Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Leukemia berasal dari bahasa yunani yaitu leukos yang berarti putih dan
haima yang berarti darah. Jadi leukemia dapat diartikan sebagai suatu penyakit
yang disebabkan oleh sel darah putih. Proses terjadinya leukemia adalah ketika
seldarah yang bersifat kanker membelah secara tak terkontrol dan mengganggu
pembelahan sel darah normal.
Leukemia (kanker darah) merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan
pertambahan jumlah sel darah putih (leukosit). Pertambahan ini sangat cepat dan
tidak terkendali serta bentuk sel-sel darah putihnya tidak normal. Pada
pemeriksaan mikroskopis apus darah tepi terlihat sel darah putih muda, besar-
besar dan selnya masih berinti (disebut megakariosit) putih (neoplasma
hematology).
Beberapa ahli menyebut leukemia sebagai keganasan sel darah putih
(neoplasma hematology). Leukemia ini sering berakibat fatal meskipun leukemia
limpositik yang menahun (chronic lympocytic leucaemia), dahulu disebut sebagai
jenis leukemia yang bisa bisa bertahan lama dengan pengobatan yang intensif.
Kemungkinan anak-anak terkena kanker cukup tinggi. Mengingat tingginya
risiko anak-anak terkena kanker dan tumor, diingatkan bahwa para orangtua perlu
perhatian dan kesigapan. Terutama terhadap anak-anak yang memiliki gejala-
gejala mirip dengan gejala kanker. Lebih ditekankan para orangtua, terutama
masyarakat awam, mengetahui dan mendapatkan informasi cukup tentang kanker
dan tumor yang menyerang anak-anak. Masyarakat diharapkan tahu banyak,
sadar, percaya, dan akhirnya berbuat sesuatu untuk menghadapi kanker ini.
Sekarang seluruh warga Indonesia harus memberikan perhatian khusus pada
kanker anak yang antara lain adalah kanker darah atau leukemia, kanker tulang,
saraf, ginjal, dan getah bening. Pengobatan penyakit-penyakit ini pada anak-anak
berbeda dari orang dewasa, karena mereka masih di usia pertumbuhan.
Kanker darah atau leukemia merupakan bertambahnya sel darah abnormal
secara berlebihan dan tidak terkendali, dan penyebarannya ke seluruh tubuh
sangat cepat. bertahan lama dengan pengobatan yang intensif.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dari leukemia?
2. Apa saja etiologi leukemia?
3. Bagaimana kah patofisiologi leukemia?
4. Apa saja manifestasi klinis dari leukemia?
5. Apa saja pemeriksaan penunjang pada leukemia?
6. Bagaimana dengan penatalaksaan pada leukemia?
7. Bagaimana teori asuhan keperawatan tentang leukemia?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari leukemia
2. Untuk mengetahui etiologi leukemia
3. Untuk mengetahui patofisiologi dari leukemia
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari leukemia
5. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang pada leukemia
6. Untuk mengetahui penatalaksaan pada leukemia
7. Untuk mengetahui teori asuhan keperawatan tentang leukemia

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Leukemia adalah proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering
disertai bentuk leukosit yang lain daripada normal, jumlahnya berlebihan dan
dapat menyebabkan anemia, trimbisitopeni dan di akhiri dengan kematian.
(Hasan, R).

2
Leukimia adalah proliferasi tak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam
sum-sum tulang menggantikan elemen sum-sum tulang normal (Smeltzer, S C and
Bare, B.G, 2002 : 248 ).
Leukimia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa
proliferasio patologis sel hemopoetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan
sum-sum tulang dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi ke
jaringan tubuh yang lain. (Arief Mansjoer, dkk, 2002 : 495).
Jadi dapat disimpulkan bahwa leukemia adalah penyakit akibat terjadinya
proliferasi sel leukosit yang abnormal dan ganas serta sering disertai adanya
leukosit jumlah yang berlebihan dari sel pembuatan darah yang bersifat sistemik
dan biasanya berakhir fatal.

2.2 Klasifikasi
Secara sederhana leukemia dapat diklasifikasikan berdasarkan maturasi sel
dan tipe sel asal yaitu:
1. Leukemia Akut
Leukemia Akut adalah keganasan primer sumsum tulang yang berakibat
terdesaknya komponen darah normal oleh komponen darah abnormal (blastosit)
yang disertai dengan penyebaran ke organ-organ lain. Leukemia akut memiliki
perjalanan klinis yang cepat, tanpa pengobatan penderita akan meninggal rata-rata
dalam 4 – 6 bulan.
a. Leukemia Limfositik Akut (LLA)
Leukemia Limfositik Akut merupakan jenis leukemia dengan
karakteristik adanya proliferasi dan akumulasi sel-sel patologis dari sistem
limfopoetik yang mengakibatkan organomegali (pembesaran alat-alat dalam) dan
kegagalan organ.
Leukemia Limfositik Akut lebih sering ditemukan pada anak-anak (82%)
daripada umur dewasa (18%). Insiden Leukemia Limfositik Akut akan mencapai
pucaknya pada umur 3 – 7 tahun. Tanpa pengobatan sebagian anak-anak akan
hidup 2 - 3 bulan setelah terdiagnosis terutama diakibatkan oleh kegagalan
sumsum tulang.
b. Leukemia Mielositik Akut (LMA)
Leukemia Mieolistik Akut merupakan leukemia yang mengenai sel stem
hemopoetik yang akan berdiferensiasi ke semua sel mieloid. Leukemia Mielositik
Akut merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi. Lebih sering

3
ditemukan pada orang dewasa (85%) dibandingkan anak-anak (15%).
Permulaannya mendadak dan progresif dalam masa 1 sampai 3 bulan dengan
durasi gejala yang singkat. Jika tidak diobati, Leukemia Mieolistik Akut fatal
dalam 3 sampai 6 bulan.
2. Leukemia Kronik
Leukemia Kronik merupakan suatu penyakit yang ditandai proliferasi
neoplastik dari salah satu sel yang berlangsung atau terjadi karena keganasan
hematologi.
a. Leukemia Limfositik Kronik (LLK)
Leukemia Limfositik Kronik adalah suatu keganasan klonal limfosit B
(jarang pada limfosit T). Perjalanan penyakit ini biasanya perlahan, dengan
akumulasi progresif yang berjalan lambat dari limfositik kecil yang berumur
panjang. Leukemia Limfositik Kronik cenderung dikenal sebagai kelainan ringan
yang menyerang individu yang berusia 50 sampai 70 tahun dengan perbandingan
2 : 1 untuk laki-laki.
b. Leukemia Ganulositik Kronik / Leukemia Mielositik Kronik (LGK/
LMK)
Leukemia Granulositik Kronik / Leukemia Mielositik Kronik adalah
gangguan mieloproliteratif yang ditandai dengan produksi berlebihan sel mieloid
(seri granulosit) yang relatif matang.
Leukemia Granulositik Kronik / Leukemia Mielositik Kronik mencakup
20% leukemia dan paling sering dijumpai pada orang dewasa usia pertengahan
(40 – 50 tahun). Abnormalitas genetik yang dinamakan kromosom philadelphia
ditemukan pada 90 – 95% penderita Leukemia Granulositik Kronik / Leukemia
Mielositik Kronik.
Sebagaian besar penderita Leukemia Granulositik Kronik / Leukemia
Mielositik Kronik akan meninggal setelah memasuki fase akhir yang disebut fase
krisis blastik yaitu produksi berlebihan sel muda leukosit, biasanya berupa
mieloblas / promielosit, disertai produksi neutrofil, trombosit dan sel darah merah
yang amat kurang.

2.3 Etiologi
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor
predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu :

4
a. Faktor genetik : virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen
(Tcell Leukemia – Lhymphoma Virus/ HLTV).
b. Radiasi
c. Obat-obat imunosupresif, obat-obat kardiogenik seperti diethylstilbestrol.
d. Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot.
e. Kelainan kromosom, misalnya pada down sindrom. (Suriadi & Rita Yuliani,
2001 : hal. 177).
Leukemia biasanya mengenai sel-sel darah putih. Penyebab dari sebagian
besar jenis leukemia tidak diketahui. Pemaparan terhadap penyinaran (radiasi) dan
bahan kimia tertentu (misalnya benzena) dan pemakaian obat antikanker,
meningkatkan resiko terjadinya leukemia. Orang yang memiliki kelainan genetik
tertentu (misalnya sindroma Down dan sindroma Fanconi), juga lebih peka
terhadap leukemia.

2.3 Patofisiologi
Sebuah sel induk majemuk berpotensi untuk mengalami diferensiasi,
poliferasi dan maturasi untuk membentuk sel-sel darah matang yang dapat dilihat
pada sirkulasi perifer, dan adanya terjadi pertumbuhan yang bersifat irreversible
dari sel induk dari darah. Pertumbuhan dimulai dari mana sel itu berada. Sel-sel
tersebut, pada berbagai stadia akan membanjiri aliran darah yang berakibat sel
yang spesifik akan dijumpai dalam jumlah yang banyak. Sebagai akibat dari
proliferasi sel abnormal tersebut maka akan terjadi kompetisi metabolik yang akan
menyebabkan anemia dan trombositopenia. Apabila proliferasi sel terjadi di limpa
maka limpa akan membesar, sehingga dapat terjadi hipersplenisme yang
selanjutnya menyebabkan makin memburuknya anemia serta trombositopenia
(Supandiman, 1997).
Etiologi leukimia sampai sekarang belum dapat dijelaskan secara
keseluruhan. Banyak para ahli menduga bahwa faktor infeksi sangat berperan
dalam etiologi leukimia. Infeksi terjadi oleh suatu bahan yang menyebabkan
reaksi seperti infeksi oleh suatu virus. Mereka membuat suatu postulat bahwa
kelainan pada leukimia bukan merupakan penyakit primer akan tetapi merupakan
suatu bagian dari respon pertahanan sekunder dari tubuh terhadap infeksi tersebut.
Respon defensif tubuh berbeda pada berbagai tingkat usia oleh karena itu maka

5
kita lihat bahwa leukimia limfoblastik akut terdapat banyak pada anak-anak,
leukimia mieoblastik akut pada usia dewasa muda, leukimia granulositik kronik
pada dewasa muda dan orang tua dan leukimia limfositik kronik dapat dijumpai
pada semua umur (Supandiman, 1997).
Terjadi peningkatan insiden leukimia pada orang-orang yang terkena radiasi
sinar rontgen (terkena radiasi ledakan bom atom, yang dapat terapi radiologis dan
para dokter ahli radiologis). Diduga peningkatan insiden ini karena akibat radiasi
akan merendahkan resistensi terhadap bahan penyebab leukimia tersebut
(Supandiman, 1997). Selain faktor diatas ada beberapa faktor yang menjadi
penyebab leukimia akut yaitu faktor genetika, lingkungan dan sosial ekonomi,
racun, status imunologi, serta kemungkinan paparan virus keduanya.
Obat yang dapat memicu terjadinya leukimia akut yaitu agen pengalkilasi,
epindophy ilotoxin. Kondisi genetik yang memicu leukimia akut yaitu Down
sindrom, bloom sydrom, fanconi anemia, ataxia telangiectasia. Bahan kimia
pemicu leukimia yaitu benzen. Kebiasaan hidup yang memicu leukimia yaitu
merokok, minum alkohol (Dipiro, et al, 2005).

Faktor risiko untuk leukemia antara lain adalah predisposisi genetik yang
berhubungan dengan insiator (mutasi) yang diketahui atau tidak diketahui.
Saudara kandungan dari anak yang menderita leukemia memiliki kecerendungan 2
sampai 4 kali lipat untuk mengalami penyakit ini disbandingkan anak-anak lain.
Kromosom abnormalitas kromosom tertentu, termasuk sindrom Down memiliki
resiko menderita leukemia. Pajanan terhadap radiasi, beberapa jenis obat yang
menekan sumsum tulang, dan berbagai obat kemoterapi telah dianggap
meningkatkan risiko leukemia, agens-agens berbahaya di lingkungan juga di duga
dapat menjadi faktor risiko.
Riwayat penyakit sebelumnya yang berkaitan dengan hematopoies
(pembentukan sel darah) telah terbukti meningkatkan risiko leukehodgkin,
myeloma multiple. Riwayat leukemia kronis meningkatkan risiko leukemia akut.

2.4 Pathway

3 Faktor pencetus : genetic, radiasi,


4 obat-obatan, kelainan kromosom, Sel neoplasma berproliferasi
infeksi virus, paparan bahan kimia. didalam sumsum tulang

6
Infiltrasi sumsum Penyebaran
Sel onkogen
tulang ekstramedular
Pertumbuhan berlebih
Pembesaran hati dan Nodus limfe
Kebutuhan nutrisi
limfa
meningkat
limfadenopati
Hepatosplenomegali
hipermetabolisme
Penekanan ruang
abdomen MK
Peningkatan Ketidakseimbangan
tekanan intra nutrisi kurang dari
ik abdomen kebutuhan tubuh
Sel normal
digantikan oleh Gangguan rasa
sel kanker nyaman MK
Depresi produksi sumsum Resiko perdarahan
tulang
kecenderungan perdarahan

trombositopenia Hipoksemia Resiko Syok


Penurunan trombosit
Suplai oksigen MK Ketidakseimbangan
Penurunan eritrosit anemia kejaringan In-
perfusi jaringan perifer
adekuat

Penurunan fungsi leukosit Daya tahan tubuh menurun Resiko infeksi


Infiltrasi periosteal Kelemahan tulang

tulang lunak dan lemah stimulasi saraf C (noticeptor)

fraktur fisiologis Nyeri Akut

Hambatan mobilitas fisik

2.5 Manifestasi Klinis

Gejala klinis dari leukemia pada umumnya adalah anemia, trombositopenia,


neutropenia, infeksi, kelainan organ yang terkena infiltrasi, hipermetabolisme.
a. Leukemia Limfositik Akut

7
Gejala klinis LLA sangat bervariasi. Umumnya menggambarkan kegagalan
sumsum tulang. Gejala klinis berhubungan dengan anemia (mudah lelah, letargi,
pusing, sesak, nyeri dada), infeksi dan perdarahan. Selain itu juga ditemukan
anoreksi, nyeri tulang dan sendi, hipermetabolisme.21 Nyeri tulang bisa dijumpai
terutama pada sternum, tibia dan femur.
b. Leukemia Mielositik Akut
Gejala utama LMA adalah rasa lelah, perdarahan dan infeksi yang
disebabkan oleh sindrom kegagalan sumsum tulang. perdarahan biasanya terjadi
dalam bentuk purpura atau petekia. Penderita LMA dengan leukosit yang sangat
tinggi (lebih dari 100 ribu/mm3) biasanya mengalami gangguan kesadaran, napas
sesak, nyeri dada dan priapismus. Selain itu juga menimbulkan gangguan
metabolisme yaitu hiperurisemia dan hipoglikemia.
c. Leukemia Limfositik Kronik
Sekitar 25% penderita LLK tidak menunjukkan gejala. Penderita LLK yang
mengalami gejala biasanya ditemukan limfadenopati generalisata, penurunan
berat badan dan kelelahan. Gejala lain yaitu hilangnya nafsu makan dan
penurunan kemampuan latihan atau olahraga. Demam, keringat malam dan infeksi
semakin parah sejalan dengan perjalanan penyakitnya.
d. Leukemia Granulositik/Mielositik Kronik
LGK memiliki 3 fase yaitu fase kronik, fase akselerasi dan fase krisis blas.
Pada fase kronik ditemukan hipermetabolisme, merasa cepat kenyang akibat
desakan limpa dan lambung. Penurunan berat badan terjadi setelah penyakit
berlangsung lama. Pada fase akselerasi ditemukan keluhan anemia yang
bertambah berat, petekie, ekimosis dan demam yang disertai infeksi.

2.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah tepi dan


pemeriksaan sumsum tulang.
a. Pemeriksaan Darah Tepi
Pada penderita leukemia jenis LLA ditemukan leukositosis (60%) dan
kadang-kadang leukopenia (25%). Pada penderita LMA ditemukan penurunan
eritrosit dan trombosit. Pada penderita LLK ditemukan limfositosis lebih dari

8
50.000/mm3, sedangkan pada penderita LGK/LMK ditemukan leukositosis lebih
dari 50.000/mm3.
b. Pemeriksaan Sumsum Tulang
Hasil pemeriksaan sumsum tulang pada penderita leukemia akut ditemukan
keadaan hiperselular. Hampir semua sel sumsum tulang diganti sel leukemia
(blast), terdapat perubahan tiba-tiba dari sel muda (blast) ke sel yang matang tanpa
sel antara (leukemic gap). Jumlah blast minimal 30% dari sel berinti dalam
sumsum tulang. Pada penderita LLK ditemukan adanya infiltrasi merata oleh
limfosit kecil yaitu lebih dari 40% dari total sel yang berinti. Kurang lebih 95%
pasien LLK disebabkan oleh peningkatan limfosit B. Sedangkan pada penderita
LGK/LMK ditemukan keadaan hiperselular dengan peningkatan jumlah
megakariosit dan aktivitas granulopoeisis. Jumlah granulosit lebih dari
30.000/mm3.

2.7 PENATALAKSANAAN
A. Kemoterapi
1. Kemoterapi pada penderita LLA
a) Tahap 1 (terapi induksi)
Tujuan dari tahap pertama pengobatan adalah untuk membunuh sebagian
besar sel-sel leukemia di dalam darah dan sumsum tulang. Terapi induksi
kemoterapi biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit yang panjang karena
obat menghancurkan banyak sel darah normal dalam proses membunuh sel
leukemia. Pada tahap ini dengan memberikan kemoterapi kombinasi yaitu
daunorubisin, vincristin, prednison dan asparaginase.
b) Tahap 2 (terapi konsolidasi/ intensifikasi)
Setelah mencapai remisi komplit, segera dilakukan terapi intensifikasi yang
bertujuan untuk mengeliminasi sel leukemia residual untuk mencegah relaps dan
juga timbulnya sel yang resisten terhadap obat. Terapi ini dilakukan setelah 6
bulan kemudian.
c) Tahap 3 ( profilaksis SSP)
Profilaksis SSP diberikan untuk mencegah kekambuhan pada SSP.
Perawatan yang digunakan dalam tahap ini sering diberikan pada dosis yang lebih

9
rendah. Pada tahap ini menggunakan obat kemoterapi yang berbeda, kadang-
kadang dikombinasikan dengan terapi radiasi, untuk mencegah leukemia
memasuki otak dan sistem saraf pusat.

d) Tahap 4 (pemeliharaan jangka panjang)


Pada tahap ini dimaksudkan untuk mempertahankan masa remisi. Tahap ini
biasanya memerlukan waktu 2-3 tahun. Angka harapan hidup yang membaik
dengan pengobatan sangat dramatis. Tidak hanya 95% anak dapat mencapai
remisi penuh, tetapi 60% menjadi sembuh. Sekitar 80% orang dewasa mencapai
remisi lengkap dan sepertiganya mengalami harapan hidup jangka panjang, yang
dicapai dengan kemoterapi agresif yang diarahkan pada sumsum tulang dan SSP.
2. Kemoterapi pada penderita LMA
a) Fase induksi
Fase induksi adalah regimen kemoterapi yang intensif, bertujuan untuk
mengeradikasi sel-sel leukemia secara maksimal sehingga tercapai remisi komplit.
Walaupun remisi komplit telah tercapai, masih tersisa sel-sel leukemia di dalam
tubuh penderita tetapi tidak dapat dideteksi. Bila dibiarkan, sel-sel ini berpotensi
menyebabkan kekambuhan di masa yang akan datang.
b) Fase konsolidasi
Fase konsolidasi dilakukan sebagai tindak lanjut dari fase induksi.
Kemoterapi konsolidasi biasanya terdiri dari beberapa siklus kemoterapi dan
menggunakan obat dengan jenis dan dosis yang sama atau lebih besar dari dosis
yang digunakan pada fase induksi. Dengan pengobatan modern, angka remisi 50-
75%, tetapi angka rata-rata hidup masih 2 tahun dan yang dapat hidup lebih dari 5
tahun hanya 10%.
3. Kemoterapi pada penderita LLK
Derajat penyakit LLK harus ditetapkan karena menetukan strategi terapi dan
prognosis. Salah satu sistem penderajatan yang dipakai ialah klasifikasi Rai:
- Stadium 0 : limfositosis darah tepi dan sumsum tulang
- Stadium I : limfositosis dan limfadenopati.
- Stadium II : limfositosis dan splenomegali/ hepatomegali.

10
- Stadium III : limfositosis dan anemia (Hb < 11 gr/dl).
- Stadium IV : limfositosis dan trombositopenia <100.000/mm3 dengan / tanpa
gejala pembesaran hati, limpa, kelenjar.

Terapi untuk LLK jarang mencapai kesembuhan karena tujuan terapi


bersifat konvensional, terutama untuk mengendalikan gejala. Pengobatan tidak
diberikan kepada penderita tanpa gejala karena tidak memperpanjang hidup. Pada
stadium I atau II, pengamatan atau kemoterapi adalah pengobatan biasa. Pada
stadium III atau IV diberikan kemoterapi intensif. Angka ketahanan hidup rata-
rata adalah sekitar 6 tahun dan 25% pasien dapat hidup lebih dari 10 tahun. Pasien
dengan sradium 0 atau 1 dapat bertahan hidup rata-rata 10 tahun. Sedangkan pada
pasien dengan stadium III atau IV rata-rata dapat bertahan hidup kurang dari 2
tahun.
4. Kemoterapi pada penderita LGK/LMK
a) Fase Kronik
Busulfan dan hidroksiurea merupakan obat pilihan yag mampu menahan
pasien bebas dari gejala untuk jangka waktu yang lama. Regimen dengan
bermacam obat yang intensif merupakan terapi pilihan fase kronis LMK yang
tidak diarahkan pada tindakan transplantasi sumsum tulang.
b) Fase Akselerasi
Sama dengan terapi leukemia akut, tetapi respons sangat rendah.
B. Radioterapi
Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel
leukemia. Sinar berenergi tinggi ini ditujukan terhadap limpa atau bagian lain
dalam tubuh tempat menumpuknya sel leukemia. Energi ini bisa menjadi
gelombang atau partikel seperti proton, elektron, x-ray dan sinar gamma.
Pengobatan dengan cara ini dapat diberikan jika terdapat keluhan pendesakan
karena pembengkakan kelenjar getah bening setempat.
C. Transplantasi Sumsum Tulang
Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk mengganti sumsum tulang
yang rusak dengan sumsum tulang yang sehat. Sumsum tulang yang rusak dapat
disebabkan oleh dosis tinggi kemoterapi atau terapi radiasi. Selain itu,

11
transplantasi sumsum tulang juga berguna untuk mengganti sel-sel darah yang
rusak karena kanker. Pada penderita LMK, hasil terbaik (70-80% angka
keberhasilan) dicapai jika menjalani transplantasi dalam waktu 1 tahun setelah
terdiagnosis dengan donor Human Lymphocytic Antigen (HLA) yang sesuai.
Pada penderita LMA transplantasi bisa dilakukan pada penderita yang tidak
memberikan respon terhadap pengobatan dan pada penderita usia muda yang pada
awalnya memberikan respon terhadap pengobatan.
D. Keperawatan
1. Terapi Suportif
Terapi suportif berfungsi untuk mengatasi akibat-akibat yag ditimbulkan
penyakit leukemia dan mengatasi efek samping obat. Misalnya transfusi darah
untuk penderita leukemia dengan keluhan anemia, transfusi trombosit untuk
mengatasi perdarahan dan antibiotik untuk mengatasi infeksi.

2.8 KOMPLIKASI
Berikut ini dapat dicermati komplikasi yang timbul pada leukemia :
a. Anemia (kurang darah) : hal ini karena produksi sel darah merah kurang atau
akibat perdarahan.
b. Terinfeksi berbagai penyakit : hal ini karena sel darah putih yang ada kurang
berfungsi dengan baik meskipun jumlahnya berlebihan tetapi sudah berubah
menjadi ganas sehingga tidak mampu melawan infeksi dan benda asing yang
masuk ke dalam tubuh. Di samping itu, pada leukemia obat-obatan anti
leukemia menurunkan kekebalan.
c. Perdarahan : hal ini terjadi sebagai akibat penekanan sel leukemia pada sum-
sum tulang sehigga sel pembeku darah produksinya berkurang.
d. Gangguan metabolisme
1) Berat badan turun
2) Demam tanpa infeksi yang jelas
3) Kalium dan kalsium darah meningkat, dan ada pula yang rendah
4) Gejala asidosis sebagai akibat asam laktat meningkat
e. Penyusupan sel leukemia pada organ-organ:
1) Terlihat organ limpa membesar

12
2) Gejala gangguan saraf otak
3) Gangguan kesuburan
4) Tanda-tanda bendungan pembuluh darah paru.

BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN TEORI TENTANG PENYAKIT


LEUKEMIA

3.1 PENGKAJIAN

1. Keluhan Utama
Nyeri tulang sering terjadi, lemah nafsu makan menurun, demam (jika
disertai infeksi) juga disertai dengan sakit kepala.
2. Riwayat Perawatan Sebelumnya
3. Riwayat penyakit
a. Kaji adanya tanda-tanda anemia:
- Pucat
- Kelemahan
- Sesak
- Nafas cepat
b. Kaji adanya tanda-tanda leukopenia:
- Demam
- Infeksi
c. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia:
- Ptechiae
- Purpura
- Perdarahan membran mukosa
d. Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola:
- Limfadenopati
- Hepatomegali
- Splenomegali
e. Kaji adanya pembesaran testis
f. Kaji adanya:

13
- Hematuria
- Hipertensi
- Gagal ginjal
- Inflamasi disekitar rectal
- Nyeri

4. Riwayat Tumbuh Kembang


Bagaimana pemberian ASI, adakah ketidaknormalan pada masa
pertumbuhan dan kelainan lain ataupun sering sakit-sakitan.

3.2 ANALISA DATA


a. Data Subjektif
Data Subjektif yang mungkin timbul pada penderita leukemia adalah
sebagai berikut :
1) Lelah
2) Letargi
3) Pusing
4) Sesak
5) Nyeri dada
6) Napas sesak
7) Priapismus
8) Hilangnya nafsu makan
9) Demam
10) Merasa cepat kenyang
11) Waktu ycng cukup lama
12) Nyeri Tulang dan Persendian.
b. Data Objektif
Data Subjektif yang mungkin timbul pada penderita leukemia adalah
sebagai berikut :
1) Pembengkakan Kelenjar Lympa
2) Anemia
3) Perdarahan
4) Gusi berdarah

14
5) Adanya benjolan tiap lipatan
6) Ditemukan sel-sel muda

3.3 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang bisa ditegakkan oleh seorang perawat pada


anak dengan leukemia (NANDA, 2015):
1. Ketidakseimbagan perfusi jaringan perifer b.d penurunan suplai darah
keperifer (anemia).
2. Resiko infeksi b.d menurunnya sistem pertahanan tubuh.
3. Resiko perdarahan b.d penurunan jumlah trombosit.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d perubahan
proliferative gastrointestinal dan efek toksik obat kemoterapi.
5. Hambatan mobilitas fisik b.d kontraktur, kerusakan integritas struktur tulang,
penurunan kekuatan otot (depresi sumsum tulang)
6. Resiko syok b.d hipoksemia

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi (NIC)


Keperawatan (NOC)

1. Ketidakseimbangan NOC NIC


 Circulation status
perfusi jaringan Manajemen sensasi perifer
 Tissue perfusion
perifer b.d 1. Instruksi keluarga
penurunan suplai Dengan kriteria hasil :
untuk mengobservasi
a. Mendemonstrasikan status
darah keperifer sirkulasi yang ditandai kulit jika ada isi atau
(anemia). dengan : laserasi
1. Tekanan systole dan diastole 2. Gunakan sarung tangan
dalam rentang yang
diharapkan untuk proteksi
2. Tidak ada tanda-tanda 3. Batasi gerakan pada
peningkatan tekanan kepala, leher dan
intrakranial (tidak lebih dari
punggung
15 mmHg)
b. Mendemonstrasikan 4. Monitor kemampuan
kemampuan kognitif yang BAB
ditandai dengan :

15
1. Berkomunikasi dengan jelas 5. Kolanorasi pemberian
dan sesuai dengan analgetik.
kemampuan
2. Memproses informasi
3. Membuat keputusan dengan
benar

2. Resiko infeksi b.d NOC NIC


menurunnya sistem  Immune Status Kontrol Infeksi
pertahanan tubuh.  Knowledge : infection control 1. Besihkan lingkungan
 Risk control setelah dipakai pasien
Dengan kriteria hasil : lain.
1. Klien bebas dari tanda dan 2. Cuci tangan
gejala infeksi menggunakan sabun
2. Mendeskripsikan proses antimikroba
penularan penyakit faktor 3. Pertahankan
yang mempegaruhi penularan lingkungan aseptik
serta pelaksanaannya, selama pemasangan
3. Menunjukkan kemampuan alat.
untuk mencegah timbulnya 4. Monitor tanda dan
infeksi gejala infeksi sistemik

4. Jumlah leukosit dalam batas dan lokal

normal 5. Instruksikan pasien

5. Menunjukkan perilaku hidup minum antibiotik

sehat seeesuai resep


6. Ajarkan pasien dan
keluarrga pasien tanda
dan gejala infeksi
3. Resiko perdarahan NOC NIC
b.d penurunan  Blood lose severity Bleeding precautions
jumlah trombosit.  Blood koagulation 1. Monitor ketat tanda-
Dengan kriteria hasil : tanda perdarahan

1. Tidak ada hematuria dan 2. Catat nilai Hb dan Ht


hematemesis sebelum dan sesudah

16
2. Kehilangan darah yang terjadinya perdarahan
terlihat 3. Identifikasi penyebab
3. Tekanan darah dalam batas perdarahan
normal sistole dan distole 4. Monitor status cairan
4. Tidak ada perdarahan yang meliputi intake
pervagina dan output
5. Hemoglobin dan hematrokrit 5. Lindungi pasien dari
dalam batas normal trauma yang dapat
menyebabkan
perdarahan
6. Monitor complete
blood count dan leukosi
4. Ketidakseimbangan NOC NIC
nutrisi kurang dari  Nutritional Status : Nutrition Management
kebutuhan tubuh  Nutritional Status : ood and 1. Kaji adanya alergi
b.d perubahan fluid makanan pada anak
proliferative  Intake 2. Berikan makanan yang
gastrointestinal dan terpilih (sudah di
 Nutritional Status : nutrient
efek toksik obat konsultasikan dengan
intake
kemoterapi. ahli gizi)
 Weight control
3. Berikan informasi
Dengan kriteria hasil
tentang kebutuhan
1. Adanya peningkatan berat
nutrisi
badan sesuai dengan tujuan
4. Monitor interaksi anak
2. Mampu mengidetifikasi
atau orang tua selama
kebutuhan nutrisi
makan.
3. Tidak ada tanda-tada
5. Monitor mual muntah
malnutrisi
6. Monitor pertumbuhan
4. Menunjukkan peningkatan
dan perkembangan
fungsi pengecapan dari
7. BB anak dalam batas
menelan
normal
5. Tidak terjadi penurunan
berat badan yang berarti

17
5. Hambatan NOC NIC
mobilitas fisik b.d  Joint Movement : active 1. Kaji kemampuan anak
kontraktur,  Mobility level dalam mobilisasi
kerusakan  Self care : ADLs 2. Dampingi dan bantu
integritas struktur pasien saat mobilisasi
 Transfer performance
tulang, penurunan dan bantu penuhi
Dengan Kriteria hasil
kekuatan otot kebutuhan ADLs ps
1. Klien meningkat dalam
(depresi sumsum 3. Ajarkan pasien dan
aktivitas fisik
tulang) keluarga pasien
2. Mengerti tujuan dari
bagaimana
peningkatan mobilitas
memindahkan posisi
3. Memverbalisasikan perasaan
dan berikan bantuan
dalam meningkatkan
jika diperlukan
kekuatan dan kemampuan
4. Konsultasikan dengan
berpindah
terapi fisik tentang
4. Memperagakan penggunaan
rencana ambulasi sesuai
alat
dengan kebutuhan
5. Bantu untuk mobilisasi
5. Bantu pasien untuk
(walker)
menggunakan tongkat
saat berjalan dan cegah
terhadap cedera.

18
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Leukemia berasal dari bahasa yunani yaitu leukos yang berarti putih dan
haima yang berarti darah. Jadi leukemia dapat diartikan sebagai suatu penyakit
yang disebabkan oleh sel darah putih. Proses terjadinya leukemia adalah ketika
seldarah yang bersifat kanker membelah secara tak terkontrol dan
mengganggupembelahan sel darah normal.
Leukemia ada 4 jenis berdasarkan asal dan kecepatan perkembangan
selkanker yaitu Leukemia Mieloblastik Akut (LMA), Leukemia Mielositik
Kronik (LMK), Leukemia Limfoblastik Akut (LLA), dan Leukemia Limfositik
Kronik (LLK) (Medicastore, 2009).
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor
predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu :
a. Faktor genetik
b. Radiasi
c. Obat-obat imunosupresif, obat-obat kardiogenik
d. Faktor herediter
e. Kelainan kromosom (Suriadi & Rita Yuliani, 2001 : hal. 177).
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah tepi dan
pemeriksaan sumsum tulang.
Kemoterapi merupakan jenis pengobatan yang menggunakan obat - obatan
untuk membunuh sel-sel leukemia, tetapi juga berdampak buruk karena
membunuh sel-sel normal pada bagian tubuh yang sehat.

4.2 Saran
Disarankan kepada seluruh masyarakat terutama pada orang tua setelah
mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit Leukemia dapat mengerti bahwa
penyakit ini cukup berbahaya dan mematikan. Sehingga dapat mengetahui apa
yang harus dilakukan apabila menemui orang dengan gejala yang telah dijabarkan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.

https://www.academia.edu/31690187/Asuhan_Keperawatan_Leukemia_pada_Anak1.docx,
diakses pada tanggal 27 September 2019

https://www.scribd.com/document/33542063/ASKEP-LEUKIMIA, diakses pada tanggal 27


September 2019

20