Anda di halaman 1dari 24

TUGAS ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA

RINGKASAN BAB I DAN BAB II

Oleh :

Nama: Muhammad Yusuf


NIM: E1C017054

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap orang pasti melakukan komunikasi setiap harinya. Komunikasi sendiri adalah cara
manusia untuk berinteraksi satu sama lain. Komunikasi dapat dilakukan melalui banyak hal,
salah satunya dengan bahasa. Bahasa adalah sistem lambang bunyi arbiter yang digunakan untuk
bekerja sama, berinteraksi, maupun mengidentifikasi diri. Lebih khusus lagi, bahasa Indonesia
adalah bahasa yang menjadi bahasa resmi dan bahasa persatuan bangsa Indonesia.

Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah Bahasa Indonesia yang digunakan sesuai
dengan situasi pembicaraan (yakni, sesuai dengan lawan bicara, tempat pembicaraan, dan ragam
pembicaraan) dan sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam Bahasa Indonesia. Secara singkat
dapat dikatakan bahwa Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang
sesuai dengan faktor-faktor penentu berkomunikasi dan benar dalam penerapan aturan
kebahasaannya. Apabila penggunaan bahasa menyimpang dari faktor-faktor dan kaidah bahasa
tersebut, maka akan terjadi kesalahan dalam berbahasa. Kesalahan berbahasa sendiri disebabkan
oleh faktor pemahaman, kemampuan ataupun kompetensi. Apabila pelajar belum memahami
sistem-sistem, aturan-aturan, maupun struktur-struktur bahasa yang sedang dipelajarinya, maka
tentu saja dia akan sering membuat kesalahan ketika menerapkan bahasa tersebut. Kesalahan ini
terkadang berulang dan tidak jarang terjadi secara sistematis dan konsisten. Hal tersebut tidak
hanya berlaku kepada satu atau dua pelajar melainkan secara umum. Oleh karena itu, kesalahan
ini perlu selidiki untuk kemudian dicari solusinya. Kesalahan berbahasa dapat diperbaiki oleh
guru melalui metode pengajaran-pengajaran yang dilakukannya. Dalam makalah ini akan di
bahasa secara mendalam tentang Analisis Kesalahan Berbahasa. Termasuk semua hal-hal yang
berkaitan maupun terdapat didalamnya.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 ANALISIS KONTRASTIF

Pengertian Analisis Konstrastif

Anailisis kontrastif, biasanya disingkat menjadi Anakon, berkembang sejalan dengan


perkembangan perkembnngan pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau bahasa asing
bagi siswa yang mempunyai bahasa ibu bukan bahasa lnggris. Konsep analisis kontrastif sangat
relevan dengan pengajaran bahasa kedua atau pengajaran bahasa asing. Karena itu setiap guru
bahasa kedua atau bahasa asing perlu memahami konsep analisis kontrastif tersebut.

Dalam setiap pengajaran bahasa kedua atau bahasa asing ada dua hal yang biasanya
dialami atau diperbuat oleh siswa. Pertama siswa sering menghadapi kesulitan dalam
mempelajari bahasa kedua itu. kedua siswa sering membuat kesalahan berbahasa dalam proses
mempelajari bahasa kedua tersebut. Kedua hal ini menuntut adanya perbaikan dalam pengajaran
bahasa kedua. Masalah ini dapat dirumuskan dalam kalimat tanya seperti berikut. "Bagaimana
cara mengajarkan Bahasa kedua atau bahasa asing secara efisien dan efektif?" Untuk menjawab
pertanyaan itu munculah konsep analisis kontrastif.

Analisis Kontrastif muncul sebagai jawaban terhadap tuntutan perbaikan pengajaran


bahasa kedua atau bahasa asing. Analisis kontrastif adalah suatu prosedur kerja yang mempunyai
empat langkah, yakni membandingkan B1 dan B2 memperkirakan kesulitan belajar dan
kesalahan berbahasa, menyusun bahan, dan memilih cara penyajian.

Langkah pertama
Guru membandingkan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua yang akan dipelajari
oleh siswa. Butir-butir yang dibandingkan adalah setiap tataran linguistik. Misalnya fonologi,
morfologi, sintaksis, dan semantik kedua bahasa. Aliran linguistik yang sering digunakan dalam
membandingkan bahasa pertama dan kedua tersebut adalah linguistik stuktural. Kadang juga
linguistik generatif.

Langkah kedua
Langkah kedua adalah memprediksi kesulitan belajar dan kesulitan berbahasa.
Berdasarkan perbedaan-perbedaan antara kedua bahasa itu, guru dapat memperkirakan kesulitan
belajar yang akan dialami siswa dalam mempelajari bahasa kedua.

Langkah Ketiga
Langkah ketiga berkaitan dengan pemilihan atau penyusunan, pengurutan, dan penekanan
bahan pengajaran. Perbedaan struktur serta kesulitan belajar yang ditimbulkannya menimbulkan
kesalahan berbahasa. Kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa ini dipakai sebagai dasar untuk
menentukan pemilihan, pengurutan, dan penekanan bahan pengajaran bahasa kedua.

Langkah keempat
Langkah keempat berkaitan dengan pemilihan cara-cara penyajian bahan pengajaran.
Siswa yang mempelajari bahasa kedua sudah mempunyai kebiasaan tertentu dalam
menggunakan bahasa ibunya. Pembentukan kebiasaan tertentu dalam menggunakan bahasa
kedua dilakukan dengan penyajian bahan pengajaran bahasa kedua dengan cara-cara tertentu
pula. Ada empat cara yang dianggap sesuai untuk menumbuhkan kebiasaan dalam menggunakan
bahasa kedua itu, yakni peniruan, pengulangan, latihan runtun, dan penguatan (hadiah dan
hukuman).
Dari uraian-uraian tersebut diatas, dapat kita simpulkan bahwa analisis Kontrastif adalah
suatu prosedur kerja yang memiliki empat langkah kerja yakni, membandingkan struktur bahasa
pertama dan kedua, memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa, memilih bahan
pengajaran, serta menentukan cara penyajian bahan yang tepat dalam rangka mengefisienkan dan
mengefektifkan pengajaran bahasa kedua.

2.1.2 Aspek-aspek Analisis Kontrastif

Sebagai prosedur kerja, analisis kontrastif mempunyai empat langkah. Langkah pertama
membandingkan struktur bahasa pertama dan struktur struktur bahasa kedua yang akan dipelajari
oleh siswa sehingga tergambar perbedaan diantara kedua bahasa yang bersangkutan. Langkah
kedua, berdasarkan perbedaan itu diprediksi kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang akan
dialami oleh siswa dalam mempelajari bahasa kedua. Langkah ketiga berdasarkan kesulitan
belajar dan kesalahan berbahasa tersebut Disusunlah bahan pengajaran yang lebih tepat. Langkah
keempat, bahan pengajaran disajikan dengan cara-cara tertentu seperti peniruan, pengulangan,
latihan runtun, dan penguatan.

Langkah pertama berkaitan dengan linguistik, langkah kedua, ketiga, keempat berkaitan
dengan psikologi khususnya teori belajar. Karena itu para pakar pengajaran bahasa menyatakan
bahwa analisis kontrastif mempunyai dua aspek, yakni, aspek linguistik dan aspek psikologis.
Model tata bahasa yang biasa digunakan adalah model tata bahasa struktural. Linguistik
struktural menekankan pendeskripsian bahasa secara renik, kategori deskripsi yang berbeda,
istilahnya formal, dan disusun secara induktif.

Banyak hal yang mungkin dapat diungkapkan seperti hal-hal berikut ini :

a. Tiada pcrbedaan : Sistim atau aspek tertentu dalam dua bahasa tidak ada perbedaan
sama sekali. Misalnya konsonan l, m, n/ diungkapkan sama baik dalam bahasa Indonesia
maupun dalam bahasa lnggris.
b. Fenomena konvergen : Dua butir atau lebih dalam bahasa pertama menjadi satu butir
dalam bahasa kedua. Misalnya. kata-kata padi, beras, nasi dalam bahasa Indonesia
menjadi satu kata dalam bahasa Inggris yakni rise.
c. Ketidakadaan :Butir atau sistem tertentu dalam bahasa pertama tidak terdapat atau tidak
ada dalam bahasa kedua atau sebaliknya.
d. Beda Distribusi : Butir tertentu dalam bahasa pertama berbeda distribusi dengan butir
yang sama dalam bahasa kedua. Misalnya fonem /ng/ dalam bahasa Indonesia dapat
menduduki posisi awal, tengah, dan akhir kata :ngeri, nganga, ngarai
e. Tiada persamaan: Butir tertentu dalam bahasa pertama tidak mempunyai persamaan
dalam bahasa kedua. Misalnya, predikat kata sifat dan kata benda dalam bahasa Indonesia
tidak terdapat dalam bahasa lnggris.
f. Fenomena divergers : Satu butir tertentu dalam bahasa pertama menjadi dua butir
dalam bahasa kedua. Kata we dalam bahasa Inggris menjadi kita atau kami dalam bahasa
Indonesia.

2.1.3 Tujuan, Metodologi, dan Cakupan Analisis Kontrastif.

Analisis konstrastif muncul pada saat pengajaran bahasa kedua mengalami berbagai
masalah. Tujuan utama analisis kontrastif adalah mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh
guru dan dialami oleh siswa dalam proses belajar mengajar bahasa kedua. Implikasi analisis
kontrastif dalam proses belajar mengajar bahasa kedua terlihat pada hal-hal berikut ini.

(l) Penyusunan materi pengajaran bahasa kedua disusun bcrdasarkan butir-butir yang berbeda
antara struktur bahasa ibu siswa dan struktur bahasa kedua yang kan dipelajari oleh siswa.

(2) Penyusunan tata bahasa pedagogis didasarkan pada aliran linguistik tertentu. Linguistik
struktural sangat mendominasi analisis kontrastif. '

(3) Penataan kelas belajar bahasa kedua dilaksanakan secara terpadu. Bahasa ibu siswa
digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pengajaran bahasa kedua.

(4) Penyajian bahan pengajaran bahasa kedua dilaksanakan secara langsung dengan cara-cara
berikut.

(i) Menunjukkan persamaan dan perbedaan antara struktur bahasa ibu siswa / dengan struktur
bahasa kedua yang akan dipelajari oleh siswa.

(ii) Menunjukkan butir-butir bahasa ibu siswa yang mungkin mcndatangkan kesulitan belajar dan
kesalahan berbahasa dalam bahasa kedua.

(iii) Menganjurkan cara-cara mengatasi interferensi bahasa ibu terhadap bahasa kedua yang akan
dipelajari oleh siswa.
(iv) Memberikan latihan yang intensif pada butir-butir Yang bcrbeda antara bahasa ibu dengan
bahasa kedua yang akan dipelajari oleh siswa. Anaiisis kontrastif dalah suatu konsep yang
berfungsi sebagai sarana mengefisienkan dan mengefektifkan pengajaran bahasa.

2.1 4 Hipotesis Analisis Kontrastif.

Ada dua hipotesis analisis kontrastif. Hipotesis pertama adalah “strong form hypothesis“
atau Hipotesis Bentuk Kuat. Hipotesis kedua bernama “Weak Form Hypothesis" atau Hipotesis
Bentuk Lemah.

Hipotesis bentuk Kuat menyatakan bahwa semua kesalahan berbahasa dalam bahasa
kedua dapat diramalkan dengan mengindentiiikasi perbedaan struktur bahasa pertama dan bahasa
kedua yang dipelajari oleh siswa. Hipotesis bentuk kuat ini didasarkan kepada lima asumsi
berikut.

(1) Penyebab utama kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa dalam mempelajari bahasa kedua
adalah interferensi bahasa ibu.

(2) Kesulilan beiajar itu disebabkan oleh perbedaan struktur bahasa ibu dan bahasa kedua yang
dipelajari oleh siswa.

(3) Semakin besar perbedaan antara bahasa ibu dan bahasa kedua semakin besar pula kesulitan
belajar.

(4) Perbedaan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua diperlukan untuk memprediksi
kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang akan terjadi dalam belajar bahasa kedua

(5) Bahan pengajaran bahasa kedua ditekankan pada perbedaan bahasa pertama dan kedua yang
disusun berdasarkan analisis kontrastif.

Hipotesis Bentuk Lemah menyatakan bahwa tidak semua kesalahan berbahasa


disebabkan oleh interferensi. Dalam Hipotesis Bentuk Lemah tersirat asumsi hal-hal berikut.
Kesalahan berbahasa disebabkan oleh berbagai faktor. Peranan bahasa pertama tidak besar dalam
mempelajari bahasa kedua. Analisis kontrastif dan analisis Kesalahan berbahasa harus saling
melengkapi. Analisis kesalahan berbahasa mengidentifikasi kesalahan berbahasa yang dibuat
oleh siswa. Kemudian analisis kontrastif menetapkan kesalahan mana yang termasuk ke dalam
kategori yang disebabkan oleh perbedaan bahasa pertama dan bahasa kedua.

Penguat atau rasional hipotesis analisis kontrastif adalah hal-hal berikut. Pertama,
pengalaman guru, yang menggambar kesalahan berbahasa yang dibuat oleh siswa dengan
tekanan bahasa ibu terhadap bahasa kedua yang dipelajari oleh siswa. Kedua, kontak bahasa
yang menggambarkan pengaruh bahasa pertama terhadap bahasa kedua atau sebaliknya pengaruh
bahasa kedua terhadap bahasa pertama. Ketiga, teori belajar yang menggambarkan transfer
positif dan transfer negatif dalam belajar bahasa kedua.
2.1.5 Latihan dan Soal

Pengertian Analisis Kontrastif

a. mengapa analisis kontrastf perlu dipahami oleh guru bahasa Indonesia?


b. Apa yang sering dialami oleh siswa dalam mempelajari bahasa kedua?
c. Coba uraikan 4 langkah kerja analisis kontrastif!

Jawab:

a. Konsep analisis kontrastif sangat relevan dengan pengajaran bahasa kedua atau
pengajaran bahasa asing. Karena itu setiap guru bahasa kedua atau bahasa asing perlu
memahami konsep analisis kontrastif tersebut.
b. Dalam setiap pengajaran bahasa kedua atau bahasa asing ada dua hal yang biasanya
dialami atau diperbuat oleh siswa. Pertama siswa sering menghadapi kesulitan dalam
mempelajari bahasa kedua itu. kedua siswa sering membuat kesalahan berbahasa
dalam proses mempelajari bahasa kedua tersebut. Kedua hal ini menuntut adanya
perbaikan dalam pengajaran bahasa kedua.
c. Analisis kontrastif adalah suatu prosedur kerja yang mempunyai empat langkah,
yakni membandingkan B1 dan B2 memperkirakan kesulitan belajar dan kesalahan
berbahasa, menyusun bahan, dan memilih cara penyajian.

3.1. ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA

3.l.l Kaitan Antara Pengajaran Bahasa, Pemerolehan Bahasa Kedwibahasaan, Interferensi dan
Kesalahan Berbahasa

Pengajaran bahasa dapat bersifat informal dan bersifat formal. Pengajaran bahasa yang
bersifat informal biasanya terjadi di lingkungan keluarga di rumah atau dalam pergaulan dengan
tetangga dekat, teman sepermainan, atau dalam pergaulan antar etnik. Pengajaran bahasa yang
bersifat formal berlangsung di sekolah. Pengajaran bahasa yang bersifat informal biasa disebut
dengan istilah pengajaran bahasa secara alamiah sedang pengajaran bahasa yang bersifat formal
disebut dengan istilah pengajaran bahasa secara ilmiah (Tarigan & Tarigan : I988) . '

Baik pengajaran bahasa yang bersifat informal maupun formal berkaitan erat dengan
pemerolehan bahasa pertama (PB1) dan pemerolehan bahasa kedua (PB2). Pemerolehan bahasa
pertama berkaitan erat dengan segala daya upaya seseorang dalam menguasai bahasa ibunya.

Pemerolehan bahasa kedua biasanya berlangsung setelah seseorang menguasai bahasa


pertama. Kegiatan pemerolehan bahasa kedua ini umumnya berlangsung melalui pengajaran
bahasa yang bersifat formal yang berlangsung di sekolah.
Samakah pengajaran bahasa secara alamiah dan pengajaran bahasa secara ilmiah?
Jawabannya ada dua, yakni dapat dikatakan sama dan dapat pula dikatakan lidak sama
bergantung dari segi mana kita memandang. Dari segi sarana kedua-duanya digunakan sebagai
cara untuk penguasaan bahasa ibu dan penguasaan bahasa kedua. Elis (I987) dan Dulay (1981)
berpendapat bahwa kedua istilah, itu kurang lebih sama dalam pengertian. Pengajaran bahasa
secara alamiah disebut pemerolehan bahasa (language acquisition) dan pengajaran bahasa secara
ilmiah disebut pembelajaran bahasa (language learning). Dari segi nama dan sifatnya kedua
istilah itu dapat dikatakan berbeda. Pengajaran bahasa secara alamiah disebut pemerolehan
bahasa tidak berencana, tidak disengaja, dan tidak disadari. Sedang pengajaran bahasa disebut
pembelajaran berdasarkan perencanaan yang memang disengaja dan disadari.

Salah satu dampak negatif dari praktek penggunaan dua bahasa secara bergantian adalah
terjadinya kekacauan pemakaian bahasa, yang lebih dikenal dengan istilah interferensi.

Kontak bahasa yang terjadi dalam diri dwibahasawan menyebabkan saling pengaruh
antara Bl dan B2. Saling pengaruh ini dapat terjadi pada setiap unsur bahasa, seperti fonologi,
morfologi, dan sintaksis. Penggunaan sistem bahasa tertentu pada bahasa lainnya disebut
transfer. Bila sistem yang digunakan itu bersamaan maka transfer itu disebut transfer positif.
Sebaliknya. bila sistem yang digunakan itu berlainan atau bertentangan disebut transfer negatif.
Transfer ncgatif menyebabkan timbulnya kesulitan dalam pengajaran B2 dan sekaligus
merupakan salah satu sumber kesalahan berbahasa. Transfer negatif lebih dikenal dengan istilah
lnterferensi. lnterfercnsi dapat diartikan sebagai penggunaan sistem Bl dalam menggunakan B2,
sedangkan sisteem tersebut tidak sama dalam kedua bahasa itu.

Data kesalahan berbahasa yang diperkuat oleh siswa dalam proses belajar mengajar bahasa perlu
dianalisis oleh guru.

3.1. 2 Pengertian dan Batasan Analisis Kesalahan Berbahasa.

Salah satu karakteristik pendekatan komunikatif berkaitan dengan kesalahan berbahasa.


Kesalahan berbahasa dianggap sebagai bagian dari proses belajar mengajar. Ini berarti bahwa
kesalahan berbahasa adalah bagian yang integral dari pengajaran bahasa, baik pengajaran, bahasa
yang bersifat informal maupun pengajaran yang bersifat formal. Memang kaitan antara
pengajaran bahasa dan kesalahan berbahasa sangat erat, sebagaimana ikan hanya dapat hidup di
dalam air, maka begitu juga kesalahan berbahasa sering terjadi dan terdapat dalam pengajaran
bahasa.

Pengalaman guru bahasa dilapangan menunjukkan bahwa kesalahan berbahasa itu tidak
hanya dibuat oleh siswa yang mempelajari bahasa kedua (B2) tetapi juga di buat oleh siswa yang
mempelajari bahasa ibunya (B1). Siswa yang mempelajari bahasa Indonesia atau bahasa lnggris
sering membuat kesalahan bahasa baik secara lisan maupun tertulis. Landasan yang kuat untuk
menyimpulkan bahwa kesalahan berbahasa tidak hanya terdapat dalam pengajaran bahasa B2
tetapi juga dalam pengajaran B1.

Ellis (1986) (dalam Tarigan & Tarigan : 1988) menyatakan bahwa ada lima langkah kerja
analisis kesalahan berbahasa. Langkah kerja tersebut seperti tertulis berikut ini :

(1) Mengumpulkan sampel kesalahan

(2) mengindentiiikasi kesalahan

(3) Menjelaskan kesalahan

(4) Mengklasifikasikan kesalahan

(5) Mengevaluasi kesalahan

Berdasarkan langkah kerja analisis kesalahan berbahasa tersebut dapat disimpulkan


pengertian Analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh
peneliti atau guru, yang meliputi kegiatan mengumpulkan sampel kesalahan mengidentifikasi
kesalahan yang terdapat dalam sampel, menjelaskan kesalahan tersebut, mengklasifikasikan
kesalahan itu, dan mengevaluasi taraf keseriusan kesalahan itu.

3.1.3. Tujuan dan Metodologi Analisis Kesalahan Berbahasa

Kesalahan berbahasa yang diperbuat oleh siswa saat berlatih atau mengikuti ulangan
perlu dicatat dengan cermat oleh guru. Kesalahan berbahasa yang sudah terkumpul ini dianalisis
dan hasil analisis kesalahan berbahasa tersebut di atas dapat digunakan sebagai dasar dalam
memperbaiki komponen proses belajar mengajar bahasa berikutnya.

(1.) Tujuan: Merumuskan tujuan pembelajaran lebih tepat

(2) Bahan:

-Menyusun bahan pembelajaran yang lebih scmpurna Menentukan urutan penyajian bahan
pembelajaran

-Menetapkan penekanan bahan pembelajaran

-Menyusun bahan pembelajaran yang dilatihkan

-Memilih sumber bahan pembelajaran

(3) Penyajian :

-Memilih metode pcnyajian yang sesuai dengan tujuan, bahan

-Memilih metode yang menantang dan meransang siswa belajar


-Menerapkan metode penyajian yang menarik dan bervariasi

(4) Media :

-Memilih media pengajaran yang serasi, fungsional sesuai dengan tujuan dan bahan
pembelajaran.

-Membuat gambar atau diagram yang diperlukan

-Memilih dan melatih siswa untuk mendemonstrasikan sesuatu. misalnya deklamasi,


membacakan, atau mendramatisasikan sesuatu lakon atau peran (5) Penilaian :

-Menyusun kisi-kisi penilaian

-Menyusun butir-butir penilaian yang sesuai dengan tujuan dan bahan pembelajaran.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan analisis kesalahan berbahasa
adalah mencari dan menentukan landasan perbaikan pengajaran bahasa. Hasil analisis kesalahan
berbahasa dimanfaatkan sebagai umpan balik dalam merancang komponen tujuan, bahan, cara
penyajian, media, dan penilaian bagi proses belajar mengajar bahasa selanjutnya.

Sebagai suatu prosedur kerja analisis kesalahan berbahasa mempunyai langkah-langkah


kerja tertentu yang dinamakan metodologi analisis kesalahan berbahasa.

Ellis mengetengahkan lima langkah analisis kesalahan berbahasa atau metodologi analisis
kesalahan berbahasa, yaitu.

(l) Mengumpulkan sampel kesalahan

(2) Mengidentifikasi kesalahan

(3) Menjelaskan kesalahan

(4) Mengklasifikasi kesalahan

(5) Mengevaluasi kcsalahan

Sridhar mengajukan enam langkah analasis kesalahan berbahasa atau metodologi analisis
kesalahan berbahasa yaitu.

(1) Mengumpulkan data

(2) Mengidentifikasi kesalahan

(3) Mengklasifikasi kesalahan

(4) Menjelaskan frekuensi kesalahan


(5) Mengidentifikasi daerah kesukaran/kesalahan

(6) Mengoreksi kesalahan

Berdasarkan prosedur kerja atau langkah-langkah analisis kesalahan berbahasa yang


diajukan oleh Ellis dan Sridhar serta dilengkapi dengan langkah (i) menganalisis sumber
kesalahan dan (ii) menentukan derajat gangguan yang disebabkan oleh kesalahan itu dapat
disusun metodologi analisis kesalahan berbahasa yang lebih mantap. Hasil modifikasi itu
terwujud dalam metodologi analisis kesalahan berbahasa seperti tertulis berikut ini,

(i) Mengumpulkan data:

Kesalahan berbahasa yang dibuat oleh siswa dikumpulkan. Kesalahan berbahasa itu diperoleh
dari hasil ulangan, latihan menulis, membaca, berbicara dan menyimak.

(ii) Mengidentifikasi kesalahan berdasarkan tataran kebahasaan, misalnya, kesalahan fonologi,


morfologi, sintaksis, wacana, dan semantik.

(iii) Merangking atau memperingkat kesalahan

Mengurutkan kesalahan berdasarkan frekuensi terjadinya kesalahan.

(iv)Menjelaskan kesalahan

Menjelaskan apa yang salah, penyebab kesalahan, dan cara memperbaiki kesalahan. (v)
Memprediksi tataran kebahasaan yang rawan kesalahan.

Memperkirakan tataran kebahasaan yang dipelajari oleh siswa yang potensial mendatangkan
kesalahan, misalnya daerah fonologi, morfologi. sintaksis. wacana, dan semantik.

(vi) Mengoreksi kesalahan

Mempcrbaiki kesalahan yang ada, mencari cara yang tepat untuk mengurangi dan bila dapat
menghilangkan kesalahan itu. Hal ini dapat dilakukan dengan menyempurnakan komponen
proses belajar mengajar bahasa seperti tujuan, bahan, metode, media, dan penilaian.

3.1.4 Pengertian Kesalahan, Sumber dan penyebab Kesalahan Berbahasa

Faktor-faktor penentu dalam bererkomunikasi adalah:

1. Siapa yang berbahasa dengan siapa


2. Untuk tujuan apa
3. Dalam situasi apa (tempat dan waktu)
4. Dalam konteks apa (peserta lain,kebudayaan dan suasana)
5. Dengan jalur mana (lisan atau tulisan)
6. Media apa (tatap muka,telepon,surat)
7. Dalam peristiwa
Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa yang sesuai dengan faktor-faktor
penentu berkomunasi dan benar dalam penerapan aturan kebhasaaannya .

Kesalahan berbahasa disebabkan oleh faktor pemhaman,kemampuan atau kompetensi.


Apabila siswa belum memahami sistem linguistik bahasa yang sedang dipelajari oleh siswa maka
yang bersangkutan sering membuat kesalahan tatkala menggunakan bahasa tersebut.

Kekeliuruan berbahasa terjadi bukan karena siswa belum menguasai kaidah bahasa namun
dalam menggunakan bahasa yang sedang dipeljari oleh siswa, mereka lupa atau keliru dalam
menerapkan kaidah bahsaitu.

Kesalahan berbahasa tidak hanya terjadi dalam pengajaran bahasa kedua saja tetapi juga
terjadi dalam pengajaran bahasapertama. Sayangnya teori mengenai mengenai kesalahan
berbahasa dalam pengajaran bahasa pertama tersebut sangat minim sekali. Salah satu teori yang
biasa digunakan dalam menganalis kesalahan berbahasa pada pengajaran berbahasa pertama
adalah teori stimulus-respon dari teori stimulus respon ini dijabarkan menjadi kebiasaan
berbahasa “language habit”.

Berdasarkan uraian tersebut diatas dapatlah diperkirakan sebab dan sumber kesalahan
berbahasa dalam pengajaran bahasa ibu atau bahasa pertama. Sebab dan sumber kesalahan
berbahasa itu berkaitan dengan pengajaran bahasa itu,yakni mengenal bahasa yang dilatihkan
dan cara pelaksanaan latihan.Hal-hal yang mendasar dalam peyusun bahan latihan adalah
pemilihannya,penekanan dan pengurutannya. Hal-hal yang berkaitan dengan cara pelatihan
misalnya pemilihan teknik penyajiannya,langkah langkah dan urutan penyajiannya,intensitas dan
kesinambungan latihan,dan alat alat bantu latihan.

Latihan dan Soal

Mengapa pengajaran bahasa Indonesia dapat dianggap sebagai pengajaran bahasa pertama atau
bahasa ibu dan pengajaran bahasa kedua

Jawab: Karena banyak orang diajari sejak kecilnya menggunakan bahasa Indonesia, sehingga
menjadi bahasa pertama atau bahasa ibu baginya, namun kebanyakan besar di daerah Indonesia
menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua karena sudah lebih dulu mempunyai bahasa
pertama yaitu bahasa daerah.

4.1 MATA KULIAH ANALISIS KESAHAN BERBAHASA

4.1.1 Rasional Mata Kuliah Analisis Kesalahan Berbahasa

Salah satu mata kuliah yang tergolong kedalam mata kuliah bidang studi dalam jurusan
pendidikan bahasa Indonesia adalah mata kuliah analisis kesahan berbahasa. Mata kuliah ini
wajib diikuti oleh semua mahasiswa jurusan bahsa indonesia.
4.1.2 Tujuan dan Cakupan Mata Kuliah Analisis Kesalahan Berbahasa

Mata kuliah analisis kesahan berbahasa disajikan kepada mahasiswa sebagai calon guru
atau yang sudah menjadi guru bahasa indonesia dengan berbagai tujuan. Pertama,yang bersifat
pengetahuan ialah agar mahasiswa mengetahui dan memahami konsep. Tujuan kedua, yang
bersifat efektif,ialah mahasiswa yang mencintai dan menyenangi dan membanggakan
pengetahuan analisis kesahan berbahasa sebagai salah satu ciri guru bahasa Indonesia yang
profesional. Ketiga,tujuan yang bersifat keterampilan,ialah agar mahasiswa terampil dalam
menerapkan dan mengaflikasikan konsep.

4.1.3 Manfat Kuliah Analis Kesalahan Berbahasa.

Kegiatan perkuliahan analisis kesalahan berbahasa menuntun,mengarahkan dan


membimbing mahasiswa menguasai atau memiliki hal-hal berikut. Pertama,maahsiswa dapat
memahami konsep,generalisasi,dan teori analis kesalahn berbahasa. Kedua, mahasiswa memiliki
sikap positifterhadap analisis kesalahan berbahasa.Ketiga, mahasiswa terampil dalam
menerapkan atau mengaplikasikan konsep,generalisasi,dan teori analisis kesahan berbahasa.

Penerapan analisis kesahan berbahsa dilaksakan dengan melalui langkah-langkah sebagai


berikut:

1. Mengumpulkan data kesahan berbahasa


2. Mengidentifikasi dan mengklasifikasi kesahan
3. Merangking dan menjenjangkan kesalahan
4. Menjelaskan kesahan
5. Memprediksi tataran linguistik yang rawan kesalahan
6. Mengoreksi dan memperbaikikesahan.
Pengurangan atau prnghilangan kesahan berbahasa dilaksanakan melalui perbaiakan
perogram penagajaran. Perbaiakan atau penyempurnaan program penagajaran itu terutama dalam
komponen proses belajar mengajar bahasa berikut ini.

1. Menyusun atau merumuskan tujuan pembeljaran lebih tepat


2. Menyusun bahan,menentukan urutan penyajian bahan, menetapkan penekananbahan,
sistematis,terpadu, dan mengaktifkan siswa
3. Menyusunlangkah langkah pembelajaran yang relevan dengan tujuan,bahan, sistematis,
terpadu dan mengaktifkan siswa
4. Memilih metode penyajian yang relevan dengan bahan dan tujuan menantang dan
merangsang,menarik,bervariasi
5. Memilih media pengajaran yang serasi,fungsional, yang memudahkan siswa memahami
bahan pembejaran
6. Menyusun kisi kisi pnilaian dan butir penilaian.
Berikut ini diuraikan bagaiamana cara mengklasifikasikan kesahan berbahasa dengan
berbagai patokan. Menurut pengalaman penulis paling sedikit ada lima patokan yang dapat
digunakan dalam mengklsifikasikan kesahan berbahasa. Patokan atau pengklasifikasikan itu
antara lain:

1. Tataran linguistik
2. Kegiatan berbahasa
3. Jenis bahasa yang digunakan
4. Penyebab kesahan berbahasa
5. Frekuensi kesahan berbahasa.
Ada berbagai kesalahan berbahasa Indonesia dalam bidang fonologi. Dalam setiap kesalahan
berbahasa itu tersirat sebab atau penyebab kesalahan berbahasa tersebut. Misalnya, kata akan
diucapkan aken menunjukkan penyebab kesalahan fonem /a/ diucapkan /e/. Kata keliru
diucapkan keleru menunjukkan penyebab kesalahan fonem /i/ diucapkan /e/. Kata kalau
diucapkan kalo menunjukkan bahwa kesalahan berbahasa itu disebabkan bunyi diftong /au/
diucapkan sebagai /o/. Hal yang hampir sama terdapat pula dalam pengucapan aktif menjadi
aktiv, variasi menjadi fariasi, ubah menjadi obah, stasiun menjadi stasion, pantai menjadi pante,
dahsyat menjadi dahsat, tega menjadi tega. Penyebab lain dalam kesalahan berbahasa Indonesia
pada bidang fonologi ini adalah penghilangan atau penambahan fonem tertentu. Misalnya, kata
gaji, sila, dan biji diucapkan dan dituliskan menjadi gajih, silahkan, dan bijih (besi). Atau kata
hilang, haus, dan hembus diucapkan dan dituliskan menjadi ilang, aus, dan embus.

Pengucapan dan penulisan tidak selalu sejalan dalam bahasa Indonesia. Hal ini terbukti
dalam pemenggalan kata. Bila bahasa ujaran yang dijadikan patokan maka kata belajar dapat
dipenggal menjadi bela-jar, be-lajar, atau be-lajar. Ternyata pemenggalan itu salah. Seharusnya
kata belajar dipenggal menjadi bel-ajar, bela-jar, atau be-a-jar. Kata kelanjutan diucapkan kelan-
ju-tan tetap pemenggalan atas suku katanya adalah ke-lan-jut-an.

4.2.6 Fonem /u/ Diucapkan menjadi /o/

Misalnya:

Salah Seharusnya

Belot Belut

Burong Burung

Joang Juang

4.2.7 Fonem /o/ Diucapkan menjadi /u/

Misalnya:
Salah Seharusnya

Kukuh Kokoh

tupang Topang

Puhun Pohon

4.2.8. Fonem Diftong /ai/ Diucapkan menjadi /e/

Misalnya:

Salah Seharusnya

Pante Pantai

Pete Petai

Sante Santai

4.2.9. Fonem Diftong /au/ Diucapkan menjadi /u/

Misalnya:

Salah Seharusnya

Otodidak Autodidak

Otografi Autografi

Kerbo Kerbau

4.2.10. Penambahan Fonem /h/ di depan, di tengah, atau di akhir kata

Misalnya:

Salah Seharusnya

Kueh Kue
Sepedah Sepeda

Gajih Gaji

4.2.11. Penghilangan Fonem /h/ di depan, di tengah, atau di akhir kata

Misalnya:

Salah Seharusnya

Pait Pahit

Tau Tahu

Utan Hutan

4.2.12. Fonem Kluster /sy/ Diucapkan Menjadi /s/

Misalnya :

Salah Seharusnya
siar Syiar
Sukur Syukur
Siwa Syiwa
4.2.13. Fonem /k/ Diucapkan Menjadi Bunyi hambat Glotal /?/

Misalnya :

Salah Seharusnya
Pendidi?an Pendidikan
Kemasu?an Kemasukan
Kedudu?an Kedudukan

4.2.14. Fonem /e/ Diucapkan Menjadi /se/

Salah Seharusnya
Ase Ace (AC)
Asese Acece (ACC)
Tese Tece (TC)

4.2.15. Fonem /f/ Diucapkan Menjadi /p/

Salah Seharusnya
Aktip Aktif
Positip Positif
Negatip Negatif

4.2.16. Fonem /v/ Diucapkan Menjadi /p/

Salah Seharusnya
Pariasi Variasi
Telepisi Televisi
Nopember Novembe

4.2.17 Fonem /z/ Diucapkan Menjadi /j/


Misalnya:
Salah Seharusnya
jakat zakat
jabur zabur

4.2.18 Fonem /z/ Diucapkan Menjadi /s/


Misalnya:
Salah Seharusnya
sabah zabah
asas azas

4.2.18 Menghilangkan Fonem /k/


Misalnya:
Salah Seharusnya
malum maklum
tida tidak

4.2.10 Fonem /kh/ Diucapkan Menjadi /h/


Misalnya:
Salah Seharusnya
hawatir khawatir
ahlak akhlak

4.2.21 Fonem /u/ Diucapkan atau Dituliskan Menjadi Fonem /w/


Misalnya:
Salah Seharusnya
kwalifikasi kualifikasi
kwalitas kualitas

4.2.22 Fonem /e/ Diucapkan Menjadi Fonem /i/


Misalnya:
Salah Seharusnya
apotik apotek
apotiker apoteker

4.2.23Pemenggalan Kata atas Suku Kata

1) Kata tunggal (tak berimbuhan)


a. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua
vokal tersebut.
Misalnya:
Salah Seharusnya
mai-n ma-in
s-aat sa-at
bua-h bu-ah
(Huruf Diftong ai, au, dan oi tak pernah dipisah)
b. Jika di tengah kata terdapat konsonan yang diapit oleh dua vokal maka pemenggalan
dilakukan sebelum huruf konsonan.
Misalnya:
Salah Seharusnya
bap-ak ba-pak
bar-ang ba-rang
sul-it su-lit
c. Jika di tengah kata ada konsonan rangkap maka pemenggalan di antara kedua
konsonan rangkap itu. Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan, misalnya
kh, ny, ng.
Misalnya:
Salah Seharusnya
ma-ndi man-di
so-mbong som-bong
swa-sta swas-ta
d. Jika di tengah kata terdapat tiga konsonan, maka pemenggalan kata dilakukan di
antara konsonan pertama dan kedua.
Misalnya:
Salah Seharusnya
ins-tru-men in-stru-men
ult-ra ul-tra
inf-ra in-fra

2) Imbuhan awalan dan akhiran, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta
partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada
pergantian garis.
Misalnya:
Salah Seharusnya
maka-nan makan-an
mer-asa-kan me-rasa-kan
me-mbantu mem-bantu

3) Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsurnya itu dapat
digabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan (i) di antara unsur-unsur itu
atau pada unsur gabungan itu sesuai dengan aturan (1) (a), (1) (b), (1) (c), dan (1) (d).
Misalnya:
Salah Seharusnya
bi-ografi bio-grafi
bi-o-grafi
bi-o-gra-fi
fot-ografi foto-grafi
fo-to-grafi
fo-to-gra-fi

4) Kata bersisipan
Kata-kata bersisipan dalam bahasa Indonesia jumlahnya tidak begitu banyak karena
pemakaian sisipan -el-, -em-, dan -er- tidak produktif. Pemenggalan kata bersisipan
dilakukan seperti berikut.
Misalnya:
Salah Seharusnya
t-el-unjuk te-lun-juk
te-lunjuk
telun-juk
gel-igi ge-li-gi
ge-ligi
geli-gi

5) Kata berlawanan
(a) Berawalan men-
Misalnya:
Salah Seharusnya
meny-a-pu me-nyapu
menya-pu
men-a-tap me-natap
mena-tap

6) Berawalan ber-, be-, dan bel-


Misalnya:
Salah Seharusnya
be-rakhir ber-akhir
be-rubah ber-ubah

7) Kata berawalan pen-


Misalnya:
Salah Seharusnya
pe-pakai pe-makai
pe-bawa pem-bawa

8) Kata berawalan te- dan ter-


Misalnya:
Salah Seharusnya
ter-rasa te-rasa
ter-rekam te-rekam

9) Kata berakhiran -kan


Misalnya:
Salah Seharusnya
masuk-an masuk-kan
letak-an letak-kan
hentak-an hentak-kan

10) Kata berafiksasi gabungan me-kan


Misalnya:
Salah Seharusnya
me-ngab-di-kan meng-ab-di-kan
meng-abdikan
mengab-dikan
mengabdi-kan

11) Kata berafiksasi gabungan me-i


Misalnya:
Salah Seharusnya
me-nga-di-li meng-a-di-li
meng-adili
menga-dili
mengadi-li
mengadil-i
meng-adili

12) Kata majemuk berafiksasi gabungan me-kan


Misalnya:
Salah Seharusnya
me-nga-nak-ti-ri-kan meng-a-nak-ti-ri-kan
menga-naktirikan
menganak-tirikan
menganakti-rikan
menganaktiri-kan
meng-anaktirikan

13) Kata berafiksasi gabungan memper-i


Misalnya:
Salah Seharusnya
memper-da-yai mem-per-da-ya-i
memper-dayai
memperda-yai
memperdaya-i
mem-perdayai

14) Kata majemuk berafiksasi memper-kan


Misalnya:
Salah Seharusnya
memper-tang-gung-jawabkan mem-per-tang-gung-ja-wab-kan
memper-tanggungjawabkan
mempertang-gungjawabkan
mempertanggung-jawabkan
mempertanggungja-wabkan
mempertanggungjawab-kan
mem-pertanggungjawabkan

15) Kata berafiksasi memper-kan


Misalnya:
Salah Seharusnya
memper-abu-kan mem-per-a-bu-kan
memper-abukan
mempera-bukan
memperabu-kan
mem-perabukan

16) Kata berafiksasi gabungan keber-an


Misalnya:
Salah Seharusnya
keber-ha-silan ke-ber-ha-sil-an
keber-hasilan
keberha-silan
keberhasil-an
ke-berhasilan

17) Kata berafiksasi gabungan keter-an


Misalnya:
Salah Seharusnya
ke-ter-i-ka-tan ke-ter-i-kat-an
ke-terikatan
keter-ikatan
keteri-katan
ke-terikatan

18) Kata berafiksasi gabungan pember-an


Misalnya:
Salah Seharusnya
pem-ber-hen-tian pem-ber-hen-ti-an
pem-berhentian
pember-hentian
pemberhen-tian
pemberhenti-an

19) Kata berafiksasi gabungan penye-an


Misalnya:
Salah Seharusnya
pe-nye-ta-ran pe-nye-ta-ra-an
pe-nyetaraan
penye-taraan
penyeta-raan
penyetara-an

20) Kata berafiksasi gabungan diper-an


Misalnya:
Salah Seharusnya
diper-lihat-kan di-per-li-hat-kan
di-perlihatkan
diper-lihatkan
diperli-hatkan
diperlihat-kan
PENUTUP

KESIMPULAN

Konsep analisis kontrastif sangat relevan dengan pengajaran bahasa kedua atau
pengajaran bahasa asing. Karena itu setiap guru bahasa kedua atau bahasa asing perlu memahami
konsep analisis kontrastif tersebut. Dalam setiap pengajaran bahasa kedua atau bahasa asing ada
dua hal yang biasanya dialami atau diperbuat oleh siswa. Pertama siswa sering menghadapi
kesulitan dalam mempelajari bahasa kedua itu. kedua siswa sering membuat kesalahan berbahasa
dalam proses mempelajari bahasa kedua tersebut. Kedua hal ini menuntut adanya perbaikan
dalam pengajaran bahasa kedua. Analisis kontrastif adalah suatu prosedur kerja yang mempunyai
empat langkah, yakni membandingkan B1 dan B2 memperkirakan kesulitan belajar dan
kesalahan berbahasa, menyusun bahan, dan memilih cara penyajian.

Baik pengajaran bahasa yang bersifat informal maupun formal berkaitan erat dengan
pemerolehan bahasa pertama (PB1) dan pemerolehan bahasa kedua (PB2). Pemerolehan bahasa
pertama berkaitan erat dengan segala daya upaya seseorang dalam menguasai bahasa ibunya.
Kegiatan pemerolehan bahasa kedua ini umumnya berlangsung melalui pengajaran bahasa yang
bersifat formal yang berlangsung di sekolah.

Analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh
peneliti atau guru, yang meliputi kegiatan mengumpulkan sampel kesalahan mengidentifikasi
kesalahan yang terdapat dalam sampel, menjelaskan kesalahan tersebut, mengklasifikasikan
kesalahan itu, dan mengevaluasi taraf keseriusan kesalahan itu.

Tujuan analisis kesalahan berbahasa adalah mencari dan menentukan landasan perbaikan
pengajaran bahasa. Hasil analisis kesalahan berbahasa dimanfaatkan sebagai umpan balik dalam
merancang komponen tujuan, bahan, cara penyajian, media, dan penilaian bagi proses belajar
mengajar bahasa selanjutnya.

Prosedur kerja atau langkah-langkah analisis kesalahan berbahasa yang diajukan oleh
Ellis dan Sridhar serta dilengkapi dengan langkah (i) menganalisis sumber kesalahan dan (ii)
menentukan derajat gangguan yang disebabkan oleh kesalahan itu dapat disusun metodologi
analisis kesalahan berbahasa yang lebih mantap. Hasil modifikasi itu terwujud dalam metodologi
analisis kesalahan berbahasa seperti tertulis berikut ini,

Sebab dan sumber kesalahan berbahasa dalam pengajaran bahasa ibu atau bahasa pertama.
Sebab dan sumber kesalahan berbahasa itu berkaitan dengan pengajaran bahasa itu,yakni
mengenal bahasa yang dilatihkan dan cara pelaksanaan latihan.Hal-hal yang mendasar dalam
peyusun bahan latihan adalah pemilihannya,penekanan dan pengurutannya. Hal-hal yang
berkaitan dengan cara pelatihan misalnya pemilihan teknik penyajiannya,langkah langkah dan
urutan penyajiannya,intensitas dan kesinambungan latihan,dan alat alat bantu latihan.