Anda di halaman 1dari 8

FALSAFAH PENGENDALIAN MUTU

Maria Anzelina Situmorang


Jurusan Teknik industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
angelina.maria@ymail.com

Abstrak
Di era globalisasi, kunci untuk meningkatkan daya saing perusahaan adalah kualitas.
Perusahaan yang mampu menghasilkan produk (barang dan jasa) berkualitas yang dapat
memenangkan persaingan global.Bagi setiap perusahaan, mutu adalah agenda yang
utama dan meningkatkan mutu merupakan tugas yang paling penting. Walaupun demikian,
ada sebagian orang yang menganggap mutu sebagai sebuah konsep yang penuh dengan
teka teki. Mutu dianggap sebagai suatu hal yang membingungkan dan sulit untuk diukur.

Kata Kunci : Mutu ; Perkembangan Mutu ; Sejarah Mutu

I. PENDAHULUAN
Perusahaan pada hakekatanya terdiri dari kumpulan orang-orang dan peralatan
operasionalnya. Sehingga upaya pencapaian tujuan dalam memaksimalkan keuntungan dan
berhasil atau tidaknya suatu misi perusahaan untuk mencapai tujuan atau Pengendalian mutu
oleh individu-individu yang menjalankan manajemen yang dilaksanakan perusahaan.
Masalah Manajemen itu akan selalu ada bila perusahaan masih menjalankan
manajemen pengendalian mutu yang baik. Jadi manajemen pengendalian mutu sangat penting
bagi seorang manajer dalam menentukan otoritas tertinggi untuk menggerakkan karyawan.
Agar dapat melakukan aktivitas atau bekerja secara efektif bagi perusahaan demi tercapainya
tujuan yang telah ditentukan. Seorang manajer dalam menggerakkan orang-orang untuk
mendapatkan sesuatu haruslah mempunyai ilmu pengetahuan dan seni, agar orang mau
melakukannya. Untuk itulah diperlukan suatu wadah yang dapat menghimpun setiap orang,
wadah itulah yang disebut dengan organisasi.
Perusahaan yang mempunyai pengendalian mutu yang baik dan teratur kemungkinan
besar tidak akan mengalami hambatan-hambatan dalam mengerjakan tugasnya dengan efektif.
Dan begitu pula sebaliknya bila perusahaan tidak mempunyai organisasi yang baik dan teratur.
Sehingga dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang diberikan oleh pimpinan kepada
bawahan akan mengalami hambatan. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya rasa tanggung jawab
dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh pimpinan kepada bawahan.

II. LANDASAN TEORI


A. Pengertian Mutu
Mutu adalah ukuran relatif dari kebendaan. Mendefinisikan mutu dalam rangka
kebendaan sangat umum sehingga tidak menawarkan makna oprasional. Secara
operasional mutu produk atau jasa adalah sesuatu yang memenuhi atau melebihi
ekspektasi pelanggan. Sebenarnya mutu adalah kepuasan pelanggan. Ekspektasi
pelanggan bisa dijelaskan melalui atribut-atribut mutu atau hal-hal yang sering disebut
sebagai dimensi mutu. Oleh karena itu, mutu produk atau jasa adalah sesuatu yang
memenuhi atau melebihi ekspektasi pelanggan dalam delapan dimensi mutu. Empat
dimensi pertama menggambarkan atributatribut mutu penting, tetapi sulit
mengukurnya. Delapan dimensi mutu adalah (Hansen dan Mowen, 1994: 433-434):
1. Kinerja (Performance), merupakan tingkat konsistensi dan kebaikan fungsi
fungsi produk
2. Estetika (Aesthetic), berhubungan dengan penampilan wujud produk
3. Kemudahan perawatan dan perbaikan (service ability), berhubungan dengan
tingkat kemudahan merawat dan memperbaiki produk
4. Keunikan (features), menunjukan karakteristik produk yang berbeda secara
fungsional dari produk sejenis.
5. Reliabilitas (Reliability), berhubungan dengan probabilitas produk dan jasa
menjalankan fungsi dimaksud dalam jangka waktu tertentu.
6. Durabilitas (Durability), menunjukan umur manfaat dari fungsi produk.
7. Tingkat kesesuaian (Quality of conformance), menunjukan ukuran mengenai
apakah sebuah produk atau jasa telah memenuhi spesifikasinya.
8. Pemanfaatan (fitness of use), menunjukan kecocokan dari sebuah produk
menjalankan fungsi-fungsi sebagaimana yang diiklankan.
Definisi lain yang diungkapkan oleh Juran dan Gryna adalah fitness for use
(kepuasan guna). Bagi konsumen mutu berarti kemudahan dalam memperoleh barang
keamanan dan kenyamanan dalam mempergunakan serta dapat memenuhi selera
(Juran and Gyrna, 1980: 1-2).
Definisi yang hampir serupa diungkapkan oleh Arrmand V. Feigenbaum serta
Supriono. Menurut Armand V. Feigenbaum (1989: 7) mutu adalah keseluruhan
gabungan karakteristik produk dan jasa dari pemasaran rekayasa, pembikinan dan
pemeliharaan yang membuat produk dan jasa yang digunakan untuk memenuhi
harapan-harapan pelanggan. Sedangkan menurut Supriono (2002: 377), mutu adalah
tingkat baik buruknya sesuatu. Mutu dapat didefinisikan sebagai tingkat keunggulan.
Jadi mutu adalah ukuran relatif kebaikan. Secara operasional, produk bermutu adalah
produk-produk yang memenuhi harapan pelanggan.
Tidak ada definisi mutu yang dibuat secara universal namun dari definisi-definisi
yang diungkapkan para pakar mutu terdapat kesamaaan. Mutu adalah ukuran yang
dibuat oleh konsumen atas produk dilihat dari segala dimensi, untuk memenuhi
tuntutan kebutuhan, keamanan, kenyamanan serta kemudahan konsumen.

B. Sejarah Mutu
Manajemen mutu (management of quality), dapat disebut sebagai istilah baru
meski mungkin pada tataran impelementasi telah dilakukan banyak pihak dalam waktu
yang cukup lama. Dalam tulisan Armand V. Feigenbaum, secara historis sejak awal
abad kedua puluh, upaya melakukan kontrol terhadap kualitas suatu produk telah
dilakukan para industriawan dengan harapan setiap pelanggan memiliki
ketergantungan dengan produk yang dihasilkan. Hanya saja, sifatnya masih sangat
sederhana dan terus bergerak. Manajemen mutu bergerak setahap demi setahap mulai
dari prinsip operator (1900 M); foreman (1918 M); inspection (1937 M); statistical
(1960 M); dan total quality control (1980 M).

Istilah total quality control secara akademik telah diperkenalkan sejak tahun 1980
Masehi. Rumusan ini muncul untuk mengantisipasi menguatnya peran birokrasi dalam
berbagai leading sektor kehidupan masyarakat termasuk melakukan infiltrasi terhadap
produk industri. Birokrasi telah berada sebagai mainstrem tunggal sehingga seolah-
seolah dapat menjadi penentu segala arah. Padahal di sisi lain, lembaga-lembaga
perusahaan dituntut memperkuat basis perusahaan dimaksud ketika berhadapan
dengan perusahaan lain yang semakin hari semakin kompetetif.

C. Perkembangan Mutu
Ada 5 tahap perkembangan konsep mutu yaitu sebagai berikut:
1. Tahap pertama dikenal sebagai era tanpa mutu. Masa ini dimulai sebelum abad
ke-18 dimana produk yang dibuat tidak diperhatikan mutunya. Hal seperti ini
mungkin terjadi karena pada saat itu belum ada persaingan (monopoli). Dalam era
modern saat ini, praktik seperti ini masih bisa dijumpai. Pengadaan listrik
misalnya, hingga saat ini masih dikuasai oleh PLN sehingga masyarakat tidak bisa
pindah meskipun pelayanan listriknya sering mati. Dahulu Telkom menjadi satu-
satunya operator telepon sehingga masyarakat tidak bisa berpaling meskipun
harganya mahal dan sulit untuk mendapatkan sambungan telepon ke rumah.
2. Tahap kedua, era Inspeksi. Era ini mulai berlangsung sekitar tahun 1800-an,
dimana pemilahan produk akhir dilakukan dengan cara melakukan inspeksi
sebelum dilepas ke konsumen. Tanggungjawab mutu produk diserahkan
sepenuhnya ke departemen inspeksi (QC). Departemen QC akhirnya selalu jadi
sasaran bila ada produk cacat yang lolos ke konsumen. Di sisi lain, biaya mutu
menjadi membengkak karena produk seharusnya sudah bisa dicegah masuk ke
proses berikutnya pada saat departemen terkait menemukan adanya cacat di
bagiannya masing-masing sebelum diperiksa oleh petugas inspeksi.
3. Tahap ketiga, dikenal sebagai Statistical Quality Control Era (Pengendalian Mutu
secara Statistik). Era ini dimulai tahun 1930 oleh Walter Shewart dari Bell
Telephone Laboratories. Departemen Inspeksi dilengkapi dengan alat dan metode
statistik untuk mendeteksi penyimpangan yang terjadi pada produk yang
dihasilkan departemen produksi. Departemen Produksi menggunakan data
tersebut untuk melakukan perbaikan terhadap sistem dan proses.
4. Tahap keempat, Quality Assurance Era. Era ini mulai berkembang tahun 1950-an.
Konsep mutu meluas dari sebatas tahap produksi (hilir) ke tahap desain (hulu) dan
berkoordinasi dengan departemen jasa (Maintenance,PPIC,Gudang,dll).
Manajemen mulai terlibat dalam penentuan pemasok (supplier). Konsep biaya
mutu mulai dikenal, bahwa aktivitas pencegahan akan mengurangi pengeluaran
daripada upaya perbaikan cacat yang sudah terjadi. Desain yang salah misalnya
akan mengakibatkan kesalahan produksi atau instalasi. Oleh sebab itu sangat
ketelitian desain untuk mengurangi biaya. Contoh dari era ini adalah penggunaan
ISO 9000 versi 1994.
5. Tahap kelima, dikenal sebagai Strategic Quality Management /Total Quality
Management. Dalam era ini keterlibatan manajemen puncak sangat besar dalam
menjadikan kualitas sebagai modal untuk menempatkan perusahaan siap bersaing
dengan kompetitor. Sistem ini didefenisikan sebagai sistem manajemen strategis
dan integratif yang melibatkan semua manajer dan karyawan serta menggunakan
metode-metode kualitatif dan kuantitatif untuk memperbaiki proses-proses
organisasi secara berkesinambungan agar dapat memenuhi dan melampaui
harapan pelanggan. Contoh era ini adalah penggunaan Sistem manajemen Mutu
ISO 9000 versi 2000 dan 2008.

D. Tokoh-Tokoh Pengendalian Dan Penjamin Mutu


a) F.W. Taylor (1856-1915)
Seorang insiyur mengembangkan satu seri konsep yang merupakan dasar dari
pembagian kerja (devision of work). Analisis dengan pendekatan gerak dan
waktu (time and motion study) untuk pekerjaan manual, memperoleh gelar
“Bapak Manajemen Ilmiah” (The Farther of Scientific Management). Dalam
bukunya tersebut Taylor menjelaskan beberapa elemen tentang teori
manajemen, yaitu :
 Setiap orang harus mempunyai tugas yang jelas dan harus diselesaikan
dalam satu hari.
 Pekerjaan harus memiliki peralatan yang standar untuk menyelesaikan
tugas yang menjadi bagiannya.
 Bonus dan intensif wajar diberikan kepada yang berprestasi maksimal.
 Penalti yang merupakan kerugian bagi pekerjaan yang tidak mencapai
sasaran yang telah ditentukan (personal loss).
Taylor memisahkan perencanaan dari perbaikan kerja dan dengan demikian
memisahkan pekerjaan dari tanggung jawab untuk memperbaiki kerja.
b) Shewhart (1891-1967)
Adalah seorang ahli statistik yang bekerja pada “Bell Labs” selama periode
1920-1930. Dalam bukunya “The Economic Control of Quality Manufactured
Products”,merupakan suatu kontribusi yang menonjol dalam usaha untuk
memperbaiki mutu barang hasil pengolahan. Dia mengatakan bahwa variasi
terjadi pada setiap segi pengolahan dan variasi dapat dimengerti melalui
penggunaan alat statistik yang sederhana. Sampling dan probabilitas digunakan
untuk membuat control chart untuk memudahkan para pemeriksa mutu, untuk
memilih produk mana yang memenuhi mutu dan tidak. Penemuan Shewhart
sangat menarik bagi Deming dan Juran, dimana kedua sarjana ini ahli dalam
bidang statistik.
c) Edward Deming
Lahir tahun 1900 dan mendapat Ph. D pada 1972 sangat menyadari bahwa ia
telah memberikan pelajaran tentang pengendalian mutu secara statistik kepada
para insinyur bukan kepada para manajer yang mempunyai wewenang untuk
memutuskan. Katanya : “Quality is not determined on the shop floor but in the
executive suite. Pada 1950, beliau diundang oleh, “The Union to Japanese
Scientists and Engineers (JUSE) untuk memberikan ceramah tentang mutu.
Pendekatan Deming dapat disimpulkan sebagai berikut :
 Quality is primarily the result of senior management actions and not the
results of actions taken by workers.
 The system of work that determines how work is performed and only
managers can create system.
 Only manager can allocate resources, provide training to workers,
select the equipment and tools that worekers use, and provide the plant
and environment necessary to achieve quality.
 Only senior managers determine the market in which the firm will
participate and what product or service will be solved.
Hal ini berarti bahwa tanpa keterlibatan pimpinan secara aktif tidak mungkin
tercapai manajemen mutu terpadu.
d) Prof Juran
Mengunjungi Jepang pada tahun 1945. Di Jepang Juran membantu pimpinan
Jepang di dalam menstrukturisasi industri sehingga mampu mengekspor
produk ke pasar dunia. Ia membantu Jepang untuk mempraktekkan konsep
mutu dan alat-alat yang dirancang untuk pabrik ke dalam suatu seri konsep
yang menjadi dasar bagi suatu “management process yang terpadu. Juran
mendemonstrasikan tiga proses manajerial untuk mengelola keuangan suatu
organisasi yang dikenal dengan trilogy Juran yaitu, Finance Planning,
Financial control, financial improvement. Adapun rincian trilogy itu sebagai
berikut :
 Quality planning, suatu proses yang mengidentifikasi pelanggan dan
proses yang akan menyampaikan produk dan jasa dengan karakteristik
yang tepat dan kemudian mentransfer pengetahuan ini ke seluruh kaki
tangan perusahaan guna memuaskan pelanggan.
 Quality control, suatu proses dimana produk benar-benar diperiksa dan
dievaluasi, dibandingkan dengan kebutuhan-kebutuhan yang
diinginkan para pelanggan. Persoalan yang telah diketahui kemudian
dipecahkan, misalnya mesin-mesin rusak segera diperbaiki.
 Quality improvement, suatu proses dimana mekanisme yang sudah
mapan dipertahankan sehingga mutu dapat dicapai berkelanjutan. Hal
ini meliputi alokasi sumber-sumber, menugaskan orang-orang untuk
menyelesaikan proyek mutu, melatih para karyawan yang terlibat
dalam proyek mutu dan pada umumnya menetapkan suatu struktur
permanen untuk mengejar mutu dan mempertahankan apa yang telah
dicapai sebelumnya.
III DAFTAR PUSTAKA
Dahlgaard, dkk. 1998. Fundamentals of Total Quality Management.
Ibrahim, Ola. (2013). Total Quality management (TQM) and Continuous Improvement
as Addressed by Researchers. International Journal of Scientific and Research
Publications, Vol 3.
Taylor and Alan Pearson. (1994). Total Quality Management in Research and
Development. The TQM Magazine, Vol. 6 No. 1, pp. 26-34.