Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

MOL adalah larutan hasil fermentasi yang berbahan dasar dari berbagai

sumber daya lokal. Larutan MOL mengandung unsur hara mikro dan makro serta

mengandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik,

perangsang pertumbuhan, dan sebagai agen pengendali hama dan penyakit

tanaman, sehingga MOL dapat digunakan baik sebagai dekomposer, pupuk hayati

maupun pestisida organik terutama sebagai fungisida (Purwasasmita, 2009).

Keunggulan penggunaan MOL adalah dapat diperoleh dengan biaya murah.

Pertanian Organik merupakan salah satu teknologi yang berwawasan

lingkungan. Pertanian organik dipahami sebagai suatu sistem produksi

pertanaman yang berazaskan daur ulang hara secara hayati (Sutanto, 2002).

Pertanian organik sebenarnya sudah sejak lama dikenal Sejak ilmu bercocoktanam

dikenal manusia, semuanya dilakukan secara tradisional dan menggunakan bahan-

bahan alamiah.

Pertanian organik modern (pertanian berkelanjutan) menganut konsep green

agriculture, yang didefinisikan sebagai sistem budidaya pertanian maju dengan

penerapan teknologi secara terkendali yang sesuai dengan ketentuan yang telah

ditetapkan sehingga diperoleh produktivitas optimal, mutu produk tinggi, mutu

lingkungan terpelihara dan pendapatan ekonomi usaha tani yang optimal

(Sumarno, 2010). Menurut Mayrowani (2012), sistem pertanian berkelanjutan

dapat dilaksanakan menggunakan berbagai model, antara lain : sistem pertanian


organik, integrated farming, pengendalian hama terpadu, dan LEISA (Low

External Input Suistainable Agriculture). Adapun pertanian organik merupakan

salah satu model perwujudan sistem pertanian berkelanjutan (Salikin, 2003).

Pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan wajib untuk dikembangkan

dalam menunjang keamanan dan ketahanan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sistem pertanian organik merupakan salah satu solusi untuk menggantikan sistem

pertanian konvensional, dimana sistem konvensional memerlukan input pupuk

dan pestisida dalam jumlah yang banyak yang dapat menimbulkan

ketidakseimbangan lingkungan serta merusak kesehatan manusia.

Pupuk kandang memiliki sifat yang alami dan tidak merusak tanah,

menyediakan unsur makro (nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan belerang) dan

unsur mikro (besi, seng, boron, kobalt, dan molibdenium). Selain itu, pupuk

kandang berfungsi untuk meningkatkan daya memegang air, aktivitas

mikrobiologi tanah, nilai kapasitas tukar kation dan memperbaiki struktur tanah.

Pemakaian pupuk kandang ayam dapat meningkatkan permeabilitas dan

kandungan bahan organik dalam tanah, dan dapat mengecilkan nilai erodibilitas

tanah yang pada akhirnya meningkatkan ketahanan tanah terhadap erosi. Pupuk

kandang ayam dapat memberikan kontribusi hara yang mampu mencukupi

pertumbuhan bibit tanaman, karena pupuk kandang ayam mengandung hara yang

lebih tinggi daripada pupuk kandang lainnya (Sabran, dkk., 2015).

Pupuk kandang ayam mengandung unsur makro dan mikro seperti nitrogen

(N), fosfat (P), kalium (K), magnesium (Mg) dan mangan (Mn) yang dibutuhkab

tanaman serta berperan dalam memelihara keseimbangan hara di dalam tanah


karena pupuk kandang berpengaruh untuk jangka waktu yang lama dan sebagai

nutrisi bagi tanaman. Pupuk tersebut memiliki kandungan hara sebagai berikut

57% kadar air, 29% bahan organik, 1,5 % nitrogen, 1,3% P2O5, 0,8% K2O, 4,0%

CaO dan 9-11% rasio C/N. Pupuk kandang ayam memiliki unsur hara yang lebih

besar daripada jenis ternak lain.

Hal ini disebabkan karena kotoran padat pada hewan ternak tercampur dengan

kotoran cairnya (Dermiyati, 2015). Hardjowigeno (2003) menyatakan bahwa

pemanfaatan pupuk kandang ayam dianggap sangat baik untuk pemupukan,

karena cepat bereaksi di dalam tanah, dan tergolong pupuk panas. Zamriyetti

(2005) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang ayam berpengaruh nyata

terhadap tinggi tanaman, total luas daun, dan berat janten per plot. Selain itu,

beberapa hasil penelitian terhadap aplikasi pupuk kandang ayam menunjukkan

respon tanaman yang terbaik dibandingkan dengan kotoran hewan lainnya. Hal

ini dikarenakan pupuk kandang ayam relatif lebih cepat terdekomposisi dan

memiliki hara lebih tinggi dibandingkan dengan kotoran hewan lainnya dengan

jumlah unit yang sama. (Hartatik, et al., 2004).

Di Indonesia perkembangan tanaman jagung manis masih terbatas pada

petani-petani bermodal kuat yang mampu menerapkan teknik budidaya secara

intensif. Keterbatasan ini disebabkan oleh harga benih yang relatif mahal,

kebutuhan pengairan dan pemeliharaan yang intensif, ketahanan terhadap hama

dan penyakit yang masih rendah dan kebutuhan pupuk yang cukup tinggi. Di

samping itu juga karena kurangnya informasi dan pengetahuan petani mengenai

budidaya jagung manis serta masih sulitnya pemasaran (Budiman, 2013).


Budidaya jagung manis berpeluang memberikan untung yang tinggi bila

diusahakan secara efektif dan efisien (Sudarsana, 2000). Menurut Badan Statistik

Sumatera Utara (2017) total produksi tanaman jagung pada tahun 2015, yaitu

dengan luas lahan 243.277,0 ha dengan hasil produksi 1.519.407,0 ton/ha, dan

pada tahun 2016 dengan luas lahan 252.729,2 ha dengan hasil produksi

1.557.462,8 ton/ha. Didaerah Sumatra Utara, produksi jagung manis pada tahun

2015 mencapai 1.519.407,0 ton/ha dengan produktivitas mencapai 6,2 ton/ha,

tahun 2016 1.557.407,0 ton/ha dengan produktivitas menurun menjadi 6,1

ton/ha.

Pengaruh bahan organik yaitu dapat meningkatkan daya serap dan kapasitas

tukar kation (KTK). Sekitar setengah dari kapasitas tukar kation (KTK) tanah

berasal dari bahan organik. Bahan organik dapat meningkatkan kapasitas tukar

kation dua sampai tiga puluh kali lebih besar daripada koloid mineral yang

meliputi 30 sampai 90% dari tenaga jerap suatu tanah mineral. Peningkatan KTK

akibat penambahan bahan organik dikarenakan pelapukan bahan organik akan

menghasilkan humus (koloid organik) yang mempunyai permukaan dapat

menahan unsur hara dan air sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian bahan

organik dapat menyimpan pupuk dan air yang diberikan di dalam tanah.

Peningkatan KTK menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur- unsur

hara.

Nuryamsi et al. (1995) menyatakan bahwa pemberian bahan organik berupa

pupuk kandang dan pupuk hijau meningkatkan kandungan C-organik dan N-

organik serta KTK tanah. Bahan organik yang diberikan ke dalam tanah akan
terdekomposisi sehingga meningkatkan C-organik dan Norganik tanah.Tanah

yang sifat fisiknya menjadi baik, memberikanketersediaan air dan udara menjadi

seimbang yang mengakibatkan pada perakaran tanaman akan tumbuh dan

berkembang dengan baik. Kondisi tanah yang baik dengan ditambah pemberian

pupuk NPK akan meningkatkan pertumbuhan tanaman menjadi maksimal. Pupuk

NPK yang diberikan akan menambah asupan hara lebih cepat sehingga laju

pertumbuhan tanaman menjadi baik. Menurut Sutedjo (2002) untuk pertumbuhan

vegetatif tanaman sangat memerlukan unsur hara seperti N, P dan K serta unsur

lainnya dalam jumlah yang cukup dan seimbang.

Rasio C/N adalah salah satu parameter penting untuk mengetahui kualitas

kompos. Rasio ini digunakan untuk mengetahui apakah kompos sudah cukup

‘matang’ atau belum (Isroi, 2008). Setiap limbah organik memiliki rasio C/N

yang berbeda. Misalnya bahan-bahan seperti kotoran kambing dan kulit buah

kopi. Kotoran kambing memiliki rasio C/N 21,12 (Syafrudin, 2007), dan juga

mengandung hara yang cukup tinggi sebab kotorannya bercampur dengan

urinenya yang juga mengandung unsur hara. Sedangkan kulit buah kopi memiliki

rasio C/N 15,2.

Berdasarkan uraian di atas, Penulis tertarik untuk melakukan penelitian

tentang Pengaruh Pemberian MOL Kulit Terong Belanda-Urin Dan Pupuk

Kandang Ayam Yang Diperkaya Terhadap Kapasitas Tukar Kation Dan

C/N Ratio Tanah Serta Produksi Jagung Mini (Zea Mays L.Saccharata)
1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian

Mikroorganisme Lokal (MOL) dan pupuk kandang ayam yang diperkaya

terhadap kapasitas tukar kation dan C/N ratio tanah serta produksi jagung mini

(baby corn) pada tanah Ultisol Simalingkar

1.3 Hipotesis Penelitian

1. Diduga jenis MOL dapat mempengaruhi Kapasitas Tukar kation dan C/N

ratio tanah serta produksi jagung mini (baby corn).

2. Diduga dosis pupuk kandang ayam dapat meningkatkan Kapasitas Tukar

kation dan C/N ratio tanah serta produksi jagung mini (baby corn).

3. Diduga ada pengaruh interaksi jenis MOL dan dosis pupuk kandang ayam

terhadap Kapasitas Tukar kation dan C/N ratio tanah serta produksi jagung

mini (baby corn).

1.4 Kegunaan Penelitian

Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk memperoleh kombinasi optimum dari jenis MOL dan dosis pupuk

kandang ayam terhadap Kapasitas Tukar kation dan C/N ratio tanah serta

produksi jagung mini (baby corn).

2. Sebagai bahan informasi bagi berbagai pihak yang terkait dalam usaha

budidaya Jagung mini (baby corn).


3. Sebagai bahan penyusunan skripsi untuk memenuhi persyaratan

dalam memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian

Universitas HKBP Nommensen Medan.