Anda di halaman 1dari 4

Scribd

Search

Search

Search

Download

Save Kumpulan Cerpen Indonesia For Later

Save

Related

Info

Search

Kumpulan Cerpen Indonesia

Uploaded by didizoneunila on Oct 21, 2010

Kumpulan Cerpen 1

“Proses Pengamatan Cerita Secara Struktural”

27

Kafe, Suatu Siang

Cerpen Indrian Koto

Siang yang sedikit mendung. Langit gelap. Beberapa tetes hujan jatuh begitu akumeninggalkan tempat
parkir di sudut kampus. Beberapa mahasiswa yang ada disekitar lapangan berhamburan mencari tempat
berteduh. Aku pun berjalan buru-buru,ingin sedikit menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi. Dari
pagi mulutku terasaasam, belum tersentuh kopi. Masih setengah jam lagi sebelum Arum datang.Sedikit
tergesa aku melangkahkan kaki menuju kafe kecil di sudut depan kampus.Siang-siang begini, ditambah
suasana yang dingin dan hujan membikin kafe itupenuh. Ada yang sekadar ngobrol, makan, diskusi,
menunggu seseorang -seperti aku-mungkin, atau sekadar melamun. Tak ada hubungannya denganku.
Yang kubutuhkanhanya segelas kopi dan di dalam nanti mendapat sebuah kursi tempat dudukkemudian
membakar rokok. Itu saja.Dugaanku benar. Setelah berputar-putar ruangan yang penuh asap itu aku
mendapattempat di pinggir pintu keluar. Diapit rombongan cewek-cewek genit yang
cekikikan.Kukeluarkan rokok, membakar sebatang, sebelum kemudian Irham datang mendekat."Pesan
apa, Bung?" Sapa laki-laki muda itu. Irham pelayan di kafe ini, masih duduk disemester sembilan jurusan
antropologi. Kami sering ngobrol saat dia sedang tak sibuk."Kopi saja," kataku.Dia tertawa, menepuk
pundakku. "Menunggu Arum?" katanya kemudian."Hmm...hmm...." Aku masih sibuk membakar rokok.

Asem

, korekku basah."Belum datang

tuh,"

katanya, sambil mengeluarkan korek dari saku kemudianmelemparkannya ke arahku."Iya, aku tahu." Aku
menyambut korek Irham. "Ayolah aku ingin kopi. Mulutku asam,

nih

."Ia menyeringai kemudian berlalu.Secangkir kopi di siang yang hujan sambil menunggu sese- orang
datang. Aku gerahsendiri.Beberapa kali aku menghubungi nomor Arum, sekadar mengusir kebosanan,
tak ada jawaban. Barangkali telepon genggamnya dimatikan. Mungkin ia masih sibukmeyakinkan sang
dosen soal usulan judul skripsinya. Soal berdebat, Arum jagonya.Kritis dan cenderung cerewet. Selalu
ada yang salah di matanya. Tidak maudiperintah. Hanya denganku ia tak berkutik. Tak sedikit pun
kecerewetan itu munculkalau aku punya kesalahan."Aku sudah menemukan judul yang bagus untuk
skripsiku. Peran teater dalammembentuk kepribadian, menurutku ide yang menarik. Kamu bisa jadi

sample

penelitianku," katanya malam itu. Aku terbahak mendengarnya.Aku ingat bagaimana dulu ia adalah
perempuan satu-satunya yang mampumenyelamatkan aku dari keterpurukan yang parah. Dengannya,
psikolog muda yang

Kumpulan Cerpen 1

“Proses Pengamatan Cerita Secara Struktural”

28

masih kuliah itu, aku kembali hidup. "Tapi dosen sialan itu ngotot kalau tema initerlalu melebar, takut
nggak fokus. Sebel," ucapnya ketus.Aku tersenyum sendiri membayangkan Arum, perempuan tomboi
yang keras kepala.Ternyata, perempuan setegar Arum masih membutuhkan air mata
untukmenumpahkan emosi. Teater membentuknya jadi pribadi yang keras kepala tetapicengeng. Tapi
untunglah kuliahnya masih bisa berjalan mulus, tidak sepertiku yangterpaksa menjadi adik kelasnnya
gara-gara minggat dari kampus empat tahun lalu.Aku mulai pusing dengan keramaian ini. Suara-suara
bising, tawa cekikikan danmataku yang tak bebas berkeliaran. Penyakitku mulai kambuh kalau sudah
begini.Aku mulai bosan. Tapi mau ke mana saat hujan begini?Bosan makin menumpuk. Aku menghirup
kopi dalam-dalam. Sesekali matakuberkeliaran ke segala arah, siapa tahu ada orang di sekitar sini yang
kukenal. Hinggatiba-tiba pandanganku terpancang pada meja yang berada persis di depan
mejaku.Seorang gadis berkerudung tengah tertawa. Aha, ini dia. Kau pernah melihat sebuahtawa yang
merdeka? Sebuah tawa yang lepas begitu saja dari sepasang bibir seoranggadis muda dan cantik pula,
persis di antara orang banyak? Tidak ada beban samasekali, tidak ada keterpaksaan. Begitu bebas, begitu
lepas, begitu merdeka.Lihat mata beningnya, memancarkan keriangan yang tak mampu kuterjemahkan.
Dantawanya seakan tercipta sejak ia dilahirkan. Tak pernah lepas dari bibir mungilnyayang merah. Aku
percaya, ia tak tengah memamerkan barisan giginya yang putih rapipada setiap pengunjung di kafe ini.
Lagi pula apa pedulinya orang-orang, seoranggadis bercakap-cakap dengan rekannya sambil tertawa
adalah hal lumrah yang bisaterjadi di mana saja. Barangkali ada sebuah cerita lucu-berantai yang
diceritakanteman di depan atau di sampingnya.Atau barangkali aku yang terlalu memperhatikan saat aku
merasa sendirian? Ah,bagaimana aku harus menjelaskan?Aku terus memperhatikan perempuan yang
bercakap-cakap sambil ketawa itu.Perempuan muda dengan kerudung merah jambu, dengan baju gamis
berwarna pink,di sebelah kanannya duduk seorang teman perempuannya dan di sebelah kiri
dandepannya beberapa lelaki.Selebihnya aku tak tahu apakah itu memang teman-temannya atau hanya
orang-orangyang menumpang duduk di meja tersebut. Atau mungkin saja dia yang menumpangdi meja
itu. Tempat dan suasana di sini siapa yang bisa memastikan tentang siapa yangmenumpang dan
ditumpangi?Beberapa kali kami saling bertatapan sebelum kemudian ia kembali tertawa. Takterganggu
sama sekali oleh pandanganku. Saat seperti itu aku merasa tidak ada yangdisembunyikan dari dirinya.
Tidak juga tawa itu. Mengalir seperti air.Kulihat teman perempuan di sampingnya berbisik pada si gadis
sambil melirikkubeberapa kali. Mata kami kembali bersitatap. Dia tersenyum. Pasti itu buatku. Gila,

Kumpulan Cerpen 1

“Proses Pengamatan Cerita Secara Struktural”

29

aku mulai edan hari ini. Laki-laki yang ada di sampingnya menatapku tidak senang.Bodoh amat.Tiba-tiba
ponselku bergetar. Dengan malas kuangkat juga, "Ya, Arum? Di mana? Dikampus?" Aneh, tiba-tiba aku
begitu malas berbicara dengan perempuan yang sudahkukenal hampir tiga tahun itu. Perempuan aneh
dan membosankan. Arum perempuananeh dan membosankan? Tiba-tiba saja semua meluncur begitu
saja dari kepalaku."Aduh di sini hujan, sayang. Aku kayaknya nggak bisa datang. Tadi pagi Pak Dhanitiba-
tiba minta rapat mendadak membahas proyek buku semalam. Sekarang? Nggakbisa

gitu dong

, masa aku
ninggalin

rekan-rekan dalam rapat ini. Ha, ya? Ya nggak tahu.Mungkin saja kelar sebelum makan siang. Habis itu
aku menjemputmu, ya?" Katakuberbohong.Di seberang Arum diam. Kubayangkan perempuan yang tak
bisa marah padaku itutengah memendam kecewa. Tiba-tiba aku menjadi begitu tak peduli."Ya, setengah
jam lagilah aku datang." Aku mencoba menghiburnya. "Sudah ya?"Dengan tiba-tiba aku mematikan
ponselku. Rasa muak menjalar begitu saja. Entah darimana datangnya.Hei, aku tiba-tiba saja berbohong
kepada Arum. Perempuan yang sebentar lagi akankunikahi. Kenapa aku tiba-tiba menjadi seperti ini?
Adakah karena perempuan yangtertawa dengan merdeka yang berada persis di depanku itu?Aku
tersenyum begitu melihat perempuan itu masih duduk di situ. Kali ini dia tinggalsendirian. Dua temannya
entah terbang ke mana. Kali ini dia memandangku. Asem! Jangan-jangan dari tadi dia melihatku saat aku
bicara dengan Arum. Ah, kalau diabertanya akan kukatakan padanya bahwa tadi yang meneleponku
hanya perempuansialan yang sedikit sinting.Hujan mulai berhenti, orang-orang mulai berebut keluar. Aku
masih duduk di sini dangadis itu masih duduk di depanku.Kenapa tiba-tiba saja aku jadi tertarik dengan
perempuan yang hanya sekali saja hadirdalam diriku pada sebuah siang, saat dia tertawa dan aku tiba-
tiba menyukainya. Apayang kutahu tentang dia? Aku telah berdusta kepada Arum, perempuan
yangmengikatkan cincin di jemari kiriku enam bulan yang lalu. Kenapa tiba-tiba akumenjadi begitu muak
dengan semua? Muak kepada perempuan yang pernahmenyelamatkanku dari keterpurukan dan
goncangan jiwa saat bencana melandakeluargaku.Aku mendadak pusing. Dan perempuan di depanku
masih duduk sendiri. sesekalimata kami masih saling bertatap. Aku berdiri, barangkali sebuah keberanian
dankesempatan akan mengenalkan aku dengannya. Berkenalan, bertanya nama, nomor

hand phone

dan waktu luangnya di akhir minggu.Atau sebuah kemungkinan lain; aku buru-buru ke kasir, membayar
minuman, lalukeluar, menghirup udara segar seperti yang biasa aku lakukan sebelum kemudian ke
tempat parkir dan menjumpai arum, perempuan yang beberapa saat ini tiba-tiba begitu membosankan

Entahlah, segalanya begitu tak pasti .Semua di penuhi dengan kemungkinan-kemungkinan.