Anda di halaman 1dari 5

SIKLUS REPRODUKSI MENCIT BETINA (Mus musculus)

Hana veronica (160342606281)


Offering I / 2016
Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang, Malang, Indonesia

PENDAHULUAN
Reproduksi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan yang
baru. Tujuannya adalah untuk mempertahankan jenisnya dan melestarikan jenis agar tidak
punah. Pada manusia dan mamalia lainnya untuk mengahasilkan keturunan yang baru diawali
dengan peristiwa fertilisasi. Sehingga dengan demikian reproduksi pada manusia dan mamalia
lain dilakukan dengan cara generatif atau seksual. Siklus reproduksi adalah perubahan siklus
yang terjadi pada sistem reproduksi (ovarium, oviduk, uterus dan vagina) hewan betina
dewasa yang tidak hamil, yang memperlihatkan hubungan antara satu dengan yang lainnya.
Siklus reproduksi pada mamalia primata disebut dengan siklus menstruasi, sedangkan siklus
reproduksi pada non primata disebut dengan siklus estrus. Siklus estrus ditandai dengan
adanya estrus (birahi). Pada saat estrus, hewan betin akan reseftif sebab di dalam ovarium
sedang ovulasi dan uterusnya berada pada fase yang tepat untuk implantasi untuk fase
berikutnya disebut dengan satu siklus estrus. Panjang siklus estrus pada tikus mencit adalah
4-5 hari, pada babi, sapi dan kuda 21 hari dan pada marmut 15 hari. Pada mamalia khususnya
pada manusia siklus reproduksi yang melibatkan berbagai organ yaitu uterus, ovarium, mame
yang berlangsung dalam suatu waktu tertentu atau adanya sinkronisasi, maka hal ini
dimungkinkan oleh adanya pengaturan/koordinasi yang disebut dengan hormon (hormon
adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin yang langsung dialirkan ke dalam
peredaran darah dan mempengaruhi organ target).

TUJUAN

Membedakan sel-sel hasil apusan vagina dan menentukan tahap siklus reproduksi yang
sedang dialami hewan betina.

METODOLOGI
Penelitian ini dilaksanakan pada hari Kamis, 25 September 2017 berlokasi di
Laboratorium SPH DAN TAKSONOMI HEWAN FMIPA UM. Alat yang digunakan adalah kaca
benda dan penutup, pipet, papan bedah,cawan petri dan mikroskop. Bahan yang digunakan
adalah mencit (Mus musculus), larutan HBSS, dan larutan methylen blue.Metode yang
digunakan adalah metode eksperimen atau percobaan langsung. Pada percobaan sistem
reproduksi dilakukan pengambilan sel epitel yang berasal dari vagina mencit dengan
menggunakan pipet yang telah diisi larutan HBSS dengan ukuran 1cm dari ujung pipet.
Selanjutkan memasukan pipet yang telah berisi larutan HBSS ke dalam vagina mencit Setelah
mendapatkan sel epitel yang di inginkan, letakan pada kaca benda Ketika akan dibuat apusan,
preparat ditambahkan dengan larutan methylen blue. Dan di diamkan untuk beberapa saat,
setelah itu bilas dengan air bersih menggunakan pipet tetes.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Siklus estrus pada mencit terdiri dari 4 fase utama, yaitu proestrus, estrus, metestrus
dan diestrus. Siklus ini dapat dengan mudah diamati dengan melihat perubahan sel-sel
penyusun lapisan epitel vagina yang dapat di deteksi dengan metode apusan vagina
pewarnaan metylen blue. Pada setia siklus yang terjadi pada tubuh mencit , terjadi perubahan-
perubahan perilaku yang di pengaruhi oleh hormone yang berpengaruh dalam tubuh. Pada
pengamatan apusan vagina pada mencit, dapat diambil hasil bahwa mencit dalam fase estrus.
Ada beberapa fase estrus pada mencit diantaranya,
1. Fase proestrus
Proestrus merupakan periode persiapan yang ditandai dengan pemacuan
pertumbuhan folikel oleh FSH sehingga folikel tumbuh dengan cepat. Proestrus
berlangsung selama 2-3 hari. Pada fase kandungan air pada uterus meningkat dan
mengandung banyak pembulu darah dan kelenjar-kelenjar endometrial mengalami
hipertofi.
2. Fase estrus
Estrus adalah masa keinginan kawin yang di tandai dengan keadaan tikus tidak
tenang, keluar lender dari dalam vulva, pada fase ini pertumbuhan folikel meningkat
dengan cepat, uterus mengalami vaskularisasi dengan maksimal, ovulasi terjadi
dengan cepat, dan sel-sel epitelnya mengalami akhir perkembangan dengan cepat.
3. Fase metaestrus
Ditandai dengan terhentinya birahi , ovulasi terjadi dengan pecahnya folikel, rongga
folikel secara berangsur-angsur mengecil, dan pengeluaran lendir terhenti, selain
itu terjadi penurunan pada ukuran dan vaskularis
4. Fase diestrus
Diestrus adalah periode terakhir dari estrus, pada fase ini corpus luteum
berkembang dengan sempurna dan efek yang di hasilkan dari progesterone,
tampak dengan jelas pada dinding uterus serta folikel-folikel kecil dengan korpus
lutea pada vagina lebih besar dari ovulasi sebelumnya.
Ciri khas dari fase estrus ini adalah tidak adanya leukosit pada ulasan vagina mencit.
Hasil apus vagina pada fase estrus akhir ditandai dengan sel-sel epitel yang mengalami
penandukan (kornifikasi), tanpa inti dan berwarna pucat [1]. pada pengamatan terlihat bahwa
sel epitel yang ada masih hidup (Gbr. 1). Pada fase estrus betina siap menerima hewan jantan
untuk kawin dalam waktu yang singkat, yaitu pada masa ovulasi (akhir fase estrus selama 18
jam).

Sel Sel parabasal


kornifikasi

Gambar 1. Sel epitel yang masih hidup ditunjukkan dengan panah hitam
(dok. Pribadi kelompok 8) perbesaran 40x10

Siklus estrus merupakan proses yang dikendalikan oleh berbagai hormon, baik hormon
dari hiptalamus-hipofisis maupun dari ovarium [2]. Pertumbuhan yang cepat dan kornifikasi
epithelium vagina selama dan pada akhir estrus telah diketahui disebabkan oleh estrogen. Bila
pada siklus yang normal aras estrogen menurun setelah ovulasi, atau pada betina yang
dikastrasi, injeksi estrogen dihentikan, maka akan tampak epithelium vagina dengan
kornifikasi mulai berkurang, gambaran sisik menghilang dan leukosit dominan. Epithelium
vagina secara histologis berubah dari tipe skuama berlapis tebal karena estrogen ke
epithelium kuboid rendah tipis yang menandakan fase anestrus dari siklus estrus [3].
Pada fase estrus yang dalam bahasa latin disebut oestrus yang berarti “kegilaan” atau
“gairah” [4], hipotalamus terstimulasi untuk melepaskan gonadotropin-releasing hormone
(GRH). Estrogen menyebabkan pola perilaku kawin pada mencit, gonadotropin menstimulasi
pertumbuhan folikel yang dipengaruhi Follicle Stimulating Hormone (FSH) sehingga terjadi
ovulasi. Kandungan FSH ini lebih rendah jika dibandingkan dengan kandungan Luteinizing
Hormone (LH) maka jika terjadi coitus dapat dipastikan mencit akan mengalami kehamilan.
Pada saat estrus biasanya mencit terlihat tidak tenang dan lebih aktif, dengan kata lain mencit
berada dalam keadaan mencari perhatian kepada mencit jantan.
Fase estrus merupakan periode ketika betina reseptif terhadap jantan dan akan
melakukan perkawinan, mencit jantan akan mendekati mencit betina dan akan terjadi kopulasi.
Mencit jantan melakukan semacam panggilan ultrasonik dengan jarak gelombang suara 30
kHz – 110kHz yang dilakukan sesering mungkin selama masa pedekatan dengan mencit
betina, sementara itu mencit betina menghasilkan semacam pheromon yang dihasilkan oleh
kelenjar preputial yang diekskresikan melalui urin. Pheromon ini berfungsi untuk menarik
perhatian mencit jantan. Mencit dapat mendeteksi pheromon ini karena terdapat organ
vomeronasal yang terdapat pada bagian dasar hidungnya. Pada tahap ini vagina pada mencit
betinapun membengkak dan berwarna merah. Tahap estrus pada mencit terjadi dua tahap
yaitu tahap estrus awal dimana folikel sudah matang, sel-sel epitel sudah tidak berinti, dan
ukuran uterus pada tahap ini adalah ukuran uterus maksimal, tahap ini terjadi selama 12 jam.
Lalu tahap estrus akhir dimana terdapat banyak sel epitel yang mengalami penandukan dan
terjadi ovulasi yang hanya berlangsung selama 18 jam. Jika pada tahap estrus tidak terjadi
kopulasi maka tahap tersebut akan berpindah pada tahap matesterus [5].

KESIMPULAN
Mencit betina yang diamati sedang mengalami fase estrus yang ditandai dengan sel-
sel epitel yang mengalami penandukan (kornifikasi), tanpa inti dan berwarna pucat namun
pada hasil pengamatan sel-sel epitel tersebut telah mati.

DAFTAR RUJUKAN

[1] Sitasiwi, A.J. 2010. Hubungan Kadar Hormon Estradiol 17-β dan Tebal Endometrium
Uterus Mencit (Mus musculus l.) selama Satu Siklus Estrus. Vol. 38-45. Hlm, 2-3.
[2] Isnaeni, W. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
[3] Nalbandov, A.V. 1990. Fisiologi Reproduksi. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
[4] Campbell, N.A., J.B. Reece, L.G. Mitchell. 2004. Biologi edisi kelima jilid 3. Jakarta :
Erlangga.
[5] Waluyo, P.D. 2009. Siklus Estrus Pada Tikus. Hal. 4, 9-11.