Anda di halaman 1dari 4

Nikè: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan.

Volume 1, Nomor 2, September 2013

Kondisi Terumbu Karang di Perairan Dulupi, Kabupaten Boalemo


1,2Femy M. Sahami dan 2Sri Nuryatin Hamzah
1femysahami@yahoo.co.id
2Jurusan Teknologi Perikanan, Fakultas Ilmu-ilmu Pertanian, Universitas Negeri Gorontalo

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang di perairan Dulupi, Kabupaten Boalemo.
Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Juli 2012. Lokasi pengamatan dibagi atas dua stasiun yaitu Stasiun A dan
Stasiun B. Penelitian ini menggunakan metode RRA (Rapid Reef Assesment), disamping itu dilakukan
pengukuran parameter kualitas air yang meliputi parameter biologi, fisika dan kimia perairan sebagai parameter
pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang pada Stasiun A dan Stasiun B masih
berada dalam kategori baik. Parameter kualitas air terukur masih sesuai untuk pertumbuhan terumbu karang.

Kata Kunci: terumbu karang, tutupan karang, Dulupi.

This research aims to observe condition of coral reef in Dulupu waters in Boalemo Regency. The research was
conducted in July 2012 in two separated Station A and Station B. Observations were done with Rapid Reef
Assesment (RRA) method along with water quality measurements including biological, phisical and chemical
parameters. Results shows that the coral reef either at Station A and Station B are in good condition. Water
qualities are suitable for coral reef development.

Keywords: coral reef, coral coverage, Dulupi

I. PENDAHULUAN perkebunan sudah semakin berkembang.


Dikhawatirkan dampak dari kegiatan manusia
Ekosistem terumbu karang memiliki arti yang tersebut dapat mempengaruhi keberadaan terumbu
amat penting bagi kehidupan manusia, baik dari segi karang di wilayah perairan tersebut. Untuk dapat
ekonomi, ekologi maupun sebagai penunjang dilakukan pengelolaan ke depan, maka perlu
kegiatan rekreasi laut karena keindahannya. Terumbu dilakukan kajian. Oleh karena itu penelitian ini
karang tersebar di seluruh negara di dunia termasuk dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi
Indonesia. Ekosistem terumbu karang sangat rentan terumbu karang di perairan Dulupi, Kabupaten
terhadap perubahan lingkungan, walaupun Boalemo.
kelihatannya bahwa ekosistem ini adalah suatu
system yang sangat kuat dan stabil.
II. METODE PENELITIAN
Ekosistem terumbu karang sangat dipengaruhi
oleh faktor-faktor lingkungan laut antara lain tingkat Penelitian dilakukan di perairan pesisir laut
kejernihan air, arus, salinitas, dan suhu. Tingkat Kecamatan Dulupi, Kabupaten Boalemo pada Bulan
kejenihan air dapat dipengaruhi oleh kehadiran dari
Juli 2012. Alat dan bahan yang digunakan adalah
partikel tersuspensi antara lain akibat dari
pelumpuran. Pelumpuran ini dapat berasal dari plankton net untuk menjaring sampel plankton, ember
kegiatan ataupun aktivitas manusia di daerah daratan volume 5 liter untuk mengambil cuplikan air, DO
yang terbawa oleh aliran air. Kegiatan manusia di meter untuk mengukur kadar oksigen terlarut dalam
sekitar wilayah pesisir selama ini telah menjadi salah air, Secchi Disc untuk mengukur kecerahan air, pH
satu penyebab menurunnya kondisi ekosistem meter untuk mengukur pH air, termometer batang
terumbu karang di dunia. untuk mengukur suhu air, botol air mineral untuk
Di perairan Dulupi, Kabupaten Boalemo yang mengisi sampel plankton, pipet tetes untuk memipet
masuk dalam perairan Teluk Tomini terdapat pula
bahan pengawet sampel plankton, kertas label untuk
hamparan terumbu karang, namun selama ini kondisi
terumbu karang yang ada di perairan tersebut belum pemberian kode sampel, kamera bawah air untuk
terlalu diketahui. Sementara kegiatan manusia di dokumentasi kondisi terumbu karang, snorkel-masker
tempat ini khususnya kegiatan pertanian dan

107
Sahami, F.M. dan Sri Nuryatin Hamzah. 2013. Kondisi Terumbu Karang di Perairan Dulupi, Kabupaten Boalemo. Nikè:
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Volume 1, Nomor 2, September 2013. Hal. 107-110. Jurusan Teknologi Perikanan –
UNG.

dan fin untuk alat bantu menyelam, dan alkohol 70% Baku Kepmen Lingkungan Hidup No.04 Tahun 2001,
sebagai pengawet sampel plankton. sebagai berikut:
Tahapan pelaksanaan terdiri dari penentuan
lokasi, pengukuran kualitas air (fisik, kimia, biologi), Tabel 1 Kriteria penentuan kondisi terumbu karang
serta pengamatan kondisi terumbu karang. berdasarkan penutupan karang hidup (Kepmen. LH
1. Penentuan Lokasi No. 4/2001)
Lokasi pengamatan di wilayah pesisir laut
Kriteria Baku Kerusakan Terumbu
Kecamatan Dulupi dibagi dalam 2 stasiun Parameter
Karang (%)
pengamatan yaitu Stasiun A dan Stasiun B.
Buruk 0,0 - 24,9
Jarak antar kedua stasiun kurang lebih 2
Rusak
kilometer. Sedang 25 - 49,9
Persentase Luas
2. Pengukuran Kualitas Air Tutupan Karang Hidup
Baik 50 - 74,9
Pengukuran kualitas air (fisik-kimia) langsung Baik
dilakukan di lapangan bersamaan dengan waktu Baik Sekali 75 – 100
pengambilan sampel plankton baik di laut.
Pengambilan sampel plankton dilakukan dengan III. HASIL DAN PEMBAHASAN
menjaring air dari lokasi yang telah ditentukan
dengan menggunakan plankton net. Karena 3.1. Kualitas Air
plankton tidak pernah tersebar secara merata, Data parameter kualitas air terukur pada saat
maka pengambilan sampel air untuk pengamatan masih menunjukkan kisaran yang
pengamatan plankton dari setiap stasiun diambil optimal untuk pertumbuhan plankton dan terumbu
dari 3 substasiun dengan jarak antar substasiun karang. Hasil pengukuran tersebut disajikan pada
Tabel 2.
± 20 meter. Dari setiap substasiun diambil air
sebanyak 20 liter kemudian disaring dengan Tabel 2 Hasil pengukuran parameter kualitas air
menggunakan plankton net. Selanjutnya sampel (fisik-kimia) pada setiap stasiun
dari setiap substasiun dikomposit dan diisi ke
No Parameter Stasiun
dalam botol sampel yang volumenya ± 100 ml
A B
dan diawetkan dengan menggunakan alkohol 70
1. Suhu (°C) 29 29
% dan diberi label. Sampel air tersebut
2. DO (mg/L) 2,1 2,6
selanjutnya dibawa ke Laboratorium Nutrisi dan 3. Kecerahan (%) 100% 100%
Teknologi Pakan Ikan Fakultas Perikanan dan 4. Kedalaman (m) ± 3m ± 3m
Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi untuk
dilakukan identifikasi jenis-jenis plankton. Suhu air merupakan salah satu faktor
3. Pengamatan Terumbu Karang lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan
Pengamatan kondisi terumbu karang dilakukan organisme perairan termasuk didalamnya plankton
dengan menggunakan metode RRA (Rapid Reef dan terumbu karang. Berdasarkan hasil pengukuran
Assesment). Pengamatan dilakukan secara suhu pada lokasi pengamatan diperoleh nilai suhu
langsung dengan melakukan penilaian terhadap sebesar 29 °C (Tabel 2). Nilai tersebut menunjukkan
luasan tutupan dari Hard Coral (HD), Soft Coral bahwa suhu perairan di lokasi pengamatan relatif
(SC), Dead Coral (DC), Dead Coral Algae stabil dan masih berada dalam kisaran suhu normal
(DCA), Rubble (R), dan Sand (S) serta OT untuk pertumbuhan organisme perairan laut
(Other), dan benthos yang berasosiasi. umumnya yaitu 28-38 °C (Dahuri et al, 2001).
Nilai Oksigen terlarut pada saat pengukuran
Penilaian kondisi terumbu karang dianalisis berkisar antara 2,1-2,6 mg/L. Rendahnya nilai oksigen
berdasarkan tutupan karang hidup menurut Kriteria terlarut mungkin disebabkan waktu pengukuran yang
masih pagi dengan kondisi cuaca mendung, sehingga

108
Nikè: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Volume 1, Nomor 2, September 2013

belum terjadi proses fotosintesis oleh fitoplankton. Plankton pada ekosistem terumbu karang memiliki
Disamping itu, hasil analisis sampel air juga tidak peranan penting terutama dalam rantai makanan.
menemukan adanya fitoplankton diperairan tersebut. Menurut Nybakken (1988), karang merupakan hewan
Oksigen terlarut merupakan salah satu unsur kimia karnivora yang mempunyai tentakel-tentakel yang
yang penting bagi kehidupan, terutama dimanfaatkan dipenuhi kapsul-kapsul berduri yang digunakan untuk
oleh organisme perairan untuk proses respirasi dan menyengat dan menangkap organisme plankton yang
menguraikan zat organik oleh mikroorganisme. kecil sebagai makanannya, disamping mendapatkan
Oksigen terlarut berasal dari difusi udara dan hasil makanan dari hasil fotosintesis yang dilakukan oleh
fotosintesis organisme berklorofil yang hidup dalam Zooxanthellae.
suatu perairan dan dibutuhkan oleh organisme untuk
mengoksidasi zat hara yang masuk ke dalam 3.2. Terumbu Karang
tubuhnya (Nybakken, 1988).
Stasiun A
Pertumbuhan karang sangat sesuai pada
wilayah perairan yang memiliki nilai kecerahan tinggi, Berdasarkan hasil pengamatan dengan
mengingat hidupnya bersimbiosis dengan menggunakan metode RRA (Rapid Reef Assesment),
Zooxanthellae. Nilai kecerahan terukur adalah 100%. diperoleh persentase tutupan karang yang didominasi
Nilai kecerahan sangat tinggi, karena pada saat oleh karang keras (Hard Coral) sebesar 50%.
pengamatan kondisi perairan sangat tenang, Persentase tutupan karang tersebut secara lengkap
sehingga tidak terjadi pengadukan air oleh dapat dilihat pada Gambar 1.
gelombang. Menurut Parson dan Takahashi (1973),
nilai kecerahan sangat dipengaruhi oleh keadaan
cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan, padatan
tersuspensi, dan ketelitian orang yang mengukur.
Faktor kedalaman mempengaruhi keberadaan
organisme karang pada suatu perairan. Kedalaman
perairan terukur pada saat pengamatan adalah 3
meter. Menurut Kinsman (1964) dalam Supriharyono
(2000), secara umum karang tumbuh baik pada
kedalaman kurang dari 20 m.
Hasil identifikasi jenis-jenis plankton dari setiap
stasiun pengamatan yang telah dilakukan di
Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ikan Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan UNSRAT Manado Gambar 1 Persentase tutupan karang Stasiun A
menunjukkan bahwa plankton yang ditemukan berupa Persentase tutupan Soft Coral atau karang lunak
larva Crustacea dan larva Mollusca. Kurangnya jenis pada stasiun ini sebesar 5%, demikian pula halnya
yang ditemukan mungkin dipengaruhi oleh jumlah dengan Sand (pasir) dan Rubble (patahan).
sampel air yang terbatas pada waktu pengambilan Sedangkan untuk tutupan Dead Coral Algae (DCA)
sampel. Brahmana (2001) menyatakan bahwa cukup tinggi yaitu 23%, serta Dead Coral sekitar 10%.
distribusi plankton sering tidak homogen dan terlalu Tingginya tutupan karang mati ini mengindikasikan
sedikitnya sampel-sampel air yang diambil dari bahwa pada daerah ini kemungkinan pernah terjadi
sejumlah stasiun-stasiun yang tersebar di seluruh destruktif fishing hal ini bisa dilihat dari adanya
area sehingga sukar memberikan gambaran yang patahan karang yang telah ditumbuhi oleh alga
jelas tentang jumlah dan keragaman plankton. (DCA). Selain itu, ditemukannya Acanthaster planci
Rendahnya jumlah plankton yang ditemukan di menambah kerusakan karang yang ada. Pada stasiun
wilayah perairan laut ini mungkin dipengaruhi waktu ini juga ditemukan Other (OT) sebesar 2% yaitu yang
pengambilan sampel yang dilakukan pada pagi hari diwakili oleh anemone dan untuk benthos diwakili oleh
dengan kondisi cuaca yang mendung. Hal ini terlihat teripang, bintang laut dan Acanthaster planci serta
pula dari tidak adanya kehadiran fitoplankton. Lola (Scleropages jardini). Berdasarkan Kepmen

109
Sahami, F.M. dan Sri Nuryatin Hamzah. 2013. Kondisi Terumbu Karang di Perairan Dulupi, Kabupaten Boalemo. Nikè:
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Volume 1, Nomor 2, September 2013. Hal. 107-110. Jurusan Teknologi Perikanan –
UNG.

Lingkungan Hidup No. 04 Tahun 2001 tentang kriteria berada pada kategori baik yang ditunjukkan oleh
penentuan kondisi terumbu karang dilihat dari tutupan tingginya persentase Hard Coral sebesar 58%.
karang hidup, maka kondisi terumbu karang pada
Stasiun A termasuk pada kategori baik yaitu 50%. IV. KESIMPULAN DAN SARAN
Stasiun B
Kondisi terumbu karang di perairan pesisir laut
Hasil pengamatan RRA menunjukkan bahwa
Dulupi masih dalam kondisi baik, tetapi dikhawatirkan
pertumbuhan karang yang ada pada stasiun ini lebih
kondisi ini akan menjadi buruk karena adanya
banyak ditemukan pada daerah slope dengan
kehadiran predator karang Acanthaster planci yang
pertumbuhan yang cukup padat/rapat. Persentase
ditemukan pada kedua stasiun pengamatan.Hasil
tutupan karang pada Stasiun B dapat dilihat pada
pengukuran parameter kualitas air berada pada
Gambar 2.
kisaran yang sesuai untuk pertumbuhan karang.
Melihat kondisi terumbu karang yang masih
baik, namun sudah ditemukan predator berbahaya
jenis Acanthaster planci, maka disarankan untuk
dilakukan penelitian tentang populasi Acanthaster
planci di wilayah perairan Dulupi.

Daftar Pustaka

Brahmana, P. (2001). Ekologi Laut. Penerbit


Universitas Terbuka. Jakarta
Dahuri, R., Rais, J., Ginting, S.P., dan Sitepu, M.J.
2001. Pengelolaaan Sumberdaya Wilayah
Gambar 2 Persentase tutupan karang Stasiun B Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT.
Persentase tutupan Hard Coral yang ditemukan Pradnya Paramita. Jakarta.
sebesar 58%. Selain itu ditemukan Dead Coral Algae Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 04 Tahun
2001 tentang Kriteria Baku Kerusakan
dengan persentase yang cukup tinggi yaitu 20%,
Ekosistem Terumbu Karang. Jakarta
diikuti oleh Soft Coral, Dead Coral, Sand dan Rubble Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut; Suatu
sebesar 5% serta Other sebesar 2% yang diwakili Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia, Jakarta.
oleh anemon. Benthos yang ditemukan pada stasiun Parsons, T.R. and M. Takahashi. 1973.
ini adalah teripang, bintang laut, dan Acanthaster Environmental Control of Phytoplankton Cell
planci. Berdasarkan Kepmen Lingkungan Hidup No. Size. Limnol. Oceanografi.
04 Tahun 2001 tentang kriteria penentuan kondisi Supriharyono. 2000. Pengelolaan Ekosistem Terumbu
Karang. Djambatan, Jakarta.
terumbu karang, dapat dikategorikan untuk Stasiun B

110