Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN

Di Indonesia pengertian anak tunagrahita tercantum dalam peraturan

pemerintah nomor 72 tahun 1991, anak tunagrahita dinyatakan sebagai anak-anak

dalam kelompok dibawah normal dan/atau lebih lamban dari pada anak normal,

baik perkembangan sosial maupun kecerdasannya (Depdiknas, 2006).

Tunagrahita ialah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang

mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Istilah lain untuk

tunagrahita dikenal dengan keadaan keterbelakangan mental atau retardasi mental

(Delphie, 2006).

Menurut WHO yang dikutip Menkes (1990), tuna grahita adalah

kemampuan mental yang tidak mencukupi. Carter CH mengatakan tuna grahita

adalah suatu kondisi yang ditandai oleh intelligensi yang rendah yang

menyebabkan ketidak mampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap

masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal. Menurut Crocker AC (1983),

tuna grahita adalah apabila jelas terdapat fungsi intelligensi yang rendah yang

disertai adanya kendala dalam penyesuaian prilaku dan gejalanya timbul pada

masa perkembangan.

Pakar lain menyebutkan bahwa, tuna grahita adalah anak yang meiliki

tingkat kecerdasan rendah (dibawah normal) sehingga untuk melakukan tugasnya

memerlukan bantuan atau layanan khusus, termasuk kebutuhan program

1
pendidikan dan bimbingannya (Mohammad Efendi, 2006:9). Menurut

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1987:47) anak keterbelakangan mental

adalah anak yang keadaan dan pertumbuhan mentalnya terbelakang daripada anak

normal sebayanya, atau intelligensnya dibawah rata-rata.

B. KLASIFIKASI TUNAGRAHITA

Klasifikasi menurut AAMD (Moh. Amin, 1995: 22-24), sebagai berikut:

1. Tunagrahita Ringan (Mampu Didik)

Tingkat kecerdasannya IQ mereka berkisar 50 – 70 mempunyai kemampuan

untuk berkembang dalam bidang pelajaran akademik, penyesuaian sosial dan

kemampuan bekerja, mampu menyesuaikan lingkungan yang lebih luas, dapat

mandiri dalam masyaraakat, mampu melakukan pekerjaan semi trampil dan

pekerjaan sederhana.

2. Tunagrahita Sedang (Mampu Latih)

Tingkat kecerdasan IQ berkisar 30–50 dapat belajar keterampilan sekolah

untuk tujuan fungsional, mampu melakukan keterampilan mengurus dirinya

sendiri (self-help), mampu mengadakan adaptasi sosial dilingkungan terdekat,

mampu mengerjakan pekerjaan rutin yang perlu pengawasan.

3. Tunagrahita Berat dan Sangat Berat (Mampu Rawat)

Tingkat kecerdasan IQ mereka kurang dari 30 hampir tidak memiliki

kemampuan untuk dilatih mengurus diri sendiri. Ada yang masih mampu dilatih

mengurus diri sendiri, berkomunikasi secara sederhanaa dan dapat menyesuaikan

diri dengan lingkungan sangat terbatas.

2
Sedangkan klasifikasi yang digunakan di Indonesia saat ini (PP No

72/1999) adalah:

a. Tunagrahita ringan IQ nya 50 – 70.

b. Tunagrahita sedang IQ nya 30 – 50.

c. Tunagrahita berat dan sangt berat IQ nya kurang dari 30.

C. FAKTOR PENYEBAB TUNA GRAHITA

Para ahli membagi faktor penyebab tersebut atas faktor endogen dan

eksogen. Faktor endogen apabila letak penyebabnya pada sel keturunan dan

eksogen adalah hal-hal di luar sel keturunan, misalnya infeksi, virus menyerang

otak, benturan kepala yang keras, radiasi, dan lain-lain.

Cara lain yang sering digunakan dalam pengelompokan faktor penyebab

ketunagrahitaan adalah berdasarkan waktu terjadinya, yaitu faktor yang terjadi

sebelum lahir (prenatal), saat kelahiran (natal), dan setelah lahir (postnatal).

Menurut Bandi (2006) beberapa penyebab ketunagrahitaan yang sering ditemukan

baik yang berasal dari faktor keturunan maupun faktor lingkungan.

1. Faktor keturunan

Penyebab kelainan yang berkaitan dengan faktor keturunan, meliputi hal

berikut:

a. Kelainan kromosom, dapat dilihat dari bentuk dan nomornya. Dilihat

dari bentuk dapat berupa inversi (kelainan yang menyebabkan berubahnya urutan

gene karena melihatnya kromosom; delesi (kegagalanmeiosis, yaitu salah satu

pasangan tidak membelah sehingga terjadi kekurangan kromosom pada salah satu

3
sel); duplikasi (kromosom tidak berhasil memisahkan diri sehingga terjadi

kelebihan kromosom pada salah satu sel lainnya) translokasi ( adanya kromosom

yang patah dan patahnya menempel pada kromosom lain).

b. Kelainan gen. Kelainan ini terjadi pada waktu imunisasi, tidak

selamanya tampak dari luar (tetap dalam tingkat genotif). Ada 2 hal yang perlu

diperhatikan untuk memahaminya, yaitu kekuatan kelainan tersebut, dan tempat

gena (lucos) yang mendapat kelainan.

2. Gangguan metabolisme dan gizi

Metabolisme dan gizi merupakan faktor yang sangat penting dalam

perkembangan individu terutama perkembangan sel-sel otak. Kegagalan

metabolisme dan kegagalan pemenuhan kebutuhan gizi dapat mengakibatkan

terjadinya gangguan fisik dan mental pada individu. Kelainan yang disebabkan

oleh kegagalan metabolisme dan gizi, antara lain phenylketonuria (akibat

metabolisme saccharide yang menjadi tempat penyimpanan asam

mucopolysaccharide dalam hati, limpa kecil, dan otak ) dan gejala yang tampak

berupa ketidak normalan tinggi badan, kerangka tubuh yang tidak proporsional,

telapak tangan lebar dan pendek, persendian kaku, lidah lebar dan menonjol, dan

tuna grahita; cretinism (keadaan hypohydroidism kronik yang terjadi selama masa

janin atau saat dilahirkan ) dengan gejala kelainan yang tampak adalah

ketidaknormalan fisik yang khas dan ketunagrahitaan.

3. Infeksi dan keracunan

Keadaan ini disebabkan oleh terjangkitnya penyakit-penyakit selama janin

masih berada didalam kandungan. penyakit yang dimaksut antara lain rubella

4
yang mengakibatkan ketunagrahitaan serta adanya kelainan pendengaran ,

penyakit jantung bawaan, berat badan sangat kueang ketika lahir, syphilis bawaan,

syndrome gravidity beracun, hampir pada semua kasus berakibat ketunagrahitaan.

4. Trauma dan zat radioaktif

Terjadinya trauma terutama pada otak ketika bayi dilahirkan atau terkena

radiasi zat radioaktif saat hamil dapat mengakibatkan ketunagrahitaan. Trauma

yang terjadi pada saat dilahirkan biasanya disebabkan oleh kelahiran yang sulit

sehingga memerluka alat bantuan. Ketidaktepatan penyinaran atau radiasi sinar X

selama bayi dalam kandungan mengakibatkan cacat mental microsephaly.

5. Masalah pada kelahiran

Masalah yang terjadi pada saat kelahiran,misalnya kelahiran yang disertai

hypoxia yang dipastikan bayi akan menderita kerusakan otak, kejang dan napas

pendek. Kerusakan juga dapat disebabkan oleh trauma mekanis terutama pada

kelahiran yang sulit.

6. Faktor lingkungan

Banyak faktor lingkungan yang diduga menjadi penyebab terjadinya

ketunagrahitaan. Telah banyak penelitian yang digunakan untuk pembuktian hal

ini, salah satunya adalah penemuan patton & Polloway bahwa bermacam-macam

pengalaman negatif atau kegagalan dalam melakukan interaksi yang terjadi

selama periode perkembangan menjadi salah satu penyebab ketunagrahitaan.

5
D. PATOFISIOLOGI

Para Ahli menyebutkan bahwa, penyebab terjadinya ketunaan pada

sesorang, yaitu: dibawa sejak lahir (faktor endogen) dan faktor dari luar seperti

penyakit atau keadaan lainnya (faktor eksogen) (Mohammad Efendi, 2006).

Mohammad Efendi menambahkan, gangguan fisiologis dan virus dapat

menyebabkan tuna grahita. Virus tersebut diantaranya rubella (campak jerman).

Virus ini sangat berbahaya dan berpengaruh sangat besar pada tri semester

pertama saat ibu mengandung, karena akan memberi peluang timbulnya ketunaan

pada bayi yang dikandung. Bentuk gangguan fisiologis lain adalah reshus faktor,

mongoloid (penampakan fisik mirip keturunan orang mongol) sebagai akibat

gangguan genetik, dan kretinisme atau kerdil sebagai akibat gangguan kelenjar

tiroid. Adanya disfungsi otak merupakan dasar dari retradasi mental. Peningkatan

tekanan yang terjadi pada otak menyebabkan kemunduran fungsi otak. Selain itu,

keadaan cerebal anoxia, yaitu kekurangan oksigen dalam otak juga menyebabkan

otak tidak berfungsi dengan baik. Kelainan otak dapat terjadi pada saat

pertumbuhan, pada masa prenatal, natal, maupun postnatal. Menurut Mohammad

Efendi (2006) peradangan otak akibat pendarahan menyebabkan gangguan

motorik dan mental, sehingga dapat mempengaruhi kemampuan anak Tuna

Grahita.

6
E. MANIFESTASI KLINIS

1. Kecerdasan sangat terbatas

2. Ketidakmampuan sosial yaitu tidak mampu mengurus diri sendiri,

sehingga selalu memerlukan bantuan orang lain.

3. Keterbatasan minat

4. Daya ingat lemah

5. Emosi sangat labil

6. Apatis, acuh tak acuh terhadap sekitarnya

7. Kelanan badaniah khusus jenis mongoloid badan bungkuk, tampak

tidak sehat, muka datar, telinga kecil, badan terlalu kecil, kepala terlalu besar,

mulut melongo, mata sipit.

8. Hydrocephalus yaitu ukuran kepala besar yang berisi cairan.

9. Microcephalus yaitu ukuran kepala terlalu kecil.

10. Macrocephalus yaitu ukuran kepala terlalu besar.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK DAN PENUNJANG

Untuk mengetahui adanya tunagrahita atau dengan kata lain retardasi

mental perlu anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Kelainan

otak dapat menyebabkan seseorang menjadi tunagrahita.

1. Pemeriksaan diagnostik meliputi LED, IgG/IgM, dan BUN.

2. Pemeriksaan radiologi meliputi pemeriksaan EEG, CT Scan, dan

thoraks AP/PA.

7
3. Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan serum elektrolit (SE)

atau virus.

G. KOMPLIKASI

Menurut Mohammad Effendi (2006) dampak tunagrahita yaitu:

1. Gangguan neurologis

2. Sindroma genetic

3. Faktor psikososial

H. PENATALAKSANAAN

Penanganan terhadap anak tunagrahita dapat dilakukan melalui pendidikan

dan pelatihan bagi penderita tunagrahita sehingga anak yang mengalami

tunagrahita diharapkan nantinya dapat hidup secara mandiri tanpa memerlukan

bantuan dari orang lain. Tujuan pendidikan dan pelatihan bagi anak tunagrahita ini

yaitu:

1. Latihan untuk mempergunakan dan mengembangkan kapasitas yang

dimiliki dengan sebaik-baiknya.

2. Pendidikan dan pelatihan diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat yang

salah.

3. Dengan latihan maka diharapkan dapat membuat keterampilan mereka

berkembang, sehingga ketergantungan pada pihak lain dapat berkurang atau

bahkan hilang. Melatih penderita tunagrahita pasti lebih sulit daripada melatih

anak normal, hal ini disebabkan karena perhatian penderita tuna grahita mudah

8
terganggu. Untuk meningkatkan perhatian mereka tindakan yang dapat dilakukan

adalah dengan merangsang indra mereka.

Beberapa jenis pelatihan yang dapat diberikan kepada penderita

tunagrahita yaitu:

1. Latihan di rumah: belajar makan sendiri, membersihkan badan,

berpakaian sendiri, dst.

2. Latihan di sekolah: belajar keterampilan untuk sikap sosial.

3. Latihan teknis: latihan yang diberikan sesuai dengan minat dan jenis

kelamin penderita.

4. Latihan moral: berupa pengenalan dan tindakan mengenal hal-hal yang

baik dan buruk secara moral.

9
BAB II

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

Perawat dalam tiap tatanan dan bidang kerjanya sangat berperan dalam

melakukan pengkajian keperawatan pada anak-anak dengan tunagrahita.

Pengkajian keperawatan meliputi aspek fisik, psikologis dan sosial, yang terutama

dapat dilakukan pada saat kunjungan rumah atau kunjungan kesehatan sekolah.

Sehingga data baik dari orang tua anak maupun guru sangat berguna untuk

perencanaan keperawatan selanjutnya.

Hal-hal yang perlu dikaji meliputi: Data demografi, riwayat kesehatan,

riwayat penyakit sebelumnya, perkembangan personal dan sosial, perkembangan

kognitif, keterampilan bahasa, perkembangan motorik dan sensorik, serta

lingkungan tempat anak tinggal dan belajar.

1. Data Demografi

Merupakan identitas klien yang meliputi: nama/nama panggilan, tempat

tanggal lahir/usia, jenis kelamin, agama, pendidikan, serta alamat.

2. Riwayat kesehatan: perawat perlu mengumpulkan data dari orang tua

anak mengenai keluhan dan perilaku anak di rumah. Masalah fisik seperti alergi,

nafsu makan, masalah eliminasi, penyakit infeksi yang baru diderita, dan masalah

pernapasan bagian atas, serta penyakit yang biasa dialami anak juga perlu diproleh

dari orang tua.

10
3. Riwayat penyakit sebelumnya: meliputi riwayat operasi dan

pengobatan, kebiasaan anak (bicara, emosi, tiks dan riwayat perkembangan dan

pendidikan). Sangat penting untuk mengetahui usia anak pada tiap tahap

perkembangan: kapan anak mulai berjalan, berbicara, makan dan berpakaian

sendiri. Begitu pula informasi mengenai masalah prenatal dan perinatal ibu perlu

dikaji. jika memungkinkan catatan kesehatan bayi ketika baru lahir perlu

diketahui.

4. Riwayat perkembangan personal dan sosial

Gejala yang terlihat pada anak tunagrahita melalui ketidakmatangan

perilaku sosialnya, dimana mereka lebih suka bermain dengan anak yang lebih

kecil. Anak-anak tunagrahita mungkin tidak berbicara dan melakukan sesuatu

sesuai dengan tingkat usia mereka. Mungkin berperilaku “acting out” atau

sebaliknya menarik diri dari anak-anak lain. Pada umumnya mereka memiliki

konsep diri yang rendah dan mudah frustasi serta menangis.

5. Perkembangan kognitif

Anak-anak yang bermasalah dalam belajar, tidak mampu mentransfer hal-

hal yang telah dipelajarinya dari satu situasi ke situasi lainnya. Mereka belajar

bahwa langit berwarna biru, tetapi tidak dapat mengenal rumah atau mobil yang

berwarna biru. Anak-anak tunagrahita juga tidak dapat berfikir secara abstrak,

seperti kematian, surga, dan Tuhan. Begitu pula mereka tidak dapat

membandingkan obyek yang besar dan kecil tanpa melihat obyek secara langsung.

Daya konsentrasi mereka terbatas, tidak mampu mengingat sesuai dengan baik

dan bermasalah untuk mengenal hal-hal baru.

11
6. Keterampilan berbahasa

Anak-anak tunagrahita pada umumnya tidak berketerampilan

menggunakan bahasa dengan baik. Mereka biasanya mengalami kesulitan

mengkomunikasikan sesuatu sehingga sulit dimengerti dan umumnya mereka

mungkin tidak mampu untuk mengingat instruksi atau perintah verbal secara

berurutan.

7. Perkembangan motorik dan sensorik

Perkembangan motorik mungkin terbatas, sehingga anak mudah jatuh. Jika

melakukan kegiatan yang memerlukan keterampilan motorik, perhatiannya

mungkin teralih pada hal lain dan mereka tidak mampu mengikuti pengarahan

berkaitan dengan kegiatan motorik. Anak tersebut tidak mau melakukan kegiatan

baru tetapi hanya melakukan hal yang sama berulangkali. Anak tunagrahita tidak

seaktif anak lain dan hanya sering duduk sendirian. Kadang-kadang mereka

melakukan gerakan-gerakan yang sama berulang-ulang seperti membenturkan

kepalanya, menggerak-gerakkan tangannya dan mengayun tubuhnya ke depan dan

ke belakang.

Dalam hal perkembangan sensorik, perlu dikaji kemungkinan anak

mengalami gangguan pengelihatan dan pendengaran. Perawat dapat melihat

apakah anak tidak mampu membedakan antara dua obyek, seperti jeruk yang

sebenarnya dengan gambar jeruk atau membedakan dua uang logam,

membedakan suara seperti bunyi bel dan bunyi klakson mobil. Lebih parah lagi

anak tunagrahita seringkali tidak biasa mengatakan darimana asal suara. Hal ini

sangat membahayakan keamanan anak.

12
8. Lingkungan tempat tinggal dan belajar

Sangat penting untuk dikaji oleh perawat hal-hal sebagai berikut:

a. Perlengkapan: tempat tidur, kursi, toilet, lemari pakaian. Apakah

tingginya dapat dicapai oleh anak? Apakah anak terlindungi dari kemungkinan

celaka?

b. Perlengkapan bermain: apakah anak mempunyai mainan yang sesuai?

Apakan mainan tersebut menstimulus anak untuk bermain? Apakah ada tempat

bermain yang leluasa?

c. Orang-orang yang berarti bagi anak: Apakah ada orang dekat yang

mendukung perkembangan anak? Apakah anak diberi kesempatan untuk memilih

dan belajar mandiri? Apakah anak disiplin? Apakah ada orang yang dapat

mengajarkan keterampilan melakukan kegiatan sehari-hari?

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Adapun diagnosa keperawatan NANDA menurut Wilkinson (2011):

1. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan keterlambatan

perkembangan bahasa, social dan kognitif.

2. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kurangnya kematangan

perkembangan.

3. Gangguan interaksi sosial berhubungan dengan kesulitan adaptasi

sosial.

4. Gangguan aktivitas fisik berhubungan dengan ketidakmampuan fisik

dan mental.

13
5. Resiko cidera berhubungan dengan mobilitas fisik tidak seimbang.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

Adapun diagnosa keperawatan NANDA menurut Wilkinson (2011):

NO DIAGNOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)

. KEP.

1. Gangguan Setelah dilakukan 1. Kaji kemampuan dalam berkomunikasi

komunikasi tindakan keperawatan sesuai dengan perkembangan mental

verbal diharapkan keluarga anak.

berhubungan dapat: R/: Latihan bicara yang sesuai dengan

dengan 1. Lebih sering perkembangan anak akan menghindari

keterlambatan berkomunikasi ekploatasi yang berakibat penekanan

perkembangan dengan anak. fungsi mental anak.

bahasa, social 2. Menstimulasi anak 2. Ajak anak berkomunikasi secara

dan kognitif. dalam sektor komprehensif baik verbal maupun

bahasa. nonverbal sambil belajar.

R/: Komunikasi yang komprehensif akan

memperbanyak jumlah stimulasi yang

diterima anak sehingga akan

memperkuat memori anak terhadap suatu

kata.

3. Bicara pelan dan mengulangi kata-kata

sampai anak mengerti pembicaraan /

14
perintah.

4. Berbicara sambil bermain dengan alat

untuk mempercepat persepsi anak

tentang suatu hal.

R/: Bermain akan menigkatkan daya

tarik anak sehingga frekwensi dan durasi

latihan bisa lebih lama.

5. Berikan lebih banyak kata meskipun

anak belum mampu mengucapkan

dengan benar.

R/: Anak lebih suka mendengarkan kata-

akat daripada mengucapkan karena

biasanya kesulitan dalam mengucapkan.

6. Berikan penguatan/reinforcement saat

anak mampu mengerti

pembicaraan/perintah.

R/: Reinforcement positif dapat

menyenangkan hati anak.

7. Lakukan sekrening lanjutan dengan

mengggunakan Denver Speech Test.

R/: Untuk mengetahui jenis dan beratnya

gangguan serta keterlambatan dalam

berbicara pada anak.

15
2. Defisit Setelah diberikan 1. Kaji kemampuan anak dalam merawat

perawatan diri tindakan keperawatan diri sendiri.

berhubungan diharapkan anak: R/: Menilai batas kemandirian anak.

dengan 1. Mampu 2. Pantau adanya perubahan kemampuan

kurangnya melakukan tugas fungsi.

kematangan fisik paling dasar R/: Mengetahui hambatan yang dimiliki

perkembangan. dan aktifitas anak.

perawatan pribadi. 3. Perhatikan kebersihan kuku berdasarkan

2. Mampu kemampuan perawatan diri anak.

membersihkan R/: Menilai perawatan diri anak.

tubuhnya sendiri. 4. Ajarkan anak/keluarga penggunaan

3. Mampu untuk metode alternative untuk mandi dan

mempertahankan hygiene mulut.

hygiene dirinya. R/: Membantu keluarga untuk

4. Mampu melakukan perawatan pada anak.

mempertahankan 5. Gunakan ahli fisioterapi dan terapi kerja

penampilan yang sebagai sumber dalam merencanakan

rapih. aktifitas perawatan pasien.

R/: Memudahkan keluarga untuk

melakukan perawatan diri pada anak.

6. Dukung kemandirian dalam melakukan

mandi dan hygiene mulut, bantu pasien

hanya jika diperlukan.

16
R/: Melatih anak untuk melakukan

perawatan pada diri.

7. Berikan bantuan sampai anak mampu

secara penuh untuk melakukan

perawatan diri.

R/: Membantu anak memenuhi atau

melakukan perawatan pada diri.

8. Tawarkan/ajarkan untuk mencuci tangan

setelah toileting dan sebelum makan.

R/: Mengajarkan hidup bersih pada anak

dan melatih anak untuk melakukan

perawatan pada diri.

3. Gangguan Setelah diberikan 1. Diskusikan bersama keluarga tentang

interaksi sosial tindakan keperawatan manfaat berhubungan dengan orang lain.

berhubungan diharapkan anak R/: Meningkatkan pengetahuan keluarga

dengan kesulitan dapat merasakan tentang perlunya anak berhubungan

adaptasi sosial. kewajaran saat dengan orang lain.

berinteraksi seperti 2. Ciptakan lingkungan yang aman saat

orang lain dengan, anak berinteraksi dengan siapapun.

Kriteria hasil: anak R/: Agar anak tidak merasa canggung,

dapat berinteraksi dan tegang, atau takut saat berinteraksi.

bersosialisasi dengan 3. Bina hubungan saling percaya: sikap

orang lain. terbuka dan empati, sapa dengan

17
ramah, pertahankan kontak mata selama

interaksi.

R/: Meningkatkan kepercayaan

hubungan antara klien dengan perawat,

dan mempermudah perawat untuk

berinterksi dengan anak.

4. Motivasi anak melakukan sosialisasi

dengan orang lain.

R/: Mungkin anak mengalami perasaan

tidak nyaman, malu dalam berhubungan

sehingga perlu dilatih secara bertahap

dalam berhubungan dengan orang lain.

4. Gangguan Setelah diberikan 1. Diskusikan pada anak/keluarga tentang

aktivitas fisik tindakan keperawatan keuntungan melakukan aktivitas fisik.

berhubungan diharapkan anak R/: Untuk meningkatkan pengetahuan

dengan dapat melakukan anak tentang perlunya aktivitas fisik.

ketidakmampuan aktivitas fisik walau 2. Diskusikan pada anak/keluarga tentang

fisik dan mental. hanya sebagian kerugian tidak melakukan aktivitas fisik.

dengan, R/: Untuk meningkatkan minat anak

Kriteria hasil: anak dalam melakukan aktivitas fisik

dapat melakukan 3. Motivasi dan bantu anak

aktifitas fisik dasar. melakukan aktivitas fisik.

R/: Untuk meningkatkan minat anak

18
dalam melakukan aktivitas fisik.

4. Beri pujian atas keberhasilan klien

melakukan aktivitas fisik.

R/: Reinforcement positif dapat

menyenangkan hati anak dan

meningkatkan minat anak untuk

melakukan aktivitas fisik.

5. Resiko cidera Setelah diberikan 1. Diskusikan dengan anak/keluarga

berhubungan tindakan keperawatan pertolongan pertama pada kecelakaan

dengan mobilitas diharapkan anak (contoh : kursi roda dan peralatan).

fisik tidak dapat kooperatif dan R/: Dilakukan untuk mengurangi resiko

seimbang. mengatur keamanan cidera yang lebih parah.

semampu anak, 2. Observasi mulut jika tertelan benda selain

sehingga akan bebas makanan.

dari kemungkinan R/: Anak kurang mengerti tentang

kecelakaan dan cidera bahaya, jadi harus terus di pantau dalam

dengan, setiap aktivitasnya.

Kriteria hasil: anak 3. Anjurkan keluarga untuk tetap bersama

akan terbebas dari anak sampai obat ditelan dan perhatikan

kecelakaan dan tidak efek samping dari pengobatan.

menelan bahan R/: Menghindari anak membuang obat

beracun. atau meminum obat secara berlebihan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Astati. 2010. Pendidikan Anak Tunagrahita. Bandung: Karya Mandiri.

Delphie, Bandi 2006. Pembelajaran Anak Tunagrahita: Suatu Pengantar Dalam

Pendidikan/Rad. Bandung: Refika Aditama.

Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi Dan Kompetensi Dasar SDLB Tunagrahita

Ringan (SDLB C). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat

Pendidikan SLB.

Doenges Marlyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Untuk Perencanaan dan

Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3. Jakarta: EGC.

Mohammad Effendi, M. (2006). Pengantar Psikopedagogik Anak

Berkelainan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Wilkinson J. M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9 dengan

Diagnosa NANDA, Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC.

http://indraztugaskuliah.blogspot.com/2016/02/anak-tunagrahita.html

(Diakses pada tanggal 7 oktober 2019 pukul 18:30 WIB).

20