Anda di halaman 1dari 5

Meta Model Magic (Part III)

10 09 2007

Halo, apa kabar?

Saya harap pikiran Anda sudah semakin bebas distorsi karena membaca
artikel minggu lalu ya. Nah, melanjutkan bahasan kita tentang
’keajaiban’ dari Meta Model, mari kita mulai dengan…

Generalization
Universal Quantifiers. Ketika kita secara refleks menggunakan
’pelanggaran’ Meta Model ini, kita melakukan penyamarataan atas suatu
hal secara berlebihan. Dengan kata lain, satu, dua, atau beberapa
pengalaman kita jadikan label untuk mengenali satu kelompok
pengalaman tertentu.

Orang tua saya tidak pernah mau tahu apa yang saya inginkan.

Apa yang muncul dalam benak Anda jika mendengar kalimat model
begini? Orang tua sang pengucap adalah orang tua yang amat tidak
pengertian terhadap anaknya, bukan? Pertanyannya, apakah benar
selama seumur sang anak hidup dari kecil hingga dewasa orang tuanya
tidak pernah pengertian sama sekali? Saya jamin tidak. Karena jika
demikian adanya, mana mungkin sang anak bisa hidup sampai sekarang?
Bukankah ketika ia masih bayi dan menangis karena lapar, orang tuanya
pasti memberinya makan? Ah, bukankah ini suatu bentuk pengertian?

Universal Quantifiers menjadi berbahaya karena ia membatasi mindset


kita dan mendorong kita untuk melakukan simplifikasi dalam menghadapi
perilaku manusia yang unik. Ah, orang Jawa kan memang begitu, suka
plin plan. Nah lo. Anda bisa merasakan bahayanya, kan?

Tidak ada hal yang mutlak di dunia ini (ups…saya baru saja melanggar
Meta Model nih), karenanya kita bisa melakukan Meta Model dengan
menanyakan:

Tidak pernah? Sekalipun?

Dengan nada yang tepat, kalimat seperti ini akan membuka cakrawala
berpikir kita dan mempertanyakan kembali keyakinan yang kita buat.

Modal Operators. Pernah dengar modus operandi? Nah, model kalimat


yang satu ini strukturnya mirip dengan arti dari modus operandi itu.
Secara singkat, modal operator adalah cara kita beroperasi (operate),
apakah dikarenakan keharusan (necessity) atau karena kemungkinan
(possibility). Agak membingungkan? Ini contohnya.

Saya harus belajar dengan giat agar lulus ujian.

Coba katakan kalimat di atas dalam hati, dan rasakan efeknya terhadap
state Anda. Tidak menyenangkan, bukan? Keterpaksaan barangkali bisa
mewakili satu dari sekian banyak efek yang bisa ditimbulkan oleh kalimat
model ini. Selain kita merasa memiliki beban berat secara emosi akibat
rasa ketidakberdayaan (hopelesness) yang muncul, kita tentu tidak akan
menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan.

Untuk mengatasinya, kita bisa bertanya:

Apa yang akan terjadi jika kamu tidak belajar dengan giat?

Pertanyaan seperti ini akan mengajak pendengarnya untuk menggali


deep structure yang menjadi alasan mereka melakukan sesuatu.
Ditanyakan beberapa kali, secara perlahan-lahan seseorang biasanya
akan menemukan bahwa mereka bisa memilih untuk tidak ”harus
melakukan sesuatu”, melainkan ”ingin melakukan sesuatu”. Ya, alih-alih
”mau karena harus”, ”mau karena ingin” akan memunculkan
kemanusiaan kita yang sebenarnya.

Itu baru yang keharusan. Modal operator yang lain adalah possibility.

Aku tuh paling nggak bisa deh bicara bahasa Inggris.

Mungkinkah sang pengucap akan bisa berbicara bahasa Inggris? Agak sulit
saya kira, jika kalimat ini benar-benar ia yakini. Mengatasi model ini,
kita bisa bertanya:

Apa persisnya yang menyebabkan kamu belum bisa berbicara bahasa


Inggris sampai saat ini? Bagaimana persisnya kamu belajar berbicara
bahasa Inggris selama ini? Apa yang akan terjadi jika kamu tiba-tiba bisa
berbicara bahasa Inggris dengan fasih?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini lagi-lagi akan menggali alasan utama


yang menghambat sang pengucap sekaligus mengajaknya untuk melihat
peluang yang mungkin untuk ia lakukan.

Lost Performer. Dalam model kalimat ini, kita menghilangkan subyek


yang memiliki otoritas terhadap kalimat tersebut sehingga seolah-olah
menjadi kalimat yang tak terbantahkan.
Eh, anak laki-laki nggak boleh menangis.

Ah, nggak penting punya harta banyak, yang penting bahagia.

Apakah anak laki-laki memang tidak boleh menangis, padahal menangis


adalah ekspresi alamiah? Apakah benar memiliki harta yang banyak tidak
penting dan tidak bisa memunculkan kebahagiaan? Jelas jawabannya
adalah tidak.

Guna mengembalikan kesadaran sang pengucap, kita bisa bertanya:

Siapa persisnya yang mengatakan anak laki-laki tidak boleh


menangis?

Menurut siapa saja persisnya memiliki harta yang banyak itu tidak
penting?

Deletion
Simple Deletion. Menggunakan simple deletion, kita mengucapkan suatu
kalimat dengan mengabaikan informasi mengenai seseorang, suatu
benda/hal, atau keterkaitan antara keduanya.

Contoh:

Saya merasa tidak nyaman.

Aku takut.

Aku tidak tahu.

Dengan mengatakan hal yang tidak lengkap seperti ini, sang pengucap
jelas akan merasakan kebingungan tanpa tahu persis apa penyebabnya
dan berakhir pada menggeneralisasi state tersebut kepada hal-hal lain
yang tidak secara langsung berkaitan.

Menggunakan Meta Model, kita bisa bertanya dan meminta si pengucap


untuk melengkapi bagian yang dihilangkan.

Merasa tidak nyaman terhadap apa/siapa?

Takut kepada apa/siapa?

Apa persisnya yang kamu tidak tahu?


Dengan mengatakan secara lebih lengkap, kita bisa semakin mudah
mengenali penyebab munculnya suatu state untuk kemudian mencari
solusi yang tepat guna mengatasinya.

Comparative Deletion. Di sini, kita membandingkan suatu hal dengan


hal lain, tanpa menyebutkan secara jelas pembandingnya.

Contoh:

Wah, kamu hebat sekali.

Dia memang lebih pintar.

Mirip dengan simple deletion, tanpa menjelaskan secara detil


pembandingnya, comparative deletion akan membuat kita
menggeneralisasi state kepada hal-hal lain dan menjadikan pernyataan
tersebut seolah tak terbantahkan.

Untuk mengatasinya, cukup kita tanyakan:

Hebat dibandingkan dengan?

Lebih pintar dibandingkan dengan?

Unspecified Noun or Verbs. Pada ’pelanggaran’ model ini, kita


mengucapkan sebuah kalimat yang tidak secara spesifik menunjuk suatu
obyek atau kata kerja tertentu.

Contoh:

Eh, teman-teman nggak suka lho dengan caramu.

Dia telah membuat saya marah.

Mereka tidak yang mau mendengarkan saya.

Anda bisa menangkap poinnya? Apa yang Anda rasakan jika mendengar
kalimat pertama diucapkan kepada Anda? Seolah-olah semua teman yang
Anda kenal tidak suka dengan semua cara Anda, bukan?

Menggunakan Meta Model, kita bisa membantu sang pengucap untuk


mengurangi intensitas emosinya yang terlalu tinggi dengan bertanya:

Teman-teman yang mana persisnya yang tidak suka dengan cara


saya? Cara saya yang mana persisnya yang tidak disukai?
Siapa persisnya yang telah membuatmu marah? Bagaimana
persisnya dia membuatmu marah? Apa persisnya yang dia
lakukan sehingga membuatmu marah?

Siapa persisnya yang tidak mau mendengarkanmu? Bagaiamana


persisnya kamu menginginkan orang-orang untuk
mendengarkanmu?

OK, model-model di atas adalah pola-pola Meta Model yang paling umum
penggunaannya. Apakah hanya segini jumlahnya? Tentu tidak. Meta
Model, seperti halnya teknik-teknik lain, masih terus berkembang. John
Grinder dan Michael McMaster, misalnya, mengembangkan kembali Meta
Model dalam format yang lebih praktis untuk digunakan dalam dunia
bisnis dan manajemen.

Sebuah pertanyaan muncul? Bagaimana persisnya kita bisa menggunakan


Meta Model secara efektif dan efisien dengan sekian banyaknya jenis
model? Tidakkah kita akan dipandang sebagai seorang ”Monster Meta
Model” jika menanyakan kesemuanya?

Sabar. Sambil terus berlatih, tunggu artikel berikutnya, OK!

Anda mungkin juga menyukai