kebutuhan untuk tidur.

Secara biologis, BAS diyakini terkait dengan jalur saraf dalam otak yang

melibatkan dopamin dan perilaku untuk memperoleh penghargaan. Peristiwa

kehidupan yang melibatkan penghargan atau keinginan untuk mencapai tujuan

diprediksi meningkatkan episode mania tetapi tidak ada kaitannya dengan episode

depresi. Sedangkan peristiwa positif lainnya tidak terkait dengan perubahan pada

episode mania (Rihmers dan Kiss, 2002).

b) Sistem neuroendokrin

Area limbik di otak berhubungan dengan emosi dan mempengaruhi

hipotalamus yang berfungsi mengontrol kelenjar endokrin dan

tingkat hormon yang dihasilkan. Hormon yang dihasilkan hipotalamus juga

mempengaruhi kelenjar pituaritas. Kelenjar ini terkait dengan gangguan depresi

seperti gangguan tidur dan rangsangan selera. Berbagai temuan mendukung hal

tersebut, bahwa orang yang depresi memiliki tingkat dari cortisol (hormon

adrenocortical) yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh produksi yang berlebih dari

pelepasan hormon rotropin oleh hipotalamus. Produksi yang berlebih dari cortisol

pada orang yang depresi juga menyebabkan semakin banyaknya kelenjar adrenal

(Rihmers dan Kiss, 2002).

20
Banyaknya cortisol tersebut juga berhubungan dengan kerusakan pada

hipoccampus dan penelitian juga telah membuktikan bahwa pada orang depresi

menunjukkan hipoccampal yang tidak normal. Penelitian mengenai Cushing’s

Syndrome juga dikaitkan dengan tingginya tingkat cortisol pada gangguan

depresi.

3. Lingkungan

Gangguan bipolar tidak memiliki penyebab tunggal. Tampaknya orang-orang

tertentu secara genetis cenderung untuk mengidap gangguan bipolar, namun tidak

semua orang dengan kerentanan mewarisi penyakit berkembang yang

menunjukkan bahwa gen bukanlah satu-satunya penyebab. Faktor eksternal

lingkungan dan psikologis juga diyakini terlibat dalam pengembangan gangguan

bipolar. Faktor-faktor eksternal yang disebut pemicu dapat memulai episode baru

mania atau depresi dan membuat gejala yang ada memburuk, namun banyak

episode gangguan bipolar terjadi tanpa pemicu yang jelas.

Penderita penyakit ini cenderung mengalami faktor pemicu munculnya

penyakit yang melibatkan hubungan antarperseorangan atau peristiwa-peristiwa

pencapaian tujuan (penghargaan) dalam hidup. Contoh dari hubungan

perseorangan antara lain jatuh cinta, putus cinta, dan kematian sahabat. Sedangkan

peristiwa pencapaian tujuan antara lain kegagalan untuk lulus sekolah dan dipecat

dari pekerjaan. Selain itu, seorang penderita gangguan bipolar yang gejalanya

mulai muncul saat masa ramaja kemungkinan besar mempunyai riwayat masa

kecil yang kurang menyenangkan seperti mengalami banyak kegelisahan atau

depresi. Selain penyebab di atas, alkohol, obat-obatan dan penyakit lain yang

21
diderita juga dapat memicu munculnya gangguan bipolar (Rihmers dan Kiss,

2002).

Di sisi lain, keadaan lingkungan di sekitarnya yang baik dapat mendukung

penderita gangguan ini sehingga bisa menjalani kehidupan dengan normal.

Berikut ini adalah faktor lingkungan yang dapat memicu terjadinya gangguan

bipolar:

a. Stres merupakan peristiwa kehidupan yang dapat memicu gangguan

bipolar pada seseorang dengan kerentanan genetik. Peristiwa ini

cenderung melibatkan perubahan drastis atau tiba-tiba-baik atau buruk

seperti akan menikah, akan pergi ke perguruan tinggi, kehilangan orang

yang dicintai, atau dipecat dalam pekerjaan.

b. Penyalahgunaan zat tidak menyebabkan gangguan bipolar, itu dapat

membawa pada sebuah episode dan memperburuk perjalanan penyakit.

Obat-obatan seperti kokain, ekstasi dan amphetamine dapat memicu

mania, sedangkan alkohol dan obat penenang dapat memicu depresi.

c. Obat-obat tertentu, terutama obat-obatan antidepresan, bisa memicu

mania. Obat lain yang dapat menyebabkan mania termasuk obat flu,

penekan nafsu makan, kafeina, kortikosteroid dan obat tiroid.

d. Perubahan musiman merupakan episode mania dan depresi sering

mengikuti pola musiman. Episode mania lebih sering terjadi selama

musim panas, dan episode depresif lebih sering terjadi selama musim

dingin, musim gugur, serta musim semi (untuk negara dengan 4 musim).

e. Kurang tidur atau melewatkan beberapa jam istirahat dapat memicu

episode mania.

22
3.5 Apa Akibat Yang Ditimbulkan Pada Kasus?

Masalah psikososial dan lingkungan penderita afektif bipolar di kelompok

kan bersama sesuai kategori:

1. Masalah dengan primary support group, misalnya: kematian anggota

keluarga; masalah kesehatan dalam keluarga; kekacauan keluarga

disebabkan oleh perpisahan, perceraian, atau kerenggangan; pengusiran dari

rumah; orang tua menikah lagi; kekerasan secara fisik dan seksual; proteksi

yang berlebihan dari orang tua; menyia-nyiakan anak; disiplin yang lemah;

perselisihan dengan saudara kandung; kelahiran saudara kandung.

2. Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial, misalnya: kehilangan atau

kematian teman; dukungan sosial yang lemah; hidup sendiri; kesulitan

dalam akulturasi; diskriminasi; penyesuaian pada transisi siklus kehidupan

(misalnya masa pensiun).

3. Masalah pendidikan, misalnya: buta huruf, masalah akademis,

perselisihan dengan guru atau teman sekelas; lingkungan sekolah yang tidak

memadai.

4. Masalah pekerjaan, misalnya: pengangguran, ancaman kehilangan

pekerjaan, jadwal kerja yang membuat stres, kondisi kerja yang sulit;

ketidakpuasan pada pekerjaan; perubahan pekerjaan; perselisihan dengan

atasan atau rekan sekerja

5. Masalah perumahan, misalnya: tidak memiliki rumah, perumahan yang

tidak layak, hubungan dengan tetangga yang tidak nyaman, perselisihan

dengan tetangga atau pemilik tanah

23
6. Masalah ekonomi, misalnya: kemiskinan yang ekstrem; keuangan yang

tidak memadai; dukungan kesejahteraan yang buruk

7. Masalah akses ke pelayanan kesehatan, misalnya: pelayanan kesehatan

yang tidak memadai; tidak tersedia alat transportasi ke fasilitas pelayanan

kesehatan; asuransi kesehatan yang tidak cukup

8. Masalah berkaitan interaksi dengan hukum/kriminal, misalnya:

penahanan; penuntutan hukum; korban tindakan kriminal

9. Masalah psikososial dan lingkungan lain, misalnya: terkena bencana

alam, perang, kekerasan lain; perselisihan dengan pengasuh yang bukan

anggota keluarga seperti konselor, pekerja sosial atau dokter; tidak tersedia

lembaga pelayanan sosial

3.6 Bagaimana KIE Yang Benar Untuk Keluarga Pasien Pada Kasus?

Semua anggota keluarga yang masih ada (pasangan, orangtua, dan

saudaranya) menyediakan pendidikan fisik tentang gangguan bipolar, serta

pelatihan dalam komunikasi dan kemampuan pemecahan masalah. Keluarga

mempelajari peran pasien di dalam situasi psikologik seluruh anggota keluarga.

Dokter memberi tahu kondisi pasien, memberi tahu diagnosis pasien dan

menganjurkan keluarga memberikan dukungan kepada pasien,memberitahu

tentang pencegahan pimer dan sekunder, memberikan perhatian yang khusus

terhadap pasien dan mengerti apa yang harus dilakukan bila sewaktu waktu

kondisi pasien memburuk, dan memperatikan agar pasien dapat mengikuti anjuran

untuk mengkonsumsi obat sesuai anjuran, diharapkan tetap berkonsultasi dengan

dokter yang merawat (Sylvis dan Gitayanti, 2010).

3.7 Bagaimana Penatalaksanaan Pada Kasus?

24
Pengobatan gangguan bipolar

Biasanya pengobatan gangguan bipolar memerlukan waktu lama.

Penderita gangguan bipolar tetap perlu minum obat meskipun perasaannya sudah

membaik. Pengobatan gangguan bipolar biasanya memerlukan penanganan dokter

spesialis jiwa, dengan melibatkan psikolog maupun perawat jiwa. Penanganan

gangguan bipolar dilakukan dengan pemberian obat-obatan, psikoterapi

(individual atau kelompok, keluarga), penyuluhan kesehatan dan dukungan

kelompok.

Perawatan di rumah sakit. Penderita gangguan bipolar memerlukan

perawatan di rumah sakit bila perilakunya membahayakan diri sendiri atau sekitar,

adanya gejala psikosis (tidak berdasar realita), atau ada upaya bunuh diri.

 Pengobatan awal. Sering penderita bipolar harus minum obat,

kemudian pengobatan jangka panjang disesuaikan dengan

perkembangan penyakitnya.

 Pengobatan lanjutan. Penderita gangguan bipolar biasanya

memerlukan pengobatan jangka panjang. Berhenti minum obat

sering menyebabkan penderita kambuh.

Kelompok kami memberikan obat:

 Lithium untuk menstabilkan mood (Mood stabilizer)

 Symbiax sebagai anti depresi dan Mood Stabilizer

Psikoterapi

Psikoterapi merupakan salah satu komponen penting dari pengobatan

gangguan jiwa bipolar. Psikoterapi untuk gangguan jiwa bipolar meliputi:

25
 Cognitivebehaviortherapy (CBT) (terapi perilaku kognitif). CBT

merupakan salah stau model psikoterapi yang sering diterapkan pada

penderita gangguan jiwa bipolar. Fokus dari CBT adalah

mengidentifikasi semua pola pikir dan perilaku negatif dan menata

ulang dengan pola pikir dan perilaku yang positif (sehat). CBT bisa

mengidentifikasi pemicu gangguan bipolar dan memperkuat

kemampuan dalam mengatasi stress dan hal hal yang tidak

menyenangkan hati.

 Psychoeducation. Penyuluhan tentang gangguan bipolar sehingga si

penderita dan keluarganya bisa memahami gangguan bipolar secara

lebih baik sehingga bisa bekerja sama dalam pemulihan penyakit

dengan lebih baik pula.

 Family therapy (terapi keluarga). Terapi keluarga diberikan kepada

keluarga sebagai keseluruhan utamanya untuk menciptakan suasana

yang tidak menekan (stress). Dalam terapi keluarga diajarkan

bagaimana komunikasi yang baik, menyelesaikan konflik dan

memecahkan masalah.

 Group therapy (terapi kelompok). Terapi dalam kelompok sesama

penderita depresi. Dalam terapi ini sesama penderita bisa saling

belajar.

 Terapi lainnya. Terapi lainnya antara lain terapi untuk mendeteksi

gejala yang memburuk (prodromedetection),

interpersonalandsocialrhythmtherapy, dll.

3.8 Bagaimana Prognosis Pada Kasus?

26
Prognosis gangguan bipolar sangat bervariasi tergantung pada banyak

faktor yang mempengaruhi. Pasien dengan gangguan bipolar I memiliki prognosis

yang kurang baik dibandingkan depresi mayor.Sekitar 40-50% pasien dengan

bipolar 1 memiliki kemungkinan mengalami episode manik kedua dalam 2 tahun

episode pertama.Walaupun dengan penggunaan litium sebagai profilaksis

meningkatkan prognosis bipolar I, kemungninan hanya 50-60% pasien mencapai

control signifikan akan gejala mereka dengan litium.

Ciri psikotik biasanya merupakan tanda prognosis yang buruk bagi

pasien dengan Gangguan bipolar. Durasi pendek dari manik, usia yang tidak

terlalu muda saat onset menghasilkan prognosis yang lebih baik. Sekitar 7%

pasien dengan gangguan bipolar tidak memiliki gejala rekuren ;45% memiliki

lebih dari 1 episode, dan 40% memiliki gangguan kronik. Pasien mungkin

memiliki 2 hingga 30 episode, walaupun angka rata-ratanya adalah 9 episode.

Sekitar 40% dari keseluruhan pasien mengalami lebih dari 10 episode. Pada

follow up jangka panjang 15% dari seluruh pasien dengan bipolar I dapat hidup

dengan baik, 45% hidup dengan baik namun memiliki multi relaps, 30% pasien

dengan remisi parsial, dan 10% pasien dengan sakit kronis.

27
BAB IV

PENUTUP

4. Kesimpulan

Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2010) adalah suatu perubahan pada

fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa yang

menimbulkan penderitaan pada individu dan hambatan dalam melaksanakan peran

sosial. Gangguan bipolar yang dikenal sebagai manic-depresive illness adalah

penyakit medis yang mengancam jiwa karena adanya percobaan bunuh diri yang

cukup tinggi pada populasi bipolar, yaitu 10-15%. Gangguan bipolar adalah suatu

penyakit jangka panjang dan episodik dengan berbagai macam variasi perjalanan

penyakit. Gangguan bipolar sering tidak diketahui dan salah diagnosa dan bahkan

bila terdiagnosa sering tidak terobati dengan adekuat.

Gejala-gejala dari tahap mania gangguan bipolar adalah sebagai berikut:

1. Gembira berlebihan.

2. Mudah tersinggung sehingga mudah marah.

3. Merasa dirinya sangat penting.

4. Merasa kaya atau memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain.

28
5. Penuh ide dan semangat baru.

DAFTAR PUSTAKA

Budiman. (2010). Jumlah Gangguan Jiwa. http://www.suarabandung.com.


diakses pada tanggal 9 Agustus 2016.
Copel, Linda Carman. 2007. Kesehatan Jiwa dan Psikiatri: Pedoman Klinis
Perawat, Ed 2. EGC: Jakarta.

Dalami. (2009). Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta. Ilmu Kedokteran FK-Unika


Atmajaya.

Depkes RI. (2010). Pengertian Gangguan Jiwa. Diakses pada tanggal 29 Juli
2016 dari http://www.depkes.co.id.
Evans D.L., (2000) Bipolar Disorder: Diagnostic Challenges and Treatment
Considerations. J Clin Psychiatry 2000;61(suppl 13);26-31. diunduh dari
http://altcancerweb.com/bipolar/treatmentguidelines/treatmenyguidelines
-bipolar-states-2000.pdf

Fitrhriyah. I & Margono H.M. Gangguan Afektif Bipolar Episode Mank Dengan
Gejala Psikotik. E-Journal Unair.

Jiwo, Tirto. 2012.”Mengenal Gangguan Bipolar”.Online.Tersedia


:http://tirtojiwo.org/wp-content/uploads/2012/06/kuliah-bipolar.pdf. [4
Desember 2018].

29
Rihmers, Kiss. 2002. Bipolar Disorders, American Journal of Psychiatry. Vol. 1
Hal. 21-25.
Stuart, G. W. & Sundeen. (2008). Buku saku keperawatan jiwa (edisi 3), alih
bahasa, Achir Yani, editor Yasmin Asih. Jakarta: EGC.

Sylvis D.E., Gitayanti, H., 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Tohen M dan Angst J, 2002. Epidemiology of Bipolar Disorder. In MT Tsuang &


Tohen M (Eds.), Textbook in Psychiatric Epidemiology second edition
(pp. 427-447). New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

Wahyu, S. (2012). Buku saku keperawatan jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika

Yosep, I. (2009). Keperawatan Jiwa Edisi Refisi. Bandung: PT.Refika Aditama.

30