Anda di halaman 1dari 8

SIMULASI UNJUK KERJA OLSR DAN AODV PADA JARINGAN AD HOC WIMAX

Laode Abdul Haris1, Kemal Rahmat1, Syafruddin Syarief2, Zulfajri Basri Hasanuddin2
1
Mahasiswa dan 2Dosen Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Jalan Perintis Kemerdekaan KM .10 Makassar 90245 Sulawesi Selatan

ABSTRAK

Tugas Akhir ini memberikan simulasi WiMAX pada jaringan ad hoc yang dibangun menggunakan OPNET
modeler 14.0. Pada simulasi ini terdiri dari dua skenario, skenario pertama terdiri dari 12 mobile node dan skenario
kedua terdiri dari 18 mobile node beserta node tambahan: base station, WiMAX configuration, profile definition,
applikation definition, ip backbone dan server.

Untuk mendukung kinerja jaringan Wireless termasuk WiMAX dalam proses pentransmisian data, diperlukan
suatu protokol routing yang akan mengatur pengiriman data tersebut agar data dapat sampai pada alamat yang
semestinya. Dalam hal ini protokol routing yang digunakan pada jaringan ad hoc adalah Optimized Link State
Routing (OLSR) dan Ad hoc On-demand Distance Vector (AODV). Dalam Tugas Akhir ini akan dianalisis kinerja
dari kedua protokol tersebut pada jaringan ad hoc WiMAX yang analisisnya ditinjau dari segi throughput dan delay.

Dari hasil analisis kinerja kedua protokol tersebut diperoleh bahwa, dengan menggunakan protokol OLSR
akan memberikan performansi dari segi throughput yang lebih baik dan lebih stabil dibandingkan dengan protokol
AODV, begitu pula dengan parameter delay pada protokol OLSR akan memeberikan hasil yang lebih baik bila
dibandingkan dengan menggunakan menggunakan protokol AODV.

Kata kunci : WiMAX, routing protocol, OLSR, AODV, throughput, delay dan OPNET Modeler 14.0.

I. PENDAHULUAN Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi


yang terus berkembang, diperlukan suatu jenis atau
1.1 Latar Belakang tipe jaringan khusus yang mampu melibatkan banyak
orang atau peralatan komunikasi tanpa
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia ketergantungan terhadap suatu infrastruktur. Ini yang
akan informasi, maka bidang-bidang yang terhubung dimaksud dengan Mobile Ad hoc Network
dengan penyampaian informasi yaitu telekomunikasi (MANET).
juga mengalami kemajuan pesat. Salah satu bidang
yang mengalami perkembangan cukup revolusioner MANET bisa terbentuk dari sekumpulan node yang
adalah jaringan telekomunikasi wireless seperti menggunakan antarmuka nirkabel (wireless interface)
WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave mereka untuk melakukan komunikasi antara satu
Access). node dengan node yang lainnya. Setiap node bisa
menjadi host ataupun router, sehingga node mampu
WIMAX (World Wide Interperability for Microwave meneruskan paket ke node berikutnya. Selanjutnya,
Access) adalah teknologi tanpa kabel yang agar node bisa berkomunikasi dengan node yang
merupakan standar Broadband Wireless Acces diluar jangkauannya, diperlukan protokol routing
(BWA) yang memiliki kemampuan menyalurkan data yang memiliki kemampuan untuk melewati banyak
kecepatan tinggi, dan memiliki berbagai keunggulan titik / node (multihop), sehingga MANET juga
lebih dibandingkan dengan teknologi wireless diharapkan menjadi pendukung dan memperluas
sebelumnya. WIMAX dapat diterapkan dalam jangkauan dari jaringan infrastruktur yang telah
keadaan non line of sight (NLOS) dan dapat ada.[2]
diaplikasikan pada pengguna yang dalam kondisi
fixed, nomadic, portable maupun mobile.[1] Protokol routing pada jaringan ad hoc menjadi suatu
permasalahan yang menantang untuk diteliti

1
semenjak sebuah node bisa bergerak secara bebas 2.1.1 Sejarah WiMAX
(acak). Protokol routing dalam Tugas Akhir ini WiMAX merupakan teknologi jaringan dari standar
menggunakan protokol OLSR dan AODV. AODV IEEE 802.16a. Pada tahun 1998, IEEE mengeluarkan
(Ad hoc On-demand Distance Vektor) adalah salah draft pertama dari 802.16 namun belum dilakukan
satu routing protocol pada jaringan ad hoc yang pengembangan lebih lanjut mengingat masih perlu
bersifat reaktif. Sedangkan OLSR (Optimized Link adanya perbaikan pada standar lain yang sedang
State Routing) adalah routing protocol yang bersifat berkembang yaitu 802.11. Tiga tahun setelahnya,
proaktif. Protokol AODV dan protokol OLSR IEEE kemudian mengeluarkan standar baru 802.16a
digunakan karena memiliki mekanisme yang berbeda yang sekarang lebih dikenal dengan nama WiMAX.
dalam menjaga informasi routing, tabel routing satu Teknologi ini diharapkan dapat memperbaiki
entry untuk semua tujuan. keunggulan dan menambah layanan dari teknologi
sebelumnya yaitu WiFi (Wireless Fidelity). Saat ini
1.2 Batasan Masalah standar WiMAX yang sering digunakan antara lain
802.16, 802.16.2004 dan 802.16e.
Untuk kemudahan dan lebih terperincinya
pembahasan penulisan, permasalahan yang dibahas 2.1.2 Keuntungan WiMAX
dalam Tugas Akhir ini dibatasi pada : Banyak keuntungan yang didapatkan dari terciptanya
1. Pembahasan mengenai routing protocol ad standarisasi dari industri WiMAX. Keuntungan tidak
hoc network, dalam hal ini protokol yang hanya dirasakan para pembuat perangkat, tetapi para
dibahas adalah protokol OLSR dan AODV. produsen mikroelektronik, para operator
2. Simulasi menggunakan Software OPNET telekomunikasi, dan sampai ke pengguna pun akan
modeler 14.0. merasakannya. Beberapa keuntungan yang dapat
3. Parameter yang akan dianalisa adalah diperoleh dengan menggunakan WiMAX
throughput dan delay. dibandingkan dengan teknologi lainnya adalah
sebagai berikut: [5] Arsitektur yang fleksibel, tingkat
1.3 Tujuan Penelitian keamanan yang tinggi, Quality of Service (QoS),
Tujuan penelitian Tugas Akhir ini adalah : Interoperability, Mobilitas, menjangkau daerah
1. Membuat program simulasi unjuk kerja hingga 50 km dari BTS (Base Transceiver Station)
OLSR dan AODV dengan menggunakan sehingga dapat digunakan sebagai MAN
OPNET modeler 14.0 sebagai software (Metropolitan Area Network), kemudahan instalasi,
simulasinya. dapat menjangkau tempat yang sulit dijangkau oleh
2. Membandingkan kinerja protokol routing, wired network dan bahkan untuk menjangkau tempat
Optimized Link State Routing (OLSR) dengan range yang jauh (dibandingkan dengan Wi-
dengan Ad hoc On-Demand Distance Vector Fi), tidak diperlukannya line of sight dari BTS ke
(AODV) berdasarkan throughput dan delay. pelanggan.

II. LANDASAN TEORI


2.2 Routing Protokol pada Teknologi WiMAX
2.1 WiMAX (Wordwide Interoperability of Jaringan wireless terdiri dari mobile node, dimana
Microwave Access) didalamnya tidak ada fixed infrastuktur, tetapi akan
WiMAX (Worldwide Interoperability of Microwave digantikan oleh Mobile Ad Hoc Network (MANET).
Access) merupakan evolusi dari teknologi Broadband MANET digolongkan sebagai topologi dinamis.
Wireless Acces (BWA) sebelumnya. Bila teknologi Node-node dapat bergerak dan bertindak sebagai
BWA sebelumnya masih proprietary atau suatu independent router. Dalam MANET terdapat
berdasarkan hak cipta, maka teknologi WiMAX keterbatasan range transmitter, keterbatasan
bersifar standar terbuka. Dalam arti komunikasi bandwidth, keterbatasan energi, keterbatasan
perangkat WiMAX diantara beberapa vendor yang keamanan fisik serta dalam routing protokolnya akan
berbeda tetap dapat dilakukan. WiMAX dibuat untuk ada overhead yang besar. [9]
dapat mendukung para operator dalam berbisnis serta
user pada suatu lingkungan yang cenderung berubah MANET menggunakan routing protokol untuk
baik itu pada jangka waktu pendek maupun jangka mendukung performansinya. Adapun klasifikasi
waktu panjang. WiMAX adalah teknologi wireless routing protokol pada MANET dapat dilihat pada
yang menyediakan koneksi dengan throughput yang tabel di bawah ini :
tinggi meskipun pada jarak yang cukup jauh. [8]

2
konsep multipoint relays (MPR). Pertama dengan
Tabel 2.1 Klasifikasi routing protocol ad hoc [10] menggunakan multipoint relay dapat mengurangi
ukuran dari control message. Daripada menyatakan
No. Proaktif Reaktif semua link, node menyatakan hanya sekumpulan link
dengan node tetangganya sebagai “multipoint relay”.
1 Destination Signal Stability Routing Penggunaan MPR juga meminimalisasi flooding dari
Sequenced (SSR) control traffic. Teknik ini secara signifikan
Distance mengurangi jumlah re-transmisi dari broadcast
Vector (DSDV) control message. [12]
2 Wireless Dynamic Source Routing Sistem link state mempunyai cara yang lebih efisien
Routing (DSR) dibanding dengan system distance vector. Router
Protocol dengan tipe ini akan mengirimkan table routing
(WRP) melalui multicast (tidak melalui paket broadcast).
3 Cluster Switch Temporary Order Routing Jika ada proses update, maka hanya update itu yang
Gateway Algorithm (TORA) akan dikirimkan. Koleksi jalur terbaik kemudian akan
Routing membentuk tabel routing node. OLSR menyediakan
(CSGR) dua fungsi utama yaitu neighbor discovery dan
4 Source Tree Ad hoc on Demand Distance topology dissemination. [12]
Adaptive Vector Routing (AODV) Secara umum, konsep OLSR terbagi menjadi tiga
Routing modul, yaitu : [11]
(STAR) o Pencarian link ke tetangga (neighbors/link
5 Optimized Link Relative Distance sensing)
State Routing Microdiversity Routing o Penggunaan Multipoint Relay (MPR)
(OLSR) (RDMAR
o Link-state messaging
6 Zone Routing Protocol (ZRP) campuran antara
model proaktif dan reaktif Karena OLSR tergolong protokol yang proaktif, route
Perbedaan kedua jenis protokol ini dapat dilihat pada ke seluruh tujuan di dalam jaringan telah diketahui
tabel berikut : dan di-maintain sebelum protokol tersebut
digunakan. Memiliki route yang selalu tersedia dalam
Tabel 2.2 Perbedaan protokol proactive dan standard routing table dapat sangat berguna untuk
protokol reactive [9] beberapa sistem dan aplikasi jaringan yang pada
umumnya tidak memiliki route discovey delay yang
No Proactive Protocols Reactive Protocols
tergabung dalam proses pencarian route baru. [11]
1 Table driven On Demand
(berdasarkan 2.2.2 Routing Protokol AODV
permintaan)
2 Secara terus-menerus Penemuan route oleh AODV merupakan protokol On-demand yang
mengevaluasi beberapa pencarian menggunakan sequence numbers untuk membangun
route global route loop free dimana pada protokol AODV source
route tidak dibutuhkan. [4]
3 Tidak ada hambatan Kejadian Bottleneck
dalam proses menghambat
AODV memungkinkan pengelolaan dan konfigurasi
menemukan route penemuan rute
mandiri. Tiap paket header berisi suatu route yang
4 Banyak informasi Tidak cocok untuk dipresentasikan sebagai urutan lengkap dari node
routing yang tidak komunikasi real-time antara pasangan sumber dan tujuan. Protokol ini
pernah digunakan terdiri dari dua mekanisme utama yaitu Route
Discovery dan Route Maintenance yang bekerja
bersama untuk memungkinkan node-node
2.2.1 Routing Protokol OLSR menemukan dan mengelola informasi routing ke
tujuan yang berubah-ubah pada ad hoc network.
OLSR adalah suatu proactive routing protokol, yang
Route discovery terdiri dari Reverse Path Set Up dan
dapat dengan segera menyediakan routing ke semua
Forward path set up, setiap node mengelola sebuah
network tujuan yang ada. Ini adalah optimalisasi dari
sequence number, destination number, source
topologi control link state klasik untuk menemukan
number dan broadcast id, dan tiap node memiliki
dan menyebarkan informasi link state seluruh
route cache dan pada protokol ini tidak ada paket
jaringan MANET. Optimalisasi ini berdasarkan pada
yang ter-update secara periodik.

3
Route maintenance untuk AODV terdiri dari Route tersebut akan diasumsikan putus dan RERR akan
table Management, path maintenance dan local disebarkan ke node tetangganya. Dengan demikian
connectivity management. Route table management sebuah node bisa menghentikan pengiriman data
bekerja dimana route meminta expiration timer untuk melalui rute ini atau meminta rute baru dengan
menghapus reverse path yang nanti disalah artikan menyebarkan RREQ kembali.
sebagai aktif route, kemudian route cache timer akan
menghapus inactive routes dan route-route baru lebih Berikut adalah contoh operasional protokol
dipilih bila sequence number tertinggi dan metric AODV :
lebih rendah. Kemudian path Maintenance bertugas
untuk mengelola jalur bila terjadi kerusakan jaringan
atau topologi jaringan yang berubah. Setelah node
mengirim satu paket, maka dibutuhkan konfirmasi
penerimaan dari node-node berikutnya berupa
passive acknowledgement (mendengarkan semua saat
next-hop node mengirimkan packet ke next-hop
selanjutnya). Jika konfirmasi penerimaan tidak
diterima oleh suatu node setelah mentransmisikan
dalam jumlah waktu maksimum, maka link dianggap
error. Node kemudian membangkitkan suatu route
error (RRER). [4]
Gambar 2.3 Operational Protokol AODV [14]
AODV memerlukan setiap node untuk menjaga tabel
routing, berisi field: [13] III. PERANCANGAN DAN PARAMETER-
a. Destination IP Address: berisi alamat IP dari PARAMETER SIMULASI
node tujuan yang digunakan untuk
menentukan rute. Dalam perancangan dan parameter-parameter simulai
b. Destination Sequence Number : destination ini menjelaskan tentang langkah-langkah yang akan
sequence number bekerjasama untuk ditempuh pada penelitian ini. Langkah-langkah
menentukan rute tersebut ditunjukkan dalam flowchart berikut:
c. Next Hop: „Loncatan‟ (hop) berikutnya, bisa
berupa tujuan atau node tengah, field ini
dirancang untuk meneruskan paket ke node
tujuan.
d. Hop Count: Jumlah hop dari alamat IP
sumber sampai ke alamat IP tujuan.
e. Lifetime: Waktu yang digunakan untuk node
menerima RREP.
f. Routing Flags: Status sebuah rute; up
(valid), down (tidak valid) atau sedang
diperbaiki.
Penemuan jalur (Path discovery) atau Route
discovery di-inisiasi dengan menyebarkan RREP.
Ketika RREP menjelajahi node, ia akan secara
otomatis men-setup path. Jika sebuah node menerima
RREP, maka node tersebut akan mengirimkan RREP
lagi ke node atau destination sequence number. Pada
proses ini, node pertama kali akan mengecek
destination sequence number pada tabel routing, jika
benar, maka node akan mengirim RREP. Ketika
RREP berjalan kembali ke source melalui path yang
telah di-setup, ia akan men-setup jalur ke depan dan
meng-update timeout. [13]

ika sebuah link ke hop berikutnya tidak dapat


dideteksi dengan metode penemuan rute, maka link Gambar 3.1 Flowchart Simulasi

4
3.1 Perancangan Jaringan Simulasi
Tinggi BTS (hB) m 30
Untuk lebih memperkuat perencanaan dan analisis
dalam tugas akhir ini maka digunakan suatu program Tinggi MS (hR) m 2
simulasi komputer dengan menggunakan OPNET
modeler 14.0. Perangkat lunak ini memberikan Jumlah BTS 1
kemudahan dalam membangun jaringan WiMAX
baik dalam bentuk gambar, data, grafik dan animasi. Jumlah MS 12-18
Simulasi dilakukan untuk menganalisis unjuk kerja
dari protokol routing ad hoc, yaitu Optimized Link Radius Sel Km 5
State Routing (OLSR) dan Adhoc On-demand
Distance Vector (AODV).

3.2 Parameter Simulasi

Guna menganalisis karakteristik dari perancangan


simulasi, maka ada beberapa parameter yang dapat
diatur yaitu :
1. Protokol routing yang digunakan yaitu
protokol OLSR dan protokol AODV.
2. Project atu area kerja yang akan dikunakan
adalah campus dengan radius sel sekitar 5
km.
3. Aplikasi yang digunakan pada simulasi ini
adalah video conferencing, voice, dan web
browsing (http) Gambar 3.2 konfigurasi Jaringan pada saat Simulasi
4. Waktu simulasi yang digunakan adalah 600
detik. Waktu ini telah cukup untuk running IV. HASIL DAN ANALISIS SIMULASI
simulasi yang dibangun. Pada bab ini akan dilakukan analisis dan pembahasan
5. Parameter Perancangan WiMAX. Adapun mengenai hasil simulasi yang diperoleh. Topologi
parameter yang akan di gunakan seperti yang dipakai terlihat pada gambar 3.2
terdapat pada tabel di bawah ini.
4.1 Tahapan Simulasi
Tabel 3.1. Parameter Perancangan a. Simulasi ini menggunakan beberapa aplikasi dan
WiMAX skenario pada masing-masing routing protocol
diantaranya yaitu: Routing protocol OLSR
menggunakan aplikasi video conferencing, voice,
dan web browsing (http) yang terdiri atas dua
Parameter Satuan Nilai
skenario : skenario I yang terdiri atas 12 mobile
node dan skenario II yang terdiri atas 18 mobile
Frekuensi (f) GHz 2,3 node.
b. Routing protocol AODV menggunakan aplikasi
Bandwidth (BW) MHz 10 video conferencing, voice, dan web browsing
(http) yang terdiri atas dua skenario : skenario I
Metode Dupleks TDD yang terdiri atas 12 mobile node dan skenario II
yang terdiri atas 18 mobile node.
Daya Pancar BTS (PT) Watt 2

Daya Pancar MS (PR) Watt 0,5 4.2 Hasil dan Analisis Throughput

Gain BS (GT) dBi 15 Throughput dapat didefinisikan sebagai banyaknya


bit yang berhasil dikirimkan sampai ke tujuan dalam
Gain MS (GR) dBi 3,5 satu selang waktu pengamatan. Pada bagian ini
ditunjukkan perbedaan throughput dari masing-
masing routing protocol.

5
Analisis Throughput pada Protokol OLSR 4.3 Hasil dan Analisis Delay

Delay yang diukur pada pengujian ini adalah waktu


interval antara ketika paket mulai dikirimkan dari
source hingga diterima oleh destination.

Analisis Delay pada Protokol OLSR

Gambar 4.1 Grafik throughput skenario I dan II


protokol OLSR

Analisis Throughput pada Protokol AODV

Gambar 4.3 Grafik delay skenario I dan II protokol


OLSR

Analisis Delay pada Protokol AODV

Gambar 4.2 Grafik throughput skenario I dan II


protokol AODV

Nilai rata-rata throughput dari grafik skenario I dan II


dapat dilihat pada tebel 4.1

Protocol Skenario Throughput


(bit/sec) Gambar 4.4 Grafik delay skenario I dan II protokol
I 1.814.311,998 AODV
OLSR II 1.843.073.227
Nilai rata-rata delay dari grafik skenario I dan II
I 1.695.820,713 dapat dilihat pada tebel 4.2
AODV II 1.699.255,381 Tabel 4.2 Perbandingan Nilai Delay Rata-rata
Dari tabel 4.1 di atas terlihat bahwa terjadi Protocol Skenario Delay Rata-rata
peningkatan nilai throughput dari skenario I sampai (sec)
skenario II, baik itu untuk protokol OLSR maupun I 1.073347
protokol AODV. Hal ini terjadi karena setiap OLSR II 1.099301
skenario mengalami penambahan jumlah mobile
I 2.870341
node. Akibatnya setiap penambahan mobile node,
AODV II 4.200805
maka akan diikuti dengan penambahan nilai
throughput. Throughput merupakan keberhasilan
pengiriman banyaknya bit per detik ke penerima. Hasil yang diperoleh dari tabel 4.2 menunjukkan
Dari tabel 4.1 menunjukan nilai throughput OLSR OLSR memiliki delay lebih rendah daripada AODV
lebih besar dibandingkan pengiriman paket AODV dan setiap penambahan mobile node maka akan
dari skenario I sampai sampai skenario II. Hal ini terjadi perubahan nilai delay. Selain itu protokol
terjadi karena OLSR menggunakan pesan hello dan AODV bekerja secara on demand, pencarian rute
pesan topology control (TC) dalam penyebaran sesuai permintaan pengirim dan secara hop by hop
paket, sedangkan AODV hanya menggunakan pesan sehingga lebih membutuhkan waktu ekstra untuk
hello. mencapai tujuan. Berbeda dengan OLSR yang
bekerja secara link state, rute telah tersedia sehingga

6
tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk mencapai sesuai dengan spesifikasi jaringan WiMAX yang
tujuan. akan diimplementasikan, sehingga diperoleh
performansi jaringan network yang optimal.
V. PENUTUP 2. Perlu adanya pengkajian lebih, bagaimana jika
Sebagai hasil dari keseluruhan Tugas Akhir ini, maka jaringa WiMAX ini dikombinasikan dengan
dapat ditarik kesimpulan dan beberapa saran dalam WLAN (WLAN-WiMAX).
usaha pengembangan dan penyempurnaan Tugas 3. Diharapkan kedepannya untuk dicoba dengan
Akhir ini. protokol routing yang lain.
4. Agar dapat berjalan dengan baik dan agar waktu
5.1 Kesimpulan running simulasi tidak terlalu lama, sebaiknya
menggunakan PC dengan processor yang tinggi
Dari hasil simulasi dan analisis data secara (>2.1GHz) atau laptop dengan spesifikasi yang
keseluruhan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut tinggi.
:
DAFTAR PUSTAKA
1. Berdasarkan hasil simulasi skenario I, AODV [1] Isnen Kurnia Hariman, “Performansi Sistem
memiliki throughput sebesar 1.695.820,713 Mobile WiMAX Berbasis Low Density
bit/sec dan OLSR sebesar 1.814.311,998 bit/sec. Parity Check Code”, Jakarta : Universitas
Pada simulasi skenario II, AODV memiliki Indonesia, 2007.
throughput sebesar 1.699.255,381 bit/sec dan [2] Abdusy Syarif, “ Analisis Kinerja Protokol
OLSR sebesar 1.843.073.227 bit/sec, sehingga Routing Ad hoc On-demand Distance Vektor
keberhasilan pengiriman paket lebih besar (AODV) pada Jaringan Ad hoc Hybrid ”,
OLSR. Jakarta : Universitas Indonesia, 2008.
2. Dari simulasi yang telah dilakukan, terlihat [3] Anonim. Teknologi WiMAX. From
bahwa protokol OLSR memiliki performansi http://jadhie.wordpress.com/2011/03/05/
yang lebih baik daripada protokol AODV dalam teknologi wimax.
hal throughput. Hal ini disebabkan karena [4] Ardhani, Achdan dan Primasari, Dian. 2007.
informasi topologi OLSR selalu diperbarui jika Simulasi Kinerja Protocol AODV dan DSDV
ada perubahan terutama saat ada penambahan Pada Mobile IP, Universitas Hasanuddin.
node bermobilitas. Setiap node dalam OLSR Makassar.
dapat menerima informasi topologi lebih dari
sekali, sehingga menimbulkan pengulangan
[5] Hamka, Fadly. 2006. Analisis Throughput
pesan (overhead), sehingga lebih banyak
WiMAX. Bandung : Institut Teknologi
throughput yang berhasil sampai ke tujuan. Bandung.
3. Berdasarkan hasil simulasi skenario I, AODV
memiliki delay sebesar 2.870341 detik dan
[6] Anonim. Arsitektur TCP/IP. From
OLSR sebesar 1.073347 detik. Pada simulasi
http://teetoktro.wordpress.com/2008/05/arsit
skenario II, AODV menghasilkan delay sebesar
ektur-tcp-ip.
4.200805 detik dan OLSR sebesar 1.099301
detik, sehingga OLSR lebih cepat dalam mencari
[7] Louazel, Benoit. 2004. Implementation of
rute.
IEEE 802.16a in GloMoSim/QualNet.
4. Dalam hal delay, terlihat bahwa protokol OLSR
Dublin City University School of Electronic
memiliki performansi yang lebih baik daripada
Engineering.
protokol AODV. Hal ini disebabkan karena
OLSR menggunakan jarak terpendek berdasar
[8] Saiful Rijal, “Analisis Sistem Keamanan
informasi tabel routing, sedangkan AODV
menambahkan jarak (hop) dari 1 node ke node Mobile WiMAX”, Jakarta : Universitas
lain, sehingga OLSR lebih cepat dalam mencari Indonesia, Fakultas Teknik, 2008
[9] Erwin Rezki Paduai, Shirley Henitha D,
rute.
“Simulasi Layanan Best Effort pada Quality
5.2 Saran
of Service WiMAX dengan Routing Protocol
Beberapa saran yang bisa diberikan untuk
Ad hoc Ondemand Distance Vektor dan
pengembangan lebih lanjut adalah:
Destination Sequence Distance Vector”,
1. Untuk pengembangan selanjutnya, ada baiknya Makassar: Universitas Hasanuddin, Jurusan
software yang digunakan (OPNET) dapat Elektro, 2009.
mengatur parameter-parameter yang digunakan

7
[10] Abdul Kadir, “Protokol Routing Wireless”, [13] Sari, Riri dan Budiarjo, Bagio. 2007.
Surabaya: ITS, 2012. Analisis Kinerja Protocol Routing AODV
pada Jaringan Adhoc Hybrid. Universitas
[11] Sony Candra Dirganto, Muchammad Husni, Indonesia. Depok.
“Analisis Kinerja Protokol Routing AODV
dan OLSR pada Jaringan Mobile Ad hoc”, [14] Wahyu Edy Seputra, “Perbandingan
Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh Kinerja Protokol AODV dengan OLSR pada
Nopember. MANET”, Semarang : Universitas
[12] Valentino Lord Sing, “Evaluasi Performansi Diponegoro.
OLSR (Optimized Link State Routing) pada
Mobile Ad hoc Network”, Bandung : [15] Uke Kurniawan Usman, “Teknologi
Politeknik Telkom Bandung, 2010. Broadband Wireless Access”.