Anda di halaman 1dari 2

2.

Pengertian Pengukuran
Definisi pengukuran menurut beberapa ahli:
Menurut Budi Hatoro pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan
untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif,
bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian.
Menurut Akmad Sudrajat pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau
usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang peserta didik telah
mencapai karakteristik tertentu.
Menurut Lien pengukuran adalah sejumlah data yang dikumpul dengan menggunakan alat ukur
yang objektif untuk keperluan analisis dan interpretasi. ·
Menurut Suharsimi Arikunto pengukuran adalah membandingkan sesuatu dengan suatu
ukuran.
Menurut Pflanzagl’s pengukuran adalah proses menyebutkan dengan pasti angka-angka
tertentu untuk mendiskripsikan suatu atribut empiri dari suatu produk atau kejadian dengan
ketentuan tertentu.
Jadi, skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk
menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut
bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.

2.3 Skala Diferensial Tematik


Skala pengukuran yang berbentuk semantic defferential dikembangkan oleh Osgood. Skala ini
juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda atau checklist, tetapi
tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban “sangat positifnya” terletak di bagian kanan
garis, dan jawaban “sangat negatif” terletak di bagian kiri garis, atau sebaliknya. Data yang
diperoleh adalah data interval, dan biasanya skala ini digunakan untuk mengukur
sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai seseorang. Contoh:
Mohon diberi nilai gaya kepemimpinan kepala sekolah:
Bersahabat 5 4 3 2 1 Tidak Bersahabat
Tepat Janji 5 4 3 2 1 Lupa Janji
Bersaudara 5 4 3 2 1 Memusuhi
Memberi Pujian 5 4 3 2 1 Mendominasi
Responden dapat memberi jawaban pada rentang jawaban yang positif sampai dengan negatif.
Hal ini tergantung kepada persepsi responden terhadap kepada yang dinilai.
Responden yang memberi penilaian dengan angka 5, berarti persepsi responden terhadap Kepala
Sekolah itu sangat positif, sedangkan bila memberi jawaban pada angka 3, berarti netral, dan bila
memberi jawaban pada angka 1, maka persepsi responden terhadap Kepala Sekolah sangat
negatif.

2.4 Skala Pengukuran


Dari ketiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang diperoleh semuanya
adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan skala pengukuran data
mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.
Responden menjawab, senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, pernah-tidak pernah
adalah merupakan data kualitatif. Dalam skala model skala pengukuran, responden tidak akan
menjawab salah satu dari jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Oleh karena itu, skala
pengukuran ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur
persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial
ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan dan lain-lain.
Yang penting bagi penyusun instrumen dengan skala pengukuran adalah harus dapat
mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item instrumen.
Orang tertentu memilih jawaban angka 2, tetapi angka 2 oleh orang tertentu belum tentu sama
maknanya dengan orang lain yang juga memilih jawaban dengan angka 2. Contoh :
Seberapa baik ruang kelas di sekolah ini ?
4. Tata ruang itu sangat baik.
3. Tata ruang itu cukup baik.
2. Tata ruang itu kurang baik.
1. Tata ruang itu sangat tidak baik.