Anda di halaman 1dari 20

A.

Latar Belakang

Sebagaimana dimaklumi, kehadiran zaman modern dapat dianggap sebagai


sebuah pemberontakan terhadap alam pikir abad
pertengahan, Renaissance (Abad XV-XVI) ialah periode penemuan manusia
dan dunia dan bukan sekedar sebagai kebangkitan kembali yang merupakan
permulaan kebangkitan modern. Jadi dapat dikatakan zaman modern filsafat
didahului oleh zaman renaissance. Bahkan eksistensialisme juga memiliki
akarnya pada masa Enlightenment, abad ke-18 Masehi, hal ini disebabkan
karena baik pada masa Renaissance maupun Enlightenmen, gerakan
perlawanan terhadap otoritas dogmatis, pengukuhan terhadap kemanusiaan,
keyakinan terhadap individualitas dan gerakan pembebasan (freedom) serta
penghormatan yang besar pada individu, banyak diperhatikan. Padahal intisari
dari semua gerakan tadi merupakan kondisi yang favourable bagi tumbuhnya
eksistensialisme.

Dengan adanya perkembangan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan


membawa dampak kemajuan yang berarti disatu sisi namun juga berpotensi
kepada kehancuran kemanusiaan itu sendiri; dehumanisasi dan depersonalisasi.
Filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang kita pelajari sekarang ini sering nampak
sukar karena memang mengandung pandangan-pandangan yang dalam dan
sukar dimengerti, akan tetapi hal ini tidaklah berarti bahwa filsafat itu lalu tidak
ada artinya bagi kita, justru sebaliknya karena yang dipersoalkan dalam filsafat
yakni mengenai diri kita sendiri.1 Filsafat mempunyai sifat
yang “Eksistensial” mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kehidupan
sehari-hari dengan adanya manusia itu sendiri. Filsafat berdasar dan berpangkal
pada diri kita yang konkrit dengan persoalan yang kita hadapi di dunia.
Ragamnya teori yang muncul tersebut tidak lain bertujuan untuk menerangkan
kenyataan yang konkrit dan pada waktu sekarang makin banyak
menitikberatkan pada sifat eksistensialisme.

Pada makalah berjudul “Metafisik (Eksistensialisme) Martin


Heidegger” Heidegger sebagai seorang pemikir ekstrim dan kritikus sosial
perlu dilakukan perambahan intektual untuk memahami ciri dan sifat pemikiran
eksistensialismenya. Merujuk pada uraian latar belakang tersebut, pada
makalah ini perlu ditelaah beberapa rumusan masalah.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian eksistensialisme ?
2. Bagaimana karakteristik eksistensialisme ?
3. Bagaimana biografi Martin Heidegger sebagai seorang tokoh
eksistensialisme ?
4. Bagaimana eksistensialisme Martin Heidegger ?

Pemikiran eksistensialisme Martin Heidegger, Sifat eksistensial ini yang


dijadikan dasar filsafat abad ke-20. Filsafat Heidegger adalah rangkaian arus
berpikir yang tidak hanya mengetengahkan makna dari penjumlahan dalam dan
luar belaka, melainkan bagaimana manusia dalam proses menjadi dan mencari
arti keberadaaannya mampu memasuki ranah makna hal-hal di luar dirinya
sebagai dirinya. Ekternalisasi eksistensialisme Martin Heidegger merupakan
salah satu bagian dari filosofi keberadaan yang memberi ruang bagi interaksi
manusia dengan hal-hal sekitar. Apa yang dimaknai di luar diri kemudian
menjadi salah satu bagian yang tidak bisa dilepaskan dari eksistensi manusia
sendiri. Yang di luar manusia harus bisa dicari benang merahnya dengan
manusia itu sendiri. Semua yang di luar baru bermakna apabila manusia
mendekatinya.

B. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK EKSISTENSIALISME

Eksistensialisme adalah suatu filsafat yang menolak pemutlakan akal budi dan
menolak pemikiran-pemikiran abstrak murni. Eksistensialisme berupaya untuk
memahami manusia yang berada di dalam dunia, yakni manusia yang berada pada
situasi yang khusus dan unik. Beberapa pendapat tentang eksistensialisme ialah
sebagai berikut:

1. Eksistensialisme berasal dari kata eksistensi dari kata dasar exist.


Kata exist itu sendiri adalah bahasa Latin yang artinya: ex; keluar dan sistare;
berdiri. Jadi eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri.[2]

2. Eksistensi mengandung pengertian ruang dan waktu, eksistensi merupakan


keadaan tertentu yang lebih khusus dari sesuatu, dalam arti bahwa apa pun juga
yang bereksistensi tentu nyata ada tetapi tidak sebaliknya.[3]

3. Yang dimaksud dengan eksistensi ialah cara orang berada di dunia.[4]

4. Menurut Jean Hendrik Repper yang dikutip Blackham mengatakan bahwa


eksistensialisme adalah suatu filsafat keberadaan, suatu filsafat pembenaran dan
penerimaan dan suatu penolakan terhadap usaha rasionalisasi pemikiran yang
abstrak tentang kebenaran.[5]

Dari beberapa perbedaan pandangan tersebut di atas tentang definisi


eksistensialisme maka hal ini dapat dikatakan bahwa eksistensialisme adalah
filsafat yang mempunyai arti dalam segala (gejala) yang berdasar dan berpangkal
pada eksistensinya. Pada umumnya kata “eksistensi” berarti keberadaan, akan tetapi
dalam filsafat eksistensialisme ungkapan eksistensi mempunyai arti yang
khusus.[6] Namun demikian ada hal yang dapat disepakati bersama yakni
menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral.

Yang dimaksud dengan filsafat eksistensi adalah benar-benar sebagaimana arti


katanya, yaitu filsafat yang menempatkan cara wujud manusia sebagai tema
sentral [7] (cara manusia berada di dalam dunia). Cara manusia berada di dunia
berbeda dengan cara beradaannya benda-benda. Benda-benda tidak sadar akan
keberadaannya juga yang satu berada disamping yang lain, tanpa hubungan. Tidak
demikian dengan cara manusia berada. Manusia berada bersama-sama dengan
benda-benda itu, dan benda-benda menjadi berarti karena manusia. Disamping itu
manusia berada bersama-sama dengan manusia.[8] Artinya ialah bahwa manusia
subyek. Subjek berarti menyadari atau yang sadar, dan benda-benda yang
disadarinya disebut objek.

Adapun filsafat eksistensialisme rumusannya lebih sulit dari pada eksistensi. Sejak
muncul filsafat eksistensi, cara wujud manusia telah dijadikan tema sentral
pembahasan filsafat, tetapi belum pernah ada eksistensi yang secara radikal
menghadapkan manusia kepada dirinya seperti pada eksistensialisme.[9] Untuk
membedakan dua cara berada ini di dalam filsafat eksistensialisme dikatakan bahwa
benda-benda “berada” sedangkan manusia “bereksistensi”. Jadi hanya manusialah
yang bereksistensi.

Eksistensialisme tidak mencari tidak mencari esensi atau subtansi yang ada dibalik
penampakan manusia, melainkan kehendak mengungkap eksistensi manusia
sebagaimana yang dialami oleh manusia itu sendiri. Esensi atau subtansi mengacu
pada sesuatu yang umum, abstrak, statis sehingga menafikan sesuatu yang konkret,
individual, dan dinamis. Sebaliknya, eksistensi justru mengacu pada sesuatu yang
konkret, individual dan dinamis.[10] Oleh karena itu kata eksistensi diartikan:
manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya, manusia sadar
bahwa dirinya ada. Ia dapat meragukan segala sesuatu disekitarnya dihubungkan
dengan dirinya (mejaku, kursiku, temanku dan sebagainya). Di dalam dunia
manusia menentukan keadaanya dengan perbuatan-perbuatannya. Ia mengalami
dirinya sebagai pribadi. Ia menemukan pribadinya dengan seolah keluar dari dirinya
sendiri dan menyibukkan diri dengan apa yang di luar dirinya. Ia menggunakan
benda-benda yang di sekitarnya. Dengan kesibukannya itulah ia menemukan diri
sendiri. Ia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya dan sibuk dengan
dunia di luarnya. Demikianlah ia bereksistensi.

Eksistensialisme merupakan filsafat yang bersifat antropologi, karena memusatkan


perhatiannya pada otonomi dan kebebasan manusia. Maka, sementara ahli
memandang eksistensialisme sebagai salah satu bentuk dari
humanism.[11] Menurut Zubaedi yang dikutip dari Horal Titus dalam
buku “Living Issues in Philosofhy”, Kalangan eksistensialis membedakan antara
eksistensi dengan esensi. Eksistensi adalah keadaan aktual yang terjadi dalam ruang
dan waktu. Eksistensi menunjukkan kepada “suatu benda yang ada di sini dan
sekarang”. Dengan demikian keberadaan suatu benda terikat dengan waktu, maka
setiap benda memiliki waktu dan batasan tersendiri dalam memunculkan
keberadaannya. Eksistensi berarti bahwa jiwa atau manusia diakui adanya atau
hidupnya. Sementara esensi adalah kebalikannya, yaitu suatu yang membedakan
antara satu benda dan corak-corak benda lainnya. Esensi adalah menjadikan benda
itu seperti apa adanya.[12]

Karakteristik eksistensialisme, dari eksistensialisme dalam


bentuk atheism sampai theism, dari phenomenalism dan phenomenology sampai
bentuk Aristotelianism, merupakan tema pokok atau karakteristik utama
eksistensialisme. Ada beberapa hal karakteristik pokok yang dijadikan pedoman
dalam pemikiran eksistensialis antara lain:[13]

a. Eksistensi mendahului esensi (existence comes before essence).

b. Kebenaran ini subjektif.

c. Alam tidak menjadikan aturan moral, Prinsip-prisnsip moral dikonstruksi


oleh manusia dalam konteks bertanggung jawab atas perbuatan mereka dan
perbuatan selainnya.

d. Perbuatan individu tidak dapat diprekdisi.

e. Individu mempunyai kebebasan kehendak secara sempurna.

f. Individu tak dapat membantu melainkan sekedar membuat pilihan.

g. Individu dapat secara sempurna menjadi selain daripada keberadaanya.

Lebih lanjut Shubhi Rosyad yang mengutip Harold Titus menambahkan bahwa
eksistensialisme:

1) Menekankan kesadaran “ada” (being) dan eksistensi, realitas atau wujud


(being) adalah eksistensi yang terdapat dalam “I” bukan dalam “It”.

2) Percaya bahwa tak ada pengetahuan yang terpisah dari subjek yang
mengetahui, kita mengalami kebenaran dalam diri kira sendiri. Kebenaran tidak
dapat dicapai secara abstrak. Oleh karena itu, eksistensialis menggunakan bentuk-
bentuk sastra dan seni untuk mengekspresikan perasaan hati.

3) Menekankan pada individu, kebebasan, dan pertanggungjawabannya.

4) Menekankan pada keputusan dan tindakan, sementara pemikiran dan analitis


tidaklah mencukupi.

Pada pandangan materialisme, baik yang kolot maupun yang modern, manusia itu
pada akhirnya adalah benda seperti halnya kayu dan batu. Memang orang materialis
tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda seperti halnya kayu dengan
batu. Akan tetapi, materialisme bahwa pada akhirnya, jadi pada prinsipnya, pada
dasarnya manusia hanyalah sesuatu yang material; dengan kata lain materi, betul-
betul materi. Menurut bentuknya manusia lebih unggul ketimbang sapi, batu atau
pohon, tetapi pada eksistensinya manusia sama saja dengan sapi, pohon atau batu.
Dilihat dari keberadaanya juga sama, disinilah bagian ajaran yang dibantah oleh
eksistensialisme.

Sifat-sifat umun yang bagi penganut (yang dinamai) orang eksistensialisme


yaitu:[14]

a) Orang yang menyungguhkan dirinya (existere) dalam kesungguhan yang


tertentu.

b) Orang harus berhubungan dengan dunia.

c) Orang merupakan kesatuan sebelum ada perpisahan antara jiwa dan badannya

d) Orang yang berhubungan dengan ada.

, Abd. Rahman Assegaf mengutip Peter A. Angeles mengklasifikasikan menjadi


beberapa bagian, yaitu: pertama, aksistensi mendahului esensi; kedua, kebenaran
itu subjektif; ketiga, alam tidak menyediakan aturan normal. Prinsip moral
dikonstruksi oleh manusia dalam konteks bertanggungjawab atas perbuatan mereka
dan perbuatan selainnya; keempat, perbuatan individu tidak dapat
diprediksi; kelima, individu mempunyai kebebasan berkehendak secara
sempurna; keenam, individu tidak dapat membantu melainkan sekedar membuat
pilihan; ketujuh, individu dapat secara sempurna menjadi selain dari pada
keberadaannya.

C. BIOGRAFI MARTIN HEIDEGGER

Martin Heidegger lahir pada tanggal 26 September 1889 di kota kecil Messkirch
Baden, Jerman dan mempunyai pengaruh besar terhadap filosof di Eropa dan
Amerika Selatan. Ia menerima gelar Doktor dalam bidang filsafat dari Universitas
Freiburg dimana dia belajar dan menjadi asisten Edmund Husserl (penggagas
fenomenologi). Disertasinya berjudul Die Lehre Van Uerteil In
Psycologismus (Ajaran tentang Putusan dalam psikologi). Ia adalah anak seorang
pastor dari gereja katholik Santo Mortinus.

Sebelumnya dia kuliah di Fakultas Teologi selama empat semester, lalu pindah ke
filsafat dibawah bimbingan Heinrich Rickert, penganut Filsafat Neo-Kantinaisme
yang juga membawa pengaruh yang banyak baginya. Ia pernah menjabat sebagai
guru besar filsafat di Universitas Marburg dan berkenalan dengan teolog Protestan,
kemudian kembali ke Freiburg untuk menggantikan Husserl. Di Marburg, ia sempat
menyelasaikan karya monumentalnya yang berjudul Sein und Zeit (Being And
Time). Karena Husserl orang yahudi, maka sewaktu gerakan Nazi, ia berpisah
dengannya. Pada tahun 1933, ia menjadi Rektor pertama Universitas Freiburg yang
diangkat oleh gerakan National Sosialist (Nazi), dengan pidato pengukuhannya
berjudul “Role of the university in the New Reich” yang menekankan ide tentang
timbulnya Jerman Baru yang jaya. Begitu dia merasa dia hanya dieksplotasi maka
setahun kemudian, dia meletakkan jabatan rektornya. Namun dia masih mengajar
sampai pension pada tahun 1957. Karya-karyanya antara lain Sein dan Zeit,
Einfuhrug in die Methaphisic, What is Being,Why is there something rather than
nothing all”. Demikian judul-judul tentang eksistensi manusia, kegelisahan,
keterasingan dan mati.[15]
Heidegger mulanya adalah seorang pengikut fenomenologi. Edmund
Husserl adalah pendiri dan tokoh utama aliran ini, sementara Martin Heidegger
adalah mahasiswanya dan hal inilah yang meyakinkan Heidegger untuk menjadi
seorang fenomenolog. Heidegger menjadi tertarik akan pertanyaan tentang
"Ada" (atau apa artinya "berada"). Karyanya yang terkenal Being and Time (Ada
dan Waktu) Introduction to Metaphysics yang dicirikan sebagai sebuah ontologi
fenomenologis.[16]

D. EKSISTENSIALISME MARTIN HEIDEGGER

Martin Heidegger dianggap sebagai salah satu filsuf terbesar dari abad ke-20 dan
merupakan pemikir dan filsuf yang luar biasa kreatif, gagasannya memasuki bidang
penelitian yang luas. Karena diskusi Martin Heidegger tentang ontologi maka dia
dapat dianggap sebagai salah satu pendiri eksistensialisme. Sasaran dan titik tolak
penyelidikan Heidegger pada akhirnya adalah pada eksistensi manusia, pada
mengadanya manusia (Dasein). Itulah sebabnya filsafat Heidegger dianggap
sebagai bagian dari eksistensialisme.[17]

Ada dua hal yang mendasar yang memecut lahirnya pemikiran eksistensialis
Heidegger, yaitu dehumanisasi dan depersonalisasi dimana pasca
pasca renaissance enlightenmen atau revolusi industry, manusia telah menjadi alat-
alat industri, alat mekanik, zaman mesin sehingga betul-betul membuat manusia
menjadi robot, depersonalisasi. Yang kedua adalah adanya detotalization. Gejala
ini terlihat dengan jelas, baik pada golongan materialisme atapun idealisme yang
mengakui sebagian sebagai keseluruhan juga penempatan manusia sebagai subjek
karena menghadapi objek. Manusia hanya sebagai manusia karena bersatu dengan
realitas di sekitarnya

Keprihatinan Martin Heidegger kepada para filosof yang telah menyamakan


antara “berada” manusia dengan benda, sehingga ketika berbicara mengenai
manusia, maka manusia identik dengan benda. Pokok pemikirannya dicurahkannya
pada pemecahan yang konkrit terhadap persoalan yang mengenai arti “berada”,
menurut dia persoalan tentang “berada” ini belum pernah dikemukakan dengan cara
yang benar, karena orang telah mengira bahwa ia telah tahu tentang itu, pada hal
sebenarnya pengertian kita tentang “berada” hingga kini hanya samar-samar saja.
Menurut Heidegger, persoalan tentang “berada” ini hanya dapat dijawab melalui
ontologi, artinya: jika persoalan ini dihubungkan dengan manusia dan dicari artinya
dengan hubungan itu. Agar supaya usaha ini berhasil harus dipergunakan metode
fenomenologis.[19] Karena yang terpenting adalah menemukan makna kata
“berada” tersebut. Yaitu yang dia maksudkan dengan fenomena adalah sesuatu
yang tampak pada kesadaran (karena itu fenomenologi).[20]

Menemukan arti “berada” itu. Satu-satunya berada yang sendiri dapat dimengerti
sebagai berada ialah beradanya manusia. Keberadaan benda-benda terpisah dengan
yang lain, sedang beradanya manusia, mengambil tepat ditengah-tengah dunia
sekitarnya. Keberadaan manusia disebut dengan dasein (berada di sana, atau di
tempat). Berada artinya menempati atau mengambil tempat. Untuk itu manusia
harus keluar dari dirinya dan berada di tengah-tengah segala
berada. Dasein manusia juga disebut eksistensi.

Dari uraian tersebut di atas Martin Heidegger memiliki pemikiran dan metode yaitu:

1. Ditujukan pada pemecahan konkrit masalah "berada". Sebab selama ini


pengertian kita tentang itu masih "samar".
2. "Berada" hanya dapat dijawab lewat "mitologi", artinya jika dihubungkan
dengan manusia dan dicari artinya dalam hubungannya dengan itu. Agar
usaha itu berhasil mereka harus gunakan "fenomenologi" sebagai metode.
yang penting apa arti "berada".
3. Satu-satunya "berada" yang dengan sedirinya dapat dimengerti sebagai
"berada" adalah beradanya manusia.
4. Harus dibedakan antara "sein" = barada/manusia dengan "seinde" yang
berada/benda. Benda-benda hanya "varhanden" jika dipandang pada
dirinya sendiri, hanya terletak begitu saja didepan orang tanpa adanya
hubungan dengan orang itu.
5. Manusia berdiri sendiri tanpa mengambil tempat di tengah-tengah dunia
sekitarnya. Dengan demikian berarti ia "berada" bukan "yang berada",
maka:

a. Keberadaan manusia disebut "dasein" berada di sana, di tempat. Untuk itu,


manusia harus keluar dari dirinya sendiri dan berdiri di tengah-tengah segala
yang berada.
b. Dasein manusia disebut juga eksistensi (benda dalam dunia). Misal: kayu
bakar dll.
c. Secara fenomenologis : hubungan manusia dan dunianya bersifat praktis ia
sibuk dengan dunia/mengerjakan dunia (besargen=menyela-nyelakakan)
d. Di dunia, manusia berbuat. Berbuat : Praktis & teoritis (manusia diam).
Praktis: manusia bertemu benda-benda dan berbuat dengan benda-benda itu.
contoh : kayu jadi kursi, dll.
e. Dalam hidupnya dengan alam sekitar, manusia bersikap praktis. Dengan
demikian, manusia sebenarnya terbuka dengan dunianya.[21]

Keberadaan manusia yaitu berada di dalam dunia maka ia dapat memberi tempat
kepada benda-benda disekitarnya, ia dapat bertemu dengan benda-benda itu dan
dengan manusia-manusia lain, dapat bergaul dan berkomunikasi dengan semuanya.
Keberadaan manusia (desein) juga mitsen (berada bersama-sama). Karena
itu manusia terbuka bagi dunianya dan bagi sesamanya. Keterbukaan ini bersandar
pada asasi yang penting, Menurut Harun Hadiwijono, dalam bukunya “Sari Sejarah
Filsafat Barat 2” tentang eksistensialisme pemikiran Martin Heidegger dijelaskan
yaitu:[22]

1) Befindlichkeit atau kepekaan.

Kepekaan ini diungkapkan dalam bentuk perasaan dan emosi. Bahwa manusia
merasa senang, takut, sedih, gembira dan lain-lain bukanlah dihasilkan dari
pengamatan tapi bentuk dari “berada di dunia”. Dalam kehidupan sehari-hari
manusia dapat mendesak kepekaan itu bahkan menaklukannya, namun manusia
akan tetap mengalami kepekaan itu. Oleh karena itu, Befindlichkeit atau kepekaan
merupakan pengalaman yang elementer yang mengusai realitas.

2) Verstehen atau mengerti, memahami.

Yang dimaksud disini bukan saja sebagai pengertian atau pemahaman yang biasa
namun sebagai dasar segala pengertian. Verstehen dikaitkan dengan kebebasan
manusia. Hal ini disangkutpautkan dengan manusia dan kemungkinan-
kenungkinannya. Pengertian senantiasa diarahkan kepada kemungkinan akan
sesuatu dan syarat-syaratnya untuk mencapai sesuatu itu. Hal ini disebabkan karena
ada hal yang tersirat dalam pengertian ini yaitu struktur yang eksistensial, yang
disebut dengan Entwurf (rencana). Oleh karena itu, manusia merencanakan dan
merealisasikan kemungkinan-kemungkinanannya sendiri dan juga kemungkinan-
kemungkinan-kemungkinan dunia. Jadi Verstehen merupakan cara manusia berada
dalam dunia.

3) Rede atau kata-kata, hal berbicara.

Rede atau hal berbicara mewujudkan asas yang eksistensial bagi kemungkinan
untuk berbicara dan berkomunikasi serta bagi bahasa. Kata-kata berhubungan
dengan arti. Maksudnya secara apriori manusia telah memiliki “daya untuk
berbicara”. Manusia adalah makhluk yang dapat berbicara. Sambil berbicara dia
mengungkapkan diri. Pengungkapannya merupakan suatu pemberitahuan bahwa ia
”ada”.

Dalam bereksistensi manusia memiliki dua cara yaitu: bereksistensi yang


sebenarnya dan yang tidak sebenarnya. Di dalam kehidupan sehari-hari manusia
tidak bereksistensi dengan sebenarnya. Pada pandangan Heidegger, manusia tidak
menciptakan dirinya sendiri; ia dilemparkan kedalam keberadaan. Tetapi walau
manusia keberadaannya tidak meng-ada-kan sendiri bahkan merupakan keberadaan
yang terlempar, manusia tetap harus bertanggung jawab atas keberadaanya itu.
Manusia harus merealisasikan kemungkinan-kemungkinannya, akan tetapi
kenyataanya tidak menguasai dirinya sendiri. Inilah fakta keberadaan manusia,
yang timbul dari situasi terlemparnya itu.
Kepekaan diungkapkan dalam suasan bathin di dalam perasaan dan emosi. Di
antara suasana bathin atau perasaan-perasaan itu yang terpenting ialah rasa cemas.
Latar belakang kecemasan ini adalah pengalaman umum yang menjadikan kita tiba-
tiba merasa sendirian, dikepung oleh kekosongan hidup, dimana kita merasa bahwa
seluruh hidup kita tiada artinya.

Oleh karena itu dalam hidup sehari-hari manusia bereksistensi, tidak yang
sebenarnya. Akan tetapi justru karena itu manusia memiliki kemungkinan untuk
keluar dari eksistensi yang tidak yang sebenarnya itu. Keluar dari belenggu oleh
pendapat orang banyak dan menemukan dirinya sendiri.[23]

Ada dua alasan pokok mengapa Heidegger menjadikan dasar filsafatnya pada “ada”
(being) yaitu: Pertama, prihatin terhadap situasi zamannya yang kosong dari nuansa
religius dan kesadaran akan adanya Tuhan yang disebabkan oleh kosongnya makna
“ada” bagi manusia modern. Hanya dengan mengerti sang “ada” saja, eksistensi
hidup manusia akan menjadi sejati. Kedua, kekosongan dari ketidakmampaun
manusia memahami Tuhan sehingga tidak mampu menangkap kehadiran-Nya yang
juga disebabkan bahasa ucap mengenai ‘ada” tidak didengarkan, tidak diperbaharui,
dan tidak dikembalikan lagi, sehingga filosofi harus berusaha menemukan sang
Eksistensi, yaitu “ada” untuk dibahaskan kembali dan diberi arti baru.[24]

Heidegger sangat kritis pada manusia pada zaman sekarang. Manusia yang hidup
pada zaman modern hidup secara dangkal dan sangat memperhatikan kepada benda,
kuantitas, dan kekuasaan personal. Manusia modern tidak mempunyai akar dan
kosong oleh karena telah kehilangan rasa hubungan kepada wujud yang
sepenuhnya. Benda yang konkrit harus ditingkatkan, sehingga manusia itu terbuka
terhadap keseluruhan wujud.[25] Maka dengan demikian jika manusia yang
menghadapi hidupnya semu, maka tidak memiliki eksistensi yang sebenarnya,
hidupnya orang banyak. Manusia haruslah memanfaatkan waktunya untuk
merealisasikan kemungkinan-kemungkinannya secara tekun. Dengan ketekunan
menghadapi kata hatinya itulah cara bereksistensi yang sebenarnya dengan
demikian eksistensi akan menjadi jelas. Inilah cara menemukan dirinya sendiri.
Disini orang akan mendapatkan pengertian atau pemikiran yang benar tentang
manusia dan dunia.

Untuk memahami filsafat Heidegger, langkah yang paling tepat adalah dengan
memahami kata-kata kunci (key words)nya, yaitu:[26]

a) Dasein (Da-sein, Being-there), yaitu eksistensi manusia di dunia empiris ini.

b) Siende, yaitu beradanya benda-benda (things) yang keberadaanya terletak


begitu saja di depan orang (vorhanden).

c) Factififity, yaitu suatu fakta bahwa dasein adalah being yang terlempar.

d) Eksistentiality, yaitu suatu fakat bahwa dasein senantiasa harus mengatasi


dirinya sendiri untuk menuju kepada kuasa untuk meng-ada-nya.

e) Forfeiture (being fallen), yaitu dasein sebagai kesenantiasaan yang harus


mengada ketika telah tersedia sebagai “at”.

f) Geworfen-sein, yaitu situasi keberadaan manusia konkret di dunia ini yang


tahu-tahu sudah terlempat dan ada di dunia ini. Ia tidak memilih, tetapi sudah
dilahirkan dan ada di jagad ini.

g) Some, yaitu kecemasan mendalam, cemas akan macam-macam hal yang


melekat pada situasiketerlemparan manusia di dunia.

Beberapa kata kunci di atas dipergunakan oleh Heidegger untuk menemukan dan
merumuskan makna “ada” (sein, being), karena bagi Heidegger dasarnya dasar
untuk menjelaskan “ada” itu adalah (Being and Time). Dua struktur dasar atau
kategori “ada” ini dibahas dalam adanya manusia secara fenomeologis.

Namun “ada” itu sendiri tidak bias terlepas oleh “waktu” karena dasein tidak lain
adalah waktu itu sendiri. Waktu merupakan masa yang terdiri dari sekarang. Masa
mendatang terdiri dari masa sekarang yang belum terjadi dan pada suatu ketika akan
terjadi. Akhirnya, masa lampau dipahami sebagai masa sekarang yang dulu pernah
ada, tapi kini sudah tidak ada lagi.
E. EKSISTENSIALISME DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM

Martin Heidegger sebagai tokoh eksistensialisme, pengaruhnya pada lingkungan


akademis sangat besar dan lebih luas dibandingkan Husserl sendiri. Hal itu bisa
dipahami, mengingat Heidegger bukan hanya bisa diterima di dalam lingkungan
filsafat, tetapi juga dilingkungan ilmu-ilmu manusia[27] demikian pula pengaruh
eksistensialismenya terhadap dunia pendidikan terutama pendidikan Islam.

Abdurrahman Assegaf mengutip Bayraktar Bayrakli, dalam “Existencialism in the


Islamic and Western Educational Philosophies”, bahwa dalam Bahasa Arab,
kata existence berasal dari akar kata wajada yang berarti to find, serta turunannya:
wujud (existence), wijdan (conscience), wajd (nirvana) serta wujd. Bila mana
digunakan dalam bentuk wajd, wujd dan wijdan maka dapat berarti to have
property yang berkonsekuensi indevendence.[28] Dalam Surah At-Thalaq: 6[29],
kata wujdikum diartikan sebagai “menurut kemampuan-mu”, dalam Surah At-
Taubah: 5[30], kata “haitsu wajatumuhum” diartikan sebagai “kamu jumpai
mereka”. Maka menurut Abd. Rahman Assegaf bahwa eksistensialisme
atau filsafat wujudiyah, dalam terma Islam, bicara soal ada, kesadaran ,
kepemilikan, kemampuan dan lain-lain yang terkait dengan kehidupan
manusia.[31]

Dalam perspektif Islam, makna existence precedes assence dinisbahkan kepada


Allah semata. Menurut Al-Qur’an, satu-satunya zat yang memiliki karakteristik tadi
adalah Allah SWT. Pemikiran Islam juga menyatakan bahwa hubungan antara
esensi dan gejala (symptom) memiliki tempat yang lebih penting bila dibandingkan
dengan hubungan antara eksistensi dan esensi. Hal ini menguatkan argumentasi
para pemikir muslim bahwa penisbatan existence precedes essence hanya pada
Allah semata, tidak akan menjerumuskan, filsafat wujudiyah atau eksistensialisme
versi Islam ke dalam jebakan atheis. Selain itu, jika eksistensialisme hadir dalam
bentuk protes dan perlawanan terhadap positivisme, materialisme, pragmatisme,
idealisme dan rasionalisme, karena dipandang terlalu ekstrim dan menuduh aliran
tersebut merubah jiwa kebudayaan manusia yang esensial, maka Islam memandang
bahwa orang yang tidak mendayakan akal pikirannya berarti tidak sempurna
agamanya.[32] Dalam konteks pendidikan Islam maka hal ini dapat dikemukakan
bahwa tidak ada pertentangan eksistensialime dalam pandangan Islam semisal
berpikir dan iman, akal dan wahyu, bahkan mempunyai kecenderungan terjadi
konektifitas.

F. Penutup

1. Kesimpulan

Eksistensialisme merupakan suatu gerakan proses yang memberontak terhadap


filsafat Barat tradisional dan masyarakat modern terhadap pemecahan masalah yang
dilakukan oleh para filsuf. Aliran eksistensialis cenderung menolak watak
teknologi dan totalitarianisme yang impersonal dan lebih menekankan individual,
kebebasan dan pertanggungjawabannya. Eksistensialis percaya bahwa tidak ada
pengetahuan yang terpisah dari subyek yang mengetahui. Kita percaya terhadap
kebenaran dalam diri kita sendiri dan kebenaran tidak dicapai secara abstrak. Oleh
karena itu, eksistensialis menggunakan metode-metode sastra dan seni untuk
mengekspresikan perasaan dan suasana hati.

Dalam makalah ini maka motif pokok adalah apa yang disebut eksistensi, yaitu cara
manusia berada. Hanya manusialah yang bereksistensi. Eksistensi adalah cara khas
manusia berada. Pusat perhatian ini ada pada manusia yang bersifat humanistic.
Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan
dirinya secara aktif, bereksistensi berarti berbuat, menjadi, merencanakan. Setiap
saat manusia menjadi lebih atau kurang dari keadaannya. Di dalam eksistensialisme
manusia dipandang sebagai terbuka. Manusia adalah realitas yang belum selesai,
yang masih harus dibentuk. Pada hakikatnya manusia terikat pada dunia sekitarnya,
terlebih-lebih sesama manusia. Martin Heidegger memulai mencetuskan
pemikirannya tentang eksistensi karena keprihatinannya terhadap perkembangan
dan kemajuan ilmu pengetahuan serta zaman modern yang mengerucut pada
industrialisasi menyebabkan terjadinya dehumanisasi dan depersonalisasi. Ia
memiliki pemikiran bahwa manusia itu bebas dan masing-masing manusia
memiliki eksistensinya diantara manusia dan benda lain. Gagasannya yang ia coba
jabarkan bahwa antara “ada” dan “waktu” memiliki keterkaitan. Dengan
keterkaitan itu manusia harus menyadari bahwa manusia merupakan makhluk yang
berdiri sendiri namun terikat dengan benda-benda da manusia lain disekitarnya.
Dan berusaha untuk merealisasikan kemungkinan-kemungkinannya untuk menuju
kehidupan yang sejati dan menanggung kepastian yang terakhir, yaitu Kematian.
Eksistensialisme pemikiran Martin Heidegger yaitu : Befindlichkeit atau
kepekaan, Verstehen atau mengerti, memahami, dan Rede atau kata-kata, atau
dalam hal berbicara.
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal. Filsafat Manusia (Memahami Manusia Melalui Filsafat), Bandung:


PT Remaja Rosdakarya, 2006.

Anggoro, Yusuf, Eksistensialisme Martin Heidegger. Dalam


website, http://yusufanggoro.blogspot.com,html

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: PT. Sygma


Examedia Arkamlema, 2009.

Erlita Yustya Rini, “Eksistensialisme Martin Heidegger”, dalam


Website, http://pesantrenbudaya.com,

Harun Hadiwijono, Dr, Sari Sejarah Filsafat Barat Jilid II, Yogyakarta: Pusat
Penelitian dan Inovasi Pendidikan Duta Wacana,1979

Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius, 1988

Ihsan, Fuad, H.A., Filsafat Ilmu. Jakarta: Rineka Cipta,2010

Jurnal Pendidikan Islam, Kajian Tentang Konsep, Problem dan Prospek Pendidikan
Islam, (Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Vol. 4, No.2
Juli 2003.

Repper, Hendrik, Jean, Pengantar Filsafat.Yogyakarta: Kanisus,1996

Richard Osborne, Filsafat untuk Pemula.Yogyakarta: Kansius, 2001

Soemargono, Soejono, Pengantar Filsafat,Yogyakarta: tp, 1898

Subhi Rosyad, Eksistensi Martin Heidegger, dalam Website, http://inyong-


shubhi.blogspot.com

Surani, Prahesti, Filsafat Eksistensialisme Menurut Martin Heidegger, dalam


website, http://hezthy.blogspot.com.
Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum (Akal dan Hati Sejak Tales sampai Capra). Bandun:
Remaja Rosdakarya Ofset, 2009

Zubaedi, Dr, M.Ag. Filsafat Barat, (Dari Logika Baru Rene Descartes hingga
Revolusi Sains ala Thomas Kuhn).Yogyakarta; Ar-Ruzz Media:1997

[1]Jurnal Pendidikan Islam, Kajian Tentang Konsep, Problem dan Prospek


Pendidikan Islam, (Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Vol. 4,
No.2 Juli 2003, hlm. 253.

[2]Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu. Jakarta: Rineka Cipta, 2010, hlm.175-176.

[3]Soejono Soemargono, Pengantar Filsafat,Yogyakarta: tp, 1898, hlm.50.

[4]Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Akal dan Hati Sejak Tales sampai Capra).
Bandung: Remaja Rosdakarya Ofset 2009, hlm.219.

[5]Jean Hendrik Repper, Pengantar Filsafat.Yogyakarta: Kanisus,1996, hlm.116.

[6]Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat Jilid II, Yogyakarta: Pusat
Penelitian dan Inovasi Pendidikan Duta Wacana,1979, hlm.192.

[7]Fuad Ihsan, Filsafat.., hlm.176.

[8]Harun Hadiwijono, Sari..,

[9]Fuad Ihsan, Filsafat..,

[10] Zainal Abidin, Filsafat Manusia (Memahami Manusia Melalui


Filsafat, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 33.

[11]Erlita Yustya Rini, Eksistensialisme Martin Heidegger, Dalam


Website, http://pesantrenbudaya. com, diakses, 2 Oktober 2012.
[12]Zubaedi, Filsafat Barat, (Dari Logika Baru Rene Descartes hingga Revolusi
Sains ala Thomas Kuhn). Yogyakarta; Ar-Ruzz Media,1997, hlm.155-156.

[13]Subhi Rosyad, Eksistensi Martin Heidegger, Dalam Website, http://inyong-


shubhi.blogspot. com,html. diakses, 2 Oktober 2011.

[14] Richard Osborne, Filsafat untuk Pemula.Yogyakarta: Kansius, 2001, hlm. 155

[15]Subhi Rosyad, Eksistensi…

[16]Wikipedia,http://id.org/wiki/Martin_Heidegger diakses 2 Oktober 2012

[17] Zainal Abidin, Filsafat., hlm. 169.

[18]Zubaedi, Filsafat.., hlm.153-154

[19] Harun Hadiwijono, Sari…, hlm.195

[20] Richard Osborne, Filsafat…

[21]Yusuf Anggoro, Eksistensialisme Martin Heidegger. Dalam


website, http://yusufanggoro.blogspot.com,html, diakses, 2 Oktober 2012

[22] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius, 1988),
hlm. 152

[23] Fuad Ihsan, Filsafat.., hlm.179-180

[24]Zubaedi, Filsafat.., hlm. 157

[25]Prahesti Surani, Filsafat Eksistensialisme Menurut Martin Heidegger, Dalam


website, http://hezthy.blogspot.com.html, diakses, 2 Oktober 2012

[26] Zubaedi, Filsafat.., hlm.158

[27] Zainal Abidin, Filsafat., hlm. 181.

[28] Jurnal Pendidikan Islam, Kajian Tentang Konsep, Problem dan Prospek
Pendidikan Islam, (Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), hlm. 259.
[29]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: PT. Sygma
Examedia Arkamlema, 2009, hlm. 559.

[30] Departemen Agama RI, Al-Qur’an., Ibid, hlm. 187

[31] Jurnal Pendidikan Islam, Kajian Tentang Konsep, Problem dan Prospek
Pendidikan Islam, (Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta),

[32] Jurnal Pendidikan Islam, Kajian Tentang Konsep, Problem dan Prospek
Pendidikan Islam, (Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), hlm. 260.

Anda mungkin juga menyukai