Anda di halaman 1dari 14

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Ergonomi

Ergonomi adalah suatu ilmu dimana dalam penerapannya berusaha untuk

menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya, yang

bertujuan demi tercapainya produktivitas kerja dan efisiensi yang setinggi-

tingginya melalui pemanfaatan faktor manusia seoptimal-optimalnya. Ergonomi

adalah komponen kegiatan dalam ruang lingkup hiperkes yang antara lain

meliputi penyerasian pekerjaan terhadap tenaga kerja secara timbale balik untuk

efisiensi dan kenyamanan kerj (Suma’mur,1989).

Sasaran ergonomi adalah seluruh tenaga kerja, baik sektor modern, maupun

pada sektor tradisional dan informal. Pada sektor modern penerapan ergonomi

dalam bentuk pengaturan sikap, tata cara kerja dan perencanaan kerja yang tepat

adalah syarat penting bagi efisiensi dan produktivitas kerja yang tinggi. Pada

sektor tradisional pada umumnya dilakukan dengan tangan dan memakai

peralatan serta dalam sikap-sikap badan dan cara-cara kerja yang secara

ergonomi dapat diperbaiki (Suma’mur, 1989).

Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya

dengan pekerjaan mereka. Sasaran penelitian ergonomi adalah manusia pada saat

bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi

adalah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia yang


ditujukan untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya antara lain

berupa penyesuaian ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak

melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban sesuai dengan kebutuhan

tubuh manusia (Departemen Kesehatan RI, 2006).

Menurut International Ergonomic Association (IEA) dalam Nurmianto

(2008) ergonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ergon yang artinya kerja dan

nomos yang artinya hukum alam, sehingga ergonomi didefinisikan sebagai ilmu

yang mempelajari hubungan antara manusia dengan dan elemen-elemen lain

dalam suatu sistem dan pekerjaan yang mengaplikasikan teori, prinsip, data dan

metode untuk merancang suatu sistem yang optimal, dilihat dari sisi manusia dan

kinerjanya.

Ergonomi adalah praktek dalam mendisain peralatan dan rincian pekerjaan

sesuai dengan kapasitas pekerja dengan tujuan untuk mencegah cidera pada

pekerja (OSHA, 2010). Ergonomi juga didefinisikan sebagai suatu penerapan

ilmu pengetahuan yang lebih menitik-beratkan rancangan fasilitas peralatan,

perkakas sesuai dengan karakteristik anatomi, fisiologi, biomekanik, persepsi

serta sikap kebiasaan manusia (NIOSH, 2007).

Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan

atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam

beraktivitas maupun istirahat dengan segala kemampuan, kebolehan dan

keterbatasan manusia secara fisik maupun mental sehingga dicapai suatu kualitas

hidup secara keseluruhan yang lebih baik (Tarwaka, 2010).

3.2 Ruang Lingkup Ergonomi


Ruang lingkup ergonomi tidak hanya sebatas bagaiman cara mengatur posisi

kerja yang baik, namun juga mencakup tehnik, antropometri, dan disain. Pusat

Kesehatan dan Keselamatan Kerja Departemen Kesehatan RI (2008),

menyatakan bahwa ruang lingkup ergonomi mencakup beberapa aspek keilmuan

yaitu:

1. Tehnik, yaitu cara-cara melakukan pekerjaan dengan baik sehingga dapat

mengurangi resiko cedera akibat ergonomi yang tidak baik.

2. Fisik, yaitu dimana penampilan seseorang mencerminkan keseimbangan antara

kemampuan tubuhnya dengan tuntutan tugas. Apabila tuntutan tugas lebih

besar daripada kemampuan tubuh maka akan terjadi ketidaknyamanan,

kelelahan, kecelakaan, cedera, rasa sakit, penyakit, serta menurunya

produktivitas. Sebaliknya, apabila tuntutan tugas lebih kecil dari kemampuan

tubuh, akan terjadi understress, seperti kejenuhan, kebosanan, kelesuhan,

kurang produktif dan sakit.

3. Anatomi, yaitu berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan

persendian.

4. Antropometri, yaitu suatu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan

karakteristik fisik tubuh manusia yang meliputi ukuran, bentuk dan kekuatan

yang nantinya berfungsi untuk mendisain tempat kerja seseorang.

5. Fisiologi, yaitu berhubungan dengan fungsi-fungsi dan kerja tubuh, seperti

temperature tubuh, oksigen yang didapat saat bekerja, aktifitas otot dan lain-

lain.
6. Disain, yaitu berupa perancangan tempat kerja yang sesuai dengan pekerja

supaya dapat bekerja secara layak, aman dan nyaman.

3.3 Tujuan Ergonomi

Tujuan penerapan perilaku ergonomi yang baik adalah untuk meningkatkan

produktivitas tenaga kerja di suatu instansi, organisasi ataupun tempat-tempat

manusia melakukan aktivitasnya. Menurut Santoso (2004), ada empat tujuan

utama ergonomi, yaitu memaksimalkan efisiensi karyawan, memperbaiki

kesehatan dan keselamatan kerja, menganjurkan agar bekerja aman, nyaman dan

bersemangat, dan memaksimalkan bentuk kerja yang meyakinkan.

Menurut Tarwaka (2004), ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dari

penerapan ergonomi, antara lain sebagai berikut:

1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan

cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental,

mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.

2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial

dan mengkoordinasi kerja secara tepat, guna meningkatkan jaminan sosial

baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.

3. Menciptakan keseimbangan rasional antara aspek teknis, ekonomis, dan

antropologis dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas

kerja dan kualitas hidup yang tinggi.

3.4 Sikap Kerja


Sikap kerja adalah sikap tubuh yang menggambarkan bagaimana posisi

badan, kepala badan, tangan dan kaki baik dalam hubungan antar bagian-bagian

tersebut maupun letak pusat gravitasinya. Faktor-faktor yang paling berpengaruh

meliputi sudut persendian, inklinasi vertical badan, kepala, tangan dan kaki serta

derajat penambahan atau penguranngan bentuk kurva tulang belakang. Sikap

tubuh saat bekerja sangat ditentukan oleh jenis pekerjaan yang dilakukan, dimana

setiap posisi kerja memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap tubuh.

Menurut Suma’mur (1996), dalam pekerja, sikap tubuh sangat dipengaruhi

oleh bentuk, susunan, ukuran dan tata letak peralatan seperti macam gerak, arah

dan kekuatan.

3.4.1 Sikap kerja duduk

Menurut Grandjean (2000), bekerja dengan posisi duduk mempunyai

keuntungan antara lain : pembebanan pada kaki, pemakaian energi dan

keperluan untuk sirkulasi darah dapat dikurangi. Namun demikian sikap

duduk yang terlalu lama dapat menyebabkan otot perut melembek dan

tulang belakang akan melengkung sehingga mempercepat kelelahan. Pada

saat posisi duduk, otot rangka (muskuloskletal) dan tulang belakang

terutama pada pinggang harus dapat ditahan oleh sandaran kursi agar

terhindar dari rasa nyeri dan cepat lelah. Jika posisi duduk tidak benar

maka tekanan pada tulang belakang semakin meningkat (Nurmianto, 2008).

Sanders & McCormick (1982) memberikan pedoman untuk mengatur

ketinggian landasan kerja pada posisi duduk sebagai berikut :


1. Jika memungkinkan menyediakan meja yang dapat diukur turun dan

naik.

2. Landasan kerja memungkinkan lengan menggantung pada posisi rileks

dari bahu, dengan lengan bawah mendekati posisi horizontal atau sedikit

menurun (shoping down slightly).

3. Ketinggian landasan kerja tidak memerlukan fleksi tulang belakang yang

berlebihan.

Pekerjaan sejauh mungkin sebaiknya dilakukan sambil duduk. Keuntungan

bekerja sambil duduk adalah mengurangi kelelahan pada kaki, terhindar dari

sikap-sikap yang tidak alamiah, berkurangnya pemakaian energi, berkurangnya

tingkat keperluan sirkulasi darah (Suma’mur,1989)

3.4.2 Sikap kerja berdiri

Menurut Sutalaksana (2006), sikap berdiri merupakan sikap siaga baik

fisik, maupun mental, sehingga aktivitas kerja yang dilakukan lebih cepat,

kuat dan teliti. Pada dasarnya berdiri itu sendiri lebih melelahkan daripada

duduk dan energi yang dikeluarkan untuk berdiri lebih banyak 10-15%

dibandingkan dengan duduk. Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh

pekerja yang berdiri adalah sikap kepala. Dimana keadaan kepala harus

member kemudahan saat bekerja. Leher yang berada dalam keadaan fleksi

atau ekstensi secara terus menerus dapat mengakibatkan kelelahan. Sudut

penglihatan yang baik untuk sikap berdiri adalah antara 23°-27° kearah

bawah dari garis horizontal.


Manuaba (1983), Sanders & McCormick (1982), Grandjean (1993)

memberikan rekomendasi ergonomis tentang ketinggian landasan kerja

posisi berdiri didasarkan pada ketinggian siku berdiri sebagai berikut ini :

1. Untuk pekerjaan memerlukan ketelitian dengan maksud untuk

mengurangi pembebanan statis pada otot bagian belakang, ketinggian

landasan kerja adalah 5-10 cm di atas tinggi siku berdiri.

2. Selama kerja manual, di mana pekerja sering memerlukan ruangan

untuk peralatan, material dan kontainer dengan berbagai jenis,

ketinggian landasan kerja adalah 10-15 cm di bawah tinggi siku berdiri.

3. Untuk pekerjaan yang memerlukan penekanan yang kuat, ketinggian

landasan kerja adalah 15-40 cm di bawah tinggi siku berdiri. Sikap

kerja yang monoton dengan posisi yang sama baik duduk maupun

berdiri dapat mengakibatkan ketidaknyamanan. Orang yang bekerja

berdiri dalam waktu yang lama akan berusaha untuk menyeimbangkan

posisi tubuhnya sehingga mengakibatkan terjadinya beban kerja statis

pada otot-otot punggung dan kaki sehingga akan berakibat aliran darah

akan mengumpul pada anggota tubuh bagian bawah.

3.5 Sikap Tubuh Alamiah

Baird dalam Merulalia (2010), mengemukakan bahwa sikap tubuh yang

alamiah merupakan sikap atau postur tubuh yang sesuai dengan anatomi tubuh
selama proses kerja, sehingga tidak ada pergeseran maupun penekanan pada

bagian-bagian penting organ tubuh yang akhirnya tercapai suatu keadaan tubuh

yang rileks tanpa adanya keluhan muskuloskletal ataupun keluhan lainnya. Posisi

tubuh yang tidak alamiah dan cara kerja yang tidak ergonomis selama melakukan

pekerjaan dalam kurun waktu yang cukup lama dan dilakukan terus menerus

akan mengakibatkan berbagai gangguan pada pekerja antara lain:

1. Rasa sakit pada bagian-bagian tertentu sesuai jenis pekerjaan yang dilakukan

seperti pada tangan, kaki, perut, punggung, pinggang, leher, dan lain-lain.

2. Menurunnya motivasi dan kenyamanan kerja.

3. Gangguan gerakan pada bagian tubuh tertentu, misalnya kesulitan

menggerakkan kaki, tangan maupun leher/kepala.

4. Jika berkepanjangan, dapat mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk

tubuh (tulang miring, bongkok).

3.6 Mekanika Tubuh

Mekanika tubuh adalah suatu usaha mengkoordinasikan sistem

muskuloskletal dan sistem saraf dalam mempertahankan keseimbangan, postur,

dan kesejajaran tubuh selama mengangkat, membungkuk, bergerak, dan

melakukan aktifitas sehari-hari. Penggunaan mekanika tubuh yang tepat dapat

mengurangi resiko cidera pada sistem muskuloskletal. Selain itu, mekanika tubuh

juga berfungsi untuk mendukung pergerakan tubuh yang memungkinkan

mobilisasi fisik tanpa terjadi ketegangan otot dan penggunaan energi otot yang

berlebihan (Potter & Perry, 2006).


Mekanika tubuh meliputi kesejajaran tubuh, keseimbangan tubuh, dan

koordinasi gerakan tubuh. Kesejajaran tubuh (postur tubuh) mengacu pada posisi

sendi, tendon, ligamen dan otot selama berdiri, duduk dan berbaring, dimana jika

dilakukan dengan benar dapat mengurangi ketegangan pada struktur

muskuloskletal, mempertahankan tonus otot secara adekuat dan menunjang

keseimbangan. Keseimbangan tubuh diperlukan untuk mempertahankan posisi,

memperoleh kestabilan selama bergerak dari satu posisi ke posisi lain, dan

melakukan aktifitas sehari-hari. Koordinasi gerakan tubuh merupakan fungsi

yang terinteraksi dari sistem skletal, otot skelet, dan sistem saraf (Potter & Perry,

2006).

3.7 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Keselamatan kerja merupakan keselamatan yang bertalian dengan mesin,

pesawat, alat kerja, bahan dan pengolahannya, landasan tempat kerja dan

lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan (Suma’mur, 1989).

UndangUndang No. 1 Tahun 1970 dalam (Budiono, 2003) menerangkan bahwa

keselamatan kerja yang mempunyai ruang lingkup yang berhubungan dengan

mesin, landasan tempat kerja dan lingkungan kerja, serta cara mencegah

terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja, memberikan perlindungan

sumber-sumber produksi sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan

produktifitas.

Menurut Suma’mur (1996), keselamatan kerja merupakan spesialisasi ilmu

kesehatan beserta prakteknya yang bertujuan agar para pekerja atau masyarakat
pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya baik fisik, mental

maupun sosial dengan usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit/gangguan

kesehatan yang diakibatkan oleh faktor pekerjaan dan lingkungan serta terhadap

penyakit umum

Melihat beberapa uraian di atas mengenai pengertian keselamatan dan

pengertian kesehatan kerja di atas, maka dapat disimpulkan mengenai pengertian

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu bentuk usaha atau upaya

bagi para pekerja untuk memperoleh jaminan atas Keselamatan dan kesehatan

Kerja (K3) dalam melakukan pekerjaan yang mana pekerjaan tersebut dapat

mengancam dirinya yang berasal dari individu sendiri dan lingkungan kerjanya.

Pada hakekatnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan suatu

keilmuwan multidisiplin yang menerapkan upaya pemeliharaan dan peningkatan

kondisi lingkungan kerja, keamanan kerja, keselamatan dan kesehatan tenaga

kerja, serta melindungi tenaga kerja terhadap resiko bahaya dalam melakukan

pekerjaa, serta mencegah terjadinya kerugian akibat kecelakaan kerja, penyakit

akibat kerja, kebakaran, peledakan atau pencemaran lingkungan kerja.

Menurut Mangkunegara (2002) bahwa tujuan dari keselamatan dan

kesehatan kerja adalah sebagai berikut:

a. Agar setiap pegawai/tenaga kerja mendapat jaminan keselamatan dan

kesehatan kerja baik secara fisik, sosial, dan psikologis.

b. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya,

selektif mungkin.

c. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.


d. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi

pegawai/tenaga kerja.

e. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.

f. Agar tehindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan

atau kondisi kerja.

g. Agar setiap pegawai/tenaga kerja merasa aman dan terlindungi dalam

bekerja.

3.8 Indikator dalam Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja (K3)

Budiono (2003) mengemukakan indikator Keselamatan dan Kesehatan Kerja

(K3), meliputi:

a) Faktor manusia/pribadi (personal factor)

Faktor manusia disini meliputi, antara lain kurangnya kemampuan fisik,

mental dan psikologi, kurangnya pengetahuan dan keterampilan/keahlian, dan

stress serta motivasi yang tidak cukup.

b) Faktor kerja/lingkungan

Meliputi, tidak cukup kepemimpinan dan pengawasan, rekayasa,

pembelian/pengadaan barang, perawatan, standar-standar kerja dan

penyalahgunaan.
3.9 Aspek-aspek dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keselamatan dan

Kesehatan Kerja (K3)

Menurut Anoraga (2005) mengemukakan aspek-aspek Keselamatan dan

Kesehatan Kerja (K3) meliputi:

a) Lingkungan kerja

Lingkungan kerja merupakan tempat dimana seseorang atau karyawan dalam

beraktifitas bekerja. Lingkungan kerja dalam hal ini menyangkut kondisi

kerja, seperti ventilasi, suhu, penerangan dan situasinya.

b) Alat kerja dan bahan

Alat kerja dan bahan merupakan suatu hal yang pokok dibutuhkan oleh

perusahaan untuk memproduksi barang. Dalam memproduksi barang, alat-alat

kerja sangatlah vital yang digunakan oleh para pekerja dalam melakukan

kegiatan proses produksi dan disamping itu adalah bahan-bahan utama yang

akan dijadikan barang.

c) Cara melakukan pekerjaan

Setiap bagian-bagian produksi memiliki cara-cara melakukan pekerjaan yang

berbeda-beda yang dimiliki oleh karyawan. Cara-cara yang biasanya

dilakukan oleh karyawan dalam melakukan semua aktifitas pekerjaan,

misalnya menggunakan peralatan yang sudah tersedia dan pelindung diri

secara tepat dan mematuhi peraturan penggunaan peralatan tersebut dan

memahami cara mengoperasionalkan mesin.


Menurut Budiono (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi Keselamatan

dan Kesehatan Kerja (K3) antara lain:

a) Beban kerja

Beban kerja berupa beban fisik, mental dan sosial, sehingga upaya

penempatan

pekerja yang sesuai dengan kemampuannya perlu diperhatikan.

b) Kapasitas kerja

Kapasitas kerja yang banyak tergantung pada pendidikan, keterampilan,

kesegaran jasmani, ukuran tubuh, keadaan gizi dan sebagainya.

c) Lingkungan kerja

Lingkungan kerja yang berupa faktor fisik, kimia, biologik, ergonomik,

maupun psikososial.

3.10 Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja adalah kecelakaan atau penyakit yang diderita oleh

seseorang akibat melakukan suatu pekerjaan atau ditimbulkan oleh lingkungan

kerja (Simajuntak, 1994). Terdapat banyak faktor yang menimbulkan kecelakaan

dan penyakit kerja. Kecelakaan dan penyakit kerja dapat terjadi pada saat

seseorang mengoperasikan alat kerja atau produksi, antara lain karena:

1) Pekerja yang bersangkutan tidak terampil atau tidak mengetahui cara

mengoperasikan alat-alat tersebut.

2) Pekerja tidak hati-hati, lalai, terlalu lelah atau dalam keadaan sakit.

3) Tidak tersedia alat-alat pengaman.


4) Alat kerja atau produksi yang digunakan dalam kesedaan tidak baik atau

tidak layak pakai lagi.

Kecelakaan kerja dapat dikategorikan dalam beberapa akibat yang

ditimbulkannya seperti (Simajuntak, 1994):

a) Meninggal dunia, termasuk kecelakaan yang paling fatal yang menyebabkan

penderita meninggal dunia walaupun telah mendapatkan pertolongan dan

perawatan sebelumnya.

b) Cacat permanen total adalah cacat yang mengakibatkan penderita secara

permanen tidak mampu lagi melakukan pekerjaan produktif karena kehilangan

atau tidak berfungsinya lagi bagian-bagian tubuh, seperti: kedua mata, satu

mata dan satu tangan atau satu lengan atau satu kaki. Dua bagian tubuh yang

tidak terletak pada satu ruas tubuh.

c) Cacat permanen sebagian adalah cacat yang mengakibatkan satu bagian tubuh

hilang atau terpaksa dipotong atau sama sekali tidak berfungsi.

d) Tidak mampu bekerja sementara, dimaksudkan baik ketika dalam masa

pengobatan maupun karena harus beristirahat menunggu kesembuhan,

sehingga ada hari-hari kerja hilang dalam arti yang bersangkutan tidak

melakukan kerja produktif.