Anda di halaman 1dari 21

Laboratorium Farmakologi-Toksikologi

Program Studi Farmasi F-MIPA


Universitas Lambung Mangkurat

ANALGETIK

Oleh :
Nama : Anna Yulisbeth. S
NIM : J1E106238
Kelompok : IV B
Asisten : Liling Triyasmono, S.Farm., Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2008
BAB I
PENDAHULUAN

Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak dan berkaitan
dengan ancaman kerusakan jaringan. Nyeri dapat diakibatkan oleh berbagai
rangsangan pada tubuh misalnya rangsangan mekanis (benturan, tusukan, dan
lain-lain), kimiawi (oleh zat-zat kimia), dan fisika (panas, listrik, dan lain-lain)
sehingga menimbulkan kerusakan pada jaringan. Rangsangan-rangsangan tersebut
memicu pelepasan zat-zat tertentu yang disebut dengan mediator nyeri seperti
bradikinin dan prostaglandin. Reseptor-reseptor nyeri tersebut kemudian
mengaktivasi reseptor nyeri di ujung saraf perifer dan diteruskan ke otak melalui
sum-sum tulang belakang dan talamus.
Penggunaan obat analgetik mampu meringankan atau menghilangkan rasa
nyeri tanpa mempengaruhi SSP atau menurunkan kesadaran, juga tidak
menimbulkan ketagihan. Kebanyakan zat ini juga berdaya antipiretis dan
antiradang. Oleh karena itu, obat ini tidak hanya digunakan sebagai obat antinyeri
melainkan juga pada gangguan demam dan peradangan seperti rema dan encok.
Obat analgetik banyak digunakan pada nyeri kepala, gigi, otot, perut, nyeri haid,
nyeri akibat benturan atau kecelakaan.
BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN PERCOBAAN

II.1 MAKSUD PERCOBAAN

Maksud dari percobaan ini adalah mengenal, mempraktekkan, dan


membandingkan daya analgetik parasetamol, asam mefenamat, dan antalgin
(metampiron) menggunakan metode rangsang kimia.

II.2 TUJUAN PERCOBAAN

Tujuan dari percobaan ini adalah membandingkan dan mengetahui


daya analgetik parasetamol, asam mefenamat, dan antalgin (metampiron)
menggunakan analisa diagram hubungan persen daya analgetik da jumlah
geliatan pada mencit.
BAB III
TEORI SINGKAT

Analgetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi


atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Nyeri adalah perasaan
sensors dan emosional yang tidak enak dan yang berkaitan dngan (ancaman)
kerusakan jaringan. Keadaan psikis sangat memengaruhi nyeri, misalnya emosi
dapat menimbulkan sakit (kepala) atau memperhebatnya, tetapi dapat
pulamenghindarkan sensasi rangsangan nyeri. Nyeri merupakan suatu perasaan
pribadi dan ambang toleransi nyeri yang berbeda-beda bagi setiap orang. Batas
nyeri untuk suhu adalah konstan (Tjay, 2002).
Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala yang
berfungsi melindungi tubuh. Nyeri harus dianggap sebagai isyarat bahaya tentang
adanya ganguan di jaringan, seperti peradangan, infeksi jasad renik, atau kejang
otot. Nyeri yang disebabkan oleh rangsangan mekanis, kimiawi atau fisis dapat
menimbulkan kerusakan pada jaringan. Rangsangan tersebut memicu pelepasan
zat-zattertentu yang disebut mediator nyeri. Mediator nyeri antara lain dapat
mengakibatkan reaksi radang dan kejang-kejang yang mengaktivasi reseptor nyeri
di ujung saraf bebas di kulit, mukosa dan jaringan lain. Nocireseptor ini terdapat
diseluruh jaringan dan organ tubuh, kecuali di SSP. Dari sini rangsangan di
salurkan ke otak melalui jaringan lebat dari tajuk-tajuk neuron dengan amat
benyak sinaps via sumsumtulang belakang, sumsum lanjutan, dan otak tengah.
Dari thalamus impuls kemudian diteruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana
impuls dirasakan sebagai nyeri (Tjay, 2002).
Atas dasar kerja farmakologisnya, analgetik dibagi dalam dua kelompok besar,
yaitu:
a. Analgetika perifer (non-narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak
bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
b. Analgetik narkotik khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat,
seperti pada fractura dan kanker.
Sensasi nyeri, tak perduli apa penyebabnya, terdiri dari masukan isyarat
bahaya ditambah reaksi organisme ini terhadap stimulus. Sifat analgesik opiat
berhubungan dengan kesanggupannya merubah persepsi nyeri dan reaksi pasien
terhadap nyeri. Penelitian klinik dan percobaan menunjukkan bahwa analgesik
narkotika dapat meningkatkan secara efektif ambang rangsang bagi nyeri tetapi
efeknya atas komponen reaktif hanya dapat diduga dari efek subjektif pasien. Bila
ada analgesia efektif, nyeri mungkin masih terlihat atau dapat diterima oleh
pasien, tetapi nyeri yang sangat parah pun tidak lagi merupakan masukan sensorik
destruktif atau yang satu-satunya dirasakan saat itu (Katzung, 1986).
Efek utama analgesik opioid dengan afinitas untuk resetor µ terjadi pada
susunan saraf pusat; yang lebih penting meliputi analgesia, euforia, sedasi, dan
depresi pernapasan. Dengan penggunaan berulang, timbul toleransi tingkat tinggi
bagi semua efek (Katzung, 1986).
Penanganan rasa nyeri
Berdasarkan proses terjadinya, rasa nyeri dapat dilawan dengan beberapa cara,
yakni:
a. Merintang penyaluran rangsangan disaraf-saraf sensoris, misalnya dengan
anesteika local.
b. Merinangi terbentuknya rangsangan pada reseptor nyeri perifer dengan
analgetika perifer.
c. Blokade pusat nyeri di ssp dengan analgetika sentral (narkotika) atau
dengan anastetika umum (Tjay, 2002).
Pada pengobatan nyeri dengan analgetika, factor-faktor psikis turut
memegang peranan seperti sudah diuraikan di atas, misalnya kesabaran individu
dan daya mencekal nyerinya. Obat-obat dibawah ini dapat digunakan sesuai jenis
nyerinya. Nyeri ringan dapat ditangani dengan obat perifer, seperti parasetamol,
asetosal, mefenaminat, propifenazon, atau aminofenazon, begitu pula rasa nyeri
dengan demam. Untuk nyeri sedang dapat ditambahkan kofein dan kodein. Nyeri
yang disertai pembengkakan atau akibat trauma sebaiknya di obati dengan suatu
analgetikum antiradang, seperti aminofenazon dan NSAID (mefenamiat,
nifluminat). Nyeri yang hebat perlu ditanggulangi dengan morfin atau opiate lain.
Analgetika perifer
Secara kimiawi, analgetika perifer dapat dibagi dalam beberapa kelompok,
yakni:
a. parasetamol
b. salisilat : asetosal, salisilamida, dan benzorilat
c. penghambat prostaglandin
d. derivate-derivat antranilat : mefenamiat, asam niflumat glafenin,
floktafenin.
e. Derivate-derivat pirazolinon : aminofenazon, isoprofilfenazon,
isopropilaminofenazon, dan metamizol
f. Lainnya : benzidamin (Tjay, 2002).
Obat analgesik antipiretik serta obat anti inflamasi non steroid (AINS)
merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan babarap obat sangat
berbeda secara kimia. Walaupun demikian obat ini ternyata memiliki banyak
persamaan dalam efek terapi maupun efek samping. Sebagian besar efek
sampingnya berdasarkan atas penghambatan biosintesis prostaglandin.
Prostaglandin hanya berperan pada rasa nyeri yang berkaitan dengan kerusakan
jaringan atau inflamasi. Penelitian telah membuktikan bahwa prostaglandin
menyebabkan sentisisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi.
Prostaglandin menimbulkan keadaan hiperalgesia, kemudian mediator kimiawi
seperti bradikinin dan histamin merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang
nyata (Anonim, 2005).
Analgesik opoid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat opium
dan morfin. Meskipun memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang alin,
golongan ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa
nyeri. Tetapi semua analgesik opoid menimbulkan adiksi, maka usaha untuk
mendapatkan suatu analgesik ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan
mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi
(Anonim, 2005).
BAB IV
METODE KERJA

IV.1 ALAT DAN BAHAN

IV.1.1 Alat Yang Digunakan


Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
1. Beaker glass 500 ml
2. Jarum oral (ujung tumpul)
3. Spuit injeksi (0,1 – 1 ml)
4. Stop watch
5. Timbangan

IV.1.2 Bahan Yang Digunakan


Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
1. Alkohol 70 %
2. Antalgin (metampiron) 1 %
3. Asam mefenamat 1 %
4. Larutan CMC Natrium 0,5 %
5. Larutan steril asam asetat 2 %
6. Morfin 1 %
7. Paracetamol 1 %

IV.1.3 Hewan Uji


Hewan uji yang digunakan pada percobaan ini adalah mencit
betina, umur 40 – 60 hari dengan berat 20 – 30 gram.

IV.2. CARA KERJA


IV.2.1 Metode Jansen & Jaqeneau
1. Dipersiapkan mencit masing-masing kelompok mendapat 2 mencit.
2. Masing-masing mencit ditimbang.
3. Mencit I (kontrol), diberi larutan CMC Natrium 0,5 % melalui oral
dengan volume yang sama dengan larutan pembawa obat pada
kelompok tikus perlakuan.
4. Mencit II, diberi suspensi parasetamol 1 % dalam CMC Natrium 1
%, dosis 500 mg/kg BB, melalui oral.
5. Mencit III, diberi suspensi asam mefenamat 1 % dalam CMC
Natrium 1 %, dosis 500 mg/kg BB, melalui oral.
6. Mencit IV, diberi suspensi antalgin (metampiron) 1 % dalam CMC
Natrium 1 %, dosis 500 mg/kg BB, melalui oral.
7. Mencit V, diberi suspensi morfin 1 % dalam CMC Natrium 1 %,
dosis 500 mg/kg BB, melalui oral.
8. setelah 15 menit mencit diletakkan diatas hot plate pada suhu 50-
55oC.
9. dicatat waktu pada saat terjadi respon pertama kali menggunakan
stopwatch.

IV.2.2 Metode Witkins


1. Dipersiapkan mencit masing-masing kelompok mendapat 2
mencit.
2. Masing-masing mencit ditimbang.
3. Mencit I (kontrol), diberi larutan CMC Natrium 0,5 %
melalui oral dengan volume yang sama dengan larutan pembawa
obat pada kelompok tikus perlakuan.
4. Mencit II, diberi suspensi parasetamol 1 % dalam CMC
Natrium 1 %, dosis 500 mg/kg BB, melalui oral.
5. Mencit III, diberi suspensi asam mefenamat 1 % dalam
CMC Natrium 1 %, dosis 500 mg/kg BB, melalui oral.
6. Mencit IV, diberi suspensi antalgin (metampiron) 1 %
dalam CMC Natrium 1 %, dosis 500 mg/kg BB, melalui oral.
7. Mencit V, diberi suspensi morfin 1 % dalam CMC Natrium
1 %, dosis 500 mg/kg BB, melalui oral.
8. setelah 15 menit mencit diberikan asam asetat 1% secara
intraperitoneal.
9. Beberapa menit kemudian mencit akan menggeliat (perut
kejang dan kaki ditarik ke belakang).
10. Dicatat jumlah kumulatif geliat yang ditimbulkan setiap
selang waktu 15 menit selama 60 menit.
11. Dihitung persen daya analgetik.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

V.1 HASIL PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN

V.1.1 Metode Jansen

Berat
Bahan yang Volume
No Badan Keterangan
disuntikkan (ml)
(gram)
1 34 Na- CMC 0,5 % 0,8 151 = - kali *
(kontrol) 152 = 7 kali*
153 = 5 kali*
154 = 12 kali*
155 = - kali*
* respon berupa
meloncat dan menjilat
kaki depan
2 22,36 Morfin (oral) 0,7 151 = 5 kali *
152 = 15 kali*
153 = 12 kali*
154 = 6 kali*
155 = 10 kali*
* respon berupa
grooming
3 24,52 Paracetamol 0,8 151 = 21 kali *
(oral) 152 = 34 kali*
153 = 9 kali*
154 = - kali*
155 = 11 kali*
* respon berupa menjilat
kaki depan
4 33,95 Asam mefenamat 1 10 det = 1 kali *
(oral) 50 det = 1 kali*
1 : 14 mnt = 20 kali*
2 : 00 mnt = 2 kali*
* respon berupa menjilat
kaki depan dan loncat-
loncat
5 30,5 Antalgin (oral) 1 151 = 16 kali *
152 = 14 kali*
153 = 9 kali*
154 = 5 kali*
155 = - kali*
* respon berupa menjilat
kaki depan dan
melompat-melompat

V.1.2 Metode Witkins

Onset Daya
Berat
Bahan yang Volume Jumlah of analgetik
No Badan
disuntikkan (ml) geliat action
(gram)
(menit)
1 25,42 1. Na CMC 1. 0,635 06 : 33 -
0,5 % (oral)
(kontrol) 36
2. Asam
asetat * (ip) 2. 0,8
2 20, 11 1. Morfin 1. 0,6 02 : 13 91,66%
(oral) 2. 0,6
3
2. Asam
asetat* (ip)
3 20,3 1. Paracetam 1. 0,7 04 : 43 80,56%
ol (oral)
7
2. Asam
2. 0,6
asetat* (ip)
4 36,25 1.Asam 1. 1,0 08 : 15 33,33%
mefenamat
(oral) 24
2. Asam
asetat* (ip)
2. 1,08
5 28,1 1. Antalgin 1. 14,05 10 : 24 61,11
(oral)
2. 0,843 14
2. Asam
asetat (ip)*
• waktu pemberian induksi asam asetat setelah 15 menit pemberian analgetik.

V.2 Perhitungan

V.2.1 Metode Jensen


Perhitungan Larutan Stok:
1.Morfin
Diketahui : Dosis = 15 mg/ kg BB
Berat mencit = 22,36 g
Ditanya : Volume pemberian...........?
Jawab :
22 ,36
Berat mencit = x15 = 0,3354 mg/0,6 ml
1000
= 0,5 ml

2.Asam Mefenamat
Diketahui : Dosis = 500 mg/kg BB
Berat mencit = 33,95 g
Volume pemberian = 1 ml
Ditanya : Larutan stok………………?
Jawab :
500 x33 ,95
Jumlah asam mefenamat = x = = 16,95 mg
1000
Larutan stok dibuat sebanyak 5 ml = 16,95mgx5ml = 84,75 mg/5ml
3.Antalgin
Diketahui : Dosis = 500 mg/kg BB
Berat mencit = 30,5g
Ditanya : Volume pemberian ………………?
Jawab :
30 ,5
Berat mencit = x500 = 15,25 mg/ 1 ml
1000
= 15,25 mg/ml

V.2.2 Metode Witkin

1. a. Larutan Na CMC 0,5 % (kontrol)


Diketahui : Dosis = 0,5 mg/ 20 kg BB
Berat mencit = 25,42 g
Ditanya : Volume pemberian ………………?
Jawab :
25 ,42
Berat mencit = x 0,5 = 0,635 mg
1000

b. Asam Asetat glasial 300 mg/kg BB


Diketahui : Dosis = 300 mg/kg BB
Berat mencit = 25,42 g
Larutan stock = 1 gr/100 ml
= 10 mg/ ml
Ditanya : Volume pemberian ………………?
Jawab :
25 ,42
Berat mencit = x300 = 7,626/10 mg/ml
1000
= 0,8 ml

2. a. Morfin^
Diketahui : Dosis = 15 mg/ kg BB
Berat mencit = 20,11 g
Ditanya : Volume pemberian…………..?
Jawab :

20 ,11
Volume pemberian = x15 = 0,301 mg/0,6 ml
1000
= 0,5 ml
b. Asam Asetat glasial 300 mg/kg BB
Diketahui: Dosis = 300 mg/kg BB
Berat mencit = 20,11 g
Larutan stock = 1 gr/100 ml
= 10 mg/ ml
Ditanya : Volume pemberian ………………?
Jawab :
20 ,11
Volume pemberian = x300 = 6,033/10 mg/ml
1000
= 0,6 ml

3. a. Antalgin
Diketahui : Dosis = 500 mg/kg BB
Berat mencit 1 = 30,1 g
Berat mencit 2 = 28,1
Ditanya : Volume pemberian ………………?
Jawab :
30 ,1
Berat mencit 1 = x500 = 15,05 mg/ml
1000
28,1
Berat mencit 2 = x 500 = 14 ,05 mg / ml
1000

b. Asam asetat
Diketahui : Dosis = 300 mg/kg BB
Berat mencit 1 = 30,1 g
Berat mencit 2 = 28,1 g
Ditanya : Volume pemberian ………………?
Jawab :
300
Voulme asam asetat mencit 1 = x30 ,1 = 0,903 ml
1000
Volume asam aseatat mencit 2 =

300
x 28 ,1 = 0,843 mg / ml
1000

4. a. Asam Mefenamat
Diketahui : Dosis = 500 mg/kg BB
Berat mencit 1 = 36,25 g
Berat mencit 2 = 30,25 g
Ditanya : Volume pemberian ………………?

Jawab :
36 ,25
Berat mencit 1 = x500 = 18125 mg/ml
1000
30,25
Berat mencit 2 = x 500 = 15 ,125 mg/ml
1000
c. Asam asetat
Diketahui : Dosis = 300 mg/kg BB
Berat mencit 1 = 36,25 g
Berat mencit 2 = 30,25 g
Ditanya : Volume pemberian ………………?
Jawab :
300
Voulme asam asetat mencit 1 = x36 ,25 = 1,087
1000
ml
300
Volume asam aseatat mencit 2 = x 30 ,25 = 0,9075
1000
ml
Na CmC morfin parasetamol Asam antalgin
mefenamat

V.3. PEMBAHASAN

Analgetika adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk


mengurangi rasa sakit atau nyeri. Tujuan dari percobaan kali ini adalah
mengenal, mempraktekkan, dan membandingkan daya analgetik
parasetamol, asam mefenamat, dan antalgin (metampiron) menggunakan
metode rangsang kimia. Metode rangsang kimia digunakan karena
berdasarkan atas rangsang nyeri yang berupa zat-zat kimia yang digunakan
untuk penetapan daya analgetika.
Percobaan pertama dilakukan dengan metode Jansen dimana
pengujian ini akan menginterpretasikan bagaimana pengaruh analgetik
dalam menyembuhkan rangsang nyeri pada lambung. Pada percobaan ini
yang digunakan untuk menimbulkan rasa nyeri pada hewan uji adalah
larutan CMC Natrium dan larutan asam asetat 1 %. Mencit yang digunakan
tiap kelompok masing-masing sebanyak 2 ekor. Mencit pada kelompok I
sebagai kontrol diberi larutan CMC Natrium 0,5 % secara per oral. Mencit
pada kelompok II diberikan morfin sebagai zat penenang dan analgetik pada
rangsang sakit. Mencit pada kelompok tiga diberikan suspensi parasetamol
1 % dalam CMC Natrium 0,5 % melalui oral. Mencit III diberikan suspensi
asam mefenamat 1 % dalam CMC Natrium 0,5 % melalui oral, dan mencit
IV diberikan suspensi antalgin 1 % dalam CMC Natrium 0,5 % melalui oral.
Perlakuan yang diberikan terhadap mencit adalah setelah 15 menit dilihat
reaksinya menjilat kaki pada saat diletakkan di hot plate pada suhu 50-55o
C. Hasil yang diperoleh dari data diketahui bahwa mencit pada 15 menit
pertama mencit meloncat dan menjilati kakinya sebagai respon terhadap
panas yang ada. Parasetamol, asam mefenamat, dan antalgin harus
disuspensikan dalam CMC Natrium 0,5 % karena kurang larut didalam air,
agar zat aktif dari masing-masing obat analgesik dapat terdispersi secara
merata (homogen), dan obat lebih lambat diabsorpsi.
Percobaan kedua menggunakan metode Witkins yang ditujukan untuk
melihat respon mencit terhadap asam asetat yang dapat menimbulkan respon
menggeliat menahan neri perut pada mencit. Langkah pertama yang
dilakukan adalah pemberian obat-obat analgetik pada tiap mencit. Setelah 5
menit I, mencit II, III, dan IV disuntik secara intraperitoneal dengan larutan
induksi asam asetat 1 %. Pemberian dilakukan secara intraperitoneal karena
untuk mengantisipasi penguraian asam asetat saat melewati jaringan
fisiologik pada organ tertentu. Larutan asam asetat diberikan setelah 5 menit
karena diketahui bahwa obat yang telah diberikan sebelumnya sudah
mengalami fase absorbsi untuk meredakan rasa nyeri. Selama beberapa
menit kemudian, setelah diberi larutan asam asetat 1 % mencit menggeliat
dengan ditandai perut kejang dan kaki ditarik ke belakang. Jumlah geliat
mencit dihitung setiap 15 menit. Pengamatan yang dilakukan agak rumit
karena praktikan sulit membedakan antara geliatan yang diakibatkan oleh
rasa nyeri dari obat atau karena mencit merasa kesakitan akibat penyuntikan
intraperitoneal pada perut mencit.
Perhitungan daya analgetik diketahui bahwa obat analgetik yang
bekerja paling baik adalah morfin yang dilihat dari persentasinya adalah
sebanyak 91,66 %. Morfin merupakan analgetik narkotik golongan agonis
opiat dimana zat yang bekerja terhadap reseptor opoid khas si SSP, hingga
persepsi nyeri dan respon emosional terhadap nyeri dapat dikurangi. Obat
analgetik yang memiliki daya analgetik dengan presentasi tinggi adalah
parasetamol sebanyak 80,56% dimana Parasetamol yang merupakan
derivat-asetanilida adalah metabolit dari fenasetin. Parasetamol berkhasiat
sebagai analgetik dan antipiretik. Umumnya parasetamol dianggap sebagai
zat antinyeri yang paling aman, juga untuk swamedikasi (pengobatan
mandiri). Antalgin memiliki daya analgetik sebesar 61,11 % dimana
Antalgin (metampiron) adalah derivat-sulfonat dari aminofenazon yang larut
dalam air. Antalgin berkhasiat sebagai analgetik. Asam mefenamat pada
percobaan ini memiliki daya analgetik yang paling rendah yaitu 33,3%
dimana Asam mefenamat adalah derivat-antranilat dengan khasiat analgetis,
antipiretis, dan antiradang yang cukup baik. Penggunaan asam mefenamat
sebagai obat antinyeri terbatas karena sering menimbulkan gangguan
lambung-usus, terutama dyspepsi dan diare hebat.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

VI.1 KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa


kesimpulan yaitu:
1. Analgesik yang paling baik meredam rasa nyeri sampai yang kurang
efektif adalah morfin, parasetamol, antalgin, dan asam mefenamat.
2. Daya analgetik dari morfin, parasetamol, antalgin, dan asam mefenamat
adalah 91,66 %, 80,56%, 61,11%, 33,33%.
3. Analgetik merupakan obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran.

VI.2 SARAN

Agar praktikum dapat berjalan dengan lancar, hendaknya para


praktikan dapat melakukan percobaan dengan serius.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. FKUI. Jakarta.


Katzung, G. Bertram. Farmakologi Dasar dan Klinik. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta.
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2002. Obat-obat Penting. Elek Media
Komputindo. Jakarta.
LAMPIRAN

1. Apakah analgetika itu?


Jawab :
Analgetika adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi
rasa sakit atau nyeri.

2. Mengapa analgetika kadang-kadang perlu diberikan kepada penderita?


Jawab:
Analgetika kadang-kadang perlu diberikan karena untuk mengurangi rasa
nyeri penderita yang dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsang mekanis,
kimia, dan fisis.

3. Bagaimana terjadinya rasa nyeri?


Jawab:
Rasa nyeri terjadi akibat terlepasnya mediator-mediator nyeri (misalnya
bradikinnin, prostaglandin) dari jaringan yang rusak yang kemudian
merangsang reseptor nyeri di ujung saraf perifer ataupun ditempat lain. Dari
tempat-tempat ini selanjutnya rangsang nyeri diteruskan ke pusat nyeri di
korteks cerebri oleh saraf sensoris melalui sum-sum tulang belakang dan
talamus.

4. Bagaimana daya analgetika parasetamol, antalgin, dan asam mefenamat?


Jawab:
Daya analgesik morfin lebih baik daripada parasetamol dan antalgin.
Asam mefenamat merupakan analgesik yang dapat mengurangi rasa nyeri.
Parasetamol dianggap sebagai zat antinyeri yang paling aman, tetapi
parasetamol memberikan efek yang lebih baik apabila digunakan sebagai
antipiretik. Antalgin secara tiba-tiba dapat menimbulkan kelainan darah
yang dapat berakibat fatal, oleh karena itu obat ini telah lama dilarang
peredarannya.