Anda di halaman 1dari 72

KATA PENGANTAR

Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, garis pantai lebih dari 80.000 km
dengan mayoritas penduduk hidup di wilayah pesisir di mana sebagian besar
kegiatan ekonomi negara berlangsung. Indonesia adalah negara yang rawan
terhadap bencana alam seperti banjir, kekeringan, badai, tanah longsor, letusan
gunung berapi, dan kebakaran hutan. Di masa depan, perubahan iklim yang
ditimbulkan oleh pemanasan global diperkirakan akan menciptakan pola-pola
risiko baru dan secara umum lebih tinggi. Lampung Selatan merupakan salah satu
kabupaten pesisir yang rentan terhadap bencana tersebut.

Saat ini, beberapa Desa di Kabupaten Lampung Selatan sudah terpengaruh oleh
bencana iklim seperti banjir, kekeringan dan juga rob. Di masa depan, peristiwa-
peristiwa ekstrem dapat terjadi lebih sering dengan intensitas tinggi. Sebagian
besar Desa di Kabupaten Lampung selatan yang terkena dampak adalah yang
ditempati oleh keluarga dengan pendapatan rendah dan hidup dalam kemiskinan.
Mereka sangat rentan terhadap dampak dari masalah lingkungan. Pemerintah
Kabupaten harus menangani hal ini secara lebih serius dalam rencana
pengembangan pembangunan kota, dan segera mengambil tindakan untuk
mengatasi masalah kebutuhan mendesak masyarakat saat ini. Oleh karena itu,
Penilaian Kerentanan dan Adaptasi Perubahan Iklim di Kabupaten Lampung
Selatan telah dilaksanakan dan hasil penilaian ini disajikan dalam laporan ini.

Kami berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dapat memanfaatkan


beberapa hasil yang disajikan dalam laporan ini, untuk menangani masalah-
masalah terkait rencana pembangunan dalam pelaksanaan program-program
perubahan iklim.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................................i


DAFTAR ISI ................................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ......................................................................................................... iv
BAB 1. PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Maksud dan Tujuan ................................................................................... 7
1.2.1 Maksud .................................................................................................... 7
1.2.2 Tujuan ...................................................................................................... 7
1.3 Sasaran ........................................................................................................... 8
1.4 Ruang Lingkup ........................................................................................... 9
1.4.1 Ruang Lingkup Studi .............................................................................. 9
1.4.2 Ruang Lingkup Wilayah ......................................................................... 9
1.5 Landasan Hukum, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah ................. 10
1.6. Metodelogi.................................................................................................. 14
1.6.1 Prinsip Adaptasi Terhadap Dampak Perubahan Iklim ........................... 14
1.6.2 Pendekatan, Kerangka dan Metoda Umum Kajian ............................... 16
1.6.3 Metodologi Kajian Bahaya..................................................................... 21
1.6.4 Pendekatan Kajian Kerentanan ............................................................. 28
1.6.5 Metodologi Analisis Risiko ..................................................................... 32
1.7 Struktur Laporan..................................................................................... 40
BAB 2. GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI ........................................................... 42
2.1 Letak dan Luas Wilayah ............................................................................... 42
2.2 Geologi ......................................................................................................... 43
2.3 Pesisir dan Perairan Pantai .......................................................................... 45
2.4 Kependudukan ............................................................................................. 47
2.5 Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir .............................................................. 49
2.6 Iklim Atmosfer-Laut dan Kondisi Oseanografi ............................................. 50
2.6.1 Pola Curah Hujan dan Limpasan Air Permukaan ................................... 50
2.6.2 Angin, Suhu Udara dan Suhu Permukaan Laut ..................................... 52
2.6.3 Arus, Pasang Surut dan Tinggi Muka Laut ............................................. 53
2.6.4 El Nino, La Nina dan Indian Osean Dipole (IOD) .................................... 56
2.6.5. Gelombang Laut ................................................................................... 60
2.6.6. Tsunami ................................................................................................ 62
2.7 Tata Ruang Wilayah dan Daerah Rawan Bencana ....................................... 64
2.7.1 Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten ..................................... 64
2.7.2 Kawasan Rawan Bencana Alam ............................................................. 65
DAFTAR ACUAN ..................................................................................................... 67

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Bagan notasi risiko......................................................................................... 19


Gambar 2 Keterkaitan antara satu bahaya dengan bahaya lain yang dipicu oleh
perubahan iklim terhadap sektor pesisir dan laut ....................................... 22
Gambar 3 Pengaruh perubahan iklim dan dampaknya pada wilayah pesisir dan laut 26
Gambar 4 Model proses kajian risiko ............................................................................. 34
Gambar 5 Peta Administrasi Kabupaten Lampung Selatan ........................................... 44
Gambar 6. Peta Lokasi Daerah Kajian Dampak Perubahan Iklim .................................... 45
Gambar 7. Pola Curah Hujan Rata-rata Dalam Kurun Waktu Yang Berbeda .................. 51
Gambar 8. Distribusi arah dan kecepatan angin dalam kurun waktu 10 tahun. ........... 52
Gambar 9. Pola sebaran Suhu permukaan Laut selama Kurun Waktu Yang Berbeda ... 53
Gambar 10. Pola Arus dan Tinggi Muka Laut Pada Musim Barat Saat Menjelang Pasang
dan Menjelang Surut. ................................................................................... 54
Gambar 11. Pola Arus dan Tinggi Muka Laut Pada Musim Timur Saat Menjelang Pasang
(atas) dan Menjelang Surut (Bawah). ........................................................... 54
Gambar 12. Analisis Pasang Surut selama 15 Hari Pengamatan ...................................... 56
Gambar 13. South Oscilation Index dan Dipole Mode Index yang menggambarkan
kejadian El Nino, La Nina dan IOD+ serta IOD- ............................................. 57
Gambar 14. Daerah terdampak jika terjadi el-nino lemah-sedang, dinyatakan dalam
prosentasi hujan terhadap normalnya. ........................................................ 58
Gambar 15. Daerah terdampak jika terjadi el-nino kuat, dinyatakan dalam prosentasi
hujan terhadap normalnya ........................................................................... 59
Gambar 16. Sebaran Tinggi Gelombang Signifikan Pada Tahun 2014 Periode (a) Januari-
Maret, (b) April-Juni,(c) Juli-September, dan (d) Oktober – Desember. ...... 61
Gambar 17. Peta lokasi kawasan rawan bencana tsunami .............................................. 64

iii
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Perbedaan antara kerentanan dan ketahanan ....................................... 15
Tabel 2. Lima pendekatan dalam kajian perubahan iklim ................................... 17
Tabel 3 Berbagai Tingkatan Studi Kerentanan ...................................................... 18
Tabel 4 Elemen dan parameter kerentanan secara umum .................................. 29
Tabel 5 Elemen kerentanan yang berhubungan dengan kenaikan muka laut ..... 29
Tabel 6 Elemen kekuatan dan ketahanan ............................................................. 31
Tabel 7 Notasi dan level dampak untuk berbagai skenario .................................. 37
Tabel 8 Jumlah Penduduk Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2010 .................. 48
Tabel 9 Fasilitas Pendidikan yang tersedia di Kabupaten Lampung Selatan ....... 49
Tabel 10 Jumlah Penduduk miskin per kecamatan ............................................... 50
Tabel 11 Komponen Pasang Surut ....................................................................... 56

iv
Laporan Pendahuluan

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Laut dan daratan adalah fluida yang berbeda dalam hal kapasitas menyimpan
panas. Peningkatan suhu air (lautan) berlangsung lebih lambat, tetapi air dapat
menyimpan panas lebih lama dibandingkan dengan daratan. Hal ini terjadi karena
air mempunyai panas spesifik yang tinggi. Panas spesifik adalah jumlah energi yang
dibutuhkan untuk meningkatkan suhu 1 gram air sebesar 1˚C. Angin yang
berhembus melewati bentangan permukaan air dapat menghambat peningkatan
atau penurunan suhu udara secara drastis pada wilayah daratan disekitarnya. Oleh
sebab itu, iklim di wilayah kepulauan atau dekat pantai akan lebih sejuk untuk
daerah tropis dan lebih hangat. Lebih lanjut perbedaan menyimpan dan
melepaskan panas tersebut akan berpengaruh terhadap sirkulasi angin dunia yang
akhirnya akan mempengaruhi sirkulasi laut.

Laut sejak dulu berperan dalam penyebaran panas melalui sirkulasi air
laut. Sirkulasi laut adalah pergerakan massa air di laut. Sirkulasi laut di permukaan
dibangkitkan oleh stres angin yang bekerja di permukaan laut dan disebut sebagai
sirkulasi laut yang dibangkitkan oleh angin (wind driven ocean circulation). Selain
itu, ada juga sirkulasi yang bukan dibangkitkan oleh angin yang disebut sebagai
sirkulasi termohalin (thermohaline circulation) dan sirkulasi akibat pasang surut
laut. Sirkulasi termohalin dibangkitkan oleh adanya perbedaan densitas air laut.
Istilah termohalin sendiri berasal dari dua kata yaitu thermo yang berarti
temperatur dan haline yang berarti salinitas. Penamaan ini diberikan karena
densitas air laut sangat dipengaruhi oleh temperatur dan salinitas. Sementara itu,

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 1


Laporan Pendahuluan

sirkulasi laut akibat pasang surut laut disebabkan oleh adanya perbedaan
distribusi tinggi muka laut akibat adanya interaksi bumi, bulan dan matahari.

Laut menjadi tempat penyimpanan panas matahari, dan arus laut global
menggerakkan energi yang tersimpan tersebut, menyebabkan adanya iklim global,
dari angin sepoi-sepoi sampai adanya badai lautan. Studi mengenai perubahan
kecerlangan matahari, memunculkan dugaan adanya kaitan dengan perubahan
iklim. Meskipun masih lebih dipercaya bahwa perubahan iklim lebih disebabkan
karena peningkatan kadar karbon dioksida di bumi, tetapi tidak tertutup
kemungkinan bahwa matahari-pun memberikan sumbangan pada perubahan
iklim.

Cuaca dan iklim merupakan dua kondisi yang hampir sama tetapi berbeda
pengertian khususnya terhadap kurun waktu. Cuaca adalah
keadaan atmosfer yang dinyatakan dengan nilai berbagai parameter, antara lain
suhu, tekanan, angin, kelembaban dan berbagai fenomena hujan, disuatu tempat
atau wilayah selama kurun waktu yang pendek (menit, jam, hari, bulan, musim,
tahun). Sementara iklim didefinisikan sebagai Peluang statistik berbagai keadaan
atmosfer, antara lain suhu, tekanan, angin kelembaban, yang terjadi disuatu
daerah selama kurun waktu yang panjang (Gibbs, 1987).

(Trewartha, et al., 1995) mengatakan bahwa iklim merupakan suatu konsep yang
abstrak, dimana iklim merupakan komposit dari keadaan cuaca hari ke hari dan
elemen-elemen atmosfer di dalam suatu kawasan tertentu dalam jangka waktu
yang panjang. Iklim bukan hanya sekedar cuaca rata-rata, karena tidak ada konsep
iklim yang cukup memadai tanpa ada apresiasi atas perubahan cuaca harian dan
perubahan cuaca musiman serta suksesi episode cuaca yang ditimbulkan oleh
gangguan atmosfer yang bersifat selalu berubah, meski dalam studi tentang iklim
penekanan diberikan pada nilai rata-rata, namun penyimpangan, variasi dan

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 2


Laporan Pendahuluan

keadaan atau nilai-nilai yang ekstrim juga mempunyai arti penting. Indonesia
mempunyai karakteristik khusus, baik dilihat dari posisi, maupun keberadaanya,
sehingga mempunyai karakteristik iklim yang spesifik.

Perubahan iklim merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari dan memberikan
dampak terhadap berbagai segi kehidupan. Dampak ekstrem dari perubahan iklim
terutama adalah terjadinya kenaikan temperatur serta pergeseran musim.
Kenaikan temperatur menyebabkan es dan gletser di Kutub Utara dan Selatan
mencair. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya pemuaian massa air laut dan
kenaikan permukaan air laut.

Berbagai hasil kajian ilmiah menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya
memberikan fluktuasi (naik-turun) yang signifikan tetapi juga perubahan
(tren) yang sangat cepat yang mengindikasikan pemanasan permukaan bumi,
atmosfer dan laut yang terjadi secara global. Bukti-bukti tentang hal itu telah
dilaporkan secara sistematis oleh sumber-sumber resmi, diantaranya:
Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) dan The United Nations
Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Sebagai contoh laporan
dari (IPCC, 2007) menyimpulkan bahwa : “Adanya bukti yang baru dan lebih kuat
bahwa pemanasan global yang terjadi 50 tahun terakhir adalah akibat dari
kegiatan manusia“.

Kenaikan temperatur menyebabkan es dan gletser di Kutub Utara dan Selatan


mencair. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya pemuaian massa air laut dan
kenaikan permukaan air laut. Hal ini membawa banyak perubahan bagi kehidupan
di bawah laut, seperti pemutihan terumbu karang dan punahnya berbagai jenis
ikan. Sehingga akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang serta
mengancam kehidupan masyarakat pesisir pantai. Kenaikan muka air laut ini juga
akan merusak ekosistem hutan bakau, serta merubah sifat biofisik dan biokimia di

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 3


Laporan Pendahuluan

zona pesisir. Kenaikan muka air laut secara umum akan mengakibatkan dampak
sebagai berikut :
a. Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir
b. Perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove
c. Meluasnya intrusi air laut
d. Ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi
e. Berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil

Potensi dampak yang timbul oleh ancaman ini sangat tergantung pada tingkat
bahaya serta tingkat kerentanan di suatu wilayah, yang mana hal ini, sangat
terkait dengan kondisi pemanfaatan wilayah pesisir, fisiografi, morfologi,
demografi dan sosial-ekonominya, termasuk kemampuan manusia untuk
beradaptasi terhadap bahaya tersebut.

Untuk mengetahui seberapa besar potensi dampak yang akan timbul akibat
ancaman tersebut, maka penting kiranya untuk mengkaji seberapa besar
tingkat kerentanan wilayah tersebut. Setelah diketahui tingkat kerentanan dan
potensi dampak yang ditimbulkannya, maka perlu dilakukan langkah- langkah
strategi adaptasi untuk menghadapi ancaman-ancaman tersebut.

Mengingat kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan dengan kondisi


alam yang sangat dipengaruhi oleh laut, dan aktivitas penduduk umumnya berada
di wilayah pesisir, ditandai dengan banyaknya kota-kota besar berada di pinggir
pantai dan di muara sungai, maka terlihat bahwa Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) sangat rentan terhadap bahaya kenaikan muka laut dan bahaya-
bahaya lainnya yang dipicu oleh perubahan iklim. Kerentanan ini tidak hanya
berupa pengurangan daerah pesisir akibat rendaman, tetapi juga terkait dengan
burkurangnya luas wilayah NKRI akibat hilangnya pulau-pulau terluar sebagai titik
pangkal perbatasan. Kenyataan ini akan diperparah oleh tingkat pendidikan dan

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 4


Laporan Pendahuluan

kesejahteraan masyarakat wilayah pesisir yang belum memahami risiko terhadap


ancaman bahaya- bahaya perubahan iklim tersebut.

Kajian kerentanan terhadap perubahan iklim belum banyak dilakukan di


Indonesia, termasuk kajian kerentanan pada sektor pesisir dan laut. Salah satu
kendala dalam kajian ini, dan perlu diperhatikan dimasa datang adalah
ketersediaan data yang masih kurang dan keadaan ini akan menjadi permasalahan
besar bagi Indonesia hubungannya dengan kajian perubahan iklim, sehingga
dituntut adanya akselerasi penyediaan informasi baik data observasi maupun
data mengenai dampak perubahan iklim dan proyeksi-proyeksi perubahan
variabiltas laut di masa datang yang berpotensi mengancam wilayah pesisir dan
laut.

Sebagai langkah awal dari kajian dampak perubahan iklim terhadap sektor pesisir
dan laut maka dikembangkan suatu metoda kajian beserta contoh
implementasinya sesuai dengan data serta sumber daya kajian yang tersedia.
Sebagai studi kasus, dipilih Kabupaten Lampung Selatan sebagai lokasi contoh
kajian, dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Lampung Selatan khususnya
Kecamatan Raja Basa Desa Way Muli dan Desa Kunjir dapat mewakili kondisi
daerah yang berukuran sedang, dengan maksud bahwa metoda yang
dikembangkan ini, kelak dapat diaplikasikan untuk pulau-pulau baik yang
berukuran besar maupun yang berukuran kecil.

Kerentanan muncul menghadapi bahaya tersebut yang bersumber dari kondisi


terkait dengan pemanfaatan wilayah pesisir yang ada, serta kemampuan
manusia untuk beradaptasi terhadap bahaya tersebut.
Risiko terhadap bencana sebagai akibat lebih lanjut dari bahaya dan
kerentanan tersebut. Oleh karena itu diperlukan kajian tentang seberapa besar

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 5


Laporan Pendahuluan

kerentanan wilayah pesisir terhadap bahaya berkenaan dengan sektor tersebut


yang dipicu oleh perubahan iklim.

Kajian kerentanan wilayah pesisir terhadap bahaya yang dipicu oleh


perubahan iklim menjadi penting guna mendapatkan strategi untuk
beradaptasi terhadap bahaya tersebut dan dampaknya pada wilayah pesisir,
khususnya di Indonesia yang secara geografis berupa negara kepulauan dengan
keragaman kondisi alam dimana kota-kota besar umumnya berada di wilayah
pesisir, serta berpotensi hilangnya beberapa pulau-pulau kecil yang memiliki
daratan yang cukup landai, diperparah lagi oleh tingkat pendidikan dan
kesejahteraan masyarakatnya yang menjadi rentan dan berisiko terhadap
ancaman perubahan iklim.

Dihadapkan pada kondisi-kondisi tersebut, sangatlah penting untuk melakukan


serangkaian usaha untuk meminimalkan risiko dengan cara mendapatkan
informasi tentang seberapa jauh dampak terhadap sektor wilayah pesisir dan
laut serta sektor-sektor terkait lainnya, yakni, seberapa besar bahaya yang terjadi,
kerentanan, dan risiko yang dihadapi sektor ini terhadap perubahan iklim saat ini
dan proyeksi ke depan. Jawaban-jawaban terhadap permasalahan tersebut akan
menghasilkan strategi yang memadai guna meminimalkan dampak perubahan
iklim terhadap sektor pesisir dan laut.

Berkaitan dengan perubahan iklim dan sektor pesisir dan laut di Propinsi
Lampung, terdapat sejumlah pertanyaan yang menjadi latar belakang kajian ini,
yaitu:
(1) Apakah perubahan iklim akan memberikan dampak yang berarti bagi
sektor wilayah pesisir dan laut di Propinsi Lampung pada umumnya?
(2) Bahaya apa saja yang ditimbulkan oleh perubahan iklim berkaitan
dengan sektor wilayah pesisir dan laut, dan seberapa besar kerentanan dan

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 6


Laporan Pendahuluan

risiko yang dihadapi sektor pesisir dan laut terhadap bahaya tersebut
di Propinsi Lampung? serta;
(3) Strategi adaptasi seperti apa yang diperlukan guna meminimalkan
dampak perubahan iklim terhadap sektor pesisir tersebut di Propinsi
Lampung?
(4) Pertanyaan-pertanyaan di atas akan dicoba untuk dijawab dalam studi ini.

1.2 Maksud dan Tujuan

1.2.1 Maksud
Kajian dampak perubahan iklim di wilayah pesisir dan lautan ini merupakan
tahapan pengumpulan dan analisa data kerentanan dampak perubahan iklim yang
akan menjadi dasar dalam penentuan kebijakan penanganan dampak perubahan
iklim di Propinsi Lampung pada umumnya.

1.2.2 Tujuan
Tujuan kajian kerentanan dampak perubahan iklim ini adalah:
1) Mengembangkan suatu metoda kajian kerentanan dan risiko di wilayah
pesisir dan laut secara regional dengan wilayah studi Kabupaten Lampung
Selatan di Kecamatan Raja Basa Desa Way Muli dan Desa Kunjir, yang
selanjutnya dapat digunakan untuk mengidentifikasi, dan memfasilitasi
dalam bentuk formulasi strategi adaptasi yang sesuai untuk diterapkan
dengan kondisi wilayah serta ketersediaan data khususnya di Kabupaten
Lampung Selatan dan Umumnya di Propinsi Lampung.
2) Memperoleh informasi tentang bahaya, kerentanan dan risiko di wilayah
pesisir dan laut terhadap perubahan iklim dengan pendekatan meso-level,
skenario perubahan iklim (SRES : Special Report on Emissions Scenarios) SRB1,
SRA1B, dan SRA2 dari IPCC dalam periode 2030- an, 2080-an dan 2100 an dan

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 7


Laporan Pendahuluan

strategi adaptasi yang diperlukan untuk meminimalkan kerentanan dan risiko


tersebut.
3) Selanjutnya, pengalaman ini merupakan suatu pembelajaran yang dapat
didokumentasikan secara baik dan sistimatis, sehingga diharapkan menjadi
acuan yang dapat digunakan oleh masyarakat umum sebagai masukan pada
basis data kerentanan dan strategi adaptasinya.
4) Tersedianya manual yang menyajikan petunjuk dan langkah-langkah untuk
melakukan kajian risiko terhadap dampak Perubahan Iklim bagi Pemerintah
Daerah (Pemda).

1.3 Sasaran
Dengan periode, skenario proyeksi dan pendekatan yang digunakan dalam kajian
seperti yang telah disebutkan di atas, maka sasaran kajian ini adalah:
1) Merumuskan suatu model konsep atau alur pikir, metode pengumpulan data
dan seleksi data, serta metode analisis kajian kerentanan dan risiko di wilayah
pesisir terhadap perubahan iklim dalam kerangka kerja adaptasi bencana
dengan pendekatan meso-level untuk kondisi wilayah dan ketersediaan data
seperti kasus Desa Way Muli dan Desa Kunjir.
2) Mengenali bahaya-bahaya terhadap sektor pesisir dan laut akibat perubahan
iklim dan komponen kerentanan dan risiko akibat bahaya-bahaya tersebut di
Kabupaten Lampung Selatan.
3) Mengetahui tingkat kerentanan dan risiko yang dihadapi oleh sektor pesisir
dan laut di Kabupaten Lampung Selatan akibat perubahan iklim dalam unit
wilayah administrasi tingkat desa.
4) Mengetahui kerentanan dan risiko terhadap bahaya kenaikan muka laut di
Kabupaten Lampung Selatan akibat perubahan iklim dalam unit wilayah
analisis berupa batas adminstrasi desa.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 8


Laporan Pendahuluan

5) Mengidentifikasi strategi adaptasi yang diperlukan untuk meminimalkan


kerentanan dan risiko akibat perubahan iklim terhadap sektor wilayah pesisir
dan laut di Kabupaten Lampung Selatan.

1.4 Ruang Lingkup


1.4.1 Ruang Lingkup Studi
Kajian ini meliputi identifikasi bahaya, kerentanan dan risiko di wilayah pesisir dan
laut terhadap perubahan iklim dengan ringkasan lingkup kajian sebagai berikut:
1) Penetapan bahaya (H) kenaikan muka laut berdasarkan analisis
prediksi kenaikan muka laut serta analisis kejadian iklim ekstrim (EE:
extreme event) seperti ENSO, badai laut (storm surges), dan tsunami.
Pembobotan bahaya rendaman diperoleh dengan cara menklasifikasikan
tinggi kenaikan muka laut serta prosentase kejadian masing-masing
bahaya.
2) Penetapan dan pembobotan kerentanan terhadap bahaya rendaman
wilayah pesisir. Penetapan kerentanan (V) diperoleh melalui identifikasi
elemen kerentanan, yaitu eksposure (E), sensitivity (S), dan adaptive
capacity (AC) dalam hubungan V = (E x S)/AC. Pembobotan
kerentanan diperoleh berdasarkan batas bawah dan batas atas nilai
kerentanan yang diperoleh dari elemen kerentanan yang ditinjau.
3) Penetapan dan pembobotan risiko rendaman. Risiko rendaman (R)
diperoleh dari hasil perkalian besaran (bobot) bahaya (H) rendaman
dengan besaran (bobot) kerentanan (V) rendaman dalam hubungan R = H
x V. Pembobotan risiko rendaman dilakukan berdasarkan batas bawah
dan batas atas nilai risiko rendaman yang diperoleh.

1.4.2 Ruang Lingkup Wilayah

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 9


Laporan Pendahuluan

Kabupaten Lampung Selatan Khususnya Desa Way Muli dan Desa Kunjir dipilih
sebagai wilayah kajian karena pulau ini cukup rentan terhadap perubahan iklim
khsususnya terhadap kenaikan muka laut karena sebaran penduduk serta aktifitas
ekonomi umumnya berada di wilayah pesisir. Disamping itu pemilihan lokasi ini
diharapkan dapat mewakili studi-studi untuk daerah yang juga mengalami gejala
dampak perubahan iklim dengan luasan sedang, sehingga metoda yang
dikembangkan dapat dimodifikasi untuk daerah dengan luasan besar dan pulau
berukuran kecil atau pulau-pulau kecil.

Ruang lingkup wilayah yang dikaji adalah seluruh pesisir dan laut Lampung
Selatan dengan unit terkecil dari wilayah yang dianalisis adalah batas administrasi
kecamatan. Melihat ketersedian data khususnya yang terkait dengan data-data
kerentanan, maka wilayah kajian lebih difokuskan pada Desa Way Muli dan Desa
Kunjir, karena wilayah tersebut yang mengalami dampak perubahan iklim yang
cukup besar di wilayah pesisir dan lautnya.

1.5 Landasan Hukum, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah

Dewasa ini belum dibuat Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang secara
langsung mengatur hak dan kewajiban dari warga negara dan pemerintah dalam
menghadapi bencana Perubahan Iklim serta bencana ikutannya. Berikut ini
dijelaskan keterkaitan dari Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang
sudah dibuat terhadap mitigasi dan adaptasi suatu bencana secara umum yang
dapat dikaitkan dengan bencana yang ditimbulkan akibat perubahan iklim.

Undang-Undang:

 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 tentang


Penanggulangan Bencana. Undang-undang ini memiliki keterkaitan antara

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 10


Laporan Pendahuluan

lain dalam hal tanggung jawab dan wewenang pemerintah pusat dan
pemerintah daerah dalam penyelenggarakan penanggulangan bencana,
mengatur fungsi dan tugas dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BNPB), mengatur hak dan kewajiban dari masyarakat dan peran serta
lembaga usaha dan lembaga internasional dalam penangulangan
bencana.
 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang.
Keterkaitannya antara lain dalam hal pemanfaatan ruang. Undang- undang
ini menjadi dasar dibuatnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan
Daerah Provinsi serta Kabupaten/Kota tentang Tata Ruang.
 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup Keterkaitannya antara lain dalam hal penataan,
pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan
dan pengendaliaannya.
 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan
Permukiman. Keterkaitannya antara lain dalam hal pengaturan
pemukiman kembali korban bencana dan pengaturan pembangunan
perumahan dan permukiman yang terkait daerah yang berpotensi
rawan bencana.
 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya
Alam dan Ekosistemnya. Keterkaitannya antara lain dalam hal
perlindungan dan rehabilitasi wilayah sistem penyangga kehidupan yang
rusak akibat bencana.
 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025. Keterkaitannya antara lain
dalam hal penyusunan rencana pembangunan dengan memanfaatkan
ruang yang ada dan telah dipersiapkan sesuai peruntukannya.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 11


Laporan Pendahuluan

 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional. Keterkaitannya antara lain dalam hal keterpaduan
antar sektor terkait dengan rencana pembangunan.
 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
Keterkaitannya antara lain dalam hal kewenangan pembuatan
peraturan daerah tentang tata ruang yang di dalamnya telah
menetapkan lokasi yang boleh dan tidak boleh didirikan bangunan.
 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.
Keterkaitannya antara lain dalam hal pemberian Ijin Mendirikan Bangunan
(IMB) yang diajukan masyarakat. Pemberian ijin harus didasarkan kepada
peraturan tentang tata ruang yang telah menetapkan lokasi yang
diperbolehkan dan tidak diperbolehkan.
 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dimana Bab X memuat hal tentang
mitigasi bencana.
 Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

Peraturan Pemerintah:

 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2008


tentang peran serta lembaga internasional dan lembaga asing non
pemerintah dalam penanggulangan bencana. Keterkaitannya antara lain
dalam pelaksanan ketentuan Pasal 30 ayat (3) Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2008
tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana. Keterkaitannya
antara lain dalam hal pelaksanakan ketentuan Pasal 50 ayat (2), Pasal
58 ayat (2), dan Pasal 59 ayat (2) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 12


Laporan Pendahuluan

 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2008 tentang Badan


Nasional Penanggulangan Bencana. Keterkaitannya antara lain dalam
hal pelaksanaan ketentuan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2007 tentang Penanggulangan Bencana.
 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan antara pemerintah, pemerintah daerah provinsi dan
pemerintah daerah kabupaten/kota. Keterkaitannya antara lain dalam hal
pembagian urusan pemerintah bidang energi dan sumber daya mineral
yang terkait kebencanaan.
 Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Perencanaan Tata
Ruang Nasional. Keterkaitannya antara lain dalam hal perlindungan,
pengelolaan dan pengawasan kawasan rawan bencana alam.
 Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan. Keterkaitannya antara lain dalam hal
ketentuan untuk melakukan suatu tindakan segera dalam
menanggulangi bencana alam tanpa melakukan analisis mengenai dampak
lingkungan hidup (Pasal 6 ayat (1) dan (2)).
 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan antara pemerintah, pemerintah daerah propinsi dan
pemerintah daerah kabupaten/kota
 Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan
Perlindungan Kawasan Lindung.
 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 5 tahun 2000
tentang Panduan Penyusunan AMDAL dalam kegiatan pembangunan lahan
basah.

Langkah aksi adaptasi dan mitigasi bencana di wilayah pesisir akibat


perubahan iklim dilakukan dengan melibatkan tanggung jawab pemerintah,

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 13


Laporan Pendahuluan

pemerintah daerah dan/atau masyarakat. Kendala utama dalam penanggulangan


bencana adalah koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan
masyarakat. Di samping itu, kapasitas dan kesiapan masyarakat dalam
menghadapi bencana akibat perubahan iklim serta kesadaran masyarakat
mengenai bahaya dan risiko yang ditimbulkannya masih sangat rendah.

1.6. Metodelogi
Kajian bahaya, kerentanan dan risiko untuk sektor pesisir dan laut terhadap
perubahan iklim dengan studi kasus di Desa Way Muli dan Desa Kunjir dilakukan
dalam pendekatan adaptasi berupa pendekatan strategi respon atau reaksi dalam
upaya meminimalkan dampak yang akan timbul akibat perubahan iklim. Pada
bab ini diuraikan prinsip adaptasi terhadap dampak perubahan iklim, pendekatan
dan kerangka kerja serta metoda analisis bahaya, kerentanan dan risiko terhadap
bahaya yang dipicu oleh perubahan iklim

1.6.1 Prinsip Adaptasi Terhadap Dampak Perubahan Iklim

Istilah adaptasi dalam arti luas adalah setiap upaya manusia dalam memodifikasi
sistem alami atau buatan dalam bereaksi terhadap pengaruh perubahan iklim saat
ini dan proyeksi perubahan iklim di masa depan dalam rangka mengurangi
kerusakan atau meningkatkan peluang untuk mendapatkan keuntungan dari
perubahan iklim (Stern, 2008).

Kelebihan dari pendekatan adaptasi dibandingkan dengan mitigasi adalah hasil


upaya adaptasi dapat diperolah lebih cepat dibandingkan dengan hasil yang
diperoleh dari upaya mitigasi, disamping itu hasil usaha adaptasi dapat dirasakan
langsung oleh masyarakat setempat. Meskipun demikian, adaptasi tidak dapat
menggantikan peran mitigasi dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Adaptasi berperan dalam mengurangi dampak yang segera muncul akibat
perubahan iklim yang tidak dapat dilakukan oleh mitigasi. Namun, tanpa

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 14


Laporan Pendahuluan

komitmen mitigasi yang kuat, biaya adaptasi akan meningkat, serta kapasitas
adaptasi akan berkurang baik individu maupun pemerintah.

Dalam hal mengedepankan adaptasi maka usaha-usaha prioritas yang perlu


dilakukan adalah peningkatan ketahanan dalam menghadapai perubahan iklim,
sebagaimana diungkapkan oleh (Manyena, 2006) seperti pada Tabel 1.

Tabel 1 Perbedaan antara kerentanan dan ketahanan (Manyena, 2006)


Vulnerability (Kerentanan) Resilience (Ketahanan)
Resistance (Perlawanan) Recovery (Pemulihan)
Force-bound (Terkait dgn usaha) Time-bound (Terkait dgn waktu)
Safety (Keselamatan) Bounce back (menghalau balik)
Mitigation (Mitigasi) Adaptation (Adaptasi)
Institutional (Kelembagaan) Community-based (Berbasis komunitas)
System (Sistem) Network (Jaringan)
Engineering (Rekayasa) Culture (Budaya dan kearifan lokal)
Risk Assessment (Kajian Risiko) Vulnerability and capacity analysis
(Analisis kerentanan dan kapasitas)
Outcome (Hasil) Process (Proses)
Standards (Standar, Operasonal, dan Institutionalize (Pelembagaan)
Prosedur)

(Manyena, 2006) menekankan bahwa ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam
mengelola risiko hubungannya dengan kerentanan (vulnerability) dan
ketahanan/kelenturan (resilience). Pertama adalah pengelolaan kerentanan yang
bertujuan untuk mengurangi kerentanan terhadap bahaya yang dipicu oleh
perubahan iklim dengan metoda top-down yang sifatnya digerakkan oleh
kebijakan (policy driven), yang bertujuan untuk melakukan perlawanan, terkait
dengan usaha yang lebih mengutamakan pada keselamatan, melalui usaha
pencegahan, sehingga diperlukan suatu kelembagaan, sistem dan rekayasa,
berlandaskan kajian risiko, yang berorentasi hasil atau pemecahan masalah,
melalui prosedur standar operasional (SOP). Sedangkan yang kedua adalah
meningkatkan ketahanan terhadap bahaya yang dipicu oleh perubahan iklim,
melalui cara buttom-up, yang bertujuan untuk pemulihan, proses ini memerlukan
waktu dalam menghalau dan mengembalikan ke keadaan yang dapat diterima,

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 15


Laporan Pendahuluan

dengan cara adaptasi, yang berbasis masyarakat, melalui jaringan atau net-
working, dengan pendekatan budaya dan kearifan lokal, berlandaskan analisis
kerentanan dan kapasitas, yang berorentasi kepada proses.

Kedua pendekatan tersebut sangat dibutuhkan dan perlu dilakukan secara


simultan dalam menghadapi bahaya-bahaya yang dipicu oleh perubahan iklim.
Oleh sebab itu kajian ini mempertimbangkan dua jenis adaptasi, yaitu: adaptasi
yang digerakan oleh kebijakan (policy-driven adaptation) dan adaptasi dengan
sendirinya (autonomus adaptation). Terkait dengan tujuan pengarus-utamaan
perubahan iklim ke dalam RPJMD Provinsi Lampung maka dalam kajian ini
memiliki bobot yang lebih besar pada adaptasi yang digerakan oleh kebijakan.

Kajian ini juga melibatkan dua tingkat adaptasi, yaitu: penguatan kapasitas
adaptasi dan implementasi aksi adaptasi. Tingkat yang pertama meliputi
penyediaan informasi tentang bahaya, kerentanan dan risiko akibat perubahan
iklim. Sedangkan implementasi adaptasi meliputi langkah aksi pengurangan
kerentanan serta peningkatan ketahanan sehingga dapat mengurangi risiko di
wilayah pesisir dan laut terhadap perubahan iklim.

1.6.2 Pendekatan, Kerangka dan Metoda Umum Kajian


1.6.2.1 Pendekatan Umum Kajian
Pendekatan umum kajian dipilih berdasarkan pendekatan kajian Perubahan Iklim,
Dampak, Adaptasi dan Kerentanan (PIDAK atau Climate Change Impact,
Adaptation and Vulnerability/CCIAV) yang terdiri dari 5 (lima) pilihan pendekatan
sebagaimana disajikan dalam Tabel 2. Empat diantaranya dikelompokan sebagai
pendekatan riset model lama, yaitu: kajian dampak, kajian kerentanan, kajian
adaptasi, dan kajian terintegrasi. Adapun pendekatan kelima diturunkan dari
kerangka kajian risiko yang merupakan perkembangan baru dalam studi PIDAK (
(IPCC, 2007) dalam (Suroso, 2008). Pendekatan berbasis risiko ini digunakan dalam

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 16


Laporan Pendahuluan

studi ini untuk memfasilitasi pengarus-utamaan pilihan-pilihan adaptasi ke dalam


pembuatan kebijakan khususnya di Provinsi Lampung.

Dengan mempertimbangkan efektivitas, tepat sasaran, ukuran daerah studi


tingkat perencanaan, ketersedian data, serta biaya maka kajian kerentanan untuk
studi kasus Lampung Selatan ini dilakukan dengan skala tingkatan menengah
(Meso level), sebagaimana tingkatan sudi yang diberikan oleh (Messner, 2005)
seperti pada Tabel 3.

Tingkatan menengah (meso) ini memiliki kedalaman analisis dengan menganalisis


seluruh kawasan pesisir di Lampung Selatan yang kemudian ditranformasikan ke
masing-masing satuan administratif tingkat wilayah kecamatan. Selanjutnya untuk
studi yang lebih detil akan difokuskan pada Kecamatan Raja Basa dan sekitarnya
dengan satuan wilayah terkecil administrasi desa.
Tabel 2. Lima pendekatan dalam kajian perubahan iklim dimodifikasi dari (IPCC,
2007)
Pendekatan
Dampak Kerentanan Adaptasi Integrasi Risiko
Proses yang Interaksi dan
Kajian
mempengar Proses yang umpan balik
Dampak risiko
uhi pada mempengaruhi antara
Sasaran dan risiko dan
Kerentanan adaptasi dan banyak
Ilmiah iklim ke respom
terhadap kapasitas penggerak
depan kebijaka
perubahan adaptasi dan dampak-
n
iklim dampak
Aksi
Pengarus-
untuk Pilihan
Aksi untuk Aksi untuk utamaan
Tujuan pengura kebijakan
pengurang peningkatan pada
praktis ngan global dan
an risiko adaptasi pembuatan
kerenta biaya- biaya
kebijakan
nan
Pendekatan Pemodelan
Indikator dan gambaran
standar kajian
kerentanan; Risiko iklim masa
untuk terintegrasi Prosedur
lalu dan saat ini; Analisis
PIDAK; Interaksi lintas Kajian
matapencaharian; Metode
metoda sektor Integrasi Risiko Risiko
berbasiskan agen; Metode
DPSIR iklim dengan yang tersusun
Metode naratif Persepsi terhadap
(Driver- penggerak atas Bahaya
Kajian risiko termasuk ambang batas
pressure- lainnya; Model dan
kritis Kinerja
state- diskusi kerentanan
kebijakan/pembangunan yang
impact- pemangku
berkelanjutan Hubungan
response kepentingan

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 17


Laporan Pendahuluan

atau respon kapasitas adaptasi dan (stakeholder)


dampak- pembangunan berkelanjutan terkait lintas
kondisi- jenis dan
tekanan skala
sebagai Penggabu
penggerak/); ngan
Kajian risiko berbagai
yang pendekat
digerakan an atau
oleh model
bencana kajian
(Hazard-
driven risk
assessment)
Digerakan
Digerakan
oleh
oleh Kebijaka
Motivasi Penelitian Research Driven Research Driven
(Policy
(Research
Driven)
Driven)
Sumber: Suroso, D.S (2008)

Tabel 3 Berbagai Tingkatan Studi Kerentanan


Skala Kebutuhan Ukuran Tingkatan Biaya Studi
Ketepatan
Tingkatan Data/Analisis Daerah Studi Perencanaan per luasan
Kebijakan
Makro Kualitatif Nasional Rendah Rendah
adaptasi
Regional
Kombinasi
(propinsi Strategi
Meso Kualitatif dan Sedang Sedang
hingga adaptasi
kuantitatif
kabupaten)
Pengukuran
Mikro Kuantitatif Lokal Tinggi Tinggi
adaptasi
Sumber: Modifikasi dari (Messner, 2005) dalam (Suroso, 2008)

1.6.2.2 Kerangka Kajian terhadap Keterkaitan Bahaya, Kerentanan, dan Risiko

Kerangka kajian risiko secara umum dilakukan dengan mengintegrasikan antara


bahaya, kerentanan, dalam suatu hubungan tertentu yang saling terkait dan
saling mempengaruhi. Keterkaitan elemen-elemen risiko (bahaya dan
kerentanan) ini diformulasikan dalam hubungan: risiko (Risk, R) adalah pertemuan
(yang dinotasikan dengan tanda kali) antara bahaya (Hazards; H) dan kerentanan

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 18


Laporan Pendahuluan

(Vulnerability, V) sebagaimana diberikan oleh Affeltranger, et al., (2006) dalam


(Suroso, 2008) pada Gambar1 berikut.

Gambar 1 Bagan notasi risiko.

Dimana bahaya dirumuskan sebagai fungsi dari perilaku (karakter), besaran


(magnitude), dan laju (rate) dari perubahan iklim dan variasi perubahan iklim,
beserta pengaruhnya terhadap parameter atmosfer dan parameter osenografi.
Sedangkan Kerentanan (vulnerability, V) adalah fungsi dari keterpaparan
(exposure, E), sensitivitas (sensitivity, S) dan kapasitas adaptasi (adaptive
capacity, AC) sebagaimana dirumuskan dalam suatu hubungan berikut: V = (E x
S) / AC.

Dari rumusan di atas memperlihatkan variabel kapasitas adaptasi berbanding


terbalik terhadap nilai tingkat risiko. Oleh sebab itu dalam mengurangi kerentanan
perlu menurunkan tingkat keterpaparan dan sensitivitas dan dibarengi dengan
peningkatan kapasitas adaptasi atau ketahanan. Jika suatu komunitas memiliki
tingkat kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan nilai kapasitas adaptasinya,
maka nilai tingkat risikonya menjadi tinggi. Sebaliknya bila tingkat kapasitas
komunitas lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat kerentannya maka tingkat
risikonya menjadi rendah.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 19


Laporan Pendahuluan

1.6.2.3 Metoda Pengumpulan Data

Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh data dan informasi mengenai


bahaya dan kerentanan sebanyak dan selengkap mungkin, melalui :
- Studi pustaka, dan pengumpulan data/informasi yang relevan;
- Survei lapangan;
- Konsultasi publik dengan pemangku kebijakan terkait pada awal kegiatan;

Hasil pengumpulan data kemudian dielaborasi dalam bentuk daftar dan jenis serta
jumlah data, kemudian dilakukan penilaian dan penseleksian data, meliputi
kualitas dan relevansi data dengan tingkat ketelitian yang ditentukan, kemudian
digunakan sebagai input dalam kajian. Hasil dari eleborasi data ini disajikan dalam
bentuk tabel atau gambar. Data bahaya dan elemen kerentanan yang akan
dijadikan input dalam analisis risiko harus dipilih sesuai dengan tujuan serta
kemudahan dan ketersediaan data. Secara prinsip, makin banyak data bahaya
dan elemen kerentanan yang dijadikan input dan semakin komplit data tersebut
maka tentu hasilnya akan semakin baik. Pada studi analisis risiko di masa
datang, sebaiknya input data demografi, bangunan fisik, infrastruktur
termasuk sarana dan fasilitas penunjang kehidupan memiliki sifat yang selalu
berubah bersamaan waktu. Karena itu basis data kerentanan ini perlu
diperbaharui atau direvisi secara berkala dalam jangka waktu yang dianggap paling
optimal.

Dalam analisis dan penyajian data bahaya, kerentanan dan risiko digunakan suatu
alat bantu SIG (Sistem Informasi Geografis) untuk memudahkan manajemen data,
pengeplotan lokasi geografis dari data tersebut sehingga dapat digambarkan peta

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 20


Laporan Pendahuluan

bahaya, kerentanan dan risiko, serta dapat dihitung luasan dan nilai serta tingkat
bahaya, kerentanan dan risiko suatu wilayah.

1.6.3 Metodologi Kajian Bahaya


1.6.3.1 Bahaya di Daerah Pesisir dan Laut

Sistem kesetimbangan atmosfer-laut sebagai pembentuk iklim, akhir-akhir ini


terganggu oleh aktivitas manusia yang menyebabkan peningkatan produksi gas-
gas rumah kaca (GRK) sehingga menimbulkan pemanasan global dan memicu
perubahan iklim global yang selanjutnya berpengaruh terhadap sektor pesisir
dan laut berupa:
 Kenaikan temperatur air laut
 Peningkatan frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem (badai,
siklon, dan rob)
 Perubahan pola curah hujan dan aliran sungai akibat perubahan
variabilitas iklim alamiah (El-Nino, La-Nina)
 Perubahan pola sirkulasi laut akibat perubahan variabilitas iklim
alamiah, dan
 Kenaikan muka air laut

Bahaya-bahaya tersebut dapat saling mempengaruhi satu dengan lainnya


dimana suatu daerah berpotensi mengalami berbagai gaya-gaya iklim atau
bahaya-bahaya yang dipicu oleh perubahan iklim sekaligus.

(Allen Consulting Group, 2005) menjelaskan pengaruh perubahan iklim terhadap


bahaya yang akan timbul di wilayah pesisir dan laut sebagaimana diperlihatkan
pada Gambar 2 berupa:
- badai yang mempengaruhi curah hujan dan limpasan permukaan,
- badai yang terkait dengan angin dan tekanan, serta

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 21


Laporan Pendahuluan

- perubahan muka laut (variabiltas musiman, ENSO dan IPO).

Gambar 2 Keterkaitan antara satu bahaya dengan bahaya lain yang dipicu oleh
perubahan iklim terhadap sektor pesisir dan laut

Perubahan-perubahan tersebut di atas akan berpengaruh


terhadap: (A) suplai sedimen, (B) gelombang dan swell (alunan
gelombang), (C) arus laut, (D) badai pasut, (E) perubahan muka laut.
Sedangkan faktor eksternal lainnya yang tidak terkait langsung
dengan perubahan iklim adalah pasang surut dan (F) tsunami. Pasut
dan dibangkitkan oleh gaya tarik benda-benda angkasa luar,
sedangkan tsunami ditimbulkan oleh aktivitas tektonik, vulkanik,
dan tanah longsor bawah laut. Seluruh elemen-elemen (A) sampai
dengan (F) perlu ditinjau dalam menganalisis bahaya-bahaya
yang berpotensi terjadi di wilayah pesisir dan laut.

Gambaran dan kerakteristik dari elemen-elemen bahaya di atas diuraiakan


sebagai berikut:
Fluktuasi Muka Laut
Fluktuasi muka air laut diambil dari level rata–rata muka laut (MSL) setelah
meniadakan pengaruh pasut dan pengaruh peningkatan muka laut jangka
panjang. Dalam kajian rendaman, peningkatan MSL dapat mencapai 0.20 m di atas
MSL rata-rata. Keadaan ini terjadi ketika La Nina dan siklus Interdecadal

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 22


Laporan Pendahuluan

Pacific Oscillation (IPO) dalam fasa negative. Pada saat sekarang kita berada
dalam fasa IPO negatif yang berawal di tahun 1998 dan kemungkinan berakhir di
tahun 2020 sampai 2030. Efek dari IPO ini dapat meningkatkan MSL dalam jangka
waktu yang cukup lama yaitu dalam periode 20 sampai 30 tahun.
Pasang Surut
Tinggi pasut dapat menyebabkan rendaman yang mirip dengan rendaman
gelombang badai (storm surge) atau banjir sungai. Arus pasut pada muara sungai
memainkan peranan penting dalam suplai sedimen ke muara dan pantai. Batas
atas dari nilai MHWS (Mean High Water Springs) biasanya digunakan sebagai nilai
kuantifikasi tinggi bahaya rendaman.
Badai
Badai menimbulkan bahaya utama, yaitu :
 Gelombang dan swell yang menyebabkan ketidakstabilan kuantitas
suplai sedimen, erosi dan menyebabkan rendaman wilayah pesisir bahkan
menimbulkan kerusakan pada bangunan pantai.
 Storm surge (gelombang badai), yang menimbulkan tekanan rendah dalam
jangka waktu tertentu yang dapat menaikan level muka laut di atas level
pasut yang diperkirakan.
Level pasut saat badai adalah penjumlahan dari tinggi MHWS, storm surge, dan
gelombang set-up. gelombang set up adalah peningkatan level muka laut di
daerah surf ( daerah gelombang pecah) relatif terhadap muka laut akibat badai
di lepas pantai. Run-up (rayapan) gelombang adalah tambahan tinggi yang dapat
dicapai di atas level pasut, yang timbul akibat gelombang pecah. Rayapan
gelombang dihitung secara terpisah dari level pasut akibat badai karena rayapan
gelombang bervariasi di sepanjang pantai bahkan pada daerah yang sama,
tergantung kepada perbedaan kemiringan pantai dan tipe alamiah dari struktur
pesisir.
Tsunami & subsidence/uplift

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 23


Laporan Pendahuluan

Berdasarkan sejarah kejadian tsunami, Teluk Lampung memiliki potensi


terkena rendaman tsunami dari sumber tsunami lokal. Tsunami yang
dibangkitkan secara local, memberi keleluasan waktu yang sangat sedikit
untuk evakuasi, karena jarak tempuh yang pendek ke wilayah pantai. Risiko
tsunami dapat juga dipengaruhi oleh level dari pasut dan storm–surge lokal yang
muncul saat terjadi tsunami.

1.6.3.2 Perubahan Iklim dan Pengaruh terhadap Bahya-Bahaya di Wilayah


Pesisir

Perubahan iklim dan pengaruhnya pada muka air laut


Terjadinya pemanasan global menyebabkan suhu muka laut menjadi lebih hangat
dan meningkatkan level muka laut. Hal ini diperkirakan terus meningkat di
masa datang. Tinggi muka laut dapat berubah dari tahun ke tahun selama waktu
jangka panjang, tergantung kepada ENSO dan siklus IPO yang terjadi secara
musiman. IPCC memperkirakan bahwa level muka laut akan terus meningkat
untuk beberapa abad ke depan bahkan jika emisi gas rumah kaca telah stabil hal
ini dikarenakan oleh waktu respon laut yang cukup lama. Pencairan es

diperkirakan akan menyebabkan kenaikan level muka laut dalam orde


beberapa meter selama beberapa abad sampai milenium ke depan. Bahkan untuk
scenario perubahan iklim yang paling minimal (lihat Guideline for Climate
Change Effects and Impacts Assessment).
Perubahan iklim dan pengaruhnya terhadap badai
Beberapa studi memperlihatkan adanya kenaikan intensitas badai di belahan bumi
Utara (BBU) akibat perubahan iklim, hal yang sama juga terjadi di belahan
bumi Selatan (BBS), meskipun belum jelas mekanisme dan dinamika dari
pengaruh tersebut. Demikan juga belum ada model yang mensimulasikan
frekuensi dari siklon tropis yang terjadi. Namun bila intensitas kejadian
bertambah banyak maka pengaruhnya terhadap pantai akan lebih besar.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 24


Laporan Pendahuluan

Perubahan iklim mempengaruhi arus, angin, gelombang dan pasut


Perubahan iklim akan mempengaruhi distribusi tekanan dan pola angin, yang
selanjutnya mempengaruhi angin dan arus laut. Hubungan ini merupakan
hubungan timbal balik dimana arus laut akan mempengaruhi iklim dan pola badai
yang terjadi. Dengan adanya perubahan arus hangat atau perubahan arus dingin
menyebabkan perubahan pola angin yang mempengaruhi frekuensi seas
(ombak) dan swell (gelombang alun) di sepanjang pantai dan kemungkinan
gelombang ekstrim yang lebih tinggi selama kejadian siklon tropis yang lebih
intensif.

Pasang surut di laut dalam tidak akan terpengaruh langsung oleh perubahan iklim
tetapi tenggang pasut di perairan dangkal seperti: teluk, estuari, muara sungai dan
pelabuhan dapat dipengaruhi oleh perubahan iklim melalui mekanisme
penguatan angin, gelombang, arus di pesisir, debit sungai akibat perubahan curah
hujan dan sedimentasi di muara.
Perubahan Iklim mempengaruhi suplai sedimen di pantai
Perubahan iklim akan mempengaruhi struktur dan faktor-faktor pembangun
suplai sedimen ke pantai, beberapa faktor dapat memberikan tambahan dan yang
lain memberikan pengurangan suplai sedimen. Dampak perubahan iklim
terhadap suplai sedimen di masa datang belum diteliti secara saksama. Oleh sebab
itu, untuk daerah-daerah yang rentan terhadap suplai sedimen perlu dilakukan
penyelidikan yang lebih rinci termasuk suplai sedimen dari sungai dan daerah
tangkapannya (catchment area), serta angkutan sedimen
sejajar pantai.
Efek Perubahan Iklim pada Tsunami
Penyebab geologis tsunami tidak akan dipengaruhi langsung oleh perubahan iklim.
Tetapi efek tsunami di pesisir akan berubah oleh kenaikan muka laut, yang tentu

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 25


Laporan Pendahuluan

saja meningkatkan risiko rendaman tsunami. Faktor yang lebih penting dalam
kajian risiko yaitu tinggi pasut pada saat tsunami mencapai pantai

1.6.3.3 Dampak Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir

Perubahan iklim seperti yang dijelaskan di atas menyebabkan perubahan fisik


lingkungan berupa: genangan pada lahan rendah dan rawa, erosi pantai,
gelombang ekstrim dan banjir, intrusi air laut ke sungai dan air tanah,
kenaikan muka air sungai, perubahan kisaran pasut dan gelombang serta
perubahan endapan sedimen. Perubahan iklim dan perubahan fisik
lingkungan ini akan memberi dampak yang signifikan terhadap : morfologi pantai,
ekosistem alami, pemukiman, sumber daya air, perikanan, pertanian dan
pariwisata bahari seperti yang diberikan oleh (Diposaptono, et al., 2009) pada
Gambar 3.

Gambar 3 Pengaruh perubahan iklim dan dampaknya terhadap wilayah pesisir


dan laut (Diposaptono, et al., 2009)

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 26


Laporan Pendahuluan

Dari sekian banyak bahaya yang terkait dengan perubah iklim yang diuraikan di
atas, kenaikan muka laut merupakan topik yang banyak dikaji dalam isu perubahan
iklim, akibat dari dua variabel utama, yaitu ekspansi atau kontraksi termal di
laut (efek sterik) dan pencairan sejumlah massa air yang terkandung atau
terperangkap dalam gunung es dan lapisan salju di sekitar kutub.

Kenaikan muka laut ini dibedakan dengan fluktuasi (naik turunnya) muka laut pada
skala waktu yang bervariasi, seperti gelombang laut (ombak dan alun) yang terjadi
akibat angin permukaan laut, pasang surut (pasut) yang disebabkan oleh gaya
tarik bulan dan matahari, gelombang badai dan gelombang pasang yang muncul
akibat terjadinya siklon atau badai di laut, akibat variabilitas iklim El-Nino dan La-
Nina.

Fluktuasi muka laut ini berpotensi menimbulkan dampak yang disebabkan oleh
hantaman energi gelombang dan genangan air laut di pantai. Tinggi hantaman
dan genangan air laut di pantai akan semakin bertambah secara signifikan, bila
fenomena bahaya-bahaya di atas bekerja sekaligus dalam kurung waktu
tertentu sehingga menimbulkan fluktuasi muka laut yang sangat ekstrim,
Disamping itu perlu dicermati adanya terminologi “kenaikan relatif muka air
laut” merujuk pada perubahan muka laut terhadap permukaan tanah yang
bersifat lokal pada lokasi tertentu. Permukaan tanah pun dapat mengalami
gerakan karena pembalikan isostatik, penurunan muka tanah, kompaksi dan
settling karena penumpukan sedimen aluvial di delta estuari, penurunan muka
tanah dari ekstraksi air dan minyak bumi, serta aktifitas tektonik (gempa bumi).

1.6.3.4 Luaran Analisis Bahaya

Hasil atau luaran (output) dari analisis bahaya ini utamanya adalah berupa:
1 Tabulasi data dari potensi-potensi bahaya di pesisir dan laut seperti :
 Laju kenaikan temperatur air laut

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 27


Laporan Pendahuluan

 Peningkatan frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem(badai,


siklon)
 Perubahan pola curah hujan dan aliran sungai akibat perubahan
variabilitas iklim alamiah (El-Nino, La-Nina)
 Perubahan pola sirkulasi laut akibat perubahan variabilitas iklim alamiah
 Kenaikan muka air laut
2 Tabulasi dan peta-peta dari kuantifikasi masing-masing bahaya
 Luaran dari analisis bahaya ini bersama-sama dengan luaran dari hasil
kajian kerentanan dijadikan input data untuk analisis risiko terhadap
rendaman di wilayah pesisir Lampung Selatan dan sekitarnya.

1.6.4 Pendekatan Kajian Kerentanan

Kerentanan didefinisikan sebagai kemampuan suatu individu atau kelompok


masyarakat dalam mengantisipasi, menanggulangi, mempertahankan dan
menyelamatkan diri terhadap dampak yang ditimbulkan oleh suatu bahaya alam
dalam hal ini efek dari perubahan iklim. Pada dasarnya kerentanan bersifat
dinamis dan selalu berubah sejalan dengan perubahan kondisi manusia dan
lingkungan hidupnya. Kerentanan (vulnerability) diformulasikan sebagai berikut:

Vulnerability = (Exposure x Sensitivity)/Adaptive Capacity

dimana:
 Eksposur (exposure) atau keterpaparan mengacu pada penerimaan
manusia dan infrastruktur terhadap terpaan suatu bahaya menurut
lokasi serta pertahanan fisiknya.
 Sensitivitas (sensitivity) adalah komponen yang mengacu pada tingkat
sensitivitas kerugian seseorang atau kelompok atau kegetasan suatu
infrastruktur atau lingkungan terhadap terpaan suatu bahaya.
 Kapasitas adaptasi (adaptive capacity) adalah komponen yang
mengacu pada kemampuan seseorang atau kelompok untuk beraksi dan

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 28


Laporan Pendahuluan

beradaptasi dalam menghadapi suatu bahaya sehingga tidak terjadi


kerugian yang besar

Secara umum elemen-elemen kerentanan yang digunakan sebagai input dalam


mengkaji kerentanan seperti yang ditabulasikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Elemen dan parameter kerentanan secara umum
Elemen Kerentanan Parameter Kerentanan
Geografi  Lokasi dan posisi
Sosio-demografi  Populasi dan densitas penduduk
(kependudukan)  Tingkat Kesejahteraan
Infrastruktur dan  Bangunan-bangunan rumah tinggal
Fasilitas (residential buildings)
 Bangunan-bangunan gedung
bertingkat rendah dan tinggi
 Infrastruktur (jalan, jembatan, dan
fasilitas-fasilitas penunjang lainnya)
 Fasilitas penunjang kehidupan
(lifelines) seperti sistem jaringan air
minum, listrik, dan telekomunikasi
Tata guna lahan  Peta penggunaan lahan

Sifat elemen-elemen kerentanan dapat dibedakan dalam elemen kerentanan


nyata dan tidak nyata (Tabel 5) yang masing-masing dapat berkontribusi terhadap
kerentanan, ataupun seringkali berupa kombinasi dari keduanya.
Tabel 5 Elemen utama kerentanan yang berhubungan dengan kenaikan muka laut
Elemen kerentanan
Jenis Bahaya
Nyata Tidak Nyata
Semua elemen yang berlokasi
di dalam daerah yang terkena
Kenaikan muka laut:
dan terendam oleh kenaikan
termasuk, SLR, pasut, ENSO, Kohesi sosial, struktur
muka air laut seperti:
gelombang badai dan komunitas, budaya.
infrastruktur, fasilitas
tsunami
penunjang hidup dan
bangunan

Kerentanan dapat berubah terhadap waktu, apakah meningkat atau menurun


tergantung dari kemampuan suatu individu atau masyarakat dalam beraksi dan
berintegrasi terhadap bahaya tersebut. Dengan kata lain, nilai kerentanan

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 29


Laporan Pendahuluan

dapat berubah sesuai tingkat bahaya, tingkat eksposur, tingkat sensitivitas, tingkat
kesiapan dan kemampuan dalam beradaptasi terhadap bahaya tersebut.

1.6.4.1 Kuantifikasi Data Kerentanan

Data kerentanan perlu dikuantifikasi dalam bentuk tingkat kehilangan


terhadap elemen bahaya pada nilai intensitas tertentu. Kerentanan dari suatu
elemen biasanya diekspresikan sebagai persentase kehilangan/kerugian untuk
suatu skenario dan proyeksi perubahan iklim tertentu. Ukuran kehilangan
yang diberikan bergantung pada elemen kerentanan dan risiko yang dapat diukur,
misalnya:
 Perbandingan jumlah korban jiwa atau terluka terhadap total populasi
penduduk.
 Tingkat kerusakan fisik: berupa proporsi banyak bangunan yang
mengalami tingkat kerusakan tertentu.
 Sebagai biaya perbaikan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.
Faktor Kerentanan terhadap Suatu Bahaya Perubahan Iklim
Beberapa faktor dan aktivitas manusia yang berpotensi menimbulkan kerentanan
yang berpengaruh terhadap meningkatnya potensi dampak dari bahaya yang
disebabkan oleh perubahan iklim di antaranya:
 Ekspansi pemukiman yang tidak terencana dengan tata ruang yang tidak
sesuai.
 Perkembangan dari komunitas terpinggirkan ke lahan marginal seperti
sempadan sungai dan pantai.
 Struktur lingkungan masayarakat yang kurang baik dengan tingkat
kesejakteraan yang rendah.
 Ketidaksiapan beradaptasi terhadap suatu bahaya.
 Kekurangwaspadaan dan kurangnya pengetahuan terhadap bahaya dan
dampak dari perubahan iklim.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 30


Laporan Pendahuluan

Untuk mengantisipasi dan mengendalikan faktor-faktor di atas maka perlu


dilakukan penilaian kerentanan dan kemampuan adaptasi yang dapat
memberikan gambaran kepada pemangku kebijakan dan masyarakat umum
bahwa daerah-daerah mana yang memiliki kondisi rentan agar dapat
diberikan arahan dan prioritas dalam pengelolaan untuk mengurangi kerentanan.
Pada penilaian ini dapat diidentifikasi serta diungkapkan:
- siapa saja individu atau kelompok masyarakat yang rentan,
- mengapa mereka menjadi rentan,
- apa faktor utama yang memicu kerentanan itu,
- apa saja potensi kapasitas yang mereka miliki, dan
- untuk kemudian ditentukan bagaimana caranya membantu mereka.
Identifikasi Kerentanan dan Kapasitas Adaptasi
Kerentanan dalam suatu komunitas dapat dikurangi melalui peningkatan kapasitas
adaptasi dalam mengahadapi bahaya perubahan iklim. Mengidentifikasi
kemampuan individu atau kelompok masyarakat untuk menghadapi bahaya ini
dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan konsep hidup yang
berkelanjutan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menilai kemampuan
aset yang dimilikinya, yang selanjutnya dapat dirujuk sebagai ‘modal atau
sumber daya’ yang dapat digunakan sebagai penyangga untuk melindungi
diri atau kelompok dari bahaya yang dipicu oleh perubahan iklim. Modal dan
sumber daya ini dapat berupa modal geomorfologi, finansial, sumber daya
manusia, modal sosial serta modal fisik yang masing-masing modal tersebut
memiliki elemen-elemen kerentanan dan kekuatan seperti yang disajikan pada
Tabel 6.
Tabel 6 Elemen kekuatan dan ketahanan
Modal Elemen
Alam/morfologi topografi, vegetasi dan sumber daya alam
lainnya.
Keuangan/finansial tabungan, pemasukan, kredit, pensiun
Manusia pengetahuan, keterampilan, kesehatan,
kemampuan fisik

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 31


Laporan Pendahuluan

Sosial jaringan, hubungan, kepercayaan, mutual


exchange, gotong royang.
Fisik infrastruktur, tempat berlindung/shelter,
perangkat pendukung kehidupan, air dan
sanitasi, transport dan telekomunikasi

Penilaian kerentanan dan kapasitas dalam hubungannya terhadap perubahan


iklim harus melihat jauh ke depan, sebab bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh
perubahan iklim dipercayai berlangsung secara pasti dan terus-menerus dalam
jangka waktu panjang ke masa depan.

1.6.4.2 Luaran Analisis Kerentanan

Hasil atau luaran dari kajian kerentanan ini utamanya adalah berupa:
 Tabulasi data dari elemen-elemen dasar kerentanan seperti : data
demografi, data topgrafi, data infrastruktur dan fasiltas vital penunjang
kehidupan, tata guna lahan , kesejahteraan dan sebagainya
 Tabulasi dan peta-peta dari kuantifikasi elemen-elemen kerentanan
Kemudian output dari kajian kerentanan ini bersama-sama dengan output dari
hasil kajian bahaya alam dijadikan sebagai data input untuk analisis risiko
rendaman

1.6.5 Metodologi Analisis Risiko


Risiko adalah potensi kerugian yang ditimbulkan oleh suatu bahaya pada suatu
wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit,
terancamnya jiwa , hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan, atau kehilangan
harta dan gangguan terhadap kegiatan masyarakat. Secara umum risiko dapat
diartikan sebagai suatu kemungkinan yang dapat menyebabkan kerugian baik itu
berupa materi, korban jiwa, kerusakan lingkungan. Risiko juga dapat diartikan
sebagai kemungkinan yang dapat merusak tatanan sosial, masyarakat dan
lingkungan yang disebabkan oleh interaksi antara ancaman dan kerentanan.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 32


Laporan Pendahuluan

1.6.5.1 Tahapan Analisis Risiko

Analisis risiko adalah bagian dari suatu kerangka besar dalam kajian risiko.
Kerangka kajian risiko secara umum dilakukan dengan mengintegrasikan antara
bahaya, kerentanan, dalam suatu hubungan tertentu yang saling terkait dan
saling mempengaruhi sebagaimana yang disajikan oleh (NZCCO , 2005) dalam
Gambar 4 berikut:

Tahapan yang disajikan dalam Gambar 4 meliputi: identifikasi masalah perubahan


iklim dalam hal ini potensi dampak/risiko pada sektor pesisir dan laut, kemudian
identifikasi dan penggambaran risiko, melalui identifikasi bahaya dan
kerentanannya. Selanjutnya analisis risiko dengan mengkaji metoda pengelolaan
yang ada, dan evaluasi risiko dengan melakukan penentuan peringkat prioritas
dan identifikasi isu-isu utama, dan terakhir adalah penanganan risiko, dengan
cara identifikasi sasaran, target dan aksi terhadap isu-isu utama, evaluasi cost and
benefit dari pilihan-pilahan yang ada, serta memilih apsi dan rencana aksi.
Keseluruhan tahapan di atas perlu dilakukan komunikasi dengan masyarakat
(partisipasi masyarakat), peninjauan, pemantauan dan evaluasi.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 33


Laporan Pendahuluan

Gambar 4 Model proses kajian risiko (New Zealand Climate Change Office, 2004)

Selanjutnya tahapan-tahapan di atas diuraikan lebih detil sebagai berikut:

Tahapan 1 : Mendefinisikan muatan/masalah dan menentukan konteks,


strategi, organisasi dan risiko

Pada tahapan ini konteks permasalahannya adalah potensi dampak yang


disebabkan oleh bahaya yang dipicu oleh perubahan iklim yang terjadi di wilayah
pesisir dan laut. Oleh sebab itu pertama-tama perlu dilakukan:
 Pendefinisian masalah saat sekarang dan masa yang akan datang
 Identifikasi variabel perubahan iklim dan bahaya-bahaya yang
ditimbulkannya seperti: ENSO, rob dan gelombang ekstrim dan
variabilitasnya
 Pendefinisaian aktivitas yang harus dilakukan, termasuk penilaian
perencanaan dan periode respon.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 34


Laporan Pendahuluan

 Spesifikasi luaran dari proses penilaian risiko dan bagaimana luaran ini
akan dipakai dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

Selanjutnya terkait dengan organisasi penanganan meliputi: pendefinisian


tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah, kapasiatas apa saja yang
dimilikinya, jasa apa yang disediakannya, struktur dan tujuan penanganan ini
dalam hubungannya dalam penanganan dampak dari perubahan iklim ini,
sehingga diperlukan:
 Mekanisme apa saja yang telah ada seperti: pemerintah kabupaten,
komunitas, rencana strategis, dan sebagainya;
 Aset dan jasa yang disediakan berupa organisasi dan sistem meliputi:
tujuan penanganan, penempatan staf, dan pengalokasian sumber daya.

Tahapan 2 : Identifikasi bahaya dan penggambaran risiko

Tahapan kedua ini sangat penting untuk mengikutsertakan orang-orang yang


memiliki keahlian tertentu yang terkait dengan bahaya perubahan iklim serta
memiliki pengetahuan yang baik terhadap daerah dan lokasi yang akan dikaji,
seperti:
o Mengidentifikasi luasan bangunan dan fasilitas serta jumlah manusia di
dalam wilayah pesisir yang berpotensi terkena bahaya, isu-isu perubahan
lingkungan yang perlu dipertimbangkan, serta bagaimana hal ini dapat
berubah terhadap waktu.
o Mengidentifikasikan morfologi pantai dan bagaimana variasi
spasialnya di sepanjang daerah yang akan dikaji (misalnya pantai
berpasir, pantai bertebing, estuari dan sebagainya).
o Mengidentifikasi tipe bahaya yang dipicu oleh perubahan iklim
berdasarkan informasi historis dan informasi atau hasil kajian bahaya saat
ini. Secara umum bahaya-bahaya tersebut dapat dikelompokkan dalam :

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 35


Laporan Pendahuluan

 Erosi pantai yang disebabkan oleh kenaikan muka laut


 Penggenangan pantai yang disebabkan oleh ENSO, rob atau
penggenangan secara gradual dari kenaikan muka laut dan/atau
penurunan muka tanah; dan
 Penggenangan pantai secara cepat, misalnya oleh gelombang
badai atau tsunami.
o Mengidentifikasi perubahan jangka panjang yang diakibatkan oleh
perubahan iklim. Sebagai contoh, selama perencanaan dalam
kerangka waktu 25 tahun, potensi untuk suatu kejadian bahaya dengan
besaran tertentu dapat meningkat secara drastis. Oleh sebab itu
penggunaan skenario berjenjang menjadi penting bila ingin
mempertimbangkan bahaya lain selain dari kenaikan muka laut, (misalnya
suplai sedimen atau tsunami)

Tahapan 3 : Analisis risiko

Penilaian risiko harus dilakukan oleh orang yang memiliki spesialisasi dalam ilmu
kepantaian dan kelautan (pejabat instansi terkait atau konsultan spesialis)
diamping itu sangat penting untuk mengkaji data historis secara saksama dan
detil. Penilain risiko ini meliputi:
 Menilai dampak/risiko dari bahaya yang dipicu oleh perubahan iklim,
berupa perubahan lingkungan pesisir, lingkungan bangunan, lingkungan
manusia untuk tiap skenario bahaya dengan cara mengelompokkan
tingkat dampak, pada suatu rskala seperti dijabarkan pada Tabel
7.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 36


Laporan Pendahuluan

Tabel 7 Notasi dan level dampak untuk berbagai skenario

Notasi Dampak Contoh

o Terdapat kerugian finansial yang sangat besar


o Hilangnya jasa pelayanan yang besar dalam jangka panjag.
1 Dampak besar
o Kehilangan perumahan dan fasilitas secara permanen.
o Kehilangan mata pencaharian dalam skala besar.

o Kerugian finansial yang cukup tinggi, mungkin untuk


beberapa kepemilikan.
Dampak menengah o Terganggunya sektor jasa untuk beberapa hari.
3
(moderat) o Orang terpisahkan dari rumahnya selama beberapa
minggu.
o Dampak besar pada lingkungan alam.

o Kerugian finansial yang menengah pada sejumlah kecil


kepemilikan.
Dampak kecil
4 o Terganggunya sektor jasa selama satu atau dua hari.
(minor)
o Kesulitan yang cukup besar bagi beberapa individu.
o Beberapa dampak pada lingkungan alam yang signifikan.

Dampak tidak begitu o Kerugian finansial yang minim.


5
berarti o Ketidaknyamanan dalam jangka pendek.

 Penilaian dampak yang aktual dalam bentuk kerugian finansial atau


moneter
 Pemilihan skala kualitatif pada suatu dampak terlihat sangat subjektif,
namun, selama pendekatannya diterapkan secara konsisten untuk
setiap daerah atau fasilitas, maka pemilihan tingkatan suatu dampak
secara relatif tetap konsisten.
 Setelah mengidentifikasi potensi bahaya dan dampak yang
ditimbulkannya, maka langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi
probabilitas dari suatu bahaya yang terjadi dan pengaruhnya pada
suatu fasilitas tertentu (misalnya jalan atau pemukiman). Untuk itu,
karakteristik dari suatu bahaya adalah penting. Sebagai contoh, jika

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 37


Laporan Pendahuluan

bahaya penggenangan oleh gelombang badai, ENSO, rob, atau tsunami


cenderung untuk menjadi kejadian yang berulang (episodik). Data dan
informasi probabilitas bahaya untuk suatu lokasi tertentu harus
dianalisis dengan menggunakan metoda tertentu yang dapat dilakukan
oleh grup atau individu yang memiliki pengetahuan yang baik tentang
perilaku bahaya tersebut.

Tahapan 4 : Evaluasi dan Penilian Risiko


Berdasarkan penilaian dari potensi bahaya dan kemungkinan kejadiannya, maka
dapat ditentukan tingkat dampak atau risiko yang ditimbulkannya. Sebagai
contoh, sebuah kejadian dengan dampak yang moderat, namun mungkin sekali
untuk terjadi mempunyai risiko yang moderat. Hal ini harus dimasukkan dalam
perencanaan respon namun dengan prioritas yang rendah. Pada kenyataannya,
pemerintah daerah dapat bertindak secara independen untuk memutuskan
klasifikasi risiko yang dihadapi. Perlu diperhatikan bahwa pernyataan “tidak ada
dampak bahaya” adalah murni hipotetik (anggapan) karena suatu bahaya
pasti akan mengakibatkan dampak. Dalam kaitan ini pertanyaan yang relevan
adalah “berapa besar”, bukan pernyataan “jika terjadi maka …”.

Proses evaluasi harus dilakukan dalam dua skenario; pertama, evaluasi yang
mengabaikan efek-efek perubahan iklim, ENSO, rob, dan gelombang badai, dan
kedua, evaluasi yang memperhitungkan efek-efek dari fenomena alam tersebut.
Hal ini mungkin menghasilkan tingkat risiko yang berbeda untuk kedua jenis
skenario tersebut. Dengan pendekatan ini, risiko dapat diprioritaskan dan
perbedaan risiko dapat diperbandingkan.

Di samping itu, risiko akan berubah bergantung pada sejauh mana penilaian risiko
mempertimbangkan skenario-skenario masa datang. Keputusan perencanaan
perlu didasarkan pada risiko dengan memperkirakan perkembangan wiayah dan
pertumbuhan msayarkat di masa yang akan datang.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 38


Laporan Pendahuluan

Penilaian suatu risiko harus mencakup potensi kerusakan infrastuktur dan


lingkungan yang ada. Analisis ini akan mengevaluasi potensi nilai yang rusak atau
hilang akibat dampak suatu bahaya yang mana sering didasarkan pada harga
penggantian. Biasanya analisis ini didasarkan pada berbagai skenario bahaya dan
tingkat kerusakan yang ditimbulkan.

Estimasi potensi kehilangan akan memberikan prioritasi dalam melakukan


penanganan risiko. Kehilangan dapat diukur secara nyata (dalam acuan finansial)
atau juga tidak nyata (tak terukur dalam acuan finansial). Oleh karena itu
risiko harus dipresentasikan sebagai parameter kehilangan sehingga para
penentu keputusan dapat mengerti implikasinya.

Selanjutnya identifikasi dampak dan informasi mengenai risiko harus


didokumentasikan dengan baik. Meskipun suatu risiko terlihat tidak terlalu
penting untuk saat ini, namun pada suatu saat di masa depan dapat menjadi
sangat signifikan (misalnya beberapa isu berskala lokal tertentu yang
berkaitan dengan perubahan iklim). Metode yang umum dari dokumentasi
adalah melakukan tabulasi risiko.

Tahapan 5 : Penanganan Risiko


Dengan memiliki pemahaman yang baik pada implikasi dan risiko dari bahaya-
bahaya yang dipicu oleh perubahan iklim terhadap wilayah pesisir dan laut maka
tahapan berikutnya adalah menilai bagaimana seharusnya menanggapi risiko-
risiko ini dan dan mengelola risikonya (risk management).

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 39


Laporan Pendahuluan

1.6.5.2 Luaran Analisis Risiko

Hasil atau luaran dari analisis risiko ini utamanya adalah berupa:
 Tabulasi hasil analisis risiko hasil overlay antara bahaya dengan elemen-
elemen dasar kerentanan
 Tabulasi dan peta-peta dari kuantifikasi risiko dan potensi dampak
yang ditimbulkannya. Jenis estimasi kehilangan dapat juga ditabulasikan
dalam bentuk berikut:
 Kehilangan perumahan (bangunan, kepemilikan pribadi,
persediaan makanan, dsb.)
 Kehilangan komersial (pertokoan, bank, pasar, hotel, produk
makanan dan pasar, dsb.)
 Kehilangan pemakaian (jaringan listrik, air, telepon, fasilitas
irigasi, jalan desa, dsb.)
 Kehilangan sarana dan prasarana transportasi (permukaan jalan,
dermaga, bandara, jembatan, kendaraan, dsb.)
 Kehilangan bangunan publik (kehilangan kantor pemerintah,
bangunan ibadah, dsb)
Luaran dari kajian risiko ini dianalisis tingkat risikonya yang kemudian dijadikan
bahan untuk melakukan langkah-langkah penyusunan strategi adaptasi di
wilayah pesisir dan laut.

1.7 Struktur Laporan


Sistematika laporan pada studi ini disajikan dalam lima bab sebagai berikut:
BAB I: Menguraikan latar belakang, tujuan, sasaran, dan luaran, ruang lingkup
wilayah studi, kerangka umum serta metodologi secara umum mengenai adaptasi
terhadap perubahan iklim, serta kajian analisis bahaya, berupa kenaikan muka
laut, dan tsunami. Dalam bab ini juga dibahas tentang metoda kajian
kerentanan, dan risiko yang digunakan serta sistematika pelaporannya.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 40


Laporan Pendahuluan

BAB II: Bab ini memberikan perspektif mengenai gambaran umum, posisi
geografis dan kondisi geologis, sosio-ekonomi dan demografi serta kondisi fisik
atmosfer-laut di wilayah pesisir dan laut di sekitar Lokasi kegiatan.
BAB III: Memuat uraian tentang hasil analisis bahaya, kerentanan dan risiko
bencana yang akan ditimbulkan oleh perubahan iklim di Kabupaten Lampung
Selatan.
BAB IV: Memuat tentang konsep strategi adaptasi dan usulan program dan skala
prioritasnya.
BAB V : Penutup
Laporan ini juga dilengkapi dengan Daftar Pustaka serta Lampiran yang memuat
Tabel-Tabel hasil analisis potensi rendaman, kerentanan dan risiko di wilayah
pesisir Kabupaten Lampung Selatan.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 41


Laporan Pendahuluan

BAB 2. GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI

2.1 Letak dan Luas Wilayah


Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105o 14’ sampai dengan 105o
45’ Bujur Timur dan 5o 15’ sampai dengan 6o Lintang Selatan. Mengingat letak yang
demikian ini, daerah Kabupaten Lampung selatan seperti halnya daerah – daerah
lain di Indonesia merupakan daerah tropis. Kabupaten Lampung Selatan bagian
selatan meruncing dan mempunyai sebuah teluk besar yaitu Teluk Lampung. Di
Teluk Lampung terletak sebuah pelabuhan yaitu Pelabuhan Panjang, dimana kapal
– kapal dalam luar negeri dapat merapat. Secara umum , pelabuhan ini merupakan
faktor yang sangat penting bagi kegiatan ekonomi penduduk Lampung. Sejak
tahun 1982, Pelabuhan Panjang termasuk dalam wilayah Kota Bandar Lampung.

Daerah Kabupaten Lampung selatan mempunyai daerah daratan kurang lebih


adalah 210.974 Ha, dengan kantor Pusat Pemerintahan di Kota Kalianda, yang
diresmikan menjadi Ibukota Kabupaten Lampung Selatan oleh Menteri Dalam
Negeri pada tanggal 11 Februari 1982. Berdasarkan undang-undang Nomor 2
tahun 1997 tentang pembentukan Kabupaten Tanggamus, yaitu pemekaran dari
wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Pada tahun 2006, terjadi pemekaran
Kabupaten Pesawaran dari wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Kemudian pada
tahun 2008, terjadi pemekaran di Kabupaten Lampung Selatan yaitu, Kecamatan
Tanjung Sari, Way Sulan, Way Panji, dan Kecamatan Bakauheni, dengan demikian
jumlah Kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan secara eksisting berjumlah 17
kecamatan dan selanjutnya terdiri dari desa-desa dan kelurahan sebanyak 248
desa dan 3 kelurahan. Diprediksikan dalam waktu dekat akan terjadi pemekaran
kecamatan pada wilayah Kabupaten Lampung Selatan, khususnya pemekaran
Kecamatan Kalianda, Palas, dan Natar.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 42


Laporan Pendahuluan

Secara administrasi Kabupaten Lampung Selatan memiliki batas – batas sebagai


berikut :
 Sebelah Utara : berbatasan dengan wilayah Kab. Lampung Tengah dan
Lampung Timur
 Sebelah Selatan : berbatasan dengan Selat Sunda;
 Sebelah Barat : berbatasan dengan Kota Bandar Lampung dan Kabupaten
Pesawaran
 Sebelah Timur : berbatasan dengan Laut Jawa.

Pulau – pulau yang terdapat di Kabupaten Lampung Selatan antara lain pulau
Krakatau, pulau Sebesi, pulau Sebuku, pulau Legundi, pulau Siuncal, pulau Rimau
dan pulau Kandang. Wilayah Kabupaten Lampung Selatan dapat dilihat pada
Gambar 5, lokasi kajian dampak perubahan iklim disajikan pada Gambar 6.
Secara topografis wilayah ini dapat dibedakan menjadi 2 kategori, yaitu wilayah
dengan relatif datar yang sebagian besar berada di sepanjang pesisir, wilayah
berbukit dan gunung yang merupakan wilayah pegunungan Rajabasa.
2.2 Geologi
Dari segi geologi daerah Kabupaten Lampung Selatan terdiri dari bagian-bagian
sebagai berikut:
a. Sebagian besar berbatuan endesit, ditutupi turfazam. Batuan endapan
meluas ke timur sampai sekitar jalan kereta api arah menuju Kotabumi,
keadaan tanah bergelombang sampai berbukit.
b. Pegunungan vulkanis muda.
c. Daratan bagian timur yang termasuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan
tidak begitu luas, berbatuan endesit ditutupi turfazam.
d. Dataran alluvial berawa-rawa dengan pohon Bakau.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 43


Laporan Pendahuluan

Gambar 5 Peta Administrasi Kabupaten Lampung Selatan

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 44


Laporan Pendahuluan

Gambar 6. Peta Lokasi Daerah Kajian Dampak Perubahan Iklim

2.3 Pesisir dan Perairan Pantai

Wilayah pesisir merupakan pertemuan antara wilayah laut dan wilayah darat,
dimana daerah ini merupakan daerah interaksi antara ekosistem darat dan
ekosistem laut yang sangat dinamis dan saling mempengaruhi. Wilayah pesisir
sangat rentan terhadap dampak dari trend perubahan iklim yang dapat
memicu bahaya seperti: kenaikan muka laut (Sea Level Rise, SLR) dan variabilitas
musiman (ENSO, gelombang badai, dan kejadian ekstrim laut lainnya), demikian
juga sangat rentan terhadap aktivitas manusia baik di darat maupun di laut,
sehingga dalam pengelolaannya tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Hasil interaksi parameter-parameter darat-laut-atmosfer menciptakan


ekosistem pesisir yang memiliki karakteristik tersendiri, seperti ekosistem
mangrove, estuari, terumbu karang dan padang lamun.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 45


Laporan Pendahuluan

 Ekosistem hutan mangrove mempunyai potensi ekologis yang


berperan dalam mendukung keberadaan lingkungan fisik dan biota. Secara
fisis hutan mangrove berperan sebagai penahan ombak, penahan
angin, pengendali banjir, penetralisir pencemaran, perangkap sedimen dan
penahan intrusi air asin. Sedangkan peranannya dalam lingkup biota
adalah sebagai tempat persembunyian dan berkembangbiaknya berbagai
macam biota air.
 Ekosistem estuari adalah suatu badan air semi tertutup (seperti: muara
sungai), yang berhubungan bebas dengan laut lepas, dimana air laut
bercampur dengan air tawar yang berasal dari sungai atau drainase
daratan. Ekosistem ini sangat produktif dan penting dalam menjaga
kelestarian sumber daya perikanan.
 Ekosistem terumbu karang dan padang lamun umumnya terdapat di
perairan pantai yang bersih dan jernih, jauh dari muara sungai besar atau
estuari. Terumbu karang ini berfungsi sebagai tempat ikan dan binatang
laut lainnya tumbuh dan berkembang-biak. Disamping itu memiliki
fungsi fisis yang dapat mereduksi energi gelombang.

Kedalaman perairan akan sangat berpengaruh terhadap karakteristik gelombang.


Energi gelombang yang terbangkitkan dengan fletch yang panjangnya dapat
mencapai ribuan kilometer akan habis terendam pada daerah di dekat pantai.
Pengubahan energi ini sangat dipengaruhi oleh gesekan dari dasar laut (bottom
friction). Dasar perairan, terutama pada perairan dangkal, juga dapat
memperlambat perambatan gerakan pasang, sehingga suatu tempat dapat
memiliki lunitidal interval yang besar.

Pasang surut didefinisikan sebagai proses naik turunnya muka laut yang hampir
teratur, dibangkitkan terutama oleh gaya tarik bulan dan matahari. Karena posisi
bulan dan matahari terhadap bumi selalu berubah secara hampir teratur, maka

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 46


Laporan Pendahuluan

besarnya kisaran pasut juga berubah mengikuti perubahan posisi-posisi tersebut.


Pengelompokan pasut berdasarkan komponennya dapat dibedakan atas:
komponen pasut harian (diurnal), pasut tengah harian (semi diurnal), dan
perempat harian (quarternal).

Teluk Lampung merupakan perairan dangkal dengan kedalaman sekitar 25 m. di


mulut teluk kedalaman rata-rata berkisar pada 35 m dengan kedalaman
maksimum 75 m di sekitar Selat Legundi yang terletak di sebelah barat laut mulut
teluk. Menuju ke arah utara (Teluk Betung) kedalaman perairan mendangkal
hingga isobath 5 m pada jarak yang relatif dekat dengan garis pantai.

Kecamatan yang memiliki kawasan pesisir adalah Kecamatan Ketibung,


Sidomulyo, Kalianda, Rajabasa, Bakauheni, Ketapang dan Kecamatan Sragi,
sedangkan panjang garis pantai Kabupaten Lampung Selatan mencapai ± 247,76
Km. Kisaran muka laut rata-rata di Teluk Lampung mencapai sekitar 88,02 cm.
Kisaran pasut yang besar terjadi pada waktu pasut purnama (116,25 cm). Pasut
purnama adalah pasang yang tertinggi dan surut terendah yang dialami oleh suatu
perairan yang terjadi pada waktu bulan purnama ataupun bulan mati. Pada saat
pasang purnama tinggi muka laut di Teluk Lampung dapat mencapai 150 cm
dengan rata-rata 141,25 cm. Pasut perbani terjadi pada saat bulan separuh (bulan
tegak lurus terhadap posisi matahari dan bumi), dimana kisaran pasutnya paling
rendah (rata-rata 0 cm).

2.4 Kependudukan
Jumlah penduduk di Kabupaten Lampung Selatan setiap tahunnya mengalami
peningkatan.Pada tahun 2010 jumlah penduduk di Kabupaten Lampung Selatan
adalah 985.075 jiwa, sedangkan Jumlah penduduk terbesar terdapat di Kecamatan
Natar dan yang terkecil di Kecamatan Bakauheni, yaitu 179.552 jiwa dan 21.188,
dengan demikian konsentrasi penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Natar.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 47


Laporan Pendahuluan

Hal ini di karenakan Kecamatan Natar memiliki akses yang mudah, dekat dengan
Kota Bandar Lampung dan memiliki prasarana dan sarana yang cukup memadai,
sehingga asumsi pertumbuhan penduduk selalu meningkat setiap tahunnya dan
memiliki jumlah penduduk terbanyak. Sedangkan di kecamatan lain di Kabupaten
Lampung Selatan kurang begitu strategis lokasinya dan jauh dari pusat Kota
Bandar Lampung, sehingga masyarakat banyak ingin tinggal di dekat pusat kota.
Tabel 8 Jumlah Penduduk Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2010
No Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa)
1 Natar 179.552
2 Jati Agung 99.650
3 Tanjung Bintang 71.750
4 Tajung Sari 29.787
5 Katibung 65.305
6 Way Sulan 25.936
7 Merbau Mataram 53.448
8 Sidomulyo 66.238
9 Candipuro 55.121
10 Way Panji 17.434
11 Kalianda 86.876
12 Rajabasa 26.073
13 Palas 59.357
14 Sragi 35.749
15 Penengahan 42.044
16 Ketapang 49.568
17 Bakauheni 21.188
Jumlah 985.075
Sumber : Lampung Selatan Dalam Angka, 2010

Kepadatan penduduk di Kabupaten Lampung Selatan masih terkonsentrasi di


wilayah utara yang dekat dengan pusat Kota Bandar Lampung, yaitu di Kecamatan
Natar. Apabila dilihat tingkat kepadatan penduduk, maka kecamatan yang
memiliki kepadatan terbesar di Kabupaten Lampung Selatan terdapat di
Kecamatan Natar sebesar 7 jiwa/Ha dan terkecil di Kecamatan Raja Basa sebesar
2 Jiwa/Ha. Sedangkan untuk distribusi penduduk di Kabupaten Lampung Selatan

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 48


Laporan Pendahuluan

masih terkonsentrasi di Kecamatan Natar sebesar 18 % dan distribusi penduduk


yang terkecil adalah Kecamatan Way Panji dan Bakauheni, yaitu 2%.

2.5 Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir


Jumlah Sekolah Dasar (SD) pada tahun 2008 sebesar 477 sekolah, dimana
471sekolah negeri dan 6 sekolah swasta.Jumlah murid SD sebanyak 108.644
orang,dengan jumlah guru sebanyak 4.186 orang.Jumlah SLTP di Kabupaten
LampungSelatan sebanyak 139 (51 SLTP negeri, 88SLTP swasta), dengan jumlah
murid 29.712 orang dan jumlah guru 2.171 orang.Sedangkan untuk SMU
banyaknya sekolah36 (10 SMU negeri dan 26 SMU swasta),dengan jumlah murid
10.822 orang danjumlah guru 425 orang.Jumlah sekolah SMK ebanyak 30 (6SMK
negeri, 24 SMK swasta). Jumlahmurid sebanyak 8.087 orang, denganjumlah guru
ebanyak 363 orang.Sedangkan banyaknya lembaga pendidikanIslam di Kabupaten
Lampung Selatan pada tahun 2008 terinci menjadi 37 RA, 126Ibtidaiyah, 85
Tsanawiyah, dan 30 Aliyah.Banyaknya keanggotaan pramukadewasa Kwarcab
Lampung Selatan padatahun 2008 adalah 4.610 laki-laki dan2.951 perempuan,
dengan jumlah anakdidik sebanyak 95.912 laki-laki dan 93.902perempuan.
Tabel 9 Fasilitas Pendidikan yang tersedia di Kabupaten Lampung Selatan
No. KECAMATAN NEGERI SWASTA PT
TK SD SLTP SLTA TK SD SLTP SLTA
1 Natar - 58 6 2 35 3 18 13 -
2 Jati Agung - 44 5 1 14 1 13 11 -
3 Tanjung Bintang 1 38 3 1 18 1 10 5 -
4 Tanjung Sari - 15 2 1 4 - 4 2 -
5 Katibung - 30 2 1 4 - 4 1 -
6 Merbau Mataram - 29 2 1 5 - 5 2 -
7 Way Sulan - 8 - - - 1 3 4 -
8 Sidomulyo - 34 4 1 9 - 6 4 -
9 Candipuro - 25 3 1 1 - 7 3 -
10 Way Panji - 9 - - 5 - 3 - -
11 Kalianda 1 42 7 4 9 - 5 7 5
12 Rajabasa - 16 2 - 1 - 2 - -
13 Palas - 38 4 1 3 - 2 1 -
14 Sragi - 19 3 1 3 - 1 1 -
15 Penengahan - 30 2 1 5 - 3 2 -
16 Ketapang - 27 3 1 3 - 1 2 -
17 Bakauheni - 9 3 1 2 1 1 1 -
Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 49


Laporan Pendahuluan

Tabel 10 Jumlah Penduduk miskin per kecamatan


No. KECAMATAN Keluarga (KK)
PS KS I KS II KS III KS III Plus
1 Natar 14.362 9.494 8.907 5.871 398
2 Tanjung Bintang 7.046 5.841 4.208 1.430 199
3 Katibung 8.787 3.353 1.971 1.245 216
4 Kalianda 9.575 4.505 3.053 2.853 239
5 Penengahan 4.840 1.896 1.504 1.564 52
6 Palas 8.928 4.270 1.780 560 24
7 Sidomulyo 8.287 3.225 1.419 2.299 176
8 Jati Agung 8.836 4.873 4.781 3.625 60
9 Merbau Mataram 5.710 2.923 2.737 777 155
10 Rajabasa 3.017 1.891 642 386 -
11 Ketapang 5.419 1.850 3.224 1.833 38
12 Sragi 4.539 1.697 2.429 815 88
13 Candipuro 6.436 3.612 2.658 1.546 21
14 Bakauheni 2.226 1.080 586 309 55
15 Tanjung Sari 3.526 2.624 1.964 548 44
16 Way Sulan 2.581 1.716 1.397 121 1
17 Way Panji 2.515 968 861 264 18
J U M L A H 106.635 55.818 44.121 25.846 1.784
Keterangan : PS = Pra Sejahtera ; KS = Keluarga Sejahtera
Sumber : BKBPK Kabupaten Lampung Selatan

2.6 Iklim Atmosfer-Laut dan Kondisi Oseanografi


Iklim di Kabupaten Lampung Selatan sama halnya dengan daerah lain di Indonesia.
Iklimnya dipengaruhi oleh adanya pusat tekanan rendah dan tekanan tinggi yang
berganti di daratan sentra Asia dan Australia pada bulan Januari dan Juli. Akibat
pengaruh angin Muson, maka daerah Lampung Selatan tidak terasa adanya musim
peralihan (pancaroba) antara musim kemarau dan musim hujan.

2.6.1 Pola Curah Hujan dan Limpasan Air Permukaan


Fluktuasi curah hujan di setiap daerah wilayah Lampung bebeda-beda
berdasarkan karakteristik tipe iklim yang dimilikinya. Berdasarkan hal tersebut
telah dilakukan analisis tipe iklim menurut Oldeman yang ditentukan oleh
besarnya kisaran curah hujan bulanan yang jatuh pada suatu areal pertanian.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 50


Laporan Pendahuluan

Dalam hal ini digunakan asumsi penggunaan lahan sawah tadah hujan pada
umumnya tanpa melihat faktor irigasi sebelumnya.

Provinsi Lampung secara umum beriklim tropis. Pada bagian barat Lampung
bertipe A dan B sedangkan bagian timur lampung bertipe C,D dan E ( tipe iklim
Oldeman ) untuk pola musimnya pada umumnya berpola monsunal, dimana
terdapat perbedaan yang nyata antara musim penghujan dan kemarau serta
mempunyai 1 (satu) puncak musim.

Gambar 7. Pola Curah Hujan Rata-rata Dalam Kurun Waktu Yang Berbeda

Secara umum, perubahan pola curah hujan dan limpasan air tawar dapat
mengakibatkan beberapa dampak penting antara lain:
a. Perubahan siklus hidrologi (penguapan, presipitasi, aliran)
b. Pengaruh pada ketersediaan air di pesisir dan Pulau-Pulau kecil
c. Perubahan ekosistem dan komunitas di pesisir dalam berbagai cara
d. Perubahan transpor sedimen, nutrien, dan zat-zat yang terkontaminasi
(polutan)

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 51


Laporan Pendahuluan

e. Perubahan sirkulasi dan perlapisan massa air estuari, lahan basah, dan
paparan benua

2.6.2 Angin, Suhu Udara dan Suhu Permukaan Laut


Proses interaksi laut dan atmosfer terjadi dalam berbagai skala waktu untuk
mengontrol baik temperatur udara maupun temperatur muka laut. Skala
waktu ini bermacam-macam mulai dari variasi harian (siang-malam, air
pasang-air surut) hingga fluktuasi skala antara dekade (10 tahunan) dan abad
(100 tahunan). Fluktuasi skala sangat panjang tersebut dapat diamati dengan
menganalisis tren dari data suhu yang cukup panjang.

Gambar 8. Distribusi dan frekuensi arah dan kecepatan angin dalam kurun waktu
10 tahun (2001 – 2011).

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 52


Laporan Pendahuluan

Arah angin masukan pada bulan Januari angin bertiup dominan dari arah
barat, bulan Februari – Mei dominan dari arah barat laut, sedangkan pada bulan
Juli dan Agustus angin dominan dari arah tenggara. Pola angin dominan di Teluk
Lampung adalah dari Barat (Nopember- Januari), dari Utara (Maret-Mei), Timur
(Juni – Agustus), dan Selatan (September – Oktober). Pariwono (1998)
menyebutkan arah angin dominan pada Bulan Desember – Februari adalah dari
Barat – Barat laut – Utara, pada Bulan Maret Mei dari Barat Laut, Bulan Juni –
Agustus dari Tenggara dan Bulan September – Nopember dari Tenggara hingga ke
Timur.

Gambar 9. Pola sebaran Suhu permukaan Laut selama Kurun Waktu Yang Berbeda

2.6.3 Arus, Pasang Surut dan Tinggi Muka Laut


Arus laut adalah fenomena berpindahnya massa air dari suatu tempat ke
tempat lain. Arus ini sangat berperan aktif dalam mempengaruhi proses-
proses biologi, kimia dan fisika dalam spektrum ruang dan waktu yang terjadi di
laut. Perairan selat di Indonesia sangat dipengaruhi oleh Arus Lintas Indonesia
(Arlindo) yang membawa massa air hangat dari Samudera Pasifik menuju

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 53


Laporan Pendahuluan

Samudera Hindia sepanjang tahun. Hanya pada masa peralihan musim di


bulan April-Mei dan November-Desember arus yang bergerak ke Selatan
berbalik ke Utara karena pengaruh masuknya gelombang Kelvin dari ekuator
Samudera Hindia (Sprintall, et al., 1999).

Gambar 10. Pola Arus dan Tinggi Muka Laut Pada Musim Barat Saat Menjelang
Pasang dan Menjelang Surut.

Gambar 11. Pola Arus dan Tinggi Muka Laut Pada Musim Timur Saat Menjelang
Pasang (atas) dan Menjelang Surut (Bawah).

Pola arus (Gambar 10 dan 11) lebih dominan bergerak ke arah barat-timur
atau utara-selatan daripada ke arah dasar-permukaan kolom air. Magnitudo arus
maksimum terjadi pada bulan Januari sedangkan magnitudo arus minimum terjadi
pada bulan Mei. Secara umum arus memasuki wilayah teluk di bagian barat teluk
di sekitar daerah Tanjung Tikus dan sebagian keluar lagi dari bagian timur di sekitar
daerah Canti. Sebagian arus juga masuk dan keluar melalui bagian tengah mulut

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 54


Laporan Pendahuluan

teluk, dan cenderung berputar berlawanan arah jarum jam ketika mendekati
kepala teluk di sekitar Pulau Tegal. Pola arus ini menyebabkan sebagian besar
material daratan yang terbawa aliran sungai yang berada di kepala teluk
cenderung berputar-putar disekitar kepala teluk, sedangkan material dari daratan
di sekitar Pelabuhan Panjang akan terbawa keluar teluk sepanjang sisi timur teluk
(Efendi, 2011).

(Koropitan, 2003) menyatakan bahwa magnitudo arus pasut pada saat menuju
surut mencapai ~0.1 m/s pada pasang purnama dan ~0.06 m/s pada saat pasang
perbani, sedangkan hasil simulasi yang dilakukan oleh (Miharja, et al., 1995)
menujukan pola arus yang sama dengan magnitudo maksimum mencapai 0.05 m/s
untuk semua kondisi pasut. Sementara (Widhi, et al., 2012) menyatakan
Kecepatan massa air yang berasal dari Selat Sunda berkisar antara 0.09 – 0.02
meter/detik, masuk kedalam Teluk Lampung kecepatan arus kisaran 0.021 - 0.018
meter/detik. Semakin masuk menjauh kearah utara kecepatan arus semakin
berkurang hingga mencapai ujung utara Teluk Lampung memiliki kisaran
kecepatan 0.0028 meter/detik.

Analisis data pasang surut dilakukan dari hasil pengamatan selama 15 hari yang
berlokasi di Pelabuhan Panjang (Gambar 12) dilakukan menggunakan metode
analisis harmonik. Dari hasil analisis data pasang surut didapatkan komponen
pasang surut yang disajikan dalam Tabel 11. Komponen pasang surut yang telah
didapatkan digunakan untuk mengetahui tipe pasang surut yang terjadi dengan
menghitung bilangan Formzahl. Pengolahan data pasang surut Perairan Teluk
Lampung diperoleh bilangan Formzahl sebesar 0.625, dengan nilai bilangan
Formzahl tersebut maka tipe pasang surut di perairan Teluk Lampung masuk
dalam kisaran 0.25 < F < 1.5, maka dikategorikan memiliki tipe pasang surut
Campuran dominan Ganda.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 55


Laporan Pendahuluan

Tabel 11 Komponen Pasang Surut


Parameter M2 S2 N2 K1 O1
Amplitudo 0.305 0.119 0.065 0.214 0.093
Fase 158.07 289.92 32.23 261.23 209.63
Frekuensi 1.9323 2.000 1.8960 1.0027 0.9295

Gambar 12. Analisis Pasang Surut selama 15 Hari Pengamatan (Widhi, et al., 2012)

2.6.4 El Nino, La Nina dan Indian Osean Dipole (IOD)

Pusat prakiraan iklim Amerika (Climate Prediction Center) mencatat bahwa sejak
tahun 1950, telah terjadi setidaknya 22 kali fenomena el-nino, 6 kejadian di
antaranya berlangsung dengan intensitas kuat yaitu 1957/1958, 1965/1966,
1972/1973, 1982/1983, 1987/1988 dan 1997/1998. Intensitas el-nino secara
numerik ditentukan berdasarkan besarnya penyimpangan suhu permukaan laut di
samudra pasifik equator bagian tengah. Jika menghangat lebih dari 1.5 oC, maka
el-nino dikategorikan kuat.

Sebagian besar kejadian-kejadian el-nino itu, mulai berlangsung pada akhir musim
hujan atau awal hingga pertengahan musim kemarau yaitu Bulan Mei, Juni dan
Juli. El-nino tahun 1982/1983 dan tahun 1997/1998 adalah dua kejadian el-nino
terhebat yang pernah terjadi di era modern dengan dampak yang dirasakan secara
global. Disebut berdampak global karena pengaruhnya melanda banyak kawasan
di dunia. Amerika dan Eropa misalnya, mengalami peningkatan curah hujan

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 56


Laporan Pendahuluan

sehingga memicu bencana banjir besar, sedangkan Indonesia, India, Australia,


Afrika mengalami pengurangan curah hujan yang menyebabkan kemarau panjang.

Gambar 13. South Oscilation Index dan Dipole Mode Index yang menggambarkan
kejadian El Nino, La Nina dan IOD+ serta IOD-

Tahun 2014, fenomena el-nino diperkirakan kembali terjadi. Kejadian-kejadian el-


nino juga dipengaruhi oleh intensitas (kuat-lemah) dan durasi berlangsungnya el-
nino. Semakin kuat dan lama el-nino terjadi, semakin kuat dampaknya terhadap
iklim di Indonesia khususnya curah hujan.Pada kasus el-nino dengan intensitas
lemah-sedang, untuk Bulan Juli - Agustus, el-nino akan berdampak pada
pengurangan curah hujan dengan kisaran 40 - 80 % (dibanding normalnya)
terutama dirasakan di sebagian Sumatera, Jatim-Bali-NTB-NTT, sebagian
Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan sebagian Papua. Sementara pada Bulan
September - Oktober, dampak el-nino akan semakin parah ditandai dengan
semakin luasnya area yang mengalami pengurangan curah hujan, meliputi seluruh
Sumatera kecuali aceh, seluruh Jawa, Bali-NTB-NTT, sebagian besar Kalimantan,
seluruh Sulawesi, Maluku dan sebagian besar Papua. Pada daerah NTB, NTT dan

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 57


Laporan Pendahuluan

Sulawesi Tenggara bahkan curah hujan bisa berkurang hingga 20 - 40 % dari


normalnya (Gambar 13).

Gambar 14. Daerah terdampak jika terjadi el-nino lemah-sedang, dinyatakan


dalam prosentasi hujan terhadap normalnya. (sumber: Global
Precipitation Climatology Center – GPCC).

Sementara pada kejadian el-nino kuat, kejadian curah hujan di bawah normal
melanda wilayah yang lebih luas. Wilayah-wilayah yang tidak terdampak oleh el-
nino lemah-sedang seperti Sumbar, Bengkulu dan Kalbar, akan terkena pengaruh
el-nino kuat. Di beberapa wilayah seperti Sumsel, Babel, Lampung, Jateng, Jatim,
Bali-NTB-NTT, Kalsel, Sulsel, Sultra, Maluku dan sebagian Papua bahkan curah
hujan hanya turun dalam kisaran 10-30 % dibanding normalnya, terutama pada
Bulan September dan Oktober (Gambar 14).

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 58


Laporan Pendahuluan

Gambar 15. Daerah terdampak jika terjadi el-nino kuat, dinyatakan dalam
prosentasi hujan terhadap normalnya (sumber: Global Precipitation
Climatology Center – GPCC).

(Mulyana, 2002) menyatakan bahwa penurunan curah hujan di Indonesia akibat


El Nino paling kuat terdapat di daerah Sumatra bagian selatan, Jawa, Kalimantan,
Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, serta Irian
Jaya yang berlangsung pada bulan September- Oktober- Nopember (Gambar 15).
Pada bulan tersebut umumnya merupakan masa peralihan dari musim kemarau
ke musim hujan. Berkurangnya curah hujan tersebut diduga akibat terbentuknya
daerah divergen di lapisan bawah, dengan demikian terjadi aliran udara turun
sehingga akan sulit terjadi hujan. Curah hujan sepanjang tahun di Sumatra
terutama di sebelah utara equator tidak terkait dengan kejadian El Nino.

Sementara hasil penelitian (Efendi, et al., 2013) dari analisis transformasi wavelet
kontinu, koherensi maupun transformasi silang diperoleh kesimpulan bahwa pola
curah hujan di wilayah lampung sangat dipengaruhi oleh pengaruh musiman atau
adanya pengaruh WNPMI dibandingkan dengan pengaruh DMI dan SOI, akan
tetapi arah fase yang berlawanan menunjukkan adanya pola pergantian pengaruh

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 59


Laporan Pendahuluan

yang terjadi. DMI berpengaruh pada periode 6 bulanan, sedangakan SOI (El-Nino
atau La Nina) berpengaruh pada fase 12 bulanan.

2.6.5. Gelombang Laut

Gelombang merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat berpengaruh


terhadap ekosistem yang berada di daerah pesisir pantai dan laut. Pengertian
gelombang sesungguhnya sangat sulit untuk didefenisikan, mengingat begitu
kompleksnya proses-proses yang berlangsung dan begitu banyaknya faktor
lingkungan yang terlibat. Namun secara sangat sederhana dapat dikatakan bahwa
gelombang adalah merupakan rambatan atau perpindahan energi melalui badan
air. Pada umumnya, kondisi gelombang di suatu perairan diperoleh secara tidak
langsung dari data angin yang terdapat di kawasan perairan tersebut. Hal ini
didasari atas kondisi umum yang berlaku di laut, yaitu sebagian besar gelombang
yang ditemui di laut dibentuk oleh energi yang ditimbulkan oleh tiupan angin.
Gelombang jenis ini dikenal sebagai gelombang angin. Kuat lemahnya gelombang
ini dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu kecepatan angin, lamanya angin berhembus
(duration), dan jarak dari tiupan angin pada perairan terbuka (fetch).

Kondisi gelombang di perairan daerah kepala Teluk Lampung diketahui bahwa


gelombang besar di perairan sekitar Panjang terjadi pada bulan-bulan Juni -
November. Tinggi gelombang yang ditemui di perairan tersebut berkisar antara
0,50 - 1,00 m3. Pengaruh energi gelombang yang sampai ke pantai jika tidak
mengalami peredaman akan mengakibatkan terjadinya abrasi. Naiknya
permukaan laut dan degradasi habitat mangrove, lamun dan terumbu karang akan
semakin memperparah pengaruh kerusakan yang diakibatkan oleh energi
gelombang yang datang. Pengelolaan bangunan pantai yang tanpa perencanaan
yang matang juga akan semakin memperparah dampak yang ditimbulkan.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 60


Laporan Pendahuluan

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 16. Sebaran Tinggi Gelombang Signifikan Pada Tahun 2014 Periode (a)
Januari-Maret, (b) April-Juni,(c) Juli-September, dan (d) Oktober –
Desember.

Gelombang signifikan (Gambar 16) yang menjalar di perairan Teluk Lampung


dominan berasal dari arah barat laut yaitu berasal dari Samudera Hindia karena
daerah yang luas sehingga fetch efektik akan terjadi. Kondisi ini terjadi karena
rerairan di sekitar Selat Sunda juga memperlihatkan pola sebaran gesekan angin
permukaan yang berbeda secara musiman. Secara keseluruhan sebaran gesekan
angin komponen sejajar pantai cenderung homogen dari bulan Desember - April
dan mengalami peningkatan pada bulan Mei – November. Pola sebaran gesekan
angin komponen sejajar pantai menunjukkan melemahnya gesekan angin dari
barat daya ke arah Selat Sunda. Secara umum, gesekan angin komponen sejajar

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 61


Laporan Pendahuluan

pantai lebih kuat terjadi pada bulan Agustus – Oktober. Sebaran gesekan angin
komponen tegak lurus pantai di perairan ini memiliki variasi sebaran barat laut –
tenggara inilah yang bertanggung jawab terhadap pembangkitan gelombang.

Vegetasi pantai memiliki peran yang sangat penting sebagai pencegah abrasi.
Tumbuhan pantai umumnya memiliki akar yang panjang dan kuat sehingga
mampu menahan substrat dari hempasan gelombang ( (Desai, 2000). Demikian
pula saat timbulnya tsunami, vegetasi pantai memiliki kemampuan untuk
meredam energi gelombang yang sangat besar. Efektifitas peredaman energi
gelombang oleh vegetasi pantai sifatnya relatif dan ditentukan oleh banyak faktor.
Kerapatan vegetasi, ketebalan vegetasi dari pantai ke arah darat, topografi pantai,
karakteristik substrat serta kondisi ekosistem terumbu karang dan lamun sangat
menentukan efektifitas vegetasi pantai dalam meredam gelombang. Efektifitas
peredaman energi gelombang oleh vegetasi pantai umumnya berkisar antara 0 –
30 % . Namun pada daerah pantai yang sama sekali tidak terjamah oleh manusia
(alami) dengan kondisi ekosistem terumbu karang, lamun dan tutupan vegetasi
pantai yang sangat baik maka efektifitas peredaman energi gelombang dapat
mencapai 90 %. Efektifitas peredaman energi gelombang oleh vegetasi pantai juga
bergantung pada kemampuan vegetasi pantai untuk mereduksi energi angin. Pada
kondisi alami, zonasi yang utuh dari vegetasi pantai memiliki kemampuan untuk
membelokkan arah angin ke atas, sehingga mencegah tumbangnya pohon besar
yang berada di tengah pulau. Dengan demikian, bentuk zonasi vegetasi pantai
yang utuh juga memiliki peran secara tidak langsung dalam mencegah abrasi
(Desai, 2000). Selain sebagai peredam abrasi, vegetasi pantai juga memiliki fungsi
sebagai penahan intrusi air laut, penjebak zat hara, mereduksi energi angin dan
badai

2.6.6. Tsunami

Tsunami merupakan tipe gelombang panjang, yang diakibatkan oleh gempa


tektonik, gempa vulkanik, hantaman benda kosmik ataupun longsoran sehingga

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 62


Laporan Pendahuluan

menyebabkan disposisi air secara vertikal dalam jumlah besar. Istilah Tsunami
berasal dari Bahasa Jepang, yaitu tsu yang berarti pelabuhan dan nami yang berarti
gelombang, yang mulai digunakan sejak Tahun 1963. Pada masa lampau, istilah
tsunami sering digunakan untuk menyebut fenomena alam pasang-surut. Namun
demikian, arti ini dirasakan tidak lagi cocok karena fenomena pasang-surut
(astronomical tide) disebabkan oleh gaya traksi antara Bumi dan benda-benda di
angkasa terutama Bulan dan Matahari.

Gempa merupakan sumber utama terjadinya tsunami,gunjangan gempa tersebut


mengakibatkan penjalaran gelombang tsunami. Pada daerah Selat Sunda tingkat
kegempaan sangat tinggi, sehingga bisa menyebabkan terjadinya gelombang
tsunami akibat guncangan gempa yang bisa menghancurkan kawasan pantai di
sekitarnya.beberapa faktor yang berpengaruh terhadap besaran tsunami adalah:
kekuatan sumber tsunami, penjalaran tsunami, variasi arah, konfigursi bentuk
pantai, topografi daratan sebagai efek dari tsunami serta kecepatan pergeseran
lempeng bumi sebagai sumber gempa.

(Naryanto, 2003) membagi wilayah selat sunda menjadi lima kawasan rawan
tsunami yaitu zona I (merak), zona II ( Anyer-Carita), Zona III (Bandar Lampung),
Zona IV (Kalianda, dan Zona V (Labuan). Sumber utama pembangkit tsunami di
kawasan Selat Sunda adalah gempa bumi, Letusan Anak gunung Krakatau, dan
Longsoran bawah laut.Kondisi eluk Lampung yang menyempit akan mempercepat
penjalaran gelombang tsunami, sehingga dampaknya akan lebih merusak.
Sementara menurut Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral, Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, membagi kawanan di perairan Teluk
Lampung menjadi tiga zona, yaitu zona kerawanan rendah, sedang dan tinggi.
Sementar untuk daerah kajian di Kalianda dan sekitarnya merupakan daerah yang
juga cukup rawan terhadap bahaya tsunami (Gambar 17).

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 63


Laporan Pendahuluan

Gambar 17. Peta lokasi kawasan rawan bencana tsunami (sumber:Kementrian


Energi dan Sumberdaya Mineral).

2.7 Tata Ruang Wilayah dan Daerah Rawan Bencana

2.7.1 Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten


 mengakomodasi kebijakan penataan ruang wilayah nasional dan kebijakan
penataan ruang wilayah provinsi yang berlaku pada wilayah kabupaten
bersangkutan;
 jelas, realistis, dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu
perencanaan pada wilayah kabupaten bersangkutan;
 mampu menjawab isu-isu strategis baik yang ada sekarang maupun yang
diperkirakan akan timbul di masa yang akan datang; dan
 tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 64


Laporan Pendahuluan

Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten merupakan arah tindakan yang


harus ditetapkan untuk mencapai tujuan penataan ruang wilayah kabupaten.
Kebijakan pembangunan penataan ruang wilayah kabupaten adalah :
(1) pengembangan kawasan budidaya berbasis sumberdaya alam dan
pengembangan agropolitan dengan tetap mempertimbangkan dan
mengindahkan kondisi daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
(2) penciptaan peluang investasi pada kegiatan industri;
(3) penguatan fungsi lindung kawasan lindung secara berkesinambungan dan
terintegrasi;
(4) pengembangan kegiatan pariwisata yang berbasis pada potensi wisata
alam;
(5) penataan sistem perkotaan dan pusat distribusi yang mampu memacu
pertumbuhan wilayah;
(6) penguatan pelayanan prasarana dan sarana wilayah yang mampu
meningkatkan kondisi investasi dan perekonomian wilayah; dan
(7) peningkatan fungsi kawasan untuk keamanan dan pertahanan Negara.

2.7.2 Kawasan Rawan Bencana Alam


Kawasan rawan bencana, merupakan kawasan yang berpotensi tinggi mengalami
bencana alam seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, longsor, banjir,
kekeringan, tsunami dan sebagainya. Beberapa kawasan yang rawan terhadap
bencana tersebut hendaknya dijadikan kawasan lindung dan aktivitas pada
kawasan tersebut dibatasi agar jatuhnya korban akibat bencana alam dapat
diminimalisir.

Beberapa jenis bencana yang terdapat di Kabupaten Lampung selatan adalah:


a. kawasan rawan banjir berada di Kecamatan Natar, Kecamatan Way Sulan,
Kecamatan Candipuro, Kecamatan Palas, Kecamatan Sragi, dan Kawasan Way
Panji dengan luas kurang lebih 14.000 Hektar. Terjadinya Bencana Banjir ini
sering merugikan masyarakat terutama petani, mengingat banjir yang terjadi

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 65


Laporan Pendahuluan

kerap kali menggenangi sawah. Terjadinya banjir ini dikarenakan terjadinya


deforestasi pada areal tangkapan air, dan juga terjadinya sedimentasi pada
saluran irigasi teknis, sehingga terjadi pendangkalan. Pada Kecamatan Natar,
terjadinya banjir juga diakibatkan karena adanya luapan sungai. Dengan
demikian untuk penanganan masalah banjir, perlu adanya koordinasi lanjut
untuk mengoptimalkan fungsi areal tangkapan DAS way Sekampung dan juga
normalisasi saluran drainase dan irigasi.
b. kawasan rawan tsunami berada di kecamatan Katibung, Kecamatan
Sidomulyo, Kecamatan Kalianda, Kecamatan Rajabasa, Kecamatan Ketapang
dan Kecamatan Bakauheni dengan luas kurang lebih 1983 Hektar. Bencana ini
cenderung terjadi pada kawasan pesisir dan pulau – pulau kecil. Selain
menetapkan garis sempadan pantai yang, aktivitas pada kawasan ini harus
diminimalisir atau dibatasi. Sebagai upaya antisipasi perlu adanya penyusunan
rencana induk evakuasi bencana tsunami kabupaten, rencana pemasangan
early warning system di daerah pesisir pantai. Pembangunan pemecah ombak
pun setidaknya dapat membantu mengurangi gelombang pasang jika terjadi
tsunami.
c. kawasan rawan longsor berada di Kecamatan Rajabasa, Kecamatan Katibung,
dan Kecamatan Bakauheni.
d. Kawasan rawan bencana Gunung Api Krakatau berada di Kecamatan Bakauheni,
Kecamatan Rajabasa, dan Kecamatan Ketapang.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 66


Laporan Pendahuluan

DAFTAR ACUAN

Allen Consulting Group. (2005). Climate Change Risk and Vulnerability, Promoting
an efficient adaptation responsein Australia. Australian Greenhouse Office,
Department of the Environment and Heritage .
Desai, K. N. (2000). Dune vegetation : need for reappraisal. Coastin. A Coastal
Policy Research Newsletter.
Diposaptono, S., & Budiman, F. A. (2009). Menyiasati Perubahan Iklim di Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Bogor: Buku Ilmiah Populer.
Efendi, E. (2011). Simulasi Numerik Model Hidrodinamika 3 Dimensi di Perairan
Teluk Lampung. 9(2).
Efendi, E., & Purwandani, A. (2013). Korelasi Asian Monsoon , El Nino South
Oscilation Dan Indian Ocean Dipole Terhadap Variabilitas Curah Hujan Di
Propinsi Lampung. 2(1).
Gibbs, W. J. (1987). Defining Climate. WMO Bulletin.
IPCC. (2007). The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the
Fourth Assessment Report of the IPCC. Cambridge University Press.
Koropitan, A. (2003). Pemodelan ekosistem perairan di Teluk Lampung. Thesis
magister Program Khusus Oseanografi, Program Studi Oseanografi dan
Sain Atmosfer. Program Pasca Sarjana, Institut Teknologi Bandung.
Manyena, S. B. (2006). The Concept of Resilience Revisited. 30(4).
Messner, T. (2005). Environmental variables and the risk of disease. 64(5).
Miharja, D. K., Rajawane, I. M., & Ali, M. (1995). Studi penyebaran air panas di
Tarahan, Lampung. . Jakarta: PT. Wiratman dan Assosiates.
Mulyana, E. (2002). Hubungan Antara ENSO dengan Variasi Curah Hujan di
Indonesia. 3(1).
Naryanto, H. S. (2003). Mitigasi Kawasan Pantai Selatan Kota Bandar Lampung
Propinsi Lampung Terhadap Bencana Tsunami. 8(2).
NZCCO . (2005). Coastal Hazards and Climate Change: A guidance manual for local
government in New Zealand. Ministry for the Environment.
Sprintall, J., Chong, J., Syamsudin, F., Morawitz, W., Hautala, S., Bray, N., & Wijffels,
S. (1999). Dynamics of the South Java Current in the Indo‐Australian Basin.
Geophysical research letters, 26(16).
Stern, N. (2008). The Economics of Climate Change. The American Economic
Review.

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 67


Laporan Pendahuluan

Suroso, D. (2008). Proposed Approach, Framework and Methodology for


Vulnerability Assessment To Climate Change in Indonesia. KLH-GTZ.
Trewartha, G. T., & Horn, L. H. (1995). Pengantar Iklim. Sri Andani.
Widhi, K. B., Indrayanti, E., & Prasetyawan, I. B. (2012). Kajian Pola Arus Teluk
Lampung Menggunakan Pendekatan Model Hidrodinamika 2 Dimensi
DELFT3D. I(2).

Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim 68